pembljrn inovatif

advertisement
INOVASI PEMBELAJARAN SEBAGAI MAGNET BELAJAR
Das Salirawati, M.Si
PENDAHULUAN
Pembelajaran dan belajar adalah dua hal yang tak terpisahkan dan saling
berkaitan erat, karena dalam pembelajaran ada unsur belajar, sebaliknya dalam belajar
selalu diawali dengan adanya pembelajaran. Oleh karena itu keduanya harus seiring
sejalan dalam mengawal anak didik mencapai pemahaman seluruh materi ajar yang
ditempuhnya agar berhasil menempuh pendidikan dengan baik.
Sejauh ini guru telah banyak mengalami masa kebimbangan setiap kali lahir
kurikulum baru. Dalam benak guru, perubahan kurikulum berarti perubahan segala apa
yang telah mapan yang telah lama ditekuni, disusun, dan dijalankan. Pikiran ini ada
benarnya, karena bila kita renungkan, guru-guru pada masa lalu yang tidak pernah atau
jarang mengikuti penataran, lokakarya, seminar, apalagi TOT, justru malah dapat
menghasilkan generasi anak didik yang luar biasa baiknya dibandingkan sekarang. Hal ini
tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Sebagai contoh, anak didik jaman dahulu lebih baik
dalam memahami cara menulis huruf yang benar, cara menghitung tanpa coretan
(mencongak), lebih rajin mencatat dan mendengarkan guru, bahkan mereka yang tidak
memiliki bukupun tanpa disuruh guru menjadi ahli meringkas dari buku teman, bukan
seperti sekarang meringkas sebagai tugas guru kepada anak didik. Ditinjau dari segi
afektif, mereka lebih jujur dalam ujian, karena belum ada fotokopi, sehingga setiap kali
ulangan soal hanya dibacakan dan anak didik langsung menjawab, lebih tertanam nilainilai afektif yang dalam, yaitu menghormati guru, berbagi sesama teman, menghargai
bangsanya melalui lagu-lagu kebangsaan yang hafal di luar kepala. Selain itu dari segi
psikomotorik mereka lebih kreatif dan inovatif ketika harus mengerjakan praktikum dan
prakarya, bahan apapun dapat digunakan, tidak perlu membeli seperti saat ini.
Kita tidak akan mencari dimana letak terjadinya kesalahan dalam sistem
pendidikan saat ini, tetapi lebih pada memikirkan apa yang dapat dilakukan guru dengan
kondisi seperti ini, agar sisa-sisa nilai pendidikan yang positif jaman dahulu tetap dapat
dianut. Bukankah yang kuno belum tentu lebih jelek daripada yang modern ? Selama
yang kuno tersebut dapat dimodifikasi sedemikian rupa, maka justru di situlah letak
keunggulan pendidikan kita berlandaskan kepribadian bangsa sendiri. Bukan meniru
bangsa lain, karena yang maju di negara lain belum tentu tepat dan baik untuk bangsa
kita. Mengejar ketertinggalan memang HARUS, tetapi jangan lalu berdiri di awang-awang
tanpa menginjak di bumi pertiwi sendiri. Singkat kata, inovasi pembelajaran HARUS kita
lakukan, tetapi harus tetap melihat kenyataan di lapangan. Ya ... melihat gurunya, anak
1
didiknya, sarana prasarana sekolah, potensi daerah, dan lain-lain. Dengan demikian
inovasi yang dikembangkan dapat dianut dan diterapkan oleh semua sekolah tanpa
embel-embel ”tapi dengan syarat ....”. Inovasi yang seperti apakah yang dapat
menyembatani hal itu agar benar-benar dapat terwujud ? Mari kita bersama-sama
mencoba membahasnya.
INOVASI PEMBELAJARAN
Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (1997), inovasi berarti penemuan
sesuatu yang baru atau berbeda dengan sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Sedangkan inovatif adalah bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru. Pembelajaran
adalah suatu proses kegiatan yang berupaya membelajarkan anak didik. Jadi, inovasi
pembelajaran adalah suatu aktivitas memperkenalkan sesuatu yang baru dalam upaya
membelajarkan anak didik, atau memperkenalkan sesuatu yang baru ketika melakukan
transfer pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai pada anak didik.
Pengertian “berbeda” bukan berarti benar-benar sesuatu yang baru, tetapi kita
dapat mengambil sesuatu yang sudah lama kemudian dimodifikasi sedemikian rupa
hingga menjadi sesuatu yang baru yang belum pernah diperkenalkan pada anak didik.
Inovasi pembelajaran dapat dilakukan terhadap semua komponen pembelajaran, seperti
metode, pendekatan, sarana prasarana, kurikulum, media, lingkungan belajar. Dalam
inovasi pembelajaran, kita mengenal adanya PAKEM, yaitu Pembelajaran Aktif Kreatif
Efektif dan Menyenangkan, tetapi kita perlu menambahkan satu lagi, yaitu pembelajaran
inovatif, sehingga menjadi PAIKEM dengan I di tengah sebagai Inovatif. Prinsip
pembelajaran PAIKEM ini sangat sesuai dengan yang diinginkan dalam KTSP.
Kelima bentuk pembelajaran tersebut dapat dikemas dan dimunculkan dalam
setiap proses pembelajaran, baik sendiri-sendiri maupun gabungan diantaranya. Namun
demikian, mengingat ruang gerak guru sangat dibatasi oleh alokasi waktu jam pelajaran di
sekolah yang harus berbagi dengan mata pelajaran yang lain, maka hal yang sangat sulit
bagi seorang guru untuk menerapkan kelima bentuk pembelajaran tadi secara bersamasama. Oleh karena itu, seorang guru tidak harus memaksakan diri untuk menerapkan
kelimanya, tetapi setiap kali pertemuan menerapkan salah satu diantaranya sudah berarti
bahwa guru tersebut melakukan inovasi pembelajaran.
Dalam penciptaan inovasi pembelajaran yang terpenting adalah kemauan dan
keinginan guru untuk mengubah image belajar sebagai suatu keterpaksaan menjadi suatu
kebutuhan, dengan cara membawa anak didik menikmati sisi-sisi keindahan dan
kemenarikan dari suatu materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Hal ini hanya dapat
dilakukan bila guru melakukan inovasi pembelajaran menggunakan prinsip pembelajaran
bermakna dan menyenangkan (meaningful learning dan joyful learning). Sesuai dengan
2
pendapat Ausubel (1991) bahwa belajar akan bermakna jika anak didik dapat mengaitkan
konsep yang dipelajari dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitifnya, dan
pendapat Bruner (1991) yang menyatakan belajar akan berhasil lebih baik jika selalu
dihubungkan dengan kehidupan orang yang sedang belajar (anak didik). Secara logika
dapat dipahami, bahwa kita pasti akan belajar serius bila isi dari yang dipelajari ada
kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari dan kata-kata atau kalimat yang didengar
sudah familiar di kepala kita. Melalui inovasi pembelajaran inilah, diharapkan ada
perbaikan praktik pembelajaran ke arah yang lebih baik. Perubahan ini tidak harus terjadi
secara draktis, tetapi perlahan-lahan tetapi pasti. Perbaikan pada proses sangat penting
agar keluaran yang dihasilkan benar-benar berkualitas.
PEMBELAJARAN AKTIF
Anak didik belajar, 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 30%
dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang
dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan (Sheal, Peter, 1989).
Pernyataan tersebut nampak sejalan dengan yang diharapkan dalam KTSP, yang
menginginkan siswa mencapai suatu kompetensi tertentu yang dapat dikomunikasikan
dan ditampilkan.
Kurikulum terbaru kita menginginkan adanya perubahan pembelajaran dari
teacher centered ke student centered. Perubahan ini tentunya tidak semudah diucapkan,
karena pola pembelajaran kita sudah terbiasa dengan cara guru menjelaskan dan
menyampaikan informasi, sedangkan siswa lebih banyak menerima. Namun bukan berarti
kita pesimis dengan perubahan tersebut, tetapi mungkin pencapaian perubahan ini
memerlukan waktu yang tidak sebentar. Bagaimanapun habits yang sudah terbentuk
lama, untuk mengubahnya perlu kesungguhan dan kemauan yang tinggi dari seluruh
komponen yang terlibat dalam sistem pembelajaran.
Kita telah mengenal lama istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), dan sekarang
istilah ini dimunculkan kembali. Hal yang sangat wajar bila dalam pembelajaran anak didik
diharuskan lebih aktif, karena tidak mungkin seorang guru mampu mengajarkan secara
mendalam dan klasikal di hadapan mereka yang heterogen. Hal ini sejalan dengan
pendapat Laster (1985) yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran seharusnya
lebih ditekankan pada belajar bukan mengajar.
Pembelajaran aktif artinya pembelajaran yang mampu mendorong anak didik aktif
secara fisik, sosial, dan mental untuk memahami dan mengembangkan kecakapan hidup
menuju belajar yang mandiri, atau pembelajaran yang menekankan keaktifan anak didik
untuk mengalami sendiri, berlatih, beraktivitas dengan menggunakan daya pikir,
emosional, dan keterampilannya. Melalui pembelajaran aktif diharapkan anak didik akan
3
lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang
dimilikinya. Selain itu, mereka secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi
sumber belajar yang terdapat di sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir
secara sistematis, kritis, tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah sehari-hari
melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya.
Guru yang aktif adalah guru yang memantau kegiatan belajar anak didik, memberi
umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang, dan memperbanyak gagasan
anak didik untuk dapat dimunculkan. Sedangkan anak didik yang aktif adalah mereka
yang sering bertanya, mengemukakan pendapat, mempertanyakan gagasan orang lain
dan gagasannya sendiri, dan aktif melakukan suatu kegiatan belajar (Mel Silberman,
2002).
Sayangnya, sebagian guru kurang mampu mengajukan pertanyaan yang menantang kepada anak didik, sehingga pembelajaran aktifpun jarang tercipta. Hal ini
kemungkinan disebabkan berbagai hal, seperti alasan klise karena dikejar waktu untuk
menyelesaikan materi hingga tak sempat berpikir ke arah itu, ketidaksiapan guru itu
sendiri untuk membuat dan menjawab pertanyaan menantang. Padahal dengan pertanyaan menantang sudah pasti anak didik kita terpacu dan termotivasi untuk mencari jawaban
dan itu berarti aktivitas belajar mereka semakin tinggi dan wawasan pengetahuannya
akan selalu bertambah dari hari ke hari.
PEMBELAJARAN INOVATIF DAN KREATIF
Setiap manusia secara normal pasti memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang
tinggi terhadap sesuatu yang baru. Demikian juga anak didik, jika dalam pembelajaran
disuguhi sesuatu yang baru pasti akan timbul semacam energi baru dalam mengikuti
pelajaran. Dengan kata lain, sesuatu yang baru mampu bertindak seperti magnet yang
menarik minat dan motivasi anak didik untuk mengikutinya.
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran dengan memperkenalkan sesuatu
yang berbeda yang belum dialami dari sebelumnya. Sesuatu yang baru tidak identik
dengan sesuatu yang mahal. Apa yang nampaknya sepele, bisa saja mampu membuat
pembelajaran lebih hidup hanya karena sang guru mampu melakukan inovasi.
Kreatif adalah cara berpikir yang mengajak kita keluar dan melepaskan diri dari
pola umum yang sudah terpateri dalam ingatan. Pembelajaran kreatif adalah pembelajaran yang mengajak anak didik untuk mampu mengeluarkan daya pikir dan daya
karsanya untuk menciptakan sesuatu yang di luar pemikiran orang kebanyakan.
Untuk dapat menciptakan pembelajaran inovatif maupun kreatif diperlukan tiga
sifat dasar yang harus dimiliki anak didik maupun guru, yaitu peka, kritis, dan kreatif
terhadap fenomena yang ada di sekitarnya. Peka artinya orang lain tidak dapat melihat
4
keterkaitannya dengan konsep yang ada dalam otak, tetapi kita mampu menangkapnya
sebagai fenomena yang dapat dijelaskan dengan konsep yang kita miliki. Kritis artinya
fenomena yang tertangkap oleh mata kita mampu diolah dalam pikiran hingga
memunculkan berbagai pertanyaan yang menggelitik kita untuk mencari jawabannya.
Kreatif artinya dengan kepiawaian pola pikir kita didasari pemahaman yang mendalam
tentang konsep-konsep tertentu lalu kita berusaha menjelaskan atau bahkan menciptakan
suatu aktivitas yang mampu menjelaskan fenomena tersebut kepada diri sendiri atau
orang lain.
Sebagai contoh, seorang guru SD dapat meminta anak didiknya menyimpulkan
sifat benda cair hanya dengan meminta seluruh anak didiknya mengisi air ke dalam gelas
plastik yang beraneka ragam bentuknya. Seorang guru IPS SMP dapat saja menanamkan
pemahaman jenis-jenis motif ekonomi dengan membuat sosiadrama yang dimainkan oleh
anak didiknya kemudian ditebak oleh setiap anak. Demikian juga guru IPA dapat
menciptakan kegiatan yang baru dalam menjawab mengapa telur itik yang lebih banyak
dibuat telur asin dengan prinsip IPA yang telah dipelajari.
Guru yang kreatif dan inovatif adalah guru yang mampu mengembangkan
kegiatan yang beragam di dalam dan di luar kelas, membuat alat bantu / media sederhana yang dapat dibuat sendiri oleh anak didiknya. Demikian pula anak didik yang kreatif
dan inovatif mampu merancang sesuatu, menulis dan mengarang, dan membuat refleksi
terhadap semua kegiatan yang dilakukannya.
PEMBELAJARAN EFEKTIF
Efektif memiliki makna tepat guna, artinya sesuatu yang memiliki efek / pengaruh
terhadap yang akan dicapai / dituju. Pembelajaran efektif artinya pembelajaran yang
mampu mencapai kompetensi yang telah dirumuskan, pembelajaran dimana anak didik
memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pembelajaran dikatakan efektif jika
terjadi perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Adapun ciri-ciri pembelajaran efektif diantaranya tercapainya tujuan yang diharapkan, anak didik menguasai keterampilan yang ditargetkan. Belajar dan mengajar akan
efektif jika anak didik aktif dan semua aktivitas pembelajaran berpusat pada anak didik.
Hal ini karena pembelajaran yang berpusat pada anak didik akan mampu menimbulkan
minatnya dan secara tidak langsung mereka memahami konsep dan kaitannya dengan
aspek-aspek kehidupan.
PEMBELAJARAN MENYENANGKAN
Saat ini di berbagai negara sedang trend dan semangat mengembangkan joyful
learning dan meaningful learning, yaitu dengan menciptakan kondisi pembelajaran
5
sedemikian rupa sehingga anak didik menjadi betah di kelas karena pembelajaran yang
dijalani menyenangkan dan bermakna. Mereka merasakan bahwa pembelajaran yang
dijalani memberikan perbedaan dalam basis pengetahuan yang ada di pikirannya,
berbeda dalam memandang dunia sekitar, dan merasakan memperoleh sesuatu yang
lebih dari apa yang telah dimilikinya selama ini. Sebagai bangsa yang ingin maju dalam
era globalisasi yang kompetitif ini tentunya kita juga ingin merasakan pembelajaran yang
demikian.
Semua mata pelajaran dapat dibuat menjadi menyenangkan, tergantung bagaimana niat dan kemauan guru untuk menciptakannya. Pembelajaran yang dikemas dalam
situasi yang menyenangkan, jenaka, dan menggelitik sangat diharapkan oleh anak didik
saat ini yang sangat rawan stres karena saratnya materi ajar yang harus dikuasai.
Penelitian terhadap beberapa anak-anak sekolah di dunia yang diadakan UNESCO
menunjukkan sebagian dari mereka menginginkan belajar dengan situasi yang menyenangkan (Dedi Supriadi, 1999).
Pembelajaran menyenangkan artinya pembelajaran yang interaktif dan atraktif,
sehingga anak didik dapat memusatkan perhatian terhadap pembelajaran yang sedang
dijalaninya. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seorang guru menguraikan dan
menjelaskan suatu materi tanpa ada selingan dan anak didik hanya mendengarkan,
melihat, dan mencatat, maka perhatian dan konsentrasi mereka akan menurun secara
draktis setelah 20 menit. Keadaan ini semakin parah jika guru tidak menyadari dan
pembelajaran hanya berjalan monoton dan membosankan (Tjipto Utomo dan Kees
Ruijter, 1994). Lebih lanjut dikemukakan, keadaan ini dapat diatasi apabila guru
menyadari lalu mengubah pembelajarannnya menjadi menyenangkan dengan cara
memberi selingan aktivitas atau humor. Tindakan ini secara signifikan berpengaruh
meningkatkan kembali perhatian dan konsentrasi anak didik yang relatif besar.
Pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran yang membuat anak didik
tidak takut salah, ditertawakan, diremehkan, tertekan, tetapi sebaliknya anak didik berani
berbuat
dan
mencoba,
bertanya,
mengemukakan
pendapat
/
gagasan,
dan
mempertanyakan gagasan orang lain. Menciptakan suasana yang menyenangkan
tidaklah sulit, karena kita hanya menciptakan pembelajaran yang relaks (tidak tegang),
lingkuangan yang aman untuk melakukan kesalahan, mengaitkan materi ajar dengan
kehidupan mereka, belajar dengan balutan humor, dorongan semangat, dan pemberian
jeda berpikir. Dalam belajar guru harus menyadari bahwa banyak kata ”aku belum tahu”
akan muncul dan kata ”aku tahu” sedikit muncul, karena mereka memang dalam tahap
belajar. Demikian pula guru harus menyadari bahwa otak manusia bukanlah mesin yang
dapat disuruh berpikir tanpa henti, sehingga perlu pelemasan dan relaksasi.
6
Seperti diketahui, otak kita terbagi menjadi dua bagian, yaitu kanan dan kiri.
Terkadang dalam dunia pendidikan kita lupa akan pentingnya mengembangkan otak
sebelah kanan. Secara umum hanya otak kiri yang menjadi sasaran pengembangan,
terutama untuk ilmu eksakta. Otak sebelah kanan adalah bagian yang berkaitan dengan
imajinasi, estetika, intuisi, irama, musik, gambar, seni. Sebaliknya otak sebelah kiri
berkaitan dengan logika, rasio, penalaran, kata-kata, matematika, dan urutan. Untuk
menepis hal itu, sebenarnya kita dapat tunjukkan bahwa ilmu apapun mampu digunakan
sebagai bahan untuk mengembangkan otak sebelah kanan, diantaranya dengan cara
memahami dan menghafal konsep melalui puisi, nyanyian, maupun permainan teka-teki.
Otak kita adalah bagian tubuh yang paling rawan dan sensitif.
Otak sangat
menyukai hal-hal yang bersifat tidak masuk akal, ekstrim, penuh warna, lucu,
multisensorik, gambar 3 dimensi (hidup), asosiasi, imajinasi, simbol, melibatkan irama /
musik, dan nomor / urutan. Berdasarkan hal ini, maka kita sebagai pendidik dapat
merancang apa yang sebaiknya kita berikan kepada anak didik agar otak mereka
menyukainya.
PENGEMBANGAN SIKAP PEKA, KRITIS, DAN KREATIF PADA DIRI ANAK DIDIK
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa anak didik akan mampu mengi-kuti
pembelajaran yang kreatif dan inovatif bila ia memiliki sifat dasar peka, kritis, dan kreatif.
Demikian pula guru, ketiga sifat dasar tersebut juga harus ada dalam dirinya.
Diawali sifat peka yang tinggi terhadap fenomena di sekitar yang ada hubungannya dengan apa yang telah ada di kepalanya, maka selanjutnya akan memunculkan sifat
kritis dan kreatif. Berpikir kritis dan kreatif merupakan komponen utama berpikir tingkat
tinggi (higher order thinking). Proses berpikir tingkat tinggi harus dikembangkan secara
dini dalam diri anak didik, dan ini menjadi tugas seorang guru, karena guru harus mampu
mengembangkan potensi anak didiknya semaksimal mungkin hingga mencapai
kemampuan yang tinggi pada diri mereka. Sikap kritis dan kreatif dapat dikembangkan
melalui pembelajaran yang berpusat pada otak kanan sebagai sumber aktivitas kreatif.
Otak kiri mengendalikan wicara, sedangkan otak kanan mengendalikan tindakan.
Berbagai perilaku yang merupakan indikator berpikir kritis dan kreatif pada diri
anak didik dapat dilihat pada tabel berikut ini.
PERILAKU
 Bosan dengan tugas rutin, menolak membuat PR.
 Tidak berminat terhadap detail dan pekerjan
kotor.
 Membuat lelucon atau komentar pada saat
tidak tepat.
 Menolak otoritas, keras kepala.
7
TERKAIT DENGAN
Berpikir Kreatif
 Toleransi tinggi untuk makna ganda.
 Berpikir bebas, divergen.
 Berani ambil resiko.
 Imaginatif, sensitif.
Berpikir Kritis
 Sering tidak setuju ide guru / orang lain.
 Kritis terhadap diri, tak sabar menghadapi  Dapat melihat kesenjangan antara
kegagalan.
ke-nyataan dan kebenaran.
 Kritis terhadap guru / orang lain.
 Mengacu pada hal-hal yang ideal.
 Mampu menganalisis dan mengevaluasi.
Ketika anak didik kita diminta memilih dua hal yang berlawanan, misalnya “baikburuk”, salah – benar”, “tepat – menyimpang”, dan sebagainya. Biasanya mereka raguragu untuk memilihnya, bukan lantaran tidak dapat menentukan pilihan, tetapi pilihan
yang dijatuhkan pastinya membawa konsekuensi pada pemaparan alasan yang masuk
akal (logis).
Seorang anak didik yang kritis pasti dapat memberikan alasan atau argumen yang
kuat yang berkaitan dengan keputusan pilihannya. Selain itu, ia terbuka dengan pendapat
orang lain yang berbeda, sehingga akhirnya berpengaruh pada kehidupan dan pola sosialisasinya dengan orang lain. Anak didik yang kritis harus mampu bertanya tentang dirinya,
orang lain, masalah di sekitarnya, dan keputusan yang diambilnya. Ciri-ciri lainnya, ia
mampu : membedakan antara fakta, non-fakta, dan pendapat, membedakan antara
kesimpulan definitif dan sementara, menguji tingkat keterpercayaan, membedakan
informasi yang relevan dan tidak, mengidentifikasi sebab-akibat, mempertimbangkan
wawasan lain, dan menguji pertanyaan yang dimiliki (Radno Harsanto, 2005).
Kreatif merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris to create yang dapat
diurai : C (combine), R (reverse), E (eliminate), A (alternatif), T (twist), E (elaborate). Jadi,
seorang anak didik yang berpikir kreatif dalam benaknya berisi pertanyaan : dapatkan
saya mengkombinasi / menambah, membalik, menghilangkan, mencari cara / bahan lain,
memutar, mengelaborasikan sesuatu ke dalam benda yang sudah ada sebelumnya ?
Melepaskan diri dari sesuatu yang sudah terpola dalam pikiran kita bukanlah
pekerjaan yang mudah. Beberapa hal yang mampu membangkitkan pikiran kita untuk
menjadi kreatif antara lain : berfantasi atau mengemukakan gagasan / ide yang tidak
umum, terkesan “nyleneh”, berada pada satu gagasan / ide untuk beberapa saat, berani
mengambil resiko, peka terhadap segala keajaiban, penasaran terhadap suatu kebenaran, banyak membaca artikel penemuan yang membuatnya kagum dan terheran-heran.
Berpikir kreatif dapat diawali dengan bercanda dan berteka-teki tentang sesuatu,
karena berpikir kreatif berlangsung ketika otak dalam keadaan santai. Seorang pemikir
kreatif suka mencoba gagasan / ide yang berkebalikan dengan yang dipikirkan oleh orang
banyak. Mereka suka melihat sisi-sisi lain yang baginya lebih menarik untuk dicermati dan
dipikirkan. Kadang-kadang orang yang berpikir lurus tidak akan dapat “berteman baik”
dengan orang yang berpikir kreatif, karena menganggap ia sebagai orang aneh.
8
PENUTUP
Guru adalah profesi yang luar biasa mulia diantara profesi yang lain. Dengan
kesabaran dan keprofesinalannya seorang guru berusaha mentransfer segala apa yang
dimilikinya kepada anak didik tanpa lelah, setiap hari dan setiap saat. Suara yang lantang
adalah modal utamanya agar seluruh isi kelas mampu mendengarkan ilmunya. Namun
dengan adanaya inovasi pembelajaran dalam hal pernaikan kurikulum dan proses
pembelajaran, diharapkan modal suara guru dapat terkurangi. Melalui penciptaan PAKEM
diharapkan anak didik menjadi subjek belajar yang baik dan generasi yang mandiri,
mampu menciptakan sesuatu secara kreatif dan inovatif tanpa harus meniru bangsa lain.
Coba tanyakan kepada anak didik kita ketika yang mereka alami adalah
pembelajaran yang menerapkan PAIKEM, apakah mereka seperti ditarik magnet untuk
selalu mengikuti detik demi detik pembelajaran dan tak ingin segera berakhir ? Inovasi
pembelajaran yang tidak membosankan dan menempatkan anak didik sebagai seseorang
yang selalu berperan aktif dalam pembelajaran adalah seperti magnet yang mampu
menarik motivasi dan minatnya untuk belajar.
Tanpa mengurangi makna sebenarnya dari pembelajaran, marilah kita berusaha
menciptakan pembelajaran yang joyful learning dan meaningful learning dengan
membiasakan menggali dan melihat sisi-sisi menarik ilmu yang kita geluti. Semoga kita
termasuk guru yang dapat menciptakan kesenangan dalam belajar, bahkan kalau
mungkin dapat menyebabkan anak didik kecanduan belajar. Hidup ini penuh pilihan,
semoga pilihan kita sebagai guru adalah pilihan yang tepat untuk masuk surga (Amiiin).
DAFTAR PUSTAKA
Dedi Supriadi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta : Adicita Karya
Nusa.
Kamisa. (1997). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Kartika.
Laster, Lan. (1985). The School of the Future : Some Teachers View on Education in the
Year 2000. New York : Harper Collins Publishers.
Mel Silberman. (2002). Active Learning : 101 Stratgi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta :
Yappendis.
Ratna Wilis Dahar. (1991). Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga.
Radno Harsanto. (2005). Melatih Berpikir Analitis, Kritis, dan Kreatif. Jakarta : Grasindo.
Sheal, Peter. (1989). How to Develop and Present Staff Training Courses. London :
Kogan Page Ltd.
Tjipto Utomo dan Kees Ruijter. (1994). Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
9
Download