STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI PERAIRAN KAMPUNG

advertisement
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE
DI PERAIRAN KAMPUNG KELAM PAGI
KELURAHAN DOMPAK KECAMATAN BUKIT BESTARI
KOTA TANJUNGPINANG
Bharata Surya Dharma
Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH,
[email protected]
Chandra Joei Koenawan
Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH,
[email protected]
Andi Zulfikar, S.Pi, M.Si
Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH,
[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2015 sampai Juli 2015. Penentuan stasiun
mengunakan metode purposive sampling. Terdapat 8 jenis mngrove antara lain jenis Rizophora
apiculata, Rizophora mucronata, Avicennia Alba, Avicennia lanata, Bruguiera gymnorrhiza,
Rizophora stylosa, Sonneratia alba. Secara umum, kondisi mangrove di perairan Kelam Pagi
didominansi oleh jenis Rizophora apicullata dengan tingkat kerapatan tertinggi. Berdasarkan
hasil analisis menunjukkan bahwa jenis mangrove yang memiliki frekuensi kehadiran tertinggi
pada semua plot pengamataan adalah jenis Rhizophora apiculata yang artinya jenis ini yang
umumnya dijumpai pada setiap plot pengamatan mangrove. Indeks nilai penting tertinggi adalah
jenis Rizophora apiculata yang artinya paling memiliki pengaruh terbesar dalam suatu komunias
mangrove di perairan Kelam Pagi. Indeks keanekaragaman didapatkan nilai sebesar 1,71 dengan
kategori sedang. Indeks keseragaman menunjukkan nilai sebesar 0,57 dengan kategori sedang,
kondisi spesies mangrove dalam keadaan yang kurang seragam, indeks dominansi didapatkan
hasil sebesar 0,41 dengan kategori rendah, artinya tidak ada jenis yang mendominasi.
Kata Kunci : Mangrove, Struktur komunitas, Kampung Kelam Pagi, Kota Tanjungpinang.
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE
DI PERAIRAN KAMPUNG KELAM PAGI
KELURAHAN DOMPAK KECAMATAN BUKIT BESTARI
KOTA TANJUNGPINANG
Bharata Surya Dharma
Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan, FIKP UMRAH,
[email protected]
Chandra Joei Koenawan
Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH,
[email protected]
Andi Zulfikar, S.Pi, M.Si
Dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH,
[email protected]
ABSTRACT
This study was conducted in May 2015 to July 2015. The determination of the station
using purposive sampling method. There are 8 types of mngrove among other types of
Rizophoraapiculata,
Rizophoramucronata,
Avicennia
Alba,
Avicennialanata,
Bruguieragymnorrhiza, Rizophorastylosa, Sonneratiaalba. In general, the condition of mangrove
in the waters of the Dark Morning didominansi by Rizophoraapicullata types with the highest
density level. Based on the results of the analysis showed that the mangrove species that have the
highest frequency of attendance at all the plots pengamataan is Rhizophoraapiculata, which
means this type are generally found in each plot mangrove observation. The index value of the
highest importance is the type of Rizophoraapiculata which means that most have the greatest
influence in a community in mangrove waters Kelam morning. Diversity index obtained a value
of 1.71 with the medium category. Uniformity index showed a value of 0.57 in the medium
category, the condition of mangrove species in a state that is less uniform, showed dominance
index of 0.41 with a low category, meaning there is no dominant species.
Keywords : Mangrove, Struktur community, Kelam Pagi village, Tanjungpinang city.
PENDAHULUAN
Kampung Kelam Pagi merupakan
salah satu wilayah yang ada di Kelurahan
Dompak. Kampung Kelam Pagi pernah
dijadikan wilayah pertambangan bauksit
oleh pihak swasta dalam kurun waktu sekitar
lima tahun terakhir. Kondisi wilayah
tersebut dulunya memang memiliki perairan
yang begitu potensial terhadap para pelaku
di dunia perikanan dibuktikan dengan hasil
tangkapan nelayan yang begitu melimpah.
Akibat dari kegiatan pertambangan bauksit
di Kampung Kelam Pagi mengalami
kerusakan. Dapat dilihat dari hutan
mangrove yang dulunya tidak terjamah oleh
manusia, sekarang kondisinya kurang begitu
rimbun karena telah ditebang dan terjadinya
penimbunan disekitar wilayah tersebut.
Fungsi dari ekosistem mangrove adalah
sebagai tempat berkembang biak dan tempat
mencari makan bagi biota-biota yang ada di
sekitarnya. Pemanfaatan yang berlebihan
dan pengelolaan yang lemah dapat
mengakibatkan rusaknya keberadaan hutan
mangrove dan efek secara keseluruhan
dapat mengancam ekosistem lainnya.
Perumusan Masalah
Hutan
mangrove
di
perairan
Kampung Kelam Pagi mempunyai peran
dan fungsi ekologis serta fungsi ekonomis,
sehingga potensi sumberdaya ekosistem
mangrove di perairan Kampung Kelam Pagi
begitu besar. Oleh karena itu, perlu
dilakukannya pegumpulan data dasar dan
informasi
untuk
pengelolaan
hutan
mangrove.
Permasalahannya
adalah
bagaimana kondisi keanekaragaman jenis
ekosistem mangrove dan nilai indeks
ekologi ekosistem mangrove yang ada di
perairan Kampung Kelam Pagi saat ini?. Hal
inilah yang menarik Penulis untuk
melakukan penelitian di perairan Kampung
Kelam Pagi tersebut.
Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui data komposisi jenis
vegetasi mangrove,
2.
Mengetahui data tentang struktur
ekosistem mangrove,
3.
Mengetahui data tentang kondisi
perairan ekosistem mangrove.
Manfaat Penelitian
Manfaat
dari
penelitian
ini
diharapkan dapat memberikan informasi
mengenai kondisi ekosistem Mangrove yang
ada di perairan Kampung Kelam Pagi dalam
bentuk data base, sehingga dapat digunakan
sebagai sumber referensi dasar atau rujukan
dalam pengelolaan hutan mangrove yang
ada khususnya di perairan Kampung Kelam
Pagi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada bulan
Mei 2015 sampai Juli 2015 yang terdiri dari
identifikasi jenis, kerapatan jenis, frekuensi
jenis, tutupan lamun, dan nilai indeks
ekologi mangrove, serta pengukuran
parameter lingkungan yang meliputi suhu,
salinitas, pH, pasang surut, kekeruhan dan
substrat di perairan kampung Kelam Pagi,
Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit
Bestari, Kota Tanjungpinang, Provinsi
Kepulauan Riau.
Sumber : Basemap Bintan
Gambar 7. Peta lokasi penelitian
Tabel 1. Kordinat titik stasiun perairan laut Kampung Kelam Pagi
No Stasiun
Letak Lintang
1
I
104029’44,067” E dan 0050’51,236” N
2
II
104029’34,742” E dan 0050’57,306” N
3
III
104029’24,801” E dan 0051’3,186” N
Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan penelitian ini dapat dilihat pada
Tabel 2 berikut ini.
Table 2. Peralatan dan bahan yang digunakan selama penelitian
Alat dan bahan
Kegunaan
Keterangan
Global Positioning System (GPS)
Digunakan untuk penentuan lokasi
Insitu
Meteran dan tali
Buku identifikasi jenis mangrove
Roll meter
Refractometer
Untuk pembuatan garis transek
Untuk mengidentifikasi jenis mangrove
Untuk mengukur diameter batang
Untuk mengukur suhu
Untuk mengukur derajat keasaman
Untuk mengukur salinitas
Insitu
Insitu
Insitu
Turbiditymeter
Untuk mengukur kekeruhan perairan
Eksitu
Kamera
Untuk dokumentasi di lapangan
Alat tulis
Untuk mencatat hasil di lapangan
Sekop
Untuk mengambil substrat
Multytester
Metode Pengambilan Data
Data
yang
digunakan
dalam
penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder.
Penentuan stasiun mengunakan
metode purposive sampling, metode ini
merupakan teknik pengambilan contoh yang
digunakan apabila contoh yang akan diambil
mempunyai pertimbangan tertentu dan juga
penentuan lokasi penelitian secara sengaja,
berdasarkan tingkat kerapatan tutupan
mangrove
yang
dianggap
mewakili
ekosistem mangrove di Kampung Kelam
Pagi. Setelah melakukan survey awal di
lokasi penelitian, dapat disimpulkan bahwa
pengambilan sampel mangrove untuk
memenuhi representatif ekosistem mangrove
di Kelam Pagi diputuskan membagi stasiun
pengamatan menjadi 3 stasiun. Stasiun 1
dengan kerapatan mangrove yang renggang
atau tipis, sedangkan stasiun 2 kerapatan
mangrove yang agak renggang atau sedang,
dan stasiun 3 dengan kerapatan mangrove
yang tebal.
Indeks Nilai Ekologi Mangrove
Untuk
melihat
Indeks
Keanekaragaman
digunakan
metode
Shannon-Wiener dalam Krebs (1997) pada
setiap stasiun yaitu dengan rumus :
Dimana
H’
=
Indeks
keanekaragaman
Ni
= Jumlah individu
jenis ke i
N
= Jumlah individu
total
Pi
= Proporsi frekwensi
jenis ke-I terhadap jumlah total
Dengan nilai keanekaragaman (H’) :
H’ < 1
= Keanekaragaman rendah
dengan jumlah individu
tidak seragam
dan
salah satu spesiesnya ada
yang dominan.
1 ≤ H’ ≤ 3
= Keragaman sedang dengan
jumlah
individu
tiap
spesies tidak seragam tapi
tidak ada yang dominan.
H’ > 3
= Keragaman tinggi dengan
jumlah individu setiap
spesies seragam dan tidak
ada yang dominan.
Penghitungan
mengenai
keseragaman bertujuan untuk melihat
apakah spesies yang ada disuatu ekosistem
berada dalam keadaan seimbang atau tidak,
serta bertujuan untuk melihat apakah terjadi
persaingan pada ekosistem tersebut. Untuk
itu dapat dihitung mengacu pada Pielou
dalam Krebs, (1985) dengan rumus :
Dimana
E
=
Indeks
keseragaman (Equilibility) jenis
H’
=
Indeks
keragaman
Hmaks
=
Indeks
keragaman jenis maksimum
= Log2 S
Apabila nilai E mendekati 1 (>0,5),
berarti keseragaman suatu vegetasi dalam
keadaaan seimbang. Berarti tidak terdapat
persaingan, baik dari faktor tempat ataupun
makanan. Tetapi apabila nilai E berada <0,5
atau mendekati 0, berarti keseragaman jenis
organisme di perairan tersebut tidak
seimbang dan terdapat persaingan baik dari
faktor tempat maupun makanan. Indeks ini
menunjukan keseragaman suatu ekosistem
yaitu merata atau tidak. Nilai indeks
keseragaman berkisar antara 0 sampai 1
dengan katagori sebagai berikut:
E < 0,4
= Keseragaman kecil
0,4 ≤ E <0,6 = Keseragaman sedang
E ≥ 0,6
= Keseragaman besar
Perhitungan
Indeks
Dominansi
digunakan untuk mengetahui jenis yang
mendominasi di suatu perairan. Rumus yang
digunakan untuk menghitung Indeks
Dominasi mengacu pada Simpson dalam
Krebs (1997) sebagai berikut :
Dominansi
jenis
dihitung
menggunakan indeks dominansi Simpson
(Odum, 1997, dalam Fachrul 2007) sebagai
berikut :
D = ∑si=1 ( pi ) 2
Kisaran nilai indeks dominansi
berkisar antara 0 – 1. Nilai C mendekati 1
maka semakin kecil keseragaman suatu
Kriteria
Baik
Sangat
Padat
Penutup
an (%)
Kerapatan
(ind/ha)
≥ 75
≥ 1500
≥50 – <
≥ 1000 – <
75
1500
Rusak Jarang
< 50
< 1000
populasi dan terjadi kecenderungan suatu
jenis yang mendominansi populasi tersebut,
sebaliknya nilai dominansi yang mendekati
0 berarti tidak ada individu yang
mendominansi.
Sedang
Pengolahan dan Analisis Data
Data primer dan data sekunder yang telah
diperoleh disajikan dalam bentuk table,
skema dan gambar. Data-data tersebut
selanjutnya dianalisis secara deskriptif
setelah ditabulasikan serta dilakukan analisis
terhadap permasalahan yang berkaitan
dengan kondisi ekositem mangrove yang
dijumpai di perairan Kampung Kelam Pagi
Tabel 4. Kriteria baku kerusakan Mangrove
Sumber : Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor 201 Tahun 2004
Indeks Nilai Penting diperoleh dengan
rumus sebagai berikut :
𝑰𝑡𝑷 = 𝑲𝑹 + 𝑭𝑹
Dimana KR adalah kerapatan relatif,
FR adalah frekuensi relatif, dan DR adalah
dominasi relatif.
ο‚·
Kerapatan (K) :
𝑖𝑛𝑑
)
β„Žπ‘Ž
∑ 𝐼𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒 π‘ π‘’π‘Žπ‘‘π‘’ 𝑔𝑒𝑛𝑒𝑠
=
π‘™π‘’π‘Žπ‘  π‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘œπ‘›π‘‘π‘œβ„Ž
Kerapatan Relatif (KR) :
𝐾𝑔𝑒𝑛𝑒𝑠 π‘˜π‘’−𝑖
𝐾𝑅 (%) =
π‘₯ 100%
πΎπ‘ π‘’π‘™π‘’π‘Ÿπ‘’β„Ž 𝑔𝑒𝑛𝑒𝑠
𝐾(
ο‚·
ο‚· Frekuensi (F) :
∑ π‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘‘π‘’π‘šπ‘’π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘Žπ‘‘π‘’ 𝑔𝑒𝑛𝑒𝑠
𝐹=
∑ π‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘œπ‘›π‘‘π‘œβ„Ž
ο‚· Frekuensi Relatif (FR) :
𝐹𝑔𝑒𝑛𝑒𝑠 π‘˜π‘’−𝑖
𝐹𝑅 (%) =
π‘₯ 100%
πΉπ‘ π‘’π‘™π‘’π‘Ÿπ‘’β„Ž 𝑔𝑒𝑛𝑒𝑠
Kriteria baku kerusakan mangrove
diperoleh berdasarkan Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004,
sesuai dengan tabel 4 berikut ini :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 5. Pengukuran kondisi fisika – kimia
perairan laut Kampung Kelam Pagi
Parame
ter
Satu
an
Stasiun Penelitian
Salinitas
0
/00
Stasi
un 1
30
Suhu
oC
31
31
30,5
NTU
75,67
77,67
90,33
-
Pasir
Pasir
berlum
pur
-
7,9
7,9
Lump
ur
berpa
sir
7,8
Kekeruh
an
Substrat
pH
Stasiun
2
30
Stasi
un 3
29
Bak
u
Mut
u
s/d
34
2832
<5
-
78,5
Sumber : Data Lapangan (2015)
Komposisi
Mangrove
Kampung Kelam Pagi
di
Perairan
Komposisi Mangrove Stasiun I
Komposisi jenis mangrove dilihat
untuk menentukan jenis yang memiliki
jumlah terbanyak serta jumlah yang terkecil.
Komposisi dinyatakan dalam satuan persen
dengan batasan 100%. Hasil perhitungan
komposisi jenis mangrove pada stasiun I
dapat dilihat pada gambar 11.
Komposisi Mangrove pada
Stasiun I
6%
18%
35%
Rhizophora
apiculata
Rhizophora
mucronata
41%
Sonneratia
alba
Gambar 11. Komposisi jenis mangrove
Stasiun I
Hasil
perhitungan
komposisi
mangrove pada stasiun I menunjukkan
bahwa jenis Rizophora apiculata dengan
persentase 35 %, jenis Rizophora mucronata
dengan persentase 41 %, jenis Sonneratia
alba dengan persentase 18 % dan jenis
Avicennia alba dengan persentase 6 %.
Secara umum hasil analisis menunjukkan
bahwa jenis yang memiliki persentase
komposisi tertinggi adalah jenis Rizophora
mucronata dan jenis yang memiliki
komposisi terendah adalah jenis Avicennia
alba. Dilihat dari gambar di atas
menunjukkan bahwa terjadi dominansi jenis
oleh jenis Rizophora mucronata.
Komposisi Mangrove Stasiun II
Hasil
perhitungan
komposisi
mangrove pada stasiun II dapat dilihat pada
gambar 12 berikut.
Dari keterangan gambar di atas,
menunjukkan bahwa komposisi jenis
mangrove pada stasiun II yaitu Rizophora
apiculata dengan persentase jenis sebesar 55
%, jenis Rizophora mucronata memiliki
komposisi sebesar 18 %, jenis Avicennia
alba dengan persentase 1 %, jenis
Sonneratia alba dengan persentase 13 %,
dan jenis Rizophora stylosa dengan
persentase jenis sebesar 13 %. Secara
umum, kondisi mangrove di perairan
Kampung Kelam Pagi didominansi oleh
jenis Rizophora apicullata. Jenis Rizophora
sp memiliki jumlah yang paling banyak
diduga jenis ini mampu hidup pada berbagai
tipe habitat serta hidup di berbagai zona
pada lingkungan perairan yang berbeda.
Menurut Noor, et al., (2006), secara
sederhana, mangrove umumnya tumbuh
dalam 4 zona, yaitu pada daerah terbuka,
daerah tengah, daerah yang memiliki sungai
berair payau sampai hampir tawar, serta
daerah ke arah daratan yang memiliki air
tawar.
Komposisi Mangrove Stasiun III
Hasil perhitungan komposisi jenis
mangrove yang ada di stasiun III perairan
Kampung Kelam Pagi secara lengkap dapat
diliahat pada gambar 13.
Komposisi Jenis Mangrove pada
Stasiun III
Komposisi Mangrove Stasiun I
13%
Rhizophora
apiculata
13%
1%
18%
55%
Rhizophora
mucronata
Avicennia
alba
Sonneratia
alba
Gambar 12. Komposisi jenis mangrove
Stasiun II
13%
1%
2%
3%
8%
73%
Rhizophora
apiculata
Rhizophora
mucronata
Avicennia
lanata
Bruguiera
gymnorrhiza
Rhizophora
stylosa
Gambar 13. Komposisi jenis mangrove
Stasiun III
Dari keterangan gambar di atas,
menunjukkan bahwa komposisi jenis
mangrove pada stasiun
III
yaitu
Rhizophora apiculata dengan persentase
jenis sebesar 73 %, jenis Rhizophora
mucronata memiliki komposisi sebesar 3 %,
jenis Avicennia lanata dengan persentase 2
%, jenis Sonneratia alba dengan persentase
8 %, jenis Bruguiera gymnorriza dengan
persentase 1%, dan jenis Rhizophora stylosa
dengan persentase jenis sebesar 13%. Secara
umum, kondisi mangrove di perairan Kelam
Pagi didominansi oleh jenis Rhizophora
apicullata.
Struktur Vegetasi Mangrove di Perairan
Kampung Kelam Pagi
Kerapatan Mangrove Stasiun I
Berdasarkan hasil penelitian struktur
komunitas
mangrove
pada
perairan
Kampung Kelam Pagi, pada stasiun I
dijumpai 4 jenis mangrove dengan kerapatan
yang berbeda – beda. Nilai kerapatan
dinyatakan dalam satuan individu per hektar
dalam area sampling. Hasil pengukuran
kerapatan pohon mangrove pada stasiun I
dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Kerapatan Mangrove di Perairan
Kampung Kelam pagi Stasiun I
Juml
ah
Kerapat
an
Kerapatan
relatif
(ind)
(ind/ha)
(%)
31
344
34.83
37
411
41.57
Sonneratia alba
16
178
17.98
Avicennia alba
5
56
5.62
Totl
989
100
Jenis
Rhizophora
apiculata
Rhizophora
mucronata
Sumber: data penelitian lapangan (2015)
Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa kerapatan mangrove pada stasiun I
terdiri atas jenis Rhizophora apiculata
dengan tingkat kerapatan sebesar 344 ind/ha
, Rhizophora mucronata tingkat kerapatan
sebesar 411 ind/ha, Sonneratia alba tingkat
kerapatan sebesar 178 ind/ha, Avicennia
alba tingkat kerapatan sebesar 56 ind/ha.
Kerapatan total mangrove pada stasiun I ini
sebesar 989 ind/ha. Mengacu pada Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004
mengenai pedoman baku kerusakan
mangrove yang menyebutkan bahwa kondisi
mangrove yang rusak adalah yang memiliki
tingkat kerapatan rendah yaitu < 1000
ind/ha. Dengan demikian, kondisi mangrove
pada stasiun I tergolong dalam kerapatan
yang jarang yang mencirikan terjadi
kerusakan pada vegetasi mangrovenya.
Kerusakan
mangrove
yang
terjadi
diakibatkan oleh aktifitas pesisir berupa
pembukaan
lahan
serta
aktifitas
penambangan
yang
terjadi
akan
menimbulkan komposisi jenis mangrove
terganggu yang berpengaruh pada kerapatan
jenisnya. Selain itu, terjadi penebangan
pohon mangrove oleh masyarakat yang
memenfaatkan kayunya untuk dijadikan
bahan bangunan serta keperluan lainnya.
Untuk lebih jelasnya lagi, hasil
pengukuran tingkat kerapatan pohon
mangrove pada stasiun I dapat dilihat pada
gambar 14.
Avicennia alba
56
Sonneratia
alba
178
Rhizophora
mucronata
411
Rhizophora
apiculata
344
0
200
400
600
Gambar 14. Tingkat Kerapatan Mangrove
pada Stasiun I
Dari pantauan gambar di atas,
diketahui bahwa kerapatan jenis mangrove
yang tertinggi adalah jenis Rhizophora
mucronata dengan kerapatan 411 ind/ha.
Kerapatan jenis Rhizophora mucronata yang
tertinggi dipengaruhi oleh area sampling
mangrove yang diambil pada tepian sungai
yang umumnya ditumbuhi oleh vegetasi
mangrove Rhizophora sp. Menurut Bengen
(2000) bahwa vegetasi hutan mangrove di
Indonesia memiliki keanekaragaman jenis
yang tinggi, namun demikian hanya terdapat
kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang
spesifik hutan mangrove. Paling tidak di
dalam hutan mangrove terdapat salah satu
jenis tumbuhan sejati penting/dominan yang
termasuk
kedalam
empat
famili:
Rhizophoraceae (Rhizophora sp., Bruguiera
sp. dan Ceriops sp.), Sonneratiaceae
(Sonneratia sp.), Avicenniaceae (Avicennia
sp.) dan Meliaceae (Xylocarpus sp.) namun
yang paling banyak dijumpai adalah jenis
Rhizophoraceae.
Kerapatan Mangrove Stasiun II
Hasil analisa tingkat kerapatan
pohon mangrove stasiun II di perairan
Kampung Kelam Pagi secara lengkap dapat
dilihat pada tabel 7 berikut.
Tabel 7. Kerapatan Mangrove di perairan
Kampung Kelam pagi Stasiun II
Jenis
Rhizophora
apiculata
Rhizophora
mucronata
Avicennia alba
Sonneratia
alba
Rhizophora
stylosa
jumla
h
(ind)
kerapat
an
(ind/ha)
kerapatan
relatif
(%)
64
711
55.17
21
233
18.10
1
11
0.86
15
167
12.93
15
167
12.93
Total
1289
100
Sumber: data penelitian lapangan (2015)
Tabel 6 menunjukkan kerapatan jenis
Rizophora apiculata dengan kerapatan
sebesar 711 ind/ha, jenis Rizophora
mucronata memiliki dengan kerapatan
sebesar 223 ind/ha, jenis Avicennia alba
dengan kerapatan sebesar 11 ind/ha, jenis
Sonneratia alba dengan kerapatan sebesar
167 ind/ha, dan jenis Rizophora stylosa
dengan kerapatan sebesar 167 ind/ha. Secara
umum, kondisi mangrove di perairan Kelam
Pagi didominansi oleh jenis Rizophora
apicullata.
Nybakken
(1993),
menyatakan
bahwa daerah yang menghadap ke arah laut
dari mangrove pasifik sebagian besar
didominasi oleh satu atau lebih Avicennia.
Yang berasosiasi di dalam zona ini dan
tumbuh pada bagian yang menghadap
kearah laut adalah pohon-pohon dari genus
Sonneratia, yang tumbuh pada daerah yang
senantiasa basah. Di belakang zona
Avicennia terdapat zona Rhizophora, yang
didominasi oleh satu atau lebih spesies dan
berkembang pada daerah intertidal yang
luas. Di depan yang menghadap ke daratan
adalah zona Bruguiera, pohon ini
berkembang pada sedimen tanah liat pada
tingkat air pasang purnama yang tinggi.
Zona yang terakhir adalah zona Ceriops,
suatu asosiasi dari semak-semak yang kecil.
Sementara hasil pengukuran tingkat
kerapatan mangrove pada stasiun II dapat
dilihat pada gambar 15.
Tingkat Kerapatan Mangrove
Stasiun II (Ind/ha)
Rhizophora Stylosa
167
Sonneratia alba
167
Avicennia Alba
Rhizophora…
Rhizophora apiculata
11
233
711
Gambar 15. Tingkat Kerapatan Mangrove
pada Stasiun II
Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa
jenis yang memiliki kerapatan tertinggi
adalah jenis Rizophora apiculata dengan
kerapatan sebesar 711 ind/ha, dengan total
kerapatan pohon pada stasiun II sebesar
1289 ind/ha. Mengacu pada Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 201
Tahun 2004 mengenai pedoman baku
kerusakan mangrove yang menyebutkan
bahwa kondisi mangrove yang sedikit rusak
adalah yang memiliki tingkat kerapatan
sedang yaitu ≥ 1000 – < 1500 ind/ha.
Dengan demikian, kondisi mangrove pada
stasiun II tergolong dalam kerapatan yang
sedang.
a)
Kerapatan Mangrove Stasiun III
Hasil analisis tingkat kerapatan
mangrove Stasiun III pada perairan
Kampung Kelam Pagi dapat dilihat pada
tabel 8.
Tabel 8. Kerapatan Mangrove di perairan
Kampung Kelam pagi Stasiun III
Jenis
Rhizophora
apiculata
Rhizophora
mucronata
Avicennia lanata
Bruguiera
gymnorrhiza
Rhizophora
stylosa
Sonneratia alba
Jumla
h
(ind)
Kerapat
an
(ind/ha
)
Kerapatan
relatif
(%)
99
1100
72.80
4
44
2.94
3
33
2.21
1
11
0.74
18
200
13.24
11
122
8.09
Total
1511
100
Sumber: data penelitian lapangan (2015)
Tabel 8 menunjukkan kerapatan jenis
Rhizophora apiculata dengan kerapatan
sebesar 1100 ind/ha, jenis Rhizophora
mucronata
memiliki dengan kerapatan
sebesar 44 ind/ha, jenis Avicennia lanata
dengan kerapatan sebesar 33 ind/ha,
Bruguiera gymnorrhiza dengan kerapatan
sebesar 11 ind/ha, jenis Rhizophora stylosa
dengan kerapatan sebesar 200 ind/ha, dan
jenis Sonneratia alba dengan kerapatan
sebesar 122 ind/ha. Secara umum, kondisi
mangrove di perairan Kampung Kelam Pagi
didominansi
oleh
jenis
Rhizophora
apiculata. Kemudian hasil dari analisis tabel
di atas disajikan dalam grafik seperti pada
gambar 16.
Tingkat Kerapatan Mangrove
Stasiun III
Sonneratia alba
122
Rhizophora Stylosa
200
Bruguiera… 11
Avicennia Lanata
Rhizophora…
Rhizophora apiculata
33
44
1100
Gambar 16. Tingkat Kerapatan Mangrove
pada Stasiun III
Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa
jenis yang memiliki kerapatan tertinggi
adalah jenis Rhizophora apiculata dengan
kerapatan sebesar 1100 ind/ha, dengan total
kerapatan pohon pada stasiun II sebesar
1511 ind/ha. Berdasarkan Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 201
Tahun 2004 mengenai pedoman baku
kerusakan mangrove yang menyebutkan
bahwa kondisi mangrove yang baik adalah
yang memiliki tingkat kerapatan tinggi yaitu
> 1500 ind/ha. Dengan demikian, kondisi
mangrove pada stasiun III tergolong dalam
kerapatan yang tinggi/rapat.
Secara visual dan dengan bantuan
aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG)
stasiun 1 berada pada hutan mangrove yang
mempunyai ketebalan tipis atau jarang,
dalam pengamatan ini didapati 4 jenis
mangrove sejati yaitu Avicennia alba,
Rhizophora
apiculata,
Rhizophora
mucronata dan Sonneratia alba yang mana
daerah ini didominasi oleh Rhizophora
apiculata dari total daerah pengamatan.
Untuk stasiun 2 berada pada daerah hutan
mangrove yang mempunyai ketebalan
sedang, daerah pengamatan ini didapati 5
jenis mangrove sejati yaitu Avicennia alba,
Rhizophora
apiculata,
Rhizophora
mucronata, Rhizophora stylosa dan
Sonneratia alba yang mana daerah ini
didominasi oleh Rhizophora mucronata dari
total daerah pengamatan. Dan untuk stasiun
3 berada pada daerah hutan mangrove yang
memiliki ketebalan padat, sehingga cukup
menyulitkan untuk berjalan menembus areal
tersebut. Pada daerah pengamatan ini
didapati ada 7 jenis mangrove sejati yaitu,
Avicennia
alba,
Avicennia
lanata,
Sonneratia alba, Rhizophora apiculata,
Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa,
dan Bruguiera gymnorrhiza yang di daerah
ini didominasi oleh Rhizophora apiculata
dari total daerah pengamatan.
kondisi mangrove di perairan Kampung
Kelam Pagi didominansi oleh jenis
Rhizophora apicullata. Hasil perhitungan
kerapatan total mangrove di Kampung
Kelam Pagi juga dapat dilihat pada gambar
17.
4
11
Bruguiera gymnorrhiza
Avicennia lanata
122
Rhizophora stylosa
22
Avicennia alba
156
229
Sonneratia alba
Rhizophora mucronata
Kerapatan total mangrove di Perairan
Kampung Kelam Pagi
Kerapatan mangrove total untuk
seluruh stasiun pengamatan secara lengkap
dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini.
Tabel 9. Kerapatan total Mangrove di
perairan Kampung Kelam Pagi
Jenis
Kerapata
n
(ind/ha)
718
Kerapatan
relatif
(%)
56.88
229
18.16
156
12.33
Avicennia alba
22
1.77
Rhizophora stylosa
122
9.69
Avicennia lanata
Bruguiera
gymnorrhiza
Jumlah
11
0.87
4
0.29
1263
100
Rhizophora apiculata
Rhizophora
mucronata
Sonneratia alba
Sumber: data penelitian lapangan (2015)
Tabel 9 menunjukkan kerapatan jenis
Rizophora apiculata dengan kerapatan
sebesar 718 ind/ha, jenis Rizophora
mucronata
memiliki dengan kerapatan
sebesar 229 ind/ha, jenis Sonneratia Alba
memiliki kerapatan sebesar 156 ind/ha, jenis
Avicennia Alba memiliki kerapatan sebesar
22 ind/ha, jenis Avicennia lanata dengan
kerapatan sebesar 11 ind/ha, Bruguiera
gymnorrhiza dengan kerapatan sebesar 4
ind/ha, jenis Rizophora stylosa dengan
kerapatan sebesar 122 ind/ha. Secara umum,
718
Rhizophora apiculata
0
200 400 600 800
Gambar 17. Tingkat Kerapatan Mangrove
Total di Kampung Kelam Pagi
Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa
jenis yang memiliki kerapatan tertinggi
adalah jenis Rizophora apiculata dengan
kerapatan sebesar 718 ind/ha, dengan total
kerapatan pohon pada Kampung Kelam Pagi
sebesar 1263 ind/ha. Berdasarkan Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 201
Tahun 2004 mengenai pedoman baku
kerusakan mangrove yang menyebutkan
bahwa kondisi mangrove yang Baik adalah
yang memiliki tingkat kerapatan sedang
yaitu 1000 - 1500 ind/ha. Dengan demikian,
kondisi mangrove pada Kampung Kelam
Pagi
tergolong dalam kerapatan yang
sedang..
Frekuensi Total Mangrove di Perairan
Kampung Kelam Pagi
Kondisi frekuensi Mangrove pada
Kampung Kelam pagi secara keseluruhan
dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Frekuensi Mangrove di Perairan
Kampung Kelam pagi
Jenis
Rhizophora
apiculata
Rhizophora
Frekuen
si
Frekuensi
Relatif
(%)
0.63
29.83
0.59
28.07
lanata
mucronata
Sonneratia alba
0.48
22.81
Avicennia alba
0.11
5.26
Rhizophora stylosa
0.22
10.53
Avicennia lanata
Bruguiera
gymnorrhiza
Jumlah
0.04
1.75
0.04
1.75
2.11
100
Bruguiera
gymnorrhiza
Jumlah
Sumber: data penelitian lapangan (2015)
Frekuensi
jenis
Rhizophora
apiculata dengan frekuensi sebesar 0,63,
jenis Rhizophora mucronata
memiliki
dengan frekuensi sebesar 0,59, jenis
Avicennia lanata dengan frekuensi sebesar
0,04, jenis avicennia Alba memliliki
persentase frekuensi sebesar 0,11, jenis
Bruguiera gymnorrhiza dengan frekuensi
sebesar 0,04, jenis Rhizophora stylosa
dengan frekuensi sebesar 0,22, dan jenis
Sonneratia alba dengan frekuensi sebesar
0,48.
Berdasarkan
hasil
analisis
menunjukkan bahwa jenis mangrove yang
memiliki frekuensi kehadiran tertinggi pada
semua plot pengamataan adalah jenis
Rhizophora apiculata yang artinya jenis ini
yang umumnya dijumpai pada setiap plot
pengamatan mangrove.
Indeks Nilai Penting Total Mangrove di
Perairan Kampung Kelam Pagi
Indeks Nilai Penting Mangrove yang
dianalisis secara total didapatkan hasil
seperti pada tabel 17.
Tabel 17.
Indeks Nilai Penting Total
Mangrove di Perairan Kampung Kelam Pagi
Jenis
Rhizophora
apiculata
Rhizophora
mucronata
Sonneratia alba
Avicennia alba
Rhizophora
stylosa
Avicennia
3
Kerapatan
relatif
Frekuensi
relatif
56.88
29.83
18.16
28.07
12.33
22.81
1.77
5.26
9.69
10.53
IN
P
86.
70
46.
23
35.
13
7.0
3
20.
21
0.87
1.75
2.6
0.29
1.75
2.0
4
100
100
200
Sumber: data penelitian lapangan (2015)
Tabel 17 menunjukkan Indeks nilai
penting jenis Rhizophora apiculata dengan
nilai 86,70 %, jenis Rhizophora mucronata
memiliki Indeks nilai penting 46,23 %, jenis
Avicennia alba
dan Avicennia lanata
dengan Indeks nilai penting masing –
masing jenis tersebut adalah 7,03 % dan
2,63 %, Bruguiera gymnorrhiza dengan
Indeks nilai penting 2,04 %,
jenis
Rhizophora stylosa dengan Indeks nilai
penting 20,21 %, dan jenis Sonneratia alba
dengan Indeks nilai penting 35,13 %. Dari
hasil tersebut menunjukkan Indeks nilai
penting tertinggi adalah jenis Rhizophora
apiculata yang artinya paling memiliki
pengaruh terbesar dalam suatu komunitas
mangrove di perairan Kampung Kelam Pagi.
Keanekaragaman, Keseragaman, dan
Dominansi Total
Hasil analisis nilai Indeks Nilai
Keanekaragaman,
Keseragaman,
dan
Dominansi total mangrove dapat dilihat
pada tabel 21.
Tabel 21. Indeks Nilai Keanekaragaman,
Keseragaman, dan Dominansi Total
Indeks
Nilai Kategori
1.71 Sedang
0.57 Sedang
Dominansi (C)
0.41 Rendah
Sumber: data penelitian lapangan (2015)
Indeks keanekaragaman didapatkan
nilai sebesar 1,71 dengan kategori sedang,
artinya keanekaragaman mencirikan kondisi
jumlah spesies mangrove masih tergolong
kecil.
Hasil
nilai
keanekaragaman
menunjukkan kondisi perairan cukup baik
walaupun ada gangguan pencemaran yang
masih dalam kondisi ringan.
Indeks
keseragaman menunjukkan nilai sebesar
Keanekargaman (H)
Keseragaman (E)
0,57 dengan kategori sedang, kondisi spesies
mangrove dalam keadaan yang kurang
seragam, indeks dominansi didapatkan hasil
sebesar 0,41 dengan kategori rendah, artinya
tidak ada jenis yang mendominasi.
PENUTUP
Kesimpulan
Jenis Rhizophora apiculata dengan
kerapatan sebesar 718 ind/ha, jenis
Rhizophora mucronata memiliki dengan
kerapatan sebesar 229 ind/ha, jenis
Sonneratia alba memiliki kerapatan sebesar
156 ind/ha, jenis Avicennia alba memiliki
kerapatan sebesar 22 ind/ha, jenis Avicennia
lanata dengan kerapatan sebesar 11 ind/ha,
Bruguiera gymnorrhiza dengan kerapatan
sebesar 4 ind/ha, jenis Rizophora stylosa
dengan kerapatan sebesar 122 ind/ha. Secara
umum, kondisi mangrove di perairan
Kampung Kelam Pagi didominansi oleh
jenis Rhizophora apicullata. Frekuensi jenis
Rhizophora apiculata dengan frekuensi
sebesar 0,63, jenis Rhizophora mucronata
memiliki dengan frekuensi sebesar 0,59,
jenis Avicennia lanata dengan frekuensi
sebesar 0,04, jenis Avicennia alba memliliki
persentase frekuensi sebesar 0,11, jenis
Bruguiera gymnorrhiza dengan frekuensi
sebesar 0,04, jenis Rhizophora stylosa
dengan frekuensi sebesar 0,22, dan jenis
Sonneratia alba dengan frekuensi sebesar
0,48.
Berdasarkan
hasil
analisis
menunjukkan bahwa jenis mangrove yang
memiliki frekuensi kehadiran tertinggi pada
semua plot pengamataan adalah jenis
Rhizophora apiculata yang artinya jenis ini
yang umumnya dijumpai pada setiap plot
pengamatan mangrove.
Indeks nilai penting
jenis
Rhizophora apiculata dengan nilai 86,70 %,
jenis Rhizophora mucronata
memiliki
Indeks nilai penting 46,23 %, jenis
Avicennia alba
dan Avicennia lanata
dengan Indeks nilai penting masing –
masing jenis tersebut adalah 7,03 % dan
2,63 %, Bruguiera gymnorrhiza dengan
Indeks nilai penting 2,04 %,
jenis
Rhizophora stylosa dengan Indeks nilai
penting 20,21 %, dan jenis Sonneratia alba
dengan Indeks nilai penting 35,13 %. Dari
hasil tersebut menunjukkan Indeks nilai
penting tertinggi adalah jenis Rhizophora
apiculata yang artinya paling memiliki
pengaruh terbesar dalam suatu komunias
mangrove di perairan Kampung Kelam Pagi.
Indeks keanekaragaman didapatkan
nilai sebesar 1,71 dengan kategori sedang,
artinya keanekaragaman mencirikan kondisi
jumlah spesies mangrove masih tergolong
kecil.
Hasil
nilai
keanekaragaman
menunjukkan kondisi perairan cukup baik
walaupun ada gangguan pencemaran yang
masih dalam kondisi ringan.
Indeks
keseragaman menunjukkan nilai sebesar
0,57 dengan kategori sedang, kondisi spesies
mangrove dalam keadaan yang kurang
seragam, indeks dominansi didapatkan hasil
sebesar 0,41 dengan kategori rendah, artinya
tidak ada jenis yang mendominasi.
Saran
Perlu dilkukan penelitian lanjutan
mengenai pola sebaran mangrove serta
zonasi mangrove di perairan Kampung
Kelam Pagi untuk menggambarkan kondisi
mangrove yang lebih jelas serta perlu
menjaga kondisi mangrove agar tetap baik
dengan kerapatan yang lebat.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, A.2003. Hutan Mangrove (Fungsi
dan
Peranannya).
Kanisius,
Yogyakarta.
Ayunda, R. 2011. Struktur Komunitas
Gastropoda
pada
Ekosistem
Mangrove di Gugus Pulau Pari,
Kepulauan
Seribu
(Skripsi).
Universitas Indonesia. Depok.
Bengen, D.G. 2000. Sinopsis Ekosistem dan
Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan .
Institut Pertanian Bogor. Bogor,
Indonesia.
A.
Kusmana.
1997.
Ekologi
dan
Sumberdaya Ekosistem Mangrove.
Jurusan Manajemen Hutan Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Kanisius.
Yogyakarta.
Ellen,
S.Si & Rolando, S.Si, 2001.
Mengenal Hutan Mangrove, Bogor,
Jawa Barat.
Fachrul. M .F. 2007. Metode Sampling
Bioekologi. Penerbit. Bumi Aksara: Jakarta.
Jesus, Antonie de. 2012. Kondisi ekosistem
mangrove di sub district Liquisa
Timor-Leste. Depik, 1(3): 136-143.
Desember 2012.ISSN 2089-7790.
Kaswadji, R. 1971.Analisis Ekosistem
Pesisir dan Laut. Fakultas Perikanan
dan Kelautan IPB, Bogor.
Kordi, M. G. H. dan A. B. Tancung. 2007.
Pengelolaan Kualitas Air dalam
Budidaya Perairan. Rineka Cipta.
Jakarta.
Kusmana. C. S. Takeda, and H. Watanabe.
1995. Litter Production of a
Mangrove Forest in East Sumatera,
Indonesia. Prosidings Seminar V:
Ekosistem Mangrove, Jember, 3-6
Agustus 1994: 247-265. Kontribusi
MAB Indonesia No. 72-LIPI,
Jakarta.
Kusmana, dkk , 2003 , Teknik Rehabilitasi
Mangrove , Bogor : Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2004.
Keputusan
Menteri
Negara
Lingkungan Hidup Nomor 201
Tentang Kriteria Baku dan Pedoman
Penentuan Kerusakan Mangrove.
Kementerian Lingkungan Hidup.
Jakarta.
M. Ghufran H. Kordi K. 2012, Ekosistem
Mangrove, PT RINEKA CIPTA, Jakarta
Muktasor. 2007. Pencemaran Pesisir dan
Laut. Penerbit. PT Pradnya Paramita:
Jakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut, Suatu
Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia.
Jakarta.
Nontji, Anugerah., 2005. Laut Nusantara.
Cetakan Keempat. Djambatan. Jakarta.
Nontji. A. 2007. Laut Nusantara. Penerbit
Djambatan : Jakarta.
Cecep Kusumana, MS, 2011. Manajemen
Hutan Mangrove. PT Penerbit IPB
press, Kampus IPB Taman Kenvana
Bogor.
Romimohtarto K & Juwana S. 2007.
Biologi Laut. Penerbit Djambatan : Jakarta
.
Wibisono,M.S.2005.Pengantar
Ilmu
Kelautan.
PT.
Gramedia
Widiasarana Indonesia. Jakarata.
Download