BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori dan Penelitian yang

advertisement
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori dan Penelitian yang Relevan
1. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan Siswa
a. Pengertian Tugas Perkembangan
Individu dalam perjalanan hidupnya terus mengalami pertumbuhan dan
perkembangan. Setiap tahapan perkembangan terdapat fase yang harus di lalui
dan di tuntaskan. Tahapan perkembangan individu terbagi menjadi empat fase,
antara lain dimulai dari masa anak, masa remaja, dan masa dewasa. Masa
Remaja dapat didefinisikan secara umum sebagai suatu periode dalam
perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa
kanak-kanaknya sampai datangnya awal masa depannya (Makmun, 2004: 130).
Berdasarkan hal tersebut individu yang memasuki usia remaja akan berusaha
memenuhi tugas perkembangan pada saat ini, agar dapat lebih mudah
memenuhi tugas – tugas perkembangan selanjutnya.
Adapun
menurut
Havighurst
(1953:2)
mengartikan
tugas-tugas
perkembangan sebagai berikut:
A developmental task is a task which arises at or about a certain period
in the life of the individual, successful achievement of which leads to his
happiness and to success with later task, while failure leads to
unhappiness in the individual, disapproval by society, and difficult with
later task.
Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang
muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila
tugas itu dapat berhasil di tuntaskan akan membawa kebahagiaan dan
kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal,
maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu
yang
9
bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan
dalam menuntaskan tugas tugas berikutnya.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa pencapaian tugas perkembangan
pada siswa sangatlah penting sebagai pondasi dan tolak ukur kesuksesan
memenuhi syarat keberhasilan dan kebahagiaanya dalam suatu masa
perkembangan, dan juga sebagai pendongkrak keberhasilan dalam menempuh
tugas-tugas berikutnya. Namun apabila seorang tidak dapat menempuh tugas
perkembangan secara sempurna akan menimbulkan kemunduran berupa
munculnya rasa tidak bahagia dalam diri individu yang bersangkutan,
menimbulkan penolakan dalam masyarakatnya, bahkan individu yang
bersangkutan mengalami hambatan dalam penyelesaian tugas-tugas berikutnya.
Mamat Supriatna (2010:37) mengemukakan perkembangan perilaku yang
efektif sebagai tujuan pelaksanaan bimbingan dapat dilihat dari pencapaian
tugas-tugas perkembangan. Dari pendapat tersebut dapat dimaknaai bahwa
dalam bimbingan perkembangan, perilaku yang efektif dari seorang individu
dapat dilihat dari pencapaian tugas perkembangan individu tersebut yaitu
sebagai salah satu tujuan dari bimbingan konseling perkembangan.
b. Pentingnya Pemahaman akan tugas perkembangan
Setiap
masa
perkembangan
seorang
individu
memiliki
tugas
perkembangan yang harus di penuhi, penting bagi seorang pendidik untuk
mengetahui pentingnya pemahaman terhadap tugas perkembangan siswa untuk
mengawal siswanya memenuhi tugas-tugas perkembangan yang harus di
lewatinya.
Havighurst (1953:5) mengemukakan alasan pentingnya pemahaman
terhadap tugas perkembangan bagi pendidik, yaitu:
First, it helps in discovering and starting the purposes of education in
school education may be conceived of the society, through the school to
help the individual achieve certain of his developmental task. The
second use of concept is in the timing of educational efforts. When the
10
body is ripe, and the society requires, and the self is ready to achieve a
certain task, the teachable moment has come.
Dari kutipan tersebut di ketahui bahwa pemahaman terhadap tugas
perkembangan penting karena, pertama, membantu dalam menemukan dan
menyatakan tujuan pendidikan di sekolah. Pendidikan dapat dipahami sebagai
upaya masyarakat melalui sekolah membantu seorang individu untuk mencapai
tugas perkembangannya. Kedua, salah satu upaya membantu individu dalam
mencapai tugas perkembangannya di masyarakat.
Mamat Supriatna (2010:32) menjelaskan bahwa “Konselor juga
bekerja sebagai perancang dan pengembang kurikulum dalam pengembangan
kognitif, afektif, dan perkembangan serta pertumbuhan fisik. Sehingga guru
adalah sebagai pemberi kontrol terhadap aspek penunjang perkembangan”.
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa guru
pembimbing berusaha menjadi fasilitator perkembangan peserta didik dengan
cara merancang dan mengembangkan kurikulum.
c. Tugas Perkembangan Siswa Sekolah Menengah Atas
Menurut Sunaryo Kartadinata,dkk (2003) Ada 10 aspek perkembangan
pada siswa SD dan SLTP, serta 11 Aspek pada siswa SLTA dan siswa PT.
Aspek aspek yang diungkap berdasarkan permasalahan dan kebutuhan akan
perkembangan siswa yang dihadapi dalam proses pendidikan di sekolah.
Walaupun aspek-aspek itu bersinggungan dengan teori Havighurst, temuan ini
sudah lebih banyak muatan empirik sesuai dengan kondisi Indonesia.
Sebelas aspek perkembangan siswa sebagai berikut :
1) Landasan Hidup Religius meliputi: a) sholat dan berdoa, b) belajar
agama, c) keimanan , d) sabar
2) Landasan perilaku etis meliputi: a) jujur, b) hormat kepada orang tua, c)
sikap sopan dan santun, d) ketertiban dan kepatuhan
11
3) Kematangan emosional meliputi: a) kebebasan dalam mengemukakan
pendapat, b) tidak cemas, c) pengendalian emosi, d) kemampuan menjaga
stabilitas emosi
4) Kematangan intelektual meliputi: a) sikap kritis, b). sikap rasional, c)
kemampuan membela hak pribadi, d) kemampuan menilai
5) Kesadaran tanggung jawab meliputi: a) mawas diri, b) tanggung jawab
atas tindakan pribadi, c) partisipasi pada lingkungan, d) disiplin
6) Peran sosial sebagai pria atau wanita meliputi: a) perbedaan pokok lakilaki dan perempuan, b) peran sosial sesuai jenis kelamin, c) tingkah laku
dan kegiatan sesuai jenis kelamin, d) cita cita sesuai jenis kelamin.
7) Penerimaan diri dan pengembangannya meliputi: a) kondisi fisik, b)
kondisi mental, c) pengembangan cita-cita, d) pengembangan pribadi
8) Kemandirian perilaku ekonomis meliputi: a) upaya menghasilkan uang,
b) sikap hemat dan menabung, c) bekerja keras dan ulet, d) tidak
mengharap pemberian orang.
9) Wawasan persiapan karir meliputi: a) pemahaman jenis pekerjaan, b)
kesungguhan belajar, c) upaya meningkatkan keahlian, d) perencanaan
karir
10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya meliputi: a) pemahaman
tingkah laku orang lain, b) kemampuan berempati, c) kerja sama, d)
kemampuan hubungan sosial
11) Persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga meliputi: a)
pemilihan pasangan/teman hidup, b) kesiapan menikah, c) membangun
keluarga, d) reproduksi yang sehat.
d. Tingkat pencapaian tugas perkembangan
Tingkat pencapaian tugas perkembangan siswa adalah seberapa tinggi
tingkat pencapaian suatu tugas perkembangan.
12
Syamsu Yusuf (2011:76) menyebutkan bahwa tingkat pencapaian tugastugas perkembangan ada tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Ketiga
kategori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Tinggi. Indikatornya, memiliki sahabat dekat dua orang atau lebih,
sebagai anggota klik dari jenis kelamin yang sama secara mantap,
dipercaya oleh teman sekelompok dalam posisi tanggung jawab
tertentu, memiliki penyesuaian sosial yang baik, meluangkan waktu
untuk berinteraksi, mau bekerjasama dengan orang lain yang mungkin
tidak disenangi untuk mencapai tujuan kelompok, menyenangi lawan
jenis, memilihara diri secara baik, aktif dalam berolahraga,
mempunyai minat untuk mempersiapkan diri dalam suatu pekerjaan
yang sesuai dengan jenis kelaminnya, mampu mengarahkan diri dalam
memelihara kesehatan secara rutin, mempersepsi tubuh dan jenis
kelaminnya secara tepat, memiliki pengetahuan tentang reproduksi,
memiliki tujuan hidup yang realistik, mampu mengembangkan
persepsi yang positif terhadap orang lain dan mencoba berintegrasi
dengan keluarga secara mandiri, dan memiliki reputasi sifat moral
yang baik.
2) Sedang. Indikatornya,
memiliki seorang teman dekat, menjadi
anggota klik namun kurang mendapat perhatian, memiliki kemampuan
sosial yang sedang, merasa tidak percaya diri, apabila berada dalam
kelompok yang beragam, remaja pria matang seksualnya namun
kurang mempunyai perhatian terhadap remaja wanita, menampilkan
ciri-ciri maskulinitas, namun masih ragu, takut atau menolak peran
heteroseksualnya,
hanya
menyenagi
olahraga
ringan,
mampu
mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan, namun tidak mampu
memelihara program kesehatan dalam jangka waktu lama, ego
idealnya dipengaruhi oleh dewasa muda, sikapnya belum ajeg antara
desakan untuk menjadi dewasa dengan sikap kekanak-kanakan,
13
kadang-kadang kurang bersikap jujur, bersikap altruis namun kurang
matang, cenderung mementingkan kebutuhan sendiri daripada orang
lain, mau bekerjasama apabila ada tekanan dari kelompoknya atau
orang dewasa.
3) Rendah. Indikatornya, tidak memiliki teman akrab, tidak pernah
diundang oleh teman untuk menghadiri acara kelompok, sering
dikambing hitamkan oleh teman sebaya, sering balas dendam dengan
sikap bermusuhan, remaja pria tidak mempunyai interes terhadap
remaja
wanita,
tidak
menyenangi
olahraga,
remaja
wanita
penampilannya seperti anak kecil, berpenampilan seperti remaja pria,
kurang memiliki kebiasaan untuk memelihara kesehatan diri dan
cenderung menolak apa yang dinasehati oleh orang tua, menampakkan
ketidaksenangan
terhadap
tubuhnya,
merasa
cemas
tentang
kematangan yang lambat, tidak memiliki pengetahuan tentang
reproduksi, ego idealnya sangat ditentukan oleh orang tua,
menghabiskan banyak waktu senggangnya dengan orang tua,
menerima otoritas orang tua, mengalami kesulitan dalam menempuh
hidup berkeluarga, berperilaku tidak jujur, tidak bertanggung jawab,
tidak konsisten, tidak suka memperhatikan perasaan orang lain,
bersikap kasar dan tidak sopan, menolak bekerjasama, dan suka
memaksa otoritas.
2. Kemampuan Berfikir Kreatif
a. Pengertian Kemampuan Berfikir Kreatif
Keterampilan berpikir diperlukan oleh setiap orang untuk berhasil dalam
kehidupannya. John Dewey (1916), menyatakan bahwa sekolah semestinya
mengajarkan siswa untuk berpikir. Dia juga mendefinisikan berpikir adalah
aktivitas mental untuk memformulasikan atau memecahkan masalah, membuat
14
keputusan, usaha untuk mememahami sesuatu, mencari jawaban atas
permasalahan, dan mencari arti sesuatu hal (Ida Bagus, 2007:674).
Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang bila
mereka dihadapkan pada suatu masalah atau situasi yang harus dipecahkan.
Momon Sudarma (2013:21) mengemukakan bahwa kreativitas adalah
kecerdasan yang berkembang dalam diri individu, dalam bentuk sikap,
kebiasaan, dan tindakan dalam melahirkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk
memecahkan masalah. Sehingga pribadi kreatif adalah seorang yang dapat
memecahkan masalahnya dengan sesuatu cara baru yang terbentuk dari sikap,
kebiasaan, maupun tindakannya yang terus berkembang.
Makna kreatif secara sederhana di kemukakan oleh Momon Sudarma
(2013: 232) yaitu kemampuan menemukan sesuatu yang berbeda. Orang
disebut kreatif, karena dia mampu menemukan cara yang berbeda dari orang
lain, sehingga melahirkan produk yang berbeda.
Utami Munandar (1999:12) menyatakan bahwa Kreativitas adalah hasil
dari
interaksi
antara
individu
dan
lingkungan.
Sehingga
seseorang
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada, dengan
demikian baik perubahan di dalam individu maupun dalam lingkungan dapat
menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif
Proses berpikir terbentuk dari pribadi seseorang, oleh karena itu
kemampuan berpikir kreatif seseorang dipengaruhi juga oleh pribadi yang
kreatif yang akan mendorong dari dalam untuk berkreasi.
Berpikir kreatif pada dasarnya adalah penemuan sesuatu, dan
menghasilkan sesuatu baru dari sesuatu yang sebelumnya telah ada maupun
belum ada. Anwar (2000) mengemukakan bahwa creative thinking is a way of
generating ideas that can in some way be applied to the world (Muhammad
Nadeem Anwar, Muhammad Aness, dkk. 2012:44)
Dari penjelasan tersebut
dapat dimaknai bahwa berpikir kreatif adalah salah satu cara menciptakan
suatu ide dan gagasan dengan cara tertentu dapat di aplikasikan di dunia
15
Pengertian lain disampaikan oleh Siswono (2009:6) bahwa kemampuan
berpikir kreatif adalah kemampuan siswa dalam memahami masalah dan
menemukan penyelesaian dengan strategi atau metode yang bervariasi
(divergen). Dalam memandang kaitan antara berpikir kreatif dan berpikir kritis
terdapat dua pandangan. Pertama memandang berpikir kreatif bersifat intuitif
yang berbeda dengan berpikir kritis (analitis) yang didasarkan pada logika, dan
kedua memandang berpikir kreatif merupakan kombinasi berpikir yang analitis
dan intuitif. Berpikir yang intuitif artinya berpikir untuk mendapatkan sesuatu
dengan menggunakan naluri atau perasaan (feelings) yang tiba-tiba (insight)
tanpa berdasar fakta-fakta yang umum. Pandangan pertama cenderung
dipengaruhi oleh pandangan terhadap dikotomi otak kanan dan otak kiri yang
mempunyai fungsi berbeda, sedang pandangan kedua melihat dua belahan otak
bekerja secara sinergis bersama-sama yang tidak terpisah.
Menurut Krulik (1995) dalam memahami maupun merencanakan
penyelesaian masalah diperlukan suatu kemampuan berpikir kreatif siswa yang
memadai, karena kemampuan tersebut merupakan kemampuan berpikir
(bernalar) tingkat tinggi setelah berpikir dasar (basic) dan kritis. Berdasarkan
pendapat di atas dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran diperlukan
cara yang mendorong siswa untuk memahami masalah, meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyusun rencana penyelesaian dan
melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan sendiri penyelesaian masalah
(Siswono, 2005: 2).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berpikir
kreatif adalah suatu kemampuan yang berkembang dalam individu untuk
menciptakan sesuatu yang baru yang dinilai kelancaran, flaksibilitas,
rasionalitas, kerincian, sikap evaluatif, dalam berpikir, dengan memanfaatkan
interaksi antara individu dan lingkungan berupa strategi atau metode yang
bervariasi guna memecahkan masalah yang ada
16
b. Kriteria Kreativitas
Penentuan kreativitas menyangkut tiga dimensi, yaitu: dimensi proses,
person dan produk kreatif. Proses kreatif sebagai kriteria kreativitas, maka
segala produk yang dihasilkan dari proses kreatif dianggap sebagai produk
kreatif, dan orangnya disebut sebagai orang kreatif. Menurut Rothernberg
(1976) proses kreatif identik dengan berpikir Janusian (Dedi Supriadi, 1994),
yaitu suatu tipe berpikir divergen yang berusaha melihat berbagai dimensi yang
beragam atau bahkan bertentangan menjadi suatu pemikiran yang baru.
Dimensi person sebagai kriteria kreativitas identik dengan kepribadian
kreatif. Trefingger dalam Utemi Munandar mengatakan bahwa kepribadian
kreatif merupakan individu yang biasanya lebih terorganisirdalam melakukan
sebuah tindakan. Rencana inovasi dan produk orisinil telah dipikirkan dengan
matanglebih dahulu, dengan memikirkan masalah yang timbul dan impilkasinya
(Utami Munandar, 1999:35).
Kepribadian kreatif (creative personality) menurut Guilford dalam
Dedi Supriadi (1994: 13) meliputi kognitif, dan non kognitif (minat, sikap,
kualitas temperamental). Orang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian yang
secara signifikan berbeda dengan orang-orang yang tidak kreatif. Karakteristikkarakteristik kepribadian ini menjadi kriteria untuk mengidentifikasi orangorang kreatif. Produk kreatif yaitu menunjuk kepada hasil perbuatan, kinerja,
atau karya seseorang dalam bentuk barang atau gagasan. Kriteria ini merupakan
paling ekplisit untuk menentukan kreativitas seseorang, sehingga disebut
sebagai kriteria puncak bagi kreativitas.
Kriteria kreativitas pendapat lainnya dibedakan atas dua jenis, yaitu
concurrent kriteria yang didasarkan kepada produk kreatif yang ditampilkan
oleh seseorang selama hidupnya atau ketika ia menyelesaikan suatu karya
kreatif; kedua concurent kriteria yang didasarkan pada konsep atau definisi
kreativitas yang dijabarkan ke dalam indikator-indikator
perilaku kreatif.
17
c. Aspek dalam Kemampuan Berpikir Kreatif
Kreativitas
sebagai
kemampuan
untuk
melihat
kemungkinan-
kemungkinan untuk menyelesaikan masalah merupakan bentuk pemikiran yang
sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal.
Siswa lebih dituntut untuk berpikir linier, logis, penalaran, ingatan atau
pengetahuan yang menuntut jawaban paling tepat terhadap permasalahan yang
diberikan.
Kreativitas perlu di pupuk pada diri siswa terutama pada penyelesaian
masalah karena kreativitas dapat melatih anak keterampilan berpikir luwes
(flexibility) yaitu menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang
bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda,
mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu mengubah
cara pendekatan atau cara pemikiran, keterampilan berpikir lancar (fluency)
yaitu mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah dan
pertanyaan, memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal
serta selalu memikirkan lebih dari satu jawaban., keterampilan berpikir asli
(originality) yaitu mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik,
memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri serta mampu
membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsurunsur, keterampilan berpikir
memperkaya
dan
menguraikan (elaboration) yaitu mampu
mengembangkan
suatu
gagasan
atau
produk,
dan
menambahkan atau merinci secra detail dari suatu obyek, gagasan atau situasi
sehingga lebih menarik, dan keterampilan perumuskan kembali (redefinition)
yaitu menentukan apakah suatu pertanyaan benar, suatu rencana sehat, atau
suatu tindakan bijaksana, mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang
terbuka, serta tidak hanya mencetuskan gagasan tetapi juga melakukan hal
tersebut sesuai dengan ciri berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Guilford
(Supriadi, 1997:7).
18
Ambarjaya (2008:58), mengemukakan ciri-ciri kreativitas yang
berhubungan dengan kemampuan berfikir kreatif yaitu kemampuan berpikir
lancar (fluency), kemampuan berpikir fleksibel (flexibility), kemampuan
berpikir orisinil (originality), kemampuan memperinci (elaboration), dan
kemampuan menilai (evaluation).
Hal senada juga diungkapkan Utami Munandar (1999:51) bahwa
kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas, elaborasi, atau perincian merupakan ciriciri kreativitas yang berhubungan kemampuan berfikir seseorang dengan
kemampuan berfikir kreatif. Makin kreatif seseorang, ciri tersebut makin di
miliki.
Seseorang yang memiiki kemampuan berpikir kreatif dapat tercermin
dari cara berfikirnya, adapun jabaran diuraikan dalam Tabel 2.1.
Tabel.2.1. Ciri Aptitude Kemampuan Berpikir Kreatif
No
1
Ciri-ciri aptitude
kemampuan berfikir kreatif
Kemampuan berpikir
lancar
2
Kemampuan berpikir luwes
3
Kemampuan berpikir
orisinil
4
Kemampuan memperinci
atau mengelaborasi
Perilaku siswa (indikator)
a. Menjawab sebuah pertanyaan dengan
beberapa alternatif jawaban
b. Selalu dapat menemukan dan
mengemukakan gagasan
c. Menanyakan banyak pertanyaan
a. Dapat memberikan suatu penafsiran
terhadap suatu permasalah ataupun
gambaran
b. Memiliki pandangan yang berbeda
dengan orang lain dalam menyikapi
suatu masalah
a. Memiliki daya imajinasi tinggi
b. Dapat memikirkan penyelesaian masalah
yang tidak terfikirkan orang lain
a. Memperkaya dan mengembangkan suatu
gagasan atau produk yang sudah ada
b. Memaparkan langkah kerjanya secara
nyata dan terperinci
19
5
6
Kemampuan menilai atau
mengevaluasi
Strategi atau metode yang
bervariasi
a. Member pandangan atas sudut
pandangnya sendiri
b. Mampu merancang rancangan rencana
kerja dari gagasan yang tercetus
a. Menemukan cara mencapai tujuan
b. Menciptakan cara yang mudah untuk
menyelesaikan tugas
3. Hubungan Antara Tingkat Pencapaian Tugas-Tugas Perkembangan dengan
Kemampuan Berpikir Kreatif
Pencapaian tugas perkembangan dipengaruhi oleh berbagai faktor,
yang dapat dikelompokkan ke dalam faktor diri (internal) dan faktor luar
(eksternal). Faktor internal meliputi bakat dan kecerdasan, kreativitas,
motivasi, minat, dan perhatian. Sedangkan faktor eksternal ialah lingkungan
sosial, lingkungan fisik, dan fasilitas belajar. Faktor yang paling menentukan
keberhasilan seseorang adalah faktor diri. Jika faktor diri sudah mendukung,
besar kemungkinan yang bersangkutan akan berhasil. Salah satunya yaitu cara
berpikir kreatif yang penting bagi remaja untuk memenuhi tugas-tugas
perkembangannya. Gough (1991:3) berpendapat bahwa Perhaps most
importantly in today's information age, thinking skills are viewed as crucial
for educated persons to cope with a rapidly changing world. Dari pendapat
tersebut dapat di maknai bahwa mungkin yang terpenting dalam jaman
tekhnologi sekarang, keterampilan berpikir dipandang sangat penting untuk
individu yang berpendidikan untuk mengatasi dunia yang cepat berubah.
Pendidikan menghasilkan banyak manusia unggulan dengan tingkat
pengetahuan yang rata-rata tinggi.
Munculnya masalah baru, diantaranya adalah ledakan penduduk yang
membuat adanya persaingan dalam bertahan hidup yang juga meningkatkan
kualifikasi dari tenaga kerja dan perlombaan meningkatkan mutu pendidikan.
Dengan begitu meningkat pula tingkat stress dan masalah baru bagi tiap
individu khususnya siswa yang menempuh pendidikan. Disinilah salah satu
20
hambatan tercapainya tugas perkembangan siswa. Karenanya, di perlukan
sebuah cara baru yang dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan
masalah dengan berpikir kreatif. Menurut Siswono (2005: 4), “meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif artinya menaikkan skor kemampuan siswa dalam
memahami masalah, kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan penyelesaian
masalah”. Siswa dikatakan memahami masalah bila menunjukkan apa yang
diketahui dan apa yang ditanyakan, siswa memiliki kefasihan dalam
menyelesaikan masalah bila dapat menyelesaikan masalah dengan jawaban
bermacam-macam yang benar secara logika. Siswa memiliki fleksibilitas
dalam meyelesaikan masalah bila dapat menyelesaikan soal dengan dua cara
atau lebih yang berbeda dan benar. Siswa memiliki kebaruan dalam
menyelesaikan masalah bila dapat membuat jawaban yang berbeda dari
jawaban sebelumnya atau yang umum diketahui siswa. Hubungan bermakna
tersebut bersifat positif, artinya semakin tinggi kemampuan berpikir kreatif,
maka pemenuhan kepuasan akan pengetahuan, kesenangan, dan kegunaan
pribadi semakin terpenuhi.
Pemenuhan cara berpikir kreatif adalah penting sebagai salah faktor
yang mendorong tugas perkembangan siswa SMA baik secara langsung
maupun tidak langsung, dan sebaliknya tidak terpenuhinya faktor ini akan
menghambat pencapaian tugas perkembangan siswa.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Pada penelitia sebelumnya yang meneliti tentang tugas perkembangan
siswa SMA dan kemampuan berpikir kreatif antara lain
a. Sri Indah Rini Astuti (2002)
dalam penelitiannya dengan judul
“Penerapan Pendekatan Problem Solving Melalui Model Pembelajaran
Search, Solve, Create And Share (SSCS) Disertai Hands on Activities
untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa di SMP
Negeri I Bulu Sukoharjo”.
21
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui penerapan
pendekatan problem solving melalui model pembelajaran search,
solve, create and share (SSCS) disertai hands on activities untuk
meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa di SMP Negeri I
Bulu Sukoharjo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi
peningkatan persentase dari kuesioner dan observasi dalam setiap
aspek yang meliputi kelancaran, fleksibilitas, orisinality, dan elaborasi.
Rata persentase ini hasil pertanyaan di urutan I adalah 73,39 persen
meningkat 6,88 persen secara berurutan II, setelah pengobatan yang
diberikan dalam urutan I. Ada peningkatan dalam setiap aspek
keterampilan berpikir kreatif dan peningkatan paling signifikan adalah
dalam aspek kelancaran. Refleksi dari urutan pertama menunjukkan
bahwa siswa memiliki rendah penjelasan argumen dalam tujuan
pembelajaran, sehingga peneliti memberi perawatan lebih lanjut di
urutan II. Di urutan kedua rata-rata persentase ini hasil kuesioner
adalah 80,27 persen, pada siklus ini setiap aspek peserta meningkat
sejalan dengan target.
Hal ini dapat disimpulkan dari penelitian yang memecahkan
aplikasi pendekatan dengan menggunakan penerapan Pendekatan
Problem Solving Melalui Model Pembelajaran Search, Solve, Create
And Share (SSCS) Disertai Hands on Activities dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif kelas VII G siswa SMP Negeri I Bulu
Sukoharjo.
22
b. Roihanah Hardiyani (2014) dalam penelitiannya yang berjudul
“Pengaruh Science Activities Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
Anak”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
science activities terhadap kemampuan berpikir kreatif anak. Hasil
penelitian setelah perlakuan menunjukan ada perbedaan kemampuan
berpikir kreatif antara kelompok kontrol dan eksperimen. Hal ini
terlihat dari rerata post-test kelas eksperimen sebesar 11,3810 yang
mengalami peningkatan dari nilai rerata tes awal (pretest) sebesar
9,4762 sedangkan nilai rerata post test kelas kontrol sebesar 9,8571
yang mengalami sedikit peningkatan dari nilai rerata tes awal (pretest)
sebesar 9,3333.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah science activities
berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif anak.
Berdasarkan penelitian – penelitian tersebut diperoleh hasil
mengenai hubungan kemampuan berpikir kreatif yang memberikan
peranan bagi perkembangan pribadi sosial serta bagi pemenuhan tugas
perkembangan.
C. Kerangka Pemikiran
Salah satu keteramplan yang dibutuhkan dalam jaman persaingan
yang semakin ketat sekarang adalah keterampilan dalam berpikir. Pemikiran
yang terlatih bukan hanya penting untuk dunia kerja, pendidikan, pelatihan,
maupun riset. Kemampuan ini penting dimiliki setiap orang dalam
kehidupan sehari-hari, karena dengan keterampilan berfikir yang baik, setiap
orang memiliki modal untuk secara mandiri memecahkan masalah dalam
kehidupannya.
23
Tuntas atau tidaknya tugas tugas perkembangan siswa dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah melalui cara berpikir.
Cara berpikir yang sangat penting adalah Berpikir kreatif karena cara
berpikir tersebut dapat mengaktualisasikan diri yang merupakan kebutuhan
pokok pada tingkat tertinggi manusia. Berpikir kreatif juga sebagai
kemampuan untuk melihat bermacam kemungkinan penyelesaian terhadap
suatu masalah, namun masih kurang mendapat perhatian dalam dunia
pendidikan. Adapun lagi keunggullannya adalah bahwa cara berpikir kreatif
memungkinkan manusia meningktkan kualitas hidup dan memberikan
kepuasan pada individu.
Dalam memenuhi tugas perkembangan individu haruslah mampu
mengatasi hambatan dalam setiap aspeknya, karena itu individu harus
mampu membuat sebuah pemecahan yang orisinil dengan suatu metode dan
stretegi yang bervariasi dengan cara berpikir luwes, berpikir lancar, dan
orisinil dengan kemampuan menilai dan merinci keadaan sekitarnya, seperti
yang tercantum pada aspek kemampuan berpikir kreatif. Karena itulah
semakin tinggi kemampuan berpikir yang dimiliki siswa maka makin tinggi
pula pencapaian tugas perkembanganya. Apabila kerangka pemikiran di
ilustrasikan kedalam skema seperti berikut:
Tidak Kreatif
Tingkat
Pencapaian Tugas
Perkembangan
Rendah
Kreatif
Tingkat
Pencapaian Tugas
Perkembangan
Tinggi
Kemampuan
Berfikir Siswa
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran
24
D. Hipotesis
Menurut Dantes (2012:28) hipotesis merupakan pernyataan sederhana
mengenai suatu harapan peneliti tentang hubungan antar variabel dalam
masalah.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis
merupakan jawaban yag bersifat sementara tentang harapan hasil penelitian
peneliti sesuai dengan teori dan gagasan tentang hubungan antar variabel dalam
penelitian sampai teruji melalui data yang terkumpul. Berdasarkan analisis
teoritis dan kerangka berfikir di atas, maka peneliti merumuskan hipotesis
alternatif (Ha).
1. Tingkat pencapaian tugas perkembangan siswa kelas XI SMA Negeri 7
Surakarta tahun pelajaran 2014/2015 adalah tinggi.
2. Tingkat kemampuan berpikir kreatif tergolong tinggi
3. Terdapat kontribusi dari kemampuan berpikir kreatif terhadap tingkat
pencapaian tugas perkembangan siswa tersebut.
Download