21 Penerapan Metode Kooperatif Picture and

advertisement
Penerapan Metode Kooperatif Picture and Picture pada Materi Hubungan
antara Garis dan Sudut
Wildannul Aziz
Jurusan Tadris Matematika
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa pada materi
hubungan antara garis dan sudut. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII.
Kurangnya pemahaman pada materi hubungan antara garis dan sudut menjadi
kendala yang melatar belakangi terlaksananya penelitian ini. Oleh karena itu
dibutuhkan metode pembelajaran yang cocok untuk mengtasi kendala tersebut.
Metode kooperatif picture and picture merupakan metode yang dianggap tepat oleh
peneliti, hal ini disebabkan penyajiannya yang sesuai materi. Menggunakan metode
ini diharapkan siswa dapat lebih memahami materi hubungan antara garis dan
sudut. Hasil penelitian yaitu: 1. Mengetahui kesulitan siswa pada materi hubungan
antara garis dan sudut, 2. Meningkatkan pemahaman siswa pada materi hubungan
antara garis dan sudut.
Kata kunci: koperatif picture and picture, garis, sudut
ABSTRACK
This study aims to improve students' understanding of the material connection
between the lines and angles. The research was conducted in class VII. Lack of
understanding of the material connection between the line and the angle of the
constraints of the background for this research. Therefore, it needs a suitable
learning methods for mengtasi constraints. Picture and picture cooperative method
is a method that is considered appropriate by the researchers, this is due to the
appropriate presentation material. Using this method is expected that students can
better understand the material connection between the lines and angles. Results of
the study are: 1. Knowing the difficulty of students to the material connection
between the lines and angles, 2. Increase student understanding on the material
connection between the lines and angles.
Keywords: cooperative picture and picture, line, angle
berarti menyangkut unsur cipta, rasa
dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik (Sardiman, 2007:19).
Belajar menjadi kegiatan yang tak
terpisahkan dari kehidupan manusia.
Belajar juga merupakan proses yang
kompleks yang terjadi pada setiap
orang sepanjang hidupnya. Proses
PENDAHULUAN
Belajar merupakan salah satu
kebutuhan hidup manusia yang paling
penting
dalam
upaya
mengembangkan diri. Belajar adalah
rangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik untuk menuju ke perkembangan
pribadi manusia seutuhnya, yang
21
belajar itu terjadi karena adanya
interaksi antara seseorang dengan
lingkungannya, oleh karena itu
belajar dapat terjadi kapan saja dan
dimana saja. Melalui belajar seorang
Pendidikan pada hakekatnya
suatu kegiatan yang secara sadar dan
disengaja, serta penuh tanggung
jawab yang dilakukan oleh orang
dewasa kepada anak sehingga timbul
interaksi dari keduanya agar anak
tersebut mencapai kedewasaan yang
dicita-citakan dan berlangsung terus
menerus (Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati,
2007: 70). Keberhasilan pendidikan
dapat dilihat dari tercapai tidaknya
tujuan suatu pendidikan. Tujuan
pendidikan adalah sebagian dari
tujuan hidup yang bersifat menunjang
terhadap pencapaian tujuan-tujuan
hidup (binti maunah, 2009: 7).
Pendidikan sangatlah berpengaruh
pada kehidupan bangsa. Kualitas
suatu kehidupan bangsa sangat
ditentukan oleh faktor pendidikan.
Peran pendidikan sangat penting
untuk menciptakan kehidupan yang
cerdas dan damai. Oleh karena itu
pemerintah indonesia mewajibkan
setiap warganya untuk menempuh
pendidikan formal selama sembilan
tahun. Dalam proses pendidikan kita
selalu dituntut untuk terus belajar.
Belajar sangat penting dilakukan
dalam dunia pendidikan. Salah satu
mata pelajaran yang harus dipelajari
dengan baik yaitu matematika..
Matematika adalah cabang
pengetahuan eksak dan terorganisasi.
Matematika merupakan ilmu yang
bersifat universal serta mendasari
perkembangan
ilmu
tehnologi
modern. Matematika memiliki peran
penting dalam berbagai disiplin ilmu
dan memajukan daya pikir manusia.
Untuk dapat menciptakan tehnologi
diperlukan penguasaan matematika,
oleh sebab itu matematika diberikan
dapat memahami konsep yang baru.
Belajar madalah proses aktif dalam
memperoleh
pengalaman
dan
pengetahuan baru. Belajar sangat erat
kaitannya dengan pendidikan.
kepada semua siswa sejak di sekolah
dasar.
Seringkali kita menemukan
masalah dalam belajar matematika
dalam dunia pendidikan. Salah satu
contohnya yaitu meluasnya persepsi
matematika adalah pelajaran yang
sulit membuat semangat siswa
berkurang saat belajar matematika.
Seringkali siswa tidak memahami
konsep sederhana yang masih
mendasar. Misalnya pada materi
hubungan antara garis dan sudut.
Siswa kesulitan mmemahami sudut
apa yang terbentuk apabila ada dua
garis sejajar dipotong oleh suatu
transfersal. Masalah seperti ini akan
teratasi apabila seorang guru
menerapkan metode yang cocok pada
materi ini.
Hubungan antar garis dan
sudut merupakan materi yang
memuat banyak gambar-gambar
untuk memudahkan pemahaman
siswa. Materi ini akan sulit
tersampaikan apabila dilakukan
dengan metode ceramah saja. Jadi
penyertaan gambar sebagai ilustrasi
sangatlah diperlukan. Oleh karena itu
peneliti
memutuskan
untuk
menggunakan metode Cooperative
Picture and picture. Metode ini
sengaja dipilih karena mampu
membuat semua siswa aktif berkreasi
dalam belajar yang dibagi dalam
kelompok-kelompok.
KAJIAN TEORI
A. Hakikat matematika
Matematika merupakan suatu
mata pelajaran yang terus diajarkan
pada pendidikan di Indonesia, tidak
hanya di sekolah saja matematika
juga menjadi salah satu jurusan dalam
perguruan
tinggi.
Hal
ini
menunjukkan betapa pentingnya
matematika dalam kelangsungan
hidup
sehari-hari.
Selain
itu
matematika
juga
mendasari
terciptanya kemajuan teknologiteknologi baru.
Matematika berasal dari akar
kata mathema artinya pengertahuan
dan mathanein berpikir atau belajar.
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia
(KBBI)
diartikan
matematika adalah ilmu tentang
bilangan hubungan antara bilangan
dan prosedur operasional yang
digunakan
dalam
penyelesaian
masalah
mengenai
bilangan
(Depdiknas). Sedangkan menurut
Ismail
dkk
dalam
bukunya
memberikan
definisi
hakikat
matematika adalah ilmu yang
membahas
angka-angka
dan
perhitungannya, membahas masalahmasalah numerik, mengenai kuantitas
dan besaran, mempelajari hubungan
pola, bentuk dan struktur, sarana
berpikir, kumpulan sistem, struktur
dan
alat
(Ali
hamzah dan
Muhlisrarini, 2014: 48).
Terdapat beberapa fungsi
matematika diantaranya yaitu sebagai
sebuah struktur, sebagai kumpulan
sistem, sebagai sistem deduktif,
ratunya ilmu dan pelayan ilmu. Dari
berbagai fungsi tersebut dapat
disimpulkan matematika mempunyai
fungsi yang akan sangat berguna
dalam kehidupan apabila matematika
dapat dikuasai seutuhnya.
Matematika diajarkan di
sekolah karena memang berguna
untuk kepentingan matematika itu
sendiri dan memecahkan persoalan
dalam masyarakat (Ruseffendi , 1990:
9). Dengan diajarkannya matematika
kepada siswa di semua tingkat,
matematika bisa diawetkan dan
dikembangkan. Itulah yang dimaksud
dengan
gunanya
matematika
diajarkan disekolah dalam rangka
mengembangkan dan mengawetkan
matematika itu sendiri, mengawetkan
maksudnya memelihara sehingga
tidak punah.
Kegunaan matematika dalam
memecahkan persoalan yang ada di
masyarakat itu banyak. Dengan
belajar matematika siswa dapat
berhitung, dapat menghitung luas, isi,
dan berat, siswa dapat melakukan
pengukuran,
siswa
dapat
mengumpulkan,
mengolah
dan
menyajikan data, siswa dapat
menyelesaikan persoalan-persoalan
dalam bidang-bidang studi lain, siswa
dapat menggunakan kalkulator dan
komputer sehingga perhitungannya
menjadi lebih cepat, paraktis, dan
realistis, siswa dapat memahami
benda-benda alam sekitar. Dan tentu
saja, dengan belajar matematika
orang indonesia menjadi sejajar
dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Berdasarkan
uraian
dan
pengertian diatas, maka sangatlah
penting
untuk
mempelajari
matematika. Terutama bagi siswa
yang sedang menempuh pendidikan.
Karena matematika tidak hanya
berguna pada saat Ujian Nasional saja
(UN) melainkan juga berguna dalam
aplikasi kehidupan sehari-hari dan
mendukung
kemajuan
Ilmu
pengetahuan dan Teknolgi (IPTEK).
B. Hakikat belajar
Secara luas belajar merupakan
suatu proses aktif yang dilakukan
oleh seseorang selama hidupnya
tanpa mengenal usia. Tetapi secara
menyempit belajar selalu identik
dengan pendidikan yang ada di
sekolah. Oleh karena itu banyak
orang yang memilih sekolah sebagai
tempat untuk belajar. Menurut Bell
Gretler (1986) belajar adalah proses
yang dilakukan oleh manusia dalam
upaya mendapatkan aneka ragam
kompetensi,
skill
dan
sikap.
Ketiganya diperoleh secara bertahap
dan berkelanjutan dari mulai masa
bayi sampai masa tua melaui
rangkaian proses belajar sepanjang
hayat (Ali hamzah dan Muhlisrarini,
2014: 11).
Belajar dilakukan oleh semua
makhluk hidup. Untuk manusia,
belajar adalah proses untuk mencapai
berbagai kemampuan, ketrampilan
serta sikap. Mulai dari bayi hingga
remaja, seseorang akan terus belajar.
Ketika dewasa, diharapkan individu
akan mahir dengan tugas-tugas kerja
tertentu serta ketrampilan fungsional
yang lain.
Berdasarkan uraian diatas
diharapkan melalui belajar seseorang
diharapkan mendapat kompetensi
yang diperlukan, skill yang dapat
bermanfaat seta perubahan sikap atau
tingkah laku dalam dirinya yang
dapat berguna dalam kehidupan
sehari-hari.
C. Pengertian
model
pembelajaran
Belajar yang efektif adalah
belajar yang dapat mewujudkan
tujuan belajar itu sendiri. Untuk
mewujudkan
tujuan
belajar
dibutuhkan sebuah strategi yang
berupa model pembelajaran. Dalam
dunia
pendidikan
model
pembelajaran sangatlah diperlukan
untuk menyampaikan suatu materi.
Model pembelajaran menurut
Mills
(1989)
adalah
bentuk
representasi akurat, sebagai proses
aktual
yang
memungkinkan
seseorang atau sekelompok orang
mencoba bertindak berdasarkan
model itu (Ali hamzah dan
Muhlisrarini, 2014: 153). Pengertian
model pembelajaran merupakan
landasan praktik pembelajaran hasil
penurunan teori psikologi pendidika
dan
belajar,
yang
dirancang
berdasarkan proses analisis yang
diarahkan
pada
implementasi
kurikulum dan implikasinya pada
tingkat operasional di depan kelas.
Ada beberapa ciri-ciri model
pembelajaran
secara
khusus
diantaranya adalah(Ali hamzah dan
Muhlisrarini, 2014: 154):
1. Rasional teoritik yang logis
yangdisusun
oleh
para
pencipta
atau
pengembangnya.
2. Landasan pemikiran tentang
apa dan bagaimana siswa
belajar.
3. Tingkah laku mengajar yang
diperlukanagar model tersebut
dapat
dilaksanakandengan
berhasil.
4. Lingkungan belajar yang
duperlukanagar
tujuan
pembelajaran dapat tercapai.
Memilih model pembelajaran
harus disesuaikan dengan materi yang
hendak disampaikan, situasi kelas
serta kerja sama yang baik antara guru
dengan siswa. Sehingga guru dituntut
untuk profesional dalam melakukan
kerjanya.
D. Model
pembelajaran
Kooperatif
Model
pembelajaran
kooperatif sebenarnya sudah banyak
diterapkan pada kegiatan belajar
mengajar masa kini. Tentunya kita
tidaklah asing dengan istilah belajar
kelompok, itulah model pembelajaran
kooperatif sendiri yang merupakan
model pembelajaran yang dibagi
bmenjadi kelompok-kelompok.
Pembelajaran
kooperatif
adalah suatu pembelajaran dimana
siswa dikelompokkan dalam tim kecil
dengan tingkat kemampuan berbeda
untuk meningkatkan pemahaman
tentang pokok bahasan, dimana
masing-masing anggota kelompok
bertanggungjawab untuk belajar apa
yang diajarakan dan membantu
temannya untuk belajar sehingga
tercipta suatu atmosfer prestasi (Ali
hamzah dan Muhlisrarini, 2014: 160).
Belajar dikatakan belum selesai
apabila ada anggota suatu kelompok
yang belum memahami materi.saling
bekerja sama dan salng mengoreksi
antar anggota merupakan hal yang
harus dilakukan demi mencapai hasil
belajar yang tinggi. kelebihan dan
kelemahan model kooperatif ada
beberapa hal antara lain:
1. mambiasakan siswa untuk
bersikap tegas dan terbuka.
2. Membiasakan siswa untuk
menemukan konsep sendiri
dan berpikir kritis dalam
memecahkan suatu masalah.
3. Menumbuhkan
semangat
persaingan yang positif dan
konstruktif karena dalam
kelompok
masing-masing
siswa akan lebih giat dan
sungguh-sungguh
dalam
belajar.
4. Menciptakan kreatifitas siswa
untuk belajar sehingga tercipta
suasana belajar yang kondusif.
5. Mananamkan rasa persatuan
dan solidaritas tinggi karena
siswa yang pandai dalam
kelompoknya dapat membantu
rekan-rekannya yang kurang
pandai
terutama
untuk
mempertahankan nama baik
kelompoknya.
6. Memudahkan guru dakam
mencaoai tujuan pembelajaran
karena langkah-langkah model
kooperatif mudah diterapakan
di lapangan.
7. Menumbuhkan kreatifitas guru
dalam menciptakan alat-alat
dan media pembelajaran yang
sederhana
dan
mudah
ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari.
8. Diperlukan waktu yang lebih
lama agar proses diskusi lebih
leluasa.
9. Biala dada sebagian siswa
belum
terbiasa
belajar
kelompok sehingga mereka
merasa asing dan sulit untuk
menguasai konsep.
10. Jika terjadi persaingan negatif
antar siswa dalam kelompok
atau antar kelompok maka
hasilnya akan lebih buruk.
11. Jika ada siswa yang pemalas
atau ingin berkuasa dalam
kelompok besar kemungkinan
akan mempengaruhi peranan
kelompok sehingga usaha
kelompok tidak berpengaruh
sebagaimana
mestinya(Ali
hamzah dan Muhlisrarini,
2014: 162).
Kelemahan model ini dapat
dihindari dengan masing-masing
anggota bertanggungjawab pada
bagian-bagian
tertentu
dari
permasalahan kelompok dan harus
mempelajari
materi
secara
keseluruahan.
Terdapat
beberapa
jenis
metode kooperatif diantaranya yaitu:
1. Tipe STAD
2. Tipe Jigsaw (tim ahli)
3. Tipe
problem
based
introduction (PBI)
4. Tipe artikulasi
5. Tipe mind mapping
6. Tipe make-a match mencari
pasangan
7. Tipe thing fair and share
8. Tipe debate
9. Tipe role playing
10. Tipe
group
investigation
(Sharan, 1992)
11. Tipe talking stick
12. Examples non examples
13. Picture and picture
14. Cooperative script
15. Kepala bernomor struktur
16. Bertukar pasangan
17. Snowball throwing
18. Cooperative integratif reading
and composition (CIRC)
19. Time token, Arend 1998
Pada pemaparan makalah kali
ini penulis tidak akan membahas satu
persatu macam model pembelajaran
kooperatif melainkan hanya akan
membahas model kooperatif picture
and picture.
E. Model
pembelajaran
Kooperatif Picture and Picture
Model
pembelajaran
kooperative picture and picture
adalah
pembelajaran
kelompok
dengan
menggunakan
gambargambar dari seorang guru sebagai
objek yang akan dikaji dalam diskusi
kelompok. Pembelajaran ini memiliki
ciri aktif, inovatif, kreatif, dan
menyenangkan.
Model Pembelajaran
ini
mengandalkan gambar sebagai media
dalam proses pembelajaran. Gambargambar ini menjadi factor utama
dalam proses pembelajaran. Sehingga
sebelum proses pembelajaran guru
sudah menyiapkan gambar yang akan
ditampilkan baik dalam bentuk kartu
atau dalam bentuk carta dalam ukuran
besar. Atau jika di sekolah sudah
menggunakan
ICT
dalam
menggunakan Power Point atau
software yang lain.
Langkah-langkahnya yaitu:
1. Guru
menyampaikan
kompetensi
yang
ingin
dicapai.
Di
langkah
ini
guru
diharapkan
untuk
menyampaikan apakah yang
menjadi Kompetensi Dasar
mata
pelajaran
yang
bersangkutan.
Dengan
demikian maka siswa dapat
mengukur sampai sejauh
mana yang harus dikuasainya.
Disamping itu guru juga harus
menyampaikan
indicatorindikator ketercapaian KD,
sehingga sampai dimana
KKM yang telah ditetapkan
dapat dicapai oleh peserta
didik.
2. Menyajikan materi sebagai
pengantar.
Penyajian materi sebagai
pengantar sesuatu yang sangat
penting, dari sini guru
memberikan
momentum
permulaan
pembelajaran.
Kesuksesan dalam proses
pembelajaran dapat dimulai
dari sini. Karena guru dapat
memberikan motivasi yang
menarik perhatian siswa yang
selama ini belum siap. Dengan
motivasi dan teknik yang baik
dalam pemberian materi akan
menarik minat siswa untuk
belajar lebih jauh tentang
materi yang dipelajari.
3. Guru menunjukkan atau
memperlihatkan
gambargambar kegiatan berkaitan
dengan materi.
Dalam proses penyajian
materi, guru mengajar siswa
ikut terlibat aktif dalam proses
pembelajaran
dengan
mengamati setiap gambar
yang ditunjukan oleh guru
atau oleh temannya. Dengan
gambar kita akan menghemat
energy kita dan siswa akan
lebih mudah memahami
materi yang diajarkan. Dalam
perkembangakan selanjutnya
sebagai
guru
dapat
memodifikasikan gambar atau
mengganti gambar dengan
video atau demontrasi yang
kegiatan tertentu.
4. Guru
menunjuk
atau
memanggil siswa secara
bergantian memasang atau
mengurutkan gambar-gambar
menjadi urutan yang logis.
Di langkah ini guru harus
dapat melakukan inovasi,
karena penunjukan secara
langsung kadang kurang
efektif dan siswa merasa
terhukum. Salah satu cara
adalah
dengan
undian,
sehingga
siswa
merasa
memang harus menjalankan
tugas yang harus diberikan.
Gambar-gambar yang sudah
ada diminta oleh siswa untuk
diurutan,
dibuat,
atau
dimodifikasi.
5. Guru menanyakan alasan atau
dasar
pemikiran
urutan
gambar tersebut.
Setelah itu ajaklah siswa
menemukan rumus, tinggi,
jalan cerita, atau tuntutan KD
dengan indicator yang akan
dicapai. Ajaklah sebanyakbanyaknya peran siswa dan
teman yang lain untuk
membantu sehingga proses
diskusi dalam proses belajar
mengajar semakin menarik.
6. Dari alasan atau urutan
tersebut
guru
mulai
menanamkan konsep/materi
sesuai kompetensi yang ingin
dicapai.
Dalam proses diskusi dan
pembacaan gambar ini guru
harus
memberikan
penekanan-penekanan pada
hal ini dicapai dengan
meminta siswa lain untuk
mengulangi, menuliskan atau
bentuk lain dengan tujuan
siswa mengetahui bahwa hal
tersebut
penting
dalam
pencapaian KD dan indicator
yang
telah
ditetapkan.
Pastikan bahwa siswa telah
menguasai indicator yang
telah ditetapkan.
7. Kesimpulan atau rangkuman
Di akhir pembelajaran, guru
bersama siswa mengambil
kesimpulan
sebagai
penguatan materi
Kelebihan dan kekurangan
model pembelajaran Picture and
Picture:
Kelebihan:
1. Guru
lebih
mengetahui
kemampuan masing-masing
siswa.
2. Melatih berpikir logis dan
sistematis.
3. Membantu
siswa
belajar
berpikir berdasarkan sudut
pandang suatu subjek bahasan
dengan
memberikan
kebebasan siswa dalam praktik
berpikir,
4. Mengembangkan
motivasi
untuk belajar yang lebih baik.
5. Siswa
dilibatkan
daiam
perencanaan dan pengelolaan
kelas
Kekurangan:
1. Memakan banyak waktu.
2. Banyak siswa yang pasif.
3. Guru khawatir bahwa akan
terjadi kekacauan dikelas.
4. Banyak siswa tidak senang
apabila disuruh bekerja sama
dengan yang lain.
5. Dibutuhkan
dukungan
fasilitas, alat dan biaya yang
cukup memadai.
PEMBAHASAN
A. Kesulitan siswa pada materi
hubungan antara garis dan
sudut
Ada banyak faktor yang dapat
menyebabkan
siswa
kesulitan
terutama pada materi hubungan
antara garis dan sudut jika dua garis
sejajar dipotong oleh garis lain. Pada
pembahasan
kali
ini
peneliti
membedakannya menjadi dua faktor
yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Kedua faktor tersebut
saling mempengaruhi dalam proses
belajar
individu
sehingga
menentukan kualitas hasil belajar
(Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni,
2010: 19).
Pertama yaitu faktor internal,
faktor internal meliputi (Slameto,
2010: 54):
a. Faktor jasmaniah (fisiologi)
meliputi: faktor kesehatan dan
cacat tubuh.
b. Faktor
psikologis
yang
meliputi:
inteligensi,
perhatian, sikap, minat, bakat,
motif, kesiapan, kematangan.
c. Faktor kelelahan.
Kedua yaitu faktor eksternal,
faktor eksternal meliputi (slameto,
2010: 60) :
a. Faktor keluarga, meliputi:
cara orang tua mendidik,
keadaan ekonomi keluarga,
latar belakang kebudayaan,
pengertian orang tua, suasana
rumah.
b. Faktor sekolah, yang meliputi:
model mengajar, kurikulum,
relasi guru dengan peserta
didik, relasi peserta didik
dengan peserta didik yang
lain, disiplin sekolah, waktu
sekolah, model belajar, tugas
rumah.
c. Faktor masyarakat, yang
terdiri dari: kegiatan peserta
didik dalam masyarakat,
media massa, teman bergaul,
bentuk
kehidupan
masyarakat.
Kebanyakan penerapan soalsoal tentang hubungan garis dan sudut
disajikan dalam bentuk gambar.
Inilah yang menjadi salah satu
penyebab kesulitan siswa. Siswa yang
mempunyai kemampuan rendah
tentunya akan kesulitan untuk
merasionalkan gambar yang disajikan
untuk mengerjakan soal.
Selain penyajian gambar
kesuliatan lainnya yaitu siswa belum
memahmi konsep-konsep lain yang
diajarkan sebelum materi hubungan
antara garis dan sudut, ini dapat
diatasi dengan mempelajari konsepkonsep
sebelumnya.
Hal
ini
diperlukan
karena
matematika
merupakan ilmu yang terus berlanjut
dan konsep-konsep yang ada akan
terus digunakan untuk memahami
konsep yang akan dipelajari.
Berdasarkan
pembahasan
tersebut dapat disimpulkan bahwa
kesulitan siswa sebagian besar
disebabkan oleh faktor internal siswa
itu sendiri yang belum memahami
konsep-konsep
sebelum
materi
hubungan antara garis dan sudut serta
kurangnya motivasi instrinsik dari
siswa itu sendiri.
B. Pemahaman konsep hubungan
antara garis dan sudut
Konsep sangatlah diperlukan
untuk memahami materi yang akan
dipelajari. Tanpa pemahaman konsep
yang baik maka siswa akan kesulitan
untuk mengerjakan tugas maupun
soal-soal. Berikut ini akan dibahas
singkat mengenai konsep hubungan
antara garis dan sudut.
Pada pembahasan ini peneliti
mengasumsikan
siswa
telah
Pada gambar di bawah ini ∠4 dan ∠6
berada diantara (di dalam) dua garis sejajar
dan
berseberangan
terhadap
garis
m
m
k
k
1
4
1
2
4
3
l
5
8
2
3
l
6
7
5
6
7
8
memahami pengertian sudut dan garis
serta sifat-sifat garis dan sudut.
Selanjutnya peneliti akan sedikit
untuk membahas hubungan antara
garis dan sudut apabila ada dua garis
sejajar (k // l) dipotong oleh suatu
garis pemotong m (garis transversal)
sehingga membentuk jenis-jenis
sudut beserta hubungannya sebagai
berikut:
a. Sudut-sudut sehadap
transversal.
Sudut-sudut
yang
demikian disebut sudut-sudut dalam
berseberangan. Sudut-sudut dalam
berseberangan yang lain adalah ∠3
dan ∠5. Jika dua garis sejajar
dipotong oleh garis lain maka sudutsudut dalam berseberangan sama
besar (Umi salamah, 2009: 182).
c. Sudut-sudut
luar
berseberangan
m
m
k
k
1
1
4
4
2
3
5
6
8
7
Pada gambar atas ∠2 dan ∠6
menghadap kearah yang sama. Sudutsudut yang demikian disebut sudutsudut sehadap. Sudut-sudut sehadap
lain adalah ∠1 dan∠5, ∠3 dan ∠7,
serta ∠4 dan ∠8. Jika dua garis sejajar
dipotong oleh sebuah garis maka
sudut-sudut sehadap sama besar
b. Sudut-sudut (Umi salamah,
2009:
182).
dalam
berseberangan
3
l
l
5
2
8
6
7
Pada gambar disamping ∠1 dan
∠7 berada diluar dua garis sejajar dan
berseberangan
terhadap
garis
transversal.
Sudut-sudut
yang
sedemikian disebut sudut-sudut luar
berseberangan. Jika dua garis garis
sejajar dipotong oleh sebuah garis
maka sudut-sudut luar berseberangan
adalah sama besar (Umi salamah,
2009: 183).
d. Sudut-sudut dalam sepihak
m
k
1
4
2
3
l
5
8
disebelah kiri garis transversal.
Sudut-sudut yang sedemikian disebut
sudut-sudut luar sepihak. ∠1 + ∠7 =
180°. Jika dua garis sejajar dipotong
oleh garis lain maka jumlah sudutsudut luar sepihak adalah 180° (Umi
salamah, 2009: 183).
6
7
m
k
Pada gambar disamping ini
∠4 dan ∠5 berada didalam garis
sejajar dan keduanya terletak
disebelah kiri garis transversal.
Sudut-sudut yang sedemikian disebut
sudut-sudut dalam sepihak. ∠4 +
∠5 = 180°. Jika dua garis sejajar
dipotong oleh garis lain maka jumlah
sudut-sudut dalam sepihak adalah
180° (Umi salamah, 2009: 183)
e. Sudut-sudut luar sepihak
Pada gambar dibawah ∠1 dan
∠7 berada diluar dua garis garis
sejajar dan keduanya terletak
Nilai yang
diperoleh
Jumlah
siswa
11-50
4
51-80
7
81-100
9
1
4
2
3
l
5
8
6
7
Berdasarkan
penelitian
yang dilakukan hamid pada suatu
kelas yang beranggotakan 20
siswa, diketahui pemahaman siswa
tentang materi hubungn antara
garis dan sudut yaitu: (Hamid
Abdul, 2009: 47)
Keterangan
Siswa tidak memahami pengertian sifat-sifat sudut yang
dibentuk oleh garis sejajar yang dipotong oleh garis lain
sehingga siswa tidak dapat menyebutkan pasangan sudut
yang terdapat pada soal.
Siswa belum memahami sifat-sifat sudut yang dibentuk
oleh garis sejajar yang dipotong oleh garis lain dengan
baik. Sehingga pada saat penyebutan pasangan sudut
masih terdapat kesalahan.
Siswa telah memahami sifat-sifat sudut yang dibentuk oleh
garis sejajar yang dipotong oleh garis lain, tetapi jawaban
yang mereka berikan masih kurang sempurna.
Dari hasil analisis tes awal,
diperoleh informasi bahwa sebagian
besar siswa tidak dapat menjawab
soal yang diberikan dengan benar.
Hal ini menunjukkan rendahnya
pemahaman konsep siswa terhadap
materi garis dan sudut yang
menyebabkan rendahnya hasil tes
siswa.
Pada tabel diperoleh data
bahwa dari 20 orang siswa yang
mengikuti tes, terdapat 4 orang siswa
yang belum memahami pengertian
sifat-sifat sudut yang terbentuk oleh
garis sejajar yang dipotong oleh garis
lain sehingga, siswa tidak dapat
menyebutkan pasangan sudut yang
terdapat pada soal. Selanjutnya,
terdapat 7 orang siswa yang belum
dapat memahami sifat-sifat sudut
yang terbentuk oleh garis sejajar yang
dipotong oleh garis lain dengan baik.
Sehingga pada saat penyebutan
pasangan sudut masih terdapat
kesalahan. Sedangkan 9 orang siswa
lainnya telah memahami sifat-sifat
sudut yang dibentuk oleh garis sejajar
yang dipotong oleh garis lain.
Sehingga siswa dapat menyebutkan
pasangan sudut dengan benar.
C. Penerapan model pembelajaran
Kooperatif Picture and Picture
Model
pembelajaran
kooperatif picture and picture
merupakan jenis belajar kelompok
yang menggunakan gambar sebagai
objek yang dikaji (Trianto, 2011: 9).
Pemilihan
metode
dalam
pembelajaran harus disesuaikan
dengan materi yang akan dipelajari.
Materi yang akan dibahas yaitu
hubungan antara garis dan sudut.
Pada pembahasan selanjutnya akan
dibahas penerapan model kooperatif
picture and picture pada materi
hubungan antara garis dan sudut.
Sesuai dengan langkahlangkah yang telah dibahas pada
bagian sebelumnya, langkah awal
yang dilakukan oleh peneliti yaitu
guru menyampaikan kompetensi
yang ingin dicapai, yaitu memahami
sifat-sifat sudut yang terbentuk jika
dua garis berpotongan atau dua garis
sejajar berpotongan dengan garis lain.
Dengan dijelaskannya kompetensi
yang ingin dicapai maka guru
mengharapkan siswa mampu untuk
menemukan sifat sudut jika dua garis
sejajar dipotong garis ketiga.
Menggunakan sifat-sifat sudut dan
garis untuk menyelesaikan soal-soal.
Langakah berikutnya guru
menyajikan kilasan gambaran materi
hubungan antara garis dan sudut
sebagai
pengantar.
Misalnya
diberikan gambar sebagai berikut:
Dari gambar tersebut siswa
disuruh untuk menganalisis gambar
tersebut
dan
memberikan
pendapatnya,
guru
juga
menambahkan soal mengenai gambar
tersebut yaitu Pada gambar berikut
ini, garis AB // EC, ∠BAC = 35°, dan
∠DCE = 70°. Tentukan besar semua
sudut yang lain! (Nuharini Dewi dan
Wahyuni Tri, 2008: 224).
Penyampaian ini disajikan
dengan penuh menarik agar siswa
menjadi penasaran dan termotivasi
untuk belajar lebih serius, misalnya
diawali dengan kalimat tanya apakah
yang kamu ketahui tentang sudut?
Apakah yang kamu ketahui tentang
garis?
Dan
sebagainya,
ini
dimaksudkan agar siswa menjadi
tertarik dan berusaha untuk membaca
buku yang telah difasilitasi sekolah.
Langkah ketiga yaitu guru
membagi kelompok pada siswa,
kelompok yang dibuat masingmasing beranggotakan tiga sampai
empat siswa. Anggota kelompok
yang tidak terlalu banyak diharapkan
dapat menjadikan siswa aktif diskusi
dalam kelompoknya, karena dalam
metode kelompok akan terjadi
persaingan yang cukup kompetitif
antara kelompok satu dengan yang
lainnya sehingga membuat anggota
kelompok akan bekerja keras untuk
membuat kelompoknya terlihat lebih
unggul
dari
kelompok
lain.
Selanjutnya
guru
menampilkan
gambar-gambar yang terkait dengan
materi hubungan antara garis dan
sudut melalui media lcd yang telah
terpasang pada masing-masing kelas,
diantaranya seperti di bawah ini:
dan diskusi pun berjalan seiring
penampilan gambar-gambar yang
diberikan oleh guru. Siswa disuruh
menkaji gambar diatas. Guru
memberikan alokasi waktu untuk
melakukan diskusi kelompok selama
30 menit.
Saat diskusi kelompok
telah selesai, maka dimulailah
presentasi kelompok. Kelompok yang
akan mempresentasikan akan dipilih
oleh guru. Saat presentasi siswa
disuruh untuk mendeskripsikan hasil
diskusinya, yaitu hasil pengamatan
gambar-gambar yang telah diberikan
oleh guru. Untuk memeriahkan
suasana guru dapat memberikan
sedikit hukuman apabila saat
presentasi siswa tidak mampu
mengungkapkan analisi gambar yang
diberikan. Ini bertujuan untuk
menciptakan suasana yang kondusif
dan tidak menegangkan pada
kelompok lain yang mempersiapkan
diri untuk presentasi.
Setelah
presentasi
kelompok selesai dilanjutkan dengan
sesi tanya jawab antar kelompok.
Kelompok yang presentasi akan
diberi pertanyaan oleh kelompok lain.
Pertnyaan akan dijawab oleh
kelompok yang presentasi. Dalam hal
ini guru juga diperbolehkan untuk
mengajukan
pertanyaan
pada
pemateri.
Guru
mengajukan
pertanyaan tentang alasan-alasan
sehingga siswa dapat menyimpulkan
sedemikian itu. Peran guru tidak
hanya sampai disitu, guru bertugas
untuk menjawab pertanyaan dari
kelompok lain apabila kelompok
yang presentasi tidak mampu untuk
menjawab.
Langkah berikutnya yaitu
penekanan yang dilakukan oleh guru.
Saat diskusi kelompok selesai
seorang guru harus memberikan poinpoin penting yang harus dipahami
oleh siswa, yaitu Jika dua garis sejajar
dipotong oleh garis lain maka: sudutsudut sehadap sama besar, sudutsudut dalam berseberangan sama
besar,
Sudut-sudut
luar
berseberangan sama besar, jumlah
sudut-sudut dalam sepihak adalah
180°, jumlah sudut-sudut luar
sepihak adalah 180° (Umi salamah,
2009: 186)
. Hal ini dimaksudkan agar
siswa memahami materi yang telah
didiskusikan.
Hal terakhir yang perlu
diperhatikan yaitu simpulan materi,
ini sangat penting karena melalui
diskusi yang panjang lebar dapat
membuat siswa jenuh dan malas
mendengarkan diskusi. Kesimpulan
dari guru sangatlah penting untuk
menanamkan pemahaman pada
siswa. Kesimpulan ini juga dapat
menghindari kesalahpahaman siswa
pada materi apabila jalannya diskusi
tidak
sesuai
dengan
standar
kompetensi yang diharapkan oleh
guru.
kompetensi yang diharapkan oleh
guru.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa
makalah
ini
masih
banyak
kekurangan, maka dari itu kritik dan
saran dari pembaca penulis perlukan
untuk penulisan makalah berikutnya
agar lebih baik. Harapan penulis,
semoga makalah ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan khalayak
umum (pembaca) umumnya.
DAFTAR RUJUKAN
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari berbagai
pembahasan diatas adalah sebagai
berikut:
1. kesulitan siswa sebagian besar
disebabkan oleh faktor internal
siswa itu sendiri yang belum
memahami
konsep-konsep
sebelum materi hubungan antara
garis dan sudut serta kurangnya
motivasi instrinsik dari siswa itu
sendiri.
2. Jika dua garis sejajar dipotong
oleh garis lain maka:
- sudut-sudut sehadap sama
besar.
- sudut-sudut
dalam
berseberangan sama besar.
- Sudut-sudut
luar
berseberangan sama besar.
- jumlah sudut-sudut dalam
sepihak adalah 180°.
- jumlah
sudut-sudut
luar
sepihak adalah 180°.
3. Penerapan metode kooperatif
picture and picture sangatlah tepat
digunakan pada materi hubungan
antara garis dan sudut. Penyajian
gambar-gambar
akan
lebih
memudahkan
siswa
untuk
memahami materi dan mencapai
[ 1] Ahmadi Abu, Uhbiyati Nur.
2007. Ilmu
Pendidikan.
Jakarta:
Rineka Cipta
[ 2] Baharuddin dan Wahyuni Esa
Nur. 2010. Teori Belajar &
Pembelajaran.
Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media
Group
[ 3] Hamid
abdul.
2009.
Meningkatkan Pemahaman
Siswa Pada Materi Hubungan
Garis dan sudut. Palu: Skripsi
[ 4] Hamzah Ali dan Muhlisrarini.
2014. Perencanaan dan
Strategi
Pembelajaran
Matematika.
Jakarta:
Rajawali Pers
[ 5] Maunah Binti. 2009. Landasan
Pendidikan.
Yogyakarta:
Teras
[ 6] Nuharini Dewi dan Wahyuni
Tri. 2008. Matematika konsep
dan
aplikasinya
untuk
kelas VII SMP. Jakarta: Pusat
Perbukuan,
Departemen
Pendidikan Nasional,
[ 7] Ruseffendi. 1990. Pengajaran
Matematika Modern dan
Masa Kini untuk Guru dan
PGSD S2. Bandung: Tarsito
[ 8] Sardiman. 2007. Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta:
Raja
Grafindo
Persada
[ 9] Slameto. 2010. Belajar dan
Faktor-Faktor
yang
Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta
[ 10] Trianto. 2011. Model-model
Pembelajaran
Inovatif
Berorentasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka
[ 11] Umi salamah. 2009. Berlogika
dengan Matematika 1. Solo:
Platinum
Download