Toksoplasmosis Kongenital

advertisement
CONTINUING MEDICAL EDUCATION
Akreditasi PB IDI–2 SKP
Toksoplasmosis Kongenital
I Gusti Ayu Dwi Aryani
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia
ABSTRAK
Toksoplasmosis kongenital merupakan suatu manifestasi infeksi Toxoplasma gondii pada ibu hamil yang menyebar ke janin melalui transmisi
plasenta. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan, pendengaran, perkembangan, dan IQ yang lebih rendah pada anak.
Penegakan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan serologi.
Kata kunci: Diagnosis, toksoplasmosis kongenital, T. gondii
ABSTRACT
Congenital toxoplasmosis is a manifestation of the Toxoplasma gondii infection in pregnant women which spread to the fetus through the
placenta transmission. This case may cause visual impairment, hearing loss, development impairment, and lower IQ in childhood. Diagnosis is
by serology examination. I Gusti Ayu Dwi Aryani. Congenital Toxoplasmosis
Keywords: Congenital toxoplasmosis, diagnosis, T. gondii
PENDAHULUAN
Toksoplasmosis adalah penyakit yang
disebabkan
oleh
Toxoplasma gondii,
merupakan penyakit parasit pada hewan
yang dapat ditularkan ke manusia.
Parasit ini termasuk golongan protozoa
yang bersifat parasit obligat intraseluler.
Infeksi toksoplasmosis saat hamil dapat
menyebabkan abortus spontan atau
anak yang dilahirkan mengalami kelainan
kongenital seperti hidrosefalus, iridosiklisis,
dan retardasi mental.1
EPIDEMIOLOGI
Toksoplasmosis
tersebar
hampir
di
seluruh dunia karena toksoplasma pada
hakekatnya mampu menginfeksi setiap
sel pejamu yang berinti. Sekitar 85 persen
wanita usia produktif di Amerika Serikat
mengalami infeksi akut parasit Toxoplasma
gondii. Insidens toksoplasmosis kongenital
tergantung proporsi wanita hamil yang
terinfeksi toksoplasma selama kehamilan.
Estimasi infeksi kongenital di Amerika Serikat
berkisar antara 1 per 3000 sampai 1 per 10.000
kelahiran. Berdasarkan data studi regional, 400
Alamat Korespondensi
sampai 4.000 kasus toksoplasmosis kongenital
terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya.2,3
ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
T. gondii memiliki 3 fase hidup, yaitu takizoit
(bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit,
dan ookista (berisi sporozoit). Bentuk takizoit
menyerupai bulan sabit dengan satu ujung
runcing dan ujung lain agak membulat.
Takizoit ditemukan pada infeksi akut berbagai
organ tubuh, seperti otot termasuk otot
jantung, hati, limpa, limfonodi, dan sistem
saraf pusat. Selanjutnya, kista dibentuk di
dalam sel hospes bila takizoit yang membelah
telah membentuk dinding. Kista dapat
ditemukan dalam tubuh hospes seumur
hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot
bergaris. Fase hidup ketiga T. gondii adalah
sporozoit; pada fase ini ditemukan ookista.
Ookista berbentuk lonjong, mempunyai
dinding, berisi satu sporoblas yang membelah
menjadi dua; selanjutnya kedua sporoblas
membentuk dinding dan menjadi sporokista.
Masing-masing sporokista berisi 4 sporozoit
berukuran 8x2 mikron dan sebuah benda
residu.4
Kucing merupakan hospes definitif T. gondii.
Selama infeksi akut, ookista yang keluar
bersama tinja kucing belum bersifat infektif.
Setelah beberapa minggu, tergantung kondisi
lingkungan, ookista akan mengalami sporulasi
dan menjadi bentuk infektif. Manusia dan
hospes perantara lain, seperti kambing dan
domba, akan terinfeksi jika menelan ookista
tersebut. Kondisi cuaca panas dan tanah
lembap dapat mempertahankan ookista
selama sekitar 1 tahun. Ookista tidak dapat
bertahan hidup di tanah gersang dan cuaca
dingin.4
Setelah terjadi infeksi T. gondii akan terjadi
proses parasitemia, di mana parasit
menyerang organ dan jaringan serta
memperbanyak diri dan menghancurkan selsel inang. Pada toksoplasmosis kongenital,
infeksi primer pada janin diawali dengan
masuknya darah ibu yang mengandung
parasit ke dalam plasenta, sehingga terjadi
plasentitis. Hal ini ditandai dengan gambaran
plasenta dengan reaksi inflamasi menahun
pada desidua kapsularis dan fokal reaksi pada
vili. Inflamasi tali pusat jarang dijumpai. Parasit
email: [email protected]
CDK-255/ vol. 44 no. 8 th. 2017
537
CONTINUING MEDICAL EDUCATION
akan menimbulkan keadaan patologik yang
manifestasinya tergantung usia kehamilan.4
Risiko toksoplasmosis kongenital sekitar 10 –
25% apabila infeksi akut maternal terjadi pada
trimester pertama kehamilan dan meningkat
hingga 60 – 90% apabila terjadi pada trimester
ketiga. Namun, manifestasi toksoplasmosis
kongenital lebih parah jika infeksi terjadi pada
trimester pertama.2
MANIFESTASI KLINIS
Trias klasik toksoplasmosis kongenital meliputi
korioretinitis, kalsifikasi intrakranial, dan
hidrosefalus. Tanda dan gejala toksoplasmosis
kongenital lainnya meliputi abnormalitas
cairan spinal, anemia, kejang, demam, tuli,
gangguan pertumbuhan, hepatomegali,
jaundice,
gangguan
pembelajaran,
limfadenopati, ruam makulopapular, retardasi
mental, mikrosefali, spastisitas, splenomegali,
trombositopenia, dan gangguan penglihatan.
Sebagian besar bayi yang terinfeksi intrauterin
lahir dengan gejala tidak khas, lebih dari 80%
berkembang menjadi gangguan penglihatan,
pendengaran, perkembangan, dan IQ yang
lebih rendah pada masa anak-anak.5
DIAGNOSIS
Toksoplasmosis kongenital hanya akan terjadi
jika seorang wanita mendapat infeksi selama
hamil. Satu-satunya cara untuk menentukan
infeksi adalah dengan skrining serologi. Tidak
semua wanita hamil menunjukkan gejala saat
terinfeksi toksoplasmosis dan hanya sebagian
kecil janin yang menunjukkan tanda abnormal
yang dapat dideteksi dengan ultrasonografi
rutin. Hal ini menjadi pertimbangan
perlunya skrining dan tes serial terhadap
setiap wanita hamil. Beberapa negara yang
mengimplementasikan program skrining rutin
prenatal antara lain Austria, Belgia, Prancis,
Norwegia, Uruguay, dan beberapa wilayah di
Italia dan Brazil.5
Klasifikasi
toksoplasmosis
kongenital
(Desmonts dan Couvreur):3
1. Anak dengan kelainan neurologis, seperti :
Hidrosefalus, mikrosefalus, makroftalmus
dengan atau tanpa retinokoroiditis. Gejala
mungkin timbul saat dilahirkan atau di
kemudian hari.
2. Anak dengan kelainan berat, penyakit
generalisata, seperti :
Eksantematus makulopapular,
purpura, pneumonia, jaundice berat,
538
hepatosplenomegali; mungkin juga
uveitis dan pembesaran ventrikuler.
3. Anak dengan kelainan sedang dan tanda
infeksi pre-natal, seperti :
Hepatosplenomegali
dan
jaundice
dengan atau tanpa trombositopenia atau
gejala non-spesifik
4. Anak dengan infeksi subklinis
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Beberapa metode diagnosis toksoplasmosis
kongenital antara lain deteksi respons imunitas
humoral spesifik Toxoplasma, amplifikasi
DNA Toxoplasma, identifikasi antigen spesifik
Toxoplasma pada jaringan, dan isolasi parasit.
Selama kehamilan, adanya parasit dalam
cairan amnion (amplifikasi DNA, mikroskopi,
atau isolasi organisme) atau jaringan fetus
(amplifikasi DNA, pewarnaan antigen,
mikroskopi, atau isolasi organisme) dapat
mendiagnosis toksoplasmosis kongenital.
Metode diagnosis yang paling sering untuk
toksoplasmosis kongenital selama kehamilan
adalah PCR dalam cairan amnion; hasil
tes positif mendiagnosis toksoplasmosis
kongenital.6,7
bulan. Sedangkan, kriteria eksklusi diagnosis
toksoplasmosis kongenital yaitu dengan
adanya penurunan titer IgG Toxoplasma
yang menghilang dalam usia 12 bulan.4
Pada keadaan terbatasnya riwayat klinis dan
hasil tes laboratorium Toxoplasma, diagnosis
toksoplasma kongenital pada satu tahun awal
kehidupan dapat rancu dengan kemungkinan
bayi mendapat infeksi selama periode postnatal. Oleh karena itu, perlu mendiagnosis
atau mengeksklusi toksoplasmosis kongenital
selama periode gestasi atau satu tahun awal
kehidupan.6,7
Metode laboratorium yang umum digunakan
untuk diagnosis toksoplasmosis kongenital
pada bayi baru lahir adalah deteksi serologi
berbagai antibodi Toxoplasma dalam serum
darah perifer. IgG, IgM, IgA Toxoplasma
harus selalu diperiksa. Kombinasi hasil
pemeriksaan IgM dan IgA, ditambah dengan
pemeriksaan IgG memiliki sensitivitas lebih
tinggi dibandingkan dengan hanya satu
jenis pemeriksaan. Pemeriksaan Toxoplasma
PCR pada cairan serebrospinal (CSF), darah
perifer, dan urin dapat menjadi cara lain untuk
diagnosis awal toksoplasmosis kongenital
Suspek infeksi toksoplasmosis kongenital dan/atau4gejala klinis saat lahir (+).
(Gambar
1). saat lahir diperlukan untuk
Pada periode post-natal,
baku
emas
penegakan
Tidak dilakukannya skrining saat kehamilan,
serum maternal
pemeriksaan
paralel dengan serum bayi baru lahir
diagnosis toksoplasmosis kongenital
adalah
IgG Toxoplasma persisten hingga usia 12
Selama periode post-natal, deteksi IgG
Serum maternal adalah
Adanya IgG,
Pemeriksaan
Diagnosis
PCR pada cairan
seronegatif Toxoplasma saat lahir
IgM, dan/atau
IgG, IgM, IgA
belum
serebrospinal, darah,
4
Gambar
Diagramdengan
alur diagnosis
toksoplasmosis
kongenital
dan1.
dikonfirmasi
hasil
IgA
menggunakan
dapat
urin tergantung gejala
negatif saat 1 bulan Suspek
pasca-lahir,
pemeriksaan
ditegakka
Suspek
infeksi
toksoplasmosis
kongenital
dan/atau
gejala
klinis
saat
lahir
(+).
Suspek
infeksi
infeksi
toksoplasmosis
toksoplasmosis
kongenital
kongenital
dan/atau
dan/atau
gejala
gejala
klinis
klinis
saat
saat
lahir
lahir
(+).
(+). klinis bayi
atau infeksi maternal
terjadi
serologis
ndiperlukan
Tidak
dilakukannya
skrining
saat
kehamilan,
serum
maternal
saat
lahir
diperlukan
untuk
Tidak
Tidak
dilakukannya
dilakukannya
skrining
skrining
saat
saat
kehamilan,
kehamilan,
serum
serum
maternal
maternal
saat
saat
lahir
lahir
diperlukan
untuk
untuk
menjelang proses kelahiran
konvensional
pemeriksaan
paralel
dengan
serum
bayi
baru
lahir
pemeriksaan
pemeriksaan
paralel
paralel
dengan
dengan
serum
serum
bayi
bayi
baru
baru
lahir
lahir
Negatif
Positif
saat usia > 10
hari
Tidak
perluadalah
tindak
lanjut
Serum
maternal
adalah
Serum
Serum
maternal
maternal
adalah
seronegatif
Toxoplasma
saat
lahir
seronegatif
seronegatif
Toxoplasma
Toxoplasma
saat
saat
lahir
lahir
dan
dikonfirmasi
dengan
hasil
dan
dan
dikonfirmasi
dikonfirmasi
dengan
dengan
hasil
hasil
negatif
saat
11bulan
pasca-lahir,
negatif
negatif
saat
saat
1 bulan
bulan
pasca-lahir,
pasca-lahir,
atau
infeksi
maternal
terjadi
atau
atau
infeksi
infeksi
maternal
maternal
terjadi
terjadi
menjelang
proses
kelahiran
menjelang
menjelang
proses
proses
kelahiran
kelahiran
Tidak
perlu
tindak
lanjut
Tidak
Tidak
perlu
perlu
tindak
tindak
lanjut
lanjut
Toksoplasmosis
Adanya
IgG,
Adanya
Adanya
IgG,
IgG,
kongenital
IgM,
dan/atau
IgM,
IgM,
dan/atau
dan/atau
IgA
IgA
IgA
Toksoplasmosis
Pemeriksaan
Diagnosis
PCR
pada
cairan
Pemeriksaan
Pemeriksaan
Diagnosis
Diagnosis
PCR
PCR
pada
pada
cairan
cairan
kongenital
IgG,
IgM,
IgA
belum
serebrospinal,
darah,
IgG,
IgG,
IgM,
IgM,
IgA
IgA
belum
belum
serebrospinal,
serebrospinal,
darah,
darah,
Pemeriksaan ulang IgG,
IgM, dan urin
menggunakan
dapat
urin
tergantung
gejala
menggunakan
menggunakan
dapat
dapat
urin
tergantung
tergantung
gejala
gejala
pemeriksaan
klinis
bayi
IgA pada usia ditegakka
1ditegakka
bulan dan
pemeriksaan
pemeriksaan
ditegakka
klinis
klinis
bayi
bayi
TERAPI
TERAPI
serologis
setiap 2 bulan dengan
serologis
serologis
n nindikasi
n
konvensional
konvensional
konvensional
Negatif
Positif
Negatif
Negatif
Positif
Positif
saat
usia
saat
saat
usia
usia
>>
10
>10
10
hari
hari
hari
Adanya
salah satu kriteria diagnosis
Diagnosis toksoplasmosis Toksoplasmosis
kongenital
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis
toksoplasmosis
dapat dieksklusi jika:
kongenital
kongenital
kongenital
kongenital kongenital di bawah ini:
kongenital
kongenital
Adanya IgM dan/atau IgA pada umur
Tidak ada titer IgG tanpa terapi hingga
Pemeriksaan
ulang
IgG,
IgM,
dan
Pemeriksaan
Pemeriksaan
ulang
ulang
IgG,
IgG,
IgM,
IgM,
dan
dan
>10 hari dan/atau selama follow up
usia <12 bulan
IgA
pada
usia
11bulan
dan
IgA
IgA
pada
pada
usia
usia 1 bulan
bulan
dan
dan
Persisten
titer IgG
TERAPI
TERAPI
TERAPI
TERAPIatau peningkatan
TERAPI
TERAPI
setiap
22bulan
dengan
indikasi
setiap
setiap
2 bulan
bulan
dengan
dengan
indikasi
indikasi
tanpa terapi selama < umur 12 bulan
Toksoplasmosis
Adanya
salah
satu
kriteria
diagnosis
Adanya
Adanya
salah
salah
satu
satu
kriteria
kriteria
diagnosis
diagnosis
kongenital
toksoplasmosis
kongenital
toksoplasmosis
toksoplasmosis
kongenital
kongenital
didi
bawah
dibawah
bawah
ini:ini:
ini:
IgM
dan/atau
IgA
pada
umur

Adanya
Adanya
Adanya
IgM
IgM
dan/atau
dan/atau
IgA
IgA
pada
pada
umur
umur
>10
hari
dan/atau
selama
follow
>10
>10
hari
hari
dan/atau
dan/atau
selama
selama
follow
follow
upup
up
TERAPI
atau
peningkatan
titer
IgG

Persisten
Persisten
Persisten
atau
atau
peningkatan
peningkatan
titer
titer
IgG
IgG
tanpa
terapi
selama
bulan
tanpa
tanpa
terapi
terapi
selama
selama
<<
umur
<umur
umur
1212
12
bulan
bulan
Bukan
Diagnosis
toksoplasmosis
kongenital
Diagnosis
Diagnosis
toksoplasmosis
toksoplasmosis
kongenital
kongenital
toksoplasmosis
dapat
dieksklusi
jika:
dapat
dapat
dieksklusi
dieksklusi
jika:
jika:
kongenital
ada
titer
IgG
tanpa
terapi
hingga

Tidak
Tidak
Tidak
ada
ada
titer
titer
IgG
IgG
tanpa
tanpa
terapi
terapi
hingga
hingga
usia
<12
bulan
usia
usia
<12
<12
bulan
bulan
Tidak perlu terapi
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis
kongenital
kongenital
kongenital
Bukan
Bukan
Bukan
toksoplasmosis
toksoplasmosis
toksoplasmosis
kongenital
kongenital
kongenital
TERAPI
TERAPI
TERAPI
Tidak
perlu
terapi
Tidak
Tidak
perlu
perlu
terapi
terapi
CDK-255/ vol. 44 no. 8 th. 2017
CONTINUING MEDICAL EDUCATION
Toxoplasma neonatus bergantung pada IgG
maternal yang dapat menembus plasenta
secara pasif. Pada periode awal kehidupan,
IgG neonatus masih diperoleh dari IgG
ibu, setelah 2 bulan akan mulai menurun.
Pada usia 6 bulan IgG akan hilang 50% dan
100% saat usia 1 tahun. Deteksi IgM dan
IgA Toxoplasma pada neonatus juga dapat
terkontaminasi oleh IgM maternal pada 5 hari
pertama kehidupan dan IgA pada 10 hari awal.
Oleh karena itu, pemeriksaan IgA ataupun IgM
dilakukan saat usia >10 hari. Apabila diagnosis
belum dapat ditegakkan, pemeriksaan IgG,
IgM, dan IgA selanjutnya dilakukan pada usia
1 bulan dan setiap 2 bulan sesuai indikasi.
Diagnosis toksoplasmosis kongenital dapat
dieksklusi jika tidak terdapat titer IgG tanpa
terapi hingga usia <12 bulan.4
PENATALAKSANAAN
Terapi toksoplasmosis kongenital dapat
dilakukan pada periode pre-natal dan postnatal. Terapi pre-natal bertujuan untuk
mencegah transmisi infeksi maternal ke fetus,
sedangkan tujuan terapi post-natal adalah
untuk mengobati infeksi pada bayi yang positif
terdiagnosis toksoplasmosis kongenital. Terapi
post-natal berfungsi untuk mengurangi risiko
retinokoroiditis. Penelitian-penelitian terkait
terapi toksoplasmosis kongenital masih jarang
dilakukan. Pada sebuah studi kohort oleh
Phan, dkk. tahun 2008, tidak mendapatkan
perbedaan signifikan risiko retinokoroiditis
hingga usia 3 tahun pada anak yang diterapi
post-natal dengan anak yang diterapi postnatal dan pre-natal.5
Pirimetamin dan sulfadiazin oral untuk
toksoplasmosis
kongenital
digunakan
selama 1 tahun; dosis pirimetamin oral yang
dianjurkan adalah 0,5 – 1 mg/kgBB, sedangkan
dosis sulfadiazin adalah 100 mg/kgBB.5
PENUTUP
Toksoplasmosis adalah suatu penyakit
yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma
gondii. Trias klasik toksoplasmosis kongenital
meliputi korioretinitis, kalsifikasi intrakranial,
dan hidrosefalus. Sekitar 80% neonatus yang
terdiagnosis
toksoplasmosis
kongenital
berkembang menjadi gangguan penglihatan,
pendengaran, perkembangan, dan IQ yang
lebih rendah pada masa anak-anak.
DAFTAR PUSTAKA
1. Serranti D, Buonsenso D, Valentini P. Congenital toxoplasmosis treatment. European Rev. 2011;15:193-8
2. Jones JL, Lopez A, Wilson M, Schulkin J, Gibbs R. Congenital toxoplasmosis: A review. CME Review Article. 2001;56:296–305
3. Robert-Gnansia E. Congenital toxoplasmosis. Orphanet Encyclopedia [Internet]. 2003:1-3. Available from: https://www.orpha.net/data/patho/GB/uk-toxo.pdf
4. Pomares C. Montoya JG. Laboratory diagnosis of congenital toxoplasmosis. J Clin Microbiol. 2016;54:2448–54
5. Gilbert R. Treatment for congenital toxoplasmosis: Finding out what works. Mem Inst Oswaldo Cruz. 2009;104:305–11
6. Priyowidodo D, Hartati S, Kusumawati A, Prastowo J. Diagnosis toksoplasmosis kongenital berdasarkan gen surface antigen-1 Toxoplasma gondii isolate local
menggunakan polymerase chain reaction. J Veteriner. 2015;16:303–9
7. Montoya JG. Laboratory diagnosis of toxoplasma gondii infection and toxoplasmosis. J Infect Dis. 2002;185 (Suppl 1):73-82
CDK-255/ vol. 44 no. 8 th. 2017
539
Download