Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter Di Indonesia

advertisement
Bab 1
Permasalahan Pendidikan Karakter Di Indonesia
Pendidikan karakter adalah pondasi Pembangunan Nasional, seperti yang diungkap
Proklamator Kemerdekaan Indonesia Bung Karno, bahwa tidak akan ada Pembangunan
Nasional tanpa Pembangunan Karakter. Bagi umat muslim ungkapan tersebut dapat
diyakini kebenarannya karena dilandasi oleh keyakinan atas sabda Rasul Muhammad
Saw, yang artinya : “Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia” [H.R. Muslim dan ahmad]. Yang kemudian diteladaninya dengan akhlak mulia
dan menyebarkan rahmatan lil’alamin. Akhlak mulia atau karakter baik, merupakan
pondasi untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan pembangunan secara
menyeluruh.
Dalam rangka menguatkan pendidikaan karakter di sekolah, Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan telah mempromosikan khusus tentang pendidikan karakter sejak
Tahun 2010. Bahkan salah satu agenda reformasi pendidikan yang dimulai dengan
ditetapkannya Undang-undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
adalah perubahan dari pendidikan yang berbasis mata pelajaran, menjadi pendidikan
berbasis kompetensi yang berdimensi karakter.
Dari uraian di atas kemudian muncul beberapa pertanyaan penting yaitu :
1. Apakah Program Pendidikan Karakter yang dipromosikan Kemendikbud tersebut telah
terlaksana dengan baik?
2. Apakah pendidikan berbasis kompetensi yang dapat memberdayakan lulusan
pendidikan dasar dan menengah menjadi cerdas, kreatif, kompetitif, produktif dan
berkarakter tersebut terlaksana secara konsisten?
Setelah dilakukan analisis, rupanya masih banyak kendala terhadap kedua program yang
bagus tersebut. Berikut adalah beberapa permasalahan yang perlu dipikirkan untuk
dicari solusinya, khususnya oleh Guru PAI, dan Guru – Guru lainnya.
1.1 Sudahkah Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah dan Madrasah Konsisten dengan
Peraturan Perundang-undangan?
Penulisan buku ini dilatar belakangi oleh kepedulian terhadap pentingnya pendidikan
yang memanusiakan manusia sebagai hamba-hamba Allah Swt (abdullah) calon
pemimpin masa depan (khalifah), berakhlak mulia dan dapat menyebarkan
kesejahteraan bagi masyarakat dan lingkungannya (rahmatan lil alamin). Guna
mencapai hal tersebut, harus dicari solusi terhadap persoalan pokok pendidikan, antara
lain:
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
1
Pertama adalah peran Guru sebagai tenaga fungsional yang profesional yang diyakini
sebagai komponen kunci keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di sekolah/madrasah,
Kedua peran kurikulum sebagai ujung tombak perencanaan pendidikan yang
seharusnya mengarahkan kepada kemampuan (kompetensi) yang berdimensi akhlak
mulia yang ditetapkan dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 3 (UU Sisdiknas 2003), khususnya pada jenjang PAUD serta
Pendidikan Dasar dan Menengah, dan
Ketiga peran sekolah/madrasah sebagai Pusat Pembangunan Masyarakat, khususnya
sebagai Pusat Pengembangan Karakter Bangsa.
Berikut ini akan diuraikan dari ketiga poin di atas :
Pertama, peran dan fungsi Guru sebagai komponen kunci keberhasilan
pendidikan di Sekolah/Madrasah.
Bahwa Guru merupakan komponen “kunci keberhasilan” dalam proses pembelajaran di
sekolah, merupakan kesadaran dan keyakinan semua orang yang berkecimpung dalam
dunia pendidikan di seluruh dunia.
Kemudian apa peran dan fungsi Guru dalam pelaksanaan pendidikan?
Guru merupakan pemimpin dan manajer pembelajaran. Oleh karena itu Guru adalah
pengembang kurikulum di sekolah yang menetapkan tujuan, materi dan metoda
pembelajaran serta mengevaluasi keberhasilannya. Bahwa Guru sebagai pengembang
kurikulum, merupakan ketetapan Undang-undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 38 ayat (2) sbb:
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya
oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah dibawah
koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama
kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.
Ketetapan tersebut merupakan kesadaran Pemerintah, betapa pentingnya peran dan
fungsi Guru dalam proses peningkatan mutu SDM (Sumber Daya Manusia) yang
diperlukan bagi Pembangunan Nasional. Guru bukanlah pengajar sebagai pelaksana
kurikulum, melainkan manajer dan pemimpin pembelajaran siswa di sekolah yang
kompeten merencanakan kurikulum bagi siswa di sekolah/madrasahnya dan
melaksanakannya serta mengevaluasi keberhasilannya sendiri.
Pasal 38 ayat (2) UU Sisdiknas tersebut mengembalikan peran Guru sebagai tenaga
fungsional yang profesional, yang pengaruhnya sangat besar pada proses peningkatan
mutu pendidikan nasional secara berkelanjutan.
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
2
Menurut penulis, salah satu upaya untuk membangun profesionalitas Guru diperlukan
Organisasi Profesi Guru yang dapat membantu Pemerintah dalam upayanya
meningkatkan mutu pendidikan yang dapat membangun lulusan yang cerdas,
kompetitif, produktif dan berkarakter.
Kedua, peran kurikulum dalam membangun karakter bangsa.
Menteri Pendidikan periode yang lalu (bapak Anies Baswedan), pernah mengemukakan
bahwa maraknya korupsi di Indonesia saat ini merupakan salah satu hasil pendidikan
sebelum era reformasi. Yaitu pendidikan yang kurikulumnya dikembangkan berdasarkan
materi pelajaran (subject matter curriculum), yang bertujuan membangun calon-calon
ahli keilmuan, yang cenderung belum mengintegrasikan nilai-nilai karakter.
Bahwa maraknya geng motor, narkoba, aliran sesat, miras dan free sex diantara remaja
saat ini, merupakan salah satu hasil pendidikan yang belum melaksanakan kurikulum
berbasis kompetensi secara konsisten, sebagai salah satu agenda inti reformasi
pendidikan.
Bahwa reformasi pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas tahun 2003), khususnya Pasal 3 yang
berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa
berakhlakmulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang
demokratis serta bertanggung jawab”, belum terlaksana secara konsisten, karena
proses pembelajaran di sekolah masih banyak berorientasi pada pengetahuan.
Pasal tersebut merupakan landasan pelaksanaan pendidikan berbasis kompetensi di
sekolah yang mengintegrasikan kognitif, afektif dan psikomotor, sebagai implementasi
dari prinsip:“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan
negara”.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang berorientasi pada
karakter sangat diperlukan saat ini dalam rangka membangun nilai dan sikap
kewirausahaan pada generasi muda dan mencegah pengaruh negatif globalisasi.
Oleh karena itu perubahan arah pendidikan dasar dan menengah, dari penyiapan
lulusan sebagai calon-calon ahli keilmuan menjadi lulusan yang berkemampuan, dalam
arti lulusan yang memiliki ilmu dan teknologi (kompetensi inti-3), yang dapat
menggunakannya dalam kehidupan (kompetensi inti-4), dengan penuh kebermanfaatan
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
3
bagi dirinya dan masyarakat lingkungannya (kompetensi inti-2) sebagai pengabdian
kepada tuhannya, Allah Swt (kompetensi inti-1), harus dilaksanakan di sekolah secara
konsisten. Kunci keberhasilannya adalah guru yang kompeten dan profesional yang
dapat melaksanakan pendidikan berbasis kompetensi yang mencerdaskan dan
berdimensi karakter, sehingga sekolah kembali berperan sebagai Pusat Pembangunan
Karakter Bangsa, khususnya generasi muda.
Ketiga, Perubahan Sistem Manajemen Pendidikan
Agenda reformasi pendidikan yang kedua, adalah mengubah sistem manajemen
pendidikan, dari manajemen pendidikan yang sentralistik menjadi Manajemen Berbasis
Sekolah/Madrasah (MBS/M), yang dilandasi oleh kesadaran bahwa manajemen
pendidikan yang sentralistik belum berhasil membangun peningkatan mutu pendidikan
yang merata di semua sekolah/madrasah diseluruh Indonesia mengingat luasnya
wilayah. Solusinya adalah penetapan Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah (MBS/M)
dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal
51 ayat (1) yaitu sbb: Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar
dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal
dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
Bahwa kewenangan sekolah dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) terlihat antara
lain dalam fungsi perencanaan, dimana sekolah diberi kewenangan untuk menyusun
kurikulum sekolahnya sendiri, yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), yang ditetapkan dalam UU Sisdiknas Tahun 2003 Pasal 38 ayat (2)
dan Pasal 61 ayat (2), dalam pemberian STTB.
Perubahan dari manajemen pendidikan yang sentralistik dalam era orde baru menjadi
Manajemen Berbasis Sekolah dalam era reformasi merupakan suatu hal yang sangat
rasional dan logis karena peningkatan mutu pendidikan hanya akan terjadi disekolah
yang bertumpu pada Guru-Guru profesional dengan penanggung jawab pertama dan
utamanya adalah Kepala Sekolah sebagai manejer pendidikan.
Dinas-dinas Pendidikan Kota, Kabupaten dan Provinsi dengan motto yang sama seperti
Kementerian Pendidikan yaitu Tut Wuri Handayani artinya Dinas Pendidikan Provinsi
bersama Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten mendorong dari belakang, agar
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berhasil. Siapa yang ing ngarso sung tulodo dan ing
madyo mangun karso adalah mereka Kepala-kepala sekolah dan Guru-Guru.
Sudahkah agenda reformasi yang kedua ini dilaksanakan secara konsisten oleh
Sekolah dan Madrasah ?
Kalau mutu pendidikan di Indonesia hanya ditinjau dari nilai UN (Ujian Nasional), artinya
kita belum memasuki masyarakat global. Mari kita lihat bagaimana nilai Ujian PISA
(Program of Internasional Student Assessment) yang diselenggarakan oleh OECD, bahwa
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
4
anak-anak Indonesia hanya mendapat ranking 2 dari bawah. Anak-anak Indonesia usia
15 tahun hanya mendapat ranking 64 dalam Bahasa, Matematika dan IPA, dari 65
negara (Data Tahun 2012). Apakah ranking itu dapat dibanggakan secara regional?
Padahal Malaysia yang tahun 1970-an belajar dari Guru-Guru profesional Indonesia,
siswanya mendapat ranking jauh diatas Indonesia.
1.2
Penurunan Karakter Generasi Muda
Revolusi TIK juga memberi dampak negatif kepada generasi muda, akibat dari “Budaya
Barat” yang sangat cepat menyebar dan mempengaruhi mereka. Hal ini juga merupakan
tantangan bagi Guru – Guru di Sekolah dan Madrasah yang harus berperan sebagai
Pusat Pembangunan Masyarakat (Social Development Center)
Beberapa hal terkait dengan penurunan moral generasi muda adalah sebagai berikut.
1.2.1
Menurunnya Rasa Hormat Terhadap Guru
Tidak dapat dipungkiri, bahwa peranan Guru terhadap masa depan anak sangatlah
besar. Dalam keseharian, para murid berada dalam bimbingan Guru untuk dipersiapkan
menjadi generasi penerus bangsa. Melihat pentingnya peranan Guru ini, maka sudah
sepantasnya jika Guru mendapatkan penghargaan atas jasanya dan ditempatkan pada
posisi yang terhormat.
Namun kenyataan belakangan menunjukkan lain. Keberadaan Guru tidak lagi selamanya
dipandang sebagai profesi yang terhormat. Bahkan, sejumlah kasus perselisihan antara
Guru dengan orang tua siswa menunjukkan bahwa penghormatan kepada Guru sudah
semakin memudar. Kebanyakan perselisihan terjadi karena orang tua tidak terima
terhadap tindakan Guru dalam memberikan peringatan dan teguran pada siswa.
Dewasa ini kita juga bisa merasakan bahwa wibawa Guru di hadapan anak didiknya pun
jauh menurun jika dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Sebagai contoh, terkadang
ada siswa tidak segan-segan mengolok-olok Gurunya sendiri karena tidak suka terhadap
Guru atau pelajaran yang diberikan Guru tersebut. Dalam interaksi sehari-hari, banyak
murid yang bersikap tidak sopan kepada Guru. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka
berbicara, bersikap, atau dari tingkat kepatuhannya. Ketika murid diingatkan oleh Guru,
bukannya menuruti nasihat Guru, tetapi banyak yang melawan.
Fenomena seperti ini terjadi akibat sistem pendidikan yang mengabaikan pendidikan
perilaku dan karakter, serta terlalu menekankan pada aspek kognitif.
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
5
1.2.2 Semakin tingginya angka kenakalan Siswa
Kenakalan siswa antara lain ditunjukkan dengan semakin maraknya perkelahian antar
siswa yang dikenal dengan istilah tawuran. Tawuran saat ini terjadi tidak saja
membahayakan jiwa mereka sendiri, tetapi juga berdampak terhadap orang-orang di
sekitarnya.
Kenakalan lainnya adalah berkembangnya budaya nyontek dan plagiatisme,
penyalahgunaan obat-obatan, kebut-kebutan, geng motor, free sex, membully, dan
membolos.
Banyak hal yang bisa menjadi penyebab keadaan di atas, antara lain: 1) pengaruh buruk
perkembangan teknologi, 2) pengaruh buruk lingkungan pergaulan, 3) peniruan budaya
luar yang tidak sesuai, 4) kurangnya penanaman karakter baik di sekolah maupun di
rumah, 5) hilangnya keteladanan dari Orang tua dan Guru, dan sebagainya.
1.2.3 Pengaruh TIK Terhadap Penurunan Karakter
Masalah teknologi yang semakin maju, bukanlah hal baru untuk dibicarakan, tapi yang
menjadi permasalahan kemudian adalah bagaimana dampak yang di timbulkannya. Arus
kemajuan teknologi abad 21 ini memang semakin terasa derasnya, hal ini dapat
dimaknai sebagai kemajuan positif maupun negatif.
Memang kedua hal tersebut (positif dan negatif) senantiasa berjalan beriringan, jika ada
sisi positif dari suatu fenomena maka tidak jarang diiringi pula sisi negatifnya tergantung
sejauh mana kita mampu memaknainya. Keinginan kita adalah mengambil sebanyakbanyaknya nilai positif dari kemajuan TIK dan mengurangi nilai negatifnya.
Tidak dapat di pungkiri kemajuan teknologi ternyata membawa perubahan besar bagi
kehidupan manusia di dunia pada umumnya, dengan teknologi yang sangat modern
maka sangat membantu kelancaran hidup manusia dan lebih mempermudah dalam
melakukan segala sesuatunya. Teknologi modern yang dikenal adalah munculnya
berbagai alat informasi dan komunikasi yang canggih yang bisa menjadikan suatu yang
jauh menjadi dekat sedangkan yang dekat menjadi jauh. Demikian pula halnya di sisi
alat transportasi yang sepertinya tidak ingin ketinggalan untuk mendapat sebutan
teknologi modern dalam konteks kemajuan teknologi.
Terlepas dari beberapa keunggulannya, alat komunikasi dan informasi yang telah maju
memiliki dampak negatif berupa penyalahgunaan yang mengakibatkan kemerosotan
moral masyarakat. Tindakan-tindakan negatif yang merupakan penyalahgunaan TIK
diantaranya adalah: 1) Cybercrime, 2) Hacking, 3) Cracking, 4) Pornografi, 5) Violence
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
6
And Gore, 6) Penipuan, 7) Carding, 8) Perjudian, 9) Cyberstalking, dan 10) CyberTresspass.
Salah satu contoh dampak yang paling mencolok dari perkembagan teknologi saat ini
adalah Cybercrime Jejaring Sosial di kalangan Generasi Muda. Kehadiran situs jejaring
sosial khususnya Facebook dalam beberapa tahun belakangan ini topik utama bagi
masyarakat khususnya generasi muda dari keterisolasian dan keterbelakangan mereka
dari dunia luar yang ‘liar’. Betapa tidak, jejaring sosial yang didesain untuk situs
pertemanan yang semestinya sudah berubah menjadi situs ‘pertemanan’ dengan
bumbu dan aroma yang mempesona dan mampu memperdaya mereka para gadis
dibawah umur untuk dijadikan objek perdagangan dan pelecehan seksual. Beberapa
berita melansir adanya penculikan anak atau kasus pelarian anak di bawah umur yang
masih berstatus pelajar yang berawal dari situs pertemanan atau jejaring sosial di
internet. Sifat anak yang mudah percaya pada siapapun memungkinkan terjadinya hal
tersebut.
Berikut ini dampak negatif jejaring sosial bagi generasi muda:










Tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya
Minimnya sosialisasi dengan lingkungan
Boros
Mengganggu kesehatan
Waktu belajar berkurang
Kurangnya perhatian untuk keluarga
Tersebarnya data pribadi
Mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex
Rawan terjadinya perselisihan
Rawan penipuan.
Bagaimana generasi muda kita tidak terperosok jika kita lihat dari beberapa informasi
yang valid Indonesia menduduki daftar negara ke 4 pengguna media sosial facebook
dengan Jumlah Pengguna Aktif : 60,3 Juta jiwa, dari jumlah Populasi : 253,6 juta jiwa.
1.2.4 Masalah Aliran Sesat
Pada saat ini tidak sedikit yang mengaku ormas Islam muncul dengan faham dan
ideologi yang menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasul. Mereka mencoba
mengubah pola pikir/tata cara berfikir generasi muda kita saat ini kedalam kelompokkelompok exklusif. Kebenaran dari faham-faham itu perlu dipertanyakan, tentu saja
kebenaran itu hanya milik Allah, sebagai mana firmanNya, yang artinya :
“ Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk
orang-orang yang ragu.” [ Q s Al Baqarah (2): 147 ]
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
7
Berdasarkan pada informasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) ada 10 (Sepuluh) kriteria
yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam dan ditetapkan sebagai aliran sesat.
Sepuluh Kriteria Aliran Sesat tersebut diantaranya:
 Mengingkari rukun iman dan rukun Islam,
 Meyakini dan atau mengikuti akidah yangg tidak sesuai dalil syar`i (Al Qur’an
dan As-sunah),
 Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an,
 Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al Qur’an,
 Melakukan penafsiran Al Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah tafsir,
 Mengingkari kedudukan sunnah sebagai sumber ajaran Islam,
 Melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul,
 Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
 Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, dan
 Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar'i.
Dari kriteria diatas tersebut kita memandang bahwa aliran sesat akan memberikan
dampak negatif pada umat muslim di Indonesia terutama generasi muda kita. Hal yang
paling mendasar yang perlu di respon oleh PPPKB adalah persoalan bagaimana
mempertahankan nilai-nilai aqidah Islam di masyarakat indonesia khususnya generasi
muda agar tetap sesuai dengan ajaran agama islam yang berpedoman pada Al Qur’an
dan As-Sunnah, sehingga mereka tetap berperilaku berdasarkan akhlak mulia dan dapat
menyebarkan rahmatan lil’alamin.
1.2.5 Maraknya Makanan “Beracun”, Yang Membahayakan
Pada saat ini anak-anak balita, siswa-siswa SD dan SMP serta orang dewasa muda
sedang “diracuni oleh makanan yang berbahaya”, antara lain seperti mie dan tahu dan
makanan lain yang berformalin, beras yang diputihkan dengan boraks, kue-kue dan
makanan ringan dengan warna yang menarik dengan menggunakan pewarna tekstil
(rhodamin B), makanan yang digoreng dengan memakai minyak yang tercampur dengan
plastik, bahkan saat ini kita dihebohkan dengan beras sintetis yang mengandung bahan
plastik. Akibat dari makanan-makanan “beracun” tersebut, tidak sedikit anak-anak yang
meninggal akibat gagal ginjal. Demikian juga orang dewasa muda yang meninggal
karena kanker otak, gagal ginjal dan tumor. Selain makanan yang beracun, generasi
muda juga di lemahkan fisiknya dengan minuman keras (miras) dan narkoba yang telah
banyak memakan korban mulai dari siswa sekolah sampai selebritis.
Akibat dari makanan “beracun”, miras dan narkoba akan mengakibatkan fisik generasi
muda menjadi lemah, sakit bahkan sampai pada kematian.
Siapa yang memproduksi “makanan beracun” tersebut?
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
8
Tidak sedikit dari mereka adalah muslim. Mengapa mereka “tega meracuni” generasi
muda keturunannya sendiri? Mereka tidak sadar, tidak berpikir kritis dan mungkin
hanya dikendalikan oleh nafsu untuk memperoleh keuntungan material semata.
Bukankah mereka itu hasil pendidikan yang hanya bertujuan pada keilmuan semata,
yang memisahkan ilmu dari agama? Mereka belajar agama Islam sebagai ilmu yang jauh
dari “keberagamaan”.
Mari kita berpikir, kalau makanan dan minuman “beracun” tersebut berdampak pada
penurunan kesehatan generasi muda dan masyarakat generasi 30 – 40 tahun, dapatkah
mereka meningkatkan ekonomi keluarganya? Pasti jawabannya sulit. Dan generasi
berikutnya merupakan masyarakat ekonomi lemah, sulit mendapatkan makanan yang
baik kecuali “Makanan Beracun”, dan begitu seterusnya. Bukankah hal ini merupakan
lingkaran menuju kepunahan? Naudzubillahi mindzalik.
Apa yang dapat memotong “Lingkaran “kepunahan tersebut”?
Jawabannya adalah pendidikan yang dapat membangun lulusan yang cerdas, kompetitif,
produktif dan berakhlak mulia.
Siapa yang dapat melaksanakannya? Guru-Guru sebagai “Pendidik Profesional”
pembangun karakter bangsa, yang berlandaskan pada pola-pola pendidikan dalam AlQur’an dan yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw.
Bab 1 Permasalahan Pendidikan Karakter di Indonesia
9
Download