Identifikasi Emisi Metan (CH4) pada Berbagai

advertisement
2
lahan sawah tadah hujan. Pemberian bahan
organik
pada
sistem ini
berpotensi
meningkatkan emisi GRK. Disisi lain sistem
PTT juga menerapkan irigasi intermittent
yang diduga dapat menurunkan emisi GRK.
Oleh sebab itu, perlu dilakukan identifikasi
status emisi GRK pada sistem PTT yang
nantinya akan dibandingkan dengan sistem
pengelolaan tanaman padi lainnya
Bila penerapan sistem PTT ini ternyata
dapat menekan emisi GRK, maka sistem ini
dapat menjadi cara budi daya padi yang ideal
karena selain dapat menghemat penggunaan
input pertanian, menaikkan hasil padi dan
pendapatan petani, juga dapat mengurangi
emisi GRK sehingga sistem pertanian menjadi
lebih lestari dan ramah lingkungan.
Tujuan
Mendapatkan informasi status emisi gas
pada
berbagai
sistem
metan
(CH4)
pengelolaan tanaman padi di lahan pertanian.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan
Februari sampai Juli 2007. Penelitian
pengukuran emisi CH4 dilakukan di Balai
Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan)
Jakenan, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati,
Provinsi Jawa Tengah. Balingtan Jaken secara
geografis terletak pada koordinat 06°45’
Lintang Selatan dan 111°40’ Bujur Timur,
beriklim D menurut klasifikasi Schmidt dan
Ferguson dengan curah hujan rata-rata kurang
dari 1600 mm/tahun.
TINJAUAN PUSTAKA
Efek GRK Terhadap Pemanasan Global
Efek Rumah Kaca (green house effect)
merupakan peristiwa yang terjadi secara alami
sehingga memungkinkan kelangsungan hidup
bagi semua makhluk yang ada di bumi. Tanpa
adanya GRK, seperti karbondioksida (CO2),
metan (CH4) atau dinitro oksida (N2O), suhu
permukaan bumi akan 33°C lebih dingin dari
suhu normalnya.
Masalah timbul ketika aktivitas manusia
menyebabkan peningkatan konsentrasi selimut
gas di atmosfer (Gas Rumah Kaca) sehingga
melebihi konsentrasi yang seharusnya.
Akibatnya, panas matahari yang tidak dapat
dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula.
Proses tersebut dikenal dengan efek rumah
kaca. Pemanasan global dan perubahan iklim
merupakan dampak dari terjadinya efek rumah
kaca.
Sejak awal jaman industrialisasi, akhir
abad ke-17, konsentrasi GRK meningkat
drastis. Diperkirakan tahun 1880 temperatur
rata-rata bumi meningkat 0.5–0.6°C akibat
emisi GRK yang dihasilkan dari aktivitas
manusia. Pengukuran yang dilakukan sejak
tahun
1950-an
menunjukkan
tingkat
konsentrasi GRK meningkat secara tetap dan
peningkatan ini berhubungan dengan emisi
GRK yang dihasilkan industri dan berbagai
aktivitas manusia lainnya.
Efek rumah kaca menyebabkan terjadinya
akumulasi panas (energi) di atmosfer bumi.
Dengan adanya akumulasi yang berlebihan
tersebut, iklim global akan melakukan
penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud
salah satunya adalah melalui peningkatan
temperatur bumi, yang kemudian dikenal
dengan pemanasan global, yang diikuti
dengan berubahnya iklim regional, pola curah
hujan yang tidak teratur, penguapan,
pembentukan awan, mencairnya es dan glasier
di kutub dan perubahan iklim.
Perubahan iklim tersebut dapat merubah
komposisi dan distribusi geografi di berbagai
ekosistem seperti hutan, gurun pasir dan
daerah pesisir pantai. Perubahan iklim akan
mempengaruhi
siklus
hidrologi
dan
mempengaruhi persediaan air regional
(Setyanto 2004a).
Metan (CH4) sebagai GRK
Setyanto (2004b) mengemukakan bahwa
metan (CH4) merupakan salah satu GRK yang
dihasilkan melalui proses dekomposisi bahan
organik secara anaerobik. Dimana pemasukan
secara intensif bahan organik berupa jerami
pada keadaan tanah tergenang sangat ideal
bagi berlangsungnya proses dekomposisi di
lahan pertanian. Proses tersebut dilakukan
oleh bakteri metanogen yang dapat merubah
CO2, asam format, asetat, metanol, metilamin
dan CO menjadi CH4 (Ciceron & Oremland
1988). Metanogen menggunakan asetat
sebagai sumber karbon utama, sedangkan
susbtrat lainnya seperti H2/CO2 dan format
berkontribusi 10-30% (Achtrich et al. 1995).
Emisi CH4 dari lingkungan akuatik seperti
tanah sawah pada dasarnya ditentukan oleh
dua proses mikrobial yang berbeda, yaitu
produksi metan dan konsumsi metan (Sudadi
2002). Pada tanah sawah, CH4 diproduksi
sebagai hasil antara dan hasil akhir dari
berbagai
proses
mikrobial,
seperti
dekomposisi anaerobik bahan organik oleh
bakteri metanogen dan oksidasi CH4 oleh
metanotrof (Zehnder & Stumm 1988).
Bakteri metanogen hanya aktif bila kondisi
3
tanah reduktif atau anaerobik telah tercapai
akibat penggenangan, sedangkan metanotrof
bersifat aerobik pada lapisan permukaan tanah
dan zona perakaran.
Bakteri metanogen dapat bekerja optimal
pada redoks potensial kurang dari -150 mV.
Proses metanogenesis merupakan proses
biologis pada tanah yang dipengaruhi oleh
sifat fisik dan kimia tanah seperti suhu tanah,
potensial redoks, pH tanah, akumulasi dan
dekomposisi bahan organik serta varietas
tanaman (Setyanto 2004).
Salah
satu
faktor
penting
yang
mempengaruhi
cepat-lambatnya
proses
produksi dan konsumsi gas CH4 adalah reaksi
oksidasi-reduksi (redoks) dari oksidanoksidan tanah seperti NO3, SO4, Fe2O3, MnO4
dan CO2 (Setyanto 2004). Sudadi (2002)
mengemukakan sisa CH4 yang tidak
teroksidasi ditransportasikan ke atmosfer
dengan cara difusi melalui air genangan,
ebulisi (pembentukan gelembung-gelembung
gas) serta transportasi melalui aerenchyma
padi.
Metan merupakan gas aktif yang
berpengaruh terhadap iklim bumi. Kehadiran
1.7 ppm CH4 di atmosfer menyebabkan
peningkatan suhu permukaan bumi sekitar
0.3-0.4 K.
Kontribusi Lahan Sawah pada Pemanasan
Global
Lahan sawah merupakan salah satu
sumber emisi CH4, yang berkontribusi pada
peningkatan pemanasan global. Lahan sawah
Indonesia yang luasnya sekitar 10,9 juta
hektar diduga memberi kontribusi sekitar 1%
dari total global CH4 di atmosfer (Setyanto
2006).
Pada tahun 1990, emisi metan dari tanah
sawah diperkirakan mencapai 20-120 juta ton
per tahun atau sekitar 12.5% dari emisi metan
global sebesar 470-650 juta ton per tahun.
Hasil penelitian IRRI dengan negara-negara
Asia yang dilakukan pada tahun 1993-1999
membuktikan bahwa tingkat emisi metan dari
tanah sawah di Cina ternyata hanya 3.7 juta
ton per tahun, sedangkan di India, Indonesia,
Filipina dan Thailand berturut-turut hanya 2.1,
1.7, 0.1 dan 0.2 juta ton per tahun. Total emisi
metan dari tanah sawah di kelima negara
tersebut hanya mencapai 6.5-17.4 juta ton per
tahun atau hanya 2-5 % dari emisi metan
secara global (Sudadi 2002).
Emisi metan dari tanah sawah beririgasi
umumnya lebih tinggi dibandingkan tanah
sawah tadah hujan dan tanah sawah air
dalam. Luas tanah sawah beririgasi meliputi
50% dari total areal tanah sawah dunia.
Meskipun demikian, laju emisi pada tanah
sawah beririgasi di berbagai lokasi tidak
seragam atau bervariasi dari kisaran rendah
sampai tinggi. Penggunaan pupuk inorganik
pada lahan tersebut juga menghasilkan laju
emisi metan yang sangat bervariasi,
sedangkan pengaruh aplikasi pupuk kandang
terhadap peningkatan laju emisi metan
bervariasi dari rendah hingga tinggi (Sudadi
2002).
SRI (System of Rice Intensification) (Uphoff
& Satyanarayana 2006)
SRI atau yang lebih dikenal dengan
Teknologi
Intensifikasi
Pertanian
dikembangkan di Madagaskar 20 tahun yang
lalu oleh Fr. Henry de Laulaniẻ, SJ.
Sedangkan di Indonesian sendiri SRI baru
diterapkan
pada
periode
1999-2000.
Komponen yang direkomendasikan oleh SRI
antara lain:
1. Penggunaan bibit muda
Bibit yang digunakan dalam SRI berumur
8-12 HSS (tidak lebih dari 15 HSS).
2. Pengaturan jarak tanam
Padi ditanam dengan jarak tanam 25cm x
25cm dengan menanam 1 bibit/lubang.
Pengaturan jarak tanam pada SRI bertujuan
untuk mendapatkan efek tanaman pinggir
pada padi. Dimana tanaman yang berada pada
bagian pinggir biasanya memberikan hasil
lebih tinggi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan
akar tanaman menjadi lebih dalam dan luas
penyerapannya.
3. Pengolahan tanah
Hal ini diperlukan untuk memperoleh
pertumbuhan akar yang baik dan menciptakan
kondisi
aerobik
untuk
biota
tanah.
Pencangkulan
selain
ditujukan
untuk
pemberantasan gulma, juga ditujukan untuk
perbaikan aerasi tanah.
4. Penambahan bahan organik
Dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi bagi akar dan biota tanah. Pemupukan
dengan kompos yang dihasilkan dari
dekomposisi
bahan
organik
dapat
meningkatkan hasil pertanian.
Komponen-komponen tersebut ketika
diterapkan
secara
bersamaan
dapat
meningkatkan
produktivitas
pertanian.
Pengaruh nyata dari penerapan SRI dapat
dilihat pada bagian akar tanaman. Sistem
perakaran menjadi lebih besar dan sehat
4
dibandingkan dengan tanaman padi dengan
penanaman cara biasa.
SRI menjadi kontroversial di beberapa
tempat karena dalam pelaksanaannya tidak
memberikan hasil yang sama ketika
diterapkan. Selain itu penggunaan benih muda
dan pemberantasan gulma secara manual yang
menjadi
salah
satu
komponen
SRI
membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak
sehingga tidak efisien.
Penerapan Sistem Pengelolaan Tanaman
Terpadu (PTT)
Pada awalnya Indonesia menerapkan SRI
sebagai
usaha
untuk
meningkatkan
produktivitas pertanian. SRI diterapkan di
Sukamandi dengan hasil panen 6.2 ton/ha
pada musim hujan dan 9.2 ton/ha pada musim
kering (Uphoff & Satyanarayana 2006).
Namun dalam perkembangannya
SRI
menunjukkan kendala teknis di lapangan.
Untuk itu dikembangkan teknologi pertanian
terbaru yang merupakan hasil penyempurnaan
dari SRI.
Inovasi teknologi untuk meningkatkan
produksi dan pendapatan petani dilakukan
melalui pendekatan PTT (Pengelolaan
Tanaman
dan
sumberdaya
Terpadu).
Komponen teknologi yang saling bersinergi
dalam PTT terdiri dari penggunaan bibit muda
unggul, pemakaian bahan organik, perbaikan
aerasi tanah dengan penerapan irigasi
berselang (intermitten), penggunaan bagan
warna daun (BWD) dan status hara tanah serta
pemakaian benih bermutu.
Komponen Teknologi PTT
Komponen
teknologi
utama
PTT,
meskipun tidak perlu semuanya diterapkan
bila tidak sesuai lokasi, diantaranya :
1. Penggunaan benih bermutu
Benih bermutu akan menghasilkan bibit
yang sehat dengan akar yang banyak, selain
itu perkecambahan dan pertumbuhan tanaman
akan seragam, ketika ditanam pindah bibit
dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat
dan
tegar dan benih yang baik akan
memberikan hasil tinggi. Untuk memilih
benih yang baik, sebelumnya benih direndam
dalam larutan garam 3% atau larutan ZA
(benih yang mengapung atau mengambang
dibuang) (BPPTP 2004).
2. Varietas unggul adaptif spesifik lokasi
Sebagai salah satu komponen intensifikasi
padi, varietas unggul berperan penting dalam
meningkatkan produksi, mengendalikan hama
dan penyakit tanaman serta menekan
pengaruh buruk kondisi lingkungan tumbuh.
Dibandingkan dengan teknologi produksi
lainnya, varietas unggul lebih cepat diterima
petani karena lebih mudah diimplementasikan
dan harganya relatif murah. Badan Penelitian
dan Pengembangan (Litbang) Pertanian
melalui Balitpa terus berupaya merakit
varietas unggul. Hingga saat ini, Departemen
Pertanian telah melepas lebih dari 175 varietas
unggul padi yang sebagian besar dihasilkan
oleh Badan Litbang Pertanian (Puslitbangtan
2007).
Sesuai dengan teknologi PTT yang
ditetapkan bahwa varietas yang digunakan
adalah varietas unggul dengan kriteria berdaya
hasil
tinggi, tahan terhadap hama penyakit,
tahan rebah, berdaya beli tinggi dengan cita
rasa enak serta dapat beradaptasi dengan iklim
dan tipe tanah setempat. Beberapa varietas
yang dianjurkan dari varietas lokal antara lain:
Pandanwangi, Rojolele dan Siam Unus;
varietas unggul baru, misalnya IR64,
Membramo, Way Apo Buru, Widas, Tukad
Unda dan Ciherang; varietas unggul aromatik,
misalnya Celebes, Sintanur, Batang Gadis dan
Gilirang; padi tipe baru, misalnya
Fatmawati; padi Hibrida, misalnya Maro,
Rokan, Hibrida Intani-1 dan Hibrida Intani-2
(BPPTP 2004). Selama ini benih yang
digunakan petani masih berkualitas rendah.
3. Tanam bibit muda (umur <15 HSS, 1
bibit/lubang)
Keuntungan menggunakan bibit muda (15
HSS) adalah bibit akan cepat kembali pulih,
akar lebih kuat dan dalam, tanaman akan
menghasilkan anakan lebih banyak, tahan
rebah, tahan kekeringan dan dapat menyerap
pupuk lebih efisien (BPPTP 2004).
4. Tanam cara legowo (2:1 atau 4:1)
Yaitu cara tanam berselang-seling 2 atau 4
baris tanaman dan 1 baris kosong.
Gambar 1 Tanam Cara Legowo.
dengan
Jarak 2:1
antara baris tanaman yang
dikosongkan disebut 1 unit. Semula
pengenalan tanam padi jajar legowo kurang
diterima oleh petani, dengan alasan
meningkatkan penggunaan tenaga tanam,
waktu tanam lebih lama dan umumnya kurang
5
yakin terhadap peningkatan produktivitas
dengan berkurangnya satu baris tanaman.
Tetapi setelah mengetahui hasil penerapan
tanam jajar legowo banyak petani yang
tertarik dan menerapkan tanam jajar legowo
(BPTP 2004). Keuntungan dari tanam jajar
legowo antara lain semua barisan rumpun
tanaman berada pada bagian pinggir yang
biasanya memberi hasil lebih tinggi (efek
tanaman pinggir), pengendalian hama dan
gulma lebih mudah, penyerapan pupuk lebih
efektif dan memfasilitasi ruang kosong untuk
drainase.
5. Pemberian bahan organik
Penggunaan bahan organik seperti
kompos, jerami dan pupuk kandang
diperlukan dalam meningkatkan kesuburan
tanah. Menurut Hakim et al. (1986)
pemberian bahan organik berpengaruh pada
sifat fisika tanah, yaitu kemampuan tanah
menahan air meningkat, warna tanah menjadi
coklat hingga hitam, serta merangsang
granulasi agregat. Pengaruhnya terhadap sifat
kimia tanah antara lain meningkatnya daya
jerap tanah dan kapasitas tukar kation.
Sedangkan pengaruhnya pada sifat biologi
tanah antara lain meningkatnya jumlah dan
aktivitas metabolik organisme tanah dan
meningkatnya aktivitas jasad mikro dalam
membantu dekomposisi bahan organik.
Dilain pihak pemberian pupuk organik dan
anorganik (kimia) meningkatkan emisi CH4
(Lindau & Bollich 1993; Banik et al. 1996).
Setyanto et al. (1999) mengemukakan bahwa
penambahan bahan organik 10 ton/ha
menghasilkan rata-rata emisi CH4 sebesar
216.4 kg/ha. Nilai ini lebih kecil dibandingkan
pada penambahan 5 ton/ha emisi CH4 yang
dihasilkan sebesar 230.3 kg/ha. Schutz et al.
(1989) melaporkan bahwa penambahan jerami
kering sebanyak 3 ton/ha menghasilkan emisi
CH4 0.5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
tanpa pemberian jerami, 2 kali lebih tinggi
pada penambahan 5 ton/ha dan 2.4 kali lebih
tinggi pada penambahan 12 ton/ha. Yagi dan
Minami (1990) mengemukakan bahwa
penambahan jerami yang sudah menjadi
kompos tidak memberikan emisi CH4 yang
tinggi. Semakin tinggi rasio C/N dari bahan
organik (jerami) akan memberikan emisi CH4
yang lebih besar.
6. Pengelolaan hara spesifik lokasi (Ndengan
BWD; P dan K berdasarkan status hara
tanah)
Pemupukan secara hemat dilakukan
dengan menggunakan bagan warna daun
(BWD)
untuk menetapkan kebutuhan
nitrogen. Pemupukan P dan K dilakukan
berdasarkan hasil analisis tanah dan bersifat
spesifik lokasi.
7. Irigasi intermittent
Pengairan
berselang
(intermitten)
dimaksudkan untuk mengatur kondisi lahan
dalam keadaan kering-tergenang secara
bergantian. Manfaat pengairan berselang
antara lain menghemat air irigasi, memberi
kesempatan pada akar untuk mendapatkan
udara sehingga dapat berkembang lebih
dalam, mencegah timbulnya keracunan besi,
mencegah penimbunan bahan organik dan gas
H2S yang menghambat perkembangan akar,
mengaktifkan mikroba yang bermanfaat,
mengurangi kerebahan, mengurangi jumlah
anakan yang tidak produktif, menyeragamkan
pemasakan gabah dan mempercepat waktu
panen, serta memudahkan pembenaman
pupuk ke dalam tanah (BPTP 2004).
Setyanto et al. (1999) mengemukakan
bahwa secara umum kondisi tanah dengan
penggenangan berlanjut (continuosly flooded)
relatif
mengemisi
CH4 lebih tinggi
dibandingkan dengan kondisi tanah macakmacak dan pengairan terputus. Lebih lanjut
dilaporkan
bahwa
pengairan
terputus
(intermitten irrigation) dan penggenangan
berlanjut memberi kontribusi emisi CH4
berturut-turut sebesar 77.33 dan 164.30 kg/ha.
Rendahnya emisi CH4 pada pengairan terputus
disebabkan tidak terjadinya perubahan reduksi
yang tajam pada tanah sehingga dekomposisi
secara anaerobik tidak mendominasi. Cara
pengairan seperti ini dapat menekan laju emisi
CH4 rata-rata sebesar 46.5%.
Menurut Nugroho et al. (1994) rata-rata
emisi CH4 melalui irigasi intermitten berkisar
20.6-27.6 mgCH4m-2h-1, sedangkan pada
pengairan berlanjut berkisar antara 26.6-29.0
mgCH4m-2h-1.
8. Penyiangan
gulma
secara
manual
(menggunakan landak atau gasrok)
Penyiangan dapat dilakukan melalui
pencabutan
gulma
dengan
tangan,
menggunakan alat gasrok/landak atau dengan
menggunakan
herbisida.
Keuntungan
penyiangan dengan alat gasrok/landak lebih
ramah lingkungan (tidak menggunakan bahan
kimia), lebih ekonomis dan menghemat
tenaga kerja dibandingkan penyiangan dengan
tangan, meningkatkan aerasi tanah dan
merangsang pertumbuhan padi lebih baik.
6
9. Penerapan PHT bagi pengendalian OPT
(Widiarta & Hendarsih 2007).
Hama dan penyakit tanaman merupakan
yang
perlu
diantisipasi
kendala
perkembangannya, karena dapat menimbulkan
kerugian bagi petani. Pengendalian hama dan
penyakit
dengan
mengandalkan
satu
komponen
pengendalian
saja,
seperti
insektisida, varietas tahan atau musuh alami,
belum memberikan hasil yang optimal. Untuk
mengatasi
masalah
ini,
pemerintah
mengeluarkan Undang-Undang No.12/1992
tentang Sistem Budi Daya Tanaman yang
menekankan pentingnya pengendalian hama
terpadu (Widiarta & Hendarsih 2007).
Konsep PHT dihasilkan melalui pertemuan
panel para ahli Badan Pangan Dunia di Roma
pada tahun 1965. Intisari dari konsep PHT
adalah: PHT merupakan sistem pengendalian
hama dalam hubungan antara dinamika
populasi dan lingkungan suatu jenis hama,
serta
menggunakan
berbagai
teknik
pengendalian yang kompatibel untuk menjaga
agar populasi hama selalu di bawah ambang
ekonomi. Di Indonesia, konsep PHT telah
diakomodasikan ke dalam sistem produksi
pertanian.
Hal mendasar yang perlu mendapat
perhatian dalam integrasi PHT ke dalam PTT
adalah (1) Integrasi komponen pengendalian
yang sesuai ke dalam tahapan budi daya
sejalan dengan stadia pertumbuhan tanaman,
(2) Petani berpartisipasi aktif dalam penerapan
PHT, (3) Penggunaan pestisida hanya
dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan
(4) Pemantauan disarankan dilakukan bersama
dalam satu hamparan/golongan air.
Penerapan PHT dalam pertanian antara
lain dengan menanam tanaman yang sehat
dengan pola tanam dan pergiliran tanaman
yang tepat, menggunakan varietas yang tahan
hama dan penyakit, pengamatan berkala di
lapang, pemanfaatan musuh alami seperti
predator dan patogen serangga serta
penggunaan pestisida hanya bila diperlukan.
10. Cara panen dengan thresher
Panen pada waktu yang tepat dengan
memperhatikan umur tanaman, dengan
menghitung sejak padi mulai berbunga
(biasanya panen jatuh pada 30-35 hari setelah
padi berbunga). Jika 95% malai menguning,
segera panen dengan menggunakan alat sabit
bergerigi atau mesin pemanen.
11. Pascapanen
Kegiatan pascapanen perlu dikelola
dengan tepat, karena kehilangan hasil dan
penurunan mutu selama proses panen dan
pascapanen masih tinggi (± 20%) (BPTP
2004). Penanganan panen dan pascapanen
yang kurang baik menyebabkan kualitas benih
rendah. Proses pengeringan, penggilingan dan
penyimpanan perlu menjadi perhatian agar
diperoleh beras dengan kualitas tinggi.
Varietas Padi Rendah Emisi Metan
Tanaman padi memiliki peranan penting
dalam mengemisi gas CH4 dari lahan
pertanian. Emisi CH4 dapat ditekan dengan
cara menanam varietas padi dengan emisi CH4
rendah serta menerapkan teknik budi daya
yang ramah lingkungan tanpa mengurangi
hasil pertanian (Setyanto 2006).
Varietas IR64 cenderung menghasilkan
emisi gas CH4 rendah dibandingkan varietas
lainnya yang umum digunakan oleh petani.
Varietas baru seperti Ciherang, Tukad Balian,
dan Way Apoburu memberikan harapan baru,
karena mampu mengurangi besarnya emisi
gas CH4 ke atmosfir. Besarnya emisi gas
metana dari varietas-varietas padi mempunyai
hubungan positif non linier dengan bobot
kering akar padi yang berperan sebagai
penghasil eksudat akar sumber karbon bagi
bakteri metanogen (Wihardjaka 2006).
Emisi gas CH4 dari tanaman padi sawah ke
atmosfer didasarkan pada tiga proses, yaitu
pelepasan gas CH4 dalam bentuk gelembunggelembung udara (ebulisi), proses difusi serta
melalui aerenkima (Naharia 2004). Aerenkima
merupakan ruang udara yang terdapat pada
pelepah daun, helai daun, batang dan akar
tanaman padi yang saling berhubungan satu
sama lain, seolah-olah membentuk pipa kecil.
Pembuluh aerenkima bertindak sebagai
cerobong bagi pelepasan CH4 ke atmosfer
(Apriyanto 1997).
Varietas Unggul Ciherang
Ciherang merupakan varietas unggul hasil
persilangan antara IR64 dengan beberapa
galur lain. Hasilnya yang tinggi dan rasa
nasinya yang enak adalah sifat penting
varietas Ciherang yang diturunkan dari IR64.
Dilepas pada tahun 2000, varietas Ciherang
yang berdaya hasil tinggi dengan rasa nasi
enak lebih disukai oleh sebagian petani dan
konsumen di beberapa daerah, terutama di
Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan
Sumatera Selatan. Di Jawa Barat, luas tanam
varietas Ciherang menduduki urutan kedua
7
setelah IR64, masing-masing 18% dan 33%
(Puslitbangtan 2007).
Lebih lanjut Lis (2006) melaporkan bahwa
pertanian di Banten dengan menggunakan
varietas Ciherang melalui teknologi PTT
dapat meningkatkan produktivitas padi yang
semula produktivitasnya hanya sekitar 4-5 t/ha
kini produktivitasnya bisa mencapai 7,7 t/ha.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah benih padi varietas Ciherang, yang
merupakan salah satu varietas unggul
(Lampiran 1), pupuk N (urea) sebanyak 250
kg/ha serta pupuk P dan K buatan seperti TSP
sebanyak 100 kg/ha, KCl sebanyak 100 kg/ha,
pestisida jenis Fastac, Bento dan biopestisida.
Sedangkan alat yang digunakan antara lain
boks, termometer, klorofil meter, Eh meter,
pH meter, bagan warna daun (BWD), injektor
polipropilen, seperangkat kromatografi gas,
komputer, kamera, plastik hitam, bor tanah,
timbangan analitik, meteran, Rika moisturizer
dan alat-alat bercocok tanam.
Metode
a. Rancangan Percobaan dan Perlakuan
Rancangan percobaan lapang disusun
menggunakan rancangan acak kelompok
dengan 5 jenis perlakuan dan 3 ulangan. Tata
letak perlakuan dapat dilihat pada Gambar 2.
v
v
v v v v v v v v v v v v v
v
v
v v v v v v v v v v v v v
v
v v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
Sekat
2
vv
v
3
vv v
v v
vv
2
vv
5
vv
2 v
vv v
v v
5
vv
3
vv
v v v
5
vv Pl v v
v v
1
vv
4
vv
v v
3
1
v
vv
v
4
1
4
v v vvvv v v vvv v v vvv v
v v v I v v v IIv v v III
v v
v v
v v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v v v v v v v v v v v v
v v
v
v v v v v v v v v v v v
v v
v v
v v
v v
Gambar 2 Tata letak perlakuan.
I, II, III
: Ulangan
1, 2, 3, 4, 5
: Perlakuan
v
: Tanaman Padi
Perlakuan
yang
digunakan
dalam
penelitian ini antara lain : (1) cara penanaman
padi biasa (kontrol) dengan umur bibit 25 hari
(5 bibit/lubang), dipupuk sesuai anjuran (120
kg/ha N, 90 kg/ha P dan 60 kg/ha K), tanpa
bahan organik dan irigasi terus-menerus
(continously flooded); (2) sama dengan
perlakuan pertama tetapi pengairan dilakukan
secara berselang (intermittent); (3) PTT: bibit
muda berumur 15 hari (1 bibit/lubang),
pemupukan berdasarkan BWD, pemberian
bahan organik 2 ton/ha, irigasi intermittent
dan cara tanam sistem legowo 2:1; (4) sama
dengan perlakuan ketiga tetapi dengan irigasi
terus-menerus (continously flooded); (5)
System of Rice Intensification (SRI), yaitu
penggunaan pupuk organik 15 ton/ha, bibit
muda berumur 15 hari (1 bibit/lubang), tanpa
pemupukan anorganik, jarak tanam 30 cm x
30 cm dan irigasi intermittent.
b. Pembuatan Plot, Penanaman dan
Perawatan Padi
Pembuatan
plot
diawali
dengan
pengolahan tanah. Sebelum pengolahan, tanah
dianalisis untuk mengetahui sifat fisik dan
kimia tanah sebelum ditanami padi. Hasil
analisis dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 1 Hasil analisis tanah sebelum ditanami
di kebun percobaan Balingtan di
Jakenan, Jateng
Sifat Fisika dan Kimia Tanah
Hasil Analisis
pH
H2O
KCL
Tekstur Tanah (%)
Pasir
Debu
Liat
Bahan Organik C (%)
(Walkey & Black)
Bahan Organik N (%)
(Kjeldhal)
Nisbah C/N
Nilai Tukar Kation (cmol/kg)
NH4-Acetat 1N, pH 7
Ca
Mg
K
Na
KTK (cmol/kg)
Oksalat
Fe
Al
Si
DTPA (ppm)
Fe
Mn
Cu
Zn
P2O5 (ppm)
Olsen
K2O (ppm)
Morgan
Asam humat (%)
Asam fulvat (%)
5,7
4,9
45
46
9
0,66
0,05
13
3.82
0,51
0,41
0,26
4,22
0,2
0,03
0,01
266
11,6
2,3
1
38
207
0,33
0,11
Download