Penanggungjawab: Abetnego Tarigan Dewan Redaksi

advertisement
Penanggungjawab: Abetnego Tarigan
Dewan Redaksi: Khalisah Khalid, Nurhidayati,
Ahmad SH, Pius Ginting, Dedi Ratih, M Islah,
Zenzi Suhadi, Tumpak Hutabarat
Redaktur Pelaksana: Irhash Ahmady
Editor : Febrina Andriasari
Design dan Layout: perfarmerLab.Studio
Ilustrasi Cover: Anggawedhaswhara
Ilustrasi Isi: Anggawedhaswhara & Fajar Ahmad Jawari
Penerbit: Walhi Eknas
Distributor: Suhardi, Harno
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
JL. Tegalparang Utara 14,
Mampang-Jakarta Selatan 12790
T/F: +6221 79193363/7941673
E: informasi[at]walhi.or.id
W: http://www.walhi.or.id
Daftar Isi
Kata Pengantar
..................................................... I
Dari Dapur Redaksi
...................................................... II
Pemilu, Politik Transaksional dan Perampasan Sumber Daya
Alam
FX Adji Samekto , Oki Hajiansyah Wahab
dan James Reinaldo
...................................................... 2
Solusi Sosialis Terhadap Problem Kapitalisme Dan
Lingkungan Hidup
Anto Sangaji
...................................................... 14
Membedah Demokrasi Palsu di Indonesia: Demokrasi yang
Tidak Dibutuhkan Buruh dan Tani sebagai Mayoritas Rakyat
Indonesia
Rudi HB Daman
...................................................... 22
Politisi Alay di tengah Rakyat Galau:
“Wahai Partai Politik, Berperanlah!”
Arfan Aziz dan Rizki Fitriana
...................................................... 34
Membangun Gerakan Politik Kerakyatan -Refleksi
Pengalaman Pemilu Amerika Latin- Afrika
Tatiana Lukman
...................................................... 46
Pemilu 2014 dan Agenda Politik Lingkungan Hidup
Menemukan Jalan Keadilan Ekologis
Khalisah Khalid
...................................................... 60
Tentang Penulis
...................................................... 67
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Kata Pengantar
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
2014 adalah tahun politik, dimana kontestasi partai memperebutkan suara untuk dapat terpilih
dalam pemilu legislative dan memenangkan pemilu presiden. Rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi mendapat tempat khusus di hati para kontestan Pemilu. Ada yang benar
berkeinginan untuk melakukan perubahan, tapi tidak sedikit juga yang hanya mempertahankan
kepentingan pribadi dan kelompok masing-masing. Besarnya muatan dan praktek bekerja untuk
kepentingan sendiri atau kelompok telah mengantar pada situasi transisi demokrasi yang
berkepanjangan dan terasa kian “terseok-seok” untuk mencapai sejatinya demokrasi.
Anatomi demokrasi Indonesia berada di titik nadir, dengan bacaan semakin menguatnya tali
temali modal dan oligarki politik. Pengusaha menjadi Politisi, aparat penegak hukum menjadi
pengusaha, eksekutif menjadi pemilik berbagai bisnis di sektor sumberdaya alam. Sebuah ironi
dalam system demokrasi hari ini. Tali temali politisi-pengusaha-pengurus negara telah menjadi
penyebab berbagai krisis yang dihadapi rakyat. Perampasan tanah dan monopoli sumberdaya
alam menjadi potret Indonesia. Lalu dimana hakikat demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk
rakyat. Penguasa ekonomi tidak boleh lagi dibiarkan menjadi penguasa politik yang bias dengan
kepentingan kekuasaan politik dan ekonomi segelintir elit. Demokrasi prosedural sejatinya dapat
dibarengi dengan demokrasi substansial melalui pemenuhan kesejahteraan dan jaminan
keselamatan bagi rakyat dan keberlanjutan lingkungan hidup. Ini menjadi sebuah tantangan
yang harus dijawab bersama oleh gerakan masyarakat sipil di Indonesia.
Jurnal Tanah Air edisi Pemilu 2014 ini hadir kehadapan ibu/bapak, anggota WALHI, mitra dan
sahabat mengusung tema “2014 Tahun Politik: Dimana Demokrasi Rakyat? sebagai sebuah
kampanye besar gerakan lingkungan hidup untuk bersih pemerintahan dari para pelaku perusak
lingkungan hidup. Tema ini juga diambil sebagai bagian mengetengahkan agenda politik
lingkungan hidup kedalam gelanggang politik di nasional dan daerah.
Tanah Air merupakan jurnal yang diproduksi oleh WALHI, bukan sebagai media outreach
semata. Jurnal Tanah Air ini diharapkan dapat menjadi media transformasi pemikiran dan
gagasan tentang Indonesia kedepan. Selain itu, media ini juga diharapkan dapat dijadikan
sebagai wahana kelola pengetahuan dari orang perorang menjadi pengetahuan publik
sehingga mendorong satu paradigma perubahan terhadap system demokrasi di Indonesia.
Yang utama tentu menjadi alat advokasi terhadap pembelaan oleh rakyat atas lingkungan
hidup dan sumberdaya alam.
Akhirnya selamat membaca dan menyelami gagasan dan perjuangan yang ada dalam setiap
kalimatnya.
Salam Adil dan Lestari,
Abetnego Tarigan
Direktur Eksekutif Nasional WALHI
I
Dari Dapur Redaksi
Dari Dapur Redaksi
Demokrasi, sejatinya adalah jalan untuk sebuah pencapaian cita-cita keselamatan dan
kesejahteraan bagi rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Faktanya, demokrasi yang kita tempuh
hari ini, setidaknya paska reformasi berjarak dengan krisis yang dialami oleh rakyat. Demokrasi
politik diterjemahkan dalam kotak suara pemilu tidak membawa manfaat bagi rakyat, jika tidak
diikuti dengan ekonomi kerakyatan yakni dengan menyerahkan alat-alat produksi ke tangan
rakyat sebagaimana yang dimandatkan dalam konstitusi negara.
Oligarki politik ini masih memiliki kekuatan hegemonik yang dominan. Oligarki politik hari ini
bercokol di hampir semua partai politik yang ada. Kepentingan tunggal dari semua sekanario
politiknya, yakni mempertahan kekuasaan dan share/pembagian sekaligus persaingan
kalangan sendiri untuk memperebutkan rente ekonomi dari “menjual” sumber daya alam.
Tulisan dalam jurnal Tanah Air Edisi pemilu ini ingin mengupas lebih jauh arah demokrasi Indonesia
melalui tema 2014 Tahun Politik;Dimana Demokrasi Rakyat?. Dimana demokrasi prosedural
dibajak untuk pelanggengan sistem ekonomi kapitalistik yang menempatkan sumber daya alam
sebagai komoditas. Pada sistem politik liberal dengan biaya politik yang begitu tinggi, eksploitasi
terhadap manusia dengan upah buruh murah dan eksploitasi terhadap alam menjadi dua alir
yang melanggengkan kekuasan tersebut. Bagaimana uraian anatomi pembiayaan pemilu di
Indonesia yang berasal dari perampokan sumberdaya alam, yang digambarkan oleh Oky
Hajiansyah Wahab sebagai Ongkos politik transaksional dan Perampokan Sumberdaya Alam.
System politik ekonomi hari ini menjadikan lingkungan sebagai sumber akumulasi kapital, dan
bagaimana oligarki kekuasaan negara korporasi merusak tatanan sosial ekonomi rakyat dan
lingkungan hidup yang lestari. Pun demikian, sosialisme dinilai sebagai sebuah jalan keluarnya
sebagaimana yang dituliskan oleh Anto Sangaji, bagaimana solusi sosialis terhadap problem
kapitalisme lingkungan hidup.
Dua problem demokrasi dan politik diatas mengkonrmasi apa yang menjadi analisis Rudi HB
Darman dimana menguraikan bagaimana praktek demokrasi prosedural yang disebutnya
sebagai demokrasi palsu, yang telah melahirkan sebuah rezim yang fasis dan berwatak feodal
yang dengan kekuasannya dibalut dalam kemasan demokrasi bernama pemilu. Menurutnya
demokrasi palsu tidak dibutuhkan oleh kaum buruh dan tani karena hakikatnya tidak
memberikan perubahan kehidupan kaum tani dan buruh sebagai rakyat paling dominan di
negeri ini.
Kegelisahan ini kemungkinan besar juga dirasakan oleh rakyat diberbagai lapisan masyarakat,
khususnya kelas menengah kebawah yang selama ini menjadi kelompok yang termarjinalkan
dalam sistem ekonomi politik kita hari ini. Sementara diruang lain politisinya semakin menunjukkan
prilaku yang jauh dari krisis yang dialami oleh rakyat, sebagaimana tulisan yang dipaparkan M.
Arfan Aziz dan Rizki Fitriana menggambarkan politisi yang alay ditengah rakyat yang galau.
Galau melihat demokrasi semakin jauh dari makna sesungguhnya. Dan mencoba mencari jalan
keluar sendiri terhadap krisis yang dihadapinya.
II
Pada akhirnya, dengan segala kritik terhadap praktek demokrasi yang hari ini berjalan tidak
berbeda dengan berbagai negara berkembang lainnya di belahan dunia lain (negara
bergantung, jajahan dan setengah jajahan). Pengalaman tersebut dijelaskan secara gamblang
oleh Tatiana Lukman dari sebuah reekasi pengalaman pemilu di Amerika Latin dan Afrika.
Diakhir tulisan Tatian mencoba menghadirkan gagasan pembangunan gerakan politik
kerakyatan, selain menguraikan problem pokok praktek demokrasi Indonesia yang berjalan,
sebuah alternatif dan ajakan bersama untuk membangun gerakan politik kerakyatan.
Bagi gerakan lingkungan hidup sendiri, pemilu 2014 ini merupakan tantangan bagi agenda
penyelamatan lingkungan hidup di Indonesia. Khalisah Khalid mencoba melihat tantangan ini
dalam sebuah dinamika potret kerusakan lingkungan hidup dan penghancuran sumber-sumber
kehidupan rakyat, ditengah harapan untuk terus mendorong agenda politik lingkungan hidup
sebagai sebuah agenda politik yang harus dijalankan oleh kepemimpinan bangsa kedepan.
Membangun kekuatan politik alternatif juga begitu sulit dan memiliki tantangan yang begitu
besar. Karenanya, pembangunan kekuatan politik alternatif juga mesti diletakkan pada basis
massa yang jelas sebagai tulang punggungnya. Kekuatan politik alternatif rakyat harus segera
didorong untuk menjawab krisis demokrasi ekonomi dan demokrasi politik,dimana tugas
utamanya adalah mendesakkan diadopsi agenda-agenda rakyat untuk melawan bercokolnya
kekuatan ekonomi politik kapitalisme didalam tubuh kekuasaan. Meletakkan landasan bagi
model ekonomi-politik pada tata kuasa, tata kelola, tata produksi dan tata konsumsi sumbersumber kehidupan bukan hanya dalam level negara, melainkan harus mampu diturunkan oleh
kekuatan komunitas lokal yang berorientasi kepada kemandirian ekonomi, keadilan sosial dan
keberlanjutan lingkungan.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Namun mengutuk demokrasi prosedural juga tidak ubahnya seperti mengutuk kegelapan,
sehingga menyalakan lilin pada akhirnya menjadi pilihan. Mengutuk demokrasi dan kemudian
kembali pada rezim otoritarian juga pilihan yang buruk, karena puluhan tahun rakyat dan
bangsa ini sudah mengalami berada dibawah kekuatan rezim otoriter.
III
Pemilu, Politik Transaksional
dan Perampasan Sumber Daya Alam
Abstrak
I. Pendahuluan
Lemahnya fungsi partai politik dalam
melakukan pendidikan politik pada akhirnya
mendorong penggunaan politik uang untuk
meraup suara dalam pemilu. Disisi lain
pendanaan partai politik yang abu-abu
menjadikan politik kita rentan dengan
berbagai potensi pelanggaran aturan. Dalam
situasi politik semacam ini, modal nansial pada
akhirnya menjadi faktor utama yang
menopang aktitas politik di Indonesia. Dalam
situasi semacam ini relasi antara pengusaha
sebagai pemilik modal dan politisi menjadi tak
terelakan. Relasi yang dilandaskan pada
kepentingan politisi untuk mengumpulkan
biaya politiknya dan kepentingan kalangan
pemodal untuk menjaga ketersediaan lahan,
bahan baku produksi dan berbagai kegiatan
usahanya di bidang sumber daya alam. Hal ini
ditunjukan dengan data terjadinya trend
peningkatan berbagai izin, distribusi sumbersumber agraria yang melanggengkan praktekpraktek monopoli dan perampasan sumber
daya alam. Relasi semacam ini tak bisa
dipungkiri pada akhirnya menjadi salah satu
pendorong kerusakan lingkungan. Kedepan,
paradigma pengelolaan sumber daya alam
sebaiknya berkarakter holistik ekologis yang
berorientasi pada pembangunan
berkelanjutan dan sense of environment. Guna
menumbuhkan sense of the environment ini
maka perlu adannya upaya advokasi kepada
lembaga legislatif maupun eksekutif untuk
mendorong adanya perhatian terhadap
environmental rights and justice.
Lemahnya fungsi partai politik dalam
melakukan pendidikan politik pada akhirnya
mendorong penggunaan politik uang untuk
meraup suara dalam berbagai level pemilu. Di
banyak tempat kita acap mendengar istilah
serangan fajar menjelang perhelatan Pemilu
maupun Pilkada. Dalam kondisi semacam ini,
modal nansial pada akhirnya menjadi faktor
utama yang menopang politik. Penggunaan
uang dalam pemilu di berbagai level menjadi
sebuah keniscayaan yang dilakukan oleh para
kontestan pemilu1.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Oleh : FX Adji Samekto , Oki Hariansyah Wahab dan James Reinaldo
Mahalnya biaya politik kita misalnya
tergambar dalam Data Litbang Kompas tahun
2010 yang menyebutkan bahwa untuk biaya
survei tingkat provinsi saja berkisar Rp 100 jutaRp 500. Belum lagi Ongkos iklan politik calon
melalui berbagai media massayang mencapai
Rp 1 miliar-Rp 5 miliar per bulannya. Biaya
pencitraan gur calon gubernur mencapai Rp
20 miliar 2 . Biaya politik yang tinggi untuk
menjadi calon legislatif maupun eksekutif pada
akhirnya mensyaratkan kekuatan nancial
yang besar. Sebagai ilustrasi, meruju data yang
dikeluarkan oleh Perkumpulan untuk Pemilu
Demokratis (Perludem), paling tidak pada
Pemilu 2004 dana kampanye yang dilaporkan
oleh partai-partai duduk di kursi DPR - Golkar ,
PDI Perjuangan, PKB , PPP , Partai Demokrat ,
PAN , dan PKS - mencapai Rp 297 miliar dan
meningkat pada Pemilu 2009 menjadi Rp 496
miliar3.
Kata Kunci : pemilu, politi transaksional,
perampasan sumber daya alam
1. Widya P. Setyanto, Representasi Kepentingan Rakyat Pada Pemilu Legislatif 2009 dalam Dinamika Politik Lokal
di Indonesia, 2010,hal 95
2. http://www.antikorupsi.org/id/content/ konsultan-politik-biaya-politik-makin-mahal
3. http://www.merdeka.com/khas/duit-siluman-penyokong-partai-dana-kampanye-2.html
2
Pemilu, Politik Transaksional dan Perampasan Sumber Daya Alam
Suara rakyat dalam praktiknya tak
ubahnya seperti barang yang dapat
diperjualbelikan. Kekuatan nancial dari politisi
dapat mempengaruhi seberapa besar jumlah
suara yang akan didapatkan. Ironisnya, di
banyak tempat pola hubungan yang
transaksional justru menjadi faktor pendorong
para pemilih dalam menggunakan hak
politiknya. Sebagaimana di katakan oleh
Widya Setyanto karakteristik dari Vote buying
antara lain adanya inisiatif dari caleg, namun
terkadang ada permintaan dari pemilih sendiri
terbangun sebuah hubungan transaksional
antara kedua pihak. Pemilih dengan
kemauannya sendiri menukar hak pilihnya
dengan uang4.
Kondisi ini terus terpelihara seiring
dengan lemahnya kontrol institusi
penyelenggara pemilu dan regulasi
perundang-undangan yang kurang tegas dan
jelas mengatur mengenai pemberian yang
dilakukan oleh para kontestan pemilu.
Padahal, tentu saja pemberian segala macam
bentuk barang, sembako dan lain sebagainya
tidaklah ada yang gratis mengingat
pemberian tersebut dilakukan dalam masamasa kampanye politik.
Besarnya putaran uang yang terjadi
menjelang Pemilu juga dibenarkan oleh Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) yang mengatakan bahwa transaksi
keuangan di rekening partai politik terjadi
dalam jumlah tinggi.
www.suarasitaro.com
Transaksi tersebut berlangsung
sebelum, saat, maupun sesudah pemilu. Ketua
PPATK, M. Yusuf mengatakan transaksi setahun
sebelum pemilu adalah uang untuk
pembiayaan partai politik selama pemilu.
Sementara transaksi pada hari pemungutan
suara dan setahun sesudah pemilu adalah
sebagai upaya balas budi. PPATK sendiri
melakukan penelitian transaksi uang di tiga
pemilu – Pemilu 2004, 2009, dan kini menjelang
2014. Hasilnya, laporan transaksi mencurigakan
dan transaksi tunai cenderung meningkat
selama periode pemilu yang mencapai 125
persen5.
Besarnya biaya politik yang harus
dikeluarkan setiap peserta Pemilu pada
akhirnya menyebabkan proses demokrasi kita
tumbuh secara tidak sehat. Model demokrasi
yang padat modal ini menorong partai
maupun para calon untuk mencari segala
macam cara guna mengumpulkan logistik
untuk pemilu. Tak mengherankan jika partai
politik adalah berusaha merekrut elit partai dari
kalangan pengusaha berkantong tebal.
Mayoritas partai politik di Indonesia tidak
memiliki kemandirian keuangan untuk
membiayai ongkos politik yang besar. Bukan
rahasia lagi jika sumber keuangan parpol di
Indonesia lebih banyak bersifat abu-abu.
Sumber-sumber keuangan partai politik kita
lebih banyak disokong oleh donasi dari
pengusaha dan jaringan bisnisnya.
Kondisi tersebut pada gilirannya
dipercaya akanmenghambat partisipasi politik
rakyat karena yang dapat maju dalam
pemilihan hanyalah orang-orang yang memiliki
kekuatan dana dan mayoritas massa rakyat
hanya diperlakukan sebagai penyedia suara.
Pada akhirnya dalam iklim demokrasi
semacam ini menyebabkan peluang
kekuasaan cenderung ada ditangan kaum
kaya-raya (Plutokrasi). Plutokratasi politik pada
akhirya menjadikan oemilu sebagai sarana
mempertahankan serta mengembangkan
kekayaan mereka.Pemilu tidak lagi menjadi
ajang adu program dan kontestasi gagasan
melainkan adu kekuatan nansial, mereka
yang memiliki kekuatan nansial yang besarlah
yang berpeluang untuk memenangkan
pemilu.
Berbagai riset menunjukan
bahwasannya pundi-pundi pendanaan partai
politik di Indonesia salah satunnya diperoleh
lewat kolaborasi bersama pemilik-pemilik
modal yang bergerak di sektor sumber daya
alam.Kolaborasi ini sesungguhnya telah terjadi
sejak era Orde Baru. Akibatnya, adagium
“dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”
4. Widya P. Setyanto, Op Cit
5. http://us.politik.news.viva.co.id/pemilu2014/ news/read/464689-ppatk--ada-modus-ijon-di-balik-transaksi-tinggiparpol-saat-pemilu
3
II. Aliansi Bisnis dan Politik
Martin Staniland mengungkapkan,
teori mengenai hubungan politik dengan
ekonomi.Dari segi hubungan kausal atau
bersifat deterministrik, hubungan politik dengan
ekonomi dibagi dua.Pertama, kebijakan umum
(public policy) atau politisisme yang melihat
politik menentukan ekonomi.Kedua,
ekonomisme yang liberal maupun Marxis yang
melihat ekonomi menentukan politik6.
Dalam kosmologi pemilu kita yang
segalanya identik dengan uang, membangun
sebuah relasi dengan pengusaha merupakan
salah satu jalan yang ditempuh guna
menyokong kebutuhan nancial kampanye.
Pertemuan kepentingan antara politisi,
birokrasi pemerintah dan perusahaan
menimbulkan keinginan untuk mengambil
keuntungan baik secara lega maupun ilegal
melalui berbagai praktek suap dan korupsi
dalam proses perizinan, konsensi dan hak
penguasaan lahan.
menawarkan dukungan dana yang kemudian
ditukar dengan pengelolan sumber daya alam
yang ada. Kasus Hartati Murdaya Poo misalnya
yang terbukti memberikan sejumlah uang
untuk mendukung pemenangan Bupati Buol,
Amran Batalipu menjelang pemilihan kepala
daerah (Pemilkada) di Buol misalnya
membuktikan bahwa relasi pengusaha dan
politisi bukanlah isapan jempol. Dalam
persidangan terbukti bahwa PT HIP milik Hartati
menyuap Amran dengan uang hingga Rp 3
miliar terkait HGU perkebunan kelapa sawit di
Kecamatan Bukal, Kabupaten Buol.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
bergeser menjadi “dari modal, oleh modal,
dan untuk modal ”. Rakyat pada akhirnya
sekedar sebagai mesin pengumpul suara.Pada
akhirnya sulit dipungkiri bahwasannya biaya
politik tinggi erat kaitannya dengan patronase
politik dan bisnis.
Hal serupa juga digambarkan dalam
batu bara dan kelapa sawit. Bupati mengontrol
hampir tiap suap antara birokrasi dengan
pengusaha, yang mengandalkan perizinan
alih fungsi lahan baik kepada kerabat maupun
pengusaha lainnya sebagai sumber
pendanaan, misalnya untuk pilkada7.
Dalam rangka mempermudah
mendapat hak atas tanah seringkali
perusahaan menyogok pekabat-pejabat dan
lembaga terkait. Karakter akumulasi, ekspansi
dan ekspolitasi yang merupakan unsur instrinsi
dari modal dan idiologi yang menyelimutinnya
pada akhirnya bertemu dengan para politisi
pemburu rente. Politisi dan pengusaha masingmasing memiliki kepentingan, penguasa
berkepentingan mengumpulkan pundi-pundi
untuk biaya politiknya sedangkan kalangan
pemodal berkepentingan untuk menjaga
pasokan bahan baku, produksi, dan kegiatan
usahanya di bidang sumber daya alam. Para
pelaku bisnis amat berkepentingan untuk
mendapatkan berbagai kemudahan lewat
hak-hak tertent, lisensi yang mendorong
kelancaran bisnisnya.Politik transaksional
antara pengusaha dan politisi sebagai implikasi
dari proses demokrasi yang padat modal pada
akhirnya melahirkan simbiosis mutualisme
diantara kedua pihak.
Hal yang telah berlangsung selama
bertahun-tahun ini terus terjadi dan
berkembang model serta variasinya.Tak cukup
sampai disitu para pengusaha juga tak segan
membina dan menempatkan aktor yang akan
ditempatkan baik di legislatif maupun eksekutif.
Di banyak tempat, para pengusaha yang
notabene pemilik modal tak segan
memberikan sokongan anggaran ketika masuk
musim pilkada dan pemilu. Di Lampung
misalnya, perkebunan tebu besar PT Sugar
Group mendorong Ridho Ficardo Ketua Partai
democrat Lampung yang notabene adalah
putra salah satu direksinya untuk maju dalam
Pemilihan Gubernur tahun 2014 ini. Lewat cara
itu dipastikan ketika calon yang disokong
terpilih harapannya akan dapat
mengamankan berbagai kepentingan
Dalam prakteknya, Pengusaha e k o n o m i p e n g u s u n g n y a . M u l a i d a r i
6. Martin Staniland, What is Political Economy?, 1985, New Haven: Yale University Press,p 6-7
7. Lebih lengkap bisa dilihat dalam hasil peneitian Indonesia Corruption Watch (ICW).Menguras Bumi, Merebut Kursi:
4
Pemilu, Politik Transaksional dan Perampasan Sumber Daya Alam
pengurusan izin, rekomendasi perluasan
Seb a ga i ma na di ka ta ka n Ma rti n
konsesi akan dapat diperoleh dengan mudah S t a n i l a n d r e l a s i k a u s a l y a n g b e r s i f a t
m a n a k a l a c a l o n - c a l o n y a n g d i s o k o n g deterministic yang salah satunya melihat
perusahaan telah berhasil dimenangkan.
bagaimana kekuatan ekonomi menentukan
politik. Dalam konteks aliansi bisnis dan politik
T e r l e b i h S e j a k d i b e r l a k u k a n n y a ini pada akhirnya adalah pada saat kelompok
otonomi daerah pengelolaan sumber daya ini berkuasa maka karakter kebijakan dan
a l a m d i s e r a h k a n s e p e n u h n y a p a d a produk hukum yang muncul cenderung
daerah.Kedudukan (peran) penting pihak berkarakter pro modal.
swasta dalam memajukan kehidupan ekonomi
lalu digunakan sebagai pressure untuk
Sebagai contoh, kebijakan penataan
penerbitan peraturan daerah atau izin-izin ruang daerah misalnya, pada awalnya
yang hanya menguntungkan kepentingan diharapkan dapat memenuhi tuntutan
pasar tetapi merusak lingkungan.Ironisnya hal berbagai kebutuhan manusia secara adil dan
ini juga menjadi sebuah ajang yang digunakan wajar. Dalam konteks penataan ruang ini
bagi para pejabat-pejabat daerah dalam perijinan merupakan hal yang sangat sentral
memperoleh ongkos politiknya. Aktor-aktor fungsinya sebagai pengendali agar segala
lokal dalam beberapa kasus terbukti kuat sesuatunya tetap berjalan dalam koridor yang
terlibat dalam peran substansial terhadap telah dituangkan dalam peraturan hukum.
evaluasi dan validasi berbagai izin.
Akan tetapi di dalam faktanya penetapan
ataupun perubahan tata ruang (sering)
Belakangan para pemilik modal dan berjalan tanpa dilandasi perimbangan
pengusaha yang bergerak di bidang sumber (arahan) yang berwawasan lingkungan.
daya alam tak cukup hanya melakukan suap K e p e n t i n g a n - k e p e n t i n g a n e k o n o m i l a h
untuk memperlancar kepentingan usahanya, (termasuk peningkatan PAD, peningkatan
namun sekarang ini mereka pun ikut turun investasi, pajak) yang seringkali mendorong
langsung ke kancah perpolitikan. Dalam Pemilu perubahan tata ruang yang telah disepakati
2009 misalnya kita mengenal DL Sitorus “si Raja sebelumnya.
Kebun” yang ikut mendirikan Partai Peduli
Rakyat Nasional (PPRN). Keterlibatan langsung
Disadari atau tidak karakter
para pengusaha dalam kancah politik tentu kekuasaan semacam inilah yang justru
tak lepas dari tujuan utamanya untuk melahirkan munculnya poor governance. Poor
memperkuat berbagai bisnis yang dimilikinya.
Governance pada umumnya bersumber
pada persoalan domestik yang terkait dengan
Kini menjelang Pemilu 2014 para k e p e n t i n g a n e k o n o m i y a n g b e r c o r a k
pemilik modal dari berbagai sektor tak m e k a n i s m e p a s a r d a n y a n g
terkecuali pengusaha yang bergerak di bidang diimplementasikan dalam berbagai kebijakan
p e n g e l o l a a n s u m b e r d a y a a l a m i k u t pemerintah, sekalipun sifatnya memberi
bergabung dalam partai-partai politik. JATAM dampak buruk pada lingkungan dan rakyat.
melansir bahwa dari 6.700 calon legislatif pada
Pemilu 2014, sebanyak 40 persennya adalah
Sulit dipungkiri bahwasanya berbagai
pengusaha dan 60 persen dari mereka kebijakan, penerbitan izin-izin maupun produk
merupakan pengusaha tambang. Menurut hukum sesungguhnya adalah hasil interaksi
JATAM , jumlah tersebut meningkat dari sosial (kekuatan institusi penegak pasar bebas
periode sebelumnya8.
multilateral dengan Indonesia) yang penuh
dengan ketidak-seimbangan hubungan (unequal relationship). Di dalam teori sosial ada
pendapat: Sekali tercapai kesepakatan dalam
hubungan yang tidak seimbang ini maka pihak
yang dominan akan mengkonstruksi lebih kuat
lagi, semakin mengeras dan akan menolak
upaya-upaya perubahan. Pemerintah RI ada
dalam posisi lemah, sehingga akan sulit
melakukan upaya menolak kebijakan Bank
Dunia sebagai pihak yang kuat. Lebih-lebih
8. http://migasreview.com/tahun-politik-tahun-penjarahan-sda.html#sthash.4Zjg2Rlf.dpuf
5
Dalam otonomi daerah pendekatan
pluralis muncul sebagai antinomi terhadap
pendekatan realis yang memandang
pemerintah negara sebagai aktor paling
penting dalam memberikan kesejahteraan
masyarakat. Oleh karena itu kekuatankekuatan masyarakat (termasuk korporasi)
dianggap memiliki peran yang penting untuk
bersama-sama memajukan kesejahteraan
masyarakat setempat misalnya melalui
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
apabila kebijakan itu lahir juga karena p em b u k a a n l a p a nga n k erj a b a ru d a n
pengaruh kolaborasi: Kekuatan modal penanaman modal. Kecenderungan cara
pengusaha dan politisi atau pengusaha.
yang terjadi kemudian, demi peningkatan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan
Politik lokal, pemilihan umum daerah, kecendrungan mengejar rente terjadilah
pemekaran kabupaten atau propinsi di satu sisi, kolaborasi antara modal dan penguasa yang
dan pembukaan ijin dan pemberian hak berpotensi merusak lingkungan, mereduksi
konsesi atas tanah dan sumber daya adalah sisi sumber daya alam dan akhirnya merugikan
lain dari proses-proses yang mengiringinya. masyarakat. Situasi semacam ini melahirkan
Pada akhirnya, sebagaimana dikatakan oleh potensi terjadinya hubungan yang tidak
Ahmad Sodiki9,het recht als instrument van seimbang (unequal relationship) antara
diefstalllen. Berbagai peraturan agraria pada pemerintah – pihak pemilik modal/swasta dan
a k h i r n y a m e n j a d i a l a t m e n g h a l a l k a n rakyat menjadi kian terbuka. Pandanan akan
“pencurian” harta milik rakyat.
pentingnya kedudukan pihak swasta dalam
memajukan kehidupan ekonomi digunakan
III. Hubungan Tak Seimbang : Pemerintah sebagai pressure untuk penerbitan peraturan
–Modal – Masyarakat
atau kebijakan yang hanya menguntungkan
kepentingan pasar dan modal meskipun
Hakekat potensi demokratisasi yang berpotensi merusak lingkungan.
diidealkan dari sebuah otonomi daerah
adalah bagaimana memunculkan kekuatanUraian di atas cukup menggambarkan
kekuatan baru di luar kekuasaan pemerintah bahwa di era otonomi daerah doronganpusat secara merata. Oleh karena itu kebijakan dorongan hitungan ekonomi lebih dominan
yang cocok adalah penyelenggaraan daripada dorongan untuk menghargai jasa
desentralisasi pusat-pusat pengambilan lingkungan sebagai barang milik publik.
keputusan dalam skala wilayah tertentu Penanaman modal daerah, penambangan di
dengan cara menerapkan otonomi daerah. daerah (misalnya) seringkali dianggap lebih
Dengan otonomi daerah diharapkan terpacu penting karena menghasilkan pajak, retribusi
terciptanya suatu daerah menjadi suatu pusat dan bahkan rente tanpa penghitungan
pertumbuhan baru yang sesuai dengan ciri manfaat lingkungan.Akibatnya pengabaian
geogras dan demogras daerah tertentu. atas hal dan keadilan lingkungan tersebut di
Otonomi daerah dengan demikian terutama atas dapat menimbulkan konik-konik sosial
ditujukan untuk merangsang serta mendorong yang kompleks.
daerah agar berpikir kreatif dalam mengelola
sumber daya yang dimilikinya.
IV. Politik Penjarahan Sektor SDA
Biaya politik yang semakin mahal
sebagaimana dibahas diatas pada akhirnya
di percaya akan ikut memicu penjarahan SDA
untuk. Elit-elit politik sejak jauh-jauh hari bersiap
untuk mengerahkan modal yang dimilikinya
untuk memenangkan Pemilu. Hary
Tanoesoedibjo politisi Hanura misalnya dalam
sebuah acara temu kader Partai Hanura di
Makasar 19 Maret 2013 lalu mengatakan “Saya
punya media, MNC, RCTI, Global TV, jalan tol
9. Ahmad Sodiki, Politik Hukum Agraria, Konstitusi Press, Jakarta, 2013, hlm 32
6
dan tambang batu bara. Untuk bekerja lebih
masif, akan melibatkan instrumen yang ada
pada saya baik itu perusahaan maupun
kekuatan dari diri saya sendiri.”10
Pemilu, Politik Transaksional dan Perampasan Sumber Daya Alam
Pernyataan Hary Tanoesoedibjo
hanyalah contoh bahwasanya tidak sedikit elitelit parpol yang terlibat dalam kegiatan bisnis
yang berkaitan dengan eksploitasi sumber
daya alam seperti perkebunan
pertambangan, kehutanan maupun kelautan.
Mobilisasi sumber daya dan sumber dana yang
dimiliki kalangan pemilik modal dalam
momentum pemilu pada gilirannya kelak akan
berdampak pada maraknya konik-konik
agraria.
akhir tahun KOMNASHAM pada 2012 yang
menyatakan bahwa dari 5422 berkas
pengaduan yang masuk, 1009 berkas
diantaranya berisi laporan konik agraria yang
terkait dengan perusahaan.
Merujuk laporan akhir tahun KPA 2013 ,
setahun menjelang Pemilu, KPA mencatat 369
konik agraria dengan luasan lahan mencapai
1.281.660,09 hektare dan melibatkan 139.874
keluarga. Apabila dirata-rata per hari, lebih
dari satu konik terjadi setiap hari.Hal itu
melibatkan 383 keluarga atau 1.532 jiwa,
dengan luasan wilayah sekitar 3.512 hektare.
Sementara sektor-sektor yang berkaitan
dengan konik agrarian menurut catatan KPA
persebarannya sebagai berikut; sektor
perkebunan sebanyak 180 konik (48,78%),
infrastruktur 105 konik (28,46%),
pertambangan 38 konik (10,3%), kehutanan 31
konik (8,4%), pesisir/kelautan 9konik (2,44%)
dan lainlain 6 konik (1,63%).12
Sebagaimana dikemukakan oleh
Noer Fauzy11 bahwasannya pemberian izin
konsesi oleh pejabat publik, kepada badanbadan usaha raksasa di bidang produksi,
ekstraksi, maupun konservasi pada akhirnya
menjadi legitimasi bagi badan-badan usaha
tersebut untuk melakukan dominasi dan
Data tersebut menunjukan di Sektor
e k s p a n s i , g u n a m e n y i n g k i r k a n a k s e s usaha perkebunan misalnya, sampai dengan
masyarakat. Hal ini diperkuat dengan Laporan h a r i i n i t e r u s d i w a r n a i d e n g a n p r o s e s
PT. Free Port
http://www.islamtimes.org/vglcxxq1.2bqs025a5if82.,.html
10. http://suarapengusaha.com/2013/03/19/ pengusaha-hary-tanoe-bakal-kerahkan-modal-yang-dimiliki-untukmenangkan-hanura/#sthash.hnFKDiho.dpuf
11. Lihat Noer Fauzy, Rantai Penjelas Konik Agraria yang Kronis, Sistemis, dan Meluas, dalam Jurnal Bhumi Nomor 37
Tahun 12, April 2013, hlm. 3.
12. Laporan Akhir Tahun 2013, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
7
menjelang Pemilu telah melonjak pesat
menjadi 11.625 izin pertambangan.16 Lagi-lagi
proses penerbitan izin-izin tersebut juga
dipengaruhi oleh relasi pemilik modal , politisi
dan penguasa lokal di daerah. Aryos Nivada
misalnya menggambarkan hubungan atau
alur relasi politik yang berhubungan dengan
kegiatan ekonomi pertambangandi Aceh
dalam ragaan di bawah ini :17
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
pengambilalihan lahan lewat pengurusan izin
usaha perkebunan melalui suap dan uang
pelicin merupakan salah satu sumber uang
atau dana politik yang melibatkan kepala
daerah. Pengelolaan sumber daya alam yang
diberikan sepenuhnya terhadap pemerintah
daerah telah membuat penataan perijinan
serta peraturan menjadi begitu tumpang
tindih. Persoalan ijin-ijin usaha yang dikeluarkan
oleh pemda, utamanya ijin usaha
pertambangan (IUP) untuk perkebunan skala
besar telah menjadi ajang “mendulang”
pendapatan bagi para pejabat daerah untuk
membiayai ongkos politik yang tinggi. 1 3
Ironisnya Indonesia sampai 2015
merencanakan pada tahun 2015
menyediakan 20 juta hektare perkebunan
sawit yang tersebar di Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan Papua.14
Alur Relasi Ekonomi Pertambangan dan
politik.
Perusahaan/
Pengusaha
Kosensus/
Kepentingan
Kepentingan
Negara
Asing
SDA
(Tambang)
Aktor :
Eksekutif/Legislatif
Selanjutnya sektor kehutanan
merupakan salah satu sektor sumber daya
alam yang sejak jaman Orde Baru menjadi
lahan korupsi. Riset ICW misalnya menyebutkan
bahwa Patronase atau praktik persekongkolan
antara penguasa dengan para pemilik modal
di daerah telah mendorong deforestasi hutan
secara besar-besaran. Momen pilkada
maupun pemilu kemudian hanya menjadi
momen konsolidasi elit politik dengan
pengusaha. Akibatnya terjadi ketimpangan
akses yang sangat mencolok antara rakyat
dan kalanga pengusaha hutan. Luas Hutan
Tanaman Industri (HTI) hingga kini mencapai
9,39 juta hektar dan dikelola oleh 262 unit
perusahaan dengan izin hingga 100 tahun, luas
HPH di Indonesia 214,9 juta hektar yang
dikuasai 303 perusahaan HPH Bandingkan
dengan izin Hutan Tanaman Rakyat (HTR)
sampai sekarang hanya seluas 631.628 hektar.15
Kesemuanya ini mengakibatkan
semakin habisnya tanah untuk pertanian,
khususnya pangan, kaum tani sebagai
produsen pangan semakin banyak yang
kehilangan tanah akibat perampasan untuk
perkebunan, pertambangan maupun proyekproyek infrastruktur dan lain sebagainya.Hal
inilah yang menghancurkan kedaulatan
pangan di Indonesia.Pertanian pangan sekala
besar dibangun di Indonesia tidak
diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan
pangan rakyat Indonesia, tetapi untuk
kepentingan monopoli pangan dan untuk
pemenuhan pasar dunia. Pada akhirnya
berbagai bentuk perampasan tanah dan
penjarahan sumber daya alam di berbagai
sektor memposisikan rakyat dalam situasi yang
sulit. Konik agraria muncul dimana-mana,
jumlah petani gurem yang terus meningkat
adalah potret yang muncul dari praktekSektor pertambangan juga menjadi praktek perampasan tanah dan sumber daya
sektor yang diperebutkan terlebih menjelang alam.
pemilihan umum dalam kaitannya dengan
Hasil Sensus Pertanian 2013
pendanaan kepentingan politik. Merujuk Data
JATAM di akhir 2009 terdapat 2.559 izin menunjukan jumlah perusahaan pertanian
tambang dan pada 2013 atau setahun bertambah 1.475 perusahaan, yakni dari 4.011
13. Anna Mariana dkk, 2013, Politik Lokal, Elite Lokal dan Konsesi Pertambangan: Perjuangan Perempuan atas Akses
Tanah di Kutai Kertanegara, Laporan Penelitian Sistemati Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, hlm 221
14. Data Ditjen Perkebunan Kementrian Pertanian menyebutkan luas areal lahan kelapa sawit di Indonesia pa 2011
mencapai 8.908.000 ha, sementar pada 2012 telah mencapai 9.271.000.Lihat Anton Poniman dkk, dalam
Indonesia Negara Merdeka yang Terjajah, 2013, Fouding Father House, hlm 421.
15. Konik Agraria Semakin Eksesif, Kompas 6 Februari 2011
16. http://migasreview.com/energi-mineral-dijarah-untuk-atm-kampanye parpol.html#sthash.UbgWDo1h.dpuf
17. Aryos Nivada, Pertambangan Aceh “Relasi Kepentingan Ekonomi dan Politik”.Paper dalam Seminar Nasional
”Pengembangan Potensi Sumber Daya Alam dan Manusia untuk Mewujudkan Pembangunan Ekonomi dan
Kesejahteraan di Kawasan Pantai Barat Selatan. Diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat (LPPM) Universitas Teuku Umar. 26-27 Februari 2013
8
Pemilu, Politik Transaksional dan Perampasan Sumber Daya Alam
perusahaan per tahun 2003 menjadi 5.486
perusahaan per tahun 2013.Disisi lain Hasil
Sensus Pertanian 2013 misalnya menunjukan
bahwa bahwa terjadi penyusutan 5,10 juta
keluarga tani dari 31,23 juta keluarga per tahun
2003 menjadi 26,14 juta keluarga per tahun
2013. Artinya, selama sepuluh tahun , setiap
tahunnya terjadi penurunan 500.000 keluarga
petani Jumlah rumah tangga usaha pertanian
mengalami penurunan per tahun sebesar 1,75
persen, dengan total penurunan 5,04 juta
rumah tangga dari 2003-2013.
Hasil sensus tersebut menunjukkan
bahwa jumlah keluarga petani di Indonesia
semakin berkurang, petani gurem bertambah
banyak dan sebaliknya jumlah perusahaan
pertanian justru meningkat. Hal yang membuat
posisi rakyat semakin sulit adalah konik agraria
yang setiap tahunnya terus meningkat.
V. Epilog
Eratnya kaitan antara sumber daya
alam, pemilik modal dan kegiatan politik tak
bisa dipungkiri menjadi salah satu pendorong
kehancuran lingkungan. Maraknya
praktikpenjarahan sumber daya alam
terlestarikan akibat praktik-praktik transaksional
antara pemilik modal, penguasa maupun
politisi.Laju eksploitasi sumber daya alam
Indonesia yang terus meningkat justru
berbanding terbalik dengan peningkatan
pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat.Kenyataan hari ini petani
Indonesia harus hidup dalam sistem pertanian
yang terbelakang dan secara perlahan
kehilangan tanah dan penghidupannya
akibat kehadiran pertanian maupun
perkebunan skala besar .
Karenanya diperlukan sebuah aksi
yang nyata dari berbagai pihak baik
akademisi, LSM maupun masyarakat untuk
melakukan berbagai upaya pencegahan
penjarahan berbagai sumber daya alam.
Bagaimanapun rakyat harus menyadari
bahwa pengelolaan dan pemberdayaan
lingkungan haruslah berorientasi pada
pembangunan berkelanjutan. Selain masalah
ketidak pastian hukum dan tata ruang,
penyebab kerusakan lingkungan akibat
eksploitasi sumber daya alam dewasa ini
adalah kurangnya kekuatan politik yang
memilki sense of the environment (kekuatan
politik yang peka terhadap lingkungan).Untuk
menumbuhkan sense of the environment ini
maka upaya advokasi kepada lembaga
legislatif maupun eksekutif untuk mendorong
adanya perhatian terhadap environmental
rights and justice. Advokasi ini diharapkan akan
melahirkan dukungan politik dari pihak legislatif
dan eksekutif terhadap upaya perlindungan
lingkungan. Mengutip Paulus Yan Olla
pembangunan berkelanjutan hanya dapat
diwujudkan dengan membangun sebuah
http://mentari-rissa.blogspot.com/2012/02/pernyataan-sikap.html
9
Kedepan kita memerlukan perubahan
paradigma baru pengelolaan lingkungan
yang berbasis pada etika lingkungan. Kita juga
memerlukan pengaturan-pengaturan sumber
daya alam dan lingkungan yang bersifat
holistik ekologis19 untuk mewujudkan
pembangunan berkelanjutan dan penegakan
hukum yang progresif. Pandangan progresif
yang dimaksud adalah mengedepankan
kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat,
menggunakan cara-cara progresif yaitu
mencari sebuah jalan keluar atau bahkan
penafsiran, penemuan, dan penciptaan
hukum baru dan penegak hukum yang berani
melakukan sebuah lompatan hukum yang
dapat mencari dan menerapkan makna
dibentuknya peraturan tersebut.
Bagaimanapun, merujuk Sudharto PH
bahwasannya hukum yang baik sesungguhnya
merupakan kontrak sosial diantara pihak-pihak
yang berkepentingan yang dirumuskan
bersama dan ditaati untuk dilakukan. 2 0
Penyusunan suatu peraturan hukum dengan
demikian tidak hanya menyangkut prosedur
tetapi juga keterlibatan para pemangku
kepentingan (stakeholder). Salah satu
stakeholder tersebut adalah masyarakat.
Berkaitan dengan kedudukan masyarakat ini
maka issu yang muncul adalah tingkat
keterwakilan (representativeness); tingkat
keterlibatan (degree of participation) dan
pengaruh input yang diberikan pada produk
akhir dari peraturan perundang-undangan.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
kesadaran etis-politis, sehingga kebijakan
politik tidak melahirkan bencana alam yang
membahayakan warga. 18
18. Paulinus Yan Olla, “Membayar Ongkos Kebodohan Politik”, Kompas,15 Februari 2014.
19. Muhammad Akib, Politik Hukum Lingkungan, 2012, Jakarta Raja Grando, hlm 185-187
20. Sudhato P.Hadi, Dimensi Hukum Pembangunan Berkelanjutan, Badan Penerbit Undip, Semarang, 2002,
hlm 11
10
Daftar Pustaka
Website
Pemilu, Politik Transaksional dan Perampasan Sumber Daya Alam
Ahmad Sodiki,Politik Hukum Agraria, Konstitusi http://migasreview.com/energi-mineralPress, Jakarta, 2013.
dijarah-untuk-atm-kampanye
parpol.html#sthash.UbgWDo1h.dpuf
Anna Mariana dkk,Politik Lokal, Elite Lokal dan
K o n s e s i P e r t a m b a n g a n : P e r j u a n g a n http://migasreview.com/tahun-politik-tahunPerempuan atas Akses Tanah di Kutai penjarahan-sda.html#sthash.4Zjg2Rlf.dpuf
Kertanegara, Laporan Penelitian Sistemati
http://suarapengusaha.com/2013/03/19/pen
Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, 2013.
gusaha-hary-tanoe-bakal-kerahkan-modalAryos Nivada.Pertambangan Aceh “Relasi y a n g - d i m i l i k i - u n t u k - m e n a n g k a n Kepentingan Ekonomi dan Politik” Makalah hanura/#sthash.hnFKDiho.dpuf
seminar nasional ”Pengembangan Potensi
Sumber Daya Alam dan Manusia untuk http://us.politik.news.viva.co.id/pemilu2014/ne
Mewujudkan Pembangunan Ekonomi dan ws/read/464689-ppatk--ada-modus-ijon-diKesejahteraan di Kawasan Pantai Barat balik-transaksi-tinggi-parpol-saat-pemilu
Selatan,2013
http://www.antikorupsi.org/id/content/konsult
Indonesia Corruption Watch (ICW), Menguras an-politik-biaya-politik-makin-mahal
Bumi, Merebut Kursi: Patronase Politik-Bisnis Alih
Fungsi Lahan di Kabupaten Kutai Barat dan http://www.merdeka.com/khas/duit-silumanpenyokong-partai-dana-kampanye-2.html
Ketapang,2013
Konik Agraria Semakin Eksesif, Kompas 6
Februari 2011.
Laporan Akhir Tahun Konsorsium Pembaruan
Agraria (KPA),2013
Martin Staniland, What is Political Economy?,
New Haven, Yale University Press, 1985.
Muhammad Akib, Politik Hukum Lingkungan,
Raja Grando, Jakarta, 2012
Noer Fauzy.Rantai Penjelas Konik Agraria yang
Kronis, Sistemis, dan Meluas, dalam Jurnal
Bhumi Nomor 37 Tahun 12, April 2013
Paulinus Yan Olla, Membayar Ongkos
Kebodohan Politik, Kompas,15 Februari 2014.
Sudharto P.Hadi, Dimensi Hukum
Pembangunan Berkelanjutan, Badan Penerbit
Undip, Semarang, 2002
Widya P. Setyanto, Representasi Kepentingan
Rakyat Pada Pemilu Legislatif 2009 dalam
Dinamika Politik Lokal di Indonesia., Percik,
Salatiga, 2010
11
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
http://www.portalkbr.com/nusantara/papua/2972185_4263.html
12
Solusi Sosialis Terhadap Problem Kapitalisme Dan
Lingkungan Hidup
I. PENGANTAR
PERCAKAPAN tentang politik dan
lingkungan hidup, termasuk yang dilakukan
para aktivis organisasi-organisasi lingkungan,
kerap bersifat a-historis. Politik dan lingkungan
hidup selalu dilihat sebagai soal yang terpisah
dari bangunan nyata ekonomi politik. Kita tidak
menemukan, terutama di Indonesia,
percakapan soal politik dan lingkungan hidup
sebagai bagian dari problem pokok sistem
sosial yang dominan saat ini, yakni kapitalisme.
Para akademisi dan aktivis lebih doyan bicara
soal oligarki politik dan oligarki ekonomi.
Kapitalisme diterima sebagai sesuatu yang
tidak bisa ditolak, bersifat alamiah, dan oligarki
politik dan ekonomi hanya semacam distorsi
saja. Dengan menghilangkan oligarki, semua
pasti beres.
Tulisan ini meletakkan soal politik dan
lingkungan hidup sebagai bagian dari problem
pokok kapitalisme. Untuk itu, tulisan ini akan
menjelaskan bagaimana kapitalisme bekerja
dan bagaimana problem lingkungan harus
dipandang sebagai sesuatu yang bersifat
internal di dalam sistem ini. Di bagian akhir,
tulisan ini menganjurkan sosialisme sebagai
alternatif terhadap kapitalisme dan krisis
ekologi yang tertanam di dalamnya.
II. AKUMULASI KAPITAL DAN
HIDUP
LINGKUNGAN
KITA perlu memulai dengan melihat
bagaimana kapitalisme bekerja secara logik.
Sebagai sebuah sistem sosial, kapitalisme
berbasis pada apa yang disebut dengan
akumulasi kapital. Marx menggambarkan
formula umum dari akumulasi kapital: M – C –
M', di mana M adalah uang (money), C adalah
komoditi (commodity), dan M' adalah uang
(money) yang lebih besar, yang meliputi nilai
awal uang (M) dan surplus ('). Marx
menerjemahkan lebih lanjut ke dalam sirkuit
kapital: M – C {MP,LP}...P...C' – M', di mana MP
adalah alat-alat produksi (means of
production), LP adalah tenaga kerja (labour
power), P adalah proses produksi, dan C'
adalah komoditi baru yang dihasilkan dari
proses produksi.
Formula umum berarti pemilik kapital,
yakni kelas kapitalis melakukan investasi uang
(M) untuk membeli dua bentuk komoditi (C),
yakni alat-alat produksi (misalnya, mesin,
energi, dan bahan baku) dan tenaga kerja
untuk memproduksi (P) komoditi baru (C'), yang
kemudian akan dijual untuk menjadi uang
yang lebih banyak (M'). Marx menyebut
perbedaan antara M dan M' adalah nilai lebih
(“surplus-value”). Pemilik kapital akan
menguasai sebagian dari M' sebagai prot
(keuntungan) dan sebagian lagi akan
diserahkan kepada bank sebagai bunga
pinjaman (interest) dan sebagian diberikan
kepada pemilik tanah atau negara sebagai
sewa (rent). Sebagian dari prot akan
dimanfaatkan oleh pemilik kapital untuk
konsumsi pribadi termasuk mengkonsumsi
barang-barang mewah dan sebagian akan
diinvestasikan ulang untuk memperluas atau
memperbesar skala produksi. Proses investasi
ulang prot inilah yang dikenal sebagai
akumulasi (Karl Marx, 1981; Steven Kettell, 2006).
Di bawah logik sirkuit M-C-M', akumulasi
bermakna sebagai suatu proses ekspansi
kapital yang tidak pernah berakhir. Secara
empiris, itu berarti, bahwa tanpa melakukan
ekspansi ke ruang-ruang yang baru atau tanpa
menciptakan ruang-ruang yang baru,
akumulasi akan menjadi mandeg dan jatuh
dalam krisis. Kapitalisme bakal punah tanpa
akumulasi secara terus-menerus.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Anto Sangaji
Setiap fase sirkuit kapital memiliki
bentuk-bentuk spasial tersendiri tetapi saling
berkaitan. Ada ruang produksi (space of
production), yakni ruang produksi komoditikomoditi. Tak lain dan tak bukan ini adalah
14
Solusi Sosialis Terhadap Problem Kapitalisme Dan Lingkungan Hidup:
15
ruang eksploitasi tenaga kerja oleh kelas
kapitalis; ruang realisasi (space of realization) di
mana kapital mewujudkan surplus atau prot
setelah menjual komoditi dan; ruang akumulasi
(space of accumulation), di mana sebagian
dari surplus atau prot diinvestasi ulang. Aspek
penting dari ruang-ruang tersebut adalah
keterkaitan antara ketiganya: sebuah
komoditi, katakanlah nickel matte diproduksi
di Indonesia (ruang produksi), lantas dijual ke
Jepang (ruang sirkulasi), dan prot yang
dihasilkan mungkin diinvestasi ulang di Amerika
Utara (ruang akumulasi). Dari sirkuit itu, nilai
lebih dihasilkan di negeri yang kurang
berkembang melalui eksploitasi tenaga
kerjanya, lantas ditransfer ke negeri-negeri
yang relatif lebih maju untuk melakukan
akumulasi lebih lanjut. Secara spasial, ini
adalah contoh perkembangan yang tidak
merata (uneven development) antar bangsabangsa. Uneven development artinya
beberapa ruang lebih maju dan sebaliknya
ruang-ruang yang lain tidak atau kurang
berkembang.
Logika (perampasan) nilai – yakni,
logika yang memaksa kelas kapitalis untuk
memproduksi komoditi-komoditi pada harga
yang kompetitif – mensyaratkan adanya
sebuah jaringan spasial (spatial network).
Sebuah komoditi, katakanlah minyak sawit
dihasilkan melalui eksploitasi tenaga kerja yang
berlangsung di suatu tempat (place) tertentu,
tetapi dalam waktu bersamaan harus
terhubung secara keruangan dengan
aktivitas-aktivitas pertukaran/penjualan,
dengan menimbang jaringan spasial ini kita
bisa menghitung rata-rata ongkos produksi.
Tetapi, bagi kapital, tidak cukup hanya
“mensyaratkan” adanya sebuah jaringan
spasial, tetapi bagaimana kapital
“memproduksi” jaringan spasial tersebut. Mari
kita tengok kembali sirkuit kapital. Sirkulasi
kapital dari M sampai dengan M' harus
berlangsung dalam batasan waktu tertentu,
yang terdiri dari dua komponen. Pertama
adalah waktu yang diperlukan untuk
menghasilkan sebuah komoditi, yakni waktu
produksi. Bagi setiap kelas kapitalis, produksi
harus berlangsung tanpa henti dan dalam
waktu cepat dengan kuantitas komoditi yang
lebih banyak; kedua adalah waktu yang
dihabiskan dalam sirkulasi komoditi, yakni
waktu sirkulasi. Tak lain adalah waktu yang
dihabiskan untuk perpindahan komoditi dari
pusat produksi hingga konsumen akhir yang
melibatkan peran sentral lembaga-lembaga
perantara (mata rantai pedagang besar,
retailer, bank, asuransi, dan sebagainya) yang
memfasilitasi komoditi sampai ke tangan
konsumen.
Kompetisi antara kapital – melalui
aplikasi teknologi terbaru dan penyesuaian
organisasi (misalnya, merger dan akuisisi) –
memicu tekanan ke arah upaya pengurangan
kedua komponen waktu. Artinya, waktu
produksi mesti berlangsung cepat. Karena,
seperti dikatakan Marx (1976: 709), “syarat
akumulasi yang pertama adalah bahwa kaum
kapitalis harus berjuang untuk menjual
komoditi-komoditi mereka, dan
mengonversikannya ke dalam kapital porsi
uang yang lebih besar yang mereka peroleh
dari hasil penjualan,” maka waktu sirkulasi
komoditi harus berlangsung dalam tempo
yang secepat-cepatnya. Bahan-bahan baku,
barang-barang jadi dan uang harus berputar
dari suatu ruang ke ruang lain dan dalam waktu
sesingkat mungkin. Jantung dari kapital adalah
proses sirkulasi antara produksi dan
realisasi/penjualan. Di Grundrisse, Marx (1973)
bilang, di satu sisi, kapital mesti berjuang untuk
menaklukkan setiap hambatan spasial, di sisi
lain, kapital berjuang untuk menyingkirkan
hambatan spasial ini dengan kecepatan
waktu. Keharusan melakukan akumulasi, oleh
karena itu identik dengan keharusan
menyelesaikan hambatan-hambatan spasial
(spatial barriers).
Proses sirkulasi harus terus-menerus
mengalami perluasan geogras, yang artinya
akumulasi harus terus berlangsung secara
konstan dan progresif. Suatu keharusan untuk
menciptakan lansekap geogras untuk
memfasilitasi akumulasi melalui produksi dan
realisasi. Sirkulasi memiliki dua aspek pokok: 1.
Perputaran komoditi secara sik dari ruang
produksi ke ruang realisasi atau ruang konsumsi.
Kunci dari aspek ini adalah industri transportasi
dan telekomunikasi yang merupakan bagian
integral dari proses produksi dan oleh karena itu
merupakan aspek yang menghasilkan nilai
(productive value). Dikatakan bahwa industri
ini menghasilkan nilai karena secara ekonomi
merupakan syarat spasial yang membawa
produk (komoditi) ke pasar. Sebuah produk
atau komoditi benar-benar sudah dianggap
berada pada tahapan akhir hanya ketika
sudah mencapai pasar; 2. Biaya-biaya aktual
dan implisit yang harus dikeluarkan baik karena
waktu yang dihabiskan untuk perpindahan
komoditi dan peran sentral lembaga-lembaga
Penjelasan-penjelasan di atas
mengantar kita untuk mengerti bagaimana
sifat kontradiksi dari kapitalisme. Ahli geogra
marxisme Raju J. Das (2009) menyebut satu
kontradiksi sistem ini dalam hubungan dengan
lingkungan hidup. Pertama, di satu sisi,
akumulasi kapital mensyaratkan lingkungan
hidup (environment) sebagai salah satu
sumber bahan baku dan energi dan sekaligus
ruang untuk membuang limbah, tetapi di sisi
lain, akumulasi kapital mengakibatkan
degradasi serius terhadap lingkungan hidup
karena hasrat buta kapital untuk meraup prot.
Karena dalam kapitalisme, produksi yang
berbasis pada pemanfaatan alam tidak
berdasarkan kepada perencanaan sosial,
tetapi melalui kompetisi antara rma-rma
kapitalis untuk mengeksploitasi tenaga kerja
dan alam untuk maksimasi prot, maka
akumulasi kapital telah menghancurkan
lingkungan secara serius. Kompetisi memaksa
setiap individu kapitalis di sektor sumber daya
alam berpacu untuk mengeruk minyak, gas,
batubara, dan mineral dari perut bumi,
menggunduli hutan-hutan alam secara cepat.
Kompetisi juga memaksa setiap individu
kapitalis, baik di sektor industri berbasis sumber
daya alam dan bukan industri berbasis sumber
daya alam berlomba mengkonsumsi bahan
bakar fosil dalam jumlah besar untuk
mengoperasikan mesin-mesin dalam proses
produksi. Dan kompetisi juga memaksa setiap
individu kapitalis beradu cepat mengangkut
komoditi yang dihasilkan dari poin produksi ke
poin konsumsi dalam hitungan jam setiap hari,
bahkan di dalam jarak antar benua. Angkutan
komoditi di bawah logik kompetisi kapitalis ini
mensyaratkan konsumsi besar-besaran bahan
bakar fosil. Akibatnya, kapitalisme dengan sifat
kompetisi yang anarkis telah terbukti
menghancurkan lingkungan dalam skala
global yang tidak pernah tertandingi dalam
sejarah keberadaan planet bumi.
Isu perubahan iklim jelas-jelas
menunjukkan itu. Laporan Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC), pada 2007,
memberikan indikasi bahwa aktivitas
manusia—terutama yang berhubungan
dengan penggunaan bahan bakar fosil dan
kegiatan di bidang pertanian— menyebabkan
peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di
atmosr. Konsentrasi C02 dan suhu global
mengalami peningkatan lebih cepat semenjak
50 tahun lalu, dan akan terus mengalami
peningkatan lebih cepat dalam beberapa
dekade mendatang. Hal ini telah menambah
ketidak-seimbangan ekologi yang lebih serius,
dengan efek-efek yang mengancam
kehidupan manusia dan mahluk hidup lain di
planet ini. Ketidak seimbangan itu telah
mengakibatkan perubahan-perubahan
ekstrim pola iklim, terjadi kekeringan, banjir,
kehilangan keanekaragaman hayati, kenaikan
permukaan air laut, kesulitan air bersih, gagal
panen, kemerosotan produksi pertanian, dll.
Fenomena-fenomena ini kemudian
mengakibatkan terjadi krisis pangan,
kelaparan, dan kematian (Anonymous, 2010).
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
perantara (mata rantai pedagang besar,
retailer, bank, asuransi, dsb) yang memfasilitasi
komoditi sampai ke konsumen akhir. Peran
transportasi di sini kembali menjadi penting,
karena harga bahan baku dan produk atau
komoditi akhir sangat sensitif terhadap ongkos
transportasi dan kemampuan untuk mengirim
bahan baku dan produk akhir ke pasar pada
jarak tertentu dipengaruhi oleh ongkos
tersebut. Ongkos sirkulasi dapat ditekan melalui
transportasi yang lebih baik, lebih murah dan
lebih cepat. Oleh karena itu, perbaikan
transportasi dan komunikasi, jika dilihat dari sisi
akumulasi kapital merupakan suatu keharusan.
Sayang, IPCC tidak (mau) menyebut
kapitalisme, sistem yang mewadahi aktivitasaktivitas penggunaan bahan bakar fosil dan
pertanian, sebagai akar masalah. Padahal,
sangat mudah memahami soal lingkungan
global ini dari proses produksi dan sirkulasi
komoditas yang sarat beban lingkungan sejak
dari skala paling lokal hingga global. Tak heran,
sosiolog John Bellamy Foster (2009)
menyatakan, problem planet ini bukan berakar
pada alam, melainkan pada struktur relasi
masyarakat, khususnya bagaimana
masyarakat diorganisasikan dalam hubungan
dengan alam. Dalam kritiknya terhadap
kapitalisme, dia menyatakan krisis ekologi
adalah buah dari penghambaan terhadap
akumulasi kapital.
16
Solusi Sosialis Terhadap Problem Kapitalisme Dan Lingkungan Hidup:
Sekurangnya ada dua argumentasi
melandasi anggapan tentang masalah
lingkungan hidup yang tertanam di dalam
kapitalisme. Pertama, dengan berbasis
kompetisi, karakter utama sistem ini adalah
perlombaan produksi komoditas semurah
mungkin, di mana sumber daya alam
disubordinasikan ke dalam logika ini. Tidak
heran eksploitasi dan karenanya destruksi
terhadap alam (dan juga buruh) menjadi
keharusan. Karakter kedua sistem ini adalah
keharusan akumulasi tanpa batas melalui
ekspansi spasial yang progresif. Korporasikorporasi transnasional bergerak leluasa
melintasi tembok-tembok negara untuk
mengonversi semua permukaan bumi untuk
industri ekstraktif. Pada masa lalu, praktiknya
melalui kolonialisme, dan dalam 40 tahun
terakhir, berlangsung di bawah rubrik
neoliberalisme. Bukan saja sebagai class
project', tetapi juga sebagai ecology project,
seperti disebut ahli geogra Jason W Moore
(2009), neoliberalisme mempercepat
perusakan lingkungan dengan dampak multiskalar, dari lokal ke global.
China merupakan contoh empiris
yang terang. Pertumbuhan luar biasa setelah
menerapkan ekonomi pasar, dicapai berkat
ongkos produksi rendah, melalui eksploitasi
buruh murah yang melimpah ruah dan
mengabaikan lingkungan hidup. Sejumlah
pengamat memprediksi, dengan terus
mempertahankan model pertumbuhan
ekonomi tidak berkelanjutan seperti sekarang,
dalam waktu tidak lama China bakal
terperangkap krisis energi, kemerosotan drastis
produksi bahan pangan, dan bencana alam
dahsyat (Minqi Li & Dale Wen, 2007).
Pengalaman empiris yang sama juga
terjadi di Indonesia yang menempuh jalan
kapitalisme. Ekonomi politik krisis lingkungan
global menempatkan Indonesia pada isu
deforestasi, isu yang multi-tafsir dalam
penanganannya. Menurut PBB, deforestasi dan
perusakan hutan setiap tahun menyumbang
sekitar 20 persen emisi karbon secara global,
dan Indonesia, salah satu pemilik hutan tropik
terbesar di dunia, adalah penyumbang utama.
Sebagai ilustrasi, laporan Forest Watch
Indonesia (FWI) (2011) menyatakan bahwa
sampai dengan Juni 2010, 2,8 juta kawasan
hutan dibongkar demi ekspansi sawit,
sementara realisasi tanaman hanya mencapai
1,11 juta hektar. Pemerintah menuding
perusahaan-perusahaan perkebunan sawit
menerapkan praktik pembukaan lahan
dengan cara membakar hutan di Sumatera
yang menyebarkan kabur asap hingga ke
Singapore dan Malaysia. 1 Sementara itu,
sebagai negeri penghasil crude palm oil (CPO)
dengan luas kebun sawit terbesar di dunia,
berbagai inisiatif dilakukan oleh kelas kapitalis
untuk memberi citra bahwa Indonesia sudah
menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan
perkebunan sawit yang ramah lingkungan
termasuk melalui apa yang disebut dengan
certied sustainability of palm oil (CSPO) atau
sertikasi perkebunan kelapa sawit secara
berkelanjutan. 2 Tetapi, dalam kompetisi
kapitalisme global yang ketat, produk minyak
sawit tetap dianggap bermasalah. Di forum
ekonomi regional Asia Pacic Economic
Cooperation (APEC), Indonesia gagal
memasukkan minyak sawit ke dalam APEC
Environmental Goods List (EGL), karena
ditentang dengan keras terutama oleh
Amerika Serikat (AS). Sejak awal tahun 2012, AS
secara resmi menolak produk sawit Indonesia
karena dianggap tidak sesuai dengan standar
tingkat emisi karbon (Gatra, 2 Oktober, 2013).
Industri pertambangan kapitalis
sebagai salah satu motor utama ekonomi
modern di Indonesia juga punya wajah horor
yang sama. Telah banyak dilaporkan bahwa
kegiatan penambangan Freeport merusak
lingkungan hidup secara luas seperti karena
pembuangan tailing ke sungai (Denis Leith,
1. Sony Partono, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam Kementerian Kehutanan menyatakan praktik pembakaran hutan yang dilakukan oleh perusahaanperusahaan dengan modus. Pertama, perusahaan mensubkontrakkan pembersihan hutan kepada pihak ketiga
yang kemudian kerap mengambil jalan pintas dengan membuka lahan dengan cara membakar; Kedua,
perusahaan secara diam-diam memanfaatkan warga untuk membakar lahan yang biasanya dilakukan di
malam hari. Akibat kebakaran yang menyebarkan asap ke negeri tetangga, membuat Presiden SBY meminta
maaf kepada Malaysia dan Singapura yang sebelumnya melayangkan protes kepada Indonesia. Tetapi, Rico
Kurniawan, Direktur Eksekutif Walhi Riau bilang bahwa pemerintah Indonesia tidak perlu minta maaf, karena
kebakaran hutan di Riau tidak terlepas dari ekspansi perusahaan-perusahaan sawit asal Malaysia dan Singapura.
Lihat Kontan, 1-7 Juli 2013
2. Hingga Juli 2013, luas lahan produksi CSPO sekitar 1.861.273 hektar, meningkat dari 264.952 hektar pada Desember
2009. Lihat Bisnis Indonesia, 31 Oktober, 2013. Tahun 2012, jumlah produksi CPO Indonesia mencapai 25 juta ton
dan diperkirakan menjadi 40 juta ton pada tahun 2016. Lihat Bisnis Indonesia, 14 November, 2013.
17
Brunnengraber, 2007) jadi contoh terang
bagaimana proses-proses negosiasi
antarnegara berjalan alot dan mencapai
kompromi-kompromi yang lunak karena
kepentingan memajukan kapital. Jalan keluar
yang ditawarkan lantas terintegrasi ke dalam
logika pasar, seperti pada ide carbon trade,
carbon offsets, dan carbon tax. Di Indonesia,
program Reducing Emission from Deforestation
and Forest Degradation (REDD), program kerja
sama antara UNDP, FAO, dan UNEP untuk
mengerem laju kerusakan hutan secara global
menggambarkan itu.
Tanpa menyentuh akar masalah, yakni
kontradiksi antara kapital dan alam, inisiatifinisiatif di atas tidak lebih sebagai siasat para
baron karbon saja. Apa pun programnya, tidak
menyelesaikan krisis, kecuali mengakui prosesproses perusakan lingkungan hidup sebagai
problem yang tertanam dalam kapitalisme.
Dengan kata lain, mengabaikan aspek
ekonomi politik ini dalam rencana aksi adalah
bukan jalan keluar. Oleh karena itu, ikhtiar
memajukan lingkungan hidup global yang
sehat harus dimulai bersamaan dengan
memajukan sebuah tatanan masyarakat
global yang adil, tanpa eksploitasi. Dengan
kata lain, kita memerlukan sebuah agenda
perubahan sistem.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
2013). Juga, ketika masih beroperasi, PT
Newmont Minahasa Raya (NMR) dituding
membuang tailing sebanyak 2.000 ton setiap
hari di Teluk Buyat, Sulawesi Utara, sejak 1996
(Tempo, 12 September 2004; Petrominer,
September 15, 2013). Penambangan biji besi di
Pantai Selatan Jawa (Kulon Progo, Jepara,
Kebumen, Jember, Ciamis) dan di Sulawesi
Utara (Bolaang Mongondow Timur) juga telah
merusak lingkungan yang serius (Kompas, 29
Oktober 2013). Di Kalimantan Timur, akibat
aktivitas pengerukan dan pengangkutan
batubara yang ramai melalui Sungai Mahakam
diduga menjadi faktor penyebab pesut
mahakam (Orcaella brevirostris) – mamalia air
tawar yang hanya bisa hidup di Sungai
Mahakam – kini menjadi langka (Tambang,
September 2013). Dari Pulau Bangka,
Organisasi lingkungan hidup terkemuka di
Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia (WALHI) menuding kegiatan
penambangan timah telah merusak 65% hutan
di pulau itu dan 70% terumbu karang di
sekitarnya. Juga, 15 sungai tercemar oleh
limbah dari kegiatan penambangan
(Tambang, Mei, 2013).3 Penambangan di areal
hutan sudah jadi soal serius. Tahun 2012 saja,
Kementerian Kehutanan mencatat terjadi
1.707 kasus di sektor pertambangan, dengan
total penyalah-gunaan hutan mencapai 8 juta
hektar, sehingga perkiraan kerugian negara
mencapai IDR 362 triliun (Tambang, Mei 2013).
Tetapi, soal degradasi lingkungan yang timbul
dari produksi kapitalis tidak saja berskala lokal,
tetapi juga regional dan global semenjak
deforestasi menyumbang terhadap problem
perubahan iklim. Apalagi laju deforestasi di
Indonesia setiap tahun mengalami
peningkatan signikan: dari 10.000 km2/tahun
dari tahun 2000 ke tahun 2003 menjadi 20.000
km2/tahun dari tahun 2011 ke tahun 2012. (M.C.
Hansen, et.al., 2013). Tak salah lagi, industri
ekstraktif menjadi penyumbang utama
deforestasi di negeri ini, termasuk karena
metode penambangan terbuka yang tumbuh
subur semenjak terbitnya UU Nomor 4 Tahun
2009 tentang Mineral dan Batubara.
Jalan keluar krisis lingkungan hidup global juga
terkerangkeng dalam skema geopolitik
kapitalisme. Protokol Kyoto (lihat Achim
III. PERUBAHAN SISTEM, BUKAN PERGANTIAN
REGIM ELEKTORAL BORJUIS
DEWASA ini, di tengah hiruk pikuk politik
elektoral 2014, kita menyaksikan antusiasme
terhadap perebutan kekuasaan di antara
partai-partai politik borjuis. Jajak-jajak
pendapat dilakukan oleh berbagai lembagalembaga bisnis jajak pendapat atau oleh
lembaga-lembaga penelitian yang didanai
oleh kelas kapitalis yang mengisyaratkan
kemenangan atau kekalahan partai A, B, atau
C. Dalam waktu yang sama percakapan soal
pemilihan umum sama sekali menghindar dari
debat yang menyoal kapitalisme dan akibat
turunannya, termasuk soal atau krisis
lingkungan hidup.
3. Karena dampak pertambangan timah yang meluas ini telah mendorong lahirnya sebuah kampanye internasional
yang dimotori oleh Friends of the Earth. Organisasi ini berhasil mengajak 15.000 orang di seluruh penjuru dunia untuk
mengirim surat protes ke Samsung, perusahaan asal Korea Selatan, produsen (di antaranya) Galaxy Tab dan
Galaxy Note. Samsung menjadi sasaran protes, karena perusahaan yang juga mensponsori klub sepakbola
terkenal Inggris Liverpool mengakui sebagai salah satu importir timah dari Pulau Bangka. Samsung juga mengakui
penambangan di Pulau Bangka dilakukan dengan cara yang membahayakan lingkungan dan masyarakat.
Perusahaan ini lantas berjanji untuk menginvestigasi rantai pasokan untuk mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi dan di mana peran Samsung. Lihat Tambang, Mei, 2013.
18
Solusi Sosialis Terhadap Problem Kapitalisme Dan Lingkungan Hidup:
Ini menunjukkan bahwa kapitalisme
dipandang sebagai sesuatu yang given, tak
bisa dihindari, dan tak tergantikan.
Kita tidak memiliki partai politik yang
memiliki agenda untuk mengganti sistem
kapitalis, tetapi memiliki partai politik borjuis
yang bertarung untuk mentransfer kekuasaan
dari satu partai borjuis ke partai borjuis lain.
Dalam situasi seperti itu, kita tidak bisa berharap
terhadap partai-partai politik yang ada untuk
mengusung isu-isu lingkungan hidup yang
radikal. Lebih dari itu, tanpa mengusung
agenda untuk penggantian sistem kapitalisme,
kita hanya akan berurusan dengan partaipartai politik yang mengusung isu-isu
lingkungan yang dangkal. Manifestasi
kedangkalan isu lingkungan hidup misalnya
dalam wujud green capitalism, yang
memandang kapitalisme sebagai sesuatu
yang baik, jika bersifat hijau. Atas dasar itu,
maka dalam Pemilu 2014, kita jangan terilusi
dengan klaim tentang partai-partai politik yang
pro lingkungan.
pendekatan “steady state economy”5
terhadap negeri-negeri atau wilayah-wilayah
di mana pertumbuhan ekonomi sudah
mengalami tingkat kemajuan yang tinggi
memerlukan suatu periode “de-growth”,
sampai pada fase di mana negeri-negeri atau
wilayah-wilayah itu sampai pada pendapatan
perkapita dalam penggunaan sumber daya
alam yang berkelanjutan di level “steady”. Di
lain sisi, negeri-negeri atau wilayah-wilayah
yang terkebelakang atau miskin memerlukan
suatu strategi periode pertumbuhan
berkelanjutan yang membuat mereka berada
di level yang setara dengan negeri-negeri atau
wilayah-wilayah yang sudah maju.
Kedua, untuk memenuhi soal pertama
di atas, maka sebuah masyarakat baru harus
mengembangkan program-program yang
berbasis kepada kepentingan sosial di dalam
seluruh sektor produksi, termasuk sektor
produksi yang berbasis pada penggunaan
sumber daya alam, di bawah payung
program-program berskala nasional. Berbasis
pada perencanaan yang dilakukan secara
bersama-sama, maka program nasional ini
membantu untuk mewujudkan kebutuhankebutuhan sosial atau kepentingan rakyat
secara keseluruhan, baik kebutuhan yang
bersifat material maupun kultural, ke dalam
semua sektor produksi. Produksi, oleh karena itu,
bertujuan untuk kepentingan semua, bukan
B a g a i m a n a p u n , k i t a t i d a k b i s a kepentingan segelintir minoritas kelas yang
mengharapkan sebuah lingkungan yang baik mengeksploitasi, yakni kelas kapitalis seperti
dan berkelanjutan di bawah sistem kapitalisme. dalam kapitalisme.
Alternatif politik lingkungan mesti berbasis pada
sistem sosial alternatif, yakni sosialisme.
Ketiga, keseluruhan program sosial itu
Alternatif ini harus berbasis pada dua hal, yakni harus berlandaskan pada kepemilikan publik
penghilangan eksploitasi terhadap manusia, atas alat-alat produksi sosialis. Kepemilikan
atau lebih konkrit terhadap kelas pekerja, dan publik memadukan antara alat-alat produksi
eksploitasi terhadap alam. Untuk itu politik dan pekerja, sehingga menghilangkan sifatalternatif lingkungan mesti memiliki prinsip- sifat dominan alat produksi dalam sistem
prinsip:4
kapitalis, dengan demikian membebaskan
para pekerja dari eksploitasi. Para pekerja
Pertama, politik alternatif mesti lantas dapat bekerja menurut kebutuhanmempromosikan kesamaan akses terhadap kebutuhan mereka sendiri dan kebutuhan
penggunaan sumber daya ekologi melalui sosial secara lebih luas. Karenanya, programredistribusi sumber daya alam secara adil, baik program sosial mesti menempatkan para
antar negara maupun di dalam suatu negara. pekerja sebagai tuan dan memajukan
Untuk itu, sebuah alternatif ekonomi berbasis kepentingan-kepentingan utama mereka.
perencanaan sosial (social planning) harus Penyatuan antara alat-alat produksi dan para
d i p e r k e n a l k a n d e n g a n t e k a n a n p a d a pekerja harus berlangsung dalam dua
4. Prinsip-prinsip di bawah ini diadopsi dari sebuah simposium tentang “Designing Socialism: Visions, projections,
models”, yang dimuat dalam jurnal ilmiah Marxisme terkemuka, Science & Society, volume 76 (2), 2012.
5. “A steady state economy” tidak identik dengan masyarakat dan ekonomi yang statis dan tidak berubah. “Steady”
berarti, penggunaan sumber daya alam pada tingkat kuantitatif sebagai input dalam produksi harus tetap
berada pada level yang berkelanjutan secara ekologi dan lingkungan hidup.
19
DAFTAR PUSTAKA
Achim Brunnengraber. 2007. “Political
Economy of the Kyoto Protocol.” Socialist
Register: 213-30.
Anonymous. 2010. “System Change, Not
Climate Change.” Capitalism Nature Socialism,
21(1): 28-35.
Chiara Piovani1 and Minqi Li. 2013. “Climate
Change and the Limits to Growth-Oriented
Model of Development: The case of China and
India.” Review of Radical Political Economy, XX
(X): 1-7.
Denis Leith. 2003. The Politics of Power: Freeport
in Suharto's Indonesia. Honolulu: University of
Hawaii Press.
Forest Watch Indonesia. 2011. Potret
Kehutanan Indonesia Periode Tahun 2000-2009.
Bogor: FWI.
Jason W. Moore. 2009. “Ecology and the
Accumulation of Capital.” Paper disajikan
dalam the workshop, Food, Energy,
Environment: Crisis of the Modern World-System,
Fernand Braudel Center, Binghamton
University, 9-10 October
John B. Foster. 2009. The Ecological Revolution.
New York: Monthly Review Press.
Karl Marx. 1981. Capital volume II. London, New
York: Penguin Books.
Karl Marx. 1976. Capital volume I. London, New
York: Penguin Books.
Karl Marx. 1973. Grundrisse. London, New York:
Penguin Books.
Minqi Li & Dale Wen. 2007. “China: Hyperdevelopment and environmental crisis.”
Socialist Register.
M.C. Hansen et.al., 2013. “High-Resolution
Global Maps of 21st-Century Forest Cover
Change.” Science 342: 850 – 853.
Raju J. Das. 2009. 'Capital and Space', in
Kitchin, R, Thrift N (eds) International
Encyclopedia of Human Geography. Volume 1:
375-381. Oxford: Elsevier.
Steven Kettell. 2006. “Circuit of Capital and
Overproduction: A Marxist analysis of the
present world economic crisis.” Review of
Radical Political Economic 38 (1): 24 – 44
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
tingkatan, yakni di tingkat unit produksi dari
perusahaan-perusahaan sosialis dan di tingkat
masyarakat secara keseluruhan. Di level
perusahaan-perusahaan sosialis, penyatuan
antara alat-alat produksi dan pekerja
mengambil bentuk pembagian kerja antara
para pekerja langsung, ahli-ahli mesin,
pengelola administrasi dan para pemimpin
mereka melalui mekanisme musyawarah yang
demokratis. Sementara di tingkat masyarakat
lebih luas, penyatuan ini bermakna para
pekerja di seluruh sektor menghasilkan dan
mendistribusikan secara bersama-sama
kekayaan-kekayaan material dan spritual
sosialis dan memperbaiki bersama-sama
perkembangan ekonomi, kebudayaan, dan
masyarakat sosialis.
20
Membedah Demokrasi Palsu Di Indonesia: Demokrasi yang Tidak
Dibutuhkan Buruh dan Tani sebagai Mayoritas Rakyat Indonesia
Oleh : Rudi HB Daman
Abstrak
I. Pendahuluan
Pasca Reformasi 98, euforia demokrasi begitu
terasa di berbagai lini. Berbagai partai politik
bermunculan dengan mengusung platform
politik atas nama kepentingan rakyat. Namun
lebih dari satu dekade, angin perubahan
kehidupan rakyat tidak kunjung datang.
Persoalan yang dihadapi rakyat semakin
komplek. Berbagai perampasan tanah terjadi
diberbagai sektor, baik berbasis sumberdaya
alam seperti perkebunan sawit, HTI dan Industri
pertambangan lainnya, sampai pada
persoalan perampasan tanah produktif petani
untuk kepentingan pembangunan di
Indonesia. Berbagai proyek infrastruktur terus
dikembangakan untuk memenuhi
kepentingan investasi asing di Indonesia. Disisi
lain produktivitas rakyat digenjot dengan
berbagai kebijakan sektor perburuhan,
legalisasi perampasan upah dengan
memberikan kebijakan politik upah murah
adalah realitas yang dihadapi kaum buruh
Indonesia, selain persoalan outsoursing lainnya.
Jika demokrasi dimaknai sebagai upaya
mensejahterakan rakyat, pertanyaannya
apakah demokasi seperti ini yang diharapkan
oleh jutaan rakyat, kaum tani dan buruh pemilik
sah negeri ini?. Tulisan ini bertujuan untuk
menjelaskan hakekat dan perkembangan
demokrasi yang di Indonesia. Fokus tulisan ini
terletak pada aspek yang membentuk sistem
demokrasi dan kedudukan negara sebagai
pelaksana sistem tersebut. Dalam menjelaskan
masalah itu, penulis menekankan bagaimana
perkembangan demokrasi dalam sistem politik
neo-kolonial. Dengan penjelasan tentang
sejarah perjuangan tersebut maka dapat
mengetahui dasar yang membentuk sistem
demokrasi yang berlaku di Indonesia dewasa
ini dan kepentingan yang ingin dicapai
dengan sistem tersebut.
Let the bourgeoisie continue to keep
the entire apparatus of state power in their
hands, let a handful of exploiters continue to
use the former, bourgeois, state machine!
Elections held in such circumstances are
lauded by the bourgeoisie, for very good
reasons, as being "free", "equal", "democratic"
and "universal". These words are designed to
conceal the truth, to conceal the fact that the
means of production and political power
remain in the hands of the exploiters, and that
therefore real freedom and real equality for the
exploited, that is, for the vast majority of the
population, are out of the question.2
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
1
Sistem demokrasi di Indonesia saat ini,
di tengah berlangsungnya krisis umum dari
kapitalisme monopoli (imperialisme), telah
membawa kerusakan ekonomi, politik dan
kebudayaan yang serius bagi rakyat Indonesia.
Periodesasi ledakan krisis yang dialami oleh
negeri-negeri imperialis berlangsung semakin
pendek dengan dampak kerusakan yang tidak
kalah hebat. Sementara bagi negeri-negeri
jajahan, setengah jajahan hingga negeri
tergantung hidup dalam krisis yang semakin
akut memiskinkan dan menenggelamkan
rakyat dalam jurang kehinaan akibat ekspoitasi
yang dilakukan oleh kapitalisme monopoli
dalam berbagai lapangan.
Sistem demokrasi di era imperialisme,
tidak berbeda dengan kebebasan di era
Yunani Kuno yaitu kebebasan bagi pemilik
budak “ Freedom in capitalist society always
remains about the same as it was in ancient
Greek republics : Freedom for slave owners”.3
Jadi hanya kapitalis monopoli dunia saja yang
akan menikmati demokrasi dengan cara
memperbudak seluruh rakyat tertindas dan
1. Adalah Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) dan Koordinator Front Perjuangan Rakyat
(FPR)
2. Lenin, “democracy” and dictatorship, collected works vol 28, rst published January 3, 1919.
3. Lenin, state and revolution.1917
22
Membedah Demokrasi Palsu Di Indonesia: Demokrasi yang Tidak Dibutuhkan Buruh dan Tani
sebagai Mayoritas Rakyat Indonesia:
terhisap di berbagai negeri. Dibawah
komando AS, mereka melancarkan
perampokan terhadap berbagai negeri
berdaulat untuk mencaplok sumberdaya alam
dan menindas rakyatnya. Derajat penindasan
dan penghisapan super besar ini berlangsung
dan semakin barbar sebagai solusi atas krisis
yang dialami oleh neger-negeri imperialis.
23
Promosi demokrasi palsu dilakukan
demi memelihara dominasi diberbagai negeri
melalui pemerintahan boneka. Hal ini dilakukan
untuk memastikan seluruh kepentingan
imperialis bisa dijalankan berdasarkan
berbagai regulasi di negeri tersebut yang telah
disesuaikan dengan kepentingan mereka.
politik dan keamanan telah menjadi bagian
dalam kerjasama komperehensif antara
Indonesia dan Amerika Serikat (USA).
Dalam komperehensif partnership
Indonesia-USA, Indonesia jelas diharapkan
untuk menjadi role model bagi demokrasi dan
good governance. 5 Bahkan tanpa malu,
dibandingkan dengan beberapa negara lain
dikawasan Asia Tenggara. Singapura misalnya
disebutkan sebagai model yang baik dalam
good governance tapi bukan untuk soal
demokrasi, atau Philipina dengan demokrasi
yang cukup baik akan tetapi bukan contoh
yang baik dalam good governance. Tahun
2014 ini saja telah ditandatangani kerjasama
beberapa hal terkait isu demokrasi,
diantaranya kerjasama soal dukungan untuk
program Open Governance Partnership
(OGP), Civil Society Concultation termasuk
juga program Election Training Session dengan
sasaran utama 972 perempuan yang akan
dilatih sebagai elective ofce. Sedangkan
untuk etalase dan promosi pengembangan
demokrasi, Indonesia diberi panggung untuk
memimpin forum demokrasi dengan nama Bali
Democracy Forum/Forum Demokrasi Bali (BDF)
yang dibiayai penuh kapasitasnya oleh USA
dan Australia.
Pasca resesi besar tahun 2008 yang
menghantam AS dan Eropa, imperialis AS terus
memberikan perhatian yang lebih besar lagi
terhadap kawasan Asia-Pasik. 4 AS jelas
memberikan pernyataan bagaimana
pentingnya kawasan ini bagi kelangsungan
hidup mereka. Dengan kekayaan sumber
daya alam dan besarnya sumber daya
manusia yang tersedia, Asia-Pasic merupakan
wilayah yang sangat penting bagi imperialisme
AS. Konsentrasi militer AS jelas diarahkan ke
wilayah ini melalui USPACOM, yang secara
bertahap akan terus ditambah personel dan
peralatan militernya hingga 60 persen di II. Politik Neo-Koloni Membuat Demokrasi di
bandingkan 40 persen Armada Atlantik.
Indonesia Menjadi Demokrasi Palsu
Indonesia merupakan kepingan
penting milik imperialisme AS di kawasan,
dengan politik neo-koloni Indonesia dikontrol
serta didorong untuk memainkan peranan
yang penting dalam kestabilan di Asia dan
Pasik. Dengan luas wilayah, kekuatan sumber
daya manusia hingga besarnya kekayaan
alam, tidak di sanggah lagi Indonesia akan
mempunyai pengaruh yang besar dalam
geopolitik Asia dan Pasic ditengah krisis dan
berbagai ketegangan yang terus muncul
dalam beberapa waktu kebelakang. Bersama
India, Indonesia menjadi kekuatan
pengimbang bagi kekuatan negeri-negeri
berdaulat yang tidak berhasil dijajah seperti
Republik Rakyat Tiongkok dan Korea Utara.
Dengan krisis overproduksi barang-barang
teknologi tinggi, termasuk didalamnya senjata
dan peralatan militer lainnya, maka provokasi
kestabilan dan keamanan wilayah dan
kawasan akan menjadi isu penting dalam
perdagangan senjata global. Isu demokrasi,
Pa da ha keka tny a demokra s i di
Indonesia adalah sebuah manipulasi yang
diberikan oleh rejim boneka dalam negeri atas
dukungan imperialisme. Perjalanan panjang
sistem demokrasi di Indonesia tidak lepas dari
pertentangan klas antara klas penindas dan
penghisap didalam negeri yang didukung oleh
imperialisme melawan aspirasi demokratis
rakyat Indonesia disisi yang lain.
Perjalanan panjang sistem demokrasi
di Indonesia merupakan hasil dari perjuangan
rakyat dalam melawan sistem penghisapan
dan penindasan. Sebuah perjalanan sejarah
yang keras, panjang dan penuh pengorbanan
dari rakyat untuk demokrasi dan keadilan sosial.
Karena klas penindas tidak akan pernah
bersedia dengan sukarela untuk melepaskan
sistem yang menguntungkan dirinya secara
politik, ekonomi dan kebudayaan. Demokrasi
bagi rakyat Indonesia berarti sistem demokrasi
yang anti terhadap penindasan dan
4. Pidato Leon Panetta, Sekretaris Pertahanan AS, hotel Shangri-La, Singapura 2012.
5. Tentang kerjasama komperehensiv bisa dibaca, The Indonesia-United States Comperehensive Partnership dalam
www.state.gov.
Di awal revolusi kemerdekaan 17
Agustus 1945, seiring dengan aspirasi atas
kedaulatan sejati rakyat gerakan rakyat juga
menunjukan bagaimana seharusnya
kedaulatan politik dan demokrasi bagi
Indonesia. Gerakan anti feodalisme tumbuh
meluas dan menjadikan bangsawanbangsawan yang merupakan tuan tanah jahat
menjadi sasaran gerakan rakyat anti swa-praja
di berbagai wilayah di Indonesia. Kaum tani
dan klas buruh bergerak dengan kekuatannya
sendiri mengambil-alih perusahaanperusahaan milik Belanda dan Jepang serta
milik imperialis lainnya.
Bangsawan-bangsawan feodal
tersebut ialah kaki tangan kapitalisme asing
yang telah memeras dan menghisap tenaga
buruh perkebunan dan kaum tani dalam usia
panjang kolonialisme. Buruh dan kaum tani
melakukan serangkaian perlawanan,
merampas aset klas penghisap tersebut,
bahkan menghukum mereka. Buah
perjuangan dalam lapangan ekonomi adalah
berhasil mensita perkebunan-perkebunan
besar (ondernaming), mensita tanah milik
kesultanan feodal dan dibagi di kalangan
rakyat yang tak bertanah, penghapusan
bentuk-bentuk penghisapan feodalisme
(sistem lintah darat dan sewa tanah yang
tinggi), mensita tanah-tanah partikulir. Di
lapangan politik, gerakan anti feodal telah
berhasil membubarkan pemerintahan
swapraja6 (seperti di Surakarta, Karasidenan
Pekalongan, Banten dan Sumatera Timur) dan
menghapus hak istimewa keraton,
menghukum bangsawan dan tuan tanah
jahat, mengganti pamong desa yang
merugikan rakyat, membentuk dewan desa
sebagai pemerintah desa, berdirinya badan
keamanan dan pertahanan desa yang
dikuasai rakyat, serta menghapus kebiasaan
budaya feodal.
Di sisi lain, aspirasi revolusioner rakyat
tidak mendapatkan tempat bagi pemerintah
baru. Sikap pemerintah ini tidak lepas dari
masih bercokolnya kekuatan lama yang
mewakili klas feodal dan unsur-unsur yang
bimbang dan takluk (kapitulasionis) terhadap
imperialis. Pada awalnya, Indonesia memiliki
parlemen pertama kali yakni Komite Nasional
Pusat (KNIP) yang terdiri dari lima orang pada
29 Agustus 1945 dan melahirkan kabinet
pertama, 5 September 1945, yang bersifat
presidensial. Meski demikian, susunan
kekuasaan di pusat dan daerah tidak
mengalami perubahan dibandingkan pada
masa kolonialisme imperialis Belanda dan
imperialis fasis Jepang. Demikian halnya
dengan orang-orang yang menduduki
jabatan di pemerintah daerah, para gubernur,
merupakan perwakilan kekuatan tuan tanah
besar dan pro Belanda sebelumnya.
Pemerintahan tidak mewakili mayoritas rakyat
yang dicirikan tidak adanya perwakilan dari
klas pekerja, kaum tani, dan elemen progresif
lainnya.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
penghisapan, dan demokrasi semacam itu
hanya bisa didapatkan melalui perjuangan
rakyat yang keras dan bukan hasil pemberian
hadiah atau kedermawanan dari siapapun
terlebih jika klas yang berkuasa adalah klas
penindas anti rakyat.
Usaha untuk mendominasi politik
Indonesia juga dilakukan dengan
memaksakan perubahan sistem pemerintahan
dari presidensil menjadi parlementer oleh AS
kepada Soekarno sebagai presiden Indonesia
pertama. Dukungan diberikan kepada Hatta
dan Syahrir untuk memimpin sistem
parlementer di Indonesia. Di bawah
pemerintahan kedua orang tersebut berusaha
melakukan segala usaha untuk menempuh
jalan yang ditawarkan imperialis yakni adanya
peralihan damai dari kekuasaan Belanda yang
berkuasa kembali ke tangan dominasi
imperialis AS. Artinya, imperialis ingin
membangun pemerintah boneka yang efektif
dikontrol. Hal ini sesuai dengan politik AS untuk
6. Baca, Anton Lucas ; One soul one struggle :peristiwa tiga daerah dalam revolusi Indonesia, Resist Book. 2004.
24
membendung pengaruh gerakan revolusioner
di Asia, dengan menjalankan politik
pembendungan (containment policy),
dengan petugas utamanya Merle Cochran di
bantu J. Camphell.
Membedah Demokrasi Palsu Di Indonesia: Demokrasi yang Tidak Dibutuhkan Buruh dan Tani
sebagai Mayoritas Rakyat Indonesia:
salah satunya terlihat ketika membubarkan
kontituante (parlemen) dan memilih untuk
menjalankan demokrasi terpimpin dengan
karakter anti imperialisme dan anti-feodalisme.
Meskipun demikian pertentangan di antara klik
reaksi yang anti rakyat tetap terjadi, kaki
Dengan wewenang yang dipegang, tangan imperialis AS didalam birokrasi
Syahrir mengajukan berbagai perundingan pemerintahan dan partai politik melawan
yang merugikan rakyat Indonesia. Keadaan itu rakyat disisi lain.
melahirkan perlawanan rakyat menentang
kebijakan dan memilih mempertahankan
Puncaknya adalah dikeluarkannya UU
republik Indonesia dengan jalan perang rakyat. PA 1960 dan UU Bagi Hasil 1960 yang
Perlawanan rakyat yang luar biasa memaksa menghambat kekuatan feudalisme yang
AS melakukan intervensi melalui Perserikatan merugikan rakyat. Selain itu Soekarno dengan
Bangsa-bangsa (PBB) dan memaksa Belanda terus menyuarakan keadilan bagi berbagai
u n t u k b e r u n d i n g . T u j u a n A S a d a l a h negeri, menolak dominasi imperialisme serta
menghadang berkembangnya aspirasi m e n e n t a n g b e r b a g a i p e r a n g a g r e s i
revolusioner rakyat untuk demokrasi sejati imperialisme melalui Konferensi Rakyat Asiadapat terwujud karena akan mengancam Afrika. Begitu juga dukungan rakyat atas politik
kesempatannya untuk dapat mengontrol S o e k a r n o m e n e n t a n g n e g a r a b o n e k a
Indonesia sepenuhnya melalui penjajahan imperialis, yakni Malaysia, dengan menjadi
gaya baru. Akhirnya, tindakan kapitulasi sukarelawan yang dikirim untuk bertempur.
(takluk) pemerintah ini berpuncak pada Rakyat sangat menentang seluruh tindakan
penerimaan syarat penyerahan kedaulatan agresi termasuk kebudayaan imperialis, seperti
pada KMB. Seluruh syarat dalam hasil-hasil KMB penentangan agresi militer AS ke Vietnam dan
sangat memberatkan rakyat yakni: Pertama, pemboikotan atas lm-lm Amerika serta
Jaminan bagi perusahaan Belanda dan milik mengusir Peace Corps AS. Kesadaran politik
imperialis lainnya untuk beroperasi di Indonesia. r a k y a t m u n g k i n j a u h l e b i h b a i k j i k a
Kedua, Kesediaan pemerintah Indonesia dibandingkan dengan masa setelah Soekarno,
mengambil alih utang pemerintah jajahan hingga sekarang.
Hindia Belanda sebesar $ 1,3 Milyar AS yang
sebagian besar adalah utang Belanda untuk
kepentingan militer menghadapi perang
kemerdekaan.
Meskipun kemudian pemerintah
mencabut diri dari kesepakatan KMB, akibat
penolakan yang luas dari rakyat atas hasil KMB.
Akan tetapi kekuatan imperialis masih
beroperasi di Indonesia melalui perkebunanperkebunan besar feudal, pertambangan
besar, perusahaan manufaktur, serta bankbank.
Melihat kecenderungan
pemerintahan Soekarno yang berwatak
nasionalis anti imperialis, ditambah AS yang
cemas melihat perkembangan gerakan rakyat
di Asia dan Indonesia berkehendak untuk
menstabilkan pemerintahan Indonesia melalui
rejim boneka pilihan mereka. AS kemudian
menyokong berbagai gerakan bersenjata anti
rakyat melalui PRRI/Permesta maupun DI/TII.
Sedangkan politik anti Soekarno juga dilakukan
melalui kaki tangan mereka yang ada di
Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Karakter nasionalis Soekarno semakin kuat,
25
Politik progresif Soekarno dan majunya
gerakan demokratis rakyat menjadikan
imperialis AS semakin melipatgandakan
usahanya untuk menjadikan Indonesa dapat
didominasi sepenuhnya. Kemajuan gerakan
demokratis menjadi ancaman bagi kontrolnya
atas Asia terlebih majunya gerakan
revolusioner di Vietnam dan sikap pemerintah
Republic Rakyat China (RRC) yang
mendukung gerakan rakyat di berbagai negeri
di Asia. Karena itu, ia melakukan operasi
Orde baru dibutuhkan imperialisme
untuk mengendalikan Indonesia, ditengah
kegagalan imperialisme AS dalam perang
Vietnam. Bahkan Presiden AS, Nixon menyebut
Indonesia sebagai “hadiah terbesar di Asia
Tenggara”. Kestabilan politik Indonesia
menjadi sangat penting bagi kepentingan
geopolitik AS di Asia, ditengah-tengah
kemenangan gerakan rakyat diberbagai
negeri Asia seperti yang terjadi di Vietnam dan
Tiongkok.
Untuk mengamankan skema
penghisapan dan penindasan maka rejim fasis
mendirikan bangunan politik yang
mengokohkan pemerintahan otokratiknya.
Cirinya terletak pada pemusatan kekuasaan
legislasi dan yudikasi di tangan presiden
sebagai mandataris MPR. Selain itu, tentara
menjadi kekuatan inti dalam pemerintahan
fasis di setiap tingkatan dengan doktrin
Dwifungsinya—yakni memiliki peran dalam
militer dan sosial politik. Langkah-langkah yang
dilakukan agar menunjang kekuasaan
otokratisnya adalah pelarangan PKI dan
ajaran komunisme, menjadikan Golongan
Karya (GOLKAR) sebagai mesin politik,
penyederhanaan partai-partai,
pewadahtunggalan organisasi-organisasi,
penerapan asas tungggal, penerapan politik
massa mengambang (oating mass), dan
depolitisasi kehidupan kampus. Tak hanya itu,
kontrol rejim fasis menjangkau kehidupan
sehari-hari dalam lingkungan tempat tinggal
dengan mempertahankan sistem torigami
pada masa pendudukan fasis Jepang yakni
lembaga Rukun Warga (RW) dan Rukun
Tetangga (RT). Negara RI dibawah kekuasaan
fasis Soeharto membuat kebijakan atau
undang-undang untuk mengatur seluruh soal
yang mencerminkan Indonesia berada dalam
kontrol kekuatan militer sepenuhnya.
Krisis kronis dan tindasan Orde Baru,
Soeharto memantapkan tegaknya sistem
produksi setengah feudal. Sejak awal
kekuasaannya, ia sudah langsung mengubah
seluruh kebijakan lama Soekarno yang
nasionalis dengan kemudahan investasi asing
masuk ke dalam negeri melalui Undangundang No.1 tentang Penanaman Modal
Asing (PMA) tahun 1967. Dengan
Pembangunanisme (developmentalism)
sebagai konsep pembangunan ekonominya,
Soeharto mencanangkan rencana ekonomi
dengan basis utamanya adalah
pembangunan perkebunan dan
pertambangan besar, industri berorientasi
ekspor, dan memproduksi barang substitusi
impor. Membodohi rakyat guna menguatkan
sistem setengah jajahan dengan meluncurkan
program didukung Bank Dunia, yakni
transmigrasi dan revolusi hijau. Program
transmigrasi bertujuan untuk memobilisasi
tenaga murah bagi perkebunan besar.
Revolusi Hijau merupakan program
peningkatan produksi a la imperialis yang
memaksakan petani menggunakan sarana
produksi (bibit, petisida, herbisida) yang
dikuasai oleh perusahaan monopoli milik
imperialis.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
penjungkalan Soekarno dan penghancuran
gerakan demokratis rakyat melalui operatoroperator kaki tangannya di militer dan sipil.
Jenderal Soeharto mengambil dan memimpin
operasi itu yang menghasilkan pembunuhan
massal ratusan ribu dan pemenjaraan jutaan
kekuatan progresif dan demokratis. Kemudian,
Soeharto membuka lembar kediktaturannya
yang dinamakan Orde Baru dan berwatak
fasis.
Kediktaturan fasis Soeharto adalah
kekuasaan terror terbuka sebuah klik reaksioner
yang mewakili kepentingan borjuasi besar
komprador dan tuan tanah besar. Ia memiliki
ciri utama: Pertama, Penggunaan kekuatan
militer secara terbuka dan semena-mena untuk
menindas rakyat. Pemerintah Suharto tampak
pada permukaannya sebagai pemerintahan
sipil tetapi dalam prakteknya pemerintahan
yang dibangun adalah pemerintahan
militerisme fasis. Kedua, Watak atau karakter
klas di dalamnya yakni membela kepentingan
imperialis, klas borjuasi besar komprador, dan
tuan tanah besar.
Rejim Orde Baru mengoperasikan
mesin kebudayaannya untuk menjalankan
fascism melalui pendidikan, seni dan sastra,
bahasa, institusi agama, dan lain-lain. Untuk itu,
pemerintah fasis getol menyelenggarakan
acara Pedoman Penghayatan Pengamalan
Pancasila (P-4) yang diikuti siswa sekolah
menengah (SMP dan SMA), mahasiswa, dan
seluruh rakyat yang bekerja dalam institusi
pemerintah dan swasta. Rakyat dididik dengan
gaya bahasa politik fasis untuk menutupi
kebrutalan fasisnya seperti istilah-istilah: ditatar,
dibina, diamankan, ditunggangi, aktor
intelektual, dan lain-lain.
Sistem yang menindas ini melahirkan
perjuangan klas dari seluruh rakyat. Gerakan
buruh di awal 1990-an mulai tumbuh seperti
26
sebagai Mayoritas Rakyat Indonesia:
Membedah Demokrasi Palsu Di Indonesia: Demokrasi yang Tidak Dibutuhkan Buruh dan Tani
27
pemogokan buruh Gajah Tunggal Tanggerang kritis dibreidel sepanjang 1980-an.
(1991) yang memobilisasi 14.000 buruh, di
perusahaan PATAL Maligi, di Medan pada
tahun 1994 dengan melibatkan 3.000 ribu buruh
(yang dikenal sebutan Medan Berdarah), di
Great River Bogor,7 Tandes Surabaya (1996),8
dan lain-lain. Begitu juga dengan perlawanan
petani di berbagai tempat seperti: di
Cibereum di Jawa Barat, Petani Kedung Ombo
di Jawa Tengah, Petani Jenggawa di Jawa
Timur, Petani Cimacan di Jawa Barat, dan lainlain. Demikian halnya juga perlawanan suku
bangsa minoritas (seperti orang-orang Dayak
pedalaman, Anak Dalam, Papua, Sakai, Kaili,
dll) yang bertarung dengan berani dengan
senjata yang dimiliki untuk mengusir tuan tanah
besar dan imperialis yang ingin membangun
pertambangan besar (seperti
perusahaanFreeport McMoran di Papua),
http://www.indonesia-pusaka.com/2300suharto.htm
perkebunan besar dan hutan (seperti di
Soeharto kemudian tumbang akibat
Kalamantan dan Sumatera).
gerakan massa, bersamaan dengan krisis
Krisis kronis juga telah menjadikan moneter yang terjadi di kawasan Asia. Akan
kaum borjuasi kecil dan semi proletar tetapi bukan berarti kemudian struktur
mengalami beban hidup yang semakin berat kekuasaan imperialisme di Indonesia ikut
dan tindasan politik yang kejam. Kaum tumbang. Secara politik Soeharto hanyalah
intelektual dan jurnalis kritis mengalami pion yang bisa diganti kapan saja oleh
tindasan atas hak-hak demokratis.Gerakan imperialis AS jika dianggap tidak sanggup lagi
d e m o k r a t i s o l e h k a u m i n t e l e k t u a l d a n menjalankan skema mereka. Memang sempat
professional juga di-cap dengan jargon seperti: terjadi reorganisasi dari klas-klas komprador di
Setan gundul, Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), Indonesia yang terpecah-pecah pasca
makar, provokator, “ditunggangi” dan tentu bangkitnya gerakan massa demokratis di mei
saja komunis gaya baru. Media massa yang 1998, yang dicirikan bagaimana pertarungan
7. www.indonesiaindonesia.com/f/52978-manufaktur-buruh-industri/
8. Diolah dari www.dokumentasi.elsam.or.id/mobile/report/view/305?c=57&p=1
Masa transisi ini cukup penting karena
masih mewarisi semangat dari gerakan
demokratis 1998, yang jika dibiarkan maka bisa
berkembang lebih besar dengan aspirasi yang
lebih maju lagi. Hal ini tentu mengancam
kepentingan ekonomi-politik dari imperialisme
AS, dilain sisi reorganisasi kekuatan komprador
dan kapitalis birokrasi pasca gerakan 1998
pasca berantakannya mesin operasional
utama mereka selama Orde baru yaitu dalam
tubuh Golkar, ABRI dan Birokrasi.
Untuk meredam aspirasi maju dari
rakyat, salah satu kebijakan yang cukup
penting saat itu ialah dengan membuka
aspirasi “kebebasan” politik dalam pemilu
1999. Sistem multi partai kembali digunakan di
Indonesia pada pemilu 1999, yang saat itu
diikuti oleh 27 partai politik.9 Fakta yang menarik
dalam pemilu tersebut adalah kemampuan
Golkar untuk bertahan, bahkan mampu
memperoleh suara terbanyak kedua setelah
PDI-P dengan 23.741.749. Hal tersebut
menjelaskan betapa kuatnya mesin-mesin
komprador dalam struktur partai yang menjadi
mesin mobilisasi suara politik orde baru,
bertahannya Golkar pada masa tersebut
merupakan sebuah “turning poin” untuk
mereka di kancah politik Indonesia selanjutnya.
Kanalisasi aspirasi maju rakyat dalam politik
elekctoral merupakan langkah yang paling
efektiv, ditengah masih kecilnya gerakan
massa sejati yang memimpin perjuangan
massa. Beriringan dengan hal tersebut
kebijakan otonomi daerah dijalankan secara
bertahap oleh pemerintah. Kebijakan tersebut
merupakan strategi ampuh untuk meredam
gejolak daerah dengan memecahnya dalam
sistem politik yang tidak lagi berpusar pada
Jakarta.
Pasca turunnya Gusdur, maka
sebenarnya rerorganisasi atau regrouping
barisan komprador di Indonesia telah kembali
menemukan kestabilannya. Dengan sistem
multi partai yang ada, klas-klas komprador
lebih merata tersebar memimpin berbagai
partai besar yang ada di Indonesia. Bukan
menjadi masalah bagi siapapun yang
memimpin Indonesia, selama skema neoliberal dalam ekonomi dan pemerintahan neokoloni sanggup dipertahankan di Indonesia.
Demokrasi electoral menjadi hanya menjadi
Di sisi lain, mereka seolah-olah
memberikan tempat bagi aspirasi rakyat
melalui instrumen dan regulasi yang
disediakan, tetapi sesungguhnya membatasi
dan mengerdilkan ruang bagi rakyat sehingga
dapat melanggengkan kontrol dan
kepentingan klas berkuasa. Sejarah
menunjukkan negara menyediakan sarana
demokrasi dengan segala prosedur formal
yang tampak seolah-olah demokratis tetapi
seluruhnya ditujukan bagi eksisnya sistem lama
yang menghisap dan menindas dan tidak
memberikan kesempatan bagi perubahan
sistem secara fundamental yang
mencerminkan demokrasi sejati di aspek
ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Dengan demikian, kita tidak dapat
mengatakan negara sebagai instrumen yang
berwatak netral dan menjadi mewakili seluruh
aspirasi rakyat atau menjadi wasit yang
memberikan kesempatan yang sama bagi
seluruh elemen masyarakat Indonesia. Negara
sesungguhnya adalah instrumen klas yang
berkuasa (ekonomi dan politik) untuk
melanggengkan kepentingannya dengan
cara menindas klas-klas lainnya yang mewakili
kepentingan dan aspirasi yang berbeda atau
berseberangan.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
antar elit dalam klik reaksi yang cukup keras dagangan bagi kaki tangan imperialisme untuk
dalam periode transisi pasca kejatuhan berebut pengaruh untuk bisa dipilih menjadi
rejim boneka.
Soeharto.
Negara tidak mungkin dapat
menjalankan landreform sejati dan
pembangunan industri nasional yang mandiri
di saat basis sosial yang berlaku monopoli
tanah dalam sistem agraris terbelakang yang
melanggengkan penghisapan feodalisme.
Begitu juga negara tidak mungkin dapat
menjalankan kedua aspirasi demokratis
tersebut di saat sistem ekonominya terintegrasi
dengan kapitalisme monopoli asing yang
selalu menghambat perkembangan kekuatan
produktif rakyat Indonesia. Pada aspek sistem
politik dengan sistem yang lama tentu akan
menghasilkan tindasan, dirampasnya
kebebasan demokratis, dan pelanggaran HAM
yang berat. Begitu juga halnya di aspek
kebudayaan yang akan mengalami
keterbelakangan terus menerus.
Sistem politik dalam kekuasaan yang
berlangsung pasti akan mengabdi pada
kepentingan ekonomi klas berkuasa yang
9. Lihat, www.kpu.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=42
28
sebagai Mayoritas Rakyat Indonesia:
Membedah Demokrasi Palsu Di Indonesia: Demokrasi yang Tidak Dibutuhkan Buruh dan Tani
29
sepenuhnya mengontrol negara. Tentunya,
sistem dibuat berdasarkan tujuan-tujuan
kekuatan klas yang berkuasa untuk
mempertahankan kepentingan dan masa
depan klas tersebut. Jika negara itu adalah
kediktaturan bersama borjuasi komprador dan
tuan tanah yang merepresentasikan
kepentingan imperialisme yang anti rakyat dan
anti demokrasi maka sistem politik yang ada
haruslah menjaga hegemoni kekuatan klas
tersebut.
Kepalsuan atas demokrasi telah
menjadi sebuah keniscayaan dalam watak
politik klas kapitalis monopoli. Semenjak
kapitalisme memasuki tahap tertingginya yaitu
monopoli kapitalisme di akhir abad 19.10 Maka
sistem demokrasi telah menjadi alat bagi
mereka untuk menyelubungi watak agressor
dan fasis dari imperialisme itu sendiri. Ditangan
rejim boneka dan komprador, maka demokrasi
menjadi alat manipulatif untuk menumpulkan
aspirasi rakyat.
LOST
CY
A
R
C
O
M
DE
yang monolitik. Adanya perubahanperubahan tersebut menjadi bagian
kepentingan imperialisme yang menghadapi
krisis yang berkepanjangan. Mereka
membutuhkan rejim kaki tangannya untuk
memastikan adanya kestabilan politik dan
keamanan sehingga dapat menjalankan
skema besar imperialisme atas Indonesia.
Tujuaanya tak lain adalah memastikan
Indonesia dapat menjadi negeri yang dapat
menanggung bebas krisisnya yang berlipat
ganda melalui intensitas perampokan
kekayaan alam, tenaga kerja murah, dan
menjadikan Indonesia sebagai pasar strategis
bagi produk mereka yang mengalami
overproduksi.
Dalam soal sistem politik, negara telah
menghasilkan perundangan politik (UU Pemilu,
UU Susduk, UU Pemilu Presiden dan Wakil, UU
Pemilu, UU Majelis Konstitusi, UU Parpol)
sebagai sarana strategis bagi borjuasi besar
komprador, tuan tanah besar dan kapitalis
birokrat menduduki jabatan penting dan
membuat kebijakan anti rakyat dan demokrasi.
Hanya klas-klas berkuasa besar saja yang
dapat memenuhi syarat-syarat tersebut karena
mereka mendapatkan bantuan langsung dari
imperialis. Di sisi lain, klas-klas berkuasa yang
minor kekuatannya dirugikan dan dipaksa
untuk bergabung ke salah satu klik besar jika
ingin eksis dalam politik nasional.
Kepalsuan pelaksanaan demokrasi
palsu juga terjadi di lembaga birokrasi dan
TNI/POLRI. Reformasi di kelembagaan itu hanya
memenuhi syarat-syarat formil demokrasi dan
tidak berkorelasi dengan kemajuan
pelaksanaan demokrasi dan pemenuhan hakhak demokratis rakyat. Watak korup dalam
kelembagaan birokrasi pemerintahan
termasuk puluhan lembaga pemerintahan non
struktural (seperti KPK, KY, Komnas
Ham/Perempuan, KIP, Kompolnas, KPU, KPI, dll)
melekat dalam dirinya karena berdiri dalam
sistem yang korup. Birokrasi pemerintahan
nasional sampai tingkat kabupaten/kota
merupakan penentu dan pelaksana kebijakan
utama dan pelaku kapitalis birokrat yang
memanfaatkan keuntungan besar jabatannya
untuk korupsi.
Dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir
ini, negara telah menghasilkan banyak
undang-undang dan regulasi lainnya demi
perbaikan kehidupan demokrasi walaupun
tidak membawa aspirasi rakyat sejati dan
mengubah keadaan demokrasi menjadi lebih
baik. Beberapa regulasi dan perubahan
Demi politik pencitraan, Presiden Susilo
tersebut hakekatnya penyempurnaan Bambang Yudhoyono (SBY) memakai
meningkatnya fasis dalam bentuk terselubung lembaga peradilan dan KPK untuk mengatasi
dan mengarah pada pembentukan politik masalah korupsi. Fakta menunjukkan banyak
10. Lihat V.I lenin dalam buku imperialism, The Highest Stage of Capitalism, Progress Publisher, Moscow 1975.
Dalam kekuasaan klas berkuasa
tumbuh sumbur kapitalisme birokrat yang
merupakan manifestasi sifat korosif dalam
sistem setengah jajahan yang memanfaatkan
keuntungan dari kekuasaan. Kapitalisme
birokrasi adalah pada dasarnya adalah
penyalahgunaan kekuasaan oleh kaum
birokrat karena memegang simpul-simpul
kekuasaan untuk diri sendiri dan keluarga, dan
klik kekuasaannya dengan memberikan
fasilitas dan sumber daya terutama ekonomi
kepada mereka karena mendukung posisinya
di birokrasi. Para kapitalis birokrat menjadi
pembantu yang efektif bagi kekuasaan
imperialisme, borjuasi besar, dan tuan tanah
besar.
Begitu juga di tubuh TNI dan POLRI.
Reformasi institusi tersebut hanya ditujukan
pada aspek formil yakni ketidakterlibatannya
dalam bisnis yang dikelolanya dan peran
politik. Kenyataan tidak demikian. TNI selalu
bersembunyi di balik UU TNI Pasal 7 tentang
Tugas Pokok yakni mengamankan obyek vital
strategis nasional untuk melegitimasi
keterlibatannya dalam mengamankan
perusahaan-perusahaan tambang milik
imperialis dan perkebunan besar.
tanah dalam bentuk perkebunan besar,
pertambangan, hingga negara memiliki
kepentingan yang sama atas sumber daya
alam, yaitu sebagai komoditi penting bagi
monopoli kapitalis.
Perampasan tanah rakyat adalah
sebuah fenomena besar di negeri agraris
seperti Indonesia. berbagai kebijakan
pengembangan pertanian, perkebunan
hingga pengembangan koridor ekonomi
mengorbankan rakyat sebagai pesakitan.
Sebagian besar konik rakyat yang
bersinggungan dengan kebijakan pemerintah
dibidang perkebunan besar, taman nasional
hingga pertambangan menggunakan
instrumen kekerasan, manipulasi, penipuan,
kriminalisasi, hingga pemaksaan terhadap
penduduk yang menolak menyerahkan
tanahnya. Salah satunya adalah konik yang
timbul dalam kebijakan penetapan koridor
ekonomi MP3EI pemerintah yaitu:
1. Sumatera, Banten Utara: Pusat produksi
dan pengolahan hasil bumi dan lumbung
energi nasional dengan fokus sektor pada
minyak kelapa sawit/CPO, karet dan
batubara.
2. Jawa: Pendorong industri dan jasa
nasional dengan fokus sektor pada produk
makanan, tekstil dan industri alat angkut.
3. Kalimantan: Pusat produksi dan
pengolahan hasil tambang, lumbung energi
nasional dengan fokus pada sektor migas,
minyak kelapa sawit dan batubara.
4. Sulawesi, Maluku Utara: Pusat produksi dan
pengolahan hasil pertanian, perkebunan
dan perikanan nasional, dengan fokus
pada tanaman pangan, perkebunan dan
pertambangan nikel.
5.
Bali, Nusa Tenggara: Pintu gerbang
pariwisata dan pendukung pangan
nasional dengan fokus pada sektor
pariwisata serta pertanian dan peternakan.
6. Papua, Maluku: Pengolahan sumber daya
alam dan SDM dengan fokus pada
pertambangan, pertanian dan
perkebunan.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
gubernur dan bupati terkena kasus korupsi dan
berstatus tersangka termasuk anggota DPR
dan DPRD. Bahkan seluruh anggota DPRD
tersangkut kasus korupsi. Akan tetapi, usaha
tersebut bukan kesungguhan komitmen
pemerintahannya anti korupsi melainkan suatu
politik pencitraan a la fasis dengan menekan
klik klas berkuasa lainnya. Semua dilakukan
untuk memastikan klik-klik klas berkuasa lainnya
patuh terhadap kekuasaan politik monolitik.
Pseudo democracy (demokrasi palsu)
hakekatnya sangat terlihat jika kita
memperbandingkannya dengan bagaimana
perkembangan kehidupan politik-ekonomi
rakyat diberbagai klas dan golongan.
Bagaimana aspirasi politik rakyat terus dibatasi
dalam berbagai bentuk reguasi yang
mencerminkan akar fasisme dalam tubuh
Mega proyek MP3EI ini menjadi sarana
demokrasi di Indonesia. Undang-undang
seperti UU Penanganan Konik Sosial (PKS), UU ampuh melakukan perampasan tanah rakyat.
Ormas, UU Intelijen merupakan salah payung di Papua saja paling tidak satu juta hektar
tanah rakyat dirampas untuk kepentingan
“pembenar” untuk menindas rakyat.
pertanian dan korporasi raksasa. Sebaran
Dalam negara setengah jajahan dan konik agraria mencapai 98 kabupaten/kota di
setengah feudal, sektor agraria adalah sektor 22 provinsi dengan luas lahan mencapai
11
yang panas mengingat kepentingan tuan 2.043.287. Penurunan kualitas penghidupan
11. Diolah dari data dalam jurnal Bhumi no 37, April 2013.
30
Membedah Demokrasi Palsu Di Indonesia: Demokrasi yang Tidak Dibutuhkan Buruh dan Tani
sebagai Mayoritas Rakyat Indonesia:
juga terjadi secara jelas, nilai upah riil buruh
pada juni 2013 menurut BPS hanya sebesar
1.107.100, sedangkan kaum tani upah riil
perharinya hanya 39.372 pada februari 2014
atau jauh lebih rendah dari upah nominalnya
sebesar Rp 43.992 perhari. Hal ini membuktikan
bagaimana sistem demokrasi di Indonesia
sama sekali tidak berjalan searah dengan
kesejahteraan dan hak-hak ekonomi rakyat.
31
Diperkotaan praktek-praktek
pengabaian atas hak-hak demokrasi juga terus
terjadi. Bagaimana klas semi-proletariat
menghadapi berbagai tindasan fasis, seperti
penggusuran pemukiman dan tempat usaha.
Sedangkan buruh menghadapi tidasan atas
perampasan upah yang begitu masif dalam
berbagai metode. Mulai dari pemberangusan
serikat buruh (Union Busting), penangguhan
upah, hingga sistem kerja yang merugikan
buruh sebagai akibat pelaksanaan dari UU
Ketenagakerjaan tahun 2003.
Dari keadaan itu maka gerakan rakyat
demokratis yang berwatak anti imperialisme,
feodalisme, dan kapitalis birokrat yang massif
menjadi syarat bagi pencapaian perubahan
demokrasi yang fundamental. Gerakan ini
harus terdiri atas lapisan mayoritas rakyat
tertindas dan terhisap yang bersatu dan
berjuang di bawah kepemimpinan klas buruh.
Perjuangan rakyat harus dapat memblejeti
keboborokan sistem demokrasi palsu dan
mengajukan tuntutan-tuntutan demokratis
bagi perbaikan di aspek ekonomi, politik, dan
kebudayaan yang terus dikembangkan
menjadi tuntutan atas perubahan
fundamental. Perjuangan yang massif hanya
dapat dilakukan jika mayoritas rakyat dapat
dibangkitkan, diorganisasikan ke dalam
organisasi yang berwatak demokratis dan
patriotis. Inilah jawaban fundamental atas
problem demokrasi palsu yang tengah
berlangsung di Indonesia sekarang. ###
Daftar Pustaka
III. Kobarkan Gerakan Rakyat Demokratis dan
Patriotis Melawan Kekuasaan Negara Anti 1. F r a n c e s G o u d a a n d T h i j s B r o c a d e s ,
Demokrasi dan Boneka Imperialisme AS
Indonesia merdeka karena Belanda ,
Penerbit PT Serambi Ilmu Semesta, 2008
Dari uraian yang disampaikan maka 2. M.C Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200rakyat tidak bisa menggantungkan perubahan
2008, Penerbit PT Serambi Ilmu
sejati dan nasibnya kepada perubahanSemesta,Jakarta, 2008.
perubahan politik yang dikendalikan oleh klas- 3. Supeno, Sejarah Singkat Gerakan Rakyat
Indonesia untuk Kebebasan, 1982, tidak
klas yang berkuasa dalam kekuasaan politik
dipublikasikan.
negara hari ini. Sejarah pengalaman
perjuangan rakyat membuktikan bahwa 4. Wertheim, W.F, Masyarakat Indonesia dalam
Transisi, Studi Perubahan Sosial, Penerbit Tiara
perubahan dan hasil-hasilnya merupakan
Wacana, Yogyakarta, 1999
buah perjuangan yang keras dan panjang.
5. Antonio Gramsci, Democracy and Fasism,
1924.
Rakyat telah menghadapi banyak
tindasan politik dan kekerasan dari hari ke hari 6. V.I. Lenin, Imperialism The Highest Stage of
Capitalism, Progress Publisher, Moscow 1925.
di seluruh negeri. Rakyat telah melawan
tindasan dengan berbagai bentuk mulai dari 7. Tatiana Lukman, Alternatif, 2013.
kata-kata protes, aksi massa spontanitas, 8. V.I Lenin. Democracy and Dictatorship, 1919.
Collected Work, Vol 28.
sampai aksi perlawanan yang terpimpin dan
terorganisasi. Krisis dan tindasan yang 9. Jurnal Bhumi, no 17 April 2013. PPPM-STPN.
ditanggung rakyat berbuah perlawanan di 10. www.kpu.go.id
s a a t m e r e k a m e l i h a t d a n m e r a s a k a n 11. www.elsam.or.id
penghisapan, ketidakadilan, kekerasan 12. http://csis.org/les/publication/120814_
FINAL_PACOM_optimized.pdf
negara, diskriminasi, korupsi, kemiskinan,
kebohongan rejim dalam kehidupan sehari- 13. http://bdf.kemlu.go.id
hari yang berkepanjangan. Tidak sulit bagi 14. http://m.news.viva.co.id/news/read/38888
-kenapa-militer-as-dipusatkan-ke-asiarakyat memahami kenyataan yang dialaminya
pasik-dan-indonesia
dan mengerti bahwa hari demi hari tindasan
fasis semakin meningkat yang menabur benih 15. http://www.state.gov/r/pa/prs/ps/2014/
02/221714.htm?goMobile=0
perjuangan semakin berkembang seiring krisis
ekonomi yang semakin kronis.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
http://walhimalut.blogspot.com/2012_01_01_archive.html
32
Politisi Alay di tengah Rakyat Galau:
Wahai Partai Politik, Berperanlah!
Executive Summary
I. Pendahuluan
Mengamati tingkahlaku politisi melalui
media massa akan menerangkan apa
sesungguhnya jenis partai politik yang
melahirkan mereka dan bagaimana keadaan
partai politik Indonesia dewasa ini. “Itu barang
sudah masuk” dan “ngeri-ngeri sedap” adalah
ungkapan terkenal dari seorang politisi
bernama Sutan Bhatoegana. Politisi partai
demokrat ini nampaknya lebih populer dengan
ungkapan baru itu daripada kemampuannya
dalam bidang energi, komisi DPR RI yang
dipimpinnya. Bahkan, setelah kasus
“terpeleset” membuat pernyataan yang
menyinggung almarhum Gus Dur, Sutan malah
menjadi saksi dan kemungkinan tersangka
untuk kasus korupsi di Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral. Apa yang terlihat pada
dirinya di televisi ketika terjadi pemeriksaan
rumahnya oleh KPK lebih menakjubkan. Sutan
memakai kawat gigi berwarna kebiruan ketika
diwawancara wartawan. Persis perilaku
sebagian anak muda Indonesia kini yang ingin
tampil warna-warni dan menjadi pusat
perhatian.
This paper explores some sources and observes
the behavior of some politicians in Senayan and
behavior of political parties during the reform
era. The point is the relationship between the
behavior of politicians with a new Indonesian
young people culture who were called “alay”.
Reection underlying this paper is notions from
Ignatius Wibowo, Adhyaksa Dault and Yudi Latif
about the presence of bandits democracy,
Indonesia's potency as a failed state and
longtime waiting for the birth of the craving
leader for the demos. Political parties who
should responsible for producing the true
politicians, in fact bore pro alay politicians who
are more concerned with personal enjoyment
(will to pleasure), appearance, image and as
the limelight with new expressions and weird
attitude. In fact, siding with the interests of the
demos, replaced with the smooth way for the
investor group or industry . As evidence , the
laws that produced by Parliament during 2009
to 2014 sued to the constitutional court by civil
society groups. The series of political events in
2014 will be the year that makes people upset
Ruhut Sitompul adalah contoh lain
and nauseating if political parties still promoting
alay politicians and marginalize candidates politisi yang kerap jadi perhatian. Sebelum dan
sesudah berhadapan dengan laporan media
who were born from the womb of the demos.
tentang masa lalu dengan keluarganya, Ruhut
Keywords: democracy, election, political tetap menjadi politisi yang memamerkan sikap
parties, alay culture.
berlebihan, seenaknya, tidak sopan, mencaci
orang yang mengkritik1 dan lawan politik tapi
“Kelas Borjuis dengan kemampuan nansial memuja-muji setinggi-tingginya ketua dewan
yang besar dapat “membeli” negara dan pembina partainya. 2 Ruhut ditolak oleh
menjadikan negara tidak ubah sebagai panitia koleganya di DPR menggantikan Gede Pasek
yang menjalankan perintah dan kehendak Suardika menjadi Ketua Komisi III. Secara
borjuis” (I. Wibowo 2010)
penampilan pula, Ruhut menggunakan mobil
super mewah seperti yang digunakan miliarder
mantan pesepakbola Inggeris David
Beckham.3
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Oleh : Arfan Aziz & Rizki Fitriana
1. http://nasional.kompas.com/read/2014/01/ 10/1604083/Ruhut.Didemo.Soal.Sikap.Rasis. Diakses 22/02/2014.
2. http://politik.news.viva.co.id/news/read/ 446480-diminta-tak-lagi-puji-sby--apa-tanggapan-ruhut-. Diakses
22/02/2014.
3. http://m.radarbangka.co.id/rubrik/detail/ features/1541/menyorot-perilaku-dan-tunggangan-mewah-politisisenayan-tidak-peka-ada-yang-berkilah-sudah-lahir-kaya.html. Diakses 22/02/2014.
34
Politisi Alay di tengah Rakyat Galau : Wahai Partai Politik, Berperanlah!
Akan tetapi, tidak hanya Sutan dan
Ruhut yang nampaknya menganut faham
berlebih-lebihan, ingin menjadi pusat
perhatian –yang menjadi sendi budaya post
modern yang bernama 'alay'-, beberapa
politisi lain setidak-tidaknya menampilkan
kelakuan yang sama: mobil mewah merek
terbaru, jam canggih, cincin besar dan berkilau
di jari, bingkai kacamata bulat/petak-modis
dan berwarna, hingga rumah yang megah
seolah hasil dari profesi sebagai pengusaha
milyarder. Alay tidak hanya soal bahasa,
namun juga soal prilaku. Prilaku yang
melebihkan-lebihkan diri, branding personal
agar dianggap eksis, sukses, hebat, gaul dan
menjadi pusat perhatian.
Budaya alay di sisi lain jelas merupakan
keuntungan bagi kapitalisme. Gonta-ganti
model penampilan dan merek memberi
keuntungan lebih kepada pihak industri;
interaksi budaya baru lokal itu dengan sistem
ekonomi internasional bernama kapitalisme
moderen. Karenanya dapat disimpulkan,
walau secara tidak langsung, alay adalah
produk borjuis pengumpul keuntungan, dan
juga hinggap di sektor politik.4
Mulanya, seorang budayawan kolega
menganggap bahwa fenomena alay adalah
satu fakta sosial kebahasaan di kalangan
pemuda-pemudi kelas menengah Indonesia
yang mengkhawatirkan, merusak tatanan dan
sepatutnya dibuat tindakan untuk mencegah
dan menghentikan penyebarannya. Faktanya,
fenomena alay itu juga wujud tidak di kalangan
kaum muda, dan tidak hanya soal bahasa,
tetapi dalam banyak hal, termasuk dalam
perpolitikan Indonesia dewasa ini. Bahkan,
budaya pop (pop culture) alay menghinggapi
partai politik dan politisi yang dilahirkannya,
yang sepatutnya serius memikirkan negara,
bukan penampilan diri pribadi atau kelompok
oligarki dalam partai. Sebaliknya, politisi yang
serius sejenis Tri Rismaharini semakin
dipinggirkan.5 Maka, disebabkan partai politik
adalah tempat berkumpulnya para politisi,
partai politik yang terhinggapi “sindrom” alay
tentu saja menjadi semacam ruang pamer
atau show room para politisi alay.
Apa sesungguhnya alay itu? Kata Alay
tidak akan ditemukan jika kita mencarinya di
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bak hantu, dia
tidak diperhitungkan secara sik tapi ada di
tengah-tengah kehidupan kekinian. Ada yang
menyebutnya akronim Anak Layangan, ada
pula menyatakan alay itu akronim Anak
Melayu, atau bisa berarti juga Anak muda yang
Jarang dibelai dan seterusnya. Apapun, Alay
bagi kalangan kaum muda saat ini dapat
ditafsirkan sebagai tindakan (bahasa lisan,
tulisan dan sikap) manifestasi eksistensi mereka
ditengah-tengah dunia dan umat manusia
yang semakin berkembang modern. Jikalau
diterjemahkan ke dalam tindakan yang lebih
kongkrit lagi, Alay adalah bahasa yang
sengaja dibuat-dibuat, dia miskin tapi
berpenampilan seperti orang kaya, sepatu dan
pakaiannya warna-warni, kata-kata dan
kalimatnya diatur agar seperti bicara anak
orang kaya gaul. Bahasa SMSnya kerap
menampilkan huruf-huruf dan kata-kata
membingungkan. Penuh percaya diri dan ingin
diperhatikan. Tentu saja itu menunjukkan
ketidaksamaan antara apa yang diperlihatkan
dengan apa yang mereka miliki, tidak sesuai
antara citra dengan fakta. Tapi, dalam ilmu
politik modern cara ini kemudian dihalalkan
dengan istilah branding dan 'politik
pencitraan'. Bukan menonjolkan kelebihan,
tetapi hakikatnya ialah suatu yang diadaadakan, pembohongan. Sejak Susilo Bambang
Yudoyono berkuasa jurus politik pencitraan
menjadi semakin populer.6 Trik politik
pencitraan itu disisi lain (kalau tidak ingin
dikatakan sebab) bersanding dengan
kemarahan alam yang semakin menjadi-jadi.
Gunung meletus, banjir, semburan lumpur,
gempa: telah menjadikan rakyat Indonesia
galau dan gundah gulana.
Tulisan ini tentu tidak bermaksud
menghilangkan alayisme -jika bisa dikatakan
demikian- yang tengah menghinggapi partai
politik plus politisi dan tidak pula ingin memberi
obat mujarab untuk mengurangi kegalauan
rakyat, akan tetapi dimaksudkan menjadi satu
gambaran dan kritik kepada partai politik agar
kembali kepada khittah, menjadi padepokan
untuk membentuk kadernya berwatak politisi
berintegritas dan jujur, sebelum mereka sampai
4. Walau terbaca terbatas, penelitian Hizkia Yosie Polimpung bertajuk 'Alayscape dan Posisi Indonesia di Kancah
Kapitalisme Global'. (http://postfordisthighway.wordpress.com/tag/kapitalisme/) akan menjadi rujukan menarik
untuk mengawali ide tulisan ini tentang relasi budaya pop, ekonomi kapitalisme dan partai politik.
5. http://www.republika.co.id/berita/kolom/ resonansi/14/02/21/n1aidz-risma-menanglah-sebagai-marhaen-sejati
Diakses 25/02/2014.
6. Wisnu Nugroho. 2010. Pak Beye dan Politiknya: Tetralogi Sisi Lain SBY. Jakarta: Buku Kompas. Hal. XI.
35
ke kursi kekuasaan, entah sebagai wakil rakyat,
bupati, walikota, gubernur, menteri atau pun
presiden. Karenanya, esai ini akan lebih bersifat
deskriptif dan “ringan-ringan saja” agar juga
tidak menambah kegalauan.
angka golput memang sudah nampak jelas
tergerus. Pada tahun 1999 angka golput
berkisar 6,1%, pemilu 2004 golput mencapai
angka 15,1%, serta pemilu 2009 angka golput
meningkat menjadi 29,01%. 9
Sebelum pemilihan umum tahun 2004
Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh DPR,
tapi sejak ada amandemen keempat UUD
1945, pemilihan umum 2004 dua jabatan
perdana Republik Indonesia itu dipilih secara
langsung oleh rakyat. Bahkan, wakil rakyat juga
sudah mulai dipilih dengan sistem proporsional
dengan daftar terbuka. Pelaksanaan
pemilihan umum langsung ini adalah suatu
kemajuan yang orientasinya jelas
menginginkan setiap warga negara
mempunyai peran menentukan pemimpin
yang berpihak kepada mereka dan ikut
menentukan nasib negara di masa datang.
Tetapi tujuan ideal perubahan format
pemilihan umum berbanding terbalik dengan
respons masyarakat terhadap pemilihan umum
era reformasi yang semakin mengalami
penurunan pemilih.
Menjadi wacana umum bahwa
sebagian rakyat tengah muak dengan politik.
Rasa muak itu terutamanya ditujukan kepada
anggota DPR atau kepala daerah yang
dianggap melupakan nasib konstituennya
setelah mereka terpilih menjadi wakil rakyat
atau bupati/walikota.7 Setelah terpilih, mereka
yang dipilih seolah berpesta sendiri merayakan
kemenangan, menumpuk harta, mengoleksi
berbagai merek mewah pakaian, aksesoris
hingga kendaraan dan melupakan janji dan
bujuk rayu yang dilancarkan sebelum terpilih.
Karenanya, dapat dimengerti kemuakan itu
bertransformasi menjadi penurunan partisipasi
pada pemilihan umum. Estimasi pengamat
politik LIPI, Siti Zuhro, jumlah pemilih yang tidak
akan ikut serta pada pemilihan umum 2014
diperkirakan berada di atas 30%.8 Padahal,
pada tiga pemilihan umum sebelumnya trend
Penurunan angka pemilih jika merujuk
kepada argumentasi Ignatius Wibowo adalah
disebabkan cita-cita demokrasi (dari rakyat
untuk sepenuhnya kemakmuran rakyat)
melalui pemilihan umum telah terbelok –kalau
tidak sengaja dibelokkan- menjadi jalur
membuat kaya politisi dan membonceng
kepentingan borjuis. Alih-alih membuka pintu
gerbang kemakmuran, pemilihan umum DPR
maupun kepala daerah dan presiden, menjadi
pintu gerbang politisi melakukan akumulasi
kekayaan.10 Kata Ignatius11, demokrasi pada
era globalisasi hanya berarti sebuah metode
pemilihan pemimpin lewat voting, tidak ada
hubungannya dengan kedaulatan rakyat atau
warga negara, karena hanya menguntungkan
pelaku politik yang sebagiannya telah menjadi
bandit demokrasi. Lalu, apakah pemilihan
umum sebagai instrumen utama demokrasi
masih relevan? Sekalipun angka Golput
menyiratkan penolakan terhadap instrumen
sirkulasi kursi kekuasaan ini, seperti optimisme
Paul Rowland dan Adhyaksa Dault,12
nampaknya cuma pemilihan umumlah satusatunya jalan hingga hari ini untuk membuat
negara terus menerus –belajar- demokratis dan
partai politik tetap menjadi pilar utamanya.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
II. Pemilu dan Partai Politik
7. http://nasional.kompas.com/read/2013/07/ 23/1743098/Makin.Sering.Ikuti.Berita.Masyarakat.Makin.Muak.
pada.Politik. Diakses 22/02/2014.
8. http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/214/002/05/peneliti-lipi-perkirakan-angka-golput-pemilu-2014-bakal di-atas-30-persen, diakses 22/02/2014.
9. Lembaga Survei Indonesia. Pemilih Mengambang dan Prospek Perubahan Kekuatan Partai Politik. Survei Nasional,
15-25 Mei 2011.
10. Kompas, 6 Agustus 2008, Inilah Zaman Bandit Berkeliaran.
11. Kompas, 8 Oktober 2003, Demokrasi untuk Indonesia?.
12. Paul Rowland. One Pillar of Democracy: the Importance of Political Parties. Presentasi pada acara ‘Kader Bangsa
Fellowship Program’, Sukarelawan Indonesia untuk Perubahan. Jakarta, 6 Juli 2011; Adhyaksa Dault. 2012.
Menghadang Negara Gagal, Sebuah Ijtihad Politik. Jakarta: Rene Book. hlm. 200.
36
Politisi Alay di tengah Rakyat Galau : Wahai Partai Politik, Berperanlah!
Belajar demokrasi di Indonesia
sebenarnya sudah dimulai sebelum Indonesia
merdeka. Musyawarah berbagai golongan
seumpama pertemuan Jong Java, Jong
Celebes, Jong Sumatera dan Jong Ambon,
dan berbagai agama untuk mencapai
mufakat telah dilaksanakan. Bermimpi memiliki
negara Indonesia yang demokratis juga sudah
ada sejak pertemuan para pemuda tahun
1928 dan mencapai kemufakatan isi sumpah
yang kemudian diproklamirkan. Cita-cita
negara demokratis semakin eksis ketika
Pemilihan Umum pertama tahun 1955
terlaksana. 172 partai politik ikut serta, Namun
tiada keributan tercipta, menjaga negara
yang masih berusia muda, 10 tahun.13 PNI,
Masyumi, NU dan PKI menjadi empat partai
dengan peroleh suara di atas 10 %. Berikutnya,
Pemilihan Umum kedua baru dilakukan pada
era Orde Baru tahun 1971 dan diteruskan tahun
1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Total
Indonesia sudah berpengalaman
melaksanakan 10 kali pemilihan umum,
termasuk pemilihan umum pada era reformasi
tahun 1999, 2004 dan 2009. Pertanyaan
berikutnya, apakah dengan persiapan pra
Republik dan 10 kali pemilihan umum dalam
kondisi telah menjadi Republik itu Indonesia
belum juga belajar demokrasi? Jawabannya
tentu sudah. Namun, akhir-akhir ini Indonesia
semakin mahir mempraktekkan demokrasi
liberal yang tersandera oleh kerakusan pasar
dan kepentingan kartel bisnis, tidak hanya oleh
para politisi tetapi juga para pemilik modal
yang membonceng para politisi yang masuk ke
parlemen. Akibatnya, ketika para politisi ini
duduk di parlemen, pasal-pasal dalam
undang-undang yang ditetapkan oleh politisi
produk pemilihan umum itu menjadi milik para
pemodal. Pendaftaran revisi undang-undang
strategis hasil kerja DPR oleh organisasi
masyarakat sivil melalui Mahkamah Konstitusi
adalah manifestasi adanya jual beli pasal di
DPR.14 Keadaan ini semakin menjauhi
semangat 'eka sila' gotong royong, hasil peras
dari Pancasila, seperti yang dikemukakan Bung
Karno ketika sidang BPU PKI tentang dasar
negara pada 1 Juni 1945.15 Apapun, sebelum
membahas sikap rakus tersebut, teori politik
tentang pemilihan umum dan partai politik
penting juga diuraikan terlebih dahulu.
Secara teori, pemilihan umum
sebenarnya merupakan sarana menunjukkan
rakyat berdaulat. Pemilihan umum yang
berkualitas dapat diukur dari dua sisi, proses
dan hasil pemilihan umum itu sendiri. Dari sisi
proses pemilihannya, taat kepada asas
demokratis, aman, tertib, lancar serta jujur dan
adil. Sedangkan dari sisi hasil, pemilihan umum
berkualitas adalah yang menghasilkan wakil
rakyat dan pemimpin yang mampu
menyejahterakan rakyat serta mampu
mengangkat martabat bangsa di mata
dunia. 16 Artinya, pemerintahan demokrasi
seharusnya adalah pemerintah yang takluk
kepada persetujuan mayoritas rakyat dan
menjalankan tugas-tugas dan kebijakannya
untuk melaksanakan kehendak rakyat dengan
memperhatikan perasaan kelompok minoritas.
Prasyarat demokrasi sebegini adalah adanya
suasana yang lebih terbuka untuk berpolitik
dimana rakyat dapat melibatkan diri secara
aktif dalam kegiatan politik, termasuk memilih
dan dipilih dalam pemilihan umum.
Namun, menurut Milbrath17 seseorang
akan merasa peka dan melibatkan diri dalam
kegiatan politik apabila telah mempunyai
sikap, persepsi, minat, dan pemahaman yang
cukup mengenai politik. Sikap, persepsi dan
pemahaman tentang politik rakyat ditentukan
oleh berperan atau tidaknya partai politik
dalam melakukan dan mempraktekkan politik
ideologis dan ideal. Sayangnya, peran itu
belum –untuk mengatakan tidak- dilakukan
oleh partai politik. Pendidikan politik hanya
dilakukan oleh media informasi atau aktoraktor politik lokal yang bersifat patronase.
Keterlibatan seseorang dalam kegiatan politik
seperti memasuki organisasi politik dan dapat
mengikuti perkembangan politik sepenuhnya
bergantung kepada media massa. Padahal,
media terkadang juga dikawal oleh
kepentingan partai tertentu yang sudah
terlanjur alay dan pragmatis.
13.Menurut Adhyaksa Dault. 2012. Menghadang Negara.. hlm. 106: “ Bahkan, Ketua Umum Partai Masyumi M. Natsir
dan Ketua Komite Sentral (CC) PKI DN. Aidit, yang secara ideologis sangat berseberangan pun, di luar urusan
politik mereka tetap bisa menjalin tali silaturrahim…mereka sering minum kopi bersama di kafe DPR..”.
14. http://mediaumat.com/media-utama/ 3564-71-jual-beli-pasal-membela-yang-bayar.html. Diakses 21/02/2014.
15. Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR Periode 2009-2014. 2012. Empat pilar kehidupan berbangsa dan
bernegara. Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI.
16. Rozali Abdullah. 2009. Mewujudkan Pemilu yang Lebih Berkualitas. Jakarta: PT. Raja Grando, hlm.3.
17. Milbrath, Lester. 1965. Political Participation, How and Way, Do get Involved in Politics. Chicago: Rand McNally,
hlm.68.
37
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Maka bagi seseorang yang menyerap “ilmu
politik” dari media, terutama ilmu trik
pencitraan, nampak akan cenderung menjadi
politisi alay dan pragmatis. Oleh karena itu,
substansi pemilihan umum yang demokratis
akan ditentukan oleh partai politik yang
berkualitas. Partai politik tetap menjadi faktor
yang sangat berpengaruh bagi penentuan
kekuasaan dan kepemimpinan politik masa
datang.
penguasaan pemerintah bagi pemimpin
partainya, dan berdasarkan penguasan ini
memberikan kepada anggota partainya
kemanfaatan yang bersifat ideal maupun
materil. (A political, party is a group of human
beings, stably organized with the objective of
securing or maintaining for its leaders the
control of a government, with the further
objective of giving to members of the party,
through such control ideal and material
benets and advantages); Kedua, menurut
R.H. Soltou: Partai Politik adalah sekelompok
warga negara yang sedikit banyaknya
terorganisir, yang bertindak sebagai satu
kesatuan politik, yang dengan memanfaatkan
kekuasan memilih, bertujuan menguasai
pemerintah dan melaksanakan kebijakan
umum mereka; Ketiga, Sigmund Neumann
dalam bukunya modern political parties
mendenisikan Partai Politik sebagai organisasi
dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk
mendapat kekuasan pemerintah serta
merebut dukungan rakyat atas dasar
persaingan melawan golongan-golongan lain
yang tidak sepaham (A political party is the
articulate organization of society's active
political agents; those who are concerned with
the control of governmental polity power, and
who compete for popular support with other
group or groups holding divergent views).
Miriam Budiardjo sendiri membuat kesimpulan
bahwa partai politik sebagai suatu kelompok
yang terorganisir yang anggota-anggotanya
mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita
yang sama dengan tujuan memperoleh
kekuasaan politik dan merebut kedudukan
politik (biasanya), dengan cara konstitusional
guna melaksanakan kebijakan-kebijakan
mereka.
Pelaksanaan pemilihan umum
Indonesia instrumen utamanya jelas partai
politik. Undang-Undang nomor 2 tahun 2008
pasal 1 mendenisikan partai politik sebagai
“..organisasi yang bersifat nasional dan
dibentuk oleh sekelompok warga negara
Indonesia secara sukarela atas dasar
kesamaan kehendak dan cita-cita untuk
memperjuangkan dan membela kepentingan
politik anggota, rakyat, bangsa dan negara,
serta memelihara keutuhan negara kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945”. Maka, partai
politik seperti juga cita-cita dilaksanakannya
pemilihan umum adalah untuk menegakkan
Dari beberapa denisi ini, dapat
keberpihakan kepada rakyat Indonesia secara disimpulkan bahwa partai politik sepatutnya
umum.
menjadi organisasi yang dibentuk oleh
sekumpulan orang yang memiliki cita-cita yang
Secara ideal, partai politik merupakan sama untuk benar-benar memperjuangkan
wahana bagi kumpulan individu yang memiliki dan membela kepentingan politik rakyat,
aspirasi politik yang sama untuk mempengaruhi bangsa dan negara, serta memelihara
jalannya pemerintahan.18 Miriam Budiardjo19 keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD
menguraikan beberapa pengertian partai 1945.
politik sebagai berikut: Pertama, menurut Carl J.
Friedrich: Partai Politik adalah sekelompok
Secara teori pula, menurut Miriam
manusia yang terorganisir secara stabil dengan Budiarjo,20 partai politik juga memiliki empat
tujuan merebut atau mempertahankan fungsi, yaitu:
18. Adhyaksa Dault. 2012. Menghadang Negara.., hlm. 199.
19. Miriam Budiardjo. 2000. Pengantar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia, hlm. 161.
20. Miriam Budiardjo. 2000. Pengantar Ilmu.., hlm. 163-164.
38
Politisi Alay di tengah Rakyat Galau : Wahai Partai Politik, Berperanlah!
(i) Sebagai sarana komunikasi politik, dengan
landasan bahwa sistem politik yang sehat harus
didukung oleh komunikasi politik yang
dijalankan dan digiatkan oleh partai-partai
politik. Fungsi komunikasi politik ini adalah fungsi
utama partai politik seperti yang diungkap
Gabriel Almond:21 “all the function performed in
the political system – political socialization and
recruitment, interest articulation, interest
agregration, rule making, rule application, and
rule adjudication – are performed by means of
communication. (Semua fungsi yang terdapat
dalam sistem politik –sosialisasi dan rekrutmen
politik, perumusan kepentingan,
penggabungan kepentingan, yang dapat
menghasilkan peraturan serta kemudian
menjalankan peraturan tersebut- adalah
merupakan bagian dari kajian komunikasi).
Secara sederhana fungsi komunikasi politik
partai politik artinya partai berperan sebagai
jembatan antara pemerintah dan rakyat.
Partai politik menampung aspirasi, tuntutan
dan protes rakyat, agar dapat dirumuskan dan
disampaikan melalui kader-kader partai
kepada pemerintah atau yang menjabat
s eb a ga i p em eri nta h. S el a i n i tu, f ungs i
komunikasi politik bermaksud bahwa partai
sebagai pembicara dan transalator untuk
menterjemahkan kebijakan pemerintah yang
menggunakan bahasa teknis kedalam bahasa
yang mudah dipahami rakyat dan
menyebarluaskan apa yang merupakan
rencana atau kebijakan umum kepada rakyat.
(ii) Fungsi partai politik juga sebagai alat
sosialisasi politik yang artinya partai politik
berorientasi membangun pemikiran rakyat
akan tanggung jawabnya sebagai warga
negara. Dalam metode penyampaiannya,
sosialisasi politik yang dilakukan oleh sebuah
partai politik dibagi menjadi dua cara:
pertama, proses sosialisasi dialogis antara
pemberi pesan dan penerima pesan. Melalui
proses ini, rakyat akan mengenal dan
mempelajari nilai-nilai, norma-norma, simbolsimbol politik negaranya dari berbagai pihak
dalam sebuah sistem politik. Pendidikan politik
dialogis juga dipandang sebagai proses
interaksi antara pendidik (sekolah, pemerintah,
partai politik) dan peserta didik (rakyat) dalam
rangka pemahaman dan pengamalan nilainilai, norma-norma dan simbol-simbol politik
yang dianggap ideal dan baik. Partai politik
dalam sistem politik yang demokratis,
melaksanakan fungsi sosialisasi politik seperti ini;
Kedua, proses sosialisasi yang bersifat
indoktrinasi atau proses sepihak dimana
penguasa memobilisasi dan memanipulasi
rakyat untuk menerima nilai-nilai, norma-norma
dan simbol-simbol yang dianggap oleh yang
sedang berkuasa sebagai sesuatu yang ideal
dan baik. Melalui proses peng-arahan yang
bersifat psikologis, partai politik dalam sistem
politik yang totaliter dan diktatorial
melaksanakan fungsi sosialisasi politik dengan
bentuk ini.
(iii) Partai sebagai alat rekrutmen dan kaderisasi
yang bermaksud bahwa partai politik sebagai
sarana meningkatkan partisipasi politik rakyat
atau memiliki andil dalam hal: menyiapkan
kader-kader pimpinan politik; melakukan
seleksi terhadap kader-kader baru; serta
perjuangan untuk menempatkan kader yang
berkualitas, berdedikasi, memiliki kredibilitas
yang tinggi, serta mendapat dukungan dari
rakyat pada jabatan-jabatan politik yang
bersifat strategis. Makin besar andil partai politik
dalam memperjuangkan kader yang
terpercaya, maka makin berhasil partai politik
meningkatkan posisi tawarnya untuk
memenangkan perjuangan politik jangka
panjang serta menunjukkan indikasi bahwa
peran partai politik sebagai sarana rekrutmen
politik berjalan secara efektif
(iv) Partai sebagai sarana penyelesai konik.
Dalam situasi sosial yang bersifat heterogen
seperti Indonesia, yang terdiri dari berbagai
macam etnis, agama dan lapisan ekonomi,
akan terdapat celah munculnya konik. Peran
partai politik sangat diperlukan untuk
membantu mengatasinya, atau sekurangkurangnya meminimalisasi sebab-sebab
gesekan dan konik yang akan muncul.
Dari empat fungsi partai politik ini,
fungsi kaderisasi dan rekrutmen adalah yang
paling utama. Kaderisasi menentukan kualitas
partai politik dan politisi juga menghadirkan
pemilihan umum yang benar-benar
bermanfaat bagi rakyat. Sayangnya,
rekrutmen politisi oleh partai politik di Indonesia
kebanyakan terjadi setelah pemilihan umum
semakin dekat. Tidak pernah ada waktu lama
untuk melaksanakan kursus-kursus politik. Tiada
pembekalan berjenjang. Apalagi evaluasi
pembacaan terhadap kapasitas dan integritas
kader baru yang terkadang hanyalah “kutu
21. Almond, Gabriel A., & James S. Coleman (Ed.). 1960. The Politics Of The Developing Areas. Princenton NJ:
Princenton University Press.
39
Rumusan teoritiknya, setiap anggota
partai belum tentu dapat menjadi kader.
Hanya kaderlah yang patut dimajukan sebagai
calon legislatif atau pemimpin eksekutif. Untuk
menjadi seorang kader partai politik, maka
seseorang harus mengikuti proses seleksi ketat
menjadi kader. Proses seleksi ini berbentuk
pendidikan politik yang tujuannya
meningkatkan kualitas dan karakter kader
sebagai calon pemimpin. Proses pendidikan ini
dapat dibagi dalam tiga fase, antara lain:26
fase pemahaman arti organisasi, penanaman
loyalitas dan dedikasi; fase membuka
wawasan berpikir yang berdasarkan ideologi
partai, dan menyatukannya dengan dinamika
dan kreativitas dalam pengembangan
organisasi; dan fase membentuk individu yang
memiliki kemampuan konseptual, berkir
sistematis dan strategis, mampu menganalisis
peristiwa politik serta mampu merancang
strategi ke depan. Jenjang terakhir
diperuntukan bagi calon-calon politisi. Pada
fase ini kader akan digodok menjadi caloncalon politisi yang akan menduduki jabatan
legislatif maupun eksekutif. Apakah Sutan dan
Ruhut sudah diproses dalam fase-fase ini? Tentu
saja bukan hanya partai demokrat yang alpa
kaderisasi, partai-partai lain juga berperangai
sama, menampilkan “kader-kader” yang terjun
bebas dalam kancah politik. Akibatnya adalah
menimbulkan kegalauan politik dan
kebangsaan.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
loncat” politik, terbang dari satu partai ke
partai lainnya. Fungsi partai hanya menjadi
wadah rekrutmen politisi dadakan untuk
memenuhi syarat dan logistik partai menjelang
pemilihan umum. Padahal partai politik
sungguh perlu melakukan proses kaderisasi
yang bertujuan untuk membentuk kader-kader
partai yang berkualitas. Sekali lagi, hanya
dengan memiliki kader-kader yang berkualitas
maka sebuah partai politik bisa mempunyai
kesempatan yang besar untuk
mengembangkan partai lebih besar lagi.
Kamus Umum bidang hukum dan
politik22 mengartikan kaderisasi sebagai proses,
cara, membentuk seorang kader. Sedangkan
kader itu sendiri memiliki dua pengertian23 (i)
orang yang disiapkan untuk memegang
jabatan penting dalam pemerintahan, partai,
unit kerja dan sebagainya; (ii) Kader adalah
orang yang diharapkan bakal mampu
memangku jabatan yang penting dikemudian
hari. Singkatnya, kaderisasi merupakan sebuah
proses penyiapan sumber daya manusia agar
kelak mereka menjadi para pemimpin yang
mampu membangun peran dan fungsi
organisasi secara lebih bagus. 2 4 Dalam
pengkaderan itu sendiri terdapat dua
persoalan penting. 25 Pertama, bagaimana
usaha-usaha yang dilakukan oleh organisasi
untuk meningkatkan kemampuan anggota,
baik keterampilan maupun pengetahuan;
Kedua, adalah kemampuan untuk
menyediakan stok kader atau individu yang
dikhususkan ditempati oleh kalangan muda.
Kemampuan sebuah partai politik untuk
melakukan proses kaderisasi terhadap
anggota-anggotanya sangat dipengaruhi
oleh kemampuan pengurus sebuah partai
politik dalam menyediakan pendidikan dan
pelatihan secara intensif pada bidang-bidang
tertentu terhadap kader-kadernya.
Sejumlah artis ikut serta menjadi politikus dadakan
III. Kegalauan Rakyat Indonesia
Berbeda dengan alay, kata galau
walau saat ini menjadi semakin tenar, kata itu
ada dalam kamus besar bahasa Indonesia
(KBBI). Dalam KBBI galau berarti kacau tidak
22. Zainul Bahri. 1996. Kamus Umum, Khususnya Bidang Hukum dan Politik. Bandung: Angkasa.
23. Peter Salim. 2002. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern English Press.
24. Koirudin. 2004. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
hlm.113
25. Koirudin. 2004. Partai Politik.., hlm. 114
26.Rochayat Harun dan Sumarno. 2006. Komunikasi Politik Sebagai Suatu Pengantar. Bandung:
Mandar.
40
?
?
?
?
?
Politisi Alay di tengah Rakyat Galau : Wahai Partai Politik, Berperanlah!
keruan (pikiran).27 Dalam pengertian
sederhana galau juga berarti: suasana hati dan
kiran yang kacau atau tidak karuan, karena
menghadapi satu atau banyak masalah.
Suasana hati dan kiran inilah yang sebenarnya
sedang dihadapi oleh rakyat Indonesia saat ini.
Rakyat galau karena terlampau
banyak masalah. Di tengah kehadiran
bencana alam yang silih berganti, kasus-kasus
korupsi yang diungkap Komisi Pemberantasan
Korupsi memperlihatkan bahwa mereka yang
tertangkap, politisi elit-elit negeri produk
pemilihan umum dan pilkada, seolah sedang
berdendang dan menari-nari mengumpulkan
harta hasil korupsi. Berbagai merek kendaraan
dikoleksi, dari Innova hingga Ferrari. Dari Harley
Davidson hingga Lamborghini. Sedangkan di
sisi lain masalah dihadapi rakyat semakin hari
semakin menjadi-jadi. Tidak hanya bencana
alam; lapangan pekerjaan, tanah yang
dimonopoli perusahaan-perusahaan besar,
pendidikan dan kesehatan yang katanya gratis
tetapi berbayar, telah membuat rakyat
semakin rusuh hati sambil terus menjadi
penonton akrobat politisi.
Kegalauan rakyat semakin menemui
titik kulminasi ketika produk perundangan yang
dihasilkan lebih menyebelah pihak industri dan
korporasi daripada mendorong terwujudnya
ekonomi kerakyatan. Adanya UU No 25/2007
tentang Penanaman Modal, UU No 7/2004
tentang Sumber Daya Air, UU No 27/2003
tentang Panas Bumi (Geothermal), UU No
5/1960 tentang Agraria, dan UU No 20/2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta UU
No 9/2009 tentang Mineral dan Batubara
(Minerba) yang pasal-pasalnya masih memberi
peluang terjadinya penghisapan kaum modal
dan berpunya terhadap rakyat miskin, kaum
tani, buruh dan nelayan menjadi bukti. Produk
DPR yang akan digugat kelompok masyarakat
sivil ke Mahkamah Konstitusi adalah sinyal
bahwa undang-undang yang dihasilkan cacat
sosial, tidak beralaskan keadaan sosial
ekonomi rakyat yang memilih mereka.28
Kegalauan rakyat semakin beralasan
jika melihat perebutan tanah yang terjadi
antara kaum tani miskin dengan negara plus
korporasi. Laporan HuMa 2012, sepanjang
enam tahun sudah terjadi konik perebutan
tanah dan sumber daya alam yang manifest di
22 provinsi dan 98 kabupaten di Indonesia.29
Dominasi korporasi perkebunan, kehutanan
dan pertambangan atas tanah membawa
derita kepada rakyat Indonesia, terutama
kaum tani agraris. Pemerintah dan legislatif
yang dihasilkan melalui partai politik dan
pemilihan umum seakan lebih berpihak
kepada korporasi daripada membela rakyat.
Padahal, sebelumnya rakyat terus menerus
distimulus untuk berpartisipasi pada setiap
pemilihan umum. Rakyat dimotivasi untuk
datang ke bilik pencoblosan, tapi hak-hak
ekonomi dan sosialnya masih saja diabaikan
oleh negara.
Para politisi –seperti digambarkanoleh almarhum Ignatius Wibowo, 3 0 yang
meminjam tesis Mancur Olson, 3 1 sudah
menunjukkan karakternya menjadi banditbandit demokrasi, baik bandit menetap
(stationary bandits) maupun bandit
mengembara (roving bandits). Kedua jenis
bandit demokrasi itu membahayakan negara
dan rakyat yang telah memilih demokrasi,
pemilu dan partai ppolitik sebagai pilihan cara
sirkulasi kekuasaan. Atau, seperti dinyatakan
oleh Yudi Latif, keberpihakan politisi yang
menjadi pemimpin dan wakil rakyat itu adalah
hanya kepada elit-elit partainya
(ashobiyah/fundamentalisme kelompok) dan
kepada pasar (fundamentalisme pasar),
kecenderungannya hanya kekuasaan (the will
to power) dan kesenangan (the will to
pleasure), bukan membela demos sebagai inti
demokrasi.32 Demokrasi sejati tidak tercipta dan
27. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008). Hal: 407
28. http://muslimdaily.net/berita/ekonomi/ setelah-uu-migas-muhammadiyah-siap-menggugat-uu-minerba.html
diakses 25/02/2014
29. http://www.mongabay.co.id/2013/02/16/ tersebar-di-98-kabupaten-konik-agraria-didominasi-sektorperkebunan-dan-kehutanan/. Diakses 22/02/2014.
30. Kompas, 8 Oktober 2003, Demokrasi untuk Indonesia?.
31. Mancur Olson. 2000. Power and Prosperity. New York: Basic Book.
32. http://www.republika.co.id/berita/kolom/ resonansi/14/02/18/n16out-pimpinan-idaman. Diakses 22/02/2014
41
?
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
justru Indonesia menuju kepada kemungkinan tugasnya menciptakan wakil rakyat sejati.
negara gagal. 33
Rakyat sangat mampu menghukum partai
politik jika perangai partai dan politisi yang
Kegalauan rakyat yang juga menjadi diproduksinya tetap tidak berubah. Seperti
kegalauan sebagian pemikir seperti Ignatius kata David moon tentang voting behaviour,
Wibowo, Yudi Latif dan Adhyaksa Dault rakyat pemilih dapat menghitung lagi
sepatutnya menjadi perhatian para praktisi keuntungan dan kerugian atas keputusan
politik menjelang pemilihan umum legislatif mereka untuk hadir atau tidak hadir memilih.34
April 2014 ini. Walaupun sah seorang artis, orang
kaya dan keturunan keluarga terpandang
Karena partai politik seharusnya
menjadi politisi, dan sah juga apabila Sutan menjadi sarana membangun kesadaran
dan Ruhut dan politisi sejenisnya mencalonkan anggotanya tentang politik ideologis, maka
diri di pemilihan umum, kebimbangan tugas partai juga membuat mereka dapat
terhadap kemampuan mereka menjadi wakil berprilaku berbangsa dan bernegara yang
dan menyuarakan rintihan derita rakyat tetap benar melalui pendidikan politik dan karakter
meragukan. Mereka lebih memihak partai dan ideal di internal partai.
pasar. Point departure mereka adalah
kelompok warga negara yang biasa hidup IV. Penutup
tanpa masalah karena pengakuan mereka
Pemilihan umum 2014 tinggal
sudah dilahirkan kaya. Jika memang mereka
terpaksa diterima menjadi politisi maka disinilah menghitung hari. Kegalauan rakyat tetap harus
pentingnya peran partai politik, membentuk dijawab dengan solusi. Partai politik berperan
karakter mereka menjadi wakil rakyat sejati, penting memberi jawaban kepada rakyat
bukan memberdayakan mereka semata-mata dengan memproduksi sebanyak mungkin
sebagai pusat perhatian atau model cantik orang-orang baik, jujur, sederhana dan
dan tampan untuk menjadi pendulang suara m e m b a w a s o l u s i . P a r t a i p o l i t i k j u g a
bertanggung jawab untuk mencampakkan
(vote gathering).
jauh-jauh orang yang pernah terlibat dalam
Partai politik juga harus berhenti partainya tapi terbukti terkait korupsi atau
merekrut anak-anak orang kaya demi t e r b u k t i b e r k o n s p i r a s i m e n g h i a n a t i
kepentingan menambah pundi logistik partai. kepercayaan rakyat dan kepercayaan partai
Partai politik dan pemimpin partai sepatutnya yang mencalonkannya.
insaf bahwa loyalitas terhadap organisasi akan
Akhirnya, kegundahan Ignatius
ditunjukkan dengan kesediaan anggotanya
memberikan sumbangan atau berkorban Wibowo tentang semakin merajalelanya
untuk organisasi, samaada nansial, tenaga bandit-bandit demokrasi di Indonesia dan
maupun kiran. Kalau seorang politisi loyal kekhawatiran Adhyaksa Dault tentang negara
terhadap marhaenisme PDIP tentu dia akan Indonesia yang berpotensi menjadi negara
berkorban untuk tegaknya ideologi itu, atau gagal, serta kerinduan Yudi Latif kepada
kalau dia loyal terhadap politik Islami PPP dan Pemimpin Idaman, harus menjadi tantangan
partai sejenisnya tentu dia akan berkorban bagi partai politik melaksanakan fungsi
untuk menegakan ide-ide sistem politik yang kaderisasi dan penyelesai masalah, serta
Islami. Rakyat pasti inginkan wakil rakyat yang menegakkan khittah asalnya sebagai kawah
merupakan produk partai politik adalah candradimuka melahirkan politisi yang dicintai
personal yang rela berkorban, jujur, sederhana rakyat. Partai Politik demos akan melahirkan
dan menjadi solusi bagi problem rakyat, bukan politisi demos. Sebaliknya, politisi alay jangan
personal yang alay, menumpuk-numpuk, diberi ruang lagi. Jika partai masih memberikan
orang-orang alay kesempatan, seperti pesan
pamer harta dan cari perhatian.
Nabi Muhammad ketika berdialog dengan
Rakyat akan semakin memperlihatkan para sahabatnya, kita akan menunggu saja
kuasanya jika partai politik dan para politisi “apabila sesuatu urusan diserahkan kepada
semakin sibuk berhias, melakukan branding diri b u k a n a h l i n y a , m a k a t u n g g u l a h s a a t
menjelang pemilihan umum dan melupakan kehancurannya” (HR. Bukhari).
33. Ignatius WIbowo. 2010. Negara dan Bandit Demokrasi. Jakarta: Kompas; Adhyaksa Dault. 2012. Menghadang
Negara Gagal: Sebuah ijtihad politik. Jakarta: Renebook.
34. Hasanuddin M. Saleh. Perilaku Tidak Memilih Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Langsung Di Riau: Suatu
Bahasan Awal. Makalah pada seminar yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Politik Pasca Sarjana Universitas
42
Politisi Alay di tengah Rakyat Galau : Wahai Partai Politik, Berperanlah!
43
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Laman Internet:
Adhyaksa Dault. 2012. Menghadang Negara
Gagal, Sebuah Ijtihad Politik. Jakarta: Rene
Book.
Almond, Gabriel A., & James S. Coleman (Ed.).
1960. The Politics Of The Developing Areas.
Princenton NJ: Princenton University Press.
Miriam Budiardjo. 2000. Pengantar Ilmu Politik.
Jakarta: Gramedia.
Hasanuddin M. Saleh, Perilaku Tidak Memilih
Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
Langsung Di Riau: Suatu Bahasan Awal,
Makalah pada seminar yang diselenggarakan
Program Studi Ilmu Politik Pasca Sarjana
Universitas Riau, 2 September 2007 di
Pekanbaru
Ignatius WIbowo. 2010. Negara dan Bandit
Demokrasi. Jakarta: Kompas.
Koirudin, Partai Politik dan Agenda Transisi
Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004
Kompas, 6 Agustus 2008, Inilah Zaman Bandit
Berkeliaran.
Kompas, 8 Oktober 2003, Demokrasi untuk
Indonesia?
Lembaga Survei Indonesia. Pemilih
Mengambang dan Prospek Perubahan
Kekuatan Partai Politik. Survei Nasional, 15-25
Mei 2011.
Mancur Olson. 2000. Power and Prosperity. New
York: Basic Book.
Milbrath, Lester. 1965. Political Partisipation,
How And Way, Do Get Involved In Politics.
Chicago: Rand Mcnally.
Wisnu Nugroho. 2010. Pak Beye dan Politiknya:
Tetralogi Sisi Lain SBY. Jakarta: Buku Kompas.
Paul Rowland. One Pillar of Democracy: the
Importance of Political Parties. Presentasi pada
acara 'Kader Bangsa Fellowship Program',
Sukarelawan Indonesia untuk Perubahan.
Jakarta, 6 Juli 2011
Peter Salim. 2002. Kamus Bahasa Indonesia
Kontemporer. Jakarta: Modern English Press.
Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR
Periode 2009-2014. 2012. Empat pilar kehidupan
berbangsa dan bernegara. Jakarta:
Sekretariat Jenderal MPR RI.
Rochayat Harun & Sumarno. Komunikasi Politik
Sebagai Suatu Pengantar. Bandung: Mandar
Rozali Abdullah. 2009. Mewujudkan Pemilu
yang Lebih Berkualitas. Jakarta: PT. Raja
Grando.
Zainul Bahri. 1996. Kamus Umum, Khususnya
Bidang Hukum Dan Politik. Bandung: Angkasa.
http://muslimdaily.net/berita/ekonomi/setelah
-uu-migas-muhammadiyah-siap-menggugatuu-minerba.html. Diakses 25/02/2014
Diakses 22/02/2014.
http://www.mongabay.co.id/2013/02/16/ters
ebar-di-98-kabupaten-konik-agrariadidominasi-sektor-perkebunan-dankehutanan/. Diakses 22/02/2014.
Diakses 22/02/2014.
http://www.republika.co.id/berita/kolom/reso
nansi/14/02/21/n1aidz-risma-menanglahsebagai-marhaen-sejati Diakses 25/02/2014.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
http://www.urbancult.net/2013/04/25/06042013-0913-wib-08042013-2258-wib/
44
8. Miles de personas protestan en Brasil por alza del transporte público EFE, Jueves, 13 de Junio 2013 | 10:15 pm
9. video.es.msn.com/...manifestacion... brasilenos/x9dpvg...Telesur, La Senal Informativa de America Latina
Membangun Gerakan Politik Kerakyatan -Refleksi Pengalaman
Pemilu Amerika Latin- Afrika
handful of elite representing the interests of
bureaucratic and comprador capitalists and
The article begins by describing a little about landlords who serve the foreign capital and the
the political game and the hypocrisy of the elite imperialist forces headed by the United States.
class who unscrupulously acted against the will
of the people reected in the votes cast for PDI- The last part of the article introduces Arundhati
P in the 1999 elections, in order to safeguard the Roy, a prominent Indian intellectual who
interests of the dominant class in Indonesia. The exposes the real meaning of "democracy"
concerns of the reactionary click about the practiced in her country. The reality over the last
policies which could have been taken by 50 years which has proved that the people of
Megawati as President were totally groundless India have no access to the "democratic" state
and it had been proved by the absence of any institutions led her to believe that the only
noteworthy change when the chairwoman of solution is a systemic change.
the PDI-P held ofce as president.
The vast majority of the people are the one most
This article does not pretend to explain in detail interested that there is a fundamental change
the electoral system in force in Latin American which will bring about a genuine people's
and African countries. What I would like to democracy where their rights and interests will
emphasize is the similarity that is clearly visible in be protected. Therefore, it is only the people
the policies and practices of the social themselves who will be able to make it happen.
democratic presidents who came to power Thus, there is no other way except to gradually
after their parties won the election in countries b u i l d a s t r o n g a n d i n d e p e n d e n t m a s s
like Paraguay, Brazil and South Africa. Social movement involving millions of peasants,
democratic parties have failed to solve the workers, urban poor, shermen and other
fundamental problems faced by semi-feudal working class to ght together to free
semi-colonial countries, namely the problem of themselves from exploitation and repression.
peasants and the issue of land. The failure of
solving this key issue makes it impossible to move I. Permainan politik dan konspirasi mengabdi
further to deal with poverty, the gap between kepentingan klas yg berdominasi
the poor who have nothing and the few who
Ketika Suharto lengser tahun 1998,
have everything and other social problems
banyak orang mengharapkan sebuah
inherent in a society based on exploitation.
perubahan besar terjadi dengan apa yang
To explain the similarities in the "results" dinamakan era reformasi. Berbagai macam
a c h i e v e d b y t h e s o c i a l d e m o c r a t i c partai politik bermunculan, berlomba dalam
governments, it is necessary to refer to the pemilihan umum legislatif. Dalam pemilu 1999
notion of base and superstructure. The di mana turut serta 43 partai politik, PDI-P
superstructure is the whole of legal and political berhasil menjadi partai terbesar dengan
institutions, religion, ideology and culture which memenang-kan 33.74% dari suara pemilih
are founded on the economic structure/base. (data dari Wikipedia). Namun suara mayoritas
The legislation and presidential election system rakyat dengan terang-terangan diabaikan
could be different from one country to another. dan melalui lobi-lobi di antara apa yang
However, as part of the superstructure, its class d i n a m a k a n “ p o r o s t e n g a h ” M e g a w a t i
nature could only be two: on the side of the Sukarnoputri digagalkan untuk menduduki
majority of the people or on the side of a jabatan Presiden. Hasil dari kompromi akhirnya
Executive Summary
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Oleh Tatiana Lukman
46
Membangun Gerakan Politik Kerakyatan -Refleksi Pengalaman Pemilu Amerika Latin- Afrika
menaikkan Gus Dur yang partainya hanya pekerja lainnya. Demokrasi borjuis atau
meraih suara 12,61%.
demokrasi semu memang bukan demokrasi
yang memberi ruang partisipasi seluas-luasnya
Dengan kekuasaan di tangannya, Gus kepada rakyat jelata. Hasil pemilu yang lahir
dur menjalankan politik cukup positif yang dari demokrasi semu itupun bisa diabaikan
merugikan kekuatan klik reaksioner, kaum Islam dan dimanipulasi. Belum lagi korupsi dan politik
fundamentalis dan golongan militer kanan uang yang selalu bergandengan tangan erat
yang ingin mempertahankan Dwifungsi dan dengan pemilu. Semua ini sudah menjadi
dominasinya. Pernyataan permintaan maaf pengetahuan umum.
kepada para korban dan keluarga
pembunuhan 1965 serta seruannya untuk II . Sosial Demokrasi di Amerika Latin
menghapus Tap MPRS No.25/MPRS/1966
melahirkan kontraversi bahkan di kalangan
pendukung partainya sendiri. Dari segi struktur
ekonomi tidak ada perubahan apapun.
Pemerintahan Gus Dur memenuhi semua
komitment dengan IMF dan Bank Dunia.
Pembayaran hutang dan proses privatisasi
jalan terus. Kepentingan kaum buruh, kaum
tani dan rakyat pekerja lainnya sama sekali
tidak mendapat perhatiannya. Walaupun
demikian, kebijakannya yang agak positif
sudah cukup untuk membuat koalisi yang dulu
telah mengusungnya ke Istana Merdeka
berkonspirasi kembali guna menjatuhkannya.
Penggunaan kasus dana Sultan Brunai,
pembongkaran korupsi Gokar di Bulog serta
pengerahan massa mahasiswa yang berada
dibawah pengaruh klik reaksioner, seperti
KAMMI (Komite Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia), Gerakan Pemuda Ka'bah, berhasil
memaksa Gus Dur turung panggung.
Megawati yang tadinya dijegal oleh poros
tengah, akhirnya menjadi Presiden.
Selama masa jabatan
Megawati, rakyat yang telah memberi suara
dan mengharapkan satu perubahan yang
menguntungkan kepentingannya, sangat
dikecewakan. IMF, Bank Dunia dan lembagalembaga imperialis lainnya terus menikmati
kedudukan yang dihormati; kaum borjuis
birokrat dan komprador terus mengabdi
kepentingan kantong-nya sendiri dan
korporasi-korporasi multinasional; kekayaan
alam tanah air terus dirampok dan dibawa
keuntungannya ke luar negeri. Jangankan
melawan kaum imperialis dan neo-kolonialis,
merehabilitasi ayahnya sendiri saja Megawati
tidak berani!
Sistim pemilihan Presiden di Paraguay
menetapkan seorang calon dapat terpilih
menjadi presiden kalau Partainya mampu
meraih paling sedikit 1 suara lebih dari suara
yang dicapai calon Partai lainnya. Calon
Presiden tidak harus mencapai 50% suara, oleh
karena itu pemilihan hanya dilakukan satu
putaran saja. Jadi seorang calon presiden bisa
menang hanya dengan 20% suara, selama
tidak ada calon lainnya yang mencapai lebih
dari itu.1 Sedangkan Kongres Nasional yang
terdiri dari dua badan yaitu Dewan Senator
Tak satupun di antara lebih dari 40 dan Dewan Perwakilan Rakyat merupakan
partai politik yang turut dalam pemilu ketika itu badan kekuasaan legislatif.
mewakili kepentingan kaum tani, kaum buruh,
Fernando Lugo, sebelum terpilih
kaum nelayan, kaum miskin kota dan klas
sebagai presiden dalam pemilu tahun 2008,
1. Sumber: http://elecciones.pyglobal.com
47
II.1. Kasus Paraguay
Fernando Lugo
http://www.taringa.net/posts/info/15068954/
Palabras-de-Fernando-Lugo.html
presiden yang dianggap “kiri” ternyata tidak
menghasilkan apa yang diharapkan oleh
rakyat jelata yang sudah mendukung dan
mengantarkannya ke kursi kekuasaan. Lugo
tidak saja tidak memenuhi janjinya kepada
rakyat tani, ia malah tidak ragu-ragu
melahirkan undang-undang yang menindas
mereka yang menagih dan mempersoalkan
janji-janji yang tidak ia penuhi.
Setelah satu tahun menunggu
keadilan dari pemerintahan “kiri” Lugo yang
tak kunjung datang, kaum tani mengambil
keputusan untuk memulai kembali gerakan
menduduki tanah untuk bisa terus hidup. 85%
dari tanah (sekitar 30 juta hektar) dimiliki oleh 2%
dari seluruh pemilik tanah. Mayoritas pemilik
tanah terlibat dalam produksi extraktif
(pertambangan) dan spekulasi tanah.3 Sedikit
tanah yang masih dimiliki kaum tani mendapat
serangan dari kaum kapitalis Brazil yang
datang dengan kapitalnya untuk ditanam
dalam pertanian kacang kedelai yang
genetiknya sudah dimodikasi. Gerakan luas
kaum tani menduduki tanah sekarang tidak
mendapat dukungan Lugo. Sebaliknya Lugo
mengirim tentara dan polisinya untuk
menindas, menangkap dan membunuh
mereka yang berani menuntut keadilan.
Berkali-kali terjadi bentrokan dan kekerasan
dari pihak yang berkuasa yang
mengakibatkan banyak korban.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
adalah uskup roman katolik di Keuskupan San
Pedro. Ketika itu ia mendapat julukan
“Uskupnya orang-orang miskin”, karena
kegiatannya yang mendukung tuntutan
landreform kaum tani. Untuk turut serta dalam
pemilihan presiden, Lugo masuk Partai Kristen
Demokrat. Pencalonan Lugo sebagai presiden
dalam pemilu didukung oleh “Aliansi Patriotik
untuk Perubahan” yang terdiri dari partai-partai
oposisi sosial demokrat, tengah-kanan dan
gerakan rakyat luas dengan kaum tani sebagai
faktor yang paling kuat. Kaum tani dengan
gerakannya yang menuntut keadilan dan
demokrasi selalu membuat pusing kepala
diktator Stroessner2 dan kaum tuan tanah besar
yang diwakili oleh Partai Colorado.
Keberhasilan Lugo dalam
mengalahkan calon dari Partai Colorado yang
selalu berdominasi dalam sejarah politik
Paraguay dan mewakili kaum tuan tanah besar
dan kaum imperialisme, disambut dengan
antusias oleh kaum kiri yang melihatnya
sebagai solusi terhadap masalah kemiskinan
dan keterbelakangan rakyat Paraguay. Begitu
antusiasnya dan merasa mendapat contoh
kongkrit tentang jalan tepat yang harus diambil
untuk mengatasi kemiskinan, sampai-sampai
Budiman Sudjatmiko pergi untuk menghadiri
pengangkatan Lugo sebagai presiden pada
bulan Agustus 2008.
Kebijakan dan sepak terjang
Pemerintahan Lugo yang semakin lama
semakin menguntungkan kaum kanan bisa
dimengerti kalau kita menganalisi komposisi
klas dari partai dan grup yang ada dalam
“Aliansi Patriotik Untuk Perubahan”. Salah satu
partai dalam Aliansi adalah Partai Liberal
Radikal Otentik (PLRO), sebuah partai dengan
ideologi identik dengan Partai Colorado yang
menempatkan wakilnya, Federico Franco,
sebagai Wakil Presiden. Bagaimana mungkin
merekonsiliasi kepentingan klas oligarki yang
diwakili oleh PLRO dengan kepentingan klas
kaum tani? Ini membuktikan bahwa selama
masyarakat terbagi dalam klas, perjuangan
Ketika masih menjabat Uksup di San klas tak dapat dihindarkan.
Pedro, Lugo bersumpah untuk
memperjuangkan landreform dan tuntutanLugo hanya punya jabatan sebagai
tuntutan rakyat petani lainnya. Namun presiden. Selain dari itu, ia sama sekali tidak
kenyataaan menunjukkan, duduknya seorang punya apa-apa, tidak punya alat untuk
2. Diktator Alfredo Stroessner berkuasa setelah melakukan kudeta pada tahun 1954. Tahun 1989 ia dijatuhkan oleh
sebuah kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Andrés Rodríguez
www.nytimes.com/2006/08/16/world/ a mericas/16cnd-stroessner.html?...
3. Censo Agropecuario Nacional 2008. 4-http://www.abc.com.py/edicion-impre…
48
Membangun Gerakan Politik Kerakyatan -Refleksi Pengalaman Pemilu Amerika Latin- Afrika
memenuhi janjinya kepada rakyat petani dan
tidak punya alat untuk melawan atau menolak
permintaan dan tuntutan kaum imperialis
melalui kaki tangan dalam negeri yang sama
sekali belum dilucuti kekuasaannya.
Kenyataan menunjukkan Lugo memilih
menerima tuntutan kaum imperialis dari pada
memenuhi janji-janjinya kepada kaum tani.
Maka itu lahir dan disetujui undang-undang
anti-teroris yang digunakan untuk memiliterisasi
Paraguay bagian utara dengan penangkapan
sewenang-wenang terhadap ratusan petani
dan kriminalisasi terhadap gerakan petani dan
para pemimpinnya. Untuk lebih meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan polisi
Paraguay, Lugo tidak ragu-ragu menerima
kolaborasi para instruktur badan intelijen
Kolombia yang terkenal kejahatan dan
kekejiannya dalam menumpas gerakan
rakyat.
Ketegangan dan bentrokan antara
kaum tani dan kaum tuan tanah yang selalu
mendapat dukungan tentara dan polisi makin
lama makin sering terjadi dalam skala semakin
besar. Puncak dari kekerasan aparat kepolisian
dalam usaha untuk mengusir kaum tani dan
perlawanan kaum tani terjadi bulan juni 2012 di
tanah milik mantan senator Partai Colorado,
Blas Riquelme yang mengakibatkan 11 petani
dan 6 polisi mati. Kejadian di Curuguaty yang
terletak di Paraguay utara itu telah digunakan
oleh kaum kanan yang berdominasi dalam
Dewan Senat untuk melakukan
“impeachment” terhadap Lugo. Pemungutan
suara di Kongres yang menghasilkan 39 senator
setuju dan hanya 4 yang menolak, memaksa
Lugo untuk turun panggung. Dominasi politik
Partai Colorado selama 61 tahun hanya
diinterupsi selama 1376 hari.
II.2. Kasus Brazil
Berlainan dengan sistim pemilu di
Paraguay, di Brazil sejak 1988 calon presiden
baru diakui kemenangannya kalau ia
mendapat suara mayoritas absolut dalam
putaran pertama. Seandainya tidak ada calon
presiden yang mencapai suara mayoritas
absolut dalam putaran pertama, maka dua
calon yang paling banyak menerima suara
akan berlomba lagi di putaran kedua. Semua
partai yang turut serta dalam pemilu,
sepanjang putaran pertama berlangsung,
diberi hak untuk mempromosi calonnya di
kanal-kanal TV nasional selama 590 menit.
Dalam putaran kedua setiap calon punya hak
bicara untuk mempromosikan programnya
selama 20 menit setiap hari. Pelayanan ini di
subsidi oleh negara. Di samping itu, warta berita
setiap kanal juga diwajibkan untuk meliput
calon dan partainya selama 10 menit.
Penggunaan media massa secara gratis ini
dianggap sebagai sesuatu yang paling maju di
Amerika Latin. Namun, patut ditambahkan
bahwa setiap partai tak dibatasi waktu
penggunaan radio dan televisi yang bisa
mereka beli dengan sumber keuangannya
sendiri.5
Dalam pemilu tahun 2002 dan 2006,
Luiz Inácio Lula da Silva, ketua Partido de los
Trabajadores (PT, sebuah partai sosial
demokrat) muncul sebagai pemenang dalam
putaran kedua. Dalam putaran pertama ia
tidak berhasil mendapat suara lebih dari 50%.
Kudeta kilat Paraguay menunjukkan
sekali lagi bahwa kaum imperialisme dan kaum
oligarki kanan lokal tidak akan pernah berhenti
bersekongkol dan berkampanye untuk
menciptakan situasi yang memberinya
Luiz Inacio Lula da Silva
kesempatan untuk mencegah terjadinya
http://famosos.culturamix.com/historicos/
luiz-inacio-lula-da-silva
reform-reform, sekalipun kecil, yang
Lula berasal dari keluarga petani
menguntungkan rakyat miskin. El Che pernah
bilang “ En el imperialisme no se puede conar miskin dan semasa mudanya bekerja sebagai
ni tantito asi....( Sedikitpun tak bisa kita percaya buruh pabrik metal, aktivis serikat buruh,
promotor berbagai pemogokan dan
kepada Imperialisme....). 4
demonstrasi besar buruh melawan
kediktaturan dan pendiri PT. Logislah, dengan
latar belakang seperti itu, rakyat pekerja
4.http://www.youtube.com/ watch?feature=player_detailpage&v=1HyWwijT2oU
5. Brasil - Instituto Federal Electoral www.ife.org.mx/documentos/DECEYEC/brasil.htm
49
Pada pemilu berikutnya, oktober 2010,
PT mengajukan Dilma Vana Rousseff sebagai
calon presiden. Ayah, seorang entrepreneur
dari Bulgaria, Dilma Rousseff tumbuh besar
dalam sebuah keluarga klas menengah atas.7
Namun, setelah terjadi kudeta militer 1964,
Dilma sempat aktif dalam sebuah grup gerilya
kota yang membawanya ke penjara dari 1970
sampai 1972. Diberitakan ia menderita
penyiksaan algojo-algojo fasis militer. Sebelum
diajukan menjadi calon presiden, Dilma pernah
menjabat sebagai Menteri Energi dalam
kabinetnya Lula dan kemudian dari 2005
sampai 2010 , Kepala Staf.
Di bawah pemerintahan Lula selama
dua periode, pada umumnya orang sudah
tahu tidak ada perubahan berarti yang patut
dicatat sebagai jasanya. Namun, ketika Dilma
terpilih, berarti untuk ketiga kalinya Brazil
dipimpin seorang politikus dari partai yang
sama, masih ada saja orang yang berilusi
Dalam artikelnya yang berjudul kepadanya, mengingat kegiatannya dulu
“ D e c l a r a c i o n d e v o t o ” ( “ P e r n y a t a a n sebagai gerilya kota dan penderitaannya di
pemberian suara”), Frei Betto,6 yang pada hadapan para algojo fasis.
pemilu 2002 dengan sangat antusias
mendukung pencalonan Lula, menderetkan
karakteristik calon presiden yang ia cari dan
kepada siapa ia ingin berikan suaranya. Antara
lain, ia menginginkan seorang calon presiden
yang dengan teguh dan tegas menjalankan
reform struktural yang selalu dijanjikan namun
tidak pernah diimplementasi; yang akan
merevolusionerkan pelayanan kesehatan dan
pendidikan; yang bersedia mengontrol
dengan keras emisi karbon dioksida dan
melindungi lingkungan seperti Amazon; yang
bersedia mengubah politik ekonomi yang
pada tahun 2008 telah mengalirkan 100.000
juta dolar Amerika untuk melunasi hutang
Dilma Vana Rousseff
dalam dan luar negeri, sedangkan untuk
http://mulheresquehonramorole.blogspot.com/
2011/12/dilma-rousseff.html
pelayanan kesehatan hanya memberi 20.000
Tahun 2012, untuk mengatasi stagnasi
juta (kongkritnya: 30% dari anggaran belanja
untuk pasar nans, hanya 5% untuk pelayanan agar ekonomi pulih dan bisa tumbuh kembali,
kesehatan, 3% untuk pendidikan dan 12% untuk D i l m a m e n g a m b i l k e p u t u s a n u n t u k
s e l u r u h b i d a n g s o s i a l ) ; y a n g b e r s e d i a memprivatisasi infrastruktur yang telah
m e m b e n t u k K o m i s i K e b e n a r a n u n t u k menelan jutaan dolar dari anggaran belanja
membuka le Angkatan Bersenjata selama negara dan mengajukan sebuah program
berlangsung kediktaturan militer, mengadili yang memberi konsesi besar kepada sektor
kejahatan yang dilakukan atas nama negara swasta supaya menanam modalnya di bidang
dan mengungkapkan tempat di mana infrastruktur, pembangunan pelabuhan dan
akhirnya orang-orang yang diculik dan lapangan terbang dengan keuntungan
ekonomi yang dijamin negara.
dihilangkan.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
menaruh harapan besar kepada Lula, ketika ia
memulai jabatan presidennya bulan Januari
2003. Namun, pengikut dan juga lawan-lawan
politik kanannya dibuat terkejut dan tidak
mengerti ketika Lula menunjuk Henrique
Meirelles untuk memimpin Bank Sentral Brazil.
Padahal orang tahu bahwa Henrique Meirelles
adalah presiden Bank Boston AS dan penganut
politik ekonomi tradisional kanan yang dengan
sendirinya selalu membela kepentingan modal
besar. Setelah kejutan pertama itu, perlahanlahan harapan akan sebuah perubahan yang
sungguh-sungguh akan membebaskan rakyat
jelata dari penghisapan dan penindasan
lenyap. Lula tidak mengubah sedikitpun model
ekonomi yang dijalankan oleh presiden yang
mendahuluinya. Kebijakan suku bunga, sistim
perpajakan, tanggung jawab skal, hubungan
antara pemerintah dengan Bank Sentral dan
Dana Moneter Internasional tetap seperti
semula.
Bulan juni 2013, selama satu minggu
6. Frei Betto: biarawan penganut teologi pembebasan, aktivis politik dan penulis dari Brazil
7. Bennett, Allen."Dilma Rousseff biography" Agência Brasil, 9 August 2010.
50
Membangun Gerakan Politik Kerakyatan -Refleksi Pengalaman Pemilu Amerika Latin- Afrika
Brazil digoncangkan oleh manifestasi besarbesaran yang dimulai di Rio de Janeiro dan Sao
Paolo, dua kota terbesar, untuk menolak
kenaikan tarif angkutan umum dan menuntut
pelayanan transport umum yang lebih baik.
Demonstrasi menjalar ke kota-kota lain. Ribuan
demonstran berjalan ke pusat-pusat kota dan
akhirnya berhadapan dengan kekuatan polisi
yang dengan cepat datang menindas dan
melakukan penangkapan.8 Menurut berita
dari La prensa.hn buruh kereta api juga
melakukan aksi mogok selama beberapa jam.
Sejak itu setiap bulan di berbagai kota Brazil
rakyat turun ke jalan-jalan untuk, misalnya,
menentang korupsi dan menuntut gubernur Rio
de Janeiro yang dianggap telah mengabaikan
p e l a y a n a n
s o s i a l
u n t u k
mempertanggungjawabkan biaya jutaan yg
dikeluarkan untuk mendatangkan Paus;
menentang pembangunan infrastruktur yang
berkaitan dengan Kejuaraan Sepak Bola Dunia
2014 dan Olimpiade 2016 yang akan
menggusur tempat tinggal kira-kira 19200
keluarga, mendukung tuntutan kenaikan gajih
dan kondisi kerja lebih baik bagi kaum
pengajar sekolah-sekolah umum dan lain
sebagainya.9
Dilma Roussef, dalam menanggapi
demonstrasi besar-besaran, berkata bahwa
ber-demonstrasi secara damai adalah sesuatu
yang syah dan sesuai dengan demokrasi;
adalah wajar anak-anak muda melakukan
demonstrasi. Tapi sebagai presiden ia tidak
mampu atau tidak mau menghentikan
penindasan polisi terhadap mereka yang
berdemonstrasi yang mengakibatkan satu
orang mati, 62 orang luka-luka dan 10 orang
ditangkap. Guna meredam kemarahan
rakyat, Dilma mengusulkan referendum untuk
reform politik.
Hari ini (14 Februari 2014) diberitakan
ribuan rakyat turun kembali ke jalan-jalan di Sao
Paulo, Brasilia, Porto Alegre, Belo Horizonte
memprotes Kejuaraan Sepak Bola Dunia dan
Olimpiade 2016. Kaum demonstran
menganggap absurd Brazil mengorganisasi
Kejuaraan Sepak Bola Dunia sedangkan
pelayanan kesehatan, pendidikan dan
perumahan menghadapi masalah yang serius.
III. Sosial Demokrasi di Afrika Selatan
Perlawanan rakyat Afrika Selatan yang
tidak bisa dipukul mundur dengan penindasan
brutal dan keadaan darurat serta tekanan
dunia internasional telah memaksa PM terakhir
rejim apartheid, De Klerk, untuk membebaskan
Nelson Mandela pada bulan Februari 1990,
mencabut pelarangan terhadap ANC dan
Partai Komunis Afrika Selatan. Setelah itu
menyusul beberapa perundingan multipartai
yang akhirnya melahirkan persetujuan untuk
menyelenggarakan pemilihan umum nasional
pertama yang berdasarkan pada prinsip oneperson one vote pada tanggal 27 April 1994.
Dengan demikian secara resmi rejim apartheid
dihapuskan.
Demonstrators gather during a protest to demand
better public services, in Rio de Janeiro
http://www.dailymail.co.uk/news/
article-2345600/Brazil-riots-One-million-protestgovernment-spending-18billion-World-Cup.html
8. http://www.20minutos.es/noticia/1842453/0/brasil-protestas/transporte-publico/passe- livre/#xtor=AD15&xts=467263
Miles de personas protestan en Brasil por alza del transporte público EFE, Jueves, 13 de Junio 2013 | 10:15 pm
9. video.es.msn.com/...manifestacion...brasilenos/x9dpvg...Telesur, La Senal Informativa de America Latina
51
Singkatnya, dalam pemilu tahun 1994,
1999, 2004 dan 2009, ANC keluar sebagai
pemenang dengan 62,65%; 66,35%; 69,69% dan
65,9% suara. Rejim apartheid minoritas kulit
putih sudah tumbang dan orang-orang kulit
hitam dengan partainya, ANC, memegang
kekuasaan politik. Namun sepanjang
pengetahuan saya, setelah ANC berkuasa, tak
pernah saya dengar adanya gerakan untuk
membagi dan memberi tanah kepada kaum
tani tak bertanah, atau penyitaan pabrik,
perusahaan atau pertambangan untuk
membebaskan kaum buruh dari penghisapan
dan perbudakan kapital sehingga kwalitas
hidupnya dapat diperbaiki. 80% dari tanah
tetap dimiliki oleh tuan tanah kulit putih,
pertambangan tetap dimiliki dan dieksplotasi
oleh korporasi besar Amerika dan Inggris dan
buruhnya bekerja dengan kondisi kerja sangat
buruk yang sering sekali menyebabkan
kematian karena kecelakaan.
Berita dan bahan bacaan yang saya
dapat, menggambarkan, di satu pihak,
bagaimana sebuah klas menengah orang kulit
hitam perlahan-lahan terbentuk dan naik untuk
menempati jenjang yang mapan dalam
masyarakat dan menikmati kehidupan
material yang memisahkan mereka dari
sesama warga yang masih tetap berada di
bawah. Kita temukan bahkan beberapa
konglomerat kulit hitam, seperti misalnya,
Patrice Tlhopane Motsepe, pemilik perusahaan
“African Rainbow Minerals” yang menguasai
saham di pertambangan emas, platinum,
logam yang mengandung besi (ferrous metals).
Ia juga duduk di dewan direksi beberapa
perusahaan lain seperti Greene and Partners,
sebuah Perusahaan Investasi besar yang
berbasis di Afrika Selatan. Kekayaannya pada
tahun 2011 diperkirakan mencapai $3.28 bilion.
Adik perempuannya, Bridgette Radebe,
termasuk wanita kulit hitam terkaya di Afrika
Selatan. Sedangkan, mereka yang berada di
jenjang paling bawah dalam masyarakat tak
dapat turut serta dan menikmati hasil yang
dicapai dalam “pembangunan” di bawah
rejim ANC dan aliansinya.
Di lain pihak, informasi
menggambarkan kampung-kampung
penduduk rakyat kulit hitam yang tetap tak
memenuhi syarat-syarat higiene minimum,
dengan penduduknya yang terus hidup dalam
kemiskinan dan menderita penghisapan dan
penghinaan. Kehidupan mereka boleh
dibilang tak tersentuh sama sekali oleh
“perubahan” yang terjadi di tingkat
pemerintahan, yaitu naiknya orang-orang kulit
hitam yang menggantikan orang-orang kulit
putih. Korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan di kalangan para pejabat ANC
santer terdengar. Kesenjangan antara klas elite
kulit hitam, kulit putih dan klas pekerja kulit hitam
dan juga kulit putih makin lama makin lebar.
Pada tahun 2005 didirikan “Abahlali
Base Mjondolo” (ABM), sebuah gerakan
penduduk perkampungan kumuh kota Durban
yang bertujuan membantu penduduk untuk
mempertahankan rumah dan melindungi
komunitasnya melawan pengusiran dan
penggusuran yang dilegalisasi oleh Keputusan
Pemerintah 2007 tentang perkampungan
kumuh. Jubir ABM, Mnikelo berkata bahwa ia
tidak pernah menyangka dirinya menjadi
seorang aktivis yang memperjuangan sesuatu
yang sudah dijanjikan sejak ANC dan Nelson
Mandela dipilih menjadi presiden tahun 1994.
Begitu juga dengan Mazwi, yang baru berumur
14 tahun, namun kehidupan dan perjuangan
komunitasnya sudah membentuknya sebagai
seorang aktivis. Mazwi berkata, sejak 1994,
keluarganya sudah ada di daftar orang-orang
yang menunggu giliran untuk mendapat
rumah layak. Sampai sekarang mereka masih
tinggal di penampungan sementara.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Pemilihan Parlemen dan badan
legislatif tingkat provinsi diselenggarakan
bersamaan waktunya, tapi dengan kartu
pemungutan suara terpisah dan
menggunakan sistim Proportional
Representation (Perwakilan Proporsional). Tiap
partai mengajukan daftar calon yang sudah
tentu disusun berdasarkan pada kedudukan
tiap calon dalam hierarchi partainya. Jumlah
kursi sesuai dengan banyaknya suara yang
dicapai dalam pemilu. Parlemen yang lahir dari
hasil pemilu akan memilih presiden, sedangkan
Perdana Menteri dipilih oleh Parlemen tingkat
provinsi.
Dalam menjalankan tugas
pengabdiannya kepada gerakan, Mnikelo
membeberkan bagaimana para aktivis
menghadapi kekerasan dan persekusi aparat
negara. Kehidupan dan perjuangan di “bawah
tanah” terpaksa harus dilakukan. Penduduk
perkampungan kumuh hidup dengan
ketakutan yang sama akutnya seperti yang
mereka alami dulu ketika pemerintah
apartheid kulit putih datang dengan
buldozernya dan menghancurkan semuanya.
52
Membangun Gerakan Politik Kerakyatan -Refleksi Pengalaman Pemilu Amerika Latin- Afrika
Perjuangan yang dipimpin ANC yang
berideologi sosial demokrat sama sekali tidak
membawa rakyat Afrika Selaran ke
pembebasan dari penghisapan dan
penindasan. Yang terjadi adalah sistim
apartheid yang didasarkan kepada ras
digantikan oleh sistim apartheid ekonomi.
Mazwi berkata:”Keputusan tentang
perkampungan kumuh sama dengan apa
yang terjadi dalam jaman Apartheid...,
memisahkan orang miskin dari orang kaya”.
Berkuasanya ANC juga tidak memberi
keadilan kepada para korban pembunuhan,
penculikan, penghilangan, penyiksaan yang
dilakukan seluruh aparat militer dan legal rejim
apartheid. Dalam kenyataannya apa yang
dinamakan “Truth and Reconciliation
Commission” adalah impunitas terhadap para
penjahat melawan kemanusiaan. Bayang-kan
seorang agen polisi hanya diminta untuk
menceritakan proses penyiksaan dan
pembunuhan yang ia lakukan terhadap 6
orang, dan setelah itu.... bebas! Dengan
menyandang julukan “the honorable assasin”
ia bahkan masuk dalam kategori celebrity dan
diundang ke sebuah talkshow yang sangat
populer! Persis seperti talkshow yang
mengundang Anwar Kongo yang merasa
bangga atas kejahatan melawan
kemanusiaan yang ia lakukan terhadap
puluhan atau bahkan ratusan (?) manusia
yang sama sekali tidak pernah dibuktikan
kesalahannya.
http://harryvanbommel.sp.nl/weblog/
2009/04/27/almacht-anc-gebroken/
IV. Bangunan Bawah dan Bangunan Atas
Uraian di atas tentang berbagai sistim
pemilu di berbagai negeri dan hasilnya
menunjukkan satu persamaan, yaitu harapan
massa rakyat akan sebuah pemerintahan yang
berpihak dan membela kepentingannya tak
53
dipenuhi oleh partai dan wakil-wakil yang
terpilih. Sistim pemilihan badan legislatif dan
presiden bisa berlainan dari satu negeri ke
negeri lain. Namun sebagai bagian dari
bangunan atas yang merupakan
pencerminan dari bangunan bawah atau basis
ekonomi yang berdominasi di negeri itu,
hakekat atau watak klas ( artinya kepada grup
atau klas mana ia berpihak) hanya ada dua:
apakah ia berpihak kepada mayoritas rakyat
yang terdiri dari kaum buruh, kaum tani, kaum
nelayan, kaum miskin kota dan klas pekerja
lainnya atau berpihak kepada segelintir elit
yang mewakili kepentingan kaum kapitalis
birokrat, kapitalis komprador dan tuan tanah
yang merupakan kepanjangan tangan dari
kaum modal asing dan kaum imperialis yang
dikepalai oleh AS. Tidak ada posisi netral.
Struktur masyarakat sebuah negeri
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
bangunan bawah dan bangunan atas.
Bangunan bawah adalah struktur ekonomi dan
merupakan kesatuan dari hubungan produksi
dan tenaga produktif. Yang dimaksud dengan
hubung-an produksi adalah hubungan antara
manusia dalam proses produksi. Sifat dari
hubungan produksi ditentukan oleh siapa yang
memiliki alat produksi. Artinya apakah alat
produksi itu dimiliki dan digunakan oleh
seseorang atau sekelompok orang untuk
menghisap demi pencapaian keuntungan
atau milik rakyat dan digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Ketika kita mengatakan sistim/struktur ekonomi
sebuah negeri adalah kapitalis, artinya
hubungan produksinya bersifat kapitalis di
mana ada sekelompok kecil orang memiliki
alat produksi (pabrik, tanah, infrastruktur,
sumber alam, dll) yang digunakan untuk
memberi pekerjaan kepada mayoritas dengan
tujuan mencapai keuntungan semaksimal
mungkin. Sedangkan tenaga produktif adalah
tenaga kerja (kemampuan mental dan sik
manusia untuk bekerja) dan alat produksi ( alat
kerja misalnya tanah, pabrik dengan mesinmesinnya, gedung, infrastruktur, hutan, bahan
baku, etc, dan objek atau sasaran dari kerja
manusia).
Sementara itu bangunan atas adalah
semua aparat, lembaga politik, kebudayaan
dan hukum, adat istiadat, agama dan ideologi
yang berdominasi dalam masyarakat. Ia
merupakan pencerminan dari bangunan
bawah. Oleh karena itu tidak perduli
bagaimana kongkritnya sistim pemilu sebuah
Mengapa hasil pemilu di Indonesia,
Paraguay, Brazil, Afrika Selatan, pada
hakekatnya sama, dalam arti tidak dapat
melahirkan sebuah masyarakat yang lebih adil
dan makmur bagi mayoritas massa rakyatnya?
Karena sifat masyarakat di negeri-negeri itu
pada hakekatnya sama, yaitu setengah
jajahan setengah feodal di mana
Pemerintahnya mewakili kepentingan kaum
kapitalis birokrat, kapitalis komprador dan tuan
tanah yang mengabdi sepenuhnya kepada
modal asing dan kaum imperialis. Bahkan
pemerintahan yang dipimpin oleh Partai sosial
demokrat seperti di Brazil dan Afrika Selatan
telah dibuktikan tidak membela dan berpihak
kepada mayoritas rakyat pekerja. Seperti
rekan-rekannya di Eropa Barat, ideologi
sosdem memang tidak bermaksud merombak
susunan ekonomi yang berdasarkan kepada
penghisapan manusia atas manusia. Pemilu
digunakan untuk melanggengkan statusquo,
bukan untuk merombak masyarakat yang tidak
adil dan membangun masyarakat baru yang
berkeadilan sosial.
Mengapa ketika Nelson Mandela
meninggal, presiden AS, Obama, turut datang
untuk memberi penghormatan terakhir
kepada tokoh yang dianggap sebagai “Bapak
Afrika Selatan”? Seandainya Mandela
melakukan perombakan struktur ekonomi
seperti yang dilakukan Fidel Castro di Kuba,
menasionalisasi semua perusahaan asing,
melakukan reforma agraria supaya kaum tani
mendapat tanah untuk digarap, menyetop
explotasi pertambangan yang hanya
menguntungkan modal asing, pasti tak
seorangpun tokoh pemerintahan imperialis
akan mengeluarkan pernyataan berduka cita,
apalagi datang memberi penghormatan
terakhir. Ingatlah kalau apa yang kita kerjakan
dipuji oleh musuh rakyat, berarti yang kita
kerjakan itu salah dan bertentangan dengan
kepentingan rakyat. Sebaliknya kalau musuh
membenci dan memusuhi apa yang kita
lakukan, bergembiralah kita karena itu berarti
yang kita kerjakan adalah benar dan sesuai
dengan kepentingan rakyat.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
negeri, selama sistim ekonominya
dikarakterisasi oleh pemilikan alat produksi oleh
segelintir orang sedangkan mayoritas massa
rakyat hanya punya tenaga kerja yang harus ia
jual kepada pemilik alat produksi untuk dapat
melangsungkan hidupnya, hasil pemilu akan
mencerminkan ketimpangan yang ada dalam
struktur ekonomi. Dalam sejarah belum pernah
terjadi pemilu dapat merubah sistim atau
struktur ekonomi sebuah negeri.
http://poskotanews.com/2013/12/10/obama-dan-tiga-mantan-presiden-as-melayat-nelson-mandela/
54
Membangun Gerakan Politik Kerakyatan -Refleksi Pengalaman Pemilu Amerika Latin- Afrika
V. India, Demokrasi dan Solusi
Demokrasi, seperti sistim pemilu, juga
merupakan bagian dari bangunan atas.
Manifestasi atau pencerminan kongkrit dari
apa yang dinamakan demokrasi bisa
bermacam-macam dan bisa berbeda dari
satu negeri ke negeri lain. Sering terjadi
demokrasi yang diterapkan di negeri-negeri
Barat dijadikan contoh sebagai demokrasi
yang paling baik dan model yang harus ditiru.
Patokan untuk mengukur ada atau tidaknya
demokrasi adalah ada atau tidaknya sistim
multipartai yang secara periodik turut serta
dalam pemilu dan sistim ekonomi bebas/pasar.
Dari situlah ketika Suharto lengser dan dimulai
era “reformasi” yang melahirkan puluhan
partai politik untuk berlomba dalam pemilu,
datanglah pujian dari negeri-negeri Barat
bahwa di Indonesia sudah ada dan berfungsi
“demokrasi”.
Dalam artikelnya “Democracy”,
Arundhati Roy10 membelejeti apa sebenarnya
arti demokrasi di India, sebuah negeri yg
mendapat julukan “Demokrasi Terbesar” di
dunia. Roy mengutuk pembunuhan biadab
yang dilakukan oleh Vishwa Hindu Parishad
(VHP= organisasi Hindu kanan) dan Bajrang Dal
(organisasi pemudanya VHP) di Negara Bagian
Gujarat, pada tahun 2002, terhadap minoritas
Islam. Sumber resmi mengakui 800 orang yang
mati, tapi sumber tak resmi memberi angka
2000 yang mati. Lebih dari 150.000 orang
dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan
tinggal di kemah-kemah pengungsi. 250
dargah (kuburan yang dianggap suci oleh
orang Islam) dan 180 mesjid dirusak; toko,
rumah, hotel, mobil, pendeknya barang milik
orang Islam dirusak dan habis dibakar. Sebagai
akibatnya, ratusan ribu orang hilang
pekerjaannya. Kekuatan polisi sama sekali
tidak bergerak untuk melindungi kaum Muslim,
warga negara India yang sebenarnya punya
hak sama dengan warga negara yang
beragama hindu untuk dilindungi keamanan
dan nyawanya. Dan apa yang dilakukan
Pemerintah lokal maupun nasional terhadap
para pelaku kejahatan itu? Sama sekali tidak
ada. Artinya impunitas.
Di bagian lain Roy bicara tentang
bagaimana selama 50 tahun terakhir ini
harapan rakyat jelata untuk hidup layak, aman
dan bebas dari kemelaratan hilang lenyap.
Rakyat sama sekali tidak punya akses kepada
lembaga-lembaga negara “demokratis” yang
dalam kenyataannyapun tidak tertarik atau
tidak mampu untuk menerapkan keadilan
sosial. Setiap strategi untuk sebuah perubahan
sosial, seperti reforma agraria, pendidikan,
pelayanan kesehatan, distribusi adil atas
sumber alam, dengan licik dapat selalu
dimanipulasi dan dibuat tidak efektif oleh
mereka yang berdominasi dalam politik.
Arundathy Roy hanya melihat satu
jalan keluar, yaitu solusi sistemik. Dengan kata
lain mengubah sama sekali sistimnya.
Bagaimana rakyat bisa merubah sebuah sistim
ekonomi, politik dan sosial yang ternyata sama
sekali tidak memberinya kehidupan layak,
keamanan, ketentraman dan keadilan? Dari
contoh-contoh di atas, kita lihat bagaimana
lembaga-lembaga negara yang katanya
demokratis sama sekali tidak memberi hak dan
ruang kepada massa rakyat luas untuk turut
serta dalam menentukan kebijakan yang
berkaitan dengan ekonomi dan politik negara.
Wakil-wakil yang terpilih untuk duduk dalam
lembaga-lembaga legislatif dan exekutif pun
tidak pernah memenuhi janji-janji pemilunya.
Karena massa rakyat pekerja yang
membutuhkan perubahan sistim maka logislah
kalau mereka sendirilah yang harus
10. Arundhati Roy: penulis dan aktivis dari India. Roman pertamanya yang berjudul “The God of
Small Things” memenangkan hadiah Booker Prize pada tahun 1997.“The God of Small Things”
adalah satu-satunya roman yang ditulisnya sampai sekarang. Sejak hadiah Booker Prize,
tulisan Arundhati terpusat pada isu-isu politik. Misalnya, ia menulis tentang Senjata Nuklir India,
proyek Waduk Narmada, tentang kegiatan perusahaan energi Enron di India. Akhir-akhir ini
kritik terhadap Arundhati terpusat pada sikapnya yang menolak untuk mengutuk perlawanan
bersenjata kaum gerilya Maois. Arundhati berpendapat “kekerasan adalah sebuah kata yang
perlu didenisi”. “Apakah politik yang mendorong 800 juta rakyat ke dalam kemiskinan,
kekerasan? Apakah orang dari departamen kehutanan yang diijinkan masuk kedalam hutan
dan mengambil perempuan dan memperkosanya, kekerasan?Di sini kekerasan adalah
sebuah kata yang tidak tepat. Saya bicara tentang perjuangan bersenjata. Dan saya sering
bicara tentang keragaman dalam perlawanan; perjuangan bersenjata hanyalah salah satu
bagian dari perlawanan itu.”.
55
Semua perjuangan massa buruh, tani,
nelayan, penduduk miskin kota, mahasiswa,
pemuda, perempuan untuk menuntut upah
layak, kondisi kerja dan perlakuan manusiawi,
pendidikan murah dan ilmiah, dan lain
sebagainya adalah penting. Namun
pendidikan diperlukan untuk meningkatkan
kesadaran politik dan kesadaran klas sehingga
akhirnya mampu meningkatkan perjuangan
ekonomi dan sosialnya menjadi perjuangan
politik yang menyasar kepada kaum imperialis
serta antek-antek lokalnya yang merupakan
biang keladi dari semua kemiskinan dan
ketidak-adilan dan penghambat pokok bagi
kemajuan dan kemakmuran rakyat. Rakyat
yang terorganisasi dan berkesadaran klas
akhirnya akan mampu mengalahkan musuhmusuhnya karena perjuangannya sesuai
dengan hukum sejarah perkembangan
masyarakat umat manusia.
Daftar Pustaka
1. James Petra : “El golpe en Paraguay surge
por las debilidades de Lugo”.
28/6/12, www. Radio36.com.uy Extractado
por La Haine. Org
2 “Monsanto golpea en Paraguay: Los muertos
de Curuguaty y el juicio político a
Lugo.” por Idilio Méndez Grimaldi
(Wartawan, Peneliti dan penganalis. Anggota
Perhimpunan Ekonomi Politik Paraguay.
Penulis buku “Herederos deStroessner )
http://paraguayresiste.com/monsantogolpea-en-paraguay-poridilio-mendez3. ¿Por qué derrocaron a Lugo? Por Atilio Boron
www.atilioboron.com.ar/.../porque-derrocaron-lugo....
4. “Declaracion de voto” por Frei Betto, 26-042010. ALAI, América Latina en
Movimiento http://alainet.org/active/37619
5. “Golpe de timón hacia el sector privado” por
Raúl Zibechi, 28/08/2012
http://alainet.org/active/57529
6. Brazil conmovido por el futbol y la represión
www.pagina12.com.ar/.../4- 222498-2013-0618.html
7. Election Resources on the Internet: The
Republic of South Africa Electoral
System by Manuel Álvarez...
electionresources.org/za/system
8. A Better Electoral System for South Africa? University of Iowa
www.uiowa.edu/~electdis/SouthAfrica.htm
9. John Pilger: Nelson Mandela and the ANC
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
berorganisasi dan bergerak untuk
membebaskan dirinya dari penghisapan dan
penindasan yang menghimpitnya. Tidak
mungkin diharapkan adanya juru selamat
yang akan menghadiahkan kebebasan. Kita
lihat di negeri-negeri AL, bahkan di negeri kita
sendiri, bagaimana massa tani bangkit dan
melawan perampasan tanahnya oleh kaum
pengusaha swasta dan pemerintah yang ingin
membebaskan tanah bagi peluasan
perkebunan kelapa sawit. Kita lihat di Afrika
Selatan bagaimana buruh tambang bangkit
dan mengorganisasi dirinya untuk menuntut
upah, kondisi kerja layak dan perlakuan yang
manusiawi.
http://www.youtube.com/watch?feature=pla
yer_detailpage&v=9dmjZ41yKXo1101
10. John Pilger: Apartheid did not die
http://www.youtube.com/watch?v=oRlh2nU
Wrzs&feature=player_detailpage
11. “Democracy” by Arundhati Roy
www.outlookindia.com/article.aspx?215477.
12. What Have We Done to Democracy? By
Arundhati Roy
www.hufngtonpost.com/arundhatiroy/what-have-we-done-to-demo_b...
13. The Base and the Superstructure |
(mass)think/Other(wise)
massthink.wordpress.com/2007/06/03/thebase-and-the-superstructure/
14. Marx - luke cuddy.www.neophilosophy.com/Phil101Week13.html
15. Base and superstructure - Socialist Worker
socialistworker.co.uk/art/28892/
Base+and+superstructure
56
Pemilu 2014 dan Agenda Politik Lingkungan Hidup
Menemukan Jalan Keadilan Ekologis
Oleh: Khalisah Khalid
Abstrak
Sejak reformasi 1998 yang dilanjutkan
dengan pemilu yang memilih langsung
Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 1999,
konsolidasi gerakan lingkungan hidup begitu
kuat untuk mendorong agenda reformasi
pengelolaan lingkungan hidup dan sumber
daya alam. Tonggak konsolidasi antara
gerakan lingkungan hidup dan agraria
ditemukan dalam sebuah agenda politik
bersama yang dimanifestasikan melalui TAP
MPR No. IX/2001 tentang pembaruan agraria
dan pengelolaan sumber daya alam, dimana
agenda politik reformasi lingkungan hidup dan
SDA termaktub dalam TAP MPR RI ini.
Sayangnya, Tap MPR ini mandek, dan RUU
PSDA sampai hari ini tidak diketahui dimana
rimbanya.
berbagai produk kebijakan yang memberikan
jalan mulus bagi korporasi untuk menguasai
hajat hidup orang banyak, dan semakin
memarjinalkan kelompok-kelompok
masyarakat yang jauh dari akses kekuasaan.
Kekuatan politik uang telah membunuh
demokrasi, dimana elit politik adalah juga elit
ekonomi sehingga demokrasi dikorbankan
untuk mewujudkan kekuasaan politik yang di
dalamnya bersemayam kepentingan
penguasaan ekonomi.
Sebagai bagian dari gerakan
lingkungan hidup yang memperjuangkan
keadilan sumber daya alam dan agraria,
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
menilai penting untuk merebut kembali
momentum pemilu 2014 ini, sebagai sebuah
jalan untuk menghidupkan kembali sebuah
agenda politik lingkungan hidup, menemukan
UU No. 32/2009 tentang perlindungan jalan keadilan ekologis.
dan pengelolaan lingkungan hidup yang dinilai
oleh gerakan lingkungan sebagai sebuah UU I. Pengantar
yang jauh lebih progressif dibandingkan UU
Enam puluh delapan tahun sejak
sebelumnya, sejak disahkan terganjal di
Peraturan Pemerintahnya yang hingga hari ini kemerdekaan diproklamirkan oleh para pendiri
terseok-seok. Isu lingkungan hidup kembali bangsa, perjalanan menuju negara-bangsa
berada di jalan sunyi dan nyaris terlupakan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan
ditengah gempuran berbagai kebijakan makmur sebagaimana tercantum dalam
sektoral sumber daya alam yang semakin rakus. Pembukaan UUD 1945 masih jauh dari harapan,
bahkan harus menempuh jalan yang terjal.
Akumulasi pengerukan kekayaan Dekade-dekade pembangunan yang dimulai
alam dan penghisapan tenaga-tenaga rakyat sejak Orde Baru harus dibayar dengan
telah menyebabkan terjadinya berbagai krisis akumulasi berbagai krisis multidimensional -yang sulit dipulihkan. Krisis-krisis ini pada krisis politik, ekonomi, sosial-budaya, dan
gilirannya telah mengancam kelangsungan ekologis. Pembangunan dilakukan dengan
sumber-sumber kehidupan rakyat dan m e n g e r u k k e k a y a a n a l a m d a n
mengakibatkan bencana ekologis di seluruh mengeksploitasi tenaga-tenaga rakyat yang
penjuru nusantara. Krisis politik-ekonomi terjadi b e r u j u n g p a d a k e m i s k i n a n s t r u k t u r a l ,
karena pemerintah dan wakil-wakil rakyat kesenjangan sosial serta kerusakan lingkungan
sejatinya tidak lagi mengemban amanat dan hidup.
mewakili kepentingan rakyat banyak.
Tahun 2013, bencana ekologis
Pemerintah dan wakil-wakil rakyat membuat
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
1
1. Penulis saat ini beraktitas di Eksekutif Nasional WALHI sebagai Kepala Departemen Jaringan dan Pengembangan
Sumber Daya.
60
Pemilu 2014 dan Agenda Politik Lingkungan Hidup Menemukan Jalan Keadilan Ekologis!
mengalami peningkatan yang sangat tinggi,
baik frekwensi, intensitas dan sebaran telah
menunjukan kolapnya ekosistem. Daerahdaerah yang masif melakukan eksploitasi hutan
untuk tambang dan perkebunan skala besar,
terbukti paling banyak dilanda bencana
ekologis. Dari pengalaman advokasi yang kami
lakukan, khususnya di sepanjang tahun 2013 ini,
korporasi menempati angka tertinggi sebagai
aktor/pelaku perusakan dan pencemaran
lingkungan hidup, dengan prosentase 82,5%.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa industri
ekstrakif seperti tambang dan perkebunan
sawit skala besar merupakan predator puncak
ekologis.
Kekayaan negara hanya dikuasai oleh
segelintir orang dan korporasi. Korporasi
multinasional raksasa menggunakan kekuatan
politik pemerintah negara asalnya untuk
menekan pemerintah Indonesia agar dapat
melakukan ekspansi modal dan pengerukan
keuntungan semaksimal mungkin dari
kekayaan alam dan tenaga-tenaga rakyat
Indonesia. Pemberian ijin dan kontrak-kontrak
konsesi skala besar kepada korporasi
multinasional asing dan domestik secara
sistematis menghilangkan aset produksi rakyat
dan menghancurkan sistem ekonomi rakyat.
Sistem ekonomi politik yang menjadi
paradigma pembangunan bangsa ini dari
rejim orde baru sampai saat ini, juga semakin
meminggirkan fungsi dan peran negara dalam
memastikan terpenuhinya hak-hak dasar
warga negara, termasuk hak atas lingkungan
hidup yang baik dan sehat sebagaimana
amanat Konstitusi. Demokrasi yang sejatinya
menjadi jalan untuk mewujudkan amanat
Konstitusi, dimanipulasi dan dibajak.
Pun demikian, menyerahkan nasib kita
pada elit politik hari ini juga sama buruknya.
Dalam konsep ideal demokrasi ekologi yang
hendak didorong, kebijakan yang menyangkut
perlindungan dan pengelolaan lingkungan tak
bisa hanya diserahkan pengurusannya kepada
segelintir elit yang sering justru menjadi aktor
dari perusakan lingkungan hidup.
II. Kelindan Penguasa Ekonomi dan Politik
Situasi ekonomi politik bangsa hari ini
semakin menunjukkan kemunduran dalam
konteks bangunan kebangsaan. Politik yang
akomodatif terhadap kepentingan investasi
skala besar internasional telah membuka
praktik buruk korupsi.
http://borneoclimatechange.org/berita-388-emisi-karbon-kalimantan-disebabkan-perkebunan-kelapa-sawit-.html
2. Usman Hamid, Tambang Pulau Bangka Jelang Pemilu, Opini Kompas, 26 Februari 2014
3. http://www.tribunnews.com/nasional/ 2013/07/05/icw-44-persen-anggota-dpr-berlatar-belakang-pengusaha
61
Oligarki politik hari ini bercokol
dihampir semua partai politik yang ada hari ini.
Kepentingannya tunggal, yakni mempertahan
kekuasaan dan share/pembagian sekaligus
persaingan kalangan sendiri untuk
memperebutkan rente ekonomi dari
penggadaian kekayaan alam negeri ini.
Kehidupan mesin partai lalu bergantung pada
gur satu-dua orang pemodal besar, yang
mengontrol partai sepenuhnya. Partai tak lagi
menarik secara ideologi atau paradigma
berpikir. Mekanisme demokratis, termasuk
aspirasi kader terbaik, sosok berintegritas,
bukanlah penentu. Money talks. Karena uang
segalanya, kekuasaan menjadi korup.
Kekuasaan yang korup menggunakan
kekerasan sebagai bahasa politiknya.2
Meskipun ada KPK, korupsi terus
berlangsung yang terus menggerogoti
anggaran negara dan rakyat seperti menguak
dalam tumpukan jerami yang begitu rumit, tali
temali yang kuat antara bisnis dan politik
semakin melihatkan urainya. Indonesian
Corruption Watch (ICW) dalam hasil
pemantauan pelaksanaan pilkada di 244
daerah di Indonesia selama tahun 2010, ada 10
orang tersangka dugaan kasus korupsi, justru
terpilih kembali menjadi kepala daerah pada
periode 2010-2014.5 Data lain dari investigasi
dan monitoring dari Save Our Borneo dan
analisis WALHI Kalteng menemukan relasi yang
kuat antara 15 perusahaan perkebunan sawit
dengan Bupati Seruyan periode 2008-2013
dengan keluarga dan kerabatnya melalui ijinijin yang dikeluarkan oleh Bupati pada saat
Penguasa ekonomi sekaligus menjadi menjabat.6
penguasa politik. 44 persen anggota DPR
pengusaha. Pengusaha masuk parlemen,
Yang akan dikorbankan dalam seluruh
agendanya bisnis. Kasus korupsi yang terjadi cerita politik transaksional ini, jawabannya
berlatar belakang bisnis.3 Ini merupakan buah sebagian besar mengarah kepada sumber
dari langgengnya ologarki politik dan sistem daya alam yang akan dijadikan sebagai
politik yang berbiaya tinggi. Bahkan pada “komoditas” yang paling cepat untuk diperjual
pemilu 2004-2009 sebelumnya, Data ICW belikan dalam sebuah sistem ekonomi politik
menyebutkan latar belakang para anggota transaksional, belum lagi aktor-aktor yang ada
DPR menunjukkan 71,6 persen anggota DPR RI dalam kekuatan korporasi justru masuk dan
adalah mewakiliki kekuatan status quo. bercokol di parlemen atau memimpin partai
Besarnya kekuatan tersebut dikhawatirkan politik. Hasil dari praktek politik transaksional ini
akan melanggengkan praktek-praktek lama sudah dapat ditebak dan faktanya sudah
warisan Orde Baru, seperti korupsi dan politik dirasakan dampaknya oleh rakyat, yakni
uang, serta tidak kritis terhadap aspirasi kerusakan lingkungan dan bencana ekologis
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
konstituen, dan berpihak kepada kepentingan
pemilik modal, urainya. Data ICW juga
memperlihatkan adanya peningkatan jumlah
pengusaha yang menjadi anggota DPR. Pada
DPR periode 1999-2004 ada 33,6 persen
pengusaha, sedangkan pada periode 20042009 ada 39,09 persen. Mereka ini kebanyakan
berada di komisi-komisi yang membidangi
masalah perekonomian, perdagangan, atau
keuangan dan perbankan, seperti Komisi IV, V,
VI, VII, dan XI.4
4. http://www.antikorupsi.org/id/content/dpr-didominasi-status-quo-5-komisinya-mayoritas-pengusaha
5. Agustam Rachman, Melawan Sang Koruptor, Bergerak untuk Daulat, Perkumpulan Praxis, Desember 2012, hlm 33
6. Abetnego Tarigan, Peran Korporasi dalam Kejahatan Kehutanan, Pertanggungjwawaban Korporasi di Sektor
Kehutanan, Kemitraan-ICW, Oktober 2013, hlm 21
62
Pemilu 2014 dan Agenda Politik Lingkungan Hidup Menemukan Jalan Keadilan Ekologis!
yang semakin massif akibat semakin maraknya
ijin pada industri ekstrakstif yang dikeluarkan,
konik agraria yang tidak pernah dapat
diselesaikan karena elit politiknya menjadi
bagian dari konik itu sendiri.
63
lebih hanya sebagai sebuah kemenangan dari
politik prosedural, dan hanya memberi
kesempatan kepada kekuatan neoliberal dan
predatoris untuk bergantian menguasai
lembaga-lembaga negara. Kekuatan
korporatokrasi telah mampu mempengaruhi
Hasil dari praktek politik transaksional agenda-agenda politik mulai dari tingkatan
ini sudah dapat ditebak dan faktanya sudah Pilkada hingga Pemilu Legislatif dan Pilpres.
dirasakan dampaknya oleh rakyat, yakni
kerusakan lingkungan dan bencana ekologis
Pembajakan demokrasi oleh
yang semakin massif akibat semakin maraknya kelompok-kelompok elit pro status quo ini
ijin pada industri ekstrakstif yang dikeluarkan, sebagaimana yang termuat dalam riset yang
konik agraria yang tidak pernah dapat dilakukan oleh Demos, harus segera direspon
diselesaikan karena elit politiknya menjadi secara serius oleh gerakan masyarakat sipil pro
bagian dari konik itu sendiri. Kebijakan demokrasi, agar agenda-agenda reformasi
lingkungan yang diproduksi oleh Pemerintah dan demokrasi tidak semakin jauh dan
d a n D P R / D P R D y a n g d i d o m i n a s i o l e h melenceng dari arahnya.
pengusaha yang terlibat dalam ekstraksi
Karenanya menjadi penting untuk
sumber daya alam saat ini masih bercorak
monopoli, eksploitatif, liberal yang tunduk memutus tali temali penguasa ekonomi dan
sekaligus penguasa politik ini untuk terus
kepada kepentingan pasar global.
berkelindan memperkuat kekuasaan mereka,
Yang semakin mengkhawatirkan, dengan mengatasnamakan demokrasi melalui
sistem politik atau pemilu yang transaksional ini kerja-kerja politik yang membumi dan
a k a n s e m a k i n m e n u t u p p e l u a n g b a g i membasis.
kelompok lemah namun cukup progresif.
Orang-orang yang baik dan idealis serta III. Pemilu 2014 dan Perubahan
memiliki cita-cita dan visi misi untuk
Tahun 2014 adalah tahun politik,
memperbaiki nasib bangsa yang diharapkan
bisa menjadi calon pemimpin alternative. perhelatan demokrasi akan dilakukan secara
Mereka ini akan berhadapan dengan sistem serentak di tanah air, diawali dengan pemilihan
politik dan partai politik yang berbiaya tinggi legislatif pada bulan April dan dilanjutkan
karena ketiadaan nansial untuk menutup dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
biaya politik yang sangat mahal. Belum lagi Kali kesekian rakyat dihadapkan pada satu
pragmatisme di tingkat rakyat yang semakin konsekwensi untuk memilih, memilih wakil-wakil
apatis dengan perbaikan nasib bangsa melalui yang akan duduk di parlemen dan memilih
pemilu, di sisi yang lain pendidikan politik rakyat pimpinannya.
yang sesungguhnya menjadi salah satu tugas
Tahun 2014 ini merupakan tahun
partai politik juga diabaikan, yang
sesungguhnya juga menjadi bagian dari spiral “tantangan” dan sekaligus “ancaman” bagi
kejahatan korporasi dalam pengelolaan rakyat, karena elit politik di tahun 2014 akan
sibuk dengan urusan kekuasaan, dan agendasumber daya alam.
agenda rakyat tidak lebih hanya akan
Dari paparan diatas mengkonrmasi dijadikan sebagai “komoditas” politik. Disisi
bahwa pemilu hanya sekedar menjadi satu yang lain, ini juga sekaligus tantangan bagi
proses untuk mendapatkan kekuasaan dan gerakan masyarakat sipil untuk menentukan
mendistribusikan kekuasaan itu sendiri. Dari sikap politiknya jelang pemilu 2014.
proses yang sedang berkembang maka
Persoalan lingkungan hidup adalah
harapan menuju perubahan sesungguhnya
masih cukup jauh, disaat semua politisi dan persoalan politik. Buat pengkaji ekologi politik
penguasa masih sibuk dengan platform perubahan lingkungan (baik kerusakan
“merampok dan menjarah”, dan sumber daya maupun upaya perbaikannya) adalah
alam sebagai dana politik yang tak habis- merupakan hasil dari kebijakan ekonomi dan
politik yang muncul dari hasil pergumulan
habisnya dikeruk.
berbagai aktor di dalam konteks suatu negara,
D e m o k r a s i y a n g t e r p u s a t p a d a interaksinya diantara negara, dan dalam
7
pemilihan umum (electoral democracy), tidak konteks perkembangan kapitalisme global.
melakukan kerja-kerja politik bersama seluruh
elemen masyarakat sipil agar pemilu 2014
menjadi momentum perubahan, antara lain:
Terbangunnya kesadaran politik lingkungan
hidup di tingkat masyarakat/warga negara.
Masyarakat dapat membangun persepsinya
terhadap model pengelolaan lingkungan
hidup di wilayahnya, termasuk didalamnya
menentukan kepemimpinan negara yang
berpihak kepada lingkungan hidup dan rakyat.
Harapan ini juga dilatarbelakangi dari hasil
analisis laporan triwulan WALHI terkait dengan
kondisi kepengurusan lingkungan hidup,
dimana salah satu yang dikaji adalah
bagaimana bentuk protes warga negara
terhadap kondisi lingkungan hidup di
Indonesia. Dalam tuntutan protes warga
negara, desakan yang diharapkan oleh publik
yang tertinggi adalah perubahan kebijakan
sebagaimana tabel berikut ini. 9
Di awal tahun 2014 ini, WALHI
meluncurkan kampanye nasional membangun
gerakan untuk memilih penyelenggara negara
yang mengarusutamakan keadilan ekologis,
sekaligus mendorong pemerintahan yang
bersih dari para pelaku perusak lingkungan
hidup.
Sebagai organisasi lingkungan hidup,
WALHI tentu saja memiliki kepentingan
terhadap momentum pemilu 2014 dan pilkada
di daerah, mengingat hasil dari pemilu ini akan
menjadi legislator dan pemimpin yang akan
menghasilkan produk politik yang akan
menentukan nasib lingkungan hidup dan
sumber-sumber kehidupan rakyat. Pada forum
Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH)
WALHI 2013 dan 2014, beberapa rekomendasi
politik organisasi telah dilahirkan sebagai
bentuk respon situasi dan dinamika politik
ekonomi eksternal salah satunya pemilu 2014,
dimana WALHI secara nasional akan
mengintervensi momentum pemiu 2014
sebagai sebuah kerja-kerja politik yang
dimaksudkan untuk mendorong kembalinya
peran dan fungsi negara dalam pengelolaan
Didasari atas situasi krisis lingkungan
lingkungan hidup dan sumber-sumber
kehidupan rakyat yang berkeadilan dan hidup yang semakin memprihatinkan, ditandai
dengan bencana ekologis dan menurunnya
berkelanjutan.8
daya dukung lingkungan hidup. WALHI menilai
W A L H I b e r h a r a p d a n b e r u p a y a bahwa biang kerok dari kerusakan lingkungan
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Dengan bacaan tersebut, sejak reformasi 1998,
WALHI sudah melakukan berbagai kerja-kerja
politik di tingkat masyarakat. Mulai dari
pendidikan untuk pemilih yang secara massif
dilakukan jelang pemilu 1999, pendidikan politik
terkait dengan kebijakan negara di basis-basis
yang menjadi dampingan WALHI, kampanye
anti politisi busuk yang digagas bersama-sama
dengan gerakan masyarakat sipil lain.
7. Suraya Aff, Pendekatan Ekologi Politik, Jurnal Tanah Air Edisi Ekologi Politik, WALHI, 2009, hlm 27
8. Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH) merupakan pengambilan keputusan organisasi yang dilakukan
setiap satu tahun sekali, yang dihadiri oleh seluruh komponen fungsionaris WALHI baik di nasional maupun
daerah.
9. Tinjauan Lingkungan Hidup WALHI 2014 “Pemilu 2014:Utamakan Keadilan Ekologis” diluncurkan pada tanggal 15
Januari 2014.
64
Pemilu 2014 dan Agenda Politik Lingkungan Hidup Menemukan Jalan Keadilan Ekologis!
hidup dan menurunnya kualitas hidup rakyat
adalah produk kebijakan yang dikeluarkan
oleh pemerintahan, termasuk salah satunya
DPR RI. Isu lingkungan hidup merupakan isu
politik. Realitas politik lainnya, publik hampir
tidak mengenal calon wakilnya yang akan
duduk di parlemen, apalagi yang kita
harapkan menyuarakan nasib rakyat dan
lingkungan hidup.
Dalam kajian indeks caleg DPR RI,
WALHI menggunakan variabel penilaian
meliputi kompetensi yang meliputi
pengetahuan dan keahlian tiga fungsi utama
DPR, yakni menyusun UU, anggaran negara
dan pengawasan eksekutif, serta kompetensi
caleg terkait isu lingkungan hidup. Variabel
lainnya adalah kepemimpinan, yang dilihat
melalui jejaknya dalam memperjuangan isu-isu
lingkungan hidup, kemanusiaan, HAM, gender,
buruh, petani, nelayan, dan masyarakat adat.
Studi ini juga melihat komitmen caleg terhadap
perjuangan isu-isu lingkungan hidup dan
kepentingan publik dan integritasnya, dengan
melihat rekam jejak apakah pernah menjadi
pelaku atau pendukung perusak lingkungan
hidup, serta pernah atau tidaknya terlibat
tindak pidana korupsi. Dalam studi indeks
kualitas Caleg DPR RI ini, tidak lebih dari 7%
calon wakil rakyat di DPR RI yang pro
lingkungan hidup. Caleg berintegritas rendah
bahkan menunjukkan angka yang sangat
signikan yakni 82,6%, ditambah Caleg yang
tidak berintegritas (terindikasi kasus korupsi,
kejahatan lingkungan hidup dan pebisnis
tambang dan perkebunan skala besar) yang
sebagian besar dari incumbent yang kembali
maju dalam pemilu 2014.
Temuan studi indeks caleg DPR RI ini,10
calon legislatif yang punya komitmen yang
kuat terhadap isu lingkungan hidup tetap
marjinal dan isu lingkungan hidup tidak menjadi
agenda politik utama. Dari aspek integritas,
temuan studi ini menunjukkan bahwa integritas
caleg dipertanyakan, terutama karena caleg
incumbent yang hampir sebagian besar tidak
memiliki komitmen dan integritas terhadap
lingkungan hidup dan persoalan rakyat
lainnya. Salah satu penilaian dilihat dari bisnis
yang dimiliki atau keterkaitan caleg dengan
industri ekstraktif (seperti tambang dan sawit)
yang dalam Tinjauan Lingkungan Hidup WALHI
2014 merupakan predator tertinggi dari
keadilan ekologis dan praktik korupsi yang
saling bertali-temali satu sama lain.
Temuan ini juga mencerminkan
keprihatinan yang mendalam karena dapat
mengancam kemampuan pemerintahan ke
depan dalam menjawab permasalahan
lingkungan hidup Indonesia, termasuk
menjawab tantangan krisis lingkungan hidup
global seperti perubahan iklim. Banyak politisi
yang belum memahami substansi dari politik
lingkungan hidup. Padahal sebagai sebuah
hak asasi, lingkungan hidup yang bersih dan
sehat menentukan kualitas hidup manusia saat
ini dan generasi yang akan datang.
Lalu bagaimana dengan partai politik
sendiri, yang menjadi kendaraan bagi para
10. Studi indeks Caleg DPR RI dilakukan oleh WALHI dan WALHI Institute yang dilakukan sejak Desember 2013 – Maret
2014. Studi ini menyusuri CV 6.561 orang caleg DPR RI dari 12 parpol dengan berbasiskan pada data yang
tersedia di KPU pada tahap pertamanya.
65
Agenda lingkungan memang sudah
masuk dalam agenda partai politik, setidaknya
itu terkuak dalam dokumen 11 partai politik
nasional baik dalam AD-ART, manifesto,
platform maupun program di partai politik.
Sayangnya, dari kajian terhadap dokumen
parpol, dapat disimpulkan bahwa parpol tidak
memahami akar persoalan lingkungan hidup
dan sumber daya alam yang begitu kompleks
dan rumit.
Selain mengkaji dokumen parpol
terhadap isu lingkungan hidup, kajian juga
dilakukan dengan mengkomparasikannya
dengan produk kebijakan yang dikeluarkan
oleh partai politik melalui kader-kadernya di
parlemen maupun eksekutif yang menyangkut
lingkungan hidup dan menyangkut hajat hidup
orang banyak. Bagi WALHI, tidak cukup hanya
melihat dokumen organisasi sebagai sebuah
basis argumentasi untuk memilih, karena jika
lingkungan hidup dimaknai sebagai sebuah
ideologi, maka seharusnya partai-partai yang
sudah menempatkan lingkungan hidup
sebagai agenda partainya, juga
menurunkannya pada tahapan tindakan
politik yang tertuang dalam berbagai produk
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan
yang berkuasa.
Melihat kondisi kualitas lingkungan
hidup yang semakin buruk, ditambah dengan
bencana ekologis yang terus berlanjut,
dokumen organisasi partai tidaklah cukup,
tetapi juga perubahan mendasar atas tatanan
ekonomi politik yang akan dipilih kedepannya.
Untuk yang satu ini, saya menilai tidak ada
partai yang berani menawarkan agenda
perubahan mendasar, dengan merombak
tata kuasa yang diturunkan pada sebuah nilai
demokrasi kerakyatan, tata kelola untuk
menjamin kedaulatan, tata produksi dan tata
konsumsi yang dapat memastikan terwujudnya
keberlanjutan lingkungan hidup.
Dari hasil kajian WALHI terhadap
dokumen 12 partai politik nasional peserta
pemilu, ditemui kenyataan bahwa agenda
politik lingkungan hidu belum menjadi agenda
prioritas bagi partai politik dan bahkan
diversuskan dengan persoalan rakyat lainnya
seperti urusan perut dan bahkan soal
nasionalisme buta. Partai politik masih
menempatkan agenda “hijau” sebagai
sebuah wacana, yang bisa diabaikan jika tidak
menguntungkan kepentingan ekonomi politik
mereka melalui transaksi yang berkedok
demokrasi prosedural. Apalagi kita semua
sangat paham, ongkos politik begitu mahal
dan yang paling mungkin untuk dilirik adalah
sumber daya alam.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
caleg dan kader-kader politiknya dalam
memandang isu lingkungan hidup? Untuk
mendapatkan jawaban ini, WALHI telah
melakukan kajian terhadap dokumen partai
politik nasional, dengan menggunakan isu
lingkungan hidup sebagai basis utama
penilaiannya. Kajian ini untuk melihat
sejauhmana partai politik memahami akar
persolan lingkungan hidup yang semakin rumit
dan kompleks. Dari kajian yang dilakukan,
minus Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
(PKPI), 11 Partai Politik Nasional telah
mencantumkan isu lingkungan hidup dan
sumber daya alam dalam dokumen mereka.
66
Pemilu 2014 dan Agenda Politik Lingkungan Hidup Menemukan Jalan Keadilan Ekologis!
Dari partai politik nasional yang
mencantumkan secara jelas isu lingkungan
hidup dan soal-soal rakyat lainnya tetap tidak
berpengaruh dengan kebijakan yang
dihasilkan. Dari produk kebijakan yang
dikeluarkan oleh Parlemen, terlihat bahwa
tidak ada relasi antara visi misi dan platform
partai politik, dengan kebijakan yang
dikeluarkan sebagai pengambil keputusan
politik negeri ini. Dokumen organisasi partai
politik juga belum dijadikan sebagai sebuah
panduan bagi kader parpol ketika dia menjadi
pejabat publik dalam melakukan tindakan
politiknya. Artinya, partai politik telah gagal
menginternalisasi visi misi lingkungan hidup
mereka kepada para kadernya. Situasi ini
terkonrmasi dari tabel yang memperlihatkan
kebijakan partai politik terkait dengan
kebijakan lingkungan hidup dan pengelolaan
sumber daya alam yang diproduksi oleh DPR RI
sebagai sebuah produk kebijakan.11 Salah
satunya adalah revisi terhadap UU No. 27/2007
tentang pengelolaan pesisir dan pulau-pulau
kecil. Revisi yang disetujui oleh semua partai
politik yang ada di parlemen ini akan
mengancam pulau-pulau kecil yang ada di
Indonesia yang dibolehkan untuk ditambang.
Lalu bagaimana dengan partai politik
baru atau yang belum sempat berkuasa,
seperti partai Nasional Demokrat dan PKP
Indonesia. Tidak ada indikator berbasis
pengalaman dalam hal kebijakan untuk
menilai dua partai ini, yang pasti mereka belum
teruji. Namun kita juga bisa memiliki indikator
yang lain dengan menyusuri rekam jejak
sejauhmana peran tokoh politiknya
berkecimpung di industri ekstraktif yang ini
telah menyebabkan krisis ekologis dan
kedaulatan. terlebih sebagaimana yang
disampaikan di atas, bahwa partai politik saat
ini sangat tergantung pada gur satu dua
orang pemegang modal yang mendanai
parpol.
melangkah menuju masyarakat yang adilmakmur yang sejati?
WALHI memandang bahwa reformasi
harus dilakukan dalam sebuah makna yang
benar, bukan reformasi tambal sulam maupun
reformasi yang hanya mengganti sekrupsekrup kapal tua yang sama. Dengan demikian
kita tidak perlu membatasi gagasan-gagasan
dan pikiran dalam perubahan yang
berkembang untuk menyiapkan tatanan
Indonesia baru yang lebih baik kedepannya.
Dengan dasar pikiran bahwa persoalan
pengelolaan sumberdaya dan lingkungan
adalah persoalan politik, maka WALHI
memandang reformasi politik merupakan
dasar reformasi dalam bidang pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan
hidup. Dengan dasar pikiran bahwa persoalan
pengelolaan sumberdaya dan lingkungan
adalah persoalan politik, maka WALHI
memandang reformasi politik merupakan
dasar reformasi dalam bidang pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan
hidup.
Prinsip keadilan ekologis tidak hanya
ingin memastikan keadilan kehidupan dan
penghidupan bagi masyarakat di dalam satu
generasi (keadilan intra-generasi), tetapi juga
memastikan adanya keadilan kehidupan dan
penghidupan bagi anak-cucu kita, generasi
bangsa Indonesia masa depan (keadilan intergenerasi).
Sebagai pelopor gerakan lingkungan
hidup nasional di Indonesia, WALHI memiliki
kepentingan agar pemerintahan lima tahun ke
depan benar-benar mengarusutamakan
keadilan ekologis dalam strategi
pembangunannya. Selama beberapa
dekade sejak dibentuk di tahun 1980, WALHI
secara konsisten bekerja bersama kelompokk el om p ok m a s y a ra k a t d a n k om uni ta s komunitas di seluruh Indonesia, baik di
kampung-kampung maupun di kota-kota,
IV. Tahun 2014: Jalan Keadilan Ekologis
mendorong pengarusutamaan keadilan
Pemilu 2014 merupakan momentum ekologis dalam proses perubahan sosial dan
yang sangat penting bagi rakyat Indonesia kebijakan.
untuk memilih, apakah ingin tetap berada
Selama kurun waktu tersebut WALHI
dalam kebanggaan semu sebagai warga
negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi juga menjadi saksi bagaimana inisiatif-inisiatif
tinggi dan berkubang dalam bencana masyarakat, baik cakupannya lokal, nasional
ekologis yang berkelanjutan, ataukah ingin maupun global, bisa setidaknya menahan laju
keluar dari jebakan bencana dan mulai p e r u s a k a n s o s i a l d a n e k o l o g i s a k i b a t
11. Tabel ini diolah dari berbagai sumber, yang merupakan hasil monitoring kebijakan yang dilakukan oleh WALHI
67
Ada lima agenda politik strategis yang
didorong oleh gerakan lingkungan hidup yang
akan terus disuarakan oleh WALHI bersama
dengan gerakan lingkungan hidup lainnya,
dan akan disebarluaskan kepada gerakan
sosial demokrasi serta komponen masyarakat
lainnya, yaitu: (1) Pengembalian Mandat
Negara sebagai Benteng Hak Asasi Manusia
dengan Peran-peran Perlindungan,
Pencegahan, dan Promosi; (2) Penataan Ulang
Relasi antara Negara, Modal, dan Rakyat; (3)
Penyelesaian Konik Sumberdaya Alam dan
Lingkungan Hidup; (4) Pemulihan
Keseimbangan Ekologis dan Perlindungan
Lingkungan Hidup; (5) Penyelesaian Persoalan
Utang Luar Negeri, Mengembangkan
Kemandirian, dan Basis Perekonomian
Rakyat.12
mewujudkan keadilan ekologis. Tentu ini
bukanlah pekerjaan yang mudah ditengah
sistem politik kita yang masih dikuasai oleh
partai politik dominan hari ini, dan masih
mengebiri lahirnya sebuah kekuatan politik
alternatif.
WALHI meyakini, hakikatnya
demokrasi prosedural dan substansial ini tidak
akan berarti tanpa dukungan dari publik
sebagai warga negara yang memiliki hak
politik. Karenanya, WALHI mengajak seluruh
elemen masyarakat untuk menggunakan
momentum pemilu 2014 ini untuk menjadi
warga negara dan pemilih yang cerdas dan
kritis. Karena bagaimanapun, ini akan
menentukan nasib pengelolaan lingkungan
hidup kita dan pengelolaan kehidupan
bangsa ini kedepan, yang kita semua
harapkan bisa lebih baik dari situasi bangsa hari
ini untuk inter dan antar generasi.
WALHI akan terus mengkonsolidasikan
organisasi masyarakat sipil, masyarakat korban
pembangunan, petani, nelayan, perempuan,
masyarakat lokal, masyarakat adat, buruh
untuk memastikan agar agenda politik
lingkungan hidup yang berkeadilan menjadi
agenda politik yang didengar dan disuarakan
oleh kepemimpinan Indonesia kedepan
sebagai sebuah perubahan struktural Negara
ke arah yang berkeadilan demi keselamatan
dan kesejahteraan rakyat. Yang perlu diingat,
bahwa pemilu hanyalah salah satu bentuk
pengejewantahan dari demokrasi. Namun di
luar pemilu, menjadi penting bagi warga
negara untuk mempraktekkan hak
demokrasinya dalam menentukan nasib dan
ruang hidupnya.
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI 2014 - APRIL 2014
paradigma pembangunan yang eksploitatif.
WALHI ingin pemerintahan ke depan
memberikan perlindungan bagi komunitaskomunitas pengelola kekayaan alam, dan
memberikan proporsi yang adil dan setara
bagi keterlibatan sejati masyarakat/warga
negara dalam setiap proses pembangunan,
berdasarkan prinsip-prinsip keadilan sosial dan
ekologis.
Platform politik gerakan lingkungan
hidup Indonesia, dirumuskan dari sebuah
proses panjang advokasi yang dilakukan oleh
WALHI selama 33 tahun berjibaku dengan
berbagai konik lingkungan hidup dan sumber
daya alam dan advokasi kebijakan negara.
Dokumen ini bersandarkan pijakannya pada
Statuta dan manifesto WALHI, serta diekstraksi
dari berbagai dokumen penting organisasi
terkait dengan agenda politik yang
diperjuangkan oleh WALHI antara lain
dokumen kertas kebijakan reformasi
pengelolaan lingkungan hidup dan sumber
daya alam yang dikeluarkan pada momentum
reformasi, dan dokumen terakhir Pulihkan
Indonesia yang dikeluarkan pada tahun 2011.
V. Penutup
Ditengah momentum pemilu 2014,
dimana arah bangsa ini kedepan akan
dipengaruhi oleh hasil pemilu 2014 yang akan
segera berlangsung, WALHI mendesak agar
kepemimpinan bangsa ini kedepan memiliki
agenda politik lingkungan hidup untuk
12. Platform politik gerakan lingkungan hidup Indonesia dideklarasikan pada tanggal 11 Maret 2014 pada Rapat
Akbar Gerakan Lingkungan Hidup di Tennis Indoor Senayan Jakarta, yang dihadiri oleh ribuan masyarakat
pejuang LH, korban pembangunan, aktis gerakan masyarakat sipil dan tokoh politik nasional, serta para musisi.
68
Tengang Penulis
Tentang Penulis
Anto Sangaji
adalah kandidat doktor
geogra dari York
University, Toronto,
Kanada, menjadi aktivis
sekaligus intelektual yang
mencurahkan seluruh
pikiran dan tindakan
u n t u k m e m b e l a
kepentingan rakyat.
Merupakan pendiri Lembaga Yayasan Tanah
Merdeka ( YTM ) yang berada di Sulawesi
Tengah, juga merupakan anggota Walhi
Sulawesi Tengah. Merupakan penganut
Marxisme tulen yang karyanya sudah tersebar
dimana-mana.
Arfan Aziz
Pemuda asal Jambi ini,
menamatkan studi
sarjana di Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Sulthan
Thaha Saifuddin, Jambi,
Indonesia (2002). Meraih
gelar Master of Social
Science (Anthropology
and Sociology) di Fakulti
Sains Sosial dan
Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia
(2007) dan kini tengah menyelesaikan program
Doktoral (PhD Cand. Anhtropology and
Sociology) juga di Fakulti Sains Sosial dan
Kemanusiaan UKM. Memulai pekerjaan
sebagai community organizer di Sarolangun
dan menjadi report assistant untuk Proyek
Penelitian WALHI Jambi (2001, DfID) yang
bertema Dampak Perkebunan Kelapa Sawit
Skala Besar Terhadap Masyarakat Lokal di
Jambi', Ia juga pernah menjadi asisten lokal
untuk proyek penelitian DEMOS: MasalahMasalah dan Pilihan-Pilihan Demokrasi di
Indonesia (2004) sambil menjadi peneliti dan
fasilitator di Pusat Dukungan Kebijakan Publik
dan Pemerintahan yang Baik KBH YPBHI Jambi,
Indonesia (2003-2005, Friedrich Naumann
Stiftung & Uni Eropa). Di samping mengikuti
kuliah pasca sarjana, bersama Diana Wong Ing
Boh, Arfan terlibat dalam proyek penelitian
Social Science Research Council bertema
Migrant Minority Religious live (2007-2009, Ford
67
Foundation). Kini dia menetap di Jambi dan
kembali kepada almamaternya sebagai staf di
Pusat Penelitian IAIN Sulthan Thaha Saifuddin
dan menjadi redaktur jurnal sosial keagamaan
'Kontekstualita'. Arfan dapat dihubungi melalui
email: [email protected].
Khalisah Khalid
Lahir di Jakarta pada
tanggal 25 Agustus 1978.
Menyelesaikan studi di
jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam
Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah
Jakarta. Mengenal isu
lingkungan hidup sejak
aktif di Kelompok
Pencinta Alam (KPA) Arkadia UIN Jakarta, dan
mulai aktif di WALHI dari relawan sejak tahun
1997, hingga saat ini sebagai Kepala
Departemen Jaringan dan Pengembangan
Sumber Daya Eksekutif Nasional WALHI
periode 2012-2016. Sebelumnya pada tahun
2008-2012 menjadi Dewan Nasional Wahana
Lingkungan Hidup periode 2008-212. Selain di
WALHI nasional, juga pernah aktif bersama
WALHI Jakarta dan WALHI Aceh.
Bergelut pada kerja-kerja pengorganisasian
bersama komunitas yang menjadi korban
kebijakan negara, melakukan riset dan kajian
terkait dengan isu lingkungan hidup dan
menyuarakan persoalan lingkungan hidup
kepada publik melalui kampanye populer
menjadi aktitas yang dilakoni di WALHI,
termasuk didalamnya membangun
komunikasi dengan jaringan masyarakat sipil.
Selain menekuni aktitas keseharian di WALHI,
menulis berbagai artikel di media dilakukan
sebagai bagian dari kampanye tentang isuisu lingkungan hidup, politik dan perempuan.
Artikelnya telah dimuat di berbagai media
massa nasional seperti Kompas dan Koran
Tempo. Berbagai artikel tersebut dapat
diunduh di www.sangperempuan.web.id.
Untuk komunikasi dapat melalui email di
[email protected] atau
[email protected]
Rizki Fitriana
Perempuan tangguh asal Muaro Bungo Jambi
ini meretas jalan aktivisme sebagai mahasiswi
mandiri di IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Selain aktif di organisasi mahasiswa, Rizki juga
bergiat dalam diskusi membangkitkan
kesadaran mahasiswa tentang khittahnya
menjadi pelopor transformasi sosial.
Rudi HB Daman
Laki-laki kelahiran
Sukabum, 07 Agustus 1978
ini pernah bekerja di pabrik
menjadi buruh di pabrik
Sepatu selama 3 tahun.
Pada tahun 1998 Di PHK
karena ambil bagian
dalam pemogokan dan
pengorganisasian untuk
pembangunan Serikat
Buruh Independen di bawah tanah.
Tahun 1997 di tangkap oleh pihak Kepolisian
dan Tentara (hanya 1 hari mendekam di kantor
Polisi) karena melakukan pertemuanpertemuan di kalangan kaum buruh serta di
tuduh menggalang kekuatan untuk melakukan
pemogokan di pabrik.
Sejak April tahun 1998 aktif dalam kerja
pengorganisasian kaum buruh di wilayah
Tangerang, Bogor, Depok dan Bekasi. Pada
tahun 1998 juga ambil bagian dalam aksi-aksi
mahasiswa dan juga kaum buruh dalam
menggulingkan rezim otoriter Soeharto.
Pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan
Pusat Perkumpulan Buruh Pabrik Sepatu (DPP.
PERBUPAS) Sejak tahun 2000 s/d 2001. Perbupas
adalah Federasi Serikat Buruh anggota GSBI di
sektor Alaskaki (sepatu dan perlengkapannya).
Organisasi ini pertama kali didirikan di Bogor
Indonesia pada 26 Desember 1996.
Pada tahun 2001 s/d 2006 Menjadi Sekretaris
Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Gabungan
Serikat Buruh Independen (DPP GSBI) .
Sejak 2006 sampai sekarang menjadi Ketua
Umum Dewan Pimpinan Pusat Gabungan
Serikat Buruh Independen (DPP GSBI) .
Sejak 1 Mei 2008 sampai dengan sekarang
menjadi Koordinator Front Perjuangan Rakyat
(FPR). FPR adalah aliansi luas dari organisasiorganisasi masyarakat sipil Indonesia dan
organisasi-organisasi Sosial serta Individu. FPR
menyandarkan diri pada prinsip aliansi dasar
klas buruh dan kaum tani sebagai komponen
pokok perubahan sosial. Selain melakukan
aksi-aksi, FPR juga menggelar diskusi-diskusi
yang mengulas berbagai persoalan sosial di
masyarakat. Dalam politiknya, FPR berpegang
pada prinsip kebebasan dalam inisiatif dan
kemandirian dalam politik.
Sejak 15 Agutus 2010 s/d sekarang menjadi
Ketua ILPS Indonesia.
Sampai saat ini masih ambil bagian dalam
usaha penyatuan gerakan buruh dan
gerakan rakyat di Indonesia, terlibat dalam
memimpin dan mengorganisasikan aksi-aksi,
pemogokan mengenai perjuangan
persoalan-persoalan kaum buruh dan rakyat
serta aktvitas-aktivitas organisasi massa
lainnya.
Pernah juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan
Internasional seperti menghadiri pertemuanpertemuan, seminar, konfrensi baik yang
diselenggarakan oleh serikat buruh ataupun
LSM.
Tatiana Lukman
Adalah anak sulung dari
lima bersaudara,
pasangan M.H. Lukman
(1920-1965) dengan Siti
Niswati. M.H. Lukman
adalah orang kedua di
teras pimpinan PKI dan
Wakil Ketua DPR Gotong
R o y o n g d a l a m
pemerintahan Presiden
Sukarno di era enam puluhan.
Tatiana meninggalkan tanah air di akhir tahun
1964 untuk belajar ke Tiongkok. Karena Revolusi
Besar Kebudayaan Proletar tahun 1964, ia tidak
dapat melanjutkan dan menyelesaikan
kuliahnja.
Ia hijrah ke Kuba di mana berhasil
menyelesaikan kuliahnya di Universitas Havana
dalam jurusan Bahasa dan Sastra Spanyol
(1978), kemudian Linguistik Perancis (1981). Ia
sempat bekerdja sebagai guru bahasa
Perancis di Institut Nasional Turisme selama
hampir 12 tahun.Sekarang ia tinggal dan
bekerja di Negeri Belanda.
Bulan November 2013, telah terbit “Alternatif”,
karyanja yang ketiga. Karya pertamanja
adalah “Panta Rhei” (2008) dan yang kedua
“Pelangi” (2010).
JURNAL TANAH AIR / FEBRUARI - APRIL 2014
Oki Hariansyah Wahab
Kandidat Doktor Ilmu
Hukum di Universitas
Diponegoro, minat
studinya pada sosiologi
hukum dan hukum
agraria,bergiat di Pusat
Kajian Kebijakan Publik
dan Hak Asasi manusia
(PKKPHAM) FH Unila
68
Download