Obligasi adalah sekuritas yang mew

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Tinjauan Teoritis
2.1.1.Obligasi
Menurut Bodie, et. al (2008), “Obligasi adalah sekuritas yang mewajibkan
penerbit untuk membuat pembayaran tertentu kepada pemegangnya pada saatsaat tertentu sepanjang periode obligasi. Tipikal kupon mewajibkan penerbit
untuk melakukan pembayaran bunga, biasanya secara semiannual, yang disebut
pembayaran kupon (coupon payment) kepada pemegang obligasi tertentu.”
Menurut Reilly dan Brown (2003), obligasi dapat dikareakteristikkan
berdasarkan tiga hal yaitu (a) fitur intrinsik (b) tipe penerbitan, atau (c) fitur
yang mempengaruhi arus kas dan atau maturitasnya.
a. Fitur Intrinsik
Kupon, maturitas, nilai principal dan tipe kepemilikan adalah fitur
intrinsik yang penting dari obligasi. Kupon mengindikasikan pendapatan yang
akan diterima dari investor obligasi selama periode pemegangan obligasi.
Disebut juga pendapatan bunga, pendapatan kupon atau imbal hasil nominal
(nominal yield).Term to maturity berisikan tanggal atau jumlah tahun sebelum
obligasi jatuh tempo.Ada dua tipe maturitas, yang paling umum adalah
obligasi termin (term bond) yang memiliki satu tanggal maturitas.Lainnya
adalah obligasi seri yang memiliki beberapa seri tanggal maturitas.
Principalatau nilai par mewakili nilai asli dari obligasi. Nilai principal
tidak sama dengan nilai pasar obligasi. Nilai pasar dari penerbitan dapat
meningkat atau lebih rendah dari nilai prinsipalnya karena perbedaan kupon
dan tingkat suku bunga pasar. Jika suku bunga pasar diatas tingkat kupon,
obligasi akan dijual pada diskon terhadap par. Sedangkan jika suku bunga psar
di bawah tingkat kupon, obligasi akan dijual pada premi diatas par.
Berdasarkan kepemilikan, obligasi dapat dibedakan menjadi bearer bond
dan registered bond. Pada bearer bond, pemegang (bearer) adalah pemilik,
sehingga penerbit tidak mencatat kepemilikan.Bunga pada bearer bond
diperoleh berdasarkan kupon yang disertakan pada obligasi yang kemudian
dikirimkan kepada penerbit untuk memperoleh pembayaran. Sebaliknya
penerbit pada registered bondmencatat kepemilikan dan membayarkan bunga
langsung kepada pemegang.
b. Tipe penerbitan
Secured (senior) bonds didukung oleh klaim legal terhadap beberapa
properti tertentu dari penerbit jika terjadi gagal bayar (default). Contohnya
adalah mortgage bond yang dijamin oleh aset real eastate. Unsecured
bondsdidukung hanya oleh janji dari penerbit untuk membayar bunga dan
prisipal tepat waktu. Subordinate (junior)debentures memiliki klaim terhadap
pendapatan dan aset dibawah debenture lain. Refunding issues, menyediakan
dana untuk mengakhiri penerbitan lain sebelum waktunya. Indenture adalah
kontrak antara penerbit dan pemegang obligasi yang berisikan persyaratan
legal penerbit.Trustee (biasanya bank) bertindak sebagai wakil dari pemegang
obligasi
memastikan
bahwa
kondisi
indenture
terpenuhi,
termasuk
pembayaran tepat waktu atas prinsipal dan bunga.
c. Fitur-fitur yang mempengaruhi maturitas obligasi
Callable bondsadalah jenis obligasi yang dapat dibeli kembali oleh
penerbit pada harga call tertentu selama periode call. Freely callable
provision, mengizinkan penerbit untuk melunasi obligasi kapan saja dengan
periode pemberitahuan 30 hingga 60 hari. Deffered call provision berarti
penerbit tidak dapat melakukan call untuk periode waktu tertentu setelah
tangal penerbitan (misalnya 5 sampai 10 tahun). Pada akhir periode penundaan
call,
obligasi
menjadi
freely
callable
(dapat
di-call).Noncallable
provisionberarti penerbit tidak dapat melakukan call hingga jatuh tempo.
Obligasi yang dapat di-call memiliki premi, dimana nilainya diatas maturitas
yang harus dibayar penerbit kepada pemegang obligasi karena telah
mengakhiri obligasi pada waktu yang lebih awal dai maturitas. Nonrefunding
provision melarang adanya call dan penyelesaian obligasi secara premature.
2.1.2.Jenis-jenis Obligasi
Menurut Bodie, et. al (2003) jenis obligasi dapat dilihat berdasarkan :
a. Berdasarkan Penerbit (Issuer)
1. Obligasi Pemerintah (Treasury)
Obligasi jenis ini diterbitkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan.
Pemerintah meminjam dana dengan menjual treasury notes dan obligasi
(bonds). T-notememiliki maturitas di atas 10 tahun, sedangkan T-bond
diterbitkan dengan maturitas dari 10 hingga 30 tahun. Baik obligasi dan
notememberikan pembayaran bunga secara semiannual yang disebut
pembayaran kupon (coupon payment). Disamping perbedaan maturitas
mereka saat penerbitan, satu-satunya perbedaan utama antara T-notes dan
T-bond adalah T-bond dapat di-call selama periode tertentu, biasanya lima
tahun terakhir dari umur obligasi. Di Indonesia, obligasi jenis ini
diterbitkan dengan nama Surat Utang Negara.
2. Obligasi munisipal
Obligasi
ini
diterbitkan
oleh
pemerintah
local
atau
pemerintah
daerah.Obligasi ini mirip dengan obligasi pemerintah, kecuali pendapatan
bunga diperoleh dari pajak pemerintah daerah.
3. Obligasi Korporasi
Obligasi ini diterbitkan oleh perusahaan tertentu yang ingin meminjam
dana langsung dari public. Struktur obligasi jenis ini seperti penerbitan
obligasi pemerintah dimana meraka umumnya membayar kupon secara
semiannual dan mengembalikan face value (nilai nominal) kepada
pemegang obligasi saat maturitas.Perbedaan utama obligasi jenis ini
dengan obligasi pemerintah terletak pada risiko. Risiko gagal bayar adalah
hal yang benar-benar perlu dipertimbangkan dalam pembelian obligasi
korporasi. Obligasi korporasi biasanya datang dengan kupon terlampir.
b. Berdasarkan Suku Bunga Kupon
1. Fixed Rate/Straight Bonds
Pembayaran bunga pada obligasi ini berdasarkan tingkat bunga tetap yang
telah ditentukan. Investor akan mendapatkan keuntungan atas investasi
obligasinya delam jumlah yang pasti (fixed). Kelemahan obligasi ini
adalah ketika tingkat suku bunga deposito perbankan di atas suku bunga
obligasi tersebut, investor mengalami potensi kerugian sebab lebih
menguntungkan investasinya apabila ditaruh di deposito. Namun
sebaliknya, jika suku bunga deposito lebih rendah maka investor akan
mendapatkan keuntungan.
2. Floating Rate/ Adjustable/Variable-Rate Bonds
Umumnya pada obligasi jenis ini, pembayaran bunga selalu berubah
selama mas hidup obligasi. Tingkat bunga biasanya didasari oleh indeks
keuangan tertentu seperti London Interbank Officer Rate (LIBOR) atau
tingkat suku bunga pemerintah seperti SBI di Indonesia.
3. Mixed Rate Bonds
Obligasi ini adalah obligasi dengan suku bunga kombinasi dari suku bunga
tetap dan mengambang.Perhitungannya dalah jumlah suku bunga tetap
ditambah rata-rata suku bunga mengambang dibagi dua.Keuntungan dari
obligasi ini adalah tingkat suku bunga relative moderat serta lebih
konservatif dalam penentuan suku bunga kupon.
4. Zero –Coupon Bonds
Obligasi jenis ini adalah obligasi yang diterbitkan tanpa pembayaran
kupon.Investor hanya menrima nilai par pada tanggal maturitas dan tidak
menerima pembayaran bunga. Obligasi ini diterbitkan dengan harga
dibawah nilai par dan returnyang diperoleh investor hanya berdasarkan
perbedaan antara harga penerbitan dan pembayaran nilai par saat
maturitas.
c. Berdasarkan Kepemilikan
1. Register Bond (Obligasi Terdaftar/ Atas Nama)
Nama pembeli tercantum dalam sertifikat obligasi jenis ini. Setiap
transaksi berpindah tangan, nama pembeli terakhir harus di-endorse
(ditulis dan dicap stempel) di balik sertifikat obligasi. Pihak yang berhak
mencairkan obligasi tersebut adalah pemilik yang namanya tercantum
dalam endorse terakhir.
2. Bearer Bond (Obligasi Atas Unjuk)
Obligasi ini memberikan hak kepada siapa saja pemegang sertifikat
obligasi ini untuk mencairkannya dan secara hokum tidak memerlukan
endorsement karena tidak mencantumkan nama pemilik. Obligasi atas
unjuk
yang
dapat
interchangeable bonds.
diubah
menjadi
obligasi
terdaftar
disebut
d. Berdasarkan Jaminan
1. Guaranteed Bond (Obligasi dijamin garansi)
Pembayaran pokok dan bunga obligasi ini dijamin oleh institusi atau
perusahaan yang buka penerbit obligasi tersebut.Biasanya obligasi ini
dikeluarkan oleh anak perusahaan dan dijamin oleh induk perusahaan
tersebut.
2. Mortgage Bond (Obligasi dijamin properti)
Obligasi ini diterbitkan dengan property milik penerbit sebagai jaminan.
3. Collateral Trust Bond (Obligasi dijamin surat berharga)
Obligasi ini dijamin oleh surat berharga lainnya, biasanya disimpan oleh
pihak bank atau wali amanat.
4. Equipment Bond (Obligasi dijamin peralatan)
Penjaminan obligasi ini didasarkan atas hak gadai atau hak jual atas
peralatan tertentu kepada pemegang obligasi. Apabila terjadi gagal bayar
pemegang obligasi dapat mengeksekusi penjualan atas peraltan tersebut.
5. Debenture Bond/Unsecured Bond(Obligasi tanpa jaminan)
Obligasi ini hanya dijamin dengan itikad baik (good will) penerbit,
biasanya diterbitkan oleh pemerintah. Kebalikan dari obligasi ini adalah
secured bond(obligasi dengan jaminan) yaitu obligasi yang telah dibahas
sebelumnya.
e. Berdasarkan Pelunasan
1. Serial Bond (Obligasi Berseri)
Metode pelunasan obligasi dilakukan secara bertahap sesuai tanggal jatuh
tempo yang dijadwalkan pada periode tertentu sampai pelunasan
keseluruhan obligasi.
2. Callable Bond
Obligasi ini memberikan hak opsi bagi penerbit untuk membeli kembali
sebagian atau keseluruhan obligasi pada harga dan waktu yang telah
ditentukan sebelum masa jatuh tempo.Opsi membeli kembali ini lebih baik
dijalankan pada saat suku bunga turun.
3. Putable Bond
Obligasi dengan hak opsi bagi pemegang obligasi untuk dapat menjual
atau mendapatkan pelunasan pada harga dan waktu yang telah ditentukan
sebelum jatuh tempo.Opsi menjual kembali ini lebih baik dijalankan pada
saat suku bunga naik.
4. Sikning Fund Bond(Obligasi dengan dana pelunasan)
Metode pelunasan obligasi ini didukung dengan dana pelunasan yang
diakumulasikan secara tetap dari penyisihan laba bersih emiten.
5. Perpetual Bond(Obligasi tanpa jatuh tempo)
Obligasi ini tidak memiliki waktu jatuh tempo, tidak dapat ditebus, serta
memiliki kewajiban membayar pendapatan bunga tetap (annuity bond).
f. Berdasarkan Penukaran
1. Convertible Bond (Obligasi Konversi)
Obligasi yang dapat ditukar dengan sekuritas lain seperti saham, biasanya
pad tanggal dan harga tertentu.
2. Exchangeable Bond
Obligasi dimana principal pinjamannya dibayar dengan menggunakan
saham perusahaan lain.
g. Berdasarkan Lokasi Penerbitan
1. Domestic Bond
Obligasi ini diterbitkan untuk jangkauan pasar domestik dan biasanya
menggunakan denominasi mata uang Negara di mana obligasi diterbitkan.
2. International Bond
Obligasi
jenis
ini
diterbitkan
oleh
perusahaan
atau
pemerintah
asing.Eurobond adalah obligasi yang didenominasi dalam mata uang
selain amata uang Negara dimana obligasi tersebut diterbitkan.Contohnya,
obligasi yang didenominasi oleh dollar dijual di Inggris disebut obligasi
Eurodollar.Obligasi yang didenominasi mata uang Yen dijual di Negara di
luar Jepang disebut Euroyen.Sebaliknya ada juga jenis obligasi yang
diterbitkan oleh pihak asing di Negara selain negaranya dan menggunakan
mata uang investor Negara tersebut.Contohnya adalah Yankee Bond,
obligasi yang didenominasi dalam dollar dijual di Amerika penerbit nonAmerika.
2.1.3.Risiko Obligasi
Berikut ini adalah risiko-risiko umum yang dihadapi suatu obligasi,
diantaranya adalah:
1. Interest Rate Risk (Risiko Tingkat Suku Bunga)
Risiko naik turunnya harga sebuah obligasi yang diakibatkan oleh
perubahan suku bunga pasar.Risiko ini sering disebut juga sebagai market
risk.Expected inflation, tingkat suku bunga jangka pendek, yield curve,
serta kupon obligasi adalah hal-hal yang sangat terkait dengan market risk
ini.Saat suku bunga naik, harga obligasi turun dan sebaliknya saat suku
bunga turun harga obligasi naik.
2. Currency/Foreign Exchange Rate Risk (Risiko Fluktuasi Mata Uang)
Pergerakan mata uang sangat menentukan pergerakan harga dan
perdagangan di pasar obligasi terutama jika obligasi yang dimiliki
didenominasi mata uang asing.
3. Credit Risk (Risiko Utang)
Risiko kredit ini dapat berupa:

Default risk, yaitu risiko dimana penerbit obligasi gagal menyelesaikan
pembayaran bunga maupun pokok pinjaman

Down grade risk, yaitu dimana harga pasar suatu obligasi turun karena
agen pemeringkat menurunkan bobot nilainya.
4. Reinvestment Rate Risk (Risiko Investasi Kembali)
Risiko kesalahan penghitungan terhadap pendapatan yang seharusnya bisa
diinvestasikan pada skala tingkat investasi yang wajar dalam periode
tertentu. Perhitungan yieldyang didapat bisa tidak seimbang terhadap rate
reinvestment yang terjadi di tengah periode obligasi tersebut.
5. Liquidity Risk (Risiko Likuiditas)
Risiko dimana obligasi yang dimiliki tidak dapat dilikuidasi (dijual) pada
harga yang diharapkan. Likuiditas sangat penting sekali karena investor
yang membeli obligasi akan senang jika menjual obligasi tersebut ke pasar
dalam kondisi yang sangat likuid, sehingga transaksi tersebut bisa sangat
menguntungkan.
6. Inflation Risk (Risiko Inflasi)
Inflasi yang semakin tinggi akan mengakibatkan daya beli semakin
menurun sehingga likuiditas obligasi akan terpengaruh.
2.1.4. Yield to Maturity Obligasi
Yieldobligasi merupakan faktor terpenting sebagai pertimbangan investor
dalam
melakukan
pembelian
obligasi
sebagai
instrumen
investasinya.
Investorobligasi akan menghitung seberapa besar pendapatan investasi atas dana
yang dibelikan obligasi tersebutdengan menggunakan alat ukur yield(Rahardjo,
2003).
Yield adalah keuntungan atas investasi obligasi yang dinyatakan dalam
persentase (Samsul, 2006). Yield to maturity (YTM) bisa diartikan sebagai
tingkat return majemuk yang akan diterima investor jika membeli obligasi pada
harga pasar saat ini dan menahan obligasi tersebut hingga jatuh tempo. YTM
merupakan ukuran yield yang banyak digunakan karena yield tersebut
mencerminkan return dengan tingkat bunga majemuk (compounded rate of
return) yang diharapkan investor, jika dua asumsi yang disyaratkan bisa
terpenuhi maka yield to maturity yang diharapkan akan sama dengan realized
yield. Asumsi pertama adalah bahwa investor akan mempertahankan obligasi
tersebut sampai dengan waktu jatuh tempo.Nilai yang didapat jika asumsi
pertama dipenuhi sering disebut dengan yield to maturity (YTM). Asumsi kedua
yaitu investor menginvestasikan kembali pendapatan yang
diperoleh dari
obligasi pada tingkat Yield To Maturity yang dihasilkan. (Tandelilin, 2010:259).
Yield To Maturity adalah tingkat bunga yang menyamakan harga obligasi
dengan nilai sekarang dari semua aliran kas yang diperoleh dari obligasi sampai
dengan waktu jatuh tempo, oleh karena persamaan tersebut didasari dengan
perhitungan nilai sekarang maka semua pendapatan yang diperoleh harus
diinvestasikan kembali pada tingkat yield to maturity (Jogiyanto, 2010:164).
Jika pendapatan kupon tidak diinvestasikan pada tingkat yang sama dengan
yield to maturity maka yield yang diperoleh akan lebih kecil atau lebih besar
dari yield yang dijanjikan.YTM mengevaluasi baik pendapatan bunga, capital
gain maupun cashflow yang diterima sepanjang masa hidup pasar obligasi yaitu
sampai maturity date (Ang, 1997 dalam Ibrahim 2008).
Secara khusus semakin tinggi tingkat hasil hingga jatuh tempo, semakin
rendah tingkat perubahan harga. Untuk besar perubahan yield yang sama, pada
tingkat hasil yang rendah menyebabkan perubahan harga yang lebih besar
dibandingkan pada tingkat hasil yang tinggi.Dengan kata lain untuk perubahan
hasil tertentu, perubahan tingkat harga akan lebih besar pada yield yang rendah
dibanding pada yield yang tinggi (Kusuma dan Asrori, 2005). Jika yield to
maturitynya lebih tinggi dari yield to maturityyang dianggap tepat maka obligasi
dikatakan underpriced (undervalued) dan merupakan satu kandidat untuk dibeli.
Sebaliknya, jika yield to maturity lebih rendah dari yang dianggap tepat, maka
obligasi dikatakan overpriced (overvalued) dan merupakan kandidat untuk
dijual (Sharpe, dkk, 2005).
Rumus perhitungan yield to maturity menggunakan persamaan yang
dikembangkan dengan menggunakan metode equation approximation sebagai
berikut (Tandelilin, 2010:260):
YTM =
Keterangan :
𝐹𝐹−𝑃𝑃
𝑛𝑛
𝐹𝐹+𝑃𝑃
2
𝐢𝐢+
x100%
YTM = Yield to Maturity
C = Kupon
N= Sisa Waktu Jatuh Tempo
F = Face Value (Nilai Nominal)
P = Harga Obligasi Pada Saat t=0
2.1.5.Tingkat Suku Bunga SBI
Menurut Wardane (2003) dalam Prawoto dan Avonti (2004), suku bunga
adalah pembayaran yang dilakukan untuk penggunaan uang.Suku bunga adalah
jumlah bunga yang harus dibayar per unit waktu. Dengan kata lain, masyarakat
harus membayar peluang untuk meminjam uang.
Suku bunga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Suku bunga nominal adalah suku bunga dalam nilai uang. Suku bunga ini
merupakan nilai yang dapat dibaca secara umum. Suku bunga ini
menunjukkan
sejumlah
rupiah
untuk
setiap
satu
rupiah
yang
diinvestasikan.
2. Suku bunga riil adalah suku bunga yang telah mengalami koreksi akibat
inflasi dan didefinisikan sebagai suku bunga nominal dikurangi laju
inflasi.
Investasi dalam deposito atau SBI, akan menghasilkan bunga bebas risiko
tanpa memikirkan pengelolaannya. Sementara investasi dalam obligasi
mengandung risiko seperti kegagalan penerimaan kupon atau gagal pelunasan
dan kerugian karena kehilangan kesempatan untuk melakukan investasi di
tempat lain (opportunity cost). Oleh karena itu, yieldobligasi yang diperoleh
harus lebih tinggi daripada tingkat deposito atau SBI (Ibrahim, 2008).
Pergerakan tingkat suku bunga SBI sangat berpengaruh terhadap efek
pendapatan tetap.Kenaikan tingkat bungaSBI diharapkan dapat memberikan
alternatif investasi karena orang lebih suka membeli SBI yang memberikan
bunga tinggi.Pada gilirannya kenaikan tingkat suku bunga SBI pasti berdampak
pada kenaikan tingkat bunga komersial.Disaat tingkat bunga komersial tinggi
merupakan
momen
yang
tidak
tepat
untuk
merealisasikan
capital
gain.Karenaharga obligasi berhubungan terbalik dengan tingkat bunga pasar.
Sehingga kenaikan tingkat bunga komersial justruakan mengakibatkan
penurunan harga obligasi. Kemudian investor dapat merealisasikan capital
gainketika pemerintahmelakukan pemotongan terhadap tingkat suku bunga
SBI.Karena pemotongan tingkat sukubunga SBI berdampak pada apresiasi
terhadap harga obligasi (Ratih, 2006).
Menurut Van Horne dan Wachowicz (1997) bahwa jika tingkat bunga
meningkat sehingga tingkat pengembalian yang diharapkan pasar juga
meningkat, maka harga obligasi akan menurun. Jika tingkat bunga menurun,
harga obligasi meningkat.Sehingga tingkat bunga dan harga obligasi bergerak
dalam arah yang berlawanan.Dari pernyataan diatas, tampak jelas bahwa
keberagaman
tingkat
bunga
dapat
menyebabkan
keberagaman
harga
obligasi.Variasi ini pada harga sekuritas yang disebabkan oleh perubahan pada
tingkat bunga disebut dengan risiko tingkat bunga.
Nilai suatu obligasi bergerak berlawanan arah dengan perubahan suku
bunga secara umum. Jika suku bunga secara umum cenderung turun, maka
nilaiatau harga obligasi akan meningkat, karena para investor cenderung untuk
berinvestasi pada obligasi. Sementara itu, jika suku bunga secara umum
cenderung meningkat, maka nilai atau harga obligasi akan turun, karena para
investor cenderung untuk menanamkan uangnya di Bank (Bapepam, 2003).
2.1.6.Peringkat Obligasi (Bond Rating)
Salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat risiko yang
dihadapi oleh perusahaan penerbit obligasi, tercermin dalam peringkat
obligasinya.Obligasi dengan peringkat rendah merupakan obligasi yang lebih
berisiko.Implikasinya obligasi dengan peringkat rendah harus menyediakan
YTM lebih tinggi karena untuk mengkompensasi kemungkinan risiko yang
besar (Ratih, 2006).
Rating atau peringkat obligasi memiliki peran penting baik bagi
perusahaan maupun bagi investor karena: (1) rating obligasi merupakan
indikator resiko kegagalan (default risk) dari suatu obligasi dan secara langsung
dapat mengukur pengaruh terhadap tingkat bunga obligasi dan biaya modal
suatu perusahaan; (2) kebanyakaan obligasi dibeli oleh investor institusi
daripada investor individu dan banyak dari investasi institusi tersebut hanya
diperbolehkan untuk melakukan investasi pada sekuritas yang aman (Brigham
dan Houston, 2006:290).
Peringkat (rating) yang diberikan oleh rating agencyakan menyatakan
apakah obligasi tersebut berada pada peringkat investment gradeatau non
investment grade. Suatu obligasi yang memperoleh rating non investment
grademaka obligasi tersebut disebut dengan istilah junk bond.Sedangkan suatu
obligasi yang sebelumnya termasuk investment gradetetapi setelah ditinjau
kembali dan peringkatnya turun ke non investment grade, obligasi yang
demikian biasanya disebut falling angels(Ang, 1997 dalam Ibrahim 2008).
Proses
pemeringkatan
obligasi
dilakukan
oleh
suatu
lembaga
pemeringkat(rating agency). Lembagapemeringkat yang ada di Indonesia adalah
PT. PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia) yang juga bekerjasama dengan
Standars & Poor’s.Perusahaan pemeringkat obligasi memberikan hasil peringkat
obligasi dalam beberapa simbol obligasi dimana masing-masing simbol
memiliki arti yang berbeda.Hasil peringkat diperoleh dari data kualitatif maupun
kuantitatif emiten obligasi termasuk rasio-rasio keuangan emiten pada beberapa
tahun sebelumnya.Adapun simbol peringkatPT. PEFINDO adalah sebagai
berikut (Ang, 1997 dalam Ibrahim 2008):
Tabel 2.1
Simbol Peringkat PT. PEFINDO
Simbol Peringkat
Jangka Panjang
Jangka Pendek
AAA
A1
AA
A2
A
A3
BBB
A4
BB
B
B
CCC
C
D
D
Kategori
Investment Grade
(layak untuk investasi)
Non Investment Grade
(tidak layak untuk
investasi)
Definisi peringkat surat hutang PT. Pemeringkat Efek Indonesia
(PEFINDO) adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2
Definisi Peringkat Obligasi PEFINDO
Peringkat
Definisi
AAA
Sekuritas utang dengan peringkat idAAA merupakansekuritas
utang dengan peringkat tertinggi dari Pefindo yang didukung oleh
kemampuan obligor yang superiorrelatif dibanding obligor
Indonesia lainnya untuk memenuhikewajiban finansial jangka
panjangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.
AA
Sekuritas utang dengan peringkat idAA memiliki kualitas kredit
sedikit di bawah peringkat tertinggi didukung oleh kemampuan
obligor yang sangat kuat untuk memenuhi kewajiban finansial
jangka panjangnya sesuai dengan yang diperjanjikan, relatif
dibanding dengan obligor Indonesia lainnya.
A
Sekuritas utang dengan peringkat idA memiliki kemampuan
dukungan obligor yang kuat dibanding obligor Indonesia lainnya
untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai
dengan yang diperjanjikan, namun cukup peka terhadap
perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan.
BBB
Sekuritas utang dengan peringkat idBBB didukung oleh
kemampuan obligor yang memadai relatif dibanding sekuritas
utang Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansial
jangka panjang sesuaidengan yang diperjanjikan namun
kemampuan tersebut dapat diperlemah oleh perubahan keadaan
perekonomian yang merugikan.
BB
Sekuritas utang dengan peringkat idBB menunjukkan
dukungankemampuan obligor yang agak lemah relatif dibanding
sekuritas utang Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban
finansial jangka panjang sesuai dengan yang diperjanjikan serta
peka terhadap keadaan bisnis, keuangan dan perekonomian yang
tidak menentu dan merugikan.
B
Sekuritas utang dengan peringkat idBmenunjukkan parameter
perlindungan yang sangat lemah. Walaupun obligor masih
memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban finansial
jangka panjangnya, namun adanya perubahan keadaan bisnis dan
perekonomian yang merugikan akan memperburuk kemampuan
obligor tersebut untuk memenuhikewajiban finansialnya.
CCC
Sekuritas utang dengan peringkat idCCCmenunjukkan sekuritas
utang yang tidak mampu lagi memenuhi kewajiban finansialnya
serta hanya bergantung kepada perbaikan keadaan bisnis dan
keuangan.
D
Sekuritas utang dengan peringkat idDmenandakan sekuritas
utangyang gagal bayar atau emitennya sudah berhenti berusaha
Sumber : Pefindo
Catatan: Hasil peringkat dari id AA sampai id B dapat diberi tanda tambah (+) atau
kurang (-) untuk menunjukkan perbedaan kekuatan atau relatif
kemampuannya dalam suatu kategori peringkat.
Dengan melakukan analisis dari segi keuangan atau manajemen dan bisnis
fundamentalnya, setiap investor akan dapat menilai kelayakan bisnis usaha
emiten tersebut. Selain itu, investor akan dapat menilai tingkat risiko yang
timbul dari investasi obligasi tersebut.
2.1.7. Likuiditas
Para investor menginginkan tiga hal dari pasar, yaitu likuiditas, likuiditas,
dan likuiditas (Handa dan Schwartz, 1996).Dalam pernyataan tersebut, Handa
dan Schawartz (1996) mengakui bahwa likuiditas merupakan pertimbangan
yang sangat penting bagi para investor dalam menanamkan modalnya di pasar.
Likuiditas dari sebuah aset menurut Bodie, et. al (2011) ialah kemudahan dan
kecepatan dalam menjual aset tersebut pada nilai wajar di pasar. Likuiditas
menurut Harris (2003) ialah kemampuan untuk memperdagangkan dalam
jumlah besar secara cepat dan dengan biaya yang rendah ketika anda ingin
memperdagangkannya.
Berbicara tentang pasar obligasi, mau tidak mau kita berbicara pasar
modal secara keseluruhan mengingat pasar obligasi berada dalam lingkup pasar
modal, demikian halnya jika berbicara tentang likuiditas pasar obligasi, berarti
yang dibahas antara lain adalah likuiditas pasar modal secara umum. Definisi
yang baku tentang likuiditas pasar modal belum ada, akan tetapi dari arti kata
likuiditas dan pasar modal yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan likuiditas pasar modal adalah kemudahan sebuah efek untuk
diperjualbelikan di bursa efek dengan tidak mengalami perubahan harga yang
tajam. Likuiditas pasar modal juga dapat diartikan sebagai volume dan frekuensi
transaksi yang terjadi di pasar modal.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa likuiditas pasar obligasi adalah
tingginya volume dan frekuensi transaksi perdagangan obligasi di pasar
obligasi. Semakin tinggi volume dan frekuensi transaksi perdagangan obligasi,
maka pasar obligasi dapat dikatakan semakin likuid. Hal ini sejalan dengan
pemikiran investor dan regulator yang mengukur likuiditas pasar modal ini dari
volume dan frekuensi transaksi. Semakin besar volume dan frekuensi transaksi
berarti semakin tinggi likuiditas. Kriteria yang sama juga dipakai oleh Bursa
Efek Indonesia dalam menetapkan 45 saham terlikuid yang tergabung dalam
LQ-45 setiap enam bulan. Kriteria lain yang juga sering dipakai adalah
mudahnya suatu aset dicairkan menjadi kas saat dibutuhkan. Hal ini sesuai
dengan asal kata likuiditas yaitu likuid atau cairan.
Pentingnya likuiditas pasar modal, dimana pasar obligasi terdapat di
dalamnya, adalah terutama terkait fungsi ekonomi yang dilakukan oleh pasar
modal. Dengan semakin likuidnya pasar, maka aliran dana dari pihak yang
surplus kepada pihak yang memerlukan dana akan berjalan semakin cepat
sehingga sumber daya modal akan bergerak lebih cepat dan kebutuhan dunia
usaha akan sumber daya modal akan lebih mudah teratasi. Di samping itu, para
investor akan mendapatkan keuntungan dan kemudahan. Sehingga pada
akhirnya likuiditas pasar modal yang optimal akan mampu mendorong
pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, likuidnya pasar juga akan memberikan kesempatan kepada
investor untuk melakukan variasi investasi pada instrumen-instrumen yang
tersedia dengan risiko dan return yang bervariasi pula. Likuiditas pasar obligasi
yang tinggi akan mempu mendorong likuiditas obligasi-obligasi yang berada
dalam pasar tersebut sehingga risiko likuiditas yang dihadapi oleh investor akan
semakin berkurang. Pengurangan risiko ini penting bagi investor yang tidak
merencanakan untuk memegang obligasi hingga jatuh tempo. Kemudahan
dalam membeli maupun melepas obligasi oleh investor inilah yang pada
akhirnya akan mampu mendorong semakin likuidnya pasar obligasi di masa
depan.
Harris (2003) mengatakan bahwa konsep likuiditas mempunyai empat
dimensi yaitu :
a. Immediacy (Kesegaran), merupakan biaya untuk melakukan transaksi
dalam jumlah dan tingkat harga tertentu dengan segera.
b. Width (Lebar spread bit-offer), menunjukkan market spreadatau selisih
antara minat beli terbaik dan minat jual terbaik dalam jumlah tertentu.
c. Depth (Kedalaman), mengungkapkan jumlah atau nilai transaksi yang
dapat dilaksanakan pada tingkat harga tertentu.
d. Resilency, menyatakan seberapa cepat harga dapat kembali pada tingkat
yang semestinya apabila pada suatu saat terdapat arus order (order flow)
yang tidak seimbang.
2.1.8.Maturitas
Setiap obligasi mempunyai masa jatuh tempo atau dikenal dengan istilah
maturity date yaitu tanggal dimana nilai pokok obligasi tersebut harus dilunasi
oleh penerbitobligasi (Krisnilasari, 2007). Emiten obligasi mempunyai
kewajiban mutlak untuk membayar nilai nominal obligasi kepada pemegang
obligasi pada saat jatuh tempo (biasanya tercantum pada kesepakatan yang
dibuat sebelumnya). Kewajiban pembayaran pokok pada saat jatuh tempo dan
bunga
obligasi
akan
terhindarapabila
dilakukan
penebusan
obligasi
(redemption) atau pembelian kembali obligasi sebelum jatuh tempo oleh
penerbit obligasi tersebut.
Obligasi yang memiliki periode jatuh tempo lebih lama maka akan
semakin lebih tinggi tingkat risikonya sehingga yieldyang didapatkan juga
berbeda dengan obligasi yang umur jatuh temponya cukup pendek. Perubahan
harga obligasi biasanya disebabkan juga oleh periode jatuh tempo obligasi
tersebut. Apabila tingkat suku bunga berubah, harga obligasi yang mempunyai
masa jatuh tempo lebih lama akan lebih banyak berubahnya dibanding obligasi
yang mempunyai masa jatuh tempo pendek.
Yang harus diingat dalam membahas faktor jatuh tempo (maturity date)
suatu obligasi adalah bahwa semakin lama masa jatuh tempo obligasi, akan
semakin tinggi tingkat risiko investasi. Karena dalam masa atau periode yang
begitu lama, risiko kejadian buruk atau peristiwa yang menyebabkan kinerja
perusahaan menurun bisa saja terjadi.Oleh karena itu, periode jatuh tempo untuk
obligasi perusahaan di Indonesia biasanya dibuat dalam jangka waktu 5 tahun
saja (Sapto Rahardjo, 2003).
2.2.Tinjauan Penelitian Terdahulu
Nurfauziah dan Setyarini (2004)melakukan penelitian tentang analisis faktorfaktor yang mempengaruhi yield obligasi perusahaan (studi kasus pada industri
perbankan dan industry financial). Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak
19 perusahaan terdiri dari12 perusahaan perbankan dengan 17 emisi dan 7
perusahaan finansial dengan 24 emisi dari rentang waktu tahun 1996-2003 yang
beredar di pasar dan tercatat di OTC FIS (Over The Counter Fixed Income
Securitis) Bursa Efek Surabaya dan diperingkat oleh PEFINDO. Model statistik
digunakan untuk menguji tingkat signifikan variabel Inflasi, Likuiditas, Irate,
Durasi, Rating, Buyback, Sinking Fund danSecureterhadap Yield To Maturity.
Variabel independen di penelitian ini berjumlah 8 sedangkan variabel
dependennya berjumlah 1 yaitu Yield To Maturity. Hasil uji statistik menunjukkan
bahwa secara simultan variabel independen berpengaruh signifikan terhadap
variabel dependen. Sedangkan secara parsial hanya variabel Likuiditas yang
berpengaruh terhadap Yield To Maturity.
Ibrahim (2008) melakukan meneliti mengenai pengaruh tingkat suku bunga,
peringkat obligasi, ukuran perusahaan dan DER terhadap Yield To Maturity
Obligasi korporasi di bursa efek indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah
semua obligasi korporasi yang listed diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia
(BEI) sampai dengan tahun 2006, yaitu berjumlah 162 perusahaan. Variabel bebas
(independent) yang digunakan berjumlah 4 yaitu Tingkat Suku Bunga, Peringkat
Obligasi, Ukuran perusahaan dan DER. Teknik analisis yang digunakan adalah
regresi linear berganda dan uji statistik menggunakan t-statistik untuk menguji
koefisien regresi parsial serta f-statistik untuk menguji keberartian pengaruh
secara bersama-sama dengan level of significance 5%. Hasil dari penelitian ini
adalah baik secara simultan dan parsial semua variabel independen berpengaruh
terhadap variabel dependen.Untuk variabel peringkat obligasi dan ukuran
perusahaan memiliki pengaruh yang negatif terhadap Yield To Maturity obigasi.
Lidya Kristina (2010) melakukan penelitian tentanganalisis pengaruh
tingkat suku bunga, tingkat inflasi, growth, maturitas dan peringkat obligasi
terhadap YTM obligasi.Sampel sebanyak 27 seri obligasi dari 21 perusahaan
dengan periode penelitian dari tahun 2006-2008.Variabel independen di penelitian
ini berjumlah 5 sedangkan variabel dependennya berjumlah 1 yaitu YTM
obligasi.Hasil analisis uji regresi pertama, yaitu faktor makro yang terdiri variabel
tingkat suku bunga dan tingkat inflasi secara simultan mempunyai pengaruh
signifikan terhadap YTM.Sedangkan secara parsial tidak ada faktor makro yang
berpengaruh signifikan terhadap YTM.
Nanik Indarsih (2013) meneliti mengenai pengaruh tingkat suku bunga SBI,
rating, likuiditas dan maturitas terhadap yield to maturity obligasi.Sampel dalam
penelitian ini yaitu obligasi korporasi sektor keuangan yang terdaftar di BEI
periode 2007-2010 yang dipilih dengan metodepurposive samplingdiperoleh
30 obligasi dari 19 perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat suku
bunga SBI dan maturitas berpengaruh positif terhadap Yield To Maturity Obligasi.
Namun pada pengujian rating obligasi dan likuiditas menunjukkan hasil bahwa
kedua variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap Yield To Maturity.
Tabel 2.3
Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu
No.
1
Peneliti
(Tahun)
Nurfauziah dan
Setyarini
(2004)
Variabel Penelitian
Hasil Penelitian
Variabel Independen:
Inflasi, Likuiditas, Irate, Durasi,
Rating, Buyback, Sinking Fund dan
Secure
Secara
simultan
variabel
independen
berpengaruh
signifikan terhadap variabel
dependen. Sedangkan secara
parsial
hanya
variabel
Likuiditas yang berpengaruh
terhadap Yield To Maturity.
Variabel Dependen:
Yield To Maturity
2
Ibrahim
(2008)
Variabel Independen:
Tingkat Suku Bunga, Peringkat
Obligasi, Ukuran perusahaan dan
DER
Variabel Dependen:
Yield To Maturity Obligasi
3
Lidya Kristina
(2010)
Variabel Independen:
Tingakat Suku Bunga, Tingkat
Inflasi, Growth, Maturitas dan
Peringkat Obligasi
Variabel Dependen:
YTM Obligasi
4
Nanik
Indarsih(2013)
Variabel Independen:
SBI, Rating, Likuiditas dan
Maturitas
Variabel Dependen:
Yield To Maturity
Secara simultan dan parsial
semua
variabel
independen
berpengaruh terhadap variabel
dependen.
Variabel peringkat obligasi dan
ukuran perusahaan memiliki
pengaruh yang negatif terhadap
Yield To Maturity obigasi.
Hasil analisis uji regresi pertama,
yaitu faktor makro yang terdiri
variabel tingkat suku bunga dan
tingkat inflasi secara simultan
mempunyai pengaruh signifikan
terhadap YTM.
Sedangkan
secara parsial tidak ada faktor
makro
yang
berpengaruh
signifikan terhadap YTM.
Tingkat suku bunga SBI dan
maturitas berpengaruh positif
terhadap Yield To Maturity
Obligasi. Namun pada pengujian
rating obligasi dan likuiditas
menunjukkan hasil bahwa kedua
variabel
tersebut
tidak
berpengaruh terhadap Yield To
Maturity.
2.3.Kerangka Konseptual
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah tingkat suku
bunga SBI, rating, likuiditas dan maturitas.Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah yield to maturity obligasi.Berdasarkan latar belakang masalah, landasan
teoritis, dan tinjauan penelitian terdahulu, maka dirumuskan kerangka konseptual
penelitian pada gambar 2.1.
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
H2
X1
Tingkat Suku Bunga SBI
X2
Rating
X3
Likuiditas
X4
Maturitas
H3
H4
H5
Y
Yield to Maturity
Obligasi
H1
Sumber : Hasil Olahan Penulis, 2015
Investasi dalam deposito atau SBI akan menghasilkan bunga bebas risiko
tanpa
memikirkan
pengelolaannya,
sementara
investasi
dalam
obligasi
mengandung risiko seperti kegagalan penerimaan kupon atau gagal pelunasan dan
kerugian karena kehilangan kesempatan untuk melakukan investasi di tempat lain
(opportunity cost). Oleh karena itu, yield obligasi yang diperoleh harus lebih
tinggi daripada tingkat suku bunga deposito atau SBI (Ibrahim, 2008). Pemilihan
suku bunga tersebut dalam penelitian ini adalah karena SBI didukung dan dijamin
penuh oleh pemerintah (BankIndonesia) sebagai otoritas moneter sehingga
partisipan pasar surat berharga memandang SBI sebagai surat berharga bebas
risiko.
Hubungan antara tingkat suku bunga dengan harga obligasi adalah negatif
dan hubungan antara harga obligasi dengan Yield To Maturity adalah juga negatif
(Jogiyanto, 2010:176). Apabila tingkat suku bunga meningkat maka akan lebih
menguntungkan berinvestasi pada deposito, sehingga harga obligasi di pasar akan
mengalami penurunan yang akan mengakibatkan Yield To Maturity obligasi
mengalami kenaikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila tingkat suku
bunga mengalami kenaikan maka tingkat keuntungan yang diisyaratkan oleh
investor atau Yield To Maturity obligasi juga akan mengalami kenaikan atau
keduanya berkorelasi positif.
Rating atau peringkat obligasi memiliki peran penting baik bagi perusahaan
maupun bagi investor karena: (1) rating obligasi merupakan indikator resiko
kegagalan (default risk) dari suatu obligasi dan secara langsung dapat mengukur
pengaruh terhadap tingkat bunga obligasi dan biaya modal suatu perusahaan; (2)
kebanyakaan obligasi dibeli oleh investor institusi daripada investor individu dan
banyak dari investasi institusi tersebut hanya diperbolehkan untuk melakukan
investasi pada sekuritas yang aman (Brigham dan Houston, 2006:290).Umumnya
terdapat hubungan yang bertolak belakang antara kualitas suatu obligasi dan
tingkat pengembalian yang harus disediakan bagi investor yaitu Semakin tinggi
peringkat obligasi maka risiko default semakin rendah, sehingga Yield To
Maturity yang diberikan juga semakin rendah. Hal tersebut sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim (2008).
Obligasi yang likuid adalah obligasi yang banyak beredar di kalangan
pemegang obligasi serta sering diperdagangkan oleh investor di pasar obligasi
(Harris, 2003). Apabila obligasi yang dibeli mempunyai likuiditas cukup tinggi
maka harga obligasi tersebut cenderung stabil dan meningkat sehingga
menyebabkan yield obligasi menurun karena tingkat risikonya lebih rendah.
Tetapi apabila likuiditas obligasi tersebut rendah, harga obligasi cenderung
melemah sehingga tingkat yield yang diterima akan meningkat (Krisnilasari,
2007).
Setiap obligasi mempunyai masa jatuh tempo atau dikenal dengan istilah
maturity date yaitu tanggal dimana nilai pokok obligasi tersebut harus dilunasi
oleh penerbit obligasi (Krisnilasari, 2007). Masa jatuh tempo obligasi korporasi
kebanyakan berjangka waktu 5-10 tahun. Emiten obligasi mempunyai kewajiban
mutlak untuk membayar nilai nominal obligasi kepada pemegang obligasi pada
saat
jatuh
tempo
(biasanya tercantum
pada kesepakatan
yang
dibuat
sebelumnya).Semakin pendek jangka waktu obligasi maka akan semakin diminati
investor karena dianggap resikonya lebih kecil. Obligasi yang memiliki periode
jatuh tempo lebih lama maka akan semakin lebih tinggi tingkat risikonya sehingga
Yield To Maturity yang didapatkan juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan
obligasi yang umur jatuh temponya lebih pendek (Nanik indarsih, 2013).
2.4.Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka pemikiran yang telah
diuraikan pada bagian terdahulu maka hipotesis yang dikemukakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1:Tingkat suku bunga SBI, rating, likuiditas dan maturitas secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap yield to maturity obligasi.
H2: Tingkat suku bunga SBIsecara parsial berpengaruh signifikan terhadap yield
to maturity obligasi.
H3: Rating secara parsial berpengaruh signifikan terhadap yield to maturity
obligasi.
H4: Likuiditas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap yield to maturity
obligasi.
H5: Maturitassecara parsial berpengaruh signifikan terhadap yield to maturity
obligasi.
Download