bab II Oyi

advertisement
23
BAB II
KERANGKA TEORETIK
A. Peran Guru Dalam Pembelajaran
Berbagai peran guru dalam pembelajaran, yang mana dalam hal
memakai dan menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Kemampuan
ini perlu dimiliki para guru karena pembelajaran bukan semata – mata proses
transformasi informasi atau keterampilan, tetapi suatu proses yang harus
melibatkan secara aktif para siswa dalam mengembangkan perilaku yang
diharapkan, yang mana proses pembelajaran tersebut adalah proses yang
konstitusional, artinya harus berbasis kepada kondisi objektif dan
perkembangan siswa.
Diantara berbagai peran guru antara lain :
1.
memahami siswa sebagai dasar pembelajaran
Menurut Santok dan Yussen( 1992 : 1.8 ) perkembangan adalah pola
gerakan atau perubahan yang di mulai pada saat terjadi perubahan dan
berlangsung terus selama siklus kehidupan ( Mulyani Sumantri, Nana
Syaodih. 2009 : 1.8 )
Perkembangan sering dibedakan dari pertumbuhan. Pertumbuhan
biasanya lebih merujuk kepada perubahan aspek fisik ( biologis ) seprti
perubahan kelenjar, tinggi badan, dan kekuatan otot.
24
Pertumbuhan yang menyangkut perubahan materil dan struktur
fisiologis, sangat dipengaruhi oleh aspek – aspek tertentu yang mana aspek –
aspek itu sendiri saling berhubungan. Adapun aspek – aspek yang
mempengaruhi pertumbuhan antara lain :
1. Anak sebagai keseluruhan
Anak sebagai keseluruhan tumbuh oleh kondisi dan interaksi dari
setiap aspek kepribadian yang yang ia miliki. Intelek anak
berhubungan dengan kesehatan jasmanianya, kesehatan jamaninya
sangat dipengaruhi oleh emosi – emosinya, sedangkan emosi –
emosinya dipengauhi oleh keberhasilannya disekolah.
2. Umur mental anak mempengaruhi pertumbuhannya
Umur
mental
anak
mempengaruhi
pertumbuhan
kapasitas
mentalnya. Kapasitas mental anak menentukan prestasu belajarnya.
3. Permasalahan tingkah laku sering berhubungan dengan Pola-pola
pertumbuhannya.
Kita
harus
menyadari,
bahwa
pertumbuhan
itu
sendiri
menimbulkan situasi – situasi tertentu yang menimbulkan problem–
problem tingkah laku.
25
4. Penyesuaian pribadi dan sosial mencerminkan dinamika pertumbuhan
Peristiwa – peristiwa yang terjadi pada anak akibat pertumbuhan
dan setelah dihadapkan dengan tantangan kultural masyarakat
terutama harapan orang tua, guru-guru dan teman-teman sebayanya
( Dalyono.1996 : 72)
Perkembangan merujuk kepada perubahan yang sistematis yang
terjadi sepanjang siklus kehidupan manusia. Kata sistematis dalam pengertian
perkembangan mengandung implikasi bahwa perubahan yang bersifat
perkembangan adalah perubahan yang beraturan atau terpola mengikuti tahap
atau sekuensi tertentu. Perkembangan adalah proses yang kompleks karena
perkembangan
merupakan
hasil
dari
berbagai
proses
biologis,kognetif,sosial,moral.
Menurut Santok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola
gerakan atau perubahan yang di mulai pada saat terjadi pembuahan dan
berlangsung terus selama siklus kehidupan. ( Mulyani Sumantri, Nana
Syaodih. 2009 : 1.8)
Dalam perkembangan terdapat pertumbuhan. pola gerakan itu
kompleks karena merupakan hasil ( produk ) dari beberapa proses : proses
biologis, proses biologis, proses kognetif dan proses sosial.
26
Dalam pandangan lama, para ahli membagi konsentrasi studi tentang
perkembangan anak ke dalam : (1) pertumbuhan dan perkembangan fisik
yang mencakup perubahan badaniah dan keterampilan motorik; (2)
perkembangan aspek kognitif yang mencakup persepsi,bahasa,belajar dan
berfikir; (3) perkembangan psikososial ang mencakup perkembangan
emosi,kepribadian,dan hubungan antarpribadi.
Dalam pandangan mutakhir pembagian konsentrasi itu tidak tepat dan
artifisial (dibuat-buat) karena bagaimanapun juga perkembangan dalam aspek
yang satu akan mempengaruhi aspek lainnya. Pandangan mutakhir ini disebut
pandangan
holistis
yang
melihat
manusia
sebagai
makhluk
biologis,kognitif,soaial, dan makhluk Tuhan dimana perubahan dalam aspek
akan bergantung kepada dan mempengaruhi perubahan/perkembangan aspek
lain. Perspektif holistis merupakan keterpaduan pandangan tentang proses
perkembagan yang menekankan pentingnya interaksi antara perkembangan
fisik,sosial,emosi,dan moral.
Perkembangan dapa dilihat tidak hanya sebagai hasil interaksi proses
biologis, kognitif , dan sosial melainkan juga sebagai hasil interaksi
kematangan dan pengalaman. Kematangan merujuk kepada perubahan yang
terjadi sebagai hasil pertumbuha fisik atau perubahan biologis dari pada
sebagai hasil pengalaman.
27
Perkembangan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor kematangan
yang memandang faktor biologis dan genetik sebagai faktor bawaan ( nature )
dan juga tidak semata-mata pengalaman yang melihat faktor lingkungan yang
paling penting ( nurture ). Baik kematangan maupun pengalaman turut
menentukan perkembangan , perkembangan merupakan interaksi antara
faktor nature dan nurture dari pada sebagai hasil salah satu faktor. Kombinasi
faktor kematangan dan pengalaman akan menghasilkan kesepakatan belajar
( resdiness to learn ).
Selain dari itu , seorang guru pelu memahami aspek – aspek pentig
dalam perkembangan anak / siswa antara lain :
1. Perkembangan Motorik dan Persepsi
Pertumbuhan fisik paling pesat terjadi pada masa
prasekolah yang terutama tampak dalam perubahan ukuran,
tinggi,berat, dan gerak – gerak motorik kasar. Sedangakan
gerak/keterampilan motorik halus tumbuh pesat pada usia sekolah
dasar.
Pada masa sekolah dasar perkembangan motorik anak
menjadi lebih terkoordinasi dan pada masa ini anak menjadi lebih
siap mempelajari berbagai keterampilan olahraga dan keterampilan
lainnya.
28
Pada usia sekolah dasar perkembangan fisik harus
merupakan
kepedulian
guru.
Pada
usia
sekolah
dasar
perkembangan fisik akan amat erat kaitannya dengan dengan
perkembangan intelektual atau kognitif. Reaksi-reakasi fisik sering
kali menunjukkan dinamika intelektual peserta didik
(Djam’an Satori. Dkk. 2008 : 3.4)
2. Implikasi bagi Proses Pembelajaran
Ada beberapa implikasi dari perkembangan motorik dan
persepsi anak terhadap proses pembelajaran.
a. Perkembangan motorik, terutama pada awal, terkait erat
dengan perkembangan pengenalan anak terhadap dunianya.
Implikasi bagi pembelajaran ialah bahwa bahan ajar dan proses
pembelajaran disekolah dasar harus terpadu dengan seluruh
aspek perkembangan anak.
b. Faktor pertumbuhan otak dimana kedua belahan otak (kiri dan
kanan) perlu dikembangkan dalam proses pendidikan. Proses
belajar
disekolah
pengembangan
dasar
tidak
kemampuan
hanya
terfokus
memori,logis,dan
pada
berfikir
detai,tetapi juga menyangkut pengembangan ekspresi dan
berfikir kreatif.
29
c. Faktor kemampuan konsentrasi dan daya selektifitas anak
terhadap objek pengamatan membawa implikasi kepada
perancangan
dan
pengorganisasian
bahan
ajar,
dan
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
2. Pengembangan Rancangan Pembelajaran
Proses
pembelajaran sebagai
proses
implementasi
kurikulum,
menuntut peran guru untuk mengartikulasikan kurikilum/bahan ajar serta
mengembangkan dan mengimplementasikan program-program pembelajaran
dalam suatu tindakan yang akurat dan adekuat.
Istilah pembelajaran bukanlah hal yang baru dikenal bahkan
mungkin kita tidak hanya mengenal istilah itu melainkan pernah
melakukannya.
1. Pembelajaran sebagai Proses Inkuiri Refleksi
Cara kita memandang esensi pembelajaran akan bergantung
kepada bagaimana kita memandang pendidikan. Apakah kita
memandang pendidikan itu suatu hasil atau sebagai proses. Dengan
kata lain apakah kita memandang pendidikan sebagai kualias kata
benda atau kualitas kata kerja. Cara kita memandang kedua hal ini
akan mempengaruhi cara mempelajari pendidikan dan prilaku kita
sebagai guru (Djam’an Satori. Dkk. 2008 : 2.24)
Di dalam pembelajaran guru terlibat dalam secara mendalam di
dalam
berbagai
kegiatan
seperti
menjelaskan,
merumuskan,
30
membuktikan,menyimpulkan dan mengklasifikasikan. Guru tidak
sekedar bertugas mentransfer pengetahuan, sikap, dan keterampilan,
mereka membantu peserta didik menerjemahkan semua aspek itu
kedalam perilaku-perilaku yang berguna dan bermakna (Djam’an
Satori. Dkk. 2008 : 2.24)
Sebagai proses inkuiri reflektif, pembelajaranmengandung makna
sebagai poses sintesis dan analisis. Inkuiri di dalam pembelajaran
mengandung makna mempertanyakan, menjelajahi lebih jauh, dan
memperluas
pemahaman
tentang
situasi.
Sedangkan
refleksi
mengimplikasikan adanya dugaan, penilaian, dan pertimbangan
faktor-faktor yang signifikanterhadap pencapaian tujuan.dengan kata
lain proses pembelajaran sebagai inkuiri refleksi sanga menekankan
unsur aktivitas dan dinamika proses
yang harus dipahami dan di
hayati guru.
2. Perkembangan sebagai Tujuan Pembelajaran
Bukan hal mustahil bahwa pembelajaran yang ekselen (unggul)
dikerjakan oleh guru-guru artistik yang tidak memiliki konsep yang
jelas tentang tujuan tetapi mereka secara intuitif memiliki pemahaman
tentang apa proses pembelajaran yang baik,
Akan tetapi jika suatu program pendidikan atau pembelajaran
dirancang dan di upayakan untuk dilakukan perbaikan secara
berkesinambungan, bagaimanapun juga pemahaman akan konsep-
31
konsep tujuan yang hendak dicapai adalah keharusan bagi guru.
Tujuan pembelajaran menjadi tolak ukur untuk memilih bahan ajar,
merancang isi pembelajaran, mengembangkan prosedur pembelajaran,
dan mempersiapkan tes dan ujian. Semua aspek pembelajaran secara
nyata merupakan instrumen untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam pengembangan rancangan pembelajaran kelas, yang
mencakup rancangan jangka pendek yang disebut dengan satuan acara
pelajaran dan rancangan jangka panjang yang disebut dengan rencana
unit pengajaran yang dikembangkan. Kegiatan dalam menyusun
rancangan –rancangan ini mencakup :
1. Analisis Kurikulum
Secara fisik, kurikulum dituagkan dalam suatu dokumen
yang pada intinya menggambarkan cakupan bahan ajar yang
harus diajarkan dalam tingkatan kelas dan kurun waku
tertentu.kurikulum dalam bentuk dokumen
semacam itu
merupakan kurikulum ideal atau kurikulum yang diharapkan
(ideal or expected curriculum) (Djam’an Satori. Dkk. 2008 :
2.24)
Didalam
praktek
seorang
guru
dituntut
untuk
mengartikulasikan kurikulum kedalam ragam dan rentang
pengalaman belajar peserta didik. Artikulasi dan implementasi
kurikulum yang ideal akan sangat akan bersifat kontekstual
32
dan bergantung kepada kondisi objektif guru maupun peserta
didik.
Seorang guru perlu melakukan analisis kurikulum yang
dimaksudkan untuk merumuskan rencana dan bahan ajar yang
lebih bermakna sesuai dengan perkembangan peserta didik.
Dalam hal ini ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam
melakukan analisis kurikulum, yaitu sebagai berikut :
a. Total waktu yang dimiliki untuk menangani topik-topik
utama yang harus diajarkan.
b. Asumsi-asumsi yang digunakan tentang pengetahuan dan
keterampilan
awal
peserta
didik
untuk
memulai
mempelajari topik-topik baru.
c. Tujuan umum belajar yang dirumuskan utuk siswa.
Waktu serta pengetahuan dan keterampilan awal
akan dibahas sendiri sedangkan tujuan akan dibahas pada
bagian tujuan pembelajaran.
a. Waktu
Keseluruhan waktu yang harus Anda rancang untuk
pengajaran mencakup waktu untuk mengajarkan seluruh
isi pelajaran dan waktu yang diharapkan dimiliki siswa
untuk mengajarkan pekerjaan di luar kelas. Seorang
tidak akan pernah memiliki cukup waktu untuk
33
melakukan segalanya yang ingin lakukan didalam suatu
pelajaran. Oleh karena itu, harus sadar betul akan
kejelasan total waktu yang perlu dimiliki dan
direncanakan. Rancangan waktu dapat dirumuskan ke
dalam waktu tatap muka dengan kelas, dan kegiatan luar
kelas. Banyak ragam kegiatan yang bisa dirancang
untuk kegiatan di luar kelas yang .pada intinya
mengmbangkan tanggung jawab siswa terhadap tugastugas yang harus dikerjakan, yang biasanya dinyatakan
dalam bentuk pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah akan
menjadi alat pembelajaran yang amat penting jika
dirancang
secara
tepat.
Pemahaman
tentang
keseluruhan isi pelajaran yang harus dipelajarisiswa
dan total waktu yang tersedia untuk pembelajaran,
menghendaki perjanjian atau pemahaman kurjkulum
yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan
siswa pada proses belajar sebelumnya.
b. Pengetahuan dan keterampilan awal
Suatu kurikulum atau lingkup pelajaran dirancang
dan disusun atas suatu asumsi tak tertulis tentang
pengetahuan
dan
pengetahuan
siswa
keterampilan
sebelumnya.
yang
menyangkut
Dalam
konteks
34
pembelajaran asumsi tak tertulis tadi perlu diklasifikasi dan
dieksplisitkan sehingga menjadi titik tolak memulai
pembelajaran.
Benyamin Bloom (1976. 3.28) mengembangkan
suatu teori yang menjelaskan mengapa unjuk kerja siswa
berbeda atas tugas-tugas pembelajaran (learning tasks)
yang diperhadapkan kepadanya. Teori ini mengatakan
sebagai berikut.
1. Sampai dengan
50%
keragaman
prestasi
siswa
ditentukan oleh kepemilikan keterampilan kognitif
awal
yang
diperlukan
pembelajaran. Jika
suatu
untuk
tugas
memenuhi
pembelajaran
melibatkan kemampuan membaca, materi bacaan apa
yang tepat untuk siswa itu? Jika tugas pembelajaran itu
berkaitan dengan mengajar siswa tentang perkalian dua
digit, dapatkah siswamengalikan dua digit itu dengan
satu digit?
2. Sampai dengan 25% keragaman prestasi ditentukan
oleh
karakteristik
berkaitan
dengan
untuk belajar.
afektif awal.
kemauan
dan
Karakteristik
motivasi
ini
siswa
35
3. Sampai dengan
25%
keragaman
prestasi
siswa
ditentukan oleh balikan yangefekif dan tepat waktu dan
guru dan/atau bahan pembelajaran.Teori ini tentu
berlaku secara kelompok dan tidak secara individual,
dan kita tidak bisa membuat penyederhanan atas proses
pembelajaran yang dialami oleh setiap siswa. Proses
secara individual akan lebih kompleks, karena perilaku
manusia mempunyai ragam penyebab dan adalah hal
yang berbahaya jika kita melakukan bcrbahaya jika kita
melakukan penyederhanaan dalam menjelaskan perilaku
siswa.Bagi seorang guru di sekolah, pemahaman
pengetahuan dan kcterampilan awal siswa dapat
dilakukan
dengan
cam
menganalisis
kurikulum
sebelunmya,atau diskusi dengan guru yang pernah
rnengajar
pada
tingkat
sebelumnya.Pemahaman
tersebut dapat anda padukan dengan pemahaman anda
tentang isi pelajaran yang harus dipelajari.
2. Tujuan pembelajaran
Belajar merupakan peristiwa sehari-hari disekolah.
Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar
tersebut dapat di pandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan
dari guru. Dari siswa, belajar dialami sebagai suatu proses.
36
Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan
belajar.baik
berupa
keadaan
alam,hewan,
tumbuh-
tumbuhan,manusia,dan bahan yang telah terhimpun dalam
bubku-buku pelajaran. Dari segi guru,proses belajar tersebut
tampak sebagai pelaku belajar tentang sesuatu hal.
(Dimyati dan Mudjiono.1999 :17)
Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang
terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental
yang meliputi ranah-ranah kognitif,afektif,dan psikomotorik.
3. Rancangan Kegiatan Pembelajaran
Secara operasional kegiatan pembelajaran yang tertuang
dalam satuan pelajaran diartikan sebagai sejumlah waktu yang
dirancang untuk mengajari siswa suatu topik sederhanan,baik
berupa konsep, keterampilan, proses, diskusi. Kata sederhana
mengandung arti bahwa setiap satuan pelajaran adalah hanya
satu dari rangkaian satan-satuan pelajaran yang saling terkait
dan bekerja sama membantu siswa memahami hal-hal yang
lebih kompleks.
Setiap kegiatan pembelajaran dapat dibagi ke dalam tiga
bagian, yaitu : kegiatanawal, kegiatan inti, dan peutup.
37
a. Kegiatan awal
Pada kegiatan ini, guru memperkenalkan topik baru
kepada siswa, yang mana siswa harus dibantu dalam
memahami topik itu ke dalam konteks keseluruhan
pengjaran. bagian pengantar dari satuan pelajaran dapat
memebantu siswa dalam hal-hal :
1) Mengaitkan hal-hal yang sudah dipelajari dengan halhal baru. pengantar satuan pengajaran dapat di isi
dengan mengingatkan kembali pengetahuan awal dan
mengaitkannya dangan informasi
baru sehingga
pengetahuan awal itu dapat menjadi alat yang
bermakna bagi proses belajar baru.
2) Memberi kesempatan pada siswa untuk memahami
topik secara keseluruhan sebelum mempelajari hal-hal
yag terkandung dalam topik secara detail. Pemahaman
seperti ini dikembangkan melalui pentiapan penata
awal (advance organizer), yaitu suatu cakupan
rumusan yang memungkinkan siswa mengetahui
informasi apa yang penting sebelum pelajaran dimulia.
3) Menumbuhkan hasrat ingin tahu siswa dan merangsang
perhatian dan hasrat belajar siswa secara berkelanjutan.
38
4) Menyadarkan siswa akan apa yang diharapkan guru dari
siswa dalam atau selama pembahasan topik tersebut,
disamping menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Rancangan untuk kegiatan inti pembelajaran
Banyak ragam konsep dan pemikiran tentang bagaimana
proses dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
Ada yang melihat sebagai suatu “ Siklus Pelajaran” yang
mengorganisasikan kegiatan mengajar kedalam aspekaspek rangkaian arah kegiatan guru (hunter, 1984. 3.31).
Ada
yang merumuskan
ke
dalam
langkah-langkah
terstruktur. Posenshine dan stevens (1986. 3.31). Ada pula
yang menekankan kepada model (joyce dan Weil,
1986.3.31) yang tidak sependapat dengan adanya langkahlangkah
sistematis
dan
standar
di
dalam
peroses
pembelajaran.
Ini berarti bahwa banyak ragam rancangan yang
dilaksanakan dalam pembalajaran untuk mencapai tujuan
yang beraneka ragam pula. Walaupun demikian kegiatan
pembelajaran yang dikehendaki mampu menumbuhkan dan
mengembangkan hal – hal berikut :
1) Mengantarkan
siswa
keterampilan baru.
kepada
informasi
atau
39
2) Mendorong siswa untuk mengkaji ulang atau
menafsirkan ulang inormasi atau keterampilan yang
sudah dipelajari sebelumnya.
3) Memungkinkan siswa mampu melihat kekurangan
pada proses belajar sebelumnya dan mengisi
kekurangan itu.
4) Mendorong siswa untuk mengembangkan atau
memperkuat proses - proses fisik, kognitif, sosial,
maupun afektif.
5) Mendorong
siswa
untuk
menghasilkan,
mengorganisasikan dan menyatakan informasi baru
itu dalam cara – cara yang kreatif.
6) Mendorong
siswa
untuk
memperkirakan
dan
memikirkan gagasan yang belum dikembangkan
serta masalah yang belum terpecahkan.
Tujuan
pembelajaran
yang
telah
dirumuskan
menjadi pandahuluan bagi Andadalam memikirkan
keseluruhan proses pembelajaran, memutuskan basil
yangpaling penting yang harus dicapai, mengaitkan
tujuan
pembelajaran
dengan
tujuankürikulum.
Kegiatan pembelajaran adalah tugas-tugas akademik
yang mendorongsiswa berunjuk kerja ke ahali
40
pencapaian
tujuan
pembelajaran
yang
dikehendaki.Kegiatan adalah apa yang dilakukan siswa,
bukan apa yang dilakukan guru, sebab belajar bergantung
kepada apa yang ada dalam pikiran siswa. Guru
dapat
memberikan
kuliah
yang
cemerlang,
melaku.kan simulasi dan demonstrasi, tetapi jika
kegiatan guru itu tidak di persepsi siswa sebagai
sesuatu yang bermakna,maka sesunggubnya tidak
terjadi proses belajar.
c. Kegiatan penutup
Pada kegiatan penutup, guru membimbing siswa untuk
merumuskan ikhtisaryang bertjuan untuk:
1) mengkaji ulang butir-butir penting dan isi dan
kegiatan pembelajaran.
2) memungkinkan siswa merefleksikan pembelajaran
dan
menggambarkankumpulan
dan
pengalaman
pembelajaran; serta
3) memberikan gambaran tentang pembelajaran yang akan
datang.
41
4. Perencanaan evaluasi
Davies mengemukakan bahwa evaluasi merupakan
proses
sederhana
memberikan/menetapkan
nilai
kepada
sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses,
orang,objek, dan masih banyak yang lainnya ( Davies,
1981:3.190 ) Sedangkan Wand dan brown mengemukakan :
Evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari
sesuatu ( Dimyati dan Mudjiono.1999:191 ) ( dalam Nurkanca,
1986:1. 191 ). Pengertian Evaluasi lebih dipertegas lagi,
dengan batasan sebagai poses memberikan atau menentukan
nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu
(Nana Sudjana, 1990:3. 191). Dengan berdasarkan batasan –
batasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa evaluasi secara
umum
dapat
diartikan
sebagai
proses
sistematis
uuk
menentukan nilai sesuatu ( tujuan, kegiatan, keputusan, unjukkerja, proses, orang, objek, dan yang lain ) berdasarkan kriteria
tertentu melalui penilaian.
Salah
perencanaan
sata
komponen
pembelajaran
penting
adalah
dan
keseluruhan
perencanaan
untuk
mengetahui apakah setelah kurun waktu tertentu siswa
memperoleh kemajuan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan atau apakah siswa siap mencapai tujuan yang lebih
42
kompleks. Tujuan-tujuan yang sudah dirumuskan baik tujuan
keperilakuan pemecahan masalah, maupun tujuan ekspresif
menjadi landasan untuk mengetahui dan mengukur tingkat
pencapaian tujuan dan kemajuan siswa. Semua kegiatan
evaluasi ini disebut evaluasi sumatif yaitu evaluasi yang
merangkum seluruh hasil belajar siswa pada jangka waktu
tertentu.
Evaluasi lain yang perlu dirancang adalah evaluasi
formatif Evaluasi ini dimaksudkan untuk melihat kemajuan
siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan
monitoring yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran
seperti yang didiskusikan di atas merupakan contoh evaluasi
yang terjadi selama siswa belajar dan memberikan latihan
kepada siswa tentang bagaimana dia tumbuh dan berubah ke
arah perbaikan.
3.
pembelajaran dan manajemen kelas
Proses pembelajar adalah proses membantu siswa belajar, yang
ditandaidengan perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif,
maupun psikomotorik. Seorang guru hanya dapat dikatakan telah melakukan
kegiatanpembelajaran terjadi perubahan perilaku pada dan peserta didik
sebagai akibat dankegiatan tersebut. Ada hubungan fungsional antara
perbuatan guru mengaiar dengan perubahan perilaku peserta didik. Artinya,
43
proses pembelajaran itumemberikan dampak kepada perkembangan pesena
didik. ( Djam’an Satori. Dkk. 2008. 3.39 )
dampak itu terjadi karena ada prosesinteraksi antara guru dan peserta
didik, antarapeserta didik dengan peserta didik,antara peserta didik dengan
iklim atau suasana belajar yang kembagkan. Setiapkegiatan pembelaiaran
bertolak dan dan terarah kepada pencapaian tujuan Di sini,upaya sistematis
yang berkaitan dengan pengembagan lingküngan belajardiciptakan agar
tujuan pembelajalan tercapai. Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat
dikatakan sebagai dampak dan proses pembelajaran.
Dampak pembelajaran dibedakan ke dalam dampak langsung atau
dampak instruksionial dan dampak tak langsung atau dampak pengiring.
Dampak langsung
adalah
dampak
yang
ditirnbulkan
oleh
kegiatan
pembelajaran yang telahdiprogramkan semula, sedangkan dämpak penginiug
muncul sebagai pengaruhdarn atau terjadi pengalaman dan lingkungan
belajar. Proses penibelaiaran yangmengutamakan disiplin akademik tinggi
dapat menimbulkan dampak penginingberupa tunibuhnya sikäp ilmiah yang
positif, tetapi mungkin pula tumbuh sikaparoganis (keangkuhan) intelektual.
Dampak pengiring adalah sesuatu yang bisaterjadi ke arah positif maupun
negatif. Dalam suatu kegiatan pembelaiaran bisaterjadi lebih dan satu dampak
pengiring.
44
Dampak pengiring bisa berwujud dalam bentuk pemahaman apresiasi,
sikap,motivasi, kesadaran, keterampilan sosial, dan perilaku sejenis
lainnya.Dampak pengiring pada suatu proses pernbelajaran bisa menjadi
dampak instruksional dan proses pembelajaran yang lain. Oleh karena itu,
dalam wujud perilaku individu dampak instruksional dan dampak pengiring
akan menjadi satu keterpaduan. Kondisi ini merupakan gambaran perilaku
efektif dari proses perkembangan peserta didik.
Tampak jelas bahwa. pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran
yang tidak semata-mata memberikan dampak instruksional tetapi juga
membenkan dampak pengiring positif. Proses pembelajaran akan selalu
berlangsung dalamsuatu adegan, di sekolah jelasnya adalah adegan kelas.
Adegan itu perlu diciptakan dan dikembangkan menjadi wahana bagi
keberlangsungan proses pembelajaran yang efektif. Hal ini berarti diperlukan
manajemen tersendiri untuk mengembangkan dan memelihara adegan itu, dan
manajemen yang dimaksud adalah manajemen kelas.
Tidak ada satu pendekatan pun yang dianggap sebagai pendekatan
terbaik dalam manajemen kelas. Oleh karena itu, seorang guru memang perlu
memahami berbagai pendekatan antara lain :
Pendekatan pertama ialah pendekatan otoriter . Pendekatan ini
memandangbahwa manajemen kelas adalah proses mengendalikan perilaku
peserta didik. Dalam posisi ini. peranan guru adalah mengembangkan dan
memelihara aturanatau disiplin di dalam kelas. Tekanan utamanya terletak
45
pada menjaga ketertibandan memelihara kcndali melalui penanaman disiplin.
Di dalam pendekatan ini disiplin adalah sama dengan manajemen kelas.
Terkait erat dengan pendekatan otoriter. pendekatan kedua disebut
pendekatan intimidasi. Pendekatan ini juga memandang manajemen kelas
.sebagai proses mengendalikan perilaku peserta didik. Lain halnya dengan
pendekatan otoriter, pendekatan intimidasi tampak lebih dilandasi oleh
asumsi babwa perilaku peserta didik paling baik dikendalikan oleh perilaku
guru. Perilaku guru yang dimaksud seperti menyalahkan, mengancam.
memaksa dan menolak. Peran guru adalah mengiring peserta didik
berperilaku sesuai dengan keinginan guru sehingga mereka merasa takut
untuk melanggamya.
Pandangan ketiga, yang bertentanguan langsung dengan pendekatan intimidatif,
ialah pendekatan permisif. Esensi pendekatan terletak pada peran guru
memaksimalkan kebebasan peserta didik, membantu peserta didik merasa
bebas melakukan apa yang mereka mau. Jika hal itu tidak dilakukan maka
yang terjadi adalah proses menghambat perkembangan peserta didik.
Tidak seperti pendekatan sebelumnya, pendekatan keempat ini disebut
pendekatan buku masak. Pendekatan ini tidak didasarkan atas konsep teoretis
atau landasan psikologis tertentu. Pendekatan ini merupakan kombinasi dan
berbagai pandangan, merupakan himpunan “resep” bagi guru. Pendekatan ini
disajikan dalam bentuk daftar tentang apa yang hendaknya dilakukan dan
tidak dilakukan guru di dalam bereaksi atas berhagai situasi bermasalah.
46
Pendekatan ini disebut pendekatan büku masak karena berisi rakitan daftar
tahapan yang harus dilakukan guru, peran guru adalah mengikuti resep itu.
Pendekatan manajemen kelas yang kelima didasarkan kepada suatu
keyakinan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang cermat (careful)
akan mencegah muncul perilaku bermasalah Pendekatan ini menekankan
bahwa perilaku guru dalam pembelajaran ialah mencegah atau menghentikan
periaku peserta didik yang tdak tepat. Peran guru ialah merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran dengan baik, yaitu pembelajaran yang sesuai
dengan kebutuhan dan minat peserta didik, dan yang memotivasi peserta
didik.Pendekatan kelima ini disehut pendekatan intruksional.
Pendekatan keenam ialah pendekatan modifikasi perilaku. Pendekatan
ini memandang manajemen kelas scbagai proses memodifikasi perilaku
peserta didik.Peran guru adalah mempercepat tercapainya perilaku yang
dikehendaki dan mengurangi atau menekan perilaku yang tidak dikehendaki.
Dengan kata lain,guru membantu peserta didik mempelajari perilaku yang
tepat dengan menggunakan prinsip-prinsip pengkondisian dan penguatan.
Pendekatan ketujuh memandang manajemen kelas sebagai proses
menciptakan iklim sasio-emosional yang positif di dalam kelas. Asumsi dan
pendekatan ini ialah bahwa belajar dapat dimaksimalkan di dalam iklim kelas
yang positif, dan iklim semacam ini muncul dan hubungan antar pribadi yang
positif antara guru peserta didik maupun antara peserta didik peserta didik.
Oleh karena itu, peran guru adalah mengembangkan iklim sosio-emosional
47
kelas yang positif melalui pengembangan hubungan anta rpribadi yang sehat.
Dalam pendekatan ini juga terkandung peran guru sebagai seorang fasilitator
dan motivator bagi peserta didik untuk lebih berkembang dengan optimal.
Pendekatan yang kedelapan menempatkan kelas sebagai suatu sistem
sosial dimana proses kelompok dalam sistem tersebut menjadi hal penting
yang paling utama. Asumsi dasarnya ialah bahwa pembelajaran itu terjadi di
dalam kelompok.Oleh karena itu, hakikat dan perilaku kelompok kelas
dipandang sebagai faktor yang memiliki pengaruh berarti (signifikan)
terhadap belajar, bahkan dalamproses belajar individual sekalipun. Peran guru
iaiah mempercepat perkembangan dan terwujudnya kelompok kelas yang
efektif.
Kedelapan posisi yang dikemukakan di atas menggarnbarkan
perbedaan dan delapan pcndekatan manajemen kelas, dengan masing-masing
keyakinan, akantetapi tidak ada satu pendekatan pun yang teruji paling baik.
Oleh karena itu, sebagai guru didorong untuk menyerap pendekatan pendekatan tersebut dan tidak hanya bertolak pada satu pendekatan. Seorang
guru didorong untuk melihat adanya kejamakan definisi tentang manajemen
kelas.
Pendekatan kesembilan bertolak dan kejamakan definisi. Definisi
jamak akan memperluas ragam pendekatan dimana kita akan memilih strategi
untuk menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang mendukung terjadinya
pembelajaran yang efektif. Pendekatan jamak atau pendekatan pluralistik
48
(JamesM. Cooper, ed., 1990: 3.42) ini tidak mengikat guru kepada strategi
manajerial tunggal, melainkan memberi peluang kepada guru untuk
mempertimbangkan seluruh strategi yang dapat dan tepat dilakukan.
Definisi manajemen kelas yang marefleksikan kejamakan pendekatan
itu kiranya dapat dirumuskan sebagai perangkat kegiatan di mana
mengembangkan dan memelihara kondisi kelas yang dapat mendorong
terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien.
Brophy dan Putnan ( Good dan Brophy, 1990: 3.43 ) menyebutnya
sebagai
pendekatan
optimal. yaitu sebagai peroses pengembangan
lingkungan belajar yang dikehendaki dan menekankan sekecil mungkin
pembatasan- pembatasan. ( Djam’an Satori. Dkk. 2008. 3.43 )
B. Pengelolaan Kelas
Untuk meningkatkan peranan guru dalam proses belajar mengajar dan
hasil belajar siswa, maka guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan
belajar yang efektif dan akan mampu mengelola kelas. Karena kelas
merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari lingkungan
sekolah yang perlu diorganisir. Lingkungan ini perlu diatur dan diawasi agar
kegiatan-kegiatan
belajar
terarah
kepada
tujuan-tujuan
pendidikan.
Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa
untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai hasil
belajar yang diharapkan. Pengelolaan kelas adalah semua upaya dan tindakan
guru membina, memobilisasi, dan menggunakan sumber daya kelas secara
49
optimal, selektif dan efektif untuk menciptakan kondisi atau menyelesaikan
problema kelas agar proses belajar mengajar dapat berlangsung wajar.
Suatu kondisi belajar optimal dapat tercapai jika guru mampu
mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam
suasana yang menyenangkan dalam mencapai tujuan pengajaran. Juga
hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa, dan antara siswa
dengan siswa, yang merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
Pengelolaan kelas yang efektif merupakan syarat mutlak bagi terjadinya
proses belajar mengajar yang efektif. Dengan demikian siswa dapat belajar
dengan suasana yang tenang, dan aman sekaligus dapat membangkitkan
minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan faktor utama yang
menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Jadi efektif merupakan faktor
yang menentukan ketertiban siswa secara aktif dalam belajar.
Sejak lahirnya pekerjaan mengajar, saat itu pulalah muncul istilah
guru, meskipun tidak bersifat formal. Saat itupun telah dimulai upaya
peningkatan hasil belajar peserta didik, baik secara sederhana sampai upaya
peningkatan secara metodis. Berbagai komponen pembelajaran selalu
memperoleh sorotan: guru, siswa, kurikulum, dan berbagai infra strukturnya.
Memperhatikan peranan guru, berikut dapat diuraikan pola tingkah laku guru
dalam pengelolaan kelas sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan (Satori,
2008: 78).
50
Pertama, kualitas pembelajaran akan bervariasi sesuai variasi guru.
Guru adalah manusia dan manusia adalah unik. Setiap manusia memiliki
spesifikasi sendiri-sendiri. Dengan adanya keunikan tersebut lahirlah situasi
pembelajaran sesuai ciptaan yang unik pula. Apabila dibeberapa bagian
terdapat kesamaan, hal ini mungkin terlibatnya unsur lain yang ikut serta atau
bersama-sama mencipta situasi pembelajaran secara utuh.
Kedua, kualitas pembelajaran tergantung waktu guru beraksi. Situasi
pembelajaran tercipta oleh seorang guru akan berbeda dari waktu ke waktu.
Seorang guru A mengajar ceria dipagi hari, akan tetapi berubah ketika
mengajar di siang hari. Terkadang guru kaku dan keras, tetapi dilain waktu
cukup toleran dan demokratis. Latar belakang psikologis sesaat sangat
berpengaruh terhadap aksi guru di dalam kelas. Latar belakang psikologis
tersebut tergantung pada: hari, tanggal, jam, suasana, dan lain-lain.
Ketiga, kualitas pembelajaran bervariasi tergantung subjek didik.
Seorang guru dari rumah berangkat dengan suasana hati yang gembira,
sampai di kantor bertemu kepala sekolah dan rekan guru semakin menunjang
rasa gembiranya, akan tetapi ketika sampai di kelas bertemu dengan
kelompok siswa yang saat itu kurang bergairah, ramai, dan bertingkah laku
masing-masing, keceriaan yang seharusnya menambah semangat guru dalam
mengajar dapat berubah total karena kelompok siswa yang akan diajar kurang
mendukung.
51
Keempat,
kualitas
pembelajaran
tergantung
kemampuan
guru
menguasai kurikulum. Kemampuan guru berbeda dalam menterjemahkan
kurikulum tingkat kelas. Ada guru yang mengajar secara urut mengikuti
kurikulum, ada yang mengikuti buku, ada yang membuat perencanaan, dan
tidak jarang yang mengajar sesuai dorongan saat itu. Kondisi demikian jelas
akan mempengaruhi kualitas pembelajaran.
Kelima, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru memilih
metode mengajar. Kemampuan guru menterjemahkan kurikulum, penguasaan
substansi materi, akan menentukan pemilihan metode mengajar. Pemilihan
metode juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non teknis.
C. Penataan Lingkungan Fisik Kelas
Manajemen kelas yang baik terarah kepada upaya pencegahan
munculnya perilaku bermasalah, dan penataan lingkugan fisik merupakan
unsur penting dalam manajemen kelas. Penataan secara fisik harus sejalan
dengan tujuan pembelajaran. Wahana lingkungan fisik akan mempengaruhi
perilaku peserta didik baik secara langsung maupun melalui perilaku guru,
atau melalui tugas – tugas terstruktur yang diberikan guru kepada peserta
didik.
Ukuran kelas di indonesia amat beragam. Di kota – kota besar,
ukuran kelas relatif besar, antara 30 – 40 orang, namun di kota – kota kecil
dan pedesaan cenderung brukuran kecil. Seorang guru tentu tidak dapat
langsung mendistribusikan perhatian kepada kelas secara menyeluruh. Oleh
52
karena itu, salah satu alteratif atau cara yang dapat dilakukan, terutama dalam
kelas besar, membagi peserta didik ke dalam kelompok – kelompok kecil.
(Djam’an Satori. Dkk. 2008. 3.51 )
Pengelompokan peserta didik ke dalam kecil harus dilakukan dengan
hati-hati. Apakah kelompok akan dibuat secara homogen atau heterogen. Yang
dimaksud kelompok homogen disini adalah kelompok yang terdiri atas peserta
didik dengan kemampuan dan kebutuhan yang relatif sama. Sedangkan
kelompok heterogen ialah kelompok yang terdiri dari peserta didik dengan
kemampuan dan kebutuhan yang beragam. Kelompok homogen akan lebih
mudah di kelola tetapi sulit memunculkan peran pengambil inisiatif didalam
kelompok. Kelompok heterogen memerlukan keragaman perlakuan tetapi
mungkin dapat dimunculkan peran-peran pengambil inisiatif yang dapat
meningkatkan dinamika dan produktivitas kelompok.
Pengelompokan peserta didik seperti itu akan bergantung kepada
tujuan pembelajaran. Jika pembelajaran itu lebih terarah kepada upaya
memberikan perlakuan khusus seperti remidial dan pengayaan, kelompok
homogen mnugkin akan lebih efektif. Akan tetapi jika pembelajaran itu
dimaksudkan untuk mempelajri topik-topik tertentu, apalagi sekaligus ingin
menyentuh perkembangan, non-kognitif kelompok heterogen mugkin akan
lebih efektif.
53
Dapat dikatakan bahwa pengelompokan peserta didik seperti ini tidak
dapat mengubah tugas guru, dan mengalihkan tanggung jawab kepada peserta
didik. Tugas esensial guru tetap dilakukan, bahkan guru harus menjadi lebih
toleran terhadap keragaman individual peserta didik serta menyiapkan sumber
dan media pembelajaran yang dapat membantu efektivitas kegiatan kelompok.
D. Pengaturan Fasilitas Kelas
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai
menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta
pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011, 23)
fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya
lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan
senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika
diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru dapat terlihat, adapun peran
guru dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai
berikut:
1. Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi
belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat
lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan
kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada
saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu meja guru
54
berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara tradisional
tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra perhatian murid
tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang belajar.
Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya pasif
menerima.
a. Kelas terbuka
Kelas dapat terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda.
Pelaksanaan model ini dapat dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal
pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 sama atau diterapkan di kelas tinggi saja.
Misalnya: pada waktu jam pelajaran Bahasa Indonesia, maka seluruh guru
mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa masuk ke kelas di mana siswa
menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian ada siswa pada mata
pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada waktu Matematika
masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V. Konsep ini
mengikuti perkembangan masing-masing individu.
b. Kelas dua tingkat
Konsep ini dilaksanakan dengan cara seorang guru menghadapi
kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi berdekatan, misalnya: kelas I
dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c. Kelas awal
Pembelajaran dengan pendekatan integral atau terpadu dengan
kehidupan anak pada tahap pelaksanaannya menerpadukan berbagai
55
konsep, topik, bahan pelajaran dengan mengurangi sedikit mungkin
pemisahan-pemisahan secara artificial, bila dimungkinkan guru tidak
melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata pelajaran. Pembelajaran
dikemas menjadi satu model pembelajaran yang utuh sehingga pemaknaan
terhadap bahan kajian menjadi alami. Hal ini terjadi karena anak belajar
secara keseluruhan dalam hubungan dengan kehidupan akan lebih mudah
dibanding belajar dengan pemisahan-pemisahan secara artifisial yang tak
bermakna.
2. Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas
ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan
dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
a. Seating chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu
periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang
sedang
dikembangkan
oleh
guru,
sehingga
perkembangan
dan
pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain
dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid
secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara
tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan
gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok
mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di
56
kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan
menghilangkan pandangan mereka sendiri.
b. Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran
diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan
kejenuhan siswa.
c. Tapal kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin
oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan
meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada
kelompok kecil.
3. Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok,
antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen
dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas
secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat
pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran
yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan
sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis,
pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
57
Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus,
tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan
akan cepat.
4. Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah”
merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa
keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan
memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut.
Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya
hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk
mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang
indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu: (a) menata
ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya,
menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan
alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang
harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik
(Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan
mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna, (b)
penataan
meja
guru,
gambar-gambar
tercapainya ruangan yang rapid an indah.
merupakan
factor
pendukung
58
5. Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang mendukung
pembelajaran. Anak berada pada tahap perkembangan yang menentukan,
untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen
kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki
ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman
tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi
jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru
bergema,
akibatnya
anak
kurang
mampu
memusatkan
perhatian
pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu
disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga
berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki
arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau
kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan
guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di
kelasnya.
Download