BAB II Tinjauan Pustaka

advertisement
3
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi dan Deskripsi Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus)
Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) adalah salah satu komoditas ikan
air tawar ekonomis penting. Ikan ini mempunyai beberapa sifat yang
menguntungkan untuk dibudidayakan misalnya ukuran per individu yang besar,
fekunditas yang cukup tinggi, kebiasaan makan yang omnivor serta mutu
dagingnya digemari oleh masyarakat. Klasifikasi ikan patin menurut Saanin
(1984) adalah sebagai berikut.
Phylum
: Chordata
Sub phylum
: Vertebrata
Kelas
: Pisces
Sub kelas
: Teleostei
Ordo
: Ostariophysi
Sub ordo
: Siluroidea
Famili
: Pangasidae
Genus
: Pangasius
Spesies
: Pangasius hypophthalmus
Gambar 1 Ikan patin (Pangasius hypophthalmus)
Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih seperti perak
dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya dapat mencapai
120 cm, ukuran tubuh ini tergolong besar bagi ikan jenis lele-lelean. Pada
pembudidayaan dalam umur 6 bulan ikan patin bisa mencapai ukuran 35-40 cm
(Susanto dan Amri 2002). Ikan patin tidak memiliki sisik, kepala relatif kecil
dengan mulut terletak di ujung kepala. Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang
sungut pendek yang berfungsi sebagai alat peraba (Susanto dan Amri 2002).
4
Sirip punggung (dorsal) mempunyai jari-jari keras yang berubah menjadi
patil bergerigi di sebelah belakangnya. Jari-jari lunak sirip punggung berjumlah
enam atau tujuh buah. Pada punggungnya terdapat sirip lemak berukuran kecil
sekali yang disebut adipose fin. Sirip ekornya berbentuk cagak dan bentuknya
simetris. Sirip duburnya yang panjang terdiri dari 30-33 jari-jari lunak.
Sirip perutnya memiliki 8-9 jari-jari lunak (Slembrouck et al. 2005). Sirip dada
memiliki 12-13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras yang menjadi senjata dan
dikenal sebagai patil.
Ikan ini memiliki beberapa sifat biologis, yaitu nokturnal atau melakukan
aktivitas pada malam hari seperti halnya catfish lainnya dan sesekali muncul ke
permukaan air untuk mengambil oksigen dari udara langsung (Susanto dan Amri
2002). Ikan patin sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air, yaitu dari
perairan yang agak asam (pH 5) sampai perairan yang basa (pH 9). Kandungan
oksigen terlarut yang dibutuhkan bagi kehidupan patin adalah 3-6 ppm,
karbondioksida yang ditolerir 9-20 ppm, dengan alkalinitas 80-250. Suhu
air media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 28-30 °C (Khairuman
dan Suhenda 2001).
2.2 Komposisi Kimia Ikan Patin
Tubuh ikan patin didominasi oleh daging yang mencapai 49%. Komposisi
yang lain, yaitu kulit, tulang, kepala, jeroan, dan gelembung renang. Pada
umumnya, komposisi daging ikan terdiri dari 15 - 24% protein, 0,1 - 22% lemak,
1 - 3% karbohidrat, 0,8 - 2% substansi anorganik, dan 66-84% air (Suzuki 1981).
Komposisi kimia ikan patin segar dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi kimia ikan patin (Pangasius sp.)
Komposisi
Kadar (%)
Air
82,22
Abu
0,74
Protein
14,53
Lemak
1,09
Sumber: Maghfiroh (2000)
Air merupakan komponen yang penting dalam bahan makanan, karena air
dapat memberikan pengaruh pada penampakan, tekstur serta cita rasa. Bahkan di
dalam makanan kering sekalipun, terkandung air dalam jumlah tertentu. Produk
5
hasil perikanan memiliki kandungan air yang sangat tinggi, sekitar 80%.
Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan daya terima, kesegaran
dan daya simpan bahan tersebut (Winarno 2008). Kadar air dalam suatu bahan
menunjukkan perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan
pemanasan.
Kandungan lemak dalam daging ikan bervariasi tergantung pada spesies,
umur, kondisi sebelum atau setelah perkembangbiakan (bertelur), dan kondisi
pakan. Semakin tinggi kandungan lemaknya, maka semakin rendah kandungan air
daging ikan (Suzuki 1981). Lemak yang terdapat pada produk perikanan pada
umumnya sangat mudah untuk dicerna langsung oleh tubuh, sebagian besar adalah
asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan oleh pertumbuhan, dan kadar kolesterol
sangat rendah (Adawyah 2007).
Penentuan kadar abu total sangat berguna sebagai parameter nilai gizi
suatu bahan makanan. Mineral dalam makanan ditentukan dengan pengabuan atau
inserasi (pengabuan) (deMan 1997). Dalam proses pembakaran, bahan-bahan
organik terbakar, tetapi zat anorganiknya tidak ikut terbakar.
Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien selain
karbohidrat dan lemak yang berperan lebih penting dalam pembentukan
biomolekul daripada sumber energi. Kandungan energi protein rata-rata
4 kkal/gram atau setara dengan kandungan energi karbohidrat. Produk perikanan
memiliki kandungan protein yang mudah diserap dan dicerna sehingga baik
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi protein terutama pada anak-anak
(Sudhakar et al. 2009). Fungsi utama protein bagi tubuh adalah membentuk
jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Protein juga
digunakan sebagai bahan bakar apabila kebutuhan energi tubuh tidak terpenuhi
oleh lemak dan karbohidrat. Separuh atau 50% dari berat kering sel dalam
jaringan yaitu hati dan daging diperkirakan terdiri dari protein (Winarno 1997).
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan.
Karbohidrat berfungsi untuk mencegah timbulnya pemecahan protein berlebihan,
kehilangan mineral dan membantu metabolisme lemak protein. Karbohidrat pada
produk perikanan tidak mengandung serat, umumnya karbohidrat tersebut dalam
bentuk glikogen (Nurjanah et al. 2009). Selain itu, karbohidrat pada produk
6
perikanan terdiri dari glukosa, fruktosa, sukrosa dan monosakarida lainnya
(Okuzumi dan Fujii 2000).
2.3 Sistem Urat Daging
Bagian badan teleostei merupakan sistem urat daging terbesar. Urat daging
berfungsi pada seluruh pergerakan tubuh, mengatur pergerakan elemen anggota
tubuh, misalnya pemompaan darah, gerakan peristaltik organ viscera dan struktur
yang berhubungan dengannya (Grizzle & Rogers 1976). Ada tiga macam jaringan
urat daging, yaitu urat daging kerangka, urat daging licin, dan urat daging jantung.
Urat daging licin (otot polos) memiliki serabut yang lebih sederhana dan kecil
dibandingkan dengan serabut otot lainnya.
Gambar 2 Urat daging kerangka
Sumber : Kusmawan D (2011)
Urat daging licin terdiri dari sel urat daging mononukleat, sedangkan
kedua urat daging lainnya adalah urat daging berinti banyak (multinukleat) yang
diikat oleh facia atau tenunan ikat (endomisium) untuk membentuk berkas urat
daging (bundle). Urat daging kerangka atau bergaris terdapat pada jaringan yang
dapat diatur (voluntary control). Serabut multinukleat mengandung myofibril
yang tersebar rata di seluruh penampang melintang, terpusat di tengah atau
terdapat sepanjang dinding serabut (Harder 1975). Myofibril terdiri dari ratusan
myofilamen yang terbagi menjadi elemen tipis, actin dan myosin.
2.4 Asam Amino
Protein tersusun dari berbagai asam amino yang masing-masing
dihubungkan dengan ikatan peptida. Suatu protein jika dihidrolisis dengan asam,
7
alkali, atau enzim akan menghasilkan campuran asam-asam amino. Struktur kimia
asam amino dapat dilihat pada Gambar 3.
COOH (gugus karboksil)
H
C
R (gugus radikal)
NH2 (gugus amino)
Gambar 3 Struktur umum asam amino
Sumber: Almatsier (2006)
Sebuah asam amino terdiri dari sebuah gugus amino, sebuah gugus
karboksil, sebuah atom hidrogen, dan gugus R yang terikat pada sebuah atom C
yang dikenal sebagai karbon α. Gugus R merupakan rantai cabang yang
membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya (Winarno 2008).
Asam amino dalam kondisi netral (pH isolistrik, pI) berada dalam bentuk ion
dipolar atau disebut juga ion zwitter. Pada asam amino yang dipolar, gugus amino
mendapat tambahan sebuah proton dan gugus karboksil terdisosiasi. Derajat
ionisasi dari asam amino sangat dipengaruhi oleh pH (Winarno 2008).
Asam amino merupakan komponen utama penyusun protein, dan dibagi
dalam dua kelompok yaitu asam amino esensial dan non esensial. Asam amino
esensial tidak dapat diproduksi dalam tubuh sehingga sering harus ditambahkan
dalam bentuk makanan, sedangkan asam amino non esensial dapat diproduksi
dalam tubuh. Asam amino umumnya berbentuk serbuk dan mudah larut dalam air
namun tidak larut dalam pelarut organik non polar (Suharsono 1970 dalam
Sitompul 2004).
2.3.1 Asam amino esensial
Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat dibuat dalam
tubuh dan harus diperoleh dari makanan sumber protein yang disebut juga asam
amino eksogen. Asam amino seringkali disebut dan dikenal sebagai zat
pembangun yang merupakan hasil akhir dari metabolisme protein. Asam amino
esensial dapat dilihat pada Tabel 2.
8
Asam amino
Histidin
Arginin
Treonin
Valin
Metionin
Isoleusin
Leusin
Fenilalanin
Lisin
Triptofan
Tabel 2 Asam amino esensial
Singkatan tiga huruf
Berat Molekul (g/mol)
His
155,2
Arg
174,2
Thr
119,1
Val
117,1
Met
149,2
Ile
131,2
Leu
131,2
Phe
165,2
Lys
146,2
Trp
204,2
Sumber: Hames dan Hooper (2005)
Hames dan Hooper menyatakan ada 10 jenis asam amino esensial, yaitu
histidin, arginin, treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin, dan
triptofan.
Histidin merupakan asam amino yang diperoleh dari hasil hidrolisis
protein yang terdapat dalam sperma suatu jenis ikan (kaviar), asam amino ini
bermanfaat baik untuk kesehatan radang sendi dan memperkuat hubungan antar
syaraf khususnya syaraf organ pendengaran. Histidin bermanfaat untuk perbaikan
jaringan, dibutuhkan dalam dalam pengobatan alergi, rheumatoid arthritis, anemia
serta dalam pembentukan sel darah merah dan sel darah putih (Harli 2008).
Arginin adalah asam amino yang dibentuk di hati dan beberapa
diantaranya terdapat dalam ginjal. Arginin bermanfaat untuk meningkatkan daya
tahan tubuh atau produksi limfosit, meningkatkan pengeluaran hormon
pertumbuhan (HGH) dan meningkatkan kesuburan pria (Linder 1992).
Treonin merupakan asam amino yang mempunyai rantai cabang gugus
alifatik hidroksil (Winarno 2008). Treonin mampu meningkatkan kemampuan
usus dan proses pencernaan. Asam amino ini bekerja untuk mempertahankan
keseimbangan protein dan berperan dalam pembentukan kolagen dan elastin
(Harli 2008).
Valin diperlukan dalam pertumbuhan dan penampilan, terutama berfungsi
dalam sistem saraf dan pencernaan. Selain itu, valin berfungsi untuk membantu
gangguan saraf otot, mental dan emosional, insomnia, dan keadaan gugup.
Kekurangan valin dapat menyebabkan kehilangan koordinasi otot dan tubuh
menjadi sangat sensitif terhadap rasa sakit, panas dan dingin (Edison 2009).
9
Metionin adalah suatu asam amino dengan gugus sulfur yang diperlukan
tubuh dalam pembentukan asam nukleat dan jaringan serta sintesa protein. Juga
menjadi bahan pembentuk asam amino lain (sistein) dan vitamin (kolin). Metionin
bekerja sama dengan vitamin B12 dan asam folat dalam membantu tubuh
mengatur pasokan protein berlebihan dalam diet tinggi protein. Selain itu, fungsi
penting lain metionin adalah membantu menyerap lemak dan kolesterol. Karena
itu, metionin merupakan kunci kesehatan bagi hati yang berhubungan banyak
dengan lemak. Defisiensi metionin dapat berakibat rematik kronis, pengerasan
hati (sirosis), dan gangguan ginjal (Harli 2008).
Isoleusin diperlukan dalam produksi dan penyimpanan protein oleh tubuh,
dan pembentukan hemoglobin. Kemudian berperan dalam metabolisme dan fungsi
kelenjar timus dan kelenjar pituitari (Harli 2008).
Leusin merupakan asam amino yang bekerja untuk memacu fungsi otak,
menambah tingkat energi otot, membantu menurunkan kadar gula darah yang
berlebihan, serta membantu penyembuhan tulang, jaringan otot dan kulit
(terutama untuk mempercepat penyembuhan luka post - operative) (Harli 2008).
Leusin juga berfungsi dalam menjaga sistem kekebalan tubuh (Edison 2009).
Fenilalanin merupakan asam amino esensial yang menjadi bahan baku
bagi pembentukan katekolamin sebagai peningkat kewaspadaan penting bagi
tranmisi impuls saraf. Fenilalanin juga berperan sebagai prekursor tirosin dan
bersama membentuk hormon tiroksin dan epinefrin (Almatsier 2006). Defisiensi
fenilalanin dapat berakibat mata merah (bloodshot eyes), katarak, dan perubahan
perilaku (psychotic dan schizophrenic) (Harli 2008).
Lisin merupakan bahan dasar antibodi darah dan memperkuat sistem
sirkulasi. Mempertahankan pertumbuhan sel-sel normal. Bersama proline dan
Vitamin C akan membentuk jaringan kolagen. Lisin mampu menurunkan kadar
trigliserida darah yang berlebih. Lisin memiliki sifat mudah rusak akibat panas.
Kekurangan lisin menyebabkan mudah lelah, sulit konsentrasi, rambut rontok,
anemia, pertumbuhan terhambat dan kelainan reproduksi (Harli 2008).
Triptofan merupakan prekursor vitamin niasin dan pengantar syaraf
serotonin (Almatsier 2006). Fungsinya dalam proses pembekuan darah dan
pembentukan cairan pencernaan. Triptofan juga berperan sebagai bahan
10
pembentuk neuro-transmitter serotonin, triptopan berfungsi dalam pengendoran
saraf dan membantu proses tidur (Harli 2008).
2.3.2 Asam amino non esensial
Asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat dibuat dalam
tubuh disebut juga asam amino endogen (Winarno 1997). Beberapa asam amino
non esensial dapat dilihat pada Tabel 3
Asam amino
Alanin
Asam aspartat
Asam glutamate
Glisin
Prolin
Serin
Tirosin
Sistin
Tabel 3 Asam amino non esensial
Singkatan tiga huruf
Berat Molekul (g/mol)
Ala
89
Asp
133,1
Glu
147,2
Gly
75
Pro
115,1
Ser
105,1
Thr
181,1
Sis
Sistin
Sumber: Hames dan Hooper (2005)
Asam amino non esensial memiliki manfaat yang baik untuk makhluk
hidup. Di bawah ini akan dibahas beberapa asam amino non esensial serta
manfaatnya.
Alanin berfungsi untuk memperkuat membran sel dan membantu
metabolisme glukosa menjadi energi tubuh, sedangkan asam aspartat bermanfaat
untuk penanganan pada kelelahan kronis dan peningkatan energi (Linder 1992).
Asam glutamat dapat diperoleh dari glutamin. Gugus amida yang terdapat
pada molekul glutamin dapat diubah menjadi gugus karboksilat melalui proses
hidrolisis dengan asam atau basa. Asam glutamat bermanfaat untuk menahan
keinginan konsumsi alkohol berlebih, mempercepat penyembuhan luka pada usus,
meningkatkan kesehatan mental dan meredam emosi (Linder 1992).
Glisin adalah asam amino yang dapat menghambat proses dalam otak yang
menyebabkan kekakuan gerak seperti pada multiple sclerosis, sedangkan prolin
adalah asam amino yang dapat diperoleh dari hasil hidrolisis kasein. Prolin
berfungsi sebagai bahan dasar glutamic acid. Glisin bergabung dengan lisin dan
vitamin C akan membentuk jaringan kolagen yang penting untuk menjaga
kecantikan kulit, memperkuat persendian, tendon, tulang rawan dan otot jantung
(Harli 2008).
11
Asam amino serin berfungsi membantu pembentukan lemak pelindung
serabut syaraf (myelinsheaths). Penting dalam metabolisme lemak dan asam
lemak, pertumbuhan otot dan kesehatan sistem imun serta membantu produksi
antibodi dan immunoglobulin (Linder 1992).
Sistin berfungsi untuk membantu kesehatan pankreas, menstabilkan gula
darah dan metabolisme karbohidrat, mengurangi gejala alergi makanan dan
intoleransi. Sistin sangat dibutuhkan dalam pembentukan kulit, terutama
penyembuhan luka bakar dan luka operasi. Membantu penyembuhan kelainan
pernafasan misalnya bronkhitis serta meningkatkan aktifitas sel darah putih
melawan penyakit (Harli 2008).
Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai gugus fenol dan bersifat
asam lemah. Asam amino ini dapat diperoleh dari kasein, yaitu protein utama
yang terdapat dalam keju. Tirosin memiliki beberapa manfaat yaitu, dapat
mengurangi stress, anti depresi serta detoksifikasi obat dan kokain (Linder 1992).
2.4 High Performance Liquid Chromatography (HPLC)
Kualitas suatu protein dapat ditentukan dengan mengetahui kandungan
asam aminonya. Bila suatu protein dihidrolisis dengan asam, alkali atau enzim
akan menghasilkan campuran asam-asam amino (Winarno 2008). Asam-asam
amino esensial harus ada dalam jumlah yang cukup dalam makanan supaya
aktivitas metabolisme tubuh tetap terjaga secara optimal (Buckle et al. 1978).
Analisis asam amino bertujuan menentukan jenis dan jumlah asam amino yang
terkandung dalam suatu protein bahan pangan.
Analisis asam amino ini sangat diperlukan, misalnya untuk menganalisis
hasil industri makanan, makanan ternak, obat-obatan, analisis cairan biologi dan
hidrolisat protein. Cara analisis asam amino yang masih lazim digunakan sampai
saat ini adalah kromatografi dengan berbagai macam teknik misalnya
kromatografi kertas, lapisan tipis dan kolom (Rediatning dan Kartini 1987).
Akhir-akhir ini analisis asam amino menggunakan kromatografi cair dengan
kinerja tinggi atau yang lebih dikenal dengan istilah High Performance Liquid
Chromatography (HPLC) (Muchtadi 1989).
HPLC yang pada awalnya merupakan singkatan dari High pressure Liquid
Chromatography karena metode ini memang merupakan suatu cara kromatografi
12
dengan menggunakan tekanan (Pressure). Namun, akhir-akhir ini dengan
bertambah baiknya modifikasi dan penampakan dari peralatan, maka namanya
berubah menjadi High Performance Liquid Chromathography (Salamah 1997).
HPLC merupakan suatu cara pemisahan komponen dari suatu campuran
berdasarkan perbedaan distribusi/absorbs komponen diantara dua fase yang
berbeda yaitu fase diam (stasioner) dan fase bergerak (mobil) (Salamah 1997).
Pelarut yang lebih polar biasanya digunakan sebagai fase stasioner. Secara umum,
dapat dikatakan bahwa kromatografi adalah suatu proses migrasi diferensial
dimana komponen-komponen sampel ditahan secara selektif oleh fase diam
(Sudarmadji et al. 2007).
Teknik
HPLC
mempunyai
beberapa
keuntungan,
yaitu
mampu
membedakan asam amino D dan L, dapat bekerja lebih cepat dan pemisahan
24 asam amino dalam cairan fisiologik dapat diselesaikan dalam waktu 40 menit
(Winarno 2008). Komponen utama alat yang dipakai dalam HPLC, antara lain:
reservoir zat pelarut untuk fase mobil, pompa, injektor, kolom, detektor dan
rekorder (Adnan 1997). Gambar alat kromatografi dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 High Performance Liquid Chromatograhy (HPLC)
(Sumber: Anonima 2009)
Pelarut-pelarut yang biasa digunakan dalam HPLC adalah air, metanol,
asetonitril, kloroform dan pelarut-pelarut lain dalam keadaan murni (HPLC grade)
(Salamah 1997). Sebelum dilakukan analisis asam amino dengan kromatografi
13
terlebih dahulu dilakukan pembuatan hidrolisat protein yang bertujuan
memutuskan ikatan peptidanya dengan hidrolisis asam atau hidrolisis basa. Semua
protein akan menghasilkan asam-asam amino bila dihidrolisis, tetapi ada beberapa
protein yang masih berikatan. Hidrolisis asam yang umum digunakan dalam
analisis asam amino yaitu HCl 6 N yang menyebabkan kerusakan triptofan dan
sedikit juga kerusakan terjadi pada serin dan treonin. Hidrolisis basa biasanya
menggunakan NaOH 2-4 N dan tidak merusak triptofan, tetapi menyebabkan
deaminasi asam amino lain (Nur et al. 1992).
2.6 Penggorengan dengan Metode Deep Frying
Pemanasan merupakan suatu perlakuan suhu tinggi yang diberikan pada
suatu bahan pangan yang bertujuan mengurangi populasi mikroorganisme atau
membunuhnya yang ada di dalam bahan pangan. Perlakuan pemanasan biasanya
dikombinasikan dengan perlakuan lainnya untuk mencegah rekontaminasi oleh
mikroorganisme (Tamrin dan Prayitno 2008).
Deep frying merupakan salah satu sistem penggorengan dengan merendam
seluruh bagian bahan yang digoreng di dalam minyak sebagai medium penghantar
panas (Stevenson et al. 1984). Suhu normal dalam proses penggorengan adalah
163-196 °C (Weiss 1982). Menurut Ketaren (1986), minyak yang digunakan
dalam proses penggorengan ini tidak boleh berbentuk emulsi dan harus
mempunyai titik asap di atas suhu penggorengan. Jika pada proses penggorengan
terbentuk asap, berarti minyak mengalami dekomposisi, sehingga menyebabkan
bau dan rasa yang tidak enak.
Bahan makanan yang dimasukkan ke dalam ketel segera menerima panas
dan kandungan air dalam bahan menguap yang ditandai dengan timbulnya
gelembung-gelembung selama proses penggorengan. Bersamaan dengan itu,
bahan pangan menyerap minyak dengan persentase yang cukup besar, tergantung
jenis bahan yang digoreng. Selain itu, akan terjadi juga pelarutan sebagian
komponen bahan dan terbentuk cita rasa akibat pemanasan protein, karbohidrat,
lemak, dan komponen minor lainnya (Orthoefer 1989).
Proses penggorengan memberi efek yang merugikan terhadap nilai gizi.
Efek tersebut terjadi karena reaksi antara amino group dari asam amino esensial,
yaitu lisin dengan gula reduksi yang terkandung bersama-sama protein dalam
14
bahan pangan yang disebut reaksi Maillard. Pemanasan lebih lanjut dapat
menyebabkan asam amino arginin, triptofan, dan histidin bereaksi dengan gula
reduksi. Ketersediaan lisin dan asam amino dari protein yang diproses dengan
pemanasan lebih kecil daripada protein yang tidak diproses karena terjadinya
reaksi Maillard (Susilo 2008).
Pengolahan dengan menggunakan panas yang tinggi menyebabkan protein
akan mengalami perubahan rasemisasi, hidrolisis, desulfurasi, dan deamidasi. Jika
protein dipanaskan pada suhu sekitar 200 °C, residu asam aminonya akan
mengalami dekomposisi dan pirolisis. Beberapa hasil pirolisis yang diisolasi dari
daging panggang ternyata bersifat sangat mutagenik (Suwandi 1990).
Ayala et al. 2005 menyatakan bahwa proses pemasakan (salah satunya
penggorengan) menyebabkan perubahan penting pada komponen urat daging (air,
serat daging, jaringan penghubung dan adipose). Perubahan struktural yang
disebabkan oleh panas dapat mempengaruhi tekstur dan parameter lain yang
berhubungan dengan kualitas daging (Hurling et al. 1996). Selain itu, pemasakan
dapat mengubah struktur jaringan daging yang disebabkan oleh koagulasi termal
pada protein dan perubahan yang berhubungan dengan kadar air.
Download