BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum bukanlah semata

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum bukanlah semata-mata sekedar sebagai pedoman untuk
dibaca, dilihat atau diketahui saja, melainkan untuk dilaksanakan dan
ditaati (Sudikno Mertokusumo, 2002: 1). Aturan hukum menurut
fungsinya dapat dibedakan menjadi dua yakni hukum materill dan hukum
formil. Aturan hukum materill adalah aturan-aturan baik yang tertulis
maupun tidak tertulis yang membebani hak dan kewajiban atau mengatur
hubungan hukum atau orang-orang sedangkan aturan hukum formil adalah
aturan hukum untuk melaksanakan dan mempertahankan yang ada atau
melindungi hak perorangan. Hukum materill sebagaimana terjelma dalam
undang-undang atau yang bersifat tidak tertulis merupakan pedoman bagi
warga masyarakat tentang bagaimana orang selayaknya berbuat atau tidak
berbuat dalam masyarakat. Adapun dalam pelaksanaan hukum materill
sering kali terjadi pelanggaran-pelanggaran atau hak materill tersebut
dilanggar sehingga menimbulkan ketidak seimbangan kepentingan dalam
masyarakat, atau menimbulkan kerugian pada orang lain atau pihak lain.
Pelaksanakan hukum materill perdata terutama dalam hal ada
pelanggaran atau untuk mempertahankan berlangsungnya hukum materill
perdata dalam hal ada tuntutan hak diperlukan rangkaian peraturanperaturan hukum lain. Peraturan-peraturan hukum lain yang dimaksud
adalah hukum formil (hukum acara perdata) atau adjective law.
Hukum acara perdata hanya diperuntukan untuk menjamin
ditaatinya hukum perdata materil dan di samping itu juga berfungsi untuk
merealisir pelaksaan dari hukum perdata. Hukum acara perdata adalah
peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya
hukum perdata materiil dengan perantara hakim, jadi hukum acara perdata
dapat dikatakan peraturan hokum yang menentukan bagaimana caranya
1
2
menjamin pelaksanaan hukum perdata materiil. Konkritnya bahwa hukum
acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya mengajukan tuntutan
hak, memeriksa serta memutusnya dan pelaksanaan dari pada putusannya.
Tuntutan hak adalah tindakan yang bertujuan memperoleh perlindungan
hak yang diberikan oleh pengadilan untuk mencegah “eigenrichting”
(main hakim sendiri). Tindakan menghakimi sendiri merupakan tindakan
untuk melaksanakan hak menurut kehendaknya sendiri yang bersifat
sewenang-wenang, tanpa persetujuan dari pihak lain yang berkepentingan,
sehingga akan menimbulkan kerugian. Tindakan menghakimi sendiri ini
tidak dibenarkan dalam
hal kita
hendak
memperjuangkan atau
melaksanakan hak kita (Sudikno Mertokusumo, 2002: 2).
Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa berkembang
secara dinamik sesuai dengan perkembangan zaman. Kehidupan manusia
tidak pernah terlepas dari interaksi antar sesama, dengan demikian
kebutuhan kehidupan akan saling terpenuhi. Kebutuhan hidup finansial
setiap orang dapat diperoleh dengan berbagai cara untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan sejumlah uang misalnya, meminjam dari
orang lain yang dituangkan dalam suatu perjanjian utang-piutang atau
perjanjian kredit. Orang yang meminjamkan uang disebut sebagai
Kreditor, sedangkan yang meminjam uang disebut Debitor. Debitor wajib
membayar utangnya kepada Kreditor sebagaimana yang diperjanjikan.
Ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan oleh bank selaku
kreditor dalam rangka menyalurkan kredit kepada calon penerima kredit
(debitor) yaitu prospek usaha yang akan dibiayai dan jaminan yang
diberikan. Kredit yang disertai dengan jaminan maka setidaknya nilai
jaminan itu sama dengan jumlah kredit yang diterima oleh debitor.
Jaminan itu dapat berupa barang bergerak (hak gadai dan hak fidusia),
barang tidak bergerak (hak tanggungan dan hak hipotik) atau jaminan
orang yaitu pihak ketiga yang akan melunasi utang jika debitor
wanprestasi. Hal ini bertujuan untuk meyakinkan bank bahwa kredit yang
dimohonkan oleh debitor itu layak dan dapat dipercaya karena
3
kemungkinan kredit akan sulit dilunasi dan cenderung macet (Abdulkadir
Muhammad, 2010: 312). Apabila dalam perkembangannya usaha yang
dijalan oleh debitor tidak berkembang dan mengalami kemerosotan dari
segi financial serta dalam proses pelunasan hutang-hutangnya mengalami
kesulitan, debitor dapat melakukan penyelesaian melalui proses penundaan
kewajiban pembayaran utang atau dapat dipailitkan.
Kepailitan secara etimologis berasal dari kata pailit. Istilah pailit
dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang yang oleh
pengadilan dinyatakan berhenti membayar utangnya (Charlie Rudyat,
2013: 331). Istilah kepailitan yang dirumuskan dalam Pasal 1 angka 1
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disingkat UUKPKPU) adalah
sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan/atau
pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim
Pengawas. Kepailitan tidak saja bisa dimohonkan oleh debitor apabila ia
mengalami kesulitan dalam proses pembayaran piutang, tetapi juga bisa
diajukan oleh kreditor yang menganggap bahwa debitor tersebut telah
wanprestasi karena tidak mampu melunasi hutang-hutangnya.
Pengertian kepailitan diatas dapat dikatakan bahwa kata kunci atau
unsur utama dalam kepailitan adalah adanya Perjanjian Utang-Piutang
antara Debitor (penerima utang) dan kreditor (pemberi utang). Unsur
Kepailitan utang yang dimaksudkan adalah utang yang dapat dibuktikan
secara sederhana. Maksudnya dibuktikan secara sederhana adalah
utangnya harus sudah jelas dan pasti (Aria Suyudi, 2004: 148). Seorang
debitor yang tidak membayar utangnya yang telah jatuh waktu dan dapat
ditagih, dinyatakan pailit melalui permohonan pernyataan pailit yang
diajukan ke pengadilan niaga pada pengadilan negeri. Permohonan itu
dapat diajukan oleh kreditor atau debitor itu sendiri. Permohonan
pernyataan pailit harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur dalam
Pasal 2 Ayat (1) UUKPKPU yaitu seorang debitor mempunyai 2 (dua)
atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang
4
telah jatuh waktu dan dapat ditagih. Syarat-syarat untuk mengajukan
permohonan pernyataan pailit tersebut telah terpenuhi maka pengadilan
niaga dapat mengabulkan permohonan pernyataan pailit dan menyatakan
debitor dalam keadaan pailit. (Sebab sebab putusan yang dijatuhkan di
Pengadilan Niaga adalah putusan serta-merta)
Berdasarkan UUKPKPU unsur utama kepailitan selain debitor dan
utang yang sudah jatuh tempo, ada juga kreditor seperti pada penjelasan
Pasal 2 ayat (1) dikenal ada 3 (tiga) jenis kreditor dalam kepailitan yaitu
kreditor konkuren, kreditor separatis, dan kreditor preferen. Khusus
mengenai kreditor separatis dan kreditor preferen, dapat mengajukan
permohonan pailit tanpa kehilangan hak agunan atas kebendaan yang
mereka memiliki terhadap harta debitor dan haknya untuk didahulukan.
Upaya hukum yang dapat dilakukan terhadap putusan pernyataan
pailit itu adalah kasasi ke Mahkamah Agung. Pada tingkat kasasi, Majelis
Hakim tidak memeriksa kembali perkara tersebut namun hanya terbatas
memeriksa penerapan hukum yang telah dilakukan oleh pengadilan niaga.
Permohonan kasasi itu dapat diajukan oleh debitor, kreditor atau pihak lain
yang merasa tidak puas terhadap putusan pernyataan pailit. Permohonan
kasasi yang diajukan wajib melampirkan memori kasasi yang berisi
alasan-alasan pengajuan kasasi. Mahkamah Agung yang telah mempelajari
permohonan kasasi tersebut, akan menetapkan tanggal sidang pemeriksaan
yang dilakukan paling lambat 20 (dua puluh) hari sejak permohonan kasasi
diterima oleh Mahkamah Agung dan putusan atas permohonan kasasi
diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak permohonan kasasi
diterima oleh Mahkamah Agung. Putusan Mahkamah Agung pada tingkat
kasasi ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu
permohonan kasasi tidak dapat diterima, permohonan kasasi ditolak atau
permohonan kasasi dikabulkan. Jika permohonan kasasi itu dikabulkan
maka Mahkamah Agung akan membatalkan putusan pernyataan pailit
pengadilan
niaga.
Salah
satu
putusan
Mahkamah
Agung
yang
mengabulkan permohonan kasasi yaitu pada putusan Mahkamah Agung
5
Nomor 522 K/Pdt.Sus/2012 yang akan dijadikan kajian dan pembahasan
dalam penelitian ini.
Putusan Mahkamah Agung pada tingkat kasasi ini lahir dari adanya
upaya hukum terhadap Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Semarang Nomor 02/Pailit/2012/PN.Niaga.Smg. yang merupakan putusan
atas permohonan pernyataan pailit dari kreditor terhadap debitor. Perkara
itu berawal dari perjanjian utang-piutang antara Tuan Jung Dianto dan
Nyonya Lily Eriani Budiono (Debitor) dengan PT. Bank Internasional
Indonesia (Kreditor) pada tanggal 28 Agustus 2007 dengan jangka waktu
sampai tanggal 25 September 2011. Utang tersebut telah jatuh waktu,
Debitor tidak melunasi utangnya kepada Kreditor walaupun telah
diberikan beberapa kali somasi dan ternyata Debitor juga memiliki utang
kepada Kreditor lain yaitu PT. Bank UOB Indonesia Cabang Solo yang
juga telah jatuh waktu. Atas dasar itulah PT. Bank Internasional Indonesia
(Pemohon Pailit) mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap
pasangan suami istri Tuan Jung Dianto dan Nyonya Lily Eriani Budiono
(Para Termohon Pailit) ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri
Semarang.
Hasil
dari
Putusan
Pengadilan
Niaga
Nomor
02/Pailit/2012/PN.Niaga.Smg. mengabulkan permohonan pernyataan pailit
dari Pemohon Pailit dan menyatakan Para Termohon Pailit berada dalam
keadaan pailit.
Para Termohon Pailit merasa tidak puas atas putusan pernyataan
pailit pengadilan niaga sehingga mengajukan permohonan kasasi ke
Mahkamah
Agung.
berdasarkan
putusan
pengadilan
menjatuhkan putusan pernyataan pailit kepada
Mahkamah
Agung
melalui
Putusan
Nomor
niaga
yang
Para Termohon Pailit,
522
K/Pdt.Sus/2012
mengabulkan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi (Para
Termohon Pailit) dan mengeluarkan putusan yang isinya bukan
menguatkan hasil putusan pengadilan niaga yang menyatakan Para
Termohon Pailit berada dalam keadaan pailit, melainkan membatalkan
6
Putusan
Pernyataan
Pailit
Pengadilan
Niaga
Nomor
02/Pailit/2012/PN.Niaga.Smg. tersebut.
Berdasarkan
Putusan
Mahkamah
Agung
Nomor
522
K/Pdt.Sus/2012. yang berisi pembatalan Putusan Pernyataan Pailit
Pengadilan Niaga Nomor 02/Pailit/2012/PN.Niaga.Smg. maka kajian
dalam penelitian ini adalah alasan Mahkamah Agung dalam membatalkan
putusan pernyataan pailit pengadilan niaga tersebut, karena bila merujuk
pada UUKPKPU putusan pernyataan pailit pengadilan niaga semarang
telah memenuhi unsur-unsur dijatuhkannya status kepailitan. Hal inilah
yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap
Putusan Mahkamah Agung Nomor 522 K/Pdt.Sus/2012. Hasil penelitian
ini penulis tuangkan dalam skripsi yang berjudul “ANALISIS YURIDIS
PUTUSAN KASASI MAHKAMAH AGUNG ATAS PEMBATALAN
PUTUSAN PAILIT PENGADILAN NIAGA SEMARANG (Studi
Putusan Kasasi Nomor 522k/Pdt.Sus/2012)”
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk
menegaskan masalah-masalah yang akan diteliti, sehingga dapat
memberikan gambaran yang jelas, memudahkan pekerjaan serta mencapai
sasaran yang diinginkan. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di
uraikan tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan ini sebagai
berikut:
1. Apa Ratio Decidendi (pertimbangan hukum) Hakim Agung dalam
membatalkan putusan Putusan Nomor 02/Pailit/2012/Pn. Niaga.
Smg.?
2. Apa akibat hukum pembatalan pernyataan pailit Putusan Nomor
02/Pailit/2012/Pn. Niaga. Smg.?
7
C. Tujuan Penelitian
Suatu penilitan selayaknya memiliki tujuan yang hendak dicapai
agar penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan masyarakat. Tujuan
penelitian terbagi menjadi 2 (dua) tujuan yaitu tujuan obyektif dan tujuan
subyektif yang akan diuraikan sebagai berikut:
1. Tujuan Objektif
a. Untuk mengetahui mengenai pertimbangan Mahkamah Agung atas
pembatalan putusan pernyataan pailit pengadilan niaga.
b. Untuk mengetahui mengenai akibat hukum atas pembatalan
putusan pernyataan pailit pengadilan niaga.
2. Tujuan Subyektif
a. Untuk memperluas wawasan, pengetahuan, dan pemahaman
penulis di bidang Hukum Acara Perdata dalam teori dan praktek
b. Untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap dan data-data
sebagai bahan penyusunan penulisan hukum (skripsi), agar dapat
memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana dibidang
ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian akan mempunyai nilai apabila penelitian tersebut
dapat memberikan manfaat bagi para pihak. Penulis berharap kegiatan
penelitian dalam penulisan hukum ini memberikan manfaat bagi banyak
pihak yang terkait dengan penulisan hukum ini. Adapun manfaat yang
diperoleh dari penulisan hukum ini antara lain
1. Manfaat Teoritis
a. Manfaat
teoritis
penelitian
ini
adalah
sebagai
dasar
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu dibidang
hukum ekonomi yang berkenaan dengan hukum kepailitan.
8
b. Dapat menambahkan literatur dan bahan-bahan informasi ilmiah
yang dapat dijadikan acuan terhadap penelitian-penelitian
sejenis untuk tahap berikutnya
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai upaya pengembangan kemampuan dan pengetahuan
hukum bagi Penulis khususnya mengenai pertimbangan
Mahkamah Agung atas pembatalan putusan pernyataan pailit
pengadilan niaga.
b. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan
khususnya bagi mahasiswa Bagian Hukum Acara Perdata
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
c. Sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana di
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
E. Metode Penelitian
Penelitian hukum (legal research) adalah menemukan kebenaran
korespondensi, yaitu adakah aturan hukum sesuai norma hukum dan adakah
norma yang berupa perintah atau larangan itu sesuai dengan prinsip hukum,
serta apakah tindakan seseorang sesuai dengan norma hukum atau prinsip
hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2013:47). Suatu penelitan ilmiah dapat
berjalan sesuai dengan tujuan, apabila menggunakan metode penelitian yang
baik dan tepat. Penggunaan metode penelitian yang tepat dapat
menghasilkan perolehan data yang diperlukan dan mempermudah
pengembangan data..
Adapun metode penelitian yang digunakan penulis dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang diterapkan penulis dalam penelitian hukum
ini adalah penelitian hukum normatif. Menurut Peter Mahmud
Marzuki penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum,
penelitian
yang
bertujuan
untuk
menemukan
kebenaran
9
korespondensi, yaitu adakah aturan hukum sesuai norma hukum dan
adakah norma yang berupa perintah atau larangan itu sesuai dengan
prinsip hukum, serta apakah tindakan seseorang sesuai dengan norma
hukum atau prinsip hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2013:47).
2.
Sifat Penelitian
Penelitian yang dilakukan di dalam keilmuan yang bersifat
deskriptif yang menguji kebenaran ada tidaknya suatu fakta yang
disebabkan oleh suatu faktor tertentu, penelitian hukum dilakukan
untuk menghasilkan argumentasi dalam menyelesaikan masalah yang
dihadapi. Jika pada keilmuan yang bersifat deskriptif jawaban yang
diharapkan adalah true atau false, jawaban yang diharapkan di dalam
penelitian hukum adalah rigth, appropriate, inappropriate, atau
wrong. dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil yang diperoleh
di dalam penelitian hukum sudah mengandung nilai. (Peter Mahmud
Marzuki, 2011:35)
Argumentasi di sini dilakukan untuk mengaji obyek penelitian
secara menyeluruh mengenai benar atau salah menurut hukum
terhadap fakta atau peristiwa hukum dari hasil penelitian tentang
Pembatalan Putusan Pernyataan Pailit Putusan Pengadilan Niaga No.
02/Pailit/2012/PN.Niaga.Smg. oleh Hakim MA yang dituangkan
dalam Putusan Nomor 522 K/Pdt.Sus/2012. Mahkamah Agung.
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan (approach) yang digunakan dalam suatu penelitian
normatif akan memungkinkan peneliti untuk medapatkan informasi
dari berbagai aspek mengenai masalah yang sedang penulis teliti.
Pendekatan dalam penelitian hukum antaralain :
a. Pendekatan perundang-undangan (statute approach)
b. Pendekatan kasus ( case approach )
c. Pendekatan historis ( historical approach )
d. Pendekatan perbandingan ( comparative approach )
e. Pendekatan konseptual ( conceptual approach )
10
Adapun pendekatan yang dipakai dalam penulisan hukum ini
adalah Pendekatan kasus (case approach). Sebuah pendekatan dengan
cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu
yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap (Peter Mahmud Marzuki,2006: 95).
4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum
Memecahkan ilmu hukum dan sekaligus memberikan preskripsi
mengenai apa yang seharusnya, maka diperlukan sumber-sumber
penelitian. Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi
sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum primer
dan bahan hukum sekuder (Peter Mahmud Marzuki, 2011:141)
a. Jenis Bahan Hukum
Penelitian hukum pada dasarnya tidak mengenal adanya data,
sehingga dalam penulisan hukum ini jenis bahan hukum yang
digunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder.
b. Sumber Bahan Hukum
a) Sumber Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer terdiri dari peraturan-peraturan,
catatan resmi, risalah dalam pembuatan Undang-Undang dan
putusan hakim. Dalam penelitian ini bahan hukum primer yang
digunakan adalah:
(a) Kitab Undang -Undang Hukum Perdata (KUH Perdata)
(b) HIR ( Het Herziene Indonesisch Reglement)
(c) Undang-Undang
Nomor
37
Tahun
2004
tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
(d) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang
Berkaitan dengan Tanah;
(e) Undang-Undang
Mahkamah Agung
Nomor
5
Tahun
2004
tentang
11
(f) Putusan
Pengadilan
Niaga
No.
02/Pailit/2012/PN.Niaga.Smg.
(g) Putusan Nomor 522 K/Pdt.Sus/2012. Mahkamah Agung.
b) Sumber Bahan Hukum Sekunder
Jenis bahan hukum yang secara langsung mendukung
sumber hukum primer yang diperoleh dari literatur, peraturan
perundang-undangan dan dokumen-dokumen yang dalam hal
ini berhubungan dengan obyek penelitian. Bahan Hukum
sekunder adalah bahan yang diperoleh dari buku-buku teks,
jurnal-jurnal hukum dan komentar atas putusan pengadilan
yang berkaitan dengan pembatalan putusan pailit oleh
Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 522 K/Pdt.Sus/2012.
Mahkamah Agung.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik
pengumpulan
bahan
hukum
dimaksudkan
untuk
memperoleh bahan hukum dalam penelitian. Teknik pengumpulan
bahan hukum yang mendukung dan berkaitan dengan pemaparan
penulisan hukum ini adalah studi dokumen (studi kepustakaan). Studi
dokumen adalah suatu alat pengumpulan bahan hukum yang dilakukan
melalui bahan hukum tertulis dengan mempergunakan content
analisys.
Studi dokumen ini berguna untuk mendapatkan landasan teori
dengan mengkaji dan mempelajari buku-buku, peraturan perundangundangan, dokumen,laporan, arsip dan hasil penelitian lainnya yang
berhubungan dengan masalah yang diteliti.
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Analisis bahan hukum merupakan tahapan yang dilalui peneliti
dalam mengklasifikasi, menguraikan data yang diperoleh kemudian
melalui proes pengolahan
menjawab
permasalahan
bahan hukum yang digunakan untuk
yang
diteliti.
Pada
penelitian
ini,
12
menggunakan teknik analisis silogisme deduktif. Seperti pendapat
Philipus M.Hadjon yang dikutip oleh Peter Mahmud Marzuki, bahwa
didalam logika silogistik untuk penalaran hukum yang merupakan
premis mayor adalah aturan hukum sedangkan premis minornya adalah
fakta hukum. Sedangkan penggunaan silogisme adalah untuk
membuktikan apakah fakta hukum yang dalam hal ini premis minor
memenuhi unsur-unsur perbuatan yang diatur oleh undang-undang
yang dalam hal ini adalah premis mayor (Peter Mahmud Marzuki,
2011:47-49)
F. Sistematika Penulisan Hukum
Guna mendapatkan gambaran secara jelas dan menyeluruh
mengenai sistematika penulisan yang sesuai dengan aturan baku dalam
penulisan hukum, maka Penulis menjabarkan sistematika penulisan hukum
ini yang terdiri dari 4 (empat) bab dimana tiap-tiap bab terbagi dalam subsub bab guna memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan isi dari
penulisan hukum ini. Adapun sistematika dari penulisan hukum ini adalah
sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini akan menguraikan latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan
sistematika penulisan hukum.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini memuat dua sub bab, yaitu akan menguraikan kerangka
teoritis dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka teori, penulis
akan menguraikan kerangka teoritis yang mendasari penulisan
hukum ini yaitu tinjauan Hukum Acara Perdata, tinjauan Hukum
Acara Niaga, tinjauan kepailitan, tinjauan pengadilan niaga dan
yurisdiksinya, tinjauan putusan hakim, dan tinjauan kreditor.
Kemudian diakhiri dengan kerangka pemikiran yang membahas
13
kerangka atau landasan penulis dalam membuat penulisan
hukum ini untuk mempermudah pemahaman.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan menguraikan pembahasan berdasarkan rumusan
masalah, yaitu apa Ratio Decidendi (pertimbangan hukum)
Hakim Agung dalam mengabulkan permohonan Kasasi dalam
Putusan Kasasi Nomor 522k/Pdt.Sus/2012 dan
Apa akibat
hukum pembatalan pernyataan pailit terhadap Putusan Nomor
02/Pailit/2012/Pn. Niaga. Smg.?
BAB IV : PENUTUP
Bab ini akan menguraikan secara singkat bagian akhir dari
penulisan mengenai kesimpulan yang diperoleh dari keseluruhan
hasil pembahasan dan saran sebagai suatu masukan dari penulis.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Download