bab ii landasan teori

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Efisiensi
Pengertian efisiensi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang
berbeda. Efisiensi pada dasarnya adalah rasio antara output dengan input.
Terdapat tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu apabila dengan
input yang sama menghasilkan output yang lebih besar, dengan input yang
lebih kecil menghasilkan output yang sama, dan dengan input yang besar
menghasilkan output yang lebih besar lagi (Suswandi, 2007).
Efisiensi pada umumnya dikaitkan dengan kinerja suatu organisasi
atau perusahaan. Efisiensi menggambarkan perbandingan antara input dan
output. Wirapati (1976) mendefinisikan efisiensi sebagai usaha untuk
mencapai hasil maksimal dengan menggunakan sumber daya yang
tersedia. Dengan demikian, efisiensi dapat ditinjau dari dua segi yaitu hasil
yang
telah
dicapai
dan
usaha yang
telah
dilakukan.
Menurut
Djojohadikusumo (1991) efisiensi ditafsirkan sebagai cara alokasi
penggunaan sumber daya yang paling optimal yang dapat memberikan
kepuasan yang lebih besar bagi semua masyarakat.
Nicholson (2002) menyatakan bahwa efisiensi ditujukan untuk
menjelaskan suatu situasi pengalokasian sumber daya atau input untuk
menghasilkan output. Efisiensi memiliki tiga manfaat, yaitu sebagai tolak
6 7 ukur
dalam
memperoleh
efisiensi
relatif
agar
mempermudah
perbandingan, sebagai cara untuk mengetahui faktor-faktor penentu
perbedaan tingkat efisiensi jika terdapat variasi tingkat efisiensi sehingga
dapat menemukan solusi yang tepat, dan sebagai landasan penentu
kebijakan.
Tingkat efisiensi dapat diukur dengan dengan indikator yang
dihitung dari rasio antara nilai tambah (value added) dengan nilai output.
Semakin tinggi nilai rasio nilai tambah, maka semakin tinggi tingkat
efisiensi yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan jumlah biaya output yang
digunakan untuk menghasilkan suatu unit output semakin rendah. Sebuah
organisasi
atau
perusahaan
menghasilkan output
dapat
dalam jumlah
dikatakan
efisien
yang lebih
bila
dapat
banyak dengan
menggunakan input dalam jumlah yang sama atau dapat menghasilkan
output dalam jumlah yang sama dengan mengurangi jumlah input yang
digunakan.
Efisiensi dibagi menajdi dua bagian, yaitu efisiensi produktif dan
efisiensi alokatif. Untuk mencapai efisiensi produktif, harus dipenuhi dua
syarat, yaitu pertama, untuk setiap tingkat produksi, biaya yang
dikeluarkan adalah yang paling minimum. Untuk menghasilkan suatu
tingkat produksi digunakan berbagai faktor produksi. Kombinasi faktor
produksi yang paling efisien adalah kombinasi yang menyebabkan
peneluran biaya paling sedikit. Syarat kedua adalah perusahaan harus
mampu berproduksi pada biaya yang rat-rata paling rendah dalam industri.
Dalam kondisi ini, maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan mencapai
8 tingkat efisiensi produksi yang paling minimal. Sedangkan efisiensi
alokatif berkaitan dengan alokasi sumber-sumber daya ke berbagai
kegiatan ekonomi atau produksi. Penilaian terhadap efisiensi ini meliputi
apakah alokasi sumber-sumber daya tersebut telah mencapai tingkat
maksimum atau belum. Tercapainya efisiensi ini dipenuhi dengan syarat
apabila harga setiap barang sama dengan biaya marginal untuk
memproduksi biaya tersebut (Sukirno, 2002).
2.1.1. Pengukuran Tingkat Efisiensi
Pengukuran efisinesi relatif diawali oleh Farrel (1957) yang
membandingkan pengukuran relatif untuk sistem dengan multi
input dan multi output, selanjutnya dilakukan pengembangan oleh
Farrel dan Fieldhouse (1962) dengan menitikberatkan pada
penyusunan unit empiris yang efisien sebagai rataan dengan bobot
tertentu dari unit-unit yang efisien dan digunakan sebagai
pembanding untuk unit yang tidak efisien, dimana koefisiensinya
telah ditentukan terlebih dahulu melalui observasi berdasarkan
sampel dari industri yang terkait.
Efisiensi dapat diukur melalui berbagai pendekatan, mulai
dari pendekatan dengan metode yang mudah seperti cost-to-yieldsratio sampai dengan perhitungan yang lebih rumit dengan
menggunakan teknik perhitungan seperti Data Envelopment
Analysis (DEA), Stochastic Frontier Analysis (SFA) dan
Distribution Free Approach (DFA). Worthington dan Dollery
(2000) mengemukakan bahwa paling tidak ada empat pendekatan
9 yang dapat digunakan dalam menganalisis efisiensi. Pendekatanpendekatan tersebut adalah Deterministic Frontier Approach
(DFA), Stochastic Frontier Analysis (SFA), Data Envelopment
Analysis (DEA) / DEA approach dan Free Disposal Hull (FDH) /
FDH approach.
Metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) adalah sebuah
metode parametrik, SFA mengasumsikan bahwa semua entitas
adalah tidak efisien. SFA juga menghitung adanya noise. SFA
dapat digunakan untuk pengujian hipotesis. SFA juga dapat
digunakan untuk mengukur efisiensi teknis dan perubahan TFP
(jika berupa data panel). Selain itu metode SFA juga dapat
digunakan untuk mengukur data panel dan cross-section. Namun
metode
SFA
memiliki
kelemahan
yaitu
misalnya
SFA
mensyaratkan spesifikasi bentuk fungsi dan bentuk distribusi unit
yang tidak efisien. Dengan penggunaan informasi harga disamping
kuantitas, kesalahan pengukuran tambahan mungkin dimasukan
dalam hasil. Unit yang tidak efisien merupakan hasil perhitungan
efisiensi teknis dan alokatif. Kedua sumber ketidakefisienan ini
dapat dipisahkan. Untuk metode SFA tidak akan dijelaskan lebih
lanjut didalam penelitian ini.
Sedangkan untuk metode Data Envelopment Analysis
(DEA)
adalah
suatu
pendekatan
non-parametrik
yang
membandingkan entitas yang sama, misalnya DMU, terhadap
virtual terbaik dari DMU. DEA biasanya dimodelkan sebagai
10 model pemrograman linear (LP) yang memberikan skor efisiensi
relatif untuk setiap DMU. Keuntungan yang paling menarik dari
DEA adalah, bukan merupakan pendekatan parametrik seperti
analisis
regresi/regression
mengoptimalkan
setiap
analysis
pengamatan
(RA),
individu
bahwa
DEA
dan
tidak
memerlukan fungsi tunggal yang paling sesuai dengan semua
pengamatan (Kongar et al , 2010).
2.2. Proses Bisnis
Menurut Weske (2007, p50) sebuah proses bisnis terdiri dari
serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam koordinasi dalam lingkungan
organisasi dan teknis. Kegiatan ini bersama-sama mewujudkan tujuan
bisnis. Setiap proses bisnis yang telah ditetapkan oleh organisasi tunggal,
tetapi dapat berinteraksi dengan proses bisnis yang dilakukan oleh
organisasi lain.
Sedangkan menurut Aguilar dan Olhger (2002) proses bisnis
merupakan elemen kunci saat terintegrasi dengan sebuah perusahaan.
Aguilar (2004) menekankan bahwa proses bisnis berhubungan erat dengan
perusahaan untuk menentukan jalan mana yang dipilih untuk mencapai
keberhasilan.
Selanjutnya difinisi dari proses bisnis dikemukakan juga oleh
Laguna dan Marklud (2005) yang mengatakan bahwa proses bisnis dengan
cara yang komperhensif yaitu, sebuah proses bisnis adalah sebuah jaringan
yang saling terhubung dengan aktifitas dan penyangga yang dengan baik
menentukan batas dan membuat sebuah hubungan, dimana memanfaatkan
11 sumber daya untuk mengubah input menjadi output dengan tujuan
memberi kepuasan kepada customer. Sehingga dapat disimpulkan difisini
dari proses bisnis itu sendiri adalah kumpulan aktifitas yang memproses
input menjadi output yang memberikan suatu nilai bagi perusahaan.
Menurut Devenport (1993) proses bisnis merupakan aktivitas yang
terukur dan terstruktur untuk memproduksi output tertentu untuk kalangan
pelanggan tertentu. Terdapat di dalamnya penekanan yang kuat pada
“bagaimana” pekerjaan itu dijalankan di suatu organisasi, tidak seperti
fokus dari produk yang berfokus pada aspek “apa”. Suatu proses oleh
karenanya merupakan urutan spesifik dari aktivitas kerja lintas waktu dan
ruang, dengan suatu awalan dan akhiran, dan secara jelas mendefinisikan
input dan output. Menurut Hammer (1993) proses bisnis adalah kumpulan
aktivitas yang membutuhkan satu atau lebih inputan dan menghasilkan
output yang bermanfaat/bernilai bagi pelanggan.
Dalam suatu artikel yang dipublikasikan dari perusahaan PT.
Pertamina (2010) mengatakan bahwa proses bisnis merupakan inti dari
seluruh aktivitas pada suatu perusahaan atau organisasi. Untuk mencapai
tujuan perusahaan, proses bisnislah yang akan memberdayakan seluruh
sumber daya yang ada pada perusahaan. Tapi yang perlu diketahui adalah
bahwa setiap bisnis memiliki proses masing-masing yang unik, sesuai
dengan karakteristik dari perusahaan dan bidang usahanya, seperti proses
pembuatan produk ataupun layanan baru, pengadaan supply, menjawab
pertanyaan pelanggan, ataupun rekruitasi karyawan baru, yang tentunya
memiliki perbedaan karekteristik tersendiri untuk setiap perusahaan.
12 Manajemen proses bisnis yang efektif dan efisien dapat
menghasilkan nilai-nilai kompetitif bagi perusahaan. Proses bisnis yang
dikelola dengan baik akan mampu menumbuhkan peluang. Namun
perusahaan terkadang kurang memahami dan tidak mampu mengontrol
proses bisnis yang dimilikinya. Pihak manajemen mungkin telah berhasil
membuat prosedur yang ideal untuk menjalankan proses bisnisnya, tapi
pada kenyataannya, implementasi di lapangan dapat sangat berbeda dari
apa yang telah dirancang sebelumnya. Pada pelaksanaan suatu proses
bisnis kadang terjadi redundansi, ketidakefisienan, stagnasi, dan berbagi
kesalahan-kesalahan lainnya yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya.
Bisnis yang tidak tangkas dalam mengontrol proses bisnis yang
dimilikinya cenderung akan menghalangi usaha perusahaan dalam
mencapai sasaran yang diinginkan.
2.3. Data Envelopment Analysis (DEA)
Menurut Ramanathan (2003, p25), DEA merupakan suatu teknik
berbasis program linier untuk menghukur efisiensi unit organisasi yang
dinamakan
Decision
Making
Unit
(DMU).
Sedangkan
menurut
Purwantoro (2005, p13), DEA adalah suatu teknik pemrograman
matematis yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi realtif dari sebuah
kumpulan unit-unit pembuat keputusan (DMU) dalam mengelolah sumber
daya (input) sehingga menjadi hasil yang (output) dimana hubungan
bentuk fungsi dari input ke output tidak diketahui.
Kemudian pengertian tentang metode DEA ini dikemukakan juga
oleh Thanassoulis (2001) yang mendefinisikan DEA sebagai suatu metode
13 yang dapat digunakan untuk menukur efisiensi komparatif dari suatu unit
operasi homogen seperti sekolah, rumah sakit, dan sebagainya. Sedangkan
menurut Cooper, Seiford dan Tone (2002, p2), DEA menggunakan teknis
program matematis yang dapat menangani vaiabel dan batasan yang
banyak, dan tidak membatasi input dan output yang akan dipilih karena
teknis yang dipakai dapat mengatasinya. DMU adalah organisasiorganisasi atau entitas-entitas yang akan diukur efisiensinya secara relatif
terhadap sekelompok entitas lainnya yang homogen. Homogen berarti
input dan output dari DMU yang dievaluasi harus sejenis/sama. DMU
dapat berupa entitas komersial maupun publik, seperti bank komersial atau
pemerintah, sekolah swasta atau negeri, rumah sakit dan sebagainya.
2.3.1. Konsep Dasar DEA
DEA merupakan pengembangan programasi linier yang
didasarkan pada suatu teknik pengukuran kinerja relatif dari
sekelompok unit yang terdiri dari input dan output. Metode DEA
dapat mengatasi keterbatasan yang dimiliki analisis rasio parsial
maupun regresi berganda. DEA merupakan prosedur yang
dirancang secara khusus untuk mengukur efisiensi relatif suatu
decision making unit (DMU) yang menggunakan banyak input dan
juga output. Dalam DEA efisiensi relatif DMU dapat didefinisikan
sebagai rasio dari total output tertimbang dibagi dengan total input
tertimbangnya.
Inti dari metode DEA yaitu menentukan bobot (weights)
untuk setiap input dan output dari DMU. Dimana bobot tersebut
14 memiliki sifat yang tidak bernilai negatif dan bersifat universal,
dalam artian setiap DMU dalam sampel yang ada harus dapat
menggunakan seperangkat bobot yang sama untuk mengevaluasi
rasionya (total weighted output/total weighted input) dan rasio
tersebut tidak boleh lebih dari satu (total weighted output/total
weighted input ≤ 1).
Asumsi yang dimiliki DEA bahwa setiap DMU akan
memilih bobot yang memaksimumkan rasio efisiensinya (maximize
total weighted output/total weighted input). Karena setiap DMU
menggunakan kombinasi input yang berbeda untuk menghasilkan
kombinasi output yang berbeda pula, maka setiap DMU akan
memilih seperangkat bobot yang mencerminkan keragaman
tersebut. Bobot-bobot tersebut bukan merupakan nilai ekonomis
dari input dan outputnya, melainkan sebagai penentu untuk
memaksimumkan efisiensi dari suatu DMU itu sendiri.
2.3.2. Model DEA
Model
dari
DEA,
Dalam
perkembangannya,
DEA
mengalami modifikasi yang pertama kali diperkenalkan oleh
Banker, Charnes, dan Cooper (1984), sehingga modelnya dikenal
dengan model BCC. Dimana berbeda dengan model CCR yang
menggunakan asumsi constant return to scale (CRS), model BCC
menggunakan asumsi variable return to scale (VRS). Asumsi CRS
sendiri mensyaratkan suatu DMU dapat mampu menambah atau
15 mengurangi input dan outputnya secara linier tanpa mengalami
kenaikan atau penurunan nilai efisiensi. Sedangkan asumsi dari
VRS yaitu tidak mengharuskan perubahan input dan output suatu
DMU berlangsung secara linier, sehingga diperbolehkan terjadinya
kenaikan (increasing returns to scale/IRS) dan penurunan
(decreasing returns to scale/DRS) dari nilai efisiensi.
Biasanya asumsi CRS cocok digunakan pada saat semua
DMU bekerja pada kapasitas optimal (skala ekonomis). Namun,
pada kenyataannya banyak kondisi yang menyebabkan suatu
produksi tidak bekerja optimal. Oleh karena itu, model BCC lebih
tepat digunakan dalam kondisi ini. Dengan menggunakan model
CCR dan BCC, efisiensi yang dihitung menggukanan metode DEA
dapat dibedakan menjadi 2, yaitu efisiensi teknis (techincal
eficiency) dan efisiensi skala (scale efficiency).
DEA dengan model CCR dapat mengestimasi nilai efisiensi
kotor (gross efficiency) dari sebuah DMU. Efisiensi ini terdiri dari
efisiensi teknis dan efisiensi skala. Efisiensi teknis menjelaskan
efisiensi suatu DMU dalam mengubah input menjadi output.
Sedangkan efisiensi skala menunjukkan bahwa skala ekonomi
tidak dapat dicapai pada semua tingkatan skala produksi, sehingga
hanya terdapat satu ukuran skala yang paling produktif (most
productive scale size/MPSS), dimana efisiensi skala akan
maksimum, yaitu sebesar 100 persen. DEA dengan model BCC
menghitung perubahan nilai efisiensi yang didasarkan pada skala
16 operasi. Oleh karena itu, model BCC menghitung efisiensi teknis
yang murni (pure technical efficiency).
2.3.3. Keunggulan dan Kelemahan DEA
Metode Data Envelopment Analysis (DEA) yang digunakan
untuk
mengukur
efisiensi
relatif
ini
memiliki
kelebihan
dibandingkan metode tradisional ekonometri dalam mengukur
efisiensi. Sebagai metode non-parametrik salah satu kelebihan
DEA adalah tidak membutuhkan asumsi mengenai bentuk fungsi
produksi tertentu untuk menghubungkan antara input dan output.
Oleh karena itu probabilitas kesalahan spesifikasi berkaitan dengan
teknologi produksi sama dengan nol. Namun kekurangan DEA
sebagai metode non-parametrik adalah sensitifnya terhadap
masalah kesalahan pengukuran. Jika terjadi kesalahan pengukuran
pada observasi bukan pada batasan
(frontier)
yang
diestimasi,
maka kesalahan ini akan masuk dalam skor efisiensi. Jika terjadi
kesalahan acak (random error) pada observasi pada frontier, maka
kesalahan ini akan masuk pada skor efisiensi seluruh observasi
yang diukur relatif terhadap observasi pada frontier sebelumnya
(Elvira, 2012, p37).
Selain itu terdapat beberapa kelebihan metode DEA
dibandingkan dengan metode-metode lain yang dimukakan oleh
Purwantoro (2005), yaitu :
17 1) Model DEA dapat mengukur banyak variabel input dan
variabel output.
2) Tidak diperlukan asumsi hubungan fungsional antara variabelvariabel yang diukur.
3) Variabel input dan output dapat memiliki satuan pengukuran
yang berbeda.
Kelebihan lain juga dikemukakan oleh Trick (1996), yaitu :
1) DEA tepat untuk model yang mempunyai banyak input dan
output.
2) Fungsi persamaan/pertidaksamaan dari DEA tidak memerlukan
asumsi yang berkaitan dengan input dan output-nya.
3) Unit yang diukur akan dibandingkan secara langsung dengan
unit-unit yang dievaluasi input dan output dapat mempunyai
satuan yang berbeda.
Dalam buku lain yaitu yang ditulis oleh Makmun (2002)
berpendapat, walaupun analisis DEA memiliki banyak kelebihan
dibandingkan analisis rasio parsial dan analisis regresi, DEA
memiliki beberapa keterbatasan, yaitu:
1) DEA mensyaratkan semua input dan output harus spesifik dan
dapat diukur (demikian pula dengan analisis rasio dan regresi).
18 Kesalahan dalam memasukkan input dan output akan
memberikan hasil yang bias.
2) DEA berasumsi bahwa setiap unit input atau output identik
dengan unit lain dalam tipe yang sama. Tanpa mampu
mengenali perbedaan-perbedaan tersebut, DEA akan memberi
hasil yang bias.
3) Dalam bentuk dasarnya DEA berasumsi constant return to
scale (CRS). CRS menyatakan bahwa perubahan proporsional
pada semua tingkat input akan menghasilkan perubahan
proporsional yang sama pada tingkat output.
4) Bobot input dan output yang dihasilkan oleh DEA tidak dapat
ditafsirkan dalam nilai ekonomi.
Kelemahan metode DEA menurut Purwantoro (2003) adalah :
1) Bersifat simpel spesifik.
2) Merupakan extreme point technique, kesalahan pengukuran
dapat berakibat fatal.
3) DEA sangat bagus untuk estimasi efisiensi realtif DMU tetapi
sangat lambat untuk mengukur efisiensi absolut dengan kata
lain bisa membandingkan sesama DMU tetapi bukan
membandingkan maksimisasi secara teori.
4) Uji hipotesis secara statistik atas hasil DEA sulit dilakukan.
19 5) Menggunakan perumusan linier programming terpisah untuk
tiap DMU (perhitungan secara manual sulit dilakukan apalagi
untuk masalah berskala besar).
6) Bobot dan input yang dihasilkan oleh DEA tidak dapat
ditafsirkan dalam nilai ekonomi.
2.4. Enterprise Resource Planing (ERP)
Sistem ERP adalah sistem yang paling berkembang pesat dalam
organisasi saat ini. Sistem ERP telah muncul sebagai respon terhadap
transformasi besar dalam bisnis disebabkan oleh permintaan dari para
klien, pilihan yang lebih luas dan harga yang lebih rendah. Faktor-faktor
lain seperti globalisasi, dibutuhkan standardisasi proses dan harapan yang
sangat berubah dari pelanggan, juga berpartisipasi dalam transformasi
bisnis. Sistem ERP telah bekerja di organisasi besar maupun kecilmenengah karena sistem ini kemampuan untuk secara efisien menjawab
tantangan ini. (Botta, 2006, p204).
Sistem ERP memungkinkan perusahaan untuk mengintegrasikan
berbagai proses di area fungsional yang berbeda dalam upaya untuk
meningkatkan produktivitas, efisiensi dan untuk mempertahankan daya
saing mereka. ERP bukan teknologi baru, seperti; penetrasi pasar di dalam
organisasi besar cukup besar. Sistem ERP telah banyak digunakan di
negara-negara berkembang di seluruh dunia untuk mengotomatisasi dan
merampingkan proses bisnis untuk mencapai keunggulan kompetitif
global. (Ramburn, 2013, p215).
20 Menurut Leon (2007) ERP melingkupi teknik dan konsep yang
diterapkan untuk mengintegrasikan manajemen proses bisnis sebagai
sebuah kesatuan. Dilihat dari sudut pandang keberhasilan manajemen
penggunaan
sumber
daya,
ERP
bertujuan
untuk
meningkatkan
ketepatgunaan dari sebuah perusahaan.
2.6.1. Latar Belakang Enterprise Resource Planing (ERP)
Sistem ERP adalah sistem software untuk membantu dan
untuk mengotomatisasi proses bisnis, memberikan real time dan
informasi perusahaan secara akurat untuk pengambilan keputusan.
ERP
mempunyai
sejarah yang
panjang
pada
evolusinya.
Production scheduling, materia ordering, dan sistem product
shipment berkembang dari sistem reorder point yang bersifat
manual ke computerize Materials Requirement Planning (MRP)
kemudian berkembang menjadi sistem Manufacturing Resource
Planning (MRP-II) yang mengintegrasikan MRP dan capacity
requiremen planning ke Manufacturing Execution Systems (MES)
yang kemudian terintegrasi dengan MRP-II dan shop floor lalu
sistem device control dan pada akhirnya ke ERP sistem. SAP
R/3 m e r u p a k a n modul dan sub-modul y a n g mencakup sales
dan distribusi. Material management, warehouse
management,
quality management, production planning untuk proses industri,
financial accounting, controlling, project system dan office
communication yang diharapkan untuk mengurangi inventories,
21 kenaikan cash management dan mengurangi biaya operational
(Vemuri, 2006).
2.6.2. Kelebihan dan Kekurangan ERP
ERP juga ditemukan efektif dalam mengurangi biaya
persediaan,
meningkatkan
efisiensi,
dan
peningkatan
profitabilitas. Selain itu, ERP telah diakui dengan mengurangi
manufacturing lead times. Manfaat potensial lainnya, ERP
dapat melakukan penurunan drastis dalam persediaan, terobosan
dalam pengurangan working capital, informasi tentang kebutuhan,
kebutuhan pelanggan
serta kemampuan
untuk melihatnya,
perluasan pengelolaan perusahaan pemasok, aliansi dan pelanggan
sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. Jelas, teknologi
informasi terpadu dari software ERP memiliki potensi untuk
menyediakan perusahaan manufaktur untuk melakukan perluasan
kemampuan kompetitif yang baru, terutama karena informasi yang
real-time dapat meningkatkan kecepatan dan presisi dengan respon
perusahaan. Implementasi ERP tidak datang tanpa tantangan
teknis dan manajerial yang signifikan, investasi keuangan yang
besar,
dan
banyak
perubahan
pada
organisasi.
Masalah
operasional di Hershey Foods, Whirlpool, FoxMeyer Drugs, dan
baru-baru ini Hewlett Packard, telah disalahkan pada buruknya
implementasi solusi ERP. ERP juga memiliki reputasi sebagai
terkenal over-sold dan under-delivered. Melaporkan bahwa 65%
22 dari eksekutif percaya bahwa ERP bisa berbahaya bagi organisasi
mereka. (Muscatello, 2008).
2.5. Pemilihan Variabel Input dan Output
Kesulitan utama dan yang paling sering dihadapai dalam aplikasi
DEA adalah bagaimana cara memilih variabel input dan output. Kriteria
yang diterapkan untuk pemilihan input dan output sangat subjektif. Hal ini
disebabkan tidak ada aturan yang spesifik dalam menentukan pemilihan
variabel input dan juga output. Namun demikian, menurut Ramanathan
(2003) menyarankan beberapa petunjuk dalam melakukan pemilihan input
dan output. Umumnya input didefinisikan sebagai sumber daya yang
dimanfaatkan oleh DMU atau kondisi yang mempengaruhi kinerja dari
DMU, sementara output merupakan keuntungan (benefit) yang dihasilkan
sebagai hasil dari kegiatan operasi DMU.
Dalam setiap penelitian dengan menggunakan meotde DEA,
menentukan input dan output secara benar sangatlah penting. Beberapa
aturan rule of thumb dapat membantu dalam menentukan jumlah yang
ideal untuk input dan output. Umumnya, pada saat jumlah input dan output
meningkat, maka semakin banyak DMU yang akan memperoleh tingkat
efisiensi 100%, karena DMU-DMU tersebut menjadi terlalu khusus untuk
dievaluasi terhadap unit lain.
23 2.6. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Huijsman (2011, p1-3)
bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan implementasi sistem ERP
yang sering tidak berhasil dengan menggunakan pandangan dari proses
bisnis manajemen. Hal ini dilakukan dengan melihat faktor-faktor dari
keberhasilan implementasi ERP. Implementasi sistem ERP yang tidak
berhasil disebabkan karena proses bisnis yang tidak efisien. Dari hasil
penelitian yang diperoleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
keberhasilan implementasi ERP terhadap proses bisnis yang ada.
Diantaranya Top management support, Project champion, Education on
new business processes, Project team competence, Vendor support, BPR,
Interdepartmental cooperation, Careful package selection, Minimal
customization, Clear goals and objectives, Data analysis and conversion,
Architecture choices, Project management, Dedicated resources, Change
management, Interdepartmental communication, Steering committee,
Vendor partnership, Management of expectations, User training, and
Vendor’s tools.
Selain itu penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Rabaa'i
(2009, p8) bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi implementasi sistem ERP pada sektor pendidikan tinggi.
Faktor-faktor tersebut berhubungan dengan proses bisnis yang pada
perguruan tinggi tersebut. Faktor-faktor yang diperoleh dari penelitian ini
yaitu Top management commitment and support, Change management,
24 Project management, BRR and system’s customisation, Training, ERP
team composition, Visioning and planning, Consultant selection and
relationship, Communication plan, ERP system selection, ERP systems
integration and Post-implementation evaluation.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Castellina (2013, p5)
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara proses bisnis dengan
implementasi ERP. Setalah dilakukan penelitian maka diperoleh beberapa
faktor yang mempengaruhi proses bisnis pada suatu perusahaan yaitu
process in place to ability manage non-compliance, and recall event
across the enterprise, ability to alert users of process deviations and
centralized repository of work instruction.
Literatur yang secara khusus membahas bisnis proses dan
implementasi ERP tidak begitu banyak diantaranya, penelitian yang
pernah dilakukan oleh Law et al (2007, p388) untuk mengeksplorasi
hubungan antara keberhasilan ERP, BPI dan variabel organisasi tertentu
dengan menggunakan sampel dari perusahaan yang beroperasi di Asia
(Hong Kong). Dengan kata lain, penelitian ini mencoba untuk menyajikan
model faktor utama organisasi yang harus dikelola dengan baik untuk
sukses dalam mengadopsi sistem ERP.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Amirteimoori (2012, p117)
adalah membantu pengambilan keputusan dalam membedakan antara
keputusan yang efisien dan tidak efisien dengan menggunakan metode
DEA. Dalam beberapa kasus model DEA standar tidak dapat memberikan
25 informasi secara detail tentang DMU yang efisien. Oleh karena itu, hasil
dari penelitian ini adalah mengusulkan sebuah metodologi yang dapat
memberikan informasi secara detail tentang masing-masing DMU yang
diukur, yaitu super-efisiensi model DEA.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Dezdar (2011, p911)
bertujuan untuk menguji faktor–faktor didalam organisasi seperti
dukungan top-level manajemen, pelatihan dan pendidikan, dan juga
komunikasi yang dapat mempengaruhi kesuksesan implementasi sistem
ERP di Iran. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah top-level
manajemen harus memberikan dukungan penuh dalam implementasi
sistem ERP agar implementasi yang dilakukan menjadi suskses,
manajemen juga harus mengkomunikasikan dan memberikan pemahaman
tentang ERP diseluruh depertemen perusahaan. Kemudian pelatihan dan
pendidikan menjadi hal yang sangat penting didalam keberhasilan
implementasi sistem ERP, pelatihan dan pendidikan harus diberikan
kesemua karyawan yang menggunakan sistem ERP agar mereka mampu
menggunakan sistem tersebut secara efisien dan efektif sehingga dapat
mempengaruhi kesusksesan implementasi sistem ERP.
Penelitian yang berhubungan dengan dampak penerapan sistem
ERP terhadap proses bisnis, belum pernah ada yang meneliti. Sehingga
penelitian ini merupakan yang pertama dilakukan yaitu dengan
menganalisa dampak penerapan sistem ERP terhadap proses bisnis pada
suatu perusahaan. Penelitian ini, akan menggunakan suatu metode
pengukuran efisiensi yaitu metode DEA (Data Envelopment Analyst).
26 2.6.1. Pemetaan Jurnal
Berikut ini pemetaan jurnal yang telahdi paparkan pada subbab sebelumnya yang berhubungan dengan penelitan ini.
Tabel 1. Pemetaan Jurnal
No.
Judul Jurnal
Deskripsi
Metodologi
Hasil
1.
Huijsman K. and Noordveld P.
(2011). BPM based ERP
implementation.
Meningkatkan keberhasilan
implementasi sistem ERP yang
sering tidak berhasil dengan
menggunakan pandangan dari
proses bisnis manajemen. Hal ini
dilakukan dengan melihat faktorfaktor dari keberhasilan
implementasi ERP. Implementasi
sistem ERP yang tiak berhasil
disebabkan karena proses bisnis
yang tidka efisien
Observasi,
research
Hasil penelitian yang diperoleh beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi keberhasilan implementasi ERP terhadap
proses bisnis yang ada. Diantaranya Top management
support, Project champion, Education on new business
processes, Project team competence, Vendor support, BPR,
Interdepartmental cooperation, Careful package selection,
Minimal customization, Clear goals and objectives, Data
analysis and conversion, Architecture choices, Project
management, Dedicated resources, Change management,
Interdepartmental communication, Steering committee,
Vendor partnership, Management of expectations, User
training, and Vendor’s tools.
2.
Rabaa'i, A. A. (2009).
Identifying Critical Success
Factors of ERP Systems at the
Higher Education Sector. In:
ISIICT 2009 : Third In
ternational Symposium on
Innovation in Information &
Communication Technology. 117.
Mengetahui faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi implementasi
sistem ERP pada sektor pendidikan
tinggi
Observasi,
research
Hasilnya berupa faktor-faktor yang mempengaruhi
implementasi ERP pada proses bisnis yaitu Top management
commitment and support, Change management, Project
management, BRR and system’s customisation, Training,
ERP team composition, Visioning and planning, Consultant
selection and relationship, Communication plan, ERP system
selection, ERP systems integration and Post-implementation
evaluation.
27 3.
Castellina N. (2013). Business
Process Management and ERP.
Driving Efficiency and
Innovation. Aberdeen Group. A
Harte-Hanks Company. 1-7.
Mengetahui hubungan antara proses
bisnis dengan implementasi ERP.
Observasi,
research
Setalah dilakukan penelitian maka diperoleh beberapa faktor
yang mempengaruhi proses bisnis pada suatu perusahaan
yaitu process in place to ability manage non-compliance, and
recall event across the enterprise, ability to alert users of
process deviations and centralized repository of work
instruction.
4.
Law Chuck C.H., Ngai Eric
W.T.. (2007). An Investigation
Of The Relationships Between
Organizational Factors,
Business Process Improvement,
And ERP Success. 14(3). 387406.
Menyajikan sebuah investigasi
empiris ke dalam hubungan antara
variabel organisasi yang dipilih,
Business Process Improvement
(BPI) dan kesuksesan implementasi
Enterprise
Resource
Planning
(ERP).
Observasi,
research
Menemukan bahwa tingkat BPI berhubungan positif dengan
keberhasilan ERP, dan dukungan manajemen senior dari BPI
(MSB), serta dukungan manajemen senior TI (MSI) dan jarak
CEO-IT yang berhubungan negatif. Namun, juga telah
menemukan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan
secara statistik antara pendekatan terhadap perubahan proses
bisnis dan BPI, antara MSI dan keberhasilan ERP, dan antara
jarak CEO-TI dan MSB.
5.
Amirteimoori Alireza,
Kordrostami Sohrab. (2012). A
distance-based measure of
super efficiency in data
envelopment analysis: an
application to gas companies.
54. 117–128.
Membantu pengambilan keputusan
dalam
membedakan
antara
keputusan yang efisien dan tidak
efisien
dengan
menggunakan
metode DEA. Dalam beberapa
kasus model DEA standar tidak
dapat memberikan informasi secara
detail tentang DMU yang efisien.
Research, DEA
hasil dari penelitian ini adalah mengusulkan sebuah
metodologi yang dapat memberikan informasi secara detail
tentang masing-masing DMU yang diukur, yaitu superefisiensi model DEA
28 6.
Dezdar Shahin, Ainin
Sulaiman. (2011). The
Influence Of Organizational
Factors On Successful Erp
Implementation. 49(6). 911926.
Menguji faktor – faktor didalam
organisasi seperti dukungan toplevel manajemen, pelatihan dan
pendidikan, dan juga komunikasi
yang
dapat
mempengaruhi
kesuksesan implementasi sistem
ERP di Iran.
Research
analysis,
observasi
Hasilnya top-level manajemen harus memberikan dukungan
penuh dalam implementasi sistem ERP. Manajemen juga
harus mengkomunikasikan dan memberikan pemahaman
tentang ERP diseluruh depertemen perusahaan. Kemudian
pelatihan dan pendidikan menjadi hal yang sangat penting
didalam keberhasilan implementasi sistem ERP, pelatihan dan
pendidikan harus diberikan kesemua karyawan yang
menggunakan sistem ERP agar mereka mampu menggunakan
sistem tersebut secara efsien dan efektif.
Download