plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat

advertisement
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BELAJAR DARI KITAB AYUB:
MENEMUKAN MAKNA DIBALIK PENDERITAAN MANUSIA DAN
APLIKASINYA MELALUI KATEKESE PEMBEBASAN MODEL
SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Oleh:
Christine Yossy Meinarty
NIM: 081124016
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN
KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2013
i
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERSEMBAHAN
Sebagai wujud refleksi pribadi,
Saya persembahkan skripsi ini kepada
Seluruh keluarga besar saya, sahabat-sahabat saya, serta semua orang yang
mencari makna-makna penderitaan dalam hidupnya.
Secara istimewa kepada:
Tuhan yang Maha Cinta
Kedua orang tua yang sangat saya cinta: Bpk Sabianus S.Pd., M.Si & Ibu
Erminawati yang selalu mendoakan saya dan membesarkan saya dengan penuh
kasih sayang,
Adik-adik saya: Christian Dwi Fernando & Christy Tri Suhendro yang selalu
menghadirkan keceriaan dalam hidup saya
Teman dekat saya: Edy Pratomo S.Kep yang sabar mendengarkan keluh kesah
saya, dan juga tidak lelah memberikan dukungan kepada saya untuk
menyelesaikan skripsi ini
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
MOTTO
Bukan kematian atau penderitaan yang harus ditakuti, melainkan rasa takut pada
penderitaan atau kematian itu sendiri.
Bukan apa yang terjadi pada anda, yang paling penting adalah bagaimana anda
bereaksi terhadap hal itu.
(Epictetus)
“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku
akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil,
terpujilah nama Tuhan!”
(Ayub 1: 21)
Kemuliaan kita yang terbesar adalah bukan karena tidak pernah jatuh, tapi karena
bangun setiap kali kita jatuh
(Konfucius)
Jika anda mencintai sampai sakit, anda tidak akan menemukan luka lagi, hanya
ada cinta yang lebih. Jika anda tidak bisa memberi makan seratus orang, berilah
makan satu orang saja
(Bunda Theresa)
Kebebasan adalah hak untuk hidup seperti yang kita inginkan
(Epictetus)
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRAK
Realitas penderitaan adalah pengalaman yang dekat dengan hidup
manusia. Manusia tidak pernah luput dari penderitaan, karena penderitaan
merupakan hal yang manusiawi dan tidak terelakkan dari pengalaman hidup
manusia. oleh karena itu, manusia selalu mencari dan menemukan cara yang tepat
untuk menanggapinya. Salah satunya adalah dengan cara memaknainya.
Usaha dalam memaknai penderitaan bukan hanya merupakan usaha untuk
menyikapi penderitaan saja, tetapi juga untuk mengasah/mengembangkan
kedewasaan iman kita dalam menanggapi atau menyikapi persoalan-persoalan
yang terjadi dalam hidup kita secara lebih baik. Bertitik tolak dari hal tersebut,
skripsi yang berjudul “BELAJAR DARI KITAB AYUB: MENEMUKAN
MAKNA DIBALIK PENDERITAAN MANUSIA DAN APLIKASINYA
MELALUI KATEKESE PEMBEBASAN MODEL SHARED CHRISTIAN
PRAXIS (SCP)” dapat dimanfaatkan sebagai salah satu usaha manusia sekarang
untuk bersikap dewasa dalam menanggapi permasalahan hidup, baik yang terjadi
pada orang lain maupun diri sendiri, dalam artian manusia dapat membebaskan
diri dari belenggu yang disebabkan oleh pengalaman penderitaan.
Ada tiga permasalahan yang hendak penulis kaji dalam penulisan skripsi
ini. Pertama, bagaimana penderitaan dimaknai dalam Kitab Ayub? Kedua,
bagaimana pengaplikasian makna penderitaan manusia dalam katekese
pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP)? Permasalahan ketiga,
bagaimana katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis dapat
diterapkan dalam konteks actual kita?
Untuk menjawab permasalahan-permasalahan tadi, Kitab Ayub menjadi
sumber utama refleksi ini. Mengapa? Karena Kitab Ayub sangat luas berbicara
tentang tema penderitaan manusia yang hendak kita maknai, dan kita dapat belajar
dari kitab penderitaan tersebut. Untuk memperkaya studi pustaka tersebut,
terutama yang menyangkut Kitab Ayub, penderitaan manusia, dan katekese
pembebasan, usaha tadi dapat menjadi landasan bagi katekese pembebasan
dengan model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai tindak lanjut.
Akhirnya, semua usaha dalam memaknai penderitaan dan merumuskan
aplikasinya dalam katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis
(SCP), dapat dijadikan sebagai salah satu alternative bagi siapa saja yang
memiliki keprihatinan terhadap adanya penderitaan hidup manusia, khususnya
para katekis, pelayan sabda, dan umat kristiani yang tergerak untuk terlibat dalam
membantu sesama untuk membebaskan diri dari belenggu penderitaan, dengan
menemukan makna dibalik. Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat menjadi
bahan pertimbangan lebih lanjut dalam usaha untuk mengembangkan kegiatan
katekese, khususnya katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis
(SCP).
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRACT
A man is very close with the experience of misery. Since, it is a part of
human being; a man cannot be separated from it. A man even always tries to find
the right way in order to understand the meaning of it.
In the terms of understanding it, a man does not only try to face it but also
attempt to develop the maturity in his faith or strive to solve his problem wisely.
Considering this issue, this thesis, “BELAJAR DARI KITAB AYUB:
MENEMUKAN MAKNA DIBALIK PENDERITAAN MANUSIA DAN
APLIKASINYA MELALUI KATEKESE PEMBEBASAN MODEL SHARED
CHRISTIAN PRAXIS (SCP)” can be used as the guidance or contemplation to
develop the maturity in order to face many problems in oneself or other. In this
case, it is expected that a man can release himself from the shackle of misery.
Three are three problem formulations that the author wants to discuss in
this study. First, how is the misery defined according to the book of Ayub?
Second, how do the application of human misery in the context of liberation
catechesis with a Shared Christian Praxis (SCP) work?, and the third is how can
Shared Christian Praxis (SCP) be applied in the actual context?.
The book of Ayub is the primary source to answer those questions. It is
because the book of Ayub has a wide significance to discuss about human misery
and there are a lot of important explanations about it in this book. Furthermore, to
complete the library studies about human misery, the book of Ayub, and the
liberation catechesis, Shared Christian Praxis (SCP) can be used as the follow-up
step.
As a conclusion, all efforts in understanding the misery and formulating the
application using Shared Christian Praxis (SCP) can be used as an alternative
source for people whom have a concern to understand about the misery. It also
includes catechists, missionaries, and Christian people, who are involved in
helping people releasing them from the shackles of misery and try to find the
meaning behind it. The authors also expects that this thesis can be a good source
in developing the catechesis activity.
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah Tritunggal Maha Kudus yang senantiasa
memberkati dan melimpahkan kasih karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul: “BELAJAR DARI KITAB AYUB:
MENEMUKAN MAKNA DIBALIK PENDERITAAN MANUSIA DAN
APLIKASINYA MELALUI KATEKESE PEMBEBASAN MODEL SHARED
CHRISTIAN PRAXIS (SCP)” ini. Kisah Ayub memberi gambaran kepada kita
bahwa kesetiaan kepada Allah tidak tergantung pada apa yang diberikan Allah
kepada kita, melainkan hasil pilihan dan keputusan kita secara bebas sebagai
mkhluk yang bebas. Dari kisah Ayub ini, penulis mengajak para pembaca untuk
belajar dari Kitab Ayub, terutama dalam usaha menemukan makna penderitaan
hidupnya.
Skripsi yang difokuskan pada usaha memaknai penderitaan ini, tidak
terlepas dari keprihatinan dan kesadaran penulis akan realitas penderitaan
manusia, baik secara personal maupun komunal, secara langsung atau tidak
langsung penulis alami. Sebagai sumbangan praktis penulis berhubungan dengan
usaha pemaknaan ini, penulis menawarkan katekese pembebasan model Shared
Christian Praxis (SCP), yakni katekese yang bertujuan untuk menimbulkan
kembali kesadaran umat beriman akan perjuangan dan harapan akan kebebasan
dari pengalaman pahit yang membelenggu hidup umat beriman. Selain itu, skripsi
ini ditulis sebagaisalah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik di
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, tentu saja penulis sering mengalami
kesulitan. Atas kesadaran pribadi, penulis merasa bahwa skripsi ini tidak mungkin
terselesaikan tanpa bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pada kesempatan ini dengan penuh syukur, penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1.
P. Drs. FX. Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed., selaku Kaprodi IPPAKUSD yang selalu memberi dukungan dan motivasi kepada penulis, terutama
dalam menyelesaikan skripsi ini.
2.
Dr. C.B. Putranto, SJ, selaku dosen pembimbing akademik yang selalu penuh
perhatian mendengarkan curhat penulis, serta sabar mendampingi, penulis
sejak awal masuk IPPAK sampai pada tahap penyelesaian penulisan skripsi
ini.
3.
P. Dr. A. Hari Kustono, Pr selaku dosen pembimbing utama yang bersedia
meluangkan waktunya, serta penuh perhatian dan tabah dalam membimbing
penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4.
P. Dr. B.A. Rukiyanto, SJ selaku dosen penguji skripsi yang telah bersedia
meluangkan waktu, perhatian dan memberikan masukan dan motivasi dalam
menimbulkan gagasan baru dalam penulisan skripsi ini.
5.
Bpk. Drs. L. Bambang Hendarto Y, M.Hum sebagai dosen penguji yang telah
menyediakan waktu dan perhatiannya kepada penulis
6.
Kedua orang tua, serta keluarga besar saya yang selalu mendoakan dan
mendukung saya baik secara moril maupun materil.
7.
Teman dekat saya yang selalu setia memotivasi saya dalam menyelesaikan
skripsi ini
xi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………….………….….
i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………….…….……
ii
HALAMAN PENGESAHAN …………………………….…………….…...
iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………….………….………
iv
MOTTO ……………………………………………………………………..
v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……………………….…………….
vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ……….…….….……….…
vii
ABSTRAK …………………………………………………………………..
viii
ABSTRACT ………………………………………………………….…….…
ix
KATA PENGANTAR …………………………………………….…….…...
x
DAFTAR ISI ………………………………………………………………...
xiii
DAFTAR SINGKATAN …………………………………….………….…...
xxi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………………………………….…….…….……..
1
B. Rumusan Permasalahan …………………….….………….………....
14
C. Tujuan Penulisan ……………………………………….…….……...
15
D. Manfaat Penulisan ……………………………….……….………….
15
E. Metode Penulisan ………………………………….………………...
16
F. Sistematika Penulisan …………….………….……….……………...
16
BAB II BELAJAR DAN MENGENAL KITAB AYUB
A. Identitas Kitab Ayub ……………….…….……….………………….
18
1. Asal-Usul Kitab Ayub …………………………….…….……….
18
xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2. Pengarang Kitab Ayub ……………….….….…….…….………..
19
3. Waktu Penulisan ………………………………….…….…..........
22
B. Struktur Penulisan Kitab Ayub ………….……....……......................
22
1. Prolog ………………………………………….…………………
23
a. Allah di Awal Penderitaan Ayub ……….……..….………….
24
b. Peran Iblis yang Tersembunyi ………………………..….…..
26
1) Musibah yang Pertama ………………….….….………...
26
2) Musibah Kedua ………………………..…………………
28
2. Dialog ……………………………………………………………
29
a. Lingkaran Pertama ……………………....…………………...
29
b. Lingkaran Kedua ………………………………….…….…...
33
c. Lingkaran Ketiga …………………………………..…….…..
34
3. Ellihu Masuk dalam Pembicaraan …….…….…….….….………
34
4. Ayub Ingin Allah Bicara dan Jawaban Dari Allah …......…….….
35
a. Ayub ingin Allah Bicara Padanya ………...…………………
35
b. Teofani: Jawaban Allah ……………………………..……….
36
1) Jawaban Allah yang Pertama …………....….……………
37
2) Jawaban Allah yang Kedua ………………..…….………
38
5. Epilog ………………………………………………….…………
39
C. Gaya Penulisan Kitab Ayub …………….….…….….…….…………
39
1. Sistematika Penulisan Kitab Ayub: Bagian Prosa .…..….…...…..
41
2. Sistematika Penulisan Kitab Ayub: Bagian Puisi ….....……….…
43
D. Sikap Ayub Ketika Menghadapi Penderitaan ….……...……..……....
45
1. Ayub dan Penderitaannya …………....…………………………..
46
xiv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2. Sikap Ayub dalam Penderitaan ……………………...…….…….
46
a. Kepasrahan Ayub …………………………..………………..
47
b. Ayub Mengeluh …………….….…………………………….
47
c. Kekecewaan dan Kemarahan Ayub ………………...….….…
48
d. Tantangan dan Pemberontakan dari Ayub ……….......………
51
e. Tuduhan Ayub kepada Allah …………………………....…...
53
f. Pengharapan Ayub …………………...………………………
53
1) Pengharapan Implisit …………………………..….……..
54
2) Pengharapan Eksplisit ………………..….…….…………
55
BAB III USAHA MEMAKNAI PENDERITAAN MANUSIA MENURUT
PANDANGAN IMAN KRISTIANI, BELAJAR DARI KITAB AYUB
DAN RELEVANSINYA BAGI ORANG KRISTIANI DI ZAMAN
SEKARANG
A. Memahami Penderitaan secara Umum ……………….....…….……..
59
1. Pengertian Penderitaan ………………………………...………...
59
2. Beberapa Contoh Penderitaan Manusia …………………......…...
61
a. Penderitaan karena Diri Sendiri ……………………….....….
61
b. Penderitaan yang Disebabkan Oleh Orang Lain ….….............
63
c. Penderitaan demi Orang Lain dan demi Tugas Perutusan .….
64
d. Penderitaan Karena Penyakit ……………………...…………
65
e. Bencana Alam ………………….………………………….…
66
3. Cara Mengatasi Penderitaan ………………………………....…..
66
a. Penderitaan karena Diri Sendiri ………………………….......
67
b. Penderitaan karena Orang Lain ……………………......…….
67
xv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
c. Penderitaan demi Orang Lain ………………………....……..
67
d. Penderitaan karena Bencana Alam ……………….....……….
68
e. Penderitaan karena Penyakit ………………….....…………...
68
B. Relevansi Penderitaan Ayub bagi Penderitaan Hidup Umat Kristiani di
Zaman Sekarang …………………………………......………………
71
1. Makna Penderitaan Manusia Menurut Pandangan
Iman Kristiani …………………………….…………….………..
71
a. Memahami arti penebusan dan makna penderitaan
Yesus Kristus ………………………………………..………
73
b. Allah mendidik manusia melalui peristiwa penderitaan .. ...…
74
1) Penderitaan mengembangkan kepribadian manusia:
menjadikan manusia rendah hati ………………….....…..
75
2) Ditantang untuk ikut ambil bagian dalam mengatasi
penderitaan: solidaritas ………………………...….……..
76
3) Kedewasaan iman ……………………….….……………
79
2. Makna Penderitaan Ayub ……………..….….…………….…….
80
a. Penderitaan Ayub Bukan Akibat Dosa
Atau Hukuman Dari Allah …………………………...………
83
b. Penderitaan Ayub Membawa Pemahaman Baru
Mengenai Allah Dan Penderitaan Manusia …………..….…..
85
3. Relevansi Penderitaan Ayub Bagi Penderitaan Kita …….…........
88
a. Penderitaan, Dosa, dan Pertobatan ………….…………....….
88
b. Penderitaan, Pengharapan, Perjuangan
Dan Pembebasan ……………………………….…..….…......
xvi
90
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
c. Penderitaan dan Penerimaan Diri Sebagai
Makhluk yang Terbatas …………………………………..….
92
BAB IV APLIKASI PEMAKNAAN PENDERITAAN DALAM KITAB AYUB
DENGAN KATEKESE PEMBEBASAN MODEL SHARED CHRISTIAN
PRAXIS (SCP)
A. Panggilan dan Pergulatan Orang Beriman
dalam Menghadapi Penderitaan …………………………………...…
95
1. Panggilan Manusia …………………………….….……………..
95
a. Manusia sebagai Pribadi ………………....…………………..
98
b. Manusia Mencari Allah ……………………………...………
99
c. Manusia Mencintai Allah dan Mencintai Sesama ….....….….
100
2. Pergulatan Orang Beriman dalam Penderitaan ………...….….….
100
a. Kesadaran ntuk Beriman dan Terlibat Dalam Memperjuangkan
Martabat Manusia yang Menderita …...................................... 103
b. Berani Bersyukur dalam Pengalaman Penderitaan:
Kesetiaan Orang Beriman …………………………..….…..... 105
B. Pokok-Pokok Gagasan Berkatekese bagi Orang Kristiani yang Menderita
Di Zaman Sekarang ……………………....................….….…….…..
106
1. Gagasan dan Sikap yang Diperlukan bagi Katekis .………......…. 106
a. Memahami Pengalaman Penderitaan Peserta …….....….……
106
b. Memahami Tugas Gereja dalam Menanggapi
Penderitaan Manusia ………………….................………….. 107
2. Gagasan dan Sikap yang Perlu Ditumbuhkan dalam Diri Peserta
xvii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
a. Menyadari Diri sebagai Makhluk yang Terbatas dan Dapat Melihat
Wajah Allah Pada Pengalaman Penderitaan …………..….…
108
b. Menerima Penderitaan sebagai Kenyataan Hidup ……….….
109
c. Menyadari Diri sebagai Anggota Gereja ……………………
111
1) Ikut Memperjuangkan Hak-Hak Asasi Manusia ………...
111
2) Setiakawan Melawan Penderitaan Sesama ………............ 111
C. Katekese Pembebasan dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)
Sebagai Alternative dalam Menanggapi Penderitaan Orang Kristiani
1. Gambaran Katekese secara Umum …………………….…….….. 113
a. Pengertian Katekese secara Umum ……………......………… 115
b. Isi Katekese ………..…….….…….…………………………. 115
c. Tujuan Katekese ……..............................................................
117
d. Prinsip Katekese …………………………………..…………
118
e. Subjek Katekese ………………………………….………….
120
f. Objek Katekiese ……………….…………………………….
121
g. Fungsi Katekese …………………………………..…………. 121
2. Katekese Pembebasan ……………………………………..…….
122
a. Isi Katekese Pembebasan .…………………………….….….
124
b. Tujuan dan Sasaran Katekese Pembebasan ……..…....…...… 125
c. Dasar-dasar Katekese Pembebasan …………………...….….
126
1) Dasar Teologi ………………….…………….…..….…...
127
2) Dasar Psikologis …………………………….….….….…
128
3) Dasar Sosiologis …………………………………...….…. 129
xviii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3. Katekese Pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP)
a. Alasan Pemilihan Model Katekese Pembebasan ….….….….
132
b. Tiga Komponen Pokok……………….………….…….…….. 132
1) Praksis .….….………………………….……….………..
132
2) Kristiani ……………….….….….…..….….……….……
132
3) Shared …………………………….…….………………..
133
c. Langkah-langkah Model Shared Christian Praxis (SCP)........
135
1) Langkah I …………………………………………...….... 135
2) Langkah II ……………………………………....……...... 135
3) Langkah III …………………………………………....…. 136
4) Langkah IV ……………………………………..….….…. 136
5) Langkah V ………………………………….…….....……. 137
4. Usulan Program Katekese Pembebasan dan Contoh Persiapan
Katekese Pembebasan
dengan Model Shared Christian Praxis (SCP) ………………….
138
a. Contoh Usulan Program . …..….…….……..…………….…. 140
b. Contoh Persiapan Katekese Pembebasan Model Shared Christian
Praxis (SCP) ………….….……………………………….….
144
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………….……. 158
B. Saran ………………………………………………….….……….….
160
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..… 161
LAMPIRAN …………………………………………………..………….….
xix
163
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR SINGKATAN
A. Singkatan Kitab Suci
Semua singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Alkitab. Jakarta:
Lembaga Alkitab Indonesia, 1997
B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja
CT
: Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes
Paulus II tentang Penyelenggaraan Katekese Masa Kini.
16 Oktober 1979
LG
: Lumen Gentium, konstitusi Dogmatis Tentang Gereja, 12
November 1964.
GS
: Gaudium et Spes. Konstitusi Pastoral tentang Gereja
dalam Dunia Moderen, 7 Desember 1965.
KGK
: Katekismus Gereja Katolik
KWI
: Koferensi Waligereja Indonesia
SD
: Salvifici Doloris, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus
II tentang arti
Kristiani dari Penderitaan Manusia, 11
Februari 1984.
C. Singkatan Lain
ARDAS KAS : Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang
ay
: ayat
xx
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Ayb
: Ayub
dll
: dan lain-lain
Hal
: Halaman.
KKN
: Korupsi Kolusi dan Nepotisme
PKI
: Partai Komunis Indonesia
PKKI
: Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia
Sbb
: sebagai berikut
SCP
: Shared Christian Praxis
xxi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dunia ini, manusia dihadapkan dengan berbagai macam peristiwa yang
terjadi dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti: kesedihan, kesukaran,
kegembiraan, kebahagiaan, kesuksesan, dan kegagalan. Ini merupakan fenomen
kehidupan yang dialami oleh manusia.
Penderitaan merupakan pengalaman yang dekat dengan manusia. Manusia
tidak pernah luput dari penderitaan, karena penderitaan merupakan hal yang
manusiawi dan tidak terelakkan dari pengalaman hidup manusia (Timotheus,
1970: 23). Penderitaan adalah suatu fenomena yang kedudukannya sejajar dengan
peristiwa hidup lainnya, seperti kelahiran, kematian, kegembiraan, sakit dan
sebagainya (Haryanto, 2011 : 334).
Dalam diri manusia ada keharusan untuk mengerti segala hal yang terjadi
sepanjang sejarah hidupnya, termasuk masalah penderitaan yang dialaminya.
Realitas penderitaan yang terjadi pada manusia tidak pernah berhenti
dipertanyakan. Kemampuan manusia untuk berpikir merupakan ciri khasnya yang
paling menonjol (Michael Polanyi, 2001: 15). Tidak mengherankan jika manusia
disebut makhluk yang berpikir atau “animale rationale” (Robini, 1998: 14,18).
Mungkin saja manusia akan berhenti bertanya jika berhenti menjadi manusia.
Dari segala ciptaan yang kelihatan, hanya manusia yang mampu mengenal
dan mencintai ciptaan-Nya (GS 12,3). Manusia diciptaan Allah secitra denganNya. Karena hal inilah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan
sesuatu, melainkan seseorang (KGK, 1993: 94). Kenyataan ini, seharusnya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2
membuat manusia saling menghargai, dan menghormati martabat hidup satu
dengan yang lain. Tetapi pada kenyataannya, di dunia ini masih sering terjadi
permusuhan, pertikaian antar bangsa, suku, agama, dan itu dipelopori oleh satu
orang atau suatu kelompok tertentu. Terkadang tidak jarang orang yang tidak
bersalah ikut jadi korban.
Manusia saling membunuh dan saling menghancurkan. Tentu kita masih
ingat peristiwa pembantaian anggota PKI yang terjadi pada tahun 1965. Peristiwa
ini mengingatkan kita pada sejarah bangsa Indonesia yang tak pernah lekang oleh
peristiwa
tragis,
pertikaian
antarkelompok,
pembalasan
dendam
lama,
pembunuhan, semua ini merupakan perbuatan tanpa penghargaan terhadap pribadi
manusia yang bermartabat. Tidak hanya orang-orang PKI, orang-orang yang tidak
termasuk di dalamnya juga menjadi korban pembantaian orang-orang bringas
(Majalah Tempo, 17 Oktober 2012). Kenyataan hingga saat ini, bangsa Indonesia
masih mengalami penderitaan kolektif, yang juga menimbulkan penderitaan secara
pribadi.
Kita diingatkan kembali pada sejumlah peristiwa mengerikan dalam sejarah
hidup manusia: pembantaian 6 juta orang Yahudi di kamp konsentrasi NAZI,
pembantaian rakyat Timor Leste dalam insiden Santa Cruz tahun 1991, perang
Afganistan dan Irak yang menelan ribuan nyawa manusia, peristiwa tsunami tahun
2004 Aceh dan Nias yang menelan banyak jiwa dan harta benda, gempa bumi
tektonik di Yogyakarta, meletusnya gunung merapi pada tahun 2010 juga menelan
begitu banyak korban (Emanuel Bria, 2007: 9).
Kita sekarang hidup dalam dunia yang tidak aman. Sampai saat ini, masih
banyak ditemukan kasus pembunuhan, ketidakadilan (KKN), pelecehan seksual,
dll. Tidak mengherankan jika zaman sekarang banyak orang masih merasa terjajah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3
di tanah airnya sendiri. Memang tidak dapat dipungkiri, penderitaan adalah realita
yang sangat dekat dengan manusia, ada hubungan erat diantara keduanya: manusia
dan penderitaan. Seperti yang diungkapkan oleh Bapa Suci Paus Yohanes Paulus
II, dalam Salvifici Doloris (art. 3) : “…, dalam bentuk yang bagaimanapun,
penderitaan agaknya, dan memang hampir tak terpisahkan dari eksistensi manusia
di dunia ini”. Pernyataan ini semakin menegaskan dan meneguhkan keyakinan
kita, bahwa benar adanya relasi yang erat antara penderitaan sebagai realitas, dan
manusia sebagai entitas (keberadaan) yang terbatas dan tidak dapat diulang (SD
art. 8).
Realitas penderitaan yang terjadi pada manusia, sering terjadi akibat adanya
kejahatan. Kejahatan itu sendiri berasal dari manusia; kurang harmonisnya
hubungan antara manusia dan dunia (Timotheus, 1970: 25). Mengutip pernyataan
dari Bapa Suci Yohanes Paulus II mengenai kejahatan:“Dapat dikatakan bahwa
manusia menderita bilamana ia mengalami tindakan kejahatan dalam bentuk
apapun” (SD art. 7). Kejahatan tersebut dapat berupa ketidakadilan, yang termasuk
di dalamnya ada unsur; keserakahan, kekuasaan, penindasan, kekerasan dan
kemiskinan. Tindakan kejahatan menimpa kaum lemah. Kenyataan yang terjadi,
orang kaya menindas yang lemah, orang pintar yang mengatur, orang yang punya
kuasa memonopoli. Namun belum tentu orang yang merasa lebih adalah orang
yang hidup benar dan bahagia. Ini adalah permasalahan yang terjadi antar manusia.
Semua ini terjadi karena kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia.
Realita penderitaan di atas membuat kita merasa takut dan cemas barangkali
bencana yang sama akan menimpa kita juga. Kita sungguh berhadapan dengan
pengalaman akan dunia yang absurd. Jika dunia diciptakan oleh Allah Maha
Kuasa, sebagaimana diajarkan dalam pelajaran pendidikan Agama, mengapa Allah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4
dipahami begitu tidak berkuasa? Jika Allah itu benar-benar ada, dari mana
datangnya penderitaan yang menimpa manusia? Dalam pengalaman buruk dan
sangat mengerikan, masih bermaknakah keyakinan kita bahwa Allah itu sungguh
ada? Kalau memang Allah sungguh ada, mengapa Dia tidak campur tangan dalam
peristiwa penderitaan? Mengapa Dia memilih untuk membiarkan penderitaan ada
di dunia? Apakah Allah tidak sayang pada mahkluk ciptaan-Nya? Atau mungkin
Allah hanya ada dalam dongeng? Kalaupun penderitaan bukan berasal dari Allah,
dan kalau memang benar Allah itu Mahakuasa dan mengasihi manusia, mengapa
Allah membiarkan penderitaan merajalela di dunia? Bukankah seharusnya Allah
melindungi makhluk ciptaan-Nya yang lemah dan kecil? Orang baik berhak
mendapat ganjaran yang setimpal dan orang yang jahat diberi hukuman (Robini,
1998: 34). Apa sesungguhnya yang Allah inginkan atas diri manusia yang
menderita?
Dari fenomen-fenomen singkat di atas, penulis melihat ada persoalan yang
menarik untuk dicari jawabannya, dan ini akan menjadi diskusi yang menarik dan
tidak akan ada habisnya. Manusia adalah makhluk yang selalu mau tahu, dan
bertanya “mengapa” pada segala yang dialaminya. Terutama orang seringkali
bertanya-tanya ketika berhadapan dengan penderitaan, apalagi jika penderitaan
tersebut menimpa orang baik dan jujur. Ketika manusia berhadapan dengan situasi
yang tidak dia kehendaki, ia dapat saja berontak, marah, kecewa, dan frustasi. Kita
yang hanya melihat saja dapat berontak, marah dan kesal, apalagi mereka yang
mengalaminya. Pertanyaan yang muncul: “Di manakah Allah? Di manakah Allah
ketika Merapi Meletus, tsunami Mentawai terjadi, banjir Wasior, dan bencana
lainnya yang merenggut banyak nyawa manusia tak berdosa? Jika memang Allah
Mahabaik dan Mahakuasa, mengapa penderitaan tetap ada di muka bumi?”,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5
pertanyaan “mengapa” merupakan usaha manusia untuk menemukan jawaban dan
makna dari penderitaan yang menimpanya. Ini adalah reaksi yang manusiawi.
Hingga saat ini masih terdengar manusia mengeluh, menyalahkan Allah atas
masalah yang dialami, kecewa pada kegagalan dan penderitaan yang menimpa
dirinya. Merasa putus asa ketika dihadapkan pada suatu masalah yang berat, dan
bahkan membuat manusia harus mengakhiri hidupnya. Manusia sering bertanyatanya dalam hatinya, apakah ini hukuman atas dosa? Mungkin saya memang
pantas mendapatkan ini?. Semua pertanyaan itu, menggambarkan bahwa Allah
senang memberikan pelajaran dan hukuman setimpal atas dosa-dosa yang
diperbuat manusia, sehingga gambaran Allah yang sesungguhnya yakni Maha
pengasih dan pengampun hampir tidak ada. Lalu bagaimana dengan manusia yang
menderita tanpa melakukan perbuatan dosa? Apakah itu adil? Kredibilitas Allah
mulai dipertanyaan.
Melihat realitas di atas kembali kita perlu memahami bahwa Allah memberi
kebebasan kepada manusia untuk melakukan segala hal di dunia sesuai dengan
kehendak bebasnya. Menciptakan manusia sebagai makhluk yang bebas berarti:
membiarkan kemungkinan bahwa manusia akan salah pilih, dan jatuh dalam dosa
(Timotheus, 1965: 22). Ini bukan berarti Allah dengan sengaja menghendaki
manusia jatuh dalam dosa, namun Allah itu baik, tidak pernah memaksa manusia
untuk mencintai Dia, namun Allah tetap menunggu manusia benar-benar secara
bebas dan sadar mencintai Dia dengan memberikan jawaban iman dan cinta yang
tidak dapat diberikan makhluk lain sebagai penggantinya (KGK, 1993: 94).
Memaknai penderitaan adalah sebuah upaya reflektif yang sudah dilakukan
sejak dahulu kala. Mungkin refleksi tentang penderitaan ini sudah dilakukan sejak
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6
adanya manusia; sekurang-kurangnya sejak manusia menyadari dirinya sebagai
makhluk reflektif; makhluk yang berpikir dan memiliki akal budi.
Dalam menemukan makna penderitaan, penulis mengutip pernyataan dari
Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam Salvifici Doloris, bahwa: “…dalam bentuk
yang bagaimanapun penderitaan agaknya dan memang hampir tak terpisahkan dari
eksistensi manusia di dunia ini” ( SD art. 3). Pernyataan ini menegaskan bahwa
ada keterikatan yang kuat antara penderitaan dan hidup manusia. Selama manusia
masih bernafas di dunia ini, maka permasalahan yang menimbulkan penderitaan
akan selalu datang silih berganti.
Kebanyakan orang, pasrah menghadapi penderitaan, tanpa mau berjuang dan
menemukan makna di balik penderitaan, sehingga penderitaan dilihat sebagai
pengalaman yang menakutkan. Pertanyaan reflektif bagi kita, bagaimana kita
menemukan makna dibalik penderitaan?. Sebagai wujud kesadaran sebagai
makhluk reflektif, penulis di sini turut mengambil bagian dalam memaknai
penderitaan manusia zaman sekarang.
Penderitaan merupakan misteri dalam hidup. Penderitaan tidak selalu dapat
dimengerti secara tuntas oleh manusia. Memaknai
penderitaan adalah upaya
manusia menyadari dirinya yang lemah dan tidak berdaya ketika berhadapan
dengan kejadian buruk, menakutkan dan menyakitkan.
Penderitaan manusia adalah realitas yang tidak terelakkan dari dunia ini.
Penderitaan yang dialami manusia hendaknya dimaknai. Iman kitalah yang mampu
memberi makna pada hal tersebut. Pertanyaannya, apakah iman kita sudah mampu
memberikan makna atas semua yang terjadi dalam hidup kita? Atau, kita
membiarkan iman mati dan terkikis oleh kekhawatiran kita? (Haryatno, 2011:
335).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7
Penderitaan menjadi problema ketuhanan bagi orang-orang yang percaya
bahwa Allah Mahabaik, Mahaadil dan Mahacinta. Mengenai hal ini, apakah kita
akan menyimpulkan bahwa Allah melakukan sesuatu yang salah terhadap segala
yang diciptakan di dunia ini? Di mana keadilan Allah? Apakah maksud Allah
dengan persoalan yang sulit dipahami ini? Apakah iman kita dapat memberi
jawaban atas semua ini (Atkinson, 1996: 31).
Dalam kesadaran sebagai orang beriman, tentunya kita dapat kembali
melihat ke dalam sumber wahyu tertulis kita, Kitab Suci. Mengikuti Bapa Suci
Paus Yohanes Paulus II, yang mengatakan: “Kitab Suci merupakan sebuah buku
yang besar tentang penderitaan” (SD Art 6), Dalam rangka memaknai penderitaan,
akhirnya kita dapat belajar dari sana. Untuk tujuan inilah, maka penulis akhirnya
mengupas sebuah kitab yang secara istimewa mengungkapkan penderitaan yang
dialami oleh manusia. Isi cerita dari kitab ini sangat menarik dan juga inspiratif.
Kitab ini merupakan kitab yang banyak berbicara tentang penderitaan orang benar.
Kitab yang besar berbicara mengenai penderitaan manusia ini adalah Kitab Ayub.
Benarkah Allah itu Mahakasih dan Mahaadil? Kalau memang benar,
mengapa penderitaan masih merajalela di bumi? Mengapa manusia dibiarkan-Nya
saling menindas dan saling membunuh? Tragisnya lagi, tidak semua korban adalah
orang jahat. Di bumi ini masih banyak orang saleh jadi korban penindasan dan
keserakahan sesamanya. Ini sangat memprihatinkan. benarkah Allah itu adil? Tapi
mengapa orang-orang jahat diberi kehidupan yang layak, sementara orang saleh
harus berjuang keras untuk hidupnya. (Stanislaus, 2008: 51-52).
Pandangan tentang ‘menderita karena dosa’ bertumpu pada paham
keyakinan akan ‘keadilan Allah’ dan paham ‘pembalasan di bumi’. kepercayaan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
8
akan keadilan Allah bertumpu pada tindakan Allah mengganjar yang baik dan
menghukum yang jahat.
Berpijak pada kepercayaan akan keadilan Allah dan paham pembalasan di
bumi, orang sampai pada kesimpulan bahwa bencana, penyakit, penderitaan dan
segala konsekuensinya adalah hukuman dari dosa. pemikiran ini tertuang dalam
buku-buku kebijaksanaan seperti Amsal (Ams 10-22; 25-29) dan Yesus bin Sirakh.
Fakta bahwa orang-orang baik menderita dan mati dibunuh, memicu refleksi
seseorang untuk mempersoalkan kebenaran ‘paham pembalasan di bumi’. Salah
satunya Kitab Ayub. Kitab ini ingin memaparkan diskusi yang sangat panjang
yang menyajikan argumentasi bahwa paham pembalasan di bumi tidak dapat
dipertahankan lagi.
Penderitaan orang benar adalah tema yang menjadikan Kitab Ayub istimewa
dalam konteks sekarang. Kitab Ayub menghadirkan gagasan baru mengenai ajaran
tradisional yang berbicara bahwa penderitaan adalah akibat dari dosa. Kitab Ayub
mau menunjukan bahwa tidak ada hubungan langsung antara penderitaan dan
dosa. oleh karena itu, penderitaan tidak boleh secara langsung dikaitkan dengan
dosa (Stanislaus, 2008: 55-58).
Segala sesuatu di bumi diciptakan Allah baik adanya, ini jelas menunjukan
bahwa Allah tidak menghendaki sesuatu yang tidak baik, termasuk penderitaan
(Kej 1: 31). Terkadang kitalah yang sulit memahami maksud Allah. Menjadi
pertanyaan; “apakah orang benar mampu menanggapi penderitaan yang
dialaminya secara benar atau tenggelam dalam penderitaan? Apakah penderitaan
merupakan hukuman dari Allah? Mungkin manusia dapat lebih merasakan
kehadiran Allah jika pernah merasakan penderitaan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9
Orang benar atau orang beriman juga mengalami penderitaan dalam hidup.
Dengan iman yang teguh orang beriman mampu menerima, menggulati dan
memaknai penderitaan. Bagi orang benar memaknai penderitaan berarti dengan
iman membangun relasi dengan Allah. Orang benar menyerahkan hidupnya dalam
bimbingan dan penyelenggaraan Allah dan dengan sikap iman mengupayakan
sikap-sikap positif dalam menghadapi penderitaan. Orang benar akan menemukan
bahwa Allah itu penuh kasih meskipun mengalami penderitaan dalam hidup.
Orang benar memiliki harapan dalam menghadapi penderitaan. Orang benar
mengharapkan Allah yang senantiasa memberi kekuatan. Harapan tersebut
merupakan reaksi orang benar ketika menghadapi penderitaan seperti bencana
alam, kelaparan, kemiskinan, kematian dan sebagainya. Harapan tersebut juga
merupakan ungkapan bahwa orang benar merasa lemah, tak berdaya, kecil
sehingga membutuhkan Allah dalam menghadapi penderitaan.
Dalam Kitab Ayub, yang menjadi permasalahan di dalamnya adalah
mengenai persoalan dan maksud Allah mengapa membiarkan orang baik
menderita. Ayub adalah orang yang saleh dan takut akan Allah. Namun dia
menderita. Mengapa orang benar seperti Ayub harus menderita? Pertanyaan ini
seakan ingin menunjukan adanya ketidakadilan yang dialami oleh manusia.
Penderitaan Ayub disebabkan oleh iblis, dan dilakukannya (iblis) atas izin
dari Allah. Mari kita lihat Ayub 1:6-12, sbb:
6
Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan dan diantara
mereka datanglah juga iblis. 7Maka bertanyalah Tuhan kepada iblis: “Dari
mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: “Dari perjalanan
mengelilingi dan menjelajahi bumi.” 8Lalu bertanyalah Tuhan kepada Iblis:
“Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun
di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah
dan menjauhi kejahatan. 9Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: “Apakah dengan
tidak mendapatkan apa-apa Ayub takut akan Allah? 10Bukankah Engkau
yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10
dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang
dimilikinya makin bertambah di negeri itu. 11Tetapi ulurkanlah tanganMu
dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau
dihadapan-Mu. 12Maka firman Tuhan kepada Iblis: “Nah, segala yang
dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan
tanganmu terhadap dirinya.
Allah membiarkan Ayub kehilangan segala miliknya, namun Allah tetap
mengasihi Ayub (ay 12). Dari bagian awal kisah Ayub, kita melihat bahwa
penderitaan Ayub bermakna uji coba akan ketulusan, dan bukan hukuman atas
dosa. Sesungguhnya apa maksud dari penderitaan Ayub orang saleh ini?
Dalam kisah digambarkan bahwa Ayub memang membuktikan ketulusan
kepercayaannya. Kepercayaan Ayub akan Allah bukanlah kepercayaan yang
menuntut balasan. Kecurigaan bahwa Ayub percaya kepada Allah karena
kelimpahan yang dimilikinya sebagaimana dinyatakan oleh Iblis di awal kisah (lih.
Ayb 1: 9) terbukti tidak benar. Ayub tetap percaya kepada Allah meskipun segala
kepunyaannya telah sirna. Dengan berseru penuh ketulusan hati Ayub berseru;
“Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang
juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang
mengambil, terpujilah nama Tuhan! (Ayb 1: 21)”. Bagi Ayub segala yang terjadi
di atas bumi ini, semua adalah kehendak Allah termasuk juga penderitaan yang
menimpa dirinya.
Di akhir kisah digambarkan bahwa karena kesetiaannya itu, Allah
mengembalikan segala milik Ayub, bahkan diberi-Nya lebih daripada apa yang
dimilikinya sebelumnya (lih. Ayb 42: 10-17). Dalam Kitab Ayub, penderitaan
dibicarakan secara dialektik oleh tokoh-tokohnya. Dengan adanya perdebatan atas
penderitaan Ayub itulah maka penggalian makna atasnya menjadi semakin jelas
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
11
dan menarik. Karena itulah penulis dapat mengatakan bahwa kitab Ayub adalah
kitab penderitaan.
Secara manusiawi kita pasti berpikir bahwa Tuhan tidak adil jika memberi
hukuman penderitaan kepada orang benar, sedangkan orang-orang yang
melakukan penindasan, melakukan korupsi dan kejahatan lainnya dibiarkan hidup
bahagia. Sebagai manusia biasa wajar saja bila Ayub mengeluh dengan
penderitaan yang ditimpakan Allah kepada dirinya, yang bisa dikatakan orang baik
dan takut akan Allah. Inilah salah satu keluh kesah atau pertanyaan yang keluar
dari mulut Ayub “Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku
keluar dari kandungan ?”(Ayub 3 : 11). Sungguh memilukan nasib Ayub, seorang
saleh dan patuh pada perintah Allah. Dia harus mengalami penderitaan yang begitu
berat. Sebenarnya apa yang ingin Allah tunjukan kepada manusia terutama melalui
kisah Ayub?
Belajar dari Kitab Ayub, kita dituntut semakin peka untuk lebih peduli dan
bersikap solider terhadap sesama yang menderita. Setidaknya solidaritas tersebut
dapat penulis wujudkan melalui jawaban yang tepat dari pertanyaan mengenai
makna sebuah penderitaan yang terjadi menimpa hidup manusia. Dalam bukunya,
Krispurwana Cahyadi (2011: 3) memaparkan pemikiran dari Paus Yohanes Paulus
II, demikian: “membela martabat dan hak asasi manusia merupakan salah satu
tugas Gereja”, beliau memandang manusia sebagai pribadi berharga dihadapan
Allah dan diciptakan secitra dengan-Nya. Dengan menghargai martabat manusia
kita mewujudkan sikap iman terhadap Allah. Pertanyaannya: “Apakah kita cukup
beriman untuk mewujudkan tugas tersebut?”.
Saat berada di kayu Salib, Yesus pernah mengatakan, “Eloi, Eloi, Lama
Sabakhtani!” yang artinya “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12
Aku?”. Bahkan, Yesus pun merasa Bapa-Nya telah meninggalkan Dia. Apakah
memang demikian? Apakah Allah tidak peduli terhadap manusia yang menderita?
Fenomena di atas menunjukan bahwa orang seringkali tertutup oleh nuansa
penderitaan sehingga tidak ada tempat bagi Allah untuk memperjelas maksudnya,
Allah selalu bertindak sesuai dengan maksud-Nya sendiri (Atkinson, 2002: 55).
Dalam penderitaan-Nya, Yesus tidak diam dan meratapi sengsara-Nya. Ia
memberi contoh bagaimana kita harus bersikap ketika berada dalam penderitaan.
Ungkapan “Eloi, Eloi Lama Sabakhtani” adalah usaha untuk terus-menerus
mencari Allah meski penderitaan dialami begitu berat. Allah yang kita imani
adalah Allah yang dekat, yang mau hadir ketika penderitaan terjadi. Hanya saja
kita tidak menyadarinya. Begitu juga Allah hadir saat Yesus di salib dan wafat,
jika Allah tidak hadir maka Yesus tidak mungkin bangkit (Haryatno, 2011: 335).
Kita tidak boleh melupakan bahwa Allah tetap menyertai umatnya dalam situasi
apapun, terutama dalam pengalaman penderitaan, sebab Allah sendiri juga
mengalami penderitaan yang ditanggung oleh Yesus Kristus Putera-Nya (Robini,
1998: 15).
Penderitaan Yesus adalah demi dan untuk umat yang dikasihi-Nya, demi kita
semua, manusia. Karena itu, kita juga dipanggil untuk menderita bersama Dia,
seperti yang dilakukan oleh Paulus untuk Yesus Kristus yang tertulis dalam Kitab
Suci, II Tim: 10-12 sbb :
Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku,
kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita
penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan
Ikonium dan Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah
melepaskan aku daripada-Nya. Memang setiap orang yang mau hidup
beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
13
Sanggupkah kita menderita bersama Kristus seperti yang dilakukan Paulus?
Selama ini kita mempercayai penderitaan adalah ganjaran atas perbuatan dosa,
namun kisah Ayub memberi kita wajah lain dari penderitaan, yaitu penderitaan
tanpa dosa. Itulah sebabnya mengapa kisah Ayub penting untuk memahami arti
dan makna penderitaan orang benar, yaitu karena penderitaan Ayub adalah
penderitaan yang tidak biasa, penderitaan tanpa melakukan perbuatan dosa.
Menurut Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II: “…Penderitaan Ayub adalah
penderitaan dari seseorang yang tidak bersalah; hal itu harus diterima sebagai
suatu misteri, yang tak dapat ditembus oleh manusia secara penuh berdasarkan
akal budinya…” (SD art. 11). Kalau bukan hukuman atas dosa, lantas apa maksud
Allah dibalik penderitaan orang benar? Memang benar bahwa penderitaan
mempunyai suatu makna sebagai hukuman, bila dihubungkan dengan suatu
kesalahan, tapi tidak benarlah bahwa segala penderitaan merupakan akibat dari dan
bentuk dari dosa.
Manusia yang menderita, harus dibebaskan. Gereja harus memerangi
ketidakadilan yang terjadi di dunia, apa yang harus dilakukan oleh Gereja dalam
menanggapi penderitaan sesama? Sejak dahulu sudah diusahakan suatu
pembebasan bagi kaum miskin, namun sampai sekarang belum tuntas juga. Negara
Indonesia ini memang banyak menyimpan sejarah hidup, penderitaan dan
perjuangan manusia. Ada juga manusia yang pasrah pada nasib, dan ada juga yang
terdorong untuk menuntut keadilan. Seperti yang dilakukan oleh Marsinah,
seorang buruh yang memperjuangkan keadilan, namun akhirnya ditemukan tewas
mengenaskan akibat penganiayaan yang dilakukan oleh pihak yang merasa terusik
dengan aksi nekat yang dilakukannya (Majalah Tempo, XXIII. Oktober, 1993).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
14
Menyadari hal di atas, penulis mengupayakan suatu bentuk pendekatan
reflektif kritis guna memberi gambaran baru sebagai usaha untuk membantu orang
benar zaman sekarang menemukan makna dibalik penderitaannya. Selain itu,
beranjak dari situasi di mana seringkali terjadi vonis semena-mena atas
penderitaan orang lain, maka penderitaan harus dimaknai sungguh-sungguh
sehingga dapat menjauhkan kita dari penilaian subjektif yang malah semakin
menambah penderitaan bagi mereka yang mengalaminya. Lalu bagaimana usaha
kita dalam menemukan makna dibalik penderitaan yang menimpa orang benar?
Dan apa yang harus kita lakukan sebagai usaha membantu mereka yang menderita
dapat memaknai penderitaannya?
Beranjak dari latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, akhirnya
dengan penuh kerendahan hati penulis ingin mengajak kita semua belajar bersama
untuk merefleksikan penderitaan yang terjadi di dalam hidup kita khususnya
belajar bersama Kitab Ayub, melalui kacamata iman Kristiani menemukan
bersama makna dibalik penderitaan orang benar serta penerapannya melalui
katekese pembebasan. Maka dari itu, penulis tertarik menulis skripsi ini dengan
judul : BELAJAR DARI KITAB AYUB: MENEMUKAN MAKNA DIBALIK
PENDERITAAN MANUSIA DAN APLIKASINYA MELALUI KATEKESE
PEMBEBASAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS (SCP)
B. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan
dibahas dalam karya tulis ini dapat dirumuskan sbb:
1.
Bagaimana penderitaan orang benar dimaknai dalam Kitab Ayub ?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
15
2.
Bagaimana orang benar jaman sekarang memaknai penderitaann yang
dihadapinya?
3.
Apakah katekese pembebasan Model Shared Christian Praxis (SCP) dapat
membantu umat Kristiani dalam menyikapi penderitaan yang terjadi dalam
hidup secara konkret?
C. Tujuan Penulisan
1.
Mengungkapkan bagaimana penderitaan orang benar dimaknai dalam Kitab
Ayub sehingga dapat menjadi inspirasi bagi umat kristiani dalam menyikapi
penderitaan hidup.
2.
Memaparkan bagaimana keteguhan iman, membantu orang benar jaman
sekarang menanggapi penderitaan hidup sehingga dapat semakin didewasakan
dalam iman
3.
Memaparkan bagaimana katekese pembebasan dengan model Shared
Christian Praxis masih sangat relevan digunakan sebagai alternative dalam
membantu peserta untuk mendalami dan menemukan makna dari pengalaman
hidupnya.
4.
Memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Strata-1 Program
Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta.
D. Manfaat Penulisan
1.
Bagi penulis sendiri, penulis semakin peka dan termotivasi untuk menanggapi
penderitaan orang lain, serta penulis dapat semakin bertumbuh dewasa dalam
menyikapi penderitaan yang terjadi dalam hidup.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
16
2.
Bagi pembaca, pembaca menemukan makna penderitaan sebagai inspirasi
mereka terutama dalam menanggapi/menyikapi permasalahan yang mereka
alami.
3.
Memberi gambaran kepada semua orang, sejauhmana iman, pengharapan dan
kasih pada Allah dapat membebaskan manusia dari belenggu penderitaan
yang terjadi dalam hidupnya, serta tidak melihat penderitaan sebagai sesuatu
yang mengerikan, melainkan dapat menyikapinya secara tepat dengan iman
yang dewasa.
E. Metode Penulisan
Metode penulisan yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
analisis deskriptif terhadap kisah Ayub. Kisah Ayub menjadi sumber pokok dalam
penulisan karya ini. Penulis akan memaparkan hasil refleksi kritis terhadap kisah
Ayub dan diperkaya dengan studi pustaka.
F. Sistematika Penulisan
Skripsi ini dibagi dalam lima bab yang akan diuraikan sebagai berikut:
Bab I merupakan pendahuluan yang menguraikan latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika
penulisan.
Bab II membahas tentang Identitas dari Kitab Ayub, struktur penulisan,
sistematika penulisan, gaya penulisan kitab Ayub dan sikap Ayub dalam
menghadapi penderitaan. Hal ini bertujuan supaya pembaca dapat benar-benar
mengenal dan memahami jalan pikiran Kitab Ayub, dengan maksud untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
17
mendasari usaha pemaknaan atas penderitaan yang terungkap dalam Kitab Ayub,
yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
Bab III merupakan usaha memahami penderitaan secara umum, mulai dari
pengertian penderitaan, beberapa contoh penderitaan, dan cara mengatasinya.
Selanjutnya penulis akan membahas tentang relevansi penderitaan Ayub bagi
penderitaan manusia, umat Kristiani di zaman sekarang. Dalam bagian ini, penulis
akan menguraikannya seperti: makna penderitaan manusia menurut iman Kristiani,
makna penderitaan Ayub, dan relevansi penderitaan Ayub bagi penderitaan kita
Sebagai hasil dari usaha pemaknaan atas penderitaan itu, Pada Bab IV,
penulis akan menunjukan aplikasinya dalam katekese pembebasan model Shared
Christian Praxis (SCP) sebagai wujud praktis dari usaha menemukan makna
dibalik penderitaan orang benar zaman sekarang. Sebelumnya penulis akan
memaparkan panggilan dan pergulatan orang berimann dalam menghadapi
penderitaan, kemudian dilanjutkan dengan pokok-pokok gagasan berkatekese bagi
orang Kristiani yang menderita di Zaman sekarang.
Akhirnya Bab V merupakan penutup dari rangkaian penulisan skripsi ini,
penulis akan mengungkapkan kembali inti pokok dari seluruh rangkaian
pembahasan karya tulis ini, yang berisi kesimpulan dan saran yang dapat semakin
meneguhkan iman pembaca. Terutama dalam memotivasi dan memberikan
inspirasi kepada mereka, sehingga mampu menanggapi pengalaman penderitaan
yang terjadi dalam hidupnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
18
BAB II
BELAJAR DAN MENGENAL KITAB AYUB
Keistimewaan Kitab Ayub semakin jelas bila kita mendapat penjelasan lebih
lanjut mengenai Kitab tersebut. Pada bab ini, penulis mengajak kita untuk belajar
memahami Kitab Ayub seperti: identitas Kitab Ayub, struktur penulisan Kitab
Ayub, genre Kitab Ayub, gambaran singkat kisah Ayub si penderita dan maksud
penderitaan Ayub.
A. Identitas Kitab Ayub
Kita diharapkan dapat memahami identitas Kitab Ayub secara menyeluruh.
Hal ini sebagai suatu usaha untuk memudahkan kita menemukan makna di balik
penderitaan orang benar yang di kisahkan dalam kitab tersebut. Ini juga menjadi
acuan kita dalam menanggapi pengalaman penderitaan yang terjadi dalam
kehidupan umat kristiani di zaman sekarang.
1.
Asal-Usul Kitab Ayub
Konon pada abad-abad yang silam, para sarjana yakin bahwa pernah ada
sejenis cerita rakyat berjenis fabel berisi ajaran-ajaran moral yang bertujuan
memperkuat perasaan religious masyarakat. Cerita ini lebih merupakan kisah
“konon di suatu masa” tentang seorang tokoh yang menderita. Tokoh tersebut
bernama Ayub yang memiliki pribadi yang baik dan begitu sempurna (Kushner,
1987: 46).
Sepanjang sejarah kehidupan di bumi, umat manusia tak lepas dari
pergulatan dengan masalah kematian dan penderitaan. Pada hakikinya manusia
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
19
menyadari bahwa penderitaan adalah akibat dari adanya kejahatan ataupun dosa si
penderita. Namun, yang menjadi persoalannya adalah mengapa masih ada orang
yang menderita bukan karena dosanya? (Robini, 1998: 38).
Beranjak dari pertanyaan itu, maka menjadi penting bagi kita untuk
membahas Kitab Ayub. Perlu diketahui bahwa Kitab Ayub merupakan hasil dari
refleksi mengenai problem penderitaan, terutama penderitaan orang saleh yang
takut akan Allah. Dalam pembahasan kita ini, kita akan menemukan komprehensif
kitab tersebut, perihal pengalaman penderitaan orang benar yang hendak kita bahas
dalam terang iman Kristiani. (Robini, 1998: 19).
Pada abad ke-6 sebelum masehi, pada zaman Nabi Yehezkiel Ayub dikenal
sebagai tokoh yang amat saleh dan juga baik, dapat dilihat dalam Yeh 14 : 14,20
selain Nuh dan Daniel. Pada abad ke-5 dan ke-4 sebelum Masehi seorang penyair
anonim yang berbakat dan juga memiliki kemampuan intelektual yang sangat baik,
mencoba mengkritisi pandangan para ahli dan guru kebijaksanaan mengenai
hubungan mutlak antara perbuatan manusia dan nasibnya (Weiden, 1995: 104105).
Mempelajari Kitab Ayub sama halnya dengan menyingkap pengalaman
manusia, terutama dalam peristiwa penderitaan. Sepertinya si pengarang Kitab
Ayub ingin mencari jawaban atas penderitaan Ayub. Oleh sebab itu, tema
penderitaan Ayub merupakan hal yang sangat dekat dengan manusia.
2.
Pengarang Kitab Ayub
Heavenor menuliskan bahwa pengarang Kitab Ayub belum diketahui (1999:
67). Tampaknya pernyataan ini menjadi permulaan yang membuat kita pesimis
untuk mengetahui identitas lengkap pengarang kitab tersebut. Namun kita harus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
20
mengakui bahwa si pengarang adalah orang beriman yang mungkin memiliki
pengalaman yang sama dengan Ayub (tokoh dalam tulisannya).
Kushner menuliskan bahwa pengaramg kitab Ayub adalah seorang pria yang
hidup sekitar tahun 600-400 SM dan tidak ada satu tulisan sejarahpun yang
mengetahui nama pria tersebut. Sejak saat itu, pria tanpa kejelasan nama atau
identitas jelas ini telah menyuguhkan karya yang luar biasa bagi kehidupan umat
manusia (Kushner, 1987 : 45).
Banyak ahli melihat bahwa pengarang Kitab Ayub bukanlah orang Yahudi.
Hal ini dapat dilihat dari tokoh-tokoh yang berperan dalam keseluruhan kisah.
Seluruh kisah dan tokoh-tokoh dalam cerita tidak terikat pada suatu budaya
Yahudi semata-mata. Para ahli mengambil kesimpulan bahwa kitab ini bukan
ditulis seorang Yahudi. Meskipun pernyataan di atas dapat diterima bahwa kitab
tersebut banyak terdapat unsur non-Yahudi, namun kitab ini telah diterima secara
umum ditulis oleh orang Yahudi dalam bahasa Ibrani (Robini, 1998: 28).
Pengarang kitab Ayub hanya kita kenal melalui karya unggul yang
dihasilkannya. Ia pasti seorang Israel yang sering merenungkan tulisan para nabi
dan ajaran para bijaksana. Mungkin sekali ia bertempat tinggal di Palestina. Tetapi
dia pasti membuat perjalanan-perjalanan atau malahan tinggal di luar negeri,
khususnya di negeri Mesir. Kita hanya dapat menerka-nerka di zaman mana
pengarang hidup. Bagian-bagian prosa sangat serupa dengan ceritera-ceritera
mengenai para bapa bangsa. Kesamaan itu menyebabkan orang di zaman dahulu
yakin, bahwa kitab Ayub sama seperti kitab Kejadian ditulis oleh Musa. Tetapi
dugaan itu paling-paling berlaku untuk rangka kitab Ayub saja. Kitab Ayub pasti
dikarang sesudah zaman nabi Yeremia dan Yehezkiel. Sebab di dalamnya terdapat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
21
persamaan ungkapan dan gagasan dengan nabi-nabi itu. Bahasa yang dipakai kitab
sehabis masa pembuangan di Babel (Guinan, 2002: 403)
Kitab Ayub dipilih berdasarkan refleksi mengenai problem penderitaan,
terlebih hal yang menyangkut penderitaan orang benar (Robini, 1998: 18).
Pengarang Ayub merenungkan nasib orang benar yang menderita. Menurut
pendapat tentang pembalasan di bumi yang beredar di kalangan umum, nasib
semacam itu sangat absurd. Inilah yang pengarang refleksikan. Pengarang
sepertinya mempunyai kepekaan yang sangat besar terhadap penderitaan kaum
lemah miskin, tersingkir dan difabel yang ada di jamannya. Mungkin yang menjadi
pertanyaannya saat itu, mengapa orang yang sudah susah hidupnya harus semakin
menderita oleh penyakit dan akhirnya binasa, sedangkan orang congkak dengan
bebasnya menikmati hidup berkelimpahan harta dan uang? Ternyata para cendekia
dan orang yang dianggap cerdas berusaha memberikan kejelasan mengenai realitas
ini, tidak membuat hati si pengarang merasa puas (Kushner, 1987 : 45).
Dikarenakan ketidakpuasannya tersebut si pengarang yang mempunyai
kemampuan intelektual dan jiwa seni yang hebat ini akhirnya menulis sebuah sajak
filosofis yang panjang sesuai dengan pergulatan hatinya sendiri mengenai
persoalan mengapa Allah membiarkan hal-hal buruk menimpa orang-orang benar.
Sajak yang reflektif ini muncul dalam Alkitab bernama Kitab Ayub (Kushner,
1987 : 45).
Pengarang yang hidup antara abad ke-6 dan ke-4 sebelum M., bermaksud
untuk memperlihatkan kekeliruan kepercayaan tradisional, bahwa dalam dunia
inilah segala kebaikan dan kejahataan sudah mendapat ganjaran dari Allah
(Heuken, 2004: 166).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
22
3.
Waktu Penulisan
Sangat sulit menentukan kapan pastinya Kitab Ayub muncul. Beberapa ahli
menempatkannya dalam konteks pembuangan di Babel, ada juga ahli yang
mengaitkannya dengan peperangan dan kekacauan yang menimbulkan kehancuran
Yehuda dan Yerusalem sekitar tahun 587 SM. Ada yang mengatakan bahwa kitab
Ayub ditulis sekitar masa-masa Yesaya dan Yeremia hidup. Pada umumnya, buku
ini diakui telah ditulis sekitar tahun 600-400 SM. Pendapat inilah yang sering
dijadikan suatu acuan, tetapi kepastiannya tidak ada (Robini, 1998: 29).
B. Struktur Penulisan Kitab Ayub
Struktur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti cara sesuatu
disusun atau dibangun, atau berarti juga susunan atau bangunan yang dapat
memberikan petunjuk bagi kita untuk lebih dalam mempelajari keberadaan
sesuatu. Dalam hal ini penulis akan mengajak kita untuk melihat struktur kisah
dalam Kitab Ayub. Jadi pertanyaannya adalah seperti apakah struktur Kitab Ayub?
Dapat dikatakan struktur kitab adalah kerangka dari seluruh rangkaian yang
ada dalam kitab tersebut. Maka dengan melihat struktur kitab, setidaknya keutuhan
isi dapat diketahui. Mengenai struktur penulisan Kitab Ayub, Weiden menuliskan
bahwa prolog-epilog Ayub bukan suatu cerita rakyat saja, melainkan hasil karya
seorang pengarang yang melalui skematisasi itu ingin memberikan kesan “luar
biasa” kepada kisahnya. Ke-luar-biasa-an yang dimaksud adalah menunjukan
bagaimana Allah berkarya dalam diri Ayub atau peristiwa hidup manusia terutama
peristiwa penderitaan, dan ini diperlihatkan secara menyeluruh oleh Kitab Ayub
(Weiden, 1995 : 109).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
23
Secara garis besar, Kitab Ayub terbagi dalam tiga bagian utama. Bagian
pertama yakni prolog (Ayb 1-2), bagian kedua adalah bagian dialog yang
memaparkan pembicaraan antara Ayub dan teman-temannya, termasuk Ellihu.
Dapat dikatakan ini merupakan bagian puisi yang didramakan (Ayb 3-42:7).
Sedangkan bagian ketiga dari kitab ini adalah bagian epilog ( Ayb 42: 8-17) yang
berbentuk prosa sama seperti pada prolog (Robini, 1998: 23). Penulis membuat
gambarnya, sbb:
Kitab Ayub
Prolog
Dialog
Epilog
Secara lebih mendetail, untuk semakin memberi kejelasan pada pembaca,
penulis memaparkan pemikiran Marvin H. Pope dalam buku yang disusun oleh
Robini.M., dan H. J. Suhendra, di mana dia membagi Kitab Ayub dalam 5 bagian
utama, berikut gambar dan uraiannya:
Prolog
1-2
1.
Dialog
3-31
Elihu
32-37
Yahwe
38:1-42:6
Prolog
42:7-17
Prolog
Pada bagian prolog, tokoh Ayub diperkenalkan. Bisa jadi bagian ini adalah
bagian yang paling diketahui banyak orang dibandingkan dengan bagian-bagian
yang lain. Pada bagian prolog Ayub dikenal sebagai orang yang jujur, benar dan
takut akan Allah, dan ia menjauhkan diri dari segala hal yang tidak baik (Ayb 1:
10).
Kitab Ayub mengisahkan seorang yang bernama Ayub. Ia berasal dari Uz.
Ayub adalah seorang konglomerat pada zamannya, dia ayah dari tujuh anak laki-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
24
laki, dan tiga anak perempuan; angka-angka yang menggambarkan kesempurnaan
(Atkinson, 1974: 19). Ia adalah sosok orang yang setia, taat, saleh, jujur, benar,
takut akan Allah, sekaligus menjauh dari larangan Allah (Ayb 1: 1; 2: 3). Dia
sangat terkenal paling kaya diantara semua orang di sebelah timur (Ayb 1: 3).
Tiba-tiba ia dicobai iblis dengan sepengetahuan atau izin dari Allah (Ayb 1:12)
(Weiden: 199: 72). Percobaan tersebut menerpa dirinya satu demi satu. Hartanya
musnah tak berbekas, anak-anaknya diambil oleh Allah dari dirinya (Ayb 1: 1519).
a. Allah di Awal Penderitaan Ayub
Karakter Ayub pada bagian prolog adalah gambaran Ayub sebagai orang
saleh yang sabar dan bijaksana, cara hidup dan penghayatan imannya mendapat
perhatian khusus dari dewan surgawi dan Allah juga memuji kesalehan Ayub (Ayb
1: 8). Ada tiga percobaan yang dialami oleh Ayub. Percobaan pertama: Iblis yang
datang bersama-sama dengan dewan-dewan surgawi menantang iman Ayub di
hadapan Allah (Ayb 1: 9), “Apakah dia menyesali perbuatan baik yang telah dia
lakukan sebelumnya? Bagaimana motivasi Ayub menjadi hamba Allah? apakah
ada motif ingin mendapatkan timbal balik dari Allah? dan bagaimana sikap Ayub
dalam menanggapi penderitaan yang ditimpakan pada dirinya dan orang lain, bila
menurutnya kenyataan tidak sesuai dengan paradigmanya? Apakah Ayub cukup
sabar dengan penderitaan yang menimpa dirinya dan orang lain secara tidak adil?.
Percobaan kedua: atas sepengetahuan dan izin dari Allah, Iblis menimpakan
penderitaan pada Ayub dengan tujuan untuk menguji kesetiaan Ayub (Ayb 1: 12).
Kedua:
Ayub yang telah kehilangan seluruh harta dan anak-anak yang
dikasihinya, tetap menunjukan kesetiaannya kepada Allah (Ayb 1: 20). Percobaan
ketiga: iblis mempengaruhi Allah supaya memberi izin untuk mencobai Ayub
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
25
kembali (Ayb 2:5), dan Allah pun meng-iya-kan. Namun demikian, Allah masih
berbelaskasih pada Ayub, Ia tidak mengizinkan Iblis mengambil nyawa Ayub
(Ayb 2:6).
Pada bagian ini kita diajak untuk melihat bagaimana sikap Ayub dalam
menanggapi cobaan atas dirinya. Tiga bentuk cobaan di atas, sekaligus menjadi
pertanyaan untuk mengantar kita untuk melihat lebih jelas bagaimana Ayub
menghadapi penderitaan yang menimpanya.
Ayub telah membuat penilaian bahwa Allah memberikan sejahtera pada
orang jahat dan menimpakan penderitaan pada orang yang benar seperti dirinya,
yang berkeyakinan kuat tidak melakukan perbuatan yang sekiranya dapat membuat
Allah murka, menghujat Allahpun Ayub tidak pernah. Ayub tidak pernah
menyesali bahwa dia dulu adalah hamba Tuhan yang saleh dan berbelas kasih
kepada sesama terutama kaum miskin, lemah, dan tersingkir yang hidup
disekitarnya. Sehubungan dengan cobaan Ayub yang pertama, hal ini menunjukan
keberhasilan Ayub mengatasinya dengan baik (Robini, 1998: 49).
Sama halnya dengan cobaan yang kedua, Ayub juga berhasil mengatasinya.
Awalnya iblis beranggapan bahwa Ayub berbuat baik semata-mata hanya untuk
mendapatkan ganjaran yang baik dari Allah. Setan meragukan Ayub adalah hamba
Allah yang setia, karena menurutnya Ayub akan meninggalkan Allah dan
mengutuk-Nya apabila Ayub tidak diberkati dan mendapatkan kelimpahan harta
dan kebahagiaan. Dan hal itu diperjelaskan oleh doktrin ortodoks “siapa yang
berbuat baik akan diberi ganjaran dari Tuhan”. Namun dalam kisah Ayub, dia
tetaplah orang benar, jujur, takut akan Allah dan menjauhi larangan Allah. Ayub
tetap menjadi anak Allah meskipun berbagai penderitaan seperti kehilangan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
26
anaknya, harta musnah dan kesehatan memburuk, Ayub tidak pernah berpikir
untuk meninggalkan Allah (Ayb 1: 21-22).
Dalam dialog, Ayub tidak pernah berkata seperti ini: “Baiklah sebab
seseorang yang mengabdi kepada Tuhan tidak akan memperoleh apa-apa, maka
aku akan mengutuk Allah. Sekaligus tidak bersedia menjadi hamba-Nya lagi.”
Namun yang terjadi adalah sebaliknya, tetap berpegang teguh pada imannya akan
Allah (Robini, 1998: 50).
b. Peran Iblis yang Tersembunyi
Penulis akan membagi penderitaan akibat iblis menjadi dua bagian.
Pembagian ini lebih dikarenakan oleh serangan iblis terhadap diri Ayub;
maksudnya karena Ayub diserang Iblis dua kali. Dari situ kita langsung dapat
mengatakan bahwa ada dua jenis musibah yang terjadi dan akan diuraikan secara
lebih jelas dalam pembahasan berikut:
1) Musibah yang Pertama
Musibah pertama adalah musibah yang menimpa Ayub pertama kali
dikarenakan oleh serangan Iblis (Ayb 1: 13 - 19). Dalam musibah ini, Ayub
mengalami peristiwa mengerikan yang menimpa hidupnya. Peristiwa-peristiwa itu
adalah: serangan orang syeba yang merampas lembu, sapi, keledai-keledai dan
membunuh penjaganya dengan mata pedang (Ayb 1: 14 - 15); api turun dari langit
membakar habis kambing domba dan penjaga-penjaganya (Ayb 1: 16 ); serbuan
orang-orang Kasdim yang membentuk tiga pasukan terhadap unta-unta dan
merampas serta memukul penjaganya dengan mata pedang (Ayb 1: 17); dan tiupan
angin ribut dari seberang padang gurun ke rumah tempat anak-anak Ayub
berkumpul dalam pesta hingga rumah itu roboh menimpa mereka (Ayb 1: 18 - 19).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
27
Bila kita perhatikan, peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas, tidak secara
langsung menimpa diri Ayub secara pribadi. Dalam serangan ini Ayub hanya
mendengar berita dari para penjaga atau pembantunya saja. Dengan demikian
penderitaan Ayub akibat serangan Iblis ini menimpa Ayub tidak secara langsung.
Maksudnya, derita itu tidak terkena langsung pada diri Ayub namun tetap saja ia
merasa sedih karena mendengar berita tersebut.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas berlangsung secara berturut-turut.
Tidak ada jeda waktu di antara peristiwa yang satu dan yang lain. Hal ini
dinyatakan dengan ungkapan penjaga atau pembantunya. Seperti yang dituliskan
di sana: “Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata:…”,
yang diulang tiga kali (Ayb 1: 16-18). Dengan demikian menjadi jelas bahwa
peristiwa itu terjadi sangat singkat. Peristiwa ini menggambarkan bagaimana Ayub
seakan-akan tidak sempat menarik nafas sebelum peristiwa baru didengarkannya.
Musibah pertama oleh serangan Iblis ini sangat dahsyat; dalam waktu yang
singkat Iblis berhasil menghancurkan seluruh harta dan anak-anak yang
dikasihinya. Mengenai hal ini, Weiden mengatakannya sebagai kemalangan yang
tidak memberikan waktu untuk refleksi” (1995: 110). Dengan waktu singkat
seperti itu, dapat dibayangkan bagaimana Ayub diam terpaku memandang kosong.
Dia tidak menyangka bahwa peristiwa tragis tersebut menimpa keluarganya
dengan waktu yang singkat tanpa jeda sedikitpun. Mungkin saja hal tersebut dapat
dihubungkan dengan reaksi spontan Ayub yang mengoyak pakaiannya dan
mencukur kepalanya, dst (Ayb. 1 : 20).
Dari seluruh peristiwa mengerikan karena serangan Iblis, Ayub mampu
bertahan pada keyakinannya akan kuasa Allah. Hal ini terlihat dalam ungkapan
berikut: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
28
pula aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang
mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayb 1: 21). Itu artinya Ayub tetap berpasrah
diri terhadap Allah. Seperti yang dituliskan dalam Ayub 1: 22: “Dalam
kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang
kurang patut”. Penulis melihat bahwa dalam penderitaan tersebut Ayub tetap setia
kepada Dia [Allah].
2) Musibah Kedua
Musibah yang kedua adalah musibah yang terjadi pada Ayub karena
serangan kedua dari Iblis. Musibah yang kedua ini secara langsung menimpa diri
Ayub yaitu serangan terhadap fisiknya. Di sana dituliskan bahwa setelah Iblis
pergi dari hadapan Tuhan Allah, maka dia menimpakan barah yang busuk dari
telapak kaki Ayub hingga batu kepalanya (Ayb 2: 7). Sejak saat itu, setelah
digaruknya dengan sekeping beling, Ayub mengalami penderitaan secara fisik
(Ayb. 2: 8).
Penderitaan fisik tersebut menyebabkan Ayub tidak dikenal lagi oleh para
sahabatnya karena penderitaan fisik Ayub sangat mengerikan dan mengubah
bentuk fisik dirinya (Ayb. 2: 12). Penderitaan fisik ini merupakan awal dari
penderitaan yang secara langsung berhubungan dengan diri Ayub sendiri. Lengkap
sudah penderitaan Ayub. Penderitaan tidak hanya menyerang harta dan
keluarganya, namun penderitaan akibat serangan Iblis tersebut telah melekat pada
dirinya. Sejak awal memang Ayub sasaran utama serangan dari Iblis, dan itu atas
sepengetahuan dan izin Allah.
Akibat serangan-serangan iblis itu, Ayub mengalami kesedihan karena
kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya. Inilah penderitaan jiwa Ayub yang
teramat dalam. Serangan iblis tidak hanya menyerang harta dan anak-anak yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
29
dikasihinya , tetapi juga melukai diri Ayub. Penderitaan semakin melekat pada diri
Ayub.
2.
Dialog
Bagian dialog merupakan bagian terbesar dari Kitab Ayub, dan bagian ini
dapat terbagi menjadi tiga bagian lagi. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Wilcox.
Perlu kita ketahui bahwa dialog yang dimaksud dalam kitab ini mempunyai
pengertian yang berbeda dari yang kita pahami saat ini. Pada kitab ini, yang
dimaksud “dialog” tidak terdapat proses saling menanggapi satu sama lain.
Maksudnya, setelah seorang berbicara tidak ada lagi yang memberi tanggapan,
namun setelah seseorang berbicara maka yang lainnya serta merta beralih pada
pembicaraan lain. Sepaham dengan Wilcox, Robini (1998: 24) membagi bagian
dialog menjadi tiga lingkaran.
a. Lingkaran Pertama
Lingkaran pertama terdiri dari Ayb 3-14. Pada bab ini ingin diperlihatkan
bagaimana bagian puisi dari kitab ini memiliki karakteristik dan bentuk “Mazmur”
yang berisi tentang pujian yang diiringi oleh keluh kesah. Dialog dimulai pada bab
3 yaitu pada saat Ayub mulai meratapi hari kelahirannya (Ayb 3: 1-16). Ayb 3: 2026 Pada bagian puisi ini Ayub mulai meratapi nasibnya sehingga ia merasa bahwa
Allah tidak adil kepadanya (Robini, 1998: 25).
Berikut dinamika argumentasi Ayub melawan sahabt-sahabatnya:
•
Ayb 3
•
Ayb 4-5
keluh kesah Ayub, dia menyesali hari kelahirannya.
Elifas memberanikan diri berbicara untuk menanggapi ratapan
Ayub. Elifas berusaha menguatkan Ayub, menyarankan Ayub
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
30
supaya lebih berpengharapan (4:6). Bukankah orang tidak
bersalah dan jujur dilindungi oleh Allah? (4:7). Elifas memberi
penghiburan pada Ayub sesuai dengan keyakinannya, bahwa
pada akhirnya orang yang tidak bersalah, tidak akan binasa.
Maksud Elifas yakni kita akan menuai apa yang kita tabur (4: 79). Pada bagian ini, Elifas mengingatkan Ayub, ia hidup di dunia
yang diatur secara moral, sehingga kesalehan akan mendapatkan
upah yang baik “pemikiran tradisional: prinsip pembalasan di
Bumi” (Atkinson, 2002: 53).
Pada bab 5, Elifas menyarankan Ayub supaya berhenti mengeluh
karena penderitaan yang dihadapinya, dan ia harus mengaku
bersalah kepada Allah yang transenden. Elifas tidak terbuka pada
kemungkinan lain yang terjadi pada masalah Ayub. Elifas terlalu
berpegang pada keyakinan tentang pemahaman tradisional
mengenai prinsip pembalasan di bumi (Atkinson., 2002: 57).
•
Ayb 6
Ayub kecewa pada sahabat-sahabatnya, menurut Ayub mereka
terlalu skeptis dalam menanggapi kasus penderitaan yang
menimpa dirinya.
•
Ayb 7
hidup itu berat. Pada bagian ini, Ayub meratapi nasibnya yang
malang, begitu berat dan mengerikan untuk disadari. Ratapan
Ayub seolah mengarah langsung pada Allah, dan berharap Allah
akan mendengarkan dan menjawab ratapan yang keluar dari
mulutnya.
•
Ayb 8
Bildad membela keadilan hukuman Allah. Bildad adalah model
teolog yang berpegang pada masa lalu. Bildad memulai
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
31
pembicaraannya dengan nada kesal: “Berapa lamakah lagi
engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti
angin yang menderu?” (8:2). Bildad seperti mempunyai
argumentasi bahwa anak-anak Ayub meninggal karena kesalahan
mereka sendiri (8:4). Jika Elifas memuliakan ke-Mahakudusan
Allah. Maka bildad lebih menekankan kekuatan dan keadilan
Allah (lih Ayb 8:3), disitu Bildad seperti bertanya tetapi ingin
menegaskan keyakinannya.
•
Ayb 9
Jawab Ayub: tidak seorangpun dapat bertahan di hadapan Allah.
Pada bagian ini Ayub mau mengakui bahwa Allah mempunyai
kuasa penuh atas dunia dan seisinya, termasuk penderitaan yang
menimpa dirinya. Meski Ayub sangat menyadari bahwa dirinya
tidak bersalah, dan menurutnya tidak ada alasan yang tepat jika
Allah menimpakan penderitaan pada dirinya. Tetapi Ayub
mengakui, betapa kuat Allah dibanding dirinya yang tidak
berdaya karena tertimpa penderitaan, Ayub hanya bias pasrah
kendati hatinya bergumul akan keadilan Allah (9: 19-20).
•
Ayb 10
Apakah maksud Allah dengan penderitaan? Ayub menyatakan
bahwa dirinya tidak mengerti dengan maksud Allah membiarkan
penderitaan terjadi pada dirinya. Padahal dia tidak pernah
melakukan kesalahan yang membuat Allah murka. Tetapi
mengapa penderitaan itu harus dialaminya? (Robini, 1998: 25,
43).
•
Ayb 11
Anjuran Zofar supaya Ayub merendahkan diri di hadapan Allah.
Pada bagian ini menunjukan bagaimana Zofar memuliakan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
32
hikmat Allah. Zofar sangat marah karena Ayub belum berhenti
mengeluh, dan menurut Zofar Ayub terlalu banyak bicara (11: 23). Zofar mengandalkan hikmat Allah yang tidak terselami.
Zofar yakin bahwa di dunia ini terdapat banyak hal yang tidak
kita pahami. Namun Allah tetap adil. Allah menghukum yang
jahat dan memberikan ganjaran bagi yang berbuat baik. Zofar
menyarankan supaya Ayub bertobat dan mengaku salah.
Bagaimana mungkin Ayub mengaku salah jika dirinya sungguh
benar atau tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Zofar memang
mempunyai jalan pikir yang sama dengan kedua sahabat Ayub
lainnya yakni Bildad dan Elifas. Mereka sama-sama berpegang
pada penadangan tradisional (Atkinson, 2002: 74).
•
Ayb 12
Ayub mengakui kekuasaan dan hikmat Allah, tetapi Ayub tidak
merasa bersalah. Ayub tetap bersikeras berpegang teguh pada
keyakinan bahwa dirinya benar.
•
Ayb 13
Ayub membela perkaranya di hadapan Allah. Ayub menuntut
keadilan Allah (13:15). Ayub jujur mengatakan bahwa dia benar
(13:18)
•
Ayb 14
setelah mati tidak ada harapan lagi
Pada bagian puisi Ayub menunjukkan karakter yang jauh berbeda dari
sebelumnya yakni pada bagian prosa (Ayb 1-2). Pada bagian puisi, Ayub menjadi
pemarah.
Dalam kemarahan jiwanya yang mendalam, Ayub menyatakan
kebenarannya. Bagian puisi dalam Kitab Ayub merupakan perjuangan hebat
pengarang untuk menggali makna sesungguhnya dari hidup manusia, khususnya
ketika dilanda penderitaan dan ketidakadilan, apalagi tanpa alasan yang jelas.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
33
Dalam
keadaan
kecewa, Ayub
memberontak
kepada
Allah.
Ia
mulai
mempertanyakan keadilan Allah. Ia berseru: “Di mana keadilan Allah?” Diri Ayub
merasa saleh dan benar, tidaklah pantas untuk menderita. Ayub berkeluh kesah
dan mengutuk hari kelahirannya (Ayb 3).
Melihat kondisi Ayub yang menderita, Elifas teman Ayub berbicara seakan
penderitaan yang diterima Ayub adalah karena perbuatan dosa (Ayb 4: 8). Temanteman Ayub bersikap skeptis, mereka masih percaya pada pendapat tradisional
tentang adanya pembalasan di bumi: “Allah akan memberi ganjaran pada orang
yang saleh dengan kebahagiaan, melindungi orang yang lemah, dan hukuman
kepada orang jahat” (Robini, 1998: 51). Ayub merasa dirinya orang benar, tiddak
pantas menderita, dan ia tidak terima mendapat tuduhan telah melakukan
kesalahan yang membuat Allah murka.
b. Lingkaran Kedua
Lingkaran kedua terdiri atas bab 15-21. Bagian ini memuat struktur yang
sama dengan lingkaran pertama, yaitu Ayub berbicara dan kemudian ditanggapi
oleh sahabat-sahabatnya (Robini: 1998: 25).
Ayb 15
Pendapat Elifas bahwa orang fasik akan binasa
Ayb 16-17
Ayub mengeluh tentang perlakuan Allah
Ayb 18
pendapat Bildad, bahwa orang fasik pasti akan binasa
Ayb 19
Keyakinan Ayub, bahwa Allah tetap akan memihak kepadanya
Ayb 20
Pendapat Zofar, bahwa sesudah kemujuran sebentar, orang fasik
akan binasa
Ayb 21
Pendapat Ayub, kemujuran orang fasik, kelihatannya tahan lama
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
34
c. Lingkaran Ketiga
Lingkaran ketiga dimulai dari Ayub 22-31. Pada lingkaran ketiga ini ada
sedikit kejanggalan. Zofar tidak berbicara dan Ayub menginterupsi pembicaraan
tanpa memberi kesempatan pada Zofar untuk menyampaikan argumentasinya.
Pada lingkaran ini, bagian dialog yang seharusnya diisi oleh zofar dan diakhiri
dengan sebuah himne tentang kebijaksanaan Allah justru dilihat oleh para ahli
tafsir tidak sesuai, karena hal ini berhubungan dengan konteks makro dari kisah,
apabila diletakkan pada mulut Ayub (Robini, 1998: 25).
Ayub berharap kedatangan sahabat-sahabatnya dapat memberi penghiburan
bagi dirinya namun ternyata para sahabatnya justru membuatnya semakin
menderita. Bagi mereka, penderitaan yang dialami Ayub merupakan akibat
kesalahan yang diperbuatnya sendiri (Robini, 1998:25).
3.
Ellihu Masuk Dalam Pembicaraan
Ellihu adalah seorang pemuda yang hadir selama dialog berlangsung, namun
dia berdiam diri karena ingin menghormati orang-orang yang lebih tua. Dengan
bahasa yang cukup angguh dan sombong Ia mencoba menanggapi beberapa
argumen yang telah muncul dalam dialog anatara Ayub dan ketiga sahabatnya.
Kedatangan Elihu adalah untuk memperkuat pernyataan sahabat-sahabat Ayub
bahwa Allah sangat adil terhadap Ayub, dan ini sekaligus ingin mempertahankan
pendapat tradisional mengenai derita sebagai hukuman (Weiden, 1995: 103).
Sangat disadari adanya kejanggalan yang ditemukan pada bagian ini. Pada
akhir pembicaraan kita tidak menemukan bagaimana dan dari mana Elihu berasal
(Robini, 199: 26). Dengan sengsara Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan
penindasan Ia membuka telinga mereka (Ayb 36: 15).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
35
4.
Ayub Ingin Allah Bicara Dan Jawaban Dari Allah
Pada Ayb 38, harapan Ayub supaya Allah mau berbicara dengannya akan
dikabulkan. Namun, Allah tidak mempertanggungjawabkan nasib Ayub. tetapi
Allah hanya memberikan kesempatan kepada Ayub untuk menemukan kesadaran
baru dan amat penting: manusia dalam kekecilan dan keterbatasannya tidak bisa
menilai, apalagi menghakimi Allah dan tindakannya (Weiden, 1995: 103).
a. Ayub ingin Allah Bicara Padanya
Ayub menolak untuk menyerah kepada ketidakadilan. Artinya dia sangat
menuntut keadilan dari Allah. Karena selama ini dia menginterprestasikan bahwa
Allah akan membalas kebaikan seseorang dan memberikan hukuman kepada orang
jahat.
Teman-teman Ayub memiliki keyakinan bahwa tidak ada orang yang 100%
benar dihadapan Allah, sedangkan Ayub yakin bahwa dirinya secara keseluruhan
adalah benar dihadapan Allah. Teman-teman Ayub terlalu skeptic dalam
menanggapi keyakinan Ayub. Mereka sudah terlalu yakin pada pandangan
tradisonal, bahwa penderitaan adalah akibat dari dosa. Bagi mereka, orang yang
menderita adalah karena kesalahan mereka sendiri. Namun Ayub tetap bersikeras
mengatakan bahwa dirinya tidak pantas menderita karena dia tidak pernah
melakukan perbuatan yang tidak dikehendaki Allah (Robini, 1998: 19).
Keyakinan Ayub mengenai kesalehannya mendorong dia untuk berusaha
supaya ia dapat berbicara dengan Allah “yang tidak memberi keadilan”
kepadadanya. Ayub memiliki keyakinan bahwa dalam suatu pembicaraan yang
jujur dan terbuka perselisihannya dengan Allah bias diselesaikan, sama seperti
suatu perkara antarmanusia seringkali bias diselesaikan secara damai. Namun,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
36
Allah tidak memberikan kesempatan kepada Ayub, mungkin saja Allah puynya
cara sendiri untuk menjawab pertanyaan Ayub dan sulit untuk ditangkap atau
dipahami oleh manusia yang terbatas seperti Ayub.
b. Teofani: Jawaban Allah
Menurut Wilcox, keistimewaan Kitab Ayub terletak pada kehebatannya
dalam memperlihatkan sosok manusiawi dari tokoh yang bernama Ayub. Ini
menunjukan sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan dirinya menghadapi
penderitaan sehingga akhirnya Ayub memberontak pada Allah, dan dengan suara
lantang dia berani menantang Allah supaya dapat berbicara langsung dengan
dirinya dengan maksud supaya Allah dapat menunjukan letak kesalahan yang
menyebabkan dia pantas untuk menderita. Jawaban atas harapan Ayub dan juga
kita, dapat ditemukan pada bagian teofani ini. Teofani merupakan jawaban dari
Allah yang bertujuan untuk meredam kekecewaan dan kemarahan Ayub (Robini,
1998: 71).
Perlu ditegaskan kembali bahwa Allah tidak mempertanggungjawabkan
nasib Ayub, Ia hanya memberi kesempatan pada Ayub untuk mencapai suatu
kesadaran baru dan amat penting: manusia sebagai makhluk yang terbatas, dan
bergantung pada Allah, manusia tidak dapat menilai Allah, menghakimi Allah dan
tindakan-Nya. Manusia harus dapat sampai pada pemahaman bahwa dalam seluruh
karya-Nya adalah misteri yang sulit dimengerti oleh manusia yang terbatas
(Weiden, 1995: 103). Dalam misteri besar yakni Allah, ada tempat bagi misteri
kecil yakni derita Ayub, nasib yang berat, namun bukan tanpa permusuhan dengan
Allah ( Ayb 38: 1 - 42: 6).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
37
Sesungguhnya Allah ingin menyadarkan Ayub untuk bersikap rendah hati,
supaya dia mampu menerima penderitaannya dengan penuh kesabaran. Namun
kembali lagi pada pengertian ‘manusia sebagai makhluk yang terbatas’, sehingga
sulit untuk memahami maksud Allah. Allah menggunakan dua cara dalam
menjawab harapan Ayub
1) Jawaban Allah yang Pertama
“Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan
yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan
menanyai engkau, supaya memberitahukan Aku” (Ayb 38: 2-4).
“Di manakah engkau pada saat aku memberi dasar pada bumi? Katakanlah
jika engkau tahu. Siapakah yang telah menetapkan ukuannya, apakah engkau
tahu?...” (Ayb 38: 4-6)
Allah berkata kepada Ayub, “Apakah engkau pernah turun ke sumber laut
atau berjalan-jalan di dasar samodra raya? Apakah pintu maut tersingkap
bagimu, atau pernahkah engkau melihat pintu gelap pekat? (Ayb 38: 16-17)
Apakah engkau pernah masuk sampai perbendaharaan salju, atau melihat
perbendaharaan salju batu? Di manakah jalan ke tempat terang terpancar, ke
tempat angin timur bertebaran di atas bumi?”(Ayb 38: 22-24).
“Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka
beenggu Bintang Belatik?”Dapatkah engkau menerbitkan Bintang pada
waktunya, dan membimbing Bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya”
(Ayb 38: 31-32).
“Dapatkah engkau menyaringkan suaramu sampai keawan-awan, sehingga
banjir meliputi engkau, dapatkah engkau melepaskan kilat sehingga sambung
menyambung, sambil berkata kepadamu ‘Ya’ “ (Ayb 38: 34-36).
“Dapatkah engkau memburu mangsa untuk singa betina, dan memuaskan
selera-selera singa muda, kalau mereka merangkak keluar dari sarangnya,
mengendap di semak belukar? Siapakah yang menyediakan mangsa bagi
burung gagak, apabila anak-anaknya berkaok-kaok kepada Allah,
berkeliaraan karena tidak ada makanan?” (Ayb 38: 39-41).
“Apakah lembu hutan berkeinginan takluk padamu, maukah ia tidur semalam
dekat palunganmu? Dapatkah engkau memaksa lembu hutan agar mengikuti
engkau, alur bajak, dan keluan, atau apakah ia akan menyisir tanah lembah
mengikuti engkau?”...(Ayb 39: 12-13).
“Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah
sebabnya, tanpa pengertian aku telah berbicara hal-hal yang terlalu ajaib dan
besar bagiku yang tidak ku ketahui” (Ayb 42: 3).
Jawaban pertama ini mau menunjukan betapa kecilnya Ayub dihadapan
Allah. Allah menjelaskan kepada Ayub tentang realitas ciptaan yang ada di dunia
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
38
ini, sehingga dia menjadi sadar bahwa manusia adalah bagian kecil dari
keseluruhan jagat raya. Oleh karena itulah, Ayub tidak mempunyai pengetahuan
yang cukup tentang kosmos, apalagi menguasainya.alangkah baiknya Ayub tidak
banyak bicara mengenai penderitaannya, dan tidak memprotes pada Allah
mengenai apa yang dia alami (Robini, 1998: 26).
Dalam bagian teofani Ayub 38:1-42:6 kita dapat menangkap salah satu
pemecahan yang dapat dicapai perihal penderitaan yang disusulkan dalam Kitab
Ayub. Allah akan mengantarkan Ayub untuk memahami betapa besar dan
dalamnya misteri penderitaan manusia. Satu-satunya jalan adalah menyerah pada
kebaikan Yahwe dan kepada kebijaksanaan-Nya dalam dunia yang diciptakan-nya
(Robini, 1998: 18-20).
2) Jawaban Allah yang Kedua
Pada jawaban yang kedua, dibicarakan mengenai binatang yang menyerupai
Lewiatan dan Behemot. Bagian ini mau menekankan suatu makna bahwa Ayub
lebih kecil dibandingkan kedua binatang itu, sehingga Ayub sungguh harus
menyadari keterbatasannya dihadapan Allah. Di dalam teofani, Allah sama sekali
tidak membahas permasalahan yang diperdebatkan oleh Ayub dan sahabatsahabatnya. Namun, akhirnya Ayub mengakui ketidakmampuannya dan bertobat
di hadapan Allah berhubungan dengan kekecilan dan keterbatasannya dalam
memahami maksud Allah yang terlalu agung untuk dimengerti, sehingga akhirnya
Allah memulihkan keadaan Ayub seperti sediakala (Robini, 1998: 26).
Sikap rendah hati Ayub ditampilkan. Dia yang takut akan Allah berkata:
“Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab, apakah yang dapat kuberikan kepadaMu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, dan tidak akan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
39
kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan”(Ayb 39: 37- 38). Sikap
tobat ini Ayub tunjukan setelah dia mengalami pencerahan baru, yakni setelah
Tuhan Allah sendiri dua kali menampakkan diri-Nya dalam teofani. Di sini Ayub
menyadari eksistensi dirinya sebagai yang hina di hadapan Allah. Dengan
demikian, dia pun merasa pantas untuk menarik kembali tuduhannya dan segala
kata-katanya. Sikap Ayub itulah yang penulis anggap sebagai sikap pertobatan
Ayub. Ayub kembali pada kesadarannya yang dulu, yakni takut akan Allah
Dalam Ayb 42: 1-6 Ayub menunjukan sikap pertobatannya, yakni sebagai
seorang beriman yang percaya kepada Tuhan Allah. Ayub akhirnya tahu dan
percaya bahwa Tuhan Allah sanggup melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya,
dan itu takkan gagal. Keyakinan Ayub didapatnya bukan semata-mata dari orang
lain, tetapi dia sendiri mendapatkannya sendiri langsung dari Allah lewat teofani.
5.
Epilog
Sepanjang 11 ayat sampai kitab berakhir, muncul kembali bagian prosa yang
menceritakan pemulihan nasib Ayub setelah penderitaan yang dialaminya. Pada
bagian ini diceritakan bagaimana Ayub memperoleh kembali keluarga yang sama
besarnya dengan dahulu, serta dilimpahkannya kepada Ayub harta dua kali lipat.
Akhirnya, Ayub meninggal dunia setelah melihat anak cucunya sampai pada
keturunan yang ke-empat ( Weiden, 1995: 103). Allah mengembalikan segala
milik Ayub, bahkan diberi-Nya lebih daripada apa yang dimilikinya sebelumnya
(lih. Ayb 42: 7-17).
C. Gaya Penulisan Kitab Ayub
Dengan kekhususan gaya penulisan suatu karya, maka tentunya ada unsur
pembeda dengan gaya penulisan karya tulis lain. Dalam konteks ini kita sedang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
40
membicarakan penulisan Kitab Ayub. Pertanyaannya: seperti apa gaya penulisan
yang dipakai dalam penulisan Kitab Ayub? Jika Kitab tersebut adalah istimewa,
adakah perbedaan dengan tulisan-tulisan lain, terutama dari gaya penulisannya?
Berbicara mengenai gaya penulisan, khususnya yang akan menegaskan
genre dari tulisan tersebut, kita akan berhadapan dengan beberapa jenis karya tulis.
Ada yang berupa prosa, dan puisi. Oleh karena itu, di sini akan ditunjukan
perbedaan-perbedaan di antara keduanya.
Dalam Ensiklopedi Indonesia Vol 5 dituliskan perbedaan antara prosa dan
puisi. Prosa adalah bentuk karangan sastra dengan bahasa yang biasa, bukan
[bahasa] puisi; terdiri dari kalimat-kalimat yang jelasa runtunan pemikirannya,
biasanya ditulis satu kalimat setelah yang lain, dalam kelompok-kelompok kalimat
yang berupa alinea. Pada dasarnya prosa ini lebih bersandar pada susunan
penalaran daripada kepada asosiasi imajinasi. Karangan-karangan yang tergolong
prosa adalah semua bentuk karangan ilmiah, laporan-laporan dan dalam karya
sastra, seperti novel, cerpen, essai dll. Selain itu juga karya bahasan, seperti essai,
kritik (Ensiklopedi Indonesia, 1984: 2780).
Sedangkan yang dimaksud dengan puisi adalah karangan yang mempunyai
bentuk khas, misalnya ditulis dalam bait-bait, tiap bait ditulis atau terdiri dari baris
atau lirik, yang memiliki rima dan sajak. Keterangan inilah yang membedakan
puisi dengan prosa. Meskipun demikian, perbedaan seperti itu kini kurang
memuaskan. Satu hal yang jelas dalam berpuisi adalah si pengarang lebih
berbicara dengan metafora, memacu daya imaji-imaji pembaca, dan lebih berusaha
menciptakan suasana daripada melukiskan situasi secara terang-terangan. Hal-hal
tersebut terdapat juga dalam prosa, tetapi tingkat intensitasnya pada puisi lebih
tinggi (Ensiklopedi Indonesia, 1984: 2792-2793).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
41
Demikianlah perbedaan antara prosa dan puisi. Sekarang, apakah genre
Kitab Ayub termasuk prosa atau puisi? Berikut kita akan melihat bagaimana
sistematika penulisan Kitab Ayub: bagian prosa dan bagian puisinya.
1.
Sistematika Penulisan Kitab Ayub: Bagian Prosa
Bagian prosa Kitab Ayub, terdapat pada bagian prolog dan epilog, dan dapat
dikatakan bahwa ini merupakan “bingkai” dari kitab tersebut. Sementara bagian
yang terbesar dari kitab tersebut adalah terdiri dari tiga rangkaian berupa dialog
antara Ayub dan tokoh-tokoh lainnya adalah berupa syair/puisi (Heavenor, 1999:
68).
Dr. Wim Van Der Weiden, MSF di dalam buku yang berjudul Seni Hidup
Sastra Kebijaksanaan Perjanjian Lama menuliskan bahwa dalam keadaan
sekarang bagian prosa terdiri atas sejumlah adegan yang pendek sebagai berikut :
a. Ayub diperkenalkan
(1:1-5)
b. Dialog pertama Yahwe-Iblis
(1:6-12)
c. Kemalangan pertama
(1:13-22)
d. Dialog kedua Yahwe-Iblis
(2:1-7a)
e. Kemalangan terakhir
(2:7b-10)
f. Kunjungan ketiga teman
(2:11-13)
g. Dialog Yahwe-Elifas
(42:7-10)
h. Keadaan Ayub dipulihkan
(42:11-17)
Garis ganda di atas dimaksudkan sebagai garis pemisah, di mana pengarang
menyisipkan bagian puisi dalam prosanya (Ayb 3: 1-42:6). Bagian puisi ini
menunjukan keterlibatan Elihu dalam pembicaraan (32-37), dan Teofani (38-42:
6). Dengan memperhatikan struktur prosa ini, kita dapat menunjukan beberapa hal:
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
42
bahwa kemalangan Ayub terjadi dalam prolog, dan kemalangan itu "dipulihkan”
dalam epilog. Maka dapat dikatakan bahwa kisah itu berakhir dengan bahagia
(Weiden, 1995: 107).
Di atas penulis sudah memperlihatkan bagaimana Weiden menunjukan
bahwa skematisasi prolog-epilog memiliki unsur ‘luar biasa’, hingga Weiden
memberi penegasan “Kitab Ayub bukan cerita rakyat”. Di sini penulis mengutip
skema-skema yang diuraikan Weiden dalan bukunya Seni Hidup. Berikut skema
tersebut:
1) Skema harta-milik Ayub:
7+3
putra dan putri
(1:2)
7+3
ribu kambing domba dan unta
(1:3)
5+5
ratus pasang lembu dan keledai
(1:3)
7+7
hari dan malam
(2:13)
7+7
lembu jantan dan domba jantan
(42:8)
7+3
putra dan putrid
(42:13)
2x7 + 2x3
ribu kambing, domba dan unta
(42:12)
2x5 + 2x5
ratus pasang lembu dan keledai
(42:12)
2) Skema percobaan: disebabkan orang-disebabkan alam:
 Orang syeba (Ayb 1: 15)-api Allah (halilintar) (Ayb 1: 16)
 Orang Kasdim (Ayb 1: 17)-angin rebut (Ayb 1: 19).
3) Dua adegan yang identik di surga
4) Refrain yang sama:
dan
berkata…hanya
“Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain
aku
sendiri
yang
luput,
memberitahukan hal itu kepada tuan” (Ayb 1: 16-18).
sehingga
dapat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
43
Dengan melihat dan memperhatikan struktur prosa di atas, kita semakin
dimudahkan dalam mempelajari kisah Ayub dengan alur yang menyeluruh dan
teratur ini. Di sini alur kisah dapat menunjukan integritas kitab itu sendiri (Van
Der Weiden, 1995: 109).
2.
Sistematika Penulisan Kitab Ayub: Bagian Puisi
Thomas Carlyle menyebut Kitab Ayub sebagai “puisi” yang paling indah di
segala bangsa dan segala bahasa; pernyataan paling tua yang mengungkapkan
masalah yang tidak pernah berakhir, yakni mengenai hidup manusia dan kehendak
Tuhan Allah atas dunia ini (seperti dikutip oleh Kushner, 1988: 38). Ke-puisi-an
ini adalah salah satu ciri khas dari Kitab Ayub tersebut.
Berhubungan dengan syair atau puisi, Heavenor menuliskan bahwa
Oesterley dan Robinson berpendapat demikian dikatakannya:
Dalam keseluruhan kepustakaan tidak ada syair yang penanggalan dan latar
belakang historisnya mempunyai makna yang kurang penting dari Ayub
[baca: Kitab Ayub]…Ayub merupakan syair yang universal, dan inilah salah
satu dari cirinya yang memberikan nilai dan daya pikatnya bagi kita dewasa
ini (Heavenor, 1999: 67).
Maksudnya, dengan memahami kitab ini sebagai kitab puisi atau syair, yang mana
syair memiliki nilai universal berlaku untuk setiap masa bahkan setiap orang,
maka barangkali tepatlah bila penanggalan kitab ini tidak terlalu dipentingkan.
Namun, mungkin saja yang dipentingkan adalah nilai atau makna yang terkandung
di dalamnya, dan bukan semata-mata nilai historisnya, karena memang Kitab
Ayub bukan buku atau kitab sejarah. Karena Kitab Ayub terdapat unsure puisi,
sesuai dengan pengertiannya di atas, kitab ini lebih berbicara metafora,
memberikan imaji-imaji yang sugestif, merangsang asosiasi-asosiasi dan lebih
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
44
berusaha menghadirkan suasana daripada melukiskan situasi, berbeda dengan
tulisan sejarah yang cenderung mengangkat fakta historis atau situasi.
Bagian puisi Kitab Ayub di mulai dari Ayb 3: 1-42: 6. Bagian puisi adalah
bagian yang indah dalam Kitab Ayub. Susunan dapat digambarkan secara
sistematis sbb:
Prolog
1-2
Monolog
3
Dialog
4-27
Monolog
29-31
Yahwe
38:1- 42:6
Epilog
42: 7-17
Elihu
32-37
Madah
28
Keterangan :
 Ayb 3 adalah monolog pertama dari Ayub perihal keluh kesahnya
 Ayb 4-27 adalah dialog panjang yang terdiri dari tiga deretan pidato dari
Ayub dan sahabat-sahabatnya
 Setelah dialog, kembali lagi pada monolog panjang dari Ayub (Ayb 29-31)
 Ayb 38:1-42:6 berisi pidato Yahwe dan jawaban Ayub yang berhubungan
langsung dengan monolog yang kedua (Ayb 29-31), berakhir dengan suatu
ajakan kepada Yahwe (Ayb 31:35-37).
 Pada bagian Ayb 31 dan Ayb 38 diselipkan beberapa pidato dari Elihu.
Melalui sisipan yang besar ini kelompok guru kebijaksanaan mencoba
menangkis/ mengelak dari pengaruh negative “kemenangan” kritik Ayub
atas pendapat ketiga sahabatnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
45
 Ayb 28 merupakan madah kebijaksanaan. Ini juga merupakan tambahan,
namun sulit dipastikan apakah madah itu disisipkan oleh penyair sendiri,
atau oleh orang lain.
 Dua kotak dengan garis putus-putus adalah bagian dari prosa (prolog dan
epilog).
Ayub memiliki unsur puisi lebih banyak daripada unsur prosa yang terdapat
di dalamnya. Sebagaimana Heavenor mengatakan bahwa kitab itu meliputi
syair/puisi serta prosa. Namun tentang prosa tersebut lebih terdapat pada prolog
dan epilog, yang merupakan “bingkai” dari kitab itu. Sementara bagian yang
terbesar yang terdiri dari tiga rangkaian berupa dialog antara Ayub dan tokohtokoh lainnya adalah berupa syair/puisi (Heavenor, 1999: 68).
Menurut penulis, dengan membaca kitab ini pembaca dapat masuk ke dalam
isinya, sehingga dapat merasakan bagaimana kita ada di dalam cerita tersebut.
Akhirnya kita benar-benar menghayati suasana yang terjadi dalam kisah Kitab
Ayub, dan ini mendorong kita untuk menemukan gagasan-gagasan baru mengenai
kitab tersebut.
D. Sikap Ayub Ketika Menghadapi Penderitaan
Mendengar kata penderitaan, sebagai orang awam kita berpikir betapa
buruknya hal itu. Penderitaan identik dengan sebab-akibat sesuatu terjadi pasti ada
dasarnya. Biasanya penderitaan yang terjadi pada seseorang disangkutpautkan
dengan kesalahan yang dilakukan terutama perbuatan yang melanggar kehendak
Allah seperti mencuri, berzinah, sombong, atau menindas orang lain.
Namun di sini, kita sedang membahas penderitaan manusia yang terjadi
bukan karena perbuatan dosa atau tindakan kriminalisasi. Penulis mengajak
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
46
pembaca melihat bagaimana penderitaan tidak selalu terjadi karena dosa. Pada
bagian ini kita akan melihat bagaimana penderitaan-penderitaan dapat terjadi pada
orang saleh. Di sini letak problema penderitaan manusia. Ketika Allah dipahami
sebagai Allah yang berbelaskasih, Mahaadil, dan Mahakuasa, pada kenyataannya
ada orang baik, tidak pernah berbuat dosa malah dibiarkan menderita. Apakah itu
adil? Keadilan Allah dipertanyakan dan kuasa Allah mulai diragukan. Benarkah
Allah itu Mahaadil dan berbelaskasih? Pada bagian ini, kita akan diajak untuk
melihat bagaimana orang saleh yakni Ayub dapat menderita, dan bagaimana dia
sebagai orang yang saleh dan beriman pada Allah menyikapi penderitaan yang
dialaminya.
1.
Ayub dan Penderitaannya
Penderitaan ini terjadi karena adanya perjumpaan atau interaksi dan
komunikasi dengan sesama. Di dalam kisah Ayub penderitaan ini beberapa kali
terjadi: antara Ayub dan istrinya, antara Ayub dan sahabat-sahabatnya, serta antara
Ayub dan Elihu. Pada bagian ini, penulis akan menulis dua hal: perjumpaan Ayub
dengan isterinya, dan perjumpaan Ayub dengan sahabat-sahabatnya. Hal ini
dikarenakan dalam perjumpaan-perjumpaan tesebut Ayub menunjukan reaksinya,
atau ada aksi balasan/pembelaan diri dari Ayub.
Dengan adanya aksi pembelaan diri dari Ayub, penulis ingin menunjukan
bahwa ada sesuatu yang menekan dirinya. Berikut kita akan melihat sikap atau
reaksi Ayub ketika mengalami pengalaman penderitaan.
2.
Sikap Ayub dalam Penderitaan
Penderitaan Ayub adalah penderitaan yang dialami oleh orang benar ( Van
Der Weiden, 1995: 109), karena Ayub sendiri orang benar; “saleh, jujur, takut
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
47
akan Allah, dan menjauhi kejahatan” (Ayb. 1: 1). Sebagai orang benar yang
menderita, ternyata Ayub mempunyai kekhasan dalam menyikapi hal tersebut.
a. Kepasrahan Ayub
Dalam prolog jelas terlihat kepasrahan hati Ayub dalam menghadapi
penderitaan. Dalam Kitab Ayub dituliskan bagaimana penyerahan dirinya kepada
kehendak Allah. Ayub meyakini bahwa apapun yang terjadi pada dirinya, semua
itu adalah kehendak Allah. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan
ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang member,
Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 1: 21). Menurut penulis,
kalimat yang indah ini jelas menunjukan bahwa Ayub adalah seseorang yang
beriman mendalam kepada Allah.
Ayub menerima penderitaan yang terjadi pada dirinya, namun bukan berarti
bahwa Ayub menerima penderitaan sebagai hukuman karena dosa yang dia
perbuat, melainkan atas kesadaran dirinya sebagai makhluk ciptakan Allah, yang
percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi adalah kehendak-Nya.
Sikap pertama Ayub ini menunjukan jati dirinya sebagai pribadi beriman
mendalam, jujur, baik, taat, dan takut pada Allah.
b. Ayub Mengeluh
Ayub bersikeras menolak hubungan antara dosa pribadi dan penderitaannya.
Ayub tidak menyangkal adanya pembalasan di bumi, sebaliknya ia justru
mengharapkannya. Namun kenyataan yang terjadi padanya membuat ia ragu akan
keadilan Allah.
Sungguh suatu hal wajar bila kita mendengar orang menderita mengeluhkan
keadaan dirinya. Itu tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang benar dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
48
saleh seperti Ayub. Keluhannya terungkap dalam Ayb 3. Dalam bab tersebut Ayub
terlihat sangat meratapi nasib malang yang menimpa dirinya. Keluhan Ayub
terungkap jelas pada ay. 11; “Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa
waktu aku keluar dari kandungan?”. Ini jelas ingin menunjukan betapa Ayub
menyesali hari kelahirannya. Kita lihat lagi ay. 13; “Jikalau tidak, aku sekarang
berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat”. Ayai ini menunjukan
betapa menderitanya Ayub, lebih-lebih karena penderitaan ini dialaminya tanpa
sebab yang pasti, artinya dialami tanpa berbuat dosa.
Ketika kita menderita, baik secara rohani maupun jasmani, seringkali kita
menangis. Ini adalah bagian dari kodrat manusia. pada saat kita berhenti menangis,
kita mulai bertanya: mengapa? Mengapa penderitaan ini terjadi padaku? Mengapa
ya Allah? Namun, tidak ada jawaban (Carretto, 1989: 25).
Kebanyakan orang yang menderita, pada suatu ketika juga akan berkata
seperti Ayub: “Biar hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan:
Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan” (Ayb 3: 3) (Carretto, 1989:
25). Beban berat penderitaan seringkali membuat kita khilaf, mengeluh, dan men
yesali hidup. Kalau sudah seperti ini, manusia sulit untuk menemukan makna
hidup, akhirnya melihat penderitaan sebagai sesuatu yang sangat buruk (Carretto,
1989: 25).
c. Kekecewaan dan Kemarahan Ayub
Sama seperti kita, Ayub adalah manusia biasa dan terbatas. Dalam
kesadarannya sebagai orang yang takut akan Allah, rupanya penderitaan dapat
mengubah sifatnya. Ayub bereaksi terhadap situasi sulit yang menimpa dirinya. Ini
adalah hal yg manusiawi. Kemanusiawian Ayub sebagai manusia yang terbatas,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
49
nampak dari sikapnya pada saat kecewa dan marah kepada istri dan sahabatsahabatnya.
Kemarahan Ayub terhadap istrinya terungkap dalam Ayb 2: 10 : “Engkau
berbicara seperti perempuan gila!...” Kata-kata itu sungguh tidak wajar diucapkan
oleh seorang suami terhadap isterinya. Namun, hal itu wajar saja, sebab dalam
situasi menderita, seharusnya seorang istri menguatkan hati Ayub dalam
menghadapi situasi sulit, tetapi malah sebaliknya, istri Ayub menyarankan hal
yang tidak mungkin Ayub lakukan. Demikian tertulis:
Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam
kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”. Tetapi jawab Ayub
kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau
menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang jahat?”
Dalam kesemuaannya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayb 2:
9-10).
Seandainya istri Ayub tidak mengucapkan kata-kata seperti itu, Ayub tidak akan
mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya.
Dari sini penulis dapat mengatakan bahwa kemarahan Ayub adalah
kehendak bebasnya. Seperti yang telah disinggung pada bagian pendahuluan, yaitu
manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diberi anugerah kesadaran, akal budi
dan kebebasan dalam menentukan pilihan dalam hidupnya. Allah menghormati
kebebasan yang telah diberikannya kepada manusia. Hal ini Allah tunjukan dengan
membiarkan kemungkinan manusia akan salah pilih (Dicker, 1972: 10).
Selain marah pada istrinya, Ayub juga menunjukan sikap marah terhadap
ketiga sahabatnya. Ayb. 13: 4-5: “Sebaliknya kamulah orang yang menutupi dusta,
tabib palsulah kamu sekalian. Sekiranya kamu menutup mulut, itu akan dianggap
kebijaksanaan dari padamu.” Kalimat bernada kasar itu diungkapkan karena dia
merasa mengetahui apa yang ingin disampaikan sahabatnya. Biasanya seorang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
50
sahabat dapat memberi penghiburan dan mampu memberi penguatan kepada
sahabat yang sedang kesusahan. Namun, di sini sahabat-sahabat Ayub malah
berbalik menvonis Ayub berdosa, dan menganjurkan dia untuk merendahkan diri
di hadapan Allah, seperti yang dikatakan oleh salah satu sahabatnya, Zofar:
Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepadaNya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak
membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya engkau
dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan
tidak akan takut, bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya
teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu (Ayb. 11: 1316).
Bagaimana mungkin Ayub mengaku bersalah jika kenyataannya dia tidak pernah
melakukan perbuatan yang tidak dikehendak Allah seperti yang dituduhkan
sahabat-sahabat Ayub kepada dirinya. Di sini Ayub sangat ingin berbicara secara
langsung kepada Allah, seperti dikatakannya : “Apa yang kamu tahu, aku juga
tahu, aku tidak kalah dengan kamu. Tetapi aku hendak berbicara dengan Yang
Mahakuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah” (Ayb. 13: 2-3).
Apakah Allah akan menjawab Ayub?
Jika kita berada pada posisi Ayub, mungkin pertanyaan yang muncul adalah;
mengapa semua penderitaan ini ada? Mengapa saya menderita, sedangkan saya
tidak melanggar kehendak Allah? Pada saat itu juga kegalauan menyelimuti hati
kita sebagai makhluk yang terbatas. Di dalam keterbatasan kita sebagai manusia,
karena merasa benar dan tidak bersalah, kita sering memberontak dan membela
diri karena memang tidak bersalah dan tidak pantas mendapat hukuman/siksaan
ataupun penderitaan. Begitu juga dengan Ayub, dia melakukan hal yang sama
seperti kita yang hidup pada masa kini. Apakah Allah mau berbicara pada Ayub?
Bagaimana Allah menjawab Ayub?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
51
d. Tantangan dan Pemberontakan dari Ayub
Sikap Ayub yang lebih keras dari kemarahannya terhadap isteri dan
sahabatnya adalah sikap Ayub yang menantang. Tantangan ini terjadi karena
amarah Ayub yang memuncak. Seperti ada tekanan yang dahsyat terhadap diri
Ayub, membuat dia untuk seakan ingin meledak . Hanya saja, yang penulis
maksudkan di sini adalah tantagan dari Ayub diarahkan langsung pada Allah Allah
sendiri. Maksudnya, Ayub menantang Allah untuk membuktikan bahwa Ayub
tidak bersalah, dan bukan tantangan kepada para sahabat yang memvonisnya
sebagai bersalah. Seperti yang dinyatakan oleh Ayub, Ayub berbicara pada Allah:
Aku dinyatakan bersalah (oleh para sahabatnya), apa gunanya aku
menyusahkan diri dengan sia-sia? Walaupun aku membasuh diriku dengan
salju dan mencuci tanganku dengan sabun, namun Engkau akan
membenamkan aku dalam lumpur, sehingga pakaianku merasa jijik terhadap
aku (Ayb. 9: 29).
Dari ucapan ini, kita dapat mengatakan bahwa daripada tenggelam dalam derita
yang tidak jelas bagaimana asal-usulnya, lebih baik berusaha untuk membebaskan
diri dari belenggu yang tidak jelad sebabnya, meski hasilnya tidak pasti. Selain itu,
dalam ayat yang agak panjang, Ayub berkata pula:
Karena Dia (Allah) bukan manusia seperti aku, sehingga aku dapat
menjawab-Nya: Mari bersama-sama menghadap pengadilan. Tidak ada wasit
di antara kami, yang dapat memegang kami berdua! Biarlah Ia
menyingkirkan pentung-Nya daripadaku, jangan aku ditimpa kegentaran
terhadap Dia, maka aku akan berbicara tanpa rasa takut terhadap Dia, karena
aku tidak menyadari kesalahanku (Ayb. 9: 29-35).
Karena merasa tidak melakukan kesalahan, dengan berani dan sedikit
lantang Ayub berbicara pada Allah. Ayub menuntut keadilan. Siapapun itu, tanpa
terkecuali Ayub, jika berhadapan pada situasi yang tidak semestinya, pasti akan
mencari tahu penyebab dari sesuatu yang terjadi, berharap keadilan dapat
dirasakan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
52
Keberanian Ayub untuk berperkara dengan Tuhan Allah dinyatakannya
dengan mengatakan: “Ketahuilah, aku [telah] menyiapkan perkaraku, aku yakin,
bahwa aku benar” (Ayb. 13: 18). Namun, Ayub tetap menaruh rasa takut terhadap
Tuhan Allah dengan mengatakan: “…Hanya janganlah Kaulakukan terhadap aku
dua hal ini, maka aku tidak akan bersembunyi terhadap Engkau: jauhkanlah
kiranya tangan-Mu dari padaku, dan kegentaran terhadap Engkau janganlah
menimpa aku!” (Ayb. 13: 20-21).
Timbulnya rasa pemberontakan Ayub terungkap dalam Ayb. 23: 2-4, begini:
“Sekarang ini keluh kesahku menjadi pemberontakan, tangan-Nya menekan aku,
sehingga aku mengaduh. Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang
ke tempat Ia bersemayam. Maka akan kupaparkan perkaraku di hadapan-Nya, dan
kepenuhi mulutku dengan kata-kata pembelaan”. Di sini sangat jelas bahwa Ayub
terang-terangan menantang kepada Tuhan Allah, siapa yang benar dan siapa yang
salah: dalam hal ini tentu saja Ayub tidak menyalahkan Allah sendiri. Ayub hanya
ingin tahu apakah dirinya benar atau salah dimata Allah. Jadi, bagi penulis,
tantangan Ayub terhadap Allah tidak sebagai wujud kontranya, namun lebih ingin
membuktikan kebenaran pendapatnya dan sekaligus kebenaran dirinya di hadapan
sahabat-sahabatnya. Ayub hanya ingin menuntut keadilan pada Allah, dan dia
berharap kiranya Allah menunjukan suatu kebenaran atas perkara penderitaannya.
Ayub memiliki konsepsi terhadap Allah bahwa orang benar harus menerima
pahala, orang lemah mendapat perlindungan, dan orang jahat mendapat hukuman.
Setelah melihat kenyataan yang terjadi pada dirinya, Ayub merasa bahwa Allah
tidaklah adil pada dirinya. Ayub merasa tidak pantas menderita (Robini, 1998 :
19).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
53
e. Tuduhan Ayub kepada Allah
Dalam perdebatannya dengan para sahabat, Ayub akhirnya mengucapkan
kalimat yang digolongkan sebagai tuduhan terhadap Allah bahwa penderitaan yang
menimpa dirinya adalah kehendak Tuhan Allah sendiri. Seperti dikatakannya:
“Tetapi inilah yang Kausembunyikan di dalam hati-Mu [kehendak supaya Ayub
menderita]; aku tahu, bahwa inilah maksud-Mu [penderitaan Ayub]” (Ayb. 10:
13). Di sini Ayub seperti mempersalahkan situasinya yang penuh dengan
penderitaan itu kepada Tuhan Allah sebagai penyelenggara segala sesuatu. Sangat
manusiawi bila Ayub mengarahkan tuduhannya terhadap Allah, apalagi dengan
kesadarannya bahwa Allah adalah penyelenggara segala sesuatu yang terjadi di
bumi termasuk penderitaan yang dia alami. Menurut penulis, hal ini terjadi
dikarenakan semua yang terlibat dalam perdebatan itu, terutama Ayub sendiri,
tidak mengetahui mengapa dan dari mana penderitaannya itu. Maka arah
pandangan pun ditujukan kepada Sang Mahakuasa itu, Tuhan Allah sendiri. Ini
adalah salah satu contoh dari keterbatasan manusia.
f. Pengharapan Ayub
Ketika seseorang mengalami musibah atau masalah yang berat sekalipun,
tidak menutup kemungkinan bahwa disaat sulit seperti itu manusia masih
mempunyai pengharapan untuk mendapatkan keringanan atas beban, atau
hukuman/sanksi yang dia terima dari seseorang at
aupun Allah sendiri
yang
mempunyai hidup ini. Begitu pula dengan Ayub orang benar yang menderita oleh
perbuatan iblis atas seizin Allah, mengalami masa-masa yang begitu sulit, meski
Ayub berkali-kali menyesali kelahirannya, namun Ayub tetap mempunyai
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
54
pengharapan terhadap Allah. Akhirnya jauh dii bawah lembah timbul sebercak
harapan kecil (Carretto, 1989: 25).
Dalam dialog Ayub dengan teman-temannya, beberapakali muncul tema
pengharapan. Dalam pembahasan akan disinggung terlebih dahulu beberapa ayat
atau perikop pendek yang mengemukakan pengharapan secara implicit, untuk
kemudian kedua bab yang memuat perikop pengharapan yang eksplisit juga akan
dibahas, yakni bab 16 dan 19.
1) Pengharapan Implisit
Dalam penderitaan yang dia alami, Ayub masih mempunyai suatu
pengharapan akan belaskasih Allah terhadap dirinya yang sedang menderita. Dapat
dilihat pada Ktab Ayub 7: 16-19, seperti di bawah ini:
16
Aku jemu, aku tidak mau hidup selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena
hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja.17Apakah gerangan manusia,
sehingga dia Kauanggap agung, dan Kau Perhatikan,18dan Kaudatangi setiap
pagi, dan Kau uji setiap saat? 19Bilakah Engkau mengalihkan pandanganMu
dari padaku, dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?
Secara sepintas saja Ayub meminta dan berharap Allah mempunyai waktu
mengalihkan pandangan-Nya dari dirinya. Sebab Ayub merasa seperti buruan yang
tidak berhenti dikejar oleh Allah. Jika harapan Ayub dikabulkan, maka dia
mempunyai kesempatan untuk tenang sejenak, bahkan merasakan sedikit
kegembiraan sebelum meninggal dunia. Ayub dengan jujur berbicara kepada Allah
tentang rasa ketidakadilan, penolakan, dan keragu-raguan yang dialaminya. Ia
bahkan berharap Allah akan membiarkannya Ayub sedikit merasa gembira terlepas
dari rasa menderita meski hanya sebentar saja. Dapat kita bayangkan begitu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
55
tersiksanya Ayub sehingga memohon Allah berpaling sebentar dari pengawasanNya atas diri Ayub.
2) Pengharapan Eksplisit
Kedua perikop yang paling jelas mengungkapkan pengharapan Ayub adalah
16: 18-22 dan 19: 25-27. Dalam kedua teks itu, Ayub menggunakan semacam
“hak” atas intervensi atau tindakan Allah atas dasar tradisi kuno Israel. Secara
sangat aneh Ayub akan memindahkan pada diri Allah masalah yang tidak dapat
dipecahkannya lagi di dunia ini. Pengalaman sebelum Ayub menderita mendorong
dirinya untuk tetap menjaga keterbukaan bagi Allah yang baik hati, yang dia rasa
sudah lama tidak dialaminya lagi. Demi jelasnya kedua perikop ini, akan dibahas
dalam konteksnya masing-masing. Mari kita melihat terlebih dahulu Ayb 16: 1822, sebagai berikut ( Van Der Weiden, 1995: 161) :
18
Hai bumi, janganlah menutupi darahku, dan janganlah kiranya teriakku
mendapat tempat perhentian! 19 Ketahuilah, sekarangpun juga, Saksiku ada di
sorga. Yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi. 20
Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah
mataku menengadah sambil menangis, 21 supaya Ia memutuskan perkara
antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya. 22
Karena sedikit jumlah tahun yang akan datang, dan aku akan menempuh
jalan, dari mana aku tak akan kembali lagi.
Meskipun Ayub masih hidup, ia merasa dirinya sudah “mati”, sehingga berbicara
seakan-akan seperti orang yang sudah mati, dan darahnya tercurah ke tanah. Bumi
diajak untuk membiarkan darahnya kelihatan, supaya bisa berteriak terus kepada
Allah. Seperti halnya dalam kej. 4, ketika Habel dibunuh oleh Kain, darahnya
berteriak kepada Allah dari tanah (Kej. 4: 10), dan Allah bertindak sebagai
pembela Habel melawan pembunuhnya. Ayub ingat akan tradisi Israel dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
56
berharap dengan suatu keyakinan iman yang kuat, bahwa Allah bersedia menjadi
pembelanya seperti pengalaman Habel (Van Der Weiden, 1995: 164).
Ayub merasa sendirian, teman-temannya “jauh”, keluarganya hancur, ia
hampir mati. Allah adalah satu-satunya tempat Ayub menyimpan harapan. Dasar
harapan Ayub adalah tradisi tentang peran Allah sebagai pembela hamba-Nya
yang tidak bersalah, ditambah lagi Ayub teringat akan kedekatannya dengan Allah.
Ayub sangat berharap bahwa Allah sendirilah yang memutuskan perkara diantara
Ayub dan Allah ( Van Der Weiden, 1995: 165).
Dalam tradisi Israel, seorang yang mengalami nasib sangat buruk, harus
“ditebus” oleh saudara yang terdekat yang bertindak sebagai penebus (go’el dalam
bahasa Ibrani). Jika tidak ada saudara yang lebih dekat dan saudara jauh, maka
seseorang dapat mengharapkan bahwa Allah dapat bertindak sebagai penebus,
misalnya ketika Bani Israel diperbudak di Mesir, ketika bangsa Yehuda di
pembuangan Babel, Allah menebus mereka dari penjajahnya. Dalam seluruh
deretan ayat dari wejangan ini, Ayub menyatakan bahwa 1) situasinya sangat
ekstrem (terjadi pd ay. 7-12, 20); bahwa 2) tanpa “penebus” dan penolong manusia
( ay. 1-3, 13-19,21-22); dan akhirnya bahwa ia saleh ( ay. 6, 23-24). Begitulah
syarat-syarat terpenuhi dan Ayub berhak mengharapkan tindakan dari Allah
penebus. Pengharapan yang ditaruh pada Allah diungkapkan Ayub, begini: “Tetapi
aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu . Juga
sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah,
yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikanNya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu” (Ayb. 19: 25-27).
Ayub mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah adalah penebus yang hidup,
artinya Allah diimani sebagai sumber kehidupan yang dapat mengembalikan daya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
57
hidup kepada Ayub yang ibaratnya sudah hamper mati. Tindakan Allah akan
terjadi sebelum ia meninggal, dan tubuhnya sudah sangat rusak. Allah akan
bertindak seperti “saudaranya” bukan orang asing, dan Ia akan menbus dia dari
Yang (maksudnya Allah) yang menyebabkan kehancuran itu (Weiden, 1995: 166169).
Sama
seperti
pada
Ayb
16:
18-22,
dia
[Ayub]
memindahkan
permasalahannya dengan Allah ke dalam diri Allah: Allah Sang Penebus akan
menebus diri Ayub dari Allah musuh yang menimpakan penderitaan kepadanya
(seolah-olah Allah mempunyai kepribadian ganda) ( Weiden, 1995: 166-169).
Setelah melihat bagaimana seluk-beluk Kitab Ayub, terutama mengenai
isinya yang berbicara mengenai penderitaan manusia saleh. Maka, pada bab
selanjutnya kita akan diajak melihat usaha dalam memaknai penderitaan manusia
menurut pandangan iman Kristiani beserta relevansi dari Kitab Ayub bagi
penderitaan manusia zaman sekarang yang akan dibahas pada bab berikutnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
58
BAB III
USAHA MEMAKNAI PENDERITAAN MANUSIA MENURUT
PANDANGAN IMAN KRISTIANI DAN RELEVANSINYA BAGI ORANG
KRISTIANI DI ZAMAN SEKARANG
Penderitaan memaksa kita untuk berhadapan dengan kebuntuan, ketakutan,
dan berujung pada keraguan akan keadilan dan belaskasih Allah. Peristiwa itu
membuat kebanyakan orang mengeluh, sama seperti yang terdapat dalam Kitab
Ayub (Ayb 3). Pertanyaan “di mana Allah saat kita tertimpa masalah?” kerapkali
keluar dari mulut manusia yang merasa tidak sanggup menjalani hari-harinya?. Ini
adalah reaksi wajar dari si penderita. Manusia memang makhluk ciptaan Allah
yang selalu ingin mengetahui segala hal yang terjadi dalam hidupnya, termasuk
pengalaman penderitaan.
Manusia memang salah satu bagian paling kecil dari ciptaan Allah yang
lainnya. Tetapi manusia diciptakan Allah secara lebih istimewa. Keistimewaan
manusia dilihat dari kemampuannya untuk berpikir, mempunyai cita-cita,
membuat rencana, dan tahu harus ke mana. Seringkali manusia mengalami bahwa
nasibnya tidak sesuai dengan yang dicita-citakan, kenyataan yang terjadi tidak
sesuai dengan harapan. Karena hal inilah manusia terdorong untuk mencari makna
hidupnya untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Manusia selalu
bertanya tentang fenomen yang terjadi dalam hidupnya. Tidak heran jika manusia
disebut sebagai makhluk yang reflektif, inilah yang menjadikan manusia selalu
berusaha menemukan nilai dan makna hidupnya dari setiap pengalaman yang
terjadi (KWI, 1996: 2).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
59
Sebagai makhluk reflektif, penulis ingin mengajak kita semua untuk
memahami
pengertian
penderitaan
secara
umum
beserta
factor-faktor
penyebabnya. Selain itu penulis juga ingin mengajak kita semua melihat dan
menemukan makna dibalik penderitaan yang terjadi pada manusia melalui
kacamata iman Kristiani beserta relevansinya bagi pengalaman hidup umat
Kristiani di masa sekarang.
A. Memahami Penderitaan Secara Umum
Penderitaan menjadi problema ketuhanan bagi orang-orang yang percaya
bahwa Allah itu Mahabaik, Mahaadil dan Mahacinta. Mengenai hal ini, apakah
kita akan menyimpulkan bahwa Allah melakukan sesuatu yang salah terhadap
segala yang diciptakan di dunia? Di mana keadilan Allah? Apakah maksud Allah
dengan persoalan yang sulit dipahami ini? Apakah iman kita dapat memberi
jawaban atas semua ini (Atkinson, 1996: 31).
Pada hakikinya, manusia menderita karena adanya kejahatan, yang
merupakan sesuatu kekurangan, pembatasan atau penyimpangan dari sesuatu yang
baik. Dapat dikatakan bahwa manusia menderita apabila ia mengalami suatu
kejahatan dalam bentuk apapun. Kejahatan dapat berasal dari dalam dirinya sendiri
dan dari luar dirinya (SD art 7).
1.
Pengertian Penderitaan
Menurut Budi Kleden, penderitaan dipahami sebagai akibat dari keburukan
(malum). Dalam hubungannya dengan penderitaan manusia, dapat dikatakan
bahwa malum atau keburukan adalah sesuatu yang menyebabkan orang merasa
menderita atau yang menyebabkan penderitaan pada manusia. Antonym dari
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
60
malum adalah bonum yang berarti kebaikan, artinya sesuatu yang diharapkan, dan
merupakan keadaan terpenuhinya suatu keinginan yang dicita-citakan seseorang.
Sebaliknya malum adalah keadaan di mana tidak terpenuhinya sesuatu yang
dianggap sebagai semestinya (Budi Kleden, 2006: 16- 17).
Penderitan adalah rasa sakit yang dialami manusia sebagai akibat dari
sesuatu yang merugikan, misalnya kejahatan (Budi Kleden, 2006 :19). Pada
hakikatnya penderitaan mempunyai arti lebih luas dari pada rasa sakit, lebih
kompleks dan berakar dalam diri manusia. Bapa Paus Yohanes Paulus II dalam
ensikliknya menggarisbawahi perihal penderitaan manusia bukan sekedar rasa
sakit semata-mata, melainkan menyentuh aspek terdalam hidup manusia, baik jiwa
maupun raga ( Salvifici Doloris art. 5).
Sesuatu yang buruk tentu saja dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak
baik, jauh dari keindahan dan juga kebenaran. Malum (keburukan) dapat berasal
dari dalam diri manusia maupun dari luar pribadi manusia itu sendiri. Di dalam
malum hanya ada perpecahan, tidak ada kesatuan (Budi Kleden, 2006 :18).
Penderitaan lahir dari pengalaman kontras seperti karena ketidakadilan,
tekanan, kekerasan atau karena kehilangan sesuatu yang dirasa sangat berarti bagi
hidup seseorang. Tentu saja setiap manusia menginginkan hal-hal yang indah
dalam hidupnya, namun sayangnya penderitaan yang menimpa manusia tidak
dapat dihindari dan tanpa terkecuali. Penderitaan adalah bagian dari hidup manusia
yang tidak dapat dipisahkan dari kebahagiaan. Penderitaan tidak hanya dialami
oleh manusia melainkan dialami oleh semua makhluk hidup seperti tumbuhan dan
juga hewan (Budi Kleden, 2006:19).
Penderitaan yang melanda tumbuhan dan hewan sedikit berbeda dengan
penderitaan yang melanda manusia. Penderitaan hewan dan tumbuhan adalah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
61
penderitaan lebih secara fisis seperti ancaman kebakaran hutan, peristiwa banjir,
dimangsa oleh hewan lain, dan kekeringan. Sedangkan penderitaan yang dialami
manusia tidak hanya secara fisis saja, melainkan lebih kompleks. Penderitaan yang
melanda manusia itu bisa seperti rasa takut, frustasi, mendapat penghinaan, putus
asa, diasingkan, kecemasan, dll. Selain itu, penderitaan bersifat kontras terhadap
apa yang dianggap sebagai hak atau kewajiban. Maksudnya, orang tidak hanya
menderita karena haknya tidak terwujud, tetapi juga karena ketidakmampuannya
dalam memenuhi kewajiban tertentu (Budi Kleden, 2006:19).
2.
Beberapa Contoh Penderitaan Manusia
Allah menghargai kebebasan yang diberikan-Nya kepada manusia, dan Allah
tidak pernah membatasi itu. Jika manusia menderita, entah karena diri sendiri atau
orang lain, itu adalah akibat dari kebebasan yang disalahgunakan oleh manusia
sendiri (Budi Kleden, 1998: 185).
Banyak sekali penyebab-penyebab timbulnya penderitaan antara lain: karena
ketidakadilan, tekanan, kekerasan atau karena kehilangan sesuatu yang telah
dialami sebagai sesuatu yang berarti: kesehatan, harta benda, harga diri, dll. Di
bawah ini akan diuraikan beberapa contoh penderitaan manusia, diantaranya dari
diri sendiri, oleh orang lain, penyakit menular, dan bencana alam.
a. Penderitaan karena diri sendiri
Penderitaan terjadi bukan hanya karena sebab dari luar seperti tertimpa
bencana alam, tetapi juga karena kesalahan sendiri: orang menderita karena
perbuatannya atau sebagai akibat tindakannya yang mengecewakan dirinya dan
orang lain, atau karena gagal mencapai sesuatu (Budi Kleden, 2006: 20).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
62
Penderitaan yang disebabkan kesalahan diri sendiri biasanya berhubungan
dengan dosa. Dosa dapat menjauhkan manusia dari Allah, dan dari sesamanya.
Dosa menyebabkan manusia menderita. Jika dilihat dari segi hubungan manusia
dengan Allah, dosa dipahami sebagai penolakan terhadap Allah: manusia
menyalahgunaan kebebasan dari Allah (KWI, 2007: 101). Secara sadar atau tidak,
orang yang berdosa meragukan cintakasih-Nya. Oleh karena itu manusia sering
berpaling dari penciptanya kepada ciptaan yang dianggap lebih berharga (Heuken,
199: 10).
Dalam terang wahyu ilahi orang melihat apa itu dosa, terutama dosa asal.
Jika manusia tidak mempunyai pengetahuan mengenai Allah, maka dia akan
berpikir bahwa dosa terjadi secara otomatis akibat dari struktur masyarakat yang
salah (KWI, 2007: 101). Kej 2: 4a-25 dan Kej 3: 1-24 menggambarkan bahwa
penderitaan dan kematian ada setelah manusia pertama (adam dan hawa) jatuh
dalam dosa (Stanislaus, 2008:53).
Yewangoe memaparkan pemikiran Vengal Chakkarao seorang Teolog Salib
dari India. Dia menggunakan perumpamaan tentang anak yang hilang ketika
menjelaskan bagaimana dosa masuk ke dalam hidup manusia dan merenggangkan
relasi antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamannya
(Yewangoe, 1998: 71).
Dosa tercipta ketika manusia mulai memilih untuk bebas melakukan hal-hal
yang tidak dikehendaki Allah. Misalnya meninggalkan hal baik dan mendekati halhal duniawi yang bersifat sementara. Pada saat ego merasuk ke dalam jiwa
manusia, manusia menjauh dari Allah dan sesama. Manusia terkucilkan karena
dosa yang dibuatnya sendiri. Contoh sederhana dari penderitaan yang disebabkan
diri sendiri adalah kemalasan, orang yang malas bekerja, berdampak pada
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
63
hidupnya yang penuh kekurangan sandang, pangan, dan papan. Itu hanya salah
satu contoh dari banyaknya kejadian.
b. Penderitaan yang disebabkan oleh orang lain
Budi Kleden (2006 : 18). memaparkan pemikiran Leibniz dan Immanuel
Kant yang menyatakan penderitaan yang disebabkan oleh orang lain dengan istilah
malum morale yang artinya keburukan moral. Yang mana keburukan moral ini
ditimpakan oleh manusia kepada manusia lain, dan biasanya dilakukan oleh orangorang yang memiliki kuasa. Contoh keburukan moral tersebut adalah ketidakadilan
social (KKN), kekerasan, penindasan terhadap kaum lemah, miskin, tertindas, dan
difabel. Keburukan moral ini masih ditemukan di Indonesia sampai sekarang.
Contoh lain dari penderitaan yang disebabkan oleh orang lain adalah
pelecehan seksual dan kekerasan terhadap kaum perempuan. Kasus ini kerapkali
ditemukan baik di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya. Salah satu
pengalaman menyedihkan datang dari Tchuna (23 tahun), mahasiswi jurusan
Fisioterapi Fakultas kedokteran di India diperkosa secara bergiliran selama satu
jam oleh 6 laki-laki di dalam bus, tidak hanya diperkosa tetapi Tchuna, gadis
cantik itu juga dihajar hingga babak belur, bahkan sebuah batang besi dimasukkan
ke dalam vaginanya hingga ususnya nyaris keluar, dan dalam keadaan kritis dan
tak sadarkan diri, dengan tubuh penuh darah dan tanpa busana, ia dilempar begitu
saja ke jalanan. Sungguh sangat tidak manusiawi perbuatan yang dilakukan oleh
para pemerkosa itu.
Negeri indonesia juga memiliki lembar-lembar sejarah yang penuh luka
siksa terhadap perempuan. Pada tahun 1965, ribuan perempuan, atas tuduhan
komunis, diburu, disiksa, diperkosa. Pada tahun 1989 hingga 1999, saat Aceh
dinyatakan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Orde Baru, ratusan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
64
perempuan turut juga mengalami siksaan dan pelecehan seksual. Di masa orde
baru juga, Marsinah mengalami hal serupa seperti yang dialami Tchuna. Pada
tanggal 5 Mei 1993, tubuh buruh pabrik arloji di Sidoarjo itu ditemukan tak
bernyawa dengan keadaan penuh luka, pergelangan tangan lecet akibat ikatan yang
terlalu kencang, serta tulang selangkangan dan vagina hancur. Mayatnya
ditemukan di sebuah gubuk pinggir sawah di Nganjuk Jawa Timur. Bedanya
Marsinah dirusak kelaminnya karena berdemo menolak PHK sepihak terhadap
rekan kerjanya. Hal yang menjadi keprihatinan di negeri ini adalah pelaku
utamanya tak tersentuh hukum sampai sekarang (Majalah Tempo XXIII, Oktober
1993: 22-24).
Penindasan pada perempuan tak pernah mati. Berdasarkan catatan Tahunan
Komnas Perempuan tahun 2011 menyebutkan ada sekitar 119.107 kasus kekerasan
terhadap perempuan, di wilayah domestik maupun publik. Angka ini meningkat
13,32 persen dari tahun sebelumnya. Lalu pada tahun 2012 masyarakat Indonesia
juga dikejutkan dengan maraknya kasus perkosaan di angkot Jakarta. Ironisnya
beberapa politisi justru menuding perempuan yang notabene korban sebagai biang
pemicu birahi karena memakai rok mini. Sungguh komentar yang kurang
bijaksana dan sangat mengecewakan. Tetapi tidak ada demo seperti pelecehan
pada perempuan seperti kasus Tchuna gadis India. Mungkin kita terlalu pengecut
untuk memberikan pembelaan pada perempuan, atau mungkin kita terlalu takut
untuk mengambil resiko buruk seperti yang dialami oleh Marsinah si buruh pabrik
yang malang.
c. Penderitaan demi orang lain dan demi tugas perutusan
Dalam hal ini, penderitaan Paulus dapat menjadi contoh. Paulus rela
menderita demi umatnya ditempat ia mewartakan Kerajaan Allah. Paulus pernah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
65
dipenjara karena telah memberikan kesaksian kepada banyak orang dengan
pewartaan-Nya akan Yesus Kristus (Kis 22:1-22). Tidak hanya Paulus, para nabinabi seperti musa, Yeremia, Yehezkiel, dll menderita demi orang lain dank arena
tugas dan tanggungjawabnya dalam mewartakan Kerajaan Allah.
Tokoh paling besar sepanjang sejarah hidup umat Kristiani yang menderita
demi umat manusia adalah Yesus Kristus Putera Allah. Yesus menderita dan wafat
karena dosa manusia, dan karena tugas yang diberikan Allah Bapa kepada-Nya.
Yesus disalibkan demi dan untuk menebus dosa manusia. Di salib Yesus tetap
mempertahankan kesatuan-Nya dengan Allah dan taat kepada tugas yang diberikan
kepada-Nya. Dalam suasana penuh haru itu, Yesus memperlihatkan ajaran pokok
kehidupan-Nya, yaitu penyerahan total kepada Allah. Sikap Yesus ini member
teladan kepada kita bahwa dalam situasi sulit seperti apapun, kita sebaiknya tetap
mempercayakan semua perkara hidup kepada Allah secara total (KWI, 1996: 138).
Yesus adalah hamba dan juga Putera Allah yang setia dalam ketaatan tanpa
syarat melayani rencana penyelamatan Allah bagi umat manusia (Yoh 10: 18; 4:
34). Seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidup Yesus Kristus termasuk di
dalamnya: penderitaan, wafat, dan kebangkitan adalah rencana penyelamatan
Allah “digenapi” menjadi nyata dan terwujud di tengah-tengah umat manusia
(Groenen, 1979: 19).
d. Penderitaan karena penyakit
Orang sakit adalah orang yang tidak kuat mengurus hidupnya sendiri karena
fisik atau badannya tidak mampu untuk melakukannya. Dalam keadaan seperti ini
perhatian dan bantuan orang lain sungguh sangat membantu si sakit menjalani
masa sakinya itu (Heru Ismadi. 1994 : 19). Penyakit kusta misalnya. Penyakit ini
sangat menyiksa si penderita, dan seringkali orang yang menderita penyakit ini
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
66
diasingkan dari tempat kelahirannya sendiri. Hal ini sangat menyiksa batin dan
kedalaman jiwa si penderita. Apakah mereka menginginkan penyakit tersebut?
Tentu saja tidak. Tapi mengapa terkadang orang sering melihat orang lain dengan
sebelah mata? Di manakah rasa hormat dan cinta kasihnya?
e. Bencana Alam
Budi Kleden (2006 : 18). memaparkan pemikiran Leibniz dan Immanuel
Kant yang mengatakan penderitaan akibat bencana sebagai malum physicum yang
artinya keburukan alamiah. Keburukan alamiah ini terletak pada kenyataan
negative yang sangat merugikan tatanan kehidupan, misalnya seperti peristiwa
gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan angin puting beliung.
Kembali kita diingatkan pada peristiwa meletusnya gunung merapi di kota
Yogyakarta tahun 2010 lalu. Bencana ini meninggalkan kesedihan bagi para
korban. Mereka harus kehilangan para kerabat, sahabat, dan juga harta benda.
Peristiwa alam memang tidak dapat diprediksi oleh manusia, sama seperti rencana
Allah yang tersembunyi di dalamnya.
Bencana merapi itu kutuk atau rahmat? Mungkinkah ini kutuk dari Allah
atau berkat? Pertanyaan ini menjadi bahan refleksi bagi kita untuk menemukan
makna dibalik musibah yang terjadi pada manusia.
3.
Cara Mengatasi Penderitaan
Pada bagian di atas diuraikan beberapa contoh penderitaan manusia.
Penderitaan dapat terjadi oleh karena kesalahan yang kita lakukan sendiri, ada juga
penderitaan yang dikarenakan orang lain, demi tugas perutusan, disebabkan oleh
bencana alam, dan penyakit menular/mematikan. Berikut penulis memaparkan
beberapa cara mengatasi penderitaan manusia.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
67
a. Penderitaan Karena Diri Sendiri
Dengan melakukan kesalahan kita dapat belajar dari pengalaman,
memperbaiki kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jika kita
melakukan kesalahan pada awalnya, kita tidak akan mengetahui akibat dari
kesalahan tersebut. Melalui penderitaan yang disebabkan oleh sendiri: akibat
melakukan perbuatan salah, kita dengan penuh kesadaran dan iman bertobat
kepada Allah, mohon pengampunan. Dengan pertobatan, kita dituntun Allah ke
jalan yang lebih baik lagi.
b. Penderitaan Karena Orang Lain
Penderitaan yang dikarenakan oleh orang lain ini merupakan unsur dari
kejahatan “rusak dan kacaunya tatanan hidup, artinya tidak ada keharmonisan
diantara keduabelah pihak”. Penderitaan yang disebabkan oleh orang lain,
memberi gambaran kepada kita bahwa dunia ini semakin tidak aman. Situasi yang
kurang baik ini jangan menjadikan kita takut untuk mengekspresikan diri.
Terutama bagi kaum perempuan, selalulah bersikap hati-hati, menggunakan
pakaian sopan, bila perlu berlatih ilmu bela diri untuk berjaga-jaga dari tindak
criminal yang merajalela.
c. Penderitaan demi Orang Lain
Ada juga penderitaan demi orang lain, biasanya adalah demi tugas dan
perutusan, orang-orang ini merasa terpanggil untuk melindungi sesamanya
manusia dengan ajaran-aaran kebaikan “mewartakan kabar baik” tetapi, harus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
68
mengalami ditolak seperti Paulus, dikhianati dan disiksa seperti Yesus bahkan
sampai mati di kayu Salib demi menebus dosa manusia.
d. Penderitaan Karena Bencana Alam
Terkadang orang menyadari dirinya hidup tidak sendirian misalnya dengan
peristiwa bencana alam seperti merapi, tsunami dan gempa bumi. Di snilah letak
kebesaran Allah. Melalui peristiwa alam sangat dahsyat yang menelan banyak
korban jiwa, manusia dipersatukan sebagai saudara satu Bapa, saling membantu,
saling mengasihi, dan terpanggil untuk rela melayani sesama yang sedang dilanda
bencana. Misalnya: bencana merapi yang terjadi pada tahun 2010 di Yogyakarta.
Pada saat bencana dahsyat letusan merapi terjadi, banyak orang kehilangan
rumah, harta benda dan orang-orang yang dikasihi. Pada saat yang bersamaan
juga, banyak saudara-saudari, mulai dari mahasiswa, biarawan-biarawati,
bapak/ibu, anak-anak, tua/muda terpanggil dan terketuk hatinya membantu
meringankan beban saudara/I yang tertimpa bencana. Ada yang menjadi relawan,
donator, dll. hal ini menunjukan betapa besar kuasa dan rencana Allah dalam
mempersatukan umat manusia yang tidak saling mengenal, berasal dari berbagai
bagian pulau-pulau dan kota yang berbeda. Sungguh terlihat nyata semangatsemangat orang-orang dalam memberikan bantuan yang tidak habis-habisnya bagi
para korban merapi. Jelas terasa dan dipahami bahwa ternyata ada makna yang
sangat berharga dari peristiwa bencana alam yakni rasa persaudaraan, saling
tolong-menolong, saling mengasihi, dan menghargai. Apakah harus ada bencana
alam dulu, supaya manusia dapat melebur menjadi satu?
e. Penderitaan Karena Penyakit
Penderitaan yang disebabkan oleh penyakit ingin mengajak kita untuk
bersikap pasrah pada kehendak Allah. Penyakit bukanlah kutukan dari Allah.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
69
Penyakit ada di dunia untuk menyadarkan kita bahwa kita membutuhkan orang
lain. Kita tidak bisa hidup sendirian. Oleh karena itu menjaga hubungan baik satu
dan yang lain adalah hal yang sangat mulia dan dikehendaki Allah.
Penulis tertarik pada sebuah novel yang ditulis oleh Agnes Jessica dengan
judul “Ungu”. Novel ini bercerita tentang bagaimana seorang Raja yang sangat
berkuasa di langit sekaligus seorang Bapa yang mengutus Putera-Nya untuk
melihat makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang ada di bumi. Di bumi sering terjadi
kekacauan, manusia saling menghancurkan, saling menjatuhkan, hanya sedikit
manusia yang sungguh-sungguh baik dan memiliki kerinduan akan Sang
Penciptanya. Dalam Novel dikisahkan bagaimana hidup manusia dengan berbagai
karakter dan permasalahannya. Di tengah kisah, ada dua orang tokoh pria
(Lazuardy) dan wanita (Irene) yang sedang berbincang mengenai topic mengenai
“hal buruk yang terjadi di dunia”. Rasa sakit selalu dinilai orang sebagai sesuatu
yang buruk padahal sebenarnya tidak selalu begitu: “seperti ibu yang sedang
melahirkan anak, sakitnya luar biasa. Tetapi setelah melahirkan bayinya, seorang
ibu lupa akan sakitnya”. Si pria berkata: “pengertian membuat kita bisa memahami
penyelesaian atas segala persoalan dan mengambil keputusan bagaimana harus
bertindak”, kemudian si wanita menanggapi: “maksudmu apapun yang terjadi di
dunia ini, kekacauannya, penderitaannya, susah dan derita, Tuhan biarkan terjadi
untuk melahirkan sesuatu yang baik pada akhirnya?”. Kemudian si pria menjawab:
“Ya”, “Ibarat sebuah cerita, bab satu sampai bab sembilan belas kacau balau, tetapi
di bab dua puluh, tokoh utamanya menang, bukan?” si wanita ingin
mempertegaskan pemahamannya (Agnes Jessica, 2011: 158).
Mungkin dapat dimengerti bahwa hidup ini ibarat cerita dalam sebuah novel,
selalu terjadi kekacauan dan jika keadaan membaik maka cerita berakhir. Seperti
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
70
pada kisah Ayub, diawal cerita, Ayub dikisahkan sebagi manusia paling
beruntung, setia dan takut akan Allah. Melihat kehidupan Ayub yang terbilang
sempurna, iblis menjadi iri dan menghasut Allah supaya mengizinkan iblis untuk
menimpa penderitaan kepada Ayub sebagai bentuk percobaan bagi kesetiaan Ayub
akan Allah.
Keyakinan Ayub akan Allah tidak tergoyahkan
oleh semua
penderitaan yang menimpanya. Berkat kesetianya itu, Allah mengembalikan
kehidupan Ayub seperti semula, bahkan dua kali lipat dari sebelum Ayub dicobai.
Cerita Ayub menghapus pendapat tentang adanya ikatan antara penderitaan dan
hukuman atas kesalahan/dosa si penderita. Dengan memahami pengajaran Yesus,
kita dapat melihat sebab-akibat langsung antara dosa dan penderitaan manusia
tidak selalu ada. Oleh karenanya, dapat dimengerti mengapa orang yang tidak
bersalah terkadang ditimpa penderitaan (Eilen Egan n Kathleen Egan, OSB.,
2001:62). Seringkali penderitaan dialami oleh orang-orang yang tidak bersalah.
Mengapa demikian? Ini menjadi pertanyaan yang sangat meresahkan bagi kita
yang tidak pernah berhenti mencari makna dari peristiwa yang terjadi dalam hidup.
Ketika berbicara kepada kaum muda, ibu Teresa memberikan contoh-contoh
nyata berkaitan dengan penderitaan orang-orang tidak berdosa, dan pentingnya
memberikan
penjelasan
atau
tanggapan
mengenai
masalah
itu.
Lewat
pemahamannya yang sangat mendalam tentang kekuatan dari penderitaan orangorang yang tidak bersalah, banyak anggota masyarakat yang terpinggirkan dan
terbebani masalah, merasa kehilangan dan menderita, melihat kesengsaraan yang
mereka alami dengan pandangan dan harapan yang baru (Eilen Egan-Kathlen
Egan, 2001: 59).
Ibu Teresa adalah salah satu tokoh yang memusatkan perhatiannya kepada
penderitaan orang-orang tidak bersalah sebagai jawaban atas pertanyaan,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
71
“Mengapa Allah yang Mahakasih membiarkan penderitaan semacam itu terjadi.
Anak-anak meninggal dunia karena kelaparan, banyak orang tewas karena bencana
alam, misalnya gempa bumi di Guatemala, gunung merapi meletus pada tahun
2010 di Yogyakarta?”, dan masih banyak lagi. Dengan suara lirih, Ibu Teresa
berkata (kutipan buku Eilen Egan-Kathlen Egan, 2001: 59):
Apa jadinya dunia tanpa semua penderitaan itu? Penderitaan orang-orang
tidak berdosa, sama seperti penderitaan Yesus. Ia menderita untuk kita, dan
penderitaan orang-orang tidak bersalah itu menyatu dengan penderitaan-Nya
dalam penebusan. Inilah yang disebut membantu penebusan. Dengan cara
inilah kita membantu menyelamatkan dunia dari hal-hal yang lebih buruk
lagi.
“Bukankah dengan adanya kegelapan, maka terang dibutuhkan” (Agnes Jessica,
2011: 489). Terkadang kita harus mengalami sendiri apa yang disebut penderitaan
supaya kita memahami untuk apa Allah yang Maha Kuasa membiarkan itu terjadi
di dunia. Begitulah sifat Allah. Allah selalu mempunyai maksud yang misteri dan
terlalu sulit dipahami oleh manusia bahkan memang tidak dapat dipahami
manusia. Allah selalu mempunyai maksud dan tujuan dari setiap peristiwa hidup
yang kita alami. Allah adalah transenden.
B. Relevansi Penderitaan Ayub Bagi Penderitaan Hidup Umat Kristiani di
Zaman Sekarang
1.
Makna Penderitaan Manusia Menurut Pandangan Iman Kristiani
Sesungguhnya penderitaan tidak harus selalu dipandang buruk. Namun
kebanyakan orang sudah menginterprestasikan bahwa penderitaan merupakan
pengalaman
sangat
mengerikan.
Tentu
saja
setiap
orang
menghendaki
kebahagiaan, tidak ada yang ingin menderita. Namun perlu disadari bahwa
penderitaan tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Penderitaan adalah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
72
peristiwa yang terjadi oleh adanya tujuan. Tujuan yang penulis maksud yakni
karya keselamatan Allah yang tidak mampu diselami oleh pengetahuan manusia,
ini dikarenakan manusia adalah makhluk yang terbatas (Atkinson, 2002: 54-55).
Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, dari yang terberat hingga ringgan.
Persepsi pada setiap orang juga berpengaruh dalam menentukan intensitas
penderitaan. Suatu kejadian dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu
dianggap penderitaan bagi orang lain. Dalam artian suatu permasalahan sederhana
yang dibesar-besarkan akan menjadi penderitaan mendalam apabila disikapi secara
reaksioner oleh individu. Ada pula masalah urgen yang disepelekan juga dapat
berakibat fatal dan menimbulkan kekacauan. Maksudnya adalah pengalaman
penderitaan dapat dimaknai secara berbeda, mengapa begitu? karena semua
tergantung pada tahap kesadaran, pemahaman, dan keyakinan seseorang yang
berbeda-beda dalam melihat realitas Allah dalam hidupnya.
Sesungguhnya ukuran berat atau tidaknya suatu pengalaman penderitaan
adalah tergantung pada bagaimana seseorang menanggapi penderitaan tersebut.
Jika kita menerima pengalaman itu dengan iman, kita akan mengatakan bahwa
penderitaan adalah suatu rahmat dari Tuhan yang dapat mendekatkan kita dengan
Dia yang Mahakasih dan Mahakuasa (Atkinson, 2002: 167).
Menurut Leibniz, penderitaan adalah bagian dari kehidupan kita sebagai
makhluk yang fana. Hanya Allah yang memiliki predikat bebas dari penderitaan.
Walaupun demikian, penderitaan kita tidaklah tragis. Kita hanya perlu meyakinkan
diri bahwa kita hidup di dunia yang tercipta oleh Allah yakni baik adanya (Budi
Kleden, 2006: 105). Allah itu baik, kasih-nya kepada manusia tanpa batas.
menciptakan dunia baik adanya, Dia tidak pernah mengehendaki penderitaan,
tetapi manusia tidak luput dari pengalaman penderitaan, atau kebobrokan alami,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
73
semua adalah kenyataan dari keterbatasan manusia. tidak seorangpun dapat
mengelak dari kejahatan moral (KWI, 2007: 100).
Allah itu Maha Kuasa. Dia berkuasa atas langit dan bumi beserta isinya
(Atkinson, 2002: 55). Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada
dirinya hari ini atau besok. Manusia hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada
kehendak Sang pencipta. Apapun yang terjadi pada manusia; kesedihan atau
kegembiraan, suka atau duka, kebahagiaan atau penderitaam pasti tersembunyi
makna dan tujuan di dalamnya.
a. Memahami arti penebusan dan makna penderitaan Yesus Kristus
Dapat dikatakan bahwa berkat kesengsaraan Kristus maka semua
penderitaan manusia telah berada dalam situasi baru. Dan seolah-olah Ayub telah
melihat hal ini sebelumnya, ketika ia berkata: “Aku tahu: Penebusku hidup”, dan
seolah-olah dia telah mengarahkan hal itu kepada penderitaannya sendiri, yang
tanpa Penebusan tidak akan dapat mewahyukan kepadanya maknanya yang
sepenuh-penuhnya.
Dalam Salib Kristus bukan hanya Penebusan yang terlaksana lewat
penderitaan, tetapi juga penderitaan manusia telah ditebus. Kristus-meskipun sama
sekali tidak bersalah-telah memikul “seluruh kejahatan dari dosa”. pengalaman
akan kejahatan ini menentukan seberapa jauh penderitaan Kristus yang tak dapat
dibandingkan, yang merupakan harga dari Penebusan. Yesus Kristus Putera Allah,
“walaupun dalam rupa Allah,…telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa
seorang hamba” (Flp 2: 6-7). Demi umat manusia yang dikasihi-Nya, Ia “menjadi
miskin, meskipun Ia kaya” (2 Kor 8: 9). Demikianlah Yesus Kristus telah
melaksanakan karya penebusan melalui sengsara dan wafatnya di kayu Salib yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
74
disebut salib penghinaan namun menjadi lambang kemenangan Yesus Kristus atas
maut (Madah Bakti, 2007: 141, lih SD art 2).
Yesus diutus Bapa untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang
miskin,…untuk menyembuhkan mereka yang putus asa” (Luk 4: 18), untuk
mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19: 10). Yesus Kristus menjadi
teladan bagi Gereja untuk membagikan kasih kepada sesame yang membutuhkan
bantuan, secara khusus mereka yang lemah dalam iman, miskin harapan, miskin
secara materi, dll. Di sini kita diajak untuk melihat dan memahmi bahwa di dalam
diri mereka yang miskin dan menderita Allah hadir secara nyata. Dengan berusaha
meringankan beban mereka yang miskin dan menderita, Gereja melayani Yesus
Kristus yang hadir dalam diri mereka, selain itu Gereja semakin dekat dan
mengenal Yesus secara lebih intens (Dokumen Konsili Vatikan II, 1993: 75).
Melalui penderitaan-Nya, manusia diselamatkan dari dosa. Dengan sengsara
“Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan penindasan Ia membuka telinga
mereka” (Ayb 36: 15). Karya penebusan Yesus Kristus sangat jelas
diaktualisasikan-Nya dalam kemiskinan dan penganiayaan, begitu juga Gereja
dipanggil untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Yesus
Kristus sendiri, sehingga buah-buah keselamatan dapat diterima oleh manusia.
b. Allah mendidik manusia melalui peristiwa penderitaan
Manusia diharapkan dapat terbuka pada Allah. Dengan penderitaan, manusia
mempunyai suatu buah pergulatan yang dalam. Sesuatu yang tidak dapat diganti
dengan apa pun. Penderitaan yang dialami membawa pesan bahwa sakit dan derita
ternyata memiliki nilainya sendiri. Pengalaman tersebut, menimbulkan rasa
solidaritas kepada sesama yang menderita. Rasa solider dan setia kawan dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
75
orang lain yang menderita merupakan ajakan Gereja untyk terlibat dalam hidup
masyarakat. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini
menjadi “kegembiraan dan harapan” duka dan kecemasan “ umat beriman. (GS art.
1a)
Allah tidak berteriak, berseru, atau memaksa kita untuk langsung mengikuti
Dia. Roh Allah sangat lembut seperti suara sayup-sayup atau hembusan angin
sepoi-sepoi. Roh yang penulis bicarakan ini adalah Roh Kasih. Roh Kasih adalah
Roh Allah sendiri, yang selalu membawa kita semakin dekat dengan kasih.
Beginila cara Allah menyapa manusia. Namun, seringkali manusia menolak
sapaan Allah. Manusia takut hanyut dan masuk dalam suasana kasih yang bias saja
menarik manusia pada hal yang tidak dia kehendaki. Maksudnya, manusia takut
apabila dengan menerima Roh Kasih, kebebasan yang dimilikinya berkurang
(Henry J, 1998: 12-13). Jika manusia takut menerima Roh kasih, manusia sulit
terbuka pada realita penderitaan yang terjadi disekitarnya, dia akan memilih untuk
berusaha menjauh dan menghindari pemandangan penderitaan yang ada di
hadapannya.
Pandangan Allah yang penuh kasih senantiasa tertuju pada manusia (Van
Breemen, 2000: 15). Kita harus mengakui segala keterbatasan kita dihadapan
Allah. Allah tidak pernah membiarkan anak yang dikasihinya mengalami
penderitaan tanpa makna. Kembali kita diingatkan bahwa Allah punya maksud
yang luar biasa atas pengalaman manusia yang menderita.
1) Penderitaan mengembangkan kepribadian manusia: menjadikan
manusia rendah hati
Melihat penderitaan dan kebahagiaan di dunia ini, orang mesti mengatakan
bahwa secara total kebahagiaan lebih banyak, dan kebahagiaan ini tidak dapat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
76
dicapai apabila seluruh penderitaan harus dijauhkan. Tanpa penderitaan fisis, kita
tidak akan mampu menikmati saat-saat bahagia kehidupan. Demikian juga halnya
dengan penderitaan moral dan batin. Tanpa penderitaan yang pernah dialami atau
dilihat, orang tidak akan memperoleh gagasan dan daya juang yang tinggi untuk
berperang melawan dan mengatasi penderitaan itu. Jangan sampai kita
berkesimpulan bahwa perkembangan di dunia ini tidak ada gunanya ( Budi
Kleden, 2006: 105).
Penderitaan membina kepribadian seseorang menjadi berkembang serta
tangguh. Bapa suci Yohanes Paulus II berkata: “…Penderitaan manusia
membangkitkan rasa belaskasihan; juga membangkitkan rasa hormat, dan dengan
caranya sendiri menimbulkan rasa takut. Karena di dalam penderitaan termuat
keagungan dari suatu misteri yang khusus…” (Salvifici Doloris art 4).
Sikap rendah hati Ayub ditampilkan. Dia yang takut akan Allah berkata:
“Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab, apakah yang dapat kuberikan kepadaMu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, dan tidak akan
kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan” (Ayb. 39: 37- 38). Sikap
tobat ini Ayub tunjukan setelah dia mengalami pencerahan baru, yakni setelah
Tuhan Allah sendiri dua kali menampakkan diri-Nya dalam teofani. Di sini Ayub
menyadari eksistensi dirinya sebagai yang hina di hadapan Allah.
2) Ditantang untuk ikut ambil bagian dalam mengatasi penderitaan:
solidaritas
Di dunia remaja ini, masih banyak saudara-saudari kita yang masih
membutuhkan pertolongan. Sebagai umat beriman kita harus memiliki hati nurani
yang peka terhadap penderitaan sesame. Tuhan Allah sendiri mengajarkan kita
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
77
untuk dapat saling mengasihi satu sama lain, dan juga mengasihi Dia yang
menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Bunda Teheresa adalah seorang tokoh
yang tergerak hatinya oleh belaskasihan untuk memberikan perhatian lebih
terhadap kaum miskin, lemah, dan tersingkir. Tokoh ini mempunyai keyakinan
bahwa apa yang ia lakukan terhadap saudaranya yang kecil, dia melakukannya
pada Tuhan yakni wujud cintanya kepada Tuhan Allah. Dengan kasih yang luar
biasa, Bunda Theresa menampung dan merawat orang-orang miskin, serta orangorang yang terkena penyakit menular seperti kusta. Penderitaan yang dialami oleh
penduduk culcuta menyentuh ke dalaman hati Bunda Teresa terpanggil untuk
membebaskan para penderita dengan cinta kasih yang dia kobarkan.
Konsekuensi iman sebagai pengikut Kristus adalah berusaha mewujudkan
imannya dalam tindakan nyata. Salah satu wadah perwujudan iman adalah
bersikap solider, rela dan setiakawan terhadap mereka yang menderita. Setiakawan
berarti masuk ke dalam situasi hidup si penderita. Ikut berjuang melawan
penderitaan agar orang yang menderita memperoleh kebebasan untuk hidup sesuai
dengan kehendak Allah. Cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memberi
peneguhan kepada mereka melalui katekese.
Gereja katolik didirikan oleh Kristus demi keselamatan semua orang; maka
Gereja terdorong oleh tugas dan kewajibannya untuk mewartakan kabar gembira
(DKV II: 52).
Sebagai makhluk social, manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Sudah
kodratnya bahwa manusia hidup di dunia saling membutuhkan satu sama lain.
Tuhan Allah menghendaki manusia untuk dapat hidup berdampingan secara
harmonis, saling mengasihi, saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Bapa Paus Yohanes Paulus II berkata: “…Penderitaan manusia membangkitkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
78
rasa belaskasihan; juga membangkitkan rasa hormat, dan dengan caranya sendiri
menimbulkan rasa takut. Karena di dalam penderitaan termuat keagungan dari
suatu misteri yang khusus…” (SD art. 4).
Konsekuensi iman sebagai pengikut Kristus adalah berusaha mewujudkan
imannya dalam tindakan nyata. Salah satu wadah perwujudan iman adalah
bersikap solider, rela dan setiakawan terhadap mereka yang menderita. Setiakawan
berarti masuk ke dalam situasi hidup si penderita. Ikut berjuang melawan
penderitaan agar orang yang menderita memperoleh kebebasan untuk hidup sesuai
dengan kehendak Tuhan. Cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memberi
peneguhan kepada mereka melalui katekese.
Rasa solider dan setia kawan dengan orang lain yang menderita merupakan
ajakan Gereja. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa
ini menjadi “kegembiraan dan harapan” duka dan kecemasan “ umat beriman. (GS
art. 1a)
Permasalahan-permasalahan penderitaan seperti bencana alam, kemiskinan,
kekerasan, ketidakadilan sering terjadi dan menimpa sesame kita manusia. Hal ini
menyebabkan mereka mengalami situasi yang sangat sulit dan memprihatinkan.
sebagai orang beriman kristiani kita diharapkan peka dalam menanggapi segala
persoalan tersebut. Kita ditantang untuk berani ambil bagian dalam mengatasi
penderitaan-penderitaan yang terjadi dengan cara terjun langsung memberikan
bantuan bagi saudara kita yang menderita entah itu dengan cara memberikan
peneguhan atau dengan cara memberikan bantuan berupa materil seperti sembako,
pakaian, dll. Sekecil apapun yang dapat kita lakukan untuk saudara kita yang
sedang menderita, kita memberikan berkat penghiburan kepada mereka, dan itu
dapat mengurangi penderitaan yang mereka hadapi.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
79
3) Kedewasaan iman
Seorang Kristiani sudah sepantasnya menemani Yesus yang menderita melalui
pola hidup penuh iman, bersaksi atas hidup Yesus Kristus. Manusia yang berusaha
menanggung penderitaannya sendiri, dan mempersatukan diri dengan penderitaan
Yesus Kristus adalah sikap manusia yang dewasa dalam iman, sehingga
menjadikan dirinya dapat meresapi kasih Allah (Diez Merino, 1982: 15).
Menurut Karl Rahner, kemampuan diri manusia untuk dapat menghargai
hidup, sekaligus beriman, bergantung pada mampu atau tidaknya ia merasa dan
yakin bahwa hidup yang diterimanya memiliki aspek yang positif. Seandainya,
dalam hidupnya ia selalu mengalami peristiwa pahit, maka akan menimbulkan
pergulatan batin yang menjadikan dia sulit untuk menghargai hidup, apalagi
mensyukurinya yang nota bene adalah anugerah dari Allah. Pernyataan inilah yang
menurut Karl Rahner, ateisme dapat dimengerti. Bagi orang beriman masalah
adanya penderitaan tidak dapat diabaikan begitu saja. Kita mempunyai
tanggungjawab untuk menemukan makna dari setiap pengalaman hidup yang kita
alami (Robini, 1998:14-15).
Dengan penderitaan, manusia mempunyai suatu buah pergumulan yang
dalam. Penderitaan yang dialami membawa pesan bahwa sakit dan derita ternyata
memiliki nilainya sendiri. Pengalaman tersebut, menimbulkan rasa solidaritas
kepada sesama yang mengalami penderitaan/menderita. Perlu disadari, seseorang
dapat bertumbuh dewasa dan berkembang dalam iman adalah pengaruh dari daya
aktifnya
seseorang
menanggapi
penderitaannya,
melalui
pergumulannya
berhadapan dengan penderitaan, lalu dapat mengatasinya (Atkinson, 2002: 167).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
80
Seseorang yang dewasa berani menerima/ menghadapi penderitaan. Orang
yang mampu menerima penderitaan dan dapat mengatasinya, dapat tumbuh
menjadi pribadi yang dewasa. Kemampuan untuk menerima penderitaan tidak
lepas dari iman. Seperti halnya dengan Yesus Kristus yang memilih menderita dan
wafat dikayu salib demi menanggung dosa umat manusia.
Allah selalu punya cara untuk memberi penghiburan kepada anaknya yang
sedang menderita, penghiburan tersebut dapat didatangkannya melalui orangorang disekitar kita, baik itu orang yang sudah kita kenal maupun orang yang tidak
sengaja kita jumpai. Allah itu baik, kasihNya tiada berkesudahan. Kita harus
mengakui bahwa terkadang hanya iman kita yang mampu menghantarkan kita
pada pengenalan terhadap sosok Allah yang penuh misteri dan Mahakasih. Allah
itu Maha Kasih. Allah jelas mengasihi kita. Seluruh alam ciptaan dan terutama
karya penyelamatan-Nya yang memuncak dalam pengutusan anak-Nya ke dunia
untuk mewartakan Kerajaan Allah dan untuk membebaskan umat manusia dari
belenggu dosa adalah bukti dari kasih Allah (Groenen, 1979: 17). Berikut ini
penulis akan memberi pemahaman mengenai makna dibalik penderitaan Ayub.
karena menurut penulis, ada hubungan antara penderitaan manusia dengan
penderitaan Ayub.
2.
Makna Penderitaan Ayub
Orang beriman kerapkali mensubyektivasikan penderitaan yang dialaminya
sebagai tanda kesetiakawanan dengan Kristus yang menderita. Namun harus
diingat, kitapun ikut serta dalam membuat adanya penderitaan dalam struktur
kedosaan di mana kita sendiri terlibat di dalamnya. Kita pun tetap bertanggung
jawab atas penderitaan kita sendiri dan orang lain. Maka mencari makna
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
81
penderitaan tetap relevan. Dalam Kitab Suci ada beberapa jawaban mengenai
akibat intrinsik dari perbuatan manusia (Ayb 4: 8), atau penderitaan sebagai
hukuman Allah (Ayb 4: 7), dan penderitaan sebagai sarana pendidikan atau
pemurnian (Keb1-6 terutama Keb 3: 5).
Penderitaan yang terjadi pada manusia seringkali dipahami sebagai hukuman
dari Allah atas dosa yang dilakukan oleh manusia. Memang benar bila penderitaan
dilihat sebagai akibat dari dosa, tetapi jika penderitaan dikaitkan dengan
kesalahan/kejahatan. Pada bagian ini kita diajak untuk melihat makna penderitaan
Ayub.
Bagi orang beriman, memaknai penderitaan manusia adalah sesuatu yang
wajib dilakukan. Hal ini dikarenakan umat Kristiani memegang tanggungjawab
yakni berani memberikan kesaksian iman yang dialaminya lewat pengalaman
hidup sehari-hari.
Tidak dapat dipungkiri, banyak saudara-saudari kita yang kehilangan iman,
keyakinan kepada Allah menjadi samar-samar dikarenakan penderitaan tragis yang
dialaminya. Kenyataan itu menjadi keprihatinan bagi kita. Allah tetaplah Allah
yang setia. Dia selalu menyertai umatnya dalam situasi apapun terutama dalam
penderitaan. Sebab Allah juga menderita dalam diri Putera-Nya. Keyakinan iman
inilah yang mendorong kita untuk merefleksikan pengalaman penderitaan yang
terjadi pada manusia, dengan maksud bahwa penderitaan tidak menjadi sesuatu
yang sia-sia dan tanpa makna (Robini, 1998: 15).
Penderitaan Ayub adalah ujian kesetiaannya. Tetapi baik Ayub maupun
sahabat-sahabatnya tidak mengetahuinya. Sahabat-sahabat itu memberi keterangan
yang lazim: kebahagiaan orang fasik hanya berlangsung sebentar saja, bdk Mzm
37 dan 73, dan kemalangan orang benar hanya menguji kebenarannya, bdk Kej
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
82
22:12; ataupun kemalangannya berupa hukuman atas kesalahan yang dilakukan
karena keterbatasan manusia saja, bdk Mzm 19:13; 25:7. Begitulah pendirian
sahabat-sahabat selama masih yakin bahwa Ayub seorang yang kurang lebih
benar. Tetapi jeritannya karena sengsara dan kedurhakaannya terhadap Allah
akhirnya sahabat-sahabat Ayub yakin bahwa dia terlalu fasik. Maka kemalangan
yang mendatangi Ayub menunjukan, bahwa ia seorang yang berbuat dosa berat.
Elihu, ia memperdalam pendirian ketiga sahabat itu: jikalau Allah
membiarkan seseorang, yang nampaknya benar, menderita, maka tujuannya ialah,
supaya ia mendapat kesempatan memulihkan dosa-dosa kelalaian atau kesalahan
yang tidak disengaja, atau - dan inilah sumbangan khas yang disampaikan Elihu
dalam bab 32-37 - supaya orang benar disembuhkan dari kesombongannya.
Namun sama seperti sengsara dan dosa pribadi, walaupun Elihu kurang keras
dalam ucapannya.
Pandangan tentang ‘menderita karena dosa’ bertumpu pada paham
keyakinan akan ‘keadilan Allah’ dan paham ‘pembalasan di bumi’. Kepercayaan
akan keadilan Allah bertumpu pada tindakan Allah mengganjar yang baik dan
menghukum yang jahat. Berpijak pada kepercayaan akan keadilan Allah dan
paham pembalasan di bumi, orang sampai pada kesimpulan bahwa bencana,
penyakit, penderitaan dan segala konsekuensinya adalah hukuman dari dosa.
pemikiran ini tertuang dalam buku-buku kebijaksanaan seperti Amsal(Ams 10-22;
25-29) dan Yesus bin Sirakh. Fakta bahwa orang-orang baik menderita dan mati
dibunuh, memicu refleksi seseorang untuk mempersoalkan kebenaran ‘paham
pembalasan di bumi’. Salah satunya Kitab Ayub. Kitab ini ingin memaparkan
diskusi yang sangat panjang yang menyajikan argumentasi bahwa paham
pembalasan di bumi tidak dapat dipertahankan lagi. Kitab Ayub mau menggugat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
83
ajaran tradisional yang berbicara bahwa penderitaan adalah akibat dari dosa. Kitab
Ayub mau menunjukan bahwa tidak ada hubungan langsung antara penderitaan
dan dosa. oleh karena itu, penderitaan tidak boleh secara langsung dikaitkan
dengan dosa (Stanislaus, 2008: 55-58).
Kitab Ayub ingin menunjukan sisi yang lain dari penderitaan, yakni
penderitaan orang benar. Kitab ini secara jelas ingin membongkar atau mengkritisi
pemahaman mengenai pembalasan di bumi sehubungan dengan pandangan
tradisonal yang berkeyakinan bahwa seseorang mengalami penderitaan adalah
akibat dari perbuatannya sendiri. Tetapi Kitab Ayub menyuguhkan gagasan baru
mengenai penderitaan.
a. Penderitaan Ayub Bukan Akibat Dosa Atau Hukuman Dari Allah
Penderitaan identik dengan sebab-akibat. Arti bahwa sesuatu terjadi pasti ada
dasarnya. Sebagai contoh misalnya penderitaan yang terjadi pada seseorang selalu
dihubungkan dengan perbuatan seseorang. Namun di sini, kita akan membahas
penderitaan manusia yang terjadi bukan karena perbuatan dosa atau tindakan
kriminalisasi yakni tokoh Ayub, melainkan mengenai orang benar yang menderita.
Pemikiran
tradisonal
mempengaruhi
pemahaman
manusia
bahwa
penderitaan yang menimpa manusia diakibatkan oleh perbuatan dosa. Allah sendiri
menjanjikan keselamatan bagi orang yang percaya dan mematuhi perintah-Nya,
sedangkan orang yang berbuat jahat akan diberi ganjaran sesuai dengan perbuatan
dosanya.
Teman-teman Ayub memiliki keyakinan bahwa tidak ada orang yang 100%
benar dihadapan Allah, sedangkan Ayub yakin bahwa dirinya secara keseluruhan
adalah benar dihadapan Allah. Teman-teman Ayub terlalu skeptis dalam
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
84
menanggapi keyakinan Ayub. Mereka sudah terlalu yakin pada pandangan
tradisonal, bahwa penderitaan adalah akibat dari dosa. Bagi mereka, orang yang
menderita adalah karena kesalahan mereka sendiri. Namun Ayub tetap bersikeras
mengatakan bahwa dirinya tidak pantas menderita karena dia tidak pernah
melakukan perbuatan yang tidak dikehendaki Allah.
Keyakinan Ayub mengenai kesalehannya mendorong dia untuk berusaha
supaya ia dapat berbicara dengan Allah “yang tidak memberi keadilan”
kepadadanya. Ayub memiliki keyakinan bahwa dalam suatu pembicaraan yang
jujur dan terbuka perselisihannya dengan Allah bias diselesaikan, sama seperti
suatu perkara antarmanusia seringkali bias diselesaikan secara damai. Namun,
Allah tidak memberikan kesempatan kepada Ayub, mungkin saja Allah punya cara
sendiri untuk menjawab pertanyaan Ayub dan sulit untuk ditangkap atau dipahami
oleh manusia yang terbatas seperti Ayub.
Kitab Ayub memberi gambaran lain mengenai penderitaan manusia, seakan
ingin membongkar paradigma tradisional berkaitan dengan sebab-akibat dari
penderitaan. Kitab yang penuh misteri ini ingin mengajak manusia berpikir dan
bersikap kritis mengenai maksud Allah mengapa membiarkan orang saleh bernama
Ayub harus menderita? Apakah benar Allah sungguh membiarkan hal itu terjadi?
Kitab Ayub tidak memecahkan masalah penderitaan, tetapi penderitaan akan
ditempatkan dalam misteri Allah sebagai sesuatu yang tidak selalu bisa dimengerti
manusia (W.Van der Weiden, 1995: 119). Kitab Ayub menyajikan kisah tentang
pengalaman penderitaan yang dialami orang tanpa berbuat dosa. Ayub adalah
sosok yang saleh dan takut akan Allah. Biasanya orang yang takut pada Allah,
sudah pasti dia orang beriman.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
85
Pemikiran
tradisonal
mempengaruhi
pemahaman
manusia
bahwa
penderitaan yang menimpa manusia diakibatkan oleh perbuatan dosa. Allah sendiri
menjanjikan keselamatan bagi orang yang percaya dan mematuhi perintah-Nya,
sedangkan orang yang berbuat jahat akan diberi ganjaran sesuai dengan perbuatan
dosanya.
Kitab Ayub memberi gambaran lain mengenai penderitaan manusia, seakan
ingin membongkar paradigma tradisional berkaitan dengan sebab-akibat dari
penderitaan. Kitab yang penuh misteri ini ingin mengajak manusia berpikir dan
bersikap kritis mengenai maksud Allah mengapa membiarkan orang saleh bernama
Ayub harus menderita?
Dalam mempelajari kitab ini, penderitaan dimaknai secara berbeda, bukan
semata-mata karena dosa si penderita, namun lebih-lebih berkaitan dengan maksud
Allah yang misteri, Allah yang transenden, membiarkan penderitaan terjadi pada
orang saleh (Atkinson, 2002: 54). Allah selalu bertindak sesuai dengan rencanaNya menjadikan dunia ini sempurna (Atkinson, 2002: 55). Tidak ada satupun dari
manusia yang dapat menyelami maksud Allah. Hal ini membuktikan bahwa
manusia makhluk yang sangat kerdil, terbatas dan bergantung pada Allah. Tidak
ada diantara manusia itu sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Allah Sang
Pencipta dan Mahakuasa (Atkinson, 2002: 54).
b. Penderitaan Ayub Membawa Pemahaman Baru Mengenai Allah Dan
Penderitaan Manusia
Allah itu Mahabaik, manusia tidak dihancurkan Allah. Ia hanya didik dan
dimurnikan oleh Allah. Setiap manusia berdosa dan harus dimurnikan. Jadi,
melalui penderitaan manusia dipulihkan oleh Allah (Robini, 1998, 36). Oleh
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
86
rahmat Allah, seseorang dapat menyadari kemalangannya sendiri, dan menyatakan
kelemahannya di hadapan Allah. Allah menarik orang berdosa. Dengan mengaku
diri orang berdosa, maka manusia menyerahkan diri kepada Allah yang
Maharahim. Seperti yang dilakukan Ayub, setelah terlalu keras pada pendapatnya
tidak mau dikatakan berdosa dia sempat meragukan keadilan dan belaskasih Allah,
namun akhirnya mengakui kelemahan dan kekurangannya di hadapan Allah.
Sikap rendah hati Ayub ditampilkan. Dia yang takut akan Allah berkata:
“Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab, apakah yang dapat kuberikan kepadaMu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, dan tidak akan
kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan”(Ayb. 39: 37- 38). Sikap
tobat ini Ayub tunjukan setelah dia mengalami pencerahan baru, yakni setelah
Tuhan Allah sendiri dua kali menampakkan diri-Nya dalam teofani. Di sini Ayub
menyadari eksistensi dirinya sebagai yang hina di hadapan Allah. Dengan
demikian, dia pun merasa pantas untuk menarik kembali tuduhannya dan segala
kata-katanya. Sikap Ayub itulah yang penulis anggap sebagai sikap pertobatan
Ayub. Ayub kembali pada kesadarannya yang dulu, yakni takut akan Allah.
Allah tetap menyertai umatnya dalam segala situasi, terutama sangat jelas
dan nyata dalam penderitaan, sebab Ia adalah Allah yang menderita di dalam diri
Putera-Nya. Dalam Ayb. 42: 1-6 Ayub menunjukan sikap pertobatannya, yakni
sebagai seorang beriman yang percaya kepada Tuhan Allah. Ayub akhirnya tahu
dan percaya bahwa Tuhan Allah sanggup melakukan apa pun yang dikehendakiNya, dan itu takkan gagal. Keyakinan Ayub didapatnya bukan semata-mata dari
orang lain, tetapi dia sendiri mendapatkannya sendiri langsung dari Allah lewat
teofani.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
87
Manusia adalah salah satu dari sekian banyak ciptaan Allah. Sebagai
makhluk ciptaan Allah, sudah sepantasnya kita memiliki kesadaran membangun
dan mengembangkan sikap tobat, sehingga kita semakin menyadari betapa besar
kasih karuniaNya. Iman kitalah yang dapat menyelamatkan kita dari penderitaan.
Perlu diketahui; iman bukan hasil usaha manusia sendiri, tetapi pemberian dari
Allah (rahmat).
Dengan sengsara Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan penindasan Ia
membuka telinga mereka (Ayb 36: 15). Allah mengembalikan segala milik Ayub,
bahkan diberi-Nya lebih daripada apa yang dimilikinya sebelumnya (lih. Ayb 42:
10-17).
Di dunia ini kita diharapkan untuk berani memberi kesaksian kepada sesame,
bahwa berhadapan dengan penderitaan yang sangat pahit sekalipun, hidup ini tetap
memiliki makna yang paling dalam (Robini, 1998: 15).
Penderitaan membawa orang pada pemahaman untuk beriman kepada Allah.
Melalui penderitaan, manusia dapat semain dekat dengan Allah. Apabila manusia
mampu memaknai peristiwa tersebut dengan iman dan pengharapannya kepada
Allah Sang sumber keselamatan hidup, maka pedneritaan dapat menjadi
pengalaman yang luar biasa berharga.
Dalam bagian teofani Ayub 38:1-42:6 kita dapat menangkap salah satu
pemecahan yang dapat dicapai perihal penderitaan yang disusulkan dalam Kitab
Ayub. Allah akan mengantarkan Ayub untuk memahami betapa besar dan
dalamnya misteri penderitaan manusia satu-satunya jalan adalah menyerah pada
kebaikan Yahwe dan kepada kebijaksanaan-Nya dalam dunia yang diciptakan-Nya
(18-20). Perlu kita sadari, hal pokok dalam iman adalah pengalaman menyerahkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
88
diri secara total kepada Allah. Iman adalah rasional bukan karena dibuktikan,
tetapi karena dipertanggungjawabkan (Iman Katolik Hal 131).
Iman
membebaskan
karena
memecahkan
belenggu
ketakutan
dan
kecurigaan. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak
terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas, menyapa dan
memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Hanya iman yang
sanggup menghantarkan orang mengenal dan merasakan kehadiran Allah dalam
situasi penderitaan yang dialami sesame maupun dirinya sendiri.
3.
Relevansi Penderitaan Ayub Bagi Penderitaan Kita
Memaknai, dalam hal ini termasuk memaknai penderitaan, menurut fore,
merupakan inti kehidupan manusia. Lebih lanjut bagi Fore, “Upaya mencari tahu
makna adalah upaya mencari tahu Allah” (2000: 1). Maka berlandaskan pemikiran
Fore tersebut, penulis akan menguraikan beberapa gambaran mengenai relevansi
penderitaan Ayub bagi penderitaan kita, sehingga iman kita akan Allah semakin
diteguhkan, terutama dalam situasi penderitaan hidup umat Kristiani zaman
sekarang.
a. Penderitaan, Dosa, dan Pertobatan
Budi Kleden (2006: 93) menuliskan bagaimana Agustinus beranggapan
bahwa penderitaan adalah sesuatu yang berada di luar rancangan Allah tentang
sebuah dunia yang harmonis. Di dalam dunia yang diciptakan dapat saja terjadi
hal-hal yang tidak direncanakan Allah dan tidak dikehendaki Allah. Namun
sebagai pencipta, Allah memiliki kesanggupan untuk memulihkan penyimpangan
itu dengan menjadikannya sarana pembelajaran, darinya manusia dapat semakin
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
89
mendalami rahasia ciptaan dan menekuni jalannya menuju Allah. Dan dia juga
menekankan kesanggupan Allah untuk menggunakan keburukan yang diciptakan
manusia menjadi sesuatu yang berguna. Artinya, meskipun Allah membiarkan
kejahatan terjadi di dunia ini, itu bukan berarti Allah tidak peduli kepada manusia,
hanya saja Allah menghendaki supaya manusia lebih menyadari dirinya sebagai
makhluk ciptaan yang terbatas, dan dapat dengan sadar dan bebas mencintai Dia
seperti Dia mencintai manusia.
Sengsara dan penderitaan bisa menjadi “sarana yang dipakai Allah untuk
mempertobatkan pendosa, sejauh orang tersebut melakukan kesalahan yang
melanggar kehendak Allah” (Wim, 1995: 192). Bapa suci Paus Yohanes Paulus II
memberikan pernyataan mengenai makna pertobatan yang dituangkannya di dalam
seri dok. Gerejawi no. 29 (SD Art 11) sebagai berikut:
“…Penderitaan harus berfungsi untuk pertobatan yaitu untuk membangun
kembali kebaikan dalam subyek, yang dapat mengenal belas kasih ilahi
dalam panggilan untuk bertobat tadi. Maksud pertobatan ialah untuk
mengalahkan kejahatan , yang dalam berbagai bentuknya masih ada dalam
diri manusia.”(hal 24)
Melalui pertobatannya, manusia kembali menempatkann diri dalam
keharmonisan ilahi. Pelanggaran dan dosa telah membawa manusia keluar dari
keutuhan dengan diri sendiri, sesama dan Allah. Maka, pertobatan yang lahir dari
pengalaman penderitaan, pada akhirnya memperbaiki lagi kehancuran tersebut.
Pandangan ini sering digunakan untuk mengolah pengalaman penderitaan secara
lebih bermakna. Rasa sakit dimaknai sebagai tanda peringatan bagi tubuh, dan
berbagai kekurangan dapat menjadi pengalaman berharga dalam proses
pendewasaan diri, serta kematian dilihat sebagai kemungkinan untuk menciptakan
ruang bagi kehidupan (Budi Kleden, 2006: 97).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
90
Dari penjelasan di atas, tentu saja muncul pertanyaan lain: “Bagaimana
dengan Ayub orang benar dan tidak berdosa tetapi menderita?
b. Penderitaan, Pengharapan, Perjuangan Dan Pembebasan
Melalui peristiwa penderitaan, orang dituntut untuk semakin menghayati
kehadiran Allah dalam hidupnya, sehingga menjadikan ia teguh dalam iman.
Dalam situasi yang sulit seperti apapun, orang beriman masih mempunyai
pengharapan dan semangat juang dalam menghadapi situasi penderitaan. Seperti
sama halnya yang dilakukan oleh Ayub, meski dalam keadaan penderitaan yang
sangat dahsyat, Ayub masih menyimpan harapan yang sangat mendalam kepada
Allah. Dia berharap bahwa Allah senantiasa mengasihi dia, memberi sedikit
keringanan atas penderitaannya. Ayub juga menunjukan keteguhan imannya dalam
pengharapan, meminta Allah untuk menjawab dia yang sedang dalam kesedihan
atas situasi dirinya yang sangat sekarat.
Dari uraian-uraian sebelumnya, kita dapat melihat hal yang menarik dari
Ayub. Ini jelas tampak pada bagaimana usahanya untuk membuktikan bahwa
dirinya benar. Di situ terlihat perjuangan Ayub di hadapan sahabat-sahabatnya.
Ayub dituduh berdosa, serta dianjurkan supaya mengakui kesalahannya dan
bertobat. Namun Ayub teguh pada keyakinannya, bahwa dia tidak bersalah. Hal itu
menimbulkan perdebatan diantara mereka. Perdebatan itu adalah sehubungan
dengan pandangan tradisional yang diyakini oleh sahabat-sahabat Ayub, dan
keyakinan Ayub yang dengan jujur berkata apa adanya bahwa pendapat temantemanya itu tidak sesuai dengan apa yang sedang dia hadapi. Dalam diri Ayub
muncul pertanyaan: “Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah aku lakukan
terhadap Engkau, ya penjaga manusia? mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
91
Mu,…” (Ayb 7: 20). Ayub bahkan tidak tahu di mana letak kesalahannya,
sehingga dia harus mengalami penderitaan.
Menurut penulis, sikap Ayub dapat menjadi teladan bagi kita, supaya tidak
menyerah atau pasrah ketika mengalami penderitaan. Sebaliknya, kita harus tetap
berjuang, berpengharapkan, serta dapat membebaskan diri kita dari situasi
penderitaan. Melalui perjuangan Ayub dihadapan sahabat-sahabatny ini, kita dapat
memetik maknanya bahwa hal ini menghantarkan dan menyadarkan kita supaya
ketika berhadapan dengan situasi yang sama, misalnya: tuduhan-tuduhan,
penindasan terhadap kita, kita tidak hanya diam dan menyerah pada keadaan yang
memojokan, tetapi sebaliknya kita harus berusaha, berjuang membebaskan diri
dari situasi yang tidak menyenangkan itu. Dikarenakan si penderita tidak layak
menderita, atau tidak layak menanggung penderitaan itu, berarti ada pihak lain
yang bertanggungjawab, yakni si penindas.
Dalam penderitaannya, si penderita harus berjuang membebaskan dirinya.
Hal ini tampak dari usaha keras Ayub untuk meyakinkan sahabat-sahabatnya
bahwa dia tidak bersalah. Hal inilah yang dapat penulis jadikan contoh konkret
mengenai alasan mengapa si penderita tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi
penderitaannya, minimal si penderita dapat mencari makna dari peristiwa tersebut,
supaya pengalaman penderitaan tetap memiliki nilai hidup. Usaha seperti itu dapat
diselaraskan dengan pemikiran Marx yang mengusulkan adanya revolusi terhadap
para kapitalis. Tentang hal ini juga dapat ditemukan dalam tulisan Magnis Suseno
yang membahas tentang pemikiran Marx yang menunjukan siapa yang seharusnya
memperjuangkan nasib kaum tertindas (1999: 81-86). Di sana dituliskan bahwa
yang tertindaslah yang harus berjuang membebaskan dirinya sendiri, sebagaimana
yang dilakukan oleh Ayub dihadapan sahabat-sahabatnya. Dapat dimengerti bahwa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
92
Ayub adalah tokoh inspiratif bagi perjuangan kita yang hidup di zaman sekarang,
terutama sebagai kaum miskin, tertindas, dan menderita.
Sesungguhnya penderitaan lebih bersifat afektif, artinya dapat mengundang
simpati orang yang melihat penderitaan sesamanya. Untuk itu penderitaan
mengundang solidaritas dan kerja sama dalam membebaskan situasi yang
menimbulkan penderitaan itu. Dapat dikatakan, dalam memperjuangkan kebebasan
dari penderitaan, orang tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri. Ketika melihat
saudaranya yang lain menderita, dia akan merasa simpati terhadap penderitaan
sesamanya, dan akhirnya dia merasakan penderitaan itu juga, dan ini mendorong
orang lain untuk bersikap simpati yang kemudian menimbulkan aksi. Aksi itu tidal
lain adalah ikut ambil bagian dalam berjuang membebaskan si penderita dari
penderitaannya.
Manusia akhirnya harus berjuang untuk setia kepada Allah bukan hanya
ketika sedang dalam keadaan yang menyenangkan, tetapi terutama dalam
kemalangan.
c. Penderitaan dan Penerimaan Diri Sebagai Makhluk yang Terbatas
Dia yang takut akan Allah berkata: “Sesungguhnya, aku ini terlalu hina;
jawab, apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan.
Satu kali aku berbicara, dan tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan
kulanjutkan”(Ayb. 39: 37- 38). Sikap tobat ini Ayub tunjukan setelah dia
mengalami pencerahan baru, yakni setelah Tuhan Allah sendiri dua kali
menampakkan diri-Nya dalam teofani. Di sini Ayub menyadari eksistensi dirinya
yang terbatas di hadapan Allah.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
93
Kita yang hidup di zaman sekarang, diajak untuk memiliki keteguhan iman
yang dalam seperti Ayub. dalam situasi yang sekarat Ayub masih percaya bahwa
Allah penebusnya hidup. Ayub yakin bahwa Allahnya yang hidup akan menolong
dia, membebaskan dia dari penderitaan yang sangat menyiksa dirinya.
Mengutip dari karya Paulus dari Salib: “Barangsiapa bersabar terhadap
kehendak Ilahi, dialah yang tersuci, karena penyerahan total kepada kehendak Ilahi
mengandung cinta sempurna, amal kasih dan cinta kepada Allah terdapat segala
keutamaan”.
Buah dari kesabaran adalah pengharapan yang mampu menjadikan seseorang
dapat menerima penderitaan yang menimpanya dengan penuh kerendahan hati
tanpa mengabaikan imannya kepada kuasa Tuhan Allah sumber kasih dan
kehidupan. Dengan begitu penderitaannya menjadi sedikit ringan.
Manusia adalah makhluk yang terbatas dan tidak dapat terpisahkan dari
permasalahan yang bersifat kompleks di dalam perjalanan hidup di dunia. Oleh
karena itu, manusia perlu berserah diri kepada Allah secara total, serta dengan
penuh kerendahan hati menerima penderitaan tersebut sebagai rahmat dari Allah
sebagai kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus.
Iman dapat menyelamatkan kita dari rasa berat dan siksa penderitaan yang
menimpa. Maksudnya adalah jika kita mampu menerima penderitaan tersebut dan
memaknainya sebagai suatu rahmat dari Allah guna untuk mendewasakan iman
kita, alhasil penderitaan tersebut akan terasa ringan. Hal itu dikarenakan kita
mengandalkan Allah dalam setiap perkara hidup kita. Di dalam iman ada kekuatan
yang tiada tara, terutama dalam mengambil sikap yang tepat sesuai dengan
keyakinan kita akan kebaikan Allah yang merupakan sumber kasih dan
keselamatan sejati.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
94
Ternyata, jika kita dapat terbuka pada kebaikan Allah, kita mempunyai
gagasan baru yang lebih hidup yaitu bahwa penderitaan bukanlah sebuah
hambatan untuk hidup bahagia. Orang akan memperoleh kekuatan dalam
menghadapi penderitaan. Oleh karena itu penderitaan hendaknya menjadi momen
bagi manusia untuk menyadari kehadiran Allah dalam hidupnya.
Akhirnya, penulis berpendapat bahwa untuk mendalami makna penderitaan
Ayub bagi penderitaan kita, kita selalu berpijak pada iman. Mengapa, karena
penderitaan Ayub hanya dapat dimaknai dengan iman. Untuk mengakhiri bab ini,
penulis akan menegaskan bahwa usaha memaknai penderitaan manusia menurut
pandangan iman kristiani, terutama belajar dari Kitab Ayub dan relevansinya bagi
orang Kristiani zaman sekarang, sebagaimana menjadi tujuan dari penulisan
skripsi ini sudah selesai. Selanjutnya, bab berikut akan membahas aplikasi
pemaknaan penderitaan yang telah di atas yakni mengenai Kitab Ayub, khususnya
melalui katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP), yang
digunakan sebagai tindak lanjut dari usaha pemaknaan atas penderitaan yang telah
di bicarakan dari bab 1-3.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
95
BAB IV
APLIKASI PEMAKNAAN PENDERITAAN DALAM KITAB AYUB
DENGAN KATEKESE PEMBEBASAN MODEL SHARED CHRISTIAN
PRAXIS (SCP)
Dalam Bab IV ini, penulis membagi pembicaraan menjadi tiga bagian yang
meliputi: panggilan dan pergulatan orang beriman dalam menghadapi penderitaan,
pokok-pokok gagasan berkatekese bagi orang Kristiani yang menderita di zaman
sekarang, dan katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP).
Bab ini merupakan tindak lanjut dari usaha pemaknaan atas penderitaan yang telah
dibicarakan pada bab-bab sebelumnya.
A. Panggilan dan Pergulatan orang beriman dalam menghadapi Penderitaan
1. Panggilan Manusia
Kemampuan manusia untuk berpikir merupakan cirinya yang khas (Michael
Polanyi, 2001: 15). Ada dua maksud panggilan manusia, yakni panggilan sebagai
sapaan dari Allah (gratio operans), dan panggilan sebagai jawaban manusia
(gratia cooperans). Sapaan Allah datang kepada manusia melalui perjumpaannya
dengan Allah. Allah sendiri yang mempunyai inisiatif untuk memanggil manusia
(Mardi Prasetya. 1992: 14).
Tanda-tanda sapaan Allah dapat direnungkan dari pribadi Kristus dan
pewahyuan-Nya, ajaran-ajaran Kristus yang secara nyata sampai pada kita melalui
wahyu Kitab Suci, ajaran Gereja, serta kesaksian-kesaksian hidup panggilan dalam
keluarga, pergaulan dengan teman, dan pergaulan dengan umat sekitar tempat
tinggal. Allah menyatakan diri kepada manusia melalui pertemuan pribadi. Dalam
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
96
pertemuan itu, Allah tidak memperkenalkan diri-Nya saja, tetapi juga
memperlihatkan rencana keselamatan-Nya. Wahyu Allah bukan sekedar informasi,
melainkan cara Allah berkomunikasi dengan manusia. Ini merupakan cara Allah
mengundang partisipasi manusia untuk ambil bagian dalam rencana penyelamatan
Allah. Manusia diajak bertemu dengan Allah dan hidup dalam kesatuan denganNya (KWI, 1996: 124). Pada akhir zaman Allah akan menghapus segala air mata:
maut tidak akan ada lagi; perkabungan, ratap tangis dan dukacita akan berlalu.’;
(Why 21: 4). Allah terus-menerus mewahyukan diri di dalam Gereja, komunitas,
dan orang-orang beriman: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam
Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18: 20). Kutipan injil itu
mau menunjukkan kepada kita bahwa Allah hadir melalui orang-orang yang ada di
sekitar kita. Ketika kita dirundung masalah entah itu berat atau ringan, Allah
senantiasa membantu kita menghadapinya. Bagaimana cara Allah membantu kita?
Tentu saja melalui saudara-saudari yang ada di sekitar kita. Perlu kita sadari bahwa
“pola hidup yang ditawarkan oleh injil adalah suatu usaha untuk mengartikan
hidup ini” (Setyakarjana, 1997: 11).
Untuk menjawab sapaan Allah, kita perlu mendengarkan dan terbuka
terhadap sapaan cinta Allah yang hadir melalui banyak cara. Dengan bersikap
terbuka, kita mampu melihat dan mengalami betapa Allah mencintai manusia, dan
menjadikan hidup manusia lantas lebih berarti, meski dalam situasi menderita
sekalipun. Melalui keterbukaan atas sapaan Allah, manusia semakin memahami
bahwa dengan beriman kepada Allah, dia dapat menemukan makna dari
pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam hidupnya (Setyakarjana, 1997: 11). .
Allah hadir lewat orang-orang yang miskin dan menderita. Mengapa? Karena
Allah sendiri adalah Allah yang menderita dalam diri Putera-Nya Yesus Kristus
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
97
(Robini, 1998: 15). Secara manusiawi dapat dikatakan bahwa Sang Pencipta sejak
semula ikut ‘bersedih’ atas penderitaan yang tidak dapat dihindari-Nya. Tentu saja
‘kesedihan illahi’ itu tidak sama seperti kesedihan manusia. Maka dalam arti
tertentu terdapat suatu solidaritas menderita antara Sang Pencipta dan makhluk
ciptaan-Nya. Solidaritas ini memuncak dalam pengorbanan nyawa yang diterima
Yesus Kristus secara sukarela demi manusia yang dikasihi, dan itu bertujuan untuk
membebaskan manusia dari segala penderitaan (Heuken, 2005: 169).
Pengalaman pribadi mengenai hubungan kita dengan Allah dapat melalui
banyak hal, salah satunya dari refleksi atas pengalaman hidup (Mardi Prasetya.
1992: 14). Manusia dianugerahi rahmat untuk bekerjasama menjawab sapaan
Allah, dan ini jelas dalam disposisi manusia secara maksimal diarahkan untuk
mencari kehendak Allah. Hasil akhir dari usaha mencari Allah adalah penyerahan
diri secara total kepada Allah, dengan melakukan kehendak-Nya yang penuh kasih
(Merino, 1989: 7).
Disposisi tersebut berupa kebebasan manusia sebagai ciptaan yang secitra
dengan-Nya, dengan kebebasan tersebut manusia dapat secara aktif memilih dan
bekerjasama dengan Allah atau bahkan menolak Allah. Bekerjasama dengan Allah
berarti manusia ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya. Caranya adalah
bersikap terbuka pada sesama, dan sanggup mewujudkan cinta kasih di tengah
dunia.
Manusia memiliki kemampuan-kemampuan berupa; kemampuan psiko-fisik,
kemampuan psiko-sosial, dan kemampuan spiritualitas-rasional. Kemampuankemampuan itu berkaitan dengan taraf kedewasaan pribadi manusia yang akan
menentukan kualitas jawabannya terhadap Allah. Hal ini disebabkan adanya
pengaruh disposisi intelektual, afektif, dan volutif. Orang dapat beriman dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
98
mengetahui banyak tentang iman, tetapi tidak tergerak untuk mencintai hal yang
diketahuinya, itu tidak ada artinya. Ini disebabkan oleh disposisi afektifnya tidak
dewasa, dan sebagainya; lebih-lebih bila integritas diri atau keutuhan pribadi tidak
tercapai dalam pertumbuhan hidupnya maka hal ini akan sangat menentukan mutu
jawaban. Selain itu, disposisi manusia menyangkut pada tindakan hidup seharihari, di mana seseorang mampu mewujudkan kesaksian hidup iman, bekerja secara
efektif terlibat dalam tugas Gereja membangun Kerajaan Allah di tengah dunia
(Mardi Prasetya, 1992: 15).
Dalam sejarah hidup manusia, baik secara profan maupun yang berdimensi
sejarah keselamatan, terjadi dialektika antara kecenderungan manusia yang
didorong oleh rahmat dan kecenderungan kepada dosa; sebuah medan hidup yang
terbentang antara kuasa Iblis dan Kuasa Allah.
Uraian di atas cukup memperlihatkan kepada kita bahwa manusia selalu
dihadapkan dengan pilihan-pilihan dalam hidup. Suka atau tidak suka, manusia
memang harus menentukan pilihan, jalan mana yang harus di tempuh. Mengikuti
kuasa setan atau kuasa Allah? Sebagai anggota Gereja, apa yang harus dilakukan
umat beriman dalam menanggapi panggilan hidupnya terutama ketika berhadapan
dengan penderitaan, bagaimana umat beriman menyikapi hal tersebut?
a. Manusia sebagai Pribadi
Manusia adalah pribadi. Setiap pribadi unik dan dipanggil Allah menuju
kesucian sebagai murid Yesus (Yes 14: 4). Manusia sebagai pribadi, dipanggil
Allah untuk ikut serta dalam memelihara keutuhan ciptaan. Secara personal,
manusia dicintai oleh Allah dan dipanggil untuk membangun relasi dengan Allah
(Banawiratma, 1994: 140).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
99
Panggilan menjadi murid Yesus Kristus menyangkut seluruh pribadi. Iman
menjiwai seluruh aspek kemanusiaannya. Panggilan itu tidak hanya bersifat
pribadi, tetapi juga berciri kebersamaan atau komunitas. Semua pengikut Kristus
disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, yakni dalam Gereja-Nya (Rukiyanto, 2012:
77).
b. Manusia Mencari Allah
Paulus dari Salib menggambarkan Allah sebagai seorang Bapa yang
mengulurkan tangan-Nya bagi manusia. Dalam peziarahan hidup ini manusia
mencari-cari Allah. Di mana Allah ketika gunung Merapi meletus dan
menewaskan banyak orang? Di mana Allah ketika Ayub menderita? Apa yang
harus saya lakukan untuk mengatasi permasalahan hidup ini? Pertanyaan ini sangat
sering diucapkan manusia yang mencari Allah. “Manusia mencari Allah dan Allah
mencari manusia”, manusia ibaratkan anak yang hilang dan Allah adalah Bapa
yang penuh belaskasih (Luk 15: 11-32). Seorang anak sering melakukan
kesalahan, tidak patuh, dan sering mengecewakan orang tua, tetapi “orang tua
tidak meninggalkan anaknya, sahabat tidak mengkhianati sahabatnya, dan Allah
itu Bapaku sekaligus sahabatku” (Carretto, 1989: 23).
Manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Jadi, tidak dapat dipungkiri
bahwa hubungan Allah dan manusia seperti “Ibu dan anak”, kerinduan manusia
akan Allah sudah terukir dalam hati manusia (KGK, 2007: 19). Hanya dalam Allah
manusia dapat menemukan kebenaran dan kebahagiaan yang dicari secara terusmenerus: “Martabat paling luhur manusia terletak pada panggilannya untuk
memasuki persekutuan dengan Allah…” (KGK, 2007: 19). Sejak dahulu, manusia
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
100
berusaha menemukan Allah dengan cara pandang iman dan pola hidup rohani
seperti berdoa, kurban, upacara dan meditasi.
c. Manusia Mencintai Allah dan Mencintai Sesama
Kebebasan adalah ciri manusia yang membuatnya melampaui makhluk
ciptaan lain. Kebebasan ini terungkap di dalam kesanggupan berpikir maupun
dalam kemampuan berkehendak. Untuk menjamin kebebasan itu, dibutuhkan
kemahakuasaan Allah (Budi Kleden, 1998: 247). Kemahakuasaan Allah sangat
dibutuhkan, karena tanpa kekuasaan Allah kekuasaan manusia menjadi absolute
dan tidak ada batasnya, dan orang yang tidak punya kuasa akan semakin menderita
(Budi Kleden, 1998: 249).
Dalam tindakan kasih kepada sesama, kasih kepada Allah menjadi nyata (lih
Mat 22: 37-39). Allah mengharapkan manusia dengan kehendak bebas yang Dia
berikan, manusia dapat secara bebas dan sadar saling mengasihi satu sama lain,
saling meneguhkan dalam setiap perkara hidup. Inilah salah satu panggilan
manusia, dan cara manusia menjawab panggilan Allah yakni dapat mencinta Allah
dan mencintai sesama. Mencintai sesama berarti juga mencintai Allah. Perlu
diketahui bahwa kasih kepada sesama bukan hanya sebatas relasi yang baik antara
satu sama lain, melainkan lebih dari itu yakni melalui pengalaman pribadi
hidupnya yang penuh misteri, manusia dapat menyadari keterbatasan dan
kelemahannya sendiri. Dalam kasih manusia mau menerima kenyataan itu juga di
dalam diri sesama (KWI, 1996: 191).
2. Pergulatan Orang Beriman dalam Penderitaan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manusia adalah ciptaan Allah
yang secitra dengan-Nya. Karena itu manusia diberi anugerah kebebasan dan akal
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
101
budi untuk menentukan pilihan hidupnya, termasuk pengalaman penderitaan, itu
adalah hasil dari pilihan bebas manusia sendiri.
Dari kebebasan manusia timbul kejahatan. Dalam gambaran yang
mengesankan,
Perjanjian
Lama
memperlihatkan
sumber
kejahatan
dan
kesengsaraan (Dreher,1973: 36). Ini adalah lukisan tentang jatuhnya manusia
dalam dosa. Masih ingat tentang dosa asal? Manusia pertama menolak hakikat
dirinya sebagai ciptaan. Hakikat dari ciptaan adalah terbatas dan tergantung pada
Sang Penciptanya. Namun manusia tidak menerima hakikat dirinya sebagai
ciptaan. Dengan bebas ia memutuskan untuk melanggar dan merusak batas-batas
yang telah ditetapkan oleh Sang Penciptanya; “Perempuan itu melihat…lalu ia
mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya
yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (Kej 3: 6). Inilah
awal dari dosa asal manusia.
Manusia tergiur oleh hawa nafsunya sendiri dan tidak peduli dengan aturan
yang ditentukan oleh Sang Penciptanya. Kesalahan manusia pertama adalah
menyalahgunakan kebebasan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Dengan sadar
dan bebas, manusia melepaskan diri dari rangkulan Allah. Ini terjadi karena
manusia
ingin
seperti
Allah
ketergantungannya kepada Allah,
dan
tidak
menerima
keterbatasan
dan
ini adalah unsur terdalam dari dosa asal
manusia yang berasal dari pilihan bebas manusia pertama (Stanislaus, 2008: 26).
Penjelasan tadi menunjukkan adanya ketegangan antara kedosaan dan
pertobatan untuk tetap memilih Allah, serta ketegangan antara usaha mencari
kehendak Allah dan kehendaknya sendiri. Seperti yang telah dituliskan
sebelumnya, bahwa ada dialektika antara kecenderungan manusia yang didorong
oleh rahmat dan kecenderungan kepada dosa (Mardi Prasetya, 1992: 15).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
102
Realitas hidup yang terjadi pada dunia dewasa ini, orang beriman sering
mengalami kesulitan dalam mengikuti suara hati. Padahal suara hati adalah bisikan
dari Allah sendiri. Secara tradisional, suara hati dipahami dalam pengertian
psikologis, yaitu “kesadaran”, dan dalam pengertian moral, yaitu kesadaran
tentang yang benar dan yang salah” (Billy dan Keating., 2009: 21).
Manusia memiliki keterbatasan pengetahuan untuk memahami maksud
Allah.
Dalam hidupnya sehari-hari, orang beriman selalu berhadapan dengan
berbagai masalah yang bervariasi, dan cara menyikapinya juga bervariasi.
Seringkali terjadi konflik dalam hidup bersama yang terkadang berciri patologi,
emosional, moral, rohani dan eksistensial. Semua itu menunjukkan kelemahan
kodrat manusia yang cenderung berpihak pada dosa (Mardi Prasetya, 1992: 16).
Allah telah menciptakan dunia baik adanya (Kej 1-2), dan Allah
menciptakan manusia secitra dengan-Nya (Kej 2: 7). Orang beriman percaya
bahwa Allah adalah Mahabaik. Segala yang direncanakan Allah adalah baik.
Segala yang berasal dari Allah itu baik. Bagaimana mungkin Allah membiarkan
manusia menderita? Allah tidak pernah merencanakan hal yang jahat untuk
menimpa manusia, karena Allah Mahacinta. Cinta Allah terbukti melalui anugerah
kebebasan dan kesadaran yang diberikan kepada manusia sebagai ciptaan yang
secitra dengan-Nya. Allah tidak pernah berpikir untuk merenggut kebahagiaan
manusia, justru sebaliknya. Allah ingin manusia terbebas dari penderitaan akibat
dosa. Cinta kasih Allah yang luar biasa juga terbukti ketika Allah mengirimkan
putra-Nya yang tunggal di tengah hidup manusia, untuk menyampaikan kabar
gembira Kerajaan Allah dan akhirnya sengsara dan wafat untuk menebus dosa
umat manusia. Jadi, sungguh bukan hal yang benar jika mengatakan penderitaan
semata-mata berasal dari Allah dan merupakan hukuman atas dosa manusia.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
103
Yesus menolak penderitaan sebagai hukuman atas dosa orang yang
menderita (Luk 13;2). Bila Kerajaan Allah sudah sampai pada kemuliaannya,
semua penderitaan terhapuskan. Yesus menyerahkan diri ke dalam tangan orang
jahat untuk menderita dan wafat di kayu Salib sebagai bukti ketaatan-Nya sampai
mati. Dengan demikian Yesus sebagai manusia sempurna mengalahkan segala
bentuk penolakan/ pemberontahan terhadap Allah dan mendamaikan dunia ciptaan
dengan Sang Pencipta. Manusia ditebus dari dosa, pangkal dari segala deritanya.
Umat Kristen perdana memandang penderitaan sebagai rahmat untuk ikut ambil
bagian dalam penderitaan Yesus Kristus dan dalam kemuliaan-Nya (Heuken,
2005: 168).
Setelah melihat bagaimana pergulatan orang beriman dalam menghadapi
penderitaan, akhirnya kita terdorong untuk menyikapinya secara tepat. Tentu saja
semua itu tidak terlepas dari iman. Berikut akan dijelaskan bagaimana seharusnya
kita sebagai orang Kristiani mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi
penderitaan hidup.
a. Kesadaran Untuk Beriman dan Terlibat Dalam Memperjuangkan
Martabat Manusia yang Menderita
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, manusia itu lemah, diciptakan
memiliki keterbatasan dan ketergantungan pada Allah Sang Pencipta (Stanislaus,
2008: 26). Namun manusia adalah makhluk kesayangan Allah yang paling
berbahagia karena diberi anugerah akal budi dan suara hati. Dengan akal budi dan
suara hatinya, manusia mempunyai kesadaran untuk menentukan pilihan dalam
hidup, termasuk kesadaran untuk beriman.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
104
Umat Kristiani dipanggil untuk beriman. Panggilan ini menumbuhkan sikap
hati
yang
pasrah,
aktif,
setia,
tekun,
mencintai
Allah
dan
sesama,
bertanggungjawab walau mengalami kesulitan, dan hidupnya berpusat pada
Kristus (Mardi Prasetya, 1992: 17). Allah menghendaki manusia untuk saling
mengasihi, dan ikut terlibat dalam memperjuangkan dan membebaskan sesamanya
KLMTD (kaum, miskin, tersingkir, lemah, dan difabel) dari ketidakadilan dan
kejahatan-kejahatan dunia.
Jika kita mencintai Allah, kita juga harus mencintai sesama manusia.
Mencintai Allah dapat kita wujudkan dengan cinta kepada sesama misalnya;
berupa perhatian, sikap murah hati, dst. Dalam injil Matius Allah berfirman “Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah
seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk
Aku.” (Mat. 25: 40) (Egan, 2001: 7). Allah menggambarkan dirinya sebagai orang
yang paling hina. Jadi, menurut penulis bahwa perbuatan baik atau buruk yang kita
lakukan di dunia ini, terutama kepada saudara kita KLMTD (Kaum lemah, miskin,
tersingkir, dan difabel) merupakan perbuatan yang kita lakukan langsung
menyentuh hati Allah. Hal ini juga sesuai dengan maksud dari ARDAS KAS 2011.
Selain memiliki kesadaran untuk beriman, kita juga hendaknya memiliki
sikap berani bersyukur dalam pengalaman penderitaan. Hal ini merupakan sikap
yang juga tidak dapat dilakukan tanpa iman. Dengan iman yang teguh kepada
Allah, kita dapat menghadapi penderitaan seberat apapun. Berikut penulis akan
memaparkan bagaimana orang beriman berani bersyukur dalam pengalaman
penderitaannya. Berani bersyukur adalah sikap yang mencerminkan kesetiaan
seseorang pada Allah.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
105
b. Berani Bersyukur dalam Pengalaman Penderitaan: Kesetiaan Orang
Beriman
Bagi orang beriman, penderitaan karena dosanya adalah konsekuensi.
Konsekuensi ini tidak semata-mata untuk menjadi penyesalan, namun sebaliknya,
sebagaimana dikatakan Yesus Kristus dalam “sabda bahagia di bukit”, penderitaan
itu patut disyukuri. Berikut sabda-Nya:
Berbahagialah orang yang dianiaya sebab kebenaran, karena merekalah yang
empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu jika karena Aku kamu dicela
dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan
bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah
dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu (Mat 5: 10-12; bdk. Luk 6: 20-23).
Selain dari perkataan Yesus dalam injil tersebut, kita juga dapat menemukan pesan
yang serupa dari Petrus dalam suratnya;
“13
…, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam
penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita
pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. 14Berbahagialah kamu, jika
kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah
ada padamu. 15Janganlah ada diantara kamu yang harus menderita sebagai
pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. 16 Tetapi, jika ia
menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan
hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu” (1 Pet 4: 13-16).
Menyadari hal itu, penderitaan karena iman bukanlah sesuatu yang sia-sia, dan
menjadi penyesalan melainkan suatu sarana yang dapat semakin mendekatkan
manusia dengan Sang Penciptanya. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk
percaya bahwa penderitaan memiliki nilai dan makna. Yesus sendiri adalah alasan
yang nyata bagi orang beriman untuk mengharapkan kebahagiaan, seperti janji
Kristus.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
106
B. Pokok-Pokok Gagasan Berkatekese bagi Orang Kristiani yang Menderita
Di Zaman Sekarang
Pada bagian ini, penulis akan memaparkan gagasan-gagasan dan sikap yang
diperlukan bagi katekis, serta gagasan-gagasan dan sikap yang perlu ditumbuhkan
dalam diri peserta katekese. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan inspirasi
kepada katekis supaya dapat menjalani proses katekese dengan baik, terarah dan
dapat menjawab kebutuhan peserta katekese. Selain itu, katekis juga dapat
menumbuhkan sikap iman yang tepat bagi para peserta, sehingga para peserta
dapat menyadari dirinya sebagai anggota Gereja yang memiliki tugas dan juga
kewajiban, misalnya: ikut terlibat dalam memperjuangkan hak-hak asasi manusia,
setiakawan ikut mengatasi atau menghadapi penderitaan sesame.
1. Gagasan dan Sikap yang Diperlukan bagi Katekis
a. Memahami Pengalaman Penderitaan Peserta
Penderitaan dapat menjadi sarana yang dipakai Allah untuk membuat
manusia lebih dekat dan lebih mengenal Dia. Arus globalisasi saat ini semakin
menyeret banyak orang terperosok ke dalam berbagai macam godaan yang
menghantarkan manusia kepada kesengsaraan. Manusia adalah makhluk lemah
yang mudah tergoda untuk jatuh dalam dosa. Namun, tidak jarang orang tidak
menyadari kesalahan yang dilakukan, bahkan ada yang menyalahkan Allah,
menantang Tuhan “kalau memang Tuhan sayang padaku, aku ingin Tuhan
memperlihatkan mujizatnya kepadaku saat ini juga”, ada juga yang menanyakan
keberadaan Tuhan “di mana Tuhan, saat bahaya menimpaku?”. inilah sisi dari
kelemahan dan keterbatasan manusia.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
107
Banyak sekali permasalahan yang terjadi dalam hidup manusia, dan
penderitaan itu memang tidak dapat lepas dari peradaban hidup manusia. Ada
penderitaan yang terjadi akibat orang lain, demi orang lain, karena diri sendiri,
penyakit menular dan bencana alam. Tidak hanya manusia yang menderita, Allah
juga menderita. Penderitaan Allah tampak jelas pada saat anak-Nya yang tunggal
yakni Yesus Kristus wafat di kayu salib . Namun, penderitaan Allah ini memiliki
Tujuan untuk membebaskan umat manusia dari dosa. hal ini merupakan bentuk
cinta-Nya kepada kita manusia. Kasih Allah [Bapa] kepada manusia [anak-Nya]
tidak pernah berkesudahan. Allah tidak akan membiarkan anak-anak-Nya
mengalami penderitaan yang tidak berarti, artinya walaupun seseorang menderita,
ada makna yang tersirat dibalik penderitaannya itu terutama demi kedewasaan
umat beriman, bagaimana mereka dapat melihat penderitaan tersebut sebagai
rahmat dari Allah. Menyambut rahmat Allah dapat membebaskan kita dengan
dorongan kuat untuk mendewasakan diri dari beban berat yang ditimbulkan oleh
penderitaan (Van Breemen, 2000)
b. Memahami Tugas Gereja dalam Menanggapi Penderitaan Manusia
Gereja mempunyai tugas penting dalam menanggapi penderitaan yang
terjadi di dunia. Untuk memahami sikap Gereja terhadap penderitaan dan mereka
yang menderita, perlu dilihat dalam konteks asal usul Gereja sebagai seluruh
peristiwa hidup Yesus: keprihatinan-Nya terutama berkaitan dengan Kerajaan
Allah, kesadaran-Nya tentang peranan-Nya sendiri dalam perwujudan Kerajaan
Allah, tindakan-tindakan-Nya, relasi-relasi-Nya dengan orang –orang pada
jamannya, permasalahan yang dialaminya, dan akhirnya sampai pada apa yang
disaksikan oleh para murid-Nya tentang kebangkitan-Nya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
108
Di dalam peristiwa Paskah, Yesus adalah realisasi dari Kerajaan Allah itu
sendiri. Tuhan Yesus telah memulai Gereja-Nya dengan mewartakan Kabar
Gembira yaitu tentang Kerajaan Allah. Peristiwa paskah melahirkan Gereja
sebagai umat Allah dalam Kristus yang merupakan peristiwa dari penyerahan total
Kristus (Wibowo Ardhi, 1993: 3).
Kerajaan Allah adalah suasana atau lingkup di mana Allah secara efektif
menjadi yang paling menentukan hidup manusia dalam relasinya dengan
sesamanya maupun dalam hidupnya sendiri. Kerajaan Allah mempengaruhi cara
pandang manusia terhadap dirinya sendiri, sesama, dan Allah. Bagi Yesus,
Kerajaan Allah adalah hal yang sangat penting dalam dunia. Yesus sendiri prihatin
melihat situasi penindasan, kemiskinan, ketidakadilan, dan bentuk kejahatankejahatan lainnya yang dialami oleh umat manusia. Penderitaan yang terjadi pada
manusia bukan karena Allah, tetapi karena sikap manusia yang terlalu keras, egois,
dan serakah. kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia menimbulkan keprihatinan
bagi Allah, sehingga dengan kemahakuasaan-Nya, Allah mengutus putera-Nya
Yesus Kristus untuk lahir ke dunia, menjelma sebagai manusia, dan
menyelamatkan manusia melalui pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah. Yesus
sendiri mempunyai pikiran bahwa dunia ini akan damai jika Allah meraja dalam
hati seluruh umat manusia (Wibowo Ardhi, 1993: 3).
2. Gagasan dan Sikap yang Perlu Ditumbuhkan dalam Diri Peserta
a. Menyadari Diri sebagai Makhluk yang Terbatas dan Dapat Melihat
Wajah Allah Pada Pengalaman Penderitaan
Dalam upaya memahami arti dari penderitaan, maka dituntut suatu
pemahaman manusia yang jernih mengenai hidup dan mengenai Allah. Karena
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
109
berhadapan dengan realitas kehidupan, sangat erat hubungannya dengan
pertanyaan mengenai arti, maksud, dan tujuan hidup ini.
Dalam dunia ini, manusia mempertanyakan apa arti, maksud dan tujuan
hidupnya. Di satu sisi, manusia mempunyai keinginginan akan: kesenangan,
kebahagiaan, dan akan sesuatu yang lain. Namun disisi lain, manusia memiliki
keterbatasan. Seandainya “ada sesuatu yang dicari”, apakah itu? Siapakah itu?
Hidup bukan sesuatu yang dipahami, tetapi harus dijalani. Manusia lahir ke dunia,
dari masa kanak-kanak menjadi tumbuh besar dan belajar. Dalam usaha mencapai
keberhasilan, tidak jarang manusia mengalami kegagalan. Akhirnya, manusia
menyadari dirinya sebagai makhluk yang terbatas dan lemah: terancam dapat
mengalami sakit, menderita dan berujung kematian. Hidup adalah realitas yang
perlu dijalani, tidaknya direnungkan saja.
Penderitaan dan kebahagiaan merupakan bagian dari kehidupan manusia.
oleh karena hal itu, manusia harus memiliki sikap yang tepat dalam
menghadapinya. Apakah penderitaan manusia merupakan akhir dari segalanya?
Tentu saja tidak, Allah tidak pernah menghendaki manusia menyerah pada
penderitaan. Manusia yang menderita harus menyadari bahwa ada tujuan yang lain
yang menjadi tujuan hidupnya, tentu saja hal itu adalah sesuatu yang lebih
bermakna. Hidup di dunia ini dapat menjadi lahan bagi manusia untuk lebih
mengenal dirinya, sesama dan Allah lewat penderitaan, kebahagiaan, kesuksesan,
kegagalan, dst. Makna hidup, perlu dicari dari pengalaman-pengalaman hidup.
b. Menerima Penderitaan sebagai Kenyataan Hidup
Kehidupan manusia diwarnai dengan berbagai macam penderitaan. Kalau
realitas penderitaan senantiasa mengiringi kehidupan manusia, maka pertanyaan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
110
yang mendasar adalah bagaimana sebaiknya sikap manusia terhadap realitas
penderitaan? Menyerah atau menerima saja kenyataan yang tidak dapat dihindari?
Atau bahkan mengajukan protes, memberontak atau menggugat hal tersebut?
Pada hakikatnya, pengalaman penderitaan itu tampak begitu kejam sehingga
sukar untuk diterima, terlebih jika penderitaan yang menimpa orang itu kurang adil
dan tidak pada tempatnya, apalagi jika tidak dapat dipahami secara rasional.
Berhadapan dengan realitas penderitaan, manusia cenderung melakukan
perlawanan terhadap penderitaan. Mengutip ucapan Bapa Suci Yohanes Paulus II
mengenai hal berhadapan dengan penderitaan: “…’penderitaan agaknya secara
khusus bersifat hakiki bagi kodrat manusia…,justru karena hal itu, menampakkan
dengan caranya sendiri mengatasinya… “ (SD art 2). Penulis menangapi maksud
pernyataan itu; setiap penderitaan manusia dapat diatasi dengan caranya sendiri,
karena di dunia ini tidak ada masalah tanpa solusi, semua tergantung pada pribadi,
sanggup atau tidak menerima segala konsekuensi yang akan terjadi sesudahnya.
Suatu ketika orang akan sampai pada pertanyaan yang berkaitan dengan arti
dan makna hidup manusia. Pertanyaan tentang hidup manusia dengan segala
permasalahannya yang kompleks sebagai realitas dari peristiwa hidup. Berhadapan
dengan realitas penderitaan, manusia cenderung melakukan perlawanan terhadap
penderitaan. Namun ternyata kesusahan menciptakan pemberontakan. Manusia
tidak menghendaki pengalaman menderita, kalau saja bisa dilakukan, manusia
akan membuang itu jauh-jauh. Tetapi, itu adalah tindakan yang sia-sia. Manusia
berhadapan dengan kegagalan, kekosongan dan frustasi.
Sikap yang tepat adalah menyadari diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
memiliki keterbatasan, menyerahkan diri secara penuh kepada kehendak Tuhan
(Tuhan yang mengatur, Tuhan yang memberi dan Tuhanlah yang mengambil),
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
111
artinya menerima bahwa apapun yang terjadi kepada manusia (pengalaman
menyenangkan atau menyedihkan) adalah kehendak Tuhan. Sikap lain yang dapat
dilakukan adalah menerima bahwa penderitaan merupakan bagian dari hidup
manusia. Dalam hal ini perlawanan tetap mengambil peran dalam proses
penyerahan, tetapi dalam artian perlawanan itu dapat membebaskan dan
menyelamatkan oleh iman manusia akan Allah.
c. Menyadari Diri sebagai Anggota Gereja
1) Ikut Memperjuangkan Hak-Hak Asasi Manusia
Bagi orang beriman kristiani, memperjuangkan hak-hak asasi manusia adalah
salah satu panggilan sebagai anggota Gereja di mana Yesus Kristus sebagai
kepalanya. Semakin bersatu dengan Kristus dan semakin serupa dengan-Nya
berarti semakin masuk dalam kepedulian-Nya, yakni Kerajaan Allah. Tugas pokok
Yesus Kristus adalah memperjuangkan Kerajaan Allah, kuasa, dan tindakan Allah
yang menyelamatkan manusia agar manusia semakin utuh dalam iman yang
kemudian dapat membawa manusia pada jalan kebenaran (Banawiratma, 1994:
141).
2) Setiakawan Melawan Penderitaan Sesama
Konsekuensi iman sebagai pengikut Kristus adalah berusaha mewujudkan
imannya dalam tindakan nyata. Salah satu wadah perwujudan iman adalah rela dan
setiakawan terhadap mereka yang menderita. Setiakawan berarti ikut masuk dalam
situasi si penderita, serta ikut berjuang melawan penderitaan sehingga saudara/I
kita yang menderita dapat memperoleh kebebasan untuk hidup sesuai dengan
kehendak Allah.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
112
Berpola pada pengertian Gereja sebagai “umat Allah”, kita berasal dari
Allah, umat kesayangan Allah yang mempunyai tujuan serta fungsi melayani
rencana penyelamatan Allah di dunia ini. Rencana Allah adalah “ingin membawa
manusia hidup seperti Bapa mencintai Putra, dan Putra mencintai Bapa (1 Yoh 1:
1-4). Demikian pula Allah merangkul semua manusia tanpa kecuali. Namun
kenyataan yang terjadi adalah perpecahan antara kaum miskin dan kaya, yang
bahagia dan menderita.
Realitas hidup manusia di zaman sekarang, membuktikan bahwa terdapat
pengkotak-kotakan,
pengelompokan-pengelompokan,
dan
kelas-kelas
yang
diciptakan oleh masyarakat. Ada manusia yang diberi nama: tuna susila atau
pelacur, gelandangan, golongan A, B, C. Ada yang disebut penderita kusta,
narapidana, dst. Kelompok-kelompok manusia ini, sering di pandang sebagai
orang yang kurang baik, dihina dan disingkirkan dari pergaulan manusia biasa,
yang merasa diri lebih suci atau saleh.
Berhadapan dengan situasi tersebut di atas, setiap orang yang telah ditebus
dari penderitaan, harus ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam diri
saudara-saudara yang menderita, karena Kristus hadir dalam penderitaan mereka
(SD art 19). Sesungguhnya ajakan setiakawan dengan mereka yang menderita,
juga merupakan tuntutan injil: dan Raja itu akan menjawab mereka: “Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang
dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat
25: 40). Terhadap mereka yang tidak melaksanakannya, Tuhan akan menjawab
mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu
lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini kamu tidak melakukannya
juga untuk Aku (Mat 25: 45). Dalam kutipan injil tersebut, sangat jelas bahwa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
113
Yesus hadir dalam penderitaan orang-orang yang hina, miskin dan tertindas.
Mereka ini memanggil untuk diperhatikan.
Tindak lanjut dari pemahaman akan ajakan Gereja dan Injil tersebut di atas
adalah setiap orang harus aktif menolong orang yang menderita dalam tindakan
konkret.
C. Katekese Pembebasan dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)
Sebagai Alternative dalam Menanggapi Penderitaan Orang Kristiani
Bagian ini berisi penjelasan mengenai katekese pembebasan dengan model
Shared Christian Praxis (SCP) yang merupakan usaha penulis untuk memperjelas
tindaklanjut dari pemaknaan penderitaan yang telah dibahas pada bab-bab
sebelumnya.
1. Gambaran Katekese secara Umum
Dalam seluruh perutusan Gereja, penyelenggaraan katekese selalu dipandang
sebagai salah satu tugas utama. Hal ini bertujuan untuk membantu umat dalam
mengembangkan iman akan Yesus sesabagai Putera Allah. Kepercayaan itu
membuat umat hidup dalam nama-Nya (Yoh 20: 31).
Sesudah Yesus bangkit, dan sebelum Dia naik menghadap Bapa-Nya, Ia
menyampaikan pesan kepada para Rasul perihal perintah-Nya yang terakhir.
Perintah tersebut tercatat di dalam injil Matius 28: 19-20, begini bunyinya:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai akhir zaman” (CT art 1 hal 9).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
114
Tuhan Yesus mengutus para Rasul untuk dengan berwibawa menjelaskan
apa yang telah diajarkan-Nya kepada mereka, dan Dia mencurahkan Roh kepada
mereka untuk menjalankan misi tersebut. Tidak lama kemudian, istilah “katekese”
digunakan untuk merangkum seluruh usaha Gereja memperoleh murid-murid,
untuk membantu umat mengimani bahwa Yesus adalah Putera Allah yang tunggal
dan kudus, sehingga dengan beriman umat manusia beroleh kehidupan di dalam
nama-Nya, dan untuk membina serta mendidik mereka dalam perihal hidup, dan
dengan demikian Tubuh Kristus terbentuk (CT Art 1).
Melalui katekese Gereja mengembangkan diri serta mengaktualisasikan
panggilan dan perutusannya yaitu dengan cara membina, mendidik, dan
mengajarkan kepada seluruh umat beriman mengenai misteri Yesus Kristus.
Sebagai pembinaan iman, katekese bertujuan membantu umat beriman kristiani
untuk menghayati dan mewujudkan imannya di dalam hidup konkret, iman yang
dewasa, aktif, dan misioner. Oleh karena itu, katekese berusaha menolong setiap
umat beriman kristiani untuk saling bertukar pengalaman iman atau komunikasi
iman. Pengalaman yang dikomunikasikan ialah iman Gereja Perdana (Kitab Suci),
iman Gereja sepanjang masa (tradisi), serta iman pribadi dan kelompok (Huber,
1979: 10). Dengan begitu, katekese membantu semua umat kristiani untuk
memperoleh keselamatan yang berasal dari Yesus Kristus.
Sebagai anggota Gereja, kita juga diajak untuk ambil bagian dalam
mewartakan kabar baik kepada sesama manusia, dengan bersaksi atas pengalaman
iman yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Sebagai umat Kristiani kita juga
terpanggil untuk dapat membantu saudara-saudar kita yang mengalami kesulitan;
krisis iman, krisis kasih, dan yang sedang mengalami pergulatan iman dalam
menyikapi permasalahan hidupnya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
115
a. Pengertian Katekese secara Umum
Kata katekese berasal dari kata Yunani catechein (kt. Kerja) dan catechesis
(kt. Benda). Akar katanya adalah kat dan echo. Kat artinya keluar, ke arah luas dan
echo artinya gema/gaung. Berarti makna profan dari katekese adalah suatu gema
yang diperdengarkan/disampaikan kepada umat manusia. Gema dapat terjadi jika
ada suara yang penuh dengan keyakinan dan gema tidak pernah berhenti pada satu
arah, maka katekese juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan tidak
pernah berhenti pada satu arah. Dalam Kitab Suci, katekese dimengerti sebagai
pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman supaya orang semakin dewasa
dalam iman (lih. Luk. 1: 4; Kis. 18: 25; Kis. 21: 21; Rom. 2: 18; I Kor. 14: 19; dan
Gal. 6: 6). Segala usaha pewartaan injil dan penyampaiaan ajaran Gereja berkaitan
dengan Kerajaan Allah di dunia disebut katekese (Rukiyanto, 2012: 59).
Seluruh Katekese bersifat kristosentris) artinya menempatkan Yesus Kristus
sebagai pusatnya. Itu berarti jantung hati katekese adalah Yesus Kristus. Di dalam
katekese secara sungguh-sungguh katekis dan seluruh umat secara bersama
mendalami misteri hidup dan cinta kasihNya. Kita ingin lebih mengenali
pribadiNya dan menjalin hubungan yang mendalam denganNya (CT,5-6.
b. Isi Katekese
Isi katekese adalah seluruh pengalaman hidup Yesus Kristus termasuk
ajaran-Nya. Pelaku katekese tidak menyampaikan ajarannya sendiri, tetapi
kebenaran dan ajaran Kristus (CT 5-6; PUK 97). Artinya katekese harus bersifat
Kristosentris atau berpusat pada pribadi Kristus. Dalam katekese perlu ditekankan
bahwa Kristus adalah lilin, cahaya bagi hidup manusia\serta jawaban atas
persoalan-persoalan hidup manusia. Jadi, dalam katekese, pelaku katekese wajib
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
116
memberikan penjelasan secara lengkap tentang peristiwa Yesus Kristus, anugerah
keselamatan yang dibawa-Nya, serta penebusan dosa bagi umat manusia.
(Rukiyanto, 2012: 61).
Isi katekese pada hakikatnya adalah kabar gembira tentang keselamatan
yang terwujud dalam diri Yesus Kristus. Katekese harus menyampaikan pesan
kabar gembira Yesus Kristus. Tanpa pesan ini, katekese akan menjadi hampa dan
tidak berarti. Hal ini ditegaskan oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II, sbb:
“Karena katekese merupakan suatu momen atau aspek dalam pewartaan
Injil isinya juga tidak dapat lain kecuali isi pewartaan Injil sendiri secara
menyeluruh . satu-satunya amanat, yakni Warta Gembira keselamatan yang
telah didengar sekali atau ratusan kali, dan telah diterima seratus kali, dan
telah diterima dengan setulus hati, dalam katekese terus-menerus dijalani
melalui refleksi dan studi sistematis, melalui kesadaran akan gema
pemantulannya dalam kehidupan pribadi seseorang, suatu kesadaran yang
meminta komitmen yang semakin penuh dan dengan mengintegrasikannya
dalam keseluruhan yang organis dan selaras, yakni peri hidup Kristen
dalam masyarakat dan dunia” (CT, art. 26).
Melalui isi dalam katekese itulah, umat beriman diberikan peneguhan akan
keselamatan yang abadi. Diharapkan semuanya itu semakin memantapkan umat
beriman untuk terus mengikuti Yesus Kristus. Umat beriman meyakini bahwa
Yesus Kristus adalah satu-satunya penyelamat yang penuh kasih dan setia
membimbing, menjaga dan menyertai hidup manusia. kabar gembira itulah yang
menjadi sumber iman dan pengharapan setiap umat beriman.
“Bahkan Yesus Kristus sendiri dalam pewartaan-Nya menampilkan diri
sebagai tokoh penyelamat dan pembebas bagi umatNya. Ia adalah
representasi/penampakan Allah, sakramen Allah penyelamat yang paling
sempurna. “Allah telah mendamaikan dunia dengan diriNya karena dan
dalam Kristus” (II Kor. 5: 18-19). Disitu saya melihat bahwa tema
pembebasan ini sangat sesuai untuk katekese kita di Indonesia.” (Huber,
1979: 41).
Sejak awal kita telah membicarakan tentang penderitaan. Dari tema penderitaan
tersebut, kita diajak untuk menemukan makna dibalik tema tersebut. Banyaknya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
117
realitas penderitaan dalam hidup ini, sebagai manusia yang berakal-budi dan
sekaligus makhluk reflektif, penulis mengajak kita semua untuk dapat menyikapi/
menanggapi realitas tersebut melalui katekese pembebasan yang penulis tawarkan
dalam penulisan skripsi ini.
“Katekese berarti ingin tolong-menolong supaya dapat belajar dari iman.
Katekese juga menjelaskan bahwa iman akan tawaran keselamatan Allah
dalam Yesus Kristus adalah suatu kemungkinan di dalam hidup yang sangat
berarti. Di segala jaman, manusia selalu ditantang oleh pertanyaan mengenai
arti hidupnya. Dan katekese ingin menolong manusia menyadari bahwa
hidup ini ditopang oleh cinta kasih Allah sendiri, bahwa di dalam hidup ini
terdapatlah kekuatan yang membebaskan, membaharui, yaitu: Allah.”
(Huber, 1979: 41).
Perlu kita ingat bahwa Yesus Kristus adalah tokoh penyelamat dan pembebas
manusia yang nyata. Kita sebagai umat-nya juga dituntut untuk dapat meneruskan
karya penyelamatan-Nya dengan bersikap peduli pada penderitaan sesama.
c. Tujuan Katekese
Tujuan utama katekese adalah membantu umat Kristiani membangun relasi
yang hangat dalam kesatuan dengan Yesus Kristus (CT 5). Dengan begitu, umat
Kristiani memutuskan untuk mengikuti Kristus, belajar berpikir dan bertindak
seperti Dia, sehingga iman umat semakin diperteguh dan dihayati dalam hidup
sehari-hari. Menurut Bapa Suci Yohanes Paulus II, tujuan katekese adalah sbb:
“Pada intinya katekese sungguh perlu baik bagi pendewasaan iman maupun
bagi kesaksian umat Kristen di tengah masyarakat. Tujuannya ialah
mendampingi umat Kristen untuk meraih kesatuan iman serta pengertian
akan Putera Allah, kedewasaan pribadi manusia, dan tingkat pertumbuhan
yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Katekese bertujuan juga menyiapkan
mereka untuk membela diri terhadap siapapun yang meminta
pertanggungjawaban dan harapan yang ada pada mereka” (CT, art. 20).
Arah katekese umat bermula dari pengalaman, kemudian direfleksikan di
dalam terang iman dan diusahakan agar sampai pada pengalaman baru yang lebih
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
118
baik. Melalui kesaksian, umat saling membantu meneguhkan iman saudaranya.
Melalui katekese, umat juga diharapkan semakin antusias menghayati imannya di
dalam pergulatan hidup sehari-hari sehingga makin peka mengenali karya Allah di
tengah-tengahnya dan juga makin peduli pada penderitaan sesamanya lebih-lebih
yang miskin dan menderita.
Menjadi pengikut Kristus berarti bersedia ikut ambil bagian dalam tugas
pewartaan-Nya dengan ikut berjuang mewujudkan Kerajaan Allah di tengahtengah hidup manusia, dan senantiasa mengandalkan Dia dalam hidup sehari-hari
(CT, art. 20). Sedangkan secara khusus katekese memiliki tujuan untuk
mengembangkan iman umat (yang masih dalam tahap awal), memelihara,
merawat, dan mempertumbuhkan iman dalam pengetahuan dan dalam hidup
kristiani pada umumnya (CT, art. 20).
Pada umumnya setiap kegiatan yang dilakukan manusia memiliki tujuan.
Sama halnya dengan katekese. Sebelumnya sudah dijelaskan pengertian dari
Katekese dalam Kitab Suci, yakni dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman,
dan pendidikan iman supaya orang semakin dewasa dalam iman. Hal tersebut
merupakan usaha Gereja untuk menghantarkan umat Kristiani pada tercapainya
tujuan katekese.
d. Prinsip Katekese
Prinsip katekese adalah berusaha untuk mencapai suatu tujuan yang dicitacitakan demi perkembangan iman Gereja. Usaha katekese merupakan tanggung
jawab seluruh umat sebagai Gereja, yakni mementingkan “proses” (bukan hasil
yang langsung/”instan”). Dengan kata lain : yang lebih utama adalah bukan
“target”/”hasil” yang sudah dicapai, melainkan “proses” untuk memperoleh hasil
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
119
yang maksimal. Katekese tidak hanya mengajarkan iman, tetapi berusaha
mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh sampai mencapai kepenuhannya.
Katekese sebagai salah satu tugas pastoral Gereja, bila dilihat dari segi proses,
terjadi dengan saling membagikan pengalaman iman (Huber, 1981: 15). Adapun
menurut PKKI II komunikasi iman dilaksanakan dengan tujuan:
“Supaya dalam terang injil kita semakin meresapi arti dan pengalamanpengalaman kita sehari-hari; kita bertobat; (metanoia) kepada Allah dan
semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari;
dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan
cinta kasih, dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita, pula kita semakin
bersatu dengan Kristus; makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas
Gereja setempat dan menokohkan Gereja semesta; sehingga kita sanggup
memberikan kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah
mmasyarakat” (Huber, 1979: 16)
Sarana maupun metode katekese yang diupayakan, semuanya bertujuan
untuk memudahkan terjadinya komunikasi iman. Pemikiran bahwa dalam
pertemuan katekese “yang penting asal diisi dengan banyak kegiatan bagi umat”
bertentangan dengan prinsip suatu proses katekese yang bertanggung jawab.
Katekese hanya salah satu dari upaya-upaya pastoral secara menyeluruh.
Proses perkembangan iman harus dilengkapi dengan upaya-upaya pastoral
yang lain. Seperti membebaskan kaum lemah dan tertindas dapat bangkit dari
keterpurukan hidup di tengah masyarakat yang menganggap kerdil terhadap orangorang kecil yang semakin menderita di tempat di mana seharusnya ia dapat hidup
tenang, bahagia dan merasa aman.
Katekese bertolak pada pengalaman konkrit peserta, dengan begitu peserta
dapat menghayati pengalaman hidupnya, tentu saja tidak terlepas dari terang injil
yang berpusat pada Yesus Kristus.
Katekese membantu orang menghayati imannya dalam situasi aktual (orang
mampu mewujudkan imannya secara konkrit dalam hidup, ada integritas antara
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
120
iman dan hidup bersama orang lain). Katekese berupaya mendorong umat untuk
membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama maupun lingkungannya.
Dalam hal ini, proses katekese yang bertujuan mematangkan dan
mendewasakan iman harus dilaksanakan secara sadar dan terencana dengan penuh
tanggung jawab. Katekese harus memperhitungkan situasi peserta (latar belakang,
psokologi, minat, kebutuhannya dan antropologisnya). Maka dari itu, katekese
harus menjadi lebih kontekstual (Setyakarjana, 1997: 67).
Proses katekese adalah proses pendidikan iman yang membebaskan. Dalam
proses katekese setiap pribadi dihargai martabatnya sederajat, dimana setiap orang
bebas mengungkapkan pengalaman imannya tanpa rasa takut. Dalam hal ini setiap
pengalaman iman dari masing-masing pribadi harus dilihat sebagai pengalaman
yang dapat memperkaya pengalaman iman sesamanya dalam proses berkatekese
(Rukiyanto, 2012: 73).
Katekese diharapkan membangun iman yang “terlibat’ (mendorong “aksi”).
Pendamping katekese sebagai “fasilitator” yang memudahkan terjadinya
komunikasi iman. Untuk itu, tidak tepatlah kalau pendamping bertindak sebagai
orang yang ‘maha tahu’ apalagi sebagai penceramah yang mendominasi proses
pertemuan. Proses katekese harus mampu menyentuh pengalaman hidup seharihari ataupun pengalaman iman peserta sebagai medan pertemuan manusia dengan
Allah (Rukiyanto, 2012: 73).
e. Subjek Katekese
Katekese adalah karya Gereja yang mendasar. Gereja dipanggil untuk
melanjutkan tugas Yesus, Sang Guru, diutus menjadi pengajar iman, dan dengan
dijiwai oleh Roh Kudus. Oleh karena itu subyek katekese adalah Gereja. Iman
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
121
yang diajarkan oleh Gereja dalam iman yang dihidupi oleh Gereja itu sendiri,
yaitu; pemahaman tentang Allah dan rencana penyelamatan-Nya, pandangan
tentang manusia adalah ciptaan yang paling mulia, warta Kerajaan Allah, serta
harapan dan kasih (Komisi Kateketik KWI, 2000: 1).
f. Objek Katekiese
Tujuan definitif katekese adalah bukan hanya membuat orang saling
berkomunikasi, melainkan juga dapat bersatu dan membangun kemesraan dengan
Yesus Kristus. Segala kegiatan mewartakan Kabar Gembira dimengerti sebagai
usaha mempererat kesatuan dengan Yesus Kristus. Mulai dengan pertobatan
‘awal’ seseorang kepada Allah, yang digerakan oleh Roh Kudus melalui pewartaan
Injil yang pertama, katekese berusaha mengukuhkan dan mematangkan kesetiaan
manusia (Komisi Kateketik KWI, 2000: 2). Menurut penulis, hal inilah yang
merupakan objek dari katekese.
g. Fungsi Katekese
Katekese berfungsi sebagai pendidikan iman. Artinya katekese berusaha agar
hidup umat beriman secara pribadi dan jemaat berkembang semakin matang,
membebaskan,
bertanggungjawab,
dan
kreatif
mengembangkan
imannya.
Katekese juga membimbing dan membina orang beriman dalam kehidupan
kristiani yang mendalam, menumbuhkan dan mendorong orang beriman untuk
terlibat dalam hidup bersama, baik secara pribadi, maupun dalam hidup
persekutuan. Secara lebih luas, katekese ikut bertanggungjaab dalam membangun
dunia yang lebih baik, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah semakin terwujud dalam
kehidupan setiap hari (Seri Puskat No. 97, 1972: 8)..
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
122
Katekese juga membawa orang beriman kepada kesadaran untuk semakin
terlibat dalam persoalan-persoalan dan pergulatan hidup konkret yang dialami
dalam masyarakat. Terlibat secara aktif dalam perjuangan bersama dan memberI
makna dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.
Iman Kristiani harus menyentuh pergumulan hidup dengan segala
permasalahannya,
sebagai
gambaran
atas
tawaran
kasih
Allah
untuk
menyelamatkan manusia. Meskipun manusia berada dalam situasi penderitaan atau
dalam keadaan apapun, ia dapat menemukan bahwa Allah selalu setia beserta
manusia. Katekese membina umat untuk semakin mengenal dan merasakan
kehadiran Allah dalam perjalanan hidupnya di dunia, serta diajak untuk peduli dan
solider terhadap nasib sesama, dan ikut memperjuangkan hak asasi manusia. Iman
kristiani diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui pelayanan terhadap saudara
yang miskin dan menderita tanpa memandang suku dan agama. Pelayanan dapat
berupa pelayanan sabda. Pelayan sabda adalah tindakan gerejani (“Eklesial”),
suatu fungsi pastoral. Melalui itulah sabda Allah disampaikan dengan berbagai
cara dan bentuk, dengan tujuan membina, memberi semangat dan memupuk iman
secara mendalam.
2. Katekese Pembebasan
Hidup sangat berharga. Oleh karena itu manusia selalu berusaha
mempertahankan hidupnya. Jika ia sakit dan terancam nyawanya, ia selalu
mencoba mempertahankan hidupnya dengan obat, perawatan, bila perlu dengan
senjata. Tetapi ada juga manusia yang pasrah pada nasib malang yang menimpa
dirinya. Hal ini menjadi keprihatinan Gereja, sehingga mendorong Gereja untuk
melakukan tindakan yang dapat membebaskan orang-orang yang menderita
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
123
dengan harapan supaya hidup mereka menjadi lebih baik dan penuh harapan
(KWI, 1996: 1).
Perlu kita ketahui bahwa cita-cita Kristus yaitu Kerajaan Allah yang merajai
dunia, maksudnya adalah Allah menghendaki semua orang memperoleh
keselamatan, dan keselamatan itu dapat menjadi cita-cita Gereja yang paling utama
(Wibowo Ardhi, 1993: 7). Bagaimana usaha yang dapat Gereja lakukan bagi
keselamatan semua orang? Menurut penulis, Gereja dapat mengusahakan suatu
tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah adalah
mempersatukan manusia dalam Kristus (Ef 1: 10) (Wibowo Ardhi, 1993: 7).
Sebagai usaha Gereja untuk mempersatukan manusia dengan Kristus adalah
misalnya dapat melalui: pewartaan kabar gembira bagi seluruh umat manusia,
menjadi saksi kepada sesama, serta dapat mengusahakan suatu katekese yang
kontekstual terutama bagi umat manusia yang sering berhadapan dengan realitas
penderitaan. Menurut penulis, katekese yang cocok untuk permasalahanpermasalahan hidup manusia zaman sekarang adalah katekese pembebasan. Hal ini
mengingat bahwa pewartaan Kerajaan Allah oleh Gereja mewujud dalam upaya
membebaskan
manusia
dari
segala
bentuk
kejahatan
dan
penindasan
(Krispurwana, 2011: 25).
Di sini kita betitik tolak dari pengalaman mendalam mengenai kebebasan
Kristiani. Kristus sebagai tokoh utama “Pembebas kita”, telah membebaskan kita
dari perbudakan dosa. dengan demikian, hidup baru dalam rahmat adalah hasil dari
pembebasan yang dilakukan oleh Kristus. Di sini penulis melihat bahwa kebebasan
dalam arti kristiani adalah hidup dalam Roh, artinya tidak bersikap seenaknya
mengikuti keinginan-keinginan daging seperti: bersikap seenaknya pada orang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
124
lain, mengambil hak orang lain untuk kesenangan pribadi. Kebebasan adalah suatu
hidup dalam cinta kasih, kepada Allah dan Sesama.
Pada
bagian
latar
belakang
penulisan
skripsi
ini,
penulis
telah
menggambarkan realitas dunia yang semakin kacau, permasalahan yang berkaitan
dengan penderitaan kerapkali terjadi. Realitas penderitaan tersebut, mendorong
kita untuk mencari makna dibalik semua peristiwa-peristiwa penderitaan;
kekerasan, penindasan, ketidakadilan dan pelecehan yang terjadi dalam tatanan
hidup
ini.
Dalam
situasi
Gereja
yang
seperti
itu,
Gereja
terpanggil
memperjuangkan hidup mereka yang lemah, tersingkir dan difabel. Itu adalah
bagian dari tugas perutusan Gereja untuk mewartakan serta membela kehidupan
dan martabat manusia. Gereja akan menentang segala tindakan yang tidak sesuai
dengan kehendak Allah (Krispurwana, 2011: 25).
a. Isi Katekese Pembebasan
Isi katekese pembebasan adalah keselamatan dan pembebasan di dalam
Allah dan Yesus Kristus. Dari Kitab Suci kita dapat belajar menghargai dan
mengingat serta menyadari kembali setiap kegiatan pewartaan para nabi dan para
rasul tentang pewartaan. Inti pewartaan para nabi selalu berkisar pada Yhwe
sebagai pembebas umat yang dikasihi-Nya: “siarkanlah itu sampai ke ujung bumi,
katakanlah Tuhan telah menebus Yakub hamba-Nya (Is. 48: 20). Sedangkan dalam
pewartaan rasul-rasul, Yesus Kristus dan karya keselamatan-Nya menjadi isi
pokok pewartaan mereka: “Jadi, ketahuilah saudara-saudara, oleh karena Dialah
maka diberikan kepada kamu pengampunan dosa. dan di dalam Dialah setiap
orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa yang tidak dapat
kamu peroleh dari hukum Musa” (Kis. 13: 38-39).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
125
Sehubungan dengan isi katekese pembebasan, Huber (1979: 41) menulis
pernyataan, sbb:
“Bahkan Yesus Kristus sendiri dalam pewartaan-Nya menampilkan diri
sebagai tokoh penyelamat dan pembebas bagi umatNya. Ia adalah
representasi/penampakan Allah, sakramen Allah penyelamat yang paling
sempurna. “Allah telah mendamaikan dunia dengan diriNya karena dan
dalam Kristus” (II Kor. 5: 18-19). Disitu saya melihat bahwa tema
pembebasan ini sangat sesuai untuk katekese kita di Indonesia.…katekese
ingin menolong manusia menyadari bahwa hidup ini ditopang oleh cinta
kasih Allah sendiri, bahwa di dalam hidup ini terdapatlah kekuatan yang
membebaskan, membaharui, yaitu Allah ” (Huber, 1979: 41).
Sebab itu, katekese kita di Indonesia dewasa ini harus banyak berbicara dan
menekankan bahwa keselamatan dan pembebasan justru terdapat di dalam Allah
dan Yesus Kristus Putera-Nya. Menurut penulis, katekese jaman sekarang harus
dapat menjawab kebutuhan umat kristiani, dengan kesanggupan
untuk
menawarkan keselamatan bagi banyak orang. Hal ini juga sesuai dengan kehendak
Allah dan Yesus Kristus Putera-Nya, serta merupakan cita-cita Gereja.
b. Tujuan dan Sasaran Katekese Pembebasan
Tujuan dan sasaran dari katekese pembebasan adalah memerdekakan anakanak Allah dari segala perbudakan dosa dalam bidang kebudayaan, ekonomi,
sosial, dan politik. Selain itu katekese pembebasan juga memiliki cita-cita dan
harapan untuk membebaskan umat manusia dari berbagai bentuk penderitaan yang
terjadi dalam hidupnya (Hadiwikarta, 1985: 7).
Penjelasan di atas merupakan usaha penulis untuk beranjak dari realitas
permasalahan ketidakadilan yang terjadi dan belum teratasi sampai sekarang.
Sebagai bentuk keprihatinan inilah, penulis tergerak hati untuk memberikan
sumbangan pemikiran, sekurang-kurangnya dapat membantu umat kristiani yang
ingin atau mempunyai kepekaan yang sama dalam mengurangi kasus ketidakadilan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
126
yang menyebabkan penderitaan umat manusia, entah itu penderitaan yang
menimpa dirinya ataupun orang lain. Sesuai dengan pemahaman Gereja sebagai
Umat Allah yang dibentuk atas inisiatif Allah sendiri (lih. Kel. 19: 5-6), ambil
bagian dalam suatu hubungan akrab dengan Allah, turut serta dalam keprihatinanNya bagi umat manusia. Gereja merupakan bagian dari dunia. Apapun yang terjadi
di dunia merupakan tanggungjawab seluruh umat beriman.
Pembebasan dalam konteks ini dipahami sebagai suatu upaya mendirikan
suatu tatanan sosial baru yang akan menghapus struktur-struktur sosial yang
menindas orang-orang kecil, dan menciptakan suatu masyarakat di mana semua
orang dapat hidup berdampingan secara damai tanpa ada aturan tingkat struktur
sosial atau pemisahan status sosial, dan diskriminasi gender.
Pada bagian ini, penulis akan menguraikan beberapa hal mengenai dasardasar katekese pembebasan, pemahaman katekese secara umum, , serta mengenai
tujuan dan fungsi dari katekese pembebasan yang penulis pilih sebagai aplikasi
untuk menanggapi pengalaman penderitaan yang dialami oleh umat beriman.
c. Dasar-dasar Katekese Pembebasan
Persoalan-persoalan penderitaan yang telah dibicarakan pada bab-bab
sebelumnya, hendaknya ditindaklanjuti. Oleh karena itu, penulis menggunakan
katekese pembebasan
sebagai usaha penerapan pemaknaan pada realitas
penderitaan-penderitaan manusia yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya.
Hal ini juga merupakan suatu usaha untuk membantu umat Kristiani dalam
menyikapi atau menanggapi penderitaan-penderitaan yang terjadi di zaman
sekarang.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
127
1) Dasar Teologi
Bagi Gutierrez (1973) teologi bukan merupakan kebijaksanaan, bukan pula
pengetahuan rasional, melainkan refleksi kritis atas praksis yang diterangi oleh
Sabda Injil. Menurut Gutierrez (1973), motivasi terdalam dari berteologi ialah
membiarkan diri kita dinilai oleh Sabda Allah (Nitiprawiro, 1987: 38). Dengan
berpikir melalui iman, kita memperkuat cinta dan harapan kita. Sebagai orang
Kristiani, kita dipanggil untuk sebuah praksis yang definitive, yaitu kasih,
tindakan, dan komitmen untuk memberi pelayanan kepada sesama manusia. di
Amerika Latin berarti praksis pembebasan dari belenggu sosial, ekonomi, dan
politik dari sistem masyarakat dan dari dosa struktural yang merusak hubungan
manusia dengan Allah. teologi harus menjadi kritis dalam terang injil, baik
terhadap masyarakat umum maupun terhadap Gereja sebagai institusi. Oleh karena
itu, teologi bertugas untuk membebaskan kedua kelembagaan tersebut dari
keberhalaan dan alienasi (Nitiprawiro, 1987: 39).
Katekese dan teologi dapat dikatakan sebagai dua hal yang
terpisahkan
tetapi sangat dekat berhubungan. keduanya saling terkait. Keterkaitannya terlebih
pada keduanya sebagai pelayan iman (Horst, 1973: 5), pelayan injil, atau pelayan
berita pembebasan manusia (Horst, 1973: 14). Menyadari kedekatan itu, terkadang
ada yang menganggap katekese sebagai teologi praktis (Adisusanto, 2000: 22-25).
Namun demikian, katekese memiliki kekhasannya sendiri yang membedakannya
dari teologi. Dalam prakteknya, katekese lebih cenderung memilih jalan yang
sederhana dibandingkan dengan teologi. Hal ini bukan berarti bahwa katekese
adalah penyederhanaan atau bentuk sederhana dari teologi; salah satunya adalah
penggunaan bahasa dalam berkatekese yang berbeda dengan teologi yang tidak
mudah dimengerti begitu saja oleh kebanyakan kaum awam. Selain itu,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
128
dibandingkan dengan katekese yang lebih bertujuan pada umat yaitu kedewasaan
iman umat (PKKI II No. 1), tentu saja tanpa mengabaikan segi pengetahuan,
teologi lebih sistematis dalam merefleksikan iman.
Dalam teologi, kita
berusaha menyelami misteri penyelamatan manusia
yang oleh Allah sendiri. Begitu juga dengan berkatekese, kita berusaha menyelami
misteri penyelamatan Allah bersama-sama dengan orang yang kita layani. Teologi
harus berlangsung dalam “communio”
atau persekutuan iman, sebagai
komunikasi iman dengan Gereja (Tradisi). Di dalam katekese, persekutuan iman
diaktualisasikan melalui komunikasi iman, dengan maksud untuk membina
penghayatan iman sesama (Hardawiryana,1985: 7).
Injil Yesus Kristus merupakan pewartaan mengenai kebebasan dan kekuatan
untuk pembebasan. Pembebasan pertama-tama dan terutama berarti pembebasan
dari perbudakan dosa yang sudah sangat berakar dalam kehidupan umat manusia.
Untuk dapat membedakan dengan jelas apa yang fundamental dalam persoalan ini
dan apa yang merupakan akibat sampingannya, umat beriman mutlak perlu
mengadakan refleksi teologis mengenai pembebasan (Hadiwikarta, 1985: 7).
2) Dasar Psikologis
Katekese yang dilaksanakan di dalam kehidupan umat tidak semata-mata
bertujuan demi umat secara “communio”, namun akhirnya akan menuju kepada
perkembangan masing-masing umat secara pribadi. Orang dewasa menyadari
bahwa manusia mempunyai nilai selaras dengan nilai hatinya (dalam arti Kitab
Suci, istilah itu berarti pusat kepribadian spiritualitasnya). Inilah pusat pribadi
manusia. seorang pribadi yang dewasa, sadar bahwa ia bertanggungjawab atas
kehidupannya. Dengan begitu, aspek personalitas dari umat pantas mendapatkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
129
perhatian,sehingga umat yang mengalami permasalahan dalam hidupnya dapat
menemukan solusi yang tepat (Pradnjawidya, Seri Puskat 3: 7). Oleh sebab itu
secara psikologis, katekese dituntut mampu menyentuh kebutuhan dasar dari
pribadi tersebut. Hal ini adalah wajar, sebab umat sebagai pribadi pada hakikinya
akan menjalankan hidup sehari-hari dengan cara dan situasinya sendiri, karena
Tuhan
telah
menciptakan
manusia
sedemikian
rupa
sehingga
mampu
mengusahakan perkembangannya sendiri (Seri Puskat 34,Dicker, 1972: 8). Untuk
itulah maka katekese perlu memiliki dasar psikologis demi perkembangan iman
dari aspek psikologi umat beriman secara pribadi.
Iman yang diungkapkan dalam Gereja harus diwujudkan dalam dunia,
misalnya: menghargai martabat manusia (Krispurwana, 2011: 3). Orang beriman
adalah anggota Gereja yang mempunyai tugas konkret sebagai wujud dasar
imannya, dengan menegakkan keadilan di tengah dunia melalui perjuangan
membebaskan manusia dari segala bentuk kejahatan; penindasan, ketidakadilan
terhadap hak dan martabat seseorang yang terjadi oleh tatanan masyarakat (yang
kuat itulah yang berkuasa) (Krispurwana, 2011: 25).
Secara psikologi, setiap orang termasuk umat beriman telah memiliki potensi
untuk mengalami kepenuhan atau terpenuhinya harapan untuk membebaskan diri
dari belenggu, pergulatan selama berhadapan dengan penderitaan, baik secara fisik
maupun mental/batiniah. Artinya, suatu pembebasan dapat kita rasakan apabila
kita mempunyai suatu harapan dan iman kepada Dia yang Maha kasih, sebab
Allah adalah sumber keselamatan sejati.
3) Dasar Sosiologis
Dalam tradisi pemikiran keagamaan, selain dosa pribadi, kita mengenal dosa
sosial, dosa yang telah membentuk struktur yang menjadikan pribadi-pribadi di
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
130
dalamnya sulit untuk terlepas dari dosa. ini disebabkan dosanya sudah menyatu
dengan struktur, maka hal semacam ini tidak dapat diatasi dengan usaha-usaha
pribadi saja, tetapi harus dijalankan secara structural. Demikian pula dalam tradisi
orang Kristiani yang disebut Perjanjian Lama. Dalam PL, dosa itu berlapis, dari
dosa pribadi, dosa ekonomi, dosa sosial, dosa politik, dosa hukum, dosa budaya,
bahkan dosa dari segala dosa, yakni dikenal dengan dosa asal. Dosa-dosa yang
berlembaga dan berbentuk system inilah yang dipahami oleh masyarakat Amerika
Latin sebagai sesuatu yang meninda, mempermiskin, memperbodoh, dan
mengintimidasi, serta membunuh dengan kekerasan spiral semakin meningkat
intensitasnya (Wahono, 2000: xxvi).
Dalam pembahasan di atas, dituliskan bahwa umat beriman itu hidup sebagai
komunitas. Dapat dikatakan bahwa kita, umat beriman, sebagai makhluk sosial
tidak dapat hidup tanpa orang lain. Artinya, ia selalu berada dalam relasinya
dengan orang lain. Iman berkembang dalam pengakuan “communio” atau
persekutuan iman (kesaksian) di tengah masyarakat (Huber, 1979: 60). Oleh
karena itu iman individual dapat hidup dan dipahami dalam suatu komunitas
beriman. Penulis juga mengutip ungkapan Paulus: “Sebab sama seperti pada satu
tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai
tugas yang sama, demikianlah juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di
dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap
yang lain” (Rom. 12:4-5), dan itulah yang dimaksud dengan Gereja Kristus, yakni
kita menjadi satu tubuh di dalam Kristus, dan Kristus sebagai kepalanya (bdk Ef.
1: 22; 4: 15; Kol. 1: 18). Kenyataan ini menuntut sikap-sikap pula atas keberadaan
sang subjek atau umat beriman di antara sesamanya. Dengan demikian segi sosial
dari kehidupan pribadi umat perlu digambarkan. Maka pertanyaannya: dasar
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
131
sosiologis apakah yang dapat diungkapkan untuk melandasi tumbuh dan
berkembangnya kesadaran umat beriman sebagai komunitas? Dan secara khusus
bagi katekese pembebasan, bagaimana aspek sosial dapat menunjukan adanya
pembebasan bagi suatu komunitas umat beriman, bahkan untuk manusia umumnya
di dalam hidup bermasyarakat?
Perlu diketahui bahwa agama Kristen
dimengerti sebagai agama sosial,
karena mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial. Gereja dan dunia tidak
lagi dipahami sebagai dua entitas yang bertentangan satu sama lain, melainkan
sebagai dua aspek kehidupan yang saling menstransformasi satu sama lain.
Sebagai konsekuensinya, hubungan yang erat antara agama dan politik, antar Allah
dan masyarakat, antara teologi dan analisis sosial, antara pembebasan dan
penyelamatan, antara ekaristi dan keadlian, kini semakin disadari di kalangan
kaum beriman kristiani (Baskara, 1995: 15-16). Perlu kita pahami bahwa jalan
yang ditempuh Gereja adalah jalan yang dilewati manusia untuk membangun
kehidupan pribadi dan social yang lebih baik (Krispurwana, 2011: 3).
Dalam pembahasan tentang dasar sosiologis katekese pembebasan ini,
penulis akan mengambil model masyarakat yang disebut dengan Gereja Kristus.
Maksudnya, sebagai orang beriman dengan memusatkan diri kepada Yesus
Kristus, otomatis hanya berharap kepada-Nya untuk membebaskan belenggubelenggu dalam kehidupan. Dan tidah hanya berharap, kita juga harus memiliki
iman yang penuh dan mendalam terhadap Dia. Masyarakat yang di cita-citakan
adalah masyarakat yang beriman kepada Allah, meletakkan segala perkara
hidupnya hanya kepada-Nya sehingga Kerajaan Allah dapat terwujud di tengah
kehidupan masyarakat.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
132
3. Katekese Pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP)
a. Alasan Pemilihan Model Katekese Pembebasan
Alasan penulis memilih katekese pembebasan dengan model Shared
Christian Praxis adalah mengingat bahwa judul skripsi ini berbicara tentang
realitas penderitaan manusia, maka penulis melihat bahwa katekese pembebasan
dengan model ini sangat tepat digunakan sebagai sumbangan untuk membantu
umat kristiani dalam menanggapi penderitaan yang terjadi di zaman sekarang.
Untuk semakin memperjelas maksud penulis memilih model ini, berikut penulis
akan menjelaskan secara singkat tiga komponen pokok dari model Shared
Christian Praxis:
b. Tiga Komponen Pokok
1) Praksis
Praksis mengacu pada tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk
tercapainya suatu keterlibatan baru yang dilahirkan oleh kesadaran historis dan
refleksi kritis, yang didalamnya juga terkandung proses kesatuan dialektis antara
praktek dan teori yaitu kreativitas. Kreativitas merupakan perpaduan antara
aktivitas dan refleksi yang menekankan dinamika praksis yang terus berkembang
melahirkankan praksis baru (Heryatno W.W., 1997: 2).
2) Kristiani
Katekese dengan “Shared Christian Praxis” mencoba mengusahakan supaya
kekayaan iman kristiani sepanjang sejarah dan visinya semakin terjangkau, dekat
dan relevan untuk kehidupan umat kristiani pada zaman sekarang. Kekayaan iman
yang ditekankan dalam model ini meliputi dua unsure pokok yaitu pengalaman
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
133
hidup iman kristiani sepanjang sejarah (tradisi) dan visinya. Tradisi kristiani
mengungkapkan realitas iman jemaat kristiani yang hidup. Inilah tangapan
manusia terhadap pewahyuan Allah yang terlaksana di tengah hidup manusia.
Dalam konteks ini, tradisi perlu dipahami sebagai perjumpaan antara rahmat Allah
dalam Kristus dan tanggapan manusia. Oleh karena itu, di sini tradisi tidak hanya
berupa tradisi pengajaran Gereja, melainkan juga meliputi: Kitab Suci,
spiritualitas, refleksi teologis, sakramen, liturgy, kehidupan jemaat, dll. Sebagai
realitas iman yang dihidupi dalam konteks historisnya, tradisi kristiani senantiasa
mengundang keterlibatan praktis dan proses pendewasaan iman peserta. Di
samping itu, tradisi sebagai sabda yang dihidupi menyediakan perangkat nilai
untuk pemupukan identitas kristiani dan memberi inspirasi serta menyediakan
makna bagaimana hidup seturut nilai-nilai tersebut (Heryatno W.W., 1997: 3).
Sedangkan visi kristiani menggarisbawahi tuntutan dan janji yang
terkandung di dalam tradisi, tanggungjawab dan perutusan umat kristiani sebagai
jalan untuk menghidupi semangat dan sikap kemuridan mereka. Visi kristiani yang
paling hakiki adalah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah yang sungguh dihidupi
dan diusahakan secara terus-menerus di dalam kehidupan manusia. Tradisi dan visi
kristiani menumbuhkan rasa saling memiliki dalam persekutuan dan persaudaraan
sebagai umat beriman akan Yesus Kristus. Begitulah nilai tradisi dan visi kristiani
sepanjang sejarah hidup manusia dapat menjadi milik umat beriman baik secara
pribadi maupun komuniter (Heryatno W.W., 1997: 3).
3) Shared
Istilah ini menunjuk pengertian komunikasi yang timbal balik, sikap
partisipasi aktif dan kritis dari semua peserta, sikap terbuka (inklusif) baik untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
134
kedalaman diri pribadi, kehadiran sesame, maupun untuk rahmat Allah. Ujian ini
juga menekankan proses katekese yang menggarisbawahi aspek dialog,
kebersamaan, keterlibatan dan solidaritas. Dalam “sharing”, semua peserta
diharapkan secara terbuka siap mendengarkan dengan hati dan juga dapat
berkomunikasi dengan kebebasan hati. Dalam kata “sharing” juga terkandung
hubungan dialektis antara pengalaman hidup factual peserta dengan tradisi dan visi
kristiani. Unsure kebersamaan menggarisbawahi hubungan antar subyek yaitu
peserta dengan pendamping, dan antar peserta sendiri. Dengan keterbukaan yang
ada pada masing-masing peserta, hubungan diantara mereka semakin erat, dan
melalui perjumpaan antar pribadi, peserta dapat semakin menyadari pentingnya
sikap solidaritas terhadap permasalahan yang satu dengan yang lainnya. Dapat
dikatakan bahwa melalui dialog yang terjalin antar peserta dalam katekese, semua
peseta dapat menjadi partner yang dapat saling menguhkan dan menguatkan satu
sama lain terutama dalam situasi atau permasalahan-permasalahan yang terjadi
dalam hidup. Hal ini disebabkan adanya rasa memiliki perjuangan dan visi yang
sama.
Di dalam proses ini, peserta tidak hanya mendengar dengan telinga, tetapi
juga hati. Ada keterlibatan aktif dari peserta yang lain. Hal ini akan
menghantarkan peserta pada suatu dialog yang kemudian melalui refleksi-kritis
dapat menemukan penegasan, penilaian, serta pengambilan keputusan yang
mendorong pada keterlibatan baru. Dapat dipertegas kembali bahwa melalui
refleksi-kritis dari suatu dialog bersama, peserta dapat menentukan niat-niat yang
akan dilakukan untuk menanggapi permasalahan hidup yang sedang terjadi secara
konkret dalam hidup keluarga maupun masyarakat, dan pada akhirnya adalah suatu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
135
aksi nyata untuk mengatasi permasalahan atau menjawab kebutuhan hidup peserta
(Heryatno W.W., 1997: 4).
c. Langkah-langkah Model Shared Christian Praxis (SCP)
1) Langkah 1: Pengungkapan Praksis Factual (Mengungkapkan
Pengalaman Hidup Peserta)
Langkah ini mengajak para peserta untuk mengungkapkan pengalaman
hidup dan keterlibatan mereka dalam bentuk cerita, puisi atau video singkat, dll.
dalam proses pengungkapan itu, peserta dapat menggunakan perasaan mereka,
menjelaskan nilai, sikap, kepercayaan dan keyakinan yang melatarbelakanginya.
Dengan cara itu, diharapkan peserta dapat semakin bersikap kritis dan dapat
terbuka serta peka terhadap situasi yang ada disekitarnya. Selain itu, peserta juga
dapat memaknai pengalaman hidupnya sendiri. Disamping pengalaman pribadi,
peserta juga dapat mengungkapkan pengalaman orang lain atau masyarakat.
2) Langkah 2: Refleksi Kritis Pengalaman Factual (Mendalami
Pengalaman Hidup Konkret Peserta)
Langkah kedua ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis, dan kreatif
dalam memahami dan mengolah keterlibatan hidup mereka sendiri maupun
masyarakat. Tujuan langkah ini adalah memperdalam refleksi dan mengantar
peserta pada kesadaran kritis akan keterlibatan mereka, akan asumsi dan alasan
(pemahaman), motivasi, sumber historis, kepentingan dan konsekuensi yang
disadari dan hendak diwujudkan (imajinasi). Dengan refleksi-kritis pada
pengalaman konkret peserta diharapkan sampai pada nilai dan visinya yang pada
langkah keempat akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja
sepanjang sejarah (tradisi) dan visi kristiani. Langkah ini bersifat analitis yang
kritis (Heryatno W.W., 1997: 6).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
136
3) Langkah 3: Mengusahakan Supaya Tradisi Dan Visi Kristiani
Lebih Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani)
Pokok dari langkah ini adalah mengusahakan supaya tradisi dan visi kristiani
menjadi lebih terjangkau, lebih dekat dan relevan bagi peserta pada zaman
sekarang. Pada langkah ini, pendamping diharapkan dapat menjadi fasilitator yang
professional, dapat membuka peluang yang seluas-luasnya kepada peserta untuk
menemukan nilai-nilai dari tradisi dan visi kristiani. Seperti yang telah dijelaskan
di awal, yang dimaksud dengan tradisi adalah iman kristiani yang sungguh
dihidupi dan diperkembangkan Gereja dalam sejarahnya. Maka tradisi Gereja tidak
terbatas pada pengajaran Gereja (dogma), tetapi juga merangkum Kitab Suci,
spiritualitas, devosi, kebiasaan hidup beriman, dll. visi merefleksikan harapan dan
janji, serta tanggungjawab yang muncul dari tradisi suci yang bertujuan untuk
mendorong dan meneguhkan iman jemaat dalam keterlibatannya untuk
mewujudkan kehadiran nilai-nilai Kerajaan Allah. supaya tradisi dan visi kristiani
semakin terjangkau dan relevan untuk kehidupan peserta, tradisi dan visi kristiani
perlu dijelaskan dan diinterpretasikan (Heryatno W.W., 1997: 6).
4) Langkah 4: Interpretasi Dialektis antara Praksis dan Visi Peserta
Dengan Tradisi Dan Visi Kristiani (Menerapkan Iman Kristiani
dalam situasi Peserta Konkret)
Langkah ini mengajak peserta supaya dapat meneguhkan, mempertanyakan,
memperkembangkan dan menyempurnakan pokok-pokok penting yang telah
ditemukan pada langkah pertama dan kedua. Untuk selanjutnya pokok-pokok
penting itu dikonfrontasikan dengan hasil interpretasi tradisi dan visi kristiani dari
langkah ketiga. Dari proses konfrontasi itu diharapkan peserta dapat secara aktif
menemukan kesadaran atau sikap-sikap baru yang hendak diwujudkan. Dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
137
kesadaran baru itu peserta akan lebih bersemangat dalam mewujudkan imannya
dan dengan itu diharapkan supaya nilai-nilai Kerajaan Allah makin dapat diraskan
di tengah-tengah kehidupan bersama. Interpretasi yang dialektis ini akan
memampukan peserta untuk menginternalisasikan dan mensosialisasi nilai tradisi
dan visi kristiani sehingga menjadi bagian hidup mereka sendiri. Hidup dan
praksis factual peserta diintegrasikan ke dalam tradisi kristiani dan sebaliknya
peserta mempersonalisasi tradisi dan visi kristiani menjadi milik mereka sendiri.
Di samping itu, perwujudan kesadaran iman yang baru dapat memperkaya dan
mendinamisir tradisi dan visi kristiani juga menjadi pokok penting pada langkah
ini. Dengan proses itu, diharapkan hidup iman peserta menjadi lebih aktif, dewasa,
dan misioner (Heryatno W.W., 1997: 7).
5) Langkah 5: Keterlibatan Baru demi Makin Terwujudnya
Kerajaan Allah Di Dunia (Mengusahakan Aksi Konkret)
Karena keprihatinan utama model “Shared Christian Praxis” adalah
keterlibatan iman, maka langkah yang terakhir ini bertujuan mendorong peserta
supaya sampai pada keputusan konkret bagaimana menghidupi iman kristiani pada
konteks hidup yang telah dianalisa dan dipahami, direfleksi secara kritis, dinilai
secara kreatif dan bertanggungjawab. Inilah tanggapan praktis peserta terhadap
situasi konkret mereka yang telah dikonfrontir dengan tradisi dan nilai kristiani.
Keputusan konkret dari langkah ini dipahami sebagai puncak dan buah dari
metode ini. Tentu saja tanggapan peserta dipengaruhi oleh tema dasar yang
direfleksikan, nilai-nilai kristiani yang diinternalisasikan, dan konteks kepentingan
religious, politik, social, dan ekonomi peserta (Heryatno W.W., 1997: 7).
4. Usulan Program Katekese Pembebasan dan Contoh Persiapan Katekese
Pembebasan dengan Model Shared Christian Praxis (SCP)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
138
Bertitik tolak dari pemikiran dalam Bab I, II dan III, maka penulis
mengusulkan sebuah program katekese pembebasan dengan model Shared
Christian Praxis beserta contoh persiapannya. Usulan program dan contoh
persiapan katekese ini diharapkan dapat membantu umat kristiani, terutama bagi
orang muda atau orang dewasa dalam memaknai realitas penderitaan yang terjadi
dalam hidupnya. Program dan contoh persiapan katekese ini tidak bersifat baku,
maksudnya usulaan program ini masih dapat ditambah atau dikurangi sesuai
dengan keadaan dan kebutuhan para peserta katekese. Pada penulisan skripsi ini,
penulis membuat 4 program. Dari 4 program tersebut, penulis akan menjabarkan 1
contoh katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP) yaitu
nomor 3. Adapun program dan contoh katekese pembebasan dengan model Shared
Christian Praxis (SCP) tersebut adalah sbb:
Tema Umum
: Menjadi orang kristiani yang memiliki kedewasaan iman dalam
memaknai penderitaan hidup
Tujuan Umum : Bersama pendamping, melalui katekese pembebasan, peserta
diajak untuk menemukan makna penderitaan dalam hidupnya,
dengan harapan peserta dapat semakin didewasakan dalam
iman, sehingga akhirnya peserta termotivasi dalam menentukan
aksi nyata untuk terlibat mengatasi penderitaan diri dan sesame.
Tema I
: Penderitaan manusia
Tujuan
: Bersama pendamping, peserta dapat semakin menyadari dirinya
sebagai makhluk yang terbatas dan merupakan ciptaan Allah
yang miliki kebebasan untuk menerima atau menolak kebaikan
Allah terutama pada saat dilanda penderitaan. Diharapkan,
dengan begitu, peserta dapat semakin memiliki kesadaran untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
139
mengambil sikap yang tepat bertitik tolak dari imannya yang
teguh akan Allah, khusunya ketika berhadapan dengan realitas
penderitaan
Tema II
: Meneladani sikap Ayub dalam menghadapi penderitaan
Tujuan
: Bersama pendamping, peserta diajak untuk belajar dari sikap
ketaatan Ayub pada Allah ketika dia mengalami penderitaan,
dan dari situ peserta juga belajar untuk menemukan makna
dibalik penderitaan orang benar
melalui kacamata iman
kristiani, sehingga iman peserta semakin berkembang dan
mendalam
Tema III
: Bagaimana sikap orang Kristiani dalam menghadapi penderitaan
hidup
Tujuan
: Bersama pendamping, sebagai orang Kristiani para peserta
diajak untuk mencari, menggali dan menemukan makna dibalik
penderitaan yang terjadi dalam hidupnya, supaya peserta
semakin didewasakan dalam iman, dan dapat ikut ambil bagian
dalam menghadapi penderitaanya sendiri dan orang lain secara
dewasa dengan bertolak dari cara pandang iman Kristiani.
Tema IV
: Ikut sengsara bersama Yesus Kristus
Tujuan
: Bersama pendamping, peserta menyadari sebab terjadinya
penderitaan manusia, serta mampu melihat dan memahami
penderitaan Yesus Kristus sehingga peserta semakin dapat
meneladani sikap Yesus secara konkret dalam hidup sehari-hari
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
140
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
141
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
142
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
143
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
144
a. Contoh Persiapan Katekese Pembebasan Model Shared Christian
Praxis (SCP)
Berikut ini adalah contoh katekese pembebasan. Sebagai contoh persiapan
katekese, di sini penulis akan menggunakan katekese pembebasan dengan
menggunakan model Shared Christian Praxis (SCP). Shared Christian Praxis
adalah model katekese yang diperkenalkan oleh Thomas H. Groome (Heryatno
W.W, 1997).
Katekese Pembebasan
Model Shared Christian Praxis (SCP)
Tema
: Bagaimana sikap orang Kristiani dalam menghadapi penderitaan
hidup
Tujuan
: Bersama pendamping, sebagai orang Kristiani para peserta diajak
untuk mencari, menggali dan menemukan makna dibalik
penderitaan yang terjadi dalam hidupnya, supaya peserta
semakin didewasakan dalam iman, dan dapat ikut ambil bagian
dalam menghadapi penderitaanya sendiri dan orang lain secara
dewasa dengan bertolak dari cara pandang iman Kristiani.
Peserta
: Orang Kristiani kelompok Dewasa
Waktu
: Selama 90 menit
Model
: Shared Christian Praxis
Metode
: tanya jawab, sharing, informasi, refleksi pribadi, dan pemutaran
film
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
145
Sarana
: LCD, laptop, mikrofon, Kitab Suci, film singkat “Oscar Arnulfo
Romero
Sumber Bahan : Ayub 1: 13-22
PEMIKIRAN DASAR
Di dunia ini, manusia dihadapkan dengan berbagai macam peristiwa yang
terjadi dalam hidupnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti: kesedihan, kesukaran,
kegembiraan, kebahagiaan, kesuksesan, dan kegagalan. Ini merupakan fenomen
kehidupan yang dialami oleh manusia. Manusia tidak pernah luput dari
penderitaan, karena penderitaan merupakan hal yang manusiawi dan tidak
terelakkan dari pengalaman hidup manusia. Penderitaan merupakan pengalaman
yang sangat dekat dengan manusia. Dapat dikatakan bahwa hidup dan penderitaan
adalah dua hal yang berbeda, namun keduanya tidak dapat terpisahkan dalam
kehidupan manusia. Maksudnya, meskipun kita tidak mengharapkan penderitaan
terjadi, penderitaa itu akan tetap terjadi di kehidupan ini. Karena menyadari hal
itulah, maka penderitaan harus disikapi secara tepat. Ini bertujuan supaya hidup
kita semakin terarah, jelas, mempunyai makna dan nilai, bukan sebaliknya menjadi
sesuatu yang harus ditakuti.
Dalam bacaan Ayub 1: 13-22 digambarkan bagaimana kemalangan demi
kemalangan menimpa Ayub. Di sana, Ayub mengalami banyak kehilangan:
kehilangan hartanya, yakni ternak-ternaknya, dan kehilangan anak-anaknya.
Kehilangan-kehilangan itu rupanya terjadi seketika hal itu digambarkan oleh
adanya laporan dari pembantunya yang memberitahukan perihal bencana itu.
Artinya, kemalangan yang terjadi dan didengar Ayub disusul dengan kemalangan
lain yang juga didengarnya. Singkatnya, Ayub tidak memiliki waktu untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
146
merenungkan atau untuk berdiam diri merenungi nasibnya, sebab ketika bencana
pertama didengarnya, langsung saja disusul dengan berita bencana kedua dan
seterusnya. Ini dapat dikatakan Ayub seperti disambar petir. Bertubi-tubi dia
mendengar berita yang sesungguhnya tidak seorangpun ingin mendengarnya dan
setelah berita terakhir dia baru bisa menyikapinya: berdiri, mengoyak jubah dan
mencukur kepalanya, lalu sujud dan menyembah Tuhan Allah (Ayb 1: 13-20).
Dalam pengalaman penderitaan itu, ia tidak berbuat dosa (Ayb 1: 21-22).
Dapatkah kita meneladani sikap iman Ayub ketika berhadapan dengan pengalaman
penderitaan?
Sikap atau cara seseorang dalam menanggapi penderitaannya akan
menunjukan kualitas dirinya sebagai pribadi, terutama sebagai orang beriman.
Maksudnya, orang beriman akan menyikapi realitas hidupnya yang penuh
penderitaan dengan cara pandang imannya. Tentu saja hal itu akan berbeda dengan
mereka yang belum memiliki iman yang kuat. Hanya saja, persoalan praktisnya
adalah bagaimana orang beriman dapat menyikapi realitas penderitaan yang terjadi
dalam hidupnya.
Dalam katekese ini, para peserta diajak merefleksikan pengalaman hidupnya,
terutama ketika mengalami atau berhadapan dengan penderitaan. Sebagai orang
Kristiani yang beriman, peserta akan diajak membandingkannya dengan sumber
wahyu tertulis yakni Kitab Suci, secara khusus adalah Kitab Ayub. Di sini peserta
katekese akan belajar dari Ayub yang merupakan tokoh utama dalam Kitab Ayub:
Bagaimana Ayub menanggapi penderitaanny?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
147
PENGEMBANGAN LANGKAH-LANGKAH
1. Pembukaan
a. Pengantar
Bapa/ibu, saudara/saudari terkasih, syukur kepada Allah sebab kita dapat
berkumpul di sini untuk bersama-sama menemukan makna hidup kita, sehingga
semua pengalaman-pengalaman hidup yang telah kita lewati tidak berlalu begitu
saja secara sia-sia tanpa makna. Pada kesempatan yang penuh rahmat ini, secara
bersama-sama dan penuh rasa persaudaraan, kita mencoba untuk mencari,
menggali dan menemukan makna kehidupan dan kehendak Allah atas diri kita,
tentu saja semua usaha itu dilandasi oleh kesadaran kita sebagai umat Kristiani
yang beriman kepada-Nya. Untuk mengawali pertemuan kita pada hari ini, saya
mengajak Bapak/Ibu dan saudara-I sekalian untuk menyanyi bersama.
b. Lagu Pembukaan“Dia mengerti”
c. Doa Pembukaan
Dengan penuh kerendahan hati dihadapan Allah kita dapat menyiapkan diri untuk
berdoa. Marilah kita berdoa:
Allah Bapa yang penuh belas kasih, puji syukur dan terimakasih kami
ucapkan atas segala berkat yang boleh kami terutama secara istimewa untuk mala
mini, sehingga kami dapat berkumpul ditempat ini dalama nama-Mu.
Allah Bapa disurga, pada kesempatan ini, kami bersama-sama hendak
mencari, menggali dan menemukan makna terdalam pengalaman hidup yang
boleh kami jalani selama ini.
Ya Bapa, curahkanlah Roh Kududs-Mu atas diri kami masing-masing
supaya kami dapat menemukan apa yang kami cari, dan bimbinglah kami Bapa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
148
supaya dapat memahami kehendak-Mu yang nyata dalam hidup kami, terutama
dalam pertemuan hari ini.
Ya Bapa, bantu kami sebagai saudara seiman, dapat saling percaya dan
terbuka satu sama lain, sehingga pengalaman-pengalaman berharga kami dapat
diungkapkan secara bebas dan sadar, guna untuk saling menguatkan dan
meneguhkan satu sama lain terutama dalam menanggapi penderitaan hidup. Demi
Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
1. Langkah I : Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta
a. Pemutaran Film singkat yang berjudul “Oscar Arnulfo Romero”.
b. Kemudian, pendamping mengajak peserta untuk merenungkan Film
singkat yang berjudul “Oscar Arnulfo Romero”. Peserta diajak untuk menemukan
makna yang tersirat di dalamnya. Setelah waktu merenung selesai, pendamping
meminta kesediaan dua orang peserta untuk menceritakan makna apa yang dapat
dia tangkap dari pemutaran film tersebut dan bagaimana perasaannya? Dibantu
dengan pertanyaan:
1) Kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami oleh Mgr. Oscar Arnulfo
Romero ketika menyuarakan nasib rakyat kecil?
2) Apakah Bapak/Ibu dan saudara/saudari akan melakukan hal yang sama
seperti dilakukan oleh Mgr Oscar Arnulfo Romero, terutama bila kita
berada dalam situasi yang kurang lebih sama?
3) Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu saudara-saudari kita
yang sedang mengalami penderitaan?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
149
c. Intisari:
Memasuki dekade 1970-an, Elsalvador dicengkram oleh kekuasaan
pemerintahan kanan yang militeristik dan berperan sebagai tuan tanah dan pemilik
modal. Negeri setengah feodal dan setengah kapitalis ini dikendalikan oleh
pemerintahan militer yang berfungsi mengunci sistem yang timpang dan menindas
rakyat kecil. Pater Grande (sahabat Mgr Oscar Arnulfo Romero) adalah rohaniwan
Katolik yang menjadi salah satu korban kekejian para-militer yang disewa tuan
tanah. Represi rezim membuahkan perang saudara di negeri Amerika Tengah itu
yang berlangsung selama 12 tahun (1980-1992). Dalam situasi seperti inilah Mgr
Óscar Romero y Arnulfo Galdámez (15 Agustus 1917 – 24 Maret 1980) diangkat
menjadi uskup keempat dari Gereja Katolik El Salvador. Setelah peristiwa
pembunuhan yang terjadi pada sahabatnya Pater Rutilio Grande, yang tewas
ditangan para-militer, Beliau mulai tergerak hati untuk peduli dan berpihak pada
permasalahan rakyat kecil El Salvador yang tertindas. Uskup Oscar Romero
meyakini bila perjuangan yang dilakukan oleh Pater Grande berbasiskan ajaran
dan praksis pembebasan yang berakar dari iman kepada Yesus Kristus.
Melalui berbagai pidato maupun homilinya ketika misa (ibadat Katolik),
sang uskup mengeluarkan kritikan-kritikan pedas pada rezim militer yang brutal
pada rakyatnya sendiri, terutama kepada kaum tani, tetapi sangat ramah terhadap
tuan tanah, pemilik modal dan kapitalis asing. Oscar Romero pernah berkata:
“Kristus sedang ‘tersalib’ bersama-sama rakyat El Savador yang menderita dan
tertindas. Uskup Oscar Romero mengikuti jejak Kristus yang tersalib. Ia menjadi
martir kebenaran dan kemerdekaan ketika ditembak oleh aparat militer saat
memimpin misa di gerejanya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
150
d. Rangkuman:
Tentu kita tidak akan diam jika melihat sahabat atau kerabat kita dilanda
suatu musibah yang menyebabkannya mengalami rasa sakit, stress, frustasi, atau
bahkan sampai mengalami gangguan jiwa. Sebagai umat beriman, kita terdorong
untuk membantu sahabat atau kerabat kita tersebut melewati masa-masa kritisnya
dengan memotivasi dia untuk bangkit dari keterpurukan, memberikan peneguhan,
pendampingan, dan pengharapan yang dapat membebaskannya dari kesengsaraan
jiwa dan raga.
Seperti sama halnya dengan pengalaman dari Mgr Oscar Arnulfo Romero.
Pada awalnya beliau bersikap dingin dan kurang peduli dengan permmasalahan
rakyat kecil. Namun, pada akhirnya beliau menyadari bahwa sebagai anggota
Gereja beliau terpanggil untuk dapat menyuarakan apa yang menjadi hak dari
saudara-saudara kita kaum lemah, miskin, tertindas dan difabel. Hal ini juga
merupakan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang. Untuk menjadi orang katolik
sejati, kepekaan hati kita sangat dibutuhkan. Allah menghendaki kita untuk dapat
mencintai Dia dan sesama manusia. mencintai Allah berarti juga harus mencintai
sesama.
2. Langkah II : Mendalami Pengalaman Hidup Peserta
a. Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman yang sesuai
dengan film “Oscar Arnulfo Romero” dengan dibantu pertanyaan
sebagai berikut:
1. Bagaimana cara Mgr. Oscar Arnulfo Romero mengatasi kesulitan
yang hadapi ketika ingin menyuarakan dan memperjuangkan
keadilan bagi rakyat kecil di El Salvador?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
151
2. Cara mana saja yang bapak/ibu dan saudara/saudari gunakan ketika
menghadapi kesulitan dalam membantu meringankan penderitaan
sesama?
b. Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping
memberikan arahan rangkuman singkat:
Meskipun mengalami berbagai kesulitan dalam membela rakyat miskin, Mgr
Oscar Romero tidak pernah berhenti memperjuangkan suara rakyat miskin. Dalam
semuanya itu, beliau berdoa dan memohon petunjuk dari Tuhan. Meski perjuangan
Mgr Oscar Romero ini tidak dapat menghentikan peperangan yang sedang terjadi,
tetapi setidaknya rasa cinta dan kepeduliannya terhadap nasib rakyat kecil di El
Salvador dapat memberikan rasa damai dan kekuatan bagi mereka dalam
menghadapi situasi pelik yang sedang terjadi.
Sungguh tidak dapat kita ragukan bahwa ketulusan cinta yang kita curahkan
kepada orang-orang yang sedang dalam situasi sulit dapat membuat mereka
merasa lebih kuat menerima dan menghadapi hari-harinya yang berat. Penerimaan
itulah yang kemudian menimbulkan pengharapan baru yang dapat membebaskan
mereka dari kecemasan dan ketakutan-ketakutan hidup.
3. Langkah III : Menggali Pengalaman Iman Kristiani
a. Salah satu peserta diminta untuk membacakan isi Kitab Suci Ayub 1:
13-22
b. Setelah mendengarkan isi KS, peserta diberi waktu hening sejenak
untuk merenungkan dan menanggapi isi bacaan KS, dengan dibantu
beberapa pertanyaan, sbb:
1) Dari perikop tersebut, ayat manakah yang menunjukan pengalaman
penderitaan Ayub?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
152
2) Ayat manakah yang menunjukan sikap iman yang seharusnya
dimiliki oleh kita sebagai hamba Allah?
3) Melalui kisah Ayub dalam perikop tersebut, sikap seperti apa yang
ingin ditanamkan oleh Allah kepada kita sebagai murid-Nya?
4) Pesan apa yang dapat kita petik dari pengalaman Ayub, terutama
ketika mengalami permasalahan hidup yang datang bertubi-tubi?
c. Peserta diajak untuk mencari dan menemukan makna atau pesan yang
tersirat dalam bacaan KS sehubungan dengan 3 pertanyaan di atas.
d. Pendamping memberikan interpretasi dari bacaan Ayub 1 :13-22
Dalam Kitab Ayub 1:13-22 digambarkan sebagai mana kemalangan demi
kemalangan menimpa Ayub. Di sana, Ayub mengalami banyak kehilangan:
kehilangan hartanya, yakni ternak-ternaknya, dan kehilangan anak-anaknya.
Kehilangan-kehilangan itu rupanya terjadi seketika hal itu digambarkan oleh
adanya laporan dari pembantunya yang memberitahukan perihal bencana itu.
Artinya, kemalangan yang terjadi dan didengar Ayub disusul dengan kemalangan
lain yang juga didengarnya (ay 13-19). Singkatnya, Ayub tidak memiliki waktu
untuk merenungkan atau untuk berdiam diri merenungi nasibnya, sebab ketika
bencana pertama didengarnya, langsung saja disusul dengan berita bencana kedua
dan seterusnya. Ini dapat dikatakan Ayub seperti disambar petir. Bertubi-tubi dia
mendengar berita yang sesungguhnya tidak seorangpun ingin mendengarnya dan
setelah berita terakhir dia baru bias menyikapinya: berdiri, mengoyak jubah dan
mencukur kepalanya, lalu sujud dan menyembah Tuhan Allah (ayat 20).
Dalam penderitaan karena merasa kehilangan, Ayub tetap setia kepadaNya. Hal itu terungkap dari ucapannya, yang tidak mempersalahkan apalagi
mengutuki Tuhan Allah, sebagaimana menjadi ramalan iblis itu: “Dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
153
telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan
kembali ke dalamnya. Tuhan yang member, Tuhan yang mengambil, terpujilah
nama Tuhan!” (ayat 21). Ay 21 ini menunjukan sikap Ayub yang masih taat dan
beriman kepada Allah meskipun ia mengalami penderitaan yang berat. Pada ay 21
diperlihatkan bagaimana Ayub tidak berbuat dosa sedikitpun tidak berbuat
kesalahan, apalagi menaruh benci pada Allah (ayat 22).
4. Langkah IV : Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi Konkret
Peserta
a. Pengantar
Penderitaan adalah pengalaman yang tidak dapat kita hindari. Seringkali
kita melakukan kesalahan dan berdampak negative bagi hidup kita. Tidak jarang
juga kita mengalami permasalahan hidup yang sangat berat sehingga kita merasa
lelah dan ingin menyerah pada keadaan. Namun menyerah dalam keadaan putus
asa bukanlah cara yang tepat dalam mengatasi permasalahan hidup. Sejak awal
kita telah banyak berbicara mengenai permasalahan hidup yang menimbulkan
penderitaan dalam hidup manusia terutama berkaitan dengan Kitab Ayub. Kitab
Ayub mau menunjukan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas
dan bergantung pada Allah. Artinya manusia diciptakan oleh Allah dan untuk
berbakti kepada Allah. Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia hendaknya
memiliki sikap iman yang kuat, lebih-lebih ketika berhadapan dengan masalah
hidup. Sikap iman tersebut adalah bagaimana manusia dapat mennyerahkan diri
secara total terhadap rencana Allah, dapat menerima dengan hati yang penuh iman,
sanggup bergulat dengan penderitaan tersebut, kemudian dapat memaknainya.
Sikap iman seperti ini akan menciptakan pengharapan baru yang mampu membuat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
154
pribadi merasakan bebas dari rasa cemas dan ketakutannya pada penderitaan.
Karena sesungguhnya yang harus manusia takutkan bukanlah pengalaman
penderitaan, melainkan rasa takut berhadapan dengan penderitaa itu sendirilah.
b. Sebagai bahan refleksi supaya kita dapat menemukan hal-hal yang masih
diperlukan untuk
semakin mendewasakan iman kita sebagai orang
kristiani, terutama dalam menghadapi atau menyikapi permasalahanpermasalahan yang terjadi dalam hidup ini (untuk orang lain atau diri
sendiri) secara lebih nyata (melalui perkataan dan perbuatan) di tengah
masyarakat, maka marilah kita merenungkan bersama-sama, dengan
dibantu pertanyaan -pertanyaan berikut:
1) Apakah melalui pertemuan ini, Bapak-Ibu, saudara-saudari merasa
menemukan dan memperoleh ketegasan akan sikap iman yang perlu
diteladani dari penderitaan Yesus dan penderitaan Ayub (orang
beriman)?
2) Sikap-sikap mana yang dapat kita usahakan untuk senantiasa dapat
dilakukan dalam menyikapi permasalahan hidup kita dan sesama?
c. Saat hening diiringi dengan instrument. Setelah waktu refleksi selesai,
peserta diberi kesempatan secukupnya untuk mensharingkan hasil refleksi
pribadi sesuai dengan panduan 3 pertanyaan di atas.
d. Arah rangkuman penerapan pada situasi peserta
Allah juga menderita. Allah menderita melalui Putra-Nya Yesus Kristus.
Penderitaan Yesus adalah penderitaan yang sangat mulia. Demi cinta-Nya kepada
manusia, Yesus rela sengsara dan wafat di kayu Salib. Penderitaan Yesus adalah
penderitaan yang dialami oleh manusia yang bersih tanpa dosa. Penderitaan Yesus
ingin menunjukan kepada kita bagaimana sikap iman Yesus kepada Bapa-Nya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
155
membuat Dia sanggup menanggung kesengsaraan. Pada detik-detik kematian-Nya
Yesus melakukan penyerahan diri secara total kepada umat manusia yang dicintaiNya dan juga kepada Bapa di Surga.
Dalam Kitab Ayub, kita juga menemukan satu sikap yang sangat
mengagumkan, yakni ketika Ayub mendengar berita bencana yang menimpa
dirinya: melenyapkan seluruh ternak dan anak-anaknya. Ayub tidak kehilangan jati
dirinya sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
Artinya, Ayub tetap setia sebagai orang yang percaya kepada Allah.
Dengan melihat pengalaman Ayub, kenyataannya diantara kita masih banyak
yang mengalami hal serupa, meski pengalamannya tidak sama persis dengan kisah
Ayub itu. Tetapi, meski demikian sebagai orang beriman kita tetap harus bertahan
dalam iman kita, karena itulah yang dikehendaki Tuhan Allah supaya kita lakukan.
Akhirnya dengan melihat kisah Ayub tadi, kita yang masih hidup sampai saat
ini dapat lebih baik lagi dalam menyikapi penderitan-penderitaan hidup secara
tepat, entah itu terjadi pada diri kita sendiri maupun orang lain.
5. Langkah V : Mengusahakan suatu Aksi Konkret
Di sini, pendamping mengajak peserta menungkapkan harapan atau niat-niat
sebagai usaha yang mungkin dapat dilanjutkan. Di sinilah kembali penekanan akan
pentingnya pengharapan untuk pembebasan diri dari belenggu penderitaan, yang
khas dalam katekese pembebasan.
a. Pengantar
Bapak/Ibu dan saudara-saudari terkasih, dalam pembicaraan tadi, kita sudah
berusaha menemukan hal-hal yang perlu kita upayakan untuk semakin
mendewasakan iman kita, terutama dalam menyikapi permasalahan-permasalahan
hidup kita. Dalam film singkat “Oscar ARnulfo Romero” diceritakan bagaimana
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
156
kisah seorang uskup yang awalnya tidak peduli pada rakyat miskin, lambat laun
Roh Kudus menggerakkan hatinya untuk peduli pada rakyat kecil, dengan ambil
bagian dalam permasalahan yang dihadapi oleh rakyat El Salvador pada masa
rusuh selama beliau menjabat sebagai seorang uskup. Meski mengalamiberbagai
ancaman keselamatan dari pihak militer, uskup Oscar Romera tetap bersikeras
menyuarakan nasib rakyat kecil yang mengalami penindasan dan ketidakadilan.
Sikap peduli dan cinta kepada sesama adalah sikap iman yang luar biasa. Hal
ini adalah sesuatu tindakan yang dikendaki oleh Yesus Kristus (mencintai sesama).
Sedangkan Kitab Ayub ingin menanamkan kepada kita sikap iman yang pasrah
dan percaya serta taat pada kehendak Allah. Selalu yakin dan percaya bahwa Allah
memiliki rencana baik yang sulit diselami oleh akal budi manusia. Oleh karena itu,
sudah sepantasnyalah manusia bersikap rendah hati, mencintai Allah dan sesama.
b. Marilah kita merenungkan hal-hal konkrit apa saja yang harus kita
lakukan untuk mewujudnyatakan hasil refleksi kita dalam usaha menemukan
makna dari
pengalaman penderitaan entah itu yang dialami oleh diri sendiri
ataupun orang lain. Pertanyaan untuk menuntut umat dalam membuat niat-niat:
1) Aksi konkrit apa yang hendak Bapak/Ibu dan saudara-saudari
lakukan untuk menghadirkan Kerajaan Allah bagi sesama yang
sedang mengalami keputusasaan terhadap permasalahan hidup yang
menimpanya ?
2) Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan
niat-niat itu?
c. Niat-niat tersebut diungkapkan bersama (atau direrungkan dalam hati
masing-masing, dan kemudian diungkapkan dalam doa umat).
6. Penutup
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
157
a. Setelah selesai merenungkan niat-niat, marilah kita memandang salib
yang ada di tengah-tengah kita yang menunjukan sikap Yesus sendiri:
mau membagi hidup-nya bagi manusia. Yesus telah memberikan bukti
nyata sekaligus teladan bagaimana kita mengikuti Allah. lilin bernyala
sebagai symbol yang menerangi langkah hidup kita, dan membimbing
kita dengan terang kasih-Nya. Berikut, kita dipersilahkan untuk saling
mengungkapkan doa pribadi secara spontan, dan juga dapat mendoakan
satu sama lain
b. Doa umat secara spontan
c. Doa Penutup :
Allah Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur atas rahmat penyertaan-Mu dari awal
hingga
akhir
pertemuaan
ini.
Terimakasih
Bapa,
karena
kami
dapat
mengungkapkan pengalaman pribadi kami secara terbuka dihadapan-Mu, dan
bahkan kami boleh merenungkan Sabda-Mu melalui Kitab Ayub. Melalui
pertemuan ini, kami memperoleh peneguhan, kekuatan dan keyakinan dalam
menjalankan hidup kami baik suka maupun duka. Kami bersyukur boleh
menemukan makna atas pengalaman penderitaan hidupku yang berharga, kamipun
semakin dituntut untuk dapat semakin setia kepada-Mu tanpa batas. Melalui Yesus
Kristus, kami Engkau tebus, dan dengan penderitaan-Nya yang mulia, kami
Engkau selamatkan dari dosa.akhirnya ya Bapa, kami mohon, semoga apa yang
kami harapkan dan cita-citakan demi kemuliaan nama-Mu dapat terlaksana dengan
baik sesuai kehendak-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin
d. Doa ini diakhiri dan dipersatujan dalam doa yang diajarkan oleh Yesus
Kristus “Doa Bapa Kami”
e. Lagu Penutup “Damai BersamaMu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
158
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk mengakhiri penulisan skripsi ini, penulis akan merumuskan beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
Penderitaan merupakan realitas yang paling dekat dengan manusia, manusia
tidak dapat mengelak dari pengalaman tersebut. Sebagai makhluk yang reflektif,
dengan adanya pengalaman penderitaan yang terjadi sepanjang sejarah hidup
manusia, akhirnya manusiapun terdorong untuk mencari cara menyikapi hal
tersebut seperti memaknainya.
Berkaitan dengan Kitab Ayub: Kitab Ayub merupakan kitab paling besar
berbicara tentang penderitaan manusia. Dalam kitab ini, dikisahkan seorang tokoh
bernama Ayub. Ayub adalah orang yang saleh dan takut akan Allah, tetapi tibatiba saja Ayub dicobai iblis atas persetujuan Allah. Mengapa? Karena Iblis
meragukan ketulusan Ayub taat kepada Allah. Penderitaan Ayub menjadi topic
yang menarik dibahas karena menurut pandangan tradisional penderitaan adalah
akibat dari kesalahan manusia, sedangkan dalam Kitab Ayub, penderitaan justru
dialami orang yang saleh.
Berdasarkan hasil belajar dari Kitab Ayub, secara khusus dalam rangka
memaknai penderitaan, penulis menyimpulkan bahwa penderitaan yang terjadi
pada diri Ayub bukanlah karena dosa, ataupun hukuman atas dosa. Cara pandang
ketiga sahabat Ayub berhubungan dengan penderitaan yang dialaminya adalah
keliru. Mereka berpegang pada keyakinan mengenai pendapat tradisonal tentang
pembalasan di bumi. Inilah permasalahan yang ada pada Kitab Ayub.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
159
Melalui penderitaan, Allah hendak mendidik manusia supaya semakin
dewasa dalam iman, sehingga mempunyai kepekaan pada permasalahan dan
pengalaman penderitaan yang terjadi pada sesama, serta ikut ambil bagian dalam
menghadapi dan mengatasi penderitaan tersebut.
Pada akhir cerita, kehidupan Ayub dipulihkan kembali oleh Allah. Allah
melipatgandakan segala kepunyaan Ayub sebelum ia dicobai iblis. Ini semua
adalah buah dari ketaatan Ayub akan Allah, meski menderita, Ayub tetap
menyimpan harapan pada Allah serta setia dan takut akan Allah, walaupun
sebelumnya Ayub sempat mengeluh pada keadilan Allah, dan tidak mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang misteri rencana Allah.
Berkaitan dengan usaha untuk menemukan makna dibalik penderitaan
manusia, Katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP)
menjadi salah satu alternative yang dapat digunakan untuk mengaktualisasikan
usaha dalam menemukan makna-makna penderitaan, sehingga umat kristiani dapat
bersikap bijaksana dan lebih baik lagi dalam menyikapi penderitaannya. Dengan
begitu, penderitaan tidak dilihat sebagai peristiwa yang sangat menakutkan.
Singkatnya, katekese pembebasan dapat menjadi tempat bagi makna-makna
penderitaan diungkapkan dan disadari umat beriman demi tumbuhnya harapa baru
atas pembebasan diri dari belenggu penderitaan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
160
B. Saran
Berikut ini adalah saran-saran yang dapat diungkapkan kepada siapa saja
yang membaca atau menggunakan skripsi ini, juga yang hendak melanjutkan usaha
memaknai penderitaan dan katekese pembebasan model Shared Christian Praxis
(SCP).
Kitab Ayub memberi gambaran kepada kita bahwa tidak semua penderitaan
diakibatkan oleh dosa, misalnya saja Ayub. Dia adalah orang beriman tetapi
mengalami penderitaan. Penderitaan memang sesuatu yang misteri, tidak dapat
dipahami dengan nalar kita, karena rencana Allah penuh misteri dan selalu indah
pada waktunya. Oleh sebab itu, kita disarankan untuk tidak melihat dan menilai
penderitaan yang menimpa orang lain sebagai akibat dari dosanya.
Dalam usaha mencari dan menemukan makna hidup ini, kita tidak boleh
berhenti, karena hidup ini terus berjalan dan berkembang, maka sebagai makhluk
reflektif dan juga beriman kita sebaiknya kita berusaha untuk memaknai dan
menyikapi pengalaman-pengalaman hidup secara terus-menerus dan lebih tepat
lagi.
Katekese pembebasan dengan model Shared Christian Praxis (SCP) dapat
menjadi salah satu alternative bagi para katekis. Untuk itu, dalam rangka
menerapkan ataupun mengembangkan katekese ini, terkebih dahulu katekis harus
memahami duduk permasalahan dari adanya penderitaan. Hal ini sangat berguna
untuk membantu umat yang sedang mengalami penderitaan, supaya dapat
menemukan harapan baru untuk membebaskan diri dari belenggu penderitaan,
serta semakin membantu katekis untuk semakin bertindak bijaksana. Singkatnya,
kepekaan dan kesadaran akan realitas sangat membantu dalam mengembangkan
katekese pembebasan model Shared Christian Praxis (SCP).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
161
DAFTAR PUSTAKA
Adisusanto, FX.,. (2000). Katekese Sebagai Pelayan Sabda (Seri Puskat No. 371).
Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat
Alkitab. (1997). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Atkinson, David. (1974). The Message Of Job. Penerjemah: Gwyneth Jones. Edisi
1.-1996; 2.-2002 (No. D 720/9, Seri Pemahaman dan Penerapan Amanat
Alkitab Masa Kini (PPAAMK) “Ayub” Dalam Kasih Allah Rahasia
Penderitaan, Tujuan, dan kekuatannya ditemukan). ISBN: 979-8976-00-2.
Jakarta: yayasan Komunikasi Bina Kasih, Anggota IKAPI DKI Jakarta.
Banawiratma, J.B., (1987). Kemiskinan dan Pembebasa. Yogyakarta: Kanisius.
Bria, Emanuel. (2007). Jika Ada Tuhan Mengapa Ada Kejahatan? (Percikan
Filsafat Whitehead). Yogyakarta: Kanisius.
Carretto, Carlo. (1989). Mengapa Ya Tuhan: Makna Derita Yang Mendalam.
(diterjemahkan oleh A. Soenarja, SJ). Yogyakarta: Kanisius.
Cookz, Bernard. (1972). Iman dan Katekis (Seri Puskat No. 110). Yogyakarta:
Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat
Dokumen Konsili Vatikan II. (1995). (R. Hardawiryana, SJ., penerjemah). Jakarta:
Obor
Dreher, Bruno. (1973). Pembebasan Manusia. diterjemahkan dan disesuaikan oleh
Alex Beding. Ende: Nusa Indah
Egan, Eilen & Egan, Kathleen. (2001). Suffering Into Joy: Mengubah Penderitaan
Menjadi Kegembiraan (A. Rahartati Bambang Haryo, Penerjemah). Batam:
Santo Press.
Fore, Wiliam F. (2000). Para Pembuat Mitos: Injil, Kebudayaan dan Media.
(Wenas Kalngit, Penerjemah). Jakarta: Gunung Mulia.
Groenen, C., OFM. (1979). Panggilan Kristen. Yogyakarta: Kanisius.
Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese.
(F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga
Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan th 1991).
Guinan, Michael D. “Ayub”. Dalam Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir
Kitab Perjanjian Lama: Ayub (Lembaga Biblika Indonesia). Yogyakarta:
Kanisius.
Hardiwikarta, J., Pr. (1985). Instruksi mengenai segi-segi tertentu “Teologi
Pembebasan”. Jakarta: Obor
Haryanto. (2011). “Memaknai Pengalaman Penderitaan”. (Dalam Dahsyatnya
Merapi Tak Sedahsyat Cinta-Mu (hal. 334). Yogyakarta: Seminari Tinggi
St. Paulus.
Nouwen, Henry J.M. (1998). Mencari Makna Kehidupan. Yogyakarta: Kanisius.
Heryatno Wono Wulung, FX., SJ. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model
Berkatekese (Seri PuskatcNo. 356). (saduran bebas dari Thomas H.
Groome, Sharing Faith: A Comprehensive Approach to Religious
Education and Pastoral Ministry, New York: Harper Collins, 1990, hal.
133-297). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat.
Huber, Th., SJ,. (1979). Arah Katekese Di Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, Ende:
Nusa Indah
. (1981). “Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan se- II: 26 Juni-5 Juli
1980”. Dalam Katekese Umat. Indonesia. Yogyakarta: Puskat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
162
Keating, Thomas. (1999). Krisis Iman Krisis Kasih. Yogyakarta: Kanisius.
Kleden, Budi. (2006). Membongkar Derita; Teodice: Kegelisahan Filsafat dan
Teologi. Cet. 1. Maumere: Seminari Tinggi Ledalero.
Krispurwana Cahyadi, T. SJ,. (2011). Yohanes Paulus II tentang Keadilan dan
Perdamaian. Jakarta: Fidei Press
Kushner, Harold. (1987). Derita Kutuk Atau Rahmat. Yogyakarta: Kanisius.
. (1988). Ketika Penderitaan Melanda Hidup Orang-orang Baik. Judul asli
“When Bad Things Happen To Good People”, (diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia oleh Tim Editor Mitra Utama, copyright 1981, Cetakan I
1988). Jakarta: Mitra Utama.
KWI. (1996). Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius
Magnis Suseno. (1987). Keadilan dan Analisis Sosial: Segi-Segi Etis. Dalam
Banawiratma (Ed.). Kemiskinan dan Pembebasan (hal. 37-38).
Yogyakarta: Kanisius.
Mardi Prasetya. (1992). Psikologi Hidup Rohani. Yogyakarta: Kanisius.
Michael Polanyi. (2011). Kajian Tentang Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Robini M, Johanes dan H. J. Suhendra, (2002). Penderitaan dan Problem
Ketuhanan: Suatu Telaah Filosofis Kitab Ayub. Yogyakarta: Kanisius.
Surip Stanislaus. (2008). Tragedi Kemanusiaan: Kejatuhan, Peradaban Jahat, dan
Penderitaan Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Telaumbanua, Marianus. (1999). Ilmu Kateketik: Hakekat, Metode dan Peran
Katekese Gerejawi. Jakarta: Obor.
Timotheus, M. ed. (1970). Penderitaan Tapa dan Puasa. Yogyakarta: Kanisius.
Van der Horst, Step. (1973). Teologi dan Katekese. Seri Puskat No. 21.
Yogyakarta: Puskat
Van Der Weiden, Wim. (1995). Seni Hidup: “Sastra Kebijaksanaan Perjanjian
Lama”. Yogyakarta: Kanisius.
. (2011). Setia Kendati Lemah. Yogyakarta : Kanisius.
Wahono Nitiprawiro. (1987). Teologi Pembebasan “Sejarah, Metode, Praksis dan
Isinya”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Wibowo Ardhi, FX. (1993). Arti Gereja. Yogyakarta: Kanisius.
Yewangoe, A.A. (1993). Thelogia Crucis di Asia (Stephen Sulleman, Penerjemah).
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Yohanes Paulus II, Paus. (1992). Catechesi Tradebdae (Penyelenggaraan
Katekese): Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II Kepada Para
Uskup, Klerus dan Segenap Umat Beriman tentang Katekese Masa Kini
(16 Oktober 1979). (Seri Dokumen Gerejawi No. 28). Diterjemahkan oleh
Robert Hardawiryana SJ. Jakarta: Departemen Dokumen dan Penerangan
KWI.
. (1993). Salvifici Doloris (Penderitaan yang Menyelamatkan). Seri
Dokemen Gerejawi No. 29. Surat Apostolik Paus Johanes Paulus II. (J.
Hadiwikarta, Pr., Penerjemah). Jakarta: Departemen Dokumen dan
Penerangan KWI
Download