bab i pendahuluan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Industri makanan dan minuman memiliki prospek pasar yang masih cerah
seiring pertumbuhan ekonomi, karena dukungan sumber bahan baku dan populasi
masyarakat Indonesia yang semakin bertambah, namun industri tersebut juga
harus berhati-hati menghadapi tantangan seperti harga produksi yang semakin
tinggi. Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan industri
makanan dan minuman pada tahun 2012 tumbuh berkisar 7% - 12%, bisa lebih
tinggi setelah tahun lalu tumbuh sebesar 9 % (www.kemenperin.go.id).
Industri makanan dan minuman menawarkan berbagai macam jenis produk
yang dapat dipilih oleh konsumen, salah satunya adalah es krim. Perkembangan
industri es krim di Indonesia cukup pesat. Meningkatnya taraf hidup masyarakat
Indonesia dan perubahan gaya hidup, merubah persepsi es krim di mata
masyarakat bukan hanya sebagai makanan yang mahal, tetapi sudah seperti
makanan selingan. Pangsa pasar es krim yang luas, menjadikan es krim kini
disukai di berbagai macam kalangan usia, mulai dari anak-anak sampai orang tua.
Pelan tapi pasti, tingkat konsumsi es krim di Indonesia menunjukkan tren yang
meningkat.
Salah satu marketing plan dari es krim Magnum adalah dengan
mengkondisikan dengan sangat langka produk es krim di pasaran, sehingga
1
masyarakat akan mencari dan berusaha mendapatkannya. Iklan dari es krim
Magnum di buat semenarik mungkin, sehingga masyarakat akan semakin
mencari es krim Magnum. Begitu cepat pengaruh iklan pada penjualan suatu
produk makanan, begitupun dengan es krim Magnum yang dalam waktu singkat
berhasil memikat banyak
konsumen. Tentunya strategi ini didukung dengan
marketing plan yang terencana dengan baik. Akhir November 2010, es krim
Magnum tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan di milis dan kalangan anak muda.
Produk besutan
PT Unilever Indonesia Tbk. ini sulit ditemukan di pasaran,
padahal tengah diluncurkan kembali dengan suasana komunikasi yang penuh
gegap gempita. Semakin banyak yang mencari, semakin banyak konsumen yang
penasaran dan memburunya. Inilah yang pertama kali terjadi, es krim menjadi
buruan konsumen Indonesia di mana-mana.
Es krim Magnum adalah salah satu contoh produk es krim dari produsen es
krim Wall’s yang bernaung di bawah perusahaan multinasional Unilever. Proses
yang dilakukan oleh pihak Unilever mengenai re-branding es krim Wall’s
Magnum telah menjadikan Wall’s Magnum berbeda jika dibandingkan dengan
Wall’s Magnum sebelum dilakukan re-branding. Unilever sebagai pemilik es
krim Wall’s Magnum, tahu bahwa para penikmat es krim di Indonesia
menginginkan sensasi pengalaman baru yang berbeda dalam menikmati sebuah
es krim. Untuk itulah Unilever mencoba mendesain ulang dengan memberikan
kesan yang unik dalam menikmati sebuah es krim. Unilever mencoba mendesain
ulang brand dari sebuah es krim bermerek “Magnum” menjadi sebuah merek
(brand), yang memiliki identitas yang unik dan otentik.
2
Berikut perbedaan-perbedaan es krim Magnum sebelum di re-branding dan
sesudah di-rebranding:
1. Produk
Secara umum perbedaan mendasar yang membedakan es krim Magnum sebelum
dan sesudah re-branding adalah bentuk kemasan yang mencolok dalam hal
desain pemilihan font dan pemilihan warna. Pada desain kemasan es krim
Magnum sebelum re-branding (lama) khususnya pada bentuk font, terlihat atau
terkesan kuat dan kaku. Sedangkan es krim Magnum yang sekarang didesain
dengan bentuk font yang memiliki kesan mewah. Sedangkan untuk model yang
sekarang dengan bentuk font yang lebih besar dan huruf “M” yang seperti dibuat
dengan cetakan membuat kesan mewah dan berwarna coklat dan keemasan
menambah kesan ekslusif pada desain kemasan es krim Magnum.
Gambar 1.1 Sebelum re-branding dan sesudah re-branding es krim Magnum
2. Varian Rasa
Setelah lebih dari satu dekade es krim Magnum hadir di Indonesia dengan hanya
satu varian rasa saja yaitu rasa vanila berlapis coklat, tapi sekarang setelah
3
melakukan perkenalan ulang (re-branding) es krim Magnum memperkenalkan
beberapa varian rasa baru ketika pertama kali diperkenalkan ulang ke masyarakat
umum, yaitu: Magnum Chocolate & Strawberry, Magnum Chocolate Brownies,
Golden Hazelnut, Choco Truffle, Classic, Almond Choco Capuccino, dan yang
terakhir adalah Magnum Gold.
Gambar 1.2 Varian rasa es krim Magnum
3. Komunikasi Pemasaran
Pencitraan es krim Magnum sebelum di re-branding di mata konsumen dinilai
biasa saja, bahkan tak jarang masyarakat yang belum atau tidak begitu mengenal
es krim Magnum. Namun setelah dilakukan re-branding, dengan melakukan
aktifitas marketing dan promosi melalui media iklan, media sosial, hubungan
dengan masyarakat, fokus terhadap positioning produk mereka. Es krim Magnum
tidak hanya semakin lebih dikenal dan dicari oleh para pecinta es krim, tapi juga
selalu dinanti mengenai kabar-kabar terbaru yang menyangkut es krim premium
ini. Berikut daftar ringkasan perbedaan es krim Wall’s Magnum sebelum dan
sesudah melakukan re-branding.
4
Tabel 1.1 Perbedaan sebelum dan sesudah rebranding
No
1
2
3
Perbedaan
Sebelum Rebranding
Sesudah Re-branding
Produk
Menggunanakan
font yang kaku dan
kuat.
Pemilihan warna
yang ramai
Penggunaan
font yang
simpel, pemilihan warna
keemasan yang polos dan
terkesan lebih mewah.
Varian Rasa
Hanya satu rasa
(Classic).
Komunikasi
Hanya melalui
Pemasaran
iklan konvensional
Memiliki berbagai macam
rasa:
Almond,
Golden,
Chocolate
truffle,
Strawberry,
Chocolate
Brownie .
Sistem Pemasaran yang
terintegrasi
seperti
periklanan,
hubungan
masyarakat,
proses
penjualan, kemasan,
logo,
positioning,
dan
harga,
sebagainya
Pesan yang ingin disampaikan oleh pihak Unilever adalah bahwa es krim
Magnum merupakan es krim dengan bahan-bahan berkualitas dan pengalaman
berkelas, yaitu Pleasure Indulgence, atau kenikmatan dengan cita rasa tinggi yang
terasa pada gigitan pertama lapisan coklat yang menyatu dengan es krim vanila
yang lembut. Es krim Magnum memberikan sensasi yang berbeda dimana para
konsumen diberi kesempatan memanjakan kenikmatan cita rasa melalui indera
perasa, persepsi, dan visual.
Dewasa ini persaingan perusahaan untuk memperebutkan konsumen tidak
lagi terbatas pada atribut fungsional produk seperti kegunaan produk, melainkan
5
sudah dikaitkan dengan merek yang mampu memberikan citra khusus bagi
pemakainya, dengan kata lain peranan merek mengalami pergeseran (Aaker,
1991). Merek akan dihubungkan dengan citra khusus yang mampu memberikan
asosiasi tertentu dalam benak konsumen. Dalam perkembangannya, perusahaan
semakin menyadari merek sebagai aset perusahaan yang paling bernilai. Oleh
karena itu, setiap perusahaan dituntut bersaing secara kompetitif dalam hal
menciptakan dan mempertahankan konsumen yang loyal (pelanggan), yaitu salah
satunya melalui persaingan merek untuk memberikan citra khusus bagi
konsumennya. Salah satu cara dalam meraih sukses perusahaan dalam
memenangkan persaingan pasar adalah menciptakan brand.
Merek (brand) bukanlah sekedar nama, istilah (term), tanda (sign), simbol
atau kombinasinya. Lebih dari itu, merek adalah janji perusahaan yang secara
konsisten memberikan features, benefits dan services kepada para pelanggan.
Janji inilah yang membuat masyarakat luas mengenal merek tersebut, lebih dari
merek yang lain (Aaker, 1997). Sekarang ini karakteristik unik dari pemasaran
modern bertumpu pada penciptaan merek-merek yang bersifat membedakan
(different) sehingga dapat memperkuat citra merek (brand image) produk. Semua
perusahaan ingin memiliki ekuitas merek yang kuat, karena dengan membangun
ekuitas merek dan kemudian ekuitas merek tersebut diterima oleh konsumen,
maka dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Langkah yang ditempuh
oleh pihak Unilever ternyata memberikan dampak yang luar biasa di kalangan
penikmat es krim, karena usaha Unilever dalam me-rebranding es krim Magnum
cukup sukses dalam meningkatkan tingkat penjualan dan keuntungan perusahaan,
6
bahkan di beberapa daerah persediaan es krim Magnum habis karena banyaknya
permintaan akan es krim tersebut.
Bagi sebagian besar perusahaan, iklan di televisi menjadi suatu pilihan
yang menarik sebagai sumber informasi atau mengingatkan konsumen terhadap
perusahaan atau suatu merek yang diiklankan beserta berbagai fitur atau
kelengkapan yang dimiliki dan juga keuntungan, manfaat, penggunaan, serta
memperkuat citra produk bersangkutan, sehingga konsumen akan cenderung
membeli produk yang diiklankan itu. Disamping itu, iklan harus dirancang
sedemikian rupa dengan pertimbangan yang matang agar tujuan yang hendak
dicapai melalui pesan iklan dapat tersampaikan secara efektif kepada konsumen.
Iklan telah menjadi harapan bagi sebagian besar produsen yang ingin merek
produknya melekat di hati konsumennya. Iklan merupakan cara yang efektif untuk
meraih konsumen dalam jumlah besar dan tersebar secara geografis. Di satu pihak
iklan dapat dipakai untuk membangun kesan jangka panjang suatu produk atau
merek dan di pihak lain dapat memicu penjualan yang cepat. Sebuah iklan dapat
dikatakan berhasil apabila produk barang atau jasa yang diiklankan dapat
mempengaruhi calon konsumen. Iklan menjadi sebuah informasi yang diberikan
dari
produsen
kepada
masyarakat,
dengan
harapan
masyarakat
mau
mengkonsumsi barang atau jasa yang ditawarkan. Oleh karena itu banyak
perusahaan yang menggunakan iklan sebagai cara komunikasi menyampaikan
informasi dan persuasi kepada konsumen.
Berdasarkan data penjualan es krim Wall’s, selalu terjadi peningkatan tiap
tahun, ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi es krim Indonesia cenderung
7
meningkat, seiring dengan makin gencarnya Unilever meningkatkan biaya
promosi dan iklan produknya.
Meningkatnya permintaan es krim Magnum, memberikan sinyalemen bahwa
produk es krim Magnum ini direspon cukup positif oleh konsumen, untuk itu
pihak Unilever memandang bahwa perlu adanya tempat untuk sekedar menikmati
es krim dengan cara dan pengalaman yang berbeda. Senior Brand Manager es
krim Magnum mengatakan, bahwa sejak diperkenalkan kembali pada akhir 2010,
es krim Magnum telah menarik perhatian para pecinta es krim di Indonesia, maka
menanggapi antusiasme ini, dibukalah Magnum Cafe.
Gambar 1.3 Menu-menu di Magnum Cafe
Salah satu strategi pemasaran yang dilakukan oleh es krim Magnum terbilang
unik. Setelah Grand Launching Magnum Cafe yang dilakukan pada akhir tahun
2010, keberadaan produk es krim Magnum tiba-tiba sangat sulit dicari di pasaran.
Kondisi tersebut menyebabkan konsumen sulit mencari keberadaan es krim
Magnum sehingga konsumen meluapkan keluhan, salah satunya di dalam Social
Media es krim Magnum telah disiapkan melalui akun Social Media di beberapa
8
tempat,
diantaranya
Facebook
dan
Twitter.
Magnum
Seeker
bertugas
menginformasikan dimana produk es krim Magnum dapat diperoleh dan
anggotanya adalah konsumen Wall’s Magnum itu sendiri. Penggunaan Social
Media tidak terlepas dari strategi pemasaran Word Of Mouth yang dilakukan oleh
es krim Magnum. Grand Launching yang mengundang orang-orang dari kalangan
sosialita dan selebritas yang memiliki banyak penggemar bertujuan memberikan
komentar di Social Media tentang es krim Magnum yang menjadikannya para
penggemarnya dibuat efek penasaran dan ingin mencoba es krim Magnum.
Selanjutnya strategi pemasaran yang dilakukan oleh es krim Magnum adalah
strategi pemasaran berdasarkan endorser. Hal ini untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian pada setiap calon konsumen. Penunjukan
Marissa Nasution sebagai Brand Ambassador es krim Magnum tidak serta merta
mengelompokkan es krim Magnum hanya dikalangan perempuan saja. Ini terlihat
dari para undangan Grand Lauching es krim Magnum yang terdiri dari laki-laki
dan perempuan. Alasan lain pemilihan artis Marissa Nasution karena sebagai
seorang Public Figure yang sibuk, yang memiliki jadwal yang padat, yang suka
sekali dengan es krim tetapi tetap tidak lupa untuk memanjakan diri dengan
kesenangan untuk diri sendiri (Pleasure Indulgence).
Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas
faktor-faktor variabel Iklan, Social Media, Event and Experiences, Celebrity
Endorser dan Hedonic Motives yang mempengaruhi keputusan pembelian es krim
Magnum dan kebijakan penetapan strategi pemasaran yang tepat pada calon
konsumen. Berkaitan dengan keseluruhan fenomena ini, penulis tertarik untuk
9
menyusun tesis yang berjudul: “Analisis Pengaruh Re-branding Es Krim
Magnum pada Minat Beli Konsumen”.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan Berdasarkan latar belakang maka perumusan masalah pada
penelitian ini adalah:
1. Apakah sikap konsumen terhadap iklan berpengaruh positif pada
Brand Image produk es krim Magnum?
2. Apakah sikap konsumen terhadap Social Media berpengaruh positif
pada Brand Image produk es krim Magnum?
3. Apakah sikap konsumen terhadap Event and Experiences berpengaruh
positif pada Brand Image produk es krim Magnum?
4. Apakah sikap konsumen terhadap Celebrity Endorser berpengaruh
positif pada Brand Image produk es krim Magnum?
5. Apakah Brand Image berpengaruh positif pada Brand Attitude pada
produk es krim Magnum?
6. Apakah Brand Attitude berpengaruh positif pada minat beli konsumen
pada produk es krim Magnum?
7. Apakah sikap konsumen terhadap iklan,
Social Media, Event and
Experiences, dan Celebrity Endorser berbeda untuk konsumen yang
motif hedonis tinggi dibanding dengan konsumen yang motif hedonis
rendah?
10
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis
variabel-variabel minat beli konsumen terhadap produk es krim Wall’s Magnum.
1. Untuk menganalisis pengaruh Sikap Konsumen
terhadap Iklan pada
Brand Image es krim Magnum.
2. Untuk menganalisis pengaruh sikap konsumen terhadap Social Media
pada Brand Image es krim Magnum.
3. Untuk menganalisis pengaruh sikap konsumen terhadap Event and
Experience pada Brand Image es krim Magnum.
4. Untuk menganalisis pengaruh sikap konsumen terhadap Celebrity
Endorser pada Brand Image es krim Magnum.
5. Untuk menganalisis pengaruh Brand Image pada Brand Attitude es krim
Magnum.
6. Untuk menganalisis Brand Attitude terhadap minat beli konsumen pada es
krim Magnum.
7. A. Untuk menganalisis perbedaan sikap terhadap iklan es krim Magnum
pada konsumen yang motif hedonis tinggi dengan konsumen yang
motif hedonis rendah.
B. Untuk menganalisis perbedaan sikap terhadap Social Media pada
konsumen yang motif hedonis tinggi dengan konsumen yang motif
hedonis rendah.
11
C. Untuk menganalisis perbedaan sikap terhadap Event and Experiences
pada konsumen yang motif hedonis tinggi dengan konsumen yang
motif hedonis rendah.
D. Untuk menganalisis perbedaan sikap terhadap Celebrity Endorser pada
konsumen yang motif hedonis tinggi dengan konsumen yang motif
hedonis rendah.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi akademisi
Secara akademik penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan
mengenai strategi komunikasi pemasaran dibalik suksesnya strategi rebranding sebuah produk.
2. Bagi praktisi
Bagi perusahaan, penelitian ini dapat memberikan masukan kepada pihak
Unilever tentang seberapa efektif sebuah produk dinilai berhasil dalam
kaitannya pada kebijakan re-branding melalui cara-cara yang melibatkan
tingkah laku konsumen.
12
Download