Obat yang Mempengaruhi Reproduksi Pria

advertisement

TENTIR MINGGU KEDUA MODUL REPRODUKSI DAN TENTIR PLENO PERTAMA
-NGABILA, PIWI, ALIN, NAFISAH, ANNISA PN-
Obat yang Mempengaruhi Reproduksi Pria
Etiologi:
 Sebagian besar kelainan reproduksi pria adalah oligospermia yaitu jumlah
spermatozoa kurang dari 20 juta per mililiter semen dalam satu kali ejakulasi
 Oligospermia dapat disebabkan oleh mikrodelesi kromosom Y
 Biasanya diberikan Testosteron, vit E, HMG sebagai suplemen. Belum ada
pengobatan yang terbukti secara klinis meningkatkan jumlah sperma
Obat-Obat Reproduksi Pria:
1. Testosteron
2. Supresi Androgen
3. Reseptor Inhibitor
4. Kontrasepsi Kimiawi Pria
1. Testosteron
 Banyak digunakan untuk defisiensi testosteron dan efek anabolik dari
testosteron
 Mekanisme kerja sama dengan testosteron natural. Merupakan hormon seks
untuk spermatogenesis, pematangan sperma, untuk menunjukkan tanda-tanda
kelamin sekunder, dll.
 Testosterone di kulit, prostat, vesika seminalis, dan epididimis akan diubah oleh
5α-reduktase menjadi dihidrotestosterone (DHT) menjadi bentuk androgen
yang dominan
 Berikatan dengan reseptor intraselular karena testosteron adalah hormon
steroid yang reseptornya berada intraseluler (di sitoplasma/inti sel).
Efek testosteron:
 Pada pria pubertas perkembangan karakteristik seks sekunder. Pada pria
dewasa dosis besar menyebabkan penekanan sekresi gonadotropin
(produksi GnRH menurun) atrofi jaringan interstisial dan tubulus testis
 Pada wanita efeknya sama dengan pria prepubertas pertumbuhan rambut
tubuh dan muka (hirsustisme), dll.
Penggunaan Klinis Testosteron:
 Androgen replacement therapy untuk defisiensi hipofisis. Jika defisiensi ini
disertai spermatogenesis abnormal berikan testosteron; Jika
spermatogenesis normal berikan gonadotropin.
 Pada remaja yang gagal mengalami growth spurt diberikan testosteron
Kelainan Ginekologis terkadang digunakan untuk masalah kongesti payudara
setelah melahirkan tetapi harus hati hati. Danazol (androgen lemah) untuk
endometriosis.
 Agen Metabolik Protein mengembalikan hilangnya protein setelah trauma,
imobilisasi berkepanjangan, operasi.
 Anemia merangsang pembentukan eritropoetin.
 Osteoporosis yang disebabkan defisiensi androgen
 Ca mammae pada wanita
 Pemicu pertumbuhan delayed puberty
 Penuaan mengembalikan libido, kekuatan bagi pria lansia
 Penyalahgunaan atlet untuk meningkatkan massa otot
Efek Samping Testosteron:
 Pada Wanita gangguan Pertumbuhan: disebabkan aksi maskulinisasi;
Hirsutisme, akne, amenorrhea, pembesaran klitoris, suara lebih dalam;
Meningkatkan atherosklerosis; dan Mengubah struktur serum lipid.
 Pada Wanita Hamil testosteron dapat menyebabkan maskulinisasi atau
undermaskulinisasi genitalia eksternal fetus menjadi Kontraindikasi
penggunaan testosteron bagi ibu hamil.
 Pada pria gangguan pertumbuhan; feminisasi-ginekomastia terutama pada
gangguan hepar; akne, sleep apnea, azoospermia, ginekomastia; Penurunan
ukuran testis karena terganggunya efek umpan balik; HDL turun, LDL naik;
Adenoma hepatik (jarang); Gangguan perilaku pada pria lebih agresif; dan
Hiperplasia Prostat.
Kontraindikasi Testosteron:
 Wanita hamil
 Wanita yang kemungkinan akan hamil
 Karsinoma prostat
 Karsinoma mammae pada laki-laki
PERHATIAN: beberapa kasus Ca hepatoselular terjadi pada kasus anemia aplastic
yang diterapi dengan testosteron.
2. Supresi Androgen
 Terutama untuk terapi karsinoma testis
 Yang biasa diberikan:
a) Pemberian GnRH Menyebabkan sekresi GnRH selalu tinggi.
Mekanisme yang normal adalah pulsatil GnRH memicu hormon di testis. Jika
konsentrasi selalu tinggi aktivitas testis tertekan.
b) Menggunakan antagonis GnRH dapat menghilangkan pemicu hormon seks
Antiandrogen:
 Biasa digunakan untuk pasien dengan jumlah testosteron berlebih dan sering
untuk Ca prostat, antara lain: estrogen, progesteron, dan flutamid.
 Ketokonazol(anti jamur) punya fungsi inhibisi sintesis steroid adrenal dan
testis
 Tidak bisa dipakai untuk wanita karena tidak menghambat aromatase
 Efek Samping ginekomastia (tumbuhnya payudara pada pria).
3. Receptor Inhibitor
a) Cyropterone dan cyropterone asetat menghambat efek androgen di organ
target. Cyropterone asetat memiliki efek progestasional dan menekan FSH dan LH.
Indikasi: Pria untuk menurunkan libido; Wanita terapi hirsutisme (tumbuh
rambut berlebih), 2mg/hari dikombinasikan dengan estrogen dapat juga digunakan
untuk kontrasepsi.
b) Flutamide antagonis kompetitif di reseptor andorgen.
Indikasi: pengobatan Ca prostat.
Efek samping: pemakaian lama ginekomastia ringan, dan hepatotoksisitas
(jarang)
c) Bicalutamide, nilutamide
d) Spironolactone (antihipertensi) menyebabkan hirsutisme dengan haid iregular
pada wanita.
4. Kontrasepsi Kimiawi Pria
a) Cyropterone asetat selain antiandrogen, juga menyebabkan oligospermia
(tidak dapat diandalkan sebagai kontrasepsi oral).
b) Hormon hipofisis antagonis GnRH
c) Gossipol trial di China, efek Gossipol dapat merusak epitel seminiferus namun
tidak mengubah fungsi endrokin testis. Suatu zat yang dapat menginhibisi
produksi sperma, berasal dari cotton seed.
Efek samping: hipokalemia dapat menyebabkan paralisis transien
d) Kombinasi testosteron dan progesteron.
- Penggunaan obat pada reproduksi pria dibagi dalam 2 hal, yaitu:
• Meningkatkan spermatogenesis terapi infertilitas
• Menurunkan spermatogenesis metode kontrasepsi
- Penatalaksanaan pasangan infertil melalui pertimbangan berbagai kondisi
pasangan, sewaktu datang pertama kali, antara lain:
• Lama usia perkawinan
• Kondisi dasar pasien/keadaan awal
• Obat-obatan yang dikonsumsi
• Sarana dan prasarana yang ada
• Pemeriksaan yang sudah dilakukan
Ditentukan pula:
• Lama pemberian terapi
• Kapan pemeriksaan hormon diperlukan.
• Kapan perlunya inseminasi dan
• ART yang lainnya,
Obat untuk meningkatkan spermatogenesis:
• Suplemen Se, Zinc, Vit C, Vit E yang merupakan antioksidan, Carnitin, CoenzimQ
• Pentoksifiin
• Fitofarmaka tribulus, ginseng, cordiceps, echinace
• Hormon
• FSH/LH, androgen
Etiologi Infertilitas:
Sperm Disorders
35 % pasangan suami istri
Ovulatory Dysfunction
20%
Tubal Dysfunction
30%
Abnormal Cervical Mucus
5%
Unidentified Factors
10%
- Terapi medis bagi pria infertil dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan
produksi spermatozoa yang berkualitas baik dan membebaskan semen dari
bahan toksik dan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan pada
membran spermatozoa.
- Setiap sel hidup memiliki 500-5.000 mitokondria (The Energy Power House).
- Mitokondria sperma berkonsentrasi di bagian lehernya. Padahal yang masuk ke
dalam ovum adalah bagian kepala sperma saja. Oleh karena iu DNA mitokondria
anak hanya di dapatkan dari DNA mitokondria sang ibu.
Pentoksifilin
Penggunaan pentoxifylline sebagai terapi spermatozoa in vitro sudah diketahui
menurunkan produksi anion superoksida menjadi 50%. PAF (Platelet-activating
factor), Lyso-PAF, dan Lysophsphatidyl Cholin telah diperlihatkan dapat untuk
meningkatkan motilitas spermatozoa yang bergerak lurus secara in vitro dan telah
dipostulasikan untuk beraktifitas seagai “ROS scavengers”.
Fitofarmaka Ginseng, Cordiceps, Herba epimedii, Tribulus terrestris, Echinacea,
Curcuma, dan Silybum marianum.
Idealnya preparat Herbal dibidang sexologi (andrologi) adalah memiliki efek:
• Relaksasi: mengatasi stress dan rasa cemas.
• Aprodisiak: meningkatkan gairah seksual
• Tonic: meningkatkan stamina dan vitalitas
• Adaptogen: meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stress fisik dan mental.
• Keseimbangan kadar hormon (meningkatkan keseimbangan hormon testoteron).
Hormonal
Terapi sulih hormon dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan hormon yang
diketahui mempunyai peranan dalam mengatur spermatogenesis. Apabila diketahui
bahwa hormone tidak normal, maka hal ini sangat penting untuk ditanggulangi
lebih dahulu dari pada pemberian terapi dengan obat-obatan lain yang tidak spesifik.
Peran Androgen (Mestrolon dan Testosteron)
 Perkembangan & fungsi Testis
 Maturasi Spermatozoa
 Karakter Seks Sekunder
 Perkembangan serabut otot
 Meningkatkan libido
 Stimulasi Spermatogenesis
Obat yang Menurunkan Spermatogenesis
1. Non-Hormonal
a) Zat sintetik nitrogen mustard; alkylating agent (nitrofuran, dinitropiral, kolkisin,
antiamuba.
b) Antineoplastik
2. Hormonal
a) Agonist & antagonist LH dan GnRH
b) Hormon inhibin
c) Hormon androgen
d) Kombinasi androgen dan progestin
e) Antiandrogen (cyproterone acetate)
- Perbedaan antara obat GnRH agonis dan GnRH antagonis: GnRH agonis memiliki
efek yang sama dengan GnRH alamiah yang diproduksi oleh hipotalamus tubuh
manusia.
- GnRH antagonis memblok reseptor GnRH alami, sehingga tidak bisa diproduksinya
GnRH sehingga produksi gonadotropin (LH dan FSH) menurun.
- Pada pemakaian jangka panjang GnRH agonis, lama kelamaan akan memiliki efek
antagonis. Pada awalnya GnRH agonis dapat meningkatkan produksi GnRH,
sehingga FSH dan LH juga diproduksi banyak, akan tetapi dalam penggunaan jangka
panjang dan beredar banyak dalam sirkulasi tubuh (dalam bentuk depo/granulgranul kecil/tidak pulsatil/kontinu)--> menyebabkan reseptor GnRH
terdeplesi/tersembunyi--> tidak bekerja lagi reseptornya--> produksi FSH dan LH
menurun.
- Pulsatil memiliki makna yang antagonis dengan kontinu/depo. Kalau pulsatil,
berarti dalam jangka waktu tertentu, 60 detik sekali, akan dikeluarkan sekretnya.
Sedangkan kontinu, dilakukan perubahan pada asam amino penysunnya sehingga
sekresi tidak berlangsung secara teratur.
- Antiandrogen: menghambat reseptor hormon androgen. Contoh antiandrogen:
Finesterid. Kerja obat ini tidak menduduki reseptor androgen, akan tetapi
menghambat enzim 5-alfa reduktase yang digunakan untuk mengubah testosteron
menjadi Dehidrotestosteron (DHT) yang merupakan bentuk aktif hormon
testosteron untuk perkembangan organ genitalia eksterna pada pria.
Tentir Obat pada Sistem reproduksi Wanita
Estrogen dan Progestin
Estrogen
• sumbernya : dari ovarium, testis, palsenta, serta korteks adrenal
•
estrogen itu merupakan hormon steroid yang dapat dibentuk dari
androstenedion atau testosterone, reaksinya ini dikatalisis oleh enzim
aromatase (CYP 19)
•
bentuk sediaan estrogen :
-
-
alami : estradiol (yang paling poten), estrone, estriol
sintetik: ethinyl estradiol (EE), mestranol, diethylstilbestrol (DES)
o DES itu sama potennya dengan estradiol, tetapi waktu paruhnya
lebih panjang
- jenis lain : conjugated equine estrogens
o Plasenta akan mengubah hormon androgen yang dihasilkan fetus
menjadi estrogen (estrone dan estriol). Sehingga urin wanita hamil
mengandung banyak estrogen. Demikian juga yang terjadi pada urin
kuda yang hamil (pregnant mare), juga merupakan sumber estrogen
(conjugated equine estrogens) yang berlimpah, dan digunakan untuk
kepentingan terapi
-
-
-
Efek Estrogen
pada tulang :
- memiliki efek positif pada massa tulang
- estrogen meregulasi aktivitas osteoblas
- meningkatkan sintesis kolagen
- menurunkan jumlah dan aktivitas osteoklas, serta mencegah maturasi
precursor osteoklas menjadi osteoklas yang matur, serta menginduksi
apoptosis osteoklas
- memiliki efek anti-apoptosis pada osteoblas dan osteosit
mempengaruhi pertumbuhan tulang dan penutupan lempeng epifisis pada
pria dan wanita
pada metabolisme
- meningkatkan serum TG, dan menurunkan kadar kolestrol total serum
- meningkatkan kadar HDL dan menurunkan LDL serta LP (a)
- perubahan menguntungkan ini merupakan efek yang sangat menarik
dari terapi estrogen pada wanita menopause, tapi berdasarkan dua uji
klinis yang dilakukan ternyata baik terapi estrogen saja maupun
estrogen + progestin tidak memberikan efek protektif terhadap
penyakit kardiovaskular
- Estrogen juga mengubah komposisi getah empedu (bile) dengan
meningkatkan sekresi kolesterol dan menurunkan sekresi asam
empedu  dengan begitu saturasi kolesterol pada getah empedu
meningkat  menjadi dasar peningkatan pembentukan gallstone pada
wanita yang menggunakan estrogen
-
estrogen saja  sedikit menurunkan kadar glukosa darah puasa dan
insulin, tetapi tidak memiliki efek pada metabolisme karbohidrat
estrogen + progesteron dengan kadar yang lebih tinggi dari yang
digunakan sekarang sebagai kontrasepsi dapat menganggu toleransi
glukosa
estrogen meningkatkan kadar cortisol-binding globulin, thyroxinebinding globulin, and sex hormone-binding globulin (SHBG) di plasma 
yang akan berikatan baik dnegan estrogen maupun hormon androgen
Farmakokinetik
- dapat diberikan secara oral, parenteral, atau topical
- pemberian oral sering dilakukan, dapat menggunakan estradiol, conjugated
estrogens, atau ethinyl estradiol
- ethinyl estradiol ini digunakan secara oral, dan pada struktur kimianya ada
subtitusi ethinyl pada atom c17  akibatnya terjadi penghambatan metabolisme
lintas pertama  waktu paruh lebih panjang
- jenis lain , premarin, yang mengandung conjugated equine estrogens , yang
kandungan utamanya adalah ester sulfat dari estron, equilin, dan sneyawa alami
lainnya.
- di plasma, estradiol, ethinyl estradiol, and dan estrogen lainnya berikatan
dengan protein plasma. Estradiol, dan estrogen alami lainnya terutama berikatan
dengan sex hormone-binding globulin (SHBG) dan sisanya dnegan albumin.
Sebaliknya, EE terutama berikatan dengan protein albumin
- secara umum, estradiol akan mengalami biotransformasi dengan cepat di hati,
akan dubah menjadi estrone, yang nantinya akan mengalami konversi lagi menjadi
estriol (estriol merupakan metabolit utama dalam urin). Di hati dimetabolisme oleh
CYP 3A4. Di eksresi melalui urin dan feses
- banyak obat lain serta faktor lingkungan (contohnya merokok) yang
meningkatkan atau menghambat aktivitas enzim yang memetabolisme estrogen 
sehingga dapat mengubah clearance estrogen
Indikasi
• kontrasepsi
• terapi hormonal untuk wanita menopause
• untuk terapi pada kegagalan perkembangan ovarium  misalnya pada
sinroma Turner atau pada penderita hipogonadism
Progestin
- merupakan senyawa yang memiliki
aktivitas biologis sama dengan
progesterone
- meliputi hormon progesterone alami,
MPA, turunan17 acetoxyprogesterone dalam
golongan pregnane, turunan 19nortestosterone (estranes), serta
norgestrel dan sneyawa lainnya pada
golongan gonane
- Medroxyprogesterone acetate
(MPA) dan megestrol acetate
merupakan steroid yang memiliki
efek sangat mirip dengan
progesterone
- 19-nortestosterone banyak
digunakan untuk kontrasepsi oral
- MPA banyak digunakan untuk
kontrasepsi suntik, MPA juga
digunakan dalam terapi hormonal
bersama estrogen
Efek
pada sistem reproduksi
o merangsang perkembangan endometrium ke fase sekretorik
o menurunkan sekresi kelenjar endoserviks  sekresi menjadi sedikit, dan
kental  menurunkan penetrasi sperma
- menhambat menstruasi dan menurunkan kontraksi uterus
- efek metabolik
o progesterone meningkatkan kadar insulin basal
o meningkatkan aktivitas LPL  meningkatkan deposisi lemak
o progestron dan MPA meningkatkan kadar LDL
o 19 nor progestin memiliki efek terutama pada lipid plasma
Farmakokinetik
- progesteron alami mengalami metabolisme lintas pertama di hati dengan cepat
 bioavailabilitasnya rendah
- bentuk sediaannya ada yang oral, injeksi, gel vagina, serta alat yang
mengeluarkan progesterone intauterin
- megestrol acetate dapat digunakan per oral metabolisme di hatinya rendah
sehingga dapat bertahan dan bekerja lebih lama, Begitu juga dengan 19-nor
steroids (seperti norethindrone, levonorgestrel, desogestrel )
- di plasma, progestron berikatan dengan albumin dan corticosteroid-binding
globulin (CBG), tapi tidak dengan SHBG
- Sedangkan, 19-Nor compoundsberikatan dnegan SHBG dan albumin dan MPA
terutama berikatan dengan albumin
- dieksresi lewat urin dan feses
indikasi
- kontrasepsi , sendiri ataupun kombinasi dengan estrogen
- + estrogen  hormon replacement therapy
- endometrial cancer (MPA)
- secondary amenorrhea
- breast cancer (yang digunakan Megestrol asetat)
HORMONAL CONTRACEPTIVES
 fungsi : untuk mencegah konsepsi
 ada dua tipe utama :
- kontrasepsi oral kombinasi
o mengandung estrogen dan progestin
o efikasinya 99.9%
o estrogen yang digunakan : Ethinyl estradiol and mestranol progestin
yang paling sering digunakan : levonorgestrel
o mekanisme kerja :
- mencegah terjadinya ovulasi
- supresi LH dan FSH, tdk adanya LH surge di tengah siklus, serta tidak adanya
steroid endogen  akibatnya tidak terjadi ovulasi
- efek ini juga dapat ditimbulkan oleh masing-masing hormon sendiri, tapi
dalam bentuk kombinasi penurunan kadar gobadotropin serta supresi ovulasi
yang terjadi lebih konsisten
- progestin dapat menurunkan frekuensi ritmis GnRH
- estrogen dapat mensupresi pelepasan FSH dari hipofisis pada fase folikular 
akibatnya perkembangan folikel terhambat
- pada serviks, progestin juga dapat menyebabkan perubahan sekresi kelenjar
sehingga mucus yang dihasilkan kental dan akan menurunkan kemampuan
penetrasi sperma
- adanya ketidak seimbangan hormonal meyebabkan gangguan pada proses
implantasi
- Kontrasepsi yang hanya mengandung progestin
o efikasinya sedikit lebih rendah (99%)
o efek progestinnya sama dengan yang pada kontrasepsi kombinasi
o bentuk sediaan :
ada yang berupa pil diminum per oral
ada yang berupa impnt subdermal levonorgestrel (6 implant)bisa mencegah
konsepsi hingga 5 th
ada yang dapat disuntik IM  MPA, dapat efektif hingga 3 bulan
ada yang berupa alat intrauterine yang akan melepas progesterone sedikit demi
sedikit
Waktu Pemberian
o pil oral  hari pertama menstruasi
o melalui suntikan atau implant  hari kelima menstruasi
Kontraindikasi
• kehamilan, Diabetes Mellitus, hiperlipidemia, hipertensi, wanita > 40 tahun
atau > 35 tahun dan merokok, migraine, mederita penyakit kardiovaskular,
penyakit hati, penyakit jantung, obesitas, asthma, pernah menderita kanker
pada sistem resproduksi atau payudara, hyperplasia endometrial,
perdarahan vagina tidak terdiagnosis
Interaksi Obat, yaitu berinteraksi dengan barbiturates, hydantoin , carbamazepine ,
rifampicin , laksatif tertentu ,
Obat pada Perempuan Hamil dan Janinnya
Harus dipikirkan efeknya terhadap ibu dan janin. Keberadaan obat pada ibu hamil
dapat ditinjau dari 3 kompartemen: ibu, plasenta, dan fetal.
Hormon plasenta mempengaruhi fungsi traktus digestivus dan motilitas usus,
filtrasi glomerulus, resorbsi inhalasi alveoli paru.
Resorbsi obat pada usus ibu hamil lebih lama, eliminasi obat lewat ginjal lebih cepat,
dan resorbsi obat inhalasi pada alveoli paru bertambah.
Pada awal trimester dua dan tiga, terjadi hidraemia sehingga kadar obat relatif
turun. Kadar albumin relatif menurun sehingga pengikat obat bebas berkurang.
Maka obat bebas dalam darah ibu meningkat.
Pada unit fetoplasental terjadi pula filtrasi obat. Plasenta dapat mengurangi atau
mengubah obat pada sawar plasenta.
Jika obat masuk ke sirkulasi fetal, kadar/dosis obat dapat berpengaruh baik ataupun
jelek pada organ-organ vital janin. Jenis obat tertentu, dosis yang tinggi, dan lama
paparnya akan berpengaruh teratogenik pada janin, terutama pada trimester satu.
Hal ini dapat meningkatkan kelainan organ atau pertumbuhan janin intrauterin.
Farmakokinetik Obat Fetomaternal
Perubahan pada traktus urinarius
 Motilitas usus berkurang, pengosongan lambung lebih lambat sekitar 50% 
memperlama obat di traktus digestivus.
 Peningkatan sekresi mukosa, pH gaster meningkat (sekitar 40% lebih tinggi
daripada perempuan tidak hamil)  terganggunya bufer asam basa. Resorbsi
makanan dan obat menurun, efek teraropoetik obat berkurang.
 Mual/muntah akan mempengaruhi dosis obat yang masuk traktus digestivus 
makanan dan minuman yang masuk ke usus berkurang bahkan tidak ada  obat
yang masuk sangat sulit apalagi bila formula obat menambah pH gaster.
Komposisi makanan yang merangsang akan menambah cairan gaster
dimuntahkan. Oleh karena itu, akan terkondisi suatu keadaan alkalosis pada
darah ibu. Bila tidak ada makanan yang masuk, dan absorbsi sulit atau
berkurang, maka akan diikuti metabolisme lemak dan protein yang
menyebabkan asidosis darah ibu.
Pengaruh pada paru
Hormon plasenta terutama progesteron  terjadi vasodilatasi kapilar alveoli 
volume plasma bertambah  curah jantung bertambah  sirkulasi pulmonal
bertambah  maka absorbsi di alveoli akan bertambah  pemberian obat-obat
inhalasi jangan sampai berlebihan dosisnya.
Distribusi obat
Mulai trimester dua, plasma darah di sirkulasi ibu akan bertambah 50-60% atau
sampai sekitar 8.000 cc.  curah jantung meningkat  filtrasi glomerulus ginjal
meningkat; tambahan darah di plasenta, janin dan amnion (sekitar 60%) dan
dalam darah ibu 40%  kadar obat dalam sirkulasi ibu distribusinya dalam organ
relatif tidak sama.
Perubahan kadar protein darah
Pada kehamilan, produksi albumin dan protein lain pada hepar sedikit
bertambah, volume plasma meningkat (hidraemia)  kadar albumin menurun
(hipo albuminemia fisiologis). Sebagian protein akan berikatan dengan
progesteron  hanya sedikit yang mengikat obat  peningkatan kadar obat
pada ibu hamil  penurunan kadar obat oleh karena hidraemia dan peningkatan
kadar obat dalam plasma  kadar obat relatif tidak berkurang.


Detoksikasi/eliminasi obat
 Hepar
Hormon plasenta  fungsi hati terganggu  pembentukan protein
menurun terutama albumin  enzim-enzim hepar, protein pasma, dan
imunoglobin produksinya berkurang  detoksikasi obat akan
berkurang, kecuali ada obat tertentu yang meningkatkan aktivitas
metabolisme sel hepar akibat rangsangan enzim mikrosom oleh hormon
progesteron. Beberapa jenis obat akan lebih menurunkan fungsi hepar
akibat kompetitif inhibisi dari enzim oksidase serta mikrosom akibat
pengaruh hormon plasenta terutama progesteron dan estrogen.
 Ginjal
Hormon progesteron  vasodilatasi  volume plasma dararh
meningkat  aliran darah glomerulus meningkat sampai 50%  GFR
meningkat  beberapa jenis obat lebih cepat diekskresikan (penisilin
dan derivatnya, digoksin, dan golongan makrolid).
Kompartemen Plasenta
Plasenta merupakan unit yang berfungsi menyalurkan nutrien dari ibu ke janin. Bila
dalam plasma darah ibu terdapat pula obat, maka obat ini akan melalui mekanisme
transfer plasenta (sawar plasenta), membran bioaktif sitoplasmik lipoprotein
trofoblas, endotel kapilar vili korialis, dan jaringan pengikat interstisial vili. Bila
dalam plasma darah ibu mengandung obat, maka obat ini akan melalui sawar
plasenta dengan cara berikut:
 Difusi pasif/aktif
 Transportasi aktif dan fasilitatif fagositik, semi permiabel membran sel
trofoblas, dan mekanisme gradien elektro kimiawi.
Kadar obat yang telah ditransfer dapat sama atau lebih sedikit.
Kompartemen Janin
Periode pertumbuhan janin yang dapat berisiko dalam pemberian zat atau obat
pada pertumbuhannya adalah sebagai berikut:
 Periode embrio 2 minggu pertama sejak konsepsi
Pada periode ini embrio belum terpengaruh oleh efek obat penyebab
teratogenik
Peroide organogenesis yaitu sejak 17 hari sampai sekitar 70 hari
pascakonsepsi sangat rentan terhadap efek obat, terutama obat-obat
tertentu yang memberi efek negatif atau cacat bawaan pada pertumbuhan
embrio atau janin.
Setelah 70 hari pasca konsepsi dimana organogenesis masih berlangsung
walau belum sempurna, jenis obat yang berpengaruh tidak terlalu banyak
bahkan ada yang mengatakan tidak berpengaruh.
Namun, periode trimester 2 awal sampai trimester 3 masih ada obat-obat tertentu
yang dapat mempengaruhi fungsi organ-organ atau retardasi organ-organ vital.
Contoh ACE inhibitor pada trimester 2 dan 3 dapat menimbulkan disfungsi renal
janin, juga obat-obat yang lain atau zat-zat tertentu berpengaruh pada proses
maturasi sistem saraf pusat karena mielinisasi sistem saraf berlangsung lama
bahkan sampai periode neonatal. Dengan demikian, obat-obat tertentu dapat
menimbulkan adanya serebral palsi, kemunduran pendengaran, dan keterlambatan
mental. Obat-obat yang bisa melewati sawar plasenta dan masuk dalam sirkulasi
janin akan berakibat baik atau jelek. Hal ini terkait dengan metabolisme di dalam
janin sendiri terhadap obat yang masuk. Kemampuan janin di dalam memetabolisasi
obat sangat terbatas. Protein mengikat obat pada plasm janin lebih rendah bila
dibandingkan dengan protein plasma ibu hamil. Albumin janin belum cukup
mengikat obat, maka akan terjadi keseimbangan: kadar obat di dalam janin lebih
tinggi jika dibandingkan dengan kadar obat di dalam plasma ibu. Dalam periode
setelah 17 hari pascakonsepsi organ yang telah terbentuk dapat mengadakan
detoksikasi atau memetabolisme obat walau belum sempurna dan masih minimal.
Dengan demikian, obat yang masuk ke dalam janin dapat tersimpan lama di dalam
sirkulasi janin. Bilamana organ-organ sudah cukup berfungsi, hasil metabolisme
dapat diekskresikan di dalam amnion. Sebagian obat dalam sirkulasi janin dapat
pula kembali ke plasenta dan mengalami detoksikasi pada plasenta. Bila kadar obat
cukup tinggi di dalam sirkulasi janin, obat akan masuk ke jaringan janin. Bilamana
jaringan organ masih belum sempurna, janin akan terpengaruh pertumbuhannya.
Oleh karena itu, keseimbangan obat dalam plasma ibu dan plasma janin sangat
penting diketahui. Transfer obat yang melewati sawar plasenta digolongkan
sebagai berikut:
 Tipe 1
Obat yang seimbang antara kadar di dalam plasma ibu dan di dalam plasma
janin. Berarti terjadi transfer lewat sawar plasenta secara lengkap sehingga
efek terapi tercapai pada ibu dan janin. Dalam hal ini masuknya obat dan
eksresi obat pada janin sama.


Tipe 2
Obat yang kadar pada plasma janin lebih tinggi daripada di dalam plasma
ibu, artinya terjadi transfer yang baik lewat plasenta, tetapi ekskresi pada
janin sangat sedikit.
Tipe 3
Obat yang kadar di dalam plasma janin lebih rendah daripada kadar yang di
dalam plasma ibu, artinya transfer lewat sawar plasenta tidak lengkap.
Pernah terjadi musibah bayi Talidomid pada tahun 1993, bayi-bayi itu mengalami
kelainan cacat bawaan tanpa ekstremitas akibat ibu mengkonsumsi talidomid.
Untuk menghindari hal ini, dibuat daftar kategori obat oleh Badan Pengawas Obat
Amerika (USFDA—united state Food and Drug Administration).
Kategori
A
B
C
D
X
Tabel 1. Kategori obat pada ibu hamil berdasarkan risiko janin
Keterangan
Penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding tidak
menunjukkan peningkatan risiko abnormalitas terhadap janin
Penelitian pada hewan tidak menunjukkan bukti bahwa obat berbahaya
terhadap janin, tetapi belum ada penelitian yang memadai dengan
menggunakan pembanding pada ibu hamil. Atau penelitian pada hewan
menunjukkan efek yang tidak dikehendaki, tetapi penelitian yang
memadai dengan menggunakan pembanding pada ibu hamil tidak
menunjukkan risiko terhadap janin
Penelitian pada hewan telah menunjukkan efek yang tidak dikehendaki
terhadap janin, tetapi belum ada penelitian yang memadai dengan
menggunakan pembanding pada ibu hamil. Atau belum dilakukan
penelitian pada hewan dan tidak ada penelitian yang memadai dengan
menggunakan pembanding pada ibu hamil
Terdapat penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding
pada ibu hamil atau pengamatan menunjukkan risiko bagi janin. Namun
harus dipertimbangkan manfaat pemberian obat dibandingkan risiko
yang dapat ditimbulkan
Penelitian yang memadai pada ibu hamil dengan menggunakan
pembanding hewan, telah menunjukkan bukti positif terjadinya
abnormalitas janin. Penggunakan obat dengan kategori risiko ini
dikontraindikasikan pada ibu yang sedang hamil atau akan hamil
Tabel 2. Contoh Kategori Risiko Penggunaan Obat pada Masa Kehamilan (FDA)
Nama obat
Pada kehamilan
Parasetamol
Asetosal
Bismut
Kafein
CTM
KondroDitin sulfatglukosamin
Kotrimazol
Kodein
B
C (D jika dosis penuh diberikan pada trimester 3)
C (D pada trimester 3)
B
B
Tidak ada data
B (tropika), C (troches)
C (D jika digunakan pada waktu lama atau pada dosis
tinggi)
Dimenhidrinat
B
Difenhidramin
B
Efedrin
C
Famotidin
B
Dokusate sodium
C
Sumber: Pusat Informasi Obat Nasional, Badan POM, 2006
Farmakoterapi pada janin
Pada suatu saat bila diberikan pengobatan kepada janin dengan sengaja obat
diberikan melalui ibunya. Misalnya antibiotika, antiaritmia, vitamin K,
deksametason, dan betametason dapat melalui sawar plasenta dan masuk dalam
sirkulasi janin dengan baik oleh karena detoksikasi dan metabolisme pada plasenta
hanya sedikit. Kedua obat deksametason dan betametason sering digunakan
sebagai perangsang pematangan pada janin. Ada beberapa obat yang masuk di
dalam sirkulasi janin yang seimbang dengan obat dalam sirkulasi ibu dan
diekskresikan dengan baik oleh janin dan masuk ke dalam amnion, misalnya
flekainid.
Teratogenesis
Penggunaan obat yang dijual bebas selama kehamilan perlu dipertimbangkan dan
diberikan saran yang bersifat retrospektif dimana penggunaannya dapat
memberikan efek negatif dan obat mana yang perlu diberikan secara hati-hati serta
kapan pemberian obat yang paling aman pada usia janin yang tepat. Teratogenesis
adalah defek anatomi, pertumbuhan pada janin yang dapat meliputi:
 Defek struktur major dan minor organ janin
 Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
 Kematian janin (IUFD)
 Kegagalan implantasi dan pertumbuhan embrio

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Pengaruh neonatal seperti gangguan neurologik akibat obat-obat yang
mempengaruhi pertumbuhan mielinisasi jaringan saraf atau pemberian
obat-obat yang mempunyai efek karsinogenesis pada neonatal dan anak.
Tabel 3. Obat yang terbukti kuat menimbulkan efek teratogenik
Obat
Efek teratogenik
Aminopterin, metotreksat
Malformasi SSP dan anggota gerak
Gagal ginjal berkepanjangan, penurunan
ACE-i
osifikasi tempurung kepala, disgenesis tubulus
renalis
Obat-obat antikolinergik
Ileus mekomium neonatus
Obat-obat
antitiroid Gondok pada janin dan bayi hipotiroidismus,
(propiltiourasil
dan dan aplasia kutis (metimazol)
metimazol
Karbamazepin
Defek neural tube
Siklofosfamid
Malformasi SSP
Danazol
dan
obat Maskulinisasi pada janin perempuan
androgenik lainnya
Dietilstilbestrol
Ca vagina dan defek sistem urogenital
Obat hipoglikemik
Hipoglikemia neonatal
Litium
Ebstein’s anomali
Misoprostol
Moebius sekuens
NSAIDs
Kontraksi duktus arteriosus, enterokolitis
nekrotikans
Parametadion
Defek wajah dan SSP
Fenitoin
(SSP)
Obat-obat
psikoaktif Gangguan pertumbuhan dan defisit SSP
(barbiturat, opioid, dan neonatal. Withdrawal syndrome jika obat
benzodiazepine)
diminum pada akhir periode kehamilan
Retinoid
sistemik Defek SSP, kardiovaskular, dan kraniofasial
(isotretinoin dan atretinat)
Tetrasiklin
Anomali pada gigi dan tulang
Talidomid
Fokomedia dan defek organ internal
Trimetadion
Defek pada wajah dan SSP
Asam valproat (valproic Defek neural tube
acid)
Warfarin
Defek skeletal dan SSP, Dandy-Walker
syndrome
Konseling dan pemilihan obat pada ibu hamil
 Tujuannya adalah menghindari atau mengurangi abnormalitas pada janin.
 Hindari pemberian obat pada periode pertama pascakonsepsi.
 Hindari makanan minuman dan zat yang tidak diperlukan oleh janin dalam
pertumbuhannya: merokok, alkohol, obat sedatif, OAD, atau jamu-jamu
tradisional yang belum diuji.
 Hindari pemberian obat polifarmaka, terutama bila pemberian dalam waktu
yang lama
 Berikan obat yang telah jelas aman dan mempertimbangkna keperluan
pengobatan primernya
 Pergunakan pedoman penggunaan obat resmi dan daftar obat-obat yang
aman, demikian pula pemberian obat-obat terbatas atau yang tidak
diperbolehkan pada ibu hamil.
Penggunaan obat yang sering pada ibu hamil : antibiotik
Golongan ß – laktam = dapat melalui plasenta
 gol. penisilin (amoksisilin, ampisilin, sulbenisilin, dll); kadar rendah di cairan
amnion, aman pd kehamilan; eliminasinya lebih cepat pada kehamilan,
barangkali dosis perlu disesuaikan; belum ada bukti sifat teratogenik .
 gol. sefalosporin (sefadroksil, sefaleksin, sefazolin,sefaklor, seftriaxon,
sefotaxim ); mencapai kadar terapeutik di cairan amnion dan jaringan fetus;
eliminasi juga lebih cepat, dosis bila perlu disesuaikan .
o sefuroxim; laporan perkembangan fisik dan mental anak dari ibu
dengan injeksi sefuroksim belum ada dan tidak ada studi kontrol ,
pada hewan tidak teratogenik, bila benar-benar diperlukan dapat
diberikan.
o Sefepim belum ada data, pada hewan coba diberikan dosis 1–4 x
dosis manusia, tidak teratogenik
o sefalopsorin umumnya aman pada kehamilan, kecuali, sefpirom
sefpodoksim
o Beberapa laporan : keamanan pada kehamilan belum dapat
ditentukan , sebaiknya dihindari, kecuali bila benar-benar
keuntungan untuk ibu dan fetus jauh lebih banyak daripada bahaya
yang mungkin timbul .
 Monobaktam
o Aztreonam  monobaktam pertama yang digunakan di klinik;
struktur intinya ß–laktam monosiklik; aktif terhadap bakteri gram
negatif, aerob, tanpa efek nefrotoksik; parenteral  plasenta
sirkulasi fetus; pada hewan coba : 15 x dosis manusia, hasilnya tidak

teratogenik; studi terkontrol belum cukup, diberikan hanya bila
benar-benar diperlukan dan pertimbangkan benefit untuk ibu dan
anak.
Karbapenem
o Imipenem; efektif untuk berbagai bakteri gram negatif, gram
positif, dan aerob; parenteral; pada hewan uji : 1– 8 x dosis
manusia, hasilnya tidak ditemukan efek negatif pada fetus.
o Namun data pada ibu hamil masih kurang, sehingga lagi-lagi
gunakan bila benar-benar dibutuhkan dan pertimbangkan
keuntungan dan kerugian yang mungkin akan timbul.
Gol. inhibitor ß–laktamase
 amoksisilin yang dikombinasikan dengan asam klavulanat dan
ampisilin yang dikombinasikan dengan sulbaktam : tidak
embriotoksik; masuk melalui plasenta dan kadarnya tinggi di fetus;
eliminasinya lebih cepat.
Gol. makrolid

Spiramisin

eritromisin sudah lama dikenal; yang relatif baru: azitromisin,
klaritromisin dan roksitromisin, masa paruhnya panjang dan
insidens ESO GI tract lebih rendah; masuk melalui plasenta, kadar
dalam plasma fetus rendah; absorpsi pada trimester ke–3 lambat;
eritromisin aman & efektif pada ibu hamil.
o Azitromisin, pada hewan coba hasilnya aman, studi
terkontrol untuk manusia belum ada, bila benar-benar
dibutuhakan dapat digunakan untuk ibu hamil
o Klaritromisin tidak dianjurkan , kecuali tidak ada pilihan
antibiotik lain. Pada hewan,klaritromisin menimbulkan efek
samping pada fetus. Bila pasien hamil sedang
menggunakan AB ini sebaiknya diberitahu kemungkinan
efek negatif dari penggunaannya
o Linkomisin; tidak teratogenik, dapat lewat melalui
plasenta, dalam darah umbilikus 25 % dari serum ibu, tidak
mempengaruhi perkembangan fetus.
masih obat pilihan untuk ibu hamil dng toksoplasmosis, cukup
aman , tidak mempengaruhi pertumbuhan fetus



klindamisin, masuk lewat plasenta, darah umbilikus 50% dari serum
ibu; di dalam sirkulasi fetus dapat mencapai kadar terapeutik
(efektif u/ bakteri patogen) ; untuk profilaksis operasi seksio.
survey Michigan Medicaid :diantara bayi-bayi dari ibu yang
mendapat terapi klindamisin pada trimester I, beberapa mengalami
kelainan , tetapi data tidak cukup untuk menghubungkan kelainan
dengan antibiotik.
Meski demikian , pemakaian hanya dianjurkan bila terapi dengan
dg. gol penisilin, sefalosporin dan eritromisin tidak berhasil.
Gol. Tetrasiklin
 kelainan gigi & perkembangan tulang fetus  hindari pd
kehamilan
 mulai hamil minggu ke 16  tetra terikat erat Ca++ di struktur gigi
dan tulang yang sedang bertumbuh  perubahan warna /
kecoklatan desidua gigi dan hambatan pertumbuhan tulang
 Garbis : ESO timbul terutama bila digunakan sesudah minggu ke–15
kehamilan
 pd trimester–1 obat pilihan kedua (anjuran doksisiklin)
 tetapi sebaiknya dihindari pada kehamilan
Isoniazid . etambutol , rifampisin
 Dari golongan anti – tbc  rifampisin dilaporkan dapat
menyebabkan perdarahan neonatus , bila memang benar-benar
dibutuhkan mungkin harus ditambahkan suplementasi vitamin K.
Sulfonamida & trimetoprim
 Sulfonamida
o cukup lama dikenal , hambat metabolisme kuman
o melalui sawar plasenta , kadar dalam plasma fetus 50–90%
dari kadar di plasma maternal
o berkompetisi dg bilirubin pd ikatan dgn albumin
o tidak pernah dihubungkan dg meningkatnya insiden
malformasi
o memobilisasi bilirubin  peningkatan risiko
hiperbilirubinemia neonatus bila diberikan saat akan
partus
o sulfasalazin perubahan jumlah dan morfologi sperma. 
infertilitas pria
 Trimetoprim
o
sulfasalazin perubahan jumlah dan morfologi sperma. 
infertilitas pria
o
jika dikombinasikan dengan sulfametoksazol  efektif
untuk infeksi bakteri gram positif dan gram negatif, meski
sudah banyak yg resisten
antagonis asam folat
dosis biasa trimetoprim / kotrimoksazol ESO
hematologik jarang
kadar trimet & sulfametok tidak dipengaruhi kehamilan
percobaan pada hewan, diberikan trimetoprim dosis tinggi
 cleft palate
sebaiknya tidak digunakan untuk ibu hamil
o
o
o
o
o
Isoniazid . etambutol , rifampisin
o sebaiknya tidak digunakan untuk ibu hamil
o hanya rifampisin dilaporkan  perdarahan neonatus
o bila benar–benar dibutuhkan kemungkinan harus
ditambahkan suplementasi vit K.
Tabel 4. Antibiotika yg sebaiknya dihindari pada kehamilan
Aminoglikosida
ototoksisitas, kerusakan saraf V
Kloramfenikol
Gray baby syndrome
Ko-trimoxazol
kernikterus, antagonis folat,
teratogenik
Kuinolon
hewan: artropatia
Rifampisin
kemungkinan teratogenik,
perdarahan neonatus
Sulfonamida
kernikterus
Tetrasiklin
gigi tengguli, gangg pertumbuhan
tulang
Metronidazol
data tidak cukup , bila perlu berikan
dosis kecil
INH, rifampisin
resiko hepatitis
Kesimpulan
- tidak mudah menentukan efek teratogenik obat, ada faktor etis dan banyak
faktor yang mempengaruhi
- golongan penisilin, sefalosporin, eritromisin, INH, etambutol  aman untuk
ibu hamil
-
rifampisin  hemoragi neonatus , bila perlu berikan vit. K
beberapa AB jelas tidak dianjurkan untuk ibu hamil (tabel 4)
beberapa pertimbangan benefit / risk dan jangan lupa memberitahu pasien
tentang ESO yang mungkin terjadi.
Tentir Pleno 1
 Panjang siklus haid wanita: hari pertama mengalami menstruasi sampai hari
pertama menstruasi berikutnya. Siklus tersebut biasanya terjadi 21 – 35 hari.
 Untuk menentukan periode 1 siklus, jangan cuma pakai patokan 1 siklus saja,
tapi 2-3 siklus. Pada wanita, tahapan siklus yang dapat diukur waktunya
bukanlah masa subur, namun masa sekresi (sekresi ovum  ovulasi).
 Masa sekresi: 12 – 14 hari dari sebelum hari pertama menstruasi berikutnya.
Jadi misalnya seseorang selama mengamati panjang siklus haidnya: 35 hari.
Misalnya dia menstruasi 1 Januari, berarti dia menstruasi berikutnya tanggal
5 Februari. Berarti masa sekresinya adalah 12 -15 hari sebelum tanggal 5 februari
(ambil nilai umum: 14 hari), sehingga mungkin masa sekresi 22 Januari (atau 20 –
23 Januari).
Lama sperma di saluran genitalia wanita
 Bisakah fertilisasi terjadi apabila sperma dimasukkan sebelum masa ovulasi?
 Bisa, karena sperma bisa disimpan dalam saluran genital wanita. Secara
matematis, waktu yang diperlukan sperma untuk mencapai ovum adalah 1 ½
- 2 jam ( sesuai dengan data  panjang saluran dari serviks: 30 cm dan kec.
Sperma: 0,05 cm/s). Tapi, untuk mencapai ovum, jalannya tidak seperti jalan
tol, jadi ada faktor lain yang menghambat sperma mencapai ovum, misalnya
sekresi mucus, dll.
 Jadi apakah benar rumor yang mengatakan: “Jika sehabis berhubungan, wanita
yang tidak ingin hamil harus lompat supaya spermanya turun”?
 Ketika berhubungan, sperma dimasukkan bersama semen, dan segera
setelah itu, sperma langsung bergerak menuju saluran lebih dalam. Meski
ketika lompat-lompat sehabis berhubungan cairan semen akan turun, tapi
kemungkinan sperma sudah berjalan ke dalam.
 Faktor yang mempengaruhi peregangan tulang-tulang pubis dan sekitarnya:
relaksin dan progesterone.
Lendir serviks dipengaruhi beberapa faktor.
 Saluran reproduksi wanita mengalami beberapa perubahan seiring dengan
perubahan steroid dari ovarium, termasuk: perubahan fungsi dan histologi
oviduk dan endometrium, komposisi mukus serviks, dan sitologi vagina. Ketika
ovulasi, terjadi juga peningkatan suhu tubuh oleh progesteron.
 Perubahan komposisi mukus serviks berperan dalam ketahanan dan transpor
sperma dalam vagina.
o Fase folikular  ↑ estrogen  ↑ jumlah, alkalinitas, kekentalan, elastisitas
mukus. Otot serviks relaksasi dan epitel menjadi sekretorik akibat pengaruh
estrogen.
o Fase ovulasi ↑ elastisitas mukus (spinnbarkeit)  sperma siap menembus
estrogen-dominated mucus.
o Post ovulasi, kehamilan  progesteron rendah, atau pada kadar
progesteron rendah  ↓jumlah dan kualitas mukus. Mukus menjadi lebih
kental (spinnbarkeit rendah) dan tidak menghasilkan pola daun pakis pada
slide mikroskop. Pada kondisi ini, mukus menghasilkan perlindungan lebih
baik terhadap infeksi dan sperma tidak mudah menembusnya.
 Pada diagnosis atau pemeriksaan, folikel graaf dapat dilihat dengan USG, namun
ovumnya sendiri tidak terlihat. Ovum dapat terlihat mata dan digunakan dalam
prinsip ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection).
Penyempitan saluran genital
 Kasus oviduk yang buntu merupakan 1/3 penyebab kasus infertilitas. Oviduk
buntu dapat disebabkan oleh: tumor, infeksi (Chlamydia, Gonorrhhoe), mioma,
endometriosis, dll.
Untuk melihat oviduk dapat digunakan HSG (Histerosalphingography, histero=
uterus, salphingo = tuba falopii).
 Penyempitan duktus ejakulatoris jarang terjadi dan menyebabkan infertilitas.
Bagaimana cara mengecek apakah terjadi penyempitan di d.ejakulatorius atau
tidak?
 Vesika seminalis menghasilkan fruktosa. Bila semen berkurang:
o Fruktosa -  penyempitan duktus ejakulatorius
o Fruktosa +  penyempitan proksimal d.ejakulatorius (misalnya:
epididimis)
 Testosteron berfungsi dalam pembentukan protein. Hormon ini diubah menjadi
DHT oleh 5-a-reduktase.
 Ketika spermatogenesis tahap meiosis pertama tahap pembentukan
spermatosit primer, terbentuklah jembatan sitoplasma antara sel. Hal ini terjadi
karena kromosom Y tidak dapat langsung dipisah dengan kromosom X karena Y
terlalu kecil.
Testosteron dan hormon sex
 FSH akan merangsang sel sertoli menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein).
Testosteron akan dapat berikatan dengan spermatogonium bila tetosteron
diikat ABP yang dihasilkan di testis.
 Adanya ABP ini yang membuat konsentrasi testosteron lebih tinggi di testis
daripada di darah.
 Inhibin berfungsi meng-feedback hipofisis anterior dalam menghasilkan FSH.
 Testosteron berfungsi meng-feedback negatif GnRH dan terutama LH.
Namun karena GnRH dihambat, otomatis LH dan FSH terhambat, sehingga
testosteron juga menghambat FSH (sedikit).
 Apakah sexual intercourse setiap hari baik?
 Hubungan seks memang meningkatkan kadar testosteron yang dihasilkan
 rangsangan membentuk sperma lebih banyak
 Namun hubungan seks setiap hari tidak memberikan waktu yang cukup bagi
pematangan sperma dengan jumlah ideal per ejakulasinya. Hubungan yang
dianjurkan adalah 2-3 x/ minggu.
 NSSA (non spesific sperm aglutinin)  dalam keadaan tereduksi akan mengcoat
sperma  sperma dalam keadaan licin.
 Apabila ada ROS (Reactive Oxigent Species): menghambat reduksi NSSA 
sperma tergumpal-gumpal.
 Enzim yang dihasilkan oleh akrosom  hialuronidase, CPE (corona penetrating
enzyme), akrosin
 Mengapa sperma begitu banyak dan ovum hanya 1?
Karena diibaratkan seseorang mencari kelereng di lapangan bola dibandingkan
dengan 1000 orang mencari kelereng di lapangan bola, begitu pula dengan ovum
seperti kelereng yang dicari jutaan sperma. Oviduk, terutama bagian ampula,
terdiri dari lapisan mukosa yang rumit dan diibaratkan seperti maze.
Berkemih dan ejakulasi
 Orang yang berkemih tidak mungkin sekalian ejakulasi, karena ketika berkemih
karena ada pengaturan katup pintu keluar sperma atau urin.
 Namun pada orang DM, terjadi kelemahan saraf S2 dan S4 sehingga katup
saluran kemih atau dari epididimisnya tidak baik  retrograde urine.
 Pada pria ada sindrom Y chromosom deletion:
o Tipe A dan B  tidak ditemukan spermatid di testis. Jadi pada tipe ini, tidak
bisa dilakukan teknologi IVF (In Vitro Fertilization) atau bayi tabung.
o Tipe C  terjadi delesi kromosom yang dapat diturunkan ke anaknya.
 Kadar prolaktin yang meningkat pada pria menyebabkan kekacauan
spermatogenesis dan biasanya diperiksa CT kepada karena dicurigai gangguan di
hipofisis anterior.
 Pada pria yang infertil, pada tahap awal jangan diberi testosteron. Adanya
testosteron eksogen tersebut akan menurunkan kadar GnRH, sehingga
infertilitas bahkan tidak membaik.
 Bagaimana pengaruh makanan terhadap fertilitas? Secara biokimia, bahan-bahan
makanan dapat mempengaruhi sel-sel gonad. Namun secara evidence-based,
pemberian makanan tersebut belum bisa dipastikan.
 Ada cara hubungan seks yang dianjurkan:
 Spread the wealth: pada wanita yang tidak tahu kapan ovulasi, oleh karena
itu hubungan seks dilakukan 3-4 kali/minggu.
 Ready, aim, fire: pada wanita yang tahu kapan ovulasi. Pada masa suburnya,
ia melakukan hubungan seks tiap hari.
 Mengapa penis mengeras ketika ereksi (ada di tentir faal ya..)
 Pada ereksi, stimulus meningkatkan kadar NO (Nitrit Oxyde)  vasodilatasi
arteri  pembesaran arteri menekan vena (pembuluh balik), sehingga aliran
darah tidak lancar  kongesti darah selama ereksi.
 Perhatikan ada obat-obatan yang dapat memberikan efek pada fisiologi
fertilitas, misalnya simetidin (obat maag kronik), dapat meningkatkan kadar
estrogen.
 Pada orang dengan gangguan ereksi, kerusakan bisa diketahui dengan PF rectal
toucher atau periksa dalam. Dengan RT  bila spinkter ani baik, maka gangguan
ereksi bukan disebabkan kerusakan S2 dan S4.







Umpan balik Pleno:
Pemeriksaan kondisi anatomis dan fungsi saluran reproduksi perlu dilakukan
untuk mengetahui apakah proses kehamilan memungkinkan untuk terjadi.
Jika terjadi gangguan, misalnya pada fungsi cilia tuba uterina, maka proses
fertilisasi akan terhambat.
Jaringan tubuh yang paling banyak memiliki persarafan adalah glans penis
(pada pria) dan klitoris (pada wanita).
Sistem Reproduksi Pria
Duktus ejakulatorius terletak di prostat.
Sumber yang sinyal saraf sensoris paling utama untuk menginisasi male
sexual act adalah glans penis. Bagian tubuh ini mengandung sistem sensori
sensitif yang mentransmisikan sensasi seksual ke sistem saraf pusat.












Stimulasi pada sensory end-organ ini pada saat intercourse akan diteruskan
sebagai sinyal seksual melewati saraf pudenda, kemudian melalui pleksus
sakralis (dalam pleno dikatakan pleksus hipogastrikus inferior) menuju
bagian sakral medula spinalis, dan akhirnya mencapai otak. Kemudian otak
akan memerintahkan saraf parasimpatis untuk menimbulkan impuls agar
dapat terjadi ereksi.
Stimulus untuk male sexual act tidak hanya rangsang taktil pada glans penis,
tetapi juga dapat berupa rangsang psikis, seperti membayangkan perilaku
seksual atau bermimpi mengenai intercourse. Emisi nokturnal saat bermimpi
dapat terjadi pada pria, terutama selama remaja.
Walaupun faktor psikis biasanya berperan penting dalam male sexual act dan
dapat menginisiasi ataupun mencegahnya, fungsi otak terkadang tidak
terlalu penting karena stimulasi genital yang cukup dapat menyebabkan
ejakulasi pada sebagian hewan dan manusia setelah medulla spinalis
dipotong di atas regio lumbal.
Ejakulasi terdiri dari dua fase, emisi dan ekspulsi. Pada fase emisi, buli-buli
menutup, sehingga urin tidak bercampur dengan semen.
Ereksi terjadi atas sebab peningkatan serotonin pada sistem saraf pusat dan
vein oclusive mechanism di perifer. Pada corpus cavernosus dan corpus
spongiosum terdapat arteri helisina yang berfungsi pada ereksi.
Arousal adalah penerimaan rangsang seksual yang dipengaruhi olehh
testosteron, dengan stimulus berupa taktil, mekanik, suara, dan visual. Pada
gay, kemampuan untuk arousal berkurang karena gay lebih tertarik pada
pria dibandingkan wanita.
Nikotin menurunkan elastisitas arteri di penis, sehingga ereksi penis dan
volume penis berkurang.
Sildenafil (viagra) adalah obat yang memperbaiki pembuluh darah, termasuk
di penis. Obat ini menghambat kerja fosfodiesterase, sehingga cAMP tidak
diubah menjadi AMP. cAMP pun meningkat, menyebabkan Ca2+ darah
turun relaksasi otot pembuluh darah.
Vitamin E juga mencegah destruksi cAMPcAMP meningkat Ca2+ darah
turun relaksasi otot pembuluh darah. Obat-obat yang bekerja pada
pembuluh darah menghasilkan peningkatan fungsi ereksi.
Berdasarkan penelitian, Ca Prostat dipengaruhi oleh diet, yakni daging
merah.
Sistem Reproduksi Wanita
Tuba falopii/tuba uterina terdiri atas beberapa bagian:infundibulum, ampula,
dan isthmus.






Ovum yang dominan pada siklus ovarium muncul, karena adanya perbedaan
jumlah reseptor FSH pada ovum. FSH dibutuhkan dalam perkembangan
folikel. Di antara ovum-ovum yang berkembang dalam satu siklus, terdapat
satu ovum dengan reseptor FSH yang lebih banyak, sehingga ovum tersebut
dapat tumbuh lebih cepat. Dalam perkembangannya, sel-sel folikular
menghasilkan inhibin yang lebih cenderung menghambat FSH. Kenaikan
level estrogen yang moderat juga menghasilkan umpan balik negatif
terhadap sel pensekresi FSH. Penurunan level sekresi FSH yang dihasilkan
menyebabkan atresia dari seluruh ovum yang sedang berkembang pada
siklus ini, kecuali ovum yang paling matang diantara semuanya. Ovum inilah
yang disebut dengan ovum dominan. Pada kasus-kasus tertentu, dapat
terjadi pematangan lebih dari satu ovum, sehingga 2 atau lebih ovum
tersebut disebut kodominan.
Beberapa hari sebelum perdarahan dari uterus yang terjadi karena ovum
tidak dibuahi (menstruasi), lapisan fungsionalis endometrium menjadi
kekurangan darah karena arteri spiral/helikal di lapisan tersebut mengalami
konstriksi intermiten. Setelah 2 hari atau lebih, arteri spiral ini mengalami
konstriksi permanen, mengurangi oksigen ke lapisan fungsional. Hal ini
mengakibatkan penghentian kerja kelenjar, invasi oleh leukosit, iskemia, dan
nekrosis lapisan fungsionalis. Tidak lama setelahnya, arteri spiral di lapisan
ini berdilatasi kembali.Akan tetapi, karena arteri spiral ini telah melemah
akibat kejadian-kejadian sebelumnya, maka pembuluh tersebut ruptur.
Darah yang dikeluarkan membawa serta bagian-bagian dari lapisan
fungsionalis untuk dikeluarkan sebagai hemmoragic discharge (mens).
Sekret pada wanita yang muncul saat arousal disebabkan oleh vasodilatasi
besar-besaran di vagina, yang menyebabkan terjadinya eksudasi. Selain itu,
terjadi pula sekresi dari kelenjar Bartholini.
G-Spot adalah tempat perangsangan yang baik untuk wanita. Diduga
letaknya adalah 5 cm dari introitus vagina, di mana terdapat banyak ujungujung saraf.
Sumber: Pleno, Fisiologi Guyton (11th ed), Fisiologi Sherwood (6th ed),
Anatomi-Fisiologi Tortora, Histologi Gartner (3rd ed).
-SELAMAT BELAJARSIEPEND TENTIR DENGAN TERBUKA MENERIMA SARAN DAN KRITIK
MENGENAI PENYUSUNAN DAN ISI TENTIR MODUL REPRODUKSI.
BERHUBUNG KAMI MASIH BANYAK BELAJAR KARENA PERUBAHAN SISTEM
MODUL, SARAN DAN BANTUAN TEMAN-TEMAN SANGAT KAMI BUTUHKAN.
KIRIM SARAN TEMAN-TEMAN KE [email protected] atau sms ke
085697885725.
Download