lampiran - Direktorat Jenderal Anggaran

advertisement
LAMPIRAN
A. PEREKONOMIAN GLOBAL
DASAR EKONOMI MAKRO
DAN
DOMESTIK,
SERTA
ASUMSI
Sejalan dengan pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
bahwa kebijakan politik anggaran yang diusulkan oleh Pemerintah sebenarnya telah
mempertimbangkan kondisi kehidupan rakyat, dan kesejahteraan rakyat. Kebijakan
politik anggaran tersebut sesuai dengan sembilan agenda (Nawa Cita) yang tertuang
dalam visi/misi Presiden dan Wakil Presiden untuk melaksanakan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ketiga tahun 2015-2019. Pada
sisi lain, Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat, yang merupakan
perwujudan suara rakyat, telah menyepakati Kerangka Ekonomi Makro dan PokokPokok Kebijakan Fiskal (KEM dan PPKF) tahun 2016. Kesepakatan tersebut
digunakan oleh Pemerintah sebagai salah satu acuan dalam menyusun arah dan
alokasi anggaran dalam RAPBN tahun 2016. RAPBN tahun 2016 tersebut
merupakan instrumen Pemerintah untuk memengaruhi perekonomian dalam rangka
mewujudkan pembangunan nasional yang berkualitas, yang dijabarkan melalui
pengelolaan APBN yang berkualitas, sehat, dan berkelanjutan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemerintah secara konsisten terus berupaya
melalui, antara lain: (1) mendorong produktivitas APBN untuk menstimulasi
perekonomian dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi dan penguatan
daya saing; (2) menjaga keseimbangan dalam rangka menciptakan iklim investasi
yang kondusif, konservasi lingkungan, dan stabilisasi ekonomi makro;
(3) memperkuat daya tahan fiskal agar mempunyai kemampuan yang handal dalam
menjaga terlaksananya program prioritas; dan (4) mendorong pengelolaan fiskal
dengan mempertimbangkan aspek kehati-hatian, pengendalian risiko, dan menjaga
berkelanjutan fiskal dalam jangka menengah dan panjang.
Hal ini terlihat pada struktur anggaran yang lebih menitik-beratkan pada
pembangunan infrastruktur serta peningkatan alokasi belanja transfer ke daerah dan
dana desa, akan tetapi dengan tetap memperhatikan kehidupan rakyat miskin dan
tidak mampu melalui berbagai bantuan sosial, misalnya bantuan tunai bersyarat,
bantuan operasional sekolah (BOS), jaminan kesehatan masyarakat melalui
penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN), penyaluran
Raskin, dan pelaksanaan Program Sejuta Rumah bagi masyarakat berpenghasilan
rendah.
Pemerintah dalam menyusun arah dan alokasi anggaran dalam RAPBN tahun 2016
juga telah mempertimbangkan implementasi Pasal 33 UUD 1945, yaitu
pembangunan ekonomi nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi
ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
-L.1-
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Dengan demikian sudah terwujud kesepahaman Pemerintah dengan DPR dalam
memandang bahwa alokasi anggaran negara bukan semata-mata menyusun sebuah
postur anggaran, tetapi merupakan keputusan arah politik pembangunan ekonomi
yang berpijak pada kesadaran geopolitik Indonesia, sehingga diharapkan dapat
menghasilkan kemajuan yang memperhatikan kultur, sumber daya dan realitas
obyektif setiap daerah.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Amanat Nasional yang meminta
Pemerintah untuk mengambil langkah lebih hati-hati ditengah ketidakpastian situasi
global serta ―lompatan‖ kebijakan belanja pemerintah, dapat kami sampaikan bahwa
Pemerintah sepenuhnya sepakat dengan hal tersebut.
Guna mengantisipasi ketidakpastian situasi global yang akan berdampak pada
perekonomian nasional, maka Pemerintah akan mengambil langkah kebijakan
antara lain (i) memperbaiki kapasitas produksi dan produktivitas nasional, (ii)
mewujudkan kedaulatan pangan, (iii) meningkatkan konektivitas dan
pengembangan sektor maritim dan kelautan, serta (iv) mengembangkan sektor
primer dan industri pengolahan. Disamping itu, stabilitas ekonomi makro di dalam
negeri akan terus dijaga dan ditingkatkan, terutama yang menyangkut inflasi dan
nilai tukar. Hal ini dilakukan dengan koordinasi yang efektif dan berkesinambungan
dengan otoritas moneter dan otoritas jasa keuangan.
Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah akan secara hati-hati dalam memberikan
stimulus fiskal yang efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional
sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Insentif pajak, seperti peningkatan
PTKP diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat sehingga dapat
mendorong transaksi ekonomi dan menggerakkan sektor riil. Kondisi ini diharapkan
dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, dan imbasnya dapat meningkatkan PPN.
Di sisi belanja, Pemerintah akan mengalokasikan anggaran pada sektor-sektor
produktif yang berdampak luas pada masyarakat serta perekonomian nasional,
seperti infrastruktur, ketahanan pangan, perikanan, dan pariwisata. Agar alokasi
belanja benar-benar dapat menyentuh lebih cepat ke masyarakat, sesuai prinsip
desentralisasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dari pinggiran Pemerintah
mengalokasikan dana transfer ke daerah dalam tahun 2016 lebih tinggi dari belanja
kementerian/lembaga.
Pemerintah juga menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mencari sumber-sumber
pembiayaan untuk menutup defisit. Pembiayaan utang diarahkan dari sumber
pinjaman bilateral dan multilateral yang tidak mengikat, biaya pinjaman utang yang
-L.2-
hemat, dan hanya digunakan untuk pembangunan yang produktif. Strategi dan
kebijakan tersebut diharapkan dapat memperbaiki dan memperkuat perekonomian
domestik dalam menghadapi ketidakpastian situasi global.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mengenai
konsistensi arah pembangunan Pemerintah yang harus dapat menjawab tantangan
perekonomian baik internal maupun eksternal dapat disampaikan sebagai berikut.
Pemerintah pada hakekatnya senantiasa menjaga agar pencapaian sasaran
pembangunan dalam RPJMN dapat dicapai secara optimal dan konsisten dengan
arah kebijakan dalam jangka panjang. Hal tersebut dimaksudkan agar setiap
tahapan dalam pembangunan senantiasa sinergis, mempunyai benang merah serta
konsisten dalam mewujudkan sasaran pembangunan jangka panjang, yaitu
mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Pada tahun 2016,
pemerintah telah mencanangkan sasaran pembangunan sesuai dengan NAWACITA
melalui pembangunan tiga dimensi yaitu dimensi pembangunan manusia, dimensi
pembangunan sektor unggulan dan dimensi pembangunan pemerataan dan
kewilayahan. Melalui pendekatan strategi tiga dimensi tersebut diharapkan mampu
memberi kontribusi yang menyeluruh bukan hanya berfokus untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, namun juga diharapkan mampu
mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan yang berkeadilan.
Secara umum, arah kebijakan fiskal 2016 tidak hanya untuk mendukung percepatan
pembangunan infrastruktur, namun juga diarahkan untuk mendukung programprogram pro rakyat yang esensinya mencakup keberpihakan pada penanggulangan
kemiskinan, pengurangan pengangguran dan pengurangan kesenjangan. Programprogram tersebut antara lain mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
dan keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan jaminan sosial
ketenagakerjaan, peningkatan kualitas dan akses pendidikan, peningkatan
kesejahteraan pegawai dan penguatan reformasi birokrasi dalam rangka efisiensi
birokrasi, mendorong penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan
rendah, dan program-program yang diarahkan untuk pengurangan ketimpangan
antar kelompok masyarakat dan antar wilayah serta penguatan desentralisasi fiskal.
Dalam rangka menjawab tantangan perekonomian, Pemerintah senantiasa
melakukan upaya penguatan daya tahan fiskal yang bertujuan untuk mendukung
tetap terlaksananya program-program prioritas pembangunan ditengah tekanan
fiskal yang relatif kuat, memperkuat kemampuan bertahan serta memperkokoh daya
redam untuk merespon dinamika perekonomian. Adapun upaya untuk memperkuat
daya tahan fiskal ditempuh melalui, antara lain (1) memperkuat fiscal buffer melalui
pemanfaatan SAL untuk mengantisipasi ketidakpastian perekonomian dan
pengalokasian cadangan risiko fiskal; (2) meningkatkan fleksibilitas dengan
-L.3-
penguatan payung hukum yang esensinya memberikan keleluasaan bagi Pemerintah
dalam pengelolaan fiskal; dan (3) mengendalikan kerentanan dalam konteks untuk
pengendalian risiko dalam batas toleransi, antara lain dengan menjaga debt service
ratio terhadap pendapatan dalam negeri (PDN), rasio utang terhadap PDB, rasio
utang terhadap PDN dan pembayaran bunga utang terhadap PDN dalam batas
aman.
Sejalan dengan hal tersebut maka strategi yang ditempuh pada tahun 2016 adalah (i)
memperkuat stimulus yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan
penguatan daya saing baik dari sisi pendapatan, belanja mapun pembiayaan, (ii)
memperkuat ketahanan fiskal agar berdaya tahan menjaga terlaksananya programprogram prioritas dalam menghadapi tekanan serta mempunyai daya redam yang
efektif untuk merespon ketidakpastian, dan (iii) mengendalikan risiko dan menjaga
kesinambungan fiskal dalam jangka menengah dan panjang.
Melalui strategi tersebut diharapkan pengelolaan fiskal akan lebih produktif, berdaya
tahan, risiko terkendali dan berkelanjutan. Hal ini menjadi basis untuk
memperkokoh fondasi pengelolaan fiskal yang sehat dan berkelanjutan yang
selanjutnya akan mampu mewujudkan peningkatan derajat kesejahteraan yang
berkeadilan.
Menanggapi pernyataan Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya mengenai
keberpihakan pada investor dengan pemberian insentif dan pembukaan impor,
namun di sisi lain masyarakat diberatkan dengan penghapusan subsidi, dapat
dijelaskan sebagai berikut. Pemerintah berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, menargetkan pertumbuhan realisasi
investasi sebesar 15 persen setiap tahunnya. Pertumbuhan investasi ini sangat
penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.
Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah dalam rangka meningkatkan investasi
di Indonesia adalah pemberian insentif melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(PTSP) Pusat di BKPM antara lain (a) Fasilitas Pembebasan Bea Masuk Atas Impor
Mesin Serta Barang dan Bahan Untuk Pembangunan Atau Pengembangan Industri
Dalam Rangka Penanaman Modal; (b) Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk
Penanaman Modal dibidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah – daerah
tertentu (Tax Allowance); dan (c) Fasilitas Pembebasan Atau Pengurangan Pajak
Penghasilan Badan (Tax Holiday).
Namun, dalam memberikan insentif, Pemerintah telah menentukan kriteria bagi
investor baik asing maupun domestik antara lain: investasi yang menyerap banyak
tenaga kerja, merupakan industri skala prioritas tinggi, melakukan pembangunan
infrastruktur, melakukan alih teknologi, melakukan industri pionir, berlokasi di
-L.4-
daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah perbatasan, menjaga kelestarian
lingkungan hidup, melaksanakan kegiatan penelitian, bermitra dengan UKM atau
koperasi serta menggunakan barang modal atau peralatan yang diproduksi di dalam
negeri.
Pemberian insentif tersebut diharapkan akan mendorong masuknya investasi ke
Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mendorong percepatan
realisasi investasi yang pada akhirnya akan mendorong percepatan penciptaan
lapangan pekerjaan dan peningkatan daya beli masyarakat, serta mendorong
penyebaran investasi ke luar pulau Jawa.
Sedangkan kebijakan penghapusan subsidi bertujuan untuk meningkatkan fiscal
space bagi program-program yang lebih produktif, juga bertujuan untuk
meminimalkan kerentanan fiskal yang disebabkan oleh fluktuasi harga minyak dan
nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerikat Serikat (AS). Terjadinya risiko fiskal
yang tidak diantisipasi dengan baik akan membebani anggaran dan memengaruhi
target pertumbuhan ekonomi, yang selanjutnya akan menjalar dengan cepat pada
perekonomian secara keseluruhan, mendorong capital outflow, dan bahkan
mengubah arah pertumbuhan ekonomi. Penghematan dari kebijakan ini kemudian
dialihkan kepada belanja-belanja prioritas yang lebih produktif.
Selanjutnya menanggapi pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan, Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Gerakan
Indonesia Raya, Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Amanat Nasional,
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera,
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Nasional
Demokrat, Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat, dan terkait Asumsi
Pertumbuhan Ekonomi dapat kami sampaikan sebagai berikut.
Asumsi pertumbuhan ekonomi 5,5 persen pada dasarnya telah mengacu pada
kesepakatan antara pemerintah dan DPR dalam pembicaraan pendahuluan RAPBN
tahun
2016.
Penetapan
angka
asumsi
pertumbuhan
tersebut
juga
mempertimbangkan kondisi perkembangan perekonomian terkini dan prospek
perekonomian domestik maupun global serta berbagai kebijakan yang akan
ditempuh Pemerintah ke depan dalam upaya pencapaian sasaran-sasaran
pembangunan yang telah ditetapkan.
Prospek membaiknya perekonomian global di tahun 2016 dibandingkan tahun 2015
diperkirakan turut mendorong kinerja pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun
demikian, berdasarkan perkembangan terkini menunjukkan bahwa perekonomian
global masih diliputi risiko yang perlu diwaspadai, antara lain dampak tingkat
kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, volatilitas harga komuditas yang
-L.5-
sedang menurun, serta tren perlambatan kinerja perekonomian Tiongkok. Dengan
demikian, sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari sisi eksternal
belum dapat memberikan kontribusi secara optimal. Oleh karena itu, faktor
pendorong pertumbuhan ekonomi tahun 2016 terutama berasal dari sisi domestik,
antara lain akan ditopang oleh konsumsi yang masih cukup kuat dan peningkatan
investasi (PMTB), serta sektor industri dan pengolahan.
Kuatnya konsumsi rumah tangga tersebut terutama akan didukung oleh terjaganya
daya beli masyarakat sejalan dengan perkiraan terkendalinya laju inflasi. Selain itu,
kebijakan penyesuaian Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) terakhir pada tahun
2015 diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat. Di sisi lain, peningkatan
PMTB terutama akan didorong oleh meningkatnya belanja infrastruktur Pemerintah
khususnya untuk mendorong sektor pertanian dan maritim guna mencapai
kedaulatan pangan serta sektor industri pengolahan yang mampu meningkatkan
nilai tambah produk sektor primer.
Dalam upaya pengembangan sektor industri pengolahan terutama industri hilir,
Pemerintah juga akan memperluas sektor-sektor industri pionir yang bisa diberikan
fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan (tax holiday) yakni dari
semula hanya 5 (lima) subsektor industri menjadi 9 (sembilan) subsektor industri.
Hal ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah untuk meningkatkan
investasi langsung pada sektor-sektor tersebut melalui pemanfaatan teknologi
terkini dan perluasan kesempatan kerja. Langkah tersebut diharapkan dapat
meningkatkan kapasitas produksi dan kinerja pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan.
Dengan mempertimbangan berbagai faktor tersebut di atas, Pemerintah cukup
optimis untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen. Meskipun
demikian, pemerintah juga akan sangat terbuka untuk membahas dan mendalami
lebih lanjut asumsi pertumbuhan ekonomi tahun 2016 tersebut bersama para
anggota Dewan Yang Terhormat.
Menanggapi tanggapan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya,
Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai
Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Nasional Demokrat, dan Fraksi
Partai Hati Nurani Rakyat, terkait asumsi nilai tukar rupiah RAPBN tahun 2016
dapat kami jelaskan sebagai berikut.
Pemerintah sependapat bahwa Nilai Tukar Rupiah harus dijaga agar tetap stabil
dan berada pada nilai fundamentalnya. Sejalan dengan perkembangan kondisi
-L.6-
perekonomian global yang bergerak sangat dinamis dalam beberapa bulan terakhir,
Pemerintah berusaha untuk mengajukan asumsi nilai tukar Rupiah dalam RAPBN
2016 serealistis mungkin dengan tetap memperhatikan kesepakatan bersama antara
Pemerintah dan DPR dalam pembicaraan pendahuluan. Namun perlu dipahami
bahwa nilai tukar rupiah merupakan variabel yang bergerak sangat cepat dan
dinamis serta dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sepenuhnya berada di luar
kendali Pemerintah. Di sisi lain, penentuan angka asumsi nilai tukar yang akurat
dengan rentang waktu yang cukup panjang tidak mudah dilakukan, terlebih di
tengah situasi ketidakpastian yang cukup tinggi. Deviasi antara realisasi dan asumsi
sangat mungkin terjadi mengingat pergerakan nilai tukar rupiah yang dinamis, serta
cukup panjangnya rentang waktu saat angka asumsi nilai tukar disepakati dan waktu
pelaksanaan APBN.
Namun demikian, Pemerintah dan Bank Indonesia tidak pernah berdiam diri untuk
mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah. Pemerintah saat ini terus mencermati
perkembangan perekonomian terkini, serta pergerakan pasar keuangan khususnya
pasca kebijakan devaluasi Yuan yang dilakukan Tiongkok. Kebijakan devaluasi
tersebut telah menambah ketidakpastian di pasar keuangan yang sebelumnya juga
telah mendapat tekanan dari dampak kebijakan normalisasi The Fed. Untuk
menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan, Pemerintah akan terus
mengupayakan berbagai langkah kebijakan antara lain meningkatkan koordinasi
dalam protokol pencegahan krisis melalui Forum Koordinasi Stabilitas Sistem
Keuangan (FKSSK) bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga
Penjamin Simpanan. Dalam kerangka forum ini, beberapa kebijakan yang telah dan
akan terus ditempuh antara lain pengutamaan transaksi valuta asing yang memiliki
underlying transaction, kewajiban penggunaan Rupiah dalam transaksi domestik,
pendorongan aktivitas lindung nilai (hedging), intervensi melalui pasar Surat
Berharga Negara (SBN), serta himbauan agar pelaku di pasar forward lebih berhatihati dalam bertransaksi. Pemerintah juga akan menempuh berbagai upaya untuk
mendorong perbaikan kinerja transaksi berjalan melalui reformasi kebijakan subsidi
energi, perbaikan iklim investasi, pelaksanaan program pendalaman pasar keuangan
(financial deepening) dan keuangan inklusif (financial inclusion), insentif fiskal
untuk mendorong ekspor (tax holiday, tambahan fasilitas bebas visa baru untuk
sebanyak 30 negara), penugasan khusus kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor
Indonesia (LPEI) untuk meningkatkan kinerja ekspor, serta penguatan aturan
mengenai mekanisme pembiayaan Public Private Partnership (PPP) dan Non-PPP,
sehingga diharapkan dapat menambah sentimen positif bagi perekonomian.
Pemerintah juga menyadari bahwa depresiasi nilai tukar membawa dampak negatif
bagi daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu disiapkan beberapa respon
-L.7-
kebijakan terhadap masalah ini, di antaranya peningkatan plafon Penghasilan Tidak
Kena Pajak, penghapusan objek Pajak Penjualan Barang Mewah (PPNBM) tertentu,
serta penyediaan subsidi suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di sisi lain
beberapa faktor seperti membaiknya neraca pembayaran, minat investor asing
terhadap aset keuangan Indonesia yang masih relatif tinggi, sebagaimana tercermin
dari kondisi oversubscribe penjualan obligasi global Pemerintah, serta peningkatan
credit outlook oleh lembaga rating Standard & Poor’s pada gilirannya akan dapat
mengurangi tekanan pada nilai tukar Rupiah.
Dengan memperhatikan kondisi tersebut di atas, Pemerintah memperkirakan nilai
tukar Rupiah di tahun 2016 bergerak di kisaran Rp 13.400 per dolar AS. Namun
dengan tingginya dinamika di pasar keuangan, Pemerintah terbuka untuk
melakukan diskusi lebih lanjut bersama DPR guna mendapatkan asumsi nilai tukar
Rupiah yang lebih sesuai.
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya,
Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai
Nasional Demokrat, dan Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat terkait dengan
Asumsi Inflasi sebesar 4,7 persen serta permasalahan inflasi dan potensi tekanan
kenaikan inflasi dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dalam menentukan asumsi inflasi pada tahun 2016 sebesar 4,7 persen, Pemerintah
telah mempertimbangkan berbagai tantangan yang akan dihadapi, baik dari sisi
eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, tantangan tersebut adalah masih
lambatnya pemulihan perekonomian global, harga komoditas energi di pasar global
yang masih lemah, serta dinamika pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat dan konstelasi geopolitik global khususnya negara-negara produsen
energi. Dari sisi internal, tantangannya adalah administered price, seperti tarif
tenaga listrik (TTL) dan LPG, faktor musiman, seperti panen raya, Hari Besar
Keagamaan Nasional (HBKN) dan tahun ajaran baru sekolah, dan perubahan iklim
seperti El Nino yang berpotensi memundurkan waktu tanam bahkan gagal panen
karena kekeringan.
Bauran kebijakan yang mendukung pengembangan sektor riil akan terus
diimplementasikan secara efektif guna pencapaian sasaran inflasi yang rendah dan
stabil. Kebijakan tersebut adalah kebijakan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar
sesuai fundamentalnya, serta meminimalisasi adanya gejolak harga komoditas bahan
pangan dan energi di pasar domestik, baik dari sisi produksi, distribusi, maupun
konsumsi, yang sejalan dengan langkah-langkah Pemerintah dalam mendukung
-L.8-
pencapaian kedaulatan pangan. Pemerintah juga melakukan penegakan hukum atas
tindakan-tindakan pelaku pasar atau kartel yang berdampak kerugian masyarakat
umum yaitu penimbunan, penurunan kualitas, penipuan, dan pemalsuan dengan
melibatkan aparat berwajib.
Upaya pengendalian inflasi dari sisi produksi pada dasarnya sejalan dengan langkahlangkah yang ditempuh Pemerintah dalam mendukung pencapaian kedaulatan
pangan serta antisipasi risiko melalui alokasi dana cadangan stabilitas pangan.
Sementara itu, dari sisi distribusi, Pemerintah akan melanjutkan komitmen
kebijakan penataan jalur distribusi dan sistem logistik nasional, pembangunan pasar
tradisional, pemantauan dan pengendalian harga pangan melalui operasi pasar serta
penetapan dan penyimpanan bahan pokok dan barang strategis serta program
dukungan lain terkait dengan implementasi program pembangunan konektivitas
nasional dan logistik distribusi. Upaya percepatan penganekaragaman konsumsi
pangan, penguatan pengawasan keamanan pangan, pengembangan kawasan mandiri
pangan, serta promosi, advokasi, dan kampanye untuk konsumsi ikan juga dilakukan
dalam rangka diversifikasi konsumsi masyarakat.
Pemerintah sepakat bahwa pencapaian sasaran inflasi harus dapat memberikan
dampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pemerintah terus melakukan
evaluasi dan analisis guna memilah dan memilih kebijakan dengan
mempertimbangkan dampak inflasi, efek psikologis dan tingkat kesejahteraan
masyarakat (terutama masyarakat miskin), serta tekanan pada perekonomian.
Pemerintah menyadari bahwa faktor-faktor kepastian besaran (magnitude), waktu
pelaksanaan (timing), kejelasan aturan hukum yang melandasi kebijakan, serta
sosialisasi dan dukungan legislatif terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut
memiliki dampak signifikan dalam meredam tekanan ekspektasi inflasi masyarakat.
Oleh karena itu, koordinasi kebijakan fiskal, moneter dan sektor riil akan terus
ditingkatkan seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran Pemerintah daerah
dalam upaya pengendalian inflasi.
Dalam hal pengendalian inflasi di daerah, Pemerintah mengupayakan usaha
pengendalian inflasi melalui sosialisasi dan koordinasi antar instansi terkait di
daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Oleh sebab itu kedepannya
Pemerintah akan senantiasa mendorong penguatan koordinasi lintas sektor dan
TPID wilayah lain, pembentukan TPID pada daerah tingkat 2, pembentukan basis
data TPID, pemfokusan program TPID untuk mengatasi permasalahan struktural,
serta evaluasi program-program yang diimplementasikan oleh TPID. Adapun
penguatan institusi Bulog sebagai lembaga penjaga inflasi di tiap daerah juga terus
dilakukan dengan mengoptimalkan peran Divisi regional Bulog dalam penyaluran
-L.9-
Raskin dan Operasi Pasar, serta pengaturan strategi penetapan HPP dan aksi
pembelian beras petani yang lebih antisipatif.
Memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi inflasi dan kebijakan fiskal,
moneter, dan sektor riil dalam pengendalian inflasi, laju inflasi tahun 2016
diperkirakan mencapai 4,7 persen atau masih berada pada kisaran rentang sasaran
inflasi yang telah ditetapkan sebesar 4,0 ± 1,0 persen dan dalam jangka panjang
akan diupayakan dapat ditekan pada level yang lebih rendah.
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Fraksi Gerindra, Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai
Nasional Demokrat, dan Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat, bahwa
pemerintah perlu menjaga tingkat Suku Bunga SPN 3 Bulan terutama di tengah
kondisi pasar keuangan global yang masih mengalami ketidakpastian, dapat kami
sampaikan sebagai berikut.
Faktor yang mempengaruhi tingkat suku bunga SPN bukan hanya bersumber dari
sisi domestik, tapi juga dipengaruhi oleh perilaku wait-and-see yang dilakukan para
investor sejalan dengan perkembangan ekonomi global. Pemerintah memahami
bahwa inflasi merupakan faktor domestik yang menjadi salah satu acuan pergerakan
yield SPN. Oleh karena itu, upaya pemerintah dalam mengendalikan inflasi akan
sejalan dengan upaya menjaga suku bunga SPN agar tetap pada tingkat yang
diinginkan. Oleh karena itu, pemerintah terus meningkatkan koordinasi dengan
Bank Indonesia terkait pengendalian inflasi
Selanjutnya, suku bunga SPN 3 bulan mulai menjadi salah satu asumsi dasar
ekonomi makro dalam penyusunan APBN, yaitu pada pengajuan RAPBN-P tahun
2011, untuk menggantikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan yang
sebelumnya digunakan sebagai asumsi dalam APBN. Pelelangan SBI 3 bulan
dihentikan pada bulan Oktober 2010 sebagai langkah antisipasi fluktuasi nilai tukar
yang berlebihan karena masuknya hot money dalam jangka pendek, sehingga dapat
memicu risiko pembalikan arus dana (sudden capital reversal). Penghentian lelang
SBI 3 bulan diharapkan mampu mengalihkan modal asing masuk ke instrumen
investasi dengan tenor yang lebih panjang, mengingat pada Oktober 2010 arus
modal asing melalui instrumen SBI mencapai 32,2 persen.
Untuk menggantikan SBI 3 bulan sebagai asumsi dalam penghitungan postur APBN,
Pemerintah mengajukan SPN 3 bulan mengingat sistem pelelangan SPN 3 bulan dan
ketentuan dan persyaratan (terms and condition) setara dengan SBI 3 bulan. Pada
Maret 2011, Pemerintah mulai menerbitkan SPN dengan tenor 3 bulan sebagai dasar
penghitungan tingkat bunga surat utang negara dengan tingkat bunga mengambang
-L.10-
atau variable rate. Secara historis, suku bunga SPN 3 bulan bergerak seiring dengan
BI rate dan indikator cost of fund lainnya dan cenderung menurun sejalan dengan
terjaganya stabilitas ekonomi makro dan kesehatan fiskal. Sebagai salah satu
komponen surat berharga negara, maka semakin rendah tingkat suku bunga SPN
tentunya akan memperingan biaya bunga dalam APBN.
Menanggapi tanggapan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai
Keadilan Sejahtera, dan Fraksi Partai Nasional Demokrat, mengenai
Asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price
(ICP) kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemerintah sependapat bahwa pergerakan harga minyak mentah Indonesia (ICP)
selalu mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Oleh karena itu, asumsi
ICP dalam RAPBN tahun 2016 sebesar USD60/barel telah memperhatikan dan
mempertimbangkan berbagai aspek yang memengaruhi pergerakan harga minyak
dunia. Beberapa faktor tersebut meliputi, pemulihan ekonomi dunia yang terus
berlanjut pada tahun 2016 diperkirakan akan mendorong permintaan energi,
khususnya minyak dunia. OPEC memperkirakan permintaan minyak dunia sampai
dengan akhir tahun 2016 mengalami pertumbuhan sebesar 1,4 persen, yaitu dari
92,6 juta barel per hari pada tahun 2015 menjadi 93,9 juta barel per hari pada tahun
2016.
Di sisi lain, pasokan minyak dunia diperkirakan mampu mencukupi permintaan
yang meningkat meskipun pasokan non-OPEC diperkirakan hanya mengalami
sedikit peningkatan. Pasokan non-OPEC tumbuh menjadi sebesar 0,3 juta barel per
hari dengan pasokan utama berasal dari Amerika Serikat dan Amerika Latin.
Terjaganya pasokan minyak dunia juga akan didukung oleh ekspor minyak mentah
Iran pasca kesepakatan nuklir Iran.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, perkiraan harga minyak mentah Indonesia
tahun 2016 diperkirakan akan stabil pada kisaran harga USD60 per barel. Dalam
jangka panjang, pergerakan harga minyak mentah dunia diperkirakan akan kembali
meningkat. Namun, peningkatan pasokan minyak mentah dan sumber energi
alternatif lainnya (shale gas, biofuel, energi surya) akan menyebabkan harga minyak
meningkat secara moderat. Selain itu, masih perlu diwaspadai risiko gejolak harga
minyak dunia mengingat pergerakannya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
nonfundamental yang sulit diperkirakan, seperti gangguan cuaca dan perkembangan
kondisi geopolitik.
Selanjutnya menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan, Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya, Fraksi Partai
Demokrat, Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai Kebangkitan
-L.11-
Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan Fraksi Partai Nasional
Demokrat terkait dengan Asumsi Lifting Minyak Bumi, dapat dijelaskan
bahwa asumsi lifting minyak yang diajukan oleh Pemerintah telah
mempertimbangkan tingkat produksi yang ada, dan rencana pengembangan
lapangan serta potensi produksi dari lapangan baru. Pemerintah tetap berupaya
mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mengoptimalkan
produksi minyak yang ada, namun tetap realistis dengan kemungkinan adanya
penurunan secara bertahap, mengingat kondisi sumur-sumur minyak tersebut telah
memasuki tahap mature. Selain itu, proses lifting minyak juga selalu dihadapkan
pada risiko operasional, seperti gangguan produksi (cuaca, gangguan teknis, dan
unplanned shutdown) serta gangguan non-teknis (perizinan, lahan dan keamanan).
Kondisi faktual memperlihatkan terjadinya penurunan produksi minyak bumi,
karena sebagian besar sumur-sumur yang beroperasi saat ini adalah sumur tua,
sementara kegiatan investasi di sektor migas masih rendah akibat tingginya biaya
eksplorasi. Untuk meningkatkan lifting minyak dan gas bumi dan meningkatkan
PNBP SDA Migas, di tahun 2016, Pemerintah terus mendorong Kontraktor Kontrak
Kerja Sama (KKKS) migas untuk terus meningkatkan tingkat produksinya dengan
melakukan langkah dan kebijakan antara lain:
1. Percepatan produksi migas yang bersumber dari lapangan baru seperti Banyu
Urip, Bukit Tua, Senoro, Husky-Madura, Matindok, dan Kepodang.
2. Melakukan langkah-langkah kebijakan untuk meningkatkan lifting migas melalui:
a. Optimalisasi perolehan minyak dari cadangan minyak yang ada pada
lapangan-lapangan yang telah beroperasi melalui peningkatan manajemen
cadangan minyak;
b. Melakukan percepatan pengembangan lapangan baru;
c.
Melakukan percepatan produksi pada lapangan penemuan baru dan lama;
d. Meningkatkan penguasaan teknologi eksplorasi dan eksploitasi, meningkatan
kehandalan fasilitasi produksi dan sarana penunjang untuk meningkatkan
efisiensi dan menurunkan frekuensi unplanned shutdown;
e.
Mengupayakan peningkatan cadangan melalui kegaitan eksplorasi dan
penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR);
f.
Meningkatkan koordinasi antar instansi untuk mendukung operasi hulu
migas dalam rangka memfasilitasi percepatan proses pembebasan lahan;
g. Meningkatkan promosi dan penawaran lapangan baru termasuk dari
lapangan gas nonkonvensional seperti CBM dan shale gas;
-L.12-
3. Mengupayakan terciptanya efisiensi cost recovery melalui pengendalian sehingga
menjaga angka rasio cost recovery terhadap gross revenue dan pengawasan
intensif terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan KKKS.
4. Memperbaharui harga jual gas melalui renegosiasi kontrak dengan KKKS.
Berbagai upaya lain juga akan terus dilakukan seperti insentif kebijakan-kebijakan
untuk mendorong penemuan sumur-sumur baru, penyederhanaan peraturan dan
regulasi untuk mendukung percepatan produksi lapangan-lapangan yang siap olah.
Namun perlu disadari pula bahwa penemuan sumur baru membutuhkan upaya yang
berat, modal yang tidak sedikit, disertai ketidakpastian yang cukup tinggi.
Selanjutnya, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas tata kelola sektor migas,
pemerintah sedang menyusun rancangan Undang-undang tentang Minyak dan Gas
(RUU Migas) dan aturan-aturan pendukungnya sebagai payung hukum dalam
pengelolaan migas baik dari sisi hulu maupun hilir. Di samping itu, beberapa strategi
telah dilakukan guna menata ulang distribusi bahan bakar minyak antara lain
dengan pembelian minyak mentah secara langsung dari produsen minyak dengan
kontrak jangka menengah, mengupayakan peningkatan cadangan stok bahan bakar
minyak nasional menjadi sekitar 21 hari, serta mendorong operator migas untuk
melakukan modernisasi kilang-kilang minyak yang ada. Berkenaan dengan upaya
peningkatan kapasitas produksi, kilang minyak dan gas baru berkapasitas 300.000
barel per hari telah direncanakan akan dibangun dengan skema Kerjasama
Pemerintah Swasta (KPS) di Bontang.
Sementara itu, mengingat minyak merupakan sumber daya alam tidak terbaharukan,
Pemerintah menyadari akan keterbatasan cadangan minyak di masa yang akan
datang. Ke depan, pemerintah berupaya untuk mengurangi konsumsi minyak
dengan lebih meningkatkan pemanfaatan gas alam yang diperkirakan masih
memiliki cadangan yang cukup berlimpah. Pemanfaatan gas tersebut terutama akan
difokuskan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik baik untuk memenuhi
kebutuhan sektor transportasi maupun konsumsi rumah tangga. Strategi tersebut
diharapkan dapat mengurangi tingginya impor minyak yang saat ini membebani
neraca perdagangan nasional.
Di samping itu, Pemerintah melalui Dewan Energi Nasional (DEN) telah menyusun
Kebijakan Energi Nasional (KEN). Dalam KEN tersebut, telah dirancang target
jangka panjang bauran energi nasional hingga tahun 2050. Sesuai dengan KEN
tersebut, arah penyediaan energi nasional adalah mengurangi ketergantungan
pemerintah terhadap bahan bakar fosil dengan mempertimbangkan potensi
penggunaan energi alternatif serta energi baru dan terbarukan (EBT).
-L.13-
Selanjutnya menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan Fraksi Partai Nasional
Demokrat terkait dengan Asumsi Lifting Gas Bumi, dapat dijelaskan bahwa
asumsi lifting gas bumi yang diajukan oleh Pemerintah sebesar 1.155.000 barel per
hari setara minyak memang lebih rendah dari target lifting gas bumi tahun
sebelumnya. Asumsi lifting gas yang diajukan tersebut telah mempertimbangkan
potensi produksi dan potensi tingkat penyerapan pasar atas gas nasional. Penurunan
tingkat lifting yang terjadi terutama disebabkan oleh tingkat penyerapan gas
domestik yang relatif masih rendah.
Namun demikian, pemerintah meyakini bahwa penurunan tersebut bersifat
sementara, mengingat arah kebijakan pemerintah ke depan akan mendorong
perbaikan tata kelola gas bumi dengan peningkatan pemanfaatan gas bumi dalam
negeri untuk sektor industri, transportasi, dan rumah tangga. Hal ini didukung
dengan rencana pembangunan infrastruktur gas yang meliputi pembangunan
Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) dan LNG terminal, pembangunan
sarana pengisian bahan bakar gas (SPBG), serta pembangunan pipa transmisi gas ke
industri dan jaringan gas kota untuk rumah tangga. Dengan tingginya kebutuhan
penggunaan gas dalam negeri, ke depan Pemerintah meyakini bahwa lifting gas
bumi akan meningkat.
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai
Dampak Perekonomian Global Terhadap Indonesia, dapat kami sampaikan
sebagai berikut.
Kinerja perekonomian global tahun 2016 secara umum diperkirakan akan
mengalami peningkatan, baik di negara maju maupun di negara berkembang. World
Economic Outlook edisi Juli 2015 memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi
dunia tahun 2016 akan menguat ke level 3,8 persen, lebih tinggi dari proyeksi tahun
2015 sebesar 3,3 persen. Secara lebih rinci, negara maju diproyeksikan tumbuh
sebesar 2,4 persen dan negara berkembang tumbuh sebesar 4,7 persen.
Meskipun menunjukkan tanda-tanda pemulihan, risiko perekonomian global masih
tetap ada. Beberapa risiko memang masih perlu diwaspadai, termasuk oleh
Indonesia, antara lain: (i) tren perlambatan kinerja perekonomian Tiongkok sebagai
mitra dagang utama Indonesia yang akan berdampak pada kinerja ekspor nasional;
(ii) volatilitas harga komoditas dengan tren yang cenderung menurun juga
berpotensi memengaruhi kinerja ekspor; (iii) ketidakpastian terkait ekspektasi
kenaikan tingkat suku bunga acuan di AS yang berpotensi mempengaruhi kondisi
likuiditas domestik; serta (iv) gejolak nilai tukar terkait devaluasi Yuan Tiongkok,
-L.14-
yang sejauh ini telah diikuti oleh Vietnam, turut menyebabkan tekanan pada nilai
tukar regional termasuk Indonesia.
Terkait devaluasi Yuan, kebijakan tersebut diperkirakan akan berpotensi
mempengaruhi kinerja perdagangan internasional Indonesia. Dari sisi impor,
kebijakan tersebut menyebabkan penurunan harga relatif komoditas Tiongkok
sehingga dapat menimbulkan peningkatan permintaan produk Tiongkok di dalam
negeri. Sementara di sisi ekspor, dalam jangka pendek, akan menyebabkan
meningkatnya persaingan produk Indonesia terhadap produk Tiongkok di pasar
internasional. Namun dalam jangka panjang, masih terdapat peluang perbaikan
kinerja ekspor khususnya untuk produk-produk bahan baku Indonesia yang menjadi
input produk Tiongkok. Dari sisi pasar keuangan, kebijakan devaluasi Yuan
berpotensi menjadi kendala bagi penguatan nilai tukar rupiah. Di samping itu
kebijakan tersebut juga dapat menimbulkan gejolak baru di pasar keuangan
khususnya apabila diikuti fenomena perang mata uang (currency war) oleh negaranegara lain.
Terkait dengan pandangan Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai
Nasional
Demokrat
mengenai
indikator
Kesejahteraan
dan
Ketenagakerjaan dapat kami sampaikan sebagai berikut.
Pemerintah terus berupaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas
dan berkeadilan, yaitu mampu mengurangi tingkat pengangguran, angka
kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan. Arah strategi pembangunan ekonomi
juga lebih dititikberatkan untuk mendorong sumber-sumber pertumbuhan produktif
khususnya melalui penguatan kinerja investasi yang diyakini memberikan efek lebih
besar bagi penciptaan lapangan kerja baru.
Di samping itu, upaya penanggulangan kemiskinan juga ditempuh melalui program
kesejahteraan dan perlindungan sosial yang komprehensif, pengembangan
penghidupan berkelanjutan, serta perluasan dan peningkatan pelayanan dasar. Di
bidang ketenagakerjaan, pemerintah berupaya untuk meningkatkan daya saing atau
keterampilan pekerja dan memberikan perlindungan bagi pekerja yang rentan
terhadap goncangan ekonomi. Sementara itu untuk mengatasi ketimpangan,
pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk
berpenghasilan 40 persen terbawah lebih cepat dibandingkan kelompok 40 persen
menengah dan 20 persen teratas. Upaya yang dilakukan Pemerintah untuk mencapai
hal tersebut adalah dengan memastikan bahwa penduduk miskin dan rentan
memperoleh perlindungan sosial agar dapat mengurangi beban pengeluaran rumah
tangga. Upaya ini didukung melalui penguatan kerangka regulasi dan mekanisme
-L.15-
yang jelas, serta penguatan kerangka kelembagaan seperti Tim Koordinasi
Penanganan Kemiskinan Daerah (TKPKD) dan pendampingan.
APBN harus berpihak kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk buruh, petani, dan
nelayan. Dapat kami sampaikan bahwa strategi pemerintah pada tahun 2016 adalah
meningkatkan akses penduduk miskin terhadap lapangan kerja yang berkualitas
melalui penyempurnaan peraturan ketenagakerjaan untuk mendorong tumbuhnya
industri padat karya, penyediaan fasilitas informasi pasar kerja di daerah-daerah
terutama daerah kantong pengangguran, peningkatan akses kepada kegiatan
ekonomi produktif yang berkelanjutan, peningkatan pembangunan infrastruktur
perdesaan, pengembangan lembaga pelatihan di daerah sesuai dengan kebutuhan
dan potensi lokal. Dengan mendorong industri padat karya dan pembangunan
infrastruktur perdesaan, maka diharapkan kesejahteraan buruh, petani, dan nelayan
akan mengalami peningkatan dan pada akhirnya akan mengurangi kemiskinan dan
ketimpangan pendapatan.
Program pengentasan kemiskinan saat ini telah mencakup penduduk miskin dan
rentan dimana kontinuitas terus dipertahankan. Dari sisi targeting, Basis Data
Terpadu (BDT) terus dimutakhirkan dan diintegrasikan dengan basis data Sistem
Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang menjadi sistem registrasi
tunggal program perlindungan sosial terpadu. Data ini berisi karakteristik anggota
rumah tangga secara rinci dan penggunaannya dapat mendorong transparansi
pelaksanaan program.
Terkait dengan indikator kemiskinan menjadi target APBN, dapat kami sampaikan
bahwa indikator kesejahteraan dan ketenagakerjaan yaitu angka kemiskinan dan
tingkat pengangguran merupakan sasaran pembangunan yang dituangkan dalam
RPJMN 2015-2019 dan RKP 2016. Sasaran-sasaran tersebut dijabarkan ke dalam
RAPBN tahun 2016 melalui berbagai program sosial dan penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, Pemerintah juga memperhatikan angka rasio Gini dan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) dan akan berupaya untuk terus memperbaikinya.
Pemerintah sependapat dengan pandangan anggota Dewan Yang Terhormat dari
Fraksi Partai Nasional Demokrat mengenai perlunya kerja keras dan sinergi
dari semua stakeholders dalam mewujudkan tema RAPBN tahun 2016.
Dalam RAPBN tahun 2016 Pemerintah berkomitmen untuk melakukan langkahlangkah perbaikan struktural yang akan berdampak pada perbaikan fundamental
dalam rangka mendukung penguatan stabilitas dan kinerja pertumbuhan ekonomi.
Langkah-langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi dan sinergi, baik di internal
pemerintah maupun antara Pemerintah sebagai otoritas fiskal dengan otoritas
moneter, dan otoritas jasa keuangan.
-L.16-
Di
sisi
internal,
pemerintah
telah
dan
akan
terus
melakukan
penataan/restrukturisasi kelembagaan birokrasi pemerintah agar efektif, efisien, dan
sinergis yang ditempuh melalui penataan kelembagaan pemerintah pusat dan
daerah, pemantapan kelembagaan untuk mendukung pelaksanaan program
pembangunan (Nawa Cita), penyempurnaan sistem ketatalaksanaan dan
pemantapan sinergitas hubungan kelembagaan inter/antar tingkatan kelembagaan
pusat dan daerah.
Sementara itu, koordinasi dan sinergi yang dilakukan Pemerintah dengan otoritas
moneter, dan otoritas jasa keuangan di antaranya dilakukan dalam rangka perbaikan
struktur pasar valuta asing, reformasi kebijakan subsidi energi, dan perbaikan
neraca jasa. Kebijakan-kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan
nilai tukar rupiah.
Upaya yang dilakukan dari sektor keuangan adalah melalui pendalaman pasar
finansial yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan kapasitas pendanaan
pembangunan melalui sektor keuangan, baik melalui sektor perbankan maupun
Industri Keuangan Non Bank (IKNB) dan pasar modal, sehingga diharapkan akan
dapat mendorong peningkatan kemampuan sektor keuangan di dalam menopang
pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Dengan upaya-upaya tersebut dan adanya sinergi kebijakan fiskal, moneter, jasa
keuangan dan sektor riil, serta adanya akselerasi implementasi program yang telah
ada saat ini, maka diharapkan dapat memberi manfaat yang lebih besar bagi
tercapainya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
B. PENDAPATAN NEGARA
Menjawab pernyataan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai
Hati Nurani Rakyat, dan Fraksi Partai Demokrat yang meminta Pemerintah
untuk melakukan penggalian sektor-sektor yang masih under tax, meningkatkan
kepatuhan WP, menurunkan tingkat tax evasion dan mereduksi transfer pricing
dapat diberikan penjelasan sebagai berikut.
Pemerintah sependapat dengan pandangan Dewan Yang Terhormat untuk terus
berupaya maksimal dalam meningkatkan penerimaan perpajakan setiap tahun
melalui penggalian sektor-sektor yang masih under tax. Untuk itu, Pemerintah akan
terus menggali sektor-sektor tersebut diantaranya penguatan bank data melalui
optimalisasi pemanfaatan data dan/atau informasi berkaitan dengan perpajakan
dengan institusi lain dan otoritas pajak luar negeri, meningkatkan kerjasama
perpajakan internasional dalam pertukaran informasi dan mempermudah
pemajakan bagi sektor informal dan usaha kecil.
-L.17-
Dalam upaya meningkatkan kepatuhan pajak, Pemerintah akan melakukan berbagai
upaya diantaranya melalui: Pertama, peningkatan penerimaan pajak melalui
perluasan cakupan pelayanan dan pengawasan (penambahan kantor dan
pembentukan mobile tax office). Kedua, perluasan basis pajak melalui kegiatan
ekstensifikasi terhadap calon Wajib Pajak baru, antara lain melalui kegiatan operasi
pasar dan pemanfaatan data pihak ketiga. Ketiga, peningkatan pengawasan
Pengusaha Kena Pajak melalui implementasi faktur pajak elektronik (e-Tax invoice)
secara nasional. Keempat, perbaikan kualitas data internal berbasis IT, antara lain
melalui migrasi Wajib Pajak ke e-Filing dan perluasan jangkauan Data Processing
Center. Kelima, peningkatan kerjasama dengan pihak ke-3 untuk meningkatkan
kuantitas dan kualitas data eksternal. Keenam, peningkatan efektivitas pengelolaan
Wajib Pajak melalui implementasi manajemen kepatuhan Wajib Pajak Berbasis
Risiko (Compliance Risk Management). Ketujuh, peningkatan efektivitas
penegakan hukum melalui implementasi modul manajemen alur kerja dalam Sistem
Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) pada fungsi pemeriksaan, keberatan,
dan banding. Kedelapan, peningkatan efektivitas pelayanan dan pengawasan
berbasis IT antara lain melalui penerapan tax clearance dan cash register online
Terkait upaya untuk menurunkan tingkat penghindaran pajak (tax evasion)
khususnya perusahaan asing melalui transfer harga (transfer pricing), Pemerintah
telah melakukan beberapa langkah diantaranya melalui: Pertama, pembentukan
unit khusus yang melakukan penanganan transfer pricing. Kedua, pemberian
diklat khusus mengenai transfer pricing kepada para pemeriksa, account
representative, Kepala KPP Madya, KPP Khusus, dan Large Tax Office (LTO).
Ketiga, peningkatan kuantitas penanganan transfer pricing, melalui pemberian
kewajiban kepada setiap KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar, KPP di
lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya di seluruh Indonesia untuk
melakukan pemeriksaan khusus transfer pricing minimal 4 WP setiap KPP serta
mewajibkan setiap Kanwil DJP yang berada di wilayah Jakarta untuk melakukan
pemeriksaan simultan terhadap perusahaan-perusahaan yang berada di bawah satu
grup, minimal 1 grup untuk setiap Kanwil. Keempat, peningkatan kualitas
penanganan transfer pricing yang dilakukan dalam bentuk pemberian bimbingan
kepada setiap level penanganan masalah transfer pricing, yaitu di tingkatan analisis
risiko, pemeriksaan, keberatan, dan banding serta penyediaan sarana pendukung
dalam penanganan transfer pricing (pengadaan database pembanding dan
industrial report dari perusahaan penyedia commercial databases). Kelima,
melakukan penyempurnaan format SPT terkait pelaporan transaksi afiliasi, sehingga
WP lebih transparan dalam melaporkan transaksi afiliasinya.
-L.18-
Menanggapi pertanyaan dan pandangan dari Fraksi Partai Kebangkitan
Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera,dan Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan mengenai tax ratio yang masih rendah dan perlu ditingkatkan,
Pemerintah sepenuhnya sependapat dengan pandangan anggota Dewan Yang
Terhormat.
Mengingat masih besarnya potensi di sektor perpajakan, maka Pemerintah secara
konsisten dan bertahap akan berupaya meningkatkan tax ratio agar dapat mencapai
kisaran 15-17 persen. Hal ini akan dilakukan dengan tetap menjaga iklim investasi
dan dunia usaha, sehingga pengenaan pajak akan tetap kondusif dalam upaya
meningkatkan perekonomian. Secara nominal, perkembangan penerimaan
perpajakan dalam lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan dengan ratarata sebesar 15,5 persen dari Rp723,3 triliun tahun 2010 menjadi Rp1.489,3 triliun
pada APBNP 2015 dan diharapkan mencapai Rp1.565,8 triliun dalam RAPBN tahun
2016. Target penerimaan perpajakan dalam tahun 2016 meningkat 5 persen dari
target penerimaan perpajakan dalam APBN-P tahun 2015. Hal ini disebabkan
rencana penerimaan perpajakan tahun 2016 telah memperhitungkan perkiraan
realisasi penerimaan perpajakan tahun 2015 yang masih lebih kecil dari targetnya
dalam APBN-P tahun 2015. Dengan perhitungan yang realistis, target penerimaan
perpajakan tahun 2016 tumbuh sekitar 14,5 persen dari perkiraan realisasi tahun
2015.
Pemerintah menyadari bahwa besarnya penerimaan perpajakan serta tax ratio saat
ini masih belum optimal dan masih terdapat potensi yang belum tergali. Masih
belum optimalnya tax ratio tersebut antara lain dipengaruhi oleh masih tingginya
sektor informal yang belum terjangkau oleh sistem perpajakan. Sektor informal
mempunyai peran yang besar dalam perekonomian Indonesia. Di samping itu,
lambatnya peningkatan tax ratio juga dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan
ekonomi, terutama sektor pertambangan yang merupakan salah satu sektor
penyumbang pajak yang besar.
Pemerintah akan terus berupaya meningkatkan tax ratio mengingat potensi pajak
yang belum tergali masih besar. Untuk meningkatkan tax ratio, Pemerintah telah
dan akan terus melakukan program-program yang berkesinambungan, antara lain
melalui peningkatan kepatuhan Wajib Pajak, penggalian potensi sektor unggulan,
perluasan basis pajak, peningkatan efektivitas penegakan hukum, perbaikan
administrasi, penyempurnaan regulasi, dan peningkatan kapasitas DJP, serta
peningkatan ekstensifikasi dan intensifikasi. Pemerintah sepakat bahwa penerimaan
dalam negeri harus ditingkatkan untuk mewujudkan kemandirian bangsa.
-L.19-
Menjawab pernyataan dari Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa dan Fraksi Partai Amanat Nasional yang meminta
Pemerintah untuk melakukan perluasan basis penerimaan pajak dan insentif fiskal
dalam rangka investasi dan daya saing serta daya beli masyarakat, serta melakukan
terobosan kebijakan khususnya perbaikan regulasi perpajakan, mendorong
konektivitas sektor perbankan dan perpajakan serta penegakan hukum perpajakan
dapat diberikan penjelasan sebagai berikut:
Bahwasanya Pemerintah sependapat dengan pernyataan Dewan Yang Terhormat
untuk mengoptimalkan penerimaan perpajakan khususnya melalui penguatan dan
perluasan basis pajak antara lain melalui: Pertama, digitalisasi SPT dan
implementasi e-SPT & e-filing. Kedua, implementasi e-tax invoice di seluruh
Indonesia, Ketiga, implementasi cash register dan Electronic Data Capturing
(EDC)yang online dengan administrasi perpajakan. Keempat, implementasi
penghimpunan data dari Instansi, Lembaga, Asosiasi dan Pihak Lain.
Sementara itu, dalam upaya meningkatkan investasi dan daya saing, Pemerintah
berupaya melanjutkan dan memperluas pemberian insentif fiskal antara lain melalui
tax holiday, tax allowance, pembebasan PPN barang strategis dalam rangka
mendukung investasi, perkembangan industri nasional, dan perkembangan sektorsektor/daerah tertentu, serta pemberian pajak ditanggung Pemerintah (DTP) yang
terdiri atas PPh DTP untuk komoditas panas bumi; PPh DTP atas bunga, imbal hasil,
dan penghasilan pihak ketiga atas jasa yang diberikan kepada Pemerintah dalam
penerbitan SBN di pasar internasional; PPh DTP atas penghasilan dari pengalihan
hak atas tanah dan/atau bangunan yang diterima atau diperoleh masyarakat yang
terkena luapan lumpur Sidoarjo; serta bea masuk DTP.
Selain itu, untuk lebih mengoptimalkan penerimaan perpajakan,saat ini Pemerintah
tengah mengusulkan revisi RUU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP) dengan harapan bahwa revisi RUU KUP tersebut mampu
memberikan fleksibilitas baik bagi WP maupun pemungut pajak dengan tujuan akhir
dapat meningkatkan penerimaan perpajakan dimasa depan.
Sementara itu, terkait upaya konektivitas sektor perbankan dan perpajakan,
Pemerintah meminta dukungan sepenuhnya kepada seluruh anggota dewan yang
terhormat agar Pemerintah, dalam hal ini melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP),
diberi kewenangan untuk dapat mengakses data wajib pajak yang ada pada sistem
perbankan sebagai bahan untuk membandingkan kesesuaian data yang disampaikan
wajib pajak secara self assessment kepada DJP dengan data wajib pajak yang ada
pada sistem perbankan. Sistem self assessment akan berjalan dengan semestinya
manakala DJP memiliki data yang cukup, akurat, dan tersedia tepat waktu untuk
-L.20-
memastikan bahwa data dan/atau informasi yang disampaikan wajib pajak sudah
lengkap dan benar sesuai amanah UU di bidang Perpajakan.
Selanjutnya, dalam upaya penegakan hukum, Pemerintah akan melakukan berbagai
upaya antara lain melalui: meningkatkan efektivitas pemeriksaan pajak,
meningkatkan efektivitas penagihan pajak, menerapkan penegakan hukum secara
selektif untuk menimbulkan efek jera, dan memastikan kualitas dan konsistensi
penegakan hukum. Setelah melakukan pembinaan yang intensif di tahun 2015, maka
di tahun 2016 Pemerintah akan melakukan law enforcement yang lebih optimal,
dalam rangka optimalisasi perpajakan.
Menjawab pernyataan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa yang meminta
Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan di bidang kepabenan dan cukai
pada tahun 2016 dapat diberikan penjelasan sebagai berikut:
Pemerintah sependapat dengan pernyataan Dewan Yang Terhormat untuk lebih
mengoptimalkan penerimaan di bidang kepabeanan dan cukai pada tahun 2016
antara lain melalui: Pertama, memperkuat kerangka hukum (legal framework)
dan
implementasi
peraturan
dibidang
kepabeanan,
antara
lain:
(i) penyelesaian/penyempurnaan peraturan di bidang impor dan ekspor;
(ii) implementasi penuh sistem pembayaran penerimaan negara melalui billing
sistem Modul Penerimaan Negara Generasi 2 dan (iii) melakukan sinergi dengan
DJP dalam hal pertukaran data. Kedua, mengembangkan dan menyempurnakan
sistem dan prosedur yang berbasis IT, antara lain: (i) penerapan manajemen resiko
yang terpusat terkait dengan pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai;
(ii) peningkatan implementasi pintu tunggal nasional indonesia (Indonesia National
Single Window-INSW); (iii) mengembangkan otomasi Tempat Penimbunan
Sementara (TPS); dan (iv) penyempurnaan prosedur pengawasan barang kena cukai
melalui sistem pengamanan penerimaan cukai. Ketiga, optimalisasi pengawasan
impor melalui: (i) Penelitian terhadap Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dalam
memberitahukan nilai pabean dan atau tarif; dan (ii) Penelitian terhadap PIB yang
mendapat fasilitas FTA melalui pengecekan validitas dan otentisitas Certificate of
Origin (CoO). Keempat, Penegakan hukum di bidang cukai khususnya terkait
dengan rokok dan minuman mengandung etil alkohol ilegal. Kelima, intensifikasi
penerimaan cukai melalui penyesuaian tarif cukai dengan memperhatikan
kesejahteraan petani tembakau dan keberlangsungan industri rokok. Keenam,
optimalisasi pengawasan ekspor melalui : (i) Pengawasan terhadap modus antar
pulau; (ii) Penguatan fungsi laboratorium; dan (iii) Audit terhadap eksportir.
Ketujuh, penyelarasan organisasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur
melalui: (i) Identifikasi fungsi utama dan cakupan kerja; dan (ii) Prioritisasi aspek
organisasi dan sumber daya manusia.
-L.21-
Menanggapi pernyataan dari Fraksi Partai Amanat Nasional mengenai peluang
peningkatan ekspor impor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dengan perbaikan
―dwelling time‖, dapat diberikan penjelasan sebagai berikut:
Pemerintah sependapat dengan pandangan Dewan Yang Terhormat bahwa di tengah
kondisi perekonomian dunia yang melemah saat ini, perlu usaha extra dari
pemerintah untuk mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia, di mana salah satunya dengan mendorong peningkatan ekspor dan
impor. Perluang untuk meningkatkan volume ekspor impor bisa dilakukan dengan
memberikan instrumen kebijakan fiskal/ nonfiskal, perbaikan infrastruktur dan
tentunya menurunkan dwelling time yang ditengarai sebagai penyebab tingginya
biaya logistik.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan dwelling time di
pelabuhan yaitu dengan penyederhanaan regulasi, penyederhanaan proses perijinan
dan tentunya sinergi yang lebih baik antar K/L di pelabuhan. Proses dwelling time
dari Januari sampai dengan Agustus terus mengalami penurunan, dimana pada
tanggal 17 Agustus 2015 dwelling time mencapai adalah 5,53 hari. Penurunan
dwelling time ini telah menjadi fokus prioritas serta target Pemerintah untuk dapat
segera diselesaikan.
Menjawab pandangan Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan Fraksi Partai
Nasional Demokrat, terkait kontribusi BUMN terhadap pendapatan negara pada
RAPBN tahun 2016 yang mengalami penurunan, dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pada prinsipnya, Pemerintah sepakat untuk terus melakukan upaya-upaya untuk
meningkatkan kinerja BUMN agar lebih berkontribusi terhadap APBN melalui
kemampuannya dalam membayar dividen. Terhadap BUMN yang belum bisa
memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara, Pemerintah akan berusaha
meningkatkan kinerja keuangan BUMN tersebut sebagai berikut:
1.
Penentuan dividen memperhatikan tingkat laba BUMN serta kemampuan cash
flow perusahaan. Dalam beberapa kasus, ada BUMN dengan tingkat
profitabilitas tinggi namun bermasalah dalam hal likuiditas.
2. Penentuan dividen mempertimbangkan kemampuan BUMN dalam mendanai
investasi yang menguntungkan dalam rangka menjaga keberlangsungan usaha.
3. Penentuan dividen diusahakan tidak akan menurunkan nilai pasar BUMN listed.
4. Penentuan dividen harus tidak melanggar regulasi atau perjanjian (covenant)
yang mengikat BUMN.
-L.22-
Pada tahun 2016, dividen BUMN ditargetkan lebih rendah dari tahun sebelumnya
karena dalam rangka mendukung program Pemerintah, BUMN diminta menjadi
agent of development untuk merealisasikan proyek-proyek strategis seperti jalan tol,
pembangkit listrik, pembangunan bandara, pelabuhan, dan proyek infrastruktur
lain, serta memperkuat sektor pendukung seperti perbankan dan jasa keuangan
lainnya. Dengan fungsi tersebut, BUMN membutuhkan lebih banyak pendanaan baik
dari internal (laba ditahan) ataupun pendanaan dari eksternal.
Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa
mengenai upaya mengoptimalkan PNBP SDA nonmigas khususnya dari sektor
industri seperti industri telekomunikasi serta sektor
industri kelautan dan
perikanan, dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut.
Optimalisasi PNBP terus diupayakan baik melalui intensifikasi maupun
ekstensifikasi PNBP, antara lain dengan mencari jenis-jenis PNBP baru dan
meningkatkan tarif PNBP dengan tetap memperhatikan aspek keadilan kepada
masyarakat.
Terkait optimalisasi PNBP dari sektor telekomunikasi, tarif PNBP dari industri
telekomunikasi akan direvisi untuk memperoleh PNBP yang optimal. Revisi tarif
PNBP tersebut dalam bentuk Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang saat ini
dalam proses untuk segera ditetapkan. Rancangan Peraturan Pemerintah tersebut
juga akan mengatur pelayanan cepat untuk pungujian alat telekomunikasi sebagai
bentuk peningkatan pelayanan PNBP pada sektor telekomunikasi.
Sedangkan dalam rangka meningkatkan PNBP sektor Kelautan dan Perikanan,
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akan melakukan upayaupaya sebagai berikut:
1.
Upaya penegakan hukum di sektor kelautan dan perikanan untuk mengatasi
Illegal, Unreported, Unregulated Fishing (IUU Fishing) melalui:
a. moratorium/penghentian sementara perizinan usaha perikanan tangkap di
wilayah pengelolaan perikanan Negara RI untuk kapal eks asing;
b. Larangan transhipment (pemindahan ikan hasil tangkapan dari kapal
penangkap ikan ke kapal pengangkut ikan atau pemindahan ikan hasil
tangkapan dari kapal penangkap ikan ke kapal penangkap ikan) dimana
setiap kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan harus mendaratkan
ikan tangkapan di pelabuhan perikanan yang ditetapkan atau pelabuhan lain
yang ditunjuk; serta
-L.23-
c. Larangan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan, larangan pengeluaran
ikan hiu koboi dan hiu martil, dan larangan penggunaan pukat hela.
2. Ekstensifikasi dan intensifikasi PNBP dengan melakukan reviu secara periodik
jenis dan besaran tarif PNBP sektor perikanan disesuaikan dengan kondisi
terkini.
3. Perbaikan peraturan teknis terkait pengelolaan di sektor kelautan dan perikanan
antara lain melalui penetapan harga patokan ikan dan cara perhitungan volume
hasil tangkapan ikan.
C. BELANJA NEGARA
Pemerintah sependapat dengan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dan Fraksi
Partai Nasional Demokrat mengenai APBN yang harus digunakan untuk
mencapai tujuan terciptanya kesejahteraan rakyat, memberikan stimulus lebih bagi
rakyat miskin penurunan tingkat pengangguran dan penyempitan ketimpangan
pendapatan. Untuk itu dalam tahun 2016 Pemerintah telah menargetkan penurunan
tingkat pengangguran pada kisaran 5,2-5,5 persen, angka kemiskinan sebesar 9,010,0 persen, serta tingkat ketimpangan pendapatan yang diukur dengan rasio Gini
menjadi 0,39. Target-target tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi
Pemerintah dalam mewujudkannya. Untuk itu, dalam RAPBN tahun 2016, Belanja
Negara lebih diarahkan untuk belanja yang lebih produktif seperti pembangunan
infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, waduk, dan tenaga listrik, hal ini akan
memberikan multiplier efek kepada kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat
banyak. Selanjutnya, program-program pemerataan akan diarahkan untuk
penciptaan future income melalui peningkatan kualitas SDM (pendidikan dan
kesehatan), dan perluasan bantuan untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
Selain itu, Pemerintah terus mengupayakan akses yang lebih luas kepada kelompok
masyarakat bawah agar bisa terpenuhi hak-hak dasarnya dan dapat menikmati hasilhasil pembangunan secara lebih baik. Langkah ini ditempuh melalui dukungan
keuangan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, baik dalam bentuk dana
penjaminan kredit/pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dan
koperasi serta dukungan bantuan tunai bersyarat. Sejalan dengan itu, pada tahun
2016 arah kebijakan dalam penanggulangan kemiskinan adalah membangun
landasan yang kuat agar ekonomi tumbuh dan menghasilkan kesempatan kerja yang
berkualitas,
penyelenggaraan
perlindungan
sosial
yang
komprehensif,
pengembangan penghidupan berkelanjutan, serta perluasan dan peningkatan
pelayanan dasar.
-L.24-
Selanjutnya untuk menjaga future income masyarakat, di tahun 2016 Pemerintah
akan meningkatkan kualitas kegiatan yang sudah berjalan, seperti raskin, akses
kesehatan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS), akses pendidikan (Kartu Indonesia
Pintar), dan pemberian uang tunai bersyarat. Kebijakan ini bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagai stimulus bagi kelompok
masyarakat bawah, serta menurunkan tingkat ketimpangan baik ketimpangan
antarkelompok pendapatan maupun ketimpangan antarwilayah.
Sementara itu, sehubungan dengan saran dari Fraksi Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan dan Fraksi Partai Demokrat tentang kesiapan
menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dapat disampaikan bahwa untuk
mendukung pencapaian TPT 2016 sebesar 5,2 – 5,5 persen serta menyambut
persaingan dan tantangan MEA 2015, arah kebijakan dan strategi di bidang
ketenagakerjaan ditetapkan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (i)
memperkuat daya saing tenaga kerja dalam memasuki pasar tenaga kerja secara
global; (ii) memperluas akses angkatan kerja kepada sumber daya produktif, yang
utamanya ditujukan kepada pekerja rentan, pencari kerja, tenaga kerja muda, dan
setengah penganggur; (iii) mendukung penciptaan iklim investasi yang mendorong
penciptaan kesempatan kerja yang layak; dan (iv) meningkatkan kualitas pekerja
melalui pengembalian pekerja anak ke dalam sistem pendidikan.
Selanjutnya, di bidang perdagangan, Kementerian Perdagangan berperan aktif
dalam perundingan-perundingan perdagangan yang terkait dengan pelaksanaan
MEA, diantaranya melalui perumusan posisi runding agar Indonesia dapat
menentukan tidak saja pada posisi defensif tetapi juga ofensif yang dapat semakin
membuka akses pasar Indonesia di ASEAN dan negara mitra ASEAN.
Pemerintah sependapat dengan pandangan anggota Dewan Yang Terhormat dari
Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya,
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, dan Fraksi Partai Nasional
Demokrat. RAPBN 2016 diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif,
meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan future income, meningkatkan
produktifitas masyarakat, dan mendorong daya beli masyarakat. Selain itu,
Pemerintah sependapat dengan pandangan anggota Dewan Yang Terhormat dari
Fraksi Partai Nasional Demokrat. Dalam RAPBN 2016 Pemerintah
berkomitmen untuk melakukan langkah-langkah perbaikan struktural melalui
koordinasi dan sinergi, baik di internal pemerintah maupun antara Pemerintah
sebagai otoritas fiskal dengan otoritas moneter, dan otoritas jasa keuangan.
Pemerintah sependapat dengan pandangan anggota Dewan Yang Terhormat dari
Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya,
-L.25-
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, dan Fraksi Partai Nasional
Demokrat agar APBN diarahkan untuk mendukung pembangunan yang berkualitas
dengan mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai amanat
konstitusi, perlunya instrumen yang tepat dalam membelanjakan anggaran agar
efektif dan efisien, serta menyusun anggaran yang realistis dan memberikan
stimulus lebih bagi rakyat miskin.
Alokasi anggaran yang tepat, realistis, dan memberikan stimulus kepada rakyat,
merupakan amanat Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 Amandemen Keempat. Namun,
dalam menyusun RAPBN tahun 2016 Pemerintah masih menghadapi berbagai
tantangan antara lain: (1) reformasi subsidi agar lebih tepat sasaran; (2) fiscal space
yang tersedia masih perlu ditingkatkan untuk menopang belanja produktif prioritas;
(3) belanja yang bersifat mengikat perlu dikendalikan; (4) perlu pengendalian
keseimbangan primer; dan (5) pola dan penyerapan anggaran yang produktif perlu
ditingkatkan.
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, maka RAPBN tahun 2016 sebagai
instrumen fiskal direncanakan agar senantiasa efisien dalam pengelolaan sumber
daya, produktif dalam mendukung pencapaian target-target pembangunan
(pertumbuhan dan kesejahteraan) dengan tetap mengendalikan risiko, dan menjaga
keberkelanjutan fiskal dalam jangka menengah. RAPBN tahun 2016 disusun
berdasarkan pokok-pokok kebijakan fiskal dengan tema ―Penguatan Pengelolaan
Fiskal dalam Rangka Memperkokoh Fundamental Pembangunan dan Pertumbuhan
Ekonomi yang Berkualitas‖. Sejalan dengan hal tersebut maka strategi yang
ditempuh adalah: (1) memperkuat stimulus yang diarahkan untuk meningkatkan
kapasitas produksi dan penguatan daya saing, (2) meningkatkan ketahanan fiskal
dan menjaga terlaksananya program-program prioritas di tengah tantangan
perekonomian global, serta (3) mengendalikan risiko dan menjaga kesinambungan
fiskal dalam jangka menengah dan panjang. Melalui strategi tersebut diharapkan
pengelolaan fiskal akan lebih produktif, berdaya tahan, risiko terkendali dan
berkelanjutan.
Dalam APBN-P tahun 2015 Pemerintah telah mengambil langkah yang signifikan
dalam perbaikan kualitas pembangunan dengan mengalihkan alokasi belanja yang
kurang produktif dan tidak tepat sasaran dalam APBN, ke belanja yang lebih
produktif, terutama untuk pembangunan infrastuktur, kedaulatan pangan, dan
perikanan, serta perlindungan sosial. Kita harus sadari bahwa langkah perbaikan
tersebut tidak dapat dilakukan hanya bersifat ad hoc dan jangka pendek, tapi harus
konsisten dan berkesinambungan. Untuk itu dalam RAPBN tahun 2016, langkah
perbaikan yang telah dilakukan di tahun 2015 akan terus dilanjutkan dan
ditingkatkan melalui beberapa kebijakan utama.
-L.26-
Untuk mempercepat pemerataan pembangunan di daerah dan mendukung
pelaksanaan Desentralisasi fiskal, anggaran transfer ke daerah akan ditingkatkan
secara signifikan, sehingga untuk pertama kalinya dalam APBN, total anggaran
transfer ke daerah dan dana desa (Rp782,2 triliun) lebih besar dari anggaran
Kementerian/Lembaga (Rp780,4 triliun). Hal ini dilakukan melalui pengalihan dana
Dekonsentrasi dan Tugas pembantuan di Kementerian/Lembaga ke DAK, serta
peningkatan Dana Desa di tahun 2016 lebih dari 100 persen.
Sementara itu, untuk meningkatkan efektifitas Belanja Negara, Pemerintah akan
melanjutkan pengalihan belanja yang kurang produktif dan tidak tepat sasaran
(subsidi listrik) ke belanja yang lebih produktif melalui peningkatan belanja
infrastruktur, pertanian, perikanan, dan pariwisata.
Selanjutnya, untuk mewujudkan pembangunan yang berkualitas, maka belanja
negara dalam RAPBN tahun 2016 diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi
produktif, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan future income,
meningkatkan produktifitas masyarakat, dan mendorong daya beli masyarakat.
Dukungan terhadap sarana dan kegiatan ekonomi produktif dilakukan melalui
pembangunan infrastruktur serta ketahanan pangan dan energi yang alokasi
anggarannya meningkat tajam dalam RAPBN tahun 2016, guna meningkatkan daya
saing dan kapasitas perekonomian nasional.
Dalam rangka menciptakan future income yang lebih terjamin, RAPBN tahun 2016
menaruh perhatian besar pada kualitas SDM melalui pembangunan kesehatan dan
pendidikan. Pada tahun 2016, untuk pertama kalinya Pemerintah mengalokasikan
anggaran kesehatan sebesar 5 persen dari APBN. Anggaran tersebut digunakan
untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, terutama penyediaan berbagai
fasilitas kesehatan (supply side) dan peningkatan cakupan pemberian Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) bagi rakyat miskin sebagai penerima bantuan iuran (PBI)
menjadi 92,4 juta jiwa masyarakat miskin. Di bidang pendidikan, alokasi anggaran
pendidikan dalam tahun 2016 mencapai Rp424,8 triliun, yang diarahkan untuk
mencapai pendidikan dasar 12 (dua belas) tahun, termasuk untuk sarana maupun
prasarana pendidikan.
Selanjutnya, keberpihakan Pemerintah terhadap rakyat miskin dan tidak mampu
dilakukan melalui perluasan penerima bantuan tunai bersyarat menjadi 6 juta
keluarga sangat miskin, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, serta
Program Sejuta Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Perluasan bantuan tunai bersyarat secara umum ditujukan untuk meningkatkan
daya beli masyarakat miskin, sekaligus mengurangi tingkat kesenjangan antar
-L.27-
kelompok pendapatan. Tujuan lain adalah menarik anak usia sekolah untuk
bersekolah dan menciptakan budaya hidup sehat di lingkungan keluarga.
Keberpihakan pada rakyat miskin juga tercermin dalam pengalokasian subsidi
sebesar Rp201,4 triliun, baik dalam bentuk subsidi energi maupun non energi.
Untuk menjamin efektivitas pemberian subsidi, Pemerintah akan menata ulang
kebijakan subsidi, dengan menyusun sistem seleksi yang ketat untuk menentukan
sasaran penerima subsidi yang tepat, dengan menggunakan basis data yang akurat
dan transparan. Subsidi juga akan digunakan sebagai instrumen untuk
meningkatkan produktivitas dan memberi akses masyarakat kepada perbankan,
melalui subsidi bunga KUR.
Melalui langkah-langkah tersebut diharapkan program-program pembangunan di
tahun 2016 benar-benar dapat mencapai sasaran pembangunan untuk memacu
pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan nasional, serta mengurangi
kemiskinan dan pengangguran.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Nasional Demokrat terkait dengan
perlunya Belanja Negara diarahkan untuk mendorong program pembangunan yang
produktif dengan berorientasi ekspor dan mencari pasar baru untuk menumbuhkan
cadangan devisa negara, dapat dijelaskan sebagai berikut. Pemerintah sepakat
dengan memperkirakan kinerja ekspor-impor pada tahun 2016 akan meningkat
seiring dengan perbaikan ekonomi global dan kenaikan harga beberapa komoditas.
Perbaikan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat,
diprediksi akan mendorong permintaan dan kinerja ekspor Indonesia. Dalam rangka
memanfaatkan peluang peningkatan aktivitas perdagangan internasional,
Pemerintah akan membuka pasar ekspor baru, mengurangi hambatan perdagangan
di pasar tujuan ekspor, serta meningkatkan fasilitas ekspor untuk mendorong
permintaan terhadap produk Indonesia. Strategi yang dilakukan Pemerintah antara
lain (1) pengembangan fasilitas ekspor dan pengelolaan impor yang efektif, (2)
pemantapan pangsa ekspor Indonesia di pasar ekspor utama, (3) peningkatan
pangsa ekspor Indonesia di pasar ekspor prospektif, serta (4) pengembangan produk
ekspor potensial.
Selain itu, Pemerintah berupaya untuk mendorong partisipasi sektor industri dalam
rantai nilai tambah global (global value chain) dan jaringan produksi global (global
production network) yang berorientasi ekspor sebagai upaya untuk memperluas
tujuan ekspor dan meningkatkan daya saing produk. Pemerintah juga akan
meningkatkan promosi ekspor terutama pada tekstil dan produk tekstil, alas kaki,
produk elektronik, dan furnitur ke negara yang diperkirakan sudah mengalami
pemulihan ekonomi seperti Amerika Serikat dan India. Dari sisi impor, kebijakan
-L.28-
diarahkan pada upaya untuk menarik investor guna menumbuhkan industri dalam
negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku sehingga akan
mendorong perbaikan neraca perdagangan. Fasilitas perdagangan dengan sistem online juga akan dikembangkan untuk meningkatkan pelayanan dan mempercepat
proses penerbitan perizinan.
Langkah utama yang telah ditempuh Pemerintah dalam meningkatkan kualitas
belanja negara adalah melalui peningkatan alokasi belanja yang produktif dan
mengendalikan belanja yang bersifat konsumtif, serta meminimalisir inefisiensi
sehingga pengeluaran dapat diarahkan kepada program-program prioritas nasional.
Namun demikian dalam pengelolaan fiskal, pemerintah juga menghadapi tantangan
yang cukup kompleks, antara lain relatif besarnya porsi belanja yang bersifat
mengikat. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah terus melakukan upaya
fundamental untuk memperkuat belanja produktif yang ditempuh melalui
peningkatan besaran alokasi belanja produktif, peningkatan ruang fiskal melalui
efisiensi belanja yang kurang produktif (subsidi dan belanja non operasional),
pengendalian peningkatan porsi belanja yang bersifat mengikat (mandatory
spending), serta optimalisasi pendapatan negara baik melalui intensifikasi mapun
ekstensifikasi. Di sisi lain, Pemerintah juga terus berupaya mendorong penguatan
daya tahan fiskal dan pengendalian risiko untuk menjaga keberlanjutan fiskal dalam
jangka menengah.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi
Partai Golongan Karya, Fraksi Gerakan Indonesia Raya, Fraksi Partai
Demokrat, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai Hati Nurani
Rakyat, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Nasional
Demokrat terkait kinerja penyerapan anggaran belanja negara yang cenderung
lambat pada tahun 2015, dapat Pemerintah sampaikan bahwa kinerja penyerapan
anggaran belanja negara tergantung pada tiga aspek utama, yaitu aspek kematangan
perencanaan, ketepatan penganggaran, dan kecepatan pelaksanaan.
Perencanaan yang kurang akurat dan kurang matang dapat menyebabkan
keterlambatan dan memicu revisi dokumen dalam pelaksanaan anggaran.
Perencanaan yang kurang akurat tersebut antara lain (1) ketidaksiapan proyek akibat
terlambatnya persiapan proyek, kurangnya koordinasi jangka waktu pelaksanaan
proyek, dan tidak tersedianya biaya persiapan proyek dalam tahun berjalan; dan (2)
perencanaan kegiatan K/L seperti detail engineering design (DED) proyek dan
rencana lelang yang belum dipersiapkan di awal. Sementara itu, aspek ketepatan
penganggaran dapat menghambat pelaksanaan anggaran, terutama dalam hal
ketidaklengkapan dokumen dan data dukung penganggaran, serta terdapatnya
ketidaksesuaian pelaksanaan kegiatan dengan perencanaan anggaran. Hambatan
-L.29-
dalam pelaksanaan anggaran dapat disebabkan antara lain adanya beberapa
peraturan terkait pelaksanaan penganggaran yang menghambat penyerapan
anggaran, misalnya penetapan/penerbitan dasar hukum, termasuk Susunan
Organisasi Tata Kerja (SOTK) sebagai dasar perumusan kinerja K/L dalam kaitannya
dengan perubahan nomenklatur K/L yang membutuhkan waktu, keterlambatan
penunjukan pejabat perbendaharaan, permasalahan dalam proses pengadaan barang
dan jasa, serta adanya kendala terkait aturan dalam proses pembebasan lahan.
Guna mengatasi hambatan tersebut, Pemerintah terus melakukan perbaikan sistem
dan perencanaan anggaran agar dokumen yang diperlukan dalam pencairan DIPA
dapat direncanakan jauh sebelum anggaran tersebut diberlakukan. Dari sisi regulasi,
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2013 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang diantaranya
mengatur bahwa proses pelelangan pengadaan barang/jasa dapat dilaksanakan
sebelum tahun anggaran dimulai, setelah RKA-K/L disetujui oleh DPR. Dengan
demikian, K/L sudah dapat melakukan perikatan dan pencairan dana DIPA dari
sejak awal tahun anggaran. Dari sisi implementasinya: diperlukan komitmen
bersama dari seluruh pemangku kepentingan termasuk aparat pemeriksa, serta
sosialisasi masif agar dicapai kesamaan persepsi semua pihak, sehingga pejabat
pengadaan barang dan jasa tidak diliputi kekhawatiran akan adanya temuan dari
pemeriksa.
Selanjutnya, dari sisi waktu penarikan anggaran, Pemerintah telah menerbitkan
peraturan mengenai Rencana Penarikan Dana, Rencana Penerimaan Dana, dan
Perencanaan Kas untuk penyempurnaan aturan, sistem dan prosedur yang terkait
dengan penganggaran dan pelaksanaan APBN sehingga penyerapan anggaran lebih
terstruktur dan terjadwal serta tidak menumpuk di kuartal IV. K/L diharapkan lebih
baik dan terarah dalam hal perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan APBN, dan
meningkatkan sinkronisasi proses pengadaan barang dan jasa dengan pelaksanaan
kegiatan serta pencairan dananya.
Upaya lain yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi terjadinya
penumpukan penyerapan anggaran pada akhir tahun, adalah:
a) Perubahan Peraturan Pemerintah (PP) No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah menjadi PP No. 70 Tahun 2012 dalam rangka
menyelesaikan hambatan-hambatan yang muncul dalam proses pengadaan
barang dan jasa pemerintah dan mendorong penyerapan belanja modal.
b) Pemerintah berkomitmen untuk menyelesaikan dan menyerahkan dokumen
pelaksanaan anggaran (DIPA) kepada K/L pada akhir tahun (t-1), sehingga K/L
-L.30-
mempunyai cukup waktu untuk melakukan persiapan dan pelaksanaan anggaran
sejak awal tahun anggaran.
c) Pemerintah
telah
memberikan
fleksibilitas
kepada
Kementerian
Negara/Lembaga dalam pelaksanaan revisi anggaran, serta mengurangi jalur
birokrasi dalam proses revisi anggaran yang diajukan oleh K/L sehingga agar
mempercepat proses eksekusi pelaksanaan anggaran apabila terjadi revisi
anggaran.
d) Pemerintah melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan anggaran
secara lebih intensif, melalui Koordinasi Triwulanan antara Kementerian
Keuangan dan K/L. Monitoring dan evaluasi tersebut dapat memberikan solusi
atas hambatan-hambatan dalam penyerapan anggaran dan mengusahakan
kesesuaian penyerapan anggaran dengan rencana.
Langkah-langkah koordinasi dan upaya maksimal untuk memperbaiki hal itu, telah
mulai menunjukan perbaikan di semester II tahun 2015, dimana pada pertengahan
Agustus 2015 realisasi belanja K/L telah mencapai Rp297,9 triliun, yang berarti
sudah lebih besar dari realisasi belanja di periode yang sama di tahun 2014 sebesar
Rp260,3 triliun. Diperkirakan pada bulan-bulan berikutnya realisasi belanja K/L
akan meningkat lagi di dorong pemantauan langsung oleh Presiden di sidang kabinet
serta tim pemantauan realisasi anggaran oleh lintas Kementerian.
Selain itu, menanggapai pandangan terkait lambatnya belanja infrastruktur dapat
dijelaskan bahwa belanja infrastruktur sangat erat kaitannya dengan proses
pengadaan barang dan jasa dan mekanisme pelaksanaan belanja modal. Pada
triwulan I dan II pelaksanaan belanja modal, khususnya infrastruktur sudah
memasuki tahap pelelangan, bahkan terdapat pekerjaan fisik yang sudah dimulai.
Namun, pekerjaan fisik seringkali tidak berjalan seiring dengan penyerapan
anggarannya. Oleh karena itu, tren penyerapan anggaran belanja modal, khususnya
proyek infrastruktur yang bernilai besar umumnya terjadi pada Semester II atau
bahkan di akhir tahun anggaran, meskipun secara fisik sudah terlaksana.
Untuk mempercepat penyerapan anggaran belanja modal tersebut dilakukan dengan
mengatur norma waktu penyelesaian tagihan sesuai ketentuan mengenai tata cara
pelaksanaan APBN dan saat ini sedang disusun Rancangan Peraturan Pemerintah
mengenai denda keterlambatan atas tagihan pihak ketiga. Selain langkah-langkah
tersebut, Pemerintah telah mengupayakan percepatan eksekusi program-program
pembangunan oleh Kementerian/Lembaga (K/L), melalui antara lain.
1.
Penyempurnaan mekanisme pemberian reward and punishment dalam rangka
pelaksanaan anggaran belanja Kementerian/Lembaga (K/L).
-L.31-
2.
Perubahan menyeluruh atas Peraturan Presiden mengenai Pengadaan Barang
dan Jasa, agar membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan
pengadaan barang dan jasa sehingga tidak menghambat realisasi belanja modal.
a. Pengaturan untuk proses pengadaan barang dan jasa yang dapat dilakukan
sebelum tahun anggaran dimulai.
b. Meningkatkan batasan pengadaan barang dan jasa yang dapat dilakukan
tanpa pelelangan dari semula 100 juta menjadi 200 juta.
3.
Proses penyiapan lelang dapat dilakukan jauh hari sebelum tahun anggaran
dimulai, dengan menggunakan dana tahun berjalan.
4.
Penguatan koordinasi K/L dalam pelaksanaan penyerapan realisasi anggaran
melalui Tim Evaluasi Pengawasan Pelaksanaan Realisasi Anggaran (TEPRA)
yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI.
5.
Pembahasan RAPBN tahun 2016 akan diselesaikan selambatnya pada Oktober
2015 dan rincian APBN akan ditetapkan dalam Keputusan Presiden, sebagai
dasar penerbitan DIPA;
6.
Berkaitan dengan RKA-K/L tahun 2016 yang telah mendapat persetujuan
Komisi DPR:
a. K/L mulai melakukan proses pelelangan terhadap proyek dan kegiatan tahun
2016, sejak awal November 2015, setelah disetujui Komisi DPR pada akhir
Oktober 2015 dengan menggunakan pagu anggaran tahun 2015;
b. Penandatanganan kontrak atas proyek dan kegiatan dilakukan setelah
terbitnya DIPA K/L tahun 2016 (pada pertengahan Desember 2015);
c. K/L memastikan seluruh unsur pelaksana program/kegiatan sudah siap
(Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat
perbendaharaan) sejak tahun 2015;
d. Perencanaan proyek dan kegiatan K/L di tahun 2016 disusun lebih baik (dari
sisi kelengkapan administrasi proyek) sehingga benar-benar siap
dilaksanakan sejak awal Januari 2016.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai
Nasional Demokrat, dan Fraksi Partai Demokrat terkait kebijakan belanja
negara, dapat dijelaskan sebagai berikut.
Sejalan dengan tema RKP tahun 2016 ―mempercepat pembangunan infrastruktur
untuk memperkuat fondasi pembangunan yang berkualitas‖, maka kebijakan belanja
negara diarahkan untuk a.l. mendukung pelaksanaan berbagai program dan sasaran
-L.32-
pembangunan, antara lain di bidang: (1) pendidikan, kesehatan, dan penyediaan
perumahan (dimensi pembangunan manusia); (2) kedaulatan pangan, kedaulatan
energi dan ketenagalistrikan, kemaritiman, serta pariwisata dan industri (dimensi
pembangunan sektor unggulan); (3) pemerataan dan pengurangan kesenjangan baik
antarkelas pendapatan dan antarwilayah.
Alokasi belanja terutama ditujukan untuk mendanai program dan kegiatan yang
produktif dan prioritas. Selain itu, Pemerintah juga senantiasa menjaga iklim
investasi agar kondusif bagi dunia usaha sehingga akan semakin banyak lapangan
kerja yang tercipta. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dapat
lebih berkualitas. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, Pemerintah juga tetap
melanjutkan, bahkan memperluas berbagai kebijakan yang berpihak pada rakyat
seperti Program Indonesia Pintar, Program Indonesia sehat, Program Keluarga
Sejahtera, dan Program sejuta Rumah, termasuk pengalokasian subsidi bunga untuk
kredit usaha rakyat. Peningkatan anggaran program-program yang berpihak rakyat
tersebut dapat disampaikan antara lain sebagai berikut. Anggaran untuk PBI/KIS
dari Rp20,4 triliun dengan cakupan 88,2 juta orang dalam tahun 2015 meningkat
menjadi Rp25,5 triliun dengan luas cakupan 92,4 juta orang pada RAPBN tahun
2016. Anggaran BOS dalam tahun 2015 sebesar Rp31,3 triliun menjadi Rp42,1 triliun
dalam tahun 2016. Untuk BOS, mulai tahun 2016 dialokasikan melalui transfer ke
daerah. Selain itu, untuk program Bantuan Tunai Bersyarat/conditional cash
transfer mengalami peningkatan anggaran dari Rp6,6 triliun dengan luas cakupan
sebanyak 3,5 juta KSM dalam tahun 2015 menjadi Rp12,0 triliun dengan luas
cakupan sebanyak 6 juta KSM.
C.1 BELANJA PEMERINTAH PUSAT
Menanggapi pernyataan dari Fraksi Partai Demokrat mengenai penguatan
konektivitas ekonomi nasional dan ekonomi internasional dalam rangka
meningkatkan daya saing nasional dapat kami sampaikan tanggapan sebagai berikut.
Penguatan konektivitas ekonomi nasional sejalan dengan komitmen Pemerintah
mengurangi biaya distribusi barang dan jasa, serta transportasi. Peningkatan
konektivitas tersebut dilakukan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur
jalan, kereta api, bandara, pelabuhan laut dan pelabuhan penyeberangan, terutama
pada daerah-daerah tertinggal, wilayah terpencil, terluar dan wilayah perbatasan,
kawasan pariwisata, kawasan khusus serta kawasan industri.
Untuk mendukung Sistem Logistik Nasional dan mewujudkan Indonesia sebagai
poros maritim dunia, dilakukan melalui pembangunan transportasi berbasis maritim
yang didukung dengan short sea shipping/coastal shipping dan diintegrasikan
-L.33-
dengan jaringan jalan dan kereta api menuju pelabuhan, bandara, perkotaan atau
pusat-pusat pertumbuhan/kehidupan hingga wilayah terpencil dan perbatasan.
Transportasi berbasis maritim diwujudkan dalam tol laut yang dicerminkan dengan
meningkatnya kapasitas pelabuhan utama pendukung tol laut di 24 pelabuhan
strategis serta jumlah dan kapasitas pelabuhan non komersial sebagai sub feeder Tol
Laut. Pemerintah akan mendorong pengembangan pelabuhan strategis, pelabuhan
non-komersil yang terintegrasi dan bersinergi dengan pengembangan pelabuhan
oleh BUMN, serta pelabuhan rakyat untuk mendukung Tol Laut.
Terwujudnya tol laut dalam upaya meningkatkan pelayanan angkutan laut serta
meningkatkan konektivitas laut difokuskan pada: (a) peningkatan pelayanan
angkutan perintis laut dengan 67 unit kapal perintis untuk menghubungkan pulau
besar dan pulau-pulau kecil pada 102 trayek perintis angkutan laut;
(b) pengembangan 24 pelabuhan, termasuk Bitung dan Kuala Tanjung sebagai New
International Hub serta pengembangan 40 lokasi pelabuhan non-komersil dalam
rangka mendukung tol laut; dan (c) pemberdayaan industri maritim dan perkapalan
untuk memenuhi tuntutan kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Selain itu, konektivitas nasional juga diperkuat melalui pembangunan komunikasi
dan informatika yang diarahkan kepada percepatan penyediaan akses komunikasi
dan informatika terutama di wilayah perbatasan negara, tertinggal, terpencil, dan
terluar untuk menutup kesenjangan antarwilayah, serta pengembangan infrastruktur
internet berkecepatan tinggi (pitalebar) untuk meningkatkan daya saing. Beberapa
sasaran yang ingin diwujudkan terkait penyediaan akses komunikasi dan
informatika adalah sebagai berikut :
1. Tersedianya layanan komunikasi dan informatika di perdesaan, perbatasan
negara, pulau terluar, dan wilayah non komersial lainnya melalui, jangkauan
layanan akses telekomunikasi universal dan internet mencapai 100 persen di
wilayah USO;
2. Tersedianya layanan pitalebar dengan tujuan :
a. Terhubungnya jaringan tulang punggung serat optik nasional di seluruh pulau
besar dan kabupaten/kota;
b. Tingkat penetrasi fixed pitalebar di perkotaan 71 persen rumah tangga dan 30
persen populasi, di perdesaan 49 persen rumah tangga dan 6 persen populasi;
c. Tingkat penetrasi mobile pitalebar (1 Mbps) di perkotaan 100 persen dan di
perdesaan 52 persen.
-L.34-
3. Pengoptimalisasian pengelolaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit
melalui:
a. Migrasi sistem penyiaran televisi dari analog ke digital selesai (analog switch
off);
b. Tersedianya alokasi spektrum frekuensi yang mendukung layanan pitalebar.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan
Fraksi Partai Nasional Demokrat mengenai pengalokasian dan sasaran
pembangunan infrastruktur, dapat disampaikan bahwa pembangunan infrastruktur
memiliki multiplier effect yang besar dan berkelanjutan terhadap pembangunan
nasional. Dalam RAPBN tahun 2016, Pemerintah mengalokasikan anggaran
infrastruktur sebesar Rp313,5 triliun yang diarahkan untuk pembangunan
konektivitas, kedaulatan pangan, energi, serta perumahan, air minum dan sanitasi.
Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan mengenai prioritas pengalokasian anggaran infrastruktur yang juga
diarahkan untuk infrastruktur kerakyatan, selain pembangunan infrastruktur di
bidang konektivitas, perumahan, energi, dan kedaulatan pangan. Pembangunan
infrastruktur dalam kerangka ekonomi kerakyatan, antara lain pembangunan sarana
dan prasarana dasar di daerah kumuh (Neighborhood Upgrading and Shelter
Project (NUSP), pembangunan sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS),
Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), serta Pembangunan
Sarana Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).
Pembangunan infrastruktur kerakyatan juga diarahkan untuk membuka akses
terhadap wilayah-wilayah terisolir, terpencil, dan terluar, yang bertujuan untuk
memperlancar mobilitas arus barang dan jasa, serta kelancaran proses produksi.
Pembangunan infrastruktur tersebut antara lain dilakukan melalui pembangunan
(termasuk pemeliharaan) ruas jalan sepanjang 375 kilometer, jembatan sepanjang
6.283,9 meter, 4 darmaga sungai dan danau, jalur kereta api sepanjang 110,9 kmsp,
pengembangan sarana distribusi perdagangan melalui pasar rakyat, serta
pengembangan sarana dan prasarana pedesaan. Selain itu, Pemerintah juga
berupaya mewujudkan kedaulatan energi melalui fasilitasi penyelesaian
pembangunan pembangkit 35.000 MW, rasio elektrifikasi 90,15 persen, dan
kapasitas pembangkit sebesar 61,5 giga watt. Dengan demikian, pembangunan
infrastruktur yang berpola pemberdayaan dan berpihak pada wilayah tertinggal,
terpencil, dan terluar diharapkan dapat membuka kesempatan kerja dan mengurangi
kesenjangan pembangunan antar wilayah, serta membuka peluang tumbuhnya
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
-L.35-
Selanjutnya, menanggapi pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait
pembangunan infrastruktur pertanian dan kelautan, dapat disampaikan sebagai
berikut. Pembangunan infrastruktur pertanian diarahkan antara lain untuk
pengembangan jaringan dan optimasi air (termasuk jaringan irigasi) seluas
500.000 ha. Terkait dengan infrastruktur kelautan, Pemerintah telah
mengalokasikan anggaran untuk (1) membangun kapal perintis penumpang dan
barang sebanyak 94 unit; (2) membangun sarana bantu navigasi pelayaran sebanyak
215 unit. Di samping itu, Pemerintah juga mendukung pengembangan
perekonomian berbasis bahari secara serius dan terintegrasi baik hulu maupun
hilirnya yang mencakup industri perikanan, transportasi, pertambangan laut,
industri produk olahan hasil laut, wisata bahari, dan riset maritim. Dengan
demikian, pembangunan infrastruktur di bidang pertanian dan kelautan akan dapat
menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah
―Indonesia yang lebih berdikari dalam bidang ekonomi‖ yang kemudian dijabarkan
ke dalam Nawa Cita, khususnya untuk cita 6: meningkatkan produktivitas rakyat dan
daya saing di pasar Internasional dan cita 7: mewujudkan kemandirian ekonomi
dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Nasional Demokrat terkait keberlanjutan
pembiayaan untuk infrastruktur, dapat dijelaskan sebagai berikut. Secara umum,
anggaran infrastruktur selain dialokasikan melalui belanja Kementerian
Negara/Lembaga, juga dialokasikan melalui belanja non K/L, transfer ke daerah,
dana desa, dan pembiayaan. Alokasi anggaran infrastruktur melalui belanja non-K/L
dilakukan dalam bentuk dukungan viability gap fund (VGF) dan belanja hibah ke
pemerintah daerah, seperti pembangunan mass rapid transit (MRT). Selanjutnya,
anggaran infrastruktur melalui transfer ke daerah dan dana desa dialokasikan dalam
bentuk: (1) dana alokasi khusus pada beberapa bidang terkait infrastruktur, yaitu
bidang transportasi, jalan, irigasi, air minum dan sanitasi, serta energi perdesaan;
(2) dana desa yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur di perdesaan.
Adapun anggaran infrastruktur melalui pembiayaan dialokasikan melalui berbagai
bentuk
investasi
Pemerintah
(seperti
fasilitas
likuiditas
pembiayaan
perumahan/FLPP), maupun PMN kepada beberapa BUMN yang bergerak di bidang
infrastruktur.
Selanjutnya, menanggapi saran dan harapan Fraksi Partai Gerakan Indonesia
Raya dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait dengan realisasi dari
program infrastruktur, dapat disampaikan pandangan sebagai berikut. Pemerintah
menyadari bahwa realisasi belanja infrastruktur pada semester I tahun 2015 masih
cukup rendah. Hal ini antara lain disebabkan adanya perubahan nomenklatur
beberapa Kementerian, termasuk kementerian yang menangani infrastruktur.
-L.36-
perubahan nomenklatur tersebut berdampak pada perubahan organisasi dan tata
kerja, serta alokasi anggaran sehingga memengaruhi terlambatnya pelaksanaan
kontrak proyek infrastruktur. Oleh karena itu, pada tahun 2016, Pemerintah
berupaya untuk mempercepat pelaksanaan kegiatan infrastruktur, antara lain
melalui: (1) K/L mulai melakukan proses pelelangan terhadap proyek dan kegiatan
tahun 2016, sejak awal November 2015, setelah disetujui Komisi DPR pada akhir
Oktober 2015 dengan menggunakan pagu anggaran tahun 2015; (2)
Penandatanganan kontrak atas proyek dan kegiatan dilakukan setelah terbitnya
DIPA K/L tahun 2016 (pada pertengahan Desember 2015); (3) K/L memastikan
seluruh unsur pelaksana program/kegiatan sudah siap (Kuasa Pengguna Anggaran,
Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat perbendaharaan) sejak tahun 2015; (4)
Perencanaan proyek dan kegiatan K/L di tahun 2016 disusun lebih baik (dari sisi
kelengkapan administrasi proyek) sehingga benar-benar siap dilaksanakan sejak
awal Januari 2016.
Pemerintah sependapat terhadap pandangan Fraksi Partai Nasional Demokrat
dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera untuk terus konsisten mengalokasikan
anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN sesuai dengan amanat Pasal 31
Ayat 4UUD 1945. Pemenuhan 20 persen anggaran pendidikan dalam RAPBN tahun
2016 ini dimaksudkan agar pengelolaan pendidikan yang efektif dan peningkatan
kualitas infrastruktur dan proses pendidikan, mampu meningkatkan kualitas
pendidikan yang berdampak pada peningkatan kualitas manusia Indonesia serta
daya saing bangsa. Dalam RAPBN tahun 2016, alokasi anggaran pendidikan
direncanakan mencapai Rp424,3 triliun, yang berarti meningkat cukup signifikan
(Rp15,7 triliun) dari APBNP tahun 2015. Alokasi anggaran pendidikan tersebut akan
diarahkan untuk mendukung pencapaian sasaran sebagaimana yang ingin dicapai
dalam Program Indonesia Pintar pada RKP 2016, yaitu:
1.
melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun, dengan (a) melanjutkan upaya untuk
memenuhi hak seluruh penduduk mendapatkan layanan pendidikan dasar, dan
(b) memperluas dan meningkatkan pemerataan pendidikan menengah
berkualitas antara lain melalui dukungan bagi anak dari keluarga kurang mampu
untuk dapat mengikuti Program Indonesia Pintar dengan pemberian Kartu
Indonesia Pintar;
2. meningkatkan kualitas pembelajaran, melalui penguatan jaminan kualitas
(quality assurance) pelayanan pendidikan; penguatan kurikulum dan
pelaksanaannya; dan penguatan sistem penilaian pendidikan yang komprehensif
dan kredibel;
-L.37-
3. meningkatkan akses terhadap layanan pendidikan dan pelatihan keterampilan
melalui peningkatan kualitas lembaga pendidikan formal, terutama pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi;
4. meningkatkan pengelolaan dan penempatan guru, serta jaminan hidup dan
fasilitas pengembangan pengetahuan dan karir bagi guru di daerah khusus; dan
5. meningkatkan pemerataan akses dan kualitas serta relevansi dan daya saing
pendidikan tinggi.
Untuk itu, alokasi anggaran pendidikan dalam RAPBN tahun 2016 ini akan
dipergunakan antara lain untuk: (1) pemberian Kartu Indonesia Pintar kepada
21.570.777 siswa; (2) pemberian beasiswa bidik misi dan bantuan siswa miskin
untuk 295.084 mahasiswa; (3) pembangunan 981 unit sekolah baru, pembangunan
14.566 ruang kelas baru, dan rehabilitasi pada 11.625 ruang kelas; (4) pemberian
BOS kepada 3.655.420 santri MI/Ula, 3.407.856 santri MTs/Wustha, dan 1.256.035
santri MA/Ulya; (5) perbaikan kurikulum pada 88.918 sekolah; (5) jumlah guru yang
mengikuti sertifikasi sebanyak 74.562 guru, jumlah dosen yang mengikuti sertifikasi
sebanyak 28.745 dosen; (6) pemberian tunjangan kepada 318.081 guru; (7)
peningkatan kompetensi kepada 497.573 orang tenaga pendidik.
Dengan pemanfaatan anggaran pendidikan, diharapkan dalam tahun 2016 dapat
meningkatkan diantaranya: (1) angka partisipasi PAUD dari 66,81 persen pada tahun
2014 menjadi 70,85 persen pada tahun 2016, (2) APM SD/MI dari 91,28 persen pada
tahun 2014 menjadi 91,79 persen pada tahun 2016, (3) APM SMP/MTs dari 79,42
persen pada tahun 2014 menjadi 80,87 persen pada tahun 2016, (4) APM
SMA/MA/SMK dari 55,26 persen pada tahun 2014 menjadi 60,84 persen pada tahun
2016, (5) APK perguruan tinggi dari 28,51 persen pada tahun 2014 menjadi 31,31
persen pada tahun 2016); dan (6) meningkatnya jaminan hidup dan fasilitas
pengembangan ilmu pengetahuan dan karir bagi guru yang ditugaskan di daerah
khusus.
Pemerintah pada prinsipnya sependapat dengan Fraksi Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan untuk tetap mengalokasikan Biaya Operasional Perguruan
Tinggi Negeri (BO PTN) agar PTN tidak menaikkan Sumbangan Pembinaan
Pendidikan (SPP) bagi mahasiswa dan tidak mendorong terjadinya komersialisasi
PTN. Realisasi BO PTN untuk setiap Perguruan Tinggi dalam tahun 2014 adalah
Rp26,47 miliar. Dengan alokasi BO PTN tahun 2016 untuk 118 PTN sebesar Rp3,79
triliun, maka rata-rata PTN mendapatkan alokasi sebesar Rp32,17 miliar (meningkat
dibanding alokasi tahun 2014, yang diharapkan dapat membantu PTN dalam
menyelenggarakan kegiatan pendidikan).
-L.38-
Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan operasional penyelenggaraan pendidikan
tinggi yang meningkat, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan:
a.
Mengoptimalkan anggaran dari PNBP/BLU sebesar Rp10 triliun (alokasi 2016);
b. Merealokasi anggaran beasiswa dosen yang masih didanai oleh Kemenristek
Dikti untuk diusulkan didanai dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan
(LPDP);
c.
Mengidentifikasi anggaran kegiatan lain yang berpotensi duplikasi, untuk
direalokasi ke anggaran BO PTN.
Pemerintah mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan oleh Fraksi
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi Partai Kebangkitan
Bangsa, Fraksi Partai Nasional Demokrat, Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera, dan Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat terkait dengan keseriusan
dan komitmen Pemerintah untuk melaksanakan UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, yaitu dalam rangka pemenuhan 5 persen anggaran kesehatan dalam
RAPBN 2016. Terpenuhinya 5 persen anggaran kesehatan tersebut diharapkan selain
mampu meningkatkan akses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang
berkualitas bagi masyarakat, juga mampu meningkatkan ketersediaan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat,
sehingga pada gilirannya mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal ini
menunjukkan bahwa Pemerintah berupaya meningkatkan alokasi anggaran di
bidang kesehatan, dengan tetap memperhatikan batas-batas kemampuan keuangan
Negara dan prioritas-prioritas nasional, juga dengan tetap memperhatikan daya
serap kementerian negara/lembaga. Hal ini perlu menjadi perhatian Pemerintah
mengingat terdapat prioritas-prioritas lain yang antara lain pendidikan, pengentasan
kemiskinan, peningkatan daerah tertinggal, pertahanan (minimum essential forces),
pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), ketahanan pangan, dan
pembangunan infrastruktur yang berkualitas.
Pemerintah juga sependapat dengan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera agar alokasi anggaran
kesehatan tersebut selain diarahkan untuk pemenuhan hak-hak rakyat atas
pelayanan kesehatan, juga diprioritaskan untuk mendorong program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) agar berjalan lebih baik. Berbagai upaya yang telah dan
akan terus dilakukan pemerintah untuk perbaikan program JKN tersebut
diantaranya dengan: (1) meningkatkan kuantitas, kualitas fasilitas kesehatan tingkat
pertama (FKTP) dan Puskesmas maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (FKTL)
termasuk ruang rawat inap kelas III dan tempat tidur Rumah Sakit serta
pemerataannya di daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar yang berpenduduk; (2)
-L.39-
menerapkan sistem layanan berjenjang/rujukan secara tertib dan optimal; (3)
memperluas jaringan pelayanan kesehatan dengan rumah sakit-rumah sakit swasta
yang belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan; (4) meningkatkan jumlah,
penyebaran, dan kompetensi tenaga kesehatan (Dokter, Perawat, Bidan) dan obatobatan/bahan medis agar dapat menjangkau seluruh wilayah; (5) meningkatkan
kegiatan promotif, preventif, dan edukatif terkait dengan pola hidup sehat; dan (6)
melakukan penyesuaian besaran iuran/premi peserta program JKN di mana dalam
RAPBN tahun 2016 direncanakan dilakukan penyesuaian iuran peserta PBI menjadi
sebesar Rp23.000,- per orang per bulan dengan sasaran 92,4 juta jiwa masyarakat
miskin dan tidak mampu. Pada akhirnya, dengan alokasi anggaran kesehatan
sebesar 5 persen tersebut diharapkan mampu menjamin pemeliharaan kesehatan
masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan.
Selanjutnya, yang tak kalah penting adalah terus dilakukannya upaya-upaya
penajaman terhadap sasaran dan target kinerja program dan kegiatan prioritas
kesehatan, peningkatan kualitas belanja dan penegasan pembagian urusan
kesehatan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan anggaran bidang kesehatan dapat
digunakan secara efektif dan efisien.
Pemerintah pada dasarnya sependapat dengan pernyataan Fraksi Partai
Demokrat untuk memperhatikan kesejahteraan penegak hukum dan melengkapi
sarana dan prasarananya. Pada tahun 2016, salah satu strategi di bidang pertahanan
dan keamanan adalah meningkatkan profesionalisme Polri yang akan dilaksanakan
melalui
peningkatan kualitas Alat Material Khusus (Almatsus) Polri, serta
pengembangan sarana dan prasarana dalam rangkameningkatkan pelayanan publik
dan penguatan pelaksanaan tugas Polri. Hal tersebut antara lain diwujudkan melalui
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Polri, yang memiliki indikator kinerja
persentase penambahan Almatsus Polri dari berbagai jenis pembiayaan sebesar 8
persen dibandingkan tahun sebelumnya dan persentase ketersediaan fasilitas dan
konstruksi Polri dalam mendukung kesejahteraan Polri sebesar 20 persen
dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk memperkuat kehadiran negara dalam pelaksanaan reformasi sistem dan
penegakkan hukum, bebas korupsi dan menghadirkan negara dalam melindungi
segenap bangsa dan memberikan rasa aman terhadap seluruh warga negara
dalam
rangka
meningkatkan
pelayanan
publik,
kesiapsiagaan
dan
ketanggapsegeraan penggunaan kekuatan personel Polri, maka perlu dipersiapkan
fasilitas perumahan berupa asrama/rumah dinas/Flat, Barak dan infrastruktur
terutama pada tingkat Polres, Polsek, Polsubsektor dan pos-pos perbatasan antar
Negara, pulau terluar berpenghuni.
-L.40-
Pemerintah telah memberikan penyesuaian tunjangan kinerja pegawai di lingkungan
Polri terhitung mulai bulan Mei 2015. Sementara itu, untuk MA dan Kejaksaan,
Pemerintah telah memberikan penyesuaian tunjangan kinerja di lingkungan MA dan
pemberian tunjangan fungsional jaksa. Terkait dengan sarana dan prasarana di
bidang penegakan hukum, Pemerintah akan melaksanakan strategi peningkatan
kapasitas Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Penyimpanan Barang Sitaan, serta
peningkatan kualitas pelayanan hukum kepada masyarakat melalui strategi pilot
project pelayanan mobil terpadu di bidang imigrasi, hak cipta, dan paten.
Menanggapi masukan dari Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai
Keadilan Sejahtera yang mencermati adanya ketidaksesuaian antara alokasi
anggaran fungsi pertahanan dalam RAPBN tahun 2016 dengan sasaran yang ingin
dicapai, dapat disampaikan sebagai berikut. Alokasi anggaran pada fungsi
pertahanan dalam RAPBN tahun 2016 mengalami penurunan sebesar Rp6,5 triliun
dari APBNP 2015. Penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh adanya
penurunan alokasi anggaran yang didanai dari pinjaman luar negeri. Hal ini
disesuaikan dengan rencana penarikan (disbursement plan) pengadaan alutsista TNI
melalui fasilitas kredit ekspor yang diperkirakan mengalami penurunan pada tahun
2016 sebagai akibat telah dilakukan percepatan penarikan pada dua tahun terakhir.
Disamping itu, Pemerintah juga akan memprioritaskan pengadaan alutsista dengan
prioritas pembiayaan dalam negeri. Penurunan alokasi anggaran tersebut
dilaksanakan dengan tetap menjaga upaya Pemerintah dalam mewujudkan
pemenuhan kebutuhan kekuatan pokok minimum
(Minimum Essential
Force/MEF), terutama dengan meningkatkan kontribusi industri pertahanan dalam
negeri bagi penyediaan dan pemeliharaan Alutsita TNI, guna menjaga keamanan,
stabilitas dan kedaulatan NKRI. Disamping itu, Pemerintah juga berupaya
meningkatkan kesejahteraan prajurit melalui pembangunan perumahan dinas dan
memberikan kenaikan remunerasi bagi prajurit TNI.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang
mendorong Pemerintah menjalankan politik harga yang sejalan dengan upaya
mewujudkan kedaulatan pangan, kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemerintah memberi perhatian yang sangat besar kepada petani dan nelayan dalam
rangka mencapai sasaran utama di bidang kedaulatan pangan.
Dari sisi ketersediaan pangan di pasar, dalam bentuk peningkatan produksi pangan
utama (padi, jagung, kedelai, dan daging sapi) dan peningkatan produksi perikanan
(perikanan tangkap dan budidaya), akan dilakukan antara lain: (1) pembangunan
konstruksi bendung irigasi, (2) perluasan areal persawahan melalui pencetakan
sawah baru serta pembangunan/peningkatan/rehabilitasi jaringan irigasi, termasuk
pengalokasian subsidi pupuk dan subsidi benih.
-L.41-
Pemerintah juga telah mengambil kebijakan untuk mengantisipasi dampak
perubahan iklim, termasuk dampak dari El Nino, dengan menerbitkan Instruksi
Presiden Nomor 5 tahun 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional Dalam
Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim.
Dalam menjaga stabilitas harga pangan, selain dilakukan melalui mekanisme dana
cadangan (penyediaan cadangan beras Pemerintah dan cadangan stabilisasi harga
pangan dan ketahanan pangan), Pemerintah secara terus menerus memantau
perkembangan stok, pasokan, permintaan, kelancaran distribusi, efisiensi biaya
produksi, distribusi dan margin, serta menetapkan kebijakan antara lain harga
bahan pangan pokok, pengeloaan stok dan logistik, serta pengelolaan ekspor dan
impor. Di samping itu, Pemerintah akan meningkatkan peran Perum Bulog dalam
mewujudkan kedaulatan pangan melalui penyertaan modal negara (PMN) yang akan
digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan pembangunan unit-unit
drying centre dan modern rice milling plant untuk mempercepat proses
pengeringan dan pengolahan gabah dalam rangka membantu petani meningkatkan
kualitas dan harga jual.
Pemerintah mengapresiasi tanggapan positif dan dukungan dari Fraksi Partai
Nasional Demokrat terhadap kebijakan Pemerintah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat melalui program bantuan sosial yang tepat sasaran.
Langkah-langkah yang akan dilaksanakan Pemerintah untuk melaksanakan
kebijakan tersebut, diantaranya melalui: (1) Perluasan coverage penerima Bantuan
Tunai Bersyarat/Conditional Cash Transfer menjadi 6,0 juta keluarga sasaran
(KSM) pada tahun 2016; (2) Peningkatan kepesertaan penerima bantuan iuran
Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) bagi 92,4 juta masyarakat miskin dan tidak
mampu dan di sisi lain dilakukan penyesuaian besaran iuran/premi peserta PBI JKN
yang iurannya dibayarkan oleh Pemerintah untuk meningkatkan pelayanan
kesehatan bagi seluruh masyarakat peserta program JKN; dan (3) Pelaksanaan
Program Sejuta Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang
bertujuan untuk meningkatkan akses MBR terhadap hunian yang layak, aman, dan
terjangkau serta didukung oleh penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas yang
memadai melalui pemberian kemudahan fasilitas bunga kredit yang rendah selama
masa angsuran, bantuan uang muka perumahan, dan pengenaan uang muka KPR
yang rendah. Selanjutnya, kriteria masyarakat yang berhak menikmati Program
Sejuta Rumah adalah MBR dengan batasan penghasilan tertentu setiap bulan
(maksimal Rp4,0 juta/bulan untuk pembelian rumah tapak dan maksimal Rp7,0
juta/bulan untuk pembelian rumah susun) serta belum pernah memperoleh subsidi
Pemerintah untuk kepemilikan rumah.
-L.42-
Pemerintah sependapat dengan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan dan Fraksi Partai Nasional Demokrat agar program jaring
pengaman sosial dan jaminan sosial melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu
Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan tunai bersyarat, dan
Raskin dengan memperhatikan 40 persen kelompok penduduk terbawah dan
menggunakan pendataan penduduk terpadu sehingga program-program tersebut
tepat sasaran. Namun, pelaksanaannya dilakukan dengan tetap memperhatikan
kemampuan keuangan negara. Terkait dengan hal tersebut, pada tahun 2015 BPS
telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp932,3 miliar untuk pelaksanaan
Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) yang mencakup kelompok 40 persen
Rumah Tangga Sasaran (RTS) atau sekitar 28 juta RTS. Pelaksanaan PBDT
melibatkan unsur komunitas seperti Ketua RT, RW, Kepala Dusun untuk
menentukan rumah tangga sasaran melalui Forum Konsultasi Publik (FKP) yang
selanjutnya akan dilakukan pendataan secara door to door. Selanjutnya,
Kementerian Sosial pada tahun 2015 juga melakukan kegiatan verifikasi dan validasi
terhadap data penerima Program Perlindungan Sosial hasil Pendataan Program
Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011. Pemutakhiran, verifikasi, dan validasi data
dilaksanakan agar program jaring pengaman sosial dan jaminan sosial melalui Kartu
Keluarga Sejahtera (KKS), Raskin, dan bantuan tunai bersyarat dapat dilaksanakan
secara tepat sasaran.
Seiring dengan hal tersebut, kebijakan dalam penanggulangan kemiskinan tahun
2016 yang ditempuh Pemerintah adalah: (1) penyelenggaraan perlindungan sosial
yang komprehensif melalui pengembangan dan perluasan cakupan skema uang
elektronik untuk penyaluran bantuan sosial, peningkatan komplementaritas dan
cakupan bantuan tunai bersyarat, perluasan cakupan serta pengembangan sistem
layanan dan rujukan terpadu bagi penduduk miskin dan rentan melalui KIS dalam
program JKN, melanjutkan upaya pemenuhan hak seluruh penduduk mendapatkan
layanan pendidikan dasar berkualitas, memperluas dan meningkatkan pemerataan
pendidikan menengah yang berkualitas melalui KIP, serta penguatan penyaluran
program Raskin dengan perbaikan pada kualitas beras dan skema penyaluran; (2)
penyempurnaan dan peningkatan efektivitas pelayanan dasar bagi penduduk miskin
dan rentan melalui penguatan koordinasi kelembagaan dan peningkatan kapasitas
pemerintah daerah, pengembangan insentif kinerja bagi pemerintah daerah untuk
meningkatkan akses dan kualitas pelayanan dasar, dan pengembangan sistem data
real time dan terpadu untuk mendukung identifikasi dan target.
Menanggapi pernyataan Fraksi Partai Amanat Nasional mengenai
penghematan dan pemotongan belanja K/L agar diutamakan pada fungsi non
ekonomi dan tidak berdampak pada penurunan penciptaan lapangan pekerjaan,
-L.43-
kenaikan kemiskinan, dan pelebaran kesenjangan, dapat kami sampaikan sebagai
berikut.
Alokasi anggaran belanja K/L tahun 2016 difokuskan untuk melaksanakan belanja
prioritas yang memegang peranan penting dalam pencapaian sasaran prioritas
pembangunan. Secara keseluruhan, efektivitas dan efisiensi belanja K/L, baik
belanja prioritas maupun belanja rutin terus didorong sehingga alokasi yang terbatas
menjadi lebih berdaya guna. Efektivitas dan efisiensi belanja K/L dapat dilakukan
melalui: (a) penajaman prioritas belanja dengan melakukan pengendalian belanja
K/L yang nonprioritas; (b) peningkatan efisiensi dalam penganggaran dengan
menurunkan
biaya-biaya overhead administrative; (c) melakukan review
menyeluruh terhadap kebijakan alokasi anggaran dengan mengalihkan belanja yang
nonproduktif ke belanja produktif, serta menerapkan belanja-belanja wajib secara
konsisten yang berorientasi pada output dan outcome dari setiap pengalokasian
anggaran. Pembenahan dalam manajemen kinerja pembangunan secara langsung
juga turut mendorong terciptanya efisiensi belanja operasional birokrasi.
Penghematan dilakukan pada pos perjalanan dinas dan penyelenggaraan rapat yang
akan dijaga pada tingkat yang wajar.
Pemerintah senantiasa berupaya untuk meningkatkan belanja-belanja yang langsung
bersentuhan dengan kebutuhan riil rakyat, baik melalui pembangunan infrastruktur
yang menjadi kebutuhan rakyat atau bersinggungan langsung dengan masyarakat
maupun belanja-belanja untuk mendukung program pengentasan kemiskinan dan
perlindungan sosial serta mendorong subsidi yang tepat sasaran bagi masyarakat
yang kurang mampu. Arah strategi pembangunan ekonomi juga lebih dititikberatkan
untuk mendorong sumber-sumber pertumbuhan produktif khususnya melalui
penguatan kinerja investasi yang diyakini memberikan efek lebih besar bagi
penciptaan lapangan kerja baru.
Untuk itu, pemerintah mengarahkan belanja negara tahun 2016 pada sepuluh
kebijakan utama yang akan mendasari pengalokasian anggarannya, yaitu: (i)
meningkatkan belanja infrastruktur untuk memperkuat konektivitas nasional,
mendukung sektor kemaritiman dan kelautan, mencapai kedaulatan pangan,
kedaulatan energi dan ketenagalistrikan serta peningkatan industri dan pariwisata,
(ii) meningkatkan efisiensi belanja negara antara lain: kebijakan subsidi yang lebih
tepat sasaran dan pengendalian belanja operasional yang tidak prioritas,
(iii) mendukung pemantapan reformasi birokrasi dalam rangka peningkatan
pelayanan publik dan efisiensi birokrasi melalui peningkatan kesejahteraan
aparatur, antisipasi UU No. 5/2014 tentang ASN, (iv) mendukung stabilitas
pertahanan dan keamanan nasional melalui kepastian dan penegakan hukum,
menjaga stabilitas politik dan demokrasi, (v) mendukung pengurangan kesenjangan
-L.44-
antar kelompok pendapatan dan antar wilayah, antara lain melalui dukungan
pembangunan di daerah perbatasan, perdesaan, pinggiran, pusat pertumbuhan di
luar Jawa dan Kawasan Timur (antara lain infrastruktur, pendidikan, dan
kesehatan), (vi) mendukung efektifitas dan keberlanjutan SJSN (Jaminan Kesehatan
Nasional dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan) serta perbaikan pelayanan
kesehatan, (vii) memenuhi amanat UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan untuk
mengalokasikan 5 persen dari APBN untuk mendukung pembangunan dan
pelayanan di bidang kesehatan, (viii) mendukung penguatan pelaksanaan
desentralisasi fiskal melalui peningkatan alokasi Transfer ke Daerah (peningkatan
DAK secara signifikan) dan Dana Desa yang lebih besar daripada peningkatan
alokasi Belanja K/L serta pemenuhan secara bertahap alokasi Dana Desa sesuai
amanat UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa, (ix) penyediaan dukungan bagi
pelaksanaan program 1 juta rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR),
dan (x) antisipasi ketidakpastian perekonomian antara lain dengan menyediakan
cadangan risiko fiskal.
Sebagai bagian dari kebijakan Pemerintah tersebut, maka alokasi Belanja Transfer ke
daerah dan Dana Desa dalam tahun 2016 diusulkan lebih tinggi dari alokasi belanja
K/L. Untuk itu, dilakukan realokasi terhadap program dan kegiatan yang selama ini
dilaksanakan dengan mekanisme Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan K/L ke DAK.
Realokasi ini sekaligus untuk memperkuat desentralisasi fiskal dan mempertajam
sasaran pembangunan, sehingga upaya untuk penciptaan lapangan kerja,
pengurangan kemiskinan, dan kesenjangan dapat lebih optimal.
Di samping itu, upaya penanggulangan kemiskinan juga ditempuh melalui program
kesejahteraan dan perlindungan sosial yang komprehensif, pengembangan
penghidupan berkelanjutan, serta perluasan dan peningkatan pelayanan dasar. Di
bidang ketenagakerjaan, pemerintah berupaya untuk meningkatkan daya saing atau
keterampilan pekerja dan memberikan perlindungan bagi pekerja yang rentan
terhadap goncangan ekonomi.
Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Persatuan
Pembangunan, Fraksi Partai Golongan Karya, dan Fraksi Partai Nasional
Demokrat mengenai pemberian reward and punishment
terkait disiplin
pengelolaan anggaran terutama dalam hal penyerapan anggaran. Untuk penerapan
pemberian reward and punishment, Pemerintah telah melaksanakan sistem ini
mulai tahun 2011 dengan basis perhitungan evaluasi anggaran tahun 2010
sebagaimana diatur dalam Undang Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2011. Sistem tersebut kemudian
diatur lebih lanjut melalui Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2012 tentang
Pemberian Penghargaan dan Pengenaan Sanksi atas Pelaksanaan Anggaran Belanja
-L.45-
Kementerian/Lembaga. Penerapan kebijakan reward and punishment tersebut
mempertimbangkan kinerja K/L baik dari aspek penyerapan anggaran maupun
capaian sasaran/target kegiatan. Penyempurnaan juga dilakukan secara terus
menerus terkait sistem reward and punishment yang meliputi:
1. Dasar perhitungan: menggunakan realisasi anggaran yang telah diaudit oleh
BPK.
2. Dasar penilaian: menggunakan hasil optimalisasi dikurangi sisa anggaran yang
tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta tiga variabel kinerja penganggaran
(persentase penyerapan anggaran minimal 95 persen, persentase capaian output
minimal
95
persen,
dan
opini
BPK
atas
Laporan
Keuangan
Kementerian/Lembaga Wajar Tanpa Pengecualian).
3. Penghapusan sanksi: tidak akan dikenakan apabila tiga variabel kinerja tersebut
dapat terpenuhi.
4. Pengaturan penghargaan: penghargaan kepada penanggung jawab program
diberikan secara penuh kepada program yang berkontribusi. Ke depan, kebijakan
pemberian reward and punishment akan diharmonisasikan dengan
implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN) terkait dengan pemberian insentif kepada pegawai.
5. Waktu pemberian: diberikan pada saat penetapan alokasi anggaran tahun
berikutnya.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya dan Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera mengenai Pembayaran Bunga Utang yang telah
mencapai 10 persen dari total pendapatan negara dan hampir menyamai besaran
anggaran subsidi yang terus menurun, serta Pembayaran Bunga Utang dan cicilan
pokok yang menjadi beban APBN, kiranya dapat disampaikan penjelasan sebagai
berikut.
Berbeda dengan anggaran subsidi yang pada tataran kebijakan dapat dialihkan
untuk belanja yang lebih produktif, cicilan pokok dan belanja pemerintah pusat
untuk Pembayaran Bunga Utang bersifat mengikat sebagai konsekuensi logis yang
harus dipenuhi oleh Pemerintah dari pengadaan/penerbitan utang yang baru
ataupun utang yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya (legacy debts).
Jumlah cicilan pokok dan pembayaran bunga utang tersebut setiap tahun mengalami
fluktuasi, karena menyesuaikan dengan schedule waktu pembayaran masing-masing
instrumen utang dan realisasi variabel ekonomi makro yang mempengaruhinya,
seperti nilai tukar dan tingkat bunga referensi. Namun demikian, Pemerintah
senantiasa berupaya mengendalikan beban bunga utang secara relatif terhadap
-L.46-
belanja negara dan Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini terlihat dari rasio
pembayaran bunga utang terhadap belanja negara yang menurun dari 10 persen
pada tahun 2009 menjadi 7 persen pada tahun 2014. Di samping itu, rasio
pembayaran bunga utang terhadap PDB juga menurun dari 1,7 persen pada tahun
2009 menjadi 1,3 persen pada tahun 2014.
Selain itu, Pemerintah juga berupaya mengendalikan besaran cicilan pokok jatuh
tempo untuk menghindari risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) melalui (1)
proyeksi pembayaran sesuai jadwal pembayaran utang, (2) memperhitungkan
rencana percepatan pembayaran pinjaman Pemerintah kepada kreditur, dan (3)
mempertimbangkan perkembangan nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang
asing, terutama dolar Amerika Serikat. Melihat maturity profile, porsi utang jatuh
tempo dalam 1 tahun dan 3 tahun masing-masing sebesar 8,0 persen dan 20,6
persen dari total utang.
Upaya pengendalian biaya utang dalam kerangka pengelolaan utang dilakukan
antara lain melalui (1) restrukturisasi utang dengan melakukan debt switch dan
buyback SBN yang memiliki tingkat kupon yang tinggi, (2) pemilihan seri dan waktu
yang tepat dalam melakukan penarikan/penerbitan utang, (3) memilih pemberi
pinjaman secara selektif yang memiliki perencanaan dan preferensi pembiayaan
yang sesuai dengan kegiatan prioritas, (4) restrukturisasi tingkat bunga dan jenis
mata uang, (5) meningkatkan penyerapan pinjaman dan/atau kinerja kegiatan, serta
(6) penggunaan instrumen lindung nilai/hedging untuk meningkatkan kepastian
terhadap pembayaran kewajiban utang, baik dari pinjaman maupun Surat Berharga
Negara (SBN), dan memitigasi risiko lonjakan kenaikan Pembayaran Bunga Utang
karena fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain, termasuk dolar
Amerika Serikat.
Dalam kaitannya dengan tren pelemahan rupiah terhadap mata uang asing, dapat
Pemerintah sampaikan bahwa posisi utang pemerintah masih didominasi oleh utang
dengan denominasi rupiah. Utang dalam denominasi valas (yang dilakukan secara
terukur) tetap dibutuhkan dalam rangka diversifikasi pasar dan upaya untuk
mendukung penerapan kerangka Assets Liabilities Management. Dalam kerangka
pengelolaan utang yang kredibel, Pemerintah menjamin bahwa pengadaan utang
valas tetap dilakukan pada tingkat bunga yang minimal dan risiko yang terkendali.
Pemerintah juga senantiasa memonitor sensitivitas pelemahan nilai tukar terhadap
pembayaran bunga utang dan cicilan pokok utang.
Menanggapi pendapat Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat terkait dengan risiko
kenaikan suku bunga The Fed Fund Rate (FFR) di Amerika Serikat yang akan
berpengaruh terhadap pergerakan suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN)
-L.47-
3 bulan, serta melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia dalam mengendalikan
inflasi dan suku bunga agar tetap selalu terjaga, dapat disampaikan sebagai berikut.
Sebagaimana instrumen pasar keuangan lainnya, pergerakan suku bunga SPN 3
bulan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berada di luar kendali Pemerintah
seperti kondisi perekonomian global, termasuk fluktuasi suku bunga The Fed Fund
Rate dan perubahan appetite investor. Namun demikian, Pemerintah tetap berupaya
mengendalikan suku bunga SPN 3 bulan, melalui pendalaman pasar SBN domestik
demi menjaga agar Surat Utang Negara tetap memberikan daya tarik yang tinggi
bagi investor. Mengingat laju inflasi merupakan faktor domestik yang memengaruhi
pergerakan suku bunga SPN 3 bulan, Pemerintah akan terus meningkatkan
koordinasi dan kerja sama dengan Bank Indonesia dan pemerintah daerah dalam
rangka pengendalian inflasi nasional melalui forum Tim Pemantauan dan
Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Stabilitas ekonomi makro yang didukung
kondisi fiskal yang sehat tersebut diharapkan berdampak positif untuk mengurangi
tekanan di pasar domestik, yang selanjutnya dapat turut menjaga suku bunga SPN 3
bulan.
Pemerintah sependapat dengan pandangan dari Fraksi Partai Nasional
Demokrat, Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Gerakan Indonesia
Raya, Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa bahwa anggaran subsidi harus dikelola
secara efisien, lebih tepat sasaran, dan mendorong pembangunan nasional.
Pada prinsipnya pengelolaan subsidi dalam belanja negara dialokasikan dalam
rangka meringankan beban masyarakat untuk memperoleh kebutuhan dasarnya dan
untuk menjaga agar produsen mampu menghasilkan produk dengan harga yang
terjangkau. Dalam rangka meningkatkan efisiensi subsidi menuju pencapaian
belanja yang berkualitas, maka arah kebijakan subsidi tahun 2016 mencakup antara
lain: (1) menjaga stabilisasi harga; (2) membantu masyarakat miskin dan menjaga
daya beli masyarakat; (3) meningkatkan produktivitas dan menjaga ketersediaan
pasokan dengan harga terjangkau; (4) meningkatkan daya saing produksi dan akses
permodalan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selanjutnya, dalam upaya pengendalian subsidi yang lebih tepat sasaran, Pemerintah
secara bertahap melakukan penataan ulang penyaluran subsidi kepada masyarakat
yang memang berhak menerimanya (targeted subsidy) melalui sistem seleksi yang
ketat dan basis data yang transparan. Terkait subsidi energi, Pemerintah telah dan
akan melakukan beberapa langkah pengendalian antara lain: (i) melanjutkan
pemberian subsidi tetap untuk BBM jenis minyak solar dan subsidi (selisih harga)
untuk minyak tanah dan LPG Tabung 3 kg; (ii) melaksanakan efisiensi dan efektifitas
-L.48-
subsidi LPG Tabung 3 kg; (iii) meningkatkan pengawasan penyaluran BBM
bersubsidi dan LPG tabung 3 kg antara lain melalui penggunaan data dan teknologi;
(iv) meningkatkan peranan pemerintah daerah dalam pengendalian dan pengawasan
BBM bersubsidi dan LPG tabung 3 kg; (v) meningkatkan rasio elektrifikasi,
khususnya melalui program listrik perdesaan dan instalasi listrik gratis bagi
masyarakat tidak mampu dan nelayan; (vi) meningkatkan efisiensi penyediaan
tenaga listrik; dan (vii) perbaikan mekanisme pemberian subsidi listrik terutama
untuk rumah tangga miskin dan rentan miskin untuk pelanggan 450 VA dan
sebagian 900 VA pada tahun 2016 secara lebih tepat sasaran.
Sementara itu, untuk subsidi non energi terdapat beberapa kebijakan yang dilakukan
antara lain: (i) subsidi pangan (subsidi raskin) melalui pengaturan kembali jumlah
Rumah Tangga Sasaran (RTS) berdasarkan basis data terpadu yang dikeluarkan oleh
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), (ii) subsidi pupuk
dengan penyempurnaan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), dan (iii)
subsidi benih yang dialokasikan berdasarkan Daftar Usulan Pembeli Benih
Bersubsidi (DUPBB).
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai kebijakan
subsidi energi, diversifikasi energi, dan sistem distribusi subsidi energi dapat
disampaikan penjelasan sebagai berikut. Pemerintah berupaya agar anggaran subsidi
energi dapat dikendalikan pada kondisi yang manageable melalui efisiensi anggaran
subsidi dan diversifikasi energi melalui pengembangan energi baru terbarukan
(misalnya: Bahan Bakar Nabati (BBN) dan Bahan Bakar Gas (BBG)) untuk
mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Dalam RAPBN Tahun 2016, Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi BBM,
LPG tabung 3 kg dan LGV sebesar Rp71,0 triliun, atau lebih besar Rp6,3 triliun bila
dibandingkan dengan alokasinya dalam APBNP tahun 2015 sebesar Rp64,7 triliun.
Anggaran subsidi energi tersebut, antara lain terdiri atas: subsidi jenis BBM tertentu
(JBT) tahun berjalan sebesar Rp20,3 triliun, subsidi harga atas LPG tabung 3 kg
sebesar Rp27,0 triliun, dan subsidi LGV sebesar Rp6,4 miliar. Lebih tingginya
alokasi subsidi tersebut dikarenakan sebagian besar alokasinya dipergunakan untuk
pembayaran kurang bayar subsidi BBM, LPG tabung 3 kilogram dan LGV tahun
sebelumnya.
Sementara itu, alokasi anggaran subsidi listrik dalam RAPBN tahun 2016 yang
direncanakan sebesar Rp50,0 triliun, atau lebih rendah Rp23,1 triliun apabila
dibandingkan dengan anggaran belanja subsidi listrik dalam APBNP tahun 2015
sebesar Rp73,1 triliun. Penurunan tersebut karena ada perbaikan mekanisme
pemberian subsidi listrik terutama untuk rumah tangga miskin dan rentan miskin
-L.49-
pada tahun 2016 secara lebih tepat sasaran. Alokasi subsidi listrik tersebut juga telah
mencakup kurang bayar tahun sebelumnya sebesar Rp10,0 triliun. Besaran subsidi
listrik dimaksud antara lain diberikan kepada rumah tangga miskin dan rentan
miskin untuk pemakaian daya 450 VA dan 900 VA dengan menyesuaikan data
jumlah keluarga miskin dan rentan miskin dari Badan Pusat Statistik (BPS),
Kementerian Sosial, dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
(TNP2K), dan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Pemerintah
menyadari bahwa sistem penyaluran subsidi BBM dan subsidi listrik masih perlu
dilakukan penyempurnaan agar lebih tepat sasaran khususnya untuk keluarga yang
tidak mampu.
Pemerintah juga sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera mengenai pengamanan pasokan gas untuk PT PLN (Persero),
meningkatkan efisiensi subsidi listrik, dan menurunkan losses jaringan transmisi
dan distribusi nasional. Kebijakan tersebut telah dan akan terus dilakukan
Pemerintah dalam rangka mengendalikan anggaran subsidi listrik.
Sementara itu, menyikapi usulan dari Fraksi Partai Nasional Demokrat agar
Pemerintah perlu lebih serius dalam mengelola subsidi bunga kredit perumahan
rakyat dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar lebih tepat sasaran dapat dijelaskan
sebagai berikut. Dalam RAPBN tahun 2016, Pemerintah mengalokasikan anggaran
untuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) subsidi bunga kredit
perumahan, subsidi bantuan uang muka perumahan, dan pembebasan PPN atas
kepemilikan rumah tertentu untuk mendukung pelaksanaan Program Sejuta Rumah
bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sementara itu, kriteria masyarakat
yang berhak menikmati Program Sejuta Rumah adalah MBR dengan batasan
penghasilan tertentu setiap bulan (maksimal Rp4,0 juta per bulan untuk pembelian
rumah tapak dan maksimal Rp7,0 juta per bulan untuk pembelian rumah susun),
dan belum pernah memperoleh subsidi pemerintah untuk kepemilikan rumah.
Kelompok masyarakat yang berhak mendapatkan fasilitas tersebut diantaranya PNS,
Anggota TNI/Polri, masyarakat umum, dan buruh/pekerja. Pengalokasian anggaran
subsidi perumahan tersebut menunjukan bukti keseriusan Pemerintah untuk
membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mendapatkan rumah dengan
harga terjangkau dan layak huni. Selain itu, dalam rangka mendukung Kebijakan
Program Kredit Usaha Rakyat (KUR), Pemerintah juga mengalokasikan anggaran
untuk subsidi bunga KUR. Pada tahun 2016, Pemerintah berupaya untuk
menurunkan suku bunga KUR pada kisaran 9 persen dari sebelumnya 12 persen di
tahun 2015 sehingga dapat terjangkau oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM). Disamping itu, coverage KUR juga ditingkatkan agar semakin banyak
UMKM yang dapat dibantu oleh program KUR. Program KUR diarahkan untuk
-L.50-
membantu UMKM pada beberapa sektor yang dibiayai yaitu sektor pertanian,
perikanan, industri pengolahan dan perdagangan (termasuk TKI), sehingga lebih
tepat sasaran.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Amanat Nasional mengenai lambatnya
penyaluran KUR kiranya dapat dijelaskan bahwa penyaluran KUR di awal tahun
2015 sementara dihentikan berkenaan dengan upaya perbaikan skema KUR agar
lebih tepat sasaran dan tepat kelola. Saat ini KUR telah disalurkan kembali dengan
target penyaluran yang lebih tinggi, subsidi bunga lebih besar namun dengan sistem
penyaluran yang lebih baik, antara lain:
1. Target penyaluran s.d. 31 Desember 2015 sebesar Rp30,0 triliun dan mencapai
Rp123,0 triliun di tahun 2016.
2. Penurunan tingkat bunga kepada debitur dari 22 persen menjadi 12 persen pada
tahun 2015 dan selanjutnya menjadi 9 persen pada tahun 2016.
3. Menggunakan sistem informasi yang online dan basis data terintegrasi antara
Pemerintah, Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin.
Dalam RAPBN tahun 2016, Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi bunga
KUR sebesar Rp10,5 triliun. Dengan alokasi subsidi bunga KUR tersebut diharapkan
target penyaluran KUR akan semakin meningkat dibanding tahun 2015 dan semakin
banyak UMKM yang dapat menikmati program KUR tersebut serta dengan tingkat
harga yang semakin terjangkau.
Memperhatikan pandangan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera agar
Pemerintah dapat meninjau ulang alokasi anggaran untuk fungsi kedaulatan pangan
yang dinilai telah menurun dapat dijelaskan sebagai berikut. Sebagai salah satu
komponen dalam pengganggaran fungsi kedaulatan pangan, anggaran subsidi pupuk
tidak mengalami penurunan pada tahun 2016. Anggaran subsidi pupuk dalam
RAPBN tahun 2016 sebesar Rp30,1 triliun memang lebih rendah jika dibandingkan
dengan APBNP tahun 2015 sebesar Rp39,5 triliun. Lebih rendahnya anggaran
subsidi pupuk tersebut disebabkan dalam APBNP tahun 2015 alokasi anggaran
subsidi pupuk menampung anggaran subsidi tahun berjalan dan kekurangan
pembayaran subsidi pupuk tahun sebelumnya sebesar Rp10,9 triliun, sedangkan
dalam RAPBN tahun 2016 hanya menampung subsidi pupuk tahun anggaran
berjalan. Di sisi lain, Pemerintah terus melakukan perbaikan terhadap desain
kebijakan penganggaran sektor pertanian yang komprehensif dengan tujuan antara
lain agar sektor pertanian dan maritim mampu menjadi basis industrialisasi dan
pusat pertumbuhan baru, serta mendukung terwujudnya kedaulatan pangan
nasional.
-L.51-
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat terkait alokasi
anggaran untuk kedaulatan pangan dapat disampaikan sebagai berikut. Dalam
rangka mendorong ketahanan dan kedaulatan pangan, Pemerintah tidak hanya
mengalokasikan anggaran dalam bentuk Belanja di Kementerian Pertanian semata,
tetapi juga mengalokasikan anggaran untuk fungsi pangan pada belanja
Kementerian Pekerjaan Umum, belanja subsidi non energi, belanja lain-lain dan
transfer ke daerah dan dana desa. Dalam belanja subsidi non energi, alokasi untuk
sektor pertanian terdapat pada belanja subsidi pupuk, subsidi benih, subsidi pangan,
dan subsidi kredit program untuk sektor pertanian (tanaman pangan, perikanan,
perkebunan, dan peternakan).
Dalam mendukung kedaulatan pangan nasional, selain alokasi subsidi pangan,
pupuk, pangan, dan benih, terdapat dukungan fiskal lainnya seperti pengalokasian
dana Cadangan Stabilisasi Harga Pangan (CSHP), Cadangan Beras Pemerintah
(CBP), dan Cadangan Benih Nasional (CBN). Demikian halnya dalam bagian belanja
transfer ke daerah, terdapat pula alokasi anggaran untuk Dana Alokasi Khusus
(DAK) Bidang Kedaulatan Pangan, DAK Bidang Kelautan dan Perikanan serta DAK
untuk Infrastruktur Irigasi.
Selanjutnya untuk mengantisipasi gejolak harga pangan yang tinggi, Pemerintah
senantiasa memantau perkembangan harga pangan dan segera mengambil langkah
preventif. Dengan pertemuan rutin antar kementerian guna memantau
perkembangan harga, kondisi stok pangan, kondisi iklim dan tata niaga serta
distribusi pangan pokok. Pemerintah dapat memutuskan langkah strategis yang
dapat dilakukan secara cepat dan komprehensif guna menghindari gejolak harga
pangan. Disamping itu, upaya menjaga stabilitas harga pangan nasional juga
dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah melalui forum Tim Pengendali
Inflasi, baik Pusat maupun Daerah.
Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi Keadilan Sejahtera mengenai
peningkatan kinerja reformasi birokrasi nasional (RBN), penataan jumlah dan
distribusi PNS, serta kebijakan renumerasi dan kepegawaian yang tepat.
Relatif tingginya porsi alokasi anggaran pada fungsi pelayanan umum merupakan
konsekuensi dari pelaksanaan fungsi utama pemerintah untuk menjamin kualitas
dan kelancaran pelayanan kepada masyarakat, termasuk anggaran pembayaran PBI
JKN untuk 92,4 juta jiwa. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah kebijakan
untuk meningkatkan kualitas belanja pada fungsi pelayanan umum, antara lain
melalui:
Pertama, penataan regulasi dan kebijakan di bidang aparatur negara termasuk
penguatan payung hukum reformasi birokrasi, perluasan dan fasilitasi pelaksanaan
-L.52-
RBN, penguatan kelembagaan dan tata kelola
penyempurnaan sistem evaluasi pelaksanaan RBN.
pengelolaan
RBN,
serta
Kedua, pemantapan sistem manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) berbasis merit
dan penerapan sistem manajemen kinerja pegawai, penyempurnaan sistem
penghargaan dan kesejahteraan ASN.
Ketiga, penataan kelembagaan pemerintah pusat dan daerah, pemantapan
kelembagaan untuk mendukung pelaksanaan program pembangunan (Nawa Cita),
penyempurnaan sistem ketatalaksanaan dan pemantapan sinergitas hubungan
kelembagaan inter/antar tingkatan kelembagaan pusat dan daerah.
Keempat, menjaga jumlah PNS untuk tetap mengacu pada prinsip zero growth dan
berbasis kompetensi, dengan tetap memerhatikan prioritas kebutuhan tenaga
pendidik dan tenaga kesehatan.
Menanggapi masukan dan pertanyaan dari Fraksi Partai Amanat Nasional
mengenai penurunan belanja kementerian/lembaga, dapat disampaikan tanggapan
sebagai berikut. Dalam RAPBN tahun 2016, belanja K/L turun sebesar Rp15,1 triliun
dibanding pagu APBNP tahun 2015. Penurunan tersebut antara lain disebabkan oleh
pengalihan beberapa kegiatan K/L (termasuk yang dibiayai dari dana dekonsentrasi
dan tugas pembantuan) ke dana transfer ke daerah. Selain itu, penurunan tersebut
juga disebabkan oleh kebijakan Pemerintah untuk melanjutkan kebijakan efisiensi
pada belanja barang operasional (termasuk moratorium pembangunan gedung
pemerintah, pengendalian perjalanan dinas, dan konsinyering, serta kebijakan
sewa/leasing kendaraan dinas operasional).
Meskipun alokasi belanja K/L mengalami penurunan, Pemerintah tetap berupaya
untuk melaksanakan kebijakan prioritas dalam menanggulangi kemiskinan
diantaranya: (1) meningkatkan akses penduduk miskin terhadap lapangan kerja yang
berkualitas melalui penyempurnaan peraturan ketenagakerjaan untuk mendorong
tumbuhnya industri padat karya, penyediaan fasilitas informasi pasar kerja di
daerah-daerah terutama daerah kantong pengangguran, peningkatan akses kepada
kegiatan ekonomi produktif yang berkelanjutan, pengembangan lembaga pelatihan
di daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal; (2) menyelenggarakan
perlindungan sosial yang komprehensif melalui pengembangan dan perluasan
cakupan skema uang elektronik (UNIK) untuk penyaluran bantuan sosial; (3)
memperluas cakupan dan paket manfaat Jaminan Kesehatan Nasional/Kartu
Indonesia Sehat (KIS) dan jaminan ketenagakerjaan bagi penduduk rentan dan
pekerja informal; (4) penyaluran program raskin dengan perbaikan kualitas beras;
(5) pemberian bantuan pendidikan bagi siswa miskin melalui program Kartu
Indonesia Pintar (KIP); dan (6) pemberian uang tunai bersyarat.
-L.53-
C.2 DESENTRALISASI
DAERAH
FISKAL
DAN
PENGELOLAAN
KEUANGAN
Menjawab pernyataan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai harus adanya
upaya-upaya sistematis agar peningkatan Transfer ke Daerah dan Dana Desa tidak
hanya habis untuk belanja pegawai dan belanja untuk birokrasi lainnya, dapat
dijelaskan bahwa Pemerintah sependapat dan mendukung pandangan Fraksi PKS
bahwa anggaran transfer ke daerah dan dana desa perlu dipastikan agar benar-benar
berdampak pada kesejahteraan dan perbaikan kualitas hidup rakyat di daerah.
Anggaran transfer ke daerah dan dana desa memang seharusnya tidak hanya
dibelanjakan untuk belanja rutin saja melainkan juga dapat digunakan untuk belanja
modal guna mendanai kegiatan-kegiatan yang mendukung pertumbuhan ekonomi
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung
pembangunan di daerah.
Upaya lain yang dilakukan Pemerintah untuk mengendalikan agar peningkatan
transfer daerah tidak hanya habis untuk belanja pegawai dan belanja untuk birokrasi
adalah antara lain melalui kebijakan dalam penghitungan DAU. Kebijakan dalam
penghitungan DAU 2016 dilakukan dengan memberikan porsi pagu Celah Fiskal
(CF) yang lebih besar dalam perhitungan DAU atau dengan kata lain melalukan
pembatasan (pegging) pagu Alokasi Dasar (AD) terhadap pagu DAU nasional. Porsi
AD terhadap pagu DAU nasional diupayakan kurang dari 50 persen terhadap belanja
gaji PNSD, hal ini sejalan dengan prinsip hard budget constraint.
Selain itu, Pemerintah juga telah mengambil langkah-langkah pengendalian, berupa
moratorium penerimaan PNS, menjaga jumlah PNS untuk tetap mengacu pada
prinsip zero growth dan berbasis kompetensi, dengan tetap memerhatikan prioritas
kebutuhan tenaga pendidik dan tenaga kesehatan serta meniadakan AD dalam
formula perhitungan DAU dalam rancangan revisi UU Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan
Daerah. Dengan penghilangan AD tersebut, pengalokasian DAU tidak lagi dikaitkan
secara langsung dengan belanja PNSD.
Untuk mencegah pemerintah daerah menggunakan Dana Transfer ke Daerah dan
Dana Desa lebih banyak pada belanja pegawai dan barang, Pemerintah juga
melakukannya melalui penerapan mekanisme pemberian Dana Insentif Daerah.
Dalam tahun 2016, penilaian terhadap daerah yang mendapatkan DID dilakukan
melalui
penentuan
daerah
dan
perhitungan
alokasi
DID,
dengan
mempertimbangkan penilaian kinerja daerah dilakukan berdasarkan kriteria
tertentu, yang terdiri atas kriteria utama, dan kriteria kinerja.
-L.54-
Kriteria utama adalah kriteria yang harus dimiliki oleh suatu daerah sebagai penentu
kelayakan daerah penerima, yang terdiri atas (1) Daerah yang mendapatkan opini
WTP atau wajar dengan pengecualian (WDP) dari BPK atas LKPD-nya dan (2)
Daerah yang menetapkan Perda APBD tepat waktu.
Sementara itu, kriteria kinerja adalah kriteria penilaian terhadap kinerja daerah, di
antaranya terdiri atas
a. kesehatan fiskal dan pengelolaan keuangan daerah, yang antara lain meliputi
indikator-indikator:
1) rasio belanja modal terhadap total belanja APBD,
2) rasio belanja pegawai terhadap total belanja APBD,
3) rasio realisasi belanja APBD terhadap pagu anggaran belanja APBD,
4) rasio ruang fiskal daerah terhadap total pendapatan APBD,
5) rasio defisit APBD terhadap total pendapatan APBD, dan
6) rasio SiLPA tahun sebelumnya terhadap total belanja APBD.
b. Pelayanan Dasar Publik, meliputi 3 indikator, yaitu:
1) kinerja bidang pendidikan;
2) kinerja bidang kesehatan; dan
3) kinerja bidang pekerjaan umum.
c. Ekonomi dan Kesejahteraan, meliputi 4 indikator, yaitu:
1) tingkat pertumbuhan ekonomi;
2) penurunan tingkat kemiskinan;
3) penurunan tingkat pengangguran; dan
4) pengendalian tingkat inflasi.
Menanggapi pernyataan dari
Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya,
mengenai dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa yang masih terfokus pada alokasi
khusus di kementeriankiranya dapat dijelaskan bahwa dana Transfer ke Daerah dan
Dana Desa merupakan bagian dari Belanja Negara dalam rangka mendanai
desentralisasi fiskal. Hal ini sejalan dengan usaha untuk mendukung pelaksanaan
Nawa Cita, khususnya:
1. Cita ketiga: membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerahdaerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan;
2. Cita kelima: meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia;
3. Cita keenam: meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar
internasional; dan
4. Cita ketujuh: mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan
sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
-L.55-
Komitmen Pemerintah untuk membangun dari pinggiran dengan memperkuat
daerah-daerah dan desa diwujudkan antara lain dengan peningkatan alokasi
anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa yang lebih besar dari anggaran K/L
serta reformulasi dan penguatan DAK. Dalam pelaksanaannya, seluruh dana
tersebut dialokasikan kepada Pemda Provinsi/Kabupaten/Kota dan disalurkan
dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas
Umum Daerah. Dana-dana tersebut menjadi bagian dari penerimaan APBD dan
dibelanjakan serta dipertanggungjawabkan sesuai prinsip-prinsip dalam pengelolaan
keuangan daerah. Khusus untuk Dana Desa, dana tersebut oleh kabupaten/kota
hanya dicatat dalam pendapatan APBD dan dikeluarkan sebagai jenis transfer APBD
kepada desa. Dengan demikian yang menggunakan dan mempertanggungjawabkan
Dana Desa adalah aparat desa.
Berkaitan dengan Transfer ke Daerah, dapat disampaikan bahwa Transfer ke Daerah
terdiri atas Dana Perimbangan (Dana Transfer Khusus dan Dana Transfer Umum),
Dana Insentif Daerah, Dana Otonomi Khusus, dan Dana Keistimewaan Daerah
Istimewa Yogyakarta. Untuk Dana Transfer Khusus, dibagi menjadi Dana Alokasi
Khusus (DAK) fisik dan DAK nonfisik.
DAK Fisik terdiri atas DAK reguler yang mencakup 10 bidang, DAK infrastruktur
public daerah, dan DAK Affirmasi kepada daerah tertinggal, perbatasan, dan
kepulauan. Proses pengalokasian DAK Fisik akan mengalami perubahan dari semula
bersifat top-down, yakni ditentukan besaran alokasi dan bidangnya oleh Pemerintah
Pusat berdasarkan kriteria umum (kemampuan keuangan), kriteria khusus (aspek
kewilayahan), dan kriteria teknis (indeks kebutuhan teknis per daerah), menjadi
bersifat bottom-up, yaitu berdasarkan usulan daerah dengan memperhatikan
prioritas nasional. Dengan melalui mekanisme usulan daerah (proposal based)
diharapkan alokasi DAK bisa mencerminkan kebutuhan teknis dari masing-masing
daerah sesuai dengan bidang yang ditentukan. Data teknis yang diusulkan daerah
akan menjadi dasar perhitungan alokasi DAK per bidang. Selanjutnya hasil
perhitungan alokasi DAK per bidang per daerah akan dibahas Pemerintah bersama
DPR untuk ditetapkan sebagai bagian dari penetapan alokasi Transfer ke Daerah dan
Dana Desa dalam APBN tahun 2016.
DAK yang sudah dialokasikan per daerah akan disalurkan ke rekening kas umum
daerah secara triwulan. Selanjutnya untuk memberikan pedoman bagi daerah dalam
melaksanakan DAK tersebut, kementerian/lembaga yang terkait dengan bidang DAK
akan menyusun petunjuk teknis penggunaan DAK sebagai dasar bagi daerah untuk
melaksanakan DAK sesuai dengan pilihan menu kegiatan yang menjadi kebutuhan
dan prioritas daerah. Dengan demikian yang mempunyai kewenangan untuk
mengelola DAK adalah pemerintah daerah. Sedangkan kementerian/lembaga teknis
-L.56-
hanya memberikan petunjuk teknis/petunjuk pelaksanaan agar pelaksanaan
kegiatan DAK lebih terarah sesuai dengan kebutuhan daerah dan mendukung
pencapaian prioritas nasional.
Dapat kami sampaikan bahwa, di tahun 2016 akan dilakukan perubahan kebijakan
yang sangat progresif dengan meningkatkan anggaran DAK fisik yang sangat
signifikan, dari sebesar Rp 58,8 triliun di tahun 2015 menjadi sebesar Rp 91,8 triliun
di tahun 2016. Peningkatan anggaran hingga Rp 33 triliun tersebut selain dari
realokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan di Kementerian/Lembaga ke
DAK, juga dari komitmen Pemerintah untuk lebih nyata mendorong pembangunan
yang lebih mandiri ke daerah. Perlu dipahami bahwa, dana DAK tersebut akan
dikelola dalam APBD yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah. Dalam hal itu,
Pemerintah pusat lebih berperan untuk mengkomunikasikan pemanfaatan dana
tersebut agar tetap berjalan dengan prioritas pembangunan nasional secara
keseluruhan.
Di samping itu, dalam tahun 2016 bidang DAK juga lebih dipertajam menjadi hanya
10 (sepuluh) bidang serta tidak lagi mempersyaratkan keharusan dana pendamping
dari daerah untuk melaksanakan kegiatan DAK tersebut.
Menjawab pertanyaan dari Fraksi Partai Amanat Nasional dan Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera mengenai adanya dana idle atau dana menganggur
yang mengendap di perbankan yang mencapai Rp273 triliun kiranya dapat
dijelaskan beberapa hal sebagai berikut.
Pada dasarnya Pemerintah sependapat bahwa masih banyak daerah yang belum
optimal dalam melaksanakan anggarannya. Hal ini terlihat dari jumlah dana
simpanan pemerintah daerah di perbankan yang mengalami peningkatan selama
semester pertama dan pada akhir Juni 2015 mencapai Rp273 triliun. Hal tersebut
terutama disebabkan karena masih rendahnya realisasi belanja pemerintah daerah
yang diperkirakan masih di bawah 30 persen pada akhir semester I. Sebagaimana
tren-tren tahun sebelumnya, tren realisasi belanja pemerintah daerah meningkat
signifikan pada semester kedua terutama pada bulan November dan Desember.
Peningkatan realisasi belanja pemerintah daerah tersebut mempengaruhi besaran
dana simpanan pemerintah daerah di perbankan.
Upaya yang dilakukan Pemerintah untuk mempercepat penyerapan anggaran di
daerah, antara lain melalui kebijakan dalam pelaksanaan Dana Alokasi Khusus
(DAK) pada tahun 2016. Kebijakan dalam pelaksanaan DAK tahun 2016 adalah
bahwa Daerah dapat segera melakukan proses lelang/tender kegiatan DAK setelah
alokasi DAK ditetapkan dalam Perpres tentang Rincian APBN Tahun 2016,
sedangkan penandatanganan kontrak dilakukan setelah APBD dan DPA SKPD
-L.57-
ditetapkan. Hal ini akan diatur payung hukumnya dalam UU APBN Tahun 2016 dan
Perpres tentang Rincian APBN tahun 2016 serta diberitahukan kepada Daerah
melalui Surat Edaran Menteri Keuangan.
Disamping itu, dalam upaya untuk meningkatkan penyerapan anggaran oleh
pemerintah daerah dan mengurangi dana idle pemda di perbankan, Pemerintah
telah mengusulkan dalam Rancangan Undang-Undang APBN Tahun 2016 pada
pasal 15 ayat (2) butir (a), bahwa untuk daerah yang memiliki uang kas dan/atau
simpanan di bank dalam jumlah besar, maka penyaluran DBH dan/atau DAU akan
dikonversi dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN).
Menanggapi permintaan Fraksi Partai Demokrat mengenai pemberian dan
peningkatan program-program pro-rakyat dapat disampaikan bahwa pada
prinsipnya Pemerintah mendukung permintaan tersebut.
Dalam RAPBN tahun 2016, program-program pro-rakyat tersebut antara lain
dianggarkan melalui dana transfer khusus yang terdiri atas Dana Alokasi Khusus
Fisik (DAK Fisik) dan Dana Alokasi Khusus Non Fisik (DAK Non Fisik). DAK Fisik
terdiri dari DAK Reguler, DAK Infrastruktur Publik, dan DAK Affirmasi kepada
daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan. DAK Reguler akan dialokasikan untuk
mendanai 10 bidang prioritas yang didalamnya termasuk bidang Pendidikan,
Kesehatan, Pertanian, Perikanan, dan Kelautan yang besaran alokasinya mengalami
peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan anggaran tahun 2015.
Sedangkan DAK Non Fisik, terdiri dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS),
Tunjangan Profesi Guru PNSD (TPG), Tambahan Penghasilan Guru PNSD (Tamsil),
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Bantuan Operasional Keluarga
Berencana (BOKB), Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (P2D2), Bantuan
Operasional Penyelenggaraan PAUD, dan Peningkatan Kapasitas Koperasi, UKM
dan Ketenagakerjaan. Kebijakan BOS yang pada tahun 2015 hanya mencakup tingkat
pendidikan dasar yaitu BOS untuk SD/SDLB dan BOS untuk SMP/SMPLB, maka
pada tahun 2016 juga akan mencakup BOS untuk tingkat pendidikan menengah
yaitu BOS untuk SMA dan SMK. Disamping itu, dalam rangka mempersiapkan
perserta didik untuk memasuki jenjang pendidikan dasar yang lebih berkualitas,
pada tahun 2016 juga akan diberikan Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD
(BOP PAUD) kepada setiap lembaga penyelenggara PAUD di daerah.
Menanggapi pernyataan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera agar peningkatan
alokasi anggaran infrastruktur ke daerah dan desa dibarengi dengan kebijakan dan
sistem pendukung yang kuat, dapat disampaikan bahwa Pemerintah sependapat
dengan penyataan tersebut. Dalam RAPBN tahun 2016, telah dianggarkan dana
transfer khusus yang terdiri dari Dana Alokasi Khusus Fisik (DAK Fisik) dan Dana
-L.58-
Alokasi Khusus Non Fisik (DAK Non Fisik). DAK Fisik terdiri dari DAK Reguler,
DAK Infrastruktur Publik Daerah dan DAK Affirmasi kepada Daerah tertinggal,
perbatasan dan kepulauan. DAK Reguler sendiri akan dialokasikan untuk mendanai
10 bidang prioritas, dimana secara keseluruhan besaran alokasinya mengalami
peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan anggaran tahun 2015.
Sementara itu, DAK Infrastruktur Publik juga akan diberikan kepada seluruh Pemda
Kabupaten/Kota dengan kegiatan pembangunan infrastruktur publik sesuai dengan
prioritas daerah. Hal ini mendukung percepatan konektivitas transportasi, perbaikan
permukiman, peningkatan produksi pertanian, serta pengembangan sektor kelautan
dan perikanan.
Berkaitan dengan proyek-proyek yang bersifat massif dan padat karya, tentunya
Pemerintah sangat mendukung proyek-proyek tersebut namun harus disesuaikan
dengan ruang lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan serta tetap berpedoman
pada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengadaan barang
dan jasa Pemerintah. Sebagian dari kegiatan-kegiatan yang didanai dari DAK dapat
dilaksanakan secara swakelola dengan melibatkan kelompok masyarakat sehingga
akan sangat berdampak pada peningkatan ekonomi rakyat di daerah.
Menanggapi pernyataan Fraksi Partai Amanat Nasional dan Fraksi Partai
Demokrat mengenai perlunya menekan laju inflasi dengan mengoptimalkan peran
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), dapat dijelaskan bahwa Pemerintah
sependapat dan mendukung pandangan Fraksi PAN dan Fraksi Partai Demokrat
tersebut.Terjaganya inflasi daerah pada tingkat yang rendah dan stabil akan
mendukung upaya pencapaian sasaran inflasi nasional. Pemerintah telah berupaya
keras mengendalikan tingkat inflasi dengan melakukan upaya koordinasi yang
dilakukan di daerah dalam upaya menjaga stabilitas harga, melalui Tim
Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan secara terus menerus mendorong
partisipasi aktif Pemda untuk secara efektif melakukan upaya bersama yang
bersinergi dan terkoordinasi dalam mengelola inflasi daerah.
Selain upaya tersebut, Pemerintah melalui instrumen dana transfer ke daerah dalam
bentuk Dana Insentif Daerah (DID) pada tahun 2016 akan memasukkan indikator
pengendalian tingkat inflasi daerah ini sebagai salah satu kriteria penilaian terhadap
kinerja Daerah sebagai syarat menerima alokasi DID. Diharapkan hal ini dapat
memacu Daerah untuk ikut serta dalam upaya menjaga stabilitas harga karena
Pemerintah akan menyediakan reward bagi Daerah yang berkinerja baik dalam
upaya pengendalian tingkat inflasi di Daerah.
Menanggapi masukan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai
peningkatan Dana Insentif Daerah untuk mengurangi adanya dana yang idle, dapat
-L.59-
disampaikan bahwa Pemerintah pada prinsipnya sependapat mengenai penambahan
anggaran untuk komponen Dana Insentif Daerah (DID) yang diharapkan dapat
memacu kinerja daerah. Dalam rangka memberikan penghargaan (reward) kepada
daerah yang menunjukkan kinerja pengelolaan keuangan daerah, kinerja
perekonomian dan kesejahteraan masyarakat yang baik maka Pemerintah akan
mengalokasikan DID yang lebih besar pada RAPBN tahun 2016. Pada RAPBN tahun
2016, pagu DID diperbesar menjadi Rp 5 triliun dari sebelumnya Rp1,664 triliun
pada tahun anggaran 2015, agar besaran alokasi yang diterima masing-masing
daerah lebih signifikan sebagai instrumen fiskal untuk menstimulasi perekonomian
daerah atas prestasi/kinerja yang baik. Pengunaan dari DID pun juga tidak terikat
lagi pada fungsi pendidikan namun bebas digunakan oleh daerah sesuai dengan
kewenangan dan urusan pada level pemerintahan masing-masing.
Hal ini sejalan dengan kebijakan anggaran transfer ke daerah yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah, dan mengurangi kesenjangan
pelayanan publik antar daerah. Namun demikian, keberhasilan suatu daerah dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga sangat ditentukan oleh kebijakan
masing-masing pemerintahan daerah. Agar efektif, kebijakan tersebut perlu
diarahkan pada alokasi sumber-sumber pendanaan untuk program dan kegiatan
yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat (kepentingan publik), termasuk
percepatan pembangunan infrastruktur di daerah. Sehingga pada gilirannya
diharapkan dapat menghasilkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Menanggapi permintaan dari Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Amanat
Nasional, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Keadilan
Sejahtera mengenai peningkatan anggaran Dana Desa, dukungan dari Fraksi
Partai Amanat Nasional agar pemerintah melakukan monitoring dan
memberikan pelatihan kepada aparat desa mengenai pengelolaan keuangan desa
agar tidak terjerat persoalan hukum, permintaan dari Fraksi Partai Nasional
Demokrat mengenai pendampingan dan pengawasan Dana Desa, kekhawatiran
dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya mengenai belum adanya kesiapan
daerah untuk mengelola Transfer ke Daerah dan Dana Desa yang mengalami
peningkatan, permintaan dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan
berkaitan dengan kebijakan dan instrumen yang tepat dalam mengarahkan belanja
daerah menjadi efektif dalam meningkatkan kemajuan daerah dan desa, dan Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera mengenai perlunya diterapkan reward and
punishment yang kuat, dapat dijelaskan berikut ini.
Pada hakekatnya Pemerintah sependapat bahwa anggaran Dana Desa perlu
ditingkatkan agar dapat memenuhi amanat Undang-Undang No. 6 Tahun 2014
tentang Desa. Sesuai dengan Undang-Undang tersebut Dana Desa adalah sebesar 10
-L.60-
persen dari dan di luar Transfer ke Daerah dan dipenuhi secara bertahap. Untuk
memenuhi besaran anggaran Dana Desa tersebut, dalam Peraturan Pemerintah (PP)
No. 22 Tahun 2015 sebagai perubahan atas PP No. 60 tahun 2014 tentang Dana Desa
yang Bersumber dari APBN, telah disusun roadmap pemenuhan Dana Desa, yaitu
minimum 3 persen tahun 2015, minimum 6 persen tahun 2016 dan 10 persen tahun
2017. Dalam RAPBN Tahun 2016 anggaran Dana Desa direncanakan Rp46,98 triliun
atau 6,39 persen dari Transfer ke Daerah.
Selain Dana Desa dari APBN, sesuai dengan UU No. 6 Tahun 2014, desa juga
mempunyai 6 sumber pendapatan lainnya yang potensinya relatif besar, yaitu: (i)
Alokasi Dana Desa yang besarnya 10 persen dari DAU dan DBH kabupaten/kota, (ii)
10 persen bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota, (iii) bantuan
dari APBD kabupaten/kota, (iv) bantuan dari APBD provinsi, (v) hibah dari pihak
ketiga yang tidak mengikat, dan (vi) lain-lain pendapatan desa yang sah.
Pemenuhan anggaran Dana Desa yang dilakukan secara bertahap tersebut, selain
disesuaikan dengan kemampuan APBN, juga mempertimbangkan adanya beberapa
hal yang terkait dengan kesiapan daerah dan desa, yaitu: (i) perlunya penyiapan
regulasi/peraturan yang lengkap oleh Pemerintah, baik berupa PP maupun
peraturan menteri untuk menjadi pedoman bagi desa dalam melaksanakan
kewenangan dan pengelolaan keuangan desa, (ii) perlunya penyiapan kemampuan
aparat desa dalam menyusun perencanaan desa dan mengelola keuangan desa,
termasuk membuat laporan pertanggungjawaban keuangan desa, dan (iii) perlunya
penyiapan tenaga pendampingan/fasilitator yang akan mendampingi aparat desa
dalam menyusun perencanaan, melaksanakan program/kegiatan, dan mengelola
keuangan desa. Ketiga hal ini penting untuk disiapkan, karena apabila desa langsung
diberikan Dana Desa yang cukup besar, dan aparatnya tidak dibekali dengan
pedoman/aturan yang jelas dan kemampuan yang memadai, justru akan bisa
menyebabkan adanya kesalahan dalam pengelolaan keuangan desa, yang berdampak
pada masalah hukum.
Sementara terkait dengan penyiapan kemampuan aparat desa pada tahun 2015 ini
Pemerintah melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada aparat desa. Sedangkan
untuk pendampingan aparat desa, akan diterjunkan tenaga bagi 74.754 desa yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan adanya penyiapan dari tiga aspek tersebut, diharapkan aparat desa lebih
siap untuk mengelola secara transparan dan akuntabel sumber-sumber keuangan
desa sesuai dengan kebutuhan dan prioritas desa, guna meningkatkan
pembangunan, pemberdayaan masyarakat, perekonomian dan kesejahateraan
masyarakat desa.
-L.61-
Terkait dengan penyiapan regulasi, saat ini Pemerintah telah menerbitkan dua PP,
yaitu PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 6
Tahun 2014 tentang Desa yang telah diubah dengan PP No. 47 tahun 2015, dan PP
No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN yang telah diubah
dengan PP No. 22 tahun 2015. Selain itu juga telah ditetapkan sepuluh peraturan
menteri, yang terdiri dari:
a.
4 (empat) Peraturan Menteri Dalam Negeri, yang antara lain mengatur
mengenai pedoman teknis peraturan di desa, pemilihan kepala desa,
pengelolaan keuangan desa, dan pedoman pembangunan desa. Peraturan
Menteri Dalam Negeri tersebut, antara lain Peraturan Menteri Dalam Negeri No.
113 Tahun 2015 yang mengatur mengenai Pengelolaan Keuangan Desa dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2015 yang mengatur
Pedoman Perencanaan Pembangunan Desa
b. 6 (enam) Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, yang
antara lain mengatur mengenai kewenangan desa, tata cara pengambilan
keputusan musyarawah desa, pendampingan desa, badan usaha milik desa, dan
prioritas penggunaan Dana Desa. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, antara lain Peraturan Menteri Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun tentang
Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul Dan Kewenangan Lokal
Berskala Desa; Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi Nomor 2 Tahun 2015 tentang mengenai Pedoman Tata Tertib Dan
Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa; Peraturan Menteri
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 3 Tahun 2015
tentang mengenai Pendampingan Desa; Peraturan Menteri Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 tentang Mengenai
Pendirian, Pengurusan Dan Pengelolaan, Dan Pembubaran Badan Usaha Milik
Desa; serta Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2015 tentang mengenai Prioritas Penggunaaan
Dana Desa.
c.
1 (satu) Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai tatacara
pengalokasian, penyaluran, penggunaan, pemantauan dan evaluasi dana desa,
yaitu PMK Nomor 93/PMK.07/2015.
Selanjutnya terkait permintaan Fraksi Partai Demokrat agar penyaluran dana
desa terencana, tersebar merata dan terserap dengan baik agar memiliki manfaat
langsung kepada masyarakat desa, dapat dijelaskan sebagai berikut. Sesuai dengan
UU No. 6 Tahun 2014, Dana Desa dialokasikan dari APBN kepada kabupaten/kota
yang memiliki desa, untuk selanjutnya dialokasikan oleh bupati/walikota
kepada
masing-masing
desa
di
wilayahnya.
Berdasarkan
alokasi
-L.62-
tersebut, Dana Desa disalurkan secara berjenjang, yakni dari pusat ke
kabupaten/kota, dan dari kabupaten/kota ke masing-masing desa dalam 3 tahap.
Penyaluran tahap I sebesar 40 persen dilakukan pada minggu kedua bulan April,
tahap II sebesar 40 persen pada minggu kedua bulan Agustus dan tahap III sebesar
20 persen pada minggu kedua bulan Oktober. Penyaluran Dana Desa dari pusat ke
kabupaten/kota dilakukan apabila kabupaten/kota sudah menyampaikan Perda
APBD dan Peraturan Bupati/Walikota mengenai pengalokasian Dana Desa kepada
setiap desa. Sedangkan penyaluran dari kabupaten/kota ke desa dilakukan paling
lambat 7 hari kerja setelah Dana Desa diterima di kas kabupaten/kota dengan syarat,
untuk penyaluran tahap I desa sudah menyampaikan Peraturan Desa tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dan untuk penyaluran tahap II
dan III desa sudah harus menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana desa
semester I tahun berjalan. Persyaratan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa
penggunaan Dana Desa sudah direncanakan dalam APBDes dan digunakan sesuai
dengan prioritasnya, yakni untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Pelaksanaan pengalokasian, penyaluran, penggunaan, dan pelaporan Dana Desa,
akan dilakukan mekanisme monitoring dan evaluasi secara berjenjang.
Pengalokasian dan penyaluran Dana Desa dari kabupaten/kota kepada setiap desa
akan dilakukan monitoring dan evaluasi oleh Pemerintah, sedangkan penggunaan
dan pelaporan dari desa ke kabupaten/kota akan dilakukan monitoring dan evaluasi
oleh kabupaten/kota. Apabila kabupaten/kota tidak melakukan pengalokasian dan
penyaluran Dana Desa sesuai dengan peraturan perundang-undangan, akan
diberikan sanksi berupa penundaan/pemotongan DAU/DBH, sedangkan apabila
desa tidak menggunakan dana desa sesuai dengan prioritas dan ketentuan yang
diatur akan diberikan sanksi berupa penundaan/penghentian penyaluran Dana Desa
oleh kabupaten/kota.
D. PEMBIAYAAN DEFISIT ANGGARAN, PENGELOLAAN UTANG, DAN
RISIKO FISKAL
Terhadap pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai defisit
keseimbangan primer yang makin tinggi dan mencerminkan kekurangmandirian
fiskal dapat disampaikan tanggapan sebagai berikut.
Defisit keseimbangan primer dalam RAPBN Tahun 2016 sebesar Rp89,8 triliun,
lebih tinggi sebesar Rp23,0 triliun jika dibandingkan dengan defisit keseimbangan
primer dalam APBNP 2015 sebesar Rp66,8 triliun. Pemerintah sependapat dengan
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera bahwa defisit keseimbangan primer yang makin
tinggi mencerminkan kekurangmandirian fiskal. Oleh karena itu, penguatan
pengelolaan kebijakan fiskal mutlak diperlukan untuk mengatasi tantangan tersebut.
-L.63-
Dalam RAPBN tahun 2016, upaya pengendalian keseimbangan primer dilakukan
melalui pengendalian kerentanan fiskal (fiscal vulnerability), meningkatkan
bantalan fiskal (fiscal buffer) dan fleksibilitas pengelolaan keuangan negara (pasal
krisis, bond stabilization framework, dan Forum Komunikasi Stabilisasi Sektor
Keuangan/FKSSK).
Dalam RAPBN jangka menengah (2017—2019), defisit anggaran ditargetkan
semakin menurun dan keseimbangan primer (primary balance) akan positif.
Strategi pengelolaan kebijakan fiskal dalam jangka menengah diarahkan untuk
mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan, serta mendorong
strategi industrialisasi dalam rangka transformasi ekonomi dengan tetap
mempertahankan keberlanjutan fiskal. Keberlanjutan fiskal tersebut dilakukan
melalui peningkatan pendapatan negara pada satu sisi, serta peningkatan efisiensi
dan produktivitas belanja negara pada sisi lainnya. Dengan demikian, defisit
anggaran dalam jangka menengah dapat terkendali, sehingga rasio utang
pemerintah terhadap PDB juga dapat terkendali dan dapat memperkuat
kemandirian pembiayaan pembangunan. Kebijakan fiskal ekspansi dan stimulus
fiskal untuk mendorong perekonomian juga harus tetap diimbangi dengan
pengelolaan kebijakan yang hati-hati dan meminimalkan risiko untuk tetap
memberikan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.
Dengan strategi jangka menengah tersebut, keseimbangan primer diharapkan akan
membaik dan menjadi positif, dan defisit anggaran akan dijaga dalam batas aman
sebagaimana diamanatkan UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Selanjutnya, Pemerintah menyampaikan terima kasih atas apresiasi Fraksi Partai
Golongan Karya terkait solusi Pemerintah dalam penyelesaian defisit anggaran
RAPBN Tahun 2016. Selanjutnya, menanggapi pendapat Fraksi Partai Golongan
Karya tentang upaya menutup defisit APBN melalui pengurangan belanja K/L lebih
fleksibel jika dibanding dengan pengurangan melalui transfer ke daerah, dapat kami
sampaikan tanggapan sebagai berikut.
Dalam pelaksanaan APBN, Pemerintah selalu berupaya menjaga agar APBN
mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi
perekonomian yang sangat dinamis. Langkah-langkah penghematan dan
pemotongan belanja negara baik belanja pemerintah pusat maupun transfer ke
daerah dan dana desa dapat dilaksanakan sebagai tindakan pengendalian dan
pengamanan APBN, yang dilakukan sebagai respon terhadap dampak menurunnya
target pendapatan negara, khususnya penerimaan perpajakan. Dari sisi belanja
Pemerintah Pusat, Pemerintah dapat melakukan pengendalian belanja K/L ataupun
non K/L. Dari sisi transfer ke daerah dan dana desa pengendalian secara otomatis
-L.64-
utamanya dilakukan melalui Dana Bagi Hasil. Hal ini dikarenakan realisasi DBH
sangat dipengaruhi oleh perkembangan pendapatan negara yang dibagihasilkan.
Jika pendapatan negara mengalami penurunan maka DBH secara otomatis akan
berkurang, yang selanjutnya bermuara terhadap penurunan anggaran transfer ke
daerah dan dana desa.
Pengendalian lebih lanjut terhadap belanja negara baik belanja Pemerintah Pusat
maupun transfer ke daerah dan dana desa dapat dilakukan melalui penyesuaian
APBN yang akan selalu dikomunikasikan dan dibahas bersama dengan DPR RI.
Berdasarkan UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, penyesuaian
terhadap APBN dimungkinkan untuk dilakukan. Pasal 27 ayat (3) mengamanatkan
bahwa perubahan terhadap APBN dilakukan bila terjadi beberapa hal, yaitu : (1)
perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan
dalam APBN, (2) perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal, (3) keadaan yang
menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antara unit organisasi, antar
kegiatan, dan antar jenis belanja, dan (4) keadaan yang menyebabkan saldo
anggaran lebih (SAL) tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan
anggaran pada tahun yang berjalan.
Terkait dengan permintaan dari Fraksi Partai Golongan Karya yang meminta
ketegasan Pemerintah agar berupaya melakukan penyelesaian segala bentuk dan
jenis piutang, terutama yang telah jatuh tempo dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemerintah selama ini senantiasa melakukan upaya-upaya untuk menyelesaikan
piutang negara yang telah jatuh tempo baik yang berasal dari Naskah Perjanjian
Penerusan Pinjaman (NPPP)/Subsidiary Loan Agreement (SLA) maupun berasal
dari Perjanjian Pinjaman Rekening Dana Investasi (RDI). Beberapa langkah yang
telah dilakukan Pemerintah sebagai berikut:
1. Penagihan
Penagihan dilakukan sebulan sebelum jatuh tempo, dengan dilakukan rekonsiliasi
bersama terlebih dahulu terkait jumlah kewajiban pokok dan kewajiban yang
jatuh tempo. Apabila tidak dibayar maka akan dikenakan denda keterlambatan.
Khusus untuk pinjaman daerah yang perjanjian pinjamannya telah
mencantumkan sanksi DAU/DBH, sesuai dengan PMK No. 47/PMK.07/2011
tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah Kepada
Pemerintah melalui Sanksi Pemotongan DAU dan/atau DBH, maka akan
dilakukan pemotongan DAU/DBH apabila terjadi tunggakan sampai dua kali
jatuh tempo.
-L.65-
2. Penyelesaian Piutang Negara
Optimalisasi penyelesaian piutang negara dapat dilakukan melalui: penjadwalan
kembali pembayaran utang pokok, bunga, denda, dan/atau ongkos lainnya;
perubahan persyaratan utang; dan/atau penghapusan. Hal ini sesuai dengan PP
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah
dan dan PP Nomor 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan
Penatausahaan Modal Negara pada BUMN dan PT.
Selanjutnya Pemerintah juga telah menerbitkan beberapa Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) untuk mengatur lebih lanjut skema penyelesaian piutang negara
kepada BUMN/PT, Pemerintah Daerah, dan PDAM.
Dalam rangka optimalisasi penyelesaian piutang negara pada BUMN melalui
mekanisme restrukturisasi, Kementerian Keuangan telah melakukan langkahlangkah berikut:
1) Bersama dengan Kementerian BUMN membuat MoU dengan ruang lingkup:
a. Percepatan penyelesaian piutang negara, antara lain
dalam bentuk
peningkatan kerjasama tim penyelesaian piutang negara pada BUMN,
pertukaran informasi kondisi bisnis dan keuangan BUMN, tindak lanjut
penyelesaian
piutang
negara
pada
BUMN,
dan
penyusunan
kebijakan/peraturan yang diperlukan.
b. Melakukan kerjasama dengan pihak lain, antara lain BPKP, Kejaksaan
Agung, BPK
c. Melakukan penilaian kinerja dan Key Performance Index (KPI) yang akan
dimonitor oleh Kementerian BUMN selaku pemegang saham.
2) Untuk menjaga governance dan mitigasi risiko terhadap pilihan skema
restrukturisasi, dilakukan penilaian oleh pihak independen.
3. Konversi Piutang Negara menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN)
pada BUMN setelah mendapat persetujuan DPR.
4. Konversi Utang menjadi Investasi (debt swap to investment) pada
Pemerintah Daerah dan PDAM
Terhadap tunggakan non pokok Pemerintah Daerah dan PDAM diberlakukan debt
swap to investment, yaitu mewajibkan pemerintah daerah membangun
infrastruktur senilai tunggakan non pokok yang dihapus tersebut. Jenis
infrastruktur yang diperkenankan adalah infrastruktur di bidang pendidikan,
kesehatan, jalan dan irigasi, dan air.
-L.66-
5. Penyerahan kepada PUPN
Sebagaimana diatur dalam PP Nomor 14 Tahun 2005, apabila telah dilakukan
optimalisasi penagihan dan piutang tidak dapat diselesaikan, maka piutang
Negara dapat diserahkan kepada PUPN (Panitia Urusan Piutang Negara) untuk
dilakukan penagihan atau penyitaan.
Terkait penyelesaian piutang negara pada PDAM sebagai tindak lanjut PMK
114/PMK.05/2012 tentang Penyelesaian Piutang Negara yang Bersumber dari
Penerusan Pinjaman Luar Negeri, Rekening Dana Investasi dan Rekening
Pembangunan Daerah pada PDAM, telah diserahkan ke PUPN penyelesaian atas
utang 28 PDAM yang tidak masuk dalam program restrukturisasi.
Guna mendukung upaya penyelesaian piutang negara, saat ini RUU Pengurusan
Piutang Negara dan Piutang Daerah telah masuk Program Legislasi Nasional
(Prolegnas) tahun 2017. Selanjutnya, dalam rangka mempercepat penyelesaian
Piutang
Negara,
Pemerintah
memandang
perlu
adanya
crash
program/percepatan penyelesaian Piutang Negara khususnya piutang terhadap
penanggung utang/debitur UMKM yang memungkinkan adanya pemberiaan
keringanan utang kepada debitur tersebut. Dasar hukum untuk melakukan crash
program tersebut, telah ditetapkan dalam Pasal 27 Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2014 tentang APBN Tahun 2015 dan telah diusulkan kembali dalam RUU
APBN Tahun 2016.
Menanggapai permintaan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang meminta
Pemerintah untuk menjaga kesinambungan pembiayaan dan mengoptimalkan hasil
pengelolaan aset dan investasi serta piutang-piutang negara yang bermasalah agar
dapat menjadi penerimaan negara, dapat kiranya dijelaskan sebagai berikut.
1. Pemerintah senantiasa berusaha untuk menjaga kesinambungan pembiayaan
setiap tahunnya, dengan mengutamakan sumber penerimaan pembiayaan yang
berasal dari nonutang, seperti penerimaan cicilan pengembalian penerusan
pinjaman, Saldo Anggaran Lebih (SAL), privatisasi, dan Hasil Pengelolaan Aset .
Namun, dengan semakin terbatasnya sumber penerimaan pembiayaan yang
berasal dari nonutang, maka Pemerintah memanfaatkan sumber penerimaan
pembiayaan yang berasal dari utang, terutama berasal dari penerbitan Surat
Berharga Negara (SBN).
2. Setoran hasil pengelolaan aset setiap tahunnya cenderung semakin menurun,
seiring dengan semakin berkurangnya aset yang tersedia untuk dijual. Namun
demikian, Pemerintah pada prinsipnya akan terus melakukan extra-effort
pengelolaan aset yang ada sesuai dengan ketentuan pengelolaan aset yang
berlaku saat ini, termasuk dalam pengurusan piutang Negara melalui optimalisasi
-L.67-
seluruh mekanisme Pengurusan Piutang Negara yang tersedia dan sekaligus
secara simultan mengupayakan berbagai penyelesaian atas permasalahan yang
ada melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya Badan Pertanahan
Nasional.
Dengan langkah-langkah optimalisasi tersebut, diharapkan realisasi capaian Hasil
Pengelolaan Aset sebagai salah satu sumber penerimaan pembiayaan dalam
negeri nonutang dapat melebihi target yang ditetapkan dalam RAPBN 2016.
Menanggapai pandangan Fraksi Partai Amanat Nasional yang meminta audit
khusus terkait dengan masih belum siginifikannya realisasi PMN BUMN dan
perlunya Pemerintah untuk berhati hati terkait PMN kepada BUMN yang
kapasitasnya sangat terbatas, bahkan BUMN yang justru mengalami kerugian, dapat
kiranya dijelaskan sebagai berikut.
1. Salah satu syarat pencairan PMN kepada BUMN adalah penerbitan Peraturan
Pemerintah (PP) untuk masing-masing BUMN. Mengingat banyaknya BUMN
yang menerima PMN pada APBNP tahun 2015, yaitu mencapai 39 BUMN, maka
proses penyusunan dan penerbitan PP PMN BUMN dilakukan secara bertahap,
sesuai dengan kesiapan masing-masing BUMN. Dengan demikian, proses
pencairan PMN BUMN juga akan dilakukan secara bertahap.
2. Sampai dengan saat ini, PMN yang sudah cair adalah sebesar Rp7,1 triliun, yaitu
PMN kepada PT Waskita Karya dan PT Hutama Karya. Beberapa PMN yang PP
nya telah diterbitkan dan siap untuk dicairkan adalah PMN kepada PT PAL
Indonesia dan Perum Bulog. Sedangkan PP PMN kepada BUMN yang lain, saat ini
sebagian sedang dalam proses penetapan Presiden dan sebagian lainnya sedang
dalam proses harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM. Diharapkan PMN
kepada BUMN dapat dicairkan secara bertahap pada triwulan III dan triwulan IV
tahun 2015.
3. Pada dasarnya PMN dialokasikan untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain
mendukung pencapaian program prioritas pembangunan nasional, mendukung
penugasan yang diberikan Pemerintah kepada BUMN, dan mendukung upaya
restrukturisasi BUMN. Oleh karena itu, PMN dialokasikan kepada BUMN untuk
bisa memperbesar kapasitas usaha BUMN dalam menunjang penugasan yang
diberikan oleh pemerintah, atau untuk memperbaiki struktur permodalan BUMN.
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi
Partai Amanat Nasional, bahwa Pemerintah harus berhati-hati dalam
memberikan PMN kepada BUMN yang kapasitasnya terbatas atau BUMN yang
mengalami kerugian. Pemerintah harus mempunyai keyakinan bahwa alokasi
PMN tersebut akan membawa perbaikan bagi struktur modal dan kinerja BUMN.
-L.68-
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
yang meminta agar PMN kepada BUMN dilakukan secara selektif untuk mendukung
program-program Pemerintah dan diberikan sesuai dengan mekanisme UU Nomor
17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dioptimalkan sesuai dengan tujuan dan
peran BUMN sebagai agen pembangunan, serta perlunya dilakukan analisis lebih
mendalam terkait dengan kelayakan BUMN dan lembaga-lembaga penerimanya,
dapat kiranya dijelaskan sebagai berikut.
1. PMN kepada BUMN diberikan untuk mendukung peran BUMN sebagai agen
pembangunan (agent of development), sehingga BUMN diharapkan dapat
berperan aktif dalam mendukung program prioritas nasional (Nawa Cita). PMN
kepada BUMN dalam RAPBN tahun 2016 dialokasikan secara selektif untuk
mendukung program kedaulatan pangan, kedaulatan energi, infrastruktur dan
maritim, pengembangan industri strategis, kemandirian ekonomi nasional, dan
penguatan sektor keuangan.
2. Pegalokasian PMN kepada BUMN dilakukan sesuai dengan mekanisme dan
ketentuan perundangan yang berlaku. Sesuai dengan pasal 24 ayat (2) UU Nomor
17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, alokasi PMN kepada BUMN harus
ditetapkan dalam APBN.
Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah senantiasa melakukan analisis terhadap
kebijakan Pemerintah yang perlu mendapat dukungan BUMN dan BUMN yang
perlu direstrukturisasi. Selanjutnya, Pemerintah akan melakukan kajian yang
mendalam terhadap kesiapan BUMN yang akan menerima penugasan dan yang
akan direstrukturisasi, mengusulkannya dalam RAPBN sesuai dengan kapasitas
fiskal yang tersedia, dan terakhir melakukan pembahasan dengan DPR guna
mendapatkan persetujuan.
Selain itu, untuk PMN yang bersifat non tunai (konversi), selain harus mendapat
persetujuan terlebih dahulu oleh Menteri Keuangan, Pemerintah juga harus
meyakini bahwa PMN tersebut dapat memberikan manfaat bagi perbaikan kondisi
keuangan dan struktur modal BUMN, yang selanjutnya akan berdampak pada
peningkatan kinerja BUMN.
Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa
yang meminta agar PMN kepada Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) harus
dapat memberikan kemaslahatan bagi percepatan pembangunan infrastruktur dan
pembangunan ekonomi domestik dan PMN kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor
Indonesia (LPEI) dapat secara riil menggenjot daya saing ekspor sehingga dapat
-L.69-
mempersempit neraca perdagangan dan mencetak surplus. Penggunaan dan
manfaat PMN kepada AIIB dan LPEI dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Saat ini Indonesia masih mengalami kekurangan kebutuhan pembiayaan
infrastruktur (financing gap) yang cukup besar. Berdasarkan RPJMN 2015-2019,
kebutuhan infrastruktur Indonesia mencapai Rp6.541 triliun. Diharapkan dengan
fasilitas pembiayaan infrastruktur yang disediakan AIIB, dapat menambah
sumber-sumber pembiayaan infrastruktur dan memperkecil financing gap
pembiayaan infrastruktur di Indonesia.
2. PMN kepada LPEI pada RAPBN tahun 2016 diusulkan sebesar Rp5 triliun. PMN
sebesar Rp2 triliun akan dipergunakan untuk melaksanakan penugasan khusus
dari Pemerintah kepada LPEI untuk menyediakan pembiayaan, penjaminan dan
asuransi bagi transaksi atau proyek yang secara komersil sulit dilaksanakan, tetapi
dianggap perlu oleh Pemerintah untuk menunjang kebijakan atau program ekspor
nasional sebagaimana diamanatkan pada Pasal 18 UU Nomor 2 Tahun 2009
tentang LPEI. Sedangkan sisanya sebesar Rp3 triliun tidak dibatasi
penggunaannya, sehingga dapat dipergunakan untuk menyediakan pembiayaan,
penjaminan dan asuransi bagi transaksi atau proyek yang sudah komersiil baik
kepada eksportir langsung maupun eksportir tidak langsung.
Dengan kombinasi penggunaan dana PMN tersebut diharapkan akan mendorong
ekspor nasional dan mengurangi defisit neraca perdagangan serta di sisi lain LPEI
tetap sehat dan sustainable agar tetap dapat menjalankan tugas dan fungsinya
sesuai amanat UU Nomor 2 Tahun 2009 tentang LPEI.
Menanggapai permintaan Fraksi Partai Amanat Nasional yang mendesak
Pemerintah untuk menuntaskan persoalan ganti rugi kerugian korban luapan
lumpur Sidoarjo yang berada di dalam peta area terdampak, khususnya yang diderita
oleh para pelaku usaha, dapat kiranya dijelaskan sebagai berikut.
1.
Pemerintah pada tahun 2015 telah mengalokasikan dana antisipasi kepada PT
Lapindo Brantas Inc./PT Minarak Lapindo Jaya sebesar Rp781,7 miliar.
2. Dana tersebut disiapkan Pemerintah sebagai pelunasan pembayaran langsung
kepada masyarakat yang memiliki tanah dan bangunan di dalam area peta
terdampak lumpur Sidoarjo, yang bila dipergunakan akan menjadi pinjaman PT
Lapindo Brantas Inc./PT Minarak Lapindo Jaya kepada Pemerintah.
3. Saat ini Pemerintah telah melakukan pembayaran kepada warga korban lumpur
Sidoarjo secara bertahap sesuai dengan ketersediaan dokumen yang telah
diverifikasi oleh BPKP dan BPLS.
-L.70-
4. Selanjutnya, ganti rugi kepada pelaku usaha korban lumpur Lapindo di dalam
peta area terdampak masih akan didiskusikan sambil memperhatikan putusan
Mahkamah Konstitusi tentang ganti rugi korban lumpur Lapindo kepada para
pelaku usaha, yang pada saat ini masih dalam proses persidangan.
Menanggapi pandangan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mengenai
penerbitan SBN, baik SBN domestik maupun SBN valas harus dilakukan secara
terukur untuk meminimalkan risiko refinancing kiranya dapat dijelaskan sebagai
berikut. Pembiayaan melalui penerbitan SBN dilakukan dengan mempertimbangkan
kebutuhan pembiayaan, ketersediaan alternatif sumber pembiayaan, kondisi
portofolio dan risiko utang, agar tujuan pengelolaan SBN untuk membiayai defisit
dengan biaya yang minimal pada tingkat risiko yang terkendali dapat tercapai.
Dalam rangka pengelolaan risiko pasar keuangan, Pemerintah bersama dengan Bank
Indonesia telah memiliki rangkaian parameter indikator risiko/protokol manajemen
krisis pasar keuangan yang terus dipantau, dan siap untuk dieksekusi dalam hal
terjadi pergerakan yang mengarah pada krisis pasar keuangan.
Terkait dengan permasalahan risiko refinancing, Pemerintah secara komprehensif
melakukan monitoring risiko utang yang meliputi risiko tingkat bunga (interest rate
risk), risiko pembiayaan kembali (refinancing risk), dan risiko nilai tukar (exchange
rate risk). Ketiga jenis risiko tersebut digunakan sebagai indikator dalam
pengelolaan portofolio utang Pemerintah. Secara khusus mengenai refinancing risk,
dapat disampaikan bahwa besaran penerbitan/pengadaan utang baru dengan tenor
pendek melalui penerbitan SPN memang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Kebijakan ini untuk memenuhi target penerbitan SBN yang semakin besar dan
mengakomodasi permintaan investor yang cukup besar pada instrumen SBN dengan
tenor pendek, khususnya pada saat kondisi pasar keuangan masih belum stabil dan
volatile. Namun demikian, dampak peningkatan penerbitan SPN terhadap indikator
refinancing risk secara keseluruhan relatif rendah karena pada saat yang sama
penerbitan SBN seri benchmark yang memiliki tenor menengah–panjang
diupayakan tetap dominan.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terkait perlunya
memprioritaskan penerbitan SBSN PBS dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemanfaatan instrumen sukuk negara untuk membiayai proyek-proyek pemerintah
dapat meningkatkan country ownership karena sumber pembiayaannya berasal dari
dalam negeri.
Sukuk berbasis proyek atau sukuk proyek dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
pertama, sukuk yang diterbitkan dengan menggunakan DIPA proyek sebagai
underlying asset atau project underlying dan kedua, sukuk yang diterbitkan untuk
-L.71-
mendanai proyek baru dalam APBN atau project financing. Pemerintah telah mulai
menerbitkan sukuk dengan skema underlying project pada tahun 2012.
Pada tahun 2013, Pemerintah telah menerbitkan SBSN berbasis proyek (project
financing sukuk) sebesar Rp0,8 triliun untuk membiayai proyek infrastruktur
transportasi, yakni proyek pembangunan jalur ganda (double track) Lintas Cirebon–
Kroya. Pada tahun 2014, jumlah penerbitan SBSN berbasis proyek meningkat
menjadi Rp1,6 triliun yang digunakan untuk membiayai kelanjutan pembangunan
jalur ganda (double track) lintas Cirebon–Kroya sebesar Rp0,7 triliun,
pembangunan railway electrification and double-double tracking of Java main line
project sebesar Rp0,6 triliun, dan untuk proyek revitalisasi asrama haji sebesar
Rp0,2 triliun. Pada tahun 2015, Pemerintah merencanakan untuk menerbitkan
SBSN berbasis proyek sebesar Rp7,5 triliun untuk membiayai berbagai proyek
pembangunan di tiga kementerian yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat Rp3,5 triliun, Kementerian Perhubungan Rp2,9 triliun, dan
Kementerian Agama Rp1,0 triliun. Pada tahun 2016, penerbitan SBSN berbasis
proyek direncanakan sebesar Rp13,7 triliun atau naik Rp6,5 triliun (91,5 persen)
dibandingkan tahun 2015. Instrumen ini digunakan untuk membiayai proyek-proyek
di tiga kementerian yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Rp7,2 triliun, Kementerian Perhubungan Rp5,0 triliun, dan Kementerian Agama
Rp1,5 triliun. Kedepannya penerbitan SBSN berbasis proyek untuk membiayai
proyek-proyek Pemerintah diharapkan semakin meningkat.
Menanggapi pandangan Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai
Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengenai
rencana peningkatan penarikan utang terutama utang luar negeri dapat dijelaskan
sebagai berikut. Mulai tahun 2016, penarikan pinjaman luar negeri di APBN
direncanakan lebih besar dari pelunasan pokok pinjaman luar negeri (positive net
flow). Perbaikan kebijakan tersebut diambil mengingat besarnya kebutuhan
pembiayaan infrastruktur di dalam negeri dan potensi kapasitas pinjaman luar
negeri yang besar, serta untuk mengurangi beban biaya penarikan utang (cost of
borrowing) secara keseluruhan. Kebijakan positive net flow pada pinjaman luar
negeri juga merupakan bagian dari strategi Pemerintah dalam mengantisipasi
ketidakpastian pada pasar finansial yang kemungkinan berdampak pada
kemampuan Pemerintah untuk melakukan penerbitan SBN, serta dalam rangka
diversifikasi portofolio utang pemerintah. Dalam melaksanakan kebijakan tersebut,
Pemerintah mengupayakan pinjaman yang berasal dari kreditor multilateral dan
bilateral yang tidak mengikat, menggunakan pinjaman luar negeri untuk kegiatan
produktif, serta tetap menjaga rasio utang pemerintah terhadap PDB pada tingkat
yang aman (sekitar 26 persen).
-L.72-
Berkenaan dengan masukan Fraksi Partai Demokrat agar Pemerintah
memperkecil rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto, Pemerintah
akan berupaya menjaga dan mengendalikan rasio utang luar negeri tetap dalam
batas aman. Dapat kami sampaikan bahwa dengan rencana penarikan pinjaman luar
negeri dalam RAPBN tahun 2016, maka rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB
pada akhir tahun 2016 diperkirakan sekitar 5,4 persen, atau lebih rendah dari rasio
pinjaman luar negeri terhadap PDB pada akhir tahun 2015 yang diperkirakan sekitar
5,6 persen.
Selanjutnya, Pemerintah sependapat dengan pandangan Fraksi Partai Amanat
Nasional untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan DPR terkait
perubahan kebijakan pinjaman luar negeri. Pembicaraan dengan DPR tersebut juga
dimaksudkan untuk memenuhi asas transparansi, akuntabel, dan prudent dalam
perencanaan pinjaman luar negeri.
Menanggapi Permintaan Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya, Fraksi
Partai Demokrat, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Partai
Persatuan Pembangunan, dan Fraksi Partai Nasional Demokrat, bahwa
utang Pemerintah harus digunakan untuk kegiatan produktif dan harus dikelola
secara optimal dengan prinsip kehati-hatian, profesional, dan memperhatikan
kemampuan pengembalian, serta kemampuan penyerapan anggaran, dapat kami
sampaikan hal-hal sebagai berikut. Pembiayaan utang baik yang diperoleh dari
penerbitan SBN maupun penarikan pinjaman memiliki beban di masa yang akan
datang berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga. Selain itu kedua beban tersebut
juga memiliki sejumlah risiko khususnya risiko nilai tukar jika pembiayaan utang
diperoleh dari luar negeri. Dengan adanya beban tersebut, Pemerintah akan
berupaya maksimal agar pemanfaatan pembiayaan utang digunakan untuk
membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang dapat memberikan dampak positif dan
multiplier effect yang tinggi bagi upaya penurunan kemiskinan, penciptaan lapangan
kerja, dan peningkatan perekonomian nasional.
Selain itu, Pemerintah juga terus berupaya untuk melakukan inovasi dan
diversifikasi instrumen pembiayaan utang dan nonutang. Pemerintah telah
menerbitkan Sukuk Negara dengan underlying proyek. Pemerintah juga telah
menerbitkan obligasi ritel baik konvensional maupun sukuk. Sampai saat ini sedang
dikaji kemungkinan penerbitan instrumen SBN diantaranya Index Linked Bond,
yaitu obligasi yang memiliki tingkat bunga mengacu pada tingkat indeks tertentu
misalnya inflasi. Pada instrumen pinjaman, Pemerintah juga berupaya melakukan
inovasi salah satunya melalui instrumen pinjaman result based lending dan
mengoptimalkan sumber pinjaman tunai melalui instrumen pinjaman tunai
komersial. Pemerintah juga memanfaatkan pinjaman dalam negeri untuk
-L.73-
pembiayaan sektor pertahanan dan keamanan untuk mendukung pemberdayaan
industri dalam negeri.
Berkenaan dengan perbaikan pengelolaan pinjaman luar negeri, Pemerintah
menetapkan kebijakan sebagai berikut (1) komitmen pinjaman kegiatan (project
loan) baru diarahkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan energi, serta
membiayai pembelian barang yang belum dapat diproduksi di dalam negeri dalam
rangka alih teknologi, (2) meningkatkan kualitas persiapan kegiatan dan pengadaan
pinjaman luar negeri, melalui (a) peningkatan peran serta dalam penyusunan
dokumen kerjasama dengan lender untuk menghindari terjadinya pengadaan
pinjaman luar negeri yang didikte oleh lender (lenderdriven), (b) negosiasi pinjaman
luar negeri hanya dilakukan setelah terpenuhinya seluruh kriteria kesiapan
(readiness criteria) dari kegiatan yang akan dibiayai dengan pinjaman luar negeri,
dan (c) menetapkan syarat dan ketentuan (terms and conditions) pinjaman luar
negeri yang sesuai dengan target risiko dan biaya utang, (3) pinjaman luar negeri
tunai/program dilakukan secara selektif, antara lain dalam rangka mendukung
fleksibilitas pembiayaan utang, dan (4) meningkatkan kinerja pemanfaatan
pinjaman luar negeri, dengan (a) mengoptimalkan evaluasi pemanfaatan pinjaman
luar negeri untuk memastikan penarikan pinjaman luar negeri sesuai jadwal, (b)
mengambil langkah penanganan atas kegiatan yang bermasalah dan berdampak
signifikan terhadap APBN berdasarkan hasil monitoring, dan (c) meningkatkan
koordinasi antarunit terkait dalam penganggaran, serta monitoring dan evaluasi
pinjaman luar negeri.
-L.74-
Download