Laporan Bulanan - Badan Kebijakan Fiskal

advertisement
DAN
Minggu II / Juni / 2016
http://www.fiskal.kemenkeu.go.id
“Revisi ke bawah oleh World Bank menunjukkan perkembangan
ekonomi global masih mengalami tekanan seiring menurunnya arus
perdagangan dan modal global”
Sumber Data : Bloomberg,Reuters,CNBC,The Street,Investing,WSJ,CNN Money,Channel News Asia,BBC,New York Times,BPS,Kontan, Kompas,Media
Indonesia,Tempo,Antara News,Bisnis Indonesia,Vibiz news.
Perekonomian negara maju
Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) kemungkinan akan kembali tertunda seiring
outlook ekonomi global yang masih menunjukan ketidakpastian. Meskipun
Gubernur The Fed dalam pidato publik sebelum pertemuan kebijakan Fed
Juni 2016 menyampaikan optimismenya terhadap kondisi pasar tenaga
kerja dan inflasi AS, pihaknya menyatakan masih terdapat risiko global
yang perlu diperhatikan yaitu perlambatan ekonomi Tiongkok dan potensi
keluarnya UK dari Uni Eropa (Brexit). Rilis data perekonomian AS terkini
menunjukkan adanya penurunan initial jobless claim AS pada pekan lalu.
Hal ini menunjukan masih adanya penguatan yang berkelanjutan di sektor
tenaga kerja meskipun terdapat penurunan pada jumlah rekrutmen tenaga
kerja.
Ekonomi zona Eropa pada kuartal pertama tahun 2016 mengalami
ekspansi dengan angka pertumbuhan yang lebih tinggi dari proyeksi.
Pertumbuhan yang terutama didorong oleh kenaikan belanja konsumen dan
investasi tersebut menambah keyakinan bank sentral Eropa (ECB) untuk
tidak menambah stimulus dalam waktu dekat. Kondisi tersebut didukung
oleh hasil sirvei Sentix bulan Mei atas kepercayaan investor terhadap
prospek ekonomi zona Eropa yang meningkat. Namun, sentimen positif
tersebut dapat berubah drastis apabila referendum yang dilakukan oleh
UK pada bulan Juni menghasilkan keputusan untuk keluar dari Uni Eropa.
Produksi sektor manufaktur dan industri UK pada bulan April mengalami
pertumbuhan didorong oleh pelemahan poundsterling dan kondisi cuaca
yang terjadi di negara tersebut. Defisit neraca perdagangan UK
menyempit setelah ekspor melonjak tajam ke level tertinggi dalam tiga
tahun terakhir pada bulan April. Defisit tersebut terutama disebabkan oleh
melemahnya investasi UK di luar negeri.
Revisi pertumbuhan ekonomi Jepang menunjukkan kenaikan dibandingkan
rilis data awal. Kenaikan tersebut disebabkan oleh revisi atas data belanja
konsumen dan investasi yang lebih lebih baik dari sebelumnya.
Perkembangan data ekonomi Jepang terkini menunjukkan Indeks harga
produsen Jepang tercatat mengalami kontraksi pada bulan Mei sejalan
dengan kontraksi pada pesanan mesin di bulan April. Di sisi lain, neraca
berjalan Jepang pada bulan April mencatatkan surplus, meskipun lebih
rendah dari bulan sebelumnya akibat kontraksi yang dialami sektor jasa.
10 Juni
‘16
Indikator
WoW
Perubahan (%)
YoY
Ytd
T1 ---- Nilai Tukar/USD ---Euro
Yen
GBP
Real
Rubel
Rupiah
Rupee
Yuan
KRW
SGD
Ringgit
Baht
Peso
1,13
106,99
1,54
0,31
0,02
13.294,00
66,65
6,56
1.156,83
1,35
4,06
35,12
45,20
1,02
2,21
0,76
(0,09)
(0,51)
2,21
0,74
(0,20)
1,55
(0,22)
1,77
0,27
1,77
0,42
10,84
4,19
21,35
27,45
7,51
(1,65)
(3,11)
(0,21)
2,81
2,98
1,07
(0,73)
(3,64)
11,27
(5,03)
13,00
(20,77)
3,88
(0,94)
(1,06)
0,62
3,68
5,17
2,14
(2,26)
9,04
7,05
(8,13)
1,09
3,41
11,27
6,48
10,68
(4,01)
(5,51)
(1,97)
(1,69)
2,80
5,30
2,53
2,55
(12,78)
2,87
12,60
8,08
(20,65)
5,55
(3,98)
(17,29)
(2,07)
(3,03)
10,96
8,02
T2 ---- Pasar Modal ---DJIA
S&P500
Nikkei
KOSPI
Brazil IBX
MICEX
SENSEX
JCI
Hangseng
Shanghai
STI
FBMKLCI
SET
PCOMP
17.865,34
2.096,07
16.601,36
2.017,63
20.419,02
1.903,61
20.758,49
4.848,06
21.042,64
2.927,16
2.822,97
1.641,22
1.429,21
7.509,94
0,33
(0,15)
(0,25)
1,60
(2,30)
0,89
0,32
(0,12)
0,46
(0,39)
0,49
0,29
(0,50)
(0,06)
T3 ---- Surat Berharga Negara ---Yield FR56
Kep, Asing*
7,59
38,62
19 bps
22 bps
N/A
51 bps
113 bps
41 bps
T4 ---- Komoditas ---Oil
CPO
Gold
Coal
Nickel
51
2.587,00
1.267,51
50,35
8.925,00
1,81
(3,23)
2,41
5,06
(2,80)
(4,80)
12,61
11,85
(11,67)
(34,38)
20,88
5,91
20,1
8,86
4,94
T5 ---- Rilis Data Minggu ini ---Suku
BUnga
Acuan
PDB
Produksi
Manufaktur
Inflasi
Perekonomian negara berkembang
Australia
Jun : 1,75
Mei : 1,75
India
Jepang
Tiongkok
Jun : 6,50
Q1 : 0,5
April : 2,3
Mei : 6,50
Q4 : 0,4
Maret : 0,1
Tiongkok Mei : 2,0
April : 2,3
*) Data kepemilikan asing per (9 Juni 2016)
Neraca perdagangan Tiongkok pada bulan Mei mencatatkan surplus yang lebih rendah dari proyeksi akibat perlambatan ekspor
sementara cadangan devisa Tiongkok bulan Mei turun ke level terendah sejak tahun 2011 sejalan dengan penguatan dolar AS. Di sisi
lain, inflasi bulan Mei mengalami penurunan seiring dengan turunnya harga bahan pangan sehingga terbuka peluang bagi bank
sentral Tiongkok untuk menurunkan suku bunga acuannya.
Bank sentral Brazil mempertahankan suku bunga acuannya pada level 14,25 persen meskipun inflasi bulan Mei bergerak naik
mendekati angka sepuluh persen. Tingginya inflasi tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan harga barang yang dikontrol oleh
Pemerintah dan pelemahan nilai mata uang negara tersebut.
Pengarah: Kepala Badan Kebijakan Fiskal
Penanggung Jawab: Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan
Penyusun: Syaifullah, Ronald Yusuf, Munafsin Al Arif, Alfan Mansur, Priska Amalia, Nurul Fatimah
Didukung oleh Pusat Kebijakan Ekonomi Makro
Dokumen ini disusun hanya sebatas sebagai informasi. Semua hal yang relevan telah dipertimbangkan untuk memastikan informasi ini benar, tetapi tidak ada jaminan
bahwa informasi tersebut akurat dan lengkap serta tidak ada kewajiban yang timbul terhadap kerugian yang terjadi atas tindakan yang dilakukan dengan
mendasarkan pada laporan ini. Hak cipta Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.
Perekonomian India menunjukkan perkembangan yang bervariasi. Penyaluran listrik selama April menunjukkan adanya peningkatan,
sementara di sisi lain sektor manufaktur India mengalami kontraksi, sehingga memberikan tekanan pada sektor industri secara
keseluruhan. Dari sisi moneter, bank sentral India memutuskan suku bunga acuan tetap berada pada level 6,5 persen. Pemangkasan
suku bunga acuan pada tahun ini masih dimungkinkan apabila tidak ada kenaikan harga bahan pangan akibat perubahan cuaca.
Perekonomian nasional
Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2016 tercatat sebesar USD103,6 miliar, lebih rendah daripada posisi akhir April 2016 yang
sebesar USD107,7 miliar. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh penyediaan valas untuk kebutuhan pembayaran kewajiban
valas masyarakat, pembayaran utang luar negeri Pemerintah, dan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Jumlah
cadangan devisa tersebut dinilai masih cukup untuk membiayai 7,9 bulan impor atau 7,6 bulan impor dan pembayaran utang luar
negeri Pemerintah. Besaran tersebut masih lebih tinggi daripada standar kecukupan cadangan devisa yang berlaku secara internasional
sekitar 3 bulan impor.
Penjualan eceran bulan April secara tahunan menunjukan perlambatan. Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), Indeks Penjualan Riil
(IPR) April 2016 tumbuh 10,4 persen yoy, lebih rendah dibandingkan Maret 2016 yang sebesar 11,1 persen yoy. Perlambatan
penjualan riil terjadi pada beberapa kelompok komoditas terutama pada komoditas barang lainnya yang tumbuh -15,3 persen yoy
akibat penurunan penjualan produk sandang.
Optimisme konsumen Indonesia pada bulan Mei mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari survei BI
yang menunjukan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2016 naik sebesar 3,1 poin ke level 112,1. Peningkatan tersebut didorong
oleh peningkatan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat naik masing-masing sebesar
4,5 dan 1,8 poin. Hasil survei juga menunjukkan terdapat perlambatan tekanan kenaikan harga pada Agustus 2016, terutama pada
kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau seiring dengan perkiraan kembali normalnya permintaan pasca Hari Raya
Idul Fitri. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang tercatat turun menjadi 171,3.
Perkembangan komoditas global
Harga minyak mentah global ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan lalu akibat meningkatnya jumlah kilang minyak AS
serta menurunnya permintaan minyak mentah. Namun, harga minyak mentah masih menunjukaan penguatan secara mingguan diatas
1%. Harga emas pada pekan ini ditutup menguat didorong oleh pelemahan dolar AS serta meningkatnya permintaan emas sebagai
save heaven. Sementara itu, harga batubara pada pekan ini ditutup melemah sejalan dengan penurunan harga minyak mentah. Harga
CPO di pasar global ditutup melemah akibat pelemahan mata uang ringgit.
Perkembangan sektor keuangan
Indeks global ditutup bervariasi secara mingguan didorong oleh adanya kekhawatiran terhadap pertumbuhan global serta beberapa
pertemuan yang akan digelar dalam waktu dekat yang diperkirakan berpotensi memicu gejolak di pasar saham.
Di pasar keuangan domestik, IHSG mengalami pelemahan mingguan sebesar 0,12 persen didorong oleh sentimen ekonomi global. Dari
sisi aktivitas perdagangan, Bursa Efek Indonesia pada pekan ini membukukan volume transaksi yang lebih tinggi dibandingkan pekan
sebelumnya dengan transaksi investor non residen yang mencatatkan net buy sebesar 1,63 triliun.
Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan penguatan mingguan seperti pada pekan sebelumnya dan ditutup pada level Rp13,294 per
USD. Penguatan rupiah sejalan dengan penguatan sebagian besar nilai tukar global kecuali Yuan, Dollar Singapura, Real dan Rubel
yang melemah secara mingguan. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mengalami volatilitas yang meningkat di akhir pekan
sebagaimana tercermin dari spread antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan.
Laporan Ekonomi Keuangan Mingguan / Weekly Report
2
ISU UTAMA: Optimisme di tengah Risiko Perlambatan Ekonomi yang Masih Berlanjut




Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2016 menjadi 2,4% untuk dunia dan 5,1% untuk Indonesia.
Ketahanan sektor eksternal Indonesia masih terjaga walaupun mengalami penurunan secara musiman.
Optimisme investor global tetap meningkat.
Optimisme konsumen Indonesia juga meningkat.
Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2016
Pada 8 Juni 2016 lalu, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2016 menjadi 2,4% dengan
perkiraan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju sebesar 1,7% yoy dan berturut-turut 0,4% yoy dan 5,8% yoy untuk negara
berkembang pengekspor komoditas dan negara berkembang pengimpor komoditas. Selain belum pulihnya harga komoditas akibat
fluktuasi pasokan dan permintaan, faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan Bank Dunia antara lain stagnasi di negara maju,
masih lemahnya perdagangan global, dan semakin berkurangnya aliran arus modal. Sementara itu, penurunan proyeksi
pertumbuhan ekonomi Indonesia, selain dipicu oleh kondisi perekonomian global, juga dipicu antara lain oleh masih lemahnya
pertumbuhan belanja pemerintah dan investasi.
Ketahanan sektor eksternal Indonesia masih terjaga walaupun mengalami penurunan secara musiman
Cadangan devisa Indonesia per Mei 2016 tercatat sebesar US$103,6 miliar, turun dari US$107,7 miliar pada bulan sebelumnya.
Namun, jumlah tersebut masih lebih tinggi dari standar kecukupan dan dapat digunakan untuk membiayai 7,9 bulan impor atau
7,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) Pemerintah. Penurunan tersebut disebabkan oleh faktor musiman yang
dipengaruhi antara lain oleh pemenuhan kebutuhan pembayaran kewajiban valuta asing penduduk, pembayaran utang luar negeri
Pemerintah, dan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI. Porsi untuk stabilisasi rupiah sendiri tampaknya lebih kecil mengingat lebih
rendahnya dana operasi moneter pada bulan Mei dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Besarnya aliran modal asing yang
masuk pada bulan Juni ini tercatat sebesar Rp 7,9 triliun baik ke pasar SBN maupun pasar modal yang diperkirakan akan
memperbaiki posisi cadangan devisa ke depannya.
Optimisme investor global tetap meningkat
Walaupun Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan perekonomian global, investor masih memandang positif terhadap kondisi
global dan meyakini bahwa pemulihan perekonomian global masih akan terus berlanjut. Hal ini tercermin dari return aset-aset
global, seperti S&P 500, US Treasuries, EM Dollar Bonds, EM Currencies, Japanese Yen, Commodities, dan emas, yang tercatat positif
selama bulan Juni ini (Bloomberg per 07/06/16). Keyakinan investor global tersebut dipicu antara lain oleh kinerja pasar tenaga
kerja AS yang mencatatkan rekor terburuk sejak 2010 sehingga mengeliminasi peluang kenaikan FFR dalam waktu dekat,
akomodatifnya kondisi moneter seiring berlanjutnya program Quantitative Easing dari Bank Sentral Eropa dan negative borrowing
cost di Jepang, serta semakin stabilnya perekonomian Tiongkok. Stabilisasi perekonomian Tiongkok sendiri didorong oleh ekspansi
kredit yang mengalami akselerasi sejak awal tahun 2016 dengan tingkat pertumbuhan kredit mencapai 58% secara yoy pada
Mei 2016.
Optimisme konsumen Indonesia juga meningkat
Sejalan dengan optimisme investor global, optimisme konsumen dalam negeri juga mengalami peningkatan. Indeks Keyakinan
Konsumen (IKK) tercatat meningkat dari 109 pada bulan April 2016 menjadi 112,1 pada bulan Mei 2016 yang didorong oleh
peningkatan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mengindikasikan kondisi 6 bulan ke depan dan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE)
saat ini. Komponen pembentuk indeks-indeks tersebut antara lain penghasilan masyarakat, ketersediaan lapangan usaha, dan
ekspektasi terhadap kegiatan usaha. Dengan meningkatnya ekspektasi atas komponen-komponen tersebut, konsumsi rumah tangga
yang merupakan komponen utama pembentuk PDB Indonesia diperkirakan akan terus meningkat. Pada akhirnya, dengan didukung
oleh percepatan belanja pemerintah, target pertumbuhan ekonomi di atas 5% akan dapat tercapai.
Laporan Ekonomi Keuangan Mingguan / Weekly Report
3
Global and Domestic Economic Development
Laporan Ekonomi Keuangan Mingguan / Weekly Report
4
Download