Indonesian Journal of Curriculum and Educational

advertisement
IJCETS 1 (1) (2014)
Indonesian Journal of Curriculum and
Educational Technology Studies
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jktp
KEEFEKTIFAN GURU DALAM MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN
UNTUK SISWA SMA NEGERI 2 SEMARANG
Deny Wicaksono , Akhmad Munib, Hardjono
Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Info Artikel
Abstrak
________________
___________________________________________________________________
Sejarah Artikel:
Diterima Februari 2014
Disetujui Maret 2014
Dipublikasikan April
2014
Tidak semua media yang dibuat oleh guru dan yang telah tersedia disekolah dapat digunakan dalam pembelajaran dikelas. Media
pembelajaran yang dapat digunakan di kelas semestinya harus benar-benar media yang telah dievaluasi dengan sebaik-baiknya
sehingga, media tersebut benar-benar layak untuk digunakan. Adakalanya guru memaksakan media tertentu yang kurang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan, sehingga bukan peningkatan proses pembelajaran yang dirasakan, sebaliknya
beragam masalah baru muncul misalnya komentar-komentar yang kurang penting yang terlontar dari siswa. Kondisi seperti ini
tentu bukan hal yang diharapkan oleh guru. Oleh karena itu sebelum guru menggunakan media dalam proses pembelajaran
alangkah lebih baik jika evaluasi terlebih dahulu dalam keefektifan guru dalam membuat media pembelajaran untuk siswa SMA
Negeri 2 Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 30 april – 30 agustus 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMA Negeri 2 Semarang yang masih aktif dalam
mengampu mata pelajaran. Sampel diambil sebanyak 10% dengan jumlah 10 guru. Hasil pengumpulan data dengan teknik angket
dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan persentase kemudian dideskripsikan
sebagai gambaran kefektifan guru dalam membuat media pembelajaran untuk siswa SMA Negri 2 Semarang. Keefektifan guru
dalam membuat media pembelajaran untuk siswa SMA Negeri 2 Semarang dengan hasil perhitungan akhir termasuk dalam
kategori sangat baik 0%, baik 0%, cukup 90%, kurang 10%, dan sangat kurang 0%. Saran bagi guru perlu meningkatkan kefektifan
dalam membuat media pembelajaran, sehingga pemanfaatan fasilitas yang berupa media digunakan sesuai prosedur dapat
membantu proses kegiatan belajar mengajar yang lebih interaktif.
________________
Keywords:
effectiveness , the teacher
,learning media at SMA 2
Semarang.
____________________
Abstract
___________________________________________________________________
Not all of media that teacher have made and the medias that have been ready in the school can be used in learning process in the class. The learning
media should be used evaluated correctly, so the media will be worthwhile to use in learning process. Sometimes, the teachers force some of certain
medias which less qualified to use in learning process, they wouldn’t get increasing result in learning process. In otherwise, the different problem
comes from students which give unimportant comments about learning medias. This condition is not expected for the teachers. In conclusion, before
the teachers use learning media in learning process will be better if the teachers have evaluated to measure the effectiveness of learning media for
students in SMA 2 Semarang. The research method in this research used descriptive research. It has hold on April 30th - August 30th , 2013. The
population in this research are the original teachers in SMA 2 Semarang whis are still teaching based on their subjects. The sample picked up based
on 10% of 10 teachers. The result of data collection have got by questionnaire and documentation. The method of data analysis used descriptive
analyzing with percentage, then made a picture which explain the effectiveness of the teacher to make learning media at SMA 2 Semarang. The
effectiveness of the teacher in making learning media for students in SMA 2 Semarang based on final calculation include in catagories 0% very good,
0% good, 90% enough, 10% low and 0% lower. In concluded criticism is necessary for teachers So the learning media will be used as the procedure
to help learning process to teach more interactive.
© 2013 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi:
Gedung A3 Lantai 1 FIP Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail: [email protected]
ISSN 2252-6447
1
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
yaitu proses penyampaian pesan dari
PENDAHULUAN
Dalam
sumber pesan melalui media tertentu
meningkatkan
kepenerima pesan. Pesan, sumber pesan,
potensi
media, dan penerima pesan adalah
serta aktivitas belajar siswa menjadi
komponen-komponen
tanggung jawab seorang guru dengan
komunikasi.
menciptakan kegiatan belajar mengajar
yang
menyenangkan.
Seorang
lain ataupun penulis buku dan produser
media.
seorang guru adalah mengajar, mendidik
didik
Agar
guru
keterampilan,
menguasai
harus
Sebagai tindak lanjut dari hasil
dapat
diskusi dengan siswa untuk mencari
materi
menyampaikan
solusi permasalahan kelas yang berkaitan
mempunyai
kemampuan
pelajaran,
pelajaran
dengan media pembelajaran yang sering
dalam
digunakan
dan
media
meningkatkan
kegiatan yang melibatkan seseorang
nilai-nilai
Peneliti
kualitas
media
pembelajaran dan proses pembelajaran
dalam upaya memperoleh pengetahuan,
dan
pembelajaran.
menetapkan alternatif tindakan untuk
Pembelajaran merupakan suatu
keterampilan,
cguru sebgai alat untuk
meyampaikan materi dengan perantara
serta
melakukan evaluasi pelajaran dengan
baik.
media
juga guru (Sadiman, 2010 : 11).
melaksanakan tugasnya dengan baik,
seorang
adalah
penerima pesannya adalah siswa atau
serta psikomotorik yang optimal sesuai
kompetensi.
Salurannya
pembelajaran atau media pendidikan dan
dalam
mencapai kecerdasan kognitif, afektif
dengan
akan
Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang
penting dalam pembelajaran, tugas utama
peserta
yang
materi yang ada dalam kurikulum.
proses pembelajaran yang memiliki tugas
melatih
Pesan
dikomunikasikan adalah isi ajaran atau
guru
sebagai motor penggerak berjalannya
serta
proses
yang dapat mendorong keterlibatan siswa
positif
dalam
dengan memanfaatkan berbagai sumber
proses
pembelajaran
dan
meningkatkan aktivitas guru.
untuk belajar, sehingga pembelajaran
Keberhasilan
dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa
kegiatan
belajar
mengajar menentukan kesuksesan guru
sebagai pembelajar dan guru sebagai
dan
fasilitator.
sekolah
dalam
melaksanakan
pendidikan. Oleh sebab itu guru yang
Proses belajar mengajar pada
berhasil akan memerhatikan efektifitas
hakikatnya adalah proses komunikasi
2
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
kegiatan belajar mengajar di sekolahnya,
mengetahui
khususnya di dalam kelas. Efektifitas
disampaikan kepada siswa. Hasil yang
pemelajaran tidak bisa terjadi dengan
diperoleh dari evaluasi keefektifan guru
sendirinya, tetapi harus diupayakan oleh
dalam membuat media pembelajaran
guru melalui upaya penciptaan kondisi
akan memberi petunjuk kepada guru
belajar
mengajar
materi
apa
yang
telah
yang
kondusif
tentang bagian-bagian mana dari media
2006:35-55).
Menurut
pembelajaran tersebut yang sudah baik
Abdurahmat dalam (Daryanto 2013:20)
dan bagaimana pula yang belum baik,
bahwa: ”Efektivitas adalah pemanfaatan
sehingga belum dapat mencapai tujuan
sumber daya, sarana dan prasarana dalam
dari pengembangan media pembelajaran
jumlah
sadar
yang diharapkan yang dalam hal ini
untuk
terkait
(Rachman,
tertentu
ditetapkan
yang
secara
sebelumnya
menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat
keefektifan
dan
tujuan
Menurut Michael Marland (dalam
Tujuan dalam penelitian ini yaitu
membuat
pencapaian
pembelajaran yang telah disusun.
pada waktunya”.
menanalisis
dengan
Rachman,2006:62), seorang guru dapat
guru
dalam
dikatakan efektif apabila ia memiliki
memanfaatkan
media
sikap penuh perhatian dan pantang
pembelajaran, menaganalisis guru dalam
menyerah,
menarik motivasi belajar siswa SMA N 2
pahami, serta mampu mengelola kelas
Semarang.
dengan baik Seorang guru efektif sangat
Dalam
hal
ini
terdapat
penjelasannya
mudah
di
beberapa masalah yaitu bagaimana guru
memahami
dalam membuat media pembelajaran,
siswanya. Ia mengetahui kegemaran,
bagamaina desain media pmebelajaran
kelebihan, dan kekurangan siswanya. Hal
untuk menarik motivasi belajar siswa,
ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan
dan apakah guru mengerti mekanisme
pengendalian terhadap perilaku mereka.
penggunaan suatu media pembelajaran.
Ada
Berdasarkan permasalahan yang
dihadapi
oleh
siswa,
peneliti
akan
perhatian”
teknik
yang
bisa
menjadi
pilihan
dalam
mengendalikan siswa.
dibutuhkan oleh siswa, sehingga siswa
motivasi
beberapa
perilaku
digunakan guru apabila “mengalihkan
mengevaluasi media pembelajaran yang
mempunyai
perkembangan
Menurut Sondang P. Siagian
untuk
(dalam Daryanto, 2010:24) memberikan
memperhatikan media, sehingga siswa
definisi Efektivitas adalah pemanfaatan
3
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
sumber daya, sarana dan prasarana dalam
melalui metode proyek dengan semboyan
jumlah
sadar
learning by doing.
untuk
secara terminologi cukup beragam, sesuai
menghasilkan sejumlah barang atas jasa
dengan sudut pandang para pakar media
kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas
pendidikan. Sadiman dalam (Susilana,
menunjukkan
2009:8)
mengatakan
tercapai tidaknya sasaran yang telah
perantara
dan
ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin
pengirim ke penerima pesan. Asosiasi
mendekati sasaran, berarti makin tinggi
Teknologi dan Komunikasi Pendidikan
efektivitasnya”.
(Association
tertentu
ditetapkan
yang
secara
sebelumnya
keberhasilan
dari
segi
Communication
Menurut Michael Marland, guru
Pengertian
media
pengantar
of
media
adalah
pesan
dari
Education
and
Technology/AECT)
di
efektif apabila ia memiliki sikap penuh
Amerika, membatasi media sebagai segala
perhatian
menyerah,
bentuk yang diprogramkan untuk suatu
penjelasannya mudah dipahami, serta
proses penyaluran informasi. Gagne dalam
mampu mengelola kelas dengan baik.
(Musfiqon, 2012:27) menyatakan bahwa
Sedangkan pendapat Clara R. Pudji
media pembelajaran adalah berbagai jenis
Jogyanti, guru efektif adalah yang dapat
komponen dalam lingkungan siswa yang
meningkatkan kemampuan siswa kearah
dapat merangsang siswa untuk belajar.
positif melalui pengajarannya. Dengan
Jadi, media merupakan alat bantu yang
kata lain, guru efektif adalah yang
digunakan guru dengan desain yang
mampu mendayagunakan (empowering)
disesuaikan untuk meningkatkan kualitas
segala potensi dirinya dan diluar dirinya
belajar yang berfungsi untuk menjelaskan
untuk mencapai tujuan (http://ukiran-
sebagian
ukirancinta.blogspot.com/2009).
pembelajaran yang sulit dijelaskan secara
dan
pantang
dari
keseluruhan
program
verbal (Musfiqon, 2012:28).
Pada
kenyataannya,
seringkali
Tujuan
dari
evaluasi
media
guru yang aktif sehingga murid tidak
pengajaran menurut Azhar Arsyad (2003:
diberi kesempatan untuk aktif. Betapa
174)
pengtingnya aktivitas belajar murid dalam
keefektifan
proses belajar mengajar sehingga menurut
menentukan
John Dewey dalam (Daryanto, 2013:192)
diperbaiki atau ditingkatkan, menetapkan
mengemukan
apakah media itu cost-effektive dilihat dari
pentingnya
prinsip
ini
4
sebagai
berikut:
media
apakah
Menentukan
pengajaran,
media
dapat
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
hasil belajar siswa, memilih media yang
guru. Oleh karena itu sebelum guru
sesuai untuk digunakan dalam proses
menggunakan
belajar-mengajar, menentukan apakah isi
pembelajaran alangkah lebih baik jika
pelajaran sudah tepat disajikan dengan
evaluasi terlebih dahulu secara cermat
media itu, menilai kemampuan guru
(Susilana, 2009:208).
menggunkan media, mengetahui apakah
pengajaran
benar-benar
sumbangan
terhadap
Kedua,
memberikan
hasil
media
mekanisasi
dalam
melihat
penggunaan
proses
prosedur/
sesuatu
alat
belajar,
,Mekanisasi penggunaan suatu media
mengetahui sikap siswa terhadap media
merupakan salah satu bagian penting
pengajaran.
dalam pengembangan media yang harus
Terkait dengan uraian tersebut,
devaluasi. Prinsipnya, media pembelajaran
evaluasi media yang dilaksanakan pada
yang dibuat harus mudah digunakan oleh
dasarnya difokuskan kepada 5 tujuan.
pemakai. Tidak jarang menemukan media
Pertama, dalam memilih media
dengan tampilan yang begiru bagus
pendidikan yang akan dipergunakan oleh
namun pada saat akan digunakan malah
kelas Tidak semua media yang dibuat oleh
macet
guru dan yang telah tersedia disekolah
dioperasikan. Hal tersebut harus dihindari
dapat
dalam pembelajaran
sehingga media yang telah kita gunakan
dikelas. Media pembelajaran yang dapat
tidak sia-sia hanya karena persoalan
digunakan di kelas semestinya harus
teknis. Oleh karena itu evaluasi media pun
benar-benar media yang telah devaluasi
harus darahakan untuk melihat sejauh
dengan sebaik-baiknya sehingga media
mana media yang digunakan memenuhi
tersebut
kelayakan
digunakan
benar-benar
layak
untuk
digunakan. Adakalanya guru memaksakan
sehingga
kelayakan
bukan
untuk
teknis
susah
untuk
penggunaannya
Ketiga, memeriksa apakah tujuan
digunakan
peningkatan
bahkan
(Susilana, 2009:209).
media tertentu yang kurang memenuhi
syarat
atau
penggunaan alat tersebut telah tercapai,
proses
setiap
media
pembelajaran
tentunya
pembelajaran yang dirasakan, sebaliknya
memiliki karateristik dan manfaat yang
beragam masalah baru muncul misalnya
berbeda antara media yang satu dengan
komentar-komentar yang kurang penting
yang lainnya terkait dengan pencapaian
yang terlontar dari siswa. Kondisi seperti
tujuan pembelajaran. Dengan dilakukan
ini tentu bukan hal yang diharapkan oleh
evaluasi
5
kita
akan
dapat
mengukur
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
sejauhmana media yang ada dengan
guru-guru dalam memanfaatkannya tentu
keunggulan-keunggulannya
tersebut
akan sangat besar pengaruhnya terhadap
dalam
pencapaian tujuan program pembelajaran
dimanfaatkan
secara
meningkatkan
Keberadaan
bukan
optimal
kualitas
media
sekedar
pembelajaran.
tersebut
untuk
disekolah
tentunya
itu
pencapaian
memamerkan
yang
mutu
keseluruhan
berujung
pendidikan
(Susilana,
pada
secara
2009:210).
berbagai media kepada siswa akan tetapi
Kelima, memberikan informasi untuk
lebih
kepentingan
diarahkan
untuk
menfasilitasi
administrasi,
media
pengalaman belajar tertentu yang hanya
pembelajaran dan pemanfaatannya harus
bisa diperoleh melalui media tersebut
dikelola dengan baik melalui proses
(Susilana, 2009:209).
pengadministrasian yang sesuai dengan
Keempat,
menilai
kemampuan
aturan yang berlaku. Keberadaan dan
guru menggunakan media pendidikan,
keberfungsian media di sekolah harus
evaluasi
pun
selalu dievaluasi secara berkala sehingga
diarahkan untuk menilai sejauh mana
dapat membantu peningkatannya kualitas
kemampuan guru menggunakan media
pembelajaran disekolah. Hasil evaluasi ini
yang ada disekolah termasuk juga media
akan sangat bermanfaat untuk menjadi
yang
sendiri.
bahan pertimbangan dalam pengelolaan
kegiatan
media termasuk aspek administrasinya
media
telah
Seringkali
pembelajaran
dikembangkan
dtemukan
pembelajaran
dengan
dalam
memanfaatkan
(Susilana, 2009:211).
media guru kurang maksimal dalam
Selanjutnya evaluasi media pada
menggunakannya. Hal tersebut mungkin
akhirnya akan terkait dengan kondisi
saja diakibatkan karena pengetahuan dan
media itu sendiri. Media yang ada
keterampilan guru belum memadai atau
disekolah
bahkan
bagaimana
kelayakan pakai setiap saat, sehingga jika
menggunakan satu media. Tidak jarang
akan digunakan tidak ada masalah dan
ada sekolah dengan fasilitas media yang
langsung dapat dipakai. Dengan demikian
memadai namun karena gurunya tidak
melalui proses evaluasi media ini akan
mampu menggunakan media-media yang
dapat teridentifikasi (Susilana, 2009:212).
tidak
menguasasi
harus
dievaluasi
tingkat
ada akhirnya media-media tersebut sia-sia
Guru
adanya. Padahal jika keberadaan media
diharapkan
untuk
mengevaluasi media pembelajaran itu
tersebut ditunjang dengan kemampuan
6
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
yang sesuai dengan kebutuhan siswa,
adalah metode observasi, angket, dan
sehingga guru bisa melihat kekurangan
wawancara. Jenis data dalam penelitian
siswa dalam proses belajar mengajar.
ini adalah data primer yang diambil
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
secara
mencari
jawaban
peneliti. Penelitian ini dilaksanakan di
Pertama
guru
dari
pertanyaan.
di
lapangan
oleh
media
SMA Negeri 2 Semarang yang beralamat
perantara
jl. Sendangguwo Baru No.1. Populasi
menyampaikan pesan kepada siswa pada
dalam penelitian ini adalah guru SMA
saat proses pembelajaran, kedua seberapa
Negeri 2 Semarang yang masih aktif
tingkat kualitas dan isi tujuan media,
mengampu semua mata pelajaran yang
ketiga kualitas pembelajaran guru dan
menngunakan
kualitas teknik guru dalam membuat
jumlahnya 55 orang.
pembelajaran
menggunakan
langsung
sebagai
alat
media
pemebelajaran,
media pembelajaran.
Dalam
METODE PENELITIAN
subjek yang ada di dalam populasi
sehingga
yang diteliti, penelitian ini menggunakan
subjek
untuk mendeskripsikan segala sesuatu
dengan
metode
“metode
yang
deskriptif
penelitian
yang
dipilih
(2006:134)
jika
jumlah
karena jumlah populasi sebanyak
adalah:
55
guru mata pelajaran, maka peneliti
berusaha
mengambil sampel 10 guru SMA Negeri
2 Semarang.
Variabel dalam penenlitian ini
kaitannya dalam penelitian deskriptif
diambil dari juduk keefektifan guru
yang dilakukan, maka hasil penelitian
dalam
kesempatan
di ambil sampel antara 10-15%. Oleh
dimaksud
objek sesuai dengan apa adanya”. Dalam
digambarkan
mempunyai
subjeknya lebih dari seratus maka dapat
(dalam
menggambarkan dan menginterpretasi
akan
memiliki
Arikunto,
dalam membuat media pembelajaran di
Sukardi,2008:157)
subjek
menjadi sampel. Menurut Suharsimi
yang berkaitan dengan keefektifan guru
Best
semua
kesempatan yang sama. Maka setiap
deskriptif prosentase. Hal ini bertujuan
Menurut
sampel
teknik ini, peneliti mengacak subjek-
Berdasarkan lingkup permasalahan
sekolah.
pengambilan
dalam membuat media pembelajaran
bentuk
SMA Negeri 2 semarang. Guru sebagai
prosentase. Metode pengumpulan data
fasilitator untuk menyampaikan pesan
yang digunakan dalam penelitian ini
7
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
kepada murid harus memahami prosedur
Dalam
keefektifan
membuat
dan mekanisme dalam membuat alat atau
media pembelajaran guru dalam ketetapan
media pembelajaran. Setelah prosedur
media sudah pada level yang baik, sesuai
dan mekanisme dalam membuat media
jawaban angket yang dibagikan kepada
guru juga perlu menguasai saat proses
guru tentang ketetapan media sebanyak 10
pembelajaran . Seorang guru yang telah
responden dengan persentase 100 % dan
menggunakan fasilitias media di dalam
sesuai jawaban angket siswa sebanyak 20
pembelajarannya
mempunyai
responden dengan persentase 57,14% .
alasan, alasan itu juga menjadi variabel
Dalam hal ini guru semua mata pelajaran
penelitian.
tetap menggunakan fasilitas media seperti
pasti
Teknik pengumpulan data yang
digunakan
dalam
ini
selama satu hari yang menggunakan
yaitu
fasilitas media pembelajaran dikelas dan 3
observasi dan kuesioner. Data yang
kali pertemuan dalam 1 hari menggunakan
diperoleh dari hasil observasi akan
media pembelajaran sesuai dengan materi
dianalisa secara prosentase dan disajikan
yang dibahas oleh guru
menggunakan
penelitian
LCD sebanyak 3 kali guru mata pelajaran
dua
metode,
dengan metode deskriptif porsentase.
Berdasarkan angket yang dijawab
oleh
HASIL DAN PEMBAHASAN
responden
siswa
guru dalam membuat media pembelajaran
pendidikan
Hubungan
pada
lain-lainnya,
internet, LKS, buku paket dan siswa
mehamai
Motivasi,
pengguna,
dan
dalam
media
dari guru sebanyak 10 responden dengan
Kualitas
Kualitas
materi
pembelajaran. Berdasarkan jawab angket
program
prosentase 1000%
pemberian tes dan penilaian, Kemudahan
pada
sebanyak 13 responden dengan
pembelajaran dengan sumber lain dari
Daya tarik Media, Kelayakan pengguna,
Keluwesan,
dengan
tergolong baik. Guru melengkapi media
Ketetapan Media, Kelengkapan Media,
Kualitas
baik
7
media yang dibuat oleh guru sudah
angket yang diterima oleh responden
Media,
menyatakan
sebanyak
persentasi 37,14% bahwa kelengkapan
dari masing-
masing indikator penelitian sesuai dengan
Persiapan
guru
prosentase 70% dan berdasarkan angket
Deskriptif gambaran keefektifan
SMA Negeri 2 Semarang
responden
menyatakan dalam
kategori cukup dan berdasarkan jawaban
dari
angket dari siswa 10 responden dengan
tampilan.
8
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
persentasi 28,57% menyatakan bahwa
media pembelajaran, guru menggunakan
daya
buku, internet dan alat peraga yang
tarik
dalam
pembuatan
media
pembelajaran yang dibuat oleh guru
disiapkan secara cukup baik.
tergolong kurang. Siswa merasa kurang
Berdasarkan jawab angket dari
semangat untuk mengikuti pelajaran pada
guru
saat kegiatan belajar mengajar media
prosentase 40%
pembelajaran yang dibuat oleh guru cukup
kategori baik
menarik siswa.
angket dari siswa sebanyak 14 responden
Berdasarkan jawab angket dari
guru
sebanyak
7
prosentase 70%
responden
sebanyak
4
responden
menyatakan dalam
dan berdasarkan jawaban
dengan persentasi 40%
dengan
dengan
menyatakan
bahwa kualitas motivasi media yang
menyatakan dalam
dibuat
oleh
guru
tergolong
cukup.
kategori cukup dan berdasarkan jawaban
Berdasarkan jawaban angket yang dijawab
angket dari siswa sebanyak 13 responden
responden, media yang dibbuat oleh guru
dengan persentasi 37,14% menyatakan
mengandung
bahwa dalam kelayakan media tergolong
memotivasi siswa sudah cukup baik untuk
cukup. Responden menyatakan cukup
siswa menjadi semangat dalam kegiatan
dalam media pembelajaran yang dibuat
belajar mengajar.
oleh guru cukup mempermudah guru
pesan-pesan
untuk
Berdasarkan jawab angket dari
dalam membantu menyampaikan materi,
guru
dan guru cukup mudah dalam mengajar
prosentase 50%
karena adanya media pembelajaran yang
kategori baik dan berdasarkan jawaban
sebagai perantara untuk menyampaikan
angket dari siswa sebanyak 12 responden
materi.
dengan
Berdasarkan jawab angket dari
guru
sebanyak
4
prosentase 40%
responden
sebanyak
5
responden
dengan
menyatakan dalam
persentasi
34,29
menyatakan
keluwesan media yang dibuat oleh guru
dengan
tergolong cukup. Berdasarkan jawaban
menyatakan dalam
angket yang dijawab responden,
media
kategori cukup dan berdasarkan jawaban
yang dibbuat oleh guru dalam ahli
angket dari siswa sebanyak 11 responden
membuat media dan tidak pernah terjadi
dengan
bahwa
hambatan oleh guru saat menyampaikan
persiapan media pembelajaran yang dibuat
materi dengan media sudah cukup baik.
oleh guru tergolong baik. Responden
Berdasarkan jawab angket dari
persentasi
31,43%
menyatakan bahwa guru dalam persiapan
guru
9
sebanyak
8
responden
dengan
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
prosentase 80%
menyatakan dalam
Berdasarkan jawab angket dari
kategori cukup dan berdasarkan jawaban
guru
angket dari siswa sebanyak 14 responden
prosentase 80%
dengan
menyatakan
kategori baik dan berdasarkan jawaban
hubungan media pada program pendidikan
angket dari siswa berdasarkan kualitas
lain-lainnya
dari tampilan media yang dibuat oleh
persentasi
membuat
40%
tergolong
media
baik.
Guru
pembelajaran
sesuai
guru,
sebanyak
13
8
responden
dengan
menyatakan dalam
responden
dengan
37,14
tergolong
baik.
dengan tujuan dari media sesuai dengan
menyatakan
RPP (Rencana perencanaan pembelajaran)
Berdasarkan jawaban angket yang dijawab
yang sudah cukup baik.
responden, karena media yang dibuat oleh
Kualitas
pemberian
tes
dan
sudah
guru ada respon antara guru dengan
penilaian media yang dibuat oleh guru
murid,termotivasi dan informative
tergolong cukup berdasarkan jawab angket
SIMPULAN
dari guru sebanyak 6 responden dengan
prosentase 60%
menyatakan dalam
Berdasarkan
kategori cukup dan berdasarkan jawaban
guru
dengan persentasi 31,43% menyatakan
prosentase 60%
cukup baik.
dengan
kemudahan
tergolong
pada
baik.
Berdasarkan
materi
dalam
media
Berikutnya guru dalam
penelitian diperoleh sudah cukup baik.
Selanjutnya
media
menggunakan
jawaban
mekanisme
dalam
fasilitas
media
pembelajaran yang berada dikelas sebagai
angket yang dijawab responden, karena
pesan
perantara
proses pembelajaran sesuai dengan hasil
menyatakan
pengguna
alat
menarik motivasi siswa dalam mengikuti
angket dari siswa 12 responden dengan
34,24%
sebagai
media
mendesain media pembelajaran untuk
menyatakan dalam
kategori baik dan berdasarkan jawaban
persentasi
menggunakan
saat proses pembelajaran sudah tergolong
Berdasarkan jawab angket dari
responden
dan
menyampaikan pesan kepada siswa pada
84 dan 50-74 saat ulangan harian.
6
dalam
pembelajaran
baik, karena siswa mendapatkan nilai 75-
sebanyak
tujuan
rumusan masalah dapat diambil simpulan
angket dari siswa sebanyak 11 responden
guru
pada
perantara untuk menyampaikan materi
mudah
kepada siswa sudah cukup baik.
dipahami,jelas dan mudah untuk dicerna
siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
10
Deny Wicaksono / Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 1 (1) (2014)
Sadiman, Arief S. 2010 : Media
Pendidikan. Jakarta : PT Raja
Grafindo
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih
Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian
Pendidikan (Kompetensi dan
Praktiknya). Jakarta : PT Bumi
Aksara.
kepada: Drs. Nurussa’adah, M.Si, Ketua
Jurusan
Kurikulum
dan
Teknologi
Pendidikan, kepala sekolah dan jajaran
guru SMA 2 Semarang yang telah
berkenan
menjadi
subyek
Susilana, Rudi dan Riyana, Cepi. 2009
:Media Pembelajaran (hakikat,
Pengembangan,
Pemanfaatan
dan Penilaian). Bandung : CV
Wacana Prima
penelitian
selaku dan membantu dalam pelaksanaan
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Guru masa depan. ukirancinta.blogspot.com/2009/06/
guru-powerfull-guru-masadepan.html . 16 maret 2013.
Anonim.2012.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta :
PT Bumi Aksara.
Arsyad,
Azhar.1997.
Media
Pembelajaran, Devisi Buku
Perguruan Tinggi. Jakarta :
PT.Raja Grafindo
Daryanto. 2013. Inovasi Pembelajaran.
Bandung : Yrama Widya.
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran.
Yogyakarta : Gava Media.
Musfiqon, 2012. Pengembangan Media
dan Sumber Pembelajaran.
Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya
Rachman, Arief. 2006. Kunci Sukses
Menjadi Guru yang Efektif.
Bandung : Kolbu
11
Download