Indonesian Journal of Curriculum and Educational

advertisement
IJCETS 3 (1) (2014): 26-32
Indonesian Journal of Curriculum and
Educational Technology Studies
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jktp
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS BUDAYA JAWA UNTUK
MENGOPTIMALKAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK DI TAMAN
KANAK-KANAK NEGERI PEMBINA SURAKARTA
Imam Teguh Santoso*, Titi Prihatin, Rafika Bayu Kusumandari 
Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang
Semarang 50229, Indonesia
Info Artikel
Abstrak
Sejarah Artikel:
Diterima Mei 2014
Disetujui Mei 2014
Dipublikasikan
November 2014
Pengembangan bahan ajar berbasis budaya jawa bertujuan untuk mengenalkan budaya
local dan menanamkan karakter yang ada di dalam budaya lokal kepada generasi
muda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Research and Development (R
&D). Metode penelitian ini digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan
menguji keefektifan produk yang dihasilkan. Hasil penelitian diperoleh dari angket
validasi oleh pakar ahli dan tanggapan guru bahan ajar dinyatakan layak, untuk
selanjutnya digunakan dalam pembelajaran sehari-hari. Hasil keaktifan siswa dan
tanggapan guru dalam pembelajaran memberikan tanggapan yang sangat baik.
________________
________________
Keywords: development,
teaching materials,
Javanese culture
__________________________________________________________________________________________
Abstract
__________________________________________________________________________________________
The Development of teaching materials based on Java cultures aimed to introduce the
culture of local culture and embed the characters which are in the local culture to the
younger generation. The research method is the Research and Development (R & D). This
is used to produce a particular product and test its effectiveness. The results of validation
questionnaireby expert lecturers and teacher response ofteaching materials are feasible,
and furthermore it can use in daily learning. The results of students activity and teachers
responsesin learning give a very good response.

© 2014 Universitas Negeri Semarang
Alamat korespondensi:
Gedung A3 Lantai 1 FIP Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail: [email protected]
ISSN 2252-6447
26
Imam Teguh Santoso dkk/ Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 3 (1) (2014)
PENDAHULUAN
Indonesia mengalami krisis dalam
berbagai
bidangseperti
dalam
bidang
pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
Kecintaan dan pengabdian terhadap bangsa
terkikis karena pengaruh dari gaya hidup luar.
Krisis ini kuncinya terletak pada sumber daya
manusia. Untuk itu perlu peningkatan kualitas
SDM melalui pembentukan karakter bangsa.
Hal ini terjadi karena kemajuan bangsa terletak
pada karakter bangsa tersebut.
sebaliknya. Usia dini merupakan masa kritis
bagi
pembentukan
karakter
seseorang,
penanaman moral melalui pendidikan karakter
sedini mungkin kepada anak–anak adalah kunci
utama membangun bangsa. Apabila pada usia
dini anak tidak diberi pendidikan, pengasuhan,
stimulasi yang baik maka akan berpengaruh
terhadap struktur perkembangan otak anak
tersebut.
Pada usia dini anak–anak cenderung
meniru atau mencontoh hal–hal yang ada di
lingkungan mereka, dimana pada anak usia dini
proses inilah yang pertama mereka lakukan
dalam memenuhi rasa ingin tahu dan merespon
stimulasi lingkungan. Anak akan meniru semua
yang mereka lihat, dengar dan rasakan dari
lingkunga (Yusuf, 2000).
Karakter perlu dibentuk dan dibina
sedini mungkin agar menghasilkan kualitas
bangsa yang berkarakter. Papalia (2008:370)
dan Brewer (2007:20) mengatakan bahwa
kesuksesan anak mengatasi konflik pada usia
dini menentukan kesuksesan anak dalam
kehidupan sosial dimasa dewasa kelak. Dengan
demikian, pendidikan karakter potensial untuk
dibentuk sejak usia dini terkait masa keemasan.
Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna
yang sama dengan pendidikan moral dan
pendidikan akhlak. Tujuan dari pendidikan
tersebut adalah membentuk pribadi anak,
supaya menjadi manusia yang baik, masyarakat,
dan warga negara yang baik. Adapun kriteria
manusia yang baik, warga masyarakat yang
baik, dan warga negara yang baik bagi suatu
masyarakat atau bangsa, secara umum adalah
nilai–nilai sosial tertentu, yang banyak
dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan
bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari
pendidikan karakter dalam konteks pendidikan
di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni
pendidikan nilai–nilai luhur yang bersumber
dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam
rangka membina kepribadian generasi muda
(www.guruidaman.blogspot.com, 2012). Untuk
mewujudkan kepribadian generasi muda yang
baik maka harus diterapkan pendidikan
karakter sedini mungkin, salah satunya melalui
pendidikan anak usia dini. Pendidikan anak
usia dini merupakan pendidikan awal
pembentukan manusia. Pada usia ini otak
berkembang 80 persen sampai usia 8 tahun.
Penelitian menunjukkan bahwa anak lahir
dengan 100 milyar sel otak. Ketika memasuki
usia dini, koneksi tersebut berkembang sampai
beberapa kali lipat dari koneksi awal yaitu
sekitar 20.000 koneksi (Jalongo, 2007:77). Hal
ini
yang
menyebabkan
anak
mampu
menyerap segala sesuatu dari lingkungannya
dengan sangat luar biasa. Lingkungan yang
diserap dapat positif atau negatif. Jika anak
berada dalam lingkungan yang positif maka
anak terbentuk positif demikian pula
Proses selanjutnya anak akan belajar
mengenali semua perilaku yang ditirunya dan
mulai biasa membedakan mana perilaku yang
dapat diterima dan memberikan dampak positif
serta mana perilaku yang tidak bisa diterima
dan memberikan dampak negatif. Setelah
mereka dapat membedakan mana yang baik,
dan mana yang kurang baik kemudian anak
mulai membiasakan perilaku–perilaku yang
baik dan diberi penguatan sesuai dengan nilai–
nilai dan norma yang berlaku. Dari sinilah
kemudian membentuk pemahaman anak dan
pondasi kepribadian anak secara utuh.
Sebagai contohnya seorang anak meniru
tokoh kartun yang suka melempar barang
ketika bertarung, dan biasanya dilakukannya
ketika anak sedang bermain dengan teman–
temannya. Orang tua dan gurunya membantu
anak membantu memahami bahwa melempar
barang kepada teman tidak bisa diterima
karena akan menyakiti teman dan hal tersebut
tidak sopan, maka disini anak belajar untuk
membedakan perilaku mana yang bias diterima
oleh masyarakat dan yang mana yang tidak
diterima. Sedangkan perilaku yang baik yang
ditiru oleh anak diberi penguatan dan pujian
atau hadiah yang lain sehingga akan berulang
dan cenderung menetap. Kebiasaan dan
pemahaman terhadap perilakunya inilah yang
kemudian terinternalisasi dalam karakternya
dan menjadi komponen dalam pembentukan
kepribadianya. Untuk
itu
anak
harus
dibiasakan untuk berada dalam lingkungan
yang positif sehingga menghasilkan kebiasaan
yang positif. Lingkungan disekitar anak
mencakup keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pendidikan dalam keluarga mewarisi nilai
27
Imam Teguh Santoso dkk/ Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 3 (1) (2014)
budaya yang didapat secara turun temurun.
Orang tua mendidik anak sesuai dengan
bagaimana cara nenek moyang mendidik anakanaknya. Lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat yang berbudaya memberi peluang
bagi pendidikan karakter untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya yang positif
dalam dunia pendidikan (Santrock, 2006).
penelitian ini adalah modul berbasis budaya
Jawa
bertema
wayang
kulit
untuk
menggoptimalkan pembelajaran di Taman
Kanak-Kanak. Penelitian pengembangan bahan
ajar ini mengacu pada model pengembangan 4D. Pengembangan 4-D adalah pengembangan
yang terdiri dari 4 tahap yaitu Define, Design,
Develop, Disseminate yang kemudian diadaptasi
menjadi pendefinisian, perencanaan, pengembangan, dan penyebaran (Thiagarajan,
1974). Langkah–langkah pengembangannya sebagai berikut.
Akan
tetapi
pada
kenyataannya
dilingkungan sekolah TK atau PAUD para
pendidik lebih cenderung memilih bahan ajar
menonjolkan tokoh–tokoh yang dibuat oleh
pihak luar negeri dalam pembelajaran sehingga
anak–anak cenderung lebih mengenal Doraemon, Superman, dan super hero lainya dari
pada punokawan, pandawa maupun tokoh
wayang yang lain. Mereka beralasan bahwa
bahan ajar tersebut lebih mudah dijumpai dari
pada bahan ajar yang berbasis budaya lokal.
Mereka mengatatan bahwa bahan ajar yang
berbasis budaya lokal sangat langka sehingga
mereka lebih memiih bahan ajar yang
menonjolkan tokoh-tokoh luar negeri.
Pertama, menetapkan dan men-definisikan syarat-syarat pembelajaran yang diawali
dengan analisis tujuan dari batasan materi yang
dikembangkan perangkatnya. Tahap ini
meliputi: (1) analisis kebutuhan; (2) perumusan
tujuan pembelajaran; (3) analisis materi.
Kedua, menyiapkan prototipe perangkat
pembelajaran. Tahap ini meliputi: (1) Penyusunan tema hasil dari tahap pendefinisian.
(2) Pembuatan media yang sesuai untuk
menyampaikan materi pelajaran.
Oleh karena itu, perlu dikembangkannya
bahan ajar yang berbasis budaya lokal untuk
melestarikan budaya lokal. Salah satunya
dengan mengembangkan bahan ajar berbasis
budaya bertemakan wayang kulit dengan bahan
ajar ini anak–anak dapat mengenal tokoh
pewayangan. Disamping untuk melestarikan
budaya lokal yang berupa wayang anak anak
juga diharapkan mampu meniru nilai–nilai
luhur karakter tokoh pewayangan.
Ketiga, menghasilkan perangkat pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan
masukan dari pakar. Tahap ini meliputi
beberapa langkah yaitu: (1) validasi perangkat
oleh para pakar diikuti dengan revisi; (2) uji
coba terbatas dengan siswa yang sesungguhnya;
(3) Hasil tahap pertama dan kedua digunakan
sebagai dasar revisi.
Keempat, tahap ini merupakan tahap
penggunaan perangkat yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas, misalnya di kelas
lain, di sekolah lain, dan oleh guru lain.
Penelitian ini sudah dilaksakan di TK
Pembina Negeri Surakarta, pada tahap skala
kecil dilaksanakan di TK Pembina dengan
sempel 6 anak pada kelas A3, siswa dipilih
berdasarkan nilai yang terdiri dari 2 anak
kelompok atas, 2 anak kelompok tengah dan 2
anak kelompok bawah, untuk kategori
kelompok atas berdasarkan nilai 85 sampai 100,
kategori kelompok tengah 70 sampai 84
sedangkan kelompok bawah dengan nilai
dibawah 70. Skala besar mengambil satu kelas
A1 di TK Pembina, dan pada tahap penerapan
dilakukan di kelas A2 di TK Pembina.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan
peneliti dalam penelitian terdapat beberapa
metode. Pertama adalah metode wawancara.
Metode wawancara dilakukan oleh peneliti
untuk mengetahui sumber belajar yang selama
ini digunakan di TK khususnya dalam pembelajaran yang bertema pengenalan budaya.
Selain itu kegiatan wawancara ini untuk
mengetahui tingkat pengetahuan anak dalam
mengenal budaya lokal.
Kedua, metode dokumentasi. Metode ini
digunakan sebagai bukti pelaksanaan penelitian
yang telah dilakukan. Metode ini data yang
dihasikan berupa gambar atau foto pelaksanaan
penelitian.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dirancang menggunakan
pendekatan Research and Development (R&D).
Metode penelitian R & D digunakan untuk
menghasilkan produk tertentu dan menguji
keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2009).
Adapun yang akan dikembangkan dalam
Ketiga metode angket, Metode angket
dalam penelitian ini berupa angket penilaian
28
Imam Teguh Santoso dkk/ Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 3 (1) (2014)
pakar ahli yang digunakan untuk menguji
kelayakan bahan ajar yang telah dikembangkan.
merupakan halaman awal yang menunjukan
judul dari bahan ajar yaitu mari mengenal
wayang kulit dan bebarapa gambar wayang
kulit yang menunjukan suasana tentang isi dari
bahan ajar. Pada halaman cover juga dilengkapi
nama penulis. Kata pengantar di dalam bahan
ajar berisi sambutan, petunjuk penggunaan
bahan ajar dan harapan-harapan yang ingin
dicapai, setelah menggunakan bahan ajar. Pada
halaman petunjuk penggunaan bahan ajar tata
cara menggunakan bahan ajar. Daftar isi
memuat segala isi yang terdapat di dalam bahan
ajar.
Keempat metode observasi, dalam
penelitian ini metode observasi digunakan
untuk mengetahui aktifitas anak dalam
pembelajaran menggunakan bahan ajar yang
telah dikembangkan dikembangkan.
Analisis data dalam penelitian diperoleh
dari data angket validasi oleh pakar ahli, angket
tanggapan guru mengenai bahan ajar, dan
angket keefekifan penerapan bahan ajar.
Kemudian data yang diperoeh dianalisis dengan
cara diskriptif presentase.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari langkah-langkah pengembangan 4-D,
peneliti memodifikasi langkahlangkah tersebut
menjadi dua tahapan yaitu tahap persiapan dan
tahap pelaksanaan Pertama, tahap persiapan.
Tahap persiapan dimulai dari observasi awal,
observasi awal dilakukan untuk mengidentifikasi masalah dan mengumpulkan data
guna menentukan tujuan penelitian yang akan
dicapai dengan cara melakukan observasi ke
sekolah yang akan dijadikan sebagai tempat
penelitian. Pada tahap ini diketahui bahwa di TK
Negeri Pembina Surakarta belum terdapat atau
disajikan bahan ajar yang berbasis budaya Jawa
dalam pembelajarannya.
Setelah melakukan observasi kemudian
Peneliti merumuskan masalah yang berkaitan
dengan objek yang akan diteliti, yaitu
bagaimanakah pengembangan bahan ajar
berbasis budaya Jawa dan apakah bahan ajar
tersebut layak digunakan dalam pembelajaran
di TK.
Gambar 1. Cover
Kemudian Bagian isi, bagian ini memuat
gambar berwarna tokoh wayang, di setiap tokoh
memiliki karakarakter atau sifat yang berbeda.
Di samping terdapat gambar yang berwarna
terdapat juga gambar hitam putih disini para
anak dituntut untuk sekreatif mungkin dalam
mewarnai gambar wayang yang hitam putih
tersebut.
Kemudian peneliti mendesain bahan ajar
yang berisi tentang gambar tokoh dari
pewangan Jawa. selain berisi gambar, bahan
ajar ini juga terdapat bagian–bagian untuk
diwarnai oleh anak-anak hal ini diadakan
supaya anak-anak tertarik untuk menggunakan
bahan ajar ini.
Bahan ajar yang telah didesain kemudian
dikembangkan. Bahan ajar yang dikembangkan
merupakan Bahan ajar berbasis budaya Jawa.
Bahan ajar tersebut terdiri dari tiga bagian yaitu
pembuka, isi, dan penutup. Bahan ajar yang
dikembangkan diilustrasikan sebagai berikut.
Pada bagian pembukaan terdiri dari
cover, kata pengantar, daftar isi, halaman
petunjuk penggunaan bahan ajar.
Cover
29
Imam Teguh Santoso dkk/ Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 3 (1) (2014)
Gambar 4. Halaman Mewarnai
Gambar 2. Daftar isi
Bagian terakhir adalah Bagian penutup, bagian
penutup berisi daftar pustaka yang menjadi
acuan materi yang ada didalam bahan ajar yang
telah dikembangkan.
Setelah mengembangkan bahan ajar
kemudian peneliti menyusun instrument
instrument pengumpulan data. Di dalam
penelitian yang sudah dilakukan peneliti
menyusun beberapa instrument diantaranya:
instrument kelayakan bahan ajar, intrumen
angket tanggapan guru mengenai penggunaan
bahan ajar, dan instrument observasi aktifitas
anak.
Instrument kelayakan
bahan ajar
terdapat 25 aspek yang dinyatakan dalam
penilaian
yang
mencakup
kelengkapan
komponen bahan ajar. Penilaian para pakar
disesuaikkan pada beberapa aspek pernyataan
yang ada pada kelayakan kelengkapan bahan
ajar, kebahasaan, dan penyajian. Jumlah aspek
penilaian yang disusun oleh peneliti pada
kelayakan isi bahan ajar berjumlah 5 aspek,
yang mencakup tentang kelengkapan bahan ajar
diantaranya: bagaimana tampilan bahan ajar
apakah sudah sesuai dengan tema bahan ajar,
bagaimana kegiatan didalam bahan ajar
menumbuhkan rasa ketertarikan siswa dalam
menggunakan bahan ajar, kegiatan inti (materi
bahan ajar sesuai dengan tema bahan ajar),
Gambar 3. Halaman Bergambar
30
Imam Teguh Santoso dkk/ Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 3 (1) (2014)
bahan ajar mengandung nilai-nilai karakter
berbudaya lokal, bahan ajar dapat mengenalkan
budaya lokal.
Kemudian instrument observasi aktivitas
anak di sekolah. Instrument pengamatan
tersebut terdiri dari 5 aspek pernyataan sikap
anak diantara lain: apakah anak memperhatikan
guru dalam pembelajaran, apakah anak
menggunakan bahan ajar yang dikembangkan,
ketertarikan
anak
dalam
pembelajaran
menggunakan bahan ajar yang dikembangkan,
sikap
anak
terhadap
temannya
saat
pembelajaran, sikap anak diluar jam pelajaran
(jam istirahat) Setiap pernyataan diberi skor 14 sama dengan instrument tanggapan guru
mengenai bahann ajar.
Sedangkan pada komponen penyajian
berjumlah 10 di antaranya: memuat gambar
yang relevan dengan tema bahan ajar. Ukuran
gambar proposional secara klasikal. Isi bahan
ajar disajikan secara sistematis. Desain bahan
ajar menarik untuk siswa. Desain bahan ajar
memotivasi anak untuk menggunakan bahan
ajar. Font yang digunakan di dalam bahan ajar
dapat terbaca dengan baik. Warna tulisan
menarik perhatian anak, Penggunaan font, jenis,
dan ukuran proposional. Layout bahan ajar
sesuai dengan tema bahan ajar. Tata letak
gambar maupun tulisan baik (tidak ada ruang
yang kosong),
Tahap kedua. tahap penelaksanan, pada
tahap ini bahan ajar yang dikembangkan
divalidasi oleh pakar ahli. Bahan ajar yang
divalidasi mendapatkan skor 3,88. Skor ini
diperoleh dari rerata skor validasi, di mana
jumah skor validasi mendapatkan nilai 90
kemudian dibagi jumlah aspek pernyataan yang
berjumlah 25, kemudian dikalikan 100% Maka
bahan ajar mendapatkan skor 3,88. Bahan ajar
dinyatakan layak jika nilai skor di atas atau
sama dengan nilai 2,06 dan tidak layak
digunakan jika mendapatkan skor dibawah atau
sama dengan 2,05 (BSNP, 2008). Maka bahan
ajar yang telah dikembangkan dinyatakan layak
untuk digunakan dalam pembelajaran.
Dan komponen kebahasaan berjumlah 10
aspek di antaranya: bahasa yang digunakan
sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Bahasa yang digunakan mudah dimengerti.
Bahasa yang digunakan mudah dipahami.
Bahasa yang digunakan mudah diingat. Basaha
yang digunakan memperjelas informasi yang
disampaikan. Tata bahasa sesuai dengan EYD
(Ejaan Yang Disempurnakan). Kalimat atau kata
yang digunakan singkat dan jelas. Kalimat yang
digunakan komunikatif. Kalimat yang digunakan
tidak menimbulkan salah tafsir. Pesan yang
disampaikan dalam kalimat bahan ajar
disampaikan dengan jelas. Di setiap pernyataan
pada angket validasi ahli diberi skor 1-4, angka
4 jika anda sangat setuju, angka 3 jika setuju,
angka 2 jika kurang setuju, atau pilih angka 1
jika tidak setuju.
Setelah
bahan
ajar
dinyatakan
kelayakannya oleh pakar ahli kemudian bahan
ajar diuji cobakan pada pembelajaran di TK. Uji
coba tahap awal adalah uji coba skala kecil, uji
coba ini mengambil 6 anak pada kelas A3 di TK
Negeri Pembina Surakarta, siswa dipilih
berdasarkan nilai yang terdiri dari 2 anak
kelompok atas, 2 anak kelompok tengah dan 2
anak kelompok bawah. Untuk kategori
kelompok atas berdasarkan nilai 85 sampai 100,
kategori kelompok tengah 70 sampai 84
sedangkan kelompok bawah dengan nilai
dibawah 70. Anak tersebut diberi bahan ajar
saat pembelajaran ujicoba skala kecil dan
gurunya diberi angket tanggapan mengenai
penggunaan bahan ajar yg telah dikembangkan.
Untuk instrument tanggapan guru terdiri
dari 10
pernyataan diantaranya adalah:
penampilan bahan ajar secara keseluruhan
menarik, isi atau cakupan sesuai dengan
perkembangan anak, penyajian materi didalam
bahan ajar tersusun secara sistematis, materi
dalam bahan ajar menunjukan karakter
berbudaya jawa, pedoman penggunaan bahan
ajar tersampaikan dengan jelas, bahan ajar
mengembangkan daya kreatifitas anak, penggunaan gambar didalam bahan ajar relevan dan
dapat membantu anak mengenal budaya jawa
wayang kulit, bahan ajar mengembangkan
minat anak untuk mengenal budaya jawa, bahan
ajar dapat meningkatkan aktivitas belajar anak,
bahan ajar sudah layak digunakan sebagai
bahan ajar. Pada disetiap pernyataan diberi skor
1-4, angka 4 jika anda sangat setuju, angka 3
jika setuju, angka 2 jika kurang setuju, atau pilih
angka 1 jika tidak setuju.
Pada skala kecil tanggapan guru
mengenai bahan ajarnya adalah “sangat baik”.
Dengan rataan skor persentase 90%. Skor
persentase didapat dari rerata jumlah skor
dibagi jumlah skor total, dan kriteria dikatakan
sangat baik jika hasil persentase mencapai 81100%, dinyatakan baik jika 61-80%, dinyatakan
cukup baik jika 4160%, dinyatakan kurang baik
jika 21-40%, dan dinyatakan tidak baik jika
mencapai skor rerata < 21% (Arikunto, 2009).
31
Imam Teguh Santoso dkk/ Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies 3 (1) (2014)
SIMPULAN
Setelah melalui tahap skala kecil bahan
ajar diuji cobakan secara skala besar. Di skala
besar peneliti melakukan di TK Negeri Pembila
Surakarta dengan sempel di kelas A1, yang
terdiri dari 20 orang anak. Hasil penelitian skala
besar diperoleh dari angket tanggapan guru dan
data pengamatan aktivitas anak dalam
pembelajaran. Untuk skor tanggapan guru
mendapatkan skor rata-rata 95%. Skor
persentase diperoleh dari rerata jumlah skor
dibagi jumlah skor total dan dinyatakan sangat
baik. Untuk aktivitas anak secara klasikal
mendapatkan skor rataan 90%. Skor aktivitas
anak secara klasikal diperoleh dari jumlah
persentase anak yang berkategorikan baik dan
sangat baik di mana pada ujicoba skala besar 3
anak tergolong sangat aktif, 15 anak dinyatakan
secara aktif dan 2 anak cukup aktif. Keaktifan
anak diperoreh dari perhitungan persentase
jumlah pernyataan observasi dibagi skor
observasi anak. Dinyatakan sangat aktif jika
hasil persentase mencapai 87-100%, aktif jika
73-86%, cukup aktif jika 59-72, kurang aktif jika
45-58, dan dinyatakan tidak aktif jika
persentase hanya mencapai kurang dari atau
sama dengan 44% (Sudijono, 2009)
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut.
Bahan ajar yang dikembangkan sudah layak
digunakan dalam pembelajaran di Taman kana
– kanak karena mendapatkan nilai 3,88 hasil
validasi oleh pakar ahli dan keaktifan siswa
dalam kegiatan pembelajaran tergolong sangat
aktif dengan nilai rata– rata persentase 90%
yang diambil dari tahap penerapandi TK
Pembina Negeri Surakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.(2012).Manajemen Pendidikan. Diunduh dari
www.guruidaman.blogspot.com
/2012/06/pendidikan-karakter.html
di
unduh pada tanggal 4 Mei 2014
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Brewer, J.A. 2007. Introduction to Early Childhood
Education: Preschool through Primary Grades.
USA: Pearson Education, Inc.
BSNP.2008.Pengembangan Bahan Ajar.Buletin BSNP
1(2):19-23
Tahap yang terakhir adalah tahap
penerapan tahap ini dilakukan setelah tahap
skala kecil dan tahap skala besar. Pada tahap
penerapan penelitian dilakukan di kelas A2 TK
Negeri Pembina Surakarta, dikelas ini terdiri
dari 20 anak, pada tahap penerapan angket
tanggapan guru mendapatkan skor rataan
97,5%. Skor persentase diperoleh dari rerata
jumlah skor dibagi jumlah skor total dan
dinyatakan sangat baik.dan aktivitas anak
mendapatkan skor 90%. Skor aktivitas anak
secara klasikal diperoleh dari jumlah persentase
anak yang berkategorikan baik dan sangat baik
di mana pada tahap penerapan 5 anak tergolong
sangat aktif, 12 anak dinyatakan secara aktif
dan 3 anak cukup aktif. Keaktifan anak
diperoreh dari perhitungan persentase jumlah
pernyataan observasi dibagi skor observasi
anak. Dinyatakan sangat aktif jika hasil persentase mencapai 87-100%, aktif jika 73-86%,
cukup aktif jika 59-72, kurang aktif jika 45-58,
dan dinyatakan tidak aktif jika persentase hanya
mencapai kurang dari atau sama dengan 44%
(Sudijono, 2009)
Jalongo, M, R. 2007. Early Childhood Language Arts.
USA: Pearson Education, Inc.
Papalia, D.E, dkk. 2008. Human
(Psikologi Perkembangan).
Development
Jakarta: Kencana.
Sudijono, A. 2009. Pengantar Statistik Pendidikan.
Jakarta: Rajawali Prass.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian
Kualitatif dan R & D. Bandung:
Kuantitatif
Alfabeta.
Santrock, J. W. 2006. Life-span vevelopment
(Perkembangan masa hidup). Eds. 5
jilid I,
Penerjemah : Achmad Chusairi, S.Psi & Drs.
Juda
Damanik,
M.S.W.,
Jakarta
:
PenerbitErlangga
Yusuf, L,N, S. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Thiagarajan, S. 1974. Instructional Development for
Training Teachers of Expectional Children.
Minneapolis, Minnesota: Leadership Training
Institute/Special Education, University of
Minne
32
Download