6 BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1 Tinjauan terhadap Persepsi

advertisement
6
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1
Tinjauan terhadap Persepsi
Persepsi ( perception ) berkaitan dengan bagaimana individu dapat
mengenali dirinya maupun keadaan sekitarnya. Ada kemungkinan setiap individu
yang melihat, merasakan atau mendengar suatu objek tertentu akan berbeda dalam
hal memaknainya atau menanggapi suatu peristiwa, objek atau stimuli lainnya
yang diterima melalui proses penginderaan.
Seperti yang diungkapkan Slameto ( 2003: 102 ) berikut ini :
“Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi
ke dalam otak manusia. Melalui persepsi, manusia terus menerus mengadakan
hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu
dengan indera penglihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium.”
2.1.1
Konsep tentang Persepsi
Istilah persepsi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu `perception` yang berarti
daya memahami, maka persepsi dapat diartikan sebagai proses pemahaman
ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus didapat dari
proses pengideraan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar
gejala yang selanjutnya diproses oleh otak.
Atkinson ( 1978: 201 ), mengartikan “ persepsi adalah proses dimana kita
mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus ini di dalam lingkungan.”
7
Sementara itu J. Rakhmat ( 1986: 84 ) menjelaskan bahwa “persepsi
adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang
diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.”
Terbentuknya persepsi siswa tentang kinerja guru PLP Mata Diklat
Menggambar Teknik Dasar merupakan pengamatan tentang segala sesuatu yang
menyangkut proses pembelajaran oleh guru PLP melalui penginderaan kemudian
ditafsirkan.
Dengan demikian unsur-unsur alat indera memegang peranan penting,
meskipun demikian alat kesempurnaan indera bukan hal yang paling menentukan
persepsi tersebut. Dalam mengartikan proses pembelajaran oleh guru PLP,
kemungkinan besar akan menghasilkan tanggapan yang berbeda dari setiap siswa.
Kenyataan ini bukan hanya berdasarkan baik buruknya fungsi alat indera tetapi
berdasarkan pula pada beberapa faktor yang melatar belakanginya. Sebagaimana
dikatakan Surakhmad ( 1980: 24 ), bahwa :
Dalam menanggapi sesuatu yang bersifat materiil persepsi banyak
bergantung pada alat indera, dalam arti bahwa tingkah laku seseorang
berhubungan dengan berfungsinya alat-alat tersebut untuk stimulasi tertentu. Akan
tetapi kesempurnaan alat-alat indera bukanlah faktor yang menentukan karena
manusia yang melakukan persepsi adalah aktif.
Perbedaan persepsi dapat pula dipengaruhi oleh adanya perbedaan
individual, kepribadian, sikap dan motivasi seperti pendapat Mari`at ( 1982: 24 )
yang menegaskan bahwa :
8
“Persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari
komponen kognisi. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman.
Proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya. Manusia mengamati objek
psikologis dengan kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai kepribadiannya.
Sedangkan objek psikologis ini dapat berupa kejadian, ide, atau situasi tertentu.”
Faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk
struktur terhadap apa yang dilihat. Sedangkan pengetahuan dan cakrawalanya
memberikan arti terhadap objek psikologis tersebut. Melalui komponen kognisi
ini akan timbul ide kemudian konsep mengenai apa yang dilihat berdasarkan
norma yang dimiliki pribadi seseorang akan terjadi keyakinan ( beliefe ) terhadap
objek tersebut.
2.1.2
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Persepsi siswa terhadap suatu objek ditentukan oleh faktor-faktor yang
mempengaruhinya, baik yang berasal dari dirinya maupun pengalaman dari luar.
Persepsi siswa terhadap proses belajar mengajar akan berlainan penafsirannya
dengan siswa lainnya. Kenyataan ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh baik atau
buruknya alat indera, tetapi lebih bersumber pada faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Merujuk pada pernyataan di atas, Lomb cs ( Adam I, I, 1987:
47 ) mengemukakan :
“Setiap kali seseorang dihadapkan dengan suatu rangsangan yang sudah
biasa ia hadapi, maka ia akan langsung mengumpulkan informasi (dari
pengalamannya) dan membandingkannya dengan rangsangan yang ia hadapi
sekarang. Bagaimana ia memberi arti terhadap rangsangan tersebut tergantung
kepada kepribadian dan inspirasi yang bersangkutan.”
9
Ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, menurut Siagian (
1995: 101-105 ), yaitu :
1. Diri seseorang yang bersangkutan, apabila seseorang melihat sesuatu dan
berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia
dipengaruhi oleh karakteristik individual yang turut berpengaruh seperti
sikap, motif, kepentingan, pengalaman, minat, dan harapannya.
2. Sasaran persepsi, sasaran tersebut mungkin berupa orang, benda, atau
peristiwa. Sasaran tersebut biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang
yang dilihatnya.
3. Faktor situasi, persepsi harus dilihat secara kontekstual, yang berarti
situasi dimana persepsi itu timbul perlu pula mendapatkan perhatian.
Situasi merupakan faktor yang turut memperdalam penumbuhan persepsi
seseorang.
Julaeha ( 2000: 4-5 ) mengemukakan faktor yang mempengaruhi persepsi
adalah :
1. Perhatian, artinya individu yang memusatkan perhatian pada objek tertentu
saja dan hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan internal.
2. Intensitas stimulus, individu akan memperhatikan stimulus-stimulus yang
lebih menonjol dari yang lain, atau kuat lemahnya stimulus akan
mempenagruhi persepsi.
3. Nilai-nilai, artinya berupa nilai-nilai yang dimiliki dan diyakini
kebenarannya oleh individu.
10
4. Penafsiran
pengalaman,
artinya
pengalaman
terdahulu
dapat
mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan dunianya.
Sementara J. Rakhmat ( 1986: 69,73 ), menjelaskan bahwa faktor yang
mempengaruhi persepsi adalah :
1. Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal
hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal.
Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli tetapi
karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli itu.
2. Faktor-faktor structural berasal dari sifat stimuli fisik dan saraf-saraf yang
ditimbulkan pada sistem saraf individu.
Merujuk pada beberapa pendapat tersebut, maka disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah sebagai berikut :
1. Individu yang bersangkutan, sikap, minat, perhatian, kesiapan, sistem nilai
yang dianut, pengalaman masa lalu, kebutuhan, motivasi, harapan dan
emosi.
2. Stimulus, seperti kuat lemahnya stimulus, intensitas stimulus, ukuran
stimulus, dan cara kerja penginderaan.
3. Situasi, seperti kultur atau budaya tempat individu tinggal atau bekerja.
11
2.1.3
Proses Persepsi
Thoha ( 1986: 143 ), mengungkapkan pendapat mengenai proses persepsi
ini, yaitu :
“Sub proses yang menganggap penting stimulus atau situasi yang
hadir...sub proses selanjutnya adalah registrasi, interpretasi, dan umpan
balik...suatu gejala yang Nampak adalah mekanisme fifik yang berupa
penginderaan dan seseorang terpengaruh...terdapatnya semua informasi sampai
kepada seseorang. Sub proses yang terakhir adalah umpan balik , sub proses ini
mempengaruhi seseorang.”
Dari pendapat Miftah Thoha tersebut berarti, suatu proses pemberian
makna terhadap suatu objek, berjalan melalui tahap-tahap berpikir yang
sistematis. Seseorang akan memperoleh persepsi yang memadai apabila ia mampu
berpikir dengan baik dan sistematis.
Pengalaman awal
Proses belajar
Cakrawala
Pengetahuan
Pengalaman
K
e
p
r
i
b
a
d
i
a
n
Kognisi
Afeksi
Faktor
lingkungan yang
mempengaruhi
Evaluasi
Senang/tidak
senang
Objek Psikolog
Konasi
Kecenderungan
Sikap
bertindak
Gambar 2.1
Bagan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
12
Dari bagan diatas dapat dilihat bahwa melalui komponen kognisi akan
timbul ide, kemudian konsep mengarah pada apa yang dilihat berdasarkan nilai
dan norma tersebut. Selanjutnya afeksi memberikan evaluasi emosional (
senang/tidak senang ) terhadap objek. Pada tahap selanjutnya yang berperan
adalah komponen konasi yang memberikan kesediaan/kesiapan jawaban berupa
tindakkan terhadap objek, dimana seseorang dapat menerima atau sebaliknya
menolak dan reaksi yang timbul bersifat apatis, acuh tak acuh atau menantang
sampai akstrim memberontak. Ini tergantung dari keseimbangan antara objek
yang dilihat dengan penghayatan dimana unsur norma dan nilai dirinya dapat
menerima secara rasional dan emosional.
2.1.4
Prinsip Dasar Persepsi
Memahami serta menerapkan prinsip-prinsip dasar persepsi dirasakan
sangat penting, sebab sebagaimana yang diungkapkan Slameto ( 2003: 102 ),
“Makin baik suatu objek, orang, peristiwa atau hubungan diketahui, makin baik
objek, orang, peristiwa atau hubungan tersebut dapat diingat”.
Selanjtunya Slameto ( 2003: 103-105 ) mengungkapkan beberapa prinsip
dasar persepsi, yaitu :
1. Persepsi itu relatif bukannya absolut
Manusia bukan instrumen yang mampu menyerap segala sesuatu peristiwa
seperti keadaan sebenarnya. Berdasarkan kenyataan bahwa persepsi itu relatif,
seorang guru dapat meramalkan dengan lebih baik perspsi dari siswanya untuk
13
pelajaran berikutnya karena guru tersebut telah mengetahui lebih dahulu persepsi
yang telah dimiliki oleh siswa dari pelajaran sebelumnya.
2. Persepsi itu selektif
Seseorang hanya memperhatikan beberapa rangsangan saja dari banyak
rangsangan yang ada di sekelilingnya pada saat-saat tertentu. Ini berarti bahwa
ada keterbatasan dalam kemampuan seseorang untuk menerima rangsangan.
3. Persepsi itu mempunyai tatanan
Orang itu menerima rangsangan tidak dengan cara sembarangan. Ia akan
menerimanya dalam bentuk hubungan-hubungan atau kelompok-kelompok. Jika
rangsangan yang datang tidak lengkap, ia melengkapinya sendiri sehingga
hubungan itu menjadi jelas.
4. Persepsi dipengaruhi harapan dan kesiapan
Harapan dan kesiapan akan menentukan pesan mana yang akan dipilih
untuk diterima, selanjutnya bagaimana pesan yag dipilih itu akan ditata dan
demikian pula bagaimana pesan itu diinterpretasikan.
5. Pengukuran persepsi
Pada dasarnya persepsi dapat diasosiasikan dengan pendapat, opini, atau
sikap ( attitude ). Mari`at ( 1981: 2 ) menyebutkan persepsi sebagai aspek kognitif
dan sikap. Karena persepsi merupakan aspek kognitif dan sikap, maka untuk
14
mengungkapkan atau mengukur persepsi dapat digunakan instrumen pengungkap
sikap.
Untuk mengungkapkan sikap seseorang termasuk persepsi terhadap suatu
objek psikologis, Sugiyono ( 2007: 134 ) mengemukakan empat metode, yaitu
Skala Likert, Skala Gottman, Rating Scale, dan Semantic Diferential.
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Biasanya Skala Likert
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif dan menyajikan
alternatif jawaban kepada responden dalam beberapa alternatif. Masing-masing
jawaban memiliki bobot nilai tertentu sesuai dengan arah pertanyaan, sikap, atau
persepsi.
Skala Guttman dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda dan bentuk
checklist. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi ( 2
alternatif ).
Sedangkan semantic differensial digunakan untuk mengukur sikap, hanya
bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist tetapi dalam suatu garis
kontinum.
Sehubungan dengan hal tersebut, maksud persepsi siswa tentang kinerja
Guru PLP yang paling mudah pengembangan dan administrasinya adalah
menggunakan model Skala Likert.
15
2.2
Kinerja Guru PLP
2.2.1
Pengertian Kinerja
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Balai Pustaka ( 1994: 503 ), kinerja
berarti : 1) sesuatu yang dicapai, 2) prestasi yang diperlihatkan, atau 3)
kemampuan kerja (tentang peralatan). Menurut Lembaga Administrasi Negara
yang dikutip Tamam (2000:29) bahwa " kinerja merupakan terjemahan bebas dari
kata bahasa Inggris permormance yang artinya prestasi kerja atau pelaksanaan
kerja atau hasil kerja atau penampilan kerja. "
Dikemukakan oleh Idochi Anwar yang dikutip Ruslan ( 1998: 13 ), bahwa
:
"Kinerja sama dengan performance kerja yaitu berapa besar dan berapa
jauh tugas-tugas yang telah dijabarkan telah dapat diwujudkan atau dilaksanakan
yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab yang menggambarkan pola
perilaku sebagai aktualisasi dari kompetensi yang dimiliki.”
Dari beberapa pendapat di atas tentang pengertian kinerja, dapat
disimpulkan bahwa kinerja mengacu pada wujud dari kemampuan diri seseorang
dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu.
2.2.2
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Fakor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah motif-motif individu
seperti yang dikemukakan oleh steers dan porter yang dikutip Tamam ( 2000: 30
), bahwa `kinerja ( permormansi ) dipengaruhi oleh motif-motif individu dalam
interaksi dengan lingkungannya`.
16
Sejalan dengan pendapat Steers dan porter tersebut, William B Castetter
yang dikutipoleh Tamam ( 2000: 30 ) mengemukakan beberapa sumber utama
yang menyebabkan kinerja tidak efektif yaitu :
1. Sumber dari individu itu sendiri
a. Kelemahan intelektual
b. Kelemahan psikologis
c. Kelemahan fisiologis
d. Demotivasi
e. Faktor-faktor personalitas
f. Proparasi posisi
g. Orientasi nilai
2. Sumber dari organisasi
a. Sistem organisasi
b. Peranan organisasi
c. Perilaku yang berhubungan dengan kepengawasan
d. Iklim organisasi
3. Sumber lingkungan eksternal
a. Keluarga
b. Kondisi ekonomi
c. Kondisi politik
d. Kondisi hokum
e. Nilai-nilai sosial
f. Perubahan teknologi
17
Untuk menilai suatu kinerja personil, Dale Timpe yang dikutip Tamam (
2000: 32 ) menyatakan bahwa seorang pegawai yang memiliki kinerja tinggi
adalah pegawai yang memiliki produktifitas tinggi dengan ciri-ciri sebagai berikut
:
1. Memiliki kemampuan profesional di bidangnya
a. Memahami dan menguasai pekerjaannya
b. Kreatif dan inovatif
c. Selalu memperdalam pengetahuan dalam bidangnya
2. Bermotivasi tinggi
a. Mempunyai kemauan keras untuk bekerja
b. Bekerja efektif dengan atau tanpa pengawasan
c. Selalu tepat waktu dan ingin menepati waktu
3. Mempunyai sikap positif terhadap pekerjaannya
a. Menyukai dan bangga dengan pekerjaannya
b. Memandang pekerjaanya sebagai pemuas kebutuhannya
c. Mempunyai kebiasaan kerja yang baik
d. Menghormati manajemen dan tujuannya
e. Dapat menerima pengarahan
f. Luwes dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan
4. Dewasa
a. Mempunyai rasa tanggung jawab yang kuat
b. Mandiri, percaya diri, dan disiplin
c. mantap secara emosional
18
d. dapat belajar dari pengalaman
e. mempunyai ambisi yang sehat, ingin tumbuh secara profesional
5. Dapat bergaul secara efektif
a. Menampilkan pribadi yang menyenangkan
b. Dapat bergaul dengan atasan atau teman sejawat
c. Berkomunikasi dengan baik dan terbuka terhadap saran
d. Suka bekerja sama dan memiliki solidaritas tinggi terhadap
teman sejawatnya
Baik tidaknya kinerja seseorang dalam
suatu lembaga tidak hanya
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang mereka
miliki. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seeorang. Seperti yang
dikemukakan oleh Sunarsih yang dikutip oleh Rusdan ( 1998: 15 ) bahwa :
”Ada dua faktor yang mempengaruhi kinerja, yaitu faktor yang datang dari
dalam diri (intern) dan yang datang dari luar. Faktor yang ada pada diri sendiri
ditentukan oleh persepsi, sikap, nilai-nilai, kepuasan kerja, dan motivasi.
Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan fisik, baik secara langsung maupun
tidak langsung, ikut mempengaruhi kinerja.”
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah
kemampuan kerja seseorang yang dapat dilihat dari penampilan atau presentasi
kerjanya, dimana kinerjanya tersebut dapat dipengarui oleh faktor-faktor yang
datang dari dalam diri ataupun dari luar.
19
2.2.3
Kinerja Guru
1. Pengertian Guru
Guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan yang
seyogyanya berperan serta aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga
professional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.
Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri seorang guru itu terletak
tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada taraf kedewasaan atau taraf
kematangan tertentu. Guru tidak semata-mata hanya sebagai pengajar yang
melakukan transfer ilmu tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer of
values dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan
menuntun siswa dalam belajar. Berkaitan dengan ini, maka sebenarnya guru
memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar
mengajar, dalam usahanya mengantarkan siswa atau anak didik ke taraf yang
dicita-citakan.
Menurut Usman ( 2006: 6 ) guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan
yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.
2. Tugas Guru
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar
berarti menruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada
siswa ( Usman, 2006: 9 )
20
3. Peran Guru dalam Proses Belajar Mengajar
Peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling
berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan
kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi
tujuannya ( Wrightman: 1977 )
Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi
banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey yang dikutip
oleh Usman ( 2006: 9 ), antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas,
pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor,
motivator, dan konselor. Selanjutnya Usman ( 2006: 7 ) mengemukakan peranan
yang dianggap paling dominan dan diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Guru Sebagai Demonstrator
Melalui peranannya sebagai demonstrator, pengajar, guru hendaknya
senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta
senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam
hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar
yang dicapai oleh siswa.
Seorang guru hendaknya mampu dan terampil dalam merumuskan TPK (
Tujuan Pembelajaran Khusus), memahami kurikulum, dan dia sendiri sebagai
sumber belajar terampil dalam memberikan informasi kepada kelas. Sebagai
pengajar ia pun harus membantu perkembangan anak didik untuk dapat menerima,
21
memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu
memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan.
b. Guru Sebagai Pengelola Kelas
Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu
mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari
lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi
agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.
Kualitas dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas tergantung pada
banyak faktor, antara lain ialah guru, hubungan pribadi antara siswa di dalam
kelas. Serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas.
Tujuan umum dari pengelolaan kelas adalah menyediakan dan
menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar dan
mengajar agar mencapai hasil yang baik. Sedangkan tujuan khususnya adalah
mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar,
menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswanya bekerja dan belajar,
serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Sebagai manajer guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik
kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau
membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Tanggung
jawab lain sebagai manajer yang penting bagi guru ialah membimbing
pengalaman-pengalaman siswa sehari-hari ke arah self directed behavior.
22
c. Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman
yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan dasar
yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral
demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar
yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajarmengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah, ataupun surat kabar.
d. Guru Sebagai Evaluator
Setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu
selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang
telah dicapai, baik oleh pihak terdidik mapupun oleh pendidik. Demikian pula
dalam satu kali proses belajar mengajar guru hendaknya menjadi evaluator yang
baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah
dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah
cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan
evaluasi atau penilaian.
Dengan penilaian, guru dapat menegtahui keberhasilan pencapaian tujuan,
penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan atau keefektifan metode
mengajar. Tujuan lain dari penilaian diantaranya adalah untuk mengetahui
kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya
23
4. Kinerja Guru PLP
Sundawa ( 1997: 25 ) selanjutnya melihat ada tiga kecenderungan yang
nampak dari kinerja guru " pertama, yaitu kemampuan kerja yang terpusat pada
guru. Kedua, kemampuan kerja guru dalam interaksinya dengan siswa dan ketiga,
kemampuan kerja guru dalam penguasaan bahan pelajaran. "
Kinerja guru PLP dalam penelitian ini akan diungkap berdasarkan
Instrumen Penilaian Penampilan Latihan Program Pengalaman Lapangan UPI,
yang terdiri dari :
1. Kemampuan membuka pelajaran, yang terdiri dari :
a. Menarik perhatian siswa
b. Memotivasi siswa
c. Membuat kaitan materi ajar sebelumnya dengan materi yang akan
diajarkan
d. Memberi acuan materi ajar yang akan diajarkan
2. Sikap praktikan dalam proses pembelajaran, yang terdiri dari :
a. Kejelasan suara dalam komunikasi dengan siswa
b. Tidak melakukan gerakan dan atau ungkapan yang mengganggu
perhatian siswa.
c. Antusiasme mimik dalam penampilan
d. Mobilitas posisi tempat dalam kelas/ruang praktik
3. Penguasaan materi pembelajaran, yang terdiri dari :
a. Kejelasan memposisikan materi ajar yang disampaikan dengan materi
lainnya yang terkait
24
b. Kejelasan menerangkan berdasarkan tuntutan aspek kompetensi
(kognitif, afektif, psikomotor )
c. Kejelasan dalam memberikan contoh/ilustrasi sesuai tuntutan aspek
kompetensi
d. Mencerminkan penguasaan materi ajar secara proporsional
4. Implementasi langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari :
a. Penyajian materi ajar sesuai dengan langkah-langkah yang tertuang
dalam RPP
b. Proses pembelajaran mencerminkan komunikasi guru-siswa, dengan
berpusat pada siswa
c. Antusias dalam menanggapi dan menggunakan respon dari siswa
d. Cermat dalam memanfaatkan waktu, sesuai alokasi yang direncanakan
5. Penggunaan media pembelajaran, yang terdiri dari :
a. Memperhatikan prinsip penggunaan media
b. Tepat saat penggunaan
c. Terampil dalam mengoperasionalkan
d. Membantu kelancaran proses pembelajaran
6. Evaluasi, yang terdiri dari :
a. Melakukan evaluasi berdasarkan tuntutan aspek kompetensi
b. Melakukan evaluasi sesuai butir soal yang telah direncanakan dalam
RPP
c. Melakukan evaluasi sesuai alokasi waktu yang direncanakan
d. Melakukan evaluasi sesuai dengan bentuk dan jenis yang dirancang
25
7. Kemampuan menutup pelajaran, yang terdiri dari :
a. Meninjau kembali/menyimpulkan materi kompetensi yang diajarkan
b. Memberikan kesempatan bertanya
c. Menugaskan kegiatan ko-kulikuler
d. Menginformasikan materi ajar berikutnya
2. 2.4 Pengertian PLP
Buku pedoman Akademik UPI Bandung ( 1994/1996: 28 ), yaitu :
”PLP merupakan salah satu kegiatan pendidikan yang harus ditempuh oleh
setiap mahasiswa yang mencakup pembinaan kemampuan mengajar dan
pembinaan tugas-tugas kependidikan di luar mengajar secara terbimbing dan
terpadu untuk memenuhi persyaratan profesi kependidikan.”
Wardani dan Suparno ( 1994: 6 ) mengemukakan :
“Dalam kaitan dengan lembaga pendidikan guru, PLP dapat diartikan
sebagai satu program dalam pendidikan prajabatan guru yang dirancang khusus
untuk menyiapkan para calon guru menguasai kemampuan keguruan yang
terintegrasi utuh, sehingga setelah menyelesaikan pendidikannya dan diangkat
menjadi guru, mereka siap mengemban tugas dan tanggung jawabnya sebagai
guru. “
Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa PLP merupakan salah
satu program kependidikan yang dilakukan oleh seorang calon guru secara
terbimbing dan terpadu dalam waktu tertentu untuk meningkatkan kemampuan
profesionalisme di bidang kependidikan.
26
2.2.5
Tujuan PLP
Dalam buku Pedoman Praktek Kependidikan IKIP Bandung ( 1999: 3 )
menjelaskan tujuan PLP adalah :
1. Tujuan Umum
PLP bertujuan agar para mahasiswa (praktikan) mendapatkan pengalaman
kependidikan secara faktual di lapangan, sebagai wahana terbentuknya tenaga
kependidikan
yang
profesional.
Pengalaman
yang
dimaksud
meliputi
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan dalam profesi sebagai pendidik, serta mampu
menerapkannya dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, baik di
sekolah maupun di luar sekolah dengan penuh tanggung jawab.
2. Tujuan Khusus
Melalui PLP Kependidikan diharapkan para mahasiswa :
a. Mengenal secara cermat lingkungan sosial, fisik, administrasi, dan
akademik sekolah tempat latihan.
b. Dapat menerapkan berbagai ketrampilan dasar keguruan / kependidikan
secara utuh dan terpadu dalam situasi sebenarnya.
c. Dapat menarik pelajaran dari pengalaman dan penghayatannya, yang
direfleksikan dalam perilakunya sehari-hari.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahawa kegiatan PPL bertujuan
untuk membimbing mahasiswa calon guru agar memiliki profesionalisme sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu dan terintegrasi.
27
Adapun menurut Wardani dan Suparno ( 1994: 6 ), tujuan umum dari PLP
bagi calon guru sekolah menengah adalah mempersiapkan calon guru yang
mampu melaksanakan tugasnya sebagai guru yang mandiri di dekolah menengah
Secara rinci, tujuan PPL adalah mempersiapkan calon guru sekolah
menengah agar :
1. Mengenal secara cermat lingkungan fisik. Administrasi, serta akademiksosial sekolah menengah tempatnya bertugas kelak.
2. Mampu menyusun rencana pelajaran yangs sesuai dengan karakteristik
siswa yang akan diajarnya.
3. Mampu menyiapkan dan mengatur fasilitas fisik yang diperlukannya
dalam mengajar.
4. Menguasai keterampilan dasar mengajar yang bersifat generik.
5. Mampu menerapkan berbagai kemampuan keguruan secara utuh dan
terintegrasi dalam situsi nyata di sekolah menengah di bawah bimbingan
para pembimbing.
6. Mampu menerapkan berbagai kemampuan keguruan secara utuh dan
terintegrasi dalam situasi nyata di sekolah menengah secara mandiri,
7. Mampu menarik pelajaran dari penghayatan dan pengalamannya selama
latihan melalui refleksi.
8. Mau berinteraksi dengan teman sejawat atau kelompok profesional
keguruan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan
tugas keguruan.
28
9. Mau mengambil bagian dalam kegiatan ekstra kulikuler yang akan
membawa nama baik sekolah.
2.2.6
Pelaksanaan PLP
Mengacu pada Kurikulum Ketentuan Pokok dan Struktur Program UPI
Bandung (2003) Mata Kuliah PLP mempunyai bobot 4 sks dan dilaksanakan
selama 1 semester. PLP dapat dilaksanakan baik itu pada semester ganjil ataupun
pada semester genap.
Wardani dan Suparno ( 1994: 27 ) membagi PLP dalam 4 tahap yaitu
tahap pengenalan lapangan, latihan mengajar terbatas, latihan terbimbing, dan
latihan mandiri. Kegiatan latihan di sekolah-sekolah didahului dengan penyusunan
jadwal latihan yang dilakukan bersama oleh dosen pembimbing, guru pamong
serta kepala sekolah. Dosen pembimbing mengatakan dan memperkenalkan serta
menyerahkan mereka secara resmi kepada kepala sekolah untuk memperoleh
bimbingan selama menjalankan program lapangan.
2.3
Mata Diklat Menggambar Teknik Dasar
2.3.1. Posisi Mata Diklat Menggambar Teknik Dasar di Kurikulum
Dalam mencapai penguasaan standar kemampuan lulusan SMK ( Sekolah
Menengah Kejuruan ) yang telah ditetapkan, khususnya tingkat penguasaan mata
pelajaran yang sesuai dengan bidang keahliannya, diperlukan suatu proses
pendidikan dan pelatihan yang dirancang secara terstandar dalam ukuran isi,
29
waktu, dan metode tertentu khususnya untuk program pendidikan sistem ganda
yang ada di SMK.
Materi program keahlian itu tidak terlepas dari pertimbangan isi atau
materi kurikulum yang berlaku secara utuh. Sesuai dengan kebijakan Teknis
Pengembangan dan Implementasi Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (
1998: 8 ) menyebutkan bahwa materi kurikulum yang ada di SMK terdiri dari :
1. Komponen Pendidikan Umum ( Program normatif )
2. Kompetensi Pendidikan Dasar ( Program adaptif )
3. Kompetensi Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan ( Program produktif )
Tabel 2.1
Program Pendidikan dan Latihan Sekolah Menengah Kejuruan
Program Pendidikan dan Latihan
Program Normatif
1. PKN
2. Pendidikan Agama
3. Bahasa dan Sastra Indonesia
4. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
5. Sejarah Nasional dan Umum
Program Adaptif
1. Matematika
2. Bahasa Inggris
3. Fisika
4. Kimia
5. Komputer
6. Kewirausahaan
Program Produktif
1. Menggambar Teknik Dasar
2. Pekerjaan Dasar Survey
3. Pekerjaan Dasar Konstruksi Bangunan
4. Perhitungan Statistika Bangunan
5. Perhitungan Kekuatan Konstruksi Bangunan Sederhana
6. Pekerjaan Pasangan Batu
7. Pekerjaan Ubin
8. Pekerjaan Plesteran
9. Pekerjaan Konstruksi Beton Sederhana
10. Pekerjaan Bekisting dan Perancah
11. Pekerjaan Cat
Jam pelajaran
Tk.1 Tk.2 Tk.3
80
80
80
80
80
80
80
80
80
80
32
32
32
32
32
240
120
120
80
40
40
240
120
120
80
40
40
96
48
48
32
32
360
120
360
120
-
160
130
120
150
100
150
50
-
30
12. Pengujian Bahan Bangunan
13. Paket pilihan
- Konstruksi Beton Bertulang
- Konstruksi Baja
- Konstruksi Jalan dan Jembatan
Jumlah Jam Pembelajaran
-
100
2000
2000
1384
1800
Dari materi kurikulum diatas dapat dilihat bahwa penguasaan program
produktif merupakan program yang penting untuk dikuasai oleh siswa salah
satunya adalah Mata Diklat Menggambar Teknik Dasar.
Orientasi Mata Diklat Menggambar Teknik Dasar adalah memfasilitasi
pengalaman emosi, intelektual, fisik, persepsi, sosial, estetik, artistik, dan
kreatifitas kepada siswa dengan melakukan aktifitas apresiasi dan kreasi, terhadap
berbagai produk benda di sekitar siswa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia,
mencakup antara lain : jenis, bentuk, fungsi, manfaat, tema, struktur, sifat,
komposisi, bahan baku, bahan pembantu, peralatan, teknik, kelebihan dan
keterbatasannya.
Menggambar Teknik Dasar adalah mata diklat yang berisi kemampuan
perseptual, apresiasi dan kreatif produktif dalam menghasilkan produk teknologi
struktur pengetahuan dalam mata pelajaran Menggambar Teknik Dasar terdiri dari
: jenis, bentuk, dan fungsi dan teknologi, alat, bahan, proses dan teknik, struktur
visual, aspek tema / subjectmatter dan konteks budaya misalnya aspek
kesejarahan, daerah asal, segmentasi pengguna. Dalam mata diklat ini terbuka
kesempatan untuk berintegrasi dengan pengetahuan yang telah diperoleh siswa
dalam mata diklat lain. Seluruh aktifitas pembelajaran akan memberikan bekal
kepada siswa agar inovatif, adaptif, dan kreatif melalui pengalaman belajar yang
menekankan pada aktifitas fisik dan aktifitas mental.
31
Mata Diklat Menggambar Teknik Dasar tidak menanamkan kepada siswa
ketrampilan khusus secara mendalam karena mata pelajaran ini tidak mencetak
`tukang` sebagai hasil pelajarannya. Aktifitas yang dilakukan siswa adalah
berbagai macam ketrampilan yang umum agar bekal dan pengalaman siswa
menjadi kaya dan beragam.
Dalam dokumen Kurikulum 1999 tujuan Mata Diklat Menggambar Teknik
Dasar adalah :
1. Mengembangkan pengetahuan siswa melalui penelaahan jenis, bentuk,
sifat-sifat, penggunaan dan kegunaan, alat, bahan, proses dan teknik
membuat berbagai macam produk-produk teknologi yang berguna bagi
kehidupan manusia, termasuk pengetahuan dalam konteks budaya dari
benda-benda tersebut.
2. Mengembangkan kepekaan rasa estetik, rasa menghargai terhadap hasilhasil produk teknologi masa kini, serta artefak hasil produksi masa lampau
dari berbagai wilayah nusantara maupun dunia.
3. Mengembangkan ketrampilan siswa untuk menghasilkan berbagai produkproduk teknologi serta industri sederhana yang berguna bagi kehidupan
manusia dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya.
4. Menanamkan apresiasi kepada siswa akan berbagai tatanan kehidupan di
dunia ternasuk budayanya sehingga dapat menumbuhkan kecintaan budaya
berkarya yang bercirikan indonesia.
32
5. Mengembangkan kepekaan kreatif siswa melalui berbagai kegiatan
penciptaan benda-benda produk kerajinan dan teknologi menggunakan
bahan-bahan alam maupun industri.
6. Menumbuhkembangkan
sikap
profesional,
kooperatif,
toleransi,
kepemimpinan ( leadership) maupun kekaryaan ( employmentship ).
2.3.2. Kompetensi Mata Diklat Menggambar Teknik Dasar di SMKN 5 Bandung
Kompetensi Mata Diklat Menggambar Teknik Dasar di SMKN 5 Bandung adalah
( sumber: Kurikulum SMKN 5 Bandung ):
a. Menggambar proyeksi orthogonal
b. Menggambar proyeksi orthogonal prisma
c. Menggambar proyeksi orthogonal piramida
d. Menggambar konstruksi bata/batako
e. Menggambar konstruksi pondasi dangkal dari batu kali atau rollag dari
bata/batako
2.3.3. Evaluasi
Evaluasi yang dilaksanakan yaitu penugasan,UTS dan UAS.
1. Tugas-tugasnya antara lain :
a. Melakukan pekerjaan menggambar proyeksi konstruksi geometris dengan
objek kubus.
b. Melakukan pekerjaan menggambar proyeksi konstruksi geometris dengan
objek prisma segienam.
33
c. Melakukan pekerjaan menggambar proyeksi konstruksi geometris dengan
objek piramida segilima beraturan.
d. Melakukan pekerjaan menggambar proyeksi konstruksi dinding setengah
bata.
e. Melakukan pekerjaan menggambar proyeksi konstruksi dinding satu bata.
f. Melakukan pekerjaan menggambar proyeksi konstruksi pilaster.
g. Melakukan pekerjaan menggambar denah, tampak dan potongan rumah
tinggal sederhana tipe 36.
h. Melakukan pekerjaan menggambar rencana pondasi dan detail rumah
tinggal sederhana tipe 36.
i. Melakukan pekerjaan menggambar kusen dan detail rumah tinggal
sederhana tipe 36.
j. Melakukan pekerjaan menggambar hubungan pondasi dengan beton
bertulang rumah tinggal sederhana tipe 36.
k. Melakukan pekerjaan menggambar rollag di atas kusen rumah tinggal
sederhana tipe 36.
l. Melakukan pekerjaan merencanakan denah, tampak, potongan, rencana
pondasi dan detail pondasi rumah tinggal tidak bertingkat tipe 42.
2. UTS dan UAS
Download