UMB Feni Fasta, SE, M.Si SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA 3

advertisement
3. masyarakat sebagai satu kesatuan memegang peranan sentral dalam Sistem
Ekonomi Pancasila. Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah
pimpinan atau kepemilikan anggota-anggota masyarakat. Masyarakat adalah
unsur ekonomi non negara yakni ekonomi swasta. Dalam ekonomi swasta ini
yang menonjol bukan perorangan tetapi masyarakat sebagai satu kesatuan.
Tekanan pada masyarakat tidak berarti mengabaikan individu, tetapi langkah
individu harus serasi dengan kepentngan masyarakat.
4. negara menguasai bumi, air dan kekayaan alam lainnya yang terkandung dalam
bumi dan yag merupakan pokok bagi kemakmuran masyarakat. Dalam
pelaksanaannya perlu dijaga supaya sistem yang berkembang tidak mengarah
pada etatisme. Oleh karena itu hak menguasai oleh negara harus dilihat dalam
konteks pelaksanaan dan kewajiban negara sebagai:
a. pemilik
b. pengatur
c. perencana
d. pelaksana dan
e. pengawas
5. tidak bebas nilai. Bebas nilai inilah yang mempengaruhi perilaku para pelaku
ekonomi. Sistem yang dikembangkan bertolak dari ideologi yag dianut, yakni
Pancasila. Ideologi Pancasila masih terus berkembang sesuai dengan dinamika
pertumbuhan masyarakat, namun kelima sila secara utuh harus dijadikan leitstar
(bintang pengarahan), kearah mana sistem nilai dikembangkan.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Feni Fasta, SE, M.Si
SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA
PEMIKIRAN PARA TOKOH
MUBYARTO
Sistem Ekonomi Pancasila adalah “aturan main” kehidupan ekonomi atau hubunganhubungan ekonomi antar pelaku-pelaku ekonomi yang didasarkan pada etika atau
moral Pancasila dengan tujuan akhir mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Etika Pancasila adalah landasan moral dan kemanusiaan yang dijiwai semangat
nasionalisme (kebangsaan) dan kerakyatan, yang kesemuanya bermuara pada
keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Intisari Pancasila (Eka Sila) menurut Bung Karno adalah gotongroyong atau
kekeluargaan, sedangkan dari segi politik Trisila yang diperas dari Pancasila adalah
Ketuhanan Yang Maha Esa (monotheisme), sosio-nasionalisme, dan sosiodemokrasi.
Praktek-praktek liberalisasi perdagangan dan investasi di Indonesia sejak medio
delapanpuluhan bersamaan dengan serangan globalisasi dari negara-negara industri
terhadap
negara-negara
berkembang,
sebenarnya
dapat
ditangkal
dengan
penerapan sistem ekonomi Pancasila. Namun sejauh ini gagal karena politik
ekonomi diarahkan pada akselerasi pembangunan yang lebih mementingkan
pertumbuhan ekonomi tinggi ketimbang pemerataan hasil-hasilnya.
Trilogi Pembangunan
Sebenarnya sejak terjadinya peristiwa “Malari” (Malapetaka Januari) 15 Januari
1974, slogan Trilogi Pembangunan sudah berhasil dijadikan “teori” yang mengoreksi
teori ekonomi pembangunan yang hanya mementingkan pertumbuhan . Trilogi
pembangunan terdiri atas Stabilitas Nasional yang dinamis, Pertumbuhan Ekonomi
Tinggi, dan Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya. Namun sayangnya
slogan yang baik ini justru terkalahkan karena sejak 1973/74 selama 7 tahun
Indonesia di”manja” bonansa minyak yang membuat bangsa Indonesia “lupa
daratan”. Rezeki nomplok minyak bumi yang membuat Indonesia kaya mendadak
telah menarik minat para investor asing untuk ikut “menjarah” kekayaan alam
Indonesia. Serbuan para investor asing ini ketika melambat karena jatuhnya harga
minyak dunia , selanjutnya dirangsang ekstra melalui kebijakan deregulasi
(liberalisasi) pada tahun-tahun 1983-88. Kebijakan penarikan investor yang menjadi
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Feni Fasta, SE, M.Si
SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA
sangat liberal ini tidak disadari bahkan oleh para teknokrat sendiri sehingga seorang
tokoknya mengaku kecolongan dengan menyatakan:
“Dalam keadaan yang tidak menentu ini pemerintah mengambil tindakan yang berani
menghapus semua pembatasan untuk arus modal yang masuk dan keluar. Undangundang Indonesia yang mengatur arus modal, dengan demikian menjadi yang paling
liberal di dunia, bahkan melebihi yang berlaku di negara-negara yang paling liberal.
(Radius Prawiro. 1998:409)”
Himbauan Ekonomi Pancasila
Pada tahun 1980 Seminar Ekonomi Pancasila dalam rangka seperempat abad FEUGM “menghimbau” pemerintah Indonesia untuk berhati-hati dalam memilih dan
melaksanakan strategi pembangunan ekonomi. Ada peringatan “teoritis” bahwa ilmu
ekonomi Neoklasik dari Barat memang cocok untuk menumbuhkembangkan
perekonomian nasional, tetapi tidak cocok atau tidak memadai untuk mencapai
pemerataan dan mewujudkan keadilan sosial. Karena amanah Pancasila adalah
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia maka ekonom-ekonom
UGM melontarkan konsep Ekonomi Pancasila yang seharusnya dijadikan pedoman
mendasar dari setiap kebijakan pembangunan ekonomi. Jika Emil Salim pada tahun
1966 menyatakan bahwa dari Pancasila yang relevan dan perlu diacu adalah
(hanya)
sila
terakhir,
keadilan
sosial,
maka
ekonom-ekonom
UGM
menyempurnakannya dengan mengacu pada kelima-limanya sebagai berikut:
1. Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan
moral;
2.
Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial
yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi
dan kesenjangan sosial;
3. Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi mekin jelas adanya
urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri;
4. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat;
5. Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara perencanaan nasional
dengan
desentralisasi
ekonomi
dan
otonomi
yang
luas,
bebas,
dan
bertanggungjawab, menuju perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Feni Fasta, SE, M.Si
SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA
Sebagaimana terjadi pemerintah Orde Baru yang sangat kuat dan stabil, memilih
strategi
pembangunan
berpola
“konglomeratisme”
yang
menomorsatukan
pertumbuhan ekonomi tinggi dan hampir-hampir mengabaikan pemerataan. Ini
merupakan strategi yang berakibat pada “bom waktu” yang meledak pada tahun
1997 saat awal reformasi politik, ekonomi, sosial, dan moral.
Globalisasi atau Gombalisasi
Dalam 3 buku yang menarik The Globalization of Poverty (Chossudovsky, 1997),
Globalization Unmasked (Petras & Veltmeyer, 2001), dan Globalization and Its
Discontents (Stiglitz, 2002) dibahas secara amat kritis fenomena globalisasi yang
jelas-jelas lebih merugikan negara-negara berkembang yang justru menjadi semakin
miskin (gombalisasi). Mengapa demikian? Sebabnya adalah bahwa globalisasi tidak
lain merupakan pemecahan kejenuhan pasar negara-negara maju dan mencari
tempat-tempat penjualan atau “pembuangan” barang-barang yang sudah mengalami
kesulitan di pasar dalam negeri negara-negara industri maju.
Indonesia yang menjadi tuan rumah KTT APEC di Bogor 1994, mengejutkan dunia
dengan keberaniannya menerima jadwal AFTA 2003 dan APEC 2010 dengan
menyatakan “siap tidak siap, suka tidak suka, kita harus ikut globalisasi karena
sudah berada di dalamnya”. Keberanian menerima jadwal AFTA dan APEC ini, kini
setelah terjadi krismon 1997, menjadi bahan perbincangan luas karena dianggap
tidak didasarkan pada gambaran yang realistis atas “kesiapan” perekonomian
Indonesia. Maka cukup mengherankan bila banyak pakar Indonesia menekankan
pada keharusan Indonesia melaksanakan AFTA tahun 2003, karena kita sudah
committed. Pemerintah Orde Baru harus dianggap telah terlalu gegabah menerima
kesepakatan
AFTA
karena
mengandalkan
pada
perusahaan-perusahaan
konglomerat yang setelah terserang krismon 1997 terbukti keropos.
Peran Negara dalam Program Ekonomi dan Sosial Meskipun ada kekecewaan besar
terhadap amandemen UUD 1945 dalam ST MPR 2002 yang semula akan
menghapuskan asas kekeluargaan pada pasal 33, yang batal, namun putusan untuk
menghapus seluruh penjelasan UUD sungguh merupakan kekeliruan sangat serius.
Syukur, kekecewaan ini terobati dengan tambahan 2 ayat baru pada pasal 34
tentang
pengembangan
sistem
jaminan
sosial
bagi
seluruh
rakyat
dan
pemberdayaan masyarakat lemah dan tidak mampu (ayat 2), dan tanggungjawab
negara dalam penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Feni Fasta, SE, M.Si
SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA
umum yang layak (ayat 3). Di samping itu pasal 31, yang semula hanya terdiri atas 2
ayat, tentang pengajaran sangat diperkaya dan diperkuat dengan penggantian istilah
pengajaran dengan pendidikan. Selama itu pemerintah juga diamanatkan untuk
menyelenggarakan
sistem
pendidikan
nasional
yang
mampu
meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan untuk semua itu negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya duapuluh persen dari nilai APBN dan APBD.
Demikian jika ketentuan-ketentuan baru dalam penyelenggaraan program-program
sosial ini dipatuhi dan dilaksanakan dengan baik, sebenarnya otomatis telah terjadi
koreksi total atas sistem perekonomian nasional dan sistem penyelenggaraan
kesejahteraan sosial kita yang tidak lagi liberal dan diserahkan sepenuhnya pada
kekuatan-kekuatan pasar bebas. Penyelenggaraan program-program sosial yang
agresif dan serius yang semuanya dibiayai negara dari pajak-pajak dalam APBN dan
APBD akan merupakan jaminan dan wujud nyata sistem ekonomi Pancasila.
Ekonomi Rakyat, Ekonomi Kerakyatan, dan Ekonomi Pancasila Sejak reformasi,
terutama sejak SI-MPR 1998, menjadi populer istilah Ekonomi Kerakyatan sebagai
sistem ekonomi yang harus diterapkan di Indonesia, yaitu sistem ekonomi yang
demokratis yang melibatkan seluruh kekuatan ekonomi rakyat. Mengapa ekonomi
kerakyatan, bukan ekonomi rakyat atau ekonomi Pancasila? Sebabnya adalah
karena kata ekonomi rakyat dianggap berkonotasi komunis seperti di RRC (Republik
Rakyat Cina), sedangkan ekonomi Pancasila dianggap telah dilaksanakan selama
Orde Baru yang terbukti gagal.
Pada bulan Agustus 2002 bertepatan dengan peringatan 100 tahun Bung Hatta,
UGM mengumumkan berdirinya Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) yang
akan secara serius mengadakan kajian-kajian tentang Ekonomi Pancasila dan
penerapannya di Indonesia baik di tingkat nasional maupun di daerah-daerah.
Sistem Ekonomi Pancasila yang bermoral, manusiawi, nasionalistik, demokratis, dan
berkeadilan, jika diterapkan secara tepat pada setiap kebijakan dan program akan
dapat membantu terwujudnya keselarasan dan keharmonisan kehidupan ekonomi
dan sosial masyarakat.
Sistem Ekonomi Pancasila berisi aturan main kehidupan ekonomi yang mengacu
pada ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Dalam Sistem Ekonomi Pancasila,
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB
Feni Fasta, SE, M.Si
SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA
Download