BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kinerja Kinerja adalah hasil atau

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kinerja
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan
selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah
ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama (Rivai dan Basri, 2005).
Menurut Nawawi (1997), kinerja adalah hasil pelaksanaan suatu pekerjaan
baik bersifat fisik (material) maupun non fisik (non material) dalam suatu tenggang
waktu tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa kinerja adalah
prestasi kerja diartikan sebagai hasil pelaksanaan pekerjaan dalam periode tertentu
merupakan prestasi yang dicapai oleh karyawan terhadap target atau sasaran yang
telah ditentukan dengan berbagai persyaratannya, yang dibebankan kepada karyawan
tersebut, dan untuk mengetahui prestasi atau hasil yang telah dicapai oleh karyawan
tersebut, tentunya harus dilaksanakan penilaian kinerja, yaitu dengan membandingkan
kinerja aktual dengan standar-standar yang telah ditetapkan.
Kinerja adalah hasil kerja seorang pegawai baik berupa produk atau jasa
berdasarkan kualitas, kuantitas, dan waktu penyelesaian pekerjaannya. Menurut Ilyas
(2001) yang mengutip pendapat Gibson (1996) ada tiga faktor yang mempengaruhi
kinerja seseorang, yaitu faktor individu, faktor psikologis dan organisasi.
1. Faktor individu terdiri dari kemampuan dan keterampilan, latar belakang dan
demografis. Variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor utama
yang mempengaruhi perilaku dan kinerja individu, variabel demografis
mempunyai efek tidak langsung pada perilaku dan kinerja individu.
2. Faktor Psikologis terdiri dari persepsi, sikap, kepribadian dan motivasi.
Variabel ini banyak dipengaruhi oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman kerja
Universitas Sumatera Utara
sebelumnya dan variabel demografis. Variabel seperti persepsi, sikap,
kepribadian dan belajar merupakan hal yang kompleks yang sulit untuk diukur.
3. Faktor organisasi berefek tidak langsung terhadap perilaku dan kinerja individu
terdiri dari sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain
pekerjaan.
Kinerja perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit,
tentu tidak terlepas dari motivasi dan komunikasi. Pelayanan yang diberikan seorang
perawat dapat menjadi tolak ukur pencapaian tujuan organisasi, perawat mampu
memberikan pelayanan yang prima bagi setiap pasien, hal ini sangat penting untuk
memberikan nilai mutu rumah sakit tersebut. Pelayanan pada hakikatnya memberikan
pertolongan atau bantuan pada orang lain yang membutuhkan dengan melakukan
metode kiat, seni dan perilaku yang memerlukan hubungan interaksi agar tercapainya
suatu kepuasan dari kedua belah pihak, yakni perawat dan pasien (Hanafiah, 1994).
Menurut Efendi (1998), peranan perawat dalam meningkatkan kinerja pada
pelayanan keperawatan yaitu :
1. Pelaksanaan Pelayanan Keperawatan (Provider Of Nursing Care)
Peranan yang utama dari perawat adalah sebagaimana pelaksanan asuhan
keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang sehat
maupun yang sakit atau yang mempunyai masalah kesehatan/ keperawatan,
puskesmas, panti dan sebagainya sesuai dengan kebutuhannya.
2. Sebagai Pendidik (Health Educator)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga
terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai tingkat kesehatan
yang optimal.
3. Sebagai Pembaharu (Inovator)
Perawat dalam berperan sebagai agen pembaharu terhadap individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat terutama dalam menambah perilaku dan pola hidup yang
erat kaitannya dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.
4. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator Of Service)
Mengkoordinir seluruh kegiatan upaya pelayanan kesehatan masyarakat dan
mencapai tujuan kesehatan melalui kerja sama dengan team kesehatan lainnya
sehingga tercipta keterpaduan dalam sistem pelayanan kesehatan. Dengan demikian
pelayanan kesehatan yang diberikan merupakan suatu kegiatan yang menyeluruh dan
tidak terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya.
Universitas Sumatera Utara
5. Sebagai Panutan (Role Model)
Perawat harus dapat memberikan contoh yang baik dalam bidang kesehatan
kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang bagaimana tata cara
hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat.
6. Sebagai Tempat Bertanya(Fasilitator)
Perawat dapat dijadikan tempat bertanya oleh individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan
dan keperawatan yang dihadapi sehari-hari. Disamping itu perawat kesehatan
diharapkan dapat membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah
kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.
7.
Sebagai Pengelola ( Manager)
Perawat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan pelayanan kesehatan
baik puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab yang
diembankan kepadanya.
2.2 Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan (nursing care) adalah suatu proses atau rangkaian
kegiatan pada praktik keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien, pada
berbagai tatanan pelayanan kesehatan dengan menggunakan metodologi proses
keperawatan berpedoman pada standar keperawatan dilandasi etik dan etika
keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan
Menurut Lismidar, dkk (1990) proses keperawatan adalah suatu sistem dalam
merencanakan pelayanan asuhan keperawatan yang mempunyai lima tahapan yaitu:
1. Pengkajian Keperawatan
Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan pasien secara sistematis,
Menyeluruh, akurat, singkat dan berkesinambungan. Kriteria pengkajian keperawatan
meliputi: pengumpulan data dilakukan dengan cara anamese, observasi, pemeriksaan
fisik serta dari pemeriksaan penunjang. Sumber data adalah pasien, keluarga atau
orang terkait tim kesehatan, rekam medis dan catatan. Data yang dikumpulkan,
difokuskan untuk mengidentifikasi status kesehatan pasien masa lalu, status
kesehatan pasien saat ini, status biologis- psikologis-spritual, respon terhadap terapi,
harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal dan resiko tinggi masalah.
2. Diagnosa Keperawatan
Perawat menganalisa data pengkajian untuk merumuskan diagnosa keperawatan.
Proses diagnosa terdiri dari analisa, interprestasi data, identifikasi masalah pasien dan
perumusan diagnosa keperawatan, diagnosa keperawatan terdiri dari masalah
(Problem), penyebab (Etiologi), gejala (Symptom), atau terdiri dari masalah dan
penyebab (PE); bekerjasama dengan pasien dan petugas kesehatan lain untuk
Universitas Sumatera Utara
memvalidasi diagnosa keperawatan; melakukan pengkajian ulang dan merevisi
diagnosa keperawatan berdasarkan data terbaru
3. Perencanaan Keperawatan
Perawat membuat rencana keperawatan untuk mengatasi masalah dan
meningkatkan kesehatan pasien. Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah,
tujuan dan rencana tindakan keperawatan; bekerjasama dengan pasien dalam
menyusun rencana tindakan keperawatan; perencanaan bersifat individual sesuai
dengan kondisi atau kebutuhan pasien; mendokumentasi rencana keperawatan
4. Implementasi
Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana
asuhan keperawatan. Kriteria proses meliputi: bekerjasama dengan pasien dalam
melaksanakan tindakan keperawatan, kolaborasi dengan tim kesehatan lain,
melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan pasien, memberikan
pendidikan pada pasien dan keluarga mengenai konsep keterampilan asuhan diri serta
membantu pasien memodifikasi lingkungan berdsarkan respon pasien
5. Evaluasi Keperawatan
Perawat mengevaluasi kemajuan pasien terhadap tindakan keperawatan dalam
mencapai tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan. Adapun kriteria prosesnya
adalah menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara komprehensif,
tepat waktu dan terus menerus, menggunakan data dasar dan responden pasien dalam
mengukur perkembangan kearah pencapaian tujuan, bekerjasama dengan pasien,
keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan, memodifikasi hasil
evaluasi (Nursalam, 2001)
2.3 Motivasi Berprestasi
Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti “dorongan atau daya
penggerak”. Callahan dan Clark dalam Mulyasa (2004) mengemukakan bahwa
motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah
laku ke arah suatu tujuan tertentu. Seorang tenaga perawat akan bekerja dengan
sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. McDonald dalam Soemanto
(1998) menyatakan motivasi adalah sebagai suatu perubahan tenaga di dalam
diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif dan reaksi-reaksi dalam
usaha mencapai tujuan . Defenisi ini berisi tiga hal yaitu :
a. Motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang, setiap
perubahan motivasi mengakibatkan beberapa perubahan tenaga didalam sistem
neurofisiologis dari pada organisme manusia.
b. Motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif, keadaan ini dapat dicirikan sebagai
emosi, dorongan efektif yang kuat sering nyata dalam tingkah laku.
Universitas Sumatera Utara
c.
Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan, orang yang termotivasi,
membuat reaksi-reaksi yang mengarahkan dirinya kepada usaha mencapai tujuan,
untuk mengurangi ketegangan yang ditimbulkan oleh perubahan tenaga di dalam
dirinya. Dengan kata lain motivasi memimpin ke arah reaksi-reaksi mencapai
tujuan.
Menurut Davies (1991), motivasi berprestasi adalah kekuatan tersembunyi di
dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk berkelakuan dan bertindak
dengan cara yang khas. Kadang kekuatan itu berpangkal pada naluri, kadang pula
berpangkal pada keputusan rasional, tetapi lebih sering lagi hal itu merupakan
perpaduan dari kedua proses tersebut. Amea dan Ames dalam Irawan, dkk (1997)
menjelaskan motivasi dari pandangan kognitif. Menurut pandangan ini motivasi
berprestasi didefenisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya
sendiri.
Motivasi dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan strategi yang digunakan
untuk mencapainya, yaitu : (1) motivasi instrinsik, mengacu pada faktor-faktor dari
dalam, tersirat baik dalam tugas itu sendiri maupun pada diri waktu belajar, dapat
dijadikan sebagai pendorong bagi aktivitas dalam pembelanjaran, (2) motivasi
ekstrinsik, mengacu pada faktor-faktor dari luar. Motivasi ini biasanya berupa
penghargaan, pujian, hukuman atau celaan (Davies, 1991)
Menurut Siagian (1995) motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan
seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk menggerakkan kemampuan dalam
bentuk keahlian atau keterampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya
dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah
ditentukan sebelumnya
Perbedaan antara motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang dengan
motivasi yang ada di luar diri seseorang adalah adanya perasaan puas yang dimiliki
oleh seseorang. Perasaan puas dari seseorang yang merupakan motivasi internal
dapat berasal dari pekerjaan yang menantang, adanya tanggung jawab yang harus
diemban, prestasi pribadi, adanya pengakuan dari atasan serta adanya harapan bagi
pengembangan karir seseorang. Sedangkan motivasi yang ada diluar diri seseorang
yang menyebabkan orang tersebut melakukan pekerjaan sesuai dengan tujuan
organisasi adalah adanya rangsangan dari luar yang dapat berwujud benda atau
bukan benda (Uno, 2006).
Kebutuhan berprestasi menurut McClelland dalam hasibuan (2005) mencakup
tiga hal yaitu : (a) Kebutuhan untuk berprestasi, (b) Kebutuhan untuk memiliki kuasa
dan (c) Kebutuhan untuk afiliasi. Berdasarkan pada beberapa pengertian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi merupakan dorongan yang berasal dari
dalam diri dan dimiliki seseorang individu dalam melaksanakan suatu kegiatan untuk
meraih prestasi. Dengan demikian motivasi berprestasi merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi kinerja dalam memberikan pelayanan keperawatan di
rumah sakit.
Universitas Sumatera Utara
2.4 Komunikasi Therapeutik
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku
manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus menerus.
Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melancarkan, melaksanakan kegiatankegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik komunikasi dalam
lingkup pekerjaan maupun hubungan antar manusia. Sebagai tenaga kesehatan yang
paling lama dan sering berinteraksi dengan pasien, perawat diharapkan dapat menjadi
“obat” secara psikologis. Kehadiran dan interaksi perawat hendaknya dapat
membawa kenyamanan dan kerinduan bagi pasien. Komunikasi Therapeutik adalah
komunikasi yang direncanakan secara sadar dan bertujuan serta kegiatannya
difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi profesional yang
mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien yang dilakukan oleh perawat (Heri
Purwanto, 1994).
Penggunaan komunikasi therapeutik yang efektif dengan memperhatikan
pengetahuan, sikap dan cara yang digunakan oleh perawat sangat besar pengaruhnya
terhadap usaha mengatasi masalah psikologis pasien dengan komunikasi therapeutik
pasien akan mengetahui apa yang sedang dan apa yang akan dilakukan selama di
rumah sakit sehungga perasaan dan pikiran yang menimbulkan masalah psikologis
dapat teratasi (Brehman, 1996).
Secara Therapeutik dengan menggunakan berbagai teknik komunikasi agar
perilaku pasien berubah kearah yang positif seoptimal mungkin. Untuk dapat
melaksanakan Komunikasi Therapeutik yang efektif, perawat harus mempunyai
Universitas Sumatera Utara
keterampilan yang cukup dan memahami betul tentang dirinya. Agar perawat dapat
berperan efektif dan Therapeutik, ia harus menganalisa dirinya, yaitu kesadaran diri,
klarifikasi nilai, eksplorasi perasaan dan kemampuan menjadi model dan rasa
bertanggung jawab.
2.4.1
Analisa Diri Perawat
Setiap memulai aktifitas dalam memberikan pelayanan kepada pasien selalu
didahului dengan komunikasi. Komunikasi dilakukan untuk menjalin hubungan
interpersonal perawat dengan pasien agar proses keperawatan dapat dilakukan dengan
lancar dan efektif. Dalam Komunikasi Therapeutik, hubungan yang dilakukan adalah
dalam rangka menolong atau membantu mengatasi masalah pasien dan alat yang
efektif digunakan adalah diri perawat. Sebelum melakukan komunikasi, perawat
harus melakukan “Analisa diri” yang meliputi kesadaran diri, klarifikasi nilai,
eksplorasi perasaan dan kemampuan menjadi model.
2.4.1.1 Kesadaran Diri
Sebagai instrument dalam berkomunikasi yang bertujuan therapeutik, maka
perawat harus dapat mengenali perasaan, perilaku dan keperibadiannya secara pribadi
maupun sebagai pemberi pelayanan kesehatan. Perawat harus dapat menjawab
pertanyaan “siapa saya” yang sebenarnya. Kesadaran diri perawat ini diharapkan
dapat membuat perawat dapat menerima perbedaan dan keunikan pasien. Kesadaran
diri yang mantap akan mempengaruhi komunikasi yang therapeutik. Untuk membantu
mengenal siapa sebenarnya diri seseorang pada aspek prilaku, pikiran dan perasaan,
Universitas Sumatera Utara
dapat dilihat dari teori “Self Disclosure” yang digambarkan oleh Johari Window,
sebagaimana tabel dibawah ini :
Tabel 2.1 Analisa Kesalahan diri Menurut Johari Window
I
Diketahui oleh diri sendiri
dan orang lain
III
Hanya diketahui oleh diri sendiri
II
Hanya diketahui oleh orang lain
IV
Tidak diketahui oleh siapapun
Berdasarkan tabel tersebut, terjadinya perubahan satu kuadran akan
mempengaruhi kuadran yang lain, beberapa kemungkinan yang dapat terjadi dari
pergeseran masing-masing pintu/kuadran menurut teori tersebut, antara lain :
a.
Jika kuadran I yang diperbesar, maka individu ini cenderung bahkan selalu
terbuka dengan orang lain. Ciri khas dari individu ini adalah periang, familier,
mudah akrab, tidak kikir, banyak teman dan menyenangkan.
b.
Jika kuadran II diperbesar, maka individu ini suka menonjolkan dirinya sendiri,
dia merasa paling hebat, seperti katak dalam tempurung. Dia tidak menyadari
bahwa tindakannya tidak benar, dia buta terhadap dirinya sendiri sehingga area
ini disebut juga Blind Area (area buta).
c.
Jika kuadran III diperbesar, maka individu ini akan nampak suka menyendiri,
pendiam, tidak suka bergaul atau berinteraksi dengan orang lain. Individu ini
lebih banyak menyimpan rahasia, sehingga area ini dapat disebut dengan
“Secret area”
Universitas Sumatera Utara
d.
Jika kuadran IV diperbesar, maka individu ini tidak diketahui orang lain namun
dia tau banyak tentang orang lain. Dia tertutup terhadap dirinya, tidak ada yang
tau tentang dirinya sekalipun dirinya sendiri, hanya Tuhan yang mengetahui
segala sesuatu tentang dirinya.
Kesadaran diri seseorang dapat ditingkatkan melalui tiga cara, yaitu
mempelajari diri sendiri, belajar dari orang lain dan membuka diri terhadap informasi
atau perubahan yang terjadi. Kesadaran diri ini menentukan pola interaksi yang
dibangun antara komunikator dengan komunikan, antara perawat dengan pasien.
Kesadaran diri yang baik dapat menciptakan hubungan yang Therapeutik yang saling
memuaskan.
2.4.1.2 Klarifikasi Nilai
Kenyamanan dan kepuasan perawat terhadap sistem nilai yang dianut
merupakan modal yang bermakna bagi perawat dalam melaksanakan Komunikasi
Therapeutik. Perawat akan lebih siap dan mantap dalam mengidentifikasi situasi yang
bertentangan dengan nilai yang dimiliki, sehingga hubungan
Therapeutik antar
perawat-pasien tidak terganggu.
2.2.1.3 Eksplorasi Perasaan
Perawat perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya, dan mengontrolnya
agar ia dapat menggunakan dirinya secara therapeutik. Jika perawat terbuka pada
perasaannya maka ia akan mendapatkan dua informasi penting, yaitu bagaimana
responnya pada pasien dan bagaimana penampilannya pada pasien. Sehingga pada
Universitas Sumatera Utara
saat berbicara dengan pasien, perawat harus menyadari responnya dan mengontrol
penampilannya.
2.2.1.4 Kemampuan Menjadi Model
Kebiasaan yang kurang baik tentang kesehatan akan mempengaruhi
keberhasilan dalam berhubungan antara pasien-perawat. Perawat tidak dapat
memisahkan atau memberi batasan yang jelas antar peran sebagai profesional dengan
kehidupan pribadinya karena diri perawat sebagai intrumens dalam menjalankan
hubungan yang therapeutik. Kemampuan menjadi model ini merupakan bentuk
tanggung jawab perawat terhadap apa yang disampaikan kepada pasien disamping
tanggung jawab profesi.
Seorang perawat tidak akan dapat mengetahui tentang kondisi pasien jika
tidak ada kemampuan menghargai keunikan pasien. Tanpa mengetahui keunikan
masing-masing kebutuhan pasien, perawat juga akan kesulitan memberikan bantuan
kepada pasien dalam mengatasi masalah pasien. Sehingga perlu dicari metode yang
tepat dalam mengakomodasi agar perawat mampu mendapatkan “pengetahuan” yang
tepat tentang pasien. Melalui Komunikasi Therapeutik diharapkan perawat dapat
menghadapi, mempersepsikan, bereaksi dan menghargai keunikan pasien.
Komunikasi therapeutik tidak dapat berlangsung dengan sendirinya, tapi harus
direncanakan, dipertimbangkan dan dilaksanakan secara profesional. Sehingga jangan
sampai karena terlalu banyak atau asiknya bekerja, perawat melupakan pasien sebagai
manusia dengan latar belakang dan permasalahannya. Pada saat pertama kali perawat
melakukan Komunikasi therapeutik, proses komunikasi umumnya berlangsung
Universitas Sumatera Utara
singkat, canggung, semu dan seperti dibuat-buat. Namun, hal ini akan lebih
membantu untuk mempresepsikan masing-masing hubungan pasien karena adanya
kesempatan untuk mencapai hubungan antar manusia yang positif sehingga akan
mempermudah pencapaian tujuan keperawatan (Mundakir, 2006).
2.2.2
Tujuan Komunikasi Therapeutik
Komunikasi Therapeutik dilaksanakan dengan tujuan :
1.
Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan
pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila
pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan.
2.
Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif
dan mempertahankan kekuatan egonya.
3.
Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal
peningkatan derajat kesehatan.
4.
Mempererat hubungan atau interaksi antara pasien dengan perawat secara
profesional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah
pasien.
2.2.3
1.
Prinsip-prinsip Komunikasi Therapeutik
Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti memahami dirinya sendiri
serta nilai yang dianut.
2.
Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan
saling menghargai.
3.
Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien.
Universitas Sumatera Utara
4.
Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun
mental.
5.
Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki
motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya sehingga
tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
6.
Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk
mengetahui dan mengatasi rasa gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun
frustasi.
7.
Memahami betul arti simpati sebagai tindakan yang Therapeutik.
8.
Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan
Therapeutik.
9.
Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan
orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan
suatu keadaan sehat fisik, mental, sosial, spiritual dan gaya hidup.
10.
Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap dirinya
atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain tentang
apa yang dikomunikasikan (Mundakir, 2006).
2.5
Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Kinerja Perawat di Rumah Sakit
Pelayanan keperawatan yang diberikan perawat menjadi salah satu kriteria
yang digunakan oleh masyarakat untuk menilai mutu pelayanan di rumah sakit.
Upaya untuk memberikan hal yan terbaik bagi kepuasan pasien adalah fungsi yang
harus dijalankan oleh perawat, yang pada intinya hal ini adalah menjadi perhatian
Universitas Sumatera Utara
utama oleh setiap perawat dalam upaya mencapai pelayanan keperawatan yang
bermutu.
Motivasi berprestasi perawat terhadap seluruh aspek tugas dan fungsi yang
dilaksanakan sebagai bentuk pekerjaan, harus di arahkan pada upaya untuk menjamin
terselenggaranya layanaan kesehatan yang berkualitas sebagai jaminan mutu (Quality
assurance) dan memberikan dorongan yang kuat pada diri sendiri untuk mampu
merespon segala bentuk kebutuhan dari setiap pasien, sehingga perawat menghasilkan
kinerja yang optimal sesuai standart yang telah di tetapkan. Hal ini berarti bahwa
seorang perawat mampu merasakan pentingnya motivasi berprestasi untuk dapat
mengenal berbagai permasalahan dan tantangan tugas yang senantiasa dia harus
mampu mencari solusi, pelayanan arah yang jelas, hal apa yang harus dilakukan
untuk mencapai kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik. Oleh karena itu
motivasi berprestasi harus selalu muncul dalam diri seseorang perawat dalam
melaksanakan tugas keperawatannya yang dilakukan secara berkesinambungan,
kompehensif dan nyata sehingga dapat memotivasi dirinya untuk terus menerus
berupaya meningkatkan mutu pelayanan yang lebih baik.
Secara umum kinerja perawat bertujuan untuk mengembangkan dan
meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit. Selain itu kinerja perawat dapat
dipergunakan sebagai tolak ukur keberhasilan perawat dalam menjalankan tugas, alat
pembinaan, pengembangan dan peningkatan mutu kerja perawat. Kinerja perawat
merupakan gambaran dan acuan dalam menyatakan keberhasilan suatu rumah sakit
sebagai organisasi yang memberikan jasa pelayanan kesehatan dan sekaligus menjadi
bahan masukan untuk usaha pembinaan dan pengembangan kinerja rumah sakit
dalam rangka menerapkan visi, misi, pencapaian tujuan dan upaya untuk mampu
mewujudkan persaingan kualitas rumah sakit pada tingkat nasional maupun
Internasional.
Selanjutnya rumah sakit sebagai institusi yang memberikan jasa pelayanan
kesehatan, memiliki makna yang penting dalam kehidupan masyarakat, sehingga
bagaimana motivasi setiap orang yang terlibat dalam pemberian jasa pelayanan
kesehatan dimaksud sangat menentukan kinerja rumah sakit tersebut secara
keseluruhan. Dengan demkian motivasi berprestasi menjadi salah satu faktor penentu
dalam mencapai kinerja perawat dalam memberikan pelayanan perawatan.
Berdasarkan pemikiran tersebut dapat dijelaskan bahwa makin tinggi motivasi
berprestasi, maka kinerja perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan makin
baik. Dengan demikian dapat diduga ada hubungan yang positif antara motivasi
berprestasi dengan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan di
rumah sakit.
2.6
Hubungan Komunikasi Therapeutik dengan Kinerja Perawat di Rumah
Sakit
Setiap perawat harus menyadari arti pentingnya komunikasi dalam
menjalankan tugas keperawatan di rumah sakit. Untuk memberikan pelayanan
Universitas Sumatera Utara
keperawatan akan sulit apabila komunikasi antara perawat dengan pasien tidak
berjalan dengan efektif. Adanya komunikasi akan memudahkan kerja sama yang baik
dalam memberikan pelayanan kesehatan, karena bagaiman sekalipun harus disadari,
setiap orang dapat menerima sesuatu (bentuk pengobatan) apabila seseorang
mengetahui informasi secara jelas tentang bentuk pengobatan yang diberikan
kepadanya. Ini merupakan tugas perawat memberikan informasi secara jelas kepada
pasien, dengan demikian segala sesuatu itu dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Dalam setiap pelaksanaan tugas, seorang perawat membutuhkan sejumlah informasi
mengenai pasien yang ditanganinya, sehingga melalui data yang dikumpulkan
menjadi dasar untuk memperkirakan dan mengetahui penyakit pasiennya. Selain itu
Komunikasi Therapeutik dilakukan agar tingkat kecemasan, ketakutan dan perubahan
sikap terhadap bentuk pengobatan yang diberikan dapat diatasi dengan baik. Untuk
mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan menggunakan Komunikasi
Therapeutik secara efektif yang akan dan sedang dilakukan tindakan keperawatan
seperti menggali perasaan, pikiran, perubahan prilaku, sehingga akan mampu
memecahkan masalah psikologis pada pasien.
Pelaksanaan tugas keperawatan termasuk menggunakan komunikasi
therapeutik adalah salah satu bentuk kinerja perawat dalam memberikan pelayanan
publik. Kinerja yang baik dapat tercapai apabila terjadi komunikasi yang efektif
antara perawat dengan pasien, dimana terjadi kerja sama dari sejumlah orang,
melibatkan keadaan saling bergantung, koordinasi yang mengisyaratkan komunikasi
berupa interaksi yang harmonis dalam organisasi baik secara vertikal, horizontal
maupun diagonal. Setiap pencapaian kinerja yang baik melibatkan proses komunikasi
yang baik. Demikian pula penggunaan komunikasi therapeutik mengisyaratkan
adanya interaksi antara perawat dengan pasien sebagai ikatan kerja sama yang
berlangsung harmonis sebagai proses pencapaian tujuan pelayanan yang prima
dimana interaksi diantara bagian yang satu dengan lainnya dan manusia yang satu
dengan lainnya harus berjalan secara harmonis, dinamis dan pasti. Kemampuan
perawat menggunakan komunikasi therapeutik akan dapat mencapai tujuan secara
efektif dan hal ini menggambarkan pencapaian kinerja perawat itu sendiri dalam
memberikan pelayanan keperawatan di rumah sakit.
Komunikasi therapeutik akan mendukung proses pelaksanaan tugas perawat,
memelihara kerja sama dan suasana kerja sehingga ditemukan situasi dan kondisi
kerja yang kondusif. Komunikasi therapeutik menunjukkan adanya upaya untuk
saling tukar informasi antara pasien dengan perawat dalam pelaksanaan pengobatan
di rumah sakit. Kemampuan akan pemahaman terhadap pasien dan oran lain yang
terlibat di dalamnya sangat diperlukan. Selain itu pemahaman tentang pelaksanaan
kerja yang dilakukan secara terpadu membutuhkan komunikasi yang efektif. Untuk
menciptakan persepsi yang sama, komunikasi therapeutik merupakan sarana vital
yang mampu menghubungkan perilaku dan cara kerja serta hubungan insani dalam
layanan kesehatan di rumah sakit.
Keterkaitan komunikasi therapeutik terhadap kinerja perawat dapat dijelaskan
dari konstribusi yang diberikan komunikasi therapeutik guna menghasilkan kerja
Universitas Sumatera Utara
sama dan ketenangan yang didapat pasien secara psikologis selama diberikan layanan
kesehatan padanya. Hal ini memberikan umpan balik bagi rumah sakit untuk
mencapai tujuan bersama dan kinerja secara efektif dan efisien. Kontribusi tersebut
dapat dilihat pada tingkat pengetahuan perawat menggunakan komunikasi therapeutik
yang dapat diperankannya dalam memberikan pelayanan keperawatan. Perawat
berperan sebagai sumber, penyampaian informasi terhadap internal dan eksternal
yang terkait dengan pasien yang dilayaninya. Dalam pelaksanaan komunikasi
therapeutik perawat senantiasa mempertimbangkan situasi dan peranan yang
dilakukannya. Metode dan cara-cara berkomunikasi juga harus disesuikan dengan
situasi dan waktu komunikasi itu dilakukan.
Berdasarkan pemikiran diatas dapat dijelaskan bahwa makin efektif
komunikasi therapeutik yang dilakukan maka makin baik kinerja perawat dalam
memberikan pelayanan publik di rumah sakit. Dengan demikian dapat diduga ada
hubungan yang positif antara komunikasi therapeutik dengan kinerja perawat dalam
memberikan pelayanan keperawatan di rumah sakit.
2.7 Landasan Teori
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan
selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah
ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama (Rivai dan Basri, 2005).
Konsep motivasi dalam penelitian ini mengutip teori yang dikemukakan oleh
Menurut McClelland seperti dikutip oleh Hasibuan (1999), hal-hal yang dapat
memotivasi seseorang adalah: kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan afiliasi,
kebutuhan akan kekuasaan.
(1) Kebutuhan akan prestasi, merupakan daya penggerak yang dapat memotivasi
semangat bekerja seseorang. Karena itu, akan mendorong seseorang untuk
mengembangkan kreatifitas dan mengarahkan semua kemampuan serta energi
yang dimilikinya demi mencapai prestasi kerja yang maksimal. Perawat akan
antusias untuk berprestasi tinggi, asalkan mereka diberi kesempatan untuk
melakukannya. Menurut McClelland, hanya dengan mencapai prestasi kerja yang
tinggi maka seseorang akan dapat memperoleh pendapatan yang lebih besar.
(2) Kebutuhan akan afiliasi (kerja sama), menjadi daya penggerak yang akan
memotivasi semangat bekerja seseorang. Kebutuhan akan afiliasi dapat
Universitas Sumatera Utara
merangsang gairah bekerja karyawan karena setiap orang menginginkan hal-hal:
kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain di lingkungan ia tinggal dan
bekerja (sense of belonging), kebutuhan akan perasaan dihormati karena setiap
manusia merasa dirinya penting (sense of importance), kebutuhan akan perasaan
maju dan tidak gagal (sense of achievement), dan kebutuhan akan perasaan untuk
ikut berpartisipasi (sense of participation) dalam satu kegiatan tertentu.
Seseorang
dengan
mengembangkan
kebutuhan
dirinya
serta
untuk
berafiliasi
memanfaatkan
akan
semua
memotivasi
energinya
dan
untuk
menyelesaikan tugas-tugasnya.
(3) Kebutuhan akan kekuasaan, merupakan daya penggerak yang memotivasi
semangat kerja karyawan. Kebutuhan akan kekuasaan akan merangsang dan
memotivasi gairah kerja karyawan serta mengarahkan semua kemampuannya
demi mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik.
. Komunikasi Therapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar
dan bertujan serta kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan
komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien yang
dilakukan oleh perawat (Mundakir, 2006).
Penggunaan komunikasi therapeutik yang efektif dengan memperhatikan
pengetahuan, sikap dan cara yang digunakan oleh perawat sangat besar pengaruhnya
terhadap usaha mengatasi masalah psikologis pasien dengan komunikasi therapeutik
pasien akan mengetahui apa yang sedang dan apa yang akan dilakukan selama di
Universitas Sumatera Utara
rumah sakit sehungga perasaan dan pikiran yang menimbulkan masalah psikologis
dapat teratasi (Brehman, 1996).
2.8 Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan landasan teori, maka peneliti merumuskan kerangka konsep
penelitian sebagai berikut :
Variabel Independen
Variabel Dependen
Motivasi Berperestasi
(1) Kebutuhan Akan Berprestasi
(2) Kebutuhan Akan Afiliasi
(3) Kebutuhan Akan Kekuasaan
Kinerja Perawat
Kemampuan Komunikasi Therapeutik
(1) Pengetahuan
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian
(2) Sikap
(3) Tindakan
Universitas Sumatera Utara
Download