BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Partai politik

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Partai politik adalah suatu keniscayaan dalam sebuah Negara demokrasi.
Karena partai politik merupakan prasyarat utama di dalam sebuah Negara yang
mengaku menggunakan sistem demokrasi. Jika suatu Negara mengaku sebagai
Negara demokrasi maka suatu keharusan bahwa dalam sistem kenegaraannya
terdapat partai politik. Dimana partai politik berfungsi sebagai penyangga
bekerjanya sistem demokrasi di suatu Negara. Namun bila hal ini diabaikan, akan
sangat sulit mengakuinya sebagai sebuah Negara demokrasi. Bahkan tidak semua
Negara yang terdapat partai politik di dalamnya dapat dengan mudah di katakan
sebagai Negara demokrasi.
Dalam konteks perjalanan Negara Indonesia menjadi sebuah Negara
demokrasi yang di akui oleh hampir seluruh bangsa di dunia, maka Indonesia
adalah contoh nyata dari bekerjanya sebuah sistem demokrasi di dalam Negara
yang di topang oleh bekerjanya fungsi partai politik. Kejatuhan rezim orde baru di
tahun 1998 yang selama ini dianggap merepresi kehidupan politik di Indonesia
seakan menjadi jalan bagi kehidupan demokrasi dengan melahirkan banyak partai
politik sebagai salah satu instrumen pendukung bekerjanya sistem demokrasi.
Karena jatuhnya rezim orde baru yang diikuti dengan era reformasi membawa
angin segar bagi banyak kalangan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih
sejahtera dan bermartabat, salah satunya melalui partai politik.
1 Kehadiran era reformasi yang diikuti oleh munculnya banyak partai politik
memberikan banyak peluang bagi rakyat untuk dapat menyampaikan aspirasi dan
keinginannya melalui partai politik agar dapat didengar dan direalisasikan oleh
pemerintah. Salah satunya adalah kelahiran Partai Amanat Nasional ( PAN). PAN
sebagai sebuah partai politik yang lahir di era reformasi dibidani oleh beberapa
tokoh – tokoh reformasi yang tergabung dalam majelis amanat rakyat (Litbang
Kompas,2007). Majelis amanat rakyat (MARA) di deklarasikan pada tanggal 14
mei 1998 di Jakarta dengan tujuan untuk mewadahi kerjasama antar organisasi
dan perorangan yang memiliki komitmen terhadap gerakan reformasi. Dalam
perjalanannya, terbentuknya MARA menjadi cikal bakal berdirinya organisasi
partai politik bernama Partai Amanat Bangsa (PAB) yang kemudian berganti
nama menjadi Partai Amanat Nasional yang di deklarasikan pada tanggal 23
Agustus 1998. Tujuan dibentuknya Partai Amanat Nasional yakni menciptakan
Indonesia baru yang menjunjung tinggi dan menegakan nilai – nilai Iman dan
Taqwa,
kedaulatan
rakyat,
keadilan
merealisasikan tujuan partai, PAN
dan
kesejahteraan
sosial.
Untuk
mulai melebarkan sayap organisasi
kepartaiannya ke seluruh wilayah republik Indonesia dengan membentuk
kepengurusan partai di tingkat propinsi dan kabupaten /kota. Setelah merasa
mantap dengan struktur organisasi partai yang telah tersebar di sebagian besar
wilayah Indonesia, PAN memantapkan langkahnya dengan mengikuti pemilu di
tahun 1999. Keikutsertaannya dalam pemilu, ternyata mengantarkan PAN meraih
7,4 persen suara sah secara nasional. Sehingga dapat menempatkan wakilnya di
2 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sebuah lembaga tinggi Negara yang bertugas
menjadi ujung tombak perjuangan aspirasi rakyat.
Keberhasilan perolehan suara PAN secara nasional di pemilu 1999 tidak
hanya sebatas di tingkat nasional. Akan tetapi PAN juga mampu memperoleh
dukungan dari rakyat untuk dapat menempatkan wakilnya di DPRD propinsi dan
kabupaten/kota. Salah satunya adalah di Kabupaten Banjarnegara. Sebagai partai
baru di kancah perpolitikan Kabupaten Banjarnegara yang telah lama di dominasi
oleh Golkar, PDI dan PPP, PAN mencoba untuk menggeser dominasi ketiga
partai tersebut dengan berbagai strategi marketing politik yang di usungnya.
Terutama untuk menyongsong tujuan partai menjadi salah satu partai terbesar di
Kabupaten Banjarnegara. Hasilnya terlihat di pemilu 2009, dimana PAN mampu
menjadi partai pemenang pemilu di Banjarnegara dengan menggeser dominasi
Golkar, PDI-P dan PPP. Keberhasilannya menjadi partai pemenang pemilu telah
menunjukan bahwa sebagai partai baru ternyata PAN mampu untuk meruntuhkan
dinding kokoh kemapanan partai lama.
Padahal jika melihat sistem pemilu legislatif yang digunakan seharusnya
malah menguntungkan partai lama. Karena sistem pemilunya fokus pada
pemilihan partai. Sehingga partai lama diuntungkan dengan jejaring dan sumber
daya partai yang sudah dimiliki. Akan tetapi PAN sebagai partai baru justru
mampu memperoleh 4 kursi anggota DPRD. Begitupun di tahun 2004 yang sistem
pemilunya masih mengutamakan banyaknya perolehan suara partai, PAN tetap
bisa memperoleh 5 kursi anggota legislatif. Puncaknya di tahun 2009 dengan
sistem pemilu baru yang mengutamakan perolehan suara terbanyak calon anggota
3 legislatif justru membuat PAN memperoleh tambahan kursi legislatif yang cukup
siginfikan. Yakni tambahan 3 kursi DPRD yang menjadikan PAN sebagai partai
pemenang pemilu di tahun 2009.
Dengan perolehan 8 kursi legislatif di DPRD membuat PAN dapat
menempatkan anggotanya sebagai pimpinan DPRD Banjarnegara. Padahal di
pemilu legislatif tahun 2009 yang terjadi bukan hanya persaingan antar partai
untuk mendapatkan suara pemilih, tapi juga persaingan internal antar calon
anggota legislatif di satu partai yang sama untuk memperoleh suara pemilih
sebanyak mungkin agar mampu menjadi anggota legislatif. Hal ini terjadi karena
di pemilu 2009 sistem nomer urut partai sebagai dasar penentuan anggota
legislatif terpilih dihapuskan dan diganti dengan sistem suara terbanyak tanpa
memandang nomer urut calon anggota. Apakah ini memberikan pengaruh bagi
peningkatan perolehan suara PAN di Banjarnegara, hal itu masih belum bisa di
jelaskan dan mungkin malah ada faktor lain yang memberikan pengaruh atas
meningkatnya suara PAN di Banjarnegara.
Namun dari pengertian partai politik yang dikemukakan oleh Carl J.
Friedrich bahwa partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir
secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan kekuasaan bagi
pemimpin partainya dan memberikan kemanfaatan yang bersifat ideal maupun
materil (budiardjo,2008). Maka kemenangan PAN di tahun 2009 dapat dikatakan
sebagai pergerakan terorganisir yang secara agresif dan terstruktur berusaha
menggapai tujuannya merebut penguasaan kursi terbanyak DPRD di Kabupaten
Banjarnegara. Dengan menjadi partai pemenang pemilu, PAN berharap dapat
4 mengarahkan kebijakan – kebijakan publik yang secara langsung dapat dirasakan
manfaatnya oleh rakyat sekaligus dapat terus memelihara dan mempertahankan
komitmen pendukungnya di Banjarnegara agar tidak berpaling ke partai lain.
Karena bagaimanapun sebagai partai politik PAN memiliki beberapa fungsi yang
harus dijalankan yakni artikulasi, agregasi, rekruitmen dan kontrol terhadap
berjalannya pemerintahan. Akan tetapi yang terpenting untuk partai politik adalah
bagaimana mempertahankan suara pemilih yang sudah dalam genggaman, serta
bagaimana untuk menambah suara pemilih baru melalui rekruitmen politik agar
regenerasi dan kesinambungan kekuasaan partai dapat terjaga dengan baik.
Oleh sebab itu penulis melihat bahwa pemilihan terhadap studi kasus
strategi marketing politik yang dijalankan PAN di Banjarnegara dalam
memenangkan pemilu sangat menarik untuk diangkat sebagai tema skripsi.
Karena perjuangan PAN untuk menjadi partai pemenang pemilu legislatif di
Banjarnegara di tahun 2009 bukanlah sesuatu yang didapatkan secara instan.
Akan tetapi merupakan sebuah proses panjang yang harus dijalani demi
menggapai tujuannya memperoleh kemenangan di pemilu. Harapannya dengan
mempelajari strategi marketing politik partai di tingkat lokal untuk memenangkan
pemilu legislatif mampu memberikan pembelajaran tentang cara kerja partai
dalam mereproduksi dan mempertahankan kekuasaan. Karena bagaimanapun juga
kontestasi partai politik akan selalu berjalan dan bekerja di sebuah Negara yang
menganut sistem demokrasi seperti Indonesia demi mendapatkan kekuasaan.
5 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah saya uraikan, maka saya memiliki
rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimana strategi marketing politik Partai Amanat Nasional Kabupaten
Banjarnegara dalam memenangkan pemilu legislatif 2009?
C. Tujuan Penelitian :

Mengetahui
perkembangan
Partai
Amanat
Nasional
di
Kabupaten
Banjarnegara sampai tahun 2009 hingga mampu menjadi partai pemenang
pemilu di tahun 2009.

Mengetahui strategi marketing politik yang dipilih dan dijalankan PAN dalam
pemilu legislatif 1999, 2004 dan 2009 untuk merebut simpati dan suara rakyat
Banjarnegara.
D. Landasan Teori :
Untuk membahas dan menganalisa rumusan masalah di atas secara lebih
komprehensif dan mendalam, penggunaan dasar - dasar teori yang mencukupi
sebagai rujukan diperlukan untuk mempermudah menemukan jawaban dari
rumusan masalah. Karena itulah digunakan dasar – dasar teori yang relevan untuk
mengetahui rahasia kemenangan partai agar dapat menjadi partai pemenang
pemilu yakni dengan melihat : Marketing politik, pemetaan pemilih, memahami
tipologi partai politik, dan memahami sistem pemilihan umum.
Penggunaan strategi marketing dalam politik di era sekarang merupakan
sebuah keniscayaan. Dimana dalam konteks perpolitikan sekarang ini,
6 penggunakan ilmu marketing yang selama ini identik dengan disiplin ilmu
ekonomi yang menghubungkan antara produsen dengan konsumen dianggap
sudah saatnya diterapkan dalam dunia politik. Penerapan ilmu marketing terutama
digunakan untuk membantu partai politik mengenal masyarakat yang diwakilinya
atau yang menjadi target pendekatan (Firmanzah,2008). Untuk itulah penggunaan
metode marketing sangatlah diperlukan dalam menyusun dan merancang strategi
politik agar dapat meyakinkan konsumen politik bahwa produk politiknya lebih
unggul dibandingkan dengan pesaing.
Penggunaan metode marketing dalam dunia politik dianggap sesuai
dengan situasi dan kondisi masyarakat yang telah mengalami transformasi
perubahan seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dimana
mulai terlihat tuntutan dari masyarakat agar dunia politik dapat mulai menerapkan
prinsip – prinsip demokrasi secara nyata. Terutama bagi partai politik agar dapat
lebih terbuka dan transparan dalam mengelola partainya. Keadaan ini
menyebabkan partai politik dituntut agar dapat mengembangkan program kerja
sesuai dengan aspirasi rakyat yang sebenarnya. Apalagi didukung oleh kondisi
sistem perpolitikan di Indonesia yang menganut sistem multipartai membuat
persaingan politik menjadi semakin keras untuk meyakinkan dan memperebutkan
hati rakyat. Seperti ungkapan jenderal Sun tzu yang menyatakan bahwa :
Strategi adalah salah satu cara untuk dengan mudah menaklukkan lawan,
kalau perlu tanpa pertempuran ( Battle) atau dengan kata lain strategi
baru di perlukan jika ada lawan ( Adam, 2006: 9)
7 Sesuai dengan ungkapan tersebut, siapapun yang ingin menang dalam
persaingan harus dapat secara cerdas memilih strategi terbaik untuk dapat
mengalahkan lawannya. Dalam konteks politik, pemilu sebagai arena politik yang
membebaskan semua orang, kelompok atau organisasi berkompetisi di dalamnya,
penggunaan strategi merupakan komponen utama untuk meraih dan mewujudkan
tujuan – tujuan politik yang telah di rumuskan dan disusun secara matang.
Dimana dalam tulisan ini akan dibahas mengenai strategi marketing politik dan
penggunaannya dalam dunia politik untuk mencapai tujuan yang ingin di capai.
Berkaitan dengan pemilu, penggunaan strategi dimaksudkan untuk dapat
memenangkan pemilu dan menjadi penguasa dengan merebut kekuasaan atau
mempertahankan kekuasaan yang telah di genggam.
Seperti yang diungkapkan oleh Peter Schroder bahwa Strategi dalam
politik adalah strategi yang digunakan untuk mewujudkan cita – cita politik
(Schroder, 2004: 7). Begitu pentingnya penggunaan strategi dalam politik,
membuat semua aktor yang terlibat dalam politik harus mampu bersaing menjadi
yang terkuat dan terbaik dengan menggunakan sebuah strategi yang disusun
secara sistematis agar mampu memberikan kemenangan dan kekuasaan bagi
penggunanya.
Jadi
dapat
dikatakan
politik
tanpa
strategi
sama
saja
membayangkan memperoleh kekuasaan tapi tidak tahu jalan untuk mencapainya.
Dalam konteks penggunaannya di pemilu, penggunaan strategi diutamakan untuk
memperoleh kekuasaan dengan cara memperoleh hasil yang baik dalam pemilu.
Sehingga tujuan politik dapat di wujudkan dan membuka kesempatan akan adanya
perubahan yang ingin di capai.
8 Berkaitan dengan tujuan untuk memperoleh dukungan dari pemilih dalam
pemilu, maka memperhitungkan adanya kontestasi politik antar partai sangatlah di
perlukan. Karena masing – masing partai pasti akan mempunyai strategi tersendiri
yang menurutnya tepat untuk memenangkan sebuah kompetisi dalam pemilu.
Sehingga nantinya diharapkan strategi yang disusun untuk menjaring pemilih
akan berjalan efektif dan efisien. Karena jika pemetaan pemilih diabaikan, akan
membuat strategi yang disusun akan kontra produktif dengan tujuan yang ingin
dicapai. Untuk itulah pendekatan yang menggunakan kerangka berpikir marketing
politik diperlukan sebagai langkah awal melihat pemetaan pemilih yang potensial
atau mengambang. Pendekatan marketing politik yang digunakan antara lain
adalah
D.1 Pemetaan Pemilih
Langkah awal dalam menyusun strategi marketing politik yakni
melakukan pemetaan pemilih. Melalui pemetaan pemilih, maka pondasi awal
dalam mendesain kampanye untuk ikut berkompetisi di pemilihan umum dapat
berjalan efektif dan efisien. Efektif dalam arti tepat sasaran, tepat guna dan dapat
memperoleh hasil maksimal. Sedangkan efisien dalam arti penggunaan sumber
daya sesuai dengan yang dibutuhkan. Ini terkait dengan pengalokasian uang,
penggunaan tim kampanye serta pemanfaatan waktu dan tenaga sesuai
peruntukannya dalam kampanye. Pada prinsipnya pemetaan pemilih diperlukan
hanya untuk bertindak secukupnya dengan memperoleh hasil yang maksimal.
Dengan pemetaan pemilih yang baik, diharapkan model - model kampanye yang
selama ini digunakan melalui penghamburan sumber daya secara frontal tidak
9 perlu lagi dilakukan. Karena yang terpenting dalam kampanye adalah mampu
mengutarakan maksud secara tepat dan memperoleh manfaat yang dapat di ukur
tingkat keberhasilannya. Terdapat beberapa langkah untuk mempermudah dalam
memetakan pemilih yang potensial bagi partai atau kandidat.
Alur Pemetaan Pemilih :
Identifikasi posisi awal partai/kandidat Segmentasi pasar pemilih Targeting pasar pemilih Strategi kampanye Positioning partai/kandidat Klasifikasi tipe pemilih dan perilaku pemilih Sumber: Pamungkas (2010:71)
D.2 Identifikasi Posisi Awal Partai
Langkah awal dalam melakukan pemetaan pemilih adalah dengan
mengidentifikasikan posisi awal dari partai/kandidat dalam pasar pemilih dan
partai – partai pesaing. Pilihan untuk menempatkan identifikasi awal
partai/kandidat di posisi awal di maksudkan karena biasanya ketertarikan pemilih
pada partai/kandidat cenderung dimulai dari kesamaan dan kedekatan sistem nilai
dan keyakinan antara keduanya. Hubungan ini dapat dijelaskan dengan
meggunakan model spasial seperti berikut:
10 Gambar : Model Spasial posisi partai dan Pemilih di pemilu 2004.
L
c
E
V
E
L
P
E
M
I
L
I
H
d
e
b
f
a
g
1
7
Nasionalis
Religius
Sumber : Pamungkas (2010:72)
Dari model spasial di atas, partai dan politisi di Indonesia secara ekstrim
dapat di letakkan dalam spektrum kelompok nasionalis dan kelompok religius
(Pamungkas,2009). Letak garis – garis lurus spektrum yang di pisah oleh titik –
titik bergaris menjelaskan bahwa semakin menuju ke tengah mendekati titik
bergaris maka pandangan politiknya akan
semakin moderat. Ukuran tingkat
pembilahan moderatisasi pembilahan partai dilihat dari tingkat komitmen ideologi
yang dianut dan penerimaan kelompok lain di luar mereka. Merujuk pada hasil
pemilu tahun 2004 dari tujuh partai yang lolos electoral threshold, PDIP menjadi
titik simpul pertama sebagai partai yang dianggap paling nasionalis. Sedangkan
yang menempati titik simpul ketujuh yang di anggap sebagai partai paling islamis
masih diduduki oleh PKS. Untuk partai Golkar, Demokrat, PAN, PPP, PKB
11 secara
berurutan
menempati
spektrum
garis
setelah
PDIP.
Dengan
pengidentifikasian ini, posisi partai dan kandidat akan menjadi lebih mudah di
petakan sehingga dapat terlihat pemilih potensial dari masing – masing partai
politik yang ada.
Gambar : Model Spasial Posisi Partai dan Pemilih di Tahun 2009.
L
Y
e
E
F
d
V
E
L
G
c
H
b
a
P
E
M
I
L
I
H
1
9
Nasionalis
X
Religius
Sumber : Modifikasi dari Sigit Pamungkas (2010)
Dari model spasial di atas, terdapat penambahan sebanyak dua partai
dalam penggambaran letak partai dan politisi di Indonesia dalam spektrum
kelompok ideologi nasionalis dan religius. Letak garis – garis lurus spektrum yang
di pisah oleh titik – titik bergaris menjelaskan bahwa semakin menuju ke tengah
mendekati titik bergaris maka pandangan politiknya akan
semakin moderat.
Ukuran tingkat pembilahan moderatisasi partai dilihat dari tingkat komitmen
ideologi yang dianut dan penerimaan kelompok lain di luar mereka. Merujuk pada
hasil pemilu tahun 2009 dari sembilan partai yang lolos electoral threshold, PDIP
12 masih menjadi titik simpul pertama sebagai partai yang dianggap paling
nasionalis. Sedangkan yang menempati titik simpul ke sembilan yang dianggap
sebagai partai paling islamis masih diduduki oleh PKS. Selanjutnya bagi partai
Gerindra, Hanura, Golkar, Demokrat, PAN, PPP, PKB secara berurutan
menempati spektrum garis setelah PDIP. Dengan pengidentifikasian ini, posisi
partai dan kandidat akan menjadi lebih mudah di petakan sehingga dapat terlihat
pemilih potensial dari masing – masing partai politik yang ada.
D.3 Segmentasi Pemilih
Selanjutnya
setelah
identifikasi
partai/kandidat
adalah
melakukan
segmentasi pemilih. Segmentasi pemilih dilakukan untuk memudahkan pemilahan
terhadap tanggapan masyarakat pada partai/kandidat tertentu sehingga membuat
partai/kandidat dapat mengklasifikasikan pemilih sesuai dengan kategori tertentu
berdasarkan spektrum posisi partai/kandidat. Paling tidak terdapat 4 cara dalam
melakukan segmentasi pemilih yakni :
1. Segmentasi geografi, yaitu pembagian pemilih berdasarkan persebaran
penduduk yang tinggal di kota dan desa.
2. Segmentasi demografi, yaitu pemilih dibedakan berdasarkan variabel jenis
kelamin, pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan.
3. Segmentasi sosial – budaya, yaitu pembagian pemilih berdasarkan
perbedaan suku, ras, etnik dan agama.
4. Segmentasi usia, yaitu pemilahan pemilih berdasarkan perbedaan usia dari
pemilih pemula,anak muda hingga pemilih dewasa.
13 Segmentasi terhadap pemilih yang dilakukan dengan 3 asumsi bahwa
(Firmanzah, dalam Pamungkas,2009: 73). Pertama, pemilih terdiri atas komponen
– komponen yang tidak sama (heterogen). Kedua heterogenitas pemilih akan
mempengaruhi tingkat dan jenis pilihan pemilih. Ketiga, masing – masing
segmentasi pemilih dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan juga dapat di
bedakan dengan karakteristik pemilih secara keseluruhan.
D.4 Target Pemilih
Setelah membuat segmentasi pemilih dan mengetahui secara lengkap
karakter dari masing – masing masyarakat yang akan menjadi sasaran.
Selanjutnya adalah memilih target dari segmentasi pemilih yang telah di ketahui
untuk menjadi target kampanye partai/kandidat. Targeting dilakukan dengan
alasan bahwa tidak mungkin untuk merangkul semua segmentasi
pemilih
kedalam program kampanye yang akan di implementasikan di lapangan. Karena
memang terdapat keterbatasan sumberdaya yang dapat dikerahkan. Selain itu
harus benar – benar memilih segmentasi yang akan dimasuki dengan melihat
peluang dan jumlah pemilih yang signifikan dengan terlebih dahulu menganalisa
persebaran pemilih berdasarkan segmentasi geografis. Sehingga pendekatan yang
di gunakan terhadap pemilih dapat bekerja secara efektif dan efisien.
Dalam konteks targetting yang dilakukan oleh partai politik dalam
menghadapi pemilu, sudah seharusnya partai politik mempunyai data persebaran
pendukung partai dari pemilu sebelumnya. Hal ini diperlukan agar partai dapat
memprioritaskan masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu di suatu daerah
14 untuk digarap yang diharapkan nantinya akan menjadi pendukung utama partai
dalam pemilihan umum. Yang pada akhirnya partai politik dapat mempergunakan
sumber daya yang dimilikinya seperlunya dengan harapan memperoleh suara
pemilih di pemilu dengan hasil yang maksimal. Di sisi lain, partai juga dapat
secara efektif mengkomunikasikan program –program partai terhadap pemilih.
D.5 Tipe Pemilih
Setelah melakukan targeting pemilih, langkah selanjutnya adalah
memetakan tipe pemilih di tiap – tiap target pemilih yang akan di masuki
berdasarkan segmentasi pemilih yang telah dilakukan. Tipe – tipe pemilih dalam
suatu wilayah target yang telah ditentukan biasanya dapat di bagi ke dalam 3
level. Pertama, pemilih yang merupakan konstituen partai karena secara ideologi
dan tujuan selaras dengan partai politik. Kedua pemilih yang masih mengalami
kebimbangan untuk menentukan pilihan terhadap salah satu partai, dengan asumsi
banyaknya ideologi dan tujuan partai yang hampir mirip satu sama lain. Biasanya
ini terjadi pada para pemilih pemula yang baru pertama kali mengikuti pemilihan
umum. Ketiga, pemilih yang pada pemilu sebelumnya adalah pendukung partai
lain, namun membuka kesempatan bagi partai baru yang mempunyai program
serta janji – janji partai yang lebih baik dari partai yang sebelumnya dia pilih.
15 Gambar : Pelapisan Pemilih dalam pemilu
Pemilih Pemula
Konstituen
Pendukung PartaiLain
Sumber : Pamungkas, (2010:74)
Berdasarkan pemetaan tipe pemilih setelah di klasifikasikan ke dalam 3
level pemilih, selanjutnya harus mempelajari secara cermat pola perilaku ketiga
tipe pemilih yang ada. Secara teoritik terdapat 3 penjelasan dalam memahami
perilaku memilih(Pamungkas, 2009:74). Pertama, party identification yakni
perilaku para pemilih dalam memilih partai/kandidat berdasarkan pada sejumlah
nilai – nilai yang di anggap sama dengan pemilih. Misalnya pemilih yang abangan
mempunyai kecenderungan untuk memilih partai yang identik dengan nilai
nasionalis, sedangkan pemilih santri akan memilih partai berbasis agama. Kedua,
secara sosiologis perilaku pemilih dalam memilih di dorong oleh faktor - faktor
yang bersifat sosiologis seperti kesamaan – kesamaan kelas sosial, sex, geografis
dan agama. Ketiga, selalu di hitung menggunakan pilihan rasional dimana
perilaku memilihnya di dorong oleh kalkulasi untung – rugi. Pemilih yang seperti
ini biasanya sangat sensitif terhadap isu – isu kebijakan yang mempunyai dampak
pada dirinya atau tidak. Selain itu juga terdapat perilaku memilih yang sangat
tergantung dengan perilaku elit yang menjadi panutan (patron – client).
16 D.6 Positioning Politik
Langkah terakhir adalah melakukan positioning politik. Positioning
dilakukan guna menyampaikan pesan politik dengan menanamkan pencitraan dan
pesan politik yang baik terhadap pemilih, baik yang konstituen atau calon
kontituen. Bila di kaitkan dengan partai politik, positioning di maksudkan untuk
memposisikan citra partai politik ke dalam posisi yang lebih baik daripada partai
politik lain. Secara lebih tegas, positioning adalah turunan dari visi dan misi
politik partai yang di padukan dengan keunggulan kompetitif yang di miliki oleh
partai dan di buat dalam bentuk program partai yang simpel, memikat, dan
nendang ( Wasesa, 2011:208). Dengan di dukung oleh visualisasi penyampaian
program partai, pemilih di harapkan dapat langsung memahami apa yang ingin di
sampaikan oleh partai. Visualisasi dapat berupa gambar atau video tentang partai
yang di dukung oleh simbol atau jargon partai yang mudah di ingat dan di tiru
oleh pemilih. Penggunaan simbol atau jargon bertujuan untuk menarik simpati
pemilih dengan mengasumsikan partai sebagai pembela masyarakat ekonomi
kelas bawah atau sejenisnya. Yang akan membuat pemilih berpikir untuk menjadi
salah satu pendukung partai.
Melalui positioning yang seperti ini, maka partai secara efektif telah
memperlihatkan keunggulan partainya di banding partai lain dengan meyakinkan
bahwa program partai akan di jalankan sesuai dengan visualisasi yang telah
disampaikan. Secara tidak langsung pemilih akan melihat bahwa tawaran yang di
sampaikan oleh partai akan dapat terealisasi dengan mudah dibanding tawaran
dari partai lain. Karena yang terpenting partai mampu untuk memperlihatkan
17 kejelasan posisinya sehingga memudahkan pemilih untuk lebih mengenal dan
memahami maksud dari tujuan perjuangan partai yang di sampaikan dengan
visualisasi yang memikat.
Setelah melakukan pemetaan pemilih, langkah selanjutnya adalah mulai
untuk menyusun strategi kampanye yang di nilai tepat dan mampu untuk merebut
simpati rakyat di saat pemilihan umum
agar dapat memperoleh suara yang
signifikan untuk mempertahankan / merebut kekuasaan. Penentuan terhadap
strategi kampanye yang akan digunakan harus selalu mengacu pada ketertarikan
pemilih pada partai, melihat heterogenitas pemilih dalam pemilu, serta tipe
pemilih yang akan di rangkul guna menjadi pendukung partai di pemilu dalam arti
menjadi pemilih dari partai yang bersangkutan ketika berada di bilik suara. Semua
ini di lakukan guna mencapai tujuan menjadi partai pemenang pemilu ataupun
kalau tidak mampu mencapainya, minimal dapat menjadi salah satu partai
mayoritas di parlemen. Karena harus disadari bahwa sumber daya yang dimiliki
partai politik sangatlah terbatas. Untuk itulah harus di manfaatkan secara efektif
dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan partai tersebut.
D.7 Sistem Pemilihan umum
Karena penelitian ini berusaha untuk melihat strategi marketing politik
PAN dalam proses pemenangan pemilu di tahun 2009, maka sangat perlu untuk
memahami dan mengetahui tentang sistem pemilu yang berlaku. Sistem pemilu
legislatif tahun 2009 menerapkan prinsip keterpilihan calon anggota legislatif.
Sehingga siapapun yang mampu memperoleh suara terbanyak tanpa melihat
18 nomer urut dalam daftar pencalonan akan ditentukan sebagai anggota legislatif.
Ketentuan ini menjadikan siapapun yang memperoleh suara terbanyak dalam
pencalonan anggota DPR/DPRD akan ditetapkan sebagai calon jadi sesuai dengan
keputusan Mahkamah Konstitusi No. 22 – 24/PUU-IV/2008 yang membatalkan
ketentuan pasal 214 huruf a sampai e Undang – Undang Nomer 10 tahun 2008
tentang pemilu DPR, DPD dan DPRD.
Dengan keputusan MK membuat strategi marketing politik partai berubah
sangat drastis. Dari yang sebelumnya berfokus mengkampanyekan partai politik
berubah menjadi mengkampanyekan calon anggota legislatif. Sehingga tidaklah
mengherankan bahwa di pemilu legislatif tahun 2009, baliho, poster dan alat
peraga kampanye lainnya di dominasi oleh gambar calon anggota legislatif
dengan tetap menyisipkan sedikit gambar partai politik pengusungnya. Hal ini
terjadi karena adanya perubahan peraturan pemilu yang sebelumnya berfokus
pada pemilihan partai politik menjadi fokus pada pemilihan figur yang dicalonkan
oleh partai politik.
E. Definisi Konseptual
Marketing politik adalah pendekatan yang mengedepankan metode
marketing untuk membantu politikus dan partai politik agar lebih efisien dan
efektif dalam membangun hubungan dua arah dengan konstituen dan masyarakat.
Bagi partai politik sendiri, penggunaan metode marketing dalam politik adalah
cara untuk membantu partai politik agar dapat lebih baik dalam mengenal
masyarakat yang diwakilinya atau yang menjadi target pendekatannya. Sehingga
diharapkan partai dapat mengembangkan program kerja atau isu politik yang
19 sesuai dengan aspirasi masyarakat. Pada akhirnya tujuan utamanya adalah untuk
membuat komunikasi dengan masyarakat berjalan secara efektif dan dapat
membuka kesempatan bagi partai politik untuk merebut atau mempertahankan
kekuasaan melalui pemilu. Untuk itulah setiap partai politik mempunyai pilihan
strategi tersendiri yang di gunakan untuk mencapai tujuan politiknya. Karena
partai politik sebagai organisasi formal yang diakui oleh negara dalam suatu
negara yang demokratis mempunyai legitimasi dalam mengerahkan semua sumber
daya yang dimilikinya dalam menghadapi pemilu. Sehingga dapat menjalankan
fungsinya secara periodik / simultan dalam rangka memenangkan pemilu yang
disesuaikan dengan kebijakan partai yang bersangkutan.
Strategi marketing politik yang diterapkan oleh partai politik juga harus
menyesuaikan dengan sistem pemilu yang berlaku dalam setiap penyelenggaraan
pemilu. Karena di Indonesia terdapat kecenderungan untuk merubah sistem
pemilu yang coba di sesuaikan dengan kepentingan – kepentingan peserta pemilu.
Karenanya penyesuaian strategi marketing politik harus senantiasa dilakukan agar
nantinya produk politik yang dihasilkan berupa program kerja dan turunannya
dapat lebih meyakinkan publik. Disisi lain juga untuk menunjukan bahwa produk
politiknya jauh lebih unggul dibandingkan dengan pesaing. Maka dari itu terdapat
beberapa indikator untuk melihatnya :
1. Partai poltik adalah organisasi politik yang bersifat nasional dan di bentuk
oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar
kesamaan kehendak dan cita – cita untuk memperjuangkan dan membela
kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta
20 memelihara keutuhan negara kesatuan republik Indonesia berdasarkan
pancasila dan Undang – Undang dasar negara republik Indonesia tahun
1945 melalui keikutsertaannya dalam pemilihan umum.
2. Pemilihan umum adalah sarana demokratis formal yang di selenggarakan
menurut peraturan perundang – undangan yang bertujuan untuk memilih
orang – orang yang untuk duduk sebagai wakil rakyat di lembaga
eksekutif maupun legislatif guna menjalankan pemerintahan.
3. Strategi pemenangan partai politik adalah segala upaya sebuah partai
politik untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari rakyat melalui
pengerahkan
segala
sumber
daya
yang
dimiliki
dengan
tujuan
memenangkan suara dalam pemilu.
4. Strategi marketing politik adalah strategi yang disusun secara terperinci,
cermat, teratur guna membantu partai politik menghasilkan produk politik
yang dapat dijalankan secara sistematis guna mencapai tujuan/ cita – cita
politik yang diinginkan.
5. Sistem pemilu adalah instrument yang digunakan oleh sebuah Negara
untuk memberikan jaminan saluran politik bagi rakyat memilih wakil wakilnya untuk duduk di pemerintahan.
F. Definisi Operasional
Digunakan untuk mempermudah dan memperjelas terhadap hasil
penelitian yang di lakukan yang didasarkan pada strategi marketing politik Partai
Amanat Nasional dalam memenangkan pemilu legislatif di tahun 2009. Dengan
melihat beberapa indikator yakni :
21 1. Marketing politik adalah pendekatan yang dilakukan oleh partai politik
atau kandidat dengan menggunakan metode marketing untuk meyakinkan
konstituen dan masyarakat bahwa produk politik yang dimilikinya jauh
lebih baik dibanding pesaing.
2. Pemetaan pemilih yang dilakukan oleh partai politik sebagai cara untuk
mempermudah partai menerapkan strategi pendekatan politik terbaik
dengan melihat karakteristik dan kesempatan memperoleh dukungan suara
dari beberapa daerah pemilihan dalam pemilu legislatif. Dalam melakukan
pemetaan pemilih melalui beberapa tahapan yakni : identifikasi posisi
partai, segmentasi pemilih, targeting pemilih, tipe pemilih dan melakukan
positioning politik.
3. Strategi pendekatan politik yang mengadopsi pendekatan marketing
politik untuk membantu partai dalam memahami dan mengenali rakyat
yang akan menjadi target pendekatan.
G. Metode Penelitian
G.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk melihat
strategi marketing politik Partai Amanat Nasional dalam memenangkan pemilu
legislatif di Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2009. Metode penelitian
Kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang diamati (Lexi J.
Moleong, 1994). Fokus penelitian akan melihat bagaimana PAN mampu secara
bertahap membangun pondasi politiknya dari tahun 1999, 2004 hingga pada
22 akhirnya di tahun 2009 mampu menjadi partai pemenang pemilu di Banjarnegara.
Karena menggunakan penelitian kualitatif, diharapkan hasil dari penelitian ini
mampu menggambarkan secara terperinci tentang bagaimana strategi politik yang
sebenarnya dijalankan oleh PAN. Untuk mengetahui hal tersebut penelitian
dimulai dari mengetahui awal berdirinya PAN di Banjarnegara, pertama kali ikut
pemilu hingga fakta tersembunyi tentang rahasia menjadi partai pemenang pemilu
di tahun 2009.
Dalam
pilihan
penggunaan
metode
penelitian
kualitatif,
saya
menggunakan teknik studi kasus. Karena dengan menggunakan teknik studi
kasus, saya dapat mengikuti dan memahami alur perkembangan Partai Amanat
Nasional di Banjarnegara. Terutama memahami jalan pikiran orang – orang yang
berada di dalam lingkup internal partai sehingga dapat memahami bagaimana cara
mereka untuk terus memperbaharui teknik – teknik strategi pemenangan dalam
menghadapi pemilu. Penggunaan teknik studi kasus juga dengan pertimbangan
bahwa nantinya akan mempermudah peneliti dalam mengeksplorasi data – data
yang diperoleh yakni dengan mengaitkannya satu sama lain jawaban yang
nantinya di dapatkan menjadi sebuah hasil penelitian yang mampu dipahami
secara mudah oleh saya dan pembaca. Karena dengan menggunakan teknik studi
kasus yag mengacu pada serangkaian prosedur yang ada dalam teknik tersebut,
saya akan dimudahkan memperoleh data yang nantinya diarahkan untuk
merumuskan sejumlah pertanyaan penelitian yang sifatnya menggunakan kata
tanya “ mengapa dan bagaimana”. Penggunaan kata – kata tanya tersebut, akan
23 mengarahkan saya untuk dapat mengungkapkan fakta tersembunyi yang berkaitan
dengan strategi politik yang digunakan oleh partai.
Selain itu penggunaan teknik studi kasus dalam penelitian ini juga akan
mempermudah saya memilah – milah data yang di peroleh. Hal ini karena dengan
menggunakan teknik study kasus memberikan kebebasan bagi penulis untuk
secara fleksibel menggunakan semua strategi pengumpulan data mulai dari
wawancara, observasi dan dokumentasi yang sekiranya dapat membantu peneliti
mendapatkan data yang ingin di peroleh, sehingga nantinya dapat memilah dari
semua data yang di dapatkan, sumber data manakah yang benar – benar relevan
untuk di gunakan.
G.2 Jenis dan sumber data
Penelitian ini akan menggunakan sumber data dari :
1. Person
Merupakan data yang diperoleh dari orang yang benar – benar mengetahui
tentang seluk -beluk partai. Sehingga sumber data yang di gunakan di
dapatkan dari kader partai, simpatisan partai, anggota DPRD PAN, seluruh
pengurus DPD PAN Banjarnegara.
2. Tempat
Tempat di perolehnya data adalah di kantor DPD PAN Banjarnegara,
Rumah
konstituen
partai,
rumah
anggota
DPRD
PAN,
Banjarnegara, dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara.
3. Paper
24 KPUD
Dengan melakukan studi kepustakaan untuk memperoleh berbagai literatur
dan dokumen yang mempunyai kaitan dengan tema yang sedang diteliti.
Dari ketiga sumber data tersebut, nantinya akan diperoleh 2 jenis data, yakni :
1. Data primer
Data yang di peroleh secara langsung oleh langsung dari kegiatan
pengamatan di lapangan. Data ini biasanya berupa data observasi dan
wawancara dengan responden. Dimana data yang di dapatkan dari
wawancara dengan
responden
cenderung
lebih subyektif karena
merupakan persepsi dari pribadinya sendiri.
2. Data Sekunder
Merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung oleh peneliti di
lapangan, yakni berupa berbagai macam literatur dan dokumen yang
berkaitan dengan tema penelitian. Penggunaan data sekunder akan sangat
membantu bagi peneliti , karena sifat datanya yang berasal dari literatur
dan dokumentasi yang relatif lebih obyektif.
G.3 Teknik Pengumpulan Data:
1. Wawancara :
Wawancara di lakukan secara mendalam terhadap aktor – aktor politik
yang terlibat secara langsung dalam proses pemenangan PAN. Proses
wawancara dilakukan dengan cara tatap muka langsung dengan pihak
yang akan di wawancarai. Pertanyaan yang di ajukan di susun secara
terstruktur yang mencakup semua pokok permasalahan yang berhubungan
dengan tujuan penelitian. Aktor – aktor yang di wawancarai adalah Bapak
25 Djuwahir Anom Wijaya, Bapak Gunadi, Bapak Wahyu Kristianto dan
Bapak Sigit Dwi Antoro. Semua aktor – aktor politik tersebut adalah orang
– orang yang secara langsung terlibat dalam kepengurusan DPD PAN
Banjarnegara mulai dari periode awal berdirinya hingga di tahun 2009.
Mereka semua di anggap mengetahui usaha PAN dalam membangun
pondasi dan jejaring politiknya di Banjarnegara.
2. Dokumentasi
Pengumpulan data melalui teknik ini di lakukan dengan jalan
mengumpulkan semua hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian,
terutama dokumen – dokumen partai, literatur – literatur yang membahas
tentang partai, dan juga berbagai laporan dari media yang berkaitan yang
dapat menjadi data pendukung penelitian.
G.4 Teknik Analisa Data
Analisa data pada intinya adalah proses untuk memahami dan membaca
semua data yang di peroleh, baik itu data primer /sekunder. Kegiatan ini dilakukan
untuk menyederhanakan data yang diperoleh agar lebih mudah di runut secara
terstruktur sesuai dengan urutan keutamaan data yang paling relevan untuk
digunakan sebagai data penelitian. Materi data yang terkumpul di kumpulkan satu
– persatu sesuai dengan keutamaan data mulai dari yang primer hingga sekunder.
Analisis data primer dimulai dengan mengumpulkan semua data
wawancara yang selanjutnya di buatkan transkip wawancara secara utuh dan
mudah dipahami, dengan tidak melupakan latar belakang responden yang di
wawancarai. Latar belakang responden akan sangat berpengaruh karena berkaitan
26 dengan mengapa responden berani mengatakan seperti itu, posisi apakah yang
sedang dia emban dalam partai, dan kewenangan apakah yang dia punyai sesuai
dengan struktur jabatan di dalam partai. Lalu di cross check dengan data observasi
yang diperoleh. Sehingga nantinya dapat di kategorisasikan data primer yang ada
menjadi data primer utama dan biasa.
Selanjutnya melakukan analisis data sekunder yang pada intinya untuk
menguatkan analisis data primer yang telah dilakukan. Yakni dengan
mengkategorisasikan
semua dokumen, litaratur dan laporan media yang
diperoleh. Di mulai dari yang paling berkaitan dengan tujuan penelitian hingga
yang paling tidak berkaitan. Untuk memperkuat analisis juga dilakukan
konfirmasi dengan pengurus partainya, apakah data yang ada benar – benar
merupakan sesuatu yang terjadi di dalam tubuh partai. Terakhir melakukan cross
check antara data primer dan sekunder apakah sesuai dan secara rasional dapat di
terima. Pada tahap akhir dilakukan penafsiran secara komprehensif oleh peneliti
dengan mengkaitkan dan menghubungkan semua data yang diperoleh untuk
menuntun pada kesimpulan dari penelitian yang dilakukan.
H. Sistematika Penulisan
Penulisan hasil penelitian akan di bagi ke dalam lima bab penulisan. Bab
pertama memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, landasan teori dan
metode penelitian yang digunakan. Pada Bab pertama ini peneliti akan
mengungkapkan arti pentingnya strategi marketing politik partai dalam
menghadapi
pemilu
yang
terlebih
dahulu
memperhatikan
gambaran
keaneragaman pemilih yang berasal dari berbagai latar belakang golongan dan
27 keyakinan. Sehingga menjadikan strategi marketing politik yang dijalankan dapat
mengantarkan PAN untuk memenangkan pemilu.
Bab kedua akan melihat profil Kabupaten Banjarnegara dan Partai Amanat
Nasional di era sekarang ini. Untuk profil kabupaten Banjarnegara akan di
fokuskan pada kondisi geografis, demografis, ekonomi dan sosial budaya serta
kondisi politik pemerintahannya. Untuk profil Partai Amanat Nasional akan
melihat kondisi umum partai, dan sejarah perkembangan Partai Amanat Nasional
di Kabupaten Banjarnegara.
Bab ketiga akan fokus pada bagaimana Partai Amanat Nasional di
Banjarnegara
merumuskan
strategi
marketing
politiknya
dan
mengimplementasikannya pada rakyat.
Bab keempat difokuskan pada melihat strategi marketing politik yang di
implementasikan Partai Amanat Nasional di tahun 2009 sehingga mampu menjadi
partai pemenang pemilu di Kabupaten Banjarnegara
Bab kelima berisi Kesimpulan.
28 
Download