39 BAB 4 ANALISA MANAJEMEN AUDIT ATAS FUNGSI

advertisement
39
BAB 4
ANALISA MANAJEMEN AUDIT ATAS FUNGSI PERSONALIA BADAN
PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN
4.1 Analisa terhadap Fungsi Personalia
Pada bagian ini, akan dipaparkan hasil analisa atas fungsi personalia
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
Dalam melakukan analisa terhadap
pelaksanaan fungsi personalia, melihat peningkatan kinerja fungsi – fungsi
personalia berdasarkan Alexander Hamilton yaitu:
1.
Perekrutan
Proses pencarian tenaga kerja membutuhkan suatu perencanaan
tenaga kerja, disini Biro SDM melakukan suatu perencanaan
tenaga kerja dengan mempelajari proyeksi kebutuhan SDM dan
rencana pengembangan perusahaan yaitu dengan menganalisis
kekurangan apa yang dibutuhkan SDM dan bagaimana tujuan
perusahaan ke depan nya untuk disesuaikan dengan kebutuhan
SDM. Dari hasil perencanaan tersebut maka akan diketahui
jumlah SDM yang dibutuhkan dan kompetensi apa yang
diperlukan.
Untuk mendapatkan karyawan dengan tingkat
kompetensi yang tepat Biro SDM juga memberlakukan sejumlah
tes berupa wawancara, pemeriksaan kompetensi dan psikotes,
pengetahuan dan keterampilan serta pemeriksaan kesehatan.
2.
Penilaian kerja
Setiap tahun perusahaan melakukan penilaian kinerja terhadap
karyawannya. Penilaian ini dilakukan untuk mendukung kebijakan
yang diambil perusahaan atas karyawan, seperti kebutuhan
pelatihan dan pengembangan kompetensi dan juga penghargaan,
seperti kenaikan gaji, kenaikan jabatan dan pemberian bonus.
Penilaian kerja yang diberikan perusahaan sangat objektif karena
dasar penilaian adalah performa karyawan dilihat dari pencapaian
39
40
sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya apakah karyawan sudah
melewati
pencapaian
sebelumnya
atau
tidak
mengalami
peningkatan sama sekali.
3.
Pelatihan karyawan
Sesuai dengan tujuan perusahaan, pengelolaan sumber daya
manusia berbasis kompetensi, perusahaan menjalankan suatu
program pelatihan dan pengembangan pada setiap karyawan.
Program ini dijalankan dengan efektif dimana pelaksanaan dan
kebutuhan pelatihan dianalisa berdasarkan kebutuhan karyawan
dalam pencapaian tujuan perusahan. Selain itu penggunaan tenaga
pelatih/instruktur trainee yang kompeten dapat meningkatkan
kualitas program pelatihan perusahaan.
4.
Sistem penggajian
Sistem penggajian dijalankan perusahaan dengan mencerminkan
keadilan, dimana penyusunan gaji berdasarkan dari penilaian atas
performa karyawan. Sistem penggajian ini juga memiliki
efektifitas dalam pencapaian tujuan perusahaan hal ini terjadi
karena sistem penggajian disusun sedemikian rupa agar dapat
memotivasi karyawan untuk lebih produktif.
5.
Program kesehatan
Program kesehatan yang dijalankan perusahaan mencakup
asuransi
kesehatan,
tunjangan
kesehatan,
perawatan
dan
pengobatan sudah memadai, dalam arti program ini dapat
menjamin kesehatan karyawan.
41
6.
Kesejahteraan dan Pelayanan
Dalam hal ini perusahaan mengenai menjalankan pembinaan
rohani,
koperasi
karyawan
dan
kesenian
serta
olahraga.
Perusahaan akan secara berkala memberikan pembinaan rohani
karyawan.
Program
ini
dimaksudkan
untuk
menjaga
keseimbangan mental, sosial dan spiritual karyawan yang sudah
dijalankan dengan cukup baik.
7.
Keselamatan karyawan
Program
kesehatan
yang
dijalankan
perusahaan
bertujuan
memberi rasa aman bagi karyawan dan meningkatkan disiplin
karyawan
dalam
bekerja.
Penerapan
pedoman
kesehatan
keselamatan kerja dan lingkungan, sistem penilaian resiko kerja
dan penyediaan alat – alat keselamatan, yang dinilai dapat
memberikan perlindungan serta rasa aman bagi karyawan.
8.
Hubungan ketenagakerjaan
Biro SDM merupakan jembatan antara perusahaan dan karyawan.
Analisis meninjau hubungan karyawan dengan Biro SDM dilihat
bagaimana Biro SDM menanggapi respon dari karyawan sehingga
karyawan tersebut dapat berkembang dengan baik dan aspirasinya
didengar oleh atasannya. Dari analisa yang dilakukan tidak
ditemukan adanya hubungan yang tidak baik antara Biro SDM
dengan karyawan.
9.
Keamanan perusahaan
Sumber daya manusia bagi perusahaan merupakan aset yang
penting,
maka
berhubungan
dengan
hal
ini
Biro
SDM
menjalankan fungsi keamanan yang berkaitan dengan karyawan
perusahaan misalnya pengamanan data personel yang bersifat
42
rahasia. Dari pelaksanaan yang dilakukan Biro SDM, dapat dilihat
fungsi keamanan ini sudah berjalan dengan baik.
Berikut ini dijelaskan gambaran mengenai distribusi keluar masuk
karyawan pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial agar bisa diketahui
keefektifan dan keefisienan fungsi personalia.
TABEL 4.1: Distribusi Keluar Masuk Karyawan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
Tahun
Jumlah Karyawan
Awal Tahun
Keluar
Masuk
Akhir Tahun
2010 – 2011
3565
124
405
3846
2011 – 2012
3846
159
420
4107
2012 – 2013
4107
192
433
4348
Setelah mengetahui distribusi keluar masuknya karyawan perusahaan,
maka akan disajikan penghitungan perputaran karyawan (employee turn over)
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, dengan menggunakan
rumus :
Employee turn over = Jumlah karyawan yang keluar per tahun x 100%
Jumlah rata – rata karyawan per tahun
Berikut ini perhitungan employee turn over Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Ketenagakerjaan selama 3 (tiga) tahun terakhir.
TABEL 4.2: Penghitungan Employee Turn Over Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ketenagakerjaan
Tahun
Penghitungan
Employee
Turn Over
2010
124
x100%
3,34%
x100%
3,99%
(3565+3846) :2
2011
159
43
(3846+4107) :2
192
2012
x100%
4,54%
(4107+4348) :2
Dari apa yang telah disajikan, makan dapat dilihat rata – rata
perputaran
karyawan
pada
Badan
Penyelenggara
Jaminan
Sosial
Ketenagakerjaan relatif rendah. Jika dianalisa lebih cermat lagi, maka Biro SDM
telah berhasil mencapai tingkat efektifitas dan efisiensi yang diharapkan
perusahaan karena berdasarkan data perputaran karyawan yang dilakukan
perusahaan BPJS kesehatan menunjukkan hasil 4,75% lebih besar dibanding
BPJS ketenagakerjaan.
4.2 Analisa Internal Control
Pada bagian ini, akan dijelaskan hasil analisa yang dilakukan terhadap
internal kontrol fungsi personalia. Analisa dilakukan untuk menilai apakah
pelaksanaan internal kontrol sudah memadai untuk tercapainya tujuan
pengendalian tersebut.
Evaluasi yang dilakukan menggunakan instrumen Internal Control
Questionare yang diserahkan kepada Biro SDM dan pengamatan langsung pada
pelaksanaan fungsi personalia. Internal Control Questionare yang disusun
mencakup pembahasan mengenai pengendalian setiap fungsi personalia berikut
ini :
TABEL 4.3: Internal Control Question Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ketenagakerjaan
INTERNAL CONTROL QUESTION
Proses Penerimaan Karyawan
Ya
1. Apakah ada suatu rumusan
pencarian tenaga kerja yang jelas
tantang rencana penambahan dan
pergantian tenaga kerja?
√
Tidak
44
2. Adakah suatu dokumen
perencanaan tenaga kerja yang
√
menggambarkan penambahan dan
pergantian tenaga kerja?
3. Kebutuhan tenaga kerja di masa
mendatang telah diperhitungkan
√
dengan baik untuk mengurangi
timbulnya rekrutmen darurat?
4. Apakah selalu ada usaha nyata
untuk mengisi lowongan pekerjaan
dengan tenaga kualified dari dalam
√
perusahaan sebelum merekrut dari
luar?
5. Apakah pewawancara tenaga
kerja pada umumnya memiliki
gambaran yang jelas realitas
√
mengenai spesifikasi pekerjaan yang
menjadi bahan wawancara mereka?
6. Apakah formulir lamaran meminta
informasi yang cukup mengenai
√
pengalaman kerja dan data lain yang
berhubungan?
7. Apakah perusahaan selalu
berusaha memahami karyawan nya
√
dengan mengadakan test, wawancara
dan cara – cara lain yang sejenis?
8. Apakah perusahaan menggunakan
beberapa test bakat sebagai bagian dari
√
proses seleksi yang dilaksanakan?
9. Jika ya, apakah sudah dapat cukup
berfungsi sebagai alat untuk
menetapkan kualifikasi yang
diperlukan?
√
45
10. Apakah perusahaan meminta
keterangan kesehatan dan apakah juga
√
dilakukan test fisik atas kesehatan
karyawan?
11. Apakah para pelamar mendapat
penjelasan dan informasi yang layak
mengenai perusahaan peluang mereka
√
untuk mengisi lowongan tertentu?
12.Apakah karyawan baru selalu
diberi penjelasan mengenai tugas dan
√
tanggung jawab mereka sebenarnya?
13.Apakah para karyawan baru itu
juga selalu diberi penjelasan mengenai
√
tingkat kompensasi dan kondisi kerja
mereka?
14.Apakah dilakukan usaha sunguh –
sungguh untuk mengisi lowongan
pekerjaan dengan karyawan yang
√
cakap dari dalam perusahaan sendiri
sebelum melakukan penerimaan dari
luar?
15.Apakah perusahaan melaksanakan
berbagai upaya serius untuk
√
mengetahui kemampuan, keinginan
dan tujuan pribadi karyawan?
16. Apakah tanggung jawab akhir
√
untuk memperkerjakan atau memecat
karyawan berada di tangan satu
pihak?
17. Apakah perusahaan sudah memiliki
suatu program penilaian prestasi
karyawan yang cukup memadai?
√
46
18. Apakah tersedia semacam pusat
latihan karyawan yang
diselenggarakan paling tidak setahun
√
sekali dengan tujuan meningkatkan
prestasi karyawan?
19.Apakah penilaian prestasi
karyawan pada standar tertentu yang
ditetapkan lebih dulu dan tidak semata
√
– mata didasarkan pada pendapat
subjektif individual?
20.Apakah penilaian prestasi selalu
√
diorientasikan pada kemungkinan
promosi?
21.Apakah ada suatu kebijakan
promosi yang dirumuskan dan
√
diedarkan diantara karyawan?
22.Apakah karir karyawan memiliki
batas tertentu, dengan maksud agar
karyawan tersebut tidak memiliki
√
keahlian yang terbatas sehingga dapat
selalu dipromosikan untuk jabatan
yang lebih luas dalam organisasi?
23.Apakah promosi karyawan lebih
didasarkan pada prestasinya
memenuhi pola tertentu yang
√
ditetapkan dimuka dan diterima?
24.Apakah sebagian besar bentuk
penghargaan (bonus/tunjangan lain)
diberikan sesuai dengan prestasi kerja
dan masa kerja?
√
47
25.Apakah ada buku panduan
√
karyawan yang menjelaskan kebijakan
peraturan perusahaan mengenai
pemberian gaji, tunjangan dan bonus?
26.Apakah manajemen menunjukkan
kesediaan untuk memberikan
√
penghargaan atau kontribusi karyawan
terhadap kemajuan perusahaan?
27.Apakah gaji, tunjangan dan bonus
dijelaskan/disosialisasikan kepada
√
seluruh karyawan?
28.Apakah dokumen dan catatan yang
digunakan dalam perhitungan gaji
didokumentasikan?
√
29.Apakah kebijakan kenaikan gaji
diberikan berdasarkan
prestasi kerja
√
√
masa kerja?
30.Apakah kebijakan penggajian
senantiasa direview secara berkala?
√
31.Apakah ada studi banding dengan
perusahaan sejenis mengenai
√
pemberian gaji untuk level/jabatan
tertentu?
32.Apakah kenaikan gaji dan
pemberian bonus/tunjangan lain
√
berpengaruh baik terhadap
produktivitas karyawan?
33.Apakah tidak dijumpai adanya
keluhan karyawan terhadap besar gaji
yang diterima nya?
Melatih dan mendidik karyawan
√
48
34.Apakah ada program latihan yang
ditujukan pada kebutuhan karyawan
√
maupun kebutuhan manajemen?
35.Apakah karyawan operasional
dilibatkan dalam penetapan kebutuhan
√
latihan dan formulasi program latihan
serta prioritas – priotitasnya?
36.Apakah ada identifikasi dan
program pengembangan untuk orang –
√
orang yang dapat dan mampu mengisi
jabatan orang lain?
37.Apakah tersedia program pelatihan
√
pilihan bagi karyawan yang ingin
pindah pekerjaan atau maju lebih
jauh?
38.Apakah perusahaan selalu
mengusahakan, meneliti dan menguji
√
teknik – teknik latihan baru bilamana
dianggap telah diterapkan?
Program kesehatan dan
kesejahteraan
39.Apakah keadaan kesehatan para
pegawai cukup diperhatikan dan
√
apakah pemeriksaan fisik juga
dilakukan secara rutin?
40.Apakah karyawan dibantu untuk
menyadari nilai tunjangan sosial
√
perusahaan dengan cara yang baik?
41.Apakah prosedur administrasi
secara teratur ditinjau ulang untuk
mengetahui keluhan karyawan dan
penyalahgunaan tunjangan?
√
49
Prosedur keselamatan
42.Apakah selalu diadakan
pengecekan untuk melihat bahwa para
√
karyawan pada umumnya telah
menerima instruksi yang layak agar
mereka dapat melaksanakan tugas
dengan memuaskan?
43.Apakah para karyawan diberi
instuksi mengenai penggunaan
√
peralatan yang ada agar mereka
menggunakan nya dengan baik?
Hubungan antar karyawan
44.Apakah perusahaan memiliki suatu
metode untuk mengevaluasi
√
komunikasi antar karyawan?
45.Apakah ada suatu prosedur formal
dan mudah dipahami yang
√
memungkinkan karyawan untuk
menyiarkan keluhan atau masalah
mereka?
46.Apakah ada supervisor diminta
untuk melakukan pengecekan dengan
bagian personalia atau fungsi
√
personalia sebelum mengambil
tindakan disiplin?
47.Apakah masalah personalia
mendapat perhatian cukup layak
√
terutama masalah hubungan antara
manusia dalam perusahaan?
48.Apakah hubungan kerja antar
bagian personalia dengan bagian lain
telah ditetapkan dengan jelas?
√
50
49.Apakah prosedur administratif
selalu direview secara periodik untuk
√
menghindari timbulnya tuntutan
karyawan?
Program keamanan perusahaan
50.Apakah catatan – catatan, daftar –
daftar usaha yang berharga telah
√
dilindungi cukup aman dari bahaya
misalnya kebakaran maupun kecurian?
51.Apakah sudah dilaksanakan
tindakan untuk mempersingkat waktu
dalam pengambilan dokumen –
√
dokumen dan pengurangan
transportasinya?
Organisasi
52.Apakah struktur organisasi
perusahaan menunjukkan secara layak
adanya pemisahan tugas dan fungsi
√
dengan mempertimbangkan ukuran
perusahaan?
53.Apakah struktur organisasi
digambarkan dengan jelas dan
√
menunjukkan garis wewenang dan
tanggung jawab yang jelas?
54.Apakah hubungan antara
departemen yang satu dengan yang
√
lainnya dalam struktur organisasi telah
jelas?
55.Apakah uraian tugas, wewenang
dan tanggung jawab telah
didokumentasikan dengan baik?
√
51
56.Apakah departemen personalia
mempunyai staff yang cukup untuk
√
menunaikan tanggung jawab nya?
Internal kontrol fungsi personalia Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ketenagakerjaan meliputi organisasi dan semua metode serta ketentuan –
ketentuan yang terkoordinasi untuk meningkatkan efisiensi usaha dan
mendorong dipatuhi nya kebijakan pimpinan yang telah ditetapkan ini dan juga
kontrol yang berhubungan dengan manajemen audit adalah pengendalian
administrasi, yaitu pengendalian yang tidak langsung berhubungan dengan
catatan akuntansi, misalnya program pelatihan karyawan dan pengendalian
mutu.
Untuk analisa lebih lanjut, akan dilakukan analisa internal kontrol
berdasarkan tujuan internal kontrol itu sendiri, yaitu :
1.
Untuk meningkatkan efisiensi kerja.
Dalam hal ini adalah Biro SDM untuk menghindari pekerjaan –
pekerjaan berganda yang tidak perlu, mencegah pemborosan
terhadap semua aspek usaha termasuk pencegahan terhadap
penggunaan sumber – sumber dana yang tidak efisien. Misalnya
dalam perekrutan karyawan, pelaksanaan perekrutan baru akan
dilakukan jika perusahaan memerlukan penambahan karyawan,
dalam program pelatihan, materi pelatihan disesuaikan dengan
kebutuhan karyawan dan perusahaan.
2.
Untuk
mendorong
ditaatinya
kebijakan
pimpinan yang telah digariskan.
Manajemen menyusun prosedur dan peraturan untuk mencapai
tujuan perusahaan. Pengendalian intern disini akan memastikan
ditaatinya prosedur dan peraturan tersebut oleh perusahaan.
Internal Control Questionare yang disusun mencakup pemahaman
terhadap prosedur fungsi – fungsi personalia, selain itu juga
diamati
langsung
pelaksanaan
fungsi-
fungsi
personalia
perusahaan. Dari evaluasi tersebut ditemukan kesesuaian antara
pelaksanaan dengan prosedur dalam manual book Biro SDM.
52
Dari hasil evaluasi yang sudah dilakukan, disimpulkan bahwa
pelaksanaan internal kontrol perusahaan sudah cukup baik karena tujuan dari
internal kontrol itu sendiri, baik meningkatkan efisiensi usaha maupun ditaatinya
kebijakan pimpinan, dapat terpenuhi.
4.3 Analisa Atas Audit Manajemen Fungsi Personalia
Pada tahap awal ini akan dilakukan analisa atas program pemeriksaan
yang telah dilakukan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tujuan strategis,
perencanaan, organisasi dan pengawasan.
a.
Tujuan Strategis
Pemeriksaan yang dilakukan SPI mengenai tujuan strategis
dimaksudkan untuk melihat kesinambungan antara tujuan strategis
perusahaan dengan tujuan strategi Biro SDM. Dalam melakukan
pemeriksaan, SPI menemukan tujuan strategis perusahaan yaitu :
1.
Memperkokoh kompetensi inti dalam jasa
jaminan sosial ketenagakerjaan
2.
Menciptakan nilai yang berkesinambungan
kepada peserta jaminan sosial tenaga kerja, karyawan dan
pemegang kepentingan lainnya.
3.
Meningkatkan mutu cara kerja dan hasil
kerja.
Sedangkan tujuan strategis Biro SDM adalah :
1.
Peningkatan kompetensi dan kualitas sumber
daya manusia
2.
Perbaikan mutu dan kinerja
3.
Menciptakan tempat kerja yang aman, sehat
dan bebas resiko kecelakaan.
Dari
hasil
pemeriksaan
SPI,
dapat
disimpulkan
bahwa
pemeriksaan yang dilakukan atas tujuan strategi berjalan dengan
baik, karena tujuan strategis Biro SDM dapat mendukung
keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan.
53
b.
Perencanaan
Manajemen audit yang dilakukan bertujuan untuk membuat
penilaian menyeluruh atas keberhasilan proses perencanaan dalam
mencapai
tujuan
strategis
Biro
SDM,
karena
keduanya
mempunyai kaitan satu sama lain secara langsung. Manajemen
audit juga menilai proses perencanaan yang kini berlangsung
untuk menentukan apakah rencana yang ada memadai untuk
mencapai tujuan strategis Biro SDM.
Dari analisa yang sudah dilakukan, manajemen audit
sudah berjalan dengan baik. Karena perencanaan yang dibuat Biro
SDM sudah mendukung usaha pencapaian tujuan strategisnya.
Misalnya dalam proses perekrutan yang dilakukan Badan
Penyelenggara
Jaminan
Sosial
Ketenagakerjaan,
proses
perencanaan yang dilakukan adalah perumusan perencanaan
tenaga kerja yang jelas yang menguraikan tentang analisis
kebutuhan, rencana penambahan tenaga kerja, jadwal perekrutan
sampai proyeksi biaya perekrutan, sedangkan dalam proses
pelatihan perencanaan yang dilakukan adalah dilakukannya
penilaian bagi karyawan lama maupun baru yang menunjukkan
prestasi kerja dimana dengan dasar penilaian tersebut dilakukan
pelatihan yang bertujuan untuk dapat lebih meningkatkan
kompetensi dan mutu karyawan.
c.
Organisasi
Dilihat dari evaluasi struktur organisasi Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, maka manajemen audit, dalam
hal ini pemeriksaan organisasi, sudah berjalan dengan baik.
Evaluasi yang diperoleh antara lain :
1.
Perusahaan telah memiliki struktur organisasi yang
memadai dengan telah ditandai dengan adanya pemisahan
fungsi yang layak. Hubungan antar divisi dinyatakan secara
54
jelas, baik dari segi pembagian tanggung jawab, wewenang
yang semuanya itu telah didokumentasikan dengan baik
sehingga dalam pelaksanaan suatu program terdapat internal
check antar divisi.
2.
Koordinasi yang baik antar divisi dalam perusahaan
khususnya fungsi personalia dengan fungsi yang lain tercermin
dengan adanya sistem komunikasi dua arah, misalnya dalam
program perekrutan karyawan yang mana fungsi personalia
akan merekrut karyawan berdasar permintaan tiap – tiap divisi
sesuai dengan kebutuhan dan permintaan yang diajukan
kepada Biro SDM.
d.
Pengawasan
Pemeriksaan yang dilakukan SPI dimaksudkan untuk menjamin
bahwa Biro SDM menjalankan semua kebijakan – kebijakan
perusahaan dengan baik dengan peningkatan kualitas tenaga kerja
yang ada dalam perusahaan.
Pengawasan disini meliputi pengawasan atas kinerja dari Biro
SDM
dalam
meningkatkan
efektifitas
kinerja
Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Pengawasan yang
dilakukan
SPI
menggunakan
perangkat
Internal
Control
Questionare yang diserahkan kepada Biro SDM. Internal Control
Questionare yang disusun mencakup pembahasan mengenai
pengendalian setiap fungsi personalia yaitu perekrutan, penilaian
kerja, sistem penggajian, pelatihan karyawan, program kesehatan
dan
kesejahteraan,
keselamatan
karyawan,
hubungan
ketenagakerjaan dan keamanan perusahaan. Dari analisa yang
sudah dilakukan, manajemen audit sudah berjalan dengan baik
karena pengawasan yang dilakukan SPI disini sudah mencakup
pengendalian internal pada semua fungsi – fungsi personalia.
55
Secara keseluruhan program pemeriksaan yang telah dibuat sudah
direncanakan dengan baik dan sudah mendukung terlaksananya suatu
manajemen audit yang memadai.
Pada bagian berikutnya akan menganalisa program kerja audit yang
telah disusun. Dengan adanya program kerja audit sumber daya manusia, dapat
membantu auditor dalam menyusun laporan audit sumber daya manusia yang
memberikan arti penting dalam perbaikan, pelaksanaan dan pengendalian
program sumber daya manusia dalam usaha mencapai tujuan perusahaan. Dari
hasil laporan tersebut pimpinan dapat mempertimbangkan apakah perlu program
– program tersebut dipertahankan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Ketenagakerjaan saat ini sudah memiliki program kerja tersebut yaitu :
1.
Program pemeriksaan organisasi
Dalam program pemeriksaan organisasi SPI akan mengamati
apakah struktur organisasi memuat jelas garis hirarki sehingga
memungkinkan berjalan nya suatu sistem pengendalian yang baik.
Untuk itu SPI akan melakukan evaluasi pada struktur organisasi dan
job description masing – masing unit kerja.
2.
Program pemeriksaan perencanaan dan rekrutmen
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai efektifitas proses
perekrutan dengan melakukan evaluasi pada jumlah karyawan yang
direkrut, biaya yang digunakan dan pencapaian kebutuhan perusahaan.
Selain itu, menjamin proses perekrutan berjalan sesuai prosedur
perusahaan.
3.
Program pemeriksaan pemilihan
Program
pemeriksaan
pelatihan
dilaksanakan
untuk
memastikan dalam proses pemilihan tidak terjadi diskriminasi dan
meyakinkan pewawancara melakukan tugasnya dengan baik sehingga
mendapatkan karyawan yang berkualitas. Pemeriksaan yang dilakukan
meliputi evaluasi atas catatan wawancara pekerjaan dan Standar
Operational Procedures perekrutan
56
4.
Program pemeriksaan pelatihan dan pengembangan
Pemeriksaan terhadap pelatihan dan pengembangan bertujuan
untuk menjamin program pelatihan berjalan dengan efektif dimana
pelatihan diberikan kepada karyawan yang memang memerlukan
peningkatan kompetensi. Untuk itu pemeriksaan dilakukan dengan
melakukan evaluasi pada catatan penilaian kinerja karyawan serta data
program – program pelatihan karyawan.
5.
Program pemeriksaan penilaian kinerja
Dari segi penilaian kinerja, pemeriksaan yang dilakukan
bertujuan menjaga objektifitas penilaian kinerja sehingga hasil
penilaian itu bisa digunakan dalam mengambil keputusan manajemen
terhadap karyawan. Dalam melakukan pemeriksaan SPI akan
menggunakan catatan penilaian kinerja dan catatan wawancara
penilaian untuk menilai objektifitas penilaian kinerja.
6.
Program pemeriksaan sistem penggajian
Pemeriksaan sistem penggajian dilakukan dengan mengamati
apakah struktur kompensasi dan kebijakan berjalan dengan adil dan
sesuai dengan peraturan pemerintah. Pemeriksaan juga dilakukan
untuk memastikan adanya hubungan positif antara sistem penggajian
perusahaan dengan produktivitas karyawan. Program pemeriksaan
yang dilakukan diantaranya dengan menganalisa daftar gaji dan
tunjangan serta catatan survei gaji.
7.
Program pemeriksaan hubungan ketenagakerjaan
Hubungan ketenagakerjaan lebih difokuskan pada bagaimana
keluhan
karyawan
mendapat
tanggapan
perusahaan
sehingga
pemeriksaan yang dilakukan adalah mengamati apakah penyelia
dilatih untuk menangani keluhan secara efektif dan memperhatikan
bagaimana catatan mengenai banyaknya dan tipe keluhan dan berapa
persentase keluhan telah diajukan ke arbitrase.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Ketenagakerjaan telah melaksanakan manajemen audit atas fungsi
57
personalia secara sistematis dan objektif. Apabila dibandingkan dengan landasan
teori yang dijelaskan bahwa manajemen audit mempunyai suatu program kerja,
dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan saat ini sudah
memiiki program kerja tersebut.
Pada bagian terakhir, akan dilakukan analisa terhadap prosedur audit
yang telah ditetapkan perusahaan. Prosedur audit sumber daya manusia berisi
penjelasan mengenai mekanisme atau tata cara audit sumber daya manusia
termasuk pengaturan perangkat audit dengan adanya prosedur audit yang jelas
maka akan membantu SPI untuk melaksanakan tugasnya secara konsisten dan
sistematis.
Prosedur audit sumber daya manusia merupakan pengaturan tata cara
pelaksanaan audit sumber daya manusia. Berikut adalah analisa prosedur audit
SDM yang telah ditentukan :
1.
TUJUAN
Pelaksanaan audit SDM bertujuan memberikan kepastian bagi manajemen
bidang SDM serta semua aktivitas yang terkait telah dilaksanakan secara
efektif dan efisien untuk menunjang realisasi misi organisasi dalam rangka
pencapaian tujuan dan tidak bertentangan dengan prinsip manajemen SDM
dan kebijakan yang telah ditetapkan perusahaan.
2.
KEBIJAKAN
Dengan perubahan yang berjalan dengan cepat, dan untuk menjaga agar arah
pengembangan usaha tetap pada tujuan dan sasaran serta strategi yang telah
ditetapkan, maka Direksi memutuskan untuk membentuk suatu tim audit
internal bidang SDM untuk melaksanakan kegiatan – kegiatan ini.
3.
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Dalam melakukan tugasnya tim audit SDM bertugas untuk membuat rencana
serta koordinasi dan kontrol proses audit secara menyeluruh untuk
memastikan agar proses audit dijalankan dengan sistematika dan tujuan yang
sesuai dengan kebijakan dari Direksi. Ketua tim bertanggung jawab atas
keberhasilan dan pembuatan laporan audit sesuai dengan time frame dan
jadwal yang telah ditetapkan. Ketua tim akan menyerahkan laporan kepada
58
Direksi dan kemudian memantau agar rekomendasi dan temuan dapat
ditindaklanjuti secara konsisten dan efektif.
Selain SPI, pelaksana audit harus menjalankan tugasnya sesuai dengan
arahan ketua tim serta melakukan kontrol agar audit dapat berjalan secara
efektif dan efisien. Sebelum melakukan proses audit, SPI bertanggung jawab
untuk mempersiapkan semua yang diperlukan serta mendiskusikan temuan
audit dengan ketua tim dan orang yang dilakukan audit. Kemudian SPI
memantau apakah telah dilakukan tindakan untuk memperbaiki atau
meningkatkan temuan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan.
4.
LINGKUP APLIKASI
Prosedur audit SDM ini berlaku untuk panduan pelaksanaan audit internal
perusahaan untuk seluruh unit kerja dan cabang perusahaan.
5.
DEFINISI
Audit sumber daya manusia adalah pemeriksaan dan penilaian secara
sistematis, objektif dan terdokumentasi terhadap fungsi2 organisasi yang
terpengaruh oleh manajemen sumber daya manusia dengan tujuan
memastikan dipenuhinya azas kesesuaian, efektifitas dan efisiensi dalam
pengelolaan SDM untuk mendukung tercapainya sasaran – sasaran
fungsional maupun tujuan besar organisasi keseluruhan baik jangka pendek,
menengah maupun jangka panjang.
Temuan merupakan hasil penemuan oleh SPI berupa penyimpangan –
penyimpangan maupun pelaksanaan aktivitas yang mendukung pencapaian
tujuan dan sasaran organisasi yang tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan
oleh manajemen perusahaan yang perlu ditindaklanjuti baik yang berskala
ringan, serius maupun yang menimbulkan kerugian besar.
6.
PROSEDUR
Berikut ini merupakan prosedur audit sumber daya manusia yang dijalankan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan :
1.
Pre-defined proses untuk mengetahui proses audit dan metodologi.
59
2.
Pemilihan ketua tim dan anggotanya. Pemilihan ketua dilakukan oleh
Direksi.
3.
Susun tim audit yang lengkap.
4.
Anggota tim audit sumber daya manusia dipilih oleh ketua tim audit.
Anggota tim audit bertanggung jawab kepada ketua tim audit.
5.
Pembuatan program audit sebagai langkah persiapan. Program audit
dibuat secara sistematis dan obyekytif dan diarahkan untuk keperluan
organisasi.
6.
Program yang baku kemudian diedarkan kepada pimpinan unit.
7.
Dokumentasi program audit.
8.
Pelaksanaan proses audit oleh SPI
9.
Temuan – temuan di kategorikan dengan Ringan (R), serius (S)
maupun serius yang menimbulkan kerugian besar (SR).
10.
Diskusikan dan konfirmasikan hasil temuan audit dengan pimpinan
unit untuk disetujui.
11.
Hasil temuan kemudian dituangkan ke dalam laporan audit.
12.
Pembuatan laporan audit dan rekomendasi tentang bagaimana
penyelesaian masalah yang ada dan perbaikan – perbaikan yang perlu
dilakukan.
13.
Laporan diserahkan kepada Top Management dan dibagikan kepada
pimpinan unit.
14.
Pimpinan unit bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut atas
perbaikan temuan hasil audit sesuai dengan rekomendasi yang
disampaikan pada laporan audit.
15.
Bilamana temuan audit tetap tidak diselesaikan secara efektif setelah
mendapat perhatian yang cukup dari SPI, maka permasalahan dilaporkan
kepada direksi untuk mendapatkan disposisi keputusan.
16.
Verifikasi dilakukan oleh SPI dan dicatat dalam log book.
17.
Log book ini di dokumentasikan untuk dipakai sebagai rujukan dan
bahan periksa hasil perbaikan.
Adapun pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan Satuan Pengawas
Intern dilakukan dengan teknik – teknik sebagai berikut :
60
1. Melakukan observasi kegiatan
SPI dapat memulai tugasnya dengan mengamati atau melakukan
observasi secara langsung atas aktivitas organisasi. Dengan cara ini
SPI dapat mengumpulkan data atau informasi dan mendeteksi apakah
terdapat penyimpangan – penyimpangan yang bersifat kritis yang
memerlukan tindakan perbaikan.
2. Meminta penjelasan dan menanyakan
SPI dapat meminta penjelasan dari auditee mengenai obyek – obyek
audit yang telah direncanakan dalam lingkup audit. Pada saat auditee
memberikan penjelasan, SPI mencatat hal – hal relevan dan
signifikan untuk ditanyakan lebih jauh sampai data dan informasi
tersebut dirasa cukup untuk membuat kesimpulan.
3. Melakukan peragaan
Selain meminta penjelasan ataupun bertanya, SPI juga mempunyai
wewenang untuk meminta auditee untuk melakukan peragaan/bukti
atas kegiatan yang sedang diamati.
4. Menelaah dokumen
SPI meminjam dokumen – dokumen untuk dipelajari atau ditelaah
apakah terdapat poin – poin yang tidak dipatuhi atau sudah tidak
relevan lagi dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan
perusahaan. Melalui proses penelaahan dokumen SPI mencatat
berbagai informasi signifikan untuk ditanyakan lebih jauh lagi
kepada auditee.
5. Mengisi check list
SPI mengisi check list untuk membantu mengingat aspek – aspek
yang perlu ditanyakan. Orientasi SPI adalah mencari informasi dan
bukti – bukti secara objektif berupa catatan dokumen, ataupun
kondisi berdasarkan fakta yang dapat dianalisa dan dibuktikan
kebenarannya, lalu disertakan sebagai lampiran.
61
6. Mencari bukti – bukti
Temuan SPI harus selalu disertai bukti – bukti objektif untuk
menghindari pertanyaan atau perdebatan yang tidak perlu dengan
auditee saat mendiskusikan temuan. Dalam proses audit, orientasi
SPI adalah mencari bukti – bukti yang objektif seperti catatan
dokumen, atau kondisi faktual yang dapat dianalisa dan dibuktikan
kebenarannya.
7. Melakukan Cross – check
SPI mengumpulkan data dan informasi dari bagian – bagian lain
sebagai bahan untuk menilai fakta – fakta yang ada pada suatu fungsi
yang tengah di audit.
8. Melakukan survey dengan angket
Bagikan formulir “Self Survey” dan jelaskan kepada auditee berapa
lama dan bagaimana cara yang mudah untuk mengisi formulir
tersebut. SPI dapat menggunakan angket untuk pengecekan hal – hal
tertentu. Namun hal ini tidak dapat langsung menghasilkan informasi.
Data yang masuk harus diolah terlebih dahulu, dan hasilnya dianalisa.
Dari hasil analisa dapat diketahui apakah ada indikasi awal mengenai
aspek – aspek yang ingin diketahui kemudian dikaji lebih lanjut
sampai dapat ditarik sebuah kesimpulan.
9. Mewawancarai auditee
SPI meminta penjelasan atau menanyakan kepada auditee secara
langsung perihal objek yang diaudit. Dengan demikian SPI dapat
mendeteksi secara langsung gejala – gejala adanya penyimpangan
atau kesenjangan yang bersifat kritikal dan signifikan, sehingga
memerlukan perhatian yang mendalam.
10.
Mengumpulkan informasi dari luar
Dalam hal tertentu untuk melengkapi hasil audit maka SPI memiliki
wewenang pula untuk mencari dan mengumpulkan informasi dari
luar.
62
11.
Menilai data dan fakta
SPI melakukan penilaian atas data dan informasi yang telah
dikumpulkan sampai dapat ditarik suatu kesimpulan. Bila terdapat
data yang kurang maka SPI dapat meminta beberapa pimpinan unit
untuk melengkapinya.
12.
Membuat kesimpulan
Setelah semua data dan informasi yang diterima dilakukan cross
check keabsahannya, pada akhirnya SPI akan sampai pada tahapan
untuk melakukan analisa agar dapat ditarik kesimpulan.
Sejauh ini dapat diambil kesimpulan bahwa prosedur audit yang
dilakukan oleh perusahaan dari awal pembentukan tim audit hingga
menindaklanjuti hasil audit tersebut telah berjalan efektif dan efisien. Prosedur
yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan pada awal audit
dilaksanakan.
63
Download