PENGARUH PEMBERIAN DAUN ESEK-ESEK

advertisement
PENGARUH PEMBERIAN DAUN ESEK-ESEK (Clotalaria juncea L.) SEBAGAI
MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI RAWIT
(Capsicum annum L.) DALAM UPAYA PENYUSUNAN PETUNJUK PRAKTIKUM
FISIOLOGI TUMBUHAN II
Amita Andriani, Ismail Efendi, Ika Nurani Dewi
Program studi pendidikan biologi
[email protected]
ABSTRAK: Daun esek-esek (Clotalaria juncea L.) merupakan jenis tanaman leguminoceae
atau polong-polongan yang sering dianggap sebagai tanaman pengganggu atau gulma,
padahal tanaman esek-esek banyak mengandung unsur nitrogen yang berfungsi untuk
meningkatkan pertumbuhan tanaman dan memperbaiki struktur tanah. Penelitian bertujuan
untuk mencari pengaruh daun esek-esek sebagai mulsa organik terhadap pertumbuhan
tanaman cabai rawit (Capsicum annum L.). Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen
dengan teknik pengumpulan data secara observasi langsung. Teknik analisis data
menggunakan Analisis Of Variance (ANOVA) dengan bantuan SPSS 16 pada taraf signifikan
5%. Sampel diberikan 6 perlakuan yang berbeda dan empat kali ulangan masing-masing
perlakuan, yaitu kontrol (P0), (P1) pemberian 10gr, (P2) pemberian 20gr, (P3) pemberian 30gr,
(P4) pemberian 40gr, (P5) pemberian 50gr. Berdasarkan hasil penelitian, pertumbuhan
tanaman cabai rawit pada parameter tinggi batang menunjukkan bahwa Fhitung (0,427)
sedangkan Ftabel (277), pada parameter jumlah helaian daun Fhitung (0,572) sedangkan Ftabel
(277), pada parameter panjang akar tanaman Fhitung (0,749) sedangkan Ftabel (277), dan pada
parameter berat basah tanaman Fhitung (0,682) sedangkan Ftabel (277). Sehingga hasil penelitian
ini dinyatakan tidak signifikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yakni
kandungan daun esek-esek yang dimanfaatkan sebagai mulsa organik tidak terserap dengan
baik oleh tanaman cabai rawit. Implementasi dari hasil penelitian ini disusun sebagai bahan
ajar bagi mahasiswa dalam bentuk petunjuk praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Kesimpulan
penelitian yang diperoleh, pemberian daun esek-esek sebagai mulsa organik tidak
berpengaruh nyata pada pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum annum L). Petunjuk
praktikum yang telah di serahkan kepada validator ahli untuk divalidasi dinyatakan valid atau
layak untuk digunakan.
Kata kunci: daun esek-esek, pertumbuhan, cabai rawit (Capsicum annum L.), petunjuk
praktikum.
ABSTRACT: Clotalaria juncea L leaf is the kinds leguminoceae plants or nuts plants that
usually disturb another plants or more famous with gloms. The research aimed at finding out
the Effect of Clotalaria juncea L leaf as organic mulsa toward capsicum annum L. Growth in
arranging book guiding in physiology practice tumbuhan II (Plants II). The kinds of this
research was experimental with analysis of variants SPSS 16 in signification level 5%. The
sample was given difference treatment in each group with six times treatment., for control
group was (P0), (P1) with 10 grams treatment, (P2) with 20 grams treatment, (P3) with 30
grams treatment, (P4) with 40 grams treatment, (P5) with 50 grams treatment. Based on the
data analisys was gotten that the parameter stem of chili was F-test (0,427) and f-table (277),
leaf parameters was f-test 0,572 and f-table (277), the longer parameter the root of chili was ftest (0,749) and f-table (277) and the weight farameter was f-test 0,682 and f-table (277). So
that way the result of this research was significant. Therefore, it took conclusion that there
was significant effect of Clotalaria juncea L leaf as organic mulsa toward capsicum annul L.
1
growth in arranging book guiding in physiology practice Tumbuha II (Plants II). It means that
the material can be used as guiding book practice and valid.
Key Words: Clotalaria juncea L leaf, Capsicum annum L. Growth and Guiding Book
PENDAHULUAN
Diantara berbagai jenis sayuran dan buah-buahan cabai dinilai sebagai produk yang
mempunyai harga paling tinggi. Hal ini terbukti dari luas lahan pertanian cabai yang
mencapai 20% dari total pertanaman sayuran di seluruh indonesia. Selain itu manfaat dan
kegunaan cabai tidak dapat digantikan oleh komoditas lainnya. Tanaman cabai termasuk
tanaman yang mudah tumbuh di mana saja. Tanaman cabai juga dapat tumbuh dan
beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat
(Syukur, dkk 2012).
Selain dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bumbu dan penggugah selera, cabai juga
banyak digunakan untuk terapi kesehatan. Di bidang kesehatan cabai juga bermanfaat untuk
menyembuhkan kejang otot, rematik, sakit tenggorokan, dan alergi. Cabai juga dapat
melancarkan sirkulasi darah dalam jantung. Terutama ketika mengkonsumsi cabai merah dan
cabai rawit, suhu tubuh akan meningkat sehingga merangsang metabolisme tubuh
(Agromedia, 2008). Tanaman cabai dapat tumbuh pada tanah yang gembur dan banyak
mengandung unsur hara. Sedangkan kesuburan tanah yang rendah menyebabkan tanah
menjadi cepat mengeras, kurang mampu menyimpan air dan menurunkan pH tanah.
Pemberian mulsa organik diharapkan dapat menjaga kandungan air dalam tanah sekaligus
untuk meningkatkan kesuburan tanah. Mulsa organik diduga dapat menjaga kelembaban
tanah, menurunkan suhu tanah dan menyuburkan tanah karena mulsa organik daun esek-esek
mampu menambah bahan organik tanah karena mudah lapuk setelah rentang waktu tertentu
(Aliyafi, 2014).
Mulsa organik merupakan material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan
untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga
membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Pemberian mulsa organik, selain
mempengaruhi peningkatan beberapa komponen pertumbuhan, juga dapat mempengaruhi
peningkatan laju pertumbuhan tanaman secara nyata (Sunghening dkk, 2012 ). Dalam hal ini
air yang menguap dari permukaan tanah akan ditahan oleh bahan mulsa organik dan jatuh
kembali ke tanah. Akibatnya tanah yang ditanam tidak kekurangan air karena penguapan air
ke udara hanya terjadi melalui proses transpirasi (Arga, 2010). Mulsa organik ini dapat
dijadikan sebagai sumber hara bagi tanaman. Mulsa organik yang berasal dari daun esek-esek
inilah yang membantu pertumbuhan tanaman cabai rawit. Mulsa organik yang diperoleh dari
bahan organik dapat mencegah evaporasi dan menambah bahan organik tanah karena mulsa
daun esek-esek mengandung banyak unsur hara nitrogen yang baik untuk kesuburan tanah,
dan mulsa daun esek-esek mudah lapuk setelah rentan waktu tertentu (Umboh, 1997). Mulsa
organik yang dapat digunakan yaitu tanaman legume berupa tanaman esek-esek (Clotalaria
2
juncea L) karena mengandung unsur hara yang baik untuk tanah dan pertumbuhan tanaman
cabai rawit.
Sesuai kondisi saat ini dimana kegiatan praktikum khususnya pada mata kuliah
Fisiologi Tumbuhan II, masih menerapkan materi yang lama. Sehingga penambahan wawasan
mahasiswa tentang materi tersebut masih kurang. Oleh sebab itu peneliti memanfaatkan
tanaman yang dianggap merugikan bagi para petani, namun sebenarnya dapat bermanfaat
sebagai mulsa organik (penutup vegetasi).
Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan dalam upaya pembuatan petunjuk
praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Karena prosedur petunjuk praktikum yang selama ini
digunakan belum mengarah kepada metode ilmiah. Berdasarkan latar belakang di atas, maka
peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh pemberian daun esek-esek
(Clotalaria juncea L) sebagai mulsa organik terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit
(Capsicum annum L) dalam upaya penyusunan petunjuk praktikum Fisiologi Tumbuhan II.
KAJIAN LITERATUR
Esek-esek merupakan tanaman legumenosa yang termasuk ke dalam keluarga perdu
dan semak berkayu yang kerap digunakan untuk menyuburkan tanaman. (Sudjana, 2011).
Mulsa organik adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga
kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit, sebagai penambah bahan
organik terhadap tanah sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik (Arga,
2010). Cabai rawit merupakan terna tahunan yang tumbuh tegak dengan batang berkayu,
banyak cabang, serta ukuran yang mencapai tinggi 120 cm dan lebar tajuk tanaman hingga 90
cm. Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran
atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran
panjang, umur tulang, dan keseimbangan metabolik (Soetjiningsih, 1994 dalam Isnaini 2012)
.
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian yaitu (1) jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
eksperimen, (2) pendekatan penelitian adalah pendekatan kuantitatif, (3) rancangan percobaan
yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) Percobaan ini terdiri dari faktor
kontrol (P0) tanpa perlakuan, perlakuan pertama (P1) yaitu 10 gr daun esek-esek, perlakuan
kedua (P2) yaitu 20 gr daun esek-esek, perlakuan ketiga (P3) yaitu 30 gr daun esek-esek,
perlakuan keempat (P4) yaitu 40 gr daun esek-esek, dan perlakuan kelima (P5) yaitu 50 gr
daun esek-esek, masing-masing faktor perlakuan diulang sebanyak empat kali ulangan
Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah (1) populasi penelitian yaitu seluruh
tanaman cabai rawit (Capsicum annum L.) yang akan digunakan sebagai percobaan, (2)
sampel dalam penelitian ini adalah jenis tanaman cabai rawit (Capsicum annum L) yang
dianggap bisa mewakili populasi.Adapun beberapa variabel dalam penelitian antara lain: (1)
Variabel terikat adalah pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum annum L) yang diberi
perlakuan. Pertumbuhan tanaman cabai yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi
pertumbuhan tinggi batang, jumlah helaian daun, panjang akar, berat basah, (2) Variabel
3
kontrol yaitu tanaman cabai rawit (Capsicum annum L) dengan menggunakan tanah humus
yang dihomogenkan dengan variabel lainnya, (3) Variabel manipulasi yaitu daun esek-esek
(Clotalaria juncea L). Yakni daun esek-esek yang dipotong-potong menjadi tekstur yang
lebih kecil kemudian diletakkan di atas permukaan tanah.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 jenis yaitu: (1) Alat
dan bahan, alat-alat penelitian berupa penggaris, neraca ohause, baskom, kamera, serta alat
tulis lainnya dan bahan dalam penelitian ini berupa biji cabai rawit (Capsicum annum L.),
daun esek-esek, kertas label, polybag, tanah humus. (2) Langkah kerja yaitu (a) Tahap
persiapan bibit tanaman cabai rawit (Capsicum annum L), (b) Tahap pembuatan mulsa dari
daun esek-esek, (c) Tahap pelaksanaan, beberapa tahap pelaksanaan dalam penelitian ini yaitu
bibit dipindahkan setelah berumur dua minggu ke dalam polybag, Setelah berumur satu
minggu di dalam polybag bibit cabai rawit tersebut diberi perlakuan daun esek-esek dengan
berbagai perlakuan yaitu 10 gr, 20 gr, 30 gr, 40 gr, 50 gr, kecuali perlakuan kontrol, (d) Tahap
pengamatan, Pengamatan dilakukan saat umur tanaman dua minggu setelah tanam di dalam
polybag dengan dikontrol setiap hari, pengambilan data dilakukan satu kali dalam dua
mingggu. Dngan parameter yang diamati: tinggi batang tanaman cabai, jumlah helaian daun
tanaman cabai, panjang akar tanaman cabai, berat basah tanaman cabai, (e) Tahap
Penyusunan Petunjuk Praktikum, dilakukan dengan cara membuat bahan ajar berupa petunjuk
praktikum yang kemudian selanjutnya petunjuk praktikum tersebut divalidasi oleh tim
validator ahli yang sudah ditunjuk peneliti untuk mengetahui petunjuk praktikum yang
disusun layak atau tidak digunakan dengan menggunakan instrument validasi.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi,
dokumentasi, dan pengumpulan data hasil validasi, sedangkan teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Analisa of Varians (ANOVA) satu arah dengan
menggunakan SPSS 16, hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang signifikan terhadap
pertumbuhan cabai rawit, Adapun langkah-langkah analisis tersebut adalah sebagai berikut :
(1) Tabel 3.1 Denah penempatan perlakuan
E2
A2 F4
A4 F2
A1
F3
B4 C3 C4 A3 B2
B3 C2 D3 D1 E1
D4
D2 B2 C1 B1 E4
E4
(2)
Tahap pembuatan tabel data pengamatan, (3) Tahap analisis petunjuk praktikum,
dengan cara uji validitas dengan menggunakan lembar validasi yang akan diberikan kepada
validator ahli yang sudah ditentukan oleh peneliti yang bertujuan untuk mengetahui layak
atau tidaknya petunjuk praktikum yang telah disusun.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil penelitian terhadap pengaruh pemberian daun esek-esek
sebagai mulsa organik terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum annum L.)
maka hasil analisis pada masing-masing parameter pengamatan adalah sebagai berikut:
1. Tinggi batang tanaman cabai rawit
4
Parameter Tinggi Batang (Cm)
Grafik Tinggi Batang
9.25
10
9 7.12
8
7
6
5
4
3
2
1
0
9
7.25
P0
6.9
6.62
P1
P2
P3
P4
P5
(Perlakuan)
Grafik 1 parameter tinggi batang
Grafik 1 menggambarkan peningkatan tertinggi yang ditunjukkan pada perlakuan P2
yaitu sebesar 9,25cm, dan penurunan terendah ditunjukkan pada P3 pemberian 30gr daun
esek-esek 6,62 cm. Hal ini disebabkan karena pada hari ke 17 pada polybag P3(1) dan P4(3)
mulsa organik dari daun esek-esek berjamur dan tanaman cabai rawit mulai layu dan hampir
mati, dan hari ke 22 tanaman cabai rawit pada polybag P1(4) layu dan hampir mati,
disebabkan karena batang tanaman cabai rawit mulai membusuk karena tidak mampu
menopang daun tanaman cabai yang bertambah besar, sedangkan pada perlakuan P2 dan P5
tanaman cabai rawit tumbuh subur dan tidak ada tanaman yang layu maupun mati,
kemungkinan disebabkan karena faktor cahaya yang cukup untuk merangsang pertumbuhan
tanaman cabai rawit. Menurut Lukitasari (2012) mengemukakan cahaya matahari yang cukup
mempunyai peranan yang besar terhadap proses fotosintesis sehingga menyebabkan kulit
batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna, internodia lebih pendek
dan daun lebih tebal.
Setelah dianalisis menggunakan Analysis Of Variance (ANOVA) dengan bantuan
program SPSS versi 16, untuk parameter tinggi batang tanaman cabai rawit menunjukkan
hasil yang tidak nyata atau tidak signifikan antara masing-masing perlakuan sehingga
diperoleh Fhitung 0,427 ≤ daripada Ftabel 2, hal ini disebabkan karena kekurangan unsur kalium
yang diperoleh dari penguraian daun esek-esek sebagai mulsa organik yang tidak terserap
sempurna, karena menurut Mirzani (2013) mengungkapkan fungsi kalium adalah untuk
penyusunan dinding sel sebagai kalium pektat atau kelenturan dinding sel sehingga
menyebabkan batang dan daun dari tanaman cabai rawit pada polybag P 3 dan P4 menjadi
lemas atau rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun
menguning dan kering.
2. Jumlah daun tanaman cabai rawit
5
Grafik Jumlah Helaian Daun
33
Parameter Jumlah Helaian
Daun
35
30 25
25
20
15
10
5
0
30
24
P0
22
22
P1
P2
(Perlakuan)
P3
P4
P5
Grafik 2 parameter jumlah daun
Grafik 2 menggambarkan peningkatan tertinggi yang ditunjukkan pada perlakuan P2
yaitu sebanyak 33 jumlah helaian daun dan jumlah terendah ditunjukkan oleh perlakuan P 3
dan P4 yaitu sebanyak 22 helai daun. Terjadinya penurunan jumlah helaian daun pada
perlakuan P3 dan P4 disebabkan karena daun esek-esek berjamur sehingga tanaman cabai
rawit mati. Sedangkan terjadinya peningkatan jumlah daun pada perlakuan P5 disebabkan
karena kandungan nitrogen pada mulsa organik daun esek-esek terurai dengan baik sehingga
mampu meningkatkan jumlah helaian daun pada perlakuan P2 dan P5. Sesuai dengan pendapat
Mirzani (2013) mengemukakan fungsi nitrogen adalah untuk merangsang pertumbuhan
tanaman secara keseluruhan, dan merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti
daun.
Sedangkan setelah di analisis menggunakan Analysis Of Variance (ANOVA) dengan
bantuan program SPSS versi 16, menunjukkan hasil yang tidak nyata atau tidak signifikan
yaitu diperoleh Fhitung 0,572 ≤ daripada Ftabel 2,77. Hal ini disebabkan karena kandungan unsur
nitrogen pada mulsa organik daun esek-esek tidak terserap oleh tanaman cabai rawit, hal ini
disebabkan karena mulsa organik daun esek-esek tidak terurai sempurna. Sesuai dengan
pendapat Liferdi (2010) mengungkapkan kekurangan nitrogen pada tanaman menyebabkan
pertumbuhan terhambat, dan berhenti lebih cepat dan daun gugur lebih awal. Kekurangan
nitrogen tidak hanya menyebabkan pertumbuhan jelek tetapi juga menghambat inisiasi
pembungaan pada tanaman buah. Kekurangan unsur nitrogen juga menyebabkan
pertumbuhan daun lambat atau kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak,
daun-daun yang tua cepat menguning dan mati. Klorosis di daun tua dan semakin parah akan
terjadi juga pada daun muda.
3. Panjang akar tanaman cabai rawit
6
Grafik Panjang Akar
Parameter Panjang Akar
(Cm)
8
6.12
5.75
6
4.95
4.4
3.55
3.8
4
2
0
P0
P1
P2
(Perlakuan)
P3
P4
P5
Grafik 4.3 parameter panjang akar
Grafik 4.3 menggambarkan peningkatan tertinggi yang ditunjukkan pada perlakuan P5
yaitu sebesar 6,12 cm, sedangkan terendah ditunjukkan pada perlakuan P 3 yaitu sebesar 3,55
cm. Peningkatan panjang akar yang terjadi pada perlakuan P2 dan perlakuan P5 disebabkan
karena pemberian daun esek-esek sebagai mulsa organik dalam jumlah yang banyak
menyebabkan tanah menyimpan air dengan waktu yang lama sehingga tanah menjadi lembab,
gembur sehingga memudahkan akar untuk menembus tanah. Sedangkan terjadinya penurunan
dari perlakuan P2 ke P3 disebabkan karena kandungan bahan organik pada daun esek-esek
berupa fosfor yang mampu merangsang pertumbuhan akar dari tanaman cabai rawit tidak
terserap dengan baik karena daun esek-esek tidak terurai sempurna.
Setelah di analisis menggunakan Analysis Of Variance (ANOVA) dengan bantuan
program SPSS versi 16, menunjukkan hasil yang tidak nyata atau tidak signifikan yaitu
diperoleh Fhitung 0,749 ≤ daripada Ftabel 2,77. Hal ini disebabkan karena kandungan fosfor pada
daun esek-esek tidak terserap dengan baik oleh tanah sampai ke bagian bawah. Sesuai dengan
fungsi dari fosfor adalah untuk merangsang pertumbuhan akar dari tanaman dan merangsang
pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel. Menurut mirzani (2013)
mengungkapkan tanaman monokotil seperti cabai, kerapatan atau panjang akarnya
dipengaruhi oleh kandungan fosfor yang terdapat di dalam tanah terutama ketersediaan fosfor
yang sangat rendah dalam tanah bagian bawah menurunkan tingkat kerapatan atau panjang
akar tanaman itu sendiri.
4. Parameter berat basah tanaman cabai rawit
Grafik Berat Basah
Parameter Berat Basah
(gr)
0.6
0.5
0.4
0.4
0.4
0.32
0.3
0.25
0.2
0
P0
P1
P2
(Perlakuan)
P3
P4
P5
Grafik 4.4 parameter berat basah
7
Grafik 4.4 menggambarkan peningkatan tertinggi yang ditunjukkan pada perlakuan P2
yaitu sebesar 0,50 gr, dan hasil terendah ditunjukkan oleh perlakuan P0 yaitu sebesar 0,25 gr
untuk parameter berat basah tanaman cabai rawit. Hal ini disebabkan karena mulsa organik
daun esek-esek pada perlakuan P2 mampu menahan air pada tanah sehingga tidak terjadi erosi
pada tanah. Menurut Marlina (2012) mengungkapkan genangan air pada tanaman
berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi, permeabilitas
akar, dan penyerapan air. Sedangkan penurunan kadar air atau berat basah yang terjadi pada
perlakuan P0 kemungkinan disebabkan karena tidak ada penambahan mulsa organik daun
esek-esek terhadap tanaman cabai sehingga mempercepat kekeringan pada tanah karena tidak
mampu menahan air yang akan diserap oleh tanaman cabai rawit. Kemudian penurunan kadar
air yang terjadi pada perlakuan P3 dan P4 diduga karena tanaman mengalami stres atau
cekaman yang disebabkan oleh beberapa faktor dari lingkungan sehingga salah satu tanaman
cabai pada perlakuan P3 dan P4 mati. Karena menurut (Campbell, 2003 dalam Marlina 2012)
mendefinisikan cekaman sebagai kondisi lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk
pada pertumbuhan, reproduksi dan kelangsungan hidup tumbuhan.
Sedangkan setelah di analisis menggunakan Analysis Of Variance (ANOVA) dengan
bantuan program SPSS versi 16, menunjukkan hasil yang tidak signifikan yaitu diperoleh
Fhitung 0,682 ≤ daripada Ftabel 2,77. Disebabkan karena mulsa organik dari daun esek- esek
mengering pada saat di dalam polybag, tanaman cabai juga mengalami stres atau cekaman
dari lingkungan. Alasan yang memungkinkan hasil penelitian tidak signifikan atau tidak
berbeda nyata disebabkan karena mulsa organik yang diberikan terhadap tanaman cabai rawit
mempunyai rentan yang sangat sedikit yaitu 10gr, 20gr, 30gr, 40gr, 50gr sehingga
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata atau tidak signifikan disetiap perlakuan.
Sebagai hasil akhir dari rangkaian penelitian, dilakukan penyusunan petunjuk
praktikum fisiologi tumbuhan II sebagai bahan pembelajaran dengan memperhatikan hasil
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian maka penyusunan petunjuk
praktikum sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa dimaksudkan sebagai media
pembelajaran untuk dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa tentang manfaat daun esekesek (Clotalaria juncea L) sebagai mulsa organik terhadap pertumbuhan tanaman khususnya
pada materi nutrisi tumbuhan.
Petunjuk praktikum yang disusun dan telah divalidasi oleh beberapa ahli. Jenis
validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah validasi ahli (expert validity). Validasi
dilakukan terhadap isi, kesesuaian bahasa, maupun struktur petunjuk praktikum yang mampu
membangun mahasiswa untuk berfikir kritis. Sehingga validator yang ditunjuk oleh peneliti
yaitu Septiana Dwi Utami M.Pd ahli fisiologi tumbuhan, setelah dianalisis diperoleh hasil
validasi yaitu 71%, sehingga petunjuk praktikum yang disusun dinyatakan layak atau valid, L.
Habiburrahman M.Pd ahli di bidang bahasa, setelah dianalisis diperoleh hasil validasi yaitu
80%, sehingga petunjuk praktikum yang disusun dinyatakan layak atau valid, dan Hunaepi,
S.Pd., M.Pd ahli pendidikan, setelah dianalisis diperoleh hasil validasi yaitu 82%, sehingga
petunjuk praktikum yang disusun dinyatakan layak atau valid. Maka berdasarkan hasil
analisis uji kelayakan (validitas) terhadap petunjuk praktikum yang telah dilakukan, maka
hasil validasi adalah layak atau valid untuk dijadikan sebagai media pembelajaran bagi
8
mahasiswa, karena aspek-aspek validasi tersebut telah valid dan mampu memotivasi dan
membangun mahasiswa untuk berfikir kritis. Petunjuk praktikum yang disusun ini hanya
sampai pada tahap uji validasi sebagai sumber pembelajaran saja tanpa dilakukan tahap
implementasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa (1)
pemberian daun esek-esek (Clotalaria juncea L) sebagai mulsa organik tidak berpengaruh
nyata dan menunjukkan hasil analisis yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan tanaman
cabai rawit (Capsicum annum L) pada setiap parameter yaitu tinggi batanag, jumlah helaian
daun, panjang akar, dan berat basah, (2) Berdasarkan hasil validasi dari beberapa validator
ahli (expert validity) maka petunjuk praktikum layak atau valid untuk di gunakan.
DAFTAR PUSTAKA
AgroMedia. 2008. Panduan Lengkap Budidaya dan Bisnis Cabai. Jakarta: AgroMedia
Pustaka
Aliyafin,2014. http://www.setbakorluhjateng. com/kehutanan/72-mulsa-daun-kering-solusijitu-melawan-gulma-di-hutan-tanaman.html. (Diakses 15-Juli-2014)
Arga, A. 2010. http://anggi-arga.blogspot.com/2010/03/mulsa.html. (Diakses 30- Juni-2014)
Isnaini, R. 2012. Pengaruh Pemberian Pupuk dari Feses dan Rumen Sapi Terhadap
Pertumbuhan Kacang Tanah Dalam Upaya Pembuatan Penunjang Petunjuk
Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Skripsi: Fakultas FPMIPA IKIP MATARAM
Liferdi,
L.
http://balitbu.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/publikasi-mainmenu47/prosiding/94-prosiding/193-efek-nitrogen-terhadap-pertumbuhan-dan-produksitanaman-manggis-g-arcin-ia-m-an-gostan-a-l. (Diakses 21-Mei-2014)
Lukitasari, M. 2012. Pengaruh Intensitas Cahaya Matahari Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Kedelai (Glycine max). Artikel: IKIP PGRI MADIUM.
Marlina. 2012. Respon Fisiologi Tanaman Cabai Rawit (Capsicun frutestescens L.) Terhadap
Stres Garam. Laporan: Fakultas Biologi Purwokerto.
Mirzani. 2013. http://laborr-ilmu.blogspot.com/2013/02/hara-dan-hubungannya-dengantanaman.html: Artikel (Diakses 21-Mei-2014)
Sudjana, B. 2011. Pemanfaatan Clotalaria retusa L dan “Kascing” Sebagai Pupuk Organik
Untuk Sayuran Selada. Jurnal:Fakultas Pertanian Unsika
Sunghening dkk. 2012. Pengaruh Mulsa Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga
Varietas Kacang Hijau (Vigna radiate L. Wilchzek) Di Lahan Pasir Pantai Bugel.
Kulon Progo. Sripsi: Fakultas Pertanian Gajah Mada.
Syukur, M. dkk. 2012. Sukses Panen Cabai Tiap Hari. Jakarta: Penebar Swadaya.
Umboh, 1997. Petunjuk Penggunaan Mulsa. Jakarta: Penebar Swadaya.
9
10
Download