PERANAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA

advertisement
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
PERANAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM
MEMBINA AKHLAK SISWA DI SMP NEGERI 2
GUNUNGSARI
Imam Cahyadi∗
Abstraksi: menjadi muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh,
berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan Negara
(insan al-kamil) adalah tujuan yang dikehendaki dalam sebuah
proses pendidikan. Tugas guru, selain mengajar dan membekali
murid dengan pengetahuan harus menyiapkan mereka agar
mandiri, mendisiplinkan moral, membimbing hasrat dan
menanamkan kebajikan dalam jiwa mereka. Oleh sebab itu, guru
agama bertanggungjawab dalam pembinaan sikap, mental, dan
kepribadian anak didiknya. Guru agama harus mampu
menanamkan nilai-nilai agama kepada setiap siswa dengan
berbagai cara. Namun, tetapi tujuan itu tidak akan tercapai apabila
tidak ada kerjasama dengan semua pihak terutama dengan sesama
guru dan antara guru dengan orang tua siswa. Sebab pendidikan
agama dapat terbina apabila adanya kesinambungan atau
keterpaduan antara pembinaan orang tua di dalam keluarga,
masyarakat dan guru di sekolah.
Kata Kunci: guru, peranan, keteladanan, dan akhlak.
I
slam sebagai agama yang universal sudah barang tentu
mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari ibadah,
kehidupan sosial, sampai ketingkat perilaku (ahlak). Karena itu
agama sangat berperan dalam pembentukan perilaku anak,
sehingga pembentukan pribadi akan membawa pertumbuhan dan
perkembangan anak berjalan baik. Anak memerlukan pendidikan
∗
Penulis adalah Alumni Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas
Tarbiyah IAIN Mataram. e-mail: [email protected]
87
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
dengan persyaratan, pengawasan, dan pemeliharaan yang terus
menerus sebagai pelatihan dasar dalam pembentukan kebiasaan dan
sikap agar memiliki kemungkinanan untuk berkembang secara
wajar dalam kehidupan dimasa mendatang.
Setiap orang Islam pada hakekatnya adalah insan agama
yang bercita-cita, berpikir, beramal untuk hidup di akhirat kelak
berdasarkan atas petunjuk dari wahyu Allah melalui Rasulullah,
kecenderungan hidup beragama ini merupakan ruhnya agama yang
benar yang dalam perkembangannya dipimpin oleh ajaran Islam
yang murni, bersumber pada kitab suci yang menjelaskan dan
menerangkan tentang perkara benar (haq). Tugas kewajiban
manusia untuk mengikuti yang benar, menjauhi yang batil yang
kesemuanya telah diwujudkan dalam syariat agama yang
berdasarkan nilai mutlak dan norma-norma yang telah ditetapkan
oleh Allah yang tak berubah menurut selera nafsu manusia. Oleh
karena itu tujuan pendidikan Islam penuh dengan nilai rohaniah
Islami dan berorientasi kepada kebahagiaan hidup di akhirat, tujuan
ini difokuskan pada pembentukan pribadi muslim yang sanggup
melaksanakan syari’at Islam melalui proses pendidikan spiritual
menuju makrifat pada Allah.
Pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan untuk
melatih anak didiknya yang sedemikian rupa sehingga dalam sikap
hidup, tindakan, dan pendekatanya dalam segala jenis pengetahuan
banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual dan sangat sadar akan
nilai etika Islam. Muhammad Athiah al-Abbrosyi dalam Syahidin
mengatakan bahwa tujuan hakiki pendidikan Islam adalah
kesempurnaan akhlak, sebab itu ruh pendidikan Islam adalah
pendidikan akhlak. 1
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan Islam di atas, yaitu
agar anak mempunyai sifat terpuji, tidaklah mungkin dengan
penjelasan pengertian saja, akan tetapi perlu membiasakannya
1
Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Qur’an (Bandung:
Alfabeta, 2009), h. 11.
88
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
untuk melakukan yang terbaik dan diharapkan nantinya akan
mempunyai sifat-sifat terpuji dan bisa menjauhi sifat yang tercela.
Latihan-latihan beragama yang menyangkut seperti ibadah shalat
berjama’ah, puasa, zakat, do’a-do’a dan menghafal surat pendek
harus dibiasakan sejak kecil agar nantinya bisa merasakan
manisnya beribadah.
Dalam melaksanakan pendidikan Islam, peran pendidik
sangat penting dalam proses pendidikan, karena dia yang
bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut.
Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orangorang yang berilmu pengetahuan yang bertugas sebagai pendidik,
pendidik mempunyai tugas yang mulia sehingga Islam memandang
pendidik mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada orangorang yang tidak berilmu dan orang-orang yang bukan sebagai
pendidik, tetapi di samping itu orang-orang yang berilmu tidak
boleh menyembunyikan atau menyimpan ilmu-ilmu yang
dimilikinya. Penghormatan dan penghargaan Islam terhadap orangorang yang berilmu itu terbukti di dalam al-Qur’an surat alMujadalah ayat 11 yang berbunyi:
           
 
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 2
Guru memang menempati kedudukan yang terhormat dalam
masyarakat, kewibawaanlah yang menyebabkan guru itu dihormati
sehingga masyarakat tidak meragukan figurnya, masyarakat yakin
bahwa gurulah yang dapat mendidik mereka agar menjadi orang
yang bisa bersifat mulia baik untuk dirinya maupun untuk orang
2
QS. Al-Mujadalah (58): 11.
89
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
lain. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru mempunyai
kelebihan yang tak dapat dimiliki oleh sembarang orang.
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik
dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Menjadi
teladan merupakan sifat dasar kegiatan pembelajaran, dan ketika
seorang guru tidak mau menerima atau menggunakannya secara
konstruktif maka telah mengurangi keefektifan pembelajaran. Peran
dan fungsi ini patut dipahami, dan tak perlu menjadi beban yang
memberatkan sehinggga dengan ketrampilan dan kerendahan hati
akan memperkaya arti pembelajaran. Sebagai teladan, tentu saja
pribadi dan apa yang dilakukan oleh guru akan mendapatkan
sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang
menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Secara teoritis,
menjadi teladan merupakan bagian integral dari seorang guru,
sehingga menjadi guru berarti menerima tanggungjawab untuk
diteladani.
Tugas guru tidak terbatas pada memberikan informasi
kepada murid, namun tugas guru lebih komperhensif dari itu. Selain
mengajar dan membekali murid dengan pengetahuan, guru juga
harus menyiapkan mereka agar mandiri dan memberdayakan bakat
murid diberbagai bidang, mendisiplinkan moral mereka,
membimbing hasrat dan menanamkan kebajikan dalam jiwa
mereka. Oleh sebab itu guru yang mengajar pelajaran agama sangat
bertanggungjawab dalam pembinaan sikap mental dan kepribadian
anak didiknya. Guru agama harus mampu menanamkan nilai-nilai
agama kepada setiap siswa dengan berbagai cara. Akan tetapi
tujuan itu tidak akan tercapai apabila tidak ada kerjasama dengan
semua pihak terutama dengan sesama guru dan antara guru dengan
orang tua siswa. Sebab pendidikan agama dapat terbina apabila
adanya kesinambungan atau keterpaduan antara pembinaan orang
tua di dalam keluarga, masyarakat dan guru di sekolah.
Berdasarkan hasil wawancara awal dengan guru Pendidikan
Agama Islam SMPN 2 Gunungsari yakni Lalu Shultonudin pada
tanggal 10 Mei 2012 mengatakan bahwa dalam membina akhlak
90
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
siswa banyak kegiatan yang dilakukan seperti, mengadakan imtak
setiap hari jum’at, shalat dzuhur berjamaah dan dilanjutkan dengan
kultum, mengadakan peringatan hari-hari besar agama Islam,
mengadakan lomba dalam bidang kegamaan (dilakukan pada bulan
Ramadhan), tadarusan Al-qur’an sebelum proses belajar mengajar
berlangsung dan bagi kelas VII yang akan naik ke kelas VIII
terlebih dahulu diadakan pemahaman terhadap bacaan alqur’an,
sedangkan bagi kelas VIII yang akan naik ke kelas IX diadakan
praktik shalat (shalat wajib), sementara bagi kelas IX lebih
ditekankan pada praktik shalat-shalat sunat baik itu shalat sunat
dhuha, tahajud, witir dan lain-lain. Hal ini dilakukan agar siswa
benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam
dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, meskipun demikian
masih banyak diantara siswa yang ada di SMPN 2 Gunungsari yang
bertingkah laku kurang baik seperti, mengganggu temannya yang
sedang belajar, sering ribut saat berlangsungnya proses belajar
mengajar, kurang hormat terhadap guru maupun orang tua,
sehingga hasilnya kurang efektif dan efesien dalam meningkatkan
akhlak siswa 3. Berangkat dari hal itulah yang menjadi acuan
penulis tertarik untuk mengangkat judul skripsi “Peranan Guru
Pendidikan Agama Islam dalam Membina Akhlak Siswa di SMP
Negeri 2 Gunungsari”.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimanakah peranan Guru
Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan akhlak siswa di SMP
Negeri 2 Gunungsari?; “Apakah kendala-kendala yang dihadapi
oleh Guru Pendidikan Agama Islam dalam membina akhlak siswa
di SMP Negeri 2 Gunungsari?”.
Peranan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membina
Akhlak Siswa di SMP Negeri 2 Gunungsari
3
Lalu Sultanudin, Wawancara, 10 Mei 2012
91
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai
dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan
menengah. 4 Guru atau pendidik juga berarti orang dewasa yang
bertanggung jawab memberi pertolongan pada anak didik dalam
perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat
kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat
kedewasaan, mampu memenuhi tugasnya sebagai hamba dan
khalifah Allah SWT. 5
Adapun
tujuan Pendidikan Agama Islam adalah
membimbing anak agar menjadi muslim sejati, beriman teguh,
beramal sholeh, berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat,
agama dan Negara.6 Oleh karena itu guru Agama memiliki tugas
yang lebih berat bila dibandingkan dengan guru pada umumnya,
sebab di samping ia sebab di samping ia harus membuat pandai
anak didiknya secara akal (mengasah kecerdasan IQ), ia juga harus
menanamkan nilai-nilai iman dan akhlak yang mulia.
Adapun tugas guru Pendidikan Agama Islam dapat
dikelompokkan ke dalam tiga jenis yaitu:
1. Tugas professional
2. Tugas kemanusian
3. Tugas kemasyarakatan 7
Pertama, guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan
yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Dan hal ini tidak
semua orang dapat melakukannya. Dalam konteks ini tugas guru
meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.
4
Farida, Sertifikasi..., h. 113-114.
Uhbiyati, Ilmu..., h. 65.
6
Zuhairini, Metodik…., h. 45.
7
Tim Penyusun, Bahan Inti Peningkatan Wawasan Kependidikan Guru
Agama Islam Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1995), h. 35-36.
5
92
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
Kedua, tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah
harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus
mampu menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Oleh
karena itu ia harus mampu memahami jiwa dan watak anak didik.
Guru harus menanamkan nilai kemanusiaan kepada anak didik,
dengan begitu anak didik akan rmempunyai sifat kesetiakawanan
sosial.
Ketiga, tugas guru di bidang kemasyarakatannya. Dalam
bidang ini guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar
masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral
pancasila. Guru tidak hanya diperlukan oleh para murid di ruangruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat lingkungannya
dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapi
masyarakat. Jika dipahami, maka tugas guru tidak hanya sebatas
dinding sekolah, tetapi juga sebagai penghubung antara sekolah dan
masyarakat.
Sedangkan menurut Zuhairini dan kawan-kawan tugas guru
Pendidikan Agama Islam adalah:
1. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama Islam
2. Menanamkan keimanan dalam jiwa anak
3. Mendidik anak agar taat menjalankan ajaran agama
4. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang baik 8
Jadi, tugas guru tidak terbatas pada memberikan informasi
kepada murid, namun tugas guru lebih komperhensif dari itu. Selain
mengajar dan membekali murid dengan pengetahuan, guru juga
harus menyiapkan mereka agar mandiri dan memberdayakan bakat
murid diberbagai bidang, mendisiplinkan moral mereka,
membimbing hasrat dan menanamkan kebajikan dalam jiwa
mereka. Sebab kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia
menempati tempat yang penting, sebagai individu, masyarakat dan
bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung
8
Zuhairini, Metodik …, h. 35.
93
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah
lahir dan batinnya, apabila akhlaknya rusak, maka rusaklah lahir
dan batinnya.
Dalam usaha membina akhlak siswa, peran guru Pendidikan
Agama Islam tidak bisa dinafikan, sebab guru agama merupakan
figur sentral yang paling bertanggung jawab dalam proses
pembinaan akhlak anak didik. Oleh karena itu setiap orang yang
mempunyai tugas sebagai guru harus mempunyai akhlak,
khususnya guru agama. Di samping mempunyai akhlak yang sesuai
dengan ajaran Islam ia juga harus mempunyai karakter yang
berwibawa, dicintai, dan disenangi oleh anak didiknya.
Penampilannya dalam mengajar harus meyakinkan karena setiap
perilaku yang ditampilkan oleh guru agama tersebut menjadi
sorotan atau teladan bagi anak didiknya.
Menurut WF Connell membedakan tujuh peran seorang guru
yaitu (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan
pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap
masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan
terhadap lembaga. 9
Selanjutnya SMPN 2 Gunungsari merupakan sekolah yang
selalu memperhatikan akhlak dan perilaku bagi anak didiknya,
karena ini merupakan suatu hal yang sangat lazim dilakukan dan ini
merupakan salah satu tugas atau peranan guru pendidikan agama
Islam yang paling utama demi tercapainya tujuan Pendidikan
Agama Islam, yakni untuk menciptakan dan mengembangkan
kepribadian muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah
S.W.T serta memiliki akhlak yang terpuji.
Di SMPN 2 Gunungsari, ada beberapa aktivitas yang
diperankan oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam membina
akhlak siswa, yakni diwujudkan dalam: 1) pelaksanaan Pendidikan
Agama Islam di kelas, 2) melakukan bimbingan khusus, 3)
9
http://pakguruonline.pendidikan.net/buku tua pakguru dasar kpdd
154.html, di ambil tanggal 31 Mei 2012
94
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
melakukan pembinaan melalui IMTAK, 4) meningkatkan hubungan
kerjasama dengan orang tua/wali murid.
1. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di dalam kelas
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam proses
pembelajaran. Kemajuan tekhnologi yang konon bisa memudahkan
manusia mencari dan mendapatkan informasi dan pengetahuan,
tidak mungkin dapat mengganti peranan guru, karena peran guru
sangat bermanfaat bagi siswa dalam mewujudkan tujuan
pendidikan Islam yakni membimbing anak agar menjadi manusia
muslim sejati, beriman dan bertakwa kepada Allah S.W.T. serta
berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Keberhasilan guru dalam melaksanakan peranannya dalam
bidang pendidikan sebagian besar terletak pada kemampuannya
melaksanakan berbagai peranan yang bersifat khusus dalam situasi
mengajar dan belajar. Dalam proses pendidikan guru memiliki
beberapa peranan, yaitu:
a. Guru sebagai pengajar, menyampaikan ilmu pengetahuan,
perlu memiliki keterampilan memberikan informasi kepada
kelas
b. Guru sebagai pemimpin kelas, perlu memiliki keterampilan
cara memimpin kelompok-kelompok murid
c. Guru sebagai pembimbing, perlu memiliki keterampialn cara
mengarahkan dan mendorong kegiatan belajar siswa
d. Guru sebagai pengatur lingkungan, guru harus terampil dalam
mempersiapkan dan menyediakan alat dan bahan pelajaran
e. Guru sebagai partisifan, perlu memiliki keterampilan cara
memberikan saran, mengarahkan pemikiran kelas, dan
memberikan penjelasan
f. Guru sebagai supervaisor, perlu memiliki keterampilan
mengawasi kegiatan anak dan ketertiban kelas
g. Guru sebagai motivator, perlu memiliki keterampilan untuk
mendorong motivasi belajar siswa
95
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
h. Guru sebagai evaluator, perlu memiliki keterampilan cara
menilai anak-anak secara objektif, kontinu, dan komperhansif
i. Guru sebagai konselor, perlu memiliki keterampilan cara
membantu anak-anak yang mengalami kesulitan tertentu.10
Dari penjelasan tentang peranan guru di atas, maka ada
beberapa peranan guru Pendidikan Agama Islam Islam dalam
membina akhlak siswa, yakni:
a. Guru sebagai demonstrator yang berperan penting dalam
berprilaku khususnya perilaku terpuji bagi setiap siswa
b. Guru sebagai pembimbing yang berperan sebagi pembimbing
siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas
perkembangan mereka
c. Guru sebagai fasilitator, yakni memberikan pelayanan dengan
maksimal untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses
belajar mengajar
d. Guru sebagai motivator, guru berperan aktif dalam
memberikan motivasi kepada siswa agar memperoleh
pembelajaran yang optimal.
Selain itu, dalam pelaksanaan belajar-mengajar di kelas guru
harus menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan
materi yang diajarkan, terlebih lagi dalam membina akhlak siswa.
Hal ini dimaksudkan agar apa yang menjadi tujuan dari Pendidikan
Agama Islam itu bisa tercapai. Adapau metode yang tepat untuk
digunakan dalam membina akhlak siswa yaitu:
a. Pendidikan
secara
langsung,
yaitu
dengan
cara
mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasihat, menyebutkan
manfaat dan bahaya-bahaya sesutau, dimana pada murid
dijelaskan hal-hal yang bermanfaat dan yang tidak,
menentukan kepada amala-amal baik, mendorong mereka
berbudi pekerti yang tinggi dan menghindari hal-hal yang
tercela.
10
96
Oemar, Pendidikan …, h. 48-49.
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
b. Pendidikan secara tidak langsung, yaitu dengan jalan sugesti
seperti mendiktekan sajak-sajak yang mengandung hikmat
kepada anak, memberikan nasihat-nasihat dan berita-berita
berharga, mencegah mereka untuk membaca sajak-sajak yang
kosong termasuk yang menggugah soal-soal cinta dan
pelakon-pelakonnya.
c. Mengambil manfaat dari kecendrungan dan pembawaan anakanak dalam rangka pendidikan akhlak. Sebagai contoh mereka
memiliki kesenangan meniru ucapan-ucapan, perbuatanperbuatan, gerak gerik orang-orang yang berhubungan erat
dengan mereka. 11
Dalam melaksanakan tugasnya guru Pendidikan Agama
Islam SMP Negeri 2 Gunungsari hendaknya menerapkan metode
tersebut agar pembinaan akhlak terhadap anak didik dapat tercapai,
sebab akhlak merupakan aspek pendidikan yang harus diperhatikan
oleh pendidik dan perlu diusahakan sejak dini.
2. Pembinaan melalui Iman dan Takwa (IMTAK)
Kegiatan Imtak merupakan salah satu kegiatan yang sangat
tepat untuk dilakukan dalam rangka membina akhlak siswa, sebab
melalui kegiatan Imtak ini siswa mendapatkan pelajaran-pelajaran
agama secara lebih mendalam dan terlatih, karena dalam kegiatan
ini siswa langsung mempraktikannya, sehingga pada akhirnya
kesemuanya itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Yusak Burhanudin dalam TB. Aat Syafaat dkk,
mengatakan bahwa materi pembinaan akhlak diberikan melalui
pengetahuan agama yang ada di sekolah, seperti; pelajaran AlQur’an, tauhid, hadis, tafsir, kebudayaan Islam, dan lain-lain. 12
11
Uhbiyati, Ilmu …, h. 154-155.
TB Aat Syafaat dkk, Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam
Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency), (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2008), h. 157-158.
12
97
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
a. Pelajaran Al-Qur’an
Pelajaran Al-Qur’an ditujukan untuk melatih penyempurnaan
bacaan Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan pemahaman dan
aplikasi ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelajran AlQuran merupakan sarana utama dalam mewujudkan tujuan
tertinggi dari pendidikan Islam.
b. Pelajaran Hadits
Pelaran hadis ditujukan agar umat Islam meneladani Rasulullah
S.A.W. dalam beribadah, bermuamalah, atau menghadapi
berbagai masalah hidup dan pemecahannya.
c. Pelajaran Tauhid
Tujuan pelajaran tauhid adalah menambah keimanan anak didik
dalam ketaatan kepada Allah S.W.T. pemahaman ayat-ayat AlQur’an dan perenungan ayat-ayat Allah S.W.T.
d. Pelajaran Fikih
Pelajaran fikih ini memperkenalkan siswa pada konsep perilaku
Islami, baik secra individual maupun secara social yang
bersumber dari Al-Qur’an maupun Sunnah, mliputi cara
beribadah, berprilaku, dan bermasyarakat.
e. Pelajaran Budaya Islam
Pelajaran budaya Islam dititik beratkan pada pengaruh budaya
Barat terhadap budaya Islam. Hal ini ditujukan untuk
menanamkan akidah Islam sehingga tidak terpengaruh oleh
sebagian besar konsep budaya Barat yang dapat mengacaukan
kemapanan akidah umat Islam serta menyelewengkan
pemahaman dan pengamalan siswa tentang konsep ke-Tuhanan.
Berdasarkan uraian di atas, Bentuk kegiatan yang
dilaksanakan oleh guru PAI pada kegiatan imtak dalam rangka
membina akhlak siswa, yaitu membaca surah Yasin, Zikiran,
menghafal ayat-ayat pendek, dan latihan pidato. Di samping itu,
ada juga kegiatan yang dilakukan oleh guru PAI yang bersifat
harian dan tahunan, seperti: (a) Baca Al-Qur’an pada pagi hari
sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan dengan
98
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
tujuan agar siswa mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan
mampu mengerti serta memahami isi dari bacaan Al-Qur’an dan
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, (b) Shalat dhuhur
berjamaah yang bertempat di mushalla sekolah. Tujuannya untuk
melatih siswa agar selalu peduli terhadap shalat serta terbiasa
melaksanakan shalat secara berjamaah dalam kehidupan seharihari, (c) Melakukan kegiatan-kegiatan hari besar agama, seperti
peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W, dan peringatan Isra’
Mi’raj. Tujuannya agar siswa dapat menelaah makna dari hari-hari
besar Islam serta dapat menjadikan nabi Muhammad sebagai
contoh dalam kehidupan sehari-hari.
3. Memberikan bimbingan khusus
Bimbimbingan khusus ini lebih ditekankan pada siswa yang
melakukan pelanggaran terhadap aturan yang ada di sekolah atau
membiasakan perilaku buruk. Bimbingan khusus yang dilakukan
oleh guru PAI SMPN 2 Gunungsari ini sangat bergantung pada
tingkat keparahan pelanggaran yang dilakukan oleh siswa.
M. Athiyah Al Abrasyi dalam Nur Uhbiyati mengemukakan
tiga syarat apabila ingin menghukum siswa, yaitu:
a. Sebelum berumur 10 tahun anak-anak tidak boleh dipukul
b. Pukulan tidak bleh lebih dari tiga kali
c. Memberikan kesempatam kepada anak-anak untuk tobat dari
apa yang ia lakukan dan memperbaiki keslahannya tanpa
perlu menggunakan pukulan atau merusak nama baiknya. 13
Selanjutnya adapun langkah-langkah yang ditempuh oleh
guru Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 2 Gunungsari dalam
memberikan sangsi kepada siswa yang melakukan pelnggaran
adalah sebagai berikut:
a. Memberi teguran dan nasihat kepada siswa yang bermasalah
dengan menggunakan pendekatan keagamaan
13
Uhbiyati, Ilmu …, h. 135.
99
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
b. Memberi perhatian khusus kepada siswa yang bersangkutan
secara wajar, memberinya tugas dan pertanggungjawaban agar
siswa memiliki rasa percaya diri dan bertanggungjawab
terhadap kegiatan yang dilakukannya
c. Menghubungi orang tua/wali perihal kenakalan siswa, agar
mereka mengetahui perbuatan anak-anaknya.
d. Memberikan surat peringatan, peringatan ini mengandung
ancaman bahwa anak tersebut tidak akan naik kelas atau
lainnya. Surat tersebut harus ditandatangani oleh orang tua
untuk kemudian dikembalikan lagi kepada guru. Maksudnya
supaya orang tua tidak terkejut, jika anaknya kelak tidak naik
kelas. Dengan demikian orang tua akan lebih memperhatikan
lagi anaknya. 14
4. Meningkatkan hubungan dengan orang tua/wali
Orang tua merupakan penanggung jawab pertama dan yang
utama terhadap pembinaan akhlak dan kepribadian seorang anak.
Orang tua dapat membina dan membentuk akhlak dan kepribadian
anak melalui sikap dan cara hidup yang diberikan orang tua yang
secara tidak langsung merupakan pendidikan bagi anak.
Orang tua turut berperan dalam pembentukan akhlak,
terutama dengan uraian dan keterangan mengenai keyakinan dalam
agama yang dianutnya. Orang tua dapat membantu remaja dengan
mengemukakan peranan agama dalam kehidupan dewasa, sehingga
penyadaran ini dapat member arti yang baru pada keyakinan agama
yang telah diperolehnya. 15
Jadi, keluarga merupakan faktor terpenting dalam
pembentukan akhlak anak, oleh karena itu orang tua sebagai
pendidik pertama dan utama bagi anak harus menjadi teladan yang
baik bagi anak-anaknya, sebab seorang anak yang dalam masa
pertumbuhan akan selalu mengikuti apa yang dikatakan maupun
yang dilakukan oleh orang tuanya.
14
15
100
Zakiah, Ilmu …, h. 79.
Syafaat, Peranan ..., h. 63.
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
Dalam meningkatkan hubungan kerjasama dengan orang tua,
guru pendidikan agama Islam SMP Negeri 2 Gunungsari sewaktuwaktu mengadakan kunjungan rumah (home visit), agar
mendapatkan informasi tentang bagaimana perilaku siswa saat
berada di rumah. Selain itu guru PAI juga tidak lupa untuk
memberikan saran atau masukan kepada orang tua siswa, supaya
mereka tetap mengontrol akhlak atau perilaku siswa pada saat
berada di rumah, agar anak didik tidak membiaskan perilaku yang
tidak terpuji.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa pearanan
guru dalam membina akhlak siswa sangatlah penting, karena
bagaiamanapun membina akhlak siswa tidak cukup dengan adanya
akhlak yang dimilikinya saja, melainkan perlu adanya pembinaan
yang dilakukan oleh guru pendidikan agama islam, selain itu
termotivasi tidaknya siswa juga ditentukan sejauh mana peranan
guru dalam pembelajaran.
Dengan demikian peranan Guru Penndidikan Agama Islam
dalam membina akhlak siswa di SMP Negeri 2 Gunungsari
memegang peranan yang sangat penting karena Pendidikan Agama
Islam iru dapat menjamin untuk memperbaiki akhlak siswa
sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Allah S.W.T. serta berakhlak mulia.
Kendala yang dihadapi oleh Guru Pendidikan Agama Islam
dalam Membina Akhlak Siswa di SMP Negeri 2 Gunungsari
Dalam segala usaha yang dilakukan tidak akan terlepas dari
berbagai kendala yang dihadapi, begitu pula dalam membina akhlak
banyak hal yang menjadi kendala yang menyebabkan guru merasa
sulit mengadakan pembinaan akhlak kepada siswa, seperti halnya
faktor intern dari siswa itu sendiri yang kurang mempunyai
kesadaran dalam belajar, tidak menghiraukan setiap nasehat guru,
dan tidak jarang para siswa malas mengikuti kegiatan-kegiatan
kerohanian seperti Imtaq, ceramah-ceramah agama dan lainnya.
Unsur bawaan merupakan faktor intern yang memberi ciri khas
101
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
pada diri seseorang. Dalam kaitan ini kepribadian sering disebut
sebagai identitas seseorang yang sedikit banyak menampilkan ciriciri pembeda dari individu lain di luar dirinya. Dalam kondisi
normal, memang secara individu manusia memiliki perbedaan dalm
kepribadian. Dan perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap
perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan.
Berdasarkan data hasil penelitian, ditemukan bahwa kendala yang
dihadapi dalam membina akhlak siswa di SMP Negeri 2
Gunungsari adalah:
1. Kurangnya motivasi dari orang tua
Motivasi belajar anak tidak akan lenyap tapi ia akan
berkembang dalam cara-cara yang bisa membimbing mereka untuk
menjadikan diri mereka lebih baik atau juga bisa sebaliknya. Hal
inilah yang harus diperhatikan oleh orang tua.
Orang tua yang kurang memperhatikan anaknya, akan
mengakibatkan rendahnya keinginan atau motivasi seorang anak
untuk belajar. Akibatnya anak akan menjadi malas, sulit diatur
bahkan akan cenderung melakukan pebuatan-perbuatan yang
bersifat negatif.
Adapun orang tua yang acuh atau tidak taat dalam
melaksanakan ajaran agama, orang tua tersebut tidak akan dapat
memberikan dorongan atau motivasi kepada anaknya untuk
mempelajari agama. Akbiatnya ia telah meluhurkan anaknya
bersikap apatis terhadap agama bahkan mungkin ingkar terhadap
ajaran agama. 16
2. Berkembangnya alat-alat tekhnologi canggih yang membuat
siswa menjadi siswa yang kurang baik
Dewasa ini peran dan tugas guru pendidikan agama Islam
dihadapkan pada tantangan yang sangat besar dan komplek, akibat
pengaruh negatif dari Era Globalisasi serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang mempengaruhi kepribadian dan
16
102
Uhbiyati, Ilmu …, h. 213.
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
akhlak pelajar sebagai generasi muda penerus bangsa. Derasnya
arus informasi media massa (baik cetak maupun elektronik), seperti
sekarang ini sangat berpengaruh dalam mengubah pola pikir, sikap
dan tindakan generasi muda. Dalam keadaan seperti ini bagi pelajar
yang tidak memiliki ketahanan moral sangatlah mudah mengadopsi
perilaku dan moralitas yang datang dari berbagai media masa
tersebut. Dijaman sekarang media masa telah menjadi pola
tersendiri dan menjadi panutan perilaku bagi sebagian kalangan.
Padahal nilai-nilai yang ditawarkan media masa tidak seluruhnya
baik malah seringkali kebablasan dan jauh dari nilai agama.
Menurut Arif Rahman dalam Syahidin salah satu bentuk
pergeseran nilai sebagai akbiat dari kemajuan Iptek yang tidak
terkendali, yaitu agama tidak lagi dijadikan pegangan hidup yang
bersifat rutin dan dogmatis. Nilai-nilai agama tidak akan diyakini
dan terima kebenarannya tanpa adanya penjelasan yang bersifat
ilmiah akademis dan multidimensional. 17
3. Kurang tersedianya sarana dan prasarana yang dapat menunjang
keberhasilan pendidikan
Guna menunjang keberhasilan guru Pendidikan Agama
Islam dalam membina akhlak siswa maka harus ada kegiatankegiatan yang mendukungnya. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa
berjalan lancar apabila sarana dan prasarananya dapat terpenuhi,
namun apabila sarana dan prasarana tersebut kurang memadai maka
akan menjadi kendala bagi pelaksanaan kegiatan.
Sarana dan prasarana merupakan penunjang kegiatan
pembelajaran yang sangat penting untuk mencapai pembelajaran
yang maksimal, untuk itu sekolah harus berusaha memenuhi
kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan, sehingga di dalam
sebuah lembaga ada kordinator tersendiri dalam hal mengurusi
sarana dan prasarana.
17
Syahidin, Menelusuri …, h. 6.
103
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai maka
kegiatan belajar mengajar akan menjadi lebih menarik, seperti LCD
proyektor, Overhead Proyektor (OHP), tape recorder dan lainlain. 18
4. Lingkungan tempat bergaul/masyarakat yang kurang baik,
mengakibatkan siswa membiasakan perilaku yang kurang baik.
Lingkungan ialah sesuatu yang berada di luar diri anak dan
mempengaruhi perkembangannya. Dalam masa pertumbuhan dan
perkembangannya seorang anak akan sangat dipengaruhi oleh
lingkungan tempat tinggalnya. Menurut Abdurrahman Saleh dalam
Nur Uhbiyati mengatakan ada tiga macam pengaruh lingkungan
pendidikan terhadap keberagamaan anak, yaitu:
a. Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama
b. Lingkungan yang berpegang pada tradisi agama tetapi tanpa
keinsafan batin
c. Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan
hidup dalam kehidupan agama. 19
Jadi, lingkungan memiliki andil yang cukup besar terhadap
pembentukan pribadi seorang anak. Akhlak anak akan menjadi
baik apabila lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang
baik, tetapi sebaliknya akhlaknya akan menjadi buruk apabila
lingkungan tempat tinggalnya kurang baik.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kendala
yang dihadapi oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam membina
akhlak siswa adalah tidak terlepas dari dua faktor, yaitu faktor
interen (faktor dari siswa itu sendiri) seperti orang tua yang
mungkin kurang peduli terhadap pendidikan akhlak atau moral
anak-anaknya, kurang mendapat didikan dari semenjak dini di
dalam lingkungan keluarga, sehingga tidak mengherankan apabila
di sekolah sering bermasalah, sulit di atur dan lain sebagainya. Dan
18
19
104
Tim Penyusun, Bahan …, h. 36.
Uhbiyati, Ilmu …, h. 210.
Peranan Guru Pendidikan... (Imam Cahyadi)
yang ke dua adalah faktor eksteren, seperti keluarga, sekolah, dan
lingkungan masyrakat. misalnya di lingkungan masyarkat banyak
hal yang anak pelajari secara tidak langsung, bagaimana
pergaulannya dan lain lain. Sehingga anak- anak masih terbiasa
terbawa bagaimana kelakuan di luar yang sangat sulit di rubah,
karena dilingkungan masyarakat lah seorang anak banyak belajar
sesuatu yang tidak pernah di dapatkan di rumah dan di sekolah.
Catatan Akhir
Berdasarkan hasil paparan data dan pembahasan di atas
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam membina akhlak
siswa di SMP Negeri 2 Gunungsari, diwujudkan pada beberapa
aktivitas sebagai berikut:
a. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di kelas
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, guru selalu
berusaha semaksimal mungkin utnuk memberikan pelayanan
yang terbaik kepada anak didiknya, agar anak didik selalu
termotivasi dalam mengikuti setiap pembelajaran yang
dilakukan.
b. Pembinaan melalui Iman dan Takwa (IMTAK)
Bentuk-bentuk kegiatan yang dikakukan, yaitu membaca
surah Yasin, latihan pidato, dan shalat dhuha. Selain itu, ada
juga aktivitas lainnya, seperti membaca Al-Qur’an sebelum
belajar mengajar dimulai, shalat dhuhur berjamaah, dan
peringatan hari besar islam.,
c. Memberikan bimbingan khusus
Pembinaan ini lebih ditekankan pada upaya guru dalam
mengantisipasi terjadinya kenakalan-kenakalan siswa, yaitu
dengan cara menghindari siswa dari perbuatan negatif,
memberikan teguran serta nasihat dan lain sebagainya.
d. Meningkatkan hubungan kerjasama dengan orang tua
Dalam meningkatkan hubungan dengan orang tua, guru PAI
melakukan kunjungan rumah, guna mendapatkan informasi
105
El-HIKMAH, Volume 6, Nomor 2, Desember 2012
perihal anak didik saat berada di rumah, mengadakan
diskusi, serta mencari jalan keluar atau solusi apabila terjadi
masalah-masalah dengan siswa.
2. Kendala-kendala yang dihadapi oleh guru Pendidikan Agama
Islam dalam membina akhlak siswa di SMP Negeri 2
Gunungsari, yaitu (1) kurangnya motivasi dari orang tua,
sehingga siswa menjadi malas dan sulit diatur, (2)
Berkembangnya alat-alat tekhnologi canggih yang membuat
siswa menjadi siswa yang kurang baik, (3) Kurang tersedianya
sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan
pendidikan, (4) Lingkungan tempat bergaul yang kurang baik,
mengakibatkan siswa membiasakan perilaku yang kurang baik.
106
Download