bab i pendahuluan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
T.S Sihombing dalam Sinode Godang tahun 1972 mengatakan bahwa HKBP
adalah HKBP, yang mengambil rupa, corak, struktur sendiri yang unik, sejarah,
kehidupan, dan pergumulan yang ia alami yang menentukan corak dan rupanya.
Pernyataan T.S Sihombing dipandang Ramlan Hutahean sebagai pemaknaan diri
(self-definition) bahwa HKBP adalah gereja yang memiliki latar belakang sejarah
panjang, yang menghasilkan kekhasan dan keunikan dibanding gereja lain (2013, 2).
Selain itu, Bonar Napitupulu melihat pernyataan T.S Sihombing adalah penegasan
bahwa HKBP adalah gereja yang mengikuti ajaran Tuhan, bukan manusia atau aliran
tertentu (2011, 21). Dari pandangan dan tanggapan terhadap pernyataan T.S
Sihombing, dapat dikatakan bahwa HKBP adalah gereja yang memiliki identitas
khas dalam dirinya, sebab HKBP adalah HKBP yang memiliki corak dan bentuk
sendiri. Satu bagian dari corak dan bentuk tersebut adalah Kebatakan dan
Kekristenan yang lekat pada HKBP.
1
Kekristenan dan Kebatakan menyatu di HKBP1, yang menjadikan adat dan
budaya Batak2 melekat dalam kombinasi Batak Kristen. Hal ini seperti yang
dikatakan Siagian bahwa orang Batak memiliki warisan budaya yang kuat, sekalipun
sudah Kristen (2009, 5, 10, 106). Pandangan Siagian seiring dengan Hutahean yang
mengatakan Kekristenan tidak mengubah adat dan budaya Batak Indonesia menjadi
adat dan budaya Eropa Amerika (2011, 141). Ia menegaskan bahwa orang Batak
tetap ada dalam budaya dan adat sekalipun menjadi Kristen. Pendapat Siagian dan
Hutahean terlihat dari keberadaan HKBP yang: 1), menggunakan bahasa Batak
sebagai bahasa ibadah 2), merayakan ritus secara Kristen dan Batak, serta 3),
menerapkan adat dan budaya Batak seperti penerimaan seni tari musik gondang dan
tortor, juga prinsip sosial orang Batak, yaitu; dalihan na tolu, martarombo, punguan
marga, parsahutaon dan jambar.
HKBP memadu Kebatakan dalam bingkai Kekristenan. Perpaduan ini
ditegaskan gereja dalam Pengakuan Iman yang menggambarkan hubungan budaya,
adat dan agama. HKBP memiliki Pengakuan Iman tahun 1996 dan Pengakuan Iman
tahun 1951. Dalam Pengakuan Iman tersebut dinyatakan bahwa:
“Pengakuan Iman HKBP 1951. Kita harus menentukan Pengakuan Iman kita terhadap adat
dan kebudayaan dari bangsa kita. Kita harus jaga agar kedua hal ini jangan merusak iman
1
Gereja yang berasimilasi dengan Kebatakan tidak hanya HKBP, terdapat beberapa gereja
lain, seperti, HKI, GKPS, BNKP dan juga ada gereja yang berasimilasi dengan kesukuan selain Batak,
seperti GKJ, Gereja Toraja, GKP.
2
Batak dalam pembahasan ini adalah Batak sebagai sebuah etnis yang berasal dari Sumatera
Utara yang memiliki peradaban (sebelum kekristenan hadir, seperti bahasa, hukum dan kepercayaan)
yang kemudian keluar dari tempat asalnya; yang kemudian hal tersebut menyatu dengan Kekristenan
dan hadir sebagai gereja HKBP.
2
kita. Zaman ini sangat menekankan adat dan kebudayaan. Hal ini adalah baik, akan tetapi
walaupun demikian belum tentu semua hal di dalamnya dapat disesuaikan dengan
kepercayaan kita. Kita harus insaf akan bahaya-bahaya yang terdapat di sana. Agama dan
ajaran-ajaran yang berupa-rupa itu nyata merupakan suatu bahaya rohani bagi gereja kita”
(HKBP, 2000, 32).
“Pengakuan Iman HKBP 1996. Allah menciptakan manusia dengan tempat tinggalnya dan
tempatnya bekerja di dunia ini (Kej. 2:5-15). Dialah yang memiliki semuanya, yang
memberikan kehidupan bagi semua yang diciptakanNya. Tempat manusia adalah daratan,
lautan dan langit/ruang angkasa. Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk
memelihara dunia ini dengan tanggungjawab penuh. Dia juga memberikan bahasa, alat
musik, kesenian dan pengetahuan kepada manusia sebagai alat manusia dan juga aturan
untuk memuji Allah dan sebagai sarana untuk memelihara dan memperindah persahabatan
antar manusia agar melalui kebudayaan, kerajaan Allah semakin besar. Tetapi kebudayaan
yang bercampur kekafiran dan yang bertentangan dengan Firman Allah, harus ditolak”
(HKBP, 2000, 88).
Berdasarkan Pengakuan Iman di atas, diketahui bahwa hal ideal dalam relasi adat
budaya Batak dengan Kekristenan adalah perpaduan yang positif, artinya adat dan
budaya dipahami sebagai pemberian dan sarana yang dapat digunakan dalam
Kekristenan. Pengakuan ini membuka relasi antara Kebatakan dan Kekristenan
sejauh tidak bertentangan.
Kini, gereja HKBP telah tersebar di beberapa daerah. Penyebaran tersebut
berhubungan erat dengan arus diaspora3 orang Batak Kristen ke luar Sumatera.
Orang Batak mengatakan bahwa mereka berdiaspora karena beberapa alasan, seperti:
pendidikan, ajakan keluarga, mengikut orang, dan bekerja. Pada umumnya, mereka
berdiaspora untuk bekerja. Pandangan ini senada dengan pandangan pendeta di
3
Penulis memilih kata diaspora dibanding kata merantau atau migrasi dengan maksud
menekankan Batak sebagai etnis yang terpisah dari asal (di batas tertentu/atau berada di daerah) serta
negara tertentu yang memiliki ingatan bersama, pemahaman, atau cerita leluhur tentang kampung
halaman, tempat, sejarah dan pencapaian mereka. Serta, mereka menghormati tanah leluhur sebagai
tempat ideal dan mereka percaya secara bersama-sama memelihara tanah leluhur. Dan juga mereka
terus mewarisi kisah tentang kampung halaman, dan kesadaran relasi komunitas antara mereka adalah
penting seperti yang dikatakan Safran dalam mendefinisikan arti dari diaspora (Saffran, 1991, 2).
3
HKBP yang mengatakan bahwa mereka ada di luar Sumatera karena pekerjaan.
Gereja memberi tugas melayani di luar Sumatera. Apa yang dikatakan jemaat dan
pendeta sejalan dengan pandangan Cohen yang mengatakan ada berbagai bentuk
alasan terjadinya diaspora, seperti faktor keadaan suatu wilayah, perdagangan,
kekuasaan, dan pekerjaan (2008, 3, 18, 61).
Dalam diaspora, orang Batak Kristen membawa identitas yang berpadu
antara Kekristenan dan Kebatakan. Mereka berkumpul dalam kelompok sesama
Batak yang kemudian melahirkan persekutuan. Dari persekutuan selanjutnya menjadi
peribadahan, yang kemudian mendirikan gereja. Pola tersebut menjaga identitas
Batak Kristen diaspora di gereja HKBP yang kini terdiri dari 28 distrik4 dengan
jumlah gereja sebanyak 3.174 (HKBP, 2013, 487). Hal ini dikukuhkan dengan
kenyataan yang mengatakan HKBP yang berbasis kesukuan, adalah gereja suku
terbesar di Asia Tenggara, seperti yang dicatat The Ecyclopedia of Protestantism
(Hillerbrand, 2004, 337). Hal ini menunjukkan bahwa gereja bertahan dalam
identitas Kebatakan dan Kekristenan yang menyatu. Mereka bisa beradaptasi dalam
kemajemukan diaspora. Akan tetapi, perpaduan identitas Kristen dan Batak memberi
masalah tersendiri bagi generasi muda Batak Kristen diaspora. Hal ini seperti
pepatah yang berkata, lain ladang, lain ilalang, yang berarti lain tempat, lain masalah
(Brataatmadja, 1985, 185). Pemuda yang lahir dan besar dalam diaspora tentu
memiliki permasalahan tersendiri.
4
Dengan jumlah semua Pendeta 1.354, Guru Huria 428, Biblevro 408, Diakones 284. Belum
termasuk calon Pendeta, Guru Huria, Biblevro, Diakones (HKBP, 2013, 488-9).
4
Pemuda Batak Kristen yang lahir dan besar dalam diaspora dihadapkan pada
pergulatan identitas. Permasalahan identitas adalah gejala umum yang terjadi pada
pemuda, seperti yang dikatakan Rupa Huq bahwa identitas adalah tema yang sering
muncul pada pemuda, khususnya mereka yang dari minoritas (Huq, 2006, 33).
Generasi pemuda Batak Kristen diaspora bergulat terhadap wacana untuk
mengetahui Kebatakan, sebab gereja memadu Kebatakan dengan Kekristenan.
Dalam posisi tersebut pemuda bertanya bagaimana menempatkan posisi agama dan
budaya dalam identitas. Apakah menjadi Batak berarti menjadi Kristen dan
sebaliknya? Sehingga harus mengetahui bahasa Batak; merayakan ritus baik secara
Batak dan Kristen; dan mengetahui gondang dan tortor serta dalihan na tolu,
martarombo, punguan marga, parsahutaon dan jambar. Dalam hal ini, hal ideal
adalah pemuda Batak Kristen diaspora mengetahui identitas mereka, tetapi untuk
sampai ke sana adalah bagian yang menjadi pembahasan.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Dalam penelitian, ada dua pertanyaan yang menjadi poin pembahasan:
1) Bagaimana generasi pemuda diaspora menghadapi perpaduan Kekristenan
dan Kebatakan?
5
2) Bagaimana pemuda Batak Kristen menemukan identitas dirinya di tengah
hubungan Kebatakan dan Kekristenan sebagai pemuda Batak Kristen
diaspora?
1.3 Ruang Lingkup dan Signifikansi Penelitian
Penelitian ini berfokus pada gereja HKBP yang berada di Distrik XIX.
Distrik XIX Bekasi (atau Jakarta 2) terdiri 14 ressort dengan 37 gereja yang dilayani
oleh 96 pendeta5. Penelitian mengambil tiga gereja, yaitu: 1), Gereja HKBP Pondok
Ungu Permai 2), Gereja HKBP Harapan Baru Regency 3), Gereja HKBP Pejuang.
Tiga tempat tersebut dipilih dengan pertimbangan faktor geografis diaspora yang
jauh dari tanah Batak. Pertimbangan lainnya adalah faktor heterogenitas. Lokasi
tersebut adalah tempat yang beraneka-ragam, terdapat berbagai agama dan suku
berbeda.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian bertujuan mencapai pemahaman identitas. Pemahaman atas
identitas pemuda Batak Kristen yang ada di diaspora. Pemahaman selanjutnya
bermanfaat untuk memberi pengertian bagi pemuda Batak Kristen diaspora terhadap
perpaduan Kekristenan dan Kebatakan dalam mengartikulasikan diri; terutama
5
Belum termasuk guru huria, biblevro, diake dan calon pendeta (guru huria, biblevro, diaken
dan calon pendeta adalah pelayan yang membantu pendeta dalam pelayanan).
6
generasi pemuda Batak Kristen yang lahir dan besar di luar tanah Batak. Diharapkan,
penelitian ini juga dapat menjadi referensi dalam melihat identitas dalam kenyataan
HKBP di tengah-tengah pluralitas. Selanjutnya penelitian diharapkan menambah
referensi tentang pemuda dan identitas, khususnya referensi yang dapat dijadikan
data atas problematika pemuda dalam dialektika agama dan suku.
1.5 Tinjauan Pustaka
Terdapat ulasan yang mengkaji identitas terkait dengan Kekristenan dan
kesukuan, khususnya dalam Kekristenan di Indonesia. Seperti telaah dari pendeta
gereja suku, GKPS, Martin Sinaga dalam Identitas Poskolonial Gereja Suku dalam
Masyarakat Sipil. Serta, Darwin Darmawan dari GKI, yang membahas identitas
dalam Identitas Hibrid Orang Cina Indonesia Kristen: Ketegangan dan Negosiasi
Antara Kecinaan, Keindonesiaan dan Kekristenan, dan juga Rita Smith Kipp melalui
Dissociated Identity; ethnicity, religion, and class in an Indonesia society yang
berfokus pada Batak Karo. Tiga penulis tersebut sama-sama membahas identitas,
dalam keterkaitan Kekristenan dan kesukuan.
Martin Sinaga mengurai bagaimana pentingnya menemukan identitas
gerejawi di hadapan modereninasi dan kemajuan sosial (2004, 4, 145). Ia
menyatakan bahwa komunitas Kristen tidak menegaskan arah dalam menghadapi
problem identitas. Menurutnya, komunitas Kristen hidup dengan jalan mengulang
7
jati diri pietisme Barat yang diterima sejak dahulu, atau mengulang secara sloganistis
serat religius lokal yang kini terselubung dalam baju agama Kristen. Ia
menyimpulkan pandangan ini melalui penelusuran identitas Kekristenan dalam
dialektika antara wacana pietisme Barat dan ingatan akan wawasan religius kultural
nenek moyang Simalungun (studi tentang Jaulung Wismar Saragih dan Komunitas
Kekristenan di Simalungun).
Sementara itu, Darwin Darmawan berfokus pada kasus penelitian di GKI
Perniagaan dengan lingkup spesifik identitas orang Cina pasca Soeharto. Dalam
tesisnya, ia menunjukkan bahwa orang Cina memiliki pengalaman subjektif yang
beragam. Pengalaman itu menghasilkan pemaknaan dan identifikasi yang beragam
(Darmawan, 2012, 145, 175). Darmawan dengan menggunakan pemahaman Bhabha
tentang ruang transformatif atau ruang ke tiga menyatakan bahwa di ruang tersebut
orang Cina mentransformasi wacana dominan mengenai Cina dan Indonesia yang
oposisi biner, homogen dan baku khas kebijakan asimilasi (2012, 145). Orang Cina
melakukan apa yang disebut Bhabha dengan mimicry. Menurutnya, jemaat GKI
Perniagaan melakukan artikulasi ganda. Di satu sisi mereka mengakui sebagai Cina,
di sisi lain sebaliknya. Wacana ini dikonstruksikan sebagai oposisi biner dalam ruang
ke tiga dengan ditransformasi menjadi suatu yang bisa bergabung membentuk
identifikasi hybrid, seperti yang dikatakan Bhabha, bercirikan neither-nor.
Kemudian, Rita Smith Kipp dalam Dissociated Identity; ethnicity, religion,
and class in an Indonesia society, membahas Batak Karo. Pembahasan mengulas
8
keberadaan Karo dalam perjalanan identitasnya di Indonesia terkait politik,
kekeluargaan, sekularisasi. Kipp juga mengulas Kekristenan, etnisitas dan kelas.
Dalam pembahasan tersebut, ia mengulas tentang GBKP. Ia menjelaskan tentang
sejarah, perkembangan, kegiatan, serta persoalan yang hadir dalam perkembang
GBKP. Kipp menjelaskan bahwa GBKP adalah gereja terbesar dan tertua yang
berdiri tahun 1941 di Karo (1993, 191). Ia mendeskripsikan perkembangan GBKP,
seperti pembangunan gereja, bentuk sinode (klasis), adanya panti asuhan di
Sukamakmur, Kabanjahe, dan juga keterlibatan GBKP dalam organisasi yang
tergabung dalam PGI (Kipp, 1993, 193). Serta, ia juga menjelaskan kegiatan
komunitas ibadah, pendidikan, dan juga peran pendeta. Hal terkait Kekristenan dan
kesukuan, yang Rita munculkan dengan tegas, adalah penggunaan bahasa Karo di
gereja (1993, 198). Ia menjelaskan bahwa bahasa Karo digunakan sebagai bahasa
ibadah, baik di sekolah minggu maupun di ibadah umum. Dalam hal ini, ia
menjelaskan bahwa di beberapa tempat, seperti Medan dan Jakarta, bahasa Indonesia
digunakan untuk sekolah Minggu. Kipp menekankan, pengunaan bahasa Karo dalam
ibadah, adalah persoalan identitas pada perkembangan GBKP di luar wilayah
regional Karo (Kipp, 1993, 198).
Ketiga penulis di atas telah membahas identitas terkait dengan Kekristenan
dan kesukuan. Hanya saja, menurut penulis mereka belum secara khusus menyentuh
sisi pemuda dan problematika dalam diaspora terhadap inkulturasi antara kesukuan
dan Kekristenan lebih dalam. Sehingga perlu dilakukan pembahasan; kajian
9
mendalam pada pemuda Kristen diaspora, yang bergelut dalam inkulturasi identitas
kesukuan dan Kekristenan.
1.6 Landasan Teori
Dalam pembahasan identitas pemuda Batak Kristen diaspora, penulis
menggunakan beberapa teori, yaitu: teori pemuda, diaspora, inkulturasi, dan
identitas.
Pemuda
Istilah pemuda didefinisikan dalam beberapa persepsi, setidakya terdapat
tiga. Pertama, pemerintah mendefinisikan pemuda sebagai penduduk berumur 18-35
tahun, baik sudah menikah maupun belum (Kemenpora, 2008, 9-11). Kedua, pemuda
juga didefinisikan dari segi psikologis sebagai semangat, jiwa atau spirit. Ketiga,
pemuda juga lihat secara sosiologis sebagai “orang muda laki-laki; remaja; teruna;
yang akan menjadi pemimpin bangsa dan juga sebagai orang yang selalu bergantung
pada induk semang”. Dari tiga definisi, diketahui istilah “pemuda” cair. Hal ini
seperti pandangan umum yang melihat pemuda sebagai periode transisi dari masa
anak-anak kepada masa dewasa, sehingga cair diterjemahkan. Sekalipun demikian,
dalam pembahasan pemuda didefinisikan berdasarkan definisi HKBP yang
mengatakan bahwa pemuda adalah persekutuan pemuda di jemaat, laki-laki dan
perempuan, yang berusia 18 tahun ke atas, dan belum menikah, serta terdaftar
10
sebagai warga jemaat (HKBP, 2002, 118). Selanjutnya, definisi ini digunakan
menentukan siapa pemuda dalam penelitian. Dengan demikian, pemuda dalam
penelitian adalah jemaat, baik laki-laki maupun perempuan, berumur 18 tahu ke atas
dan belum menikah.
Diaspora
Diaspora secara sederhana dipahami sebagai proses perpindahan manusia
dari tempat asal menuju lokasi lain seperti yang didefinisikan Cambridge Dictionary
(Walter, 2008, 387). Hal ini persis dengan pandangan Walker Connor yang
mengatakan diaspora adalah golongan yang hidup di luar tanah asal (Dikutip dari:
Ember & Skoggard, 2005, 267). Cambridge dan Connor mendefinisikan diaspora
sebagai keadaan di luar tanah asal. Namun, hal ini berbeda dengan definisi KBBI.
KBBI mengatakan diaspora adalah masa tercerai-berai satu bangsa yang tersebar di
berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya Yahudi
sebelum tahun 1948 (Tim Penyusun Kamus, 2007, 262). Berdasarkan perbedaan
definisi, dapat dikatakan bahwa diaspora meluas, tidak terbatas pada diaspora
Yahudi. Hal ini juga seperti yang dikatakan Saffran bahwa diaspora berkembang
menjadi metafora yang menggambarkan katagori-katagori seperti: imigran,
pembuangan, orang asing (1991, 2). Pandangan Saffran senada dengan Clifforf
mengatakan bahwa, bahkan dalam arti dasar diaspora terdapat ambivalen karena
masyarakat bertambah dan berkurang bergantung pada kemungkinan perubahan
(1994, 306). Oleh karena itu, definisi diaspora tidak terbatas masa pembuangan
11
Yahudi yang tercerai-berai. Saffran dengan memperluas definisi Connor mengatakan
diaspora dapat mengacu kelompok minoritas dengan beberapa kategori, yaitu: 1),
kelompok yang terpisah dari asal, berada di batas tertentu atau berada di daerah serta
negara tertentu 2), mereka memiliki ingatan bersama, pemahaman, atau cerita
leluhur tentang kampung halaman, tempat, sejarah dan pencapaian 3), mereka
merasa tidak sepenuhnya diterima oleh lingkungan tempat tinggal sehingga merasa
asing dan berbeda 4), mereka menghormati tanah leluhur sebagai tempat ideal,
sehingga mereka atau keturunan mereka akan kembali di waktu yang tepat 5),
mereka percaya bahwa mereka, secara bersama-sama, untuk berkomitmen dan
memelihara, atau merestorasi tempat asal dan keamanannya, serta kesejahteraanya
6), mereka terus mewarisi kisah tentang kampung halaman, dan kesadaran relasi
komunitas antara mereka adalah penting (Saffran, 1991, 2).
Selanjutnya, definisi6 Saffran berguna untuk menjelaskan keberadaan orang
Batak sebagai kaum diaspora. Berdasarkan definisi Saffran, dapat dikatakan bahwa
Batak adalah kaum diaspora. Mereka adalah kelompok minoritas yang keluar dari
tempat asal (tanah Batak). Sebagai orang yang keluar dari tempat asal, mereka
memiliki ingatan bersama terhadap leluhur, tempat dan sejarah, seperti kampung
halaman. Mereka memiliki cerita bersama tentang sejarah leluhur. Serta adanya
6
Perlu ditekankan bahwa Batak dispora tidak sepenuhnya masuk dalam kategori ini, seperti
pada poin tiga yang mengatakan merasa tidak sepenuhnya diterima oleh lingkungan tempat tinggal
sehingga merasa asing dan berbeda. Dalam diaspora, orang Batak mengalami pengalaman yang
berbeda-beda, dimungkinkan terjadi penolakan, namun tidak berarti orang Batak tidak diterima oleh
lingkungan secara keseluruhan.
12
keterikatan yang kuat dalam komunitas yang terjadi baik secara marga maupun
wilayah.
Identitas
Identitas adalah jati diri, ciri-ciri, tanda-tanda, atau pengenal terhadap siapa
seseorang, atau juga yang menyebabkan dia berbeda dengan orang lain. Selain itu,
identitas juga terkait erat dengan self seperti yang dikatakan William James bahwa
diri seseorang memiliki keberadaan sosial sejauh mana orang mengakuinya serta
memiliki gambaran terhadap orang tersebut dalam pikiran (Dikutip dari: Swann &
Bosson, 2010, 589). Hal ini membuka peluang bahwa diri seseorang pada saat yang
sama dapat memiliki banyak identitas, seperti yang dikatakan Burke dan Stets dalam
Identity Theory bahwa pada saat yang sama, seseorang bisa memiliki banyak
identitas (2009, 118). Pada saat yang sama seseorang bisa sekaligus menjadi murid,
guru, dan istri. Selanjutnya, teori ini digunakan untuk mengatakan pemuda, pada saat
yang sama sebagai Batak Kristen dalam diaspora, adalah Kristen dan Batak. Teori ini
digunakan untuk mengatakan bahwa menjadi Batak dapat sekaligus menjadi Kristen,
dan sebaliknya. Hal ini juga dimungkinkan terjadi karena adanya inkulturasi dalam
gereja.
Inkulturasi
13
Inkulturasi7 adalah penerimaan budaya lokal dalam Kekristenan. Michael
Paul Gallagher S. J. mengatakan inkulturasi adalah keterkaitan agama dan budaya
(2003, 117-118). Ia mengatakan Injil Kristen berlatar belakang budaya tertentu. Ia
memberi contoh bahwa Injil Matius ditujukan pada jemaat berlatar belakang Yahudi,
dengan banyak kutipan merujuk kitab Yahudi. Begitu juga Lukas, yang berfokus
dengan pertanyaan agama, berlatar belakang Yunani. Gallagher juga menegaskan
bahwa Injil orang Kristen ditulis dalam bahasa Yunani yang bukan bahasa Yesus
(2003, 117-118). Hal ini menjelaskan bahwa sejak awal Kekristenan, ada relasi ke
luar dari Yahudi pada budaya tertentu; dan hal tersebut disebut sebagai inkulturasi.
Kekristenan terbuka terhadap budaya yang beragam. Seperti yang dikatakan
Heuken bahwa inkulturasi menerima atau menggunakan budaya tertentu dalam
Kekristenan (1994, 103). Ia berpendapat bahwa inkulturasi merupakan penanaman
agama melalui sarana budaya. Dalam setiap kebudayaan, pasti ada unsur positif yang
dapat digunakan sebagai sarana mengekspresikan kepercayaan, yang secara otentik
dengan cara berbeda-beda (Heuken, 1994, 103). Pandangan ini sama dengan
pendapat Harjana yang mengatakan bahwa inkulturasi berasal dari kata Latin
inculturare yang berarti tumbuh dan berkembang di dalam (1993, 18). Proses
inkulturasi terjadi bila agama masuk ke dalam budaya lain, dan terintegrasi serta
berakar di sana.
7
Dengan tidak memperdebatkan perbedaan antara inkulturasi, enkulturasi, dan akulturasi
baik secara antropologi maupun sosiologi. Di sini, kata inkulturasi digunakan dengan memahami
bahwa inkulturasi telah mejadi kata dalam ranah teologi yang mengacu pada relasi antara agama dan
budaya.
14
Inkulturasi, atau yang juga disebut sebagai teologi kontekstual
(kontekstualisasi) merupakan proses memahami iman Kristen dengan menggunakan
istilah-istilah yang sesuai dengan konteks (Bevans, 2002, 2-15). Dalam ranah
teologi, ada dua hal yang yang penting dipertimbangkan pada teologi kontekstual,
yaitu 1) teologi kontekstual yang memperhitungkan pengalaman di masa lampau,
yang terekam dalam Injil dan dipertahankan sehingga membentuk tradisi;
selanjutnya 2) teologi kontekstual memperhitungkan pengalaman masa kini
(konteks/keadaan kekinian) yang tidak terbatas pada pengalaman individu tetapi juga
komunal (Bevans, 2002, 2-15 [band. Elwood, 2006, 10-17]). Hal ini juga seperti
yang dikatakan C. S. Song, seorang presbiterian dari Taiwan bahwa teologi harus
dilaksanakan dalam konteksnya, sebagaimana teologi juga harus dilaksanakan dalam
konteks Asia. (dikutip dari: Adams, 2006, 92). Hal ini juga seperti yang dikatakan
Ary A. Roest Crollius bahwa inkulturasi adalah integrasi dari pengalaman
Kekristenan gereja lokal dalam budaya mereka, yang pengalaman tersebut tidak
hanya mengekspresikan kebudayaan, namun juga menjadi kekuatan menjiwai,
menyesuaikan dan berinovasi (1991, 731). Dari pengalaman tersebut, terbentuk
persekutuan komunitas budaya dan sekaligus memperkaya gereja yang universal.
Dengan demikian melalui inkulturasi, setiap kelompok; dari latar belakang budaya
tertentu; dalam identitas budaya masing-masing, dapat menghayati Kekristenan,
termasuk juga Batak. Selanjutnya, teori inkulturasi digunakan untuk menjelaskan
perpaduan agama dan budaya, yang ada pada Batak Kristen diaspora. Teori ini
15
menjelaskan bahwa perpaduan antara dan agama dapat terjadi; sehingga membentuk
kombinasi Batak Kristen.
1.7 Metode Penelitian
Penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan tipe
etnografi dan wawancara. Penulis menggunakan pendekatan tersebut karena lekat
dalam hal menggambarkan keadaan sebuah kelompok melalui perspektif kelompok
tersebut (Johnson, 2012, 48). Dalam mengambil data, penulis terlibat bersama jemaat
selama Oktober-Desember 2014. Selama periode tersebut, penulis ikut bersamasama jemaat, yang terdiri dari tiga gereja. Selama di tempat penelitian, penulis
memiliki field note. Field note adalah cara klasik yang dilakukan dalam
mengumpulkan data dalam etnografi (Hammersley & Atkinson, 1983, 145). Catatan
tersebut selanjutnya digunakan sebagai data penulis dalam mengumpulkan informasi
terkait pembahasan penelitian. Selanjutnya, dilakukan wawancara. Wawacara
dilakukan kepada pemuda dan pendeta, serta sintua dan jemaat di gereja. Dalam
wawancara, daftar pertanyaan desediakan agar wawancara terarah. Sekalipun
demikian, wawancara terbuka terhadap hal baru yang diutarakan narasumber. Selain
dengan etnografi dan wawancara, penelitian juga menggunakan sumber official.
Sumber official adalah proses pengumpulan data melalui sumber seperti surat,
16
majalah, risalah, warta jemaat, yang dikumpulkan dari pihak terkait. Tentu, data
tersebut terkait dengan pembahasan penelitian.
Dalam penelitian, disadari bahwa penulis adalah insider. Penulis adalah
bagian dari orang Batak dan juga bagian dari HKBP dan pemuda. Maka,
dimungkinkan ada relasi emosional, untuk itu, penulis mengantisipasi dengan
memberi batasan. Batasan itu adalah keberadaan penulis yang bukan bagian dari
HKBP Distrik XIX. Selain itu, penulis datang sebagai periset. Hal ini diasumsikan
dapat menjaga keobyektifitasan.
1.8 Sistematika Penulisan
Tesis terbagi dalam lima BAB. BAB I berisi latar belakang masalah,
pertanyaan penelitian, ruang lingkup dan signifikansi penelitian, dan tinjauan
pustaka, serta landasan teori, dan metode penelitian dalam pengambilan data.
Selanjutnya, BAB II tentang Bekasi dan HKBP Distrik XIX Bekasi. Bagian ini
memberi penjelasan tentang Bekasi dan tiga gereja tempat penelitian, yaitu: HKBP
Pejuang, HKBP Pondok Ungu Permai, dan HKBP Harapan Baru. Kemudian, BAB
III membahas pergulatan Kekristenan dan Kebatakan. Bagian ini membahas
pergulatan pemuda dalam tiga hal: bahasa, ritus, dan yang terakhir adalah adat dan
budaya. Lalu, BAB IV mengulas identitas pemuda Batak Kristen diaspora. Di sini
dibahas tentang negosiasi, kontestasi, dan proyeksi yang pemuda alami dalam
17
identitas. Sesudah itu, BAB V adalah kesimpulan dan saran. Bagian ini
menyimpulkan pembahasan secara menyeluruh terhadap ulasan identitas pemuda
Batak Kristen diaspora serta memberi saran.
18
Download