nternaslonal - UNPAR Institutional Repository

advertisement
nternaslonal
ob Sugeng Hadiwinata, Ph.D.
--
Kata Pengantar: Mohtar Mas'oed
M·'f·/S
P91itiK
B1sn1S
lnternasional
-Hsdtbu�t ' "'"'1
:
D ot 1
...
Ko.i"'i�ivs-
••••
••
.
........ ......... ...... .
• ••••
••••
•
r
P9litiK
B1sn1S
I nternasiona I
Bob Sugeng Hadiwinata, Ph.D.
Kata Pengantar:
Mohtar Mas'oed
382.. 1
HAD
f'
I 3'31S.2.
.Z3
Penerbit Kanisius
-
·
R /f!SIP
7 /S
·
•
Politik Bisnis Internasional
027838
© Kanisius 2002
PENERBIT KANISIUS (Anggota !KAP!)
Jl. Cempaka 9, Dercsan, Yogyakarta 5528l
Kotak Pos 1125/Yk, Yogyakaita 550l I
Telepon (0274) 588783, 565996; Fax (0274) 56334
9
Website: www.k anisius media. com
E-mail
:
[email protected]
Cetakan keTahun
K
5
4
3
l3
[2
tl
DAN
Cita-Cita
Paling tidak ada
geri ini ketika 111
mcrdekaan itu t
ratusan tahun n1c
tapi ken1akn1urar
sertaan clan kese
bangsa teijajah
krasi, clan ken1e1
berlangsung di a
n1encapai luj uan
bangsa, prinsip
. I
oly'ek cl
1net?}ocl
pe1_juat
ISBN 979-21-0097-0
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan earn
apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari Penerbit
Dicctak olch Pcrcctnkan Kanisi11s Yogynk;ir111
Nan1un, walaup
nal sangat 1nen
tin1bangkan •lrii
inad I--Iatta, \Val<
scndiri tidak b<
KATA PENGANTAR
KAPITAL GLOBAL
DAN PEMBANGUNAN NASIONAL
Cita-Cita
Paling tidak ada tiga ideal yang rnendasari pemikiran para Bapak Pendiri ne­
gcri ini ketika mercka mempe1juangkan kemerdekaan. M ereka ingin agar ke­
merdekaan itu bisa menda!angkan kcmakmuran kepada rakya! yang sudah
ratusan tahun 111endcrita kekurangan akibat tata kehidupan yang n1cnindas. Te­
!api kemakmuran ilu rnesti diusahakan dcngan cara yang bisa melibatkan keikut­
serlaan dan kescpakatan seluruh rakya! scrla tidak membuat mcreka menjadi
bangsa te1jajah kcmbali. Tiga nilai ilu, yai!u kernakrnuran ckonomi, derno­
krasi, dan kemerdekaan nasional; berulang-ulang rnuncul dalarn wacana yang
berlangsung di an!ara para pernimpin yang melahirkan I ndonesia. Ketika untuk
mencapai tujuan ilu kita harus rnelibatkan diri dalarnjaringan hubungan antar­
bangsa, prinsip yang d ianjurkan sangat jclas:
. jJendirian yang harus kita lnnbi/ ialah supaya kita jangan n1e1?jadi
o/y'ek dalcun perlarungan politik internasional, 1nelainkan kita harus tetap
rne1?/adi s1il?/ek yanr; berhak 111enent11kan siluqJ kita sendiri, herhak r11ern­
pe1:juangkan !1-(}uan kNa sendiri. "(Hatta, 1988: 13).
1
dengan cara
Jit
Narnun, walaupun tcma "ideal-politik", sepcrti kcmerdekaan dan otonomi nasio­
nal sangat rnenonjol dalam wacana itu, kesadaran akan keharusan memper­
limbangkan "riil-politik" juga tarnpak jclas. Seperti disarnpaikan oleh Moham­
mad Ha!ta, waktu ilu sebagai kepala pemcrinlahan, be1juang alas kesanggupan
sendiri tidak bcrarli:
5
6
Politik Bisnis lnlcrnasional
"tidok akan 1nengo1nb;/ keuntungan daripada pe1�r,;olakon politik inter­
nasiona! .... (T)iap-tiop politik untuk 1nencapai kedudukan negaro yang kual
ialuh 1r1e!l'IJJCtg11nakon /)(!rfcntungan internasional yung oda untuk 1nencapoi
fl(iuun nasional sencliri .
(P)e1juango11 hangsa .
hendaknya didasarkan
/HU.lo realitus .... (l))o/itik internasional ticlak hisa dihadupi dengan senti1nen
helako, telapi dengan reulitas clan dengun !ogika yang rosional .
"
1988:13
(I-Iatta,
14).
Selanjutnya, agar n1an1pu n1cnahan guncangan akibat dinan1ika clalatn arena
politik dunia, bahtera Repuhlik Indonesia itu harus rnerniliki "ballast" yang
kuat berwujuc\ soliclaritas nasiona! clan vva,vasan kebangsaan yang utuh clan
teguh.
Sen1angat itu!ah yang, paling tidak clalarn rctorika para pcn1itnpin kita,
scjak latna n1engilhan1i clan 1ncnuntun perilaku para pen1 in1pin kita. Na1nun,
siapa pun pasti n1cnyadari bahvva yang dihadapi Indonesia bukan ruang kosong
yang bisa kita bcntuk sesuai dengan keinginan kita. f)i "luar sana" sudah ada
arena yang terbentuk jauh scbclum Rcpublik ini lahir. Dalarn arena itu sudah
terdapat berbagai pen1ain dengan beragan1 kepcntingan. Aturan rnain yang di­
pakai dalan1 arena itu sudah tcrbentuk n1clalui pergulatan di antara para pcrnain.
Dcngan kata lain, pcrilaku ekstcrnal Indonesia dihadapkan pada kendala berupa
tatanan atau tertib hubungan yang sering kali lebih rnarnpu membentuk perilaku
kita daripada scbaliknya.
lJraian pendck ini bernu1ksud n1en1pcrbincangkan pengalatnan Indonesia
dala1n n1cnangani pcrsoalan seperti itu scjak I 970-an. Fokusnya adalah pada
konteks global yang dihadapi olch para pcmimpin Indonesia kctika rnemper­
j uangkan agenda keija nasionalnya. Karena itu, sesudah n1en1bahas agenda itu
secara ringkas, analisis akan dipusatkan pada upaya 111cnjavvab pcrtanyaan-pcr­
tanyaan pokok berikut: l3again1ana bentuk clan siHlt tatanan hubungan global
yang dihadapi pcn1crintah I ndonesia? f(ese1npatan apa yang diberikannya, dan
gangguan apa yang diakibatkannya, pada upaya pencapaian cita-cita kcbangsaan
Indonesia? Akornodasi apa yang clilakukan olch pernerintah itu'1 Apa akibatnya
pada otonotni nasional'! Ac!akah kcn1ungkinan lain?
Sccara konseptua!, pen1erintah I ndonesia bisa digan1barkan scbagai aktor
yang harus rncnghadapi dua lingkungan kebijakan, don1cstik dan intcrnasional,
yang di dala1nnya tcrdapat pclbagai aktor dengan bcrbagai kepentingan, tcr­
utarna politik clan ekonorni. Bcrclasarkan perspekti fini, perilaku eksternal perne­
rintah dianggap 111enccrn1inkan pcrgulatannya dalan1 tnenangani tuntutan clan
dcsakan yang ntuncul dari kcdua lingkungan tcrscbut. Pcn1erintah nic1nang
punya kepentingan yang didefinisikannya scndiri clan selalu bcrusaha 111cngcjar
Kutn Pengantar
-----·-----
kcpcntingan itu, na
kendala dan c\esak,1
da\an1 n1asyarakatn
internasional.
Baik scbagai p
dejure otono1n 1n2
hadap tun tu tan lint
rintah tidak hany2
lcbih banyak dite1
prinsip ideologis]
seperti vvavvasan k
gcri suatu ncgara,
bangan kcpcnting
pclcstarian sistcn1
ngelolanya. [)a\ar
clipcrhatikan aclal2
tahan di dunia sc
negcri n1asing-n1:.:
Pcnga!an1an
kchcndak untuk
n1cndorong banyc:
jaringan ckonorni
bcrbagai praktek
global yang kapit:
kehidupan rnasyc1
pada upaya pen[
yang kedua, yaitt
yang kuat. [)ari s
scbagai scjarah r
clan n1andiri, den
objektil' berupa I·
Bcrikut ini :
konseptual di ala
luar negeri Incle
Orde Baru, untc
internasional de
da\an1 ncgeri. [(
ekonomi-politik
oli1ik Bisnis lnlernasional
.7
J/a/((/11 politik inter­
kcpcntingan itu, nan1un dcn1i kclcstariannya scndiri ia ban.is 111c111pcrhitungkan
:an ncgara yang kuat
ken dala clan dcsakan yang datang dari kclon1pok-kc!on1pok kcpcntingan uta1na
Jalan1 n1asyarakatnya scndiri n1aupun kckuatan-kckuatan do111inan dala111 arena
internasiona!.
r3aik scbagai pcr\vujudan dari prakarsanya sendiri scbagai aktor yang scctli:a
c
ada 11nl11k 1nenca1)(1i
'JJdaknya didasarkan
1opi dengan sentilnen
rg rasional".
(J-Iatta,
c/ejure otonon1 111aupun scbagai tindakan yang niuncul scbagai tanggapan tcr­
badap tuntutan !ingkungan yang nlclingkupinya, politik luar ncgcri suatu pcn1e­
1n1ika dala111 arena
liki "ballasf' yang
:Hln yang utuh dan
rintah tidak hanya dituntun olch nilai-nilai nonnatif tctapi juga, atau justru
Icbih banyak ditcntukan, olch kcpcntingan matcriiL Nilai-nilai dan prinsip­
prinsip idcologis yang diyakini scbagai bcnar olch para pcjabat pcmcrintahan,
seperti \Va\vasan kcbangsaan, n1cn1ang n1cn1pcngaruhi tindakan politik luar nc­
1ra pc111in1pin kita,
11pin kita. Nan1un,
ukan ruang kosong
;lr sana'' sudah ada
ln1 arena itu sudah
Jran n1ain yang di1ntara para pcn1ain.
Jda kcndala bcrupa
ernbcntuk pcrilaku
gcri suatu negara, nan1un yang pcngaruhnya jauh lcbih cfCktif adalah pcrtin1bangan kcpcntingan, tcruta111a kcpcntingan 1natcriil yang bcrkaitan dcngan
pelcstarian siste111 yang dikelola para pejabat itu niaupun posisi kekuasaan pc­
ngclolanya. [)alan1 kaitan dcngan kcpcntingan hu, yang sangat rclcvan untuk
gala111an Indonesia
usnya adalah pada
ia kctika 111e111per­
rnbahas agenda itu
ab pcrtanyaan-pcr1 hubungan global
diberikannya, dan
ita-cita kebangsaan
itu? Apa akibatnya
jaringan ckonon1i-politik global. I<etika integrasi itu niensyaratkan pcnycsuaian
rkan sebagai aktor
. dan intcrnasional,
i kcpcntingan, tcr­
ku ekstcrnal pcme1gani tuntutan dan
n1erintah 111cn1ang
berusaha 111cngcjar
dipcrhatikan adalah adanya kcharusan struktural pada han1pir scn1ua pc1ncrin­
tahan di dunia sckarang untuk n1cnjan1in proses akun1ulasi kapital di dalan1
negcn 1nas1ng-111as1ng.
Pcngalan1a11 bcrbagai ncgara, tcrn1asuk Indonesia, n1cnunjukkan bctapa
kchcndak untuk 111erangsang proses akun1ulasi kapital dala111 negeri telah
n1endorong banyak pc111crintah nasional untuk 111cngintcgrasikan diri kc dalan1
berbagai praktck dan pcrilaku nasional dcngan aturan 111ain ckonon1i-politik
global yang kapitalistik, te1:jadilah pcrbenturan antara dua cara pengorganisasian
kehidupan nlasyarakat n1odcrn. Yang pcrtan1a, yaitu kapitalisn1c, n1cnckankan
pada upaya pengorganisasian proses produksi pada skala dunia; scdangkan
yang kcdua, yaitu nasionalis111c, n1cngutan1akan pcn1bcntukan ncgara nasional
yang kuaL Dari sudut pandang ini, scjarah Republik Indonesia bisa ditaJSirkan
sebagai scjarah pcrgulatan antara proyck pcn1binaan ncgara-bangsa yang kuat
dan 111andiri, dengan tujuan nlcngejar cita-cita kebangsaan, dengan kcnyataan
objcktif bcrupa kckuatan struktural global yang kapilalistik.
l3criku1 ini akan diuraikan argun1cn pokok yang tersirat dalan1 kerangka
konscptual di atas. Pcrtan1a, hendak dibahas secara ringkas agenda kc1ja politik
luar negeri Indonesia scjak pcrtengahan 1 960-an, yaitu sejak pe111erintahan
Ordc 13aru, untuk n1enunjukkan upaya pcn1erintah n1cn1anfr1atkan hubungan
internasional den1i nlencari pcnyelcsaian atas persoalan politik dan ckonon1i
dala111 negcri. I<edua, akan diajukan analisis n1engcnai karaktcristik tantangan
ekonon1i-politik global yang dihadapi Indonesia scjak nlasa itu.
8
·-·----·-·-·-·-·-··-----.-·-·"
Polilik Bisnis lnti.;rnasiona!
Diplomasi Pcmbangunan
l'cr\ahir dalan1 kondisi penuh ketidakpastian clan harus n1enghadapi tantangan
politik 1naupun ekono1ni yang gavvat, para pen1in1pin ()rde Baru n1uncul dengan
agenda kctja pokok yang je!as, yaitu "state-building'', n1cn1bina kckuatan politik
dan adrninistratif yang efektif untuk menghadapi penan!angnya di clalam rnau­
pun di luar ncgeri, yaitu para pendukung ()rde L,an1a. Ini tentu saja bukan pc­
ke1jaan yang n1udah, 1ncngingat san1pai akhir 1960-an n1edan politik belutn
scpcnuhnya dikuasai, scdangkan penyclesaian secar::1 konfrontatif clan c\engan
kekerasan dianggap tidak bisa n1cnjanjikan kcbcrhasilan karcna 111asih besarnya
kekuatan pendukung ()rdc Lan1a tcrutan1a di Javva. Sen1cnlara kc1nan1puan
untuk persuasi sangat terbatas. l)alan1 pcrpolitikan norn1al, kcn1an1puan pcr­
suasif bisa clirniliki bila pemerintah memiliki sumber claya yang cukup besar.
Upaya "statc-building" juga 1ncrncrlukan basis ckonon1i yang kuat. Padahal
tantangan dalan1 bidang ckonon1i juga tidak kurang gawalnya. Ekonon1i pro­
duksi tnengala111i kc111erosotan akibat kc!angkaan invcstasi baru, inflasi tidak
tcrkendali, sedang hubungan ekono111i luar negeri diwarnai oleh hutang luar
negeri yang untuk ukuran waktu itu sangat besar, clan defisit neraca pen1bayaran
yang gavvat. Para pen1in1pin baru itu juga rnc111anc\ang pcrsoalan ckonorni itu
hanya bisa diatasi kalau ada kesen1patan untuk n1elakukan n1obilisasi sun1bcr
daya baru.
Karena itu, sangat logis kalau politik luar negcri 111enjadi kon1ponen stra­
tegis bagi upaya ''state building" itu. Yaitu scbagai pcnjarnin nlobi!isasi clukung­
an politik dari aktor-aklor utan1a clalan1 arena intcrnasional dan bantuan surnbcr
daya ekono111i bagi stabilisasi, rehabilitasi dan pcn1bangunan ckonon1i Indone­
sia. Agenda politik !uar negeri itu juga sangat jelas, yaitu 111engintegrasikan
kcrnbali Indonesia kc dalan1 sistcn1 politik clan ekonon1i internasional.
Misi diplo111asi itu kcinudian n1en1ang bukan hanya berhasil rnen1asukkan
ken1bali Indonesia n1cnjadi anggota kon1unilas internasional tetapi juga n1crn­
bantu penyclesaian 111asalah ekonon1i clan politik dalan1 negeri. "l)iplon1asi
pcn1bangunan" itu berhasi! 111en1bantu 111cnyelesaikan 111asalah kelangkaan eko­
norni, tcrutanu1 n1clalui pen1cnuhan kcbutuhan barang konsu111si clasar bagi
rakyat scrta barang kapital untuk investor, clan secara tidak langsung n1en1per­
mudah pcnyelesaian masalah politik. Kcbcrhasilan rncnyccliakan kcbutuhan
QJaterii! rakyat itu n1en1buat kredibilitas para pc1ni1npin baru 1ncningkat dcngan
cepat clan dukungan rakyat sen1akin bcsar, sedangkan kekuatan para pcnantang­
nya semakin merosot. Kornpclisi politik Orde Lama dan Ordc Baru itu climc­
nangkan o!ch yang kec\ua c\engan cara 111e111beli dukungan rakyal n1cla!ui
pen1bcrian kcpuasan rnatcriil. J)cn1ikianlah, politik luar negeri berfungsi sebagai
Kata Pi.:ngantar
-----------
sarana untuk n1en1c
takan legitin1asi ba
1'radisi 1nen1ar
lesaian persoalan p
rintahan pasca-()rC
aclalah n1enangani I
an clalan1 negeri.
Dari Geopolitik I
Pacla n1asa avval ()
nlasih cliwarnai ol
pcrtin1bangan geo·
piun antikon1unis1
gara industri n1aj1
kctja san1a bilate1
lcn1baga-lcn1baga
lMF clan Ban k Di
su111ber claya asin
nal. Walaupun lnc
an hubungan khu
dukungan negara
sirnbol krcdibilitl
jan1inan dari akto
tor clan pelaku ck
ncsia.
Nan1un, sej'!
bual posisi lnclo
ubah. Tahun 1 9'.
yang n1cn1aksa r
arnanannya sen(
an, AS dan ban�
sangat panjang <
kebijakan pcme
Warna gcopolit:
Nega'ra-ncgara r
n1ultilatcral yan
kanisn1c atokas
,9
11i1ik Bisnis J111ernasio11al
1ghadapi tantangan
:lru 111unc ul dengan
na kekuatan politik
nya di dalan1 n1au­
ntu saja bukan pe­
dan politik bclum
)111atif dan dcngan
na n1asih bcsarnya
ntara kcn1a1npuan
kcn1an1puan pe-r1ang cukup besar.
yang kuat. Padahal
ya. Ekonomi pro­
baru, inflasi tidak
olch hutang luar
eraca pe111bayaran
Htlan ekonon1i itu
nobilisasi sun1ber
Ii komponcn stra1obilisasi dukung11 bantuan sun1ber
ckonomi lndonc11cngintcgrasi kan
rnasional.
asil n1cn1asukkan
tctapi juga n1cn1geri. "Diplon1asi
kelangkaan eko­
a11nsi dasar bagi
ngsung n1cn1pcr­
iakan kebutuhan
tcningkat dengan
1 para penantang­
c Baru itu dime­
' rakyat melalui
>crfungsi sebagai
sarana untuk n1cn1enangkan kon1pctisi politik dalan1 negcri clan untuk ri1encip­
takan lcgitin1asi bagi para pen1in1pin.
'I'radisi 111en1an faatkan politik Juar negeri sebagai bagian dari upaya penye­
Iesaian persoalan politik dan ckono111i dalan1 ncgeri tcrus berlanjut pada pen1e­
rintahan pasca-()rde 13aru. Agenda setiap presidcn baru, tennasuk Megavvatl ,
adalah n1enangani politik luar negcri secara langsung, den1i 111enangani persoal­
an dalan1 ncgeri.
J)ari Geopolitik ke "Geo-I<:konomik"'?
Pada 111asa avval ()rdc l3aru, Indonesia n1cnghadapi kontcks internasional yang
1nasih divvarnai oleh perang dingin dengan aturan n1ain yang didasarkan pada
pertin1bangan geopolitik. Para pc1nin1pin Orde I3aru yang 111uncul scbagai kan1piun antikomunismc mcmpcrolch banyak simpati dari Blok Barnt. Negara-nc­
gara industri 1naju itu 111cn1beri kcscn1patan bagi Indonesia untuk n1en1buka
ke1�ja san1a bilateral dan 111cnjadi sponsor bagi n1asuknya Indonesia kc dalan1
lcn1baga-Jc1nbaga internasional, ter111asuk lcn1baga bantuan n1ultilatcral seperti
IMF dan Bank Dunia. Kcmudahan ini mcmungkinkan Indonesia memobilisasi
sun1ber daya asing n1elalui bantuan, investasi niaupun pcrdagangan internasio­
nal. Walaupun lndonesia mcmpcrolch "rezcki nomplok" pada pertengahan 1970an hubungan khusus dengan aktor-aktor don1inan itu tetap dipcrlukan, karena
dukungan negara-negara industri niaju dan lcn1baga n1ultilatcral itu n1crupakan
simbol kredibilitas Indonesia di kalangan komunitas bisnis internasional. Tanpa
jaminan dari aktor-aktor utama dalam ekonomi-politik global itu, banyak inves­
tor dan pelaku ckonomi lain tidak akan bcrscdia melakukan bisnis dcngan lndo­
ncsia.
Namun, scjak pertcngahan 1 9 70-an tcrjadi paling tidak dua ha! yang mem­
buat posisi I ndonesia dalam kalkulasi gcopolitik negara-ncgara besar itu bcr­
ubah. Tahun 1 975 Amcrika Serikat (AS) keluar dari Vietnam. Doktrin Nixon
yang 111cn1aksa negara-negara Asia T'cnggara nonko1nunis untuk n1engurus ke­
an1anannya scndiri scn1akin ditekankan. San1pai pcrtcngahan dasawarsa 1980an, AS dan banyak ncgara industri niaju lain n1cngalan1i rescsi ekono1ni yang
sangat panjang dan 1nenyakitka11. [)ua kcjadian ini terccrn1in dala1n pcrubahan
kcbijakan pcn1crintah negara-ncgara industri n1aj u dalan1 111cn1bcri bantuan.
Warna gcopolitik scn1akin n1engabur, warna "geo-ckonon1ik" sen1akin tegas.
N cgata-negara n1::� ju itu, baik sccara bilateral n1aupun n1clalui lcn1baga-len1baga
n1ultilatcral yang didon1inasinya, scn1akin n1cnegaskan pcran pasar scbagai n1e­
kanisn1c alokasi sun1ber daya ckono1ni dcngan aturan n1ain liberal. Salah satu
10
Politik Hisnis lnti:rnnsional
contoh adalah kegairahan AS dan anggota "(i-roup of Seven)) untuk 1nelakukan
reforn1asi rczin1 pcrclagangan internasiona\ yang bisa n1cnguntungkan n1ereka.
San1pai tahun 1 970-an, kcpcntingan nasional J\S tcrutan1a didasarkan pada
pcrtitnbangan gcopolitik sebagai "hegcn1on". l(epcntingan itu bisa c\icapai clc­
ngan n1en1bantu banyak negara-ncgara nonkotnunis untuk n1cn1bangun ekonon1i
n1ereka clan n1en1buka pasar AS yang kaya bagi ckspor rncrcka. lnilah c\asar
inisiatifpemerintahan Prcsiden Kennedy untuk mcmulai "The Kennedy Round"
( 1 962 -- 1 967) dalam GATT. Ketika hegcmoninya mulai mcrosot, yaitu pada
111asa antara 1 970-an clan avval l 980-an, negara adiclaya yang n1ulai rnclc1nah
itu n1cno!ak tanggung ja\vab 111cn1in1pin proses libenliisasi pcrdagangan inter­
nasional. Waktu itu AS justru menjadi pendorong merkantilisme. Baru ketika
negara itu cukup yakin tentang keunggulan kornpctitifnya yang snngat bcsar di
bidang teknologi, jasa-berdasar-tcknologi clan pertanian, petnerintahnya sctuju
untuk ken1bali n1e1nanfr1atkan 1nckanisn1e C.i1\'I"T' den1i n1engcjar kcpcntingannya
sendiri terutan1a c\cngan n1en1aksa anggota-anggota lain untuk 111cn1atuhi rczin1
perdagangan internasional yang dicanangkan dalan1 ""J'he Uruguay R.ound"
( 1 986
1 994). Kegairahan untuk mcnckankan fungsi mekanismc pasar clan
rncngistin1ewakan aktor da!a1n ekonon1i pasar dala1n hubungan ckonorni-politik:
internasional ini sc1nakin rnenjadi-jadi ketika lavvan utatnanya, yaitu Uni So­
viet dan sekutunya di Ero pa 1'in1ur, n1cnga!a1ni kchancuran politik clan ekonon1i
schingga tcrpaksa berganti haluan ideologi mcnjadi Russi clan CIS.
·
[(apital scbagai Panglima
Mcndasari kcbijakan liberal itu aclalah ideologi neokonservatif"yang cliclukung
clan cliscbarkan olch ncgara-ncgara inc\ustri 111aju dan lcn1baga-lc1nbaga n1ulti­
latcral yang clidominasi mcreka. Scjak 1 980-an, icleologi itu mcnclominasi kc­
bijakan ckonotni-tnakro bcrbagai negara di dunia ini dengan karakteristik se­
bagai berikut: [a] Anti-K.eyncsianis1nc, yaitu anti pcnggunaan APBN sebagai
mekanismc alokasi sumber daya, proses procluksi, clan distribusi; [bJ Pro-Mone­
tarisn1c, yaitu 1ncndorong pclonggaran kcndali tcrhadap 1nobilitas kapital swasta
rnclalui deregulasi 111onctcr; [c] Intcnsifikasi integrasi ckonoini nasional kc
dalan1 sistc1n kapitalis global, yaitu libcra\isasi pcrdagangan !uar ncgcri dan
inclustrialisasi beroricntasi ckspor; [cl] Menggalakkan aktor ckono111i S\Vasta.
'0;'.alaupun n1ungkin tidak dirancang, ko1nponen tcrakhir itu tclah incnggalakkan
kong!otncrasi usaha dcngan konsentrasi clan divcrsifikasi tingkat
tinggi. flank
I)unia clan IMF, di san1ping aktor-aktor ekonorni don1inan lainnya, berusaha
kcras agar kcbijakan itu dipatuhi olch tncrcka yang n1enggunakan dana yang
rncreka kclola.
Katn Pcngantar
-------
Kornponen pali
mobilitasnya yang t
laku kapital ini. De
ncgara san1pai akhi
n1asuk 111aupun kc\
pcrubahan yang n1e
ticlak efcktiC Dua p
nya pcn1bcsaran pc.1
globalisasi proses r
pasar finansial inh
sangat cepat. l'ing
pcrbankan intcrna�
n1cningkat sebcsa1
tahun. I<.c111ajuan t1
Pcrtukaran tnata u
biliun per hari, pc
clan pacla akhir l S
1 993: 57 - 58). s
ncgara industri n1s
bcrwujud invcst:u
$444 biliun, clcng
suclut proporsinyc
keluar itu rnenin�
akhir 1 980-an. Pi1
1 973 hanya $200
1 989 meningkat 1
(Winters, l 994: J
juga sen1aki11 1nc
1 9 70-an hanya l
angka 1 . 000. Pct
itu, globalisasi t1
scjak pcrtcngah<:
Pauly, 1993: 56
Dalam pcrs
sangat n1crepotk
clarkan diri dari
scnjata yang san
siona!, pcrusalu1
11
nli!i� !3isnis !n1l'rnasional
" untu k mcla kuka n
untungkan n1ercka.
na didasarkan pada
itu bisa dieap ai de­
�n1bangun ckonon1i
crcka. I n ilah dasar
c Kennedy Round"
1erosot, yaitu pada
1g 111ula i n1clcn1ah
Jcrdagangan inter­
lismc . Baru kctik a
ing sang at bcsar di
ncrin tahn ya sctuju
ar kcpentingannya
k 111cn1 atuhi rezin1
Uruguay R_oun d"
anisn 1c pasar dan
n ckonomi- polit ik
ya, yaitu Uni So­
>litik dan ckon omi
111 CJS.
'if yang didukung
;a-len1baga n1ulti111cndon1inasi kc­
' karakteristik sc111 APBN scbagai
si; [b] Pro-Mone­
tas kapital s\vasta
10111i nasional kc
1 luar ncgcri dan
ckonon1i S\vasta.
lh n1enggalakkan
;kat tinggi. Bank
:iinnya, berusaha
1akan dana yang
J(o111poncn paling dinan1is dalan1 ru111us itu adalah kapital finansial: !<.arena
1110bilitasnya yang tinggi, scjak Jania banyak ncgara bcrusaha 1ncn1batasi pcri­
Jak u kapital ini. l)c111i n1cn1pertahankan otonon1i ckonon1inya, scbagian bcsar
negara san1pai akhir 1 970-an berusaha n1cngcndalikan volun1c likuiditas yang_
111asuk n1aupun keluar \1.,rilayah yurisdiksi hukun1nya. 'rctapi sejak itu, banydk
perubahan yang 111cn1buat kebijakan pengcndalian lalu li ntas kapital itu 111enjadi
tidak el'cktif. [)ua perubahan yang n1enonjol adalah: pcrtan1a) sen1akin agrcsif­
nya pen1bcsaran pasar finansial intcrnasional; dan kedua, sen1akin intensi fnya
globalisasi proses produksi. Menurut suatu sumbcr, dalam periodc 1 972 1 985
pasar finansial intcrnasional 1ncngala111i transforn1asi dan pcrtun1buhan yang
sanga1 cepat. 'T'ingkat pcr1un1buhan rata-rata (con11Jo11ru.l gro111th rate) pasar
pcrbankan intcrnas ional adalah 2 I ,4'Yo per tahun, pada ha! GDP dunia hanya
n1eningkat sebcsar 1 0,9cYri per tahun clan pcrdagangan dunia hanya 1 2,71Yo per
tahun. J(c111ajuan teknologi tel ah 111cn1perccpat transfer dana l intas-batas ncgara.
Pertukaran 111ata uang di pasar dcvisa yang pada tahun 1973 hanya scbcsar $3
biliun per hari, pada akhir 1 970-an meningkat menjadi $I 00 biliun per hari
dan pada akhir 1 980-an mencapai $650 b i liun per hari.(Goodman dan Pauly,
1 993: 57 58). Sumber lain mcnunjukkan bahwa arus kapital kcluar dari 1 3
ncgara i ndustri maju: pada akhir 1 970-an scbesar $52 biliun, dcngan dua-pertiga
bcrwujud investasi asing langsung; sedang pada akhir 1 980-an meningkat jadi
$444 biliun, dengan dua-pertiga berwujud invcstasi portofolio. Dipandang dari
sudut propors inya terhadap perdagangan barang di seluruh dunia, arus kapital
keluar itu meningkat dari sebcsar 7% pada akhir 1 970-an menjadi 1 5% pada
akhir 1 9 80-an. P injaman bank intcrnasional dan surat bcrharga yang pada tahun
1 973 hanya $200 biliun ( 5% G N P kcscluruhan negara industri), pada tahun
1989 meningkat mcnjadi $3,6 triliun ( 25% GN P kescluruhan ncgara industri).
(Winters, 1 994: 45 1 ). Scmcntara itu, dalam sektor produks i, konfigurasi bisnis
juga scn1akin n1cn1buana. Perusahaan yang bcropcrasi n1ultinasional pada awal
1970-an hanya beberapa ratusan; pada tahun 1990 jumlah itu jauh melcbihi
angka 1 .000. Pendatang baru itu banyak yang berasal dari luar AS. Sementara
itu, globalisasi tcrus bcrlangsung dalan1 scktor investasi asing langsung, yang
sejak pertengahan 1 9 80-an meningkat dengan 29'1.i per tahun (Goodman dan
Pauly, 1 993: 56 - 57).
Dalam pcrspckti f pemerintah nasional, pcr i laku kekuatan kapital itu bisa
sangat mercpotkan. Pertama, para pemilik kapital punya kcmampuan menghin­
darkan diri dari kcndali pemerintah nasional. Kedua, mereka juga merniliki
scnjata yang sangat an1puh, yaitu "exit". I)cngan struktur opcrasi yang 111ultina­
sional, pcrusahaan-pcrusahaan itu bisa dengan n1udah 111cnghindar dari kcndali
·�·
····
=
=
12
Politik Bisnis lntcrnasional
pen1crintah nasional 111elalui 111ckanisn1e "transfer pricing" yang diterapkan
dalan1 hubungan antar bcrbagai cabang clari perusahaan yang san1a, yang bcr­
operasi di berbagai negara. L)ala111 proses itu, perusahaan bisa n1engatur transaksi
antarbagian perusahaan yang tcrscbar di berbagai negara itu seden1ikian rupa
(111isalnya clengan n1erubah harga transfer atau waktu pen1bayaran ke atau dari
cabangnya di luar negeri) sehingga laporan keuntungannya hanya n1uncul dalan1
pen1bukuan di cabang perusahaan yang ncgara tuan run1ahnya n1enctapkan tarif
p::�ak paling ringan atau tidak 1ncngcnakan pajak satna seka!i. l(arena sebagian
besar transaksi internasional berlangsung dalan1 perusahaan-perusahaan yang
dike!ola secara terpusat, baik da!an1 bcntuk pcnjualan antarcabang atau antara
induk dengan cabang, harga penjualan itu tidak ditentukan berdasar kckuatan
pasar. f-Iarga itu ditctapkan secarn aclministratil; scpcrti halnya BULOG mcnc­
tapkan harga bcras. Selain itu, sc111akin n1eluasnya pasar kapital bisa n1en1bcri
kcse1npatan perusahaan untuk n1enggunakan cabang-cabang perusahaannya di
luar negeri untuk 1nen1peroleh atau 111en1injan1kan clana di pasar n1odal luar
ncgcri. Kalau dua earn rncnghindarkan diri dari kcnclali pcmcrintah itu clianggap
tidak cfckti{: perusahaan-perusahaan tnultinasional itu 1nasih rne1niliki senjata
pan1ungkas, yaitu n1e1nindahkan usahanya ke luar negeri. "Exit" clala1n \Vujud
"capital f-1ighC' aclalah senjata an1puh untuk 1nenghadapi pc111crintah nasional
yang rcwcl (Goodman dan Pauly, 1993: 47; Winters, 1994: 450 - 45 1 )
Yang n1cnarik, tidak ada otoritas ketHtHg,1n nasiona! yang sepcnuhnya bisa
111engenclalikan perilaku kapital ini. Sen1ua negara nasiona! tanpa kecuali n1cng­
alatni ken1erosotan otonon1i nasional n1enyangkut pcngenclalian kapital. Karena
itu, satu-per-satu berbagai pen1erintah nasional di berbagai bagian dunia n1en1batalkan kcbijakan pcngendalian kapital.
Yang juga n1cnarik, pengaruh kapita! yang bcgitu don1inan telah n1enin1bulkan fenorncna ckonomi-politik baru dalam "state-building". Selarna ini ba­
nyak yang pcrcaya bah\va untuk 111en1bcntuk negara yang kuat pcrlu landasan
ekonon1i yang kuat, tcrutatna dalan1 bentuk industri nianufi1ktur di dalan1 batas
wilayah negara yang bcrsangkutan. f)cngan g!obalisasi kapital itu, argun1cn yang
"territorially-based" sepcrti itu kchilangan krcdibilitas. Manufoktur dcwasa ini
bukan jenis industri yang paling pcnting. Yang lcbih pcnting adalah usaha yang
"padat-infl.1rn1asi," baik yang terkait dcngan nianufr1ktur atau tidak. Juga, apakah
lokasi pabrik di dalarn wilayah yurisdiksi ncgara scndiri juga ticlak tcrlalu pcn­
tii1g. Yang lcbih pcnting adalah lokasi orang yang membuat kcputusan kunci
tentang apa yang akan diproduksi, di tnana clan bagain1ana; scrta orang yang
rnerancang, n1engarahkan dan n1cngelola sehingga basil produksinya sukscs tcr­
jual di pasar dunia. Kckuasaan yang tidak punya basis teritorial sen1acan1 ini
scn1akin penting clalan1 ekonotni-politik schari-hari.
Kata Peng nntar
----
J(arcna itu, wal
n1anufr1ktur, n1isalr
n1anufaktur dunia at
tcrscbut belum tcnl
clikendalikan olch
·
demikian, yang leb
pri1ner, barang n1an
perusahaan yang b(
lokasi para pcngeni
itu.
[)alatn kaitan i
nannya kegiatan in
development) yang
ciptanya dipegang
an ticlak dimiliki s
AS, asalkan prose�
\VargaAS, 1naka nc
discbut "non-tcrrit
Walaupun mt
itulah konteks elm
[3agi negara yang
kapitalisn1e dunia
Indonesia sejak pt
bahwa konteks it
Proses akon1odasi
tidak n1au n1en1bt
.
Perspektif Ekon
I3again1ana 1ncn1.
pembuatan kcput1
Indonesia 111cnan:
Untuk mcnjawab
bisa cliperolch Ill(
ctnpirik yang te\2
nal.
Buku yang s'
han1an itu. lni ad
L
Poli tik Bisn is lntc rnas
iona l
·---·-
---··-
--
·g" yang d itcrapkan
:ing sa111a, yang bcr­
:1 n1cngatur transa
ksi
itu scd cn1 ikia n rupa
>ayaran kc atau dari
ianya n1uncul dalan1
ya n1cnctapkan lard'
Ii. l(arcna sebagian
n-perusahaan yang
cabang atau antara
berdasar kekuatan
ya BU LOG mene­
Jital bisa membcri
pcrusahaannya di
pasar 111odal luar
·intah itu d ian ggap
t n1en1iliki senja
ta
xit " dala1n \Vujud
11erintah nasio nal
150 -45 1).
sepenuhnya bisa
pa kccua li mcngn kapital. Kare na
gian du nia n1en1-
an tclah 111e nin 1'. Sela1 na ini ba­
t pcrlu landasan
r di da lam batas
.1, argumen ya ng
1ktur devvasa ini
1lah usaha ya ng
1k. Jug a, apakah
fak tcrlalu pen­
eputusan ku nci
rta orang yan g
inya sukses tcril sc111acan1 ini
: _n_a
1 _1 -------­
j(al<l Pc11g'-• n
-
1. 3
I< arena itu, \valaupun suatu negara 111encatat prestasi bagus dala111 kcgiatan
misalnya d itunjukkan olch pangsanya dalam produksi barang
ufaktur,
man
111an ufriktur dunia a tau oleh pangsanya dalan1 ckspor barang n1anufr1ktur, ncgara
tersebut bclun1 tcntu 111cnik1nati hasilnya. l(arcna n1ungkin saja kegiatan itu ..
dikcndalikan olch kckuatan kapital yang bcrdomisili di negcri lain. Dengan
dcmikian , yang lcbih pcnting adalah pangsa output (apakah itu barang produk
pri111cr, barang 111anufaktur maupun jasa) yang dikendal ikan oleh para eksekutif
perusahaan yang berasal dari negara tersebut. Sckali lagi, yang pcnting adalah
lokasi para pcngcndali proses pcnciplaan output, bukan lokasi proses produksi
i tu.
Dalam kailan ini, AS mcnduduki posisi dominan. Mengingat rnasih domi­
nannya kcgiatan inovatif di ncgara itu, akibat dari kcgiatan H.&I) (reseach an(.!
lievelo1Jn1ent) yang bcsar, banyak proses produksi 1nen1akai teknologi yang hak
ciptanya dipcgang olch pcrusahaan atau \Varga AS. Walaupun suatu pcrusaha­
an tidak dirniliki scpcnuhnya olch AS, atau bahkan sama sckali bukan milik
AS, asalkan proses produksinya masih mcmerlukan liscnsi yang dikuasai olch
warga AS, niaka negara itu bisa ikut berpengaruh. Inilah yang olch Susan Strange
discbul "non-territorial structural power" ( 1 994: 435 - 436).
Walaupun 1nungkin disaj i kan dengan cara yang ter lalu dra1nalis, tetapi
itulah kontcks ckonomi-politik dunia yang dihadapi olch scmua ncgara di dunia.
I3agi ncgara yang sudah terlanjur n1engandalkan keterlibatan dalan1 jaringan
kapitalis1nc dunia sebagai cara nicnyclcsaikan pcrsoalan don1cstiknya, scpcrti
Indonesia scjak pcrtcngahan 1 960-an, tidak tcrlalu salah untuk mcnyimpulkan
bahwa kontcks itu lcbih banyak menjanj ikan kcndala daripada kcscmpatan.
Proses akomodasi yang dilakukan untuk mcnangani kcndala itulah yang mau
tidak mau mcmbuat perlimbangan "ideal-politik" d i atas mcnjadi problcmatik.
Perspektif Ekonomi-Politik Internasional
Bagaimana mcmahami konteks global itu? Apa dampaknya terhadap proses
pembuatan keputusan domestik? Bagaimana seharusnya pemerintah dan rakyat
Indonesia n1enanggapi, atau niengantisipasi, dan1pak dari fCno1nena global itu?
Untuk menjawab pertanyaan scperti ini kita memerlukan pcrkakas analitis yang
bisa diperoleh 111elalui penclahaan konseptualisa�i, teorisasi dan basil penelitian
empirik yang telah diakumulasi olch para ilmuwan ckonomi-politik intcrnasio­
nal.
Buku yang scdang Anda baca ini merupakan pcngantar bagus kc arah pe111a­
han1an itu. Jni adalah buku yang relatif langka di Indonesia. Sebuah buku teks
14
···-·-··--- ···---------
Politik Bisnis lntcrnnsiotml
yang n1engantarkan kita pada analisis bisnis, atau ekonon1i intcrnasional rada
un1u1nnya, n1clalui kerangka konseptual yang 1nencakup di1ncnsi ckonon1i, po­
litik, sosiologi, bahkan di sana-sini tan1pak nuansa fi!safr1t n1oral. Pcnulisnya
ada!ah scorang iln1uwan n1uda yang ccrdas, sangat serius, clan kritis tcrhac\ap
bidang profesinya. (Ia n1engajar lhnu I--Iubungan lnternasiona! di Universitas
Parahyangan, scsudah lulus dari Universitas (Jadjah Mada, Univcrsitas Monash,
dan Universitas (�'.an1bric\ge; sen1uanya clcngan pujian tinggi). Asun1sinya sangat
tepat, yaitu bahwa bisnis, atau transaksi ckonon1i pada un1u1nnya, ticlak tc1jadi
dalan1 ruang kosong. Isinya sangat rclcvan untuk n1en1ahan1i persoalan yang
dihadapi Indonesia seperti yang disebutkan di atas. Susunan kalin1atnya lugas
dan baku.
Sclan1at rncn1baca.
*
REFE RENSI
Goodman, John B. dan Louis W. Pauly ( l 993). "The Obsolescence of Capital
Controls? Economic Management in an Age of Global Markets", World
Politics, Vol. 46, No. l (Oktobcr).
l(ata Pcngantar
Pcndahuluan
l.
Poli tik Bisnis
Pcn1bagian I<
Kontcks Hist•
Kompetisi A1
Hatta, Mohammad ( 1988). lv/endayung Antara Dua Karnng (Jakarta: Bulan
Bin tang)
Strange, Susan ( l 99 l ). "The Future of the American Empire", dalam Richard
Little dan M ichael Smith (eds.), Perspectives on World Politics (Lon­
don: Routledge).
'
-··-�-
Winters, Jeffrey A. ( l 994). "Power and the Control of Capital", World Poli­
tics, Vol. 46, No. 3 (April).
"
2.
( l 996). Power in lv!otion (Ithaca, NY: Cornell University Press).
Dimcnsi Kcl
dalam Bisni·
(I 994). "Rethinking Structural Change in the International Political
Economy: States, Firms, and Diplomacy" dalam Richard Stubbs dan
Geoffrey R.D. Undcrhill (eels.). Political Economy and the Cha,1ging
Glohal Order (Toronto: M&S)
Politi!( Bisnh
Pcndekatan I
Pcnc lckalan �
Pcnclckatan l
3.
Politik Peret
Dari GATT
Protcksionis
Pcrdagangar
Hambatan-l
Ncgosiasi P1
Politik Bisnis lntcrnasional
i internas ional pada
mensi ekonomi, pot moral. Penulisnya
dan kritis terhadap
onal di Universitas
Jniversitas Monash
). Asumsinya sangat
Jmnya, tidak te1jadi
�mi persoalan yang
in kal imatnya lugas
'
DAFTARISI
Kata Pengantar
lescence of Capital
>al Markets", World
Pendahuluan ......
1.
. . . . . . .... .. . . ...
............... . ... ...... .... ...... .
..
... ..... ... .
.
.
.
... .... ....
...
.....
.
.
..
·e'', dalam Richard
2.
:mational Political
.ichard Stubbs dan
...... .... . .
3.
.
.
...
..
..
..
.............................................
..
..........................................
. . . . ... .. ... ......
..
Pendekatan Kekuasaan
.. .
Pendek atan Struktural . . . . . .. .. .... ... . . . .... . . . . . . ..... . . . ..
....
....................
....................
Pendekatan Berorientasi Keadila n ......... ........................................
..............
and the Changing
..
...
Dimensi Kekuasaan, Struktur, dan Etika
dalam Bisnis Internasional
.. .
...
.. ........ . .........................
.............. ...
..
...
....
.
. .... ......
. .. ... ....
...
.
.. . ... ... ..... ..... .
.. . ..... ....
...................
......
.
Politik Perdagangan lnternasional:
Dari CATT Menuju ke WTO .................................. .............................. .....................................
.
Proteksionisme...........................................................................................
Perdagangan Bebas......................................... .................... .
Hambatan-Hambatan Perdagangan .....................................
Ncgosiasi Perdagangan: Dari GATT Hingga WTO.....
.
1ersity Press).
25
26
29
33
36
..............................................
Politik Bisnis dalam Konteks lnternasional.................
sebagai Subkajian Hubungan lnternasional . .. . . .. . . .
Politik Bisnis
....................... ........................
Pcmba gian Ke1ja l nternasional.... ........... ........ ..... .....
Konteks H istoris dan Pol itis.. ........................................... . ... ... ...... ... .... .. ..... ... .
Kompetisi Antarpelaku Bisnis Kontemporer
11g (Jakarta: Bulan
>ital'', World Poli-
19
...........................................................................................
.
arid Politics (Lon-
5
.................................................................................................................................................................
.
42
44
49
52
56
58
·60
63
69
15
16
Politik Hisnis !ntcrnusional
-------··-·-··----·----
4.
Politik lnclustrialisasi: ISi, !OE, clan
Rezim Otoriter-Birokratis
9.
78
.
..
Kebijakan Industrial..
lndustrialisasi Substitusi lmpor ( I S ! )
lndustrialisasi Orientasi Ekspor ([OE).
lndustrialisasi clan Kernunculan
Rezirn Otoriter-Birokratis (OB)..
5.
80
83
86
90
Nuansa I<ultural, Sosial, dan Politis
dalam Dunia Kc\virausahaan
96
97
99
Mengidentifikasi Kaurn "Entrepreneur"
Max Weber: reran Etika Protestan
David McClel land: Dorongan untuk Berprestasi
Everett Hagen: Pcnurunan Derajat Sosial.
Tugas Utama Kaum "Entrepreneur": Mengoperasikan
Pcrusahaan secarn Lebih Kompctitif...
I 02
I 05
.
6.
I 06
lnvestasi Asing clan Pcrusahaan Multinasional ...................................... .............
Dinamika Struktur Pcrckonomian Global............................................................................
Pengcrtian Pcrusahaan Multinasional (PMN)
Eksplanasi Profit (Keuntungan) ..
Eksplanasi " Daur Hidup Prociuk"
Eksplanasi Teknologi.
7.
1 12
.
j'
1 13
Dinamika Sist•
Kebijakan dan
Pasar Mata Uar
Rezim-Rczim �
Kcbijakan Nila
Monetcr Ne!
10. Krisis Ekonon
Memahami Kri
I M F sebagai R
lrnplcrncntasi f
(Pcnyesuaia
I M F clan Krisi�
11. Politik Bisnis
Degraclasi Lin!
Konsep Pernbc
Kcpentingan e
Rczirn Lingku
1 17
I 18
121
1 24
Pro clan Kontra tcrhadap Aktivitas
Pcrusahaan Multinasional di Negara Berkcmbang
133
Dukungan clan Kritik terhadap Kehadiran PMN.
Pcrspektir Nco-Klasik
Pcrspcktif "Global Reach" (Jangkauan Global)...
Pcrspektit· Nco-lmper ialismc
Pcrspektil' Nco-Fundamcntalisrne .
PMN clan Negara Bcrkembang
1 34
1 36
1 37
1 39
1 4I
.
8.
D afLHr !si
1 42
Negara IJcrkcn1bang clan Sistc1n Pcmbagian
Kcrja Intcrnasional llaru .................................................................................................................... 1 48
Relokasi lndustri clan Sistcm Pcmbagian
1 49
Ketja lntcrnasional Baru
Darnpak Politik Sistem Pembagian
I<. eija Internasional I3aru ...................................................... .............................................................. . 1 57
.
.......................................................................................................................
Rcferensi.
Poli1ik Bisnis ln!crnasional
17
pnllnr lsi
-�----�--
78
80
83
86
90
96
97
99
1 02
1 05
1 06
112
1 13
1 17
1 18
121
1 24
1 33
1 34
1 36
1 37
1 39
141
1 42
1 48
1 49
1 57
9.
161
1 63
Dinamika Sistem Moneter lnternasional
Kebijakan dan Penetapan Nilai Tukar Mata Uang
Pasar Mata Uang Dunia, "Spot Rate" dan "Forward Rate".
Rczim-Rezim Moneter Dunia..
Kcbijakan Nilai Tukar dan Krisis
M oncier Negara Berkembang..
171
1 74
1 77
1 82
1 O. Krisis Ekonomi Asia dan Peran I MF .....
M cmahami Krisis Ekonomi Asia.
I M F sebagai Rezim Moneter lntcrnasional..
J mplemcntasi Kebijakan Structural Adjustment
(Penyesuaian Struktural)
1 84
1 93
I MF dan Krisis Asia...
201
.................................................................................................................... .
11. Politik Bisnis dan Isn Lingkungan Hidup...
Degradasi Lingkungan sebagai lsu Global
Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) ..
Kepentingan Bisnis dalam Program Konservasi Lingkungan
.....
Rezim Lingkungan lnternasional
Referensi
...
.
1 99
208
209
217
220
223
228
PENDAHULUAN
uku ini mcncoba untuk mcrcflcksikan tcma-tcma yang paling sering
muncul dalam kontcks bianis intcrnasional, yakni pcrsoalan di sekitar
bagai111ana para aktor bisnis intcrnasional berupaya "111engontro1" pasar;
bagaitnana n1cnetapkan harga yang tcpat; bagain1ana latar bclakang sosiokultural
kau111 wirausaha; bagain1ana n1c1nahan1i fenon1cna pcrtu111buhan dan krisi cko­
non1i scbagai suatu sckucnsi; bagain1ana kalangan bisnis n1en1perscpsi pcrsoalan
dcgraclasi lingkungan; di!.. Aktor, clalam kontcks ini, mcliputi ncgara, organisasi
dan bahkan individu. Aclakalanya mcrcka mcmpcngaruhi struktur-struktur yang
ada, tctapi ada pula masa di mana mcrcka dipcngaruhi olch struktur-struktur
tcrscbut. Tujuan utama pcnulisan buku ini adalah untuk mcngisi kckosongan
litcratur di dalam bisnis intcrnasional yang mcmbahas masalah kckuasaan, kcbi­
jakan, proses, aktor, dan struktur sebagai suatu kesatuan yang saling bcrintcraksi.
Dcngan dcmikian, buku ini mencoba mcmaparkan fcnomcna bisnis intcrnasional
dari pcrspcktif ekonomi-politik makro.
Untuk mcmudahkan pcmbaca, pcmbahasan akan difokuskan pada tema­
tcma yang masing-masing akan dibahas sccara mcndctail pada sctiap bab. Tcma­
tema terscbut adalah: (a) politik bisnis dalam kontcks intcrnasional; (b) dimensi
kckuasaan, struktur, dan ctika dalam bisnis i ntcrnasional; (c) politik pcrdagangan
intcrnasional; (d) politk industrialisasi; (c) nuansa kultural, sosial, clan politis
dalam dunia kcwirausahaan (entrepreneurship) yang menjelaskan kcmunculan
kau111 investor yang 111enjadi tulang punggung aktivitas bisnis internasional�
(f) invcstasi asing clan pcrusahaan multinasional; (g) pclbagai pcrspcktif yang
mcnclasari pelbagai argumcn pro clan kontra tcrhadap pcrusahaan multinasional;
19
20
Politik l�isnis lntcrnasinnn!
(h) posisi ncgara berkcinbang dalarn 1Vciv International [Jivision q/ Lahour
(sisten1 pcn1bagian ketja intcrnasional baru); (i) sisten1 111oneter intcrnasional;
(j) krisis monclcr di ncgara bcrkcrnbang dan pcran I MF; scrta (k) rnasalah
lingkungan hidup clan pcrburuhan. rfC1na-ten1a tcrscbut di atas diharapkan clapat
mewakili pclbagai isu yang rnuncul di dalam konteks politik bisnis internasional
dcwasa ini.
E�erclasarkan len1a-tcn1a tersebut, n1aka siste1natika buku ini dibagi 111cnjadi
bab-bab bcrikut ini. Bab I akan rncndiskusikan tenlang perkernbangan hsitoris
fei10111ena politik-bisnis dalam lingkup intcrnasional . Pembahasan diawali de­
ngan '"pcn1aparan posisi politik-bisnis scbagai salah stau subkaj ian disiplin 1-Iu­
bungan l ntcrnasional; clan diikuti c\cngan diskusi tentang sistcn1 pcn1bagian
kc1ja internasional klasik yang lebih 111enguntungkan ncgara-ncgara n1aju .
E3agian bcrikutnya 1ncn1bahas kontcks historis clan politis site111 perekonon1ian
dunia di 1nana para pclaku bisnis dipaksa untuk saling bcrsaing dala1n hal 1nen1buka akscs tcrhadap pasar, n1cnctapkan harga produk yang scsuai, clan tcrus­
n1enerus 1nclakukan inovasi teknologi.
[3ab l I 1ncncoba untuk n1cn1bahas tiga n1acan1 pcndekatan di dalatn upaya
untuk 1ne111ahan1i fenon1ena politik bisnis internasiona!. Perspckti f pertan1a
yang didefinisikan sebagai upaya suatu
n1enggunakan konsep kekuasaan
sebagai unit
pihak untuk mengontrol pikiran clan tindakan pihak-pihak lain
i
anaf sis untuk n1en1ahan1i dina1nika ckonon1i intcrnasiona! di n1ana pelbagai
pihak terlibat di clalam transaksi bisnis. Perspektil' kedua --- yang di inspirasi
menyatakan bahwa
oleh (walaupun ticlak iclentik clcngan) ajaran Marxis
upaya n1en1aharni fenon1ena politik-ckonon1i internasiona! clapat dilakukan
dengan 1nelihat pada "struktur" yang divvarnai olch kctin1pangan clan kcticlak­
adilan. Menurut perspektif ini, fenomena politik ekonomi intcrnasional penuh
dcngan upaya negara-ncgara pcrifcral untuk nicn1pc1juangkan struktur yang
lebih adil dan lcbih menjamin keselaraan. PerspektiCketiga mcmfokuskan pada
pcntingnya aspck etika moral di dalam bisnis. Bagi penganut pcrspektil. ini
adalah sudah waktunya bagi para pc!aku bisnis internasional untuk · J cbih nien1pertin1bangkan unsur ./Ctirness da!a1n upaya untuk rncndistribusikan kesejah­
teraan bcrsan1a.
E3ab [[[ n1c111bahas ten tang clinan1ika perdagangan intcrnasional. Pcrtanyaan
1nendasar dalan1 perdagangan intcrnasiona! ada!ah: Bagain1ana negara
Jtng
y
l' 1arus n1cnyikapi hubungan ckonon1i antarbangsa yang nlcngandung kctin1pang­
an? Kebijakan apa saja yang harus ditc1npuh suatu negara untuk tnen1pcroleh
kcuntungan 1naksin1al clari pcrdagangan intcrnasional? Para pnkar ckonon1i
intcrnasional pada un1u1nnya n1cnavvarkan dua altcrnatif: "protcksionisn1cl'
.
- ·
.
Pendahul'trnn
--·-�--
----
-
(yaitu n1en1batasi art
(yaitu mcrnbuka se
Ivlasalah pernberlak1
juga akan clibahas c
oleh sebuah rezim, r
terscbut scjak dari '
ke WTO (World 7h
Bab lV rnendisl
yang cli lakukan neg
dari negara-ncgara i
An1crika n1aupun A
can1 strategi industr
dari ncgara-negara 1
tusi lrnpor), yakni 1
dengan produksi da
an; clan (2) !OE (Inc
akurnulasi pcndapc:
l3ab ini juga n1cnc
strategi pen1bangur
juk pada pengalan1'
gara, bab ini n1enco
ken1unculan rezi1n·
Bab V rncrnlx
politis yang rncnda
incngilustrasikan If
kcwirausahaan det
disiplin, clan akurn
ngcnai po la hid up c
latar bclakang sosic
land kau1n entrc1u·
prcstasi) yang dire
lakukan inovasi-in
sosial-politis kem1
neur clatang clari le
cchan 1narlabat) a
n1asyarakat di sek
n1creka ken1udian
ikl irn kc\virausahc1
Politik l�isnis !nti.:nwsion aJ
J)ivi:,:ion qf' Labour
(yaitu n1en1batasi arus 1nasuk barang dari ncgara lain) atau "perdagangan bebas'"
)J1ctcr intcrnasiona!;
'; serla (k) masalah
as diharapkan dapat
(yaitu membuka scluas-luasnya pasar domcstik bagi produk-produk asing).
1\1asalah pcn1bcrlakuan pclbagai han1batan perdagangan (tarif 111aupun non1ari1)
juga akan dihahas dala1n bab ini. ](arena pcrdagangan internasional ''diatu1�� ·..
olch scbuah rczin1, 111aka bab ini juga akan 111cndiskusikan bcropcrasinya rczih1
tcrsebut scjak dari GATT (General Agreemenrs on foriffi· and 7h1de) hingga
bisnis intcrnasional
u ini dibagi mcnjadi
ken1bangan hsitoris
)ahasan dia\vali de­
ikajian disiplin llu­
sistcn1 pcn1bagian
�gara-ncgara 1naju.
itc111 pcrckonon1ian
kc W TO (World 7h1de 01ganizalion).
J3ab IV 111cndiskusikan tentang pclaksanaan pclbagai stratcgi industrialisasi
yang dilakukan ncgara scdang berkc111bang untuk 111cngejar ketcrtinggalannya
dari negara-ncgara industri 111aju. Ncgara-negara industri baru di ka\vasan Latin
An1crika n1aupun Asia rI'i1nur dan 'rcnggara pada u111u111nya 1ncngcnal dua 1na­
can1 stratcgi industrialisasi dalan1 upaya untuk 111cngcjar kctcrtinggalan 111creka
dari ncgara-ncgara 111aju, 111asing-1nasing adalah: (l) lS1 (Industrialisasi Substi­
ng da!ain ha! n1en1� scsuai, dan tcrus-
tusi lmpor), yakni upaya unluk mengganti scbagian dari produk-produk impor
dengan produksi dala111 ncgeri agar dapat 111cngurangi dcfisit ncraca pc1nbayar­
an; dan (2) JOE (lndustrialisasi bcr-Oricntasi Ekspor), yakni upaya untuk 111eng­
tan di dalan1 upaya
akun1ulasi pcndapatan dari pcnjualan produk-produk kc pasar internasional.
13ab ini juga 111cncoba untuk 111clihat ketcrkaitan antara pcngadopsian kedua
stratcgi pe111bangunan di atas dengan perubahan struktur politik. J)cngan 111cru­
Perspektif pcrlama
�bagai upaya suatu
a1n ----- sebagai unit
. di n1ana pclbagai
yang diinspirasi
nenyatakan bahwa
ti dapal dilakukan
mgan dan kctidak1ternasional penuh
:kan struktur yang
nen1fokuskan pada
mut perspcktif ini
juk pada pcngala111an beberapa ncgaraAn1erika l�atin sertaAsia Tin1ur dan l'cng­
gara, bab ini mcncoba untuk mcmberikan sebuah cksplanasi ekonomis tcrhadap
kemunculan rezim-rezim OB (Otoriler-Birokralis) di ncgara-ncgara tcrsebut.
Bab V rncmbahas tentang pclbagai nuansa kullural-spiritual, sosial clan
politis yang 111endasari ken1une-ulan scrta kiprah kaun1 \Virausaha. Max Weber
111engilustrasikan latar bclakang kultura!-spiritual dcngan 111engaitkan pcrilaku
kc\virausahaan dengan ajaran Protcstan. l3agi Weber, scrnangat ke1ja keras,
disiplin, dan akun1ulasi n1odal 111erupakan reJlcksi dari ajaran Protcstan 111c­
untuk lcbih mcm­
l'ibusikan kescjah-
ngenai pola hidup orang Kristen yang ideal. David McClelland mcnggambarkan
latar bclakang sosiopsikologis bagi kemunculan kaum wirausaha. Bagi McClel­
land kaum entrepreneur dibcntuk olch need.fin' achievement (kcbutuhan ber­
preslasi) yang dircflcksikan dalam semangat kcrja kcras dan upaya untuk mc­
,sional. Pertanyaan
lakukan inovasi-inovasi. Scmcnlara itu, Evcrclt Hagen lcbih mclihal pada sisi
sosial-politis ken1unculan kau111 entreJJrcneur. Menurut dia, kau1n cntre1;re­
3again1ana negara
neur datang dari kalangan yang 111cngalan1i ivUhclrcn,va! qf'status res1-Ject (pele­
nclung ketin1pang111luk mcmpcroleh
nI pakar ckonon1i
cehan 111artabat) akibat stig111atisasi atau stercotip yang diken1bangkan olch
111asyarakat di sekitarnya. Untuk 1ncngkon1pcnsasi pclccehan n1artabat inilah
n1ereka kcn1udian n1cngcn1bangkan disiplin dan kc1ja keras schingga terbcntuk
iklin1 kc\virausahaan.
"prot cksionis111c"
22
Politik 11isnis lntcniasional
Bab V I n1enyoroti tentang ekspansi perusahaan 1nultinasional sebagai ren1bawa modal dan tcknologi dari negara 1naju ke negara berken1bang. Ada seku­
rang-kurangnya tiga n1acan1 fr1ktor yang dapat rncngcksplanasi alasan ekspansi
perusahaan 1nultinasional ke negara-negara berken1bang. Pertan1a, ekplanasi
profit yang n1engaitkan perluasan skala opcrasi pcrusahaan 1nclan1paui batas­
batas negara dengan dorongan perusahaan untuk 1nen1perbesar pcrolehan kc­
untungan. l(arena keterbatasan dan kejcnuhan pasar di dalan1 negeri, n1aka
banyak perusahaan yang n1en1perbesar daerah operasinya kc negara-negara ber­
kembang untuk "mengejar" upah buruh yang lebih rcndah clan untuk "mencle­
kati" pcm be Ii sccara langsung. Kedua, eksplanasi c\aur hid up procluk yang me­
ngaitkan operasi perusahaan c\cngan daur hic\up suatu produk. Kctika scbuah
produk memasuki tahap obsolete (kedaluwarsa) di mana hampir semua per­
usahaan 1nenguasai teknologinya, n1aka perusahaan harus "rnc1nbanting harga"
sampai serendah-rcnclahnya. Untuk mengejar biaya proc\uksi renc\ah, rnaka
banyak perusahaan negara-negara n1aju terpaksa harus 1nen1indahkan pabriknya
ke negara berkembang yang mcmiliki tingkat upah buruh lcbih rendah. Kctiga,
perusahaan n1ultinasional kebanyakan disan1but baik di ncgara-ncgara bcr­
kembang karena c\ianggap scbagai aktor penting c\alam proses transfer tcknologi.
Kebanyakan negara berken1bang bersedia 111enerin1a kchadiran pcrusahaan
rnultinasional dengan harapan untuk rncmpcroleh teknologi baru.
Bab VU mendiskusikan tentang perspekti t:pcrspektifutama c\alam pc\bagai
l iteratur ekonomi yang mcndasari sikap pro clan kontra terhac\ap kehadiran
pcrusahaan 1nultinasional. Pe1nbahasan akan n1en1fokuskan pada ctnpat macan1
perspektif: ( I ) Neo-K\asik yang pada dasarnya membenarkan beroperasinya
pcrusahaan n1ultinasional karena dapat n1engopti1nalisasi beroperasinya n1cka­
nis1ne pasar di negara-negara bcrkc1nbang; (2) global-reach Uangkauan glo­
bal) yang 1nenganggap kehacliran perusahaan n1ullinasional dapat n1c1nbahaya­
kan perekono1nian negara berkc1nbang karena n1enciptakan pelbagai distorsi;
(3) Neo-In1perialis1ne yang 1ncnganggap ekspansi perusahaan 1nultinasional
sebagai bentuk c\ari Nco-I1npcrialisn1e schingga kchadiran n1creka harus ditolak
negara-negara berken1bang; clan (4) -Neo-Fundan1cntalisn1c yang n1en1andang
kehadiran perusahaan multinasional secara positifkarena dalan1jangka panjang
c\apat mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk berprocluksi seeara lcbih
kompetitif clan efisien.
Bab V i l ! rneneoba untuk mernbahas perubahan posisi negara berkembang
di dalatn transaksi bisnis internasional scbagai akibat dari te1jadinya siste1n
New fnternational Division o/Labour ( N I DL) atau pcmbagian ke1ja internasio­
nal baru di 1nana negara-negara berkcrnbang rnulai bcrpcran sebagai proc\usen
Pcndahuluan
barang 1nanufaktur (
industri sejak akhir 1
angsur 111en1indahkar
Neo-Srnithian menj<
tcrscd ianya tenaga k
bang yang cliper\u\G
pakaian jacli, clektr<
Neo-I�icardian n1en
clcngan negara berki
berkepentingan untt
buruh rendah demi
Bab I X rnenyor
bahasan akan difok
scperti: Apa signifi\,
nilai tukar antarneg
nilai tukar n1ata uc
krisis moncter yani
Bab X membi
negara-ncgara seda
yakni I M F -- ell
pen1bayaran -- - y at:
pcrsoalan aktual y<
an. lJntuk n1cncegc
tnian dunia, I M F 1
yang n1cnga\an1i I
neraca pcn1bayara1
syaratan pcrubalu1
bantuan I M F. Dal;
(Structural Adjust1
bantuan untuk n1c'
garan negara, pen1
pcngurangan sub�
anggap tidak efisi
Bab XI menc
rupakan isu baru c
ini isu l ingkungan
organisasi nonpcr
kcpada para pclal
>oiitik Hisnis l11!ernasio11al
sional sebagai pc111cn1bang. Ada seku1asi alasan ckspansi
Pertan1a, ckplanasi
1 111ela111paui batas1esar pcrolchan kc­
alan1 ncgcri, n1aka
: negara-ncgara bcr­
dan untuk Hn1ende1p produk yang mc­
:lulc Kctika sebuah
hampir scmua per11cn1banti ng harga"
uksi rcndah, maka
mdahkan pabriknya
bih rendah. Kcliga,
ncgara-negara her­
s transfer teknologi.
adiran perusahaa n
,i baru.
mm dalam pclbagai
erhadap kehadiran
pada empat macam
·kan beroperasinya
�ropcrasinya n1eka­
c·h Uangkauan glo­
dapat mcmbahaya1 pelbagai distorsi;
1aan 111ultinasional
ereka harus ditolak
yang memandang
an1jangka panjang
)duksi secara lebih
1egara bcrkem bang
i te1jadinya sistcm
m ke1ja internasio1 sebagai produscn
pcn dnhul uan
:.---..·-- �----··-
23
......-----·---
baran g n1anufaktur di pasar internasional. N I IJL, te1jadi akibat arus relokasi
ind ustri scjak akhir 1 970-ani di n1ana pcrusahaan-pcrusahaan bcsar bcrangsur­
angs ur 1ncn1indahkan pabrik n1crcka kc negara-negarn bcrkcn1bang. Pe1i'dckatan
N eo-Sm ithian mcnjclaskan bahwa proses rclokasi industri ini didorong oleh
i'
tersediany a tenaga ke1ja tcra111pil dan sen1iteran1pil di negara-negara bcrke1t ­
ban g yang diperlukan bagi produk-produk lahour-intensive (misalnya teksti l,
pakai an jadi, clcktronik� 111ainan anak-anak� dll.). Sen1entara itu pcndekatan
Nco -Ilicardian 111cnckankan pada pcrbedaan upah buruh antara negara n1aju
dcngan negara berkcn1bang yang cukup jauh schingga perusahaan-pcrusahaan
bcrkcpen tingan untuk n1cn1indahkan pabriknya kc ncgara-ncgara dengan upah
buruh rcndah dcn1i untuk 111cngejar kcuntungan.
13ab I X 111enyoroti tentang sistcn1 pertukaran 111ata uang intcrnasional. Pcn1bahasan akan d i f()kuskan pada upaya untuk n1cnja\vab pertanyaan-pcrtanyaan
seperti: Apa signifikansi siste111 111oncter bagi perckono111ian dunia? 13again1ana
nilai tukar antarncgara ditctapkan? Faktor-fakt.or apa saja yang n1en1pengaruhi
nilai tukar 111ata uang? 13again1ana kcterkaitan kcbijakan nilai tukar dcngan
krisis n1oneter yang 111elanda bcbcrapa ncgara berken1bang?
Bab X n1en1bahas tcntang krisis neraca pen1bayaran yang dialan1i olch
negara-negara scdang bcrkcn1bang dan pcran lcn1baga kcuangan intcrnasional
-- yakni I M F ---- dalam bcrupaya untuk mengatasi krisis tcrscbul. Krisis neraca
pcn1bayaran ·-. "- yang ken1udian berdan1pak pada krisis n1ata uang -"·· 111erupakan
pcrsoalan aktual yang dialami banyak ncgara berkcmbang pada dekadc 1 990an. Untuk menccgah agar krisis lcrscbut tidak mcngganggu stabilitas pcrekono­
n1ian clunia, J M F tnelakukan tindakan shock theraJJ.V terhadap negara-negara
yang mcngalami krisis. Bab ini mcncoba mcndcskripsikan tcrjadinya krisis
neraca pcmbayaran dan upaya I M F untuk mcmbcrlakukan conditionality (pcr­
syaratan perubahan kcbijakan ekono111i) bagi negara-negara calon pcncrin1a
bantuan I M F. Dalam paket kcbijakan yang lazim dikcnal dcngan istilah S A P
(Structural Adjustment Programme), I M F mcwaj ibkan negara-ncgara penerima
bantuan untuk melakukan sejumlah kcbijakan yang mcliputi: pemotongan ang­
garan negara, pe111berlakuan nilai tukar 111cngan1bang, liberalisasi pcrdagangan,
pcngurangan subsidi, dan likuidasi terhadap perusahaan-perusahaan yang cli­
anggap tidak efisien.
Bab XI mcncoba untuk mcngetengahkan isu l ingkungan hidup yang mc­
rupakan isu baru di dalam praktck bisnis intcrnasional. Bcberapa tahun terakhir
ini isu l ingkungan "diangkat" scbagai masalah global. Dipclopori olch pelbagai
organisasi nonpen1crintah (NCJC)s) internasional, gelon1bang tekanan diarahkan
kepada para pelaku bisnis untuk lcbih mcmperhatikan konservasi lingkungan.
24
Politik Bisnis lntcrnasional
Dalam pelbagai kasus, kiprah bisnis sering kali dikaitkan dengan scjauh mana
pihak perusahaan memiliki komitmen terhadap konservasi lingkungan. Salah
satu keberhasilan lobi kelompok bisnis di dalam forum internasional adalah
upaya untuk mempengaruhi agenda manajemen lingkungan d i dalam KTT
(Konferensi Tingkat Tinggi) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil, pacla tahun 1 992,
d i mana agenda konferensi dapal dimodifikasi sedemikian rupa untuk tidak
terlalu memberatkan para pclaku bisnis.
*
-�
K'.
&,'
;!;.
·
,
I;!
v
:
xc:
:ji!
�\\'.
.��
·
ft
POLITI:
DALAM
KONTE
'olitik Bisnis lntcrnasional
lengan sejauh mana
i l ingkungan. Salah
nternasional adalah
gan di dalam KIT
I, pada tahun 1 992,
n rupa untuk tidak
POLIT IK BI S NI S
DALAM
KONTEKS INTERNAS IONAL
25
26
Politik Bisnis lntcrnasiona!
------- ------- ---- "·------ -----·
ab ini inencoba untuk rnenge laborasi dinan1 ika politik bisnis
inter­
nasional dcngan n1en1fokuskan pada beberapa bahasan. Bagian
pcrtan1a
n1en1aparkan posisi "politi k bisnis" scbagai salah satu subkc�j
ian dalan1
disipl in Hubungan I nternasional . Pcrsoalan yang paling
clominan clalam "polit ik
bisnis" adalah n1enyangkut pena-fsiran yang berbecla n1engc
nai apakah fcnon1cna
hubungan ckonon1i i ntcrnasional n1crupakan scsuatu yang
dapat diprcd iksi clan
apakah ncgara tncrupakan aktor rentin g dalan1 transa ksi
bisnis antarncgara.
Bagia n kcdua n1elihat sistc1n pen1bagian ke1ja intcrnasiona
l yang rnclahirkan
scbuah kctin1pangan sisten1ik di tnana negara-ncgara 111aj
u bcrkonsentrasi pada
produk-produk n1anu-faktur dcngan nilai ta1nbah yang
besar) scn1cntara ncgara
berkcmbang bcrkonscntrasi pada produksi bahan mcntah
clcngan nilai tambah
kccil. Bagian ketiga membahas kontcks historis clan po Ii
tis sistcm perckonomian
dunia dcngan n1c1nfokusk an pada interaksi antara unsurunsur sta te (ncgara),
market (pasar), power (kckuasaan), dan plenty (kemakmura
n). Keempal unsur
terscbut n1crupakan tcrna-ten1a klasik yang n1cndorninas i \Vacan
a politik bisnis
intcrnasional, karcna sangat n1cn1pcngaruhi proses, strukt
ur clan institu si cko­
norni intcrn asiona l.
Politik Bisnis sebagai SubkaJian Hubungan lnternasional
Disipl in ilmu yang paling berambisi untuk membahas aspck
politik dari bisnis
intcrnasional adalah Hubungan I nternasional ( I I I). Sebagai
suatu bidang stucli,
I-_IJ n1cnetapkan batas-batas yang tidak terlalu jelas
tentang apa s::U a yang dicaku p
scbagai pokok bahasan. Ada yang berpendapat bahwa
l--I l n1c1npel::Uari fenon1ena
pol itik intcrnasional yang n1elip uti kcputusan-ke
putusan yang dibua t o!ch ncgara
untuk n1cn1pcngaruhi ncgara-ncgara lain (Clolc
lstein, 1 996: 5). Lingk up bahasan
politi k intcrnasional itu scndi ri n1cncakup
pelbagai aktivi tas scpcrti pcpcrangan,
Po!itik Bisnis dalam Konte
-�"------
cliplomasi, perclagan
len1baga internasion
nya.
Disiplin H I men
nasional (PEI) yang
an. Terminologi PEI
sional seperti Joan S
itu subkajian "politi
bahasan ini n1encob
balms fenomcna bis
kasi yang mcn1bah'
1nenjelaskannya cla1
structure (slruktur) ,
perilaku aktor-akto
keuangan intcrnasi1
bisnis antarbangsa
Bcberapa pakc
mcmbcri kan j ustill
fcnon1cna ckonomi
clan Bruno Frey m
ekonomi untuk me
sasi n1aupun negar
n1ende finisikan "p
tcntang interaksi ai
nakan pclbagai pa
siplin ilmu politik
dina111ika hubung;;
belahan bumi ba!
ncgara rnaj u dcng
di belahan bumi b
ada clua ha\ yang
ekonon1i di negar;
kctnbang scjak av
ska la global. Ked1
inclustri barn di kc
clan Singapura te
ncgara yang n1cn
>(lli1ik Hisnis lntcrnasional
politik Bisnis dalam Konteks lnlenrnsional
-------
-----·�····...
-
27
diplon1asi, pcrdagangan, aliansi, pcrtukaran buclaya, parlisipasi dalan1 IC1nbaga­
lcinbaga intcrnasional, pc1nbcntukan kclon1pok ckonon1i regional, dan sebagai­
nya .
Disiplin HI membahas politik bisnis di dalam rubrik Politik Ekonomi I nter-.
nasional (PEI) yang muncul sebagai subdisiplin scjak dckade 1 970-an dan 1 986an. Tcnninologi PE'.:! itu scndiri dipcrkcnalkan olch para pakar hubungan interna­
sion al scperti Joan Spero, Susan Strange, R.obcrt (Jilpin, clan lain-lain. Sen1cntara
itu subkajian "politik bisnis intcrnasional" tcnnasuk dalam lingkup PEI. Sub­
baha san ini n1cncoba untuk 1ncngisi kckosongan dalan1 litcratur Pf�I yang n1cn1-
iolitik bisnis intcr­
;an. J3agian perta111a
itu subkajian dalam
1inan clala111 "politik
1i apakah fcnomcna
lapat diprcdiksi dan
bahas fcnon1ena bisnis intcrnasional dari kacan1ata politilc 'felah banyak publi­
kasi yang 111cn1bahas bisnis intcrnasional, tctapi bclun1 banyak yang n1cncoba
n1enjelaskannya dari kacan1ata polit.ik, di n1ana i�tktor pcnver (kekuasaan) clan
structure (struktur) dianggap sebagai tl1ktor-faktor pen ting yang n1en1pcngaruhi
perilaku aktor-aktor ncgara clan nonnegara (scpcrti kclompok bisnis, lcmbaga
keuangan intcrnasional, rezin1 internasionat dll.) clalan1 111clakukan transaksi
ii yang melahirkan
bisnis antarbangsa clan ant.arwilayah.
Bebcrapa pakar mcncoba mendefinisikan istilah "politik ckonomi" untuk
memberikan justifikasi konscptual bagi sludi tcntang konsekucnsi politis dari
fenomena ekonomi. Tokoh-tokoh ckonomi sepcrti Gary Beeker,Anthony Downs,
Jcrkonscntrasi pada
·, sc1ncntara ncgara
clan Bruno Frey menclefinisikan "politik ekonomi" sebagai aplikasi teori-tcori
ekonorni untuk menjclaskan pcrilaku sosial-politik individu, kelompok, organi­
bisnis antarncgara.
engan nilai tan1bah
sasi maupun negara. Sedangkan Robert Gilpin ( 1 987) dan Roger Tooze ( 1 984)
�tcn1 pcrekonon1ian
isur state (ncgara),
rnendefinisikan "politik ekonomi" scbagai sualu subdisiplin yang membahas
1n). Kcempat unsur
Jeana politik bisnis
nakan pclbagai paradigma, pcrspektif; tcori, dan metode yang diambil dari di­
siplin ilmu politik dan ilmu ekonomi. Pada awalnya, PEI memfokuskan pada
1· clan institusi eko-
tentang intcraksi antara pelbagai aktivitas polilik dan ekonomi dengan menggu­
dinan1ika hubungan antarncgara n1aju clan pelbagai organisasi internasional di
belahan burni bagian utara; namun sejak dckade 1 990-an, hubungan antara
ial
negara 111aju dcngan negara 1niskin, dan bahkan hubungan antarncgara n1iskin
di belahan bumi bagian selatan pun mulai mcnjadi pusat perhatian. Sctidaknya
acla dua ha! yang membuat para pakar mulai memperhatikan dinamika politik­
' politik dari bisnis
sualu bidang studi,
1 saja
yang dicakup
npelajari fcnon1ena
ckonon1i di negara bcrkcn1bang. Pertan1a, krisis finansial di ncgara-ncgara bcr­
kcmbang sejak awal dckade 1 980-an yang mengakibatkan resesi ckonomi pada
skala global. Kedua, pcrtumbuhan ekonomi pcsat yang dicapai beberapa negara
industri baru di kawasan Asia Timur scperti Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan,
, dibual olch negara
clan Singapura telah mcnciplakan dinamika baru dalam transaksi bisnis antar­
). Lingkup bahasan
;cpcrti pcpcrangan,
negara yang mcnarik pcrhatian para pakar.
28
Politik Bisnis !nternasional
Ada perbedaan-perbcdaan n1endasar dalan1 cara orang n1en1andang fcno­
n1cna bisnis internasional. f3eberapa pakar yang n1enggabungkan I--I I dcngan
PEI scpcrti Robert Gilpin, Robert Keohane, John G. Ruggic, dan Stephen Kras­
ner rncndasarkan analisis 1nereka pada perspektifl iberalistne yang n1cnyatakan
bahwa transaksi bisnis antarbangsa hanya dapat betjalan di ba\vah sistc1n pasar
bcbas (/i-·ee n-zurkel), kctcrbukaan clan prinsip nondiskri111inasi. Sebagain1ana
dikatakan Robert Gilpin ( 1 987: 1 72): . . . perdagangan bebas cenderung men­
c iptakan pcrclan1aian dunia karcna saling ketergantungan ekonon1i dapat n1cncip­
takan hubungan-hubungan positif antarbangsa yang pada gilirannya n1engen1bangkan hannoni kcpcntingan . . .
Pandangan scn1acan1 ini 1ncn1bangkitkan kritik dari pakar f-I I di luar kubu
liberal, terutama Robert Cox clan Stephen G i l l . Dengan merujuk pada teori
pemikir Marx is Italia, Antonio Grarnsci, Cox ( 1 987) mcnyatakan bahwa fono­
n1ena ekonon1i dan bisnis intcrnasional scharusnya tidak dipahan1i sebagai sc­
kuensi dari pelbagai pcristivva rutin clengan hasil akhir yang bisa diprediksi,
n1clainkan dil ihat scbagai suatu gabungan clari pclbagai hubungan sosial (kelas,
etnis, regional, d l l. ) yang mcmbentuk slruktur-struktur tcrtcntu dengan pola
yang berubah-ubah dari vvaktu kc \vaktu. Maka, unit anal is is yang dipakai dalan1
tnelihat transaksi bisnis antarbangsa seharusnya bukanlah ncgara scbagai suatu
kesatuan, n1e lainkan "agency'' yang tcrdiri dari konsun1cn, produscn, perusaha­
an, kclompok kcpentingan, buruh, cian lain-iain (Gill, 1 993: 24). Lcbih jauh
lagi, para pengkritik libcralismc mcnyatakan sangat ironis jika kaurn liberal
1nen1iliki keyakinan sen1pit bahvva sistcn1 pcrdagangan bebas hanya clapat dipcr­
tahankan di bawah kekuatan hegen1onis suatu ncgara yang dapat rncrnaksa
negara-negara lain untuk n1en1atuhi standar aturan tertentu.
I<.r itik lain datang dari Andre G. Frank dan Barry K. Gills ( 1 996) yang
n1en1pertanyakan validitas proposisi teorctis kaun1 liberal yang hanya 111cruj u k
pada fr1kta-fr1kta sclan1a 5 0 0 tahun k c be!akang. l3agi n1ercka, sejarah sisten1
kapitalismc dunia scsungguhnya bermula scjak 5000 tahun yang lalu,jauh sebc­
lum pcradaban Eropa (atau Barat) rnendominasi dunia. Scjak sckitar 3000 S M ,
sisten1 dunia di\varnai o\ch dua rcnon1ena pen ting: "ckspansi" dan "krisis" yang
datang silih bcrganti. Pacla saat itu, bcrsatnaan dcngan n1unculnya zan1an pe­
runggu, hubungan antarbangsa te!ah te1ja!in di bawah hcgen1oni kcrajaan
Mesopotan1ia yang daerah pengaruhnya tncliputi pelbagai kota niaga pcnting
§Cperti Mari, Ebia, Elam, Lagash, Ur, Nippur, Kish, Uruk, clan Akkad (Frank
dan Gills, 1 996: 1 52). Jika rentangan sejarah pcrckonomian dunia dibcntangkan
sejauh 5000 tahun, maka - -- menurut Frank clan Gills
akan teridentifikasi
proses eksploitasi, peperangani scrta kekerasan yang n1cnjadi ciri khas clan
sekaligus tl1ktor pcndorong bagi proses ckspansi perekonoinian dunia.
"
,"
Po!itik Bisn is dalam· Kontc
-��-�� --
Pctnbagian Kc rja
Ter lepas dari perdcl
a apakah scj
. dan jug
tahun yang \alu , !-l1k1
bisn is antarbangsa y
tusi -ins titu si sos ial
berkcmbang. Karl I
1nateria l bcrken1ba1
mulai diperkenalka
jadi antara produst
untuk mcmperolch
usahanya; scdangk.
daya belin ya. llub
jasa yang discpakc1
Dala rn kontcl<
dcn1i kian rupa di r
konsentrasi pada r
tckno\ogi; sernenta
produ ksi bahan-ba
mulai rnuneul keti
rang-barang bertel
tah, produk pcrtar
tingkat pendapata
negara-negara n1aj
lopmenl Report (
lopn1ent r)rograrn
clustri 1m�u (yan�
persen dari total C
bcrkcn1bang (yan
persen total GNP
Situa si scn1ai
ah! i scjarah ckon
tahun 1 860 rasio
ncgara-ncgara rn:
pada tahun 1 900
tahun 1 970. Anki
tahun 1 990 (Hoo
pcrnbagian kc1j1
olitik Bisnis lnternnsioirnl
polil ik 13isnis dalam Kon!eks l 11terirnsio11al
-------·-..
-----·--·
n1c1nandang fcno­
ungkan H I dcngan
, dan Stephen Kras­
e yang 111cnyatakan
Ja\vah sistc111 pasar
nasi. Scbagai1nana
as ccndcrung n1cn10111i dapat n1encip­
ilirannya 111cngcn1-
<ar H I di luar kubu
ncruj uk pada tcori
1takan bah\va fcno­
pahan1i scbagai sc­
ng bisa diprcdiksi,
1ngan sosial (kclas,
tcntu dcngan pola
�1ang dipakai dalan1
�gara scbagai suatu
roduscn, pcrusaha3: 24). Lcbih jauh
, jika kaurn liberal
hanya dapat dipcr1g dapat n1cn1aksa
Gills ( 1 996) yang
u1g hanya n1crujuk
�ka, sejarah sistcq1
mg lalu,jauh scbc­
{ sckitar 3000 S M ,
" clan "krisis" yang
lculnya za1nan pc­
cgcn1oni kerajaan
kota niaga pcnting
dan Akkad (Frank
lunia dibcntangkan
kan teridcntilikasi
jadi ciri khas dan
nian dunia.
..
29
"
pe1n bagian ](erja lntcrnasional
'fcrlcpa s dari pcrdcbatan apakah perckono111ian dunia harus l iberal atau tidak;
clan juga apakah scjarah siste111 kapitalismc dunia bcr111ula dari 500 alau 5000
·
tah un yang lalu, fakta 1nenunjukkan bah\va pcningkatan besar-b�snran transak;;;i
bisn is antarbangsa yang tc1jadi scjak abad pcrtcngahan bcrlangsung kctika insti1usi-institusi sosial yang n1cngatur dan n1cngclola aktivitas ko1ncrsial inulai
bcrk cmbang. Karl Polanyi ( l 957: 7 1 ) mcnycbutkan bahwa proses rcproduksi
n1atcrial bcrkcn1bang pcsat ketika sisten1 pcn1bagian kci:ia (clivision c�flaboto�)
n1ula i dipcrkcnalkan. lJalan1 1nckanisn1c pasar, n1isalnya, pcn1bagian ke1ja tcr­
jadi antara produsen dan konsun1en. Produscn incnjual barang n1aupun jasa
untuk mcmpcrolch alal pcmbayaran bagi kcbutuhan hidup dan pcngcmbangan
usahanya; scdangkan konsun1cn n1cn1bcli barang scsuai dcngan kebutuhan dan
daya belinya. l l ubungan transaksional ini ditcntukan oleh harga barang atau
jasa yang disepakati bcrsan1a dala1n scbuah 1nekanisn1e pasar.
l)alan1 kontcks perckonon1ian dunia, sisten1 pen1bagian ke1ja diatur sc­
dcn1ikian rupa di n1ana ncgara-ncgara 111aju di bclahan bun1i bagian utara ber­
konsentrasi pada produksi barang-barang industri berat yang padat n1odal dan
tcknologi; sen1cntara negara-negara 1niskin di bclahan bun1i bagian selatan n1cn1produksi bahan-bahan n1entah, produk pcrtanian atau industri ringan. Pcrsoalan
n1ulai n1uncul kctika ncgara-ncgara n1ulai n1erasakan bah\va nilai ta1nbah ba­
rang-barang berleknologi canggih jauh lcbih bcsar daripada bahan-bahan mcn­
lah, produk pcrtanian maupun induslri ringan, Akibatnya, lcrjadi kcsenjangan
tingkat pcndapatan nasional (11atlol1al incotne) Yang cukup signif)kan antara
ncgara-ncgara n1aju dan negara-negara 111iskin. Dalan1 lapora:nny�, 11urnan J)eve­
/opment Report ( l 999) yang dipublikasi olch UNDP (United Nations Deve­
!01Jrne11f F>rogran11ne) 1ncnyatakan bah\va pada tahun 1 999 negara-ncgara in­
dustri 111aj u (yang didiami olch 22,9 pcrscn pcnduduk dunia) mcnikmati 84,2
perscn dari total CiNP (G'ross f·iational !_)roclucf) dunia; se1ncntara ncgara-ncgara
bcrkcmbang (yang didiami oleh 77, 1 pcrscn pcnduduk dunia) mcnikmati 1 5,8
persen total GNP dunia.
Situasi scmacam ini berlangsung dalamjangka waktu cukup lama. Scorang
ahli sejarah ekonomi, Paul Bairoch ( l 975), melakukan estimasi bahwa scjak
tahun 1 860 rasio pcndapatan per kapita antara ncgara-negara n1iskin dengan
ncgara-ncgara maju scmakin mcmbcsar dari I :5 pada tahun 1 860 mcnjadi I :6
pada tahun l 900, l :7 pada tahun I 929, l :8,5 pada tahun 1 953, dan I : I 3 pada
tahun 1 970. Ankic Hoogvcll mcnambahkan csti111asi Bairoch mcnjadi 1 : l 8 pada
tahun 1 990 (Hoogvclt, 1 997: 85). Data-data !erscbul mcnunjukkan bahwa sislcm
pcn1bagian ke1ja intcrnasional yang bcrlaku scjak ratusan tahun yang lalu
..
Download