8 8 BAB II TINJAUAN TEORI Dalam tinjauan teoritis ini akan

advertisement
8
BAB II
TINJAUAN TEORI
Dalam tinjauan teoritis ini akan dibahas tentang konsep dasar hubungan
terapeutik, komunikasi interpersonal, persiapan tindakan operasi dan kecemasan.
2.1. Konsep Hubungan terapeutik
2.1.1
Pengertian
Hubungan terapeutik adalah kemampuan seseorang melakukan suatu interaksi
atau mengkomunikasikan perkataan, perbuatan, atau ekspresi yang memfasilitasi
proses penyembuhan (Stuart dan Sundeen,1995). Hubungan terapeutik perawatpasien adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman untuk memperbaiki
emosi pasien. Pengertian lain menurut Liliweri (2008 ) komunikasi dalam
hubungan
terapeutik
berkaitan
dengan
proses
pertukaran
pengetahuan,
meningkatkan konsesus, mengidentifikasi aksi-aksi yang berkaitan dengan
kesehatan yang mungkin dapat dilakukan secara efektif. Dalam hubungan ini
perawat memakai diri sendiri dan teknik pendekatan yang khusus dalam bekerja
dengan pasien untuk memberikan pengertian dan merubah prilaku pasien
(Machfoedz, 2009).
2.1.2
Tujuan Hubungan Terapeutik
Hubungan terapeutik perawat – pasien bertujuan untuk perkembangan pasien
(Nurjanah, 2005) yaitu :
a. Kesadaran diri, penerimaan diri, dan penghargaan diri yang meningkat.
b. Pengertian yang jelas tentang identitas diri dan integritas diri .
8
9
c. Kemampuan untuk membina hubungan erat, interdependen, pribadi dengan
kecakapan menerima dan memberi kasih sayang.
d. Kemampuan untuk membentuk suatu keintiman dan saling ketergantungan.
e. Mendorong fungsi dan meningkatkan kemampuan terhadap kebutuhan yang
memuaskan dan mencapai tujuan pribadi yang realistik.
2.1.3
Tahapan Hubungan Terapeutik
Dalam proses, perawat membina hubungan sesuai tingkat perkembangan pasien
dalam menyadari dan mengidentifikasi masalah dan membantu memecahkan
masalah. Tahapan hubungan terapeutik ini dibagi dalam empat tahapan atau fase
yaitu pra interaksi, orientasi atau perkenalan, kerja, dan terminasi.
a.
Pra interaksi
Prainteraksi
mulai
sebelum
kontak
pertama
dengan
pasien.
Perawat
mengeksplorasikan perasaan, fantasi dan ketakutannya, sehingga kesadaran dan
kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan pasien dapat dipertanggung
jawabkan. Perawat yang sudah berpengalaman dapat menganalisa diri sendiri
serta nilai tambah pengalamannya berguna agar lebih efektif dalam memberikan
asuhan keperawatan. Perawat harus mempunyai konsep diri yang stabil dan harga
diri yang adekuat, mempunyai hubungan yang konstruktif dengan orang lain dan
berpegang pada kenyataan dalam menolong pasien (Stuart dan Sundeen, 1987).
Tugas tambahan pada fase ini adalah mendapatkan informasi tentang pasien dan
menentukan kontak pertama.
10
b.
Perkenalan atau orientasi
Fase ini dimulai dengan pertemuan dengan pasien. Hal utama yang perlu dikaji
adalah alasan pasien minta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya
hubungan perawat-pasien.
Dalam memulai hubungan, tugas utama adalah
membina rasa percaya, penerimaan, dan pengertian, komunikasi yang terbuka dan
perumusan kontrak dengan pasien.
Stuart dan Sundeen (1987) mengatakan
elemen-elemen kontrak perlu diuraikan dengan jelas pada pasien sehingga kerja
sama perawat-pasien dapat optimal. Diharapkan pasien berperan serta secara
penuh dalam kontrak. Perawat dan pasien mungkin mengalami perasaan tidak
nyaman, bimbang karena memulai hubungan yang baru. Pasien yang mempunyai
pengalaman hubungan interpersonal yang menyakitkan akan sukar menerima dan
terbuka pada perawat.
Dimana pada tahap ini tugas perawat adalah
mengeksplorasikan pikiran, perasaan, perbuatan pasien, dan mengidentifikasi
masalah,serta merumuskan tujuan bersama pasien.
c.
Kerja
Pada fase ini, perawat dan pasien mengungkapkan stressor yang tepat dan
mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi,
pikiran, perasaan dan perbuatan pasien. Perawat membantu pasien mengatasi
kecemasan, meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab diri sendiri, dan
mengembangkan mekanisme coping yang konstruktif.
maladaptif menjadi adaptif merupakan fokus fase ini.
Perubahan perilaku
11
d.
Terminasi
Terminasi merupakan fase yang sangat sulit dan penting dari hubungan terapeutik.
Rasa percaya dan hubungan erat yang terapeutik sudah terjalin dan berada pada
tingkat yang optimal. Perawat dan pasien, akan merasakan kehilangan. Terminasi
dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau pasien
akan pulang. Dimana perawat dan pasien bersama-sama meninjau kembali proses
perawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Proses terminasi yang sehat
akan memberi pengalaman positif dalam membantu pasien mengembangkan
koping untuk perpisahan.
Terminasi yang mendadak dan tanpa persiapan
mungkin dipersepsikan pasien sebagai penolakan, atau dengan harapan perawat
tidak akan mengakhiri hubungan karena pasien masih memerlukan bantuan
perawat (Keliat,1992).
2.1.4
Komponen Hubungan Terapeutik
Komponen-komponen hubungan terapeutik perawat dengan pasien terdiri dari
enam komponen :
a.
Kualitas personal/pribadi perawat
Fokus analisa diri perawat adalah kesadaran diri, klarifikasi nilai, pengungkapan
perasaan, dan rasa tanggung jawab.
1.
Kesadaran diri perawat, merupakan kemampuan seseorang untuk memahami
diri sendiri baik perilaku, perasaan maupun pikirannya sendiri. Pemahaman
dan penerimaan diri akan membuat perawat menghargai perbedaan dan
keunikan yang dimiliki pasien. Menurut Stuart dan Sundeen yang dikutip
Keliat (1992), kesadaran diri dapat ditingkatkan melalui tiga cara : a)
12
Mempelajari diri sendiri meliputi proses pengungkapan diri, pikiran,
perasaan, perilaku, termasuk pengalaman yang menyenangkan, hubungan
interpersonal dan kebutuhan pribadi, b) Belajar dari orang lain, merupakan
suatu kesedian dan keterbukaan menerima umpan balik dari orang lain c)
Membuka diri merupakan salah satu kriteria kepribadian yang sehat.
Kesadaran diri dapat ditingkatkan agar penguasaan diri secara terapeutik
dapat lebih efektif.
2.
Klarifikasi nilai, Covey (1997) mengatakan bahwa metode dimana seseorang
menemukan nilai-nilainya sendiri dengan mengkaji, mengungkapkan dan
menentukan nilai-nilai pribadi serta bagaimana nilai-nilai tersebut digunakan
sebagai acuan dalam mengambil keputusan. Hal ini perlu dilakukan karena
nilai itu bermacam-macam, dari sinilah seorang yang proaktif mendasarkan
pemilihan responnya, pilihan tersebut merupakan hasil dari pertimbangan
yang matang berdasarakan nilai bukan emosi sesaat. Perawat sebaiknya
mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak
menggunakan pasien untuk kepuasan dan keamanannya.
3.
Pengungkapan perasaan, disini dilakukan terhadap hubungan seseorang
dengan lingkungan luar atau interaksinya dengan orang lain. Perawat perlu
terbuka dan sadar terhadap perasaannya, dan mengontrol agar dapat
menggunakan diri secara terapeutik. Jika perawat terbuka pada perasaannya
akan mendapatkan bagimana informasi tentang respon dan penampilan pada
pasien.
13
4.
Etik dan tanggung jawab, perawat mempunyai kode etik dan tanggung jawab
tertentu yang mengambarkan nilai-nilai yang terdapat dalam hubungan
perawat dengan pasien. Dengan demikian perawat perlu memahami kode etik
keperawatan dan menggunakan kode etik dalam melaksanakan tugas.
b.
Fasilitasi Komunikasi
Komunikasi pada dasarnya dapat menjadi suatu alat untuk memfasilitasi dan tanpa
komunikasi tidak mungkin terjadi hubungan terapeutik antara perawat–pasien.
Menurut Wilson dan Kneisi (1983), fasilitasi komunikasi bertujuan untuk
memulai, membangun dan membina keterlibatan dan hubungan saling percaya,
antara perawat dan pasien. Dalam berkomunikasi faktor yang perlu diperhatikan
agar hubungan dapat berlangsung secara efektif diperlukan suatu pengenalan
kesadaran diri
sendiri dan mengenal orang lain dengan demikian tujuan
komunikasi dapat tercapai. Dalam proses komunikasi ada beberapa faktor yang
yang mempengaruhi,
sehingga komunikasi yang dibangun tidak dapat
berlangsung secara efektif antara lain : 1) perkembangan, 2) persepsi, 3) nilai
atau standar, 4) latar belakang sosial budaya, 5) emosi, 6) jenis kelamin, 7)
pengetahuan, 8) peran dan hubungan, 9) lingkungan, dan 10) jarak.
c.
Dimensi respon
Menurut Stuart and Sundeen dikutip dari Keliat (2003), dimensi respon terdiri dari
respon perawat yang ikhlas, menghargai, empati dan konkrit. Dimensi respon
sangat penting pada awal berhubungan dengan pasien untuk membina hubungan
saling percaya dan komunikasi yang terbuka.
14
1. Keikhlasan, perawat menyatakan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan,
dan berperan aktif dalam hubungannya dengan pasien. Perawat berespon
dengan tulus, tidak berpura-pura, mengungkapkan perasaan yang sebenarnya
dan spontan.
2. Menghargai,
perawat menerima pasien apa adanya. Sikap perawat tidak
menghakimi, tidak mengkritik, tidak mengejek, atau tidak menghina. Rasa
menghargai dapat dikomunikasikan melalui duduk diam bersama pasien yang
menangis, minta maaf pada hal yang tidak disenangi pasien.
3. Empati, merupakan kemampuan masuk dalam kehidupan pasien agar dapat
merasakan pikiran dan perasaannya. Perawat memandang melalui pandangan
pasien, merasakan melalui perasaan pasien dan kemudian mengidentifikasi
masalah pasien, serta membantu pasien mengatasi masalah tersebut.
4. Konkrit, Perawat harus dapat menghindari keraguan dan ketidakjelasan. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan:
a) mempertahankan respon perawat
terhadap pasien, b) memberikan penjelasan yang akurat,
c) mendorong
pasien memikirkan masalahnya.
d.
Dimensi Tindakan
Dimensi tindakan tidak dapat dipisahkan dengan dimensi respon. Tindakan yang
dilaksanakan harus dalam konteks kehangatan dan pergertian Stuart dan Sundeen
(dikutip oleh Keliat,1992), dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan,
keterbukaan, emosional catharsis..
1. Konfrontasi, konfrontasi merupakan ekspresi perasaan perawat tentang
perilaku pasien yang tidak sesuai.
15
Carkhoff (1988) yang dikutip oleh Keliat (1992), mengidentifikasi ada tiga
kategori yaitu: a) Ketidaksesuaian antara konsep tentang diri pasien dan ideal
diri pasien, b) Ketidaksesuaian antara ekspresi non verbal dan perilaku
pasien, c) Ketidaksesuaian antara pengalaman pasien dan perawat. Sebelum
melakukan konfrontasi, perawat perlu mengkaji tingkat hubungan saling
percaya, waktu yang tepat, tingkat kecemasan pasien, dan kekuatan coping
pasien. Konfrontasi ini berguna untuk meningkatkan kesadaran pasien akan
kesesuaian perasaan, sikap, kepercayaan dan perilaku yang dilakukan secara
asertif.
2. Kesegeraan, kesegeraan berfokus pada interaksi dan hubungan perawatpasien saat ini.
Perawat sensitif terhadap perasaan dan berkeinginan
membantu pasien dengan segera.
3. Keterbukaan
tentang dirinya,
perawat,
perawat
idealnya,
perasaanya,
memberikan
sikap dan nilainya.
membuka diri tentang pengalaman yang berguna.
informasi
Perawat
Keterbukaan antara
perawat dan pasien akan menurunkan tingkat kecemasan perawat-pasien
(Keliat,1992).
4. Emosional Catharsis, terjadi jika pasien diminta bicara tentang hal yang
sangat menganggu dirinya seperti ketakutan, perasaan, dan pengalaman. Jika
terjadi hubungan perawat – pasien dimana pasien menyadari perasannya
dalam suasana yang diterima dan aman ,maka pasien akan memperluas
kesadaran dan penerimaan pada dirinya. Menurut
Goldstein (1975), yang
dikutip oleh Smet (1994), mengatakan makin baik hubungan interpersonal
16
perawat dengan pasien makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya
dan makin cenderung mendengarkan dengan penuh perhatian serta bertindak
atas nasehat yang diberikan oleh perawat.
2.1.4
Pengukuran Hubungan Terapeutik Perawat-Pasien
Menurut Stuart dan Sundeen , dalam Cristina, dkk., (2003) Hubungan terapeutik
perawat-pasien diukur dengan tahapan-tahapan hubungan terapeutik. Untuk
melihat hubungan terapeutik yang dilakukan perawat kepada pasien dinilai dari
dimensi respon dan dimensi tindakan. Alat ukur yang digunakan terdiri dari 21
pertanyaan, masing-masing pertanyaan diberikan penilaian (score) 1-3 yang
artinya adalah: nilai 1= tidak pernah, 2= kadang-kadang, 3= ya. Masing-masing
score dari ke 21 pertanyaan tersebut dijumlahkan dan hasil dari penjumlahan
tersebut dapat diketahui penerapan hubungan terapeutik perawat kepada pasien
yaitu: total score < 30= hubungan terapeutik kurang, 30-50= hubungan terapeutik
sedang, dan > 50= hubungan terapeutik baik (Penelitian Dewi, Suarniati, dan
Ismail, 2013)
2.2 Komunikasi Interpersonal
Menzies (1970), mengatakan ada beberapa kajian terakhir yang mengidentifikasi
masalah komunikasi sebagai penyebab yang harus selalu diperhatikan dalam
proses pemberian pelayanan kesehatan. Alasan yang paling sering disebut antara
lain: kurangnya ketrampilan dan pelatihan, kurangnya sumber daya dan waktu,
kepekaan emosional, dan letak emosional. Peplau (1988) mengatakan bahwa
keperawatan pada intinya merupakan sebuah proses interpersonal, maka perawat
17
yang kompeten harus menjadi komunikator yang efektif dan setiap perawat
mempunyai tanggung jawab untuk memperhatikan perkembangnya sendiri. Ada
empat faktor
utama yang menunjang terjadinya masalah komunikasi dalam
perawatan yang nantinya akan mempengaruhi hubungan perawat dengan pasien
yaitu : kurangnya kesadaran diri perawat, kurangnya ketrampilan interpersonal
yang sistematik, kurangnya kerangka konseptual dan kurangnya kejelasan tujuan:
a.
Kurangnya kesadaran diri perawat
Kesadaran diri perawat akan aspek – aspek diri sendiri sangat mempengaruhi
interaksi dengan orang lain. Faktor pribadi yang mempengaruhi seperti sikap,
nilai-nilai, kepercayaan, perasaan dan perilaku.
Kesadaran diri perawat akan
menghasilkan interaksi yang lebih produktif dan penggunaan diri lebih berarti
serta akan mengubah potensi kegagalan. Purba (2008) mengatakan perawat perlu
mengembangkan kesadaran diri yang akut manakala terlibat dalam interaksi dan
hubungan dengan pasien, melalui kesadaran diri perawat akan tahu apa yang
sedang pasien lakukan dan bagaimana tindakannya mempengaruhi pasien yang
sedang dirawat. Kesadaran diri perawat perlu ditingkatkan agar penggunaan diri
secara terapeutik dapat lebih efektif. Ellis (1974 ) menyatakan bahwa unsur inti
dari hubungan pertolongan adalah kehangatan, ketulusan, pemahaman yang
empati dan perhatian positif yang tidak bersyarat.
Unsur-unsur ini sangat
diperlukan untuk mendapatkan perubahan yang konstruktif bagi pasien dalam
situasi terapeutik.
18
b.
Kurangnya pelatihan keterampilan interpersonal yang sistematik
Keterampilan yang sistematis mempunyai peranan dalam proses menjadikan
seseorang komunikator yang efektif dan kompeten, serta dapat mengintegrasikan
keterampilan yang sudah dikenalnya kedalam gaya komunikasi yang unik.
Keterampilan interpersonal meliputi keterampilan verbal dan non verbal yang
terdiri dari keterampilan mendengarkan dengan penuh perhatian, menujukkan
penerimaan, mengulangi ucapan pasien dengan menggunakan kata kata sendiri,
memfokuskan pembicaraan, menganjurkan pasien untuk menguraikan persepsinya
dan memberikan kesempatan kepada pasien memulai pembicaraan. Keterampilan
tersebut,
akan
dipraktekkan
sampai
kompetensi
dicapai.
Egan
(1990)
memperhatikan seringkali tidak memiliki keterampilan dasar untuk menolong
(keterampilan interpersonal ).
c.
Kurangnya kerangka konseptual
Dunn (1991) Perawat yang menunjukkan kompetensi dalam penerapan
keterampilan interpersonal kadang-kadang dapat menggunakan cara yang khusus
(dikutip oleh Ellis,1999). Dibutuhkan sebuah kerangka teoritis yang memberikan
informasi dan menyediakan sebuah struktur untuk analisis, refleksi dan evaluasi
interaksi. Upaya untuk memahami hubungan tanpa sebuah konsep adalah hal
yang bemasalah. Adalah penting bagi perawat untuk mengkonseptualisasikan
apa yang sedang perawat lakukan untuk memastikan bahwa keterampilan
digunakan dengan cara yang koheren dan strategis. Dan akan terungkap dalam
model kerangka konseptual yang jelas seperti model keperawatan Orem (1985),
dimana area kerja perawat adalah membina dan mempertahankan hubungan
19
terapeutik perawat-pasien menentukan kapan sesorang membutuhkan bantuan,
memperhatikan respon pasien (Jumadi,1999)
Model Betty Neuman (1982)
meletakkan dasar bagi komunikasi terbuka antara perawat dan pasien dalam
keterlibatan perawat yang efektif. Model yang diterapkan ini, berfokus pada
individu dan respon atau reaksi individu terhadap stress termasuk faktor-faktor
yang mempengaruhi dan kemampuan adaptasi pasien (Gaffar,1999).
d.
Kurangnya kejelasan tujuan
Hubungan yang efektif akan mempunyai angka keberhasilan dalam membuat
pilihan yang benar pada situasi-situasi yang dihadapi karena perawat mengetahui
dengan jelas tentang tujuan atau maksud dari setiap interaksi
(Ellis,1999). Ini
memungkinkan untuk membeda-bedakan dan memilih pilihan yang cocok dengan
situasi tertentu. Biasanya bukan perawat yang menentukan tujuan interaksi tetapi
kebutuhan pasien. Proses ini, membutuhkan kepekaan dan empati agar perawat
mampu membaca situasi secara tepat dan menilai apa yang diperlukan serta
mengetahui tujuan yang jelas, dan melakukan secara strategis.
2.3
Persiapan Tindakan Operasi
Tindakan pre operasi penting sekali untuk memperkecil resiko operasi karena
hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan pasien
dan persiapan pre operasi (Brunner & Suddarth, 2002). Dalam persiapan
ditentukan indikasi atau kontra indikasi operasi,
toleransi pasien terhadap
tindakan bedah dan ditetapkan waktu yang tepat untuk melaksanakan
pembedahan. Menurut Lukman dan Sorensen (1993) tindakan keperawatan pre
20
operasi yang dilakukan setelah diputuskan melakukan pembedahan adalah untuk
mempersiapkan pasien agar penyulit paska bedah dapat dicegah sebanyak
mungkin. Tindakan bedah adalah upaya yang dapat mendatangkan stress karena
terdapat ancaman terhadap tubuh, integritas dan terhadap jiwa seseorang. Perawat
berada dalam posisi untuk memberikan bantuan kepada pasien agar bisa
menyesuaikan dengan stressor (Meyer & Gray, 2001).
2.3.1
Persiapan mental
Persiapan mental pasien sebelum menjalani tindakan operasi meliputi tiga hal
penting yaitu :
a.
Informasi
Menurut Long (1996),
cemas.
informasi merupakan fungsi untuk mengurangi rasa
Pasien yang menerima informasi yang benar sebelum menghadapi
prosedur tindakan, tujuan operasi dan efek sampingnya lebih dapat melakukan
perawatan yang mandiri (Keliat,1998). Adapun informasi yang harus diterima
pasien meliputi prosedur dan resiko yang mungkin terjadi, alternatif tindakan yang
dapat dipilih, perubahan bentuk dan penampilan,
anestesi yang digunakan (
kondisi pada periode pasca operasi dan biaya operasi ).
b.
Dukungan
Merupakan dukungan dari petugas kesehatan dan terutama dari keluarga. Dari
petugas kesehatan dapat berupa informasi tentang operasi serta cara kerja yang
profesional dalam mempersiapkan operasi. Sedangkan dari keluarga dapat berupa
kasih sayang, doa, kehadiran, dan keuangan.
21
c.
Post op Exercise
Misalnya diagfragmatic breathing, turning and leg exercise,
dsb.
Post op
exercise dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien dalam menghadapi operasi.
2.3.2
Persiapan fisik
Persiapan fisik meliputi persiapan berbagai sistem tubuh dan organ, keadaan gizi
pasien, pemeriksaan laboratorium, foto dan pemasangan alat perawatan sesuai
prosedur operasi serta penyulit pasca bedah lainnya yang mungkin timbul.
2.3.3
Persetujuan tindakan medik
Merupakan perjanjian legal antara dokter dan pasien yang harus ditanda tangani
oleh pasien / orang tua / wali sebelum dokter melakukan tindakan (Appelbaum,
1987).
2.4
Konsep Kecemasan
2.4.1 Pengertian Kecemasan
Kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan atau ketakutan yang tidak
jelas dan hebat. Hal ini terjadi sebagai reaksi terhadap sesuatu yang dialami oleh
seseorang (Nugroho, 2008).
Kecemasan merupakan gangguan alam perasaan (affective) yang ditandai dengan
perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan tidak
mengalami gangguan dalam menilai realitas (masih baik), kepribadian tetap utuh
dan prilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-batas normal (Hawari, 2001).
22
2.4.2
Rentang Respon dan Proses Adaptasi Terhadap Cemas
Stuart dan Sundeen (2000) mengatakan rentang respon individu berfluktuasi
antara respon adaptif dan maladaptif seperti :
Adatif
Maladatif
Antisipasi
Ringan
Gambar 2.1
Sedang
Berat
Panik
Rentang Respon Adaptif dan Maladaptif
Roy (1992) mengatakan manusia mahluk yang unik karenanya mempunyai respon
yang berbeda-beda terhadap cemas tergantung kemampuan adaptasi ini
dipengaruhi oleh pengalaman berubah dan kemampuan koping individu. Menurut
Stuart
& Sundeen (2000) koping adalah
mekanisme mempertahankan
keseimbangan dalam menghadapi stress. Mekanisme koping berdasarkan
penggolongannya dibagi menjadi dua yaitu :
a.
Mekanisme Koping Adaptif
Adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan,
belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain,
memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan
aktivitas konstruktif.
23
b.
Mekanisme Koping Maladaptif
Adalah mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah
pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.
Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan dan
menghindar.
2.4.3
Tingkat Kecemasan
Menurut Stuart & Sundeen (2000), tingkat kecemasan dibagi menjadi empat
tingkatan yaitu :
a.
Ansietas ringan
Pada fase ini pasien akan merasa :
1.
Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari.
2.
Kewaspadaan meningkat.
3.
Persepsi terhadap lingkungan meningkat.
4.
Dapat menjadi motivasi positif untuk belajar dan menghasilkan kreativitas.
5.
Respon kognitif tampak mampu menerima rangsangan yang kompleks,
konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif dan
terangsang untuk melakukan tindakan.
6.
Respon prilaku dan emosi terlihat tidak dapat duduk tenang dan kadang–
kadang suara meninggi.
24
b.
Ansietas sedang
Pada fase ini akan muncul respon sebagai berikut :
1.
Respon fisiologis terlihat sering nafas pendek, tekanan darah meningkat,
mulut kering, anoreksia, sakit kepala, letih dan sering berkemih.
2.
Respon kognitif tampak memusatkan perhatiannya pada hal yang penting
dan mengesampingkan yang lain, lapang persepsi menyempit, dan
rangsangan dari luar tidak mampu diterima.
3.
Respon perilaku dan emosi terlihat gerakan tersentak–sentak, terlihat lebih
tegang, bicara banyak, dan lebih cepat, susah tidur dan perasaan tidak aman.
c.
Ansietas berat
Pada fase ini individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja serta
mengabaikan hal yang lain, dan respon yang muncul antara lain :
1.
Respon fisiologis tampak nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik,
berkeringat dan sakit kepala, pengelihatan kabur, serta tampak tegang.
2.
Respon kognitif tampak tidak mampu berfikir berat dan membutuhkan
banyak pengarahan/tuntunan, serta lapang persepsi menyempit.
3.
Respon perilaku dan emosi tampak adanya perasaan terancam yang
meningkat dan komunikasi terganggu (verbalisasi cepat).
d.
Ansietas sangat berat / panik
Pada fase ini respon yang muncul antara lain :
1.
Respon fisiologis tampak nafas pendek, rasa tercekek, sakit dada, pucat,
hipotensi, serta rendahnya koordinasi motorik.
25
2.
Respon kognitif terjadi gangguan realitas, tidak dapat berfikir logis, persepsi
terhadap lingkungan mengalami distorsi dan ketidakmampuan memahami
situasi.
3.
Respon perilaku dan emosi terlihat mengamuk dan marah, ketakutan,
berteriak – teriak, kehilangan kendali / kontrol diri, perasaan terancam serta
dapat berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
2.4.4
Faktor Pencetus Kecemasan
Faktor yang dapat menjadi pencetus seseorang merasa cemas dapat berasal dari
diri sendiri (faktor internal) maupun dari luar dirinya (faktor eksternal). Namun
demikian pencetus ansietas dapat dikelompokkan kedalam dua kategori:
a.
Ancaman terhadap integritas diri, meliputi ketidakmampuan fisiologis atau
gangguan dalam melakukan aktivitas sehari–hari guna pemenuhan
kebutuhan dasarnya.
b.
Ancaman terhadap sistem diri yaitu adanya sesuatu yang dapat mengancam
terhadap identitas diri, harga diri, kehilangan status/peran diri dan hubungan
interpersonal.
2.4.5
Dampak Kecemasan
Dampak yang paling umum dari kecemasan adalah rasa tidak nyaman baik secara
fisik maupun secara psikologis (Hawari, 2008). Kecemasan itu adalah suatu
proses melelahkan karena memerlukan tenaga tubuh, sumber-sumber fisik dan
psikologis (Rasmun, 2004). Dampak dari kecemasan terhadap integritas dan
kesehatan seseorang adalah menurunnya daya tahan tubuh karena pada saat
26
mengalami kecemasan maka tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang
mempunyai efek menekan sistem kekebalan tubuh (Wardhana, 2010).
2.4.6
Pengukuran Kecemasan
Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan digunakan alat ukur
kecemasan. Ada dua jenis alat ukur yang sering di gunakan untuk menilai tingkat
kecemasan, alat ukur yang sering digunakan adalah Halmiton Anxiety Rating
Scale (HARS) dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS).
a.
Alat ukur HARS
Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya
symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS
terdapat 14 symptoms yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan.
Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (Nol Present) sampai
dengan 4 (severe). Penilaian kecemasan terdiri dari 14 item, meliputi : perasaan
cemas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan, perasaan
depresi, gejala somatik, gejala sensorik, gejala kardiovaskuler, gejala pernafasan,
gejala gastroinstensinal, gejala urogenital, gejala vegetative, dan perilaku sewaktu
wawancara. Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dan
kategori : nilai 0= tidak ada gejala sama sekali, 1= satu dari gejala yang ada, 2=
sedang atau separuh gejala yang ada, 3= berat/lebih dari setengah gejala yang ada,
4= sangat berat/semua gejala ada. Masing-masing score dari ke 14 pertanyaan
tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat
kecemasan seseorang yaitu: <6= tidak ada kecemasan, 7-14= kecemasan ringan,
15-27= kecemasan sedang, >27= kecemasan berat.
27
b.
Alat ukur DASS
Menurut Hardjanah 1994 (dalam Sriati 2008) DASS adalah seperangkat skala
subyektif yang dibentuk untuk mengukur status emosional negatif dari depresi,
kecemasan dan stress. DASS 42 dibentuk tidak hanya mengukur secara
konvensional mengenai status emosional, tetapi untuk proses yang lebih lanjut
untuk pemahaman, pengertian, dan pengukuran yang berlaku dimanapun dari
status emosional secara signifikan biasanya digambarkan dengan stress. DASS
baik digunakan untuk individu maupun kelompok untuk tujuan penelitian.
Pengukuran skala kecemasan menilai gairah otonom, efek otot rangka, kecemasan
situasional, dan pengalaman subjektif yang mempengaruhi cemas. Alat ukur ini
terdiri dari 14 pertanyaan. Masing-masing pertanyaan diberikan penilaian (score)
antara 0-3, yang artinya adalah : nilai 0 = tidak pernah, 1 = kadang-kadang, 2 =
lumayan sering, 3 = sering sekali. Masing-masing score dari ke 14 pertanyaan
tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat
kecemasan seseorang yaitu : total score 0-7 = tidak ada kecemasan, 8-9 =
kecemasan ringan, 10-14 = kecemasan sedang, 15-19 = kecemasan berat, >20 =
kecemasan sangat berat (Lovibond, 1995).
Dari 2 jenis alat ukur kecemasan diatas, alat ukur dengan menggunakan DASS
yang dipilih dan dianggap sesuai dengan penelitian ini. DASS menggunakan
klasifikasi penilaian yang lebih jelas dan lebih mudah dipahami, setiap item
pertanyaan DASS lebih menggali kondisi psikologis yang dirasakan pasien yang
mencirikan pasien yang sedang mengalami kecemasan.
28
2.4.7
Hubungan Terapeutik Perawat-Pasien dengan Tingkat Kecemasan
Penerapan hubungan terapeutik perawat-pasien sangat berpengaruh terhadap
tingkat kecemasan pasien pre operasi. Keberhasilan hubungan tersebut sangat
dipengaruhi oleh kemampuan perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan
langsung kepada pasien.
Status pasien dalam hubungan perawat-pasien
merupakan hubungan interdependent dan perawat
memberikan alternatif dan
membantu pasien dalam proses pemecahan masalah yang dihadapi (Cook dan
Fontaine,1987). Dalam hubungan terapeutik tersebut, perawat harus mampu
membina hubungan saling percaya serta tindakan yang dilaksanakan
dalam
konteks kehangatan dan pengertian. Maka berdasarkan hal tersebut penulis ingin
membuktikan kebenaran teori dengan kenyataan dilapangan.
Berdasarkan hasil penelitian Dewi,Suarniati,Ismail (2013) di ruang perawatan
bedah RSUD kota Makasar pada bulan Januari - Februari 2013 menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh komunikasi terapeutik terhadap penurunan tingkat
kecemasan pasien pada pasien pre operasi di RSUD kota makasar. Dalam menilai
komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat, peneliti mengukur dari segi
dimensi respon dan dimensi tindakan. Dari dimensi respon dan dimensi tindakan
itulah peneliti dapat mengetahui kepedulian dan kepekaan perawat untuk
menempatkan diri dan memahami perilaku yang menunjukan perhatian perawat
terhadap pasien yaitu dalam tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh perawat
dalam merespon suatu rangsangan. Hasil penelitian menunjukan tingkat dimensi
respon didapat nilai (p = 0,03) dan nilai tingkat dimensi tindakan yaitu (p =
0,023), dimana hasil tersebut lebih kecil dari tingkat kemaknaan yang ditentukan
29
yaitu (< α = 0,05). Hasil penelitian tersebut menunjukkan 27 orang (60,7%)
memiliki respon baik setelah diberikan intervensi komunikasi teraupetik.
Download