Paper Title (use style: paper title)

advertisement
Analisis Residu Paraquat dan Pengaruh.…
ANALISIS RESIDU PARAQUAT DAN PENGARUH PAPARAN PARAQUAT TERHADAP
POPULASI MIKROB PADA TANAH PERKEBUNAN DESA BATETANGNGA
SULAWESI BARAT
Sahribulan1), Ni’matuzahroh1), Tini Surtiningsih1), dan Ganden Supriyanto2)
1)
Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
[email protected]
2)
ABSTRAK
Paraquat adalah herbisida yang digunakan secara luas untuk mengontrol pertumbuhan gulma. Penggunaan
paraquat dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem termasuk mikroorganisme
tanah karena keberadaan residunya di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk: mengevaluasi kadar
residu herbisida paraquat pada tanah perkebunan Desa Batetangnga, Sulawesi Barat yang terpapar herbisida
paraquat dan pengaruh paparan herbisida paraquat terhadap populasi mikrob heterotrofik (bakteri, yeast,
kapang) bakteri yang berperan sebagai dekomposer, pelarut fosfat, dan nitrifikasi pada tanah perkebunan.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional. Kadar residu herbisida paraquat dianalisis menggunakan
HPLC LC-MS/MS. Pengaruh paparan paraquat terhadap populasi mikroba dievaluasi dari nilai Total Plate
Count (CFU/g Tanah) mikrob heterotrofik (bakteri, yeast, kapang), bakteri yang berperan sebagai
dekomposer, pelarut fosfat, dan nitrifikasi pada tanah yang terpapar dan yang tidak terpapar herbisida
paraquat. Data penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu paraquat
pada tanah perkebunan Desa Batetangnga, Sulawesi Barat tidak terdeteksi dengan limit deteksi = 100 ppm.
Nilai TPC populasi mikrob heterotrofik (bakteri, yeast, kapang), bakteri yang berperan sebagai
dekomposer, pelarut fosfat dan nitrifikasi tanah yang tidak terpapar herbisida paraquat masing-masing
sebesar 7,17; 5,54 dan 4,05 (CFU/g), sedangkan tanah yang terpapar herbisida paraquat, masing-masing
sebesar 5,50; 3,86 dan 3,59 (CFU/g). Paparan herbisida paraquat pada tanah perkebunan Desa Batetangnga,
Sulawesi Barat dapat menurunkan populasi mikroba tanah.
Kata kunci: herbisida, paraquat, populasi mikrob, residu
PENDAHULUAN
Tingkat pencemaran lingkungan perairan dan
tanah semakin tinggi dan kompleks. Pencemaran ini
diakibatkan masih maraknya penggunaan bahan-bahan
kimia berbahaya di tengah-tengah masyarakat maupun
industri, serta belum baiknya sistem pengelolaan terhadap
limbah yang dihasilkan. Salah satu bahan kimia yang
memberikan kontribusi cukup besar sebagai sumber
pencemaran adalah herbisida. Herbisida adalah salah satu
jenis pestisida yang mengandung senyawa kimia beracun
dan digunakan untuk mengendalikan gulma atau
tumbuhan penggangu yang tidak dikehendaki (Ledoh
dkk., 2010).
Penggunaan paraquat yang semakin meningkat
dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem karena keberadaan residunya di dalam tanah.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Stanley et al. (2013)
menunjukkan bahwa ketika herbisida paraquat
diaplikasikan, herbisida paraquat terbukti berpengaruh
tidak hanya terhadap gulma tetapi pada organisme non
target, termasuk mikroorganisme tanah. Biomassa
mikroba tanah memainkan peran yang penting dalam
ekosistem tanah yaitu dalam siklus nutrisi dan
dekomposisi (De Lorenzo et al., 2001). Paraquat terbukti
menurunkan populasi dan keragaman bakteri (Baboo et
al., 2013; Stanley et al., 2013). Keberadaan paraquat di
dalam tanah (20 ppm) mampu menghambat pertumbuhan
bakteri Azotobacter dan Rhizobium yang berperan dalam
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
fiksasi nitrogen sehingga dapat mempengaruhi kesuburan
tanah. Paraquat juga diketahui menghambat pertumbuhan
bakteri E.coli dan alga di dalam tanah (Riadi dkk., 2011).
Penelitian Stanley et al. (2013) tentang pengaruh
aplikasi herbisida (atrizine dan paraquat) terhadap
polulasi bakteri tanah menunjukkan penurunan populasi
pada minggu ke 4 dan meningkat kembali pada minggu
ke 6 dan ke 8. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa
bakteri yang mampu bertahan hidup dengan kehadiran
herbisida, sehingga bakteri tersebut memungkinkan
memiliki potensi dalam proses degradasi residu herbisida.
Informasi lain mengenai penggunaan herbisida
berbahan aktif paraquat yaitu gramoxone juga telah lama
digunakan oleh masyarakat di Desa Batetangnga,
Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.
Herbisida ini telah digunakan selama puluhan tahun.
Namun, karena kurangnya informasi dan pengetahuan
masyarakat setempat mengenai pengaruh negatif yang
ditimbulkan oleh paraquat sehingga herbisida ini masih
digunakan. Berdasarkan informasi yang diperoleh
melalui wawancara langsung dengan para pemilik
perkebunan, bahwa hasil perkebunan mengalami
penurunan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh
paparan residu paraquat yang berpengaruh terhadap
berkurangnya keragaman mikroorganisme heterotrofik
yang menyebabkan menurunnya kesuburan tanah,
terutama mikroba yang berperan sebagai dekomposer,
188
Analisis Residu Paraquat dan Pengaruh.…
pelarut fosfat, dan bakteri nitrifikasi yang berperan dalam
siklus N untuk kesuburan tanaman.
METODE PENELITIAN
Media uji yang digunakan terdiri dari: Nutrient
Agar (Oxoid), Potato Dextrose Agar (Oxoid), Saboroud
Dextrose Agar, Carboxylmetyl Cellulose (CMC), MgSO4,
CaCl2, KH2PO4, K2HPO4, NH4NO3, FeCl3, Ca3PO4,
(NH4)2SO4, MnSO4, amilum, susu skim, minyak sayur,
yeast ekstrak, Heptafluorobutyric Acid (HFBA),
methanol 50%, dan akuades. Alat yang digunakan terdiri
dari: Laminar Air Flow mikropipet, blue tipe mikropipet,
neraca analitik, neraca portable, cawan Petri, magnetic
stirrer, colony counter, mikroskop, inkubator dan HPLC
LC-MS/MS.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu
S2 Biologi, Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur.
Analisis residu paraquat Angler bioChemLab, dimulai
pada Juli sampai dengan November 2015. Sampel tanah
diperoleh dari tanah perkebunan di Desa Batetangnga
Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.
Titik pengambilan sampel tanah dilakukan secara
sistematis yaitu sistem diagonal. Titik koordinat
pengambilan sampel tanah terpapar paraquat (A1, B1,
C1, D1, 1) dan sampel tanah tidak terpapar paraquat (A2,
B2, C2, D2, 2) menggunakan GPS ( Tabel 1).
Tabel 1 . Titik Koordinat Pengambilan Sampel
Titik
X1
Y1
A1
B1
C1
D1
1
A2
B2
C2
E119°24’22.404
E119°24’21.596
E119°24’21.599
E119°24’22.408
E119°24’22.004
E119°24’17.440
E119°24’16.631
E119°24’16.634
S3°23’56.119
S3°23’56.121
S3°23’57.421
S3°23’57.419
S3°23’56.759
S3°23’53.183
S3°23’53.185
S3°23’54.485
D2
2
E119°24’17.443
E119°24’17.032
S3°23’54.483
S3°23’53.849
Penentuan konsentrasi residu paraquat pada
sampel tanah (Angeler BioChemLab), sebanyak 0,1 g
sampel tanah diekstraksi menggunakan pelarut
Heptafluorobutyric Acid (HFBA) dalam methanol 50%.
Sampel
dan
pelarut
kemudian
dihomogenkan
menggunakan vortex, selanjutnya disentrifuge untuk
memisahkan antara supernatan dan pelet. Supernatan
diambil dan diinjekkan di HPLC LC-MS/MS.
Pengamatan Pengaruh Paraquat Terhadap Populasi
Mikrob Heterotrofik
Sampel tanah terpapar herbisida paraquat
(gramoxone) dan sampel tanah kontrol masing-masing
ditimbang sebanyak 10 g dilarutkan dalam larutan garam
fisiologis 90 mL, dihomogenkan menggunakan spatula
kaca, di vortex dan diendapkan selama 5 menit. Suspensi
diambil dari masing – masing botol sebanyak 1 mL
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
dimasukkan ke dalam 9 mL larutan garam fisiologis steril
dan dilakukan pengenceran berseri hingga 10 -7. Tiga
pengenceran 10-5, 10-6, dan 10-7 untuk isolasi bakteri
sedangkan 10-1, 10-2, dan 10-3 untuk isolasi kapang dan
yeast, Tiga pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-5 untuk isolasi
bakteri amilolitik, selulolitik, proteolitik, lipolitik, pelarut
fosfat dan penambat nitrogen kemudian di plate dengan
metode pour plate.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Residu Paraquat
Hasil uji analisis residu paraquat pada sampel
tanah menunjukkan bahwa pada sampel tanah tidak
ditemukan adanya residu paraquat dengan limit deteksi
100 ppm (Gambar 1). Dalam pengujian residu paraquat
pada sampel tanah dilakukan dengan komponen
pembanding antara lain: standard in solvent (SIS),
sampel tanah yang ditambahkan pada awal ekstraksi
(standar adisi (SA)-pre) dan sampel tanah pada akhir
ekstraksi (standar adisi (SA)-post).
Konsentrasi paraquat yang ditambahkan pada
pengujian mulai dari konsentrasi 1,10,dan 100 ppm. pada
SIS konsentrasi 1 ppm bisa terdeteksi atau muncul sinyal
paraquat pada HPLC LC-MS/MS, pada SA-post sinyal
paraquat terdeteksi pada konsentrasi 10 ppm, sedangkan
pada SA-pre sinyal paraquat terdeteksi pada konsentrasi
100 ppm. Tidak terdeteksinya paraquat pada sampel
tanah diduga karena tingkat adsorpsi tanah terhadap
paraquat sangat tinggi (Tabel 2).
a
(a)
(b)
Gambar 1. a) Hasil analisis paraquat pada sampel tanah,
b) hasil analisis paraquat pada standar
adisi (SA-Pre) 100 mg/L
189
Analisis Residu Paraquat dan Pengaruh.…
Tabel 2. Hasil analisis residu paraquat pada sampel tanah
dengan HPLC LC-MS/MS.
Nama sampel
Tipe
sampel
Waktu
retensi
Area
Puncak
1
Standar in
solvent (SIS) 1
mg/L
Standar in
solvent (SIS)
10 mg/L
Standar in
solvent (SIS)
100 mg/L
Standar adisi
(SA-Pos) 1
mg/L
Standar adisi
(SA-Pos) 10
mg/L
Standar adisi
(SA-Pos) 100
mg/L
Standar adisi
(SA-Pre) 1
mg/L
Standar adisi
(SA-Pre) 10
mg/L
Standar adisi
(SA-Pre) 100
mg/L
Sampel tanah
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
Standar
(Calc.
Point)
4.215
14.768
1.290
4
5
6
7
8
9
10
991.472
8.021
4.184
1.177.99
96.259
4.162
7.826
1.046
Gambar
4.292
97.386
7.525
4.379
864.644
58.235
ND
ND
ND
ND
ND
ND
4.232
23.108
2.411
ND
ND
ND
Pengaruh Paparan Herbisida Paraquat Terhadap
Populasi Mikrob Heterotrofik (Bakteri, Yeast, dan
Kapang) dan Bakteri yang Berperan Sebagai
Dekomposer, Pelarut Fosfat, dan Nitrifikasi
Hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai
pengaruh paparan herbisida terhadap populasi mikrob
heterotrofik (kapang, yeast, dan bakteri) dan bakteri yang
berperan sebagai dekomposer, pelarut fosfat, dan
nitrifikasi dari cuplikan sampel tanah yang terpapar
herbisida paraquat dan tanah yang tidak terpapar
herbisida paraquat, menunjukkan adanya perbedaan. Dari
hasil Total Plate Count populasi mikrob heterotrofik
(kapang, yeast, dan bakteri) dan bakteri yang berperan
sebagai dekomposer, pelarut fosfat, dan nitrifikasi dari
cuplikan sampel tanah yang terpapar herbisida paraquat
lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang tidak
terpapar herbisida paraquat (Gambar 2 dan 3). Hal ini
diduga bahwa adanya pengaruh paparan herbisida
terhadap populasi mikrob pada tanah tersebut. Meskipun
pada analisis residu yang terpapar paraquat tidak
ditemukan residu namun diduga bahwa tidak
ditemukannya residu disebabkan oleh tanah tersebut
memiliki sifat absorbansi yang kuat terhadap paraquat
sesuai dengan perlakuan pengujian saat analisis residu.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
(CFU/g Tanah) mikroba
heterotrofik
3
4.197
10log
2
10log (CFU/g Tanah) mikroba
heterotrofik
No
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Tanah…
2. Jumlah Total Plate Count mikroba
heterotrofik (kapang, yeast, dan bakteri)
dari sampel tanah terpapar herbisida
paraquat dan sampel tanah kontrol.
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Tanah Kontrol
Tanah Terpapar
Bakteri
Kapang
Yeast
Gambar 3. Jumlah Total Plate Count bakteri yang
berperan sebagai dekomposer, pelarut
fosfat, dan nitrifikasi
Berdasarkan hasil penelitian Muktamar dkk.
(2003) herbisida paraquat bila terdisosiasi akan
membentuk kation dalam larutan tanah dan akan difiksasi
oleh pertukaran kation pada muatan negatif permukaan
koloid tanah. Sebagai herbisida kationik, paraquat akan
terionisasi sempurna dalam larutan tanah membentuk
kation divalen sehingga menyebabkan fiksasi residu
herbisida ini sangat kuat teradsorpsi dan menjadi tidak
aktif di dalam tanah, tetapi akan menyebabkan
konsentrasi paraquat di dalam tanah meningkat.
Meskipun paraquat tidak aktif di dalam tanah, kelarutan
paraquat di dalam air sangat tinggi. Sehingga apabila
datang hujan, paraquat akan terbawa oleh aliran perkolasi
ke dalam tubuh tanah dan masuk ke dalam sistem
drainase sehingga dapat mencemari lingkungan
(Nurhayati, 2012).
Selain itu, tidak ditemukannya residu herbisida
bisa disebabkan oleh pengaruh dari sinar matahari atau
terjadinya fotodegradasi. Mulyono (2007) dalam
penelitiannya mengenai studi kinetika degradasi paraquat
dalam lingkungan persawahan Boyolali Jawa Tengah
menunjukkan bahwa paraquat yang terpapar sinar
matahari selama 18 hari mengalami degradasi hingga
190
Analisis Residu Paraquat dan Pengaruh.…
49,21%. Penelitian yang sama oleh Wogo, dkk. (2010) di
tanah pertanian Kabupaten Kupang menunjukkan bahwa
sinar matahari dapat meningkatkan laju degradasi
paraquat.
Absorpsi herbisida akan meningkat seiring dengan
meningkatnya kandungan bahan organik, liat, dan
kapasitas tukar kation (KTK) (Tu, 2001). Hasil analisis
karakteristik sifat kimia tanah dari sampel tanah yang
terpapar herbisida menunjukkan bahwa kandungan bahan
organik, liat, dan kapasitas tukar kation (KTK) dari
sampel tanah rendah (Tabel 3).
Tabel 3. Karakteristik sifat fisika-kima tanah
Nilai kandungan tanah
Sifat tanah
pH H2O
pH KCl
C. organik (%)
N. total (%)
Bahan organik
C/N
P. Bray1 (mg kg-1)
K (me/100 g)
Na (me/100 g)
Ca (me/100 g)
Mg (me/100 g)
Kapasitas tukar kation
(me/100 g)
Kejenuhan basa (%)
Pasir (%)
Debu (%)
Liat (%)
Tekstur
Tanah
terpapar
paraquat
4.6
4.0
1.50
0.17
2.58
9
3.65
3.37
1.95
2.06
0.41
14.64
53
62
23
15
Lempung
berpasir
Tanah tidak
terpapar
paraquat
5.82
4.67
2.33
0.48
4.01
5
8.65
1.02
0.65
3.88
1.09
22.97
29
12
49
39
Lempung liat
berdebu
Penelitian yang telah dilakukan oleh Muktamar
dkk. (2006) tentang adsorpsi herbisida paraquat oleh
tanah Dystrandept, Paleudult, dan Psamment pada
berbagai konsentrasi NaCl dan MgCl2 menyebutkan
bahwa keberadaan unsur Mg dan Na didalam tanah
memiliki peranan terhadap adsorpsi herbisida di dalam
tanah. Hal ini terbukti dengan penambahan NaCl dan
MgCl2 mengakibatkan peningkatan adsorpsi paraquat
pada pada masing-masing tanah yang diperlakukan.
Selain itu, unsur Ca juga merupakan adsorben yang baik
dalam menjerap herbisida di dalam tanah. Berdasarkan
kriteria sifat kimia tanah menunjukkan bahwa kandungan
unsur Mg dan Ca sangat rendah tanah, tetapi kandungan
unsur Na sangat tinggi (Tabel 3).
Gambar 2 menunjukkan bahwa adanya pengaruh
paparan herbisida paraquat terhadap populasi mikrob
heterotrofik (bakteri, kapang, dan yeast) dibandingkan
dengan populasi mikrob heterotrofik tanah kontrol. Nilai
log TPC dari populasi mikrob heterotrofik yaitu bakteri,
kapang dan yeast tanah kontrol masing-masing sebesar
7,17; 5,54 dan 4,05 (CFU/g) sedangkan tanah yang
terpapar herbisida paraquat masing-masing sebesar 5,50;
3,86 dan 3,59 (CFU/g). Gambar 3 juga menunjukkan
adanya pengaruh paparan herbisida paraquat terhadap
populasi bakteri yang berperan sebagai dekomposer,
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
pelarut fosfat, dan nitrifikasi dibandingkan dengan
populasi bakteri tanah kontrol. Nilai TPC dari populasi
bakteri amilolitik, selulolitik, proteolitik, lipolitik, pelarut
fosfat, dan penambat nitrogen tanah kontrol masingmasing sebesar 7,34; 7,04; 7,48; 7,04; 7,77 dan 5,00.
Sedangkan tanah yang terpapar herbisida paraquat
masing-masing sebesar 6,42; 6,04; 6,25; 6,41; 6,29; dan
4,85.
Sahid et al. (1992) menyatakan bahwa herbisida
bersifat toksik bagi tanaman maupun mikroorganisme,
berdasarkan hasil penelitiannnya menunjukkan bahwa
pemberian alaklor dan paraquat dengan konsentrasi 250
ppm pada tanah gambut menurunkan populasi kapang
dan bakteri masing-masing sebsar 78% dan 95%.
Umumnya pemberian paraquat dengan konsentrasi yang
tinggi akan menghambat bergagai macam proses yang
dilakukan oleh mikrob di dalam tanah. Paraquat yang
diaplikasikan ke tanah dengan konsentrasi 5000 µg/gm
terbukti menghambat proses nitrifikasi sebesar 40%
selama 28 hari masa inkubasi (Smith dan Mayfield,
1977).
Sebiomo et al. (2011) pada penelitiannya
mengenai efek empat jenis herbisida (atrizin, primextra,
paraquat, dan glifosat) terhadap populasi mikrob, bahan
organik tanah, dan aktivitas dehidrogenase pada lahan
yang belum pernah diberikan herbisida menunjukkan
bahwa penambahan herbisida pada lahan menyebabkan
kandungan bahan organik dan populasi mikrob
meningkat dalam beberapa minggu, namun mengalami
penurunan dibandingkan kontrol. Peningkatan populasi
mikrob ini sebagai reaksi adaptasi terhadap stres dari
peningkatan jumlah herbisida yang diberikan.
SIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai
beriku.
1. Residu paraquat pada tanah perkebunan Desa
Batetangnga, Kecamatan Binuang, Kabupaten
Polman, Sulawesi Barat tidak terdeteksi dengan limit
deteksi = 100 ppm.
2. Paparan herbisida paraquat menurunkan jumlah
populasi mikrob heterotrofik (bakteri, yeast, kapang)
dan bakteri yang berperan sebagai dekomposer,
pelarut fosfat dan nitrifikasi. Nilai TPC populasi
mikrob heterotrofik (bakteri, yeast, kapang) dan
bakteri yang berperan sebagai dekomposer, pelarut
fosfat dan nitrifikasi tanah kontrol masing-masing
sebesar 7.17, 5.54 dan 4.05 (CFU/g) sedangkan tanah
yang terpapar herbisida paraquat masing-masing
sebesar 5.50, 3.86 dan 3.59 (CFU/g).
DAFTAR PUSTAKA
Baboo, M., Mamata, P., Alka S., Monty, K.., Jitesh, K.
M. and Amiya, K. P., 2013, Effect of Four
Herbicides on Soil Organic Carbon, Microbial
Biomass-C, Enzymes Activity and Microbial
Population in Agricultural Soil, International
Journal of Research in Environmental Science
and Technology, ISSN 2249–9695, 4(3): 100-112.
191
Analisis Residu Paraquat dan Pengaruh.…
De Lorenzo, M. E, Scott, G. I, Ross, P. E., 2001. Toxicity
of Pesticides to Aquatic Microorganisms: a
review. Environ. Toxicol. Chem. 20: 84-98.
Ledoh, S.M.F.., Hermania, E.W. dan Siti, A.S.A, 2010,
Laju Adsorpsi dan Desorpsi Paraquat pada Tanah
Pertanian Desa Oesao Kecamatan Kupang Timur,
Jurusan Kimia, Fakultas Sain dan Teknik
Universitas Nusa Cendana, Kupang-NTT,
Molekul, 5 (1): 1 – 9.
Muktamar, Z., Silmi, F. dan Nanik, S., 2003, Adsorpsi
Paraquat oleh Bahan Mineral Ultisol dan Entisol
pada Berbagai Konsentrasi, Jurnal Ilmu-Ilmu
Pertanian Indonesia, ISSN 1411-0067, 5 (2): 4047.
Muktamar, Z., Titin, R. dan Nanik, S., 2006, Adsorpsi
Herbisida Paraquat oleh Tanah Dystrandept,
Paleudult, dan Psamment pada Berbagai
Konsentrasi NaCl dan MgCl2, Jurnal Ilmu-Ilmu
Pertanian Indonesia, ISSN 1411-0067, 8 (1): 1930.
Nurhayati, 2012, Risk Assessment Herbisida Paraquat,
Program Studi Kimia, Jurusan Ilmu Kimia, Pasca
Sarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sahid, I., Ainon, H. and Paridah, A.M. 1992.Effects of
Paraquat and Alachlor on Soil Microorganisms in
Peat Soil. Pertanika 15: 121-125.
Sebiomo, A., Ogundero, V.W. and Bankole, S.A.
2011.Effect of Four Herbicides on Microbial
Population, Organic Matter and Dehydrogenase
Activity. African Journal of Biotechnology 10:
770-778.
Smith, E.A and C.I Mayfield, 1977, Effect of Paraquat on
Selected Microbial Activities in Soil, Departement
of Biology, University of Waterloo, Waterloo,
Ontario, Canada, 3: 333-343.
TU, 2001, Weed Control Method Handbook, Thenature
Conservancy, Version April 2001.
Wago, H.E., Sherlly, M.F.L., Philiphi de, L., 2010, Studi
Kinetika Dgradasi Paraquat (1,1-dimetil, -4,-4
bipiridilium) dalam Lingkungan Tanah Pertanian
Kabupaten Kupang, Jurusan Kimia, fakultas Sains
dan Teknik-UNDANA, Media Exacta, 10 (2).
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
192
Download