upaya meningkatkan hasil belajar lari sprint melalui variasi

advertisement
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LARI SPRINT MELALUI VARIASI
PEMBELAJARAN PADA SISWA KELAS VII SMP SWASTA AMAL BAKTI
MEDAN TAHUN AJARAN 2015/2016.
Prodi PendidikanJasmani Kesehatan Dan Rekreasi
Stok Bina Guna Medan
FAJAR SIDDIK SIREGAR
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar lari sprint melalui
variasi pembelajaran pada siswa kelas VII SMP Swasta Amal Bakti Medan tahun ajaran
2015/2016. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII-3 SMP Swasta Amal
Bakti yang berjumlah 40 siswa, yang diberikan tindakan berupa pengajaran melalui variasi
pembelajaran dimana dalam pembelajarannya menggunakan latihan ladder drill.
Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian tindakan kelas. Untuk
memperoleh data dalam penelitian ini dilakukan tes hasil belajar diakhir setiap siklus yang
berbentuk aplikasi penilaian teknik dasar lari sprint dengan pelaksanaan penelitian tes hasil
belajar ini dilaksanakan selama dua minggu atau dua kali pertemuan. Analisis data dilakukan
dengan reduksi data dan paparan data.
Setelah data terkumpul dilakukan analisis, maka diperoleh hasil analisisnya: Dari tes
hasil belajar sebelum menggunakan variasi pembelajaran(pre-test) diperoleh 12,5% dari 40
siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar. Kemudian diberikan penerapan melalui
variasi pembelajaran menggunakan alat ladder drill maka diperoleh tes hasil belajar di siklus
I sebanyak 20 orang siswa dengan nilai setelah dikonfersikan sebesar 50% telah mencapai
tingkat ketuntasan sedangkan 20 orang lainnya sebesar 50% belum mencapai tingkat
ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata hasil belajar adalah 67,77%. Namun di siklus I
belum memenuhi kriteria ketuntasan klasikal yang diharapkan. Maka dilakukanlah tes hasil
belajar siklus II dengan diperoleh data sebanyak 37 orang siswa dengan nilai setelah
dikonfersikan sebesar 92% yang telah mencapai ketuntasan belajar dan 3 orang lainnya masih
belum tuntas dengan nilai sebesar 8% dengan nilai rata-rata hasil belajar adalah 82,22%.
Dengan kata lain terdapat peningkatakan klasikal dari siklus I 67,77% menjadi 82,22% di
siklus II. Berdasarkan analisis data Dapat dikatakan Bahwa melalui Alat Bantu Ladder Drill
dapat meningkatkan Hasil Belajar Lari Sprint pada Siswa Kelas VII SMP Swasta Amal Bakti
Medan Tahun Ajaran 2015/2016.
Kata kunci: Alat Bantu Ladder Drill, Lari Sprint
A. PENDAHULUAN
Kualitas
ditentukan
oleh
cerdas, damai, terbuka dan demokrasi.
kehidupan
faktor
bangsa
pendidikan.
Pendidikan memegang peranan penting
untuk menciptakan kehidupan yang
Oleh karena itu pendidikan hendaknya
dikelola, baik secara kualitas maupun
kuantitas. Untuk dapat terwujudnya itu
semua ada banyak hal yang harus
diperhatikan.
Untuk
melaksanakan
pendidikan, dimulai dengan keadaan
inovatif,
tenaga pendidik sampai pada usaha
menghadapi setiap pelajaran. Setiap
peningkatan mutu pendidikan. Dimana
siswa harus dapat memanfaatkan ilmu
salah satunya adalah Pendidikan Jasmani
yang diperolehnya dalam kehidupan
dan Kesehatan.
sehari hari, untuk itu setiap pelajaran
Pendidikan
Jasmani
dan
kompetitif
dalam
dan
selalu dikaitkan dengan manfaatnya
Kesehatan merupakan mata pelajaran
dalam lingkungan sosial masyarakat.
yang tidak dapat dipisahkan dengan
Peran guru adalah sebagai fasilitator dan
kurikulum, yang bertujuan agar siswa
bukan sumber utama pembelajaran, hal
menjadi
ini terwujud dengan menempatkan siswa
terampil
aktifitas
fisik
kesegaran
dalam
dan
meningkatkan
Untuk menumbuhkan sikap aktif,
dan
inovatif, dan kompetitif dari siswa
dapat
tidaklah mudah, fakta yang tejadi adalah
gerak
guru dianggap sumber belajar yang
dasar yang mendukung sikap (afektif)
paling benar. Proses pembelajaran yang
dan perilaku (behavioral) hidup bersih
terjadi memposisikan siswa sebagai
dan sehat serta kesegaran jasmani.
pendengar ceramah guru. Akibatnya
Pendidikan
Jasmani
proses
disesuaikan
dengan
Pendidikan
Kesehatan,
peserta
mengembangkan
siswa.
sebagai subyek pendidikan.
Karena
melalui
jasmani
melakukan
Jasmani
didik
kemampuan
dan
Kesehatan
mengajar
cenderung
dan
membosankan dan menjadikan siswa
kebutuhan lingkungan sehingga bahan
malas untuk belajar. Sikap anak didik
pembelajaran Pendidikan Jasmani dan
yang pasif tersebut ternyata tidak hanya
Kesehatan khususnya di SMP dan
terjadi pada mata pelajaran tertentu saja
kegiatan
tetapi hampir pada semua mata pelajaran
bermain
keadaan
belajar
dalam
rangka
pembentukan kebiasaan hidup sehat dan
termasuk
segar serta membantu peserta didik
sebenarnya banyak cara yang dilakukan
mecapai pertumbuhan ke arah yang
untuk
optimal.
pedidikan jasmani siswa, salah satu
Dengan
pendidikan
meningkatkan
jasmani,
hasil
belajar
diberlakukannya
upaya untuk meningkatkan hasil belajar
kurikulum tingkat satuan pendidikan
siswa dengan cara perbaikan proses
(KTSP) 2006 di sekolah yang secara
belajar
khusus tujuannya untuk meningkatkan
keberhasilan
mutu pendidikan, menuntut guru dan
mengajar
siswa untuk bersikap aktif, kreatif,
keterampilan
mengajar.
Pencapaian
seorang
didukung
guru
oleh
dasar
dalam
beberapa
mengajar
diantaranya
yaitu
keterampilan
Pendidikan
Jasmnai
dan
Kesehatan
mengadakan variasi pembelajaran yang
hendaknya didukung dengan sarana dan
dapat diterima oleh peserta didik.
prasarana yang lengkap karena sarana
Atletik merupakan bagian pokok
merupakan salah satu bagian yang
dari aktifitas fisik dalam mata pelajaran
stategis
Pendidikan
Kesehatan
pembelajaran. Dengan kata lain, lengkap
(Penjaskes) dengan tujuan memberikan
dan tidak lengkapnya sarana prasarana
berbagai keterampilan gerak pada siswa.
disekolah turut mempengaruhi maksimal
Atletik
dan tidak maksimalnya ketercapaian
Jasmani
adalah
dan
salah
satu
cabang
dalam
pencapaian
olahraga yang dipertandingkan atau
tujuan
diperlombakan
atas
lengkap bisa memudahkan guru untuk
nomor-nomor jalan, lari, lempar, dan
mencapai target-terget tertentu yang
lompat (Aip Syarifuddin, 2002:2).
menjadi tujuan pembelajarannya. Begitu
Lari
yang
yang
sebaliknya, sarana prasarana yang tidak
berpindah tempat dengan gerakan maju
lengkap akan menyulitkan bagi guru
ke
dengan
mencapai target-terget pembelajarannya.
kecepatan penuh (sprint). Untuk siswa
Dalam peroses belajar mengajar
SMP, nomor lari 50 meter adalah salah
guru dituntut harus memiliki strategi
satu nomor lari yang diperaktekkan
agar siswanya dapat belajar secara
dengan menggunakan kecepatan yang
efektif dan efesien dalam mencapai
maksimal. Yang artinya siswa atau
tujuan yang diharapkan. Salah satu
seorang atlet harus dapat melakukan lari
langkah untuk memilih strategi itu guru
yang
harus
yang
gerakan
Sarana
badan
depan
adalah
meliputi
pembelajaran.
tujuan
dilakukan
secepat-cepatnya
dengan
menguasai
mengarahkan seluruh kekuatan dari awal
penyajian,
(start) sampai dengan melewati garis
penggunaan media pembelajaran yang
akhir (finish). Sesuai dengan pendapat
tepat. Untuk mengatasi masalah ini
Aip Syarifuddin (2002) mangatakan
maka guru dituntut dapat memperbaiki
bahwa “Lari jarak pendek adalah suatu
dan
cara lari dimana siswa atau atlet harus
materi pelajaran. Salah satu teknik yang
menempuh
seluruh
dengan
dapat digunakan untuk meningkatkan
kecepatan
semaksimal
mungkin”
minat dan prestasi belajar siswa ialah
jarak
(2002:41).
yang
teknik-teknik
memperbaharui
disebut
cara
dengan
penyajian
dengan variasi pembelajaran. Karena
Proses belajar yang dilakukan di
variasi pembelajaran tersebut membuat
sekolah khususnya untuk mata pelajaran
seseorang dapat mengangkat ide atau
informasi yang terkandung didalamnya
sekolah
dengan jelas.
ketuntasan minimal (KKM) pada nilai
Media sebagai proses sumber
informasi
bagi
anak
menerapkan
kriteria
siswa yaitu 70, namun masih banyak
harus
siswa yang memiliki nilai rata-rata yang
memadai dan sesuai dengan tujuan
rendah yaitu dibawah 70. Dengan hasil
pembelajaran
dicapai,
tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil
sehingga pendidik/guru dituntut untuk
belajar pelajaran penjas di kelas VII
dapat memilih dan menyediakan media
SMP Swasta Amal Bakti Medan masih
yang sesuai dengan kebutuhan sehingga
harus ditingkatkan. Berdasarkan hasil
proses belajar dapat terlaksana dengan
observasi dan wawancara dengan guru
baik.
pendidikan
yang
didik
telah
akan
jasmani
olahraga
dan
Penggunaan media tidak hanya
kesehatan, ternyata dari 40 orang siswa
membuat proses pembelajaran lebih
kelas VII SMP Swasta Amal Bakti
efisien, tetapi mareti pelajaran dapat
Medan ternyata hanya 5 orang siswa
diserap lebih mendalam. Siswa mungkin
yang telah memiliki ketuntasan belajar
sudah memahami suatu permasalahan
(12,5%) dan 35 orang siswa lainnya
melalui pembelajaran penjelasan guru,
belum
pemahaman itu akan lebih baik lagi jika
(87,5%).
diperkaya
dengan kegiatan melihat,
memiliki
Banyak
ketuntasan
faktor
belajar
yang
menyentuh, merasakan atau bahkan
mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu
mengalami melalui media.
motivasi,
minat,
bakat,
semangat,
Berdasarkan hasil pengamatan
kondisi fisik, sarana prasarana, guru dan
yang dilakukan penulis di sekolah SMP
strategi pembalajarannya. Menyadari hal
Swasta Amal Bakti Medan, penulis
tersebut
melihat siswa kurang termotivasi untuk
pembaharuan
belajar khususnya penjas mengenai lari
penjas untuk memungkinkan siswa dapat
sprint. Berdasarkan hasil wawancara dan
mempelajari penjas khususnya materi
pengamatan dengan guru dan siswa pada
lari sprint yang lebih menyenangkan.
bulan Maret 2016, penulis memperoleh
maka
harus
dalam
ada
suatu
pembelajaran
Berdasarkan uraian di atas maka
informasi mengenai proses pembelajaran
penulis
yang masih kurang baik. Hasil belajar
Penelitian Tindakan Kelas megenai
siswa masih jauh dari yang diharapkan.
“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar
SMP
tertarik
untuk
mengadakan
Dalam pembelajaran Penjas di
Lari Sprint Melalui Alat bantu Ladder
Swasta
Drill Pada Siswa Kelas VII SMP Swasta
Amal
Bakti
Medan,
Amal
Bakti
Medan Tahun Ajaran
Pada Siswa Kelas VII SMP Swasta
2015/2016”.
Amal
B. Identifikasi Masalah
2015/2016.
Berdasarkan uraian diatas yang
dikemukakan
masalah,
dalam
latar
maka
belakang
penulis
dapat
mengidentifikasi beberapa masalah yang
Bakti
Medan Tahun Ajaran
Dimana
variasi
pembelajaran adalah variabel bebas, dan
hasil belajar lari sprint adalah variabel
terikat.
D. Rumusan Masalah
dihadapi. Dalam penelitian ini, yang
Adapun yang menjadi rumusan
menjadi identifikasi masalahnya adalah:
masalah dalam penelitian ini adalah :
Kurangnya alat atau fasilitas di sekolah
-
Apakah dengan menggunakan alat
membuat siswa kurang semangat belajar
bantu
khususnya mata pelajaran penjas. Guru
meningkatkan
penjas dalam proses pembelajarannya
belajar lari sprint pada siswa kelas
sudah cukup baik hanya saja siswa yang
VII SMP Swasta Amal Bakti Medan
begitu sulit mengikuti pelajaran penjas
Tahun Ajaran 2014/2015?
dan
mudah
sekali
bosan
dengan
pelajaran yang ada. Karena sebagian
Ladder
drill
ketuntasan
Adapun tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui :
menyebabkan siswa kurang semangat
1. Peningkatan
mata
pelajaran
ketuntansan
hasil
Dan
belajar lari sprint pada siswa kelas
banyaknya siswa dalam satu kelas
VII SMP Swasta Amal Bakti Tahun
membuat
Ajaran 2015/2016?
suasana
penjas.
hasil
E. Tujuan Masalah
siswa masuk sekolah pada siang hari,
saat
dapat
kurang
belajar
kondusif.
2. Penerapan alat bantu ladder drill
terhadap hasil belajar lari sprint
C. Pembatasan Masalah
Sehubungan
dengan
pada siswa kelas VII SMP Swasta
luasnya
permasalahan yang muncul dari kajian
yang
telah
identifikasi
dikemukakan
masalah,
maka
dalam
perlu
Amal
Bakti
Tahun
2015/2016?
F. Manfaat Penelitian.
Hasil penelitian ini diharapkan
pembatasan masalah guna menghindari
dapat bermanfaat bagi :
perluasan
1. Menentukan
permasalahan.
Dimana
Ajaran
dapat
tidaknya
peneliti membatasi permasalahan pada
penerapan alat bantu ladder drill
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Lari
digunakan
Sprint Melalui Alat Bantu Ladder Drill
hasil belajar lari sprint pada siswa
untuk
meningkatkan
kelas VII SMP Swasta Amal Bakti
manusia dan menghasilkan pola-pola
Tahun Ajara 2015/2016.
perilaku
2. Bagi guru, semua guru penjas agar
pada
individu
yang
bersangkutan” (2002:15).
dapat meningkatkan kemampuan
Menurut Hetherrington (2002)
dan keterampilan mengajar juga
mengemukakan
melakukan modifikasi atau variasi
jasmani berkenaan dengan aktivitas yang
dalam pembelajaran penjas.
menggunakan kelompok otot-otot besar,
3. Sebagai
bahan
masukan
bagi
bahwa
pendidikan
dan hasil yang diperoleh merupakan
seluruh guru penjas untuk dapat
sumbangan
meningkatkan kemampuan dalam
pertumbuhan anak-anak didik sehingga
mengajar
ia
secara
efektif
dan
produktif.
4. Bagi
menyadari
pendidikan
siswa,
meningkatkan
agar
minat
dapat
siswa
dan
serta
bahwa
dari
jasmani
dan
proses
tersebut
Nadisah 2002:16).
Berdasarkan beberapa rumusan
hasil
pengertian pendidikan jasmani yang
belajar siswa dalam pembelajaran
telah dikemukakan, dapat dikaji bahwa
pendidikan jasmani dan kesehatan
pendidikan jasmani adalah bagian dari
khususnya di materi lari sprint.
pendidikan
5. Bagi
meningkatkan
kesehatan
pertumbuhan tidak akan cacat (dalam
suasana pembelajaran yang lebih
baik,
bagi
sekolah,
untuk
penyusunan
khususnya
menggunakan aktivitas jasmani sebagai
dan
kegiatan pembelajaran bagi peserta didik
mutusekolah
mata
yang
masukan
program
meningkatkan
menyeluruh
pelajaran
pendidikan jasmani.
(siswa)
untuk
kemampuan
meningkatkan
fisik
(keterampilan
motorik) dan nilai-nilai kognitif, afektif,
dan sosial yang didalamnya kesehatan
G.Kajian teoritis
dan
1. Pendidikan Jasmani
Menurut
Sharman
(dalam
Nadisah, 2002) mengemukakan bahwa
“pendidikan jasmani adalah bagian dari
pendidikan
(secara
umum)
yang
berlangsung
melalui
aktivitas
yang
melibatkan mekanisme gerak tubuh
pertumbuhan
siswa.
pendidikan
jasmani
kepentingan
dalam
Dimana
memiliki
menumbuh
kembangkan seluruh domain yang ada
pada
seluruh
siswa,
termasuk
pengembangan aspek sosial.
Dalam
bagian
terdahulu
dikemukakan bahwa pendidikan jasmani
merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari pendidikan keseluruhan. Hal ini
disengaja dilakukan oleh individu agar
membawa akibat juga terahadap tujuan
terjadi
yang ingin dicapai melalui pendidikan
dengan belajar anak yang tadinya tidak
jasmani.
(2002)
mampu melakukan sesuatu, menjadi
“tujuan
mampu melakukan sesuatu itu, atau anak
pendidikan jasmani yang ingin dicapai
yang tadinya tidak terampil menjadi
itu bernaung di bawah payung ranah-
terampil
(Siddiq,
ranah sebagai berikut : ranah jasmani
Menurut
Siddiq,
atau
mencakup
Pembelajaran adalah suatu kombinasi
ranah
yang terorganisir yang meliputi unsur-
mencakup
unsur manusiawi, material, fasilitas,
Annarino
mengemukakan
bahwa:
fisikal
yang
perkembangan
organik,
psikomotor
yang
perubahan
kemampuan
dkk.
dkk
diri,
2008:1-3).
(2008:6)
perkembangan neuromuskular (syaraf
perlengkapan
otot), ranah kognitif yang mencakup
berinteraksi
perkembangan intelektual dan ranah
tujuan.
afektif yang mencakup perkembangan
Secara umum menurut Dimyati
dan Mudjiono (2009) ada beberapa
prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu :
1. Perhatian
dan
Motivasi,
perhatian dan motivasi terhadap
pelajaran akan timbul pada siswa
apabila bahan pelajaran sesuai
dengan kebutuhan maka akan
tumbuh pula motivasi untuk
mempelajarinya
2. Keaktifan, belajar menunjukan
adanya jiwa yang sangat aktif,
jiwa mengelola informasi yang
kita terima, tidak sekedar
menyimpannya
saja
tanpa
mengadakan transformasi
3. Kererlibatan
langsung/berpengalaman, dalam
belajar melalui pengalaman
langsung siswa tidak sekedar
mengamati secara langsung
tetapi ia harus menghayati,
terlibat
langsung
dalam
perbuatan, serta tanggung jawab
terhadap hasilnya
4. Pengulangan,
pengulangan
diperlukan dalam belajar untuk
mencapai tujuan yaitu untuk
melatih daya-daya jiwa, untuk
sosial-personal-emosional”
(dalam
Nadisah 2002:50).
2.
Hakikat
Belajar
dan
Pembelajaran
Menurut Skinner (dalam Dimyati
dan Mudjiono, 2009) mengemukakan
bahwa “belajar adalah suatu perilaku”.
Pada saat orang belajar, maka responnya
menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia
tidak belajar maka responnya menurun,
dalam belajar ditemukan adanya hal
berikut:
a)
kesempatan
terjadinya
peristiwa yang menimbulkan respons
pelajaran, b) respons si pelajar, c)
konsekuensi yang bersifat menguatkan
respons tersebut” (2009:9).
Menurut Siddiq, dkk (2008)
Belajar adalah suatu aktivitas yang
dan
prosedural
yang
untuk
mencapai
suatu
membentuk respons yang benar
dan membentuk kebiasaankebiasaan
5. Tantangan, didalam belajar harus
adanya beberapa tantangan atau
hambatan yang harus diatasi agar
tujuan belajar itu tercapai
6. Balikan dan penguatan, sangat
penting, supaya siswa segera
mengetahui
benar
tidaknya
pekerjaan yang ia lakukan.
Umpan balik dari guru sebaiknya
yang mampu menyadarkan siswa
terhadap kesalahan mereka dan
meningkatkan pemahaman siswa
akan pelajaran tersebut
7. Perbedaan individual, tiap siswa
memiliki perbedaan satu dangan
yang lainnya. Guru hendaknya
mampun memperhatikan dan
melayani siswa sesuai dengan
hakikat mereka masing-masing.
(2009:42)
a. Hakekat
Lari
Sprint/Lari
Jarak Pendek
Menurut Aip Syarifuddin (2002)
“Lari jarak pendek atau sering juga
dikatakan dengan lari sprint adalah suatu
cara lari dimana si atlet menempuh
seluruh
jarak
dengan
kecepatan
semaksimal
mungkin”
(2002:41).
Artinya harus melakukan lari yang
secepat-cepatnya dengan mengarahkan
seluruh kekuatannya melalui awal
(mulai dari start) sampai dengan
melewati garis akhir (finish). Menurut
Muhajir, (2003) “Lari jarak pendek atau
lari
cepat
(sprint)adalah
suatu
perlombaan lari dimana semua peserta
berlari dengan kecepatan penuh yang
menempuh jarak 100 m, 200 m, atau
400 m” (2003:92).
Menurut Suharno (2003) yang
dibutuhkan dalam lari sprint adalah
kecepatan bergerak yakni kemampuan
atlet bergerak secepat mungkin dalam
satu gerak yang di tandai waktu antara
gerak permulaan dengan gerak akhir”.
Unsur gerak kecepatan merupakan unsur
kemampuan gerak dasar setelah
kekuatan dan daya tahan yang berguna
untuk mencapai mutu prestasi prima.
Kecepatan atlet dapat ditingkatkan
tergantung dari potensi sejak lahir dan
hasil latihan teratur, cermat dan tepat
(2003:20).
Lari Sprint adalah olahraga yang
cukup diminati. Gerakan yang terdapat
dalam
Lari
Sprint
adalah
gerakan
dimana peserta lari dengan kecepatan
penuh sepanjang jarak yang harus
ditempuh, sampai dengan jarak 400
meter masih dapat digolongkan dalam
lari sprint (Soebroto,2008:143).
Gambar 1: start jongkok
(Sumber : http://www.teknik start
jongkok.com yang diperoleh
pada 15 Maret 2016)
a. Teknik Lari
untuk teknik lari jarak pendek,
yang harus dipahami dan dikuasai serta
dapat dilakukan dengan benar, cepat,
tepat, luwes, dan lancar oleh para atlet
pemula dan murid-murid di sekolah
antara lain adalah:
a) Lari dengan menggunakan ujung
kaki
b) Lutut atau paha diangkat tinggi
c) Ayunan lengan atau tangan dari
belakang ke depan
d) Badan condong ke depan
Untuk latihan mencondongkan badan ke
depan dari sikap berlari, dilakukan
dengan cara : anak-anak lari beberapa
meter di belakang garis batas yang telah
ditentukan, setelah sampai pada batas
ayang telah ditentukan, condongkan
badan ke depan sambil terus lari secapatcepatnya sampai beberapa meter (antara
10 sampai 15 m).
3. Hakekat Variasi Pembelajaran
Kemampuan mengajar adalah
kemampuan
essensial
yang
harus
dimiliki oleh guru, tidak lain karena
tugas guru yang paling utama adalah
mengajar. Yang dihadapi oleh guru
adalah para siswa yang dinamis, baik
sebagai akibat dari dinamika internal
yang berasal dari diri siswa maupun
sebagai
Gambar 2: saat berlari
(Sumber : http://www.teknik saat
berlari.com yang diperoleh pada 15
Maret 2016)
Di dalam perlombaan lari jarak
pendek, pada umumnya ada tiga teknik
atau cara yang biasa digunakan oleh para
pelari pada waktu melewati garis finish,
yaitu (a) dengan cara menjatuhkan dada
ke depan, (b) dengan cara menjatuhkan
salah satu bahunya ke depan, dan (c)
dengan cara lari terus secepat-cepatnya
sampai beberapa meter melewati garis
finish. Dari ketiga cara tersebut yang
paling banyak digunakan oleh para
pelari adalah dengan cara menjatuhkan
dada ke depan. Cara melakukannya
antara lain sebagai berikut : pada saat
melewati garis finish, si atlet (pelari)
menjatuhkan dadanya ke depan dengan
jalan membusungkan dadanya.
akibat
dari
lingkungan
yang
berpengaruh
terhadap
dinamika
sedikit
banyak
siswa.
Oleh
karena itu, kemampuan mengajar guru
haruslah dinamis juga, sebagai akibat
dari tuntutan-tuntutan dinamika siswa
yang tak terelakkan.
Tiap peserta didik mempunyai
kemampuan indra yang tidak sama, baik
pendengaran maupun penglihatannya,
demikian juga kemampuan berbicara.
Ada yang lebih enak atau lebih senang
membaca, ada yang lebih senang
mendengar dulu baru membaca, dan ada
yang
sebaliknya.
penggunaan
Dengan
media-media
variasi
adalah
wahana penyalur informasi belajar atau
penyalur pesan.
Kelemahan indra yang dimiliki
tiap peserta didik misalnya, guru dapat
memulai
Gambar 3 : teknik melewati garis
finish
dengan
berbicara
terlebih
dahulu, kemudian menulis di papan
tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh
konkret. Dengan variasi seperti itu dapat
memberi
stimulus
terhadap
peserta
didik. Yang mana media mempunyai
peranan yang penting dalam proses
belajar
mengajar
ditinggalkan,
yang
karena
tidak
media
bisa
dapat:
menghemat waktu belajar, memudahkan
pemahaman, meningkatkan perhatian
siswa, meningkatkan aktivitas siswa,
mempertinggi daya ingat siswa.
5.
Ladder drill adalah suatu bentuk
latihan melompat menggunakan satu
atau dua kaki dengan melompati tali
yang berbentuk tangga yang diletakkan
dilantai atau tanah. Ladder drill biasa
digunakan
para
atlet
untuk
meningkatkan kecepatan atau agility.
Latihan ini tidak terlepas dari kekuatan
otot tungkai karena latihan ini banyak
menggunakan otot tungkai selain
menggunakan otot kaki saja. (Soebroto,
2008:78)
Hakikat Ladder Drill
G. Lokasi dan Waktu Penelitian
Salah satu bentuk latihan yang
dapat dilakukan adalah Variasi ladder
drill merupakan salah satu metode
latihan yang dapat meningkatkan
kecepatan dari kontraksi otot-otot dalam
melakukan
lari
sprint.
Untuk
meningkatkan kemampuan lari sprint
siswa dibutuhkan latihan yang mengarah
pada teknik dasar lari sprint dan
peningkatan kecepatan dari kontraksi
otot-otot serta koordinasi gerakan dasar
lari sprint itu sendiri. Menyadari
pentingnya latihan yang mengarah pada
penguasaan
teknik
dasar
dan
peningkatan kecepatan dari kontraksi
otot-otot yang berperan penting dalam
lari sprint maka latihan harus mengarah
langsung pada dua aspek tersebut.
Dengan
demikian
latihan
mengunakan Variasi ladder drill
diharapkan
mampu
meningkatkan
kecepatan dari kontraksi otot-otot yang
akan berpengaruh terhadap kemampuan
lari sprint siswa, agar nilai atau
keterampilan
siswa
dalam
mata
pelajaran lari sprint meningkat dengan
baik dan siswa dapat mengerti apa dan
bagaimana sebenarnya lari sprint.
Dimana
didalam
variasi
pembelajaran yang akan diterapkan
kepada siswa, penulis memasukkan
ladder drill sebagai bahan variasi di
proses pembelajarannya. Ladder drill
akan dijadikan variasi pembelajaran
sehingga pengembangan proses belajar
mengajar dapat lebih baik lagi.
1.
Lokasi Penelitian
Lokasi
penelitian
ini
dilaksanakan di lokasi SMP Swasta
Amal Bakti Medan.
2.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
3 dan 10 Juni tahun 2016.
H. Subjek Penelitian
Subjek Penerima tindakan dalam
penelitian ini adalah kelas VII SMP
Swasta Amal Bakti Medan Tahun
Ajaran 2015/2016 yang berjumlah 40
orang. Dengan jumlah siswa laki-laki
sebanyak 20 orang dan jumlah siswa
perempuan sebanyak 20 orang.
C. Desain Penelitian
Untuk memudahkan pelaksanaan
penelitian diperlukan desain penelitian
sebagai rancangan ataupun desain
penelitian tindakan kelas yang terdiri
dari beberapa tahapan yang berupa
siklus. Untuk lebih jelas dapat dilihat
pada gambar dibawah ini:
lembar pengamatan pembelajaran
lari sprint.
4) Menyiapkan
perlukan
media
untuk
yag
di
membantu
pengajaran.
5) Menyususun
alat
evaluasi
pembelajaran.
b. Tahap Pelaksanaan I
Pada tahap pelaksanaan kegiatan
yang dilakukan adalah melaksanakan
aktivitas di lapangan dengan langkahlangkah kegiatan antara lain sebagai
berikut:
Gambar 6. Skema Siklus Dalam
Penelitian Tindakan Kelas
(Sumber : Kemmis dan Taggart
dalam Arikunto (2009 : 16)
1) Menjelaskan
kegiatan
pembelajaran lari sprint melalui
variasi pembelajaran
2) Siswa dibariskan dan melakukan
1. Siklus I
pemanasan (5 menit)
a. Tahap Perencanaan I
3) Siswa
Pada tahap ini peneliti bersama
teman
sejawat
dan
kolaborator
menyusun skenario pembelajaran yang
terdiri dari:
1) Tim peneliti melakukan analisis
kurikulum
untuk
kompetensi
dasar
disampaikan
mengetahui
yang
siswa
akan
dalam
2) Membuat rencana pembelajaran
dengan mengacu pada tindakan
yang diterapkan dalam PTK, yaitu
digunakan dalam
siklus
dalam proses pembelajaran
4) Kegiatan inti selama 55 menit :
Melakukan latihan lari sprint dari
mulai start sampai dengan finish
a) Guru menjelaskan cara start
jongkok setelah itu siswa
mempraktekkannya
b) Guru menjelaskan bentuk
latihan
ladder
pembelajaran lari sprint.
instrument
berkelompok
langsung
pembelajaran penjaskes
3) Menyusun
dibentuk
yang
PTK,
menggunakan
drill
1
dengan
melangkahkan kaki kedepan
dengan
mengangkat
paha
(one foot run) dan siswa
langsung mempraktekannya
c) Guru menjelaskan bentuk
latihan
ladder
menggunakan
drill
1
dengan
melakukan gerakan satu kaki
didalam kotak dan dua kaki
diluar
otak
dengan
mengangkat kaki (side reach
run) dan siswa langsung
mempraktekannya
d) Guru menjelaskan latihan
melewati garis finish dan
siswa mempraktekannya
e) Setelah semua siswa dapat
melakukannya, maka guru
menyuruh siswa melakukan
gerakan kombinasi start,saat
berlari¸sampai
finish
menggunakan ladder drill
f) Guru menugaskan siswa untuk
berlatih sendiri di sela waktu
5) Test dan Penutup (20 menit)
• Melakukan tes lari sprint
sudah terlaksana sesuai dengan program
pengajaran ketika tindakan dilakukan.
Parameter
yang
dilakukan
penelitian ini :
a. Hasil keterampilan lari sprint
b. Kemampuan
melakukan
rangkaian gerakan keterampilan
lari sprint
c. Aktivitas
siswa
selama
pembelajaran berlangsung
d. Refleksi I
Setelah
tahap
pelaksanaan
penelitian dan observasi, dapat diperoleh
suatu gambaran hasil uji coba bahan
pembelajaran dan instrumen penelitian
yang dugunakan. Berdasarkan hasil
pengamatan dan evaluasi, berbagai
kekurangan, hambatan dan kesulitan
yang ditemukan selama pelaksanaan
tindakan digunakan sebagai bahan
pertimbangan
untuk
melakukan
perbaikan dalam membantu perencanaan
pada pembelajaran.
2. Siklus II
Setelah dilaksanakan siklus I,
masih terdapat teknik-tekik yang harus
diperbaiki karena belum sesuai dengan
penguasaan yang diterapkan, maka
dalam hal ini perlu diadakan siklus II
dengan tahap-tahap sebagai berikut :
a. Tahap Perencanaan II
sejauh 50 meter
• Menarik
kesimpulan
dan
umpan balik
• Melakukan pendinginan
c. Observasi Tindakan I
Pada tahap ini dilakukan
pengamatan atau observasi terhadap
pelaksanaan tindakan yang dilakukan.
Guru bidang studi penjas ikut membantu
sebagai pengamat unutk melihat apakah
kondisi belajar mengajar di lapangan
Dari hasil analisis data pada
refleksi I, ada satu teknik yang harus
diperbaiki lagi diprose pembelajaran
siswa yaitu teknik saat berlari. Pada
teknik
ini
digunakan
variasi
pembelajaran ladder drill dengan
memfokuskan pada teknik berlari
dengan variasi yang berbeda dan lebih
banyak. Pada saat proses pembelajaran
teknik ini di siklus I masih terdapat
beberapa siswa yang belum mengetahui
teknik saat berlari yang benar. Hal ini
berdampak siswa sulit mengangkat kaki
na saat berlari. Maka pada siklus II ini,
teknik saat berlari sajalah yang
diperbaiki.
Pada tahap ini kegiatan yang
dilakukan
adalah
masih
tetap
merencanakan tindakan berdasarkan
permasalahan yang ada yaitu dengan
membuat
Rencana
Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang disesuaikan
dengan kendala yang dialami siswa
berdasarkan hasil analisis data refleksi I
pada siklus I.
b. Pelaksanaan II
Pemberian tindakan II ini
merupakan
pengembangan
dan
pelaksanaan dari program perencanaan
yang telah disusun. Pelaksanaannya
diterangkan seperti di bawah ini :
1)
Mempersiapkan siswa dan media
pembelajaran dilapangan.
2)
Menyampaikan kepada siswa
tentang hasil tes yang telah
dilakukan pada siklus I atau pada
pertemuan sebelumnya, serta
menyampaikan materi apa yang
dilakukan
kembali
untuk
memperbaiki teknik tersebut.
3)
Mengarahkan
siswa
untuk
melakukan pemanasan statis dan
dinamis (5 menit).
4) Melakukan kegiatan ini dengan
langkah-langkah sebagai berikut (55
menit):
a. Mengulang kembali gerakan
teknik saat berlari menggunakan
alat ladder drill dengan variasi
yang berbeda.
b. Siswa melakukan gerakan teknik
saat berlari menggunakan 2
ladder drill dengan variasi yang
berbeda.
c. Melakukan koordinasi gerakan
lari sprint dari start, saat berlari¸
sampai finish menggunakan
ladder drill.
5) Tes fan Penutup (20 menit)
• Melakukan tes lariu sprint
sejauh 50 meter
•
Menarik
kesimpulan
umpan balik
• Melakukan pendinginan
c. Observasi II
dan
Observasi pada tindakan II
dilaksanakan untuk melihat apakah
kondisi belajar mengajar lari sprint
dilapangan sudah terlaksana dengan baik
dan apakah dengan penggunaan variasi
pembelajara ladder drill ini dapat
membuat proses kegiatan mengajar
kepada siswa menjadi semakin baik dan
berdampak positif. Sesudah tes hasil
belajar II diberikan kepada siswa maka
diperoleh sejumlah informasi dari hasil
tes tersebut, selanjutnya peneliti
menganalisis hasil penelitian telah
dicapai siswa. Dari hasil tes itulah
memperlihatkan hasil belajar lari sprint
siswa setelah dilakukan pembelajaran
menggunakan variasi pembelajaran
ladder drill.
d. Refleksi II
Kegiatan refleksi dilakukan
untuk mengevaluasi dan pengambilan
kesimpulan terhadap seluruh aktivitas
kegiatan
siswa
elama
proses
pembelajaran berlangsung. Jika pada
tahapan siklus masih ditemukan siswa
mengalami kekurangan atau kelebihan
selama
pembelajara
lari
sprint
menggunakan variasi pembelajaran
maka dilaksanakan siklus selanjutnya,
namun jika telah memenuhi indikator
keberhasilan yang diinginkan maka tidak
perlu
dilakukan
tindakan
siklus
selanjutnya.
Dengan
kata
lain
pembelajaran dianggap selesai dengan
hasil bahwa hasil belajar lari sprint
siswa sudah meningkat.
A. Deskripsi Pratindakan
Penelitian ini dilaksanakan di
lapangan sekolah SMP Swasta Amal
Bakti Medan. Sebelum melakukan
penelitian dilakukan, terlebih dahulu
peneliti melakukan pre-test yang
bertujuan
untuk
melihat
dan
merumuskan masalah yang diperoleh
dari hasil pre-test yang dilakukan. Tes
yang diberikan kepada siswa berupa tes
teknik lari sprint yang dilakukan untuk
menentukan perencanaan.
Sebelum penelitian dilakukan,
terlebih dahulu peneliti mewawancarai
guru penjas yang bertujuan untuk
mengumpulkan informasi mengenai
hasil belajar awal siswa dalam
pembelajaran
lari sprint. Setelah
dilakukan wawancara, ternyata masih
banyak siswa kurang memahami teknik
dasar lari sprint yang baik. Proses
selanjutnya adalah memberikan tes awal
(pre-test) yang bertujuan untuk melihat
dan
merumuskan
masalah
yang
diperoleh dari tes awal yang dilakukan,
tes ini diberikan kepada siswa berupa tes
hasil belajar lari sprint yang dilakukan
sebelum menentukan perencanaan.
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel 4.
Deskripsi Data Hasil Belajar Lari
Sprint
No.
Hasil
Tes
1
Tes
Awal
Tekn
ik
Start
Jumla
h=
61
Ratarata =
1,52
Teknik
Gerakan
Berlari
Jumlah =
47
Teknik
Saat
Finish
Jumlah
= 85
Rata-rata
= 1,17
Ratarata =
2,12
Jumla
h/Rata
-Rata
188
pembelajaran.
tindakan
Sebelum
guru
melakukan
terlebih
dahulu
menerangkan tentang materi yang akan
diajarkan. Pada tahap ini guru membuat
alternatif masalah pembelajaran lari
sprint
dengan
pembelajaran
melaksanakan
melalui
variasi
pembelajaran yang menggunakan alat
ladder drill. Adapun langkah-langkah
yang
yang
dilaksanakan
pada
perencanaan tindakan I ini adalah:
1.
Menyusun
dan
mempersiapkan
Rencana
Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang telah
dibuat, sebagai upaya pemecahan
masalah I
2.
Mempersiapkan alat yang akan
digunakan
dalam
proses
pembelajaran pada materi lari
sprint
3.
4,70
Menyusun
instrumen
dan
mempersiapkan post-test siklus I
pada setiap akhir pertemuan untuk
mengetahui
kemampuan
siswa
dalam mempelajari materi teknik
1.
Hasil Pelaksanaan Siklus I
a.
Alternatif
lari sprint
Pemecahan
I
(Rencana Tindakan I)
dan
sesuatu
yang
guru
mempersiapkan
menunjang
Hasil Pelaksanaan Siklus II
a.
Sebelum dilakukan pelaksanaan,
peneliti
2.
untuk
pelaksanaan tindakan penelitian sebelum
memulai tindakan yang telah dirancang
dalam skenario dan rencana pelaksanaan
Alternatif
Pemecahan
II
(Rencana Tindakan II)
Pada tahap ini peneliti membuat
alternatif pemecahan masalah untuk
menguasai
kesulitan
siswa
dalam
pembelajaran renang gaya dada, yaitu :
1) Mempersiapkan
Rencana
Pelaksanaan
3) Memberikan komando tentang
Pembelajaran
sebagai
upaya
memperbaiki
gerakan
yang
hanya
akan
untuk
dilakukan siswa dengan lebih
kekurangan-
menekankan pada teknik gerakan
kekurangan yang terjadi selama
siklus I
berlari
4) Melaksanakan tes hasil belajar II
2) Mempersiapkan alat ladder drill
dengan
3) Mempersiapkan instrument tes
bimbingan gerakan yang benar
siklus II
arahan
peneliti
dan
5) Menutup pelajaran
Perencanaan
ini
dilakukan
khususnya pada siswa yang masih
A. Kesimpulan
memperoleh nilai rendah, dan meminta
Sesuai dengan hasil penelitian
siswa yang memiliki nilai rendah untuk
setelah
mengulang-ulang gerakan lari sprint,
siklus I sampai dengan siklus II dapat
sehingga akan lebih jelas gerakan mana
disimpulkan bahwa penerapan variasi
yang perlu ditingkatkan lagi.
pembelajaran
b. Pelaksanaan Tindakan II
Pemberian
tindakan
memberikan
perlakuan
dapat
dari
memberikan
peningkatan terhadap hasil belajar lari
II
sprint pada siswa kelas VII SMP Swasta
difokuskan pada proses belajar yang
Amal
dapat meningkatkan hasil belajar siswa
2014/2015. Dengan PKK pada siklus I
melalui variasi pembelajaran
adalah
yang
Bakti
Medan Tahun Ajaran
50%
kemudian
menggunakan alat ladder drill, terutama
menjadi
pada indikator yang dengan ketercapaian
keseluruhan jumlah siswa sebanyak 40
yang masih rendah pada siklus I.
siswa.
Adapun
langkah-langkah
yang
dilakukan guru adalah:
42,5%
di
meningkat
siklus
II
dari
B. Saran
Adapun saran dari peneliti sebagai
1) Melakukan Pemanasan
2) Menjelaskan
berikut:
dan
1. Disarankan
pada
Guru
mempraktekkan teknik dasar lari
Pendidikan Jasmani SMP Swasta
sprint
variasi
Amal Bakti Medan untuk dapat
pembelajaran yang menggunakan
menggunakan alat bantu ladder
alat
drill
melalui
ladder
drill
dengan
menekankan pada teknik gerakan
berlari
pada
materi
yang
disesuaikan karena hal ini dapat
membangkitkan semangat belajar
siswa.
2. Disarankan
kepada
guru
pendidikan jasmani untuk lebih
memanfaatkan
sarana
dan
prasarana yang ada disekolah
dalam meningkatkan hasil belajar
siswa.
DAFTAR PUSTAKA
AgusKristianto. 2010.
PenelitianTindakanKelas Dan
KepelatihanOlahraga. Surakarta,
UptPenerbitandanPercetakan UNS Press
Aip
Syarifuddin.
Depdikbd
2002.
Atletik.
Arikunto Suharsimi. 2006. Prosedur
penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta, PT. Rineka Cipta
Arsil. 2009. Artikel Ilmiah. Yang
diperoleh pada tanggal 15 Maret 2015
darihttp://fkipunjaok.com/versi_2a/exten
si/artikel_ilmiah/artikel/A1D407043_25
1.pdf
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta, PT.
RinekaCipta
Muhajir. 2003. Teori dan Praktik
PENDIDIKAN JASMANI. Bandung,
Yudhistira
Harsono.2008. Sifat Tujuan Pendidikan
Jasmani.Yang diperoleh pada tanggal
15 maret 2015 dari
http://repository.upi.edu/operator/upload
/t_por_029368_chapter2.pdf
http:/www.speed-ladder-drill-ickeyshuffle-hands.html yang diperoleh pada
tanggal
5
februari
2015
http://www.teknikstart
jongkok.com
yang diperoleh pada tanggal 15 maret
2015
http://www.teknik saat berlari.com yang
diperoleh pada tanggal 15 maret 2015
http://www.teknik saat melewati garis
finish.com yang diperoleh pada tanggal
15 maret 2015
Nadisah. 2002. Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Jasmani dan
Kesehatan.Depdikbud
Siddiq, dkk. 2008. Belajar Dan
Pembelajaran.yang diperoleh pada
tanggal 15 maret 2015
darihttp://kawancerdas.blogspot.com/20
13/02/pengertian-belajar-danpembelajaran.html
Suharno. 2003.Artikel Ilmiah. Yang
diperoleh pada tanggal 15 Maret 2015
dari
http://fkipunjaok.com/versi_2a/extensi/a
rtikel_ilmiah/artikel/A1D407043_251.p
df
Uzer Usman. 2005. Variasi
Pembelajaran.Yang diperoleh pada
tanggal 15 maret 2015 dari
http://www.new\keterampilan
mengadakan variasi gaya mengajar
beni's weblog.htm
Download