PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi adalah suatu

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Komunikasi adalah suatu kebutuhan yang mendasar bagi seseorang dalam
hidup
bermasyarakat.
Ketulian
dapat
menimbulkan
gangguan
dalam
berkomunikasi saat bersosialisasi. Gangguan pendengaran atau ketulian adalah
ketidakmampuan secara parsial atau total untuk mendengarkan suara pada salah
satu atau kedua telinga. Gangguan pendengaran dapat dibagi berdasarkan jenis
ketulian yang meliputi tuli konduksi, tuli sensorineural dan tuli campuran. Dapat
pula dibagi berdasarkan beratnya gangguan pendengaran meliputi tuli ringan,
sedang, sedang-berat, berat dan sangat berat. Diagnosis gangguan pendengaran
ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang khususnya
dengan pemeriksaan audiometri nada murni (Hall dan Lewis, 2003; Zhang, 2013).
Gangguan pendengaran dapat terjadi pada berbagai kelompok usia. Adapun
presbikusis merupakan gangguan pendengaran sensorineural yang dikaitkan
dengan lanjut usia dan merupakan penyebab terbanyak gangguan pendengaran
pada orang tua (Al-Ruwali, 2010; Murphy, 2010; Zhang, 2013). Presbikusis
merupakan ketulian yang terkait dengan proses penuaan yang bersifat progresif
simeteris bilateral (Sarafraz, 2015). Secara teoritik presbikusis memang
merupakan penurunan ketajaman pendengaran yang disebabkan oleh proses
penuaan, namun dalam kenyataan sehari-hari yang didapati adalah suatu
penurunan pendengaran pada usia lanjut yang selain terkait dengan usia juga
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada di lingkungan baik eksternal maupun
1
2
internal tubuh manusia. Presbikusis merupakan suatu pola kerusakan pendengaran
jenis sensorineural yang kompleks yang tidak hanya melibatkan faktor fisiologis
tapi banyak ditenggarai lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal seperti
adanya paparan kebisingan pada lingkungan dan dari berbagai literatur dikenal
dengan istilah sosioakusis. (Soewito, 2001; Hall, 2003).
Menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia disebutkan bahwa lanjut usia (lansia) adalah seseorang
yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Hal tersebut juga sesuai dengan
definisi dari WHO (Sousa dkk, 2009). Jumlah penduduk lansia Indonesia pada
tahun 2005 diperkirakan sekitar 19,9 juta penduduk dan diperkirakan terus
meningkat seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat. Jumlah
penduduk propinsi Bali menurut sensus penduduk tahun 2010 usia 60 tahun ke
atas sebesar 380.114 jiwa atau 9,7% dari total jumlah penduduk Bali (BPS,
2010). Pada tahun 2014 jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar 415.400 jiwa
atau sebesar 10,11% dari total jumlah penduduk Bali (BPS, 2014). Di Amerika
Serikat hampir 30-35% dari populasi usia diatas 65 tahun menderita gangguan
pendengaran dan sekitar 1,5-3,0% membutuhkan alat bantu dengar. Sekitar 40%
usia di atas 65 tahun mengalami gangguan pendengaran. Adanya penurunan
fungsi pendengaran pada usia lanjut tersebut sering menimbulkan depresi dan
keterbatasan dalam berkomunikasi sehingga berdampak pada status sosial
ekonomi, interaksi sosial dan peran serta mereka sebagai anggota masyarakat
(Teixera dkk, 2010; Kutz dkk, 2014).
3
Perubahan patologi organ pendengaran akibat proses degenerasi pada lanjut
usia (lansia) dapat menyebabkan ketulian. Jenis ketulian pada lansia umumnya
adalah tuli sensorineural tetapi dapat juga berupa tuli konduktif atau tuli
campuran. Presbikusis adalah tuli sensorineural yang biasanya terjadi pada
frekuensi tinggi, simetris di kedua telinga dan terkait dengan proses degenerasi.
Meskipun etiologinya belum benar-benar diketahui namun diduga terkait dengan
poses degenrasi fisik, faktor lingkungan serta kerentanan genetik individu.
Dewasa ini presbikusis banyak dihubungkan dengan berbagai faktor risiko seperti
faktor genetik, penyakit sistemik, status gizi, kebisingan lingkungan, merokok dan
berbagai faktor lainnya. Menurunnya fungsi pendengaran pada lansia diduga
merupakan efek kumulatif dari faktor-faktor tersebut baik intrinsik, ekstrinsik
maupun prilaku individu (Zhang, 2013; Kutz dkk, 2014, Sarafraz dkk, 2015).
Presbikusis yang terjadi di masyarakat dewasa ini diduga banyak
dipengaruhi oleh adanya faktor risiko kebisingan lingkungan atau dikenal juga
dengan sosioakusis. Apalagi pada populasi lansia di kota-kota besar dengan pola
kehidupan modern (Soepardjo, 2001; Fransen dkk, 2008; Sousa dkk, 2009).
Dimana tingkat kebisingan kehidupan sehari-hari terus meningkat. Kebisingan
lalu lintas di jalan raya sendiri adalah sumber kebisingan yang utama di perkotaan.
Hal tersebut dapat menimbulkan efek bagi sebagian besar populasi masyarakat
lebih dari sumber kebisingan lainnya. Penelitian di negara berkembang seperti
Nepal menemukan bahwa intensitas bising di jalan perkotaan dapat mencapai 70100 dB terutama di pagi hari di mana masyarakat sedang beraktivitas (Joshi dkk,
2003). Diduga terdapat perbedaan pada kondisi lansia di daerah pedesaan
4
terutama yang terpencil dan jauh dari kebisingan lalu lintas (Alberti, 2003).
Presbikusis yang terjadi di desa yang terpencil dan jauh dari kebisingan dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko lain yang mungkin saja dapat
dikendalikan. Hal tersebut merupakan salah satu alasan untuk melakukan
penelitian pada populasi usia lanjut dengan sedapat mungkin meminimalisir
faktor-faktor risiko baik eksternal maupun internal yang dapat berpengaruh
terhadap penurunan pendengaran seperti bising lingkungan, kebiasaan merokok,
stres, faktor genetik, penyakit sistemik dan lainnya. Berbagai tempat di Bali yang
dirasakan dapat menjadi tempat penelitian yang cocok untuk hal tersebut meliputi
desa-desa yang terletak jauh di pedalaman dan bersifat terisolasi baik dari segi
lokasi maupun sosial budaya, seperti misalnya di Desa Trunyan, Penglipuran,
Palintang ataupun Tenganan Pegringsingan.
Di Bali banyak ditemukan desa–desa unik dan terpencil yang berada di
pegunungan dimana penduduknya berasal dari jaman Bali kuno dan diyakini
merupakan suku asli Pulau Bali. Salah satunya adalah desa Tenganan
Pegeringsingan di daerah Kabupaten Karangasem. Meskipun desa ini terisolasi
dari segi lokasi, namun desa ini paling mudah untuk diakses dibandingkan desadesa lain yang telah disebutkan sebelumnya. Adat istiadat yang kental namun
masih mengijinkan orang luar untuk masuk dan menikmati pesona desa ini
menjadikannya salah satu tempat wisata terkenal di Bali serta memudahkan
berbagai penelitian untuk mengetahui berbagai hal terkait dengan epidemiologi
masyarakatnya. Berbagai keunikan Desa Tenganan Pegringsingan antara lain tata
ruang pemukiman, tradisi perang pandan dan kain tenun tradisional serta adat
5
istiadat dan tradisi keagamaan. Keunikan lain desa ini adalah adanya aturan desa
yang merupakan hukum adat atau dikenal dengan awig-awig, yang mengharuskan
masyarakat desa tersebut melakukan pernikahan dengan sesama warga Desa
Tenganan. Meskipun sejak tahun 1961 hukum adat ini sudah tidak dijalankan lagi
secara ketat dan perkawinan campuran antar desa sudah relatif lebih banyak
dilaksanakan, pernikahan di dalam desa antar warga setempat masih dilaksanakan
oleh mayoritas penduduk yang secara tidak langsung menganut paham endogami
(Wega, 2013; Kumurur, 2009). Adat istiadat ini tentunya dapat menjadi suatu
faktor risiko dari pewarisan genetik terhadap suatu penyakit yang diturunkan
secara herediter, termasuk salah satunya adalah presbikusis (Liu, 2007).
Desa Tenganan Pegringsingan terletak pada ketinggian 70 meter dari atas
permukaan air laut dengan jarak lebih kurang 17 km dari kota Amlapura dan
60km dari kota Denpasar. Letak desa yang agak masuk ke dalam dari jalan raya
memberi kesan desa yang terpencil dari keramaian lalu lintas. Meskipun untuk
menuju ke desa Tenganan Pagringsingan dapat dicapai dengan segala jenis
kendaraan bermotor, namun kendaraan tersebut hanya dapat sampai pada
pinggiran desa. Di desa ini pekerjaan yang umum dilakukan oleh masyarakat
adalah sebagian besar sebagai petani meskipun saat ini desa tersebut merupakan
salah satu objek wisata terkenal di Bali (Wega, 2013; Kumurur, 2009). Berbagai
kondisi sosial, ekonomi dan masih kurangnya fasilitas pendidikan serta kesehatan
di desa ini tentunya dapat memberikan kontribusi terhadap adanya faktor risiko
yang mendukung terjadinya presbikusis. Tidak tersedianya fasilitas pelayanan
6
kesehatan yang memadai akan menyebabkan penanganan berbagai penyakit yang
timbul di masyarakat tidak dapat dilakukan dengan baik (Suarjaya, 2014).
Desa Tenganan Pegringsingan merupakan desa yang cukup tersisolasi baik
dari segi lokasi maupun dari sisi sosial budaya (Wega, 2013; Kumurur, 2009).
Letaknya yang dikelilingi perbukitan dan jauh dari jalan raya utama membuat
kondisi desa ini cukup tenang dan terhindar dari kebisingan. Adanya hukum adat
yang begitu kuat diterapkan membuat tempat ini cocok untuk dijadikan lokasi
penelitian epidemiologi terutama untuk menghindarkan dari adanya berbagai
faktor perancu. Faktor risiko yang berhubungan dengan prilaku individu seperti
contohnya merokok tidak diteliti pada studi ini. Banyak penelitian lain yang
menunjukkan hasil bahwa hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
kebiasaan merokok dengan presbikusis (Sarafraz, 2015). Selain itu kebiasaan
merokok tidak banyak ditemukan di desa ini sesuai dengan penelitian oleh Rai &
Artana (2009) yang menunjukkan bahwa kebiasaan merokok hanya terdapat pada
kurang lebih seperempat penduduk dengan angka ketergantungan nikotin yang
sedang serta lebih banyak ditemukan pada kelompok usia muda di bawah 38
tahun. Dengan demikian faktor ekstrinsik seperti paparan lingkungan dan prilaku
individu yang diduga terkait dengan presbikusis terutama kebisingan dan merokok
dapat dikurangi pengaruhnya pada penelitian di desa ini, sehingga faktor risiko
yang bersifat intrinsik dan berasal dari tubuh individu tersebut dapat diketahui
dengan lebih baik.
Adapun kesehatan indera pendengaran merupakan salah satu faktor penting
dalam meningkatkan sumber daya manusia karena berbagai informasi dapat
7
diserap melalui indera pendengaran dan World Health Organization (WHO)
merekomendasikan prioritas masalah kesehatan indera pendengaran yang harus
ditanggulangi di masyarakat adalah otitis media supuratif kronis, tuli bawaan atau
kongenital, tuli akibat pajanan bising serta tuli pada usia lanjut atau presbikusis
untuk dapat tercapainya visi dari WHO yang disebut dengan “Sound Hearing
2030” yaitu pada tahun 2030 setiap orang mempunyai pendengaran yang optimal
(Sitohang dkk, 2013). Usaha pencegahan dan penatalaksanaan terhadap
presbikusis dapat didasarkan pada berbagai faktor risiko yang mungkin ada pada
masyarakat. Studi terhadap adanya faktor risiko pada masyarakat merupakan hal
yang menarik karena tidak hanya bersifat klinis namun juga berimbas secara
epidemologi. Di Indonesia sendiri visi WHO ini diadaptasi ke dalam program
penanggulangan gangguan pendengaran dan
ketulian
(PGPKT)
dimana
presbikusis merupakan salah satu gangguan pendengaran yang menjadi perhatian.
Tujuan program tersebut adalah menurunkan angka kejadian presbikusis di
Indonesia sebesar 90% pada tahun 2030. Diharapkan dengan adanya program
tersebut
peningkatan presbikusis
pada
populasi dapat
dicegah
dengan
memperhatikan faktor-faktor risikonya (Kemenkes RI, 2010; Muyassaroh, 2012).
Namun demikian Penelitian untuk mengetahui prevalensi serta faktor risiko yang
berhubungan dengan presbikusis di Desa Tenganan Pegringsingan sendiri belum
pernah dilakukan serta belum ada data dasar mengenai presbikusis di desa ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta faktor risiko yang
berhubungan dengan presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan.
8
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah prevalensi presbikusis di Desa Tenganan Pegringsingan,
Kabupaten Karangasem?
1.2.2 Apakah terdapat hubungan antara riwayat keluarga dengan terjadinya
presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten
Karangasem?
1.2.3 Apakah terdapat hubungan antara hipertensi dengan terjadinya presbikusis
pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem?
1.2.4 Apakah terdapat hubungan antara diabetes melitus dengan terjadinya
presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten
Karangasem?
1.2.5 Apakah terdapat hubungan antara hiperkolesterol dengan terjadinya
presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten
Karangasem?
1.2.6 Apakah terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan
terjadinya presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan,
Kabupaten Karangasem?
1.2.7 Bagaimanakah gambaran pola audiogram pada presbikusis yang dialami
oleh lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem?
9
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum penelitian
Untuk mengetahui prevalensi presbikusis dan faktor-faktor risiko yang
berhubungan dengan terjadinya presbikusis pada lansia suku Bali di Desa
Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem.
1.3.2 Tujuan khusus penelitian
1. Mengetahui prevalensi presbikusis pada lansia di Desa Tenganan
Pegringsingan, Kabupaten Karangasem.
2. Mengetahui hubungan antara riwayat keturunan dengan terjadinya
presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten
Karangasem.
3. Mengetahui hubungan antara hipertensi dengan terjadinya presbikusis
pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem.
4. Mengetahui hubungan antara diabetes melitus dengan terjadinya
presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten
Karangasem.
5. Mengetahui hubungan antara hiperkolesterol dengan terjadinya presbikusis
pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem.
6. Mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan terjadinya
presbikusis pada lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten
Karangasem.
7. Mengetahui gambaran pola audiogram pada presbikusis yang dialami oleh
lansia di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem.
10
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat terhadap pengembangan ilmu yaitu meningkatkan pengetahuan
tentang adanya faktor-faktor risiko yang dapat berhubungan dengan
terjadinya presbikusis pada lansia.
1.4.2 Manfaat terhadap pelayanan kesehatan yaitu sebagai sumber data dan
pengetahuan tentang faktor-faktor risiko presbikusis pada lansia sehingga
dapat dilakukan upaya penanggulangan baik pada presbikusis maupun pada
berbagai faktor risiko yang berhubungan.
1.4.3 Manfaat terhadap pihak yang diteliti dan masyarakat yaitu untuk
meningkatkan pengetahuan terhadap presbikusis dan faktor risiko yang
berhubungan dengan terjadinya kondisi tersebut sehingga dapat turut
bekerjasama dalam upaya pencegahan dan penatalaksanaan di masyarakat.
11
Download