analisis manajemen rantai pasok ikan hias laut non

advertisement
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOK
IKAN HIAS LAUT NON SIANIDA
DI KEPULAUAN SERIBU
DIAN WISUDAWATI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Manajemen Rantai Pasok Ikan
Hias Laut Non Sianida di Kepulauan Seribu adalah karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan
tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Mei 2010
Dian Wisudawati
NRP. H251070031
ABSTRACT
DIAN WISUDAWATI. Analysis of Non Cyanide Marine Ornamental Fish
Supply Chain Management in Seribu Islands. Under direction of WILSON H.
LIMBONG and JONO M. MUNANDAR.
Marine Ornamental Fish is an interesting commodity for business. This
business need an outstanding supply chain management to make it sustainable.
This research aims (a) to describe a non cyanide marine ornamental fish in Seribu
Islands, (b) to analyse factors that influenced the willingness of the fishermen, and
(c) to create a priority strategy to make a fair and sustainable supply chain
management for all parties.
There are two lines of supply chain in this research, that is domestic
market and foreign market. We found an innovation of a fishermen group who
make their own market to the exporters, so they could make higher price that
others.
The description analysis describe seven factors that judge as the factors
influenced the fishermen to participate in the supply chain management, there are
trust, commitment, compatibility, interdependence, management perception of
uncertainty, interdependence and extendness relationship. Generally, we could not
differ the responds between fishermen who will stay in the supply chain and who
will not. But there are some points that could be as tools to measure their
willingness, that is the impact of price fluctuation in the supplier level,
commitment of supplier due to payment system, and norms in the fishermen level
to sell their fish to the capital maker.
While the priority strategy to make a fair and sustainable supply chain
management is access development of information and technology and second is
facilitate human resource capacity, third is transparency in cooperation between
parties, and last intervention from the government. The most important factor is
norms in cooperation, the most important actors to be involved is fishermen. And
the objectives has almost equal distributed between increasing product value,
sustainabel of natural resource, sustaibility of fishermen and suppliers business,
and increasing the wealth of fishermen.
Keywords: marine ornamental fish, non-cyanide, supply chain management,
Seribu Islands, fair trade.
RINGKASAN
DIAN WISUDAWATI. Analisis Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Laut Non
Sianida di Kepulauan Seribu. Dibimbing oleh WILSON H. LIMBONG dan JONO
M. MUNANDAR.
Orientasi Rantai Pasok didefinisikan sebagai pengakuan oleh suatu
organisasi sistemik, implikasi strategis dari aktivitas taktis yang terlibat dalam
mengelola berbagai aliran dalam suatu rantai pasok. Hal yang paling mendasar
yang perlu dianalisis untuk dapat mewujudkan suatu rantai pasok yang kohesif
adalah mengenai kesediaan dari masing-masing pihak untuk bisa bekerjasama
dengan baik. Untuk itu dasar-dasar relasi yang bisa mempertemukan antara
nelayan, pengepul, dan perusahaan eksportir serta importir agar dapat bermitra
dalam manajemen rantai pasok ikan hias dikaji dalam penelitian ini. Untuk itu
perlu dibangun sebuah skema mekanisme kemitraan dan kerjasama yang mampu
mendorong terciptanya sebuah sistem manajemen rantai pasok ikan hias yang
efektif dengan prinsip fair trade antara perusahaan, nelayan dan pengepul.
Penelitian ini bertujuan untuk: (a) Menggambarkan mekanisme rantai
pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu, (b) Menganalisis hal-hal yang
mempengaruhi kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai
pasok ikan hias non sianida, (c) Memberikan altenatif skema manajemen rantai
pasok ikan hias non sianida yang efektif dan sesuai dengan prinsip fair trade bagi
nelayan, pengepul, dan perusahaan.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai Januari 2010.
Pengambilan data dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang,
Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu,
Propinsi DKI Jakarta dan di 3 Perusahaan Ekspor Ikan Hias di Tangerang.
Sedangkan penelusuran literatur dan pengolahan data dilakukan di Bogor, Jakarta
dan sekitarnya pada bulan Agustus 2009 sampai Januari 2010.
Pada penelitian ini dilakukan analisis kesediaan nelayan sebagai ujung
tombak rantai pasok untuk berpartisipasi di dalam manajemen rantai pasok ikan
hias non sianida dengan mengambil 38 sampel nelayan untuk diwawancara,
kemudian data yang ada dianalisa dengan menggunakan analisis deskriptif
kuantitatif. Sedangkan perumusan strategi manajemen rantai pasok ikan hias
dilakukan dengan metode Analysis Hierarchy Process dengan meminta pendapat
beberapa ahli dari semua pihak, yaitu dari pihak perusahaan, akademisi,
pemerintah, dan LSM.
Dari wawancara yang dilakukan, dapat diidentifikasi model rantai pasok
dimana alur distribusi komoditas dan informasi terbagi menjadi 2, yaitu untuk
pasar dalam negeri dan luar negeri. Terdapat satu upaya unik yang dilakukan oleh
kelompok nelayan dalam memotong rantai pasok pada elemen pengepul, sehingga
harga beli ikan pada nelayan dapat lebih tinggi dibandingkan harga beli dari
pengepul.
Pada analisis deskriptif kuantitatif, diduga beberapa faktor akan menentukan
kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias,
sehingga digunakan beberapa variabel penduga antara lain (a) kepercayaan, (b)
komitmen, (c) norma-norma kerjasama, (d) kesaling tergantungan, (e) kesesuaian,
(f) hubungan tambahan diluar hubungan profesi, dan (g) persepsi manajemen akan
ketidakpastian lingkungan. Secara umum, respon nelayan yang menyatakan tidak
bersedia berpartisipasi mayoritas sama dengan respon secara nelayan yang
menyatakan bersedia berpartisipasi dalam rantai pasokan. Namun ada beberapa
poin yang dapat dijadikan sebagai ukuran kesediaan nelayan, antara lain pengaruh
perubahan harga di tingkat pengepul, komitmen pengepul dalam menepati
pembayaran, dan norma dalam menjual ikan kepada pemberi modal.
Skema strategi disusun dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process
tersusun dari beberapa level berikut : Level 0 - Goal : Menciptakan manajemen
rantai pasok yang adil dan lestari; Level 1 - Faktor : (a) trust dan komitmen, (b)
norma-norma kerjasama, (c) kebijakan pemerintah, (d) kepedulian terhadap
lingkungan; Level 2 - Aktor : (a) Nelayan, (b) Pengepul, (c) Perusahaan, (c) Pihak
luar; Level 3 - Tujuan : (a) peningkatan kesejahteraan nelayan (b) keberlanjutan
usaha nelayan dan pengepul (c) peningkatan nilai produk (d) kelestarian
sumberdaya alam; dan Level 4 - Skenario : (a) transparansi kerjasama antar pihak,
(b) fasilitasi peningkatan kapasitas SDM, (c) pengembangan akses informasi dan
teknologi, (d) intervensi pemerintah terhadap kebijakan.
Hasil sintesa yang digambarkan oleh grafik sensitivitas dari software expert
choice 2000 yang merupakan gambaran kombinasi pendapat dari 4 pihak, yaitu
dari pihak perusahaan, pihak akademisi, pihak LSM, dan pihak pemerintah adalah
sebagai berikut : Dalam mencapai goal, didapatkan prioritas skenario yang akan
dilakukan untuk mencapainya, yaitu skenario pertama adalah pengembangan
akses informasi dan teknologi (49,3%), yang artinya bahwa hampir dari setengah
dari goal dapat dicapai dengan menjalankan skenario ini. Kemudian menyusul
skenario yang kedua adalah fasilitasi peningkatan SDM dengan nilai 20,3%,
transparansi kerjasama antar pihak 17,9%, dan dengan dorongan 12,5% intervensi
dari pemerintah, maka goal akan dapat tercapai 100%.
Beberapa faktor yang akan mendukung skenario tersebut antara lain yang
terpenting adalah norma-norma kerjasama (35,4%), trust dan komitmen (29,8%),
kepedulian terhadap lingkungan (21,4%), dan kebijakan pemerintah (13,4%). Hal
ini berarti bahwa, menurut para ahli, norma-norma kerjasama menjadi prioritas
utama dalam menciptakan suatu manajemen rantai pasok yang adil dan lestari.
Dengan memprioritaskan pengembangan akses informasi dan teknologi,
nelayan memiliki peran yang sangat penting (50,9%), jauh lebih tinggi dari pada
aktor yang lain, yaitu perusahaan (18,8%), pengepul (16,5%), dan pihak luar
(13,9%). Namun demikian, sekecil apapun prosentase peranannya, semua pihak
harus bekerjasama untuk mencapai goal yang diinginkan bersama.
Perumusan tujuan sangat berperan dalam menentukan skenario yang akan
diambil. Keempat tujuan yang telah dibuat memiliki prosentase yang merata sama
satu sama lain. Peningkatan nilai produk 28,6%, kelestarian sumberdaya
alam25,1%, keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul 23,2%, sama dengan
peningkatan kesejahteraan nelayan 23,2%. Dengan demikian dapat diartikan
bahwa pada setiap skenario yan telah dibuat, masing-masing dapat secara
proporsional menjawab tujuan yang ingin dicapai oleh semua pihak dalam rangka
mencapai manajemen rantai pasok yang adil dan lestari.
Kata kunci: ikan hias laut, non sianida, manajemen rantai pasok, Kepulauan
Seribu, perdagangan yang adil dan lestari.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2010
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa ijin IPB
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOK IKAN HIAS LAUT
NON SIANIDA DI KEPULAUAN SERIBU
Oleh:
DIAN WISUDAWATI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Ir. Pramono Fewidarto, M. Sc
LEMBAR PENGESAHAN
Judul
: Analisis Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Laut Non
Sianida di Kepulauan Seribu
Nama Mahasiswa
: Dian Wisudawati
Nomor Pokok
: H 251070031
Program Studi
: Ilmu Manajemen
Disetujui
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Wilson H. Limbong, MS
Ketua
Dr. Ir. Jono M. Munandar, M. Sc
Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi
Ilmu Manajemen
Dr. Ir. Abdul Kohar Irwanto, M. Sc
Tanggal ujian: 22 Februari 2010
Dekan Sekolah Pasca Sarjana IPB
Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS
Tanggal lulus: 23 Juni 2010
Kupersembahkan karyaku , semoga bukan yang terakhir
kali kepada orang yang sangat kucintai, kusayangi, dan
kuhormati .....
Mama dan Bapak
Terimakasih atas semua cinta yang telah kalian berikan
selama 27 tahun ini
I love you...
PRAKATA
Alhamdulillah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan
judul “Analisis Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di Kepulauan
Seribu” sebagai syarat untuk kelulusan sekolah di Program Pasca Sarjana Ilmu
Manajemen – Institut Pertanian Bogor ini. Banyak sekali pihak-pihak yang
terlibat dalam pembuatan tugas akhir ini dari awal hingga selesai. Penulis ingin
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Mama Sugiarti dan Bapak Harunurrasyid atas cintanya hingga penulis selalu
dapat berkarya dan mengejar ilmu setinggi-tingginya.
2. Prof. Dr. Wilson H. Limbong, MS dan Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc atas
kesabarannya membimbing penulis selama satu tahun lebih.
3. Ir. Pramono Fewidarto, M. Sc atas keluangan waktunya, saran, serta
masukannya sebagai supervisor AHP sekaligus dosen penguji.
4. Mas Budi Santoso, suamiku tercinta, atas kesetiaannya menemani penulis
mulai dari urusan perijinan, hingga mendampingi penulis mengambil data di
lapang. I know I can’t make it without you...
5. Bang Idris dan teman-teman Yayasan TERANGI yang telah membukakan
akses tempat penelitian di Kepulauan Seribu dan menyediakan data bagi
penulis dengan sangat cepat dan taktis. You do the big help...
6. Abdul Khaliq, M. Si dan Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten
Administrasi Kepulauan Seribu atas data dan informasinya.
7. Bang Wahyu dan kelompok nelayan di Pulau Panggang yang meluangkan
waktunya untuk diskusi di malam hari dan mengijinkan penulis untuk ikut
menangkap ikan hias di Pulau.
8. Pak Jayadi, Lilis dan Ulva yang telah membantu dan menemani penulis dalam
mengambil data di Pulau Panggang.
9. Ibu Wiwie, Bapak Dody, Mas Erik, atas informasinya tentang bisnis ekspor
ikan hias laut di pasar Internasional.
10. Hino, Hani, Yani, dan Rima, teman-teman seperjuangan di masa kuliah atas
dukungannya kepada penulis.
11. Seluruh dosen Program Studi S2 Ilmu Manajemen atas pengajaran dan
motivasi yang selalu diberikan pada masa perkuliahan.
12. Teman-teman Lawalata IPB yang selalu mendukung penulis untuk tetap
menikmati proses penyelesaian tugas akhir ini bagai sebuah petualangan.
13. Putri, Titi, Menur, Ratih (teman-teman kosan) atas dukungannya di detik-detik
terakhir.
14. Semua staff Mayor Ilmu Manajemen yang telah membantu kelancaran
administrasi dan surat-menyurat dalam penelitian.
15. Dan semua teman-teman yang lain atas semua bantuannya.
Akhirnya, penulis berharap tugas akhir ini bisa bermanfaat bagi nelayan dan
perusahaan, serta semua pihak yang membutuhkannya.
Bogor, Mei 2010
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Pada tanggal 27 Januari 1983, penulis dilahirkan di
Ponorogo dari Ib u Sugiarti dan Bapak Harunurrasyid.
Besar harapan mereka akan anak pertama dari dua
bersaudara ini, yaitu menjunjung tinggi harga diri
keluarga dan mengejar cita-cita setinggi mungkin.
Selama hidupnya, penulis mengisi hari-harinya dengan
berpetualang sambil belajar. Sekolah di SMU I
Ponorogo, penulis mengikuti ekstrakurikuler pecinta alam Ganesha Pala dan lulus
pada tahun 2001. Penulis kemudian mengambil kuliah sarjana di Institut Pertanian
Bogor pada Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Melanjutkan petualangannya, penulis mengikuti UKM Lawalata
- IPB
(Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam) dan aktif di divisi Tirta. Kekuatannya
dalam mengikuti Ekspedisi INSTANT (International Nusantara STratification
ANd Transport) di perairan Indonesia Timur bekerjasama dengan Badan Riset
Kelautan dan Perikanan DKP, membawanya lulus dengan skripsi berjudul
Distribusi Sebaran Kopepoda dengan menggunakan ADCP (Accoustic Doppler
Current Profiller) di Selat Ombay, Timor pada tahun 2006. Setahun melalang
buana di dunia LSM, penulis akhirnya memutuskan untuk mengambil Program
Pasca Sarjana Ilmu Manajemen di Institut Pertanian Bogor. Sambil kuliah, penulis
beraktivitas sebagai volunteer di LSM Perkumpulan Telapak, yaitu LSM yang
memperjuangkan nelayan, petani, dan masyarakat adat. Isu yang diangkat adalah
isu lingkungan hidup, dan penulis tertarik dengan isu laut. Menggabungkan kedua
disiplin ilmu di bangku kuliah S2 dan S1, penulis mengambil tesis berjudul
Analisis Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di Kepulauan Seribu.
Tesis ini mengantarnya lulus pada tahun 2010 untuk tantangan kehidupan
selanjutnya.
DAFTAR ISI
Hal.
I
II
III
IV
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...........................................................................
1.2. Rumusan Masalah ......................................................................
1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................
1.4. Kegunaan Penelitian ..................................................................
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Manajemen Rantai Pasok ..........................................................
2.1.1. Manajemen Rantai Pasok sebagai Filosofi Manajemen ..
2.1.2. Manajemen Rantai Pasok sebagai Serangkaian Aktivitas
untuk Mengimplementasikan Filosofi Manajemen ........
2.1.3. Manajemen Rantai Pasok sebagai Serangkaian Proses
Manajemen ....................................................................
2.2. Orientasi Rantai Pasok .............................................................
2.2.1. Variabel-variabel Orientasi Rantai Pasok ......................
2.2.2. Model Manajemen Rantai Pasok (Mentzer et al, 2001) ..
METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran ..................................................................
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................
3.3. Jenis dan Sumber Data ..............................................................
3.4. Metode Pemilihan dan Penarikan Sampel .................................
3.5. Metode Pengumpulan Data .......................................................
3.6. Pengolahan dan Analisis Data ..................................................
3.6.1. Analisis Deskriptif ..........................................................
3.6.2. Analisis Deskriptif Kuantitatif .......................................
3.6.3. Analysis Hierarchy Process (AHP)..................................
GAMBARAN UMUM
4.1. Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu ...............................
4.1.1. Kondisi Geografis ............................................................
4.1.2. Aspek Alam .....................................................................
4.1.3. Aspek Pemerintahan dan Pengelolaan Wilayah ...............
4.1.4. Aspek Sosial dan Ekonomi ...............................................
4.1.5. Kelimpahan Ikan di Kepulauan Seribu ............................
4.2 Kelurahan Pulau Panggang ........................................................
4.2.1. Demografi di Kelurahan Pulau Panggang .......................
4.2.2. Sertifikasi Ikan Hias Non Sianida ...................................
4.3. Praktek Penangkapan Ikan Hias Laut Ramah Lingkungan ......
4.4. Karakteristik Pelaku dalam Rantai Pasok Ikan Hias Laut Non
Sianida di Kepulauan Seribu ...................................................
4.4.1. Nelayan Ikan Hias Laut di Kepulauan Seribu .................
4.4.2. Pengepul Ikan Hias Laut di Kepulauan Seribu ...............
4.4.3. Perusahaan Ekspor Ikan Hias Laut di Tangerang ............
iv
v
vi
1
5
6
6
7
11
12
16
17
19
24
26
29
30
30
31
32
32
33
36
42
42
42
43
45
46
47
47
49
53
54
54
56
59
V
VI
VII
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Gambaran Rantai Pasok Ikan Hias Laut ....................................
5.1.1. Struktur Rantai Pasok .....................................................
5.1.2. Entitas Rantai Pasok ........................................................
5.1.3. Manajemen Rantai Pasok ..................................................
5.1.4. Sumber Daya Rantai Pasok ..............................................
5.1.5. Proses Bisnis Rantai Pasok .............................................
5.1.6. Strategi Pemasaran Ikan Hias Laut ..................................
5.2. Kesediaan Nelayan untuk Berpartisipasi dalam Rantai Pasok
Ikan Hias Non Sianida ................................................................
5.3. Strategi Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di
Kepulauan Seribu ........................................................................
5.3.1. Penyusunan Hierarki ........................................................
5.3.2. Penentuan Kriteria dan Pembobotan .................................
5.3.3. Interpretasi Masing-masing Kriteria ................................
5.4. Implikasi Manajerial ...................................................................
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan ................................................................................
6.2. Saran ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................
63
63
75
76
78
81
90
95
102
102
107
109
118
121
121
123
DAFTAR TABEL
No.
Teks
1.
2.
3.
4.
Posisi Indonesia sebagai negara pengekspor ikan hias di dunia ........
Definisi Manajemen Rantai Pasok Menurut Beberapa Penulis .......
Susunan Sampel dan Ahli sebagai Responden ..................................
Responden Ahli pada Perumusan Strategi MRP Ikan Hias yang Adil
dan Lestari ..........................................................................................
Nilai dan Definisi Pendapat Kualitatif (Saaty, 1983) .......................
Jumlah Penduduk Kelurahan Pulau Panggang Berdasarkan Umur ...
Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan ...........................
Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian ..............................
Dokumen Sertifikasi Ikan Hias ..........................................................
Perhitungan Ekonomis Penangkapan Ikan dengan Sianida ...............
Perhitungan Ekonomis Penangkapan Ikan Hias tanpa Sianida ..........
Jaringan Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias di Kepulauan
Seribu dari Nelayan hingga Perusahaan ............................................
Aktivitas Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di
Kepulauan Seribu ...............................................................................
Daftar Pemasok Bahan Baku Non Ikan Hias dalam Rantai Pasok .....
Perbedaan Harga pada Beberapa Jenis Ikan Hias Laut di Kepulauan
Seribu .................................................................................................
Visi, Misi, dan Tujuan Perusahaan ...................................................
Respon untuk Variabel Kepercayaan (trust) .....................................
Respon untuk Variabel Komitmen ....................................................
Respon untuk Variabel Norma-norma Kerjasama ............................
Respon untuk Variabel Kesalingtergantungan ...................................
Respon untuk Variabel Kesesuaian ...................................................
Respon untuk Variabel Hubungan Tambahan ....................................
Respon untuk Variabel Jaminan Kepastian ........................................
Inconsistency Ratio Tahap Pertama ....................................................
Inconsistency Ratio Tahap Kedua ......................................................
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
Hal.
3
10
31
37
39
48
48
49
51
55
55
65
71
72
85
90
97
98
98
99
100
101
102
107
108
DAFTAR GAMBAR
No.
Teks
1.
2.
3.
Nilai Ekspor Ikan Hias Laut Indonesia tahun 2007 ...........................
Ilustrasi Saluran Distribusi Ikan Hias Laut ........................................
a. Direct Supply Chain ....................................................................
b. Extended Supply Chain ...............................................................
c. Ultimate Supply Chain .................................................................
Variabel (antecedents) dan Outcome (consequences) Manajemen
Rantai Pasok, (Mentzer et. al., 2001) ...............................................
Model Manajemen Rantai Pasok (Mentzer et al., 2001) ...................
Kerangka Pemikiran Operasional ......................................................
Peta Lokasi Penelitian ........................................................................
Skema Analysis Hierarchy Process untuk Ultimate Goal tertentu ....
Keragaman jenis dan kelimpahan ikan hias laut di Kepulauan
Seribu ...............................................................................................
Pelatihan dan Sertifikasi MAC nelayan dan pengepul responden ....
Sebaran usia dan pengalaman nelayan ikan hias laut ........................
Sebaran jumlah tanggungan dan pendapatan harian nelayan ikan
hias laut ..............................................................................................
Sebaran pendidikan nelayan dan keanggotaan kelompok nelayan
ikan hias laut .....................................................................................
Sebaran usia dan pengalaman pengepul ikan hias laut ......................
Sebaran omset bulanan dan jumlah tanggungan pengepul ikan hias
laut .....................................................................................................
Keanggotaan kelompok pengepul dan tingkat pendidikan pengepul
ikan hias laut .....................................................................................
Jumlah nelayan dan jumlah karyawan pengepul ikan hias laut ........
Jaringan Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di
Kepulauan Seribu ...............................................................................
Pola Aliran dalam Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di
Kepulauan Seribu ...........................................................................
Alur Perdagangan Ikan Hias dari Nelayan Kepulauan Seribu hingga
ke Pembeli Akhir di Luar Negeri .......................................................
Pairwise comparison untuk aktor yang berperan dalam rantai pasok
ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu ......................................
Skema Analysis Hierarchy Process untuk Manajemen Rantai Pasok
yang Adil dan Lestari .......................................................................
Hasil Pembobotan Pemilihan Strategi dalam Menciptakan
Manajemen Rantai pasok Ikan Hias Laut yang Adil dan Lestari .....
Grafik Sensitivitas terhadap Faktor dalam Mencapai Goal ..............
Grafik Sensitivitas terhadap Aktor dalam Mencapai Goal ...............
Grafik Sensitivitas terhadap Tujuan dalam Mencapai Goal ..............
Grafik Sensitivitas Prioritas Skenario dalam Mencapai Goal ............
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
Hal.
2
4
9
9
9
19
24
28
29
38
47
52
55
55
56
57
58
59
59
63
73
84
96
103
108
109
111
113
115
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Teks
Hal.
1.
2.
Volume Ekspor Ikan Hias Laut di Indonesia 5 Tahun Terakhir ........
Peta Sumber Daya Ikan Hias dan Ekosistem Terumbu Karang di
Kelurahan Pulau Panggang ................................................................
Jenis-jenis ikan hias komoditi Kepulauan Seribu ..............................
Kuesioner untuk Nelayan ..................................................................
Kuesioner untuk Pengepul ................................................................
Kuesioner untuk Perusahaan ..............................................................
Struktur Hierarki Awal Rantai pasok Ikan Hias Non Sianida di Kep.
Seribu ................................................................................................
Kuesioner Analytical Hierarchi Process ............................................
View-Tree Analytical Hierarchy Proses Kombinasi .........................
Grafik Sensitivitas Masing-masing Responden AHP ........................
Profil Perusahaan Ekspor Ikan Hias Laut .........................................
Gambar Aktivitas Selama Penelitian ..................................................
127
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
128
129
131
135
139
142
143
146
152
158
163
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia terletak pada wilayah segitiga
terumbu karang (coral reef triangle) dunia. Posisi tersebut menempatkan
Indonesia sebagai salah satu Negara dengan penutupan terumbu karang terluas di
dunia. Menurut Burke (2002) dalam lingkup regional Asia Tenggara, Indonesia
memiliki persentase kepemilikan terumbu karang sebesar 51%, sedangkan dalam
tingkatan dunia sebesar 18% dengan catatan estimasi akurat.
Dalam kawasan segitiga terumbu karang, ribuan jenis ikan hidup dan
tinggal beserta organisme laut lainnya (marine living organism). Dengan
demikian terumbu karang memiliki potensi Sumber Daya Ikan (SDI) yang sangat
tinggi. Sementara itu terumbu karang juga bernilai ekonomis tinggi (high
economic values) dan bernilai konservasi tinggi (high conservation values). Lebih
dari itu, kawasan terumbu karang juga memiliki fungsi ekologis tinggi bagi
keberlangsungan kehidupan dan menjaga keseimbangan alam demi masa depan
yang berkelanjutan (sustainable future).
Dilihat dari perspektif ekonomi, terumbu karang adalah sumber devisa
negara yang sangat potensial melalui ekspor ikan konsumsi, ikan hias, kulit
kerang, rumput laut, obyek wisata bahari, dan bahan obat-obatan. Beragam jenis
ikan hias tersebar di berbagai perairan terutama menghuni habitat sekitar terumbu
karang. Terdapat sekitar 650 species, 480 species diantaranya sudah teridentifikasi
dan sekitar 200 species diantaranya telah diperdagangkan (Poernomo, 2008). Nilai
ekonomi total terumbu karang Indonesia mencapai US $ 466 juta. Khusus untuk
ikan hias yang dihasilkan dari ekosistem terumbu karang Indonesia, nilainya
mencapai US $ 32 juta pertahun (Reefbase, 2001).
Nilai ekspor ikan hias laut di Indonesia seperti yang tergambar pada
Gambar 1 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki nilai ekspor ikan hias laut
yang signifikan di sekitar 10 negara tujuan ekspor di dunia, yaitu USA, Jepang,
Malaysia, Singapura, UK, Jerman, Italy, Perancis, Kanada dan Belanda. Nilai
ekspor tertinggi adalah ekspor yang dilakukan ke USA, mencapai lebih dari US $
1,8 juta. Lampiran 1 menyajikan data tentang volume ekspor ikan hias laut
Indonesia di berbagai negara di dunia dalam 5 tahun terakhir.
Sumber : Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia - Ekspor - 2007 (BPS Jakarta, Indonesia)
– setelah diolah.
Gambar 1. Nilai Ekspor Ikan Hias Laut Indonesia tahun 2007
Peluang pasar di dunia masih terbuka luas untuk ikan hias laut Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi menyatakan bahwa ikan hias
asal Indonesia masih berpotensi besar untuk mengisi pasar ekspor ikan hias dunia,
mengingat Indonesia baru mengisi 14,6 juta dollar AS dari 500 juta dollar AS
pangsa pasar ikan hias di pasar global 1. Namun demikian, pangsa pasar ekspor
ikan hias laut Indonesia masih kalah dengan negara lain. Di Amerika Serikat,
Singapura mendominasi pangsa pasar sebesar 30%, sedangkan Indonesia hanya
6%. Ironinya adalah Indonesia sebagai pemilik terumbu karang justru kalah
dengan dalam merebut pangsa pasar (lihat Tabel 1).
Ekspor ikan hias Indonesia didominasi perusahaan eksportir ikan hias
yang juga memiliki usaha budidaya ikan hias sendiri. Usaha budidaya merupakan
upaya solutif dalam rangka pemanfaatan lestari dan menjauhkan dari pola
ketergantungan dari alam, meskipun potensi ikan hias sangat melimpah di alam
(terumbu karang Indonesia). Dengan begitu perusahaan eksportir ikan hias tidak
sepenuhnya masuk dalam ranah industri ekstraktif. Kondisi demikian mendorong
kerja keras perusahaan untuk memenuhi kuota permintaan pasar akan ikan hias
dengan kualitas ekspor.
1
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0501/31/ekonomi/ , Peluang Ekspor Ikan Hias Indonesia
Besar. 31 Januari 2005.
2
Tabel 1. Posisi Indonesia sebagai negara pengekspor ikan hias di dunia, 2004
No.
Negara Pengekspor Nilai (1000 US$) Negara Pengimpor
Ikan Hias
Ikan Hias
1.
Singapore
41.460
USA
2.
Malaysia
17.559
Japan
3.
Czech Republik
13.353
Germany
4.
Indonesia
12.648
United Kingdom
5.
Hongkng
9.477
France
6.
USA
8.381
Singapore
7.
Japan
8.332
Italy
8.
Peru
6.439
Belgium
9.
Philipine
6.439
Netherlands
10. Israel
5.603
Hongkong
11. Sri Langka
5.527
Canada
12. Thailand
5.245
Spain
13. Belgium
4.322
Malaysia
14. Colombia
4.284
Mexico
15. Spain
3.570
Australia
16. Ireland
3.322
Switzerland
17. Brazil
3.250
Norway
18. France
3.046
Sweden
19. Germany
2.744
Korea
20. China
2.166
Denmark
Sumber : Ornamental Fish International website, 2004
Nilai (1000 US$)
39.686
25.618
24.373
23.646
20.859
11.274
10.300
10.163
9.954
9.430
6.520
5.224
4.916
2.819
2.790
2.702
2.334
2.295
2.283
2.025
Keberlanjutan usaha (sustainable business) sangat dipengaruhi oleh
kesediaan (supply) bahan baku usahanya. Dalam hal ini kaitannya dengan ekspor
ikan hias, banyak perusahaan belum sepenuhnya mampu memenuhi stok dan
permintaan pasar luar negeri secara optimal. Kebutuhan pasokan ikan hias
perusahaan memerlukan sumber bahan baku yang bukan hanya disuplai dari
manajemen perusahaan sendiri. Harus ada sumber lain sehingga kuota pasar
ekspor dapat terserap secara baik. Ketersediaan bahan baku merupakan hal yang
esensial untuk menjamin sebuah keberlanjutan usaha.
Gejolak meningkatnya permintaan pasar menyebabkan banyaknya nelayan
beralih profesi menjadi nelayan ikan hias. Meskipun budidaya ikan hias untuk
kebutuhan ekspor telah banyak dilakukan oleh banyak perusahan, namun kuota
ikan hias masih juga belum terpenuhi secara optimal. Sentimen positif pasar yang
ditandai dengan tingginya permintaan pasar terhadap ikan hias telah mendorong
nelayan untuk mempraktekkan usaha perikanan merusak (destructive fishing) atau
tidak ramah lingkungan. Banyak diantaranya nelayan ikan hias menggunakan
3
potassium sianida 2 dan atau/ bom. Cara ini memungkinkan nelayan untuk
menangkap ikan hias dengan cara relatif cepat dan mudah. Namun di lain pihak,
pasar luar negeri menghendaki ikan hias yang bebas sianida. Mereka tidak sadar
bahwa praktek perikanan tersebut dapat mengancam keberlanjutan usaha dan
tentu saja berdampak langsung bagi kehidupan dan kesejahteraan hidup mereka
sendiri kedepannya. Oleh karena itu perlu kiranya perusahaan mencoba
membangun kemitraan partisipatif dengan cara pelibatan (engagement) nelayan
dan pengepul dalam usaha ekspor ikan hias non sianida dengan tujuan untuk
memenuhi kuota ekspor ikan hias.
Dalam menjalankan sebuah usaha, perusahaan biasanya membangun
kemitraan usaha dengan nelayan dan pengepul untuk memenuhi rantai pasok
(supply chain) ikan hias guna keberlanjutan usahanya. Keterlibatan nelayan dan
pengepul dalam pemenuhan stok ikan hias perusahaan dimungkinkan memiliki
multiplayer effect yang tidak hanya sebatas pada keberlanjutan usaha bagi pihak
yang bermitra tetapi juga bisa mendukung upaya pelestarian sumberdaya hayati
laut (marine living resources) khususnya ikan hias air laut. Melalui penelitian ini
akan coba ditemu-kenali dasar-dasar relasi yang menyebabkan nelayan dan
pengepul bersedia untuk berpartisipasi dalam pemenuhan pasokan ikan hias di
wilayah Kepulauan Seribu. Hal ini berkenaan dengan aliran distribusi ikan hias
laut mulai dari nelayan, pengepul, perusahaan sebagai eksportir, sampai pada
importirnya (lihat Gambar 2).
Nelayan
(supplier)
Perusahaan
(farm dan
eksportir)
Pengepul
(collector)
Importir
(buyer)
Keterangan :
: Aliran informasi
: Aliran produk
Gambar 2. Ilustrasi Saluran Distribusi Ikan Hias Laut
2
Sianida atau potasium merupakan senyawa kimia NaCN dan KCN yang apabila berikatan dengan
air akan menjadi senyawa HCN. Satu semprotan sianida sebanyak 20 cc dapat mematikan terumbu
karang seluas 5 x 5 m2 dalam waktu 3-6 bulan.
4
1.2. Rumusan Masalah
Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya terdapat beberapa perusahaan
eksportir ikan hias yang telah memiliki jaringan pemasok dari pengepul hingga
nelayan yang berada di Kepulauan Seribu. Hal ini membuat Kepulauan Seribu
menjadi salah satu mata rantai penting dalam perdagangan ikan hias laut di
Indonesia sejak 30 tahun lalu. Pemanfaatan ikan hias ini terkonsentrasi di Pulau
Panggang. Dari pulau ini dapat disuplai sekitar 107 jenis ikan hias laut untuk
diperdagangkan di pasar internasional.
Namun demikian, pengelolaan ikan hias laut di Kepulauan Seribu ini
masih sangat terbatas. Kurangnya peran pemerintah dan pihak yang terkait
membuat pengelolaan ini mengarah pada pengelolaan yang tidak bertanggung
jawab. Penggunaan alat tangkap yang merusak, penggunaan potassium/ sianida
merupakan hal-hal yang menyebabkan menurunnya kualitas ikan hias dan
terjadinya degradasi terumbu karang.
Dari sisi konservasi, ada beberapa pihak yang peduli dengan hal ini
kemudian mempromosikan cara tangkap dengan menggunakan cara yang lebih
ramah terhadap lingkungan, yang tidak merusak terumbu karang. Untuk kasus di
wilayah Kepulauan Seribu ini, LSM TERANGI (Terumbu Karang Indonesia)
bekerjasama dengan lembaga sertifikasi ikan hias laut non sianida, MAC (Marine
Aquarium Council) mencoba untuk masuk ke masyarakat nelayan di Pulau
Panggang dan menawarkan solusi pengelolaan ikan hias yang lebih ramah
lingkungan, yaitu dengan menggunakan jaring. Saat ini, masyarakat nelayan di
Pulau Panggang telah dapat membuktikan bahwa mereka adalah nelayan yang
ramah lingkungan.
Hal yang paling mendasar yang perlu dianalisis untuk dapat mewujudkan
suatu rantai pasok yang kohesif adalah mengenai kesediaan dari masing-masing
pihak untuk bisa bekerjasama dengan baik. Untuk itu dasar-dasar relasi yang bisa
mempertemukan antara nelayan, pengepul, dan perusahaan eksportir serta
importir agar dapat bermitra dalam manajemen rantai pasok ikan hias dikaji dalam
penelitian ini. Adanya kesadaran bahwa mereka saling memerlukan satu sama lain
semestinya bisa membawa mereka pada suatu kesepakatan atau kesepahaman
yang berakhir pada perjanjian jangka panjang baik secara tertulis maupun tidak
5
tertulis untuk saling memenuhi kepentingan masing masing pihak demi satu
tujuan utama, yaitu kepuasan pelanggan. Untuk itu perlu dibangunnya sebuah
skema mekanisme kemitraan dan kerjasama yang mampu mendorong terciptanya
sebuah sistem manajemen rantai pasok ikan hias yang efektif dengan prinsip fair
trade antara perusahaan, nelayan dan pengepul.
Beberapa uraian di atas menjadi dasar untuk pertanyaan penelitian sebagai
berikut:
a. Bagaimanakah gambaran mekanisme rantai pasok ikan hias non sianida
di Kepulauan Seribu?
b. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kesediaan nelayan untuk
berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias non sianida?
c. Skema manajemen rantai pasok yang seperti apa yang ideal, yang dapat
diaplikasikan di lapang sebagai sebuah skema manajemen rantai pasok
yang adil bagi semua pihak yang terlibat (fair trade)?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan
untuk:
a. Menggambarkan mekanisme rantai pasok ikan hias non sianida di
Kepulauan Seribu.
b. Menganalisis hal-hal yang mempengaruhi kesediaan nelayan untuk
berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias non sianida.
c. Memberikan altenatif skema manajemen rantai pasok ikan hias non
sianida yang efektif dan sesuai dengan prinsip fair trade bagi nelayan,
pengepul, dan perusahaan.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan/saran bagi suatu sistem
manajemen rantai pasok khususnya bagi nelayan, pengepul, dan perusahaan
dalam menjalankan kegiatan yang mendorong industri ekspor ikan hias laut non
sianida, terkait dengan pengembangan strategi pemasaran suatu sistem secara
menyeluruh melalui pendekatan manajemen rantai pasok yang lebih baik. Bagi
peneliti, penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian yang serupa.
6
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok
pembahasan. Pembahasan pertama merupakan penjelasan detail tentang definisi
Supply Chain Management (SCM) atau Manajemen Rantai pasok (MRP) untuk
membuka wacana pembaca akan betapa luasnya lingkup Supply Chain
Management. Pembahasan kedua adalah tentang filosofi cikal bakal implementasi
Manajemen Rantai pasok, yaitu Supply Chain Orientation (SCO) atau Orientasi
Rantai pasok (ORP), dimana pada pembahasan ini akan dibahas bahwa untuk
meraih MRP, perusahaan atau individu harus terlebih dahulu memiliki ORP.
Pada bab ini akan dibahas juga variabel-variabel yang akan digunakan di
dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel yang
ada dengan kesediaan para pihak, terutama pengepul, dalam hal ini sebagai target
responden untuk berpartisipasi di dalam organisasi rantai pasok di Kepulauan
Seribu.
2.1. Manajemen Rantai pasok (MRP)
Disadari atau tidak, rantai pasok sesungguhnya selalu ada di dunia bisnis
manapun, terlepas dari apakah rantai pasok tersebut dikelola atau tidak. Walaupun
suatu organisasi tidak secara aktif menjalankan konsep dari rantai pasok, namun
sebagai fenomena bisnis, rantai pasok tersebut akan tetap ada. Ada banyak sekali
pembahasan tentang Manajemen Rantai pasok (MRP) di berbagai jurnal riset,
antara lain Jornal of Business Logistics, International Journal of Logistics
Management, Journal of Marketing, Journal of Management, sampai Harvard
Business Review, dan masih banyak lagi. Namun Mentzer et. al (2001) mereview,
mengklasifikasikan, dan mensintesa beberapa definisi yang sering digunakan
tentang rantai pasok dan manajemen rantai pasok pada tataran akademis maupun
praktek bisnis. Mereka mengembangkan sebuah definisi yang komprehensif
dengan tujuan agar pada masa yang akan datang, riset tentang MRP ini dapat lebih
maju dan tepat sasaran karena definisi yang ambigu dari sebuah terminologi telah
diperjelas di dalam jurnal yang dipublikasikannya, yang akan dibahas pada
tinjauan pustaka di bawah ini.
Pembahasan tentang definisi “rantai pasok” akan dibahas terlebih dahulu,
karena terminologi ini dirasa lebih umum dari pada terminologi “manajemen
rantai pasok”. La Londe dan Masters (1994) menyatakan bahwa suatu rantai
pasok merupakan serangkaian perusahaan yang mengalirkan barang-barang ke
hilir. Pada umumnya, perusahaan yang sering mempraktekkan rantai pasok ini
adalah perusahaan manufaktur yang membuat produk dan mengirimkannya
sampai ke tangan konsumen akhir melalui rantai pasok – mulai dari produsen
dengan bahan mentah dan komponen-komponennya, assembling produknya,
grosir, agen retail, dan perusahaan transportasi, semuanya merupakan anggota dari
rantai pasok (La Londe dan Masters, 1994). Masih dengan konsep yang sama,
Lambert, Stock, dan Ellram (1998) mendefinisikan rantai pasok sebagai aliansi
beberapa perusahaan yang menyampaikan barang atau jasa ke pasar. Dalam hal
ini dapat digaris bawahi bahwa kedua konsep tentang rantai pasok di atas
memasukkan konsumen akhir sebagai bagian dari rantai pasok.
Definisi lain menyatakan bahwa rantai pasok merupakan jaringan beberapa
organisasi yang terlibat dari hulu ke hilir, dengan proses dan aktivitas yang
berbeda yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa yang disampaikan
pada konsumen paling akhir (Christopher, 1992).
Mensintesa dari beberapa definisi di atas, Mentzer et al. (2001)
mendefinisikan rantai pasok sebagai serangkaian entitas yang terdiri dari tiga atau
lebih entitas (baik individu maupun organisasi) yang terlibat secara langsung dari
hulu ke hilir dalam aliran produk, jasa, keuangan, dan/ atau informasi dari sumber
kepada pelanggan. Mentzer et al. (2001) juga mengkategorikan rantai pasok
menjadi tiga macam berdasarkan tingkat kompleksitasnya, yaitu :
1) Direct Supply Chain
Direct supply chain terdiri dari satu perusahaan, satu pemasok, dan satu
pelanggan yang terlibat dalam aliran hulu-hilir produk, jasa, keuangan,
dan/atau informasi (Gambar 3a).
2) Extended Suply Chain
Extended supply chain meliputi beberapa pemasok dari pemasok
penghubung dan beberapa pelanggan dari pelanggan penghubung,
8
semuanya terlibat di dalam aliran hulu-hilir produk, jasa, keuangan,
dan/atau informasi (Gambar 3b).
3) Ultimate Supply Chain
Ultimate supply chain meliputi semua organisasi yang terlibat di dalam
aliran hulu-hilir produk, jasa, keuangan, dan/atau informasi (Gambar 3c).
Kategori rantai pasok ini merupakan kategori yang paling rumit yang
berlaku pada rantai pasok yang kompleks. Pada Gambar 3c dapat dilihat
peran pihak ketiga, yaitu penyedia jasa finansial yang mengurusi segala
urusan finansial, mengasumsikan resiko, dan memberikan saran finansial;
penyedia jasa logistik yang megurusi aktivitas-aktivitas logistik antara dua
perusahaan; dan perusahaan penyedia jasa riset pasar yang menyediakan
informasi
tentang
pelanggan
terakhir
kepada
perusahaan
untuk
memperkuat rantai pasok yang ada.
TIPE-TIPE RANTAI PASOK
SUPPLIER
ORGANIZATION
CUSTOMER
Gambar 3a. Direct Supply Chain
SUPPLIER’S
SUPPLIER
...
SUPPLIER
ORGANIZATION
CUSTOMER
...
CUSTOMER’S
CUSTOMER
...
ULTIMATE
CUSTOMER
Gambar 3b. Extended Supply Chain
THIRD PARTY
LOGISTICS SUPPLIER
ULTIMATE
SUPPLIER
...
SUPPLIER
ORGANIZATION
FINANCIAL
PROVIDER
CUSTOMER
MARKET
RESEARCH TEAM
Gambar 3c. Ultimate Supply Chain
Lebih jauh lagi, kita akan membahas tentang rantai pasok yang dikelola dan
dijadikan sebagai konsep yang sudah atau akan diimplementasikan pada suatu
9
Tabel 2. Definisi Manajemen Rantai Pasok oleh Beberapa Penulis
Penulis
Definisi
Monczka,
Trent, dan
Handfield
(1998)
MRP merupakan fungsi-fungsi material yang terpisah yang
akan dikoordinasikan kepada eksekutif untuk keseluruhan
proses material, yang dalam hal ini diperlukan suatu
kerjasama antar pemasok lintas level. MRP adalah suatu
konsep,
“yang
tujuan
utamanya
adalah
untuk
mengintegrasikan dan mengelola sumber daya, aliran, dan
kontrol material yang ada dengan perspektif sistem lintas
fungsional dan lintas pemasok secara total”.
La Londe dan
Masters
(1994)
Strategi rantai pasok meliputi: “... dua atau lebih perusahaan
dalam satu rantai pasok dengan kesepakatan jangka panjang;
... merupakan pengembangan kepercayaan dan komitmen
dalam suatu hubungan; ... integrasi aktivitas logistik yang
melibatkan sharing data permintaan dan penjualan; ... suatu
potensi perubahan lokus kontrol pada proses logistik.”
Stevens (1989) “Tujuan mengelola rantai pasok adalah untuk menyelaraskan
kebutuhan pelanggan dengan aliran material dari pemasok,
untuk mendapatkan keseimbangan atas ketimpangan tujuan
yang sering terjadi dalam memberikan pelayanan terbaik
untuk pelanggan, manajemen inventory rendah, dan biaya per
unit rendah.”
Houlihan
(1988)
Jones dan
Riley (1985)
Cooper et al.
(1997)
Perbedaan antara manajemen rantai pasok dan kontrol
material serta manufaktur klasik adalah: “1) Rantai pasok
dipandang sebagai proses tunggal. Tanggung jawab untuk
berbagai segmen di dalam rantai tidak terpisah-pisah,
kemudian diserahkan pada ranah fungsional seperti
manufaktur, pembelian, distribusi, dan penjualan. 2)
Manajemen rantai pasok bergantung pada pengambilan
keputusan strategis. “Supply” merupakan tujuan bersama dari
semua fungsi di dalam rantai secara praktis dan signifikan
khususnya dalam hal strategis karena akan berdampak pada
keseluruhan biaya dan pangsa pasar. 3) Manajemen rantai
pasok memiliki perspektif yang berbeda pada inventory yang
digunakan sebagai suatu mekanisme keseimbangan untuk
alternatif terakhir. 4) Diperlukan sebuah pendekatan baru pada
sistem – integrasi lebih baik dari pada terpisah-pisah.
“Manajemen rantai pasok berhubungan dengan total aliran
material dari pemasok sampai konsumen akhir...”
Manajemen rantai pasok adalah “... suatu filosofi terintegrasi
yang digunakan untuk mengelola total aliran dalam saluran
distribusi dari pemasok sampai konsumen terakhir”
organisasi. Manajemen rantai pasok didefinisikan dengan pengertian yang
berbeda-beda oleh beberapa penulis. Mentzer et al., (2001) telah merangkumkan
10
beberapa definisi dan penjelasan lainnya mengenai “manajemen rantai pasok”
yang digali dari beberapa penulis yang dapat dilihat pada Tabel 2.
2.1.1. Manajemen Rantai Pasok sebagai Filosofi Manajemen
Sebagai suatu filosofi, MRP mengambil pendekatan sistem untuk melihat
rantai pasok sebagai entitas tunggal. Bukan hanya sekedar rangkaian dari bagian
bagian yang terpisah, yang tiap bagiannya menjalankan fungsinya (Ellram dan
Cooper 1990; Houlihan 1988; Tyndall et al. 1998). Dengan kata lain, filosofi
manajemen rantai pasok telah meluas dari konsep kemitraan kepada usaha
beberapa perusahaan untuk mengelolan aliran total produk dari pemasok sampai
pada konsumen akhir (Ellram 1990; Jones dan Riley 1985). Dengan demikian bisa
dikatakan bahwa MRP merupakan kompilasi kepercayaan dari beberapa
perusahaan di dalam rantai pasok yang secara langsung maupun tidak langsung
mempengaruhi kinerja semua anggota rantai pasok, sampai pada mata rantai yang
paling ujung, yang berarti juga mempengaruhi keseluruhan kinerja rantai pasok
(Cooper et al. 1997).
MRP sebagai filosofi manajemen mencari keselarasan dan konvergensi
kapabilitas operasional dan strategis baik di dalam perusahaan maupun antar
perusahaan menjadi sebuah kesatuan, menyatukan kekuatan pasar (Ross, 1998).
MRP sebagai suatu filosofi yang terintegrasi mengarahkan anggota rantai pasok
untuk fokus mengembangkan solusi-solusi inovatif untuk menciptakan nilai
pelanggan yang unik dengan sumberdaya tersendiri. Langley dan Holcomb (1992)
menyatakan bahwa tujuan MRP sebaiknya merupakan keselarasan dari
keseluruhan aktivitas rantai pasok untuk menciptakan nilai pelanggan. Sehingga
filosofi MRP menyatakan bahwa batasan MRP tidak hanya meliputi logistik,
namun juga keseluruhan fungsi-fungsi yang lain di dalam perusahaan dan di
dalam rantai pasok untuk menciptakan nilai dan kepuasan pada pelanggan. Dalam
konteks ini, memahami nilai dan kebutuhan pelanggan merupakan hal yang
penting (Ellram dan Cooper 1990; Tyndall et al. 1998) . Dengan kata lain, filosofi
MRP mengarahkan anggota rantai pasok untuk memiliki orientasi pelanggan.
Berdasarkan pembahasan di atas, Mentzer et al. (2001) menyatakan bahwa
MRP sebagai filosofi manajemen memiliki karakteristik sebagai berikut:
11
1) Suatu pendekatan sistem untuk melihat rantai pasok sebagai satu
kesatuan yang utuh, dan untuk mengelola total aliran inventory barang
dari pemasok kepada konsumen akhir.
2) Suatu orientasi strategis menuju usaha kooperatif untuk menyelaraskan
dan mempertemukan kapabilitas operasional dan strategis baik di dalam
perusahaan maupun antar perusahaan pada satu kesatuan yang utuh.
3) Suatu fokus pelanggan untuk menciptakan nilai pelanggan yang unik
dan sumber daya tersendiri, yang membawa pada kepuasan pelanggan.
2.1.2. Manajemen Rantai Pasok sebagai Serangkaian Aktivitas untuk
Mengimplementasikan Filosofi Manajemen
Dalam mengadopsi filosofi manajemen rantai pasok, perusahaan harus
membangun praktek-praktek manajemen yang membuat mereka berperilaku
secara konsisten dengan filosofi yang dimaksud. Seperti halnya banyak penulis
yang berfokus pada aktivitas yang mencirikan manajemen rantai pasok. Penelitian
berikut
menyatakan
beberapa
aktivitas-aktivitas
yang
diperlukan
untuk
mengimplementasikan filosofi MRP dengan sukses.
Aktivitas-aktivitas MRP tersebut antara lain :
1. Integrated Behavior (Perilaku yang terintegrasi)
Bowersox dan Closs (1996) berpendapat bahwa untuk mencapai
keefektifan yang penuh di lingkungan persaingan saat ini, perusahaan
harus memperluas perilaku terintegrasi mereka untuk mempertemukan
pelanggan dengan pemasok. Perluasan perilaku terintegrasi ini, melintasi
integrasi eksternal, mengacu pada Bowersox dan Closs (1996) sebagai
manajemen rantai pasok. Dalam konteks ini, filosofi MRP pada saatnya
akan berubah menjadi implementasi manajemen rantai pasok: Serangkaian
aktivitas
yang
menjunjung
filosofinya. Serangkaian aktivitas ini
merupakan usaha yang terkoordinasi yang disebut manajemen rantai pasok
antara mitra-mitra rantai pasok, seperti pemasok, perantara, dan
manufaktur, untuk merespon kebutuhan konsumen secara dinamis (Greene
1991).
12
2. Mutually Sharing Information (Berbagi informasi satu sama lain)
Terkait dengan perilaku yang terintegrasi, berbagi informasi satu sama lain
diantara
anggota
rantai
pasok
sangat
diperukan
untuk
mengimplementasikan filosofi MRP, terutama dalam hal perencanaan dan
proses monitoring (Cooper et al. 1997; Cooper, Lambert, dan Pagh 1997;
Ellram dan Cooper 1990; Novack, Langley, dan Rinehart 1995; Tyndall et
al. 1998). Cooper, Lambert, dan Pagh (1997) menyoroti tentang update
informasi yang rutin diantara anggota rnati pasokan agar manajemen rantai
supali menjadi efektif. The Global Logistics Research Team di Michigan
State University (1995) mendefinisikan berbagi informasi sebagai suatu
kesediaan untuk membuat data strategis dan taktis yang dapat diakses oleh
semua anggota rantai pasok. Keterbukaan dalam berbagi informasi seperti
tingkat inventory, peramalan, strategi promosi penjualan, dan strategi
pemasaran dapat mengurangi ketidakpastian diantara mitra pemasok dan
akhirnya dapat meningkatkan kinerja rantai pasok (Andel 1997; Lewis dan
Talalayevsky 1997; Lusch dan Brown 1996; Salcedo dan Grackin 2000).
3. Mutually Sharing Risk Dan Rewards (Berbagi resiko dan penghargaan
satu sama lain)
MRP yang efektif juga memerlukan aktivitas berbagi resiko dan
penghargaan satu sama lain untuk mendapatkan keuntungan kompetitif
(Cooper dan Ellram 1993). Berbagi resiko dan penghargaan sebaiknya
berlangsung dalam jangka waktu yang panjang (Cooper et al. 1997).
Berbagi resiko dan penghargaan sangat penting untuk fokus jangka
panjang dan kerjasama diantara anggota rantai pasok (Cooper et al. 1997;
Cooper, Lambert, dan Pagh 1997; Ellram dan Cooper 1990; Novack,
Langley, dan Rinehart 1995; Tyndall et al. 1998).
4. Cooperation (Kerjasama)
Kerjasama diantara anggota rantai pasok diperlukan untuk MRP yang
efektif (Ellram dan Cooper 1990; Tyndall et al. 1998). Kerjasama dalam
hal ini mengacu pada kesamaan atau keharmonisan, aktivitas-aktivitas
yang terkoordinasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam
suatu hubungan bisnis untuk menghasilkan beberapa outcome atau
13
outcome yang superior yang merupakan harapan bersama dari waktu ke
waktu (Anderson dan Narus 1990). Kerjasama tidak terbatas pada
kebutuhan transaksi dan apa yang terjadi saat ini pada beberapa tingkat
manajemen (misalnya, pada manajer operasional ataupun manajer pada
tingkat atas), namun melibatkan koordinasi lintas fungsional diantara
anggota rantai pasok (Cooper et al. 1997). Tindakan bersama dalam
hubungan yang intim mengacu pada perwujudan aktivitas utama dalam
kerjasama atau cara yang terkoordinasi (Heide dan John 1990). Kerjasama
dimulai dari perencanaan bersama dan diakhiri dengan kontrol bersama
untuk mengevaluasi kinerja dari anggota rantai pasok, sebagaimana rantai
pasok sebagai satu kesatuan (Cooper et al. 1997). Perencanaan dan
evaluasi bersama melibatkan proses-proses yang telah dan sedang
berlangsung dalam beberapa tahun (Cooper et al. 1997). Dalam hal
perencanaan dan kontrol, diperlukan kerjasama untuk mengurangi
inventory rantai pasok dan mengejar efisiensi biaya rantai pasok secara
luas (Cooper et al. 1997; Dowst 1988). Lebih jauh lagi, anggota rantai
pasok harus bekerja bersama untuk pengembangan produk baru dan
keputusan-keputusan portofolio produk (Drozdowski 1986). Terakhir,
desain kontrol kualitas dan sistem pengiriman juga dilakukan dengan aksi
bersama (Treleven 1987).
5. The Same Goal Dan The Same Focus On Serving Customers (Tujuan
dan fokus yang sama dalam melayani pelanggan)
La Londe dan Masters (1998) berpendapat bahwa suatu rantai pasok akan
sukses juka semua anggota rantai pasok tersebut memiliki tujuan dan
fokus yang sama dalam melayani pelanggan. Membangun tujuan dan
fokus yang sama diantara anngota rantai pasok merupakan satu bentuk
integrasi kebijakan. Lassar dan Zinn (1995) menyatakan bahwa hubungan
yang sukses bertujuan untuk mengintegrasikan kebijakan rantai pasok
untuk menghindari kerugian dan tumpang tindih pekerjaan, sambil
mencari tingkat kerjasama yang memungkinkan partisipan untuk bisa lebih
efektif pada tingkat biaya yang lebih rendah. Integrasi kebijakan akan
14
memungkinkan jika ada budaya dan teknik manajemen yang kompatibel
diantara anggota rantai pasok.
6. Integration of Processes (Integrasi proses)
Implementasi MRP memerlukan integrasi proses dari sumberdaya sampai
manufaktur dan distribusi lintas rantai pasok (Cooper et al. 1997; Ellram
dan Cooper 1990). Integrsi dapat dilaksanakan melalui tim lintas
fungsional, personel pemasok yang terpasang, dan penyedia jasa sebagai
pihak ketiga (Cooper et al. 1997).
Stevens (1989) mengidentifikasi empat tahapan integrasi rantai pasok dan
membahas implikasi perencanaan dan operasinya pada tiap-tiap tahap
sebagai berikut:
Tahap 1) Merepresentasikan kasus dasar. Rantai pasok merupakan suatu
fungsi dari operasi yang terpisah pisah di dalam perusahaan masingmasing dan dicirikan melalui inventory yang bertahap, mdaniri, dan
memiliki sistem kontrol dan prosedur yang tidak kompatibel, dan
mengkotak-kotakkan fungsi-fungsi yang ada.
Tahap 2) Mulai fokus pada integrasi internal, dicirikan oleh munculnya
pengurangan biaya, belum pada perbaikan kinerja, inventory penyangga,
evaluasi awal transaksi internal, dan layanan pelanggan yang reaktif.
Tahap 3) Menuju tercapainya integrasi korporat internal dan dicirikan oleh
visibilitas penuh pembelian melalui distribusi, perencanaan jangka
mengengah, lebih mengutamakan hal-hal yang taktis daripada fokus
strategis, munculnya efisiensi, perluasan penggunaan dukungan elektronik
untuk akses jaringan, dan pendekatan reaktif yang berkelanjutan untuk
pelanggan.
Tahap 4) Mencapai integrasi rantai pasok dengan memperluas cakupan
integrasi di luar perusahaan untuk merangkul pemasok dan pelanggan.
7. Partners to Build dan Manintain Long-Term Relationships (Mitra
untuk membangun dan memelihara hubungan jangka panjang)
Manajemen rantai pasok yang efektif diciptakan berdasarkan serangkaian
kemitraan, sehingga MRP memerlukan mitra untuk membangun dan
memelihara hubungan jangka panjang (Cooper et al. 1997; Ellram dan
15
Cooper 1990; Tyndall et al. 1998). Cooper et al. (1997) percaya hubungan
horison waktu akan meluas bukan hanya sebatas kontrak – mungkin belum
pasti – dan, pada waktu yang sama jumlah mitra sebaiknya dalam jumlah
yang kecil untuk memfasilitasi kerjasama yang meningkat. Gentry dan
Vellenga (1996) berpendapat bahwa bukan merupakan suatu yang biasa
jika semua aktivitas utama dalam rantai – logistik inbound dan outbound,
operasi, pemasaran, penjualan, dan jasa – akan diperlihatkan oleh salah
satu perusahaan untuk memaksimalkan nilai pelanggan. Sehingga,
penyusunan aliansi strategis dengan mitra rantai pasok seperti pemasok,
pelanggan, atau perantara (misalnya layanan transportasi dan/atau
pergudangan) memberikan keuntungan kompetitif melalui penciptaan nilai
pelanggan (Langley dan Holcomb 1992).
2.1.3. Manajemen Rantai Pasok sebagai Serangkaian Proses Manajemen
Davenport (1993) mendefinisikan proses sebagai serangkaian aktivitas yang
terstruktur dan terukur yang dibuat untuk menghasilkan output yang spesifik
untuk pelanggan atau pasar tertentu. La Londe (1997) berpendapat bahwa MRP
merupakan proses mengelola hubungan, informasi, dan aliran material lintas
batasan perusahaan untuk memberikan peningkatan layanan pelanggan dan nilai
ekonomi melalui manajemen yang telah diselaraskan pada aliran barang-barang
fisik dan informasi yang menyertainya dari sumber bahan baku hingga
konsumsinya. Ross (1998) mendefinisikan proses rantai pasok sebagai fungsifungsi, institusi, dan operasi bisnis fisik aktual yang mencirikan jalannya
pergerakan barang dan jasa pada rantai pasok tertentu pada pasar melalui saluran
pipa pasokan. Dengan kata lain, suatu proses merupakan pengaturan yang spesifik
dari aktivitas lintas ruang dan waktu, dengan awalan dan akhiran, dengan jelas
teridentifikasi input dan output nya, serta suatu struktur untuk tindakan yang
dilakukan (Cooper et al. 1997; Cooper, Lambert, dan Pagh 1997; Ellram dan
Cooper 1990; Novack, Langley, dan Rinehart 1995; Tyndall et al. 1998).
Lambert,
Stock,
dan
Ellram
(1998)
menyatakan
bahwa
untuk
mengimplementasikan MRP dengan sukses, semua perusahaan dengan suatu
rantai pasok harus menguasasi tiap divisi fungsional mereka sendiri dan
mengadopsi sutau pendekatan proses. Sehingga, fungsi-fungsi di dalam rantai
16
pasok bisa diatur kembali sebagai proses kunci. Perbedaan yang kritis antara
fungsi-fungsi tradisional dan apa itu pendekatan proses adalah bahwa fokus pada
setiap proses merupakan cara untuk menemukan kebutuhan pelanggan dan bahwa
perusahaan diatur di seputar proses ini (Cooper et al. 1997; Cooper, Lambert, dan
Pagh 1997; Ellram dan Cooper 1990; Novack, Langley, dan Rinehart 1995;
Tyndall et al. 1998). Lambert, Stock, dan Ellram (1998) menyatakan pada
umumnya proses-proses kunci meliputi manajemen hubungan pelanggan,
pengadaan, dan pengembangan produk, serta komersialisasi.
2.2. Orientasi Rantai Pasok (ORP)
Walaupun beberapa perspektif manajemen rantai pasok di atas sangat
membantu dalam pendefinisian, namun terdapat indikasi bahwa literatur yang ada
sesungguhnya mencoba untuk mendefinisikan dua konsep dengan satu
terminologi manajemen rantai pasok. Pertama, koordinasi suatu rantai pasok dari
perspektif sistem secara keseluruhan, dengan masing-masing aktivitas taktis aliran
distribusi terlihat dalam konteks strategis yang lebih luas (yang disebut MRP
sebagai suatu filosofi manajemen) lebih tepat disebut dengan Supply Chain
Orientation/ Orientasi Rantai pasok. Sedangkan yang kedua, implementasi yang
sesungguhnya dari orientasi ini, lintas perusahaan-perusahaan yang berbeda dalam
rantai pasok, lebih tepat disebut dengan Supply Chain Manajemen/ Manajemen
Rantai pasok. Perspektif ini membawa Mentzer et al., (2001) pada definisi salah
satu konsep krusial berikut :
Orientasi Rantai Pasok didefinisikan sebagai pengakuan oleh suatu
organisasi sistemik, implikasi strategis dari aktivitas taktis yang terlibat dalam
mengelola berbagai aliran dalam suatu rantai pasok. Sehingga suatu perusahaan
bisa disebut memiliki orientasi rantai pasok (ORP) hanya jika manajemennya bisa
melihat implikasi dari pengelolaan aliran produk, jasa, keuangan, dan informasi
dari hulu ke hilir dari pemasok ke pelanggan mereka. Berdasarkan definisi
tersebut, suatu perusahaan belum dikatakan memiliki orientasi rantai pasok jika
hanya melihat sistemik dan implikasi strategisnya dalam satu arah. Sehingga,
dalam Gambar 3a, perusahaan di tengah yang menjalankan rantai pasok dapat
dikatakan memiliki ORP, namun kedua perusahaan pada kedua ujungnya belum
bisa dikatakan memiliki ORP (karena pemasok hanya fokus di rantai pasok bawah
17
– orientasi “saluran” klasik – dan pelanggan hanya fokus pada rantai pasok atas –
orientasi “pengadaan” klasik).
Lebih jauh lagi, Mentzer et al. 2001 menyatakan bahwa perusahaan dengan
ORP pun belum tentu dapat mengimplementasikan rantai pasok – karena
implementasi semacam ini memerlukan suatu ORP lintas beberapa perusahaan
yang secara langsung terhubung di dalam rantai pasok. Perusahaan dengan ORP
dapat diimplementasikan secara individu, atau taktik relokasi rantai pasok (seperti
Just In Time delivery, atau Electronic Data Interchange dengan pemasok dan
pelanggan), namun bukan disebut manajemen rantai pasok kecuali mereka
terkoordinasi (sebuah orientasi strategis) di seluruh rantai pasok (orientasi
sistemik). Implementasi ORP memerlukan beberapa perusahaan dalam rantai
pasok untuk memanfaatkan proses–proses yang telah dibahas pada bab
sebelumnya untuk mewujudkan aktivitas MRP. MRP adalah implementasi ORP
lintas
beberapa
pemasok
dan
beberapa
pelanggan.
Perusahaan
yang
mengimplmentasikan MRP harus terlebih dahulu memiliki ORP. Dalam extended
supply chain (Gambar 3b), semua perusahaan yang terlibat memiliki orientasi
rantai pasok, kecuali pemasok paling pertama dan pelanggan terakhir. Karena
pemasok pertama hanya fokus pada pelanggaannya, dan pelanggan terakhir hanya
fokus pada pemasoknya, sehingga belum bisa dikatakan memiliki orientasi huluhilir. Dengan kata lain, ORP merupakan filosofi manajemen dan MRP merupakan
total dari keseluruhan aksi-aksi manajemen yang telah dilakukan untuk
mewujudkan filosofi tersebut.
2.2.1. Variabel - variabel Orientasi Rantai pasok
Pada umumnya hubungan dalam rantai pasok merupakan hubungan jangka
panjang dan memerlukan koordinasi strategis. Oleh karena itu Mentzer et al.
(2001) menguji variabel dan outcome dari manajemen rantai pasok pada tingkat
strategis. Variabel-variabel inilah yang akan menjadi referensi dasar yang akan
digunakan penulis sebagai input dalam metode penelitian tentang kesediaan
pengepul ikan hias untuk berpartisipasi dalam organisasi rantai pasok ikan hias di
Kepulauan Seribu.
18
Supply Chain
Orientation
• Systemic View
• Strategic View
Single Company
Antecedents
Willingness to address:
• Trust
• Commitment
• Interdependence
• Organizational
Compatibility
• Vision
• Key Processes
• Leader
• Top Management
Support
Supply Chain
Management
Consequences
• Three or more
contigous companies
with a CSO
• Information Sharing
• Shared Risk dan
Rewards
• Cooperation
• Similar Customer
Service Goals dan
Focus
• Integration of Key
Processes
• Long-Term
Relationships
• Interfunctional
Coordination
• Lower Cost
• Improved
Customer Value
dan Satisfaction
• Competitive
Advantage
Gambar 4. Variabel (antecedents) dan Outcome (consequences) Manajemen
Rantai pasok, (Mentzer et. al., 2001)
Gambar di atas mengilustrasikan bahwa ada beberapa hal yang seharusnya
dimiliki oleh suatu perusahaan agar dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut
memiliki orientasi rantai pasok. Selanjutnya, manajemen rantai pasok dapat
diimplementasikan, terlihat dari indikator-indikator outcome yang ada. Sehingga
pada akhirnya, dampak positif akan didapatkan oleh perusahaan-perusahaan yang
terlibat di dalam rantai pasok tersebut, meliputi penekanan biaya operasional,
peningkatan nilai dan kepuasan pelanggan, serta keunggulan kompetitif.
Berikut dijelaskan secara detail berdasarkan penelitian terdahulu yang telah
direview dan dianalisis oleh Mentzer et al. (2001) sebagai variabel-variabel yang
harus dimiliki perusahaan pada tingkat awal menuju orientasi rantai pasok:
1. Trust (kepercayaan)
Morgan dan Hunt (1994) menyatakan bahwa kerjasama akan muncul
secara langsung dari hubungan kepercayaan dan komitmen. Moorman,
Deshpdane, dan Zaltman (1993) mendefinisikan rasa percaya sebagai
suatu kesediaan untuk mengandalkan mitra lain yang telah memiliki
kepercayaan diri. Walaupun kepercayaan dan komitmen keduanya adalah
penting untuk membuat kerjasama
19
dapat berjalan dengan baik,
kepercayaan merupakan faktor penentu yang paling utama untuk
hubungan komitmen (Achrol 1991). Maka dari itu, kepercayaan memiliki
hubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kerjasama.
Dwyer, Schurr, dan Oh (1987) memberikan contoh peran kepercayaan
dalam suatu hubungan, antara lain untuk mengatasi permasalahan dalam
hal kekuatan, konflik, dan profitabilitas rendah. Dalam atikelnya juga
dinyatakan bahwa kepercayaan memiliki dampak dalam hal berbagi resiko
dan penghargaan.
2. Commitment (Komitmen)
Dwyer, Schurr, dan Oh (1987) mendefinisikan komitmen sebagai “suatu
jaminan implisit ataupun explisit akan keberlanjutan relasi antara para
mitra”. Komitmen merupakan faktor penting bagi suksesnya hubungan
jangka panjang yang merupakan satu komponen implementasi MRP
(Gundlach, Achrol, dan Mentzer 1995). Lambert, Stock, dan Ellram
(1998) juga menyatakan bahwa komitmen untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan dari sumber daya manusia yang ada merupakan hal yang
penting dalam implementasi MRP. Morgan dan Hunt (1994) meletakkan
kepercayaan dan komitmen secara bersamaan, dan menyatakan bahwa
“Komitmen dan kepercayaan merupakan ‘kunci’ karena keduanya
mendorong pemasar untuk (1) berinvestasi pada pemeliharaan hubungan
kerjasama dengan mitra, (2) lebih berorientasi pada keuntungan jangka
panjang yang didapatkan dalam kerjasama dengan mitra yang ada, dari
pada alternatif alternatif jangka pendek yang atraktif, (3) melihat bahwa
tindakan-tindakan yang memiliki potensi resiko tinggi adalah hal yang
sensitif. Oleh karena itu mereka meyakini bahwa mitra mereka tidak akan
bersikap oportunis”.
3. Interdependence (Kesalingtergantungan)
Ketergantungan suatu perusahaan dengan mitranya (kesalingtergantungan)
mengacu pada kebutuan perusahaan untuk membina hubungan dengan
mitra untuk mencapai tujuannya (Frazier, 1983). Ketergantungan yang
dimaksud disini adalah kekuatan utama dalam pengembangan solidaritas
rantai pasok (Bowersox dan Closs 1996). Ketergantungan ini adalah apa
20
yang memotivasi keinginan untuk menegosiasikan transfer fungsional,
berbagi informasi kunci, dan berpartisipasi dalam perencanaan operaional
bersama (Bowersox dan Closs 1996). Terakhir, Genesan (1994)
menyatakan bahwa ketergantungan antara satu perusahaan dengan
perusahaan yang lain secara positif berhubungan dengan orientasi
hubungan jangka panjang perusahaan.
4. Organizational Compatibility (Kompatibilitas organisasi)
Filosofi kerjasama atau budaya dan teknik manajemen dari tiap
perusahaan dalam rantai pasok harus kompatibel untuk mencapai
keberhasilan dalam MRP (Cooper et al. 1997; Tyndall et al. 1998).
Kompatibilitas organisasi didefinisikan sebagai goal dan tujuan-tujuan
komplemen, sebagaimana juga dinyatakan dalam filosofi operasional dan
budaya korporat (Bucklin dan Sengupta 1993). Bucklin dan Sengupta
menunjukkan bahwa kompatibilitas organisasi antara beberapa perusahaan
dalam suatu aliansi memiliki dampak positif yang kuat terhadap
keefektifan suatu hubungan (misalnya persepsi bahwa suatu hubungan
tersebut produktif dan layak untuk dipertahankan). Cooper, Lambert, dan
Pagh (1997) juga perpendapat bahwa pentingnya budaya korporat dan
kompatibilitasnya lintas anggota rantai pasok tidak boleh dianggap remeh.
Dengan definisi ORP yang ditetapkan di atas serta beberapa pendapat
tentang kompatibilitas organisasi dalam rantai pasok, menunjukkan bahwa
setiap perusahaan harus memiliki ORP untuk mencapai MRP.
5. Vision (Visi)
Visi membantu perusahaan dengan goal yang spesifik dan strategis
tentang bagaimana mereka merencanakan segala sesuatunya untuk
mengidentifikasi dan mewujudkan kesempatan yang mereka harapkan
untuk menemukan pasar (Ross, 1998).
6. Key Processess (Proses-proses Kunci)
Lambert, Stock, dan Ellram (1998) berpendapat bahwa seharusnya ada
suatu kesepakatan tentang visi dan proses-proses kunci MRP. Ross (1998)
berpendapat bahwa kreasi dan komunikasi visi MRP milik pemenang
pasar kompetitif pun tidak hanya ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan
21
secara individu, namun oleh keseluruhan rantai pasok (dengan definisi
ORP oleh Mentzer, et al., 2001). Hal ini sangat penting sebelum
implementasi MRP dimulai, misalnya dengan terlebih dahulu memenuhi
variabel-variabel MRP yang tergambar pada Gambar 5 di atas.
7. Leader (Pemimpin)
Dalam hal struktur kekuatan dan kepemimpinan dalam organisasi rantai
pasok, diperlukan satu perusahaan yang diasumsikan berperan sebagai
pemimpin (Lambert, Stock, dan Ellram 1998). Bowersox dan Closs (1996)
berpendapat bahwa rantai pasok perlu pemimpin sebagaimana juga
organisasi secara individu. Ellram dan Cooper (1990) menyatakan bahwa
seorang pemimpin rantai pasok berperan seperti seorang kapten saluran
dalam referensi saluran-saluran pasar yang ada, serta memainkan peran
kunci dalam mengkoordinasi dan mellihat secara keseluruhan gambaran
besar rantai pasok. Bowersox dan Closs (1996) berpendapat bahwa pada
banyak situasi, perusahaan tertentu bisa berfungsi sebagai pemimpin rantai
pasok sebagai solusi untuk ukuran, kekuatan ekonomi, dukungan
pelanggan, perdagangan waralaba yang komprehensif, atau inisiasi dari
hubungan antar perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Schmitz,
Frankel, dan Frayer (1994) menunjukkan fakta bahwa kesuksesan
manajemen rantai pasok secara langsung terhubung dengan adanya
kepemimpinan konstruktif yang mampu menstimulasi perilaku kooperatif
di antara perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi.
8. Top Management Support (Dukungan manajemen puncak)
Beberapa penulis menyatakan bahwa dukungan manajemen puncak
memiliki peran yang kritis dalam membentuk nilai, orientasi, dan arah
organisasi (Felton 1959; Hambrick dan Mason 1984; Kotter 1990; Tosti
dan Jackson 1990; Webster 1988). Day dan Lord (1988) menemukan
bahwa manajer puncak memiliki pengaruh yang penting pada kinerja
organisasi. Lambert, Stock, dan Ellram (1998) menyatakan bahwa
dukungan manajemen puncak, kepemimpinan, dan komitmen untuk
berubah merupakan variabel-variabel yang penting untuk implementasi
MRP. Dalam konteks yang sama, Loforte (1991) berpendapat bahwa
22
kurangnya dukungan manajemen puncak merupakan hambatan bagi
terimplementasinya MRP.
Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa pengakuan akan pentingnya variabelvariabel tersebut oleh perusahaan secara khusus direpresentasikan sebagai
variabel-variabel untuk ORP. Ketika perusahaan-perusahaan yang berdekatan di
di dalam rantai pasok masing-masing dapat meraih ORP, mereka dapat memulai
proses implementasi untuk mewujudkan MRP. Dengan kata lain, ORP merupakan
kesediaan dari satu perusahaan untuk mengatasi isu-isu yang terdaftar di Gambar
5 dari suatu perspektif strategik dan sistemik. Menajemen rantai pasok hanya akan
tercapai jika beberapa perusahaan berada dalam satu barisan dalam rantai pasok
dan memiliki orientasi serta bergerak menuju implementasi filosofi manajemen
ORP.
2.2.2. Model Manajemen Rantai Pasok (Mentzer et al, 2001)
Walaupun dari waktu ke waktu terminologi manajemen rantai pasok
memiliki beberapa definisi oleh beberapa penulis, namun Mentzer et al, 2001
mengembangkan satu definisi MRP tunggal yang dapat mewakili semua definisi
yang ada. Beberapa literatur mengilustrasikan bahwa manajemen rantai pasok
melibatkan beberapa perusahaan, beberapa aktivitas bisnis, dan koordinasi dari
segala aktivitas lintas fungsional dan lintas perusahaan di dalam rantai pasok.
Akhirnya, Mentzer et al. (2001) menyatukan beberapa aspek manajemen rantai
pasok dari beberapa literatur menjadi satu definisi tunggal sebagai berikut :
Supply Chain Management is defined as the systemic, strategic
coordination, of the traditional business functions dan the tactics across
these business functions within a particular company dan across businesses
within the supply chain, for the purposes of improving the long-term
performance of the individual companies dan the supply chain as a whole.
Definisi tersebut memiliki implikasi yang besar terhadap manajemen rantai
pasok, dan membawa pada pengembangan model konseptual yang di ilustrasikan
pada Gambar 5. Menurut Mentzer et al. (2001), suatu rantai pasok dapat
digambarkan sebagai pipa, sebagaimana terlihat pada Gambar 5 yang
memperlihatkan pipa dari penampang samping, menunjukkan arah aliran rantai
23
pasok (barang, jasa, sumber daya keuangan, informasi yang menyertai aliran
rantai pasok, dan aliran informasi tentang permintaan dan peramalan). Fungsifungsi bisnis tradisional, yaitu pemasaran, penjualan, riset dan pengembangan,
peramalan, produksi, pengadaan, logistik, teknologi informasi, keuangan, dan
pelayanan pelanggan mengelola dan menyelesaikan aliran ini dari pemasok paling
awal sampai pada konsumen paling akhir untuk memberikan nilai dan kepuasan
pelanggan untuk mencapai keunggulan kompetitif dan profitabilitas tinggi untuk
masing-masing perusahaan di dalam rantai pasok, dan rantai pasok secara
keseluruhan.
Koordinasi antar fungsional meliputi pengujiian akan peran kepercayaan,
komitmen, resiko, dan ketergantungan dalam viabilitas dalam berba gi fungsi
internal dan koordinasi.
Koordinasi inter-corporate
meliputi pergantian
fungsional di dalam rantai pasok, peran dari berbagai jenis penyedia pihak
The Supply Chain
The Global Environment
Supply
Chain
Flows
Inter-Corporate Coordination
(Functional Shifting, Third-Party Providers, Relationship Management, Supply Chain Structures)
Products
Marketing
Services
Sales
InterFunctional
Coordination
(Trust,
Commitment,
Risk,
Dependence,
Behaviors)
Research and Development
Forecasting
Information
Production
Purchasing
Financial
Logistics
Resources
Information Systems
Finance
Demand
Customer Service
Supplier’s Supplier
Supplier
Focal Firm
Customer
Customer
Satisfaction/
Value/
Profitability/
Competitive
Advantage
Customer’s Customer
Forecasts
Gambar 5. Model Manajemen Rantai pasok (Mentzer et al., 2001)
ketiga, bagaimana hubungan antar perusahaan seharusnya dikelola, dan viabilitas
dari struktur rantai pasok yang berbeda.
Akhirnya, keseluruhan fenomena yang beraneka ragam tersebut dikemas
dalam sebuah rancangan global secara relevan, dan direpresentasikan oleh
24
Mentzer et al. (2001) pada Gambar 5. Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian
ini, penulis akan mengujikan definisi dan model Manajemen Rantai pasok oleh
Mentzer et al., (2001) ke dalam kasus yang sedang diteliti, dengan ruang lingkup
yang terbatas, yaitu tentang kesediaan nelayan dan pengepul ikan hias laut
(sebagai salah satu anggota rantai pasok yang langsung berhubungan dengan
perusahaan eksportir) untuk berpartisipasi dalam rantai pasok ikan hias laut non
sianida di Kepulauan Seribu.
25
III.
3.1.
METODE PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Upaya yang telah dilakukan oleh beberapa pihak pada penguatan kapasitas
nelayan di Kepulauan Seribu membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.
Sebagian besar nelayan telah beralih pada sistem penangkapan ramah lingkungan,
yaitu penangkapan tanpa menggunakan potasium maupun sianida, melainkan
hanya menggunakan jaring. Hal tersebut dapat dicapai berdasarkan kesadaran
mereka sendiri akan resiko dan kerugian yang disebabkan oleh penggunaan
sianida, antara lain (1) Menurunnya kualitas ikan hias yang ditangkap, karena
penangkapan dengan menggunakan sianida bisa merusak kesehatan ikan dan
menyebabkan kematian; (2) Rusaknya ekosistem terumbu karang yang menjadi
habitat ikan hias, karena sianida dapat meracuni terumbu karang; (3) Hilangnya
mata pencaharian nelayan ikan hias karena apabila terumbu karang rusak, maka
ikan akan pergi, artinya nelayan tidak bisa lagi menangkap ikan di daerah yang
sama, dan (4) Menurunnya tingkat kesehatan nelayan itu sendiri, karena sianida
ini tidak hanya membius ikan target, tetapi juga ikan kecil dan biota lain yang
berada disekitarnya, termasuk nelayan.
Di sisi lain, di tengah persaingan perdagangan ikan hias di Jakarta, dimana
semua perusahaan berkompetisi untuk mendapatkan ikan hias yang berkualitas
dengan kenekaragaman jenis yang tinggi dan volume yang besar, perusahaan
harus memastikan bahwa pasokan ikan hias akan selalu tersedia, sehingga dapat
memenuhi permintaan pembeli. Terkait dengan jaminan pasokan yang diperlukan
oleh perusahaan, tentunya perusahaan harus menerapkan manajemen rantai pasok
yang baik.
Pada lingkungan bisnis ikan hias laut tentunya telah berlaku suatu
mekanisme rantai pasok, walaupun mungkin masih sederhana. Mekanisme rantai
pasok tersebut pada umumnya melibatkan nelayan sebagai pemasok utama yang
langsung mengambil produk berupa ikan hias dari alam untuk dipasok kepada
pengepul, kemudian pengepul sebagai pemasok perantara antara nelayan dan
perusahaan, selanjutnya perusahaan sebagai pemberi nilai tambah pada produk
sebelum di ekspor ke manca negara dan akhirnya sampai pada importir (buyer).
Kesalingtergantungan yang terjadi di dalam mekanisme rantai pasok
menuntut perusahaan untuk dapat mengelolanya dengan baik. Mengacu pada
beberapa referensi pada bab sebelumnya, setiap pelaku di dalam rantai pasok
harus memiliki orientasi rantai pasok terlebih dahulu sebelum mampu
mengimplementasikan manajemen rantai pasok. Hal pertama yang harus dikaji
dalam permasalahan ini adalah kesediaan para pelaku untuk terlibat di dalam
manajemen rantai pasok. Nelayan, pengepul, dan perusahaan, bahkan importir
pada dasarnya memiliki kepentingan yang berbeda-beda untuk individu/
organisasi mereka sendiri, karena mereka memiliki karakteristik yang berbedabeda. Namun di dalam rantai pasok, mereka memiliki kepentingan yang sejalan,
yaitu menginginkan lancarnya distribusi produk dengan asas perdagangan yang
adil (fair trade), sehingga rantai nilai yang ada dapat terdistribusi secara adil dan
menguntungkan semua pihak.
Penelitian ini membatasi kajiannya hanya pada nelayan, pengepul, dan
perusahaan, tidak termasuk importir. Pada penelitian ini, dilakukan analisis
kesediaan nelayan sebagai ujung tombak rantai pasok untuk berpartisipasi di
dalam manajemen rantai pasok ikan hias non sianida. Dalam hal ini analisis
kesediaan hanya dilakukan pada nelayan, dengan menggunakan analisa deskriptif.
Selanjutnya, untuk menentukan strategi digunakan metode analisa hierarki proses
(AHP). Analisa hierarki proses digunakan untuk memilih alternatif strategi yang
tepat untuk skema manajemen rantai pasok yang efektif, yang merupakan tujuan
utama dalam penelitian ini. Untuk lebih jelasnya tentang kerangka pemikiran ini
dapat dilihat pada Gambar 6.
27
Upaya Pengelolaan Ikan Hias Non Sianida
Kompetisi Perusahaan Ekspor Ikan Hias
Upaya pembentukan manajemen rantai pasok
Nelayan
Pengepul
Dugaan faktor yang
mempengaruhi kesediaan nelayan
28
Analisis Deskriptif
Faktor-faktor yang secara nyata
mempengaruhi kesediaan nelayan
Analysis Hierarchy Process
Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Laut yang
Adil dan Lestari
Ket :
Ruang lingkup penelitian
Gambar 6. Kerangka Pemikiran Operasional
Perusahaan
Importir
3.2.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai Januari 2010.
Pengambilan data dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang,
Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu,
Propinsi DKI Jakarta dan di 3 Perusahaan Ekspor Ikan Hias di Tangerang.
Pertimbangan bahwa sebagian besar aktivitas perdagangan dan penangkapan ikan
hias terdapat di Kepulauan Seribu menjadi alasan pemilihan lokasi penelitian.
Jumlah eksportir ikan hias yang cukup banyak di Jakarta membuktikan bahwa
daerah ini sangat produktif dan persaingan semakin ketat, baik itu persaingan
antar perusahaan ataupun persaingan antar jaringan. Sedangkan penelusuran
literatur dan pengolahan data dilakukan di Bogor, Jakarta dan sekitarnya pada
bulan Agustus 2009 sampai Januari 2010.
Gambar 7. Peta Lokasi Penelitian
Sumber : www.kaskus.us/showthread.php?t=2587526
29
3.3. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan dua macam data, yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer merupakan data yang didapatkan langsung melalui
wawancara dengan pihak yaitu nelayan, pemasok, dan perusahaan yang terlibat
dalam mekanisme rantai pasok. Sedangkan data sekunder berupa gambaran
tentang kinerja perusahaan saat ini bisa didapatkan dari dokumen-dokumen
perusahaan. Data mengenai kondisi lingkungan industri ekspor ikan hias laut,
produksi, serta beberapa fenomena tentang industri ikan hias laut dan manajemen
rantai pasok serta segala sesuatu yang terkait dengan penelitian ini dapat ditelusuri
melalui internet, jurnal jurnal, BPS (Biro Pusat Statistik), Suku Dinas Kelautan
dan Perikanan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Dinas Perikanan dan
Pertanian Propinsi DKI Jakarta, dan LSM Yayasan TERANGI (Terumbu Karang
Indonesia).
3.4. Metode Pemilihan dan Penarikan Sampel
Penelitian ini memiliki batasan yang cukup sempit tentang obyek yang
diteliti, yaitu hanya pada beberapa perusahaan eksportir ikan hias laut di daerah
DKI Jakarta yang memiliki jaringan dengan pengepul dan nelayan ikan hias laut
di Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Panggang. Dalam penentuan sampel, untuk
perusahaan dan pengepul, peneliti menggunakan metode judgement sampling.
Metode ini dilakukan dengan pertimbangan keefektifan, bahwa berdasarkan
penilaian/ judgement peneliti atau expert, sampel yang bersangkutan adalah pihak
yang paling sesuai, yang memiliki “information rich” untuk bisa memberikan
informasi yang diperlukan peneliti. Sedangkan untuk nelayan, sampel ditentukan
berdasarkan kuota sampling, yaitu dengan menggunakan teori pengambilan
sampel dari Slovin untuk mengambil sejumlah tertentu sampel yang dianggap
mewakili populasi.
Jumlah total responden yang diwawancarai oleh penulis adalah 38 nelayan,
11 pengepul, 3 perwakilan perusahaan, dan 3 perwakilan pihak luar baik dari
akademisi, LSM, maupun pemerintahan. Tabel struktur responden adalah sebagai
berikut:
30
Tabel 3. Susunan Sampel dan Ahli sebagai Responden
No. Analisa
Alat analisa
Sampel dan Ahli
1.
Gambaran rantai
pasok ikan hias non
sianida di
Kepulauan Seribu
Analisis Deskriptif
Kualitatif
a) 3 Perusahaan
b) 1 Pengepul
c) 10 Nelayan
2.
Kesediaan nelayan
untuk berpartisipasi
dalam manajemen
rantai pasok ikan
hias non sianida di
Kepulauan Seribu
Analisis Deskriptif
Kuantitatif
a) 38 dari 50 Nelayan
3.
Pemilihan strategi
manajemen rantai
pasok di Kepulauan
Seribu
Analisis Hierarki
Proses
a) 3 Perusahaan (PT. Dinar, CV.
Cahaya Baru, dan CV Blue
Star Aquatic)
b) 1 Akademisi Ahli Manajemen
Stratgis (Prof. Dr. Ir. Musa
Hubeis, M.Si, Dipl. Ing,
DEA)
c) 1 Pemerintah (Suku Dinas
Kelautan dan Pertanian
Kabupaten Administrasi Kep.
Seribu)
d) 1 LSM (Yayasan TERANGI)
3.5. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: (1) Studi
literatur, terutama mengenai proses produksi (proses pemeliharaan), kualitas ikan
hias, persepsi konsumen, strategi pemasarannya, dan Supply Chain Management
(2) Survey langsung di lapang, yaitu dengan mempelajari berbagai dokumen
tentang proses produksi, saluran distribusi (termasuk mekanisme rantai pasok
yang berlaku), kegiatan pemasaran, aktifitas jual beli ikan hias, dan semua aspek
pendukung yang dilakukan oleh perusahaan, (3) Melakukan wawancara dengan
pihak pihak yang terlibat dalam rantai pasok yang telah berlaku di lingkungan
perusahaan, mengenai gambaran aktivitas dan peranannya di dalam rantai pasok,
serta mengenai kesediaannya untuk berpastisipasi di dalam manajemen rantai
pasok. Pendekatan triangulasi yang terdiri dari studi literatur, survey, dan
31
wawancara di atas diharapkan bisa saling melengkapi satu sama lain dalam
mendapatkan data yang diperlukan oleh peneliti.
3.6.
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan analisis kualitatif
dan analisis kuantitatif. Untuk kajian pada nelayan, digunakan analisis deskriptif
dengan memaparkan data tabulasi, dan untuk perusahaan dan pihak lain yang
berkepentingan digunakan analisis hierarki proses. Analisis dengan menggunakan
metode analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengetahui faktor-faktor
yang secara nyata berpengaruh pada kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam
manajemen rantai pasok yang ada. Sedangkan analisis deskriptif kualitatif
digunakan untuk melihat keefektifan manajemen rantai pasok sebelumnya. Dari
hasil analisis yang ada akan digabungkan dan diolah menjadi alternatif-alternatif
strategi yang dapat digunakan untuk merumuskan strategi manajemen rantai
pasok yang adil dan lestari.
3.6.1
Analisis Deskriptif
Salah satu analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
deskriptif. Analisis deskriptif merupakan suatu metode yang digunakan untuk
meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem
pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah
untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan
akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang
diselidiki (Nazir, 2003).
Metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan situasi dan
kondisi perusahaan, evaluasi tingkat keefektifan manajemen rantai pasok yang
telah
dilakukan
selama
ini,
hubungannya
dengan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi kesediaan nelayan dan pemasok sesuai dengan karakteristik
mereka masing-masing. Data yang diperlukan dalam analisis deskriptif ini akan
diambil dengan metode wawancara mendalam, sehingga di dapatkan informasi
yang lengkap dan detail tentang kondisi dan situasi perusahaan. Untuk
selanjutnya, analisis ini akan dihubungkan dengan hasil analisis metode regresi
logit untuk nelayan dan proses hirarki analitik untuk pengepul, sehingga akan
32
diramu alternatif-alternatif strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan
selanjutnya untuk dapat memiliki rantai pasok yang kohesif.
3.6.2
Analisis Deskriptif Kuantitatif
Analisis deskriptif ini didasarkan pada data yang disajikan dalam bentuk
tabel. Pada penelitian ini digunakan beberapa variabel sebagai indikator untuk
mengetahui dan memastikan bahwa nelayan yang tidak bersedia berpartisipasi
dalam rantai pasokan adalah nelayan yang tidak setuju terhadap variabel-variabel
yang ditanyakan.
Salah satu kajian dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi
kesediaan nelayan dan pengepul untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai
pasok dianalisis dengan menggunakan metode yang sangat sederhana, yaitu
metode deskriptif kuantitatif. Responden dihadapkan pada pilihan bersedia
berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok atau tidak bersedia. Kesediaan untuk
berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok tersebut dianggap sebagai variabel
dependen (tak bebas) yang diduga dipengaruhi oleh sejumlah variabel independen
(bebas).
Variabel independen tersebut antara lain kepercayaan (trust), komitmen
(commitment),
norma-norma
kerjasama
(cooperation
norms),
kesalingtergantungan (interdependence), kesesuaian (compatibility), hubungan
tambahan di luar hubungan profesi (extendness relationship), dan persepsi
manajemen akan ketidakpastian lingkungan (environment uncertainty). Karena
variable independen yang dimaksud adalah tentang persepsi, maka dalam analisa
ini responden menjawab dengan menggunakan skala likert dengan kisaran sebagai
berikut: sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap kesediaan ketiga pihak
untuk berpartisipasi dalam MRP antara lain :
(1) Kepercayaan (trust)
Kepercayaan mewakili kejujuran, kebajikan, dan kesediaan (Mentzer,
2004). Kepercayaan berarti kemauan untuk menerima ketidaknyamanan yang
sifatnya hanya sementara, dan kebersediaan untuk tidak melakukan tindakantindakan yang akan berakibat buruk bagi perusahaan. Kepercayaan merupakan
kebersediaan untuk mengandalkan mitra kerjanya. Diduga apabila ada
33
kepercayaan dalam diri individu atau organisasi, maka dorongan untuk
berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok akan semakin tinggi.
(2) Komitmen (commitment)
Komitmen meliputi (Mentzer, 2004) : (a) input sumberdaya yang kredibel
dan proporsional, (b) perilaku yang mencerminkan suatu keinginan yang kuat
untuk berkomitmen, (c) harapan yang berkelanjutan dan kebersediaan untuk
berinvestasi, dan (d) input yang konsisten dan perilaku menuju suatu komitmen
yang tak lekang oleh waktu. Diduga apabila individu atau organisasi
berkomitmen terhadap hubungan kerjasamanya, maka keinginan untuk tetap
berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok akan terus meningkat.
(3) Norma-norma kerjasama (cooperative norms)
Norma kerjasama yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu persepsi
usaha yang dilakukan dengan kerjasama baik dari pemasok maupun distributor
akan mencapai tujuan individu serta tujuan bersama dengan sukses apabila
masing-masing pihak yang bekerjasama tidak melakukan tindakan-tindakan
oportunis. Diduga apabila individu atau organisasi memiliki etika dalam
berbisnis, maka pertisipasi dalam manajemen rantai pasok ini akan berjalan
dengan baik.
(4) Kesalingtergantungan (interdependence)
Heide dan John (1998) menyatakan bahwa kesalingtergantungan dari suatu
perusahaan pada mitranya akan meningkat ketika:
(a) Keluaran yang didapatkan oleh perusahaan poros dari mitranya
merupakan hal yang penting dan bernilai tinggi, serta rasa saling
membutuhkan yang tinggi.
(b) Keluaran yang didapatkan perusahaan melampaui keluaran yang
tersedia untuk perusahaan.
(c) Perusahaan memiliki sumber alternatif/ sumber potensial yang terbatas
untuk dipertukarkan.
Ketika kesalingtergantungan ini dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat
dalam manajemen rantai pasok, maka kebersediaan untuk tetap berpartisipasi
pada manajemen rantai pasok.
34
(5) Kesesuaian (compatibility)
Kesesuaian diartikan sebagai dua atau lebih individu atau organisasi yang
memiliki goal dan tujuan komplemen, sebagaimana kesamaan dalam filosofi
operasi dan budaya perusahaan (Bucklin and Sengupta, 1993). Dalam hal ini,
perusahaan melibatkan kombinasi tujuan dan aktivitas yang terpusat
berdasarkan kesesuaian goal, tujuan, dan nilai.
(6) Hubungan tambahan di luar hubungan profesi (extended relationship)
Interaksi open ended adalah interaksi yang mungkin tidak memerlukan
suatu skema kerjasama tertentu. Pasalnya, tidak ada orang yang akan lebih
mengutamanakan kepentingan pihak lain, atau peduli terhadap kesejahteraan
orang
lain.
Namun
demikian,
untuk
tetap
mempertahankan
dan
mengantisipasi putusnya hubungan kerjasama, maka masih memungkinkan
untuk membina suatu hubungan open ended, dimana suatu pihak tidak secara
mutlak dimiliki dan dikuasai oleh pihak yang lain. Diduga bahwa suatu pihak
akan cenderung bersedia untuk berpartisipasi jika hubungan akan berlanjut
dengan open ended daripada hubungan yang close ended.
(7) Persepsi
manajemen
akan
ketidakpastian
lingkungan
(environment
uncertainty)
Ada beberapa hal mengenai ketidakpastian lingkungan, dan hal ini terkait
dengan persepsi manajemen terhadap kondisi tersebut. Ketidakpastian tersebut
antara lain dinamika perubahan teknologi yang tinggi, kondisi bisnis yang
sangat cepat berubah, prediksi yang rendah akan permintaan pelanggan dan
tindakan pesaing, serta permintaan internasionalisasi yang tinggi. Untuk
variabel ini akan lebih menyentuh secara langsung bagi pihak perusahaan,
sedangkan untuk pihak nelayan dan pengepul juga akan terkena dampak
sistematis dari hal ini. Diduga ketika ada jaminan akan suatu kepastian, maka
pihak yang terlibat dalam manajemen rantai pasok akan bersedia untuk
berpartisipasi di dalamnya.
Variabel-variabel diatas akan diturunkan menjadi pertanyaan-pertanyaan
dalam format kuesioner yang sama yang akan direspon oleh nelayan dan
pengepul. Kuesioner disusun berdasarkan kondisi mereka terkait pekerjaan yang
dilakukan (Lampiran 4 dan 5).
35
3.6.3. Analysis Hierarchy Process (AHP)
Tujuan utama pada penelitian ini adalah untuk menentukan strategi
manajemen rantai pasok ikan hias laut yang adil dan lestari. Adil berarti bahwa
ada pemerataan nilai dari supplier paling awal sampai pada konsumen paling
akhir. Lestari berarti bahwa proses aktivitas penangkapan ikan hias ini masih
dalam batas kewajaran dan tidak mengganggu keseimbangan alam, sehingga
sumber daya alam sebagai produk utama dari perdagangan ini bisa selalu tersedia
dan tidak punah.
Untuk merumuskan strategi ini, penulis melakukan wawancara kepada 6
responden sebagai ahli yang terdiri dari 3 responden dari pihak perusahaan, 1
responden dari pihak pemerintah, 1 respoden dari pihak LSM, dan 1 responden
dari pihak akademisi. Responden diminta untuk mengisi kuesioner dengan
kerangka pikir Analytical Hierarchy Process (AHP) dan memberikan penilaian
perbandingan berpasangan (pairwise comparison) untuk proses selanjutnya.
Responden sebagai ahli dalam hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.
Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process – AHP)
dikembangkan untuk mengorganisasikan informasi dan judgement dalam memilih
alternatif yang paling disukai (Saaty, 1983). Keunggulan dari AHP ini adalah
dapat memecahkan masalah dalam suatu kerangka berpikir yang terorganisir,
sehingga memungkinkan dapat diekspresikan untuk mengambil keputusan yang
efektif
atas
suatu
permasalahan.
Permasalahan
yang
kompleks
dapat
disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan keputusannya.
Berikut adalah tahapan yang dilakukan pada penelitian dengan menggunakan
AHP :
1. Penyusunan Hierarki
Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang
tidak terstruktur, strategik, dan dinamik menjadi bagian-bagian kecil untuk
disusun ke dalam suatu hierarki. Bagian-bagian kecil yang dikenal dengan
variabel tersebut kemudian diberi nilai sesuai dengan tingkat kepentingannya
berupa nilai numerik yang secara subyektif mengandung arti penting relatif
dibandingkan dengan variabel yang lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut,
36
kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas
tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut.
Pada AHP, permasalahan penelitian secara grafis dapat dikonstruksikan
sebagai diagram bertingkat, yang dimulai dengan goal/ sasaran, lalu kriteria level
pertama, subkriteria, dan akhirnya alternatif.
Tabel 4. Responden Ahli pada Perumusan Strategi MRP Ikan Hias yang Adil dan
Lestari
No
Nama
Institusi
Jabatan
Keahlian
Perusahaan
eksportir
Nama
Institusi
CV. Cahaya
Baru
1.
Ibu Wiwie
Manajer Farm
Ikan Hias
Erik Jaya Putra
Perusahaan
Eksportir
CV. Blue
Star Aquatic
Manajer
Operasional
Farm
3.
H. R. Dody
Timur
Wahjuadi,
DRH
Perusahaan
Eksportir
PT. Dinar
Darum
Lestari
Kepala cabang
Jakarta
4.
Prof. Dr. Ir.
Musa Hubeis
M. Si, Dipl.
Ing, DEA
Akademisi
Institut
Pertanian
Bogor
Dosen –
Spesialiasasi
Manajemen
Strategis
5.
Ir. Abdul
Khaliq, M. Si
Pemerintah
Suku Dinas
Kelautan dan
Pertanian
Kab. Adm.
Kep. Seribu
Kepala urusan
pengelolaan
sumberdaya
Kelautan
6.
Idris, S. Pi
LSM
Yayasan
Terumbu
Karang
Indonesia
Kepala Divisi
Pengelolaan
Sumberdaya
Terumbu
Karang
Berpengalaman
dalam
manajemen
dan pemasaran
ikan hias laut
Berpengalaman
dalam
manajemen
dan pemasaran
ikan hias laut
Berpengalaman
dalam
manajemen
dan pemasaran
ikan hias laut
Spesialisasi
dalam bidang
manajemen
strategik secara
umum
Berpengalaman
dalam
menjalankan
program untuk
masyarakat
nelayan ikan
hias laut di P.
Panggang
Berpengalaman
dalam
mendampingi
masyarakat
nelayan ikan
hias laut di P.
Panggang
2.
37
Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsurnya,
yaitu kriteria dan alternatif, kemudian disusun menjadi kriteria hierarki. Untuk
penelitian ini, digunakan suatu diagram hierarki yang mempresentasikan
keputusan untuk memilih strategi terpenting yang dapat digunakan sebagai media
untuk meningkatkan kesediaan semua pihak untuk berpartisipasi dalam MRP ikan
hias laut non sianida.
Susunan skema hierarki yang dimaksud akan tersusun menjadi beberapa
level. Pertama adalah level 0 adalah goal yang diinginkan, level 1 adalah faktor
yang akan mempengaruhi tercapainya goal, level 2 merupakan aktor yang terlibat
dalam pencapaian goal, level 3 merupakan susunan tujuan untuk mencapai goal,
dan level 4 merupakan skenario, yang akan menjadi strategi yang diprioritaskan
dalam penelitian ini. Berikut adalah susunan hierarki yang dimaksud :
Ultimate Goal
GOAL
FAKTOR
A
B
C
D
AKTOR
K
L
M
N
P
TUJUAN
SKENARIO
Q
W
R
X
Y
S
Z
Gambar 8. Skema Analysis Hierarchy Process untuk Ultimate Goal tertentu
Penilaian Kriteria dan Alternatif
Menurut Marimin (2008), AHP
memungkinkan pengguna untuk
memberikan nilai bobot relatif dari suatu kriteria majemuk (atau alternatif
majemuk terhadap suatu kriteria) secara intuitif, yaitu dengan melakukan
perbandingan berpasangan (pairwise comparison).
38
Tabel 5. Nilai dan Definisi Pendapat Kualitatif (Saaty, 1983)
Nilai
1
3
5
7
9
2,4,6,8
Keterangan
Kriteria/ alternatif A sama penting dengan kriteria/ alternatif B
A sedikit lebih penting dari B
A jelas lebih penting dari B
A sangat jelas lebih penting dari B
A mutlak lebih penting dari B
Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan
Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan, dan
menurut Saaty (1983), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala
terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif
dari skala perbandingan Saaty dapat dilihat pada Tabel 5 di atas.
2. Penentuan prioritas
Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan
berpasangan (pairwise comparison). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian
diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria
kualitatif maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai dengan
judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot
dan prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian
persamaan matematik.
Dalam metode Analytical Hierarchy Process ini nantinya akan dilakukan
pembobotan melalui beberapa operasi perhitungan matematis. Ada tiga langkah
yang digunakan untuk menentukan besarnya bobot, yaitu:
Langkah 1 :
w i /w j = a ij (i, j = 1,2, ..., n)
wi
= bobot input dalam baris
wj
= bobot input dalam lajur
wi
= a ij w j (i, j = 1,2, ..., n)
Langkah 2 :
Pada umumnya, kasus-kasus yang ada mempunyai bentuk:
wi
=
wi
= rataan dari a i1 w 1, ..., a in w n
(i, j = 1,2, ..., n)
39
Langkah 3 :
Bila perkiraan a ij baik akan cenderung untuk dekat dengan nisbah w i /w j . Jika n
juga berubah maka n diubah menjadi λ max sehingga diperoleh:
wi
=
(i, j = 1,2, ..., n)
Pengolahan horisontal
Pengolahan horisontal bertujuan untuk menyusun prioritas elemen keputusan di
setiap level hierarki keputusan. Menurut Saaty (1983), tahapannya adalah sebagai
berikut:
a. Perkalian baris (z)
Z1=
b. Perhitungan vektor prioritas atau vektor eigen
eVP i adalah elemen vektor prioritas ke-i
c. Perhitungan nilai eigen maksimum
VA = a ij x VP dengan VA = (V ai )
VB = VA/VP dengan VB = (V bi )
λ max =
VB i untuk i = 1, 2, ..., n
VA = VB = Vektor antara
d. Perhitungan indeks konsistensi (CI):
Perhitungan indeks ini bertujuan untuk mengetahui konsistensi jawaban yang
akan berpengaruh kepada kesahihan hasil. Rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut:
CI =
Untuk mengetahui apakah CI dengan besaran tertentu cukup baik atau tidak, perlu
diketahui rasio yang dianggap baik, yaitu apabila CR ≤ 0.1, dengan rumus sebagai
berikut :
CR =
40
Nilai RI merupakan nilai random indeks yang dikeluarkan oleh Oarkridge
Laboratory, berupa tabel sebagai berikut:
N
1
RI
0.00
2
3
0.00 0.58
4
5
6
7
0.90
1.12
1.24
1.32
8
9
1.41 1.45
10
11
12
13
1.49
1.51
1.48
1.56
Pengolahan vertikal
Pengolahan ini digunakan untuk menyusun prioritas setiap elemen dalam hierarki
terhadap sasaran utama. Jika NPpq didefinisikan sebagai nilai prioritas, pengaruh
elemen ke – p pada tingkat ke – q terhadap sasaran utama, maka:
NP pq =
Untuk p = 1, 2, ..., r
T = 1, 2, ..., s
Dimana:
NPpq = nilai prioritas pengaruh elemen ke-p pada tingkat ke-q terhadap sasaran
utama.
NPHpq = nilai prioritas elemen ke-p pada tingkat ke-q
NPTt
= nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat q-1
Perhitungan matematis di atas merupakan prinsip dasar dalam melakukan
pembobotan elemen pada level skenario terhadap ultimate goal atau tujuan
puncak. Namun, dalam implementasi praktisnya, pemrosesan pembobotan AHP
ini dapat dilakukan dengan menggunakan software Expert Choice 2000.
41
IV. GAMBARAN UMUM
4.1. Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu
4.1.1. Kondisi Geografis
Kepulauan Seribu berada di posisi geografis antara 106° 20’ 00’’ BT hingga
106° 57’ 00’’ BT dan 5° 10’ 00’’ LS hingga 5° 57’ 00’’ LS, terdiri dari 105 gugus
pulau terbentang vertikal dari Teluk Jakarta hingga ke utara yang berujung di
Pulau Sebira.
Wilayah Kepulauan Seribu memiliki luas daratan mencapai 897,71 Ha yang
terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil dan luas perairan mencapai 6.997,50 Km2.
Secara fisik, di sebelah utara Kepulauan Seribu berbatasan langsung dengan Laut
Jawa atau Selat Sunda. Di sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa. Sebelah
selatan berbatasan dengan daratan Pulau Jawa terutama wilayah pesisir Jakarta
Utara dan Kabupaten Tangerang Propinsi Banten, dan di sebelah barat berbatasan
langsung dengan Laut Jawa atau Selat Sunda.
4.1.2. Aspek Alam
Gugus Kepulauan Seribu tergolong relatif muda disebabkan inti utama
batuan baru terbentuk kurang lebih 12.000 tahun Sebelum Masehi (Ongkosono,
1986). Secara spesifik, pulau-pulau di kawasan tersebut dibentuk dari gosong
karang. Gosong karang terbentuk karena pengaruh perubahan musim. Selama
musim angin barat (Desember-Mei), air tawar yang mengalir dari Jawa, Sumatra,
dan Kalimantan membawa kandungan nutrien yang berpengaruh bagi terumbu
karang.
Kandungan
nutrien
tersebut
menyebabkan
jumlah
fitoplankton,
zooplankton, dan tutupan alga meningkat sehingga menekan karang dan
menyebabkan karang memutih dan mati. Karang yang mati tersebut membentuk
gosong dan secara akumulatif dapat membentuk pulau-pulau kecil setelah ratusan
hingga jutaan tahun (Tomascik, dkk., 1997).
Tipe iklim di Kepulauan Seribu adalah tropika panas dengan suhu
maksimum mencapai 32°C dan suhu minimum 21°C, sementara suhu rata-rata
mencapai 27°C. Kelembaban udara rata-rata 80% dan termasuk sistem musim
ekuator yang cenderung dipengaruhi oleh variasi tekanan udara. Pada November
hingga April berlangsung musim hujan dengan hari hujan berkisar antara 10
sampai 20 hari per bulan. Sementara musim kemarau terjadi pada Mei hingga
Oktober dengan 4-10 hari hujan per bulan. Mengacu pada data tahun 2000, curah
hujan bulanan di Kepulauan Seribu tercatat rata-rata 142,54 mm dengan curah
hujan terendah pada Juni (0 mm) dan tertinggi pada September (307 mm).
Kondisi pasang surut di Kepulauan Seribu dapat dikategorikan sebagai
harian tunggal. Kedudukan air tertinggi dan terendah adalah 0,6 m dan 0,5 m
dibawah duduk tengah. Rata-rata ketinggian air pada pasang perbani adalah 0,9 m
dan rata-rata ketinggian air pada pasang mati adalah 0,2 m. Ketinggian air tahunan
terbesar mencapai 1,10 m. Melalui beberapa pengukuran di sejumlah lokasi dalam
waktu yang berbeda, kecepatan arus di Kepulauan Seribu berkisar 0,6 cm/detik
hingga 77,3 cm/detik. Kecepatan arus dipengaruhi kuat oleh angin dan sedikit
pasang surut. Arus permukaan pada musim barat berkecepatan maksimum 0,5
m/detik dengan arah ke timur sampai tenggara. Pada musim timur kecepatan
maksimumnya 0,5 m/detik. Gelombang laut yang terdapat pada musim barat
mempunyai ketinggian antara 0,5 - 1,175 m dan musim timur 0,5 – 1,0 m
(Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, 2005).
Suhu air permukaan di Kepulauan Seribu pada musim barat berkisar antara
28,5°C – 30,0°C. Pada musim timur suhu air permukaan antara 28,5°C – 31,0°C.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada fluktuasi yang nyata antara musim
barat dengan musim timur. Salinitas berkisar antara 30‰ - 34‰ baik pada musim
barat maupun pada musim timur. Beberapa parameter kualitas air laut
menunjukkan ada yang melampaui baku mutu pada lokasi tertentu, seperti Cu, Cd,
dan Hg, diantaranya merupakan perairan pulau-pulau berpenghuni seperti Pulau
Tidung, Pulau Pari, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, dan Pulau Kelapa.
4.1.3. Aspek Pemerintahan dan Pengelolaan Wilayah
Secara administratif Kepulauan Seribu berada dalam wilayah Propinsi
Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dengan status kabupaten adminstratif, sehingga
wilayah Kepulauan Seribu memiliki nama Kabupaten Administratif Kepulauan
Seribu. Pembagian wilayah pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan
Seribu terdiri dari dua wilayah kecamatan dan enam kelurahan, yaitu Kecamatan
Kepulauan Seribu Selatan mencangkup Kelurahan Pulau Tidung, Kelurahan Pulau
Pari, dan Kelurahan Pulau Untung Jawa. Wilayah berikutnya adalah Kecamatan
43
Kepulauan Seribu Utara mencangkup Kelurahan Pulau Panggang, Kelurahan
Pulau Kelapa, dan Kelurahan Pulau Harapan.
Dalam melaksanakan pembangunan di wilayah Kabupaten Administratif
Kepulauan Seribu, pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu
memiliki visi yaitu “Kepulauan Seribu Sebagai Ladang dan Taman Kehidupan
Bahari yang Berkelanjutan”. Untuk mewujudkan visi tersebut, beberapa misi yang
akan dicapai adalah sebagai berikut:
a) Mewujudkan wilayah Kepulauan Seribu sebagai kawasan wisata bahari
yang lestari
b) Menegakkan hukum yang terkait dengan pelestarian lingkungan kebaharian
dan segala aspek kehidupan
c) Meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat Kepulauan
Seribu dengan perekonomian berbasis kelautan
Agar arah pembangunan di wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan
Seribu sesuai dengan visi dan misi, maka ada beberapa aspek hukum yang
mendasari pembangunan tersebut, antara lain:
a) UU No. 34 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus
Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta
b) UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
c) UU No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang
d) PP No. 55 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Kabupaten Administrasi
Kepulauan Seribu, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
e) PP No. 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan
Propinsi Sebagai Daerah Otonom
f) Perda No. 6 Tahun 1999 Tentang RTRW DKI Jakarta
g) Perda No. 11 Tahun 1992 Tentang Penataan dan Pengelolaan Pulau-Pulau
di Kepulauan Seribu
Pengelolaan wilayah pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan
Seribu meliputi berbagai aspek yang mencangkup tata kelola pemerintahan,
kependudukan, dan aspek lainnya dalam koridor pemerintahan daerah dengan
otoritas otonomi kebijakan pemerintah daerah dibawah naungan pemerintah
propinsi DKI Jakarta.
44
Sementara itu pengelolaan kawasan di wilayah Kabupaten Administratif
Kepulauan Seribu juga dilakukan oleh unsur pemerintah yang lain yaitu Balai
Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) di bawah naungan Departemen
Kehutanan Republik Indonesia. Kebijakan pengelolaan TNKpS di wilayah
Kepulauan Seribu terkait dengan perlindungan, dan pemanfaatan kawasan
Kepulauan Seribu sebagai daerah konservasi.
4.1.4. Aspek Sosial dan Ekonomi
Meskipun wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu terdiri dari
105 pulau, namun pulau yang berpenduduk hanya terdapat di 11 pulau, yaitu
Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau
Harapan, Pulau Sebira, Pulau Tidung Besar, Pulau Payung, Pulau Pari, Pulau
Lancang Besar, dan Pulau Untung Jawa. Kondisi penduduk di Kepulauan Seribu
setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2003 jumlah penduduk
sebanyak 19,255 jiwa dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 19,593 jiwa.
Sementara pada tahun 2007 Kepulauan Seribu memiliki penduduk sebanyak ±
20.376 jiwa dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 3,5% per tahun.
Pada tahun 2002, mata pencaharian penduduk yang mendominasi di
Kepulauan Seribu adalah nelayan (69,36%) yang kemudian diikuti oleh mata
pencaharian sebagai pedagang (10,39%). Jumlah penduduk terbesar yang
berprofesi sebagai nelayan adalah Kelurahan Pulau Pari (84,51%) diikuti
Kelurahan Pulau Panggang. Sedangkan kelurahan yang penduduknya paling
sedikit berprofesi sebagai nelayan adalah Kelurahan Pulau Harapan (48,62%).
Mata pencaharian penduduk yang mendominasi di Kepulauan Seribu menurut
data tahun 2003-2004 ialah nelayan sebanyak 5.430 orang, yang kemudian diikuti
oleh mata pencaharian sebagai petani rumput laut sebanyak 5.238 orang diikuti
oleh pekerjaan sebagai swasta sebesar 5.008 orang (Kabupaten Administrasi
Kepulauan Seribu, 2005).
Kehidupan sosial budaya di Kepulauan Seribu cukup unik, karena kawasan
tersebut memiliki kegiatan dan segmentasi masyarakat yang beragam. Di
Kepulauan Seribu dijumpai dualisme kondisi sosial ekonomi dan sosial budaya
yang dapat diidentifikasi menurut pulau-pulau yang berpenghuni. Sistem
45
kemasyarakatan di Kepulauan Seribu terbentuk oleh kekerabatan yang kuat,
berciri masyarakat pesisir dengan karakteristik tradisional. Beberapa pulau, seperti
Pulau Panggang, Pulau Pramuka, dan Pulau Kelapa dihuni oleh penduduk yang
berasal dari berbagai etnis. Pulau Kelapa Dua didominasi oleh etnis Bugis dengan
sistem kekerabatan yang kuat. Ciri masyarakat tradisional seperti ikatan sosial,
hubungan kekerabatan, hubungan antar tetangga, sikap gotong royong, dan
sebagainya sangat menonjol di Kepulauan Seribu tercermin dalam kehidupan
sehari-hari.
Beberapa permasalahan pokok yang terdapat dalam kehidupan sosial
ekonomi di wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu adalah sebagai
berikut:
a) Taraf ekonomi sosial-budaya masyarakat yang relatif rendah (tertinggal),
dan ketergantungan nelayan terhadap alam sebagai nelayan tangkap.
b) Degradasi kualitas lingkungan, yang berakibat menurunnya perekonomian
masyarakat.
c) Aksesibilitas rendah, baik secara eksternal, yaitu akses dari Jakarta,
maupun secara internal, yaitu dari pulau ke pulau.
d) Kebutuhan dasar masyarakat akan listrik dan air bersih belum terpenuhi.
4.1.5. Kelimpahan Ikan di Kepulauan Seribu
Pada tahun 2007 Yayasan TERANGI melakukan survey di 10 titik area
penangkapan nelayan ikan hias, menyebar dari utara ke selatan, yaitu P. Tidung
Kecil, P. Sekati, P. Panggang, Gs. Balik Layar, Gs. Karang Lebar, P. Karang
Congkak, P. Harapan, P. Melintang Besar, P. Panjang Besar, dan P. Hantu Timur.
Dari hasil survey tersebut, ditemukan total 107 jenis ikan karang. Untuk jenisjenis ikan hias karang dapat dilihat pada Lampiran 3.
Kelimpahan ikan karang di Kepulauan Seribu bervariasi, mulai dari 6.775
ind/ha hingga 65.900 ind/ha. Total kelimpahan seluruh jenis ikan hias adalah
283.275 ind/ha, dengan 10 jenis ikan dengan kelimpahan tertinggi mendominasi
hingga 84%. Gambar berikut merupakan keragaman jenis dan kelimpahan ikan
hias di area penangkapan nelayan :
46
Gambar 9. Keragaman Jenis dan Kelimpahan Ikan Hias Laut di Kepulauan
Seribu
Sumber : Dinas Kelautan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu 2007
4.2. Kelurahan Pulau Panggang
4.2.1. Demografi di Kelurahan Pulau Panggang
Kegiatan penangkapan ikan hias laut di Kepulauan Seribu terpusat di Pulau
Panggang, sehingga untuk menggambarkan nelayan ikan hias di Kepulauan
Seribu, cukup terwakilkan dengan memotret kondisi nelayan ikan hias di
Kelurahan Pulau Panggang. Sebagian besar penduduk Pulau Panggang berusia
produktif. Penduduk dengan usia yang produktif akan sangat berperan dalam
proses pembangaunan Kelurahan Pulau Panggang, karena mereka akan dapat
berperan aktif dalam proses-proses pembangunan.
Berikut adalah data jumlah penduduk di Pulau Panggang berdasarkan umur
dan jenis kelamin yang didapatkan dari data Kependudukan Kelurahan Pulau
Panggang tahun 2008.
47
Tabel 6. Jumlah Penduduk Kelurahan Pulau Panggang Berdasarkan Umur Tahun
2008
Umur (tahun)
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
(jiwa)
(jiwa)
(jiwa)
00 – 04
446
427
873
05 – 09
265
267
532
10 – 14
275
272
547
15 – 19
267
264
531
20 – 24
227
223
450
25 – 29
252
248
500
30 – 34
213
203
416
35 – 39
209
198
407
40 – 44
198
188
386
45 – 49
127
118
245
50 – 54
146
143
289
55 – 59
121
118
239
60 – 64
84
78
162
65 – 69
45
38
83
70 – 74
25
17
42
≥ 75
9
11
20
Jumlah
2909
2813
5722
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang Tahun 2008,
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Berdasarkan tingkat pendidikannya, penduduk di Kelurahan Pulau
Panggang sebagain besar tamatan SD, dan hanya sebagian kecil saja yang
menruskan pendidikannya setelah SMA.
Tabel 7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2008
Tingkat pendidikan
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
(jiwa)
(jiwa)
(jiwa)
Tidak tamat SD
20
22
42
Tamat SD
370
318
688
Tamat SMP
180
130
310
Tamat SMA
140
145
285
Tamat Akademika
66
37
103
Jumlah
776
652
1428
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang Tahun 2008,
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Penduduk di Kepulauan Seribu menggantungkan kehidupannya pada
sumber daya alam yang ada di pesisir dan lautan. Mata pencaharian yang umum
dilakukan oleh masyarakat Kepulauan Seribu adalah nelayan tangkap. Menurut
UU No.31 Tahun 2004 nelayan adalah orang yang mata pencahariannya
48
melakukan penangkapan ikan. Di Kelurahan Pulau Panggang, sebagian besar
penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan tangkap untuk ikan konsumsi
seperti tongkol dan kerapu, budidaya kerapu di keramba, dan nelayan ikan hias.
Khusus untuk aktivitas pencarian ikan hias di Kepulauan Seribu, nelayan ikan hias
ini terkonsentrasi di Pulau Panggang. Selebihnya, penduduk berprofesi sebagai
PNS, karyawan swasta, jasa angkutan, dan sebagainya.
Tabel 8. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2008
Mata Pencaharian
Jumlah (jiwa)
Nelayan :
- Tangkap
1.536
186
- Budidaya
PNS
192
TNI/ POLRI
12
Perdagangan
65
Jasa/ Angkutan
18
Karyawan Swasta
222
Pensiunan/ Veteran
6
Jumlah
2.237
Sumber : Data Kependudukan Kelurahan Pulau Panggang Tahun 2008,
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
4.2.2. Sertifikasi Ikan Hias Non Sianida
Salah satu usaha pengelolaan dan konservasi sumber daya alam terumbu
karang adalah dengan mengembangkan sertifikasi ikan hias. Pengembangan draft
standar sertifikasi ini telah dimulai sejak tahun 1999 oleh Marine Aquarium
Council (MAC). Standar tersebut telah disosialisasikan dan di rumuskan bersama
oleh masyarakat ikan hias dunia. Sertifikasi yang dikembangkan oleh MAC ini
didasarkan pada kebutuhan pembeli (hobbyist) yang menginginkan produk yang
sehat dan ditangkap dengan cara yang tidak merusak lingkungan. Pada tahun
2003, standar sertifikasi tersebut dicoba diterapkan di Indonesia setelah
sebelumnya di Filipina pada tahun 2001 (Dinas Kelautan DKI Jakarta, 2008).
Sertifikasi ikan hias MAC merupakan suatu program sukarela. Penilaian
terhadap pemenuhan standar utama sertifikasi dilakukan oleh pihak ketiga yang
tidak memiliki kepentingan apapun.
49
Standar utama sertifikasi MAC terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1) Standar Pengelolaan Ekosistem dan Perikanan (EFM)
Pihak-pihak yang berkepentingan atau kelompok multi pihak yang
berusaha mendapatkan Sertifikasi MAC untuk perikanan mereka harus
bertanggung jawab untuk menghasilkan suatu Rencana Pengelolaan Wilayah
Pemanfaatan (CAMP). Pihak yangbertanggung jawab bisa merupakan suatu
badan pemerintah lokal atau nasional atau masyarakat atau kelompok
masyarakat yang bertanggung jawab, pemilik wilayah pemanfaatan, atau tim
multipihak yang berkepentingan, atau eksportir yang mempunyai lisensi untuk
melakukan kegiatan perikanan di wilayah tersebut dan yang telah
mengembangkan
Rencana
Pengelolaan
Wilayah
Pemanfaatan.
Para
nelayan/pengumpul di wilayah pemanfaatan bisa berperan penting dalam
menfasilitasipembuatan Rencana Pengelolaan Wilayah Pemanfaatan (CAMP).
2) Standar Pengumpulan, Perikanan dan Penyimpanan (CFH)
Para
nelayan
dan
pengumpul
yang
bersertifikat
MAC
akan
mendokumentasikan pesanan-pesanan dari para pembeli yang bersertifikat
maupun yang tidak bersertifikat. Pesanan-pesanan dari para pembeli yang
bersertifikat maupun yang tidak, hanya akan dipenuhi bila mereka beroperasi
berdasarkan sistem ‘memanen berdasarkan pesanan’ atau menangkap sesuai
order.
3) Standar Perawatan, Penanganan dan Transportasi (HHT)
Semua penambahan yang dibuat oleh pembeli atas pesanan mereka akan
disetujui dan didokumentasikan oleh kedua belah pihak sesegera mungkin dan
tidak melewati batas pengemasan pesanan untuk pengiriman. Pada kasus-kasus
yang tidak biasa (mis. banjir, listrik mati untuk jangka waktu lama, fasilitas air
terkontaminasi penyakit, pembatalan penerbangan, dll) pembeli bersertifikat
akan melaksanakan dan mendokumentasikan usaha terbaik mereka:
a) menerima pengiriman bila disampaikan
b) mencari fasilitas lain yang bersertifikat yang dapat menerima pengiriman
c) memberi tahu pemasok sesegera mungkin akan ketidakmampuan untuk
menerima pengiriman; dan
d) kedua belah pihak memastikan dan menjaga kesehatan biota secara optimal.
50
Tabel 9. Dokumen Sertifikasi Ikan Hias
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Dokumen Pencatatan
Data Eksportir
Daftar Order
Daftar Harga (Beli dan Jual)
Daftar Stok dan Monitoring Kematian DAA (Death After Arrival )
Data Tangkapan Harian
Lembar Pengiriman
Lembar Keluhan Eksportir
Lembar Penerimaan
Analisis DOA (Death On Arrival)
Lembar Kinerja Pengiriman Supplier
Lembar Order Barang
Pemeriksaan, Pemeliharaan, dan Pengujian
Profil Nelayan
Catatan Pelatihan :
a. Pelatihan-pelatihan yang diikuti
b. Pelatihan Selam Sehat
c. Matriks Keterampilan dan Kompetensi
15.
Notulensi Rapat dan Daftar Hadir
16.
Daftar Inventaris
17.
Lembar Pemeliharaan Alat
18.
Pembukuan
19.
Catatan Permasalahan, Solusi, dan Pencegahan
20.
Order Umum
21.
Daftar Penambahan atau Pengurangan Nelayan
22.
Pembuatan dan Pengontrolan Dokumen
23.
Pemeriksaan dan Peninjauan Sistem Dokumen
Sumber : Dinas Kelautan DKI Jakarta, 2008
Ruang lingkup sertifikasi ikan hias MAC meliputi produk (ikan hias) dan
proses pemanfaatannya (lokasi pengambilan, cara pengambilan, penanganan/
pemanfaatan dan perlakuan terhadap organismenya). MAC labeling baru dapat
dicantumkan pada produk apabila semua rantai pemanfaatan dan perdagangan
sudah tersertifikasi, dari mulai lokasi tangkap, nelayan penangkap, eksportir dan
importir.
Pada wawancara yang telah dilakukan dalam penelitian ini, didapatkan
data 61% nelayan dan 64% pengepul telah menerima sertifikasi MAC. Di sisi lain,
84% nelayan dan 73% pengepul belum mendapatkan sertifikasi namun telah
melakukan penelitian menuju sertifikasi. Prosentase nelayan dan pengepul yang
tersertifikasi dan telah dilatih dapat dilihat pada Gambar 10.
51
Gambar 10. Pelatihan dan Sertifikasi MAC nelayan dan pengepul responden
Sedangkan pada perusahaan yang diteliti, ketiga perusahaan telah
mendapatkan sertifikasi MAC. Sehingga, satu rantai perdagangan ini dapat
dikatakan telah ramah lingkungan. Peran sertifikasi MAC dari sisi perusahaan
adalah sebaga legitimasi dan kepercayaan bagi importir bahwa ikan yang ada di
rantai pasok ini telah dilakukan dengan ramah lingkungan. Namun di lapang, ada
anggapan dari kalangan nelayan dan pengepul, bahwa sertifikasi MAC ini tidak
memiliki peran yang berarti karena tidak bisa meningkatkan harga jual ikan hias
tangkapan mereka. Sedangkan menurut pihak perusahaan, hanya dengan
mengusahakan tingkat kerusakan ikan yang rendah saja, artinya sudah dapat
membuat ikan tersebut lolos seleksi dengan tingkat pengembalian yang rendah.
Hal tersebut dapat diartikan sebagai efisiensi biaya operasional, sehingga nilai
yang didapatkan nelayan dan pengepul sebenarnya sudah ada peningkatan.
Mungkin diperlukan suatu pemahaman bersama akan peran sertifikasi MAC ini
agar tidak terjadi kesalahpahaman di tingkat nelayan dan pengepul. Di sisi lain,
mungkin perusahaan dapat memberikan award tersendiri atas upaya nelayan dan
pengepul mensertifikasi dirinya untuk perusahaan dengan meningkatkan sedikit
saja harga beli ikannya pada nelayan dan pengepul.
52
4.3. Praktek Penangkapan Ikan Hias Laut Ramah Lingkungan
Sianida/potasium saat ini sudah tidak lagi digunakan oleh nelayan dalam
menangkap ikan hias, selain melanggar hukum dan merusak ekosistem, secara
perhitungan ekonomi pun penangkapan dengan menggunakan sianida/potasium
lebih mahal dibandingkan dengan penangkapan yang tidak menggunakan sianida/
potasium.
Berikut adalah data analisa penangkapan ikan hias dengan dan tanpa
sianida/potasium (Potassium cyianida).
Tabel 10. Perhitungan Ekonomis Penangkapan Ikan dengan Sianida
Kebutuhan
Biaya Potassium cyanid
Penjualan ikan
Biaya BBM
Ransum
Unit
0,5 kg
1 HOK
1 HOK
1 HOK
Nelayan
(rupiah/hari)
Bos
(rupiah/hari)
30.000
24.000
5.000
5.000
10.000
45.000
29.000
-16.000
Sisa Uang
Sumber: Yayasan TERANGI, survey profil nelayan ikan hias tahun 2006
Tabel 11. Perhitungan Ekonomis Penangkapan Ikan Hias tanpa Sianida
Kebutuhan
Biaya Potassium cyanid
Penjualan ikan
Biaya BBM
Ransum
Unit
0 kg
1 HOK
1 HOK
1 HOK
Nelayan
(rupiah/hari)
0
50.000
10.000
Bos
(rupiah/hari)
0
60.000
45.000
Sisa Uang
5.000
10.000
15.000
Sumber: Yayasan TERANGI, survey profil nelayan ikan hias tahun 2007
Sedangkan pada saat ini, alat tangkap yang digunakan oleh nelayan ikan
hias di Kelurahan Pulau Panggang antara lain:
1. Jaring penghalang
Alat ini terbuat dari jaring polyetilen dengan ukuran mata jaring 0,25 inci.
Jaring ini digunakan untuk mengurangi pergerakan ikan sehingga lebih mudah
untuk diserok. Ukuran jaring bermacam-macam tergantung jenis yang
ditangkap.
53
2. Serok
Alat ini terbuat dari baja kecil dan jaring kelambu yang halus. Alat ini
digunakan untuk menangkap ikan yang telah terkurung oleh jaring penghalang.
3. Pushnet
Alat ini terbuat dari dua buah kayu lurus yang diantaranya dipasang jaring
polyetilen. Alat ini digunakan untuk menangkap ikan yang berenang di kolom
air.
4. Tembakan
Alat ini terbuat dari bambu, kayu, benang plastik, jarum anti karat dan karet.
Berbentuk seperti senapan dengan jarum dan bambu sebagai pelurunya. Alat
ini merupakan alat yang spesifik hanya untuk menangkap ikan mandarin
(Pterosynchiropus splendidus).
5. Bubu kecil
Alat ini terbuat dari batang bambu besar dan botol plastik. Berbentuk silinder
dengan botol plastik berada di ujungnya. Sedang di ujung satunya dipasang
anyaman bambu sebagai pintu masuk ikan. Alat ini juga merupakan alat
spesifik untuk menangkap ikan merakan (Calloplesiops altivelis).
4.4. Karakteristik Pelaku dalam Rantai pasok Ikan Hias Laut Non Sianida di
Kepulauan Seribu
4.4.1. Nelayan Ikan Hias Laut di Kepulauan Seribu
Nelayan merupakan ujung tombak dari rantai pasok ikan hias laut di
Kepulauan Seribu. Dari hasil wawancara diketahui bahwa semua nelayan ikan
hias laut berjenis kelamin laki-laki, dan semua melakukan ativitasnya dengan
menggunakan jaring dan tembakan untuk jenis ikan mandarin. Hal ini
menunjukkan bahwa penangkapan ikan hias yang dilakukan oleh nelayan di
kepulauan seribu sudah dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan dan tidak
merusak, yaitu tidak menggunakan racun sianida dalam menangkap ikan.
Profesi sebagai nelayan ikan hias ini ada di Kepulauan Seribu ini 92%
dilakukan oleh responden dengan usia produktif, yaitu mulai dari usia 20 sampai
44 tahun. Hanya 8% dari responden yang sudah berusia 45-55 tahun, namun
masih melakukan aktivitas menangkap ikan hias laut. Sedangkan dilihat dari segi
pengalaman, 61% responden memiliki pengalaman menangkap ikan hias selama
54
lebih dari 10 tahun, 29% memiliki pengalaman 5-10 tahun, dan hanya 10% yang
merupakan nelayan baru, yang memiliki pengalaman kurang dari 5 tahun. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Sebaran usia dan pengalaman nelayan ikan hias laut
Dilihat dari jumlah tanggungan dan pendapatan harian nelayan (Gambar
10), 58% persen nelayan ikan hias di Pulau Panggang memiliki tanggungan antara
2 sampai 3 orang, 21% memiliki tanggungan 4 orang, dan 10% melajang atau
tidak memiliki tanggungan. Pendapatan harian nelayan ikan hias juga beragam,
45% diantaranya memiliki penghasilan antara 30-40 ribu, 3% memiliki
pendapatan harian terkecil, yaitu kurang dari 20 ribu, dan 5% nya memiliki
pendapatan terbesar, yaitu lebih dari 50 ribu rupiah per hari. Selain menjadi
nelayan ikan hias, nelayan juga memiliki pekerjaan sampingan, antara lain
memancing ikan tongkol, memancing kerapu, budidaya kerapu di keramba,
nelayan bubu, hingga tukang bangunan.
Gambar 12. Sebaran jumlah tanggungan dan pendapatan harian nelayan ikan hias
laut
Di Kelurahan Pulau Panggang terdapat beberapa kelompok nelayan, salah
satunya adalah KELONPIS, yang merupakan kelompok nelayan ikan hias tangkap
55
di Pulau Panggang. Kelompok nelayan memiliki peran yang sangat penting untuk
meningkatkan kapasitas pada diri masing-masing nelayan, terutama melihat latar
belakang pendidikan dari responden yang 61% hanya tamat SD, dan hanya 5%
yang tamat SMA. Kelompok nelayan juga mengasah kemampuan nelayan untuk
berorganisasi. Manfaat dari organisasi ini juga sangat bagus untuk nelayan.
Misalnya pada kelompok nelayan KELONPIS, anggota dari kelompok nelayan ini
bisa mendapatkan harga jual ikannya lebih mahal daripada menjual pada pengepul
lain. Hal itu disebabkan karena kelompok mulai mengirim ikannya langsung pada
perusahaan, tanpa melalui pengepul, sehingga memotong rantai pasok dan
mengurangi biaya. Selain dari itu, pada akhir tahun anggota kelompok nelayan
juga mendapatkan sisa hasil usaha dari penjualan ikan dan juga penjualan jaring
pada anggota sendiri. Khusus untuk jaring ini, anggota kelompok juga
mendapatkan fasilitas untuk melakukan pembelian jaring dengan cara kredit.
Apabila kebersamaan telah terbina dengan baik, maka beberapa permasalahan
dapat diatasi secara bersama-sama. Namun demikian, masih ada 45% dari
responden yang tidak menjadi anggota kelompok nelayan karena dikarenakan
sibuk mengurusi pekerjaan lain, misalnya mengurus keramba budidaya kerapu.
Gambar 13. Sebaran pendidikan nelayan dan keanggotaan kelompok nelayan ikan
hias laut
4.4.2. Pengepul Ikan Hias Laut di Kepulauan Seribu
Pengepul disebut juga middlemen atau perantara antara nelayan dan
perusahaan, baik perusahaan lokal maupun perusahaan ekspor. Belum ada definisi
yang jelas tentang pengepul ini, namun di Kepulauan Seribu ada 2 jenis pengepul,
yaitu pengepul yang 100% pengepul dan memiliki modal, yang biasanya disebut
56
dengan bos yang memiliki anak buah nelayan yang harus menjual ikan hiasnya
pada pengepul tersebut, karena pengepul itulah yang memberikan modal awal
berupa jaring dan bahan bakar kapal kepada si nelayan. Pengepul jenis kedua
adalah pengepul yang bukan pemilik modal, namun hanya mengumpulkan ikan
hias dan langsung menjualnya pada perusahaan. Mekanisme yang dilakukan oleh
kelompok KELONPIS juga demikian, sehingga kelompok berfungsi sebagai
pengepul bayangan bagi nelayan-nelayan ikan hias anggotanya.
Ada 13 pengepul di Pulau Panggang ini, dan berhasil diwawancarai
sebanyak 11 pengepul, dikarenakan pada saat dilakukan pengambilan data di
Pulau Panggang, pengepul tersebut sedang berada di Jakarta untuk waktu yang
cukup lama. Pada Gambar 14 dapat dilhat bahwa sebaran usia dan pengalaman
pengepul ini beragam dan terdistribusi secara merata. Untuk 5 kelompok umur
dari umur 25 – 55 tahun memiliki prosentase yang sama yaitu antara 18-19%,
sedangkan pengepul yang berumur 55-60 hanya 9% dari total responden.
Pengalaman pengepul berkisar antara 5-10 tahun dimiliki oleh 46% pengepul di
Pulau panggang, dan selebihnya dengan prosentase yang sama, yaitu 27% masingmasing kurang dari 5 tahun dan lebih dari 10 tahun. Sebaran yang sangat ideal
untuk suatu sebaran normal.
Gambar 14. Sebaran usia dan pengalaman pengepul ikan hias laut
Komoditas ikan hias laut di Kepulauan Seribu tidak banyak yang memilik
harga jual tinggi, sehingga berakibat pada omset bulanan para pengepul yang
realtif kecil. 55% dari pengepul memiliki hanya dapat mencapai omset penjualan
ikan hias kurang dari 1 juta rupiah per bulan. 36% nya 1-3 juta, dan hanya 1 orang
pengepul saja yang memiliki omset lebih dari 5 juta per bulan, yaitu Bapak
57
Junaedi, pengepul yang menjual ikan hiasnya pada PT. Dinar. Dari informasi
tambahan yang didapatkan, memang PT. Dinar berani membeli ikan hias dari
Bapak Junaedi dengan harga yang lebih tinggi dari perusahaan lain, dengan syarat
kualitas ikan yang dipasok sesuai dengan permintaan perusahaan.
Sedangkan jumlah tanggungan pengepul, 7 pengepul memiliki tanggugan
3 orang, 2 pengepul memiliki tanggungan 2 orang, dan 2 pengepul masing-masing
memiliki tanggungan 4 dan 5 orang.
Gambar 15. Sebaran omset bulanan dan jumlah tanggungan pengepul ikan hias
laut
Di Pulau Panggang, pengepul juga berorganisasi membentuk kelompok
pengepul yang bernama PERNITAS. Namun menurut keterangan beberapa pihak,
kelompok ini kurang bisa berkembang seperti KELONPIS, dan dimungkinkan hal
ini terjadi karena para angggotanya yang sebagaina adalah pemilik modal dan
pebisnis memiliki kesibukan masing-masing. Beberapa anggota kelompok
KELONPIS
mengaku
bahwa
keanggotaan
dalam
kelompok
ini
dapat
mempermudah akses mereka untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah, berupa
tabung gas, akuarium, dan fasilitas sarana dan prasarana yang disediakan oleh
pemerintah, dalam hal ini Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten
Administrasi Kepulauan Seribu. Hal ini terbukti dari data bahwa hanya 1 dari 11
responden yang tidak menjadi anggota kelompok. Sedangkan tingkat pendidikan
pengepul tersebar merata, 27% tamat SMA, 27% lagi tamat SMP, 37% tamat SD,
dan hanya 9% yang tidak tamat SD.
58
Gambar 16. Keanggotaan kelompok pengepul dan tingkat pendidikan pengepul
ikan hias laut
Sebanyak 55% pengepul menjadi tumpuan hidup bagi 5-10 nelayan di
Pulau Panggang. 36% diantaranya bahkan memiliki lebih dari 10 nelayan yang
menjual ikan hias laut padanya. Dalam menyeleksi ikan hias yang dibelinya,
hampir semua responden hanya menerima ikan hias hasil tangkapan yang
ditangkap dengan menggunakan jaring, sedangkan 1 pengepul memisahkan ikan
yang dibelinya apabila ditangkap dengan menggunakan sianida.
Karena sebagian besar pengepul hanya merupakan usaha skala kecil, maka
55% dari pengepul hanya memiliki kurang dari 3 karyawan, 36% memiliki 3-5
karyawan, dan 9% memiliki lebih dari 5 karyawan.
Gambar 17. Jumlah nelayan dan jumlah karyawan pengepul ikan hias laut
4.4.3. Perusahaan Ekspor Ikan Hias Laut di Tangerang
Dalam penelitian ini, dilakukan wawancara kepada tiga perusahaan ekspor
ikan hias laut yang berdomisili di Tangerang, yang merupakan muara bagi
nelayan dan pengepul ikan hias yang ada di Pulau Panggang tempat mereka
menjual ikan hiasnya. Nama perusahaan-perusahaan tersebut adalah CV. Cahaya
59
Baru, CV. Blue Star Aquatic, dan PT. Dinar Darum Lestari. Untuk profil
perusahaan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 12.
Ada beberapa karakteristik yang sama pada ketiga perusahaan tersebut,
antara lain, bahwa perusahaan tersebut memiliki pemasok dari beberapa daerah di
Indonesia, dari Aceh sampai ke Papua, hanya jumlah dan volumenya saja yang
mungkin berbeda. Sama-sama memiliki pasar di luar negeri, mulai dari
wholesaller hingga ke retail-retail petshop kecil. Pasar di luar negeri antara lain
negara-negara di USA dan Eropa, dan sekarang sudah mulai merambah ke negara
Uni Emirat Arab, terutama Dubai. Cara pengemasan yang dilakukan bisa
dikatakan sama, hanya mungkin sentuhan-sentuhan kecil yang dikhususkan untuk
menjaga kualitas ikan dalam perjalanan sedikit berbeda. Cara pengiriman/
shipping ikan hias ke luar negeri sama juga caranya, harus melalui agen,
walaupun satu-dua perusahaan telah menjadi agen sendiri, kemudian harus
melalui proses karantina di bandara, kemudian baru diterbangkan ke negara
tujuan.
Namun demikian, dalam mekanisme rantai pasok, ketiga perusahaan
tersebut memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyikapi rantai pasok ikan hias
mereka dari hulu ke perusahaan. Khususnya dalam penelitian ini, rantai pasok
mereka dari Kepulauan Seribu. CV. Cahaya Baru memiliki kontrak tak tertulis
dengan salah satu nelayan di Pulau Panggang, yang juga menjadi pengepul untuk
nelayan yang lain. PT. Dinar Darum Lestari bahkan melakukan pembinaan pada
salah seorang nelayan yang sekarang juga menjadi pengepul di Pulau Panggang
selama 2 tahun demi tercapainya kualitas yang diinginkan perusahaan, sampai
nelayan tersebut tersertifikasi oleh MAC (Marine Aquarium Council). Sedangkan
CV. Blue Star Aquatic lebih sederhana, hanya melakukan pembelian yang
kontinyu pada salah seorang pengepul di Pulau Panggang. Ketiga pemasok untuk
tiga perusahaan tersebut saat ini telah tersertifikasi MAC.
Mekanisme pembayaran dan metode pengiriman ikan ke perusahaan untuk
pemasok di Pulau Panggang yang dilakukan oleh ketiga perushaaan tersebut juga
berbeda-beda, sesuai dengan kesepakatan mereka dengan perusahaan. CV. Cahaya
Baru bersedia menjemput ikan hiasnya dari Muara Angke dengan mobil boks
yang mereka miliki. Dengan didasari oleh kepercayaan penuh, pengepul cukup
60
menitipkan ikan-ikannya pada ABK kapal ojek yang menuju Muara Angke.
Pembayaran dilakukan dengan metode transfer melalui Bank DKI, karena
aksesnya yang dekat dengan Pulau Panggang, yaitu terletak di Pulau Pramuka.
Sedangkan CV. Blue Star Aquatic dan PT. Dinar menerima ikan langsung ke
perusahaan, sehingga pengepul mereka lah yang mengantarkan ikan sampai ke
perusahaan. Untuk ongkos transportasi, CV. Blue Star bersedia membayar
setengah dari biaya transportasi yang dikeluarkan oleh pengepul. Berbeda lagi
dengan PT. Dinar, yang telah memasukkan item biaya kirim ke dalam harga ikan
yang dibelinya, sehingga memang perusahaan membayar dengan harga yang
cukup tinggi untuk ikan dari pengepul ini, selain dari tuntutan kualitas ikan itu
sendiri.
Dalam rangka membina hubungan baik dengan pengepul, ada beberapa hal
yang dilakukan oleh perusahaan, antara lain memberikan THR di hari lebaran,
memberikan bonus ketika ikan yang dikirimkan memiliki kualitas yang
memuaskan, dan memberikan santunan untuk kegiatan sosial di Pulau Panggang,
seerti pengajian, kematian, dan sebagainya. Sedangkan untuk hubungan profesi
demi kelangsungan usaha pengepul, perusahaan memberikan modal awal berupa
investasi pondok penampungan kecil, akuarium, dan tabung gas. Nantinya, semua
investasi tersebut akan menjadi milik pengepul dengan cara mencicil pada
perusahaan dengan metode pemotongan hasil penjualan.
Ada satu norma kerjasama yang sangat kuat di Pulau Panggang, bahwa
setiap nelayan hanya akan menjual ikannya pada satu pengepul, dan setiap
pengepul hanya akan memasok pada satu perusahaan. Kecuali nelayan lepas dan
pengepul lepas. Tidak ada kontrak tertulis dalam hal ini, namun semua pihak telah
memahamai dan tunduk akan norma yang telah terbentuk tersebut. Namun
demikian, sebenarnya hal ini dapat dijelaskan secara logika. Pembelian ikan hias
yang dilakukan di pulau dilakukan dengan metode order. Ketika perusahaan
mendapatkan order ikan hias dari pembeli, maka perusahaan meneruskan order
ikan hias yang ada di Kepulauan Seribu kepada pengepulnya, dan pengepul akan
meneruskan order tersebut kepada nelayannya. Apabila order ini sudah terpenuhi
oleh satu pengepul dan kemudian pengepul lain juga tiba-tiba memasok ikan yang
sama pada waktu yang sama, maka seleksi ikan pada perusahaan akan makin
61
ketat, dan ikan yang dibawa dari Pulau Panggang akan tidak terbeli dan kembali
sia-sia. Selain rugi biaya, kelestarian sumber daya alam juga bisa terancam. Maka,
dapat dikatakan bahwa norma tersebut dapat menjaga ketentraman dan
kenyamanan dalam usaha ikan hias laut di Pulau Panggang, dan juga bisa menjadi
kontrol pengambilan sumber daya alam dari laut.
62
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Gambaran Rantai Pasok Ikan Hias Laut
Gambaran rantai pasok yang akan dibahas terdiri dari struktur rantai pasok,
entitas rantai pasok, manajemen rantai pasok, sumber daya rantai pasok, dan
proses bisnis rantai pasok.
5.1.1 Struktur Rantai Pasok
A. Anggota Rantai Pasok
Pada rantai pasok suatu komoditas terdiri dari dua jenis anggota rantai
pasok, yaitu anggota primer dan anggota sekunder. Anggota primer adalah pihakpihak yang terlibat secara langsung dalam kegiatan produksi dalam rantai pasok.
Anggota sekunder adalah anggota rantai pasok yang tidak secara langsung terlibat
dalam kegiatan produksi, namun memiliki pengaruh dalam kegiatan bisnis dalam
rantai pasok tersebut.
A.1. Anggota Primer Rantai Pasok
Anggota primer pada rantai pasok ikan hias laut ini adalah nelayan tangkap
ikan hias laut sebagai pemasok utama, pengepul sebagai pengumpul, perusahaan
(baik ekspor maupun lokal) sebagai pemelihara di farm ikan hias, dan konsumen
ikan hias yang terdiri dari retail lokal, konsumen akhir lokal, importir, grosir di
luar negeri, retail luar negeri, dan konsumen akhir luar negeri. Gambaran lebih
lengkap tentang jaringan anggota primer rantai pasok ikan hias non sianida di
Kepulauan Seribu dapat dilihat pada Gambar di bawah ini:
Pasar Dalam Negeri
Retail
Lokal
Nelayan
Pasar Luar Negeri
Konsumen
Akhir
Lokal
Pengepul
Perusaha
-an
Ekspor
Importir
wholesaller
Grosir
Retail
Gambar 18. Jaringan Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di
Kepulauan Seribu
Konsumen
Akhir
1. Nelayan Ikan Hias
Ada sekitar 50 nelayan ikan hias di Kepulauan Seribu yang terkonsentrasi di
Pulau Panggang. Mereka mencari ikan hias di sekitar Kelurahan Pulau Panggang
dan
beberapa
kelurahan
sekitar
Pulau
Panggang.
Nelayan
ikan
hias
dikelompokkan menjadi nelayan lepas dan nelayan terikat. Nelayan lepas menjual
ikan hiasnya pada pengepul mana saja yang mereka suka dengan pertimbangan
tertentu, sedangkan nelayan terikat/ tetap menjual ikan hiasnya pada pengepul
tertentu. Tidak ada ikatan kontrak tertulis yang mengikat secara hukum atau
kelembagaan antara nelayan dan pengepul.
Nelayan lepas menyediakan dan menyiapkan sendiri perahu tangkap beserta
bensinnya serta jaring tangkapnya, sedangkan beberapa nelayan terikat disediakan
bensin dan jaring tangkapnya oleh pengepulnya. Kewajiban nelayan terikat adalah
menjual seluruh hasil tangkapan ikan hias yang telah diorder oleh pengepul
dengan kualitas ikan yang baik. Beberapa nelayan terikat yang modal
penangkapannya disediakan oleh pengepul tidak menjual ikannya pada pengepul
lain walaupun harga pada pengepul lain lebih baik. Harga ikan hias dari nelayan
ditentukan sepenuhnya oleh pengepul.
2. Pengepul Ikan Hias
Pengepul ikan hias di Kepulauan Seribu, yaitu di Pulau Panggang berjumlah
13 orang. Masing-masing pengepul memiliki sejumlah nelayan tetap dan nelayan
lepas sebagai pemasok ikan hias. Pengepul memberikan pinjaman modal
penangkapan pada nelayan, dengan jaminan bahwa ikan hias yang ditangkap oleh
nelayan akan seluruhnya dijual pada pengepul tersebut. Apabila ikan hias pada
pengepul belum mencukupi order, pengepul akan membeli ikan hias pada nelayan
lepas atau kepada sesama pengepul.
Beberapa pengepul memasok pada perusahaan ekspor, dan beberapa
memasok pada perusahaan lokal. Pengepul yang memasok pada perusahaan
ekspor diberikan fasilitas pinjaman berupa pondok penampungan kecil beserta
akuarium, plastik untuk membungkus ikan, dan tabung gas di pulau. Hal ini
dilakukan oleh perusahaan untuk kepentingan perusahaan juga, yaitu perusahaan
menginginkan kualitas ikan hias yang baik. Oleh karena itu pinjaman operasional
beserta transfer teknologi dilakukan oleh perusahaan pada pengepul. Di sisi lain,
64
untuk keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul, pengepul merasa senang
diberikan pinjaman investasi tersebut. Kerjasama saling membutuhkan seperti ini
sangat efektif bagi perusahaan. Namun demikian, ada sisi buruk bagi pengepul
tersebut, karena dengan adanya ikatan semacam ini pengepul menjadi tidak
memiliki posisi tawar yang baik dalam menentukan harga ikan hias, karena harga
ikan hias sepenuhnya ditentukan oleh perusahaan. Hal inilah yang menyebabkan
nelayan juga tidak memiliki posisi tawar pada pengepul.
Pada penelitian ini, dilakukan wawancara kepada 11 pengepul dari 13
pengepul ikan hias laut yang ada di Kepulauan Seribu. Dari pernyataan tersebut,
dapat diketahui bahwa ada 13 rantai pasok primer di Kepulauan Seribu. Tabel di
bawah ini menunjukkan 11 rantai primer yang ada di Kepulauan Seribu.
Tabel 12. Jaringan Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias di Kepulauan Seribu
dari Nelayan hingga Perusahaan
No
1.
Nelayan
Tetap 2 org
Lepas 2 org
2. Tetap 10 org
Lepas 3 org
3. Tetap 3 org
Lepas 8 org
4. Tetap 5 org
Lepas 0 org
5. Tetap 10 org
Lepas 2 org
6. Tetap 2 org
Lepas 3 org
7. Tetap 5 org
Lepas 10 org
8. Tetap 2 org
Lepas 5 org
9. Tetap 4 org
Lepas 0 org
10. Tetap 2 org
Lepas 5 org
11. Tetap 3 org
Lepas 4 org
Pengepul
Perusahaan lokal
Perusahaan ekspor
Kamid
-
CV. Blue Star Aquatic
Junaedi
-
PT. Dinar Darum
Lestari
Mujahidi
-
CV. Cahaya Baru
Kelompok
Nelayan
-
PT. Golden Marindo
Persada
Halimun
1. Napoleon
2. Galaxy/prent
-
Muhadi
Aquatic Jaya
-
Simon
Toupik Aquarium
-
Syahbudin
Armas Arquatik
-
Abdul Hakim
Family
-
Abdul Somad
CV. Aqua Marindo
-
Simin
Palem Lestari
-
Ada satu kelompok nelayan ikan hias di Kepulauan Seribu yang mencoba
memotong rantai pasok pada elemen pengepul ini. Kelompok ini bernama
KELONPIS, dimana mereka berorganisasi, mengumpulkan ikan hias bersamasama dan menjualnya langsung pada perusahaan selayaknya pengepul. Kelompok
65
ini lah yang berfungsi sama seperti pengepul. Inisiatif ini sangat bermanfaat bagi
anggota kelompok, karena nelayan bisa menentukan harga untuk mereka sendiri.
Paling tidak, penentu harga pada hasil tangkapan ikan mereka bukanlah pengepul,
tapi langsung perusahaan. Harapan dari anggota kelompok nelayan ini adalah
peningkatan kesejahteraan anggota.
3. Perusahaan
Perusahaan yang terdapat dalam rantai pasok ikan hias non sianida di
Kepulauan Seribu antara lain perusahaan lokal dan perusahaan ekspor (lihat Tabel
14). Pada penelitian ini ada 3 perusahaan ekspor yang diwawancara, yaitu CV.
Cahaya Baru, PT. Dinar Darum Lestari, dan CV. Blue Star Aquatic. Perusahaan
ekspor menerima pasokan ikan hias seminggu sekali dari pengepul di Pulau
Panggang dalam keadaan ikan di plastik dan di pisahkan untuk ikan yang siripnya
tajam atau ikan yang senang berkelahi. Sesampainya di perusahaan, ikan di
streaming selama 24 jam untuk mengetahui apakah ikan dalam kondisi sehat atau
sakit . Kemudian ikan disortasi sesuai dengan jenis dan kualitas yang diinginkan
perusahaan. Perusahaan juga melakukan upaya pemasaran kepada konsumen.
4. Konsumen
Ikan hias laut memiliki dua kelompok pasar, yaitu pasar dalam negeri dan
pasar luar negeri. Konsumen pasar dalam negeri adalah perusahaan retail
aquarium ikan hias laut. Namun pasar dalam negeri sangat terbatas, karena daya
beli masyarakat kurang. Pasar luar negeri merupakan pasar yang sangat
menjanjikan, karena peminat ikan hias laut cukup banyak dan tingkat
kesejahteraan konsumen menengah ke atas juga banyak. Beberapa negara yang
menjadi konsumen adalah USA (Los Angles, Miami, Kanada, San Fransisco,
Brazil, Argentina), Eropa (Inggris, Jerman, Rusia, Polandia, Irlandia, Hungaria),
Asia (Hongkong, Jepang, Taiwan, Korea), dan yang sedang mulai tumbuh adalah
pasar Uni Emirat Arab (Dubai, Iran, Irak, Siria).
Pelanggan ikan hias dari luar negeri berdasarkan besarnya order dibedakan
menjadi 3, yaitu wholesaller, grosir, dan ritel. Wholesaller membeli ikan hias dari
perusahaan untuk dijual pada penjual grosir di beberapa negara bagian yang lebih
kecil dan sulit dijangkau oleh penerbangan internasional. Grosir membeli ikan
hias dari wholesaller, namun ada beberapa perusahaan yang menjual ikan hias
66
langsung pada grosir. Retailer ikan hias laut adalah penjual akuarium ikan hias
laut. Ada beberapa perusahaan juga yang menjual langsung kepada retailer,
tentunya volume penjualannya tidak akan besar. Retailer ini yang akan
berhubungan dengan konsumen akhir, yaitu para hobbyist ikan hias laut dan
pengadaan akuarium publik.
5. Aktivitas Anggota Rantai Pasok
Nelayan melakukan penangkapan ikan di lokasi penangkapan dengan
menggunakan perahu kecil berbahan bakar bensin sebagai alat transportasi
menuju lokasi penangkapan. Jaring tangkap dan alat tangkap yang lain (tembakan
untuk ikan mandarin) telah disiapkan. Ikan yang telah ditangkap dimasukkan ke
dalam keranjang penampungan yang ditenggelamkan dalam air laut tapi diberi
alat pengapung agar keranjang tidak tenggelam semuanya dan tetap berada dalam
posisi di permukaan air laut. Selanjutnya, ikan hias hasil tangkapan langsung di
bawa ke pondok penampungan milik pengepul. Di sana, ikan langsung dihitung
dan disortasi berdasarkan jenis dan kebutuhan order dan langsung di bayar. Bagi
nelayan yang dipinjami jaring atau bensin, pembayaran dilakukan dengan
melakukan pemotongan pada hasil penjualan ikan hias dari nelayan secara
berkala.
Pengepul melakukan sortir pada ikan yang diterima dari nelayan dan
membayarnya. Ikan dari nelayan akan ditampung sampai hari jumat, karena setiap
hari jumat pengepul akan mengirimkan ikan ke perusahaan. Setelah ikan hias
terkumpul di pondok penampungan, pengepul bersama karyawannya melakukan
pengemasan ikan berdasarkan jenis dan jumlahnya. Pengemasan dilakukan
dengan menggunakan plastik, diisi air yang mengandung bubuk antibiotik untuk
menjaga kesehatan ikan, dan diisi gas dengan perbandingan air : gas = 1 : 3.
Kemudian ikan yang telah dikemas masing-masing 1 ekor, dibungkus lagi dengan
menggunakan plastik yang lebih besar, dimana 1 plastik dapat berisi 5-10 plastik
kecil. Ikan yang telah dikemas dengan pastik besar kemudian diangkut dengan
menggunakan gerobak dorong menuju dermaga di Pulau Panggang. Dengan
menggunakan kapal ojek ikan-ikan tersebut diangkut ke Muara Angke.
Sesampainya di Muara Angke, ikan-ikan tersebut diangkut lagi dengan
67
menggunakan gerobak dorong menuju kendaraan berupa mobil boks atau taksi
menuju farm perusahaan.
Beberapa perusahaan menjemput ikan hias dari Muara Angke, namun ada
beberapa yang menunggu pengepul mengantarkan ikan hias sampai farm
perusahaan. Pengelolaan ikan hias laut sebagian besar dilakukan di farm
perusahaan ekspor ikan hias. Berikut adalah beberapa teknologi pengelolaan ikan
hias laut yang dilakukan di perusahaan mulai dari pembelian ikan dari nelayan
hingga pada pengiriman/ ekspor ke luar negeri.
a. Pembelian dan sortir ikan hias
Ikan hias sebagai bahan baku utama perusahaan dibeli dari pengepul di
Kepulauan Seribu. Ikan hias tersebut dibungkus dengan menggunakan plastik
ukuran 40x60 cm yang sudah di beri lapisan kantung plastik juga untuk mencegah
kebocoran. Jumlah ikan hias yang ada di kantung plastik tersebut lebih kurang 50
ekor untuk ikan dengan ukuran rata-rata 5 cm bagi ikan ikan yang tidak berkelahi
atau ikan yang tidak bersirip tajam. Sedangkan untuk ikan yang suka berkelahi
dan yang bersirip tajam, yang berpotensi untuk saling merusak satu sama lain di
gunakan kantung plastik yang lebih kecil dan diisi satu ekor untuk satu plastik
yang sesuai dengan ukurannya.
Ikan yang baru datang kemudian dibuka plastiknya dan dibiarkan selama
lebih kurang 1 sampai 2 jam untuk melihat apakah kondisi ikan dalam keadaaan
sehat atau tidak. Setelah itu baru dilakukan pemilihan (sortir) ikan hias dengan
patokan ukuran, kondisi kesehatan ikan yang meliputi kelincahan, warna, dan
tingkat kerusakan sirip atau kulit ikan. Setelah itu baru dipindahkan ke dalam
akuarium adaptasi, dan setelah sehari, ikan dipindahkan ke akuarium
pemeliharaan.
b. Pemeliharaan ikan hias
Pemeliharaan ikan hias dilakukan seperti pemeliharaan ikan hias pada
umumnya, yaitu diberi makan, dikontrol pH air dan kebersihan lingkungannya,
sirkulasi air harus selalu berjalan, sehingga pada farm pemeliharaan ikan hias ini
selalu tersedia genset untuk berjaga-jaga apabila tiba-tiba terjadi pemadaman
listrik dari pusat. Hal inilah yang membuat konstruksi farm di perusahaan ikan
68
hias laut selalu berdampingan dengan mess karyawan, karena untuk pemeliharaan
ikan hias ini diperlukan pengawasan 24 jam penuh.
Ikan-ikan yang di order oleh pelanggan dan akan dikirim, 3 hari sebelumnya
di pisahkan dari kolam pemeliharaan untuk di beri perlakuan khusus, yaitu di
puasa kan. Selama 3 hari ikan tersebut tidak diberi makan agar mereka tidak
agresif ketika dilakukan proses pengepakan dan pengiriman, sehingga sampai di
negara tujuan, ikan tersebut dapat bertahan hidup.
c. Pengepakan ikan hias
Pengepakan ikan hias harus disesuaikan dengan negara tujuan dan musim
yang sedang berlangsung di negara tersebut. Ekspor ke negara negara Eropa,
Amerika dan Jepang, packing ikan hias pada musim panas tidak menggunakan
koran pelapis dan digunakan es batu kecil yang di plastik seperti es lilin untuk
menjaga suhu ikan. Namun ketika di negara tujuan tersebut terjadi musim dingin,
maka antara styrofoam dan karton diberikan koran pelapis sampai enam lapis.
Untuk musim dingin yang ekstrim, terkadang perlu diberi kantong penahan suhu
(heat pack) di tiap kardusnya. Sedangkan ekspor ke negara-negara tujuan ekspor
di Asia, tidak menggunakan koran pelapis. Kemampuan daya tahan ikan di dalam
kotak styrofoam dapat bertahan selama lebih kurang 48 jam.
Sebelum dilakukan pengiriman, ikan hias dikarantina lagi dengan cara
dimasukkan ke dalam akuarium terpisah dan dipuasakan, dengan tidak diberi
makan.
1) Peralatan dan bahan yang digunakan :
a) Kardus karton berukuran 55 x 30 x 35 cm
b) Kotak styrofoam ukuran 50 x 28 x 33 cm
c) Plastik ukuran lebar 10,12,15,17,18,25,38, dan 40 cm.
d) Tangki oksigen dengan kapasitas 200 kg/ cm2
e) Ultra violet
f) Marine buffer ph 8,3
g) Obat antibiotik Water Soluble Bulk Powder
2) Proses pengepakan ikan hias
a) Ikan dipilih dan disortir sesuai dengan ukuran dan jenis berdasarkan order
dari konsumen.
69
b) Ukuran plastik disesuaikan dengan ukuran ikan dan jenisnya. Plastik
ukuran 10 cm diisi ikan ukuran 1 inci untuk 1 ekor ikan. Plastik dilapisi
dua dan tengahnya dilapisi kertas koran untuk mencegah agar ikan tidak
saling melihat satu sama lain, sehingga tidak berkelahi.
c) Air untuk pengiriman disediakan di kolam khusus dan di atasnya
diletakkan mesin ultraviolet (UV) untuk mematikan bakteri yang terdapat
di dalam air tersebut. Kemudian ditambahkan di dalamnya marine buffer
PH 8,3 sebanyak 38 gram. Penggunaan marine buffer berguna untuk
menjaga alkalinitas dan kestabilan PH air laut.
d) Pemberian air ke dalam kantung plastik sebanyak ½ cm dari atas
punggung ikan. Setelah itu diberi water soluble bulk powder yang
mengandung nitrofurazone sebagai antibiotik, kira kira sampai air di
dalam kantung berwarna kuning.
e) Pemberian oksigen ke dalam kantung plastik dilakukan apabila ikan sudah
dimasukkan ke dalam kantung plastik dan diberi antibiotik. Setealah itu
baru ikan diikat dengan karet. Tabung oksigen 200 kg/cm2 untuk 200
kotak, dengaan kapasitas isi 1 boks berjumlah 50 kantung plastik lebar 10
cm. Penempatan kantung plastik yang berisi ikan hias di dalam kotak
styrofoam dalam posisi tegak. Antara styrofoam dan kotak kardus diberi
koran pelapis sesuai dengan kondisi negara tujuan ekspor.
d. Pengiriman ikan hias
Ikan hias yang telah di packing kemudian dimasukkan ke dalam mobil boks
untuk dikirim ke bandara terdekat. Perusahaan-perusahaan di Tangerang ini pintu
ekspornya adalah Bandara Soekarno Hatta. Di bandara dilakukan proses
karantina, dimana perusahaan terkait diwajibkan untuk memberikan sampel ikan
yang dikirim, untuk membuktikan bahwa ikan yang dikirim bebas bakteri dan
penyakit. Setelah karantina selesai dilakukan, kemudian dengan cepat ikan-ikan
ini dimasukkan kembali ke bagasi pesawat dan dikirim ke negara tujuan.
Sampai di negara tujuan, ikan tersebut dijemput oleh importir yang
merupakan wholesaller, grosir, dan retail. Ada pula importir yang disebut dengan
transhipper, dimana tanpa membuka kemasan, mereka menjual ikan-ikan dari
Indonesia ke negara-negara bagian yang lain. Tabel 15 menunjukkan ringkasan
70
kegiatan yang dilakukan oleh anggota primer pada rantai pasokikan hias non
sianida di Kepulauan Seribu.
Tabel 13. Aktivitas Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di
Kepulauan Seribu
Aktivitas
Pertukaran
a. Penjualan
b. Pembelian
c. Peminjaman modal
Fisik
a. Penangkapan
b. Penampungan
c. Pemeliharaan
d. Pengemasan
e. Pengangkutan lokal
f. Pengangkutan
internasional
Fasilitas
a. Sortasi
b. Teknologi pemeliharaan
c. Informasi pasar
d. Perijinan ekspor
e. Perijinan impor
Anggota Primer Rantai Pasok
Nelayan
Pengepul Perusahaan Konsumen
√
√
√/-
√
√
√/-
√
√
-
√
√
-
√
-
√
√
√
-
√
√
√
√
√
√
√/√
√
-
√
-
√
√
√
√
-
√/√
√
√
Keterangan :
( √ ) : dilakukan
( - ) : tidak dilakukan
A2. Anggota Sekunder Rantai pasok
Anggota sekunder adalah pihak yang memperlancar kegiatan rantai
pasokdalam menyediakan bahan baku yang dibutuhkan mulai dari kebutuhan
penangkapan, pengemasan, pemeliharaan, hingga kebutuhan kantor. Bahan baku
untuk penangkapan meliputi bensin untuk bahan bakar perahu, untuk pengemasan
di tingkat pengepul meliputi plastik, bubuk antibiotik, air laut, gas tabung, dan
karet gelang. Pemeliharaan di farm perusahaan memerlukan bahan baku air laut,
bahan untuk skimmer, antibiotik, dan pakan ikan. Pengemasan di tingkat
perusahaan memerlukan bahan baku berupa kardus karton berukuran 55 x 30 x 35
cm, kotak styrofoam ukuran 50 x 28 x 33 cm, plastik ukuran lebar
10,12,15,17,18,25,38, dan 40 cm, tangki oksigen dengan kapasitas 200 kg/ cm2 ,
71
Ultra violet, Marine buffer ph 8,3, Obat antibiotik Water Soluble Bulk Powder,
dan air laut. Hubungan anggota primer dalam rantai pasok dengan anggota
sekunder ini adalah hanya berupa hubungan konsumen biasa. Tabel 16
menunjukkan pemasok sekunder dalam rantai pasok ikan hias non sianida.
Tabel 14. Daftar Pemasok Bahan Baku Non Ikan Hias dalam Rantai Pasok
No. Elemen
Rantai
Pasok
1.
Nelayan
2.
Pengepul
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Jenis barang
Sumber Pemasok
Bensin
Plastik ukuran lebar 10,
15, 25, dan 40 cm
Bubuk anti biotik
Air laut
Tangki oksigen
Karet gelang
Perusahaan Bahan untuk skimmer
Pakan ikan
Kardus karton
Kotak styrofoam
Plastik ukuran lebar
10,12,15,17,18,25,38,
dan 40 cm
Tangki oksigen
Kios bensin di pulau
Dari perusahaan
Kios kecil di pulau
Ambil air laut di pulau
Dari perusahaan
Kios kecil di pulau
Toko Bahan Kimia di Jakarta
Pasar ikan di Jakarta
Toko Kardus & Plastik di Jakarta
Toko Kardus & Plastik di Jakarta
Toko Kardus & Plastik di Jakarta
Tempat pengisian oksigen,
bengkel di Jakarta
13.
Ultra violet
Toko Bahan Kimia di Jakarta
14.
Marine buffer ph 8,3
Toko Bahan Kimia di Jakarta
15.
Antibiotik Water Soluble Toko Bahan Kimia di Jakarta
Bulk Powder
16.
Air Laut
Sea World, Grosir Air Laut
Tangkian di Jakarta
Sumber : Hasil wawancara dengan beberapa pihak
B. Pola Aliran Dalam Rantai Pasok
Ada tiga macam aliran yang harus dikelola dalam suatu rantai pasok.
Pertama adalah aliran barang yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir
(downstream), kedua adalah aliran finansial (uang) dari hilir ke hulu, dan yang
ketiga adalah aliran informasi yang dapat mengalir dari hulu ke hilir atau
sebaliknya. Model rantai pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu ini
terdiri atas nelayan, pengepul, perusahaan, konsumen, dan pemasok sekunder.
72
Gambar 20 menunjukkan pola aliran dalam rantai pasok ikan hias non sianida di
Kepulauan Seribu.
Pasar Dalam Negeri
Konsumen
Akhir
Perusahaan
Lokal
Nelayan
Pasar Luar Negeri
Pengepul
Perusahaan
Eksportir
Perusahaan
Importir
Konsumen
Akhir
Penyedia sarana
non ikan
Keterangan :
Aliran barang
Aliran finansial
Aliran informasi
Gambar 19. Pola Aliran dalam Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di
Kepulauan Seribu
Aliran komoditas ikan hias non sianida dimulai dari nelayan sebagai
pemasok utama. Hasil tangkapan ikan hias dikumpulkan pada pengepul. Setiap
seminggu sekali atau setelah jumlah dan jenis ikan hias memenuhi order dari
perusahaan, maka pengepul mengantarkan ikan hias tersebut pada perusahaan,
yang dalam hal ini ada 2 jalur, yaitu perusahaan lokal dan perusahaan eksportir.
Harga beli ikan hias laut ini ditentukan sepenuhnya oleh perusahaan, sehingga
pengepul juga menentukan harga pada nelayan berdasarkan harga dari perusahaan
dikurangi dengan biaya yang harus dikeluarkan pengepul untuk operasional
penyimpanan dan transportasi. Beberapa pengepul mengantar ikan hias sampai ke
farm perusahaan dengan menggunakan mobil boks atau taksi, dan sebagian yang
lain hanya menitipkan ikan hias pada anak buah kapal dan sesampainya di Muara
Angke, ikan hias tersebut telah dijemput oleh pihak perusahaan. Biaya
transportasi akan ditanggung oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak dengan
kesepakatan yang telah ditentukan.
73
Setelah sampai di perusahaan, sesuai dengan order pelanggan, perusahaan
mengirimkan ikannya dengan menggunakan transportasi darat ke Bandara
Soekarno Hatta. Hal ini yang menyebabkan banyak eksportir ikan hias memilih
lokasi perusahaannya dekat dengan bandara. Untuk memperpendek waktu tempuh
dan efektivitas biaya. Kemudian ikan tersebut melalui proses karantina di bandara,
dan dengan waktu yang sangat singkat, ikan diterbangkan ke negara tujuan.
Sesampainya di negara tujuan, ikan dijemput dari bandara ke perusahaan
importir.
Dari
perusahaan
importir
yang
menjadi
wholesaller,
akan
mendistribusikan ikan ke pedagang grosir di negara-negara bagian yang lebih
kecil, kemudian ikan diangkut dengan menggunakan transportasi darat, kemudian
sesampainya di pedagang grosir, ikan dikirimkan ke petshop/ retail akuarium dan
ikan hias laut. Pembeli sebagai end user membeli ikan dari toko akuarium dan
ikan hias hias laut tersebut untuk kesenangan/ hobby mereka.
Aliran finansial pada rantai pasok ikan hias non sianida mengalir dari
konsumen, perusahaan importir, perusahaan eksportir, pengepul, dan nelayan.
Sedangkan untuk pasar dalam negeri aliran finansial lebih pendek, yaitu dari
konsumen, perusahaan lokal, pengepul, dan nelayan. Importir membayar kepada
eksportir dengan menggunakan 2 cara, yaitu membayar di awal, sebelum ikan
dikirim, atau membayar setelah ikan sampai di negara tujuan, tergantung
kesepakatan bersama. Sedangkan pada pengepul, perusahaan langsung membayar
sejumlah ikan yang dijual ditambah dengan ongkos kirim (sesuai kesepakatan).
Pada nelayan, pengepul juga langsung membayar ikan yang dijual pada nelayan
sesuai dengan jenis dan jumlah ikan yang ditangkap.
Sistem komunikasi sudah terintegrasi antara anggota primer dalam rantai
pasok. Aliran informasi terjadi pada komsumen akhir, perusahaan importir,
perusahaan eksportir, pengepul, dan nelayan atau sebaliknya. Namun demikian
ada satu jalur informasi tentang harga yang tidak tersampaikan dari perusahaan ke
pengepul ataupun ke nelayan, sehingga sampai sekarang nelayan dan pengepul
tidak mengetahui harga jual ikan-ikan hias yang mereka tangkap di pasar
internasional. Hal ini menyebabkan nelayan dan pengepul tidak memiliki posisi
tawar yang baik dalam hal harga. Informasi dari perusahaan ke pengepul hanyalah
informasi tentang order ikan, yaitu ikan jenis apa dan jumlahnya berapa yang
74
harus dikirim ke perusahaan. Komunikasi antara perusahaan dan pengepul
dilakukan dengan menggunakan telpon atau pada saat pengepul mengantarkan
ikan ke perusahaan. Komunikasi antara pengepul dan nelayan dilakukan dengan
komunikasi langsung atau telpon dan sms.
Komunikasi antara perusahaan eksportir dengan perusahaan importir
dilakukan melalui email, telpon, dan faximile. Importir memperoleh informasi
tentang tawaran ikan dan harga melalui pricelist yang dikirimkan perusahaan
eksportir kepada importir. Dengan pricelist tersebut, importir dapat memilih ikan
hias mana yang akan diorder dengan harga yang telah tercantum. Harga yang
tercantum belum termasuk diskon, sehingga untuk kesepakatan diskon dan cara
pembayaran dilakukan setelah order dilakukan.
5.1.2. Entitas Rantai Pasok
1. Produk
Ikan hias laut merupakan komoditas yang termasuk dalam kategori
binatang piaraan. Di Kepulauan Seribu ada sekitar 106 jenis ikan hias laut yang
diperdagangkan secara internasional, untuk nama-nama jenis ikan dapat dilihat
pada Lampiran 3. Ikan hias laut ini hampir seluruhnya didapatakn dari hasil
tangkapan nelayan. Hanya 5 jenis yang sudah berhasil dibudidayakan di Pusat
Budidaya Ikan Hias di Lampung. Penelitian dan pengembangan masih sangat
diperlukan untuk mendorong budidaya ikan hias laut ini.
Kualitas ikan hias yang diekspor harus benar-benar diperhatikan.
Perusahaan mempertaruhkan kepercayaan pelanggan melalui produk yang dijual
pada mereka. Oleh karena itu, teknologi tinggi dalam pemeliharaan dan
pengemasan diupayakan sebesar-besarnya demi menjamin ikan hias tersebut tetap
sehat sampai di negara tujuan.
Ikan hias laut adalah komoditas yang tidak diperuntukkan untuk dirubah
bentuknya, justru harus dipertahankan warna, kelincahan, dan kesehatannya.
Beberapa inovasi yang dapat dilakukan oleh perusahaan mengenai produk ikan
hias laut ini adalah teknologi perawatan dan teknologi pengemasan. Sedangkan
untuk membuat diferensiasi dengan perusahaan lain, beberapa perusahaan
mengalokasikan sumberdayanya untuk melakukan riset pada spesies jenis baru
yang berpotensi untuk dijadikan produk andalan bagi perusahaan.
75
2. Pasar
Pasar ikan hias laut non sianida ini sebagian besar adalah pasar luar negeri.
Target pasarnya adalah para hobbyist ikan hias laut dan pengadaan publik akan
akuarium air laut. Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor ikan hias laut ini
adalah USA (Los Angles, Miami, Kanada, San Fransisco, Brazil, Argentina),
Eropa (Inggris, Jerman, Rusia, Polandia, Irlandia, Hungaria), Asia (Hongkong,
Jepang, Taiwan, Korea), dan yang sedang mulai tumbuh adalah pasar Uni Emirat
Arab (Dubai, Iran, Irak, Siria). Dari keterangan yang didapatkan dari responden,
masih banyak permintaan dari luar negeri yang belum bisa kita pasok, sehingga
untuk kedepannya, bisnis ikan hias ini masih menjanjikan.
3. Pemangku kepentingan
Anggota yang terlibat dalam rantai pasok ikan hias non sianida atau yang
disebut dengan pemangku kepentingan (stakeholder) pada dasarnya termasuk
anggota rantai pasok, baik primer maupun sekunder. Setiap pemangku
kepentingan memiliki peran masing-masing dalam rantai pasok, yaitu sistem
produksi (penangkapan), pasca
penangkapan, distribusi, dan pemasaran.
Kelancara rantai pasokn ikan hias non sianida ini memerlukan koordinasi secara
intensif dan efisien melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam rantai
pasokan.
5.1.3. Manajemen Rantai Pasok
1. Struktur Manajemen
Struktur manajemen menjelaskan tentang aspek-aspek tindakan pada
setiap tingkatan manajemen dalam anggota rantai pasok. Tindakan tersebut
menjelaskan langkah yang diambil oleh anggota rantai pasok
menindaklanjuti
setiap
tingkat
manajemen
yang
terdiri
dari
dalam
strategi,
koordinasi/kolaborasi, perencanaan, evaluasi, transaksi, dan kemitraan.
Nelayan sebagai produsen utama yang bertindak sebagai penangkap ikan
hias laut. Pengepul mengorganisir hasil tangkapan nelayan dan secara priodik
mengirimkannya
ke
perusahaan.
Perusahaan
melakukan
proses
sortasi,
pemeliharaan, pengemasan, dan aktivitas ekspor, memberikan order pada
pengepul, dan melakukan investasi-investasi berupa pinjaman modal kepada
76
pengepul dan nelayan. Pendampingan dan penyuluhan proses penangkapan dan
pasca penangkapan dilakukan oleh beberapa perusahaan pada pemasoknya, yaitu
pengepul dan nelayan.
Beberapa perusahaan memiliki suatu divisi yang khusus menangani
masalah aktivitas ekspor yang berkaitan dengan pengiriman ikan hias dan
pemasarannya. Perencanaan dan strategi yang baik dibutuhkan untuk mendukung
kegiatan rantai pasok untuk mencapai optimalisasi rantai pasok.
2. Kesepakatan Kerjasama
Tidak ada kontrak secara tertulis baik dari pihak perusahaan kepada
pengepul maupun dari pihak pengepul pada nelayan. Kerjasama dilakukan dengan
menggunakan prinsip kepercayaan dengan memegang komitmen, rasa saling
ketergantungan, dan saling membutuhkan satu sama lain. Nelayan hanya akan
menjual ikannya pada pengepul yang memberinya modal awal penangkapan
seperti bensin dan pinjaman jaring. Pengepul hanya akan menjual ikannya pada
satu perusahaan saja. Tidak ada satu perusahaan yang memiliki dua pengepul dari
Kepulauan Seribu. Hal tersebut sudah merupaakn kesepakatan kerjasama yang
mengikat antara nelayan dan pengepul di Kepulauan Seribu. Padahal dari sisi
perusahaan sendiri, tidak ada keberatan bagi perusahaan apabila pengepul menjual
ikan hiasnya pada perusahaan lain, asalkan kebutuhan perusahaan utama telah
terpenuhi.
3. Sistem Transaksi
Sistem pembayaran pada tingkat nelayan dilakukan secara langsung.
Begitu nelayan pulang dari mencari ikan, ikan kemudian langsung didata dan
dihitung, dan langsung dibayar pada saat itu juga. Kecuali pengepul sedang
kehabisan uang tunai, maka pembayaran akan ditunda hingga pengiriman ikan ke
perusahaan dilakukan. Penundaan pembayaran paling lambat seminggu, karena
pengiriman ikan hias ke perusahaan biasa dilakukan seminggu sekali.
Sedangkan sistem pembayaran di tingkat pengepul dilakukan dengan
berbagai cara, tergantung kesepakatan antara pengepul dengan perusahaan. Ada
pengepul yang dibayar langsung di perusahaan karena dia mengirim ikannya
langsung ke perusahaan, ada pula yang pembayarannya dengan cara ditransfer ke
rekening pengepul. Rekening yang dimiliki pengepul adalah Bank DKI, karena
77
hanya Bank DKI yang aksesnya terdekat dengan Pulau Panggang, yaitu terletak di
Pulau Pramuka.
Berbeda pula dengan sistem pembayaran di perusahaan dengan importir.
Dalam transaksi perdagangan dan pengiriman barang, semua biaya pengiriman
ditanggung oleh importir. Sehingga yang dijual oleh perusahaan hanyalah produk
ikan hiasnya saja. Biaya transportasi mulai dari mengangkut barang keluar dari
farm perusahaan, sampai pada penerbangan, dan sampai ke negara tujuan
merupakan tenggungan importir. Sistem ini dikenal dengan istilah Freight on
Board (FOB). Cara pembayarannya ada 2 macam, yaitu collect (di bayar setelah
barang sampai di negara tujuan) dan prepaid (di bayar di negara asal).
4. Kemitraan
Salah satu strategi perusahaan untuk mengatasi permintaan yang tidak
menentu adalah dengan membina kemitraan dengan pengepul dan nelayan.
Pembinaan kemitraan ini berguna bagi perusahaan karena perusahaan tidak perlu
menyediakan farm yang terlalu besar untuk penyimpanan dan pemeliharaan ikan
hias. Cukup dengan memperkuat kemitraan dengan pengepul dan nelayan, maka
ketika order dari pelanggan datang, perusahaan tinggal meneruskan order tersebut
pada pengepulnya, dan selanjutnya pengepul akan meneruskan order tersebut pada
nelayan.
Tidak ada perjanjian tertulis dalam hubungan kemitraan ini, namun hanya
pembinaan hubungan secara moral dan sosial, dimana di dalamnya terdapat
mekanisme
saling
kepercayaan,
saling
ketergantungan,
dan
saling
menguntungkan. Namun demikian pola kemitraan semacam ini sebenarnya kuang
menguntungkan bagi nelayan, karena nelayan hanya menangkap berdasarkan
pesanan saja, sehingga volume penangkapan sepenuhnya merupakan wewenang
perusahaan. Ruang gerak nelayan dan pengepul untuk mengembangkan usahanya
sangat terbatas.
5.1.4. Sumber Daya Rantai Pasok
1. Sumber Daya Fisik
Sumber daya fisik rantai pasok ikan hias laut ini meliputi area tangkap,
kondisi laut dan cuacanya, serta sarana dan prasarana pengangkutan. Kepulauan
Seribu merupakan daerah dengan pulau-pulau kecil yang disatukan oleh lautan.
78
Karena daerah penangkapan ikan ini ada di paparan di sekitar pulau-pulau kecil,
maka dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan, nelayan memerlukan perahu
kecil untuk mengantarkannya ke areal penangkapan. Keberangkatan nelayan
melaut sangat dipengaruhi oleh cuaca. Apabila cuaca buruk yang ditandai dengan
hujan dan angin kencang, maka nelayan tidak akan pergi melaut. Demikian halnya
dengan proses pengangkutan ikan yang dilakukan setiap seminggu sekali ke
perusahaan. Apabila cuaca buruk, maka pengiriman ikan bisa ditunda hingga esok
harinya, sampai cuaca mulai mereda. Biasanya pengiriman ikan dari pulau jam
07.00 WIB akan sampai di Muara Angke jam 11.00 WIB, tapi karena cuaca buruk
bisa jadi baru sampai Muara Angke jam 15.00 WIB atau jam 16.00 WIB.
Permasalahan transportasi ini perlu diperhatikan, mengingat hanya melalui
transportasi laut lah ikan-ikan ini dapat diangkut ke perusahaan. Belum ada solusi
yang dapat mengatasi permasalahan transportasi laut yang sangat bergantung pada
cuaca ini.
Pihak perusahaan mengirimkan ikan hias ke Bandara Soekarno Hatta
melalui jalan darat. Tidak ada permasalahaan yang berarti untuk perjalanan ikan
dari perusahaan yang berlokasi di Tangerang ini menuju Bandara Soekarno Hatta,
selain kemacetan yang biasa terjadi di kawasan industri di sekitar perusahaan.
2. Sumber Daya Teknologi
Nelayan masih menggunakan teknologi yang sangat sederhana untuk
melakukan penangkapan ikan. Justru penggunaan teknologi yang sederhana
dengan menggunakan jaring atau tembakan inilah yang diminati oleh pelanggan
sebagai produk yang ramah lingkungan, karena sebelumnya, banyak nelayan ikan
hias laut yang menangkap dengan menggunakan racun sianida yang merusak
lingkungan dan juga merusak kualitas ikan.
Pengepul menggunakan teknologi yang juga sederhana dengan fasilitas
yang sudah cukup memadai, yaitu pondok penampungan dengan akuariumakuarium penampungan. Pada saat pengemasan ikan, pengepul menggunakan air
yang dicampur dengan bubuk antibiotik dan mengisi plastik kemasan ikan dengan
gas menggunakan tabung gas.
Perusahaan ekspor menggunakan teknologi yang cukup canggih untuk
pemeliharaan ikan dan proses pengemasan. Untuk pemeliharaan perusahaan
79
menggunakan steamer, marine buffer pH balance, dengan bak-bak penampungan
dan akuarium-akuarium terpisah berdasarkan jenis dan juga tempat karantina ikan.
Untuk pengemasan perusahaan menggunakan teknologi ultraviolet, bubuk
antibiotik, gas, air laut yang bebas bakteri, dan kardus serta styrofoam yang diatur
sedemikian rupa disesuaikan dengan kondisi di negara tujuan ekspor.
3. Sumber Daya Manusia
Banyak sekali sumber daya manusia yang terlibat dalam rantai pasokan
ikan hias laut di Kepulauan Seribu ini. Di Pulau Panggang sendiri, ada sekitar 50
nelayan ikan hias laut dan 13 pengepul. Nelayan bekerja selama 5 – 8 jam sehari
untuk mencari ikan, mulai dari jam 7.00 WIB sampai jam 12.00 – 15.00 WIB.
Pengepul bekerja setelah nelayan pulang melaut setiap harinya, mulai sore sampai
malam. Bila esok harinya adalah jadual mengantar ikan ke perusahaan, maka
pengepul akan lembur bersama karyawannya untuk mengemas ikan hias yang
akan dikirim. Tak jarang nelayan ikut membantu proses pengemasan ini.
Perusahaan memiliki beberapa karyawan yang membantu proses di farm,
mulai dari pembelian, sortir, pemeliharaan, hingga pengemasan. Sedangkan untuk
bagian pemasaran, sumber daya yang berpengalaman dan dipercaya oleh
perusahaan yang akan diposisikan di posisi tersebut. Pada pemilihan tenaga kerja
untuk farm, perusahaan tidak memerlukan SDM yang berpendidikan tinggi.
Cukup lulusan SMA atau STM, dengan sedikit pelatihan dan magang, maka
tenaga kerja ini siap untuk dikaryakan. Jumlah karyawan pada masing-masing
perusahaan dapat dilihat pada Lampiran 11.
4. Sumber Daya Permodalan
Nelayan ikan hias di Kepulauana Seribu rata-rata telah memiliki modal
sendiri untuk melakukan penangkapan. Bagi beberapa nelayan yang tidak
memiliki modal berupa bensin atau jaring, permodalan di tingkat nelayan tersebut
disediakan oleh pengepul dengan kesepakatan dan jaminan bahwa ikan hasil
tangakapan harus dijual pada pengepul tersebut. Sedangkan di tingkat pengepul,
kebutuhan semakin besar, yaitu permodalan untuk investasi pondok penampungan
dengan sarana dan prasarananya, antara lain akuarium dan tabung gas, serta
plastik bungkus ikan. Permodalan berupa investasi pembangunan pondok dan
pengadaan akuarium disediakan oleh perusahaan dalam bentuk hutang. Hutang
80
tersebut nanti dibayarkan pada perusahaan dengan mekanisme pemotongan
bayaran setiap kali pengepul mengantar/ menjual ikan ke perusahaan. Namun
apabila penjualan tidak cukup besar, pemotongan tersebut dapat ditunda pada
pembayaran ikan selanjutnya.
Perusahaan mendanai usahanya dengan uang sendiri. Mereka tidak
memerlukan lembaga keuangan untuk keperluan peminjaman modal. Hal ini
dikarenakan beberapa mekanisme pembayaran yang memungkinkan perusahaan
mendapatkan bayaran terlebih dahulu sebelum barang dikirim (prepaid). Biaya
operasional perusahaan dapat di tutup dengan menggunakan uang dari pembeli.
Mungkin perusahaan sudah cukup mapan dan belum berencana untuk
memperbesar skala usahanya, sehingga belum merasa perlu untuk mencari
pinjaman modal.
5.1.5. Proses Bisnis Rantai Pasok
1. Hubungan Kegiatan Bisnis Rantai Pasok
Hubungan kerjasama antara nelayan, pengepul, dan perusahaan merupakan
salah satu hal yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Sesuai dengan apa yang
dikemukakan oleh Mentzer (2001), bahwa ada hubungan yang harus dibina selain
hubungan profesi untuk tetap menjaga hubungan baik, maka perusahaan tidak
segan-segan untuk memberikan bantuan kepada nelayan/ pengepulnya ketika
mereka sedang membutuhkan, misalnya untuk biaya berobat atau bahkan untuk
acara pengajian. Dari hasil wawancara diketahui bahwa perusahaan mengetahui
dengan pasti karakteristik nelayan yang sangat sensitif, sehingga memang untuk
hubungan ini harus dilakukan perlakuan khusus, misalkan berkunjung ke rumah
nelayan, dengan membawakan baju untuk anak-anaknya atau bahan makanan
untuk istrinya. Diluar dugaan, ternyata istri sangat berperan dalam mempengaruhi
suaminya (nelayan) untuk mensuplai ikan hias kepada perusahaan yang sering
berkunjung ke rumah dan memberi ‘santunan’ tersebut.
Secara profesional, proses pengikatan nelayan/ pengepul dilakukan oleh
perusahaan dengan mekanisme investasi yaitu melakukan pemberian pinjaman
kepada pengepul setempat untuk membangun sebuah pondok penampungan kecil
untuk mengumpulkan ikan-ikan yang di suplai dari para nelayan. Pondok tersebut
lengkap dengan akuarium, sistem sirkulasi, dan tabung gas. Bentuknya mirip
81
dengan farm di perusahaan, tapi pondok ini hanya difungsikan sebagai tempat
penampungan saja. Pinjaman ini akan dibayar oleh pengepul dengan cara dicicil
setiap kali pengepul mengirimkan ikan hias ke perusahaan. Mekanisme adalah
dengan pemotongan bayaran.
Teknik investasi yang demikian selain menguntungkan perusahaan, juga
membantu pengepul untuk dapat memiliki fasilitas sarana dan prasarana sendiri.
Hubungan yang dijalin seperti ini cukup memuaskan kedua pihak, karena di
pandang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak. Hal ini juga yang
menjadikan saling ketergantungan antara kedua belah pihak. Ketergantungan yang
dimaksud disini adalah kekuatan utama dalam pengembangan solidaritas rantai
pasok (Bowersox dan Closs 1996). Hubungan kesaling tergantungan ini sesuai
dengan apa yang diungkapkan oleh Bowersox dan Closs (1996), bahwa
ketergantungan ini adalah apa yang memotivasi keinginan untuk menegosiasikan
transfer
fungsional,
berbagi
informasi kunci, dan
berpartisipasi
dalam
perencanaan operaional bersama. Perusahaan menginginkan produk yang sesuai
dengan standar kualitasnya, oleh karena itu perusahaan membantu pengepul untuk
operasional dengan pembangunan pondok penampungan tersebut. Sementara
pengepul juga membutuhkan akses pinjaman modal tersebut dari perusahaan
untuk mengembangkan usahanya.
Ada satu fenomena yang menarik yang terjadi di kelompok nelayan
KELONPIS, dimana mereka diberi pinjaman modal untuk pembuatan pondok
penampungan kecil di Pulau Panggang, namun setiap kali kelompok ingin
membayar kepada perusahaan, perusahaan seakan-akan mengabaikan pinjaman
tersebut. Hal tersebut sebenarnya menimbulkan rasa kesungkanan kelompok
kepada perusahaan, sehingga kelompok masih belum bisa berpindah dari
perusahaan yang selama ini mereka suplai, padahal harga beli yang diberikan
perusahaan kepada kelompok dirasa lebih rendah daripada harga beli perusahaanperusahaan lain yang dipasok oleh pengepul lain dari Pulau Panggang.
Penetapan harga menjadi satu masalah khusus yang mungkin perlu dikaji
lebih lanjut untuk penelitian berikutnya. Pada penelitian ini, wawancara dengan
nelayan menyatakan bahwa harga yang diberikan oleh perusahaan selalu kurang
memuaskan, sedangkan perusahaan mengatakan bahwa harga yang diberikan
82
kepada nelayan sudah merupakan harga yang standar yang ada di pasar, bahkan
beberapa ada yang lebih tinggi dari harga standar. Hal tersebut sesuai dengan teori
kekuatan tawar-menawar 1 antara perusahaan sebagai pembeli dan pengepul
sebagai pemasok berikut: Kekuatan tawar menawar perusahaan disebabkan karena
(1) Perusahaan mampu mendapatkan produk yang diperlukan, (2) Sifat produk
tidak terdiferensiasi dan banyak pemasok, (3) Switching cost pemasok adalah
kecil, (4) Perusahaan mempunyai tingkat profitabilitas rendah sehingga sensitif
terhadap harga dan diferensiasi pelayanan, dan (5) Produk pemasok tidak terlalu
penting bagi perusahaan sehingga mudah dicari substitusinya. Sedangkan dari sisi
pengepul sebagai pemasok, mereka baru dapat memiliki posisi tawar yang bagus
dalam penentuan harga apabila (1) Jumlah pemasok sedikit, (2) Produk yang ada
unik dan mampu menciptakan switching cost yang besar, (3) Tidak tersedia
produk susbstitusi, dan (4) Pemasok melakukan integrasi ke depan dan mengolah
produk yang dihasilkan menjadi produk yang sama dihasilkan perusahaan, artinya
pemasok dapat melakukan aktivitas ekspor dan menembus pasar ekspor seperti
yang dilakukan oleh perusahaan.
Beberapa jenis ikan yang ada di Kepulauan Seribu ternyata juga ada di
daerah lain dengan kelimpahan yang lebih banyak, sehingga daerah lain bisa
menjual ikan dengan jenis yang sama dengan ikan hias di Kepulauan Seribu
dengan harga yang lebih rendah. Hal ini merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan harga ikan hias di Kepulauan Seribu kurang kompetitif.
2. Pola Distribusi
a. Distribusi produk
Sesuai dengan order pelanggan, perusahaan mengirimkan ikannya dengan
menggunakan transportasi darat ke Bandara Soekarno Hatta. Hal ini yang
menyebabkan banyak eksportir ikan hias memilih lokasi perusahaannya dekat
dengan bandara. Untuk memperpendek waktu tempuh dan efektivitas biaya.
Kemudian ikan tersebut melalui proses karantina di bandara, dan dengan waktu
yang sangat singkat, ikan diterbangkan ke negara tujuan.
Sesampainya di negara tujuan, ikan dijemput dari bandara ke perusahaan
importir.
1
Dari
perusahaan
importir
Copyright: Intuitive, http://www.sxc.hu
83
yang
menjadi
wholesaller,
akan
mendistribusikan ikan ke pedagang grosir di negara-negara bagian yang lebih
kecil, kemudian ikan diangkut dengan menggunakan transportasi darat, kemudian
sesampainya di pedagang grosir, ikan dikirimkan ke petshop/ retail akuarium dan
ikan hias laut. Proses distribusi yang paling banyak dilakukan setelah ikan sampau
ke negara tujuan, karena sebelum samapai ke pembeli akhir, ikan tersebut bisa
dididtribusikan dari satu negara ke negara lain lagi. Pembeli sebagai end user
membeli ikan dari toko akuarium dan ikan hias hias laut tersebut untuk
kesenangan/ hobby mereka.
Gambar 20. Alur Perdagangan Ikan Hias dari Nelayan Kepulauan Seribu
hingga ke Pembeli Akhir di Luar Negeri
Sumber : Dinas Peternakan, Perikanan Dan Kelautan Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta, 2008
b. Distribusi harga
Dalam sebuah sistem perdagangan, pada umumnya distribusi harga akan
mengalami beberapa peningkatan di tiap level. Hal ini juga terjadi pada rantai
pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu. Beberapa tingkatan harga pada
84
beberapa jenis ikan diidentifikasi dan didapatkan perbedaaan harga sebagai
berikut:
Tabel 15. Perbedaan Harga pada Beberapa Jenis Ikan Hias Laut di Kepulauan
Seribu
Harga Jual Ikan (Rp/ ekor)
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Nama lokal
Bintang
Merah
Btg Merah
Kombinasi
Cacing
Anemon
Carpet Coklat
Cabing
Kuning
Buntel Babi
Kuning
Betta
Hogfish
Dokter
Clownfish
Triger
Kembang M
Botana Biru
Panter
Kuning
Jae-jae
Balong S
Balong M/L
Gurita Api
Kepe Mayeri
Mandarin S
Mandarin M
Prosentase Beda Harga
Nelayan
Pengepul
Perusahaan
Nelayan
Pengepul
Perusahaan
*
**
***
(%)
(%)
(%)
1.000
3.000
14.600
7
21
100
1.000
4.000
14.600
7
27
100
1.000
2.500
12.700
8
20
100
3.000
6.000
72.800
4
8
100
600
2.000
7.300
8
27
100
2.000
5.000
18.200
11
27
100
15.000
2.000
1.000
2.000
40.000
4.000
2.000
3.500
36.400
14.600
6.500
15.700
41
14
15
13
110
27
31
22
100
100
100
100
40.000
125.000
285.700
14
44
100
12.500
28.000
114.300
11
24
100
1.000
2.000
25.500
4
8
100
500
1.500
1.500
2.000
2.000
3.000
6.000
1.500
2.000
3.000
5.000
13.000
4.000
12.500
5.700
5.800
14.300
8.600
31.400
18.200
21.800
9
26
10
23
6
16
28
26
34
21
58
41
22
57
100
100
100
100
100
100
100
14
33
100
Rata-rata
Sumber :
*Wawancara via telpon kepada nelayan Kep Seribu pada 13 Februari 2010
**Nota pembelian CV. Blue Star Aquatic pada pengepul Kep. Seribu pada 21 Januari
2010
***Price list CV. Blue Star Aquatic periode tahun 2010
Hasil pendataan di atas didapatkan bahwa ada beberapa jenis ikan hias yang
sangat menguntungkan bagi pengepul, dan ada juga yang sangat menguntungkan
bagi perusahaan. Namun disisi lain, karena strategi penetapan harga, ada juga
85
jenis ikan yang harga jualnya lebih rendah daripada harga belinya pada pengepul.
Hal ini dapat disebabkan karena negara lain juga memiliki jenis ikan yang sama,
sehingga perusahaan mencoba bersaing harga pada jenis ikan tersebut.
Ikan yang bernilai ekonomis bagi perusahaan antara lain adalah anemon
karpet coklat, panter kuning, cacing, balong (M/L), dan bintang merah dengan
margin harga antara 80-92% dari pengepul. Sedangkan jenis ikan yang bernilai
ekonomis bagi pengepul antara lain betta, kepe mayeri kuning, gurita api,
mandarin (M/L), dan triger dengan margin harga antara 29-60% dari nelayan.
Apabila dihitung secara kasar, hanya dari data harga yang ada pada Tabel 15
di atas, dan faktor lain dianggap tidak ada, maka dengan harga dasar pada
perusahaan, pengepul mendapatkan bagian 33% dan nelayan mendapatkan bagian
14% dari harga jual perusahaan 100%. Keuntungan yang diambil oleh perusahaan
adalah 67%, dan keuntungan yang diambil dari pengepul adalah 19%.
Keuntungan yang terlihat besar tersebut belum dapat digunakan untuk
memutuskan pihak mana yang memiliki margin yang paling besar. Sebab, untuk
mengetahui margin bersih, banyak hal yang harus diperhitungkan dalam jangka
waktu perdagangan yang reatif lama, minimal dalam satu tahun.
Untuk
menghitung
margin
bersih,
beberapa
faktor
yang
harus
diperhitungkan antara lain dari pihak nelayan yaitu faktor biaya ransum, bensin,
cuaca, jumlah order, dan sebagainya. Di pihak pengepul harus memperhitungkan
faktor gaji karyawan, penyusutan pondok penampungan, penyusutan sarana
akuarium, tabung, plastik, dan biaya pengiriman, volume setiap pengiriman, dan
frekuensi pengiriman. Sedangkan dari pihak perusahaan, harus diperhitungkan
penyusutan investasi tetap dan investasi tidak tetap, gaji karyawan, biaya
pemeliharaan ikan di farm, selisih biaya box packing, selisih biaya karantina,
selisih biaya air freight, volume tiap pengiriman, frekuensi pengiriman, dan juga
biaya operasional seperti listrik, pembelian air laut, gaji karyawan, uang lembur,
dan sebagainya. Hal tersebut belum termasuk faktor eksternal yang terjadi di
lingkungan perusahaan, pengepul, ataupun nelayan.
Menurut keterangan dari beberapa pihak, keuntungan eksportir bergantung
pada volume tiap pengiriman dan frekuensi pengiriman. Makin sering dilakukan
pengiriman dengan volume pengiriman yang besar, maka margin yang didapatkan
86
oleh perusahaan akan semakin besar. Namun hal ini belum dibuktikan melalui
mekanisme penelitian ilmiah.
3. Pendukung Anggota Rantai Pasok
a. Pendampingan dan Penyuluhan
Dalam mendukung berlangsungnya rantai pasok ikan hias laut non sianida,
beberapa lembaga mengambil peran untuk kepentingan yang lain. LSM dan
Pemerintah, dalam hal ini LSM Yayasan Terangi dan Suku Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu melakukan pendampingan
dan penyuluhan pada nelayan mulai tahun 2002 untuk mendorong nelayan
melakukan usaha penangkapan yang ramah lingkungan. Pendampingan ini
dilakukan bekerjasama dengan lembaga sertifikasi MAC (Marine Aquarium
Council). Dengan sertifikasi ikan hias lestari, ikan hias dari Kepulauan Seribu
dipercaya sebagai ikan hias yang berkualitas dan ditangkap dengan menggunakan
cara yang ramah lingkungan.
b. Distribusi informasi pasar
Informasi tentang pasar sangat diperlukan dalam suatu rantai pasokan. Bagi
perusahaan, informasi ini sangat penting, sehingga perusahaan menginvestasikan
juga sumberdaya nya untuk mendapatkan informasi ini. Banyak informasi yang
didapatkan perusahaan dari pameran dan kunjungan pembeli ke perusahaan.
Beberapa perusahaan ekspor tergabung dalam AKKII (Asosiasi Karang, Kerang,
dan Ikan Hias Indonesia). Perkembangan pasar dan konsumen dalam pasar
termasuk antisipasi teradap kecurangan konsumen bisa didapatkan dari asosiasi
ini. Sebagai kompensasinya, perusahaan membayar sejumlah iuran bulanan untuk
asosiasi.
Informasi pasar seharusnya dapat diteruskan pada level pengepul dan
nelayan, namun sayangnya hal tersebut tidak dilakukan, atau tidak ada upaya
untuk melakukan distribusi informasi pasar karena mungkin hal ini dianggap tidak
perlu. Apabila sebuah rantai pasokan ingin dibangun dengan baik, seharusnya
tranaparansi dan informasi tentang pasar dapat terdistribusi secara merata.
4. Perencanaan Kolaboratif
Perencanaan kolaboratif adalah kesatuan kerjasama dan penyelarasan
informasi antara satu anggota rantai pasok dengan anggota rantai pasok yang lain
87
untuk perencanaan rantai pasok. Sistem bisnis dalam ikan hias laut ini
berdasarakn order, sehingga perencanaan kolabratif yang ada tidak dapat
ditargetkan dan di catat dalam kontrak tertulis, namun hanya merupakan
komitmen bersama bahwa ketika ada order dari perusahaan, maka pengepul dan
nelayan siap dalam waktu paling lama seminggu mengusahakan ikan hias yang di
order tersebut terpenuhi.
5. Penelitian Kolaboratif
Beberapa lembaga penelitian dan LSM, serta pemerintah bersama dengan
perusahaan melakukan penelitian kolaboratif untuk sebuah upaya pengusahaan
ikan hias non sianida untuk perbaikan kualitas ikan hias laut, menaikkan nilai ikan
hias laut dan mempertahankan ekosistem terumbu karang. LSM TERANGI
melakukan
identifikasi
terhadap
jenis
ikan
dan
ekosistem
karangnya,
kelimpahannya, serta kapasitas tangkapnya. Kapasitas tangkap ini berguna untuk
mencegah penangkapan berlebih pada ikan tertentu dan menghindari kepunahan.
Pada aspek manajemen, berbagai upaya telah dilakukan salah satunya
untuk menaikkan nilai ikan hias di tingkat nelayan, yaitu perbaikan harga ikan
hias laut. Namun hingga saat ini harga ikan hias masih ditentukan oleh
perusahaan, sehingga pengepul dan nelayan hanya memiliki ruang gerak yang
sempit untuk sebuah posisi tawar. Mungkin diperlukan suatu diskusi bersama
antara semua pihak untuk pemecahan masalah ini.
Di tingkat perusahaan, penelitian tentang teknologi pmeliharaan dan
pengemasan lebih banyak dilakukan oleh perusahaan sendiri berdasarkan trial and
error. Penelitian kolaboratif bersama dengan lembaga penelitian baru dilakukan
untuk penemuan dan identifikasi spesies baru dan untuk teknologi budidaya ikan
hias laut.
6. Aspek Resiko
Resiko yang diterima oleh tiap elemen rantai pasokan berbeda-beda satu
sama lain. Resiko yang diterima oleh nelayan adalah resiko cuaca buruk yang
menyebabkan mereka gagal melaut sehingga tidak dapat menghasilkan apapun
dalam satu hari. Resiko yang lain adalah terluka ketika ikan yang ditemukan
memiliki sengat atau duri yang tajam. Beberapa ikan adalah ikan musiman,
sehingga ada resiko nelayan tidak bisa mendapatkan ikan tertentu karena belum
88
musimnya. Sedangkan resiko pada pengepul adalah tingkat kematian ikan di
pondok pemeliharaan. Penyimpanan selama seminggu beresiko menyebabkan
ikan hias mati apabila tidak dipelihara dengan baik. Resiko yang lain adalah
transportasi laut yang tergantung cuaca, sehingga dapat menunda pengiriman.
Satu lagi resiko yang cukup signifikan adalah ketika menjual ikan pada
perusahaan, ketika proses seleksi ikan hias benar-benar dilihat kualitasnya. Ikan
yang kualitasnya buruk dengan ciri-ciri lemas, sirip sobek, badan luka, dan warna
tidak sesuai dengan warna naturalnya (biasanya disebabkan karena penangkapan
dengan sianida) akan dimasukkan kategori afkir, dan ikan tersebut tidak dibayar.
Ikan yang masuk kategori afkir akan ditinggal saja di perusahaan.
Perusahaan memiliki resiko paling besar dalam rantai pasok ikan hias laut
ini. Resiko pertama adalah resiko dalam pemeliharaan. Tingkat kematian di farm
bisa menjadi tinggi ketika salah satu ikan hias terkena virus atau bakteri, karena
air yang digunakan adalah air sirkulasi, sehingga dapat menyebar pada semua
bak-bak ikan. Resiko kedua adalah resiko teknis penerbangan ke negara tujuan
ekspor. Apabila cuaca buruk dan pesawat tidak dapat diterbangkan tepat waktu,
ikan yang hanya memiliki ketahanan hidup dalam kemasan dalam waktu yang
terbatas tersebut akan mati sampai negara tujuan. Apabila ada kematian pada ikan
yang dikirim, maka importir tidak membayar ikan tersebut, dan mengirimkan
bukti kepada perusahaan berupa foto-foto ikan yang dimaksud. Resiko yang lebih
parah lagi adalah apabila terjadipermasalahan dengan perijinan masuk ke negara
tertentu, maka ikan tersebut akan kembali lagi ke Indonesia dan dikembalikan ke
perusahaan. Biaya penerbangan akan terbuang sia-sia, dan kemungkinan ikan hias
masih hidup sampai di perusahaan sangatlah kecil.
7. Proses Trust Building
Proses trust building merupakan proses untuk menumbuhkan saling
kepercayaan antara anggota rantai pasok. Hubungan kepercayaan yang lemah
dapat menghambat proses kerjasama antar pihak. Pengepul menjalin kerjasama
dengan nelayan melalui hubungan perkawanan dan persaudaraan, sehingga proses
ini lebih mudah dibangun. Perusahaan juga berusaha melakukan hal yang sama
dengan membina pertemanan dengan pengepul di pulau. Beberapa pendekatan
yang mereka lakukan antara lain dengan mengunjungi keluarga pengepul dan
89
nelayan, dan ikut terlibat dalam memberikan sumbangan atas pembangunan
masjid atau acara pengajian di pulau.
5.1.6. Strategi Pemasaran Ikan Hias Laut
Perusahaan yang memasarkan produk ikan hias laut memerlukan strategi
yang berbeda dengan perusahaan komoditas lain. Namun sesama perusahaan ikan
hias, walaupun saling berkompetisi, mereka pada dasarnya memiliki strategi
pemasaran yang serupa satu sama lain.
Kunci keberhasilan suatu perusahaan dimulai dari iktikad baik mereka
dalam merumuskan visi dan misinya. Visi merupakan cita-cita perusahaan yang
ingin dicapai di masa yang akan datang. Sedangkan misi adalah penetrasi dari
visi, yaitu penjabaran mengenai apa yang akan dilakukan perusahaan untuk
mencapai visi tersebut. Dari perusahaan yang diteliti, diketahui bahwa dua
perusahaan yaitu PT Dinar Darum Lestari dan CV. Cahaya Baru memiliki visi,
Tabel 16. Visi, Misi, dan Tujuan Perusahaan
PT. Dinar Darum Lestari
CV. Cahaya Baru
Visi:
Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya
hayati laut melalui agribisnis ekoteknologi
berbasis masyarakat.
Misi :
Berperan aktif melestarikan keanekaragaman hayati melalui teknologi
penangkaran dan meningkatkan
produktivitas perairan dengan melibatkan
masyarakat pesisir
Tujuan :
a. Meningkatkan diversifikasi usaha
secara merata dan berkesinambungan
b. Meningkatkan kesempatan kerja dan
menyediakan lapangan kerja baru
c. Meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat pesisir
d. Meningkatkan nilai ekspor biota laut
Visi :
a. Membuka lapangan pekerjaan, terutama
bagi para nelayan
b. Meningkatkan taraf hidup nelayan serta
karyawan
c. Memanfaatkan sumber daya alam
secara lestari untuk meningkatkan
devisa
Misi :
a. Menjadi eksportir ikan hias dan koral
yang memiliki kualitas dan varitas
optimal dan
b. Berusaha selalu meningkatkan kepuasan
pelanggan.
misi, bahkan tujuan perusahaan yang tertulis. Sedangkan satu perusahaan, karena
merupakan perusahaan baru yang masih berhubungan saudara dengan perusahaan
yang lain , belum merumuskan visi dan misinya.
90
Visi dan misi kedua perusahaan di atas mencerminkan bahwa perusahaan
memiliki impian yang mulia, yaitu melakukan bisnis ikan hias dengan melibatkan
masyarakat nelayan, menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat luas, dan
meningkatkan kesejahteraan mereka. Dari sisi teknologi dan kepedulian terhadap
lingkungan, kedua perusahaan juga terlihat cukup concern dalam hal tersebut,
tercermin dari misi yang diembannya. Satu hal yang tidak kalah penting untuk
diutamakan, yaitu kepuasan pelanggan.
Strategi segmentasi, targeting, dan positioning akan dijelaskan secara
singkat sebagai berikut. Segmentasi adalah membagi pasar menjadi beberapa
kelompok dengan kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku yang berbeda-beda
yang nantinya akan memerlukan produk atau bauran pemasaran yang berbeda
pula (Kottler dan Armstrong, 2004). Dalam hal segmentasi, perusahaan
mensegmenkan pasarnya secara geografis, yaitu berdasarkan negara tujuan
ekspor, antara lain USA (Los Angles, Miami, Kanada, San Fransisco, Brazil,
Argentina), Eropa (Inggris, Jerman, Rusia, Polandia, Irlandia, Hungaria), Asia
(Hongkong, Jepang, Taiwan, Korea), dan yang sedang mulai tumbuh adalah pasar
Uni Emirat Arab (Dubai, Iran, Irak, Siria). Sedangkan secara demografis, segmen
pasar ikan hias ini adalah konsumen akhir yang berpendapatan menengah ke atas.
Dilihat dari aspek tingkah laku, segmen pasar ini adalah konsumen akhir yang
menginginkan produk yang berkualitas karena mereka adalah konsumen yang
terdidik dan peduli terhadap lingkungan.
Targeting adalah proses mengevaluasi setiap ketertarikan segmen pasar
dan memilih satu atau lebih segmen pasar untuk dimasuki (Kottler dan
Armstrong, 2006). Target akhir pasar mereka adalah para hobbyist ikan hias laut
yang termasuk dalam pasar ceruk. Namun secara langsung, perdagangan mereka
adalah business to business, sehingga sasaran pasar mereka adalah para
wholesaller, grosir, dan retail importir ikan hias di negara-negara yang tersebut.
Dalam menyikapi customer, perusahaan lebih memilih untuk memelihara/
memaintain customer lama daripada mencari customer baru. Karena order dari
customer lama saja masih banyak yang belum dapat dipenuhi oleh perusahaan.
Namun ketika ditanyakan kepada perusahaan, pertimbangan apa yang dipikirkan
dalam mencari customer baru, adalah tentang kejujurannya dalam bertransaksi
91
dan ketertarikannya pada produk ikan hias Indonesia. Informasi tentang perilaku
beberapa customer dan ketertarikan calon customer, dan tren pasar bisa
didapatkan melalui asosiasi (AKKII – Asosiasi Karang, Kerang, dan Ikan hias
Indonesia), buletin bisnis OFI, dan dari pemerintah yaitu BPEN (Badan
Pengembangan Ekspor Nasional) yaitu salah satu badan dari Departemen
Perindustrian dan Perdagangan.
Positioning adalah mengatur suatu produk yang dihasilkan oleh
perusahaan untuk mengemban predikat yang jelas, berbeda, dan diinginkan oleh
konsumen secara relatif terhadap produk kompetitor dalam benak konsumen
(Kottler dan Armstrong, 2006). Sederhananya adalah bagaimana perusahaan ingin
diingat di benak konsumen. Dari hasil wawancara, Ketiga perusahaan
memposisikan produk mereka sebagai produk yang berkualitas. Ikan hias yang
berkualitas yang memiliki tingkat ketahanan hidup (survival rate) tinggi, jenis
yang beraneka ragam, dan pengiriman yang tepat waktu. Namun demikian, dari
ketiga perusahaan, hanya PT. Dinar yang dengan tegas mengungkapkan bahwa
produknya mengutamakan kualitas yang “super duper number one high quality”.
Dan hal itu dibuktikan dengan loyalitas konsumen pada PT Dinar walaupun
diantara pada kompetitor, harga jual yang diband roll oleh perusahaan ini lebih
tinggi dari pada harga kompetitor. Untuk meyakinkan tentang positioning ini,
ketiga perusahaan telah mengantongi sertifikasi MAC, yang menjadi andalan
mereka di depan konsumen.
Bauran pemasaran dengan formula 6 P (Product, Price, Place, Promotion,
Physical Evidence, dan Personality) diterapkan dalam pemasaran ikan hias ini,
sebagai berikut :
1) Product (produk)
Produk yang diperdagangkan oleh perusahaan adalah ikan hias laut,
karang hias laut, dan invertebrata laut. Ketiga produk tersebut merupakan
komplemen, yang saling melengkapai satu sama lain (complement product),
untuk keperluan pengisian akuarium pada konsumen akhir.
Beberapa upaya dilakukan perusahaan untuk melakukan diversifikasi
produk, walaupun produk yang diambil adalah dari alam, yaitu dengan
melakukan riset untuk pengembangan produk dan berusaha menemukan
92
spesies baru sebagai inovasi perushaan. Bahkan PT. Dinar telah menyisihkan
sebagian besar sumber daya nya untuk menamai satu spesies temuannya di
Hawai University, satu jenis ikan endemik Indonesia dengan nama
Pictichromis dinar jenis ikan dottyback dari Indonesia, dan dipublikasikan
dalam International Journal of Ichtiology. Inovasi seperti ini lah yang dapat
mendongkrak eksistensi perusahaan di mata pelanggan, selain di satu sisi
merupakan kepuasan tersendiri bagi perusahaan. Selain dari pada itu, kualitas
tetap dikedepankan oleh ketiga perusahaan ini. Dengan menggunakan MAC
certified, diharapkan muncul kepercayaan dari customer baru.
2) Price (harga)
Ada beberapa strategi harga yang ditetapkan oleh perusahaan. CV.
Cahaya Baru memberikan diskon untuk ikan yang musiman, sehingga
mendorong buyer untuk mengorder lebih banyak. Hal ini juga bermanfaat
untuk nelayan karena bisa meningkatkan hasil tangkapannya ketika musim
ikan tertentu. Kemudian pemberian diskon kepada customer lama biasanya
lebih besar daripada customer baru.
PT. Dinar memasang strategi harga yang berbeda dengan kompetitor.
PT. Dinar sangat jarang memberi diskon kepada pelanggannya, bahkan
mereka memasang harga jual ikannya di atas rata-rata harga pasar.
Keberanian memasang harga tersebut dilandasi oleh kualitas produk yang
benar-benar terjamin dan terpercaya di mata konsumen. Strategi ini
merupakan strategi yang sangat ideal, yaitu produk berkualitas, harga
menyesuaikan.
3) Place (saluran pemasaran)
Dalam memasarkan produknya ke luar negeri, beberapa perusahaan
memiliki agen airline langsung, sehingga mereka memiliki kuota ekspor
tersendiri, dan dapat mengirim produknya ke negara-negara bagian yang
menjadi pelanggan mereka dengan lebih mudah dengan waktu yang lebih
fleksibel. Agen yang dimiliki oleh PT. Dinar adalah Singapore Airline untuk
pasar Asia dan KLM Eropa untuk negara-negara bagian di Eropa. Sedangkan
CV. Cahaya Baru Lufthansa untuk pasar Jerman dan sekitarnya. Untuk
memiliki satu agen airline, perusahaan harus mengeluarkan uang sebesar US$
93
100.000. Karena CV. Blue Star masih baru dan masih kecil perusahaannya,
mereka cukup menggunakan jasa agen cargo untuk mengirimkan ikan
hiasnya kepada buyer.
Di luar negeri, ada beberapa macam middlemen yang menjadi importir
perusahaan. Ada yang istilahnya transhipper, yang hanya mengirimkan
barang ke negara-negara bagian yang lebih kecil tanpa membuka kemasan.
Pada istilah lokal kita disebut broker.
Kemudian ada wholesaller, yang
melakukan hal yang sama, yaitu mengantar ikan ke negara-negara bagian tapi
melalui proses seleksi mereka juga. Kemudian ada grosir yang menjual ikan
pada retailer, yaitu petshop-petshop kecil, penjual akuarium ikan hias laut,
dan berakhir di konsumen akhir, yaitu para hobbyist.
4) Promotion (promosi)
Dalam memperkenalkan produk mereka kepada para pelanggan,
perusahaan sering mengikuti pameran di luar negeri. Ada beberapa event
yang sering diikuti oleh eksportir ikan hias laut, yaitu Aquarama di Singapura
dan satu lagi di Jerman. Kedua pameran tersebut diadakan dua tahun sekali
berselang-seling, sehingga memungkinkan bagi perusahaan untuk mengikuti
keduanya. Tahun ini di Singapura, dan tahun berikutnya di Jerman. Dalam
pameran tersebut, bertemu lah para wholesaller dan produsen besar untuk
saling memperkenalkan produk mereka dan saling memprospek satu sama
lain. Walaupun mungkin anggaran yang akan dihabiskan oleh perusahaan
terhitung besar, namun ajang pameran ini sangat berguna bagi perusahaan
untuk mengembangakan sayap, memperluas pasar, dan meningkatkan
eksistensi perusahaan, mempertahankan kontrak dengan pelanggan, mendidik
pelanggan dengan publikasi, dan memperkenalkan produk baru.
Pada umumnya, promosi dilakukan dengan menggunakan media
website, dimana di dalamnya perusahaan menawarkan stock list yang mereka
miliki, sehingga baik pembeli baru maupun pelanggan lama dapat memesan
secara interaktif melalui intenet. Hal ini sangat efisien bagi perusahaan, yang
artinya, perusahaan harus selalu standby fasilitas internet 24 jam.
94
5) Physical Evidence (bukti fisik)
Demi mengetahui tentang produk perusahaan dan memastikan bahwa
perusahaan yang menawarkan produk bukan perusahaan fiktif, pelanggan
seringkali melakukan kunjungan ke perusahaan. Dengan kunjungan ini
perusahaan dapat melakukan prospek dan memperkenalkan produk baru juga
seperti yang dilakukan di pameran. Sedangkan pembeli juga ingin
memastikan kualitas produk dengan melihat teknologi yang dimiliki oleh
farm perusahaan.
6) Personality (sikap)
Setiap penjualan adalah penjualan jasa. Begitu kira-kira yang harus
dilakukan juga oleh para manajer perusahaan-perusahaan ikan hias ini. Servis
yang baik kepada pelanggan yang berkunjung ke perusahaan sangat
menentukan apakah kontrak perdagangan akan diperpanjang atau tidak. PT.
Dinar bahkan memberikan servis lebih dengan mengajak pelanggannya untuk
berlibur diving ke site-site pemasok ikan hias perusahaan. Selain itu
memegang prinsip - prinsip kejujuran dan menjaga kepercayaan pelanggan
juga hal yang sangat penting untuk menjamin kelanggengan kerjasama antara
perusahaan dan buyer.
5.2. Kesediaan Nelayan untuk Berpartisipasi dalam Rantai Pasok Ikan Hias
Laut Non Sianida
Dalam rantai pasok ikan hias, partisipasi nelayan merupakan aktor
terpenting yang menjadi ujung tombak bisnis ikan hias laut ini. Menurut pendapat
para ahli, nelayan memiliki peran 49,8% lebih penting dari perusahaan (20,9%)
dan juga pengepul (16,2%).
Hal ini dapat dilihat pada hasil analisa sensitivitas
yang didapatkan pada Analysis Hierarchy Process. Oleh karena itu, kesediaan
nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias ini sangat
penting. Dalam penelitian ini, dianalisa beberapa faktor yang menjadi penentu
kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias
non sianida.
Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan deskriptif kuantitatif,
dengan variabel bebas kesediaan, dan dibedakan antara nelayan yang bersedia
berpartisipasi dan tidak bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok
95
Bobot
nelayan
pengepul
perusahaan
pihak luar
Inconsistency = 0,01
with 0 missing judgments.
0 ,498
0 ,162
0 ,209
0 ,131
Gambar 21. Pairwise comparison untuk aktor yang berperan dalam rantai pasok
ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu
ikan hias laut. Variabel bebas adalah kepercayaan (trust), komitmen, normanorma kerjasama, kesaling tergantungan, kesesuaian, hubungan tambahan, dan
jaminan kepastian. Variabel-variabel bebas tersebut diukur dengan menggunakan
skala likert dengan spesifikasi 5 untuk pernyataan sangat setuju, 4 untuk setuju, 3
untuk netral, 2 untuk tidak setuju, dan 1 untuk sangat tidak setuju.
Pada penelitian ini diketahui dari 38 responden, hanya 5 responden yang
tidak ingin berpatisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias. Artinya, dari
seluruh populasi, 87% nelayan di Kepulauan Seribu bersedia berpartisipasi dalam
rantai pasok, sedangkan hanya 13% sisanya tidak bersedia berpartisipasi dalam
manajemen rantai pasok.
Dari 13% nelayan yang menyatakan tidak bersedia berpartisipasi, alasan
yang dikemukakan adalah karena mereka memiliki pekerjaan lain, yaitu bekerja di
keramba budidaya kerapu ikan hias atau karena order sepi. Alasan yang
dikemukakan oleh responden tidak ada kaitannya dengan variabel yang dimaksud
dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya, pada beberapa tabel di bawah ini akan
diperlihatkan dan dibahas tentang signifikan atau tidaknya perbedaan karakter
jawaban antara nelayan yang bersedia berpartisipasi dan nelayan yang tidak
bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias laut non sianida
di Kepulauan Seribu.
(1) Kepercayaan (trust)
Tabel 17 menunjukkan tentang parameter yang digunakan untuk mengukur
variabel kepercayaan nelayan terhadap pengepul. Dapat dilihat bahwa nelayan
yang bersedia maupun yang tidak bersedia percaya akan harga ditetapkan
pengepul. Sedangkan penyesuaian harga beli di tingkat pengepul masih belum
96
direspon secara jelas oleh nelayan. Namun demikian, nelayan yang bersedia
berpartisipasi setuju bahwa perubahan harga di tingkat pengepul akan
mempengaruhi harga di tingkat nelayan. Hal ini berarti bahwa perubahan harga
jual pengepul memang mempengaruhi harga beli pengepul terhadap nelayan,
namun belum tentu pengepul yang bersangkutan akan menyesuaikan harga
belinya dengan pengepul yang lain. Pengaruh perubahan harga ini dapat
digunakan untuk mengukur kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam
manajemen rantai pasok ikan hias.
Tabel 17. Respon untuk Variabel Kepercayaan (trust)
N Parameter
Prosentase nelayan yang merespon (%)
o
1 Nelayan percaya akan harga
ikan hias yang ditetapkan
oleh pengepul
2 Pengepul akan
menyesuaikan harga beli
ikan hias dengan pengepul
yang lain untuk nelayan
3 Perubahan harga di tingkat
pengepul akan
mempengaruhi harga di
tingkat nelayan
Nelayan bersedia
Nelayan tidak bersedia
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
3
68
8
8
0
0
11
0
3
0
3
29
34
21
0
0
0
11
3
0
3
53
0
32
0
0
5
3
5
0
(2) Komitmen (commitment)
Apabila dilihat dari parameter yang digunakan, pada Tabel 18 dapat dilihat bahwa
komitmen nelayan terlihat dari kekonsistenan mereka dalam mensuplai ikan hias
sesuai order, menjaga kualitas ikan hias yang dijual pada pengepulnya. Semua
nelayan setuju dengan komitmen tersebut. Namun ada satu hal yang membuat
nelayan masih tetap bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan
hias, yaitu komitmen pengepul untuk selalu menepati cara pembayaran yang
disepakati. Hal ini dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kesediaan nelayan
dalam berpartisipasi. Oleh karena itu, penting bagi pengepul untuk selalu
menepati cara pembayaran yang telah disepakati sebagai bagian dari komitmen
mereka terhadap nelayan.
Nelayan tidak setuju tentang kontrak kerja, karena kondisi di lapang menunjukkan
bahwa nelayan dan pengepul tidak memiliki kontrak kerja tertulis namun hanya
berupa kontrak sosial yang sangat kuat di lingkungan mereka. Sehingga, adanya
97
ikatan kontrak kerja tidak mempengaruhi kesediaan nelayan untuk berpartisipasi
dalam rantai pasok ikan hias laut non sianida di Kepulauan Seribu.
Tabel 18. Respon untuk Variabel Komitmen
N Parameter
Prosentase nelayan yang merespon (%)
o
Nelayan bersedia
1 Nelayan selalu mensuplai
ikan hias sesuai order
2 Nelayan selalu menjaga
kualitas hasil tangkapannya
yang dijual pada pengepul
3 Pengepul selalu menepati
cara pembayaran yang
disepakati
4 Nelayan dan pengepul
terikat kontrak kerja
Nelayan tidak bersedia
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
3
74
11
0
0
0
11
3
0
0
11
68
3
5
0
0
13
0
0
0
3
66
8
11
0
0
3
8
3
0
0
3
16
66
3
0
0
5
8
0
(3) Norma-norma kerjasama (cooperative norms)
Dalam hal norma kerjasama ini, nelayan yang bersedia maupun tidak
memiliki niat baik mereka untuk tidak menjual ikan yang kondisinya cacat pada
pengepul. Namun yang menarik disini adalah bahwa nelayan yang bersedia
berpartisipasi setuju bahwa mereka hanya akna menjual ikan hiasnya kepada
pengepul yang memberikan mereka modal berupa jaring dan bensin.
Tabel 19. Respon untuk Variabel Norma-norma Kerjasama
N Parameter
Prosentase nelayan yang merespon (%)
o
1 Nelayan tidak akan menjual
ikan hias yang kondisinya
cacat kepada pengepul
2 Nelayan hanya menjual ikan
hias kepada pengepul yang
memberinya modal
(jaring/bensin)
Nelayan bersedia
Nelayan tidak bersedia
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
3
66
0
16
3
0
11
0
3
0
0
63
8
16
0
0
5
0
8
0
Misalnya, ketika nelayan diberi modal awal berupa jaring dan bensin oleh
pengepul satu, maka hanya padanyalah dia akan menjual ikan tersebut, tidak pada
pengepul yang lain. Apabila terjadi tindakan oportunis, yaitu si nelayan menjual
ikannya pada pengepul lain dengan alasan harga di pengepul lain lebih tinggi,
maka si nelayan tersebut bisa di black list oleh pengepul tersebut dan hubungan
mereka bisa terputus dengan sendirinya.
98
Beberapa nelayan yang tidak menjual ikan pada pengepul tertentu adalah
nelayan lepas atau nelayan yang mangkir. Hal ini sesuai dengan respon nelayan
pada data nelayan yang tidak bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok. Dari
respon ini dapat disimpulkan bahwa nelayan yang masih bersedia berpartisipasi
dalam rantai pasok adalah mereka yang masih memegang teguh norma dalam
penjualan ikan pada pemberi modal, sebaliknya, nelayan yang tidak bersedia
berpartisipasi tidak setuju untuk menjual ikannya hanya pada pemberi modal.
(4) Kesalingtergantungan (interdependence)
Dari data dapat diketahui bahwa sebagian besar pengepul mengandalkan
nelayannya untuk memenuhi ordernya, dan apabila nelayan tidak mensuplai
pengepul, maka pengepul akan terhambat aktivitasnya dalam memenuhi order
perusahaan. Namun pada kenyataannya, pengepul dapat membeli ikan pada
nelayan lain atau dapat membeli ikan dari sesama pengepul apabila mereka
mengalami masalah pemenuhan order pada perusahaan. Baik nelayan yang
bersedia maupun yang tidak bersedia menyatakan tidak setuju bahwa pengepul
adalah satu-satunya pihak pemberi modal, karena pada kenyataannya, bukan
mereka bisa mendapatkan modal dari pihak lain. Variabel kesalingtergantungan
tidak dapat digunakan sebagai alat ukur untuk menentukan kesediaan nelayan.
Tabel 20. Respon untuk Variabel Kesalingtergantungan
N Parameter
Prosentase nelayan yang merespon (%)
o
1 Pengepul mengandalkan
nelayannya sebagai
pemasok ikan hias untuk
memenuhi order perusahaan
2 Apabila nelayan tidak
melakukan penangkapan
maka pengepul akan merasa
terhambat proses
pengumpulannya
3 Pengepul adalah satusatunya pihak yang bisa
memberikan pinjaman
modal usaha (jaring/bensin)
kepada nelayan
4 Nelayan hanya bisa menjual
hasil tangkapan ikan
hiasnya kepada pengepul
tertentu
Nelayan bersedia
Nelayan tidak bersedia
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
5
66
5
11
0
0
11
0
3
0
3
71
3
11
0
0
8
5
0
0
0
37
11
39
0
0
5
0
8
0
0
55
5
26
0
0
5
5
3
0
99
(5) Kesesuaian (compatibility)
Kesesuaian diartikan sebagai dua atau lebih individu atau organisasi yang
memiliki goal dan tujuan komplemen, sebagaimana kesamaan dalam filosofi
operasi dan budaya perusahaan (Bucklin and Sengupta, 1993). Mayoritas nelayan
setuju bahwa ada kesesuaian dalam rantai pasok ikan hias mereka. Tidak ada
masalah dalam hal kesesuaian karena nelayan, pengepul, dan perusahaan dirasa
telah memiliki kesesuaian dalam hal menangkap dengan ramah lingkungan,
mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan keuntungan bersama. Tentang
kesesuaian antara jenis ikan yang di order oleh eksportir dan keberadaan ikan di
Kepulauan Seribu tidak di respon dengan jelas oleh nelayan. Sehingga dalam hal
ini kesesuaian dalam melakukan penangkapan ramah lingkungan, menghemat
biaya operasional penangkapan, dan peningkatan keuntungan belum dapat
digunakan untuk menjelaskan tentang perbedanaan antara nelayan yang bersedia
dan tidak bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok ikan hias.
Tabel 21. Respon untuk Variabel Kesesuaian
N Parameter
Prosentase nelayan yang merespon (%)
o
1 Nelayan menangkap ikan
hias tanpa menggunakan
sianida/ potassium
2 Eksportir hanya menerima
ikan dari pengepul yang
ditangkap tanpa
menggunakan sianida/
potassium
3 Nelayan dan pengepul
berusaha untuk menghemat
biaya penangkapan ikan
4 Nelayan, pengepul, dan
eksportir sama-sama
berusaha untuk menghemat
biaya penangkapan ikan
5 Nelayan dan pengepul
sama-sama berusaha untuk
meningkatkan keuntungan
6 Nelayan dan pengepul, dan
eksportir sama-sama
berusaha untuk
meningkatkan keuntungan
7 Ikan hias yang diorder oleh
eksportir sesuai dengan
keberadaan ikan hias yang
tersedia di Kep. Seribu
Nelayan bersedia
Nelayan tidak bersedia
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
5
79
3
0
0
0
11
0
3
0
3
61
21
3
0
0
8
3
3
0
18
58
3
8
0
3
11
0
0
0
21
47
18
0
0
0
11
0
3
0
34
47
3
3
0
0
13
0
0
0
13
61
13
0
0
3
11
0
0
0
0
37
42
8
0
0
3
8
3
0
100
(6) Hubungan tambahan di luar hubungan profesi (extendness relationship)
Dari parameter yang digunakan, dapat diketahui bahwa sebagian besar
nelayan bisa menjual ikannya pada pengepul lain jika order pengepul utamanya
sudah terpenuhi. Hal ini yang dimaksud oleh Mentzer (2004) sebagai hubungan
open ended, dimana hubungan harusnya dibina dengan fleksibilitas yang tidak
merugikan satu sama lain. Hubungan antara nelayan dan pengepul sebagian besar
terjalin karena pertemanan/ persaudaraan, namun selebihnya bukan, atau raguragu. Sedangkan pemberian THR oleh pengepul dirasakan hampir oleh semua
nelayan, baik yang bersedia maupun yang tidak bersedia berpartisipasi. Hal ini
berarti bahwa variabel hubungan tambahan juga belum dapat menjelaskan tentang
kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias
laut di Kepulauan Seribu.
Tabel 22. Respon untuk Variabel Hubungan Tambahan
N Parameter
Prosentase nelayan yang merespon (%)
o
Nelayan bersedia
1 Nelayan bisa menjual
ikannya pada pengepul lain
jika order pengepul
utamanya sudah terpenuhi
2 Sesama nelayan bisa saling
bertukar informasi
mengenai harga beli ikan
hias
3 Hubungan keseharian
nelayan dengan pengepul
adalah hubungan
pertemanan/ persaudaraan
4 Pengepul memberikan THR
kepada nelayan
Nelayan tidak bersedia
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
3
55
8
21
0
0
8
3
3
0
0
82
0
5
0
0
8
0
5
0
3
55
21
8
0
0
5
5
3
0
3
76
0
8
0
0
13
0
0
0
(7) Persepsi manajemen akan ketidakpastian lingkungan (environment uncertainty)
Pada parameter untuk mengukur jaminan kepastian pada Tabel 23 di
bawah ini, jawaban nelayan sangat beragam. Tidak semua nelayan selalu
mendapatkan terusan order dari eksportir. Hal ini direspon sama antara nelayan yang
bersedia maupun yang tidak. Tentang pinjaman yang bisa diberikan oleh pengepul
untuk keperluan sehari-hari pada nelayan saat order sedang sepi cenderung
101
direspon positif. Ada satu parameter yang digunakan dalam penelitian ini yang
mungkin bukan merupakan jaminan kepastian dari pihak luar, namun sekedar
Tabel 23. Respon untuk Variabel Jaminan Kepastian
N Parameter
Prosentase nelayan yang merespon (%)
o
Nelayan bersedia
1 Nelayan akan selalu
mendapatkan terusan order
dari eksportir
2 Pengepul bisa memberi
pinjaman untuk keperluan
sehari-hari pada nelayan
saat order sedang sepi.
3 Pengepul dan nelayan
memiliki pekerjaan
sampingan selain
menangkap dan
mengumpulkan ikan hias
Nelayan tidak bersedia
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
0
37
3
47
0
0
3
3
8
0
3
37
13
34
0
3
3
5
3
0
0
74
11
3
0
0
8
5
0
0
merupakan sistematika bertahan hidup, yaitu tentang pekerjaan sampingan.
Sebagian besar nelayan memiliki pekerjaaan sampingan selain menangkap dan
mengumpulkan ikan hias untuk berjaga-jaga dari ketidakpastian lingkungan yang
mereka hadapi. Hal ini berarti bahwa variabel jaminan kepastian tidak dapat
dijadikan ukuran dalam menentukan kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam
manajemen rantai pasok ikan hias laut di Kepulauan Seribu.
Secara
umum,
respon
nelayan
yang
menyatakan
tidak
bersedia
berpartisipasi di atas mayoritas sama dengan respon secara nelayan yang
menyatakan bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok. Namun ada beberapa poin
yang dapat dijadikan sebagai ukuran kesediaan nelayan, antara lain pengaruh
perubahan harga di tingkat pengepul, komitmen pengepul dalam menepati
pembayaran, dan norma dalam menjual ikan kepada pemberi modal.
5.3. Strategi Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di Kepulauan
Seribu
5.3.1. Penyusunan Hierarki
Pada tahap pertama penyususunan hierarki ini, penulis membuat draft
skema manajemen rantai pasok yang efektif. Draft ini disusun oleh penulis
melalui diskusi dengan pembimbing dan melalui literatur yang dipelajari oleh
peneliti dan dilakukan di lingkungan kampus.
102
Proses pada tahap kedua adalah menjaring pendapat resonden sebagai ahli
melalui review draft yang telah disediakan, kemudian meminta pendapat mereka
untuk
menambahkan
variabel
yang
mempengaruhi
sistem,
dan
juga
mengurangkan variabel yang sebenarnya tidak memiliki pengaruh apapun pada
sistem. Dalam proses ini, penulis berusaha untuk mempertemukan antara teori dan
diskusi level kampus dengan praktek dan implementasi yang sebenarnya di lapang
Gambar 22. Skema Analysis Hierarchy Process untuk Manajemen Rantai
Pasok yang Adil dan Lestari
yang dialami oleh responden. Pada tahap ini didapatkan banyak sekali masukan,
sehingga skema yang ada menjadi sangat luas dan hampir mampu memotret
keseluruhan sistem yang ada. Susunan hierarki awal pada skema AHP ini dapat
dilihat pada Lampiran 7.
Pada tahap ketiga dilakukan resizing dan focusing dari susunan hierarki
awal sebuah sistem manajemen rantai pasok yang telah didapat menjadi suatu
skema hierarki yang memiliki goal dan tujuan yang spesifik dan tajam. Skema
hierarki yang dimaksud dapat dilihat pada gambar di atas.
Definisi Operasional
Goal : Menciptakan manajemen rantai pasok yang adil dan lestari.
103
Faktor :
a) trust dan komitmen
Kepercayaan dan komitmen kepada rekan bisnis sangat diperlukan,
sebagaimana terlihat pada hasil analisa kesediaan nelayan yang
menjadikan komitmen sebagai faktor yang berpengaruh untuk kesediaan
mereka berpartisipasi dalam rantai pasok. Komitmen dalam hal ini
termasuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan bagi rekan kerja, dan
bersedia untuk menerima resiko dari komitmen yang telah dibuat.
b) norma-norma kerjasama
Norma-norma kerjasama mencakup rasa saling ketergantungan, membina
hubungan baik di samping hubungan profesi, memberikan jaminan
kepastian kepada rekan bisnis, menghargai sejarah hubungan bisnis di
masa lalu, dan menjaga kompatibilitas/ kesesuaian antara tujuan masingmasing pihak yang bekerjasama.
c) kebijakan pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam hal ini termasuk program pengurangan
kemiskinan, peningkatan kesejahteraan nelayan, kebijakan dalam hal
perdagangan, dan perlindungan terhadap sumber daya alam.
d) kepedulian terhadap lingkungan
Dalam mencapai suatu manajemen rantai pasok yang adil dan lestari,
semua pihak yang terlibat harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan,
salah satunya di tingkat nelayan, dengan menggunakan alat tangkap yang
ramah lingkungan. Sedangkan di tingkat pengepul dan perusahaan, dengan
mendorong nelayannya untuk tidak
menggunakan sianida dalam
melakukan penangkapan ikan hias.
Aktor :
a) Nelayan
Nelayan adalah nelayan ikan hias tangkap di Kepulauan Seribu, baik yang
menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan utama maupun sampingan.
Nelayan yang dimaksud melakukan aktivitas menangkap ikan hias selama
2-8 jam sehari selama 3-6 hari per minggu.
104
b) Pengepul
Pengepul yang dimaksud di sini adalah perantara (midddlemen) di
Kepulauan Seribu, baik yang merupakan kepanjangan tangan dari
perusahaan, ataupun pemilik modal lepas yang berbisnis dalam bidang
pengepulan ikan hias.
c) Perusahaan
Perusahaan yang dimaksud meliputi perusahaan lokal, perusahaan
eksportir, perusahaan importir, wholesaller, maupun retail, yaitu pemilik
modal dan pelaku usaha perdagangan ikan hias yang terlibat dalam rantai
perdagangan ikan hias.
d) Pihak luar
Pihak luar yang dimaksud adalah pihak-pihak yang secara profesional
tidak berada di dalam rantai perdaganagan ikan hias secara langsung,
namun memiliki peran dalam memberikan dukungan dan dorongan
menuju sebuah perubahan yang diinginkan oleh semua pihak. Pihak luar
disini antara lain pemerintah yang diwakili oleh suku dinas kelautan dan
pertanian kabupaten administrasi kepualuan seribu, LSM yang diwakili
oleh pihak Yayasan Terumbu Karang Indonesia dan badan sertifikasi
MAC (Marine Aquarium Council).
Tujuan :
a) peningkatan kesejahteraan nelayan
Nelayan menginginkan hidupnya sejahtera, dengan meningkatnya nilai
ikan hias hasil tangkapan mereka.
b) keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul
Akses terhadap modal termasuk jaring tangkap bagi nelayan dan fasilitas
penampungan ikan bagi pengepul masih kurang. Nelayan dan pengepul
harus dibantu dalam hal sarana dan prasarana agar usaha mereka terus
berlanjut.
c) peningkatan nilai produk
Peningkatan nilai produk termasuk peningkatan kualitas ikan hias dan
variabel pendampingnya, antara lain keragaman jenis, kelincahan,
105
ketahanan hidup (survival rate), kelimpahan, dan ketepatan waktu
pengiriman.
d) kelestarian sumberdaya alam
Menjaga kelestarian sumberdaya alam menjadi salah satu tujuan dalam
bisnis ikan hias air laut ini, termasuk menjaga tempat hidupnya, yaitu
terumbu karang. Upaya konservasi terumbu karang dengan transplantasi,
selain dapat menjaga kelestarian lingkungan laut, juga dapat digunakan
sebagai komoditi baru, yaitu terumbu karang budidaya yang pasar
ekspornya komplemen dengan ikan hias laut.
Skenario :
a) transparansi kerjasama antar pihak
Transparansi kerjasama yang dimaksud dalam hal ini adalah menciptakan
transparansi dalam sebuah kesepakatan jangka panjang antar pihak,
termasuk membangun forum komunikasi bersama, sehingga semua pihak
dapat mengetahui keadaan pasar, aturan yang ada, dan yang terpenting
adalah mendorong kejujuran antar pihak yang bekerjasama, misalkan
kerjasama antara perusahaan dengan pengepul dan nelayan.
b) fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
Pihak luar (LSM dan Pemerintah) memiliki kapasitas untuk melakukan
fasilitasi kepada pengepul dan nelayan untuk meningkatkan kapasitas
SDM mereka, termasuk bagaimana mengatur manajemen bisnis dan usaha
yang sederhana, dan kedepannya adalah upaya pembentukan organisasi
rantai pasok yang solid.
c) pengembangan akses informasi dan teknologi
Pengembangan akses informasi meliputi informasi pasar maupun harga,
sehingga nelayan dan pengepul dapat mengetahui situasi pasar yang
sedang dihadapi oleh perusahaan, agar semua pihak bisa saling mengerti
dan
memahami.
Pengembangan
teknologi
dimaksudkan
untuk
mengembangkan penyampaian inovasi teknologi budidaya ikan hias laut
yang merupakan satu jalan yang diidamkan oleh semua pihak untuk tujuan
bersama. Selain dapat meningkatkan nilai produk, budidaya juga dapat
mengurangi tekanan terhadap pengambilan sumberdaya alam.
106
d) intervensi pemerintah terhadap kebijakan
Intervensi pemerintah sangat diperlukan, terutama untuk penyediaan
sarana dan prasarana, penurunan biaya ekspor, dan kebijakan perdagangan
internasional, termasuk aturan tentang kuota, tarif bea keluar, aturan
karantina, L/C, dan sebagainya.
5.3.2. Penentuan Kriteria dan Pembobotan
Pembobotan dalam penelitian ini didapatkan dari pengisian kuesioner yang
dapat dilihat pada Lampiran 9. Dari pembobotan yang dilakukan oleh responden,
ada beberapa responden yang indeks konsistensinya melebihi CI standar yaitu 0,1.
Dengan menggunakan software expert choice 2000, inconsistency ratio dapat
langsung terlihat pada kotak pengisian kuesioner yang tersedia.
Pengujian IR ini dilakukan 2 kali, yaitu dengan jawaban responden yang
pertama, dihasilkan IR sebagai berikut:
Tabel 24. Inconsistency Ratio Tahap Pertama
No
Nama
1.
CV. Cahaya Baru
2.
3.
CV. Blue Star Aquatic
PT. Dinar Darum
Lestari
Dosen Manajemen
Strategis IPB
Suku Dinas Kelautan
Kab. Adm. Kep. Seribu
Yayasan TERANGI
4.
5.
6.
Level-1
0,00
Inconsistency Ratio
Level-2
Level-3
0,07
0,33
Level-4
0,13
0,69
0,50
0,00
0,42
0,13
2,18
0,49
0,50
0,57
0,14
0,23
0,23
0,12
0,19
0,19
0,19
0,01
0,11
0,00
0,04
Dari inconsistency ratio yang didapatkan, pada responden dengan nilai IR
> 0,1 dilakukan revisi pada jawaban responden oleh penulis berdasarkan jawaban
pertama, kemudian penulis melakukan konfirmasi ulang jawaban kepada
responden sesuai dengan standard IR < 0,1. Dan hasil akhir dari IR adalah sebagai
berikut:
107
Tabel 25. Inconsistency Ratio Tahap Kedua
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Nama
CV. Cahaya Baru
CV. Blue Star Aquatic
PT. Dinar Darum
Lestari
Dosen Manajemen
Strategis IPB
Suku Dinas Kelautan
Kab. Adm. Kep. Seribu
Yayasan TERANGI
Level-1
0,00
0,08
0,09
Inconcistency Ratio
Level-2
Level-3
0,07
0,00
0,00
0,07
0,09
0,09
Level-4
0,09
0,07
0,07
0,08
0,09
0,08
0,09
0,08
0,07
0,08
0,06
0,01
0,08
0,00
0,04
Setelah pembobotan semua responden direvisi sesuai dengan standar IR < 0,1,
maka dapat dilanjutkan pada proses selanjutnya, yaitu pengolahan vertikal.
Hasil yang didapat dari proses pembobotan secara proporsional oleh para
ahli yang terdiri dari pihak perusahaan, pihak akademisi, pihak pemerintah, dan
pihak LSM dapat dilihat pada Gambar 23.
Menciptakan Manajemen Rantai pasok
Ikan Hias Laut yang Adil dan Lestari
(100%)
GOAL
FAKTOR
trust dan
komitmen
(29,8 %)
norma2
kerjasama
(35,4 %)
kebijakan
pemerintah
(13,4 %)
kepedulian thd
lingkungan
(21,4 %)
AKTOR
Nelayan
(50,9 %)
Pengepul
(16,5 %)
Perusahaan
(18,8 %)
pihak luar
(13,9 %)
TUJUAN
SKENARIO
Penigkatan
kesejahteraan nelayan
(23,2 %)
transparansi
kerjasama
antar pihak
(17,9 %)
keberlanjutan usaha
nelayan dan pengepul
(23,2 %)
fasilitasi
peningkatan
kapasitas SDM
(20,3 %)
peningkatan nilai
produk
(28,6 %)
pengembangan
akses infornasi
dan teknologi
(49,3 %)
kelestarian sumber
daya alam
(25,1 %)
intervensi
pemerintah
terhadap
kebijakan
(12,5 %)
Gambar 23. Hasil Pembobotan Pemilihan Strategi dalam Menciptakan
Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Laut yang Adil dan Lestari
108
Dari hasil yang terlihat pada gambar di atas akan dibahas satu-persatu untuk
dianalisa secara horisontal maupun vertikal. Dengan menggunakan bantuan
gambar grafik sensitivitas dari software expert choice 2000, proporsi masingmasing level terhadap skenario dan heirarki puncak (goal) dapat dibahas satupersatu di bawah ini, sedangkan untuk hasil yang di ekspresikan dengan grafik
sensitivitas pendapat dari masing-masing ahli dapat dilihat pada Lampiran 10.
5.3.3. Interpretasi Masing-masing Kriteria
1. Peranan Faktor dan Proporsinya dalam Skenario
Pada AHP telah di setting sebuah Goal, yaitu menciptakan manajemen
rantai pasok ikan hias laut yang adil dan lestari. Dalam mencapai hal tersebut,
didapatkan prioritas skenario yang akan dilakukan untuk mencapainya, yaitu
skenario pertama adalah pengembangan akses informasi dan teknologi (49,3%),
yang artinya bahwa hampir dari setengah dari goal dapat dicapai dengan
menjalankan skenario ini. Kemudian menyusul skenario yang kedua adalah
fasilitasi peningkatan SDM dengan nilai 20,3%, transparansi kerjasama antar
pihak 17,9%, dan dengan dorongan 12,5% intervensi dari pemerintah, maka goal
akan dapat tercapai 100%.
29,8% trust dan komitmen (L: 0,298)
17,9% transparansi kerjasama antar pihak
35,4% norma2 kerjasama (L: 0,354)
20,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
13,4% kebijakan pemerintah (L: 0,134)
49,3% pengembangan akses informasi dan teknologi
21,4% kepedulian thd lingkungan (L: 0,214)
12,5% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
Gambar 24. Grafik Sensitivitas terhadap Faktor dalam Mencapai Goal
Beberapa faktor yang akan mendukung skenario tersebut antara lain yang
terpenting adalah norma-norma kerjasama (35,4%), trust dan komitmen (29,8%),
kepedulian terhadap lingkungan (21,4%), dan kebijakan pemerintah (13,4%). Hal
ini berarti bahwa, menurut para ahli, norma-norma kerjasama menjadi prioritas
109
.5
utama dalam menciptakan suatu manajemen rantai pasok yang adil dan lestari,
namun tetap dikombinasikan dengan faktor yang lain.
a) Norma-norma Kerjasama (35,4 %)
Hal ini sesuai juga dengan hasil yang didapatkan pada analisa
sebelumnya, bahwa norma-norma kerjasama merupakan hal yang penting
yang dapat mempengaruhi kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam
manajemen rantai pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu. Normanorma kerjasama mencakup rasa saling ketergantungan antara mitra,
membina hubungan baik di samping hubungan profesi, memberikan persepsi
yang baik akan ketidakpastian lingkungan bisnis dengan memberikan jaminan
kepastian kepada rekan bisnis, menghargai sejarah hubungan bisnis di masa
lalu, dan menjaga kompatibilitas/ kesesuaian antara tujuan masing-masing
pihak yang bekerjasama.
b) Trust dan komitmen (29,8 %)
Kepercayaan dan komitmen kepada rekan bisnis sangat diperlukan,
sebagaimana terlihat pada hasil analisa kesediaan nelayan yang menjadikan
komitmen sebagai faktor yang berpengaruh untuk kesediaan mereka
berpartisipasi dalam rantai pasok. Komitmen dalam hal ini adalah tidak
melakukan hal-hal yang merugikan bagi rekan kerja, dan bersedia untuk
menerima resiko dari komitmen yang telah dibuat.
c) Kepedulian terhadap lingkungan (21,4 %)
Untuk mencapai suatu manajemen rantai pasok yang adil dan lestari,
semua pihak yang terlibat harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan,
salah satunya di tingkat nelayan, dengan menggunakan alat tangkap yang
ramah lingkungan. Sedangkan di tingkat pengepul dan perusahaan, dengan
mendorong nelayannya untuk tidak menggunakan sianida dalam melakukan
penangkapan ikan hias.
Kepedulian terhadap lingkungan ini tercermian dari iktikad baik rantai
pasok ikan hias di Kepulauan Seribu untuk mendapatkan sertifikasi ikan hias
ramah lingkungan, yaitu MAC certified yang terintegrasi dari mulai lokasi
penangkapan, cara penanganan, sampai cara pengiriman, dan aktor dari
110
nelayan, pengepul, hingga ke perusahaan. Untuk mencapai hal ini, bantuan
dari pemerintah maupun LSM sangat diperlukan.
d) Kebijakan pemerintah (13,4 %)
Kebijakan pemerintah dinilai sangat kecil pengaruhnya dalam mencapai
goal. Kecilnya nilai pada kebijakan pemerintah ini dimungkinkan memang
para pihak kurang merasakan peranan pemerintah dalam mencapai suatu
rantai pasok ikan hias yang adil dan lestari. Padahal, banyak pihak yang
berharap kepada pemerintah untuk lebih berperan aktif dalam memberikan
kebijakan-kebijakan yang mengarah pada sutau perdagangan yang adil dan
lestari. Kebijakan yang sering di programkan oleh Pemerintah antara lain
program pengurangan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan nelayan,
kebijakan dalam hal perdagangan, dan perlindungan terhadap sumber daya
alam.
2. Peranan Aktor dan Proporsinya dalam Skenario
Pada gambar di bawah ini, dapat diketahui bahwa dengan prioritas
skenario yang sama, yaitu dengan memprioritaskan pengembangan akses
informasi dan teknologi, nelayan memiliki peran yang sangat penting, terlihat dari
prosentasenya 50,9%, jauh lebih tinggi dari pada aktor yang lain, yaitu perusahaan
(18,8%), pengepul (16,5%), dan pihak luar (13,9%). Namun demikian, sekecil
apapun prosentase peranannya, semua pihak harus bekerjasama untuk mencapai
goal yang diinginkan bersama.
0
50,9% nelayan (L: 0,509)
17,9% transparansi kerjasama antar pihak
16,5% pengepul (L: 0,165)
20,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
18,8% perusahaan (L: 0,188)
49,3% pengembangan akses informasi dan teknologi
13,9% pihak luar (L: 0,139)
12,5% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
Gambar 25. Grafik Sensitivitas terhadap Aktor dalam Mencapai Goal
111
.5
e) Nelayan (50,9 %)
Nelayan sebagai ujung tombak rantai pasok ikan hias laut ini, diharapkan
dapat terlibat aktif atau dalam pelatihan dan pengembangan akses informasi
dan teknologi, baik itu yang dilakukan oleh pemerintah, LSM, bahkan
perusahaan dengan kepentingannya pribadi, sehingga nelayan mengetahui
produk yang seperti apa yang diinginkan pasar, sekaligus mengetahui situasi
pasar, bahkan hingga harga jual di pasar. Diharapkan dengan demikian,
nelayan akan memiliki posisi tawar yang lebih baik.
f) Perusahaan (18,8 %)
Perusahaan memiliki peran yang juga penting dalam mendorong nelayan
sebagai ujung tombak rantai pasoknya untuk menjadi lebih baik, menjadi
pemasok yang dapat memenuhi kebutuhan perusahaan dengan nilai produk
yang
berkualitas. Dengan
demikian,
sumbangsih
perusahaan
sangat
diperlukan dalam rangka mencapai rantai pasok ikan hias yang adil dan
lestari.
g) Pengepul (16,5 %)
Walaupun peran pengepul dinilai kecil, namun pengepul berjasa dalam
menjembatani antar kebutuhan ekonomi nelayan dan kebutuhan pasokan
perusahaan. Sebagai perantara (midddlemen) di Kepulauan Seribu, baik yang
merupakan kepanjangan tangan dari perusahaan, ataupun pemilik modal lepas
yang berbisnis dalam bidang pengepulan ikan hias, pengepul juga diperlukan
perannya untuk melakukan pembinaan pada karyawannya ataupun pada
nelayannya untuk bersama-sama berusaha menciptakan produk yang
berkualitas dan ramah lingkungan, sehingga kesejahteraan bersama pun dapat
tercapai.
h) Pihak luar (13,9 %)
Pihak luar adalah pihak-pihak yang secara profesional tidak berada di
dalam rantai perdaganagan ikan hias secara langsung. Walaupun perannya
dinilai kecil, namun pihak-pihak ini memiliki peran dalam memberikan
dukungan dan dorongan menuju sebuah perubahan yang diinginkan oleh
semua pihak. Pihak luar disini antara lain pemerintah yang diwakili oleh suku
dinas kelautan dan pertanian kabupaten administrasi kepualuan seribu, LSM
112
yang diwakili oleh pihak Yayasan Terumbu Karang Indonesia dan badan
sertifikasi MAC (Marine Aquarium Council).
3. Perumusan Tujuan dan Proporsinya dalam Skenario
Perumusan tujuan sangat berperan dalam menentukan skenario yang akan
diambil. Dalam hal ini, dapat dilihat secara sebaliknya, seberapa besar skenario
yang telah dibuat dapat menjawab tujuan yang diinginkan untuk mencapai goal.
Dari grafik di bawah ini dapat dilihat bahwa keempat tujuan yang telah dibuat
memiliki prosentase yang merata sama satu sama lain. Peningkatan nilai produk
28,6%, kelestarian sumberdaya alam 25,1%, keberlanjutan usaha nelayan dan
pengepul 23,2%, sama dengan peningkatan kesejahteraan nelayan 23,2%. Dengan
demikian dapat diartikan bahwa pada setiap skenario yan telah dibuat, masingmasing dapat secara proporsional menjawab tujuan yang ingin dicapai oleh semua
pihak dalam rangka mencapai manajemen rantai pasok yang adil dan lestari.
0
23,2% peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
17,9% transparansi kerjasama antar pihak
23,2% keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,232)
20,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
28,6% peningkatan nilai produk (L: 0,286)
49,3% pengembangan akses informasi dan teknologi
25,1% kelestarian sumberdaya alam (L: 0,251)
12,5% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
.5
Gambar 26. Grafik Sensitivitas terhadap Tujuan dalam Mencapai Goal
a) Peningkatan nilai produk (28,6 %)
Peningkatan nilai produk merupakan tujuan terpenting dalam manajemen
rantai pasok ikan hias non sianida ini. Peningkatan nilai produk dinilai dari
peningkatan kualitas ikan hias dan variabel pendampingnya, antara lain
keragaman jenis, kelincahan, ketahanan hidup (survival rate), kelimpahan,
dan ketepatan waktu pengiriman. Apabila perusahaan menginginkan nilai
produknya meningkat, artinya mereka harus melakukan tindakan-tindakan
yang mendorong pada meningkatnya nilai produk, antara lain. Termasuk
mendorong nelayan untuk tidak menggunakan sianida dalam penangkapan
ikan karena ikan yang ditangkap dengan menggunakan sianida akan
113
menurunkan nilai ikan hias itu sendiri. Hal lain yang biasa digunakan untuk
meningkatkan nilai produk antara lain adalah peningkatan teknologi produksi,
baik teknologi produksi di perusahaan maupun transfer teknologi penanganan
ikan hias pada nelayan dan pengepul sebagai pemasok bagi perusahaan.
Dari segi kebutuhan nelayan, peningkatan nilai produk berarti
peningkatan harga pada ikan hias hasil tangkapan nelayan. Sampai saat ini,
nelayan masih belum mendapatkan peningkatan harga yang signifikan,
padahal ikan yang dihasilkan oleh nelayan sudah memenuhi kriteria kualitas
yang diinginkan perusahaan.
b) Kelestarian sumberdaya alam (25,1 %)
Menjaga kelestarian sumberdaya alam menjadi salah satu tujuan dalam
bisnis ikan hias air laut ini, termasuk menjaga tempat hidupnya, yaitu terumbu
karang. Upaya konservasi terumbu karang dengan transplantasi, selain dapat
menjaga kelestarian lingkungan laut, juga dapat digunakan sebagai komoditi
baru, yaitu terumbu karang budidaya yang pasar ekspornya komplemen
dengan ikan hias laut.
c) Peningkatan kesejahteraan nelayan (23,2 %)
Tingkat kesejahteraan nelayan di Kepulauan Seribu dilihat dari
penghasilannya sudah lumayan baik. Dari penangkapan ikan hias saja,
mayoritas nelayan ikan hias memiliki penghasilan harian sekitar 30-40 ribu
rupiah, sehingga dalam satu bulan sekitar 1 juta rupiah, setara dengan UMR
karyawan tingkat buruh di Jakarta. Dengan penghasilan sedemikian dan
tanggungan keluarga 2-3 orang, nelayan hanya bisa memenuhi kebutuhan
pokoknya saja untuk keluarganya.
Nelayan menginginkan hidupnya sejahtera, dan dapat memenuhi
kebutuhannya lebih dari kehidupan sekarang. Mereka ingin ada peningkatan
nilai ikan hias hasil tangkapan mereka. Peningkatan kesejahteraan nelayan di
Kepulauan Seribu sedang di upayakan oleh banyak pihak, termasuk pengepul,
pengusaha, dan pihak luar, baik LSM maupun pemerintah, dalam hal ini Suku
Dinas Kelautan Kabupaten Admnistrasi Kepulauan Seribu.
114
d) Keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (23,2 %)
Untuk mempertahankan keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul, para
pihak harus turun tangan dalam membantu mereka. Akses terhadap modal
termasuk jaring tangkap bagi nelayan dan fasilitas penampungan ikan bagi
pengepul masih kurang. Nelayan dan pengepul harus dibantu dalam hal sarana
dan prasarana agar usaha mereka terus berlanjut. Hubungan ini selayaknya
adalah hubungan saling membutuhkan antara nelayan, pengepul, dan
perusahaan. Peran perusahaan dalam memberikan pinjaman modal kepada
pengepul, dan seterusnya, peran pengepul dalam meberikan pinjaman modal
pada nelayan akan menguntungkan semua pihak. Karena apabila usaha
nelayan dan pengepul berhenti, maka pasokan ikan hias perusahaan juga akan
terhambat.
4. Prioritas Skenario dalam Mencapai Goal
Dalam mencapai goal, dirumuskan beberapa skenario strategi. Prioritas
tertinggi skenario adalah pengembangan akses informasi dan teknologi (49,3 %),
sehingga fokus pada strategi yang dimaksud dinilai efektif untuk mencapai
manajemene rantai pasok ikan hias laut yang adil dan lestari. Skenario yang
selanjutnya adalah fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (20,3 %), transparansi
kerjasama antar pihak (17,9 %), dan intervensi pemerintah terhadap kebijakan
(12,5 %).
17,9% transparansi kerjasama antar pihak
20,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
49,3% pengembangan akses informasi dan teknologi
12,5% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
Gambar 27. Grafik Sensitivitas Prioritas Skenario dalam Mencapai Goal
115
a) Pengembangan akses informasi dan teknologi (49,3 %)
Pengembangan akses informasi dan teknologi menjadi prioritas strategi
dalam mencapai manajemen rantai pasok ikan hias laut yang adil dan lestari.
Akses informasi yang perlu dikembangkan dalam hal ini adalah pada tingkat
nelayan dan pengepul, diharapkan semua pihak dapat mengetahui kondisi
pasar maupun harga, sehingga nelayan dan pengepul dapat mengetahui situasi
pasar yang sedang dihadapi oleh perusahaan, agar semua pihak bisa saling
mengerti dan memahami. Tindakan kongkrit yang dapat dilakukan untuk
mengembangkan akses informasi ini antara lain dengan sering melakukan
diskusi bersama antar semua pihak. Satu hal yang menjadi pintu informasi
terpenting adalah internet. Informasi apapun dapat diakses oleh nelayan dan
pengepul melalui internet, sehingga, dengan pengetahuan ini diharapkan
nelayan dan pengepul dapat memiliki posisi tawar yang baik di dalam rantai
pasok.
Pengembangan teknologi dapat dicapai melalui transfer teknologi dari
perusahaan sampai ke level nelayan, sehingga teknologi yang terintegrasi
tersebut dapat dimanfaatkan untuk tujuan peningkatan nilai produk dan juga
akan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Sedangkan teknologi lain yang
ingin dikembangkan di masa datang adalah teknologi budidaya ikan hias laut
yang merupakan satu jalan yang diidamkan oleh semua pihak untuk tujuan
bersama. Saat ini ada sekitar 5 jenis ikan hias di Kepulauan Seribu yang dapat
di budidayakan, dan untuk selanjutnya diharapkan akan lebih banyak lagi
jenis ikan hias yang dapat dibudidayakan. Selain dapat meningkatkan nilai
produk, budidaya juga dapat mengurangi tekanan terhadap eksploitasi
sumberdaya alam.
Mengutip dari penelitian yang lalu, Bimo (2008) menyatakan bahwa
pengembangan manajemen teknologi harus sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan perusahaan, maka perusahaan harus memperhatikan komponenkomponen Teknologi (technoware), Sumberdaya manusia (humanware),
Infomasi (infoware), dan Organisasi (organoware). Dalam pengembangan
teknologi ini Bimo menyarankan untuk (1) Melakukan peningkatan SDM
yang ada dengan pendidikan dan pelatihan sehingga mampu mengikuti dan
116
mengadaptasi perkembangan teknologi dan bisnis ikan hias air laut yang ada
di pasar sesuai dengan kemampuan perusahaan dan (2) Melakukan transfer
dan adaptasi teknologi terutama pada sistem pemeliharaan dan karantina ikan
hias laut yang ada saat ini untuk menghadapi persaingan bisnis.
b) Fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (20,3 %)
Pihak luar (LSM dan Pemerintah) memiliki kapasitas yang besar untuk
melakukan fasilitasi kepada pengepul dan nelayan untuk meningkatkan
kapasitas SDM mereka, termasuk bagaimana mengatur manajemen bisnis dan
usaha yang sederhana. Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten
Administrasi Kepulauan Seribu memiliki beberapa program dalam rangka
peningkatan kapasitas SDM nelayan dan pengepul, antara lain pelatihan
penangkapan ikan, pemberdayaan masyarakat nelayan melalui pembinaan
kelompok, pelatihan selam, pelatihan budidaya, peningkatan kapasitas SDM,
transplantasi karang, dan rehabilitasi ekosistem terumbu karang di Kepulauan
Seribu. Dalam melaksanakan program tersebut, Suku Dinas dibantu oleh LSM
Yayasan
TERANGI.
Bersama
mereka
mendampingi
nelayan
untuk
meningkatkan kapasitas SDM mereka.
Di masa yang akan datang, hal yang ingin dicapai dalam rangak
menciptakan manajemen rantai pasok ikan hias yang adil dan lestari ini
adalah upaya pembentukan organisasi rantai pasok ikan hias laut yang solid.
c) Transparansi kerjasama antar pihak (17,9 %)
Dalam melakukan kerjasama, hal yang penting untuk dijadikan
pemahaman bersama adalah adanaya transparansi. Yang dimaksud dalam hal
ini adalah menciptakan transparansi dalam sebuah kesepakatan jangka
panjang antar pihak, termasuk membangun forum komunikasi bersama,
sehingga semua pihak dapat mengetahui keadaan pasar, aturan yang ada, dan
yang terpenting adalah mendorong kejujuran antar pihak yang bekerjasama,
misalkan kerjasama antara perusahaan dengan pengepul dan nelayan. Dengan
adanya transparansi, maka perdagangan yang adil akan dapat tercapai dengan
mudah.
Transparansi dalam kerjasama ini dpat diwujudkan dalam distribusi
informasi yang merata baik tentang pasar maupun harga, sehingga di tingkat
117
nelayan pun, nelayan dapat mengetahui harga ikan hias nya di tingkat
internasional sehingga dengan harga jual ikan mereka sekarang, mereka tidak
merasa dirugikan, atau kalau misalkan pun mereka dirugikan, mereka dapat
memiliki posisi tawar yang baik dengan perusahaan.
d) Intervensi pemerintah terhadap kebijakan (12,5 %)
Walaupun
perannya
dinilai kecil,
intervensi
pemerintah
sangat
diperlukan, terutama untuk penyediaan sarana dan prasarana, penurunan biaya
ekspor, dan kebijakan perdagangan internasional, termasuk aturan tentang
kuota, tarif bea keluar, aturan karantina, L/C, dan sebagainya.
Mungkin justru nilai yang kecil ini karena peran intervensi pemerintah
selama ini kurang. Keterangan dari salah seorang pengusaha mengatakan
bahwa di level pengusaha, intervensi pemerintah dirasa kurang, padahal
kebijkannya mengenai tarif karantina dan biaya ekspor untuk perdagangan
ekspor diharapkan dapat membantu perngusaha untuk memperluas usahanya,
sehingga perkembangan usaha yang ada juga dapat tersentuh sampai tingkat
nelayan.
5.4. Implikasi Manajerial
Pada dunia bisnis yang semakin kompetitif, rantai pasok harus mampu
bersaing dengan jaringan rantai pasok lain. Dalam manajemen rantai pasok,
beberapa implikasi manajerial yang dapat dipetik dengan penerapan skenario
pengembangan akses informasi dan teknologi sesuai dengan prioritas strategi
yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, tercermin pada tiga peran, yaitu peran
penelitian dan pengembangan, peran produksi, dan peran sistem informasi dalam
manajemen rantai pasok, sesuai dengan apa yang dirumuskan oleh Zacharia
(2000) dalam Mentzer (2004) sebagai berikut:
1. Peran Penelitian dan Pengembangan dalam Manajemen Rantai pasok
a) Aktivitas rantai pasok memiliki dampak yang besar pada kapabilitas dan
profitabilitas rantai pasok dan anggota rantai pasok dalam pengembangan
produk baru.
b) Pengembangan produk baru yang inovatif dan efektif adalah hal yang
penting dalam lingkungan bisnis dengan turbulensi dan ketidakpastian
yang tinggi di masa depan.
118
c) Berkolaborasi dengan pelanggan penghubung dan pemasok penghubung,
penelitian dan pengembangan dapat secara signifikan memperbaiki proses
pengembangan produk baru.
d) Berkolaborasi dengan pelanggannya pelanggan dan pemasoknya pemasok
sepanjang rantai pasok, penelitian dan pengembangan dapat memperbaiki
proses pengembangan produk baru.
e) Kecepatan pasar atau menekan waktu siklus untuk mengembangkan
produk baru dapat diperbaiki secara signifikan melalui pelibatan penelitian
dan pengembangan rantai pasok.
2. Peran Produksi dalam Manajemen Rantai Pasok
a) Produk fungsional pada pasar yang stabil memerlukan sistem produksi
rantai pasok yang fokus pada pengurangan biaya volume dan dan
peningkatan efisiensi produk.
b) Produk yang berinovasi tinggi pada lingkungan yang tidak pasti, berubah
secara konstan, memerlukan suatu sistem produksi rantai pasok yang fokus
pada fleksibilitas dan kecepatan pada pasar.
c) Bauran produksi merupakan suatu sistem produksi rantai pasok yang
memiliki nilai luar biasa dalam pasar global yang kompetitif yang
memfokuskan pada efisiensi biaya.
d) Membangun satu sistem produksi rantai pasok merupakan hal sangat
berguna untuk dapat melakukan order produksi ataupun menundanya
dalam satu sistem pasar dengan kebutuhan customer yang berubah-ubah
dengan sangat cepat dan siklus produk yang semakin pendek. Dalam hal
ini kemitraan dengan nelayan dan pengepul sebagai pemasok sangat
diperlukan.
3. Peran Sistem Informasi dalam Manajemen Rantai Pasok
a) Selama lingkungan bisnis tetap berlanjut untuk memunculkan respon yang
lebih bervariasi dan lebih cepat pada suatu sistem pasar yang dipengaruhi
oleh pelanggan, maka sistem informasi yang lebih baik dan lebih efektif
perlu dikembangkan.
b) Salah satu cara terbaik untuk melayani permintaan pasar adalah dengan
mengembangkan sistem informasi intra rantai pasok yang efektif.
119
c) Sistem informasi intra rantai pasok seperti sistem perencanaan sumberdaya
rantai pasok merupakan prasyarat yang penting untuk memperbaiki aliran
informasi antar rantai pasok. Oleh karena itu, distribusi informasi harus
merata dalam rantai pasok mulai dari perusahaan hingga tingkat nelayan.
d) Manajer perlu mengetahui bahwa keuntungan dari aliran informasi yang
efektif dan efisien dapat mencegah resiko-resiko yang berhubungan
dengan pengembangan kemitraan dengan pemasok maupun pelanggan.
120
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1) Pada penelitian ini dapat diidentifikasi model rantai pasok dimana alur
distribusi komoditas dan informasi terbagi menjadi 2, yaitu untuk pasar dalam
negeri dan luar negeri. Terdapat satu upaya unik yang dilakukan oleh
kelompok nelayan dalam memotong rantai pasok pada elemen pengepul,
sehingga harga beli ikan pada nelayan dapat lebih tinggi dibandingkan harga
beli dari pengepul.
2) Secara umum, respon nelayan yang menyatakan tidak bersedia berpartisipasi
mayoritas sama dengan respon secara nelayan yang menyatakan bersedia
berpartisipasi dalam rantai pasokan. Namun ada beberapa poin yang dapat
dijadikan sebagai ukuran kesediaan nelayan, antara lain pengaruh perubahan
harga di tingkat pengepul, komitmen pengepul dalam menepati pembayaran,
dan norma dalam menjual ikan kepada pemberi modal.
3) Untuk mencapai manajemen rantai pasokan ikan hias laut yang adil dan
lestari, strategi utama yang harus dilakukan adalah pengembangan akses
informasi dan teknologi, termasuk akses informasi tentang pasar maupun
harga dan inovasi teknologi budidaya ikan hias laut, dengan mengutamakan
nelayan sebagai aktor yang perlu dilibatkan secara aktif di dalamnya.
6.2. Saran
1) Masyarakat di tingkat nelayan harus lebih mampu mengorganisir diri dan
menciptakan inovasi dalam usahanya baik dari segi diversifikasi maupun
manajemen di dalamnya, sehingga kesejahteraan nelayan dapat meningkat
dengan upaya yang mandiri.
2) Pihak lain dalam hal ini pengepul, pengusaha, dan stakeholder terkait
seharusnya berupaya untuk meningkatkan kesediaan nelayan dengan
peningkatan sarana dan prasarana yang memadai dan juga akses informasi
yang mudah diaplikasikan di tingkat nelayan.
3) Pengembangan akses informasi dapat dilakukan antara lain dengan sering
melakukan diskusi bersama antar semua pihak. Satu hal yang menjadi pintu
informasi terpenting adalah internet. Informasi apapun dapat diakses oleh
nelayan dan pengepul melalui internet, sehingga, dengan pengetahuan ini
diharapkan nelayan dan pengepul dapat memiliki posisi tawar yang baik di
dalam rantai pasokan.
4) Pengembangan teknologi dapat dicapai melalui transfer teknologi dari
perusahaan sampai ke level nelayan, sehingga teknologi yang terintegrasi
tersebut dapat dimanfaatkan untuk tujuan peningkatan nilai produk terutama
dalam hal kenaikan harga dan peningkatan volume order untuk meningkatkan
kesejahteraan nelayan.
5) Teknologi yang mungkin dikembangkan di masa datang adalah teknologi
budidaya ikan hias laut yang merupakan satu jalan yang diidamkan oleh
semua pihak untuk tujuan bersama. Selain dapat meningkatkan nilai produk,
budidaya juga dapat mengurangi tekanan terhadap eksploitasi sumberdaya
alam.
122
VII. DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Erin and James A. Narus. 1990. “A Model of Distributor Firm and
Manufacturer Firm Working Relationships,” Journal of Marketing, Vol. 54,
January, pp. 42-58.
Arsonetri. 2005. Reformasi Industri Ikan Hias di desa Les Kecamatan Tejakula
Buleleng, Bali. Laporan Kegiatan. Telapak.
Bimo, Budi Haryo. 2008. Kajian Teknologi dan Bisnis Ikan Hias Air Laut CV.
Cahaya Baru. Thesis. Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor.
Bowersox, Donald J. and David C. Closs. 1996. Logistical Management: The
Integrated Supply Chain Process, McGraw-Hill Series in Marketing, New
York: The McGraw-Hill Companies.
Bucklin, Louis P. and Sanjit Sengupta. 1993. “Organizing Successful CoMarketing Alliances,” Journal of Marketing, Vol. 57, April, pp. 32-46.
Burke, L., L. Selig, M. Spalding. 2002. Reef at Risk in Southeast Asia. World
Resources Institute. Washington DC.
Christopher, Martin L. 1992. Logistics and Supply Chain Management, London:
Pitman Publishing.
Cooper, Martha C. and Lisa M. Ellram. 1993. “Characteristics of Supply Chain
Management and the Implication for Purchasing and Logistics Strategy,”
The International Journal of Logistics Management,Vol. 4, No. 2, pp. 1324.
Davenport, Thomas H. 1993. Process Innovation, Reengineering Work through
Information Technology, Boston, MA: Harvard Business School Press.
Dinas Peternakan, Perikanan Dan Kelautan Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, 2008. Laporan Monitoring dan Evaluasi Program Sertifikasi Ikan
Hias dan BiotaTerumbu Karang di Kepulauan Seribu. Jakarta.
Dwi,
2008. Ekspor Ikan Hias Hidup Bali
US$ 221,474.86.
http://www.bisnisbali.com/2008/05/07/news/agrohobi/ekps.html.
Dwyer, F. Robert, Paul H. Schurr, and Sejo Oh. 1987. “Developing Buyer-Seller
Relationships,” Journal of Marketing, Vol. 51, April, pp. 11-27.
Ellram, Lisa M. and Martha C. Cooper. 1990. “Supply Chain Management,
Partnerships, and the Shipper-Third-Party Relationship,” The International
Journal of Logistics Management, Vol. 1, No. 2, pp. 1-10.
Gundlach, Gregory T., Ravi S. Achrol, and John T. Mentzer. 1995. “The Structure
of Commitment in Exchange,” Journal of Marketing, Vol. 59, January, pp.
78-92.
Heide, Jan B. and George John. 1990. “Alliances in Industrial Purchasing: The
Determinants of Joint Action in Buyer - Supplier Relationships,” Journal of
Marketing Research,Vol. 27, Winter, pp. 24-36.
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=84
27&Itemid=696. DKP dan LIPI Kembangkan Ikan Hias. Ditulis oleh Dr.
Soen’an H. Poernomo, M.Ed. Diunduh pada 30 Agustus 2009.
Jones, Thomas and Daniel W. Riley. 1985. “Using Inventory for Competitive
Advantage through Supply Chain Management,” International Journal of
Physical Distribution and Materials Management,Vol. 15, No. 5, pp. 16-26.
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. 2005. Buku Saku Kabupaten
Kepulauan Seribu. Badan Perencanaan Kabupaten (BAPEKAB) Kepulauan
Seribu, Jakarta: 64 hlm.
Kottler, Philip and G. Armstrong. 2006. Principles of Marketing – Tenth Edition,
International Edition. Pearson Prentice Hall. New Jersey.
Kotler, Philip and K.L. Keller. 2007. Manajemen Pemasaran – Edisi 12. Indeks,
Jakarta.
Kotter, J. P. 1990. AForce for Change: How Leadership Differs from
Management, New York, NY: Free Press.
La Londe, Bernard J. and James M. Masters. 1994. “Emerging Logistics
Strategies: Blueprints for the Next Century,” International Journal of
Physical Distribution and Logistics Management, Vol. 24, No. 7, pp. 35-47.
Lambert, Douglas M., James R. Stock, and Lisa M. Ellram. 1998. Fundamentals
of Logistics Management, Boston, MA: Irwin/McGraw-Hill, Chapter 14.
Marimin, 2008. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk.
PT. Grasindo, Jakarta.
Mentzer, John T., William De Witt, James S. Keebler, Soonhong Min, Nancy W.
Nix, Carlo D. Smith, and Zach G. Zacharia 2001 .. “Defining Supply Chain
Management”, Journal of Business Logistics, Vol. 22, No. 2.
Mentzer, John T.,2004. Fundamentals of Supply Chain Management – Twelve
Drivers of Competitive Advantage. Sage Publilcation. London.
Monczka, Robert, Robert Trent, and Robert Handfield 1998. Purchasing and
Supply Chain Management, Cincinnati, OH: South-Western College
Publishing, Chapter 8.
124
Nazir, M. 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Novack, Robert A., C. John Langley, Jr., and Lloyd M. Rinehart. 1995. Creating
Logistics Value, Oak Brook, IL: Council of Logistics Management.
Numberi, F. 2009. Evolusi Pembangunan Kelautan dan Perikanan Indonesia.
Disampaikan pada Seminar Nasional Evolusi Kelautan Nusantara, dalam
rangkaian Rembug Nasional Kelautan 2009. Bogor.
Ongkosongo, O. S. R. 1986. Some harmful stresses to the Seribu coral reefs,
Indonesia. In Soemodihardjo, S (ed.). Proceedings of MAB-COMAR
regoinal workshop on coral reef ecosystems. LIPI Indonesia.
Puswati, Ida Ayu Juli. 2002. Sianida Sampai Disini – Nelayan Desa Les
Mereformasi Alat Tangkap. Yayasan Bahtera Nusantara. Bali.
Reefbase. 2001. A Global Information System on Coral Reef.
Ross, David Frederick. 1998. Competing Through Supply Chain Management,
New York, NY: Chapman & Hall.
Saaty, T.L. 1983. Decision Making for Leaders: The analytical Hierarchy Process
fro Decision in Complex World. RWS Publication, Pittsburg.
Schmitz, Judith M., Robb Frankel, and David J. Frayer. 1994. “Vertical
Integration without Ownership: the Alliance Alternative,” Association of
Marketing Theory and Practice Annual Conference Proceedings, Spring,
pp. 391-396.
Stevens, Graham C. 1989. “Integrating the Supply Chains,” International Journal
of Physical Distribution and Materials Management, Vol. 8, No. 8, pp. 3-8.
Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten administratif Kepulauan Seribu
dan Yayasan Terangi, 2007. Laporan Akhir Total Allowable Catch di
Kepulauan Seribu. Jakarta.
Terangi, Yayasan. 2009. Terumbu Karang Jakarta: Pengamatan jangka panjang
terumbu karang Kepulauan Seribu (2003-2007). Jakarta.
Tomascik, T., A. J. Mah, A. Nontji & M. K. Mossa. 1997. The Ecology of the
Indonesian Seas. Periplus Edition. Singapore.
125
Lampiran 1. Grafik Volume Ekspor Ikan Hias Laut di Indonesia 5 Tahun Terakhir
Sumber : Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia - Ekspor - 2002, 2003, 2004, 2006, 2007 (BPS Jakarta, Indonesia)
127
Lampiran 2. Peta Sumber Daya Ikan Hias dan Ekosistem Terumbu Karang di Kelurahan Pulau Panggang
Sumber : Terumbu Karang Jakarta 2007 (Yayasan Terangi)
128
Lampiran 3. Jenis-jenis ikan hias komoditi Kepulauan Seribu
No 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
Nama lokal Dasi Biru
Blue Band/ Betok Doger
Sersan Mayor
Jae‐jae
Betok Zebra Jakarta
Betok Dakocan Putih
Betok Kuning
Clown Fish
Giro Pasir Ekor Kuning
Giro Balong
Giro Tompel Jakarta
Giro Pelet Jakarta
Kepe‐Kepe Garis Enam Coklat
Kepe‐Kepe Kalong
Kepe‐Kepe Monyong Biasa
Kepe Nanas
Abu Doreng
Angel Marmut
Angel Bluestone Biasa
Bluestone Kambingan/ Kalong
Angel Kambingan
Angel Bluestone Roti
Platax Kertas/ Daun
Platax Asli
Platax Jenggot
Ikan Layang‐Layang
Keling Ijo
KKO Hijau
KKO Jakarta
Pinguin Hijau
Pinguin Coklat
Keling Perak
Bayeman biasa
K e n a r i
Kenari Model
Dokter biasa
T i m u n a n
Buntel Babi Abu Biasa
Buntel Mappa
Buntel Duren
Buntel Mata Palsu
Buntel Koper Kuning
Buntel Koper Putih
J a g u n g a n
Triger Kipas Merah
Sonang Biasa Campur2
Jabing biasa
Roket Biasa
Mandarin Asli
K a p a l a n Gobi Hijau
B r a j a n a t a Nama umum Yellow‐Backed Damsel
Blue Velvet Damsel
Sergeant‐Major
Blue‐Green Chromis
White‐Tailed Damsel
Reticulated Damsel
Yellow Damsel
Clown Demoiselle
Clark's Anemonfish
Maroon Clown
Fire Clown
Skunk‐Stripped Clown
Ocellate Butterfly
Pakistani Butterfly
Copperband Butterfly
Latticed Butterfly
Grey‐Orange Stripped Angel
Vermiculated Angel
Koran Angel
Six‐Barred Angel Juv
Six‐Barred Angel Koran Angel Adult
Orbiculate Batfish
Orange‐Ringed Batfish
Long‐Finned Batfish Indian Treadfish
Green Wrasse
Pacific Exquisite Fairy Wrasse
Blueside Wrasse
Green Bird Wrasse Male
Brown Bird Wrasse Female
Marble Wrasse
Assorted Wrasse
Half‐and‐Half Thicklip
Red Breasted Wrasse
Cleaner Wrasse
Yellow‐Tailed Cleaner
Black‐Spotted Puffer
Scribble Toadfish
Porcupine Puffer
False‐eye Toby
Polkadot Boxfish
White‐Spotted Boxfish
Long‐Nosed Filefish
Red‐Tile Filefish
Assorted Filefish
Stripped Rock Blenny
Scissortail
Mandarin Fish
Banded Goby
Blue Spotted Coral Goby
Assorted Squirrelfish
Nama latin
Praglyphidodon melas
Abudefduf oxyodon
Abudefduf saxatilis
Chromis Viridis
Dascyllus aruanus Dascyllus reticulanus
Pomacentrus amboinensis
Amphirion ocellaris
Amphirion clarkii
Premnas biaculeatus
Amphirion ephippium
Amphirion akalopisos
Parachaetodon ocellatus
Chaetodon collare
Chelmon rostratus
Chaetodon refflesi
Centropyge eibli
Chaetodontoplus melanosoma
Pomacanthus semicirculatus
Euxiphipops sexstriatus
Euxiphipops sexstriatus
Pomacanthus semicirculatus
Platax orbicularis Platax pinnatus
Platax teira
Alectis indicus
Helichoerus chloropterus
Cirrhilabrus exquisitus
Cirrhilabrus cyanopleura
Gomphosus coeruleus
Gomphosus coeruleus
Halichoeres hortulanus
Halichoeres sp.
Hemigymnus melapterus
Cheilinus fasciatus
Labroides dimidatus
Diproctacanthus xanthurus
Arothron nigropunctatus
Arothron mappa
Diodon hystrix
Canthigaster solandri
Ostracion cubicus
Ostracion meleagris
Oxymonacanthus Longirostris
Pervagor melanochepalus
Monachantus sp.
Salaris fasciatus
Ptereleotris evides
Pterosynchiropus splendidus
Amblygobius phalaena
Gobiodon histrio
Adioryx sp.
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
Pala Haji
Mata Belo
Jenggot Biasa Pulo
Kakatua Merah
Kakatua Hijau
Kakatua Campur‐campur
Layaran Bagan Layaran Asli
Kambingan Biasa
Moorish Idol
Burung Laut
Lempu Kembang
Lempu 1/2 Biting
Lempu Radiata
Volitan
Barong Bagong Merah
Barong Bagong Putih/ Hitam
Gracekelly
Krapu Terbang
Trigger Liris Trigger Biru
Trigger Matahari
Trigger Rambut
Trigger Sedan Trigger Motor
Kompele
Bronkelly
Snapper
Caesio Kuning
Caesio Teres
Caesio Pisang
Caesio Sulir
Caesio Neon
Capungan biasa
S a b u n a n Capungan Gelas Mata Biru
Capungan Merli
Bajulan Biasa
Tangkur Putih
Tangkur Buaya
Kuda Laut
Moray Tutul
Mang Mutiara
Ikan Pari Pari Burung
Pari Rina
Ular Tutul Biasa
Hiu Ganas
Hiu Sirip Putih
Hiu Tokek
Piso‐piso
Udang Pletok Udang Karang Ubur‐ubur Titik Bicolor Parrotfish
Big‐eye Squirrelfish
Freckled Goatfish
Dusky Parrotfish
Green Parrotfish
Assorted Parrotfish
Singular Bannerfish
Long‐Fin Bannerfish
Hump‐Head Bannerfish
Moorish Idol
Brown Sailfin Tang
Zebra Lionfish
Spot‐Fin Lionfish
White‐Fin Lionfish
Turkey Lionfish
Reefstone Fish
Estuary Stonefish
Panther Grouper
Comet Undulate Trigger
Blue Triggerfish
White Barred Triggerfish
Tentacled Filefish
Rectangle Trigger
Black‐Bellied Trigger
Yellow‐banded Sweetlips
Clown Sweetlips Emperor Snapper
Yellowtail Fussilier
Yellow and Blueback Fusilier
Banana Fusilier
Blue & Gold Fusilier
Neon Fusilier
Polkadot Cardinalfish
Two Banded Grouper
Longspine Cardinal Redstripped Cardinal Zebra Pipe Fish Paxtons Pipefish Aligator Pipefish Oceanic Sea Horses
Leopard Moray Eel
White Mouth Moray Blue Spotted Stingray
Spotted Eagle Ray
Bowmouth Guitarfish, Shark Ray
Paintspotted Moray
Black‐Tip Reef Shark
White‐Tip Shark Marbled Cat Shark Knife Fish Peacock Mantis Shrimps
Spiny Lobster Spotted Jelly Fish Cetoscarus bicolor
Myripristis sp.
Upeneus tragula
Scarus Niger
Scarus Sordidus
Scarus sp. Heniochus singularius
Heniochus acuminatus
Heniochus varius
Zanclus canescens
Zebrasoma scopas
Dendrochirus zebra
Pterois antennata
Pterois radiata
Pterois volitans
Synanceia verrucosa
Synanceia horrida
Cromileptis altivelis
Calloplesiops altivelis
Balistapus undulatus
Odonus niger
Rhinecanthus aculeatus
Chaetodermis penicilligerus
Rhinecanthus rectangulus
Rhinecanthus verrucosus
Plectorhyncus linaetus
Plectorhyncus chaetodonoides
Lutjanus sebae
Caesio cuning
Caesio teres
Caesio pisang
Caesio caeruleus
Pterocaesio tile
Spheramia nematoptera
Diploprion bifasciatus Apogon leptacanthus
Apogon margaritophorus
Doryrhampus dactyliophorus
Carythoichtys paxtomi
Syngnathoides sp. Hippocampus kuda
Gymnothorax favagineus
Gymnothorax meleagris
Taeniura lymna
Aetobatus narinari
Rhina ancylostoma
Siderea picta
Carcharhinus melanopterus
Triaenodon obesus
Atelomycterus marmoratus
Aeoliscus strigatus
Odontodactylus sp. Palinurus ornatus
Mastigias papua
Lampiran 4. Kuesioner untuk Nelayan
KUESIONER untuk NELAYAN
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN IKAN HIAS LAUT NON
SIANIDA DI KEPULAUAN SERIBU
Kepada
Yth. Bapak/ Ibu Responden
Di tempat,
Saya, Dian Wisudawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Manajemen Sekolah
Pasca Sarjana – Institut Pertanian Bogor, saat ini sedang mengadakan penelitian tentang
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN IKAN HIAS LAUT NON SIANIDA
DI KEPULAUAN SERIBU.
Mohon kesediaan Bapak/ Ibu untuk mengisi kuesioner terlampir. Tidak ada
jawaban yang salah dalam kuesioner ini. Data yang saya terima akan digunakan
sepenuhnya untuk keperluan akademis.
Atas kerjasama Bapak/ Ibu saya sampaikan terimakasih.
DATA NELAYAN
Nama :
Usia :
Pendidikan terakhir :
Jumlah tanggungan :
No handphone
:
KRITERIA NELAYAN
Lingkarilah dan isilah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang sesuai dengan
kondisi anda.
No
Pertanyaan
Jawaban
1.
Sudah berapa tahun anda menjadi
nelayan ikan hias?
.............................. tahun
2.
Menangkap ikan hias merupakan
a. pekerjaan utama
( .... jam/hari) dan (.... hari/minggu)
b. pekerjaan sampingan
( .... jam/hari) dan (.... hari/minggu)
3.
Pekerjaan selain menangkap ikan hias?
4.
5.
Bagaimana cara anda menangkap ikan
hias laut?
Hasil tangkapan anda dalam sehari :
6.
Siapakah pengepul anda?
131
a.
b.
a.
b.
c.
d.
e.
dengan jaring
dengan sianida/ potassium
sangat sedikit ( < Rp.20.000)
sedikit ( Rp.20.000 - Rp.30.000)
sedang ( Rp.30.000 - Rp.40.000)
banyak (Rp40.000 – Rp.50.000)
sangat banyak (>Rp.50.000)
7.
8.
9.
Apakah anda menjadi anggota
kelompok?
Pernahkah anda mengikuti pelatihan
tentang penangkapan ikan hias ramah
lingkungan?
Apakah anda akan tetap bersedia
menjadi nelayan ikan hias sebagai
mata pencaharian anda?
a.
ya
keuntungan?
b.
tidak
mengapa?
a.
b.
ya
tidak
a.
Ya
b.
tidak
Keuntungan :
- Harganya bagus
- Pembelian yang tidak
putus
- Permodalan di awal
Mengapa?
Lingkarilah (SS/S/N/TS/STS) pada pernyataan yang anda anggap sesuai dengan
apa yang anda rasakan selama ini.
Keterangan :
SS
: Sangat Setuju
S
: Setuju
N
: Netral
TS
: Tidak setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
A. Kepercayaan
1.
Nelayan percaya akan harga ikan hias yang
ditetapkan oleh pengepul
2.
Pengepul percaya akan harga ikan hias yang
ditetapkan oleh perusahaan
3.
Pengepul akan menyesuaikan harga beli ikan hias
dengan pengepul yang lain untuk nelayan
4.
Eksportir akan menyesuaikan harga beli ikan hias
dengan eksportir yang lain untuk pengepul
5.
Perubahan harga di tingkat eksportir akan
mempengaruhi harga di tingkat pengepul
6.
Perubahan harga di tingkat pengepul akan
mempengaruhi harga di tingkat nelayan
B. Komitmen
1.
Nelayan selalu mensuplai ikan hias sesuai order
2.
Pengepul selalu mensuplai ikan hias sesuai order
3.
Nelayan selalu menjaga kualitas hasil tangkapannya
yang dijual pada pengepul
4.
Pengepul akan selalu menjaga kualitas ikannya yang
akan dijual pada eksportir
5.
Pengepul selalu menepati cara pembayaran yang
disepakati
6.
Eksportir selalu menepati cara pembayaran yang
disepakati
132
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
SS
SS
S
S
S
N
N
N
TS
TS
TS
STS
STS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
7.
Nelayan dan pengepul terikat kontrak kerja
8.
Pengepul dan eksportir terikat kontrak kerja
C. Norma-norma kerjasama
1.
Nelayan tidak akan menjual ikan hias yang
kondisinya cacat kepada pengepul
2.
Pengepul tidak akan menjual ikan hias yang
kondisinya cacat kepada perusahaan
3.
Nelayan hanya menjual ikanhias kepada pengepul
yang memberinya modal (jaring/bensin)
4.
Pengepul hanya akan menjual ikan hias kepada satu
eksportir tertentu
5.
Pengepul tidak akan menjual ikan hias kepada
eksportir yang sudah memiliki pengepul langganan
dari Kep. Seribu
D. Kesalingtergantungan
1.
Pengepul mengandalkan nelayannya sebagai pemasok
ikan hias untuk memenuhi order perusahaan
2.
Eksportir mengandalkan pengepulnya sebagai
pemasok ikan hias untuk memenuhi order dari buyer
3.
Apabila nelayan tidak melakukan penangkapan maka
pengepul akan merasa terhambat proses
pengumpulannya
4.
Apabila pengepul tidak meyetorkan hasil
pengumpulan ikan hiasnya kepada eksportir, maka
eksportir akan terhambat proses ekspornya
5.
Pengepul adalah satu-satunya pihak yang bisa
memberikan pinjaman modal usaha (jaring/bensin)
kepada nelayan
6.
Eksportir adalah satu-satunya pihak yang bisa
memberikan fasilitas usaha kepada pengepul,
misalnya pondok tempat mengumpulkan ikan hasil
tangkapan
7.
Eksportir adalah satu-satunya pihak yang bisa
memberikan pinjaman dana usaha kepada pengepul
8.
Nelayan hanya bisa menjual hasil tangkapan ikan
hiasnya kepada pengepul tertentu
9.
Pengepul hanya bisa menjual ikan hiasnya kepada
eksportir tertentu
E. Kesesuaian
1.
Nelayan menangkap ikan hias tanpa menggunakan
sianida/ potassium
2.
Pengepul hanya menerima ikan dari nelayan yang
ditangkap tanpa menggunakan sianida/ potassium
3.
Eksportir hanya menerima ikan dari pengepul yang
ditangkap tanpa menggunakan sianida/ potassium
4.
Nelayan dan pengepul berusaha untuk menghemat
biaya penangkapan ikan
5.
Nelayan, pengepul, dan eksportir sama-sama
berusaha untuk menghemat biaya penangkapan ikan
6.
Nelayan dan pengepul sama-sama berusaha untuk
meningkatkan keuntungan
7.
Nelayan dan pengepul, dan eksportir sama-sama
133
SS
SS
S
S
N
N
TS
TS
STS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
berusaha untuk meningkatkan keuntungan
8.
Ikan hias yang diorder oleh eksportir sesuai dengan
keberadaan ikan hias yang tersedia di Kep. Seribu
F. Hubungan tambahan
1.
Nelayan bisa menjual ikannya pada pengepul lain jika
order pengepul utamanya sudah terpenuhi
2.
Sesama nelayan bisa saling bertukar informasi
mengenai harga beli ikan hias
3.
Sesama pengepul bisa saling mengisi order satu sama
lain
4.
Hubungan keseharian nelayan dengan pengepul
adalah hubungan pertemanan/ persaudaraan
5.
Hubungan pengepul dengan ekspotir selain hubungan
kerja adalah hubungan pertemanan/ persaudaraan
6.
Pengepul memberikan THR kepada nelayan
7.
Eksportir memberikan THR kepada pengepul
G. Ketidakpastian lingkungan
1.
Eksportir akan selalu mendapatkan order dari buyer
2.
Pengepul akan selalu mendapatkan order dari
eksportir
3.
Nelayan akan selalu mendapatkan terusan order dari
eksportir
4.
Pada saat kondisi krisis, eksportir bisa menjamin
kehidupan ekonomi pengepul
5.
Pengepul bisa memberi pinjaman untuk keperluan
sehari-hari pada nelayan saat order sedang sepi.
6.
Pengepul dan nelayan memiliki pekerjaan sampingan
selain menangkap dan mengumpulkan ikan hias
134
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
SS
S
S
N
N
TS
TS
STS
STS
SS
SS
S
S
N
N
TS
TS
STS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
Lampiran 5. Kuesioner untuk Pengepul
KUESIONER untuk PENGEPUL
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN IKAN HIAS LAUT NON
SIANIDA DI KEPULAUAN SERIBU
Kepada
Yth. Bapak/ Ibu Responden
Di tempat,
Saya, Dian Wisudawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Manajemen Sekolah
Pasca Sarjana – Institut Pertanian Bogor, saat ini sedang mengadakan penelitian tentang
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN IKAN HIAS LAUT NON SIANIDA
DI KEPULAUAN SERIBU.
Mohon kesediaan Bapak/ Ibu untuk mengisi kuesioner terlampir. Tidak ada
jawaban yang salah dalam kuesioner ini. Data yang saya terima akan digunakan
sepenuhnya untuk keperluan akademis.
Atas kerjasama Bapak/ Ibu saya sampaikan terimakasih.
DATA PENGEPUL
Nama :
Usia :
Pendidikan terakhir :
Jumlah tanggungan :
No handphone
:
KRITERIA PENGEPUL
Lingkarilah dan isilah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang sesuai dengan
kondisi anda.
No
1.
2.
Pertanyaan
Sudah berapa tahun anda menjadi
pengepul ikan hias?
Menjadi pengepul ikan hias merupakan
3.
Pekerjaan selain menjadi pengepul ikan
hias?
4.
Ada berapa nelayan anda?
5.
Berapa karyawan yang anda miliki?
6.
Apa nama eksportir tempat anda
mensuplai ikan hias?
Bagaimana seleksi anda terhadap ikan
hias laut hasil tangkapan nelayan?
7.
135
Jawaban
.............................. tahun
a. pekerjaan utama
( .... jam/hari) dan (.... hari/minggu)
b. pekerjaan sampingan
( .... jam/hari) dan (.... hari/minggu)
a.
b.
a.
b.
Nelayan tetap : .................. orang
Nelayan tidak tetap : ................ orang
Karyawan tetap : ................ orang
Karyawan honorer : ............... orang
a.
Hanya menerima ikan yang
ditangkap dengan mengggunakan
jaring
b.
a.
b.
c.
d.
e.
a.
Memisahkan antara ikan yang
ditangkap dengan jaring dan yang
ditangkap dengan sianida/potasium
Tidak ada pemisahan antara ikan hias
yang ditangkap dengan jaring atau
yang ditangkap dengan sianida/potas
sangat sedikit ( < 1 juta rupiah)
sedikit ( 1 juta – 3 juta rupiah)
sedang ( 3 juta – 5 juta rupiah)
banyak (5 juta – 10 juta rupiah)
sangat banyak (> 10 juta rupiah)
ya
keuntungan?
b.
tidak
a.
b.
ya
tidak
a.
Ya
b.
tidak
c.
8.
Omset penghasilan anda dalam
seminggu :
9.
Apakah anda menjadi anggota
kelompok?
10.
11.
Pernahkah anda mengikuti pelatihan
tentang pengelolaan ikan hias ramah
lingkungan?
Apakah anda akan tetap besedia menjadi
pengepul ikan hias sebagai mata
pencaharian anda?
mengapa?
Keuntungan :
- Harganya bagus
- Pembelian yang tidak
putus
- Permodalan di awal
Mengapa?
Lingkarilah (SS/S/N/TS/STS) pada pernyataan yang anda anggap sesuai dengan
apa yang anda rasakan selama ini.
Keterangan :
SS
: Sangat Setuju
S
: Setuju
N
: Netral
TS
: Tidak setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
A. Kepercayaan
1.
Nelayan percaya akan harga ikan hias yang
ditetapkan oleh pengepul
2.
Pengepul percaya akan harga ikan hias yang
ditetapkan oleh perusahaan
3.
Pengepul akan menyesuaikan harga beli ikan hias
dengan pengepul yang lain untuk nelayan
4.
Eksportir akan menyesuaikan harga beli ikan hias
dengan eksportir yang lain untuk pengepul
5.
Perubahan harga di tingkat eksportir akan
mempengaruhi harga di tingkat pengepul
6.
Perubahan harga di tingkat pengepul akan
mempengaruhi harga di tingkat nelayan
136
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
B. Komitmen
1.
Nelayan selalu mensuplai ikan hias sesuai order
2.
Pengepul selalu mensuplai ikan hias sesuai order
3.
Nelayan selalu menjaga kualitas hasil tangkapannya
yang dijual pada pengepul
4.
Pengepul akan selalu menjaga kualitas ikannya yang
akan dijual pada eksportir
5.
Pengepul selalu menepati cara pembayaran yang
disepakati
6.
Eksportir selalu menepati cara pembayaran yang
disepakati
7.
Nelayan dan pengepul terikat kontrak kerja
8.
Pengepul dan eksportir terikat kontrak kerja
C. Norma-norma kerjasama
1.
Nelayan tidak akan menjual ikan hias yang
kondisinya cacat kepada pengepul
2.
Pengepul tidak akan menjual ikan hias yang
kondisinya cacat kepada perusahaan
3.
Nelayan hanya menjual ikanhias kepada pengepul
yang memberinya modal (jaring/bensin)
4.
Pengepul hanya akan menjual ikan hias kepada satu
eksportir tertentu
5.
Pengepul tidak akan menjual ikan hias kepada
eksportir yang sudah memiliki pengepul langganan
dari Kep. Seribu
D. Kesalingtergantungan
1.
Pengepul mengandalkan nelayannya sebagai pemasok
ikan hias untuk memenuhi order perusahaan
2.
Eksportir mengandalkan pengepulnya sebagai
pemasok ikan hias untuk memenuhi order dari buyer
3.
Apabila nelayan tidak melakukan penangkapan maka
pengepul akan merasa terhambat proses
pengumpulannya
4.
Apabila pengepul tidak meyetorkan hasil
pengumpulan ikan hiasnya kepada eksportir, maka
eksportir akan terhambat proses ekspornya
5.
Pengepul adalah satu-satunya pihak yang bisa
memberikan pinjaman modal usaha (jaring/bensin)
kepada nelayan
6.
Eksportir adalah satu-satunya pihak yang bisa
memberikan fasilitas usaha kepada pengepul,
misalnya pondok tempat mengumpulkan ikan hasil
tangkapan
7.
Eksportir adalah satu-satunya pihak yang bisa
memberikan pinjaman dana usaha kepada pengepul
8.
Nelayan hanya bisa menjual hasil tangkapan ikan
hiasnya kepada pengepul tertentu
9.
Pengepul hanya bisa menjual ikan hiasnya kepada
eksportir tertentu
137
SS
SS
SS
S
S
S
N
N
N
TS
TS
TS
STS
STS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
SS
S
S
N
N
TS
TS
STS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
E. Kesesuaian
1.
Nelayan menangkap ikan hias tanpa menggunakan
sianida/ potassium
2.
Pengepul hanya menerima ikan dari nelayan yang
ditangkap tanpa menggunakan sianida/ potassium
3.
Eksportir hanya menerima ikan dari pengepul yang
ditangkap tanpa menggunakan sianida/ potassium
4.
Nelayan dan pengepul berusaha untuk menghemat
biaya penangkapan ikan
5.
Nelayan, pengepul, dan eksportir sama-sama
berusaha untuk menghemat biaya penangkapan ikan
6.
Nelayan dan pengepul sama-sama berusaha untuk
meningkatkan keuntungan
7.
Nelayan dan pengepul, dan eksportir sama-sama
berusaha untuk meningkatkan keuntungan
8.
Ikan hias yang diorder oleh eksportir sesuai dengan
keberadaan ikan hias yang tersedia di Kep. Seribu
F. Hubungan tambahan
1.
Nelayan bisa menjual ikannya pada pengepul lain jika
order pengepul utamanya sudah terpenuhi
2.
Sesama nelayan bisa saling bertukar informasi
mengenai harga beli ikan hias
3.
Sesama pengepul bisa saling mengisi order satu sama
lain
4.
Hubungan keseharian nelayan dengan pengepul
adalah hubungan pertemanan/ persaudaraan
5.
Hubungan pengepul dengan ekspotir selain hubungan
kerja adalah hubungan pertemanan/ persaudaraan
6.
Pengepul memberikan THR kepada nelayan
7.
Eksportir memberikan THR kepada pengepul
G. Ketidakpastian lingkungan
1.
Eksportir akan selalu mendapatkan order dari buyer
2.
Pengepul akan selalu mendapatkan order dari
eksportir
3.
Nelayan akan selalu mendapatkan terusan order dari
eksportir
4.
Pada saat kondisi krisis, eksportir bisa menjamin
kehidupan ekonomi pengepul
5.
Pengepul bisa memberi pinjaman untuk keperluan
sehari-hari pada nelayan saat order sedang sepi.
6.
Pengepul dan nelayan memiliki pekerjaan sampingan
selain menangkap dan mengumpulkan ikan hias
138
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
SS
S
S
N
N
TS
TS
STS
STS
SS
SS
S
S
N
N
TS
TS
STS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
SS
S
N
TS
STS
Lampiran 6. Kuesioner untuk Perusahaan
KUESIONER untuk PERUSAHAAN
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN IKAN HIAS LAUT NON
SIANIDA DI KEPULAUAN SERIBU
Kepada
Yth. Bapak/ Ibu Responden
Di tempat,
Saya, Dian Wisudawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Manajemen Sekolah Pasca
Sarjana – Institut Pertanian Bogor, saat ini sedang mengadakan penelitian tentang
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN IKAN HIAS LAUT NON SIANIDA
DI KEPULAUAN SERIBU
Mohon kesediaan Bapak/ Ibu untuk mengisi kuesioner terlampir. Tidak ada
jawaban yang salah dalam kuesioner ini. Data yang saya terima akan digunakan
sepenuhnya untuk keperluan akademis.
Atas kerjasama Bapak/ Ibu saya sampaikan terimakasih.
DATA RESPONDEN
Nama :
Usia :
Pendidikan terakhir :
Jabatan :
KARAKTERISTIK PERUSAHAAN
PROFIL PERUSAHAAN
1.
Nama perusahaan
2.
3.
Tahun berdirinya perusahaan
Alamat perusahaan
4.
Produk yang dihasilkan/
diperdagangkan
5.
Jumlah karyawan
6.
Struktur organisasi perusahaan
a.
b.
c.
d.
a.
b.
139
Ikan hias laut
Karang hias laut
Invertebrata laut
Lainnya, .....................
Karyawan tetap : ..................... orang
Karyawan honorer : .................orang
7.
8.
Rata-rata omset bulanan
Omset tiga tahun terakhir
9.
Strategi pemasaran
a. Segmentasi
.............................. juta rupiah
Tahun ke-1
Tahun ke-2
Tahun ke-3
b. Targeting
c. Positioning
10 .
Bauran pemasaran
a. Produk
b. Harga
c. Saluran distribusi
d. Promosi
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pertanyaan
Berapa pengepul yang memasok ikan
hias kepada anda?
Dari daerah mana saja asal ikan hias
tersebut?
Apakah perusahaan turut berpartisipasi
dengan aktivitas anggota kelompok di
Kepulauan Seribu
Jawaban
........... pengepul
a.
ya
keuntungan?
b.
tidak
mengapa?
Apakah anda pernah mengikuti
pelatihan atau seminar tentang
pengelolaan ikan hias ramah
lingkungan?
a.
ya
b.
tidak
Apakah anda dapat melakukan
pembelian langsung kepada nelayan?
a.
b.
ya
tidak
Bagaimana seleksi anda terhadap ikan
hias laut dari pengepul?
a.
Hanya menerima ikan yang ditangkap
dengan mengggunakan jaring
140
mengapa?
b.
c.
7.
Menurut anda, apakah saluran
pemasaran yang ada selama ini sudah
baik? Mengapa?
8.
Saluran pemasaran yang seperti apa
yang menurut anda efektif?
9.
Apakah anda bersedia untuk tetap
memperdagangkan ikan hias yang
ditangkap dengan jaring dan tetap
berpartisipasi dalam manajemen rantai
pasokan ikan hias non sianida?
141
Memisahkan antara ikan yang
ditangkap dengan jaring dan yang
ditangkap dengan sianida/potasium
Tidak ada pemisahan antara ikan hias
yang ditangkap dengan jaring atau
yang ditangkap dengan sianida/potas
a.
Ya
Kompensasi apa yang anda
berikan pada pengepul?
- Harga yang bagus
- Kontinuitas pembelian
- Permodalan di awal
- Tingkat pengembalian
ikan rendah
- Lain-lain ..........
- .......................
b.
Tidak
Mengapa?
Lampiran 7. Struktur Awal Hierarki Rantai Pasok Ikan Hias Laut Non Sianida di Kep. Seribu
Potret Sistem Rantai Pasokan Ikan Hias Non
Sianida di Kepulauan Seribu
FAKTOR
AKTOR
TUJUAN
kepercayaan
nelayan
peningkatan
profitabilitas
SKENARIO
kelompok
nelayan
norma2
kerjasama
komitmen
perusahaan
lokal
pengepul
jaminan
kontinuitas
pasokan
kemudahan
akses modal
eksportir
peningkatan
kualitas
&kuantitas
pasokan
peningkatan teknologi
produksi
alat tangkap
kesaling
tergantungan
importir
DKP
perluasan
pasar
MAC
TERANGI
peningkatan
skala usaha
pelatihan dan
pengembanagan untuk
nelayan dan pengepul
AKKI
peningkatan
teknologi
unggulan
lembaga
keuangan
penyerapan
tenaga kerja
kesepakatan kerjasama
jangka panjang
teknis penangkapan dan
pasca
armada penangkapan
pemeliharaan di farm
hubungan
tambahan
kesesuaian
peningkatan kapasitas
diri & kesadaran
berorganisasi
transport
laut
kesejahteraan
nelayan &
karyawan
teknologi informasi
budidaya ikan hias
kebijakan perdagangan
internasional
peningkatan SDM
jasa pengiriman
kargo
keberlanjutan
usaha
nelayan
pengurangan
tekanan thd
terumbu
karang
kantor pemasaran
bersama
forum komunikasi antar
produsen
inovasi species baru
teknologi budidaya
kuli
peningkatan upaya
pemasaran
Alih teknologi produksi
pembangunan jaringan
distribusi
magang
kelestarian
SDA dg
penangkapan
ramah lingk
transport
darat
sejarah hub.
bisnis
akses pasar
manajemen bisnis
shipping
perguruan
tinggi
kebijakan
pemerintah
MoU antar pihak
Pembinaan &
pengembangan SDM
packaging
jaminan
kepastian
segmention
targeting
positioning
strategi pemasaran
keuangan R Tangga
Penyusun :
Dian Wisudawati, S. Pi.
pengendalian mutu
Di bawah bimbingan:
Prof. Dr. Ir. Wilson H. Limbong, MS
Dr. Ir. Jono M. Munandar, M. Sc.
Responden (expertise) :
Akademisi (Prof. Dr. Ir. Musa Hubeis M. Si, Dipl. Ing, DEA)
SuDin Kelautan dan Pertanian Kab Adm. Kep Seribu (Abdul Khaliq, M. Si).
Yayasan TERANGI (Idris, S. Pi)
CV. Cahaya Baru (Ibu Wiwi)
CV. Blue Star Aquatic (Bpk. Erik)
PT. Dinar Darum Lestari (H. R. Dody Timur Wahjuadi, DRH)
AKKI (Suryo Kusumo, S. Pi)
tarif bea keluar
product
pengetahuan CITES
kuota
price
selam sehat dan benar
Perijinan (SKA,
TPKP, license)
bauran pemasaran
place
dumping
promotion
L/C
physical evidence
personality
142
Lampiran 8. Kuesioner Analytical Hierarchi Process
Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan
Ikan Hias Laut yang Adil dan Lestari
GOAL
143
FAKTOR
trust dan
komitmen
norma2
kerjasama
kebijakan
pemerintah
kepedulian thd
lingkungan
AKTOR
nelayan
pengepul
perusahaan
pihak luar
TUJUAN
SKENARIO
Penigkatan
kesejahteraan nelayan
keberlanjutan usaha
nelayan dan pengepul
transparansi
kerjasama
antar pihak
fasilitasi
peningkatan
kapasitas SDM
Penyusun :
Dian Wisudawati, S. Pi.
Di bawah bimbingan:
Prof. Dr. Ir. Wilson H. Limbong, MS, Dr. Ir. Jono M. Munandar, M. Sc.
Supervisor AHP:
Ir. Pramono D. Fewidarto, M. Sc
103
peningkatan nilai
produk
pengembangan
akses infornasi
dan teknologi
kelestarian sumber
daya alam
intervensi
pemerintah
terhadap
kebijakan
PAIRWISE COMPARISON
Berikut merupakan pertanyaan prioritas dengan menggunakan metode perbandingan.
Berilah tanda “ √” pada sektor kolom skor yang sesuai untuk penilaian tingkat
kepentingan (skor) antara masing-masing sektor/ sub sektor (kolom kiri dibanding kolom
kanan) berkaitan dengan goal yang dimaksud, yaitu menciptakan manajemen rantai
pasokan ikan hias laut yang adil dan lestari, dengan kriteria penialian sebagai berikut:
Nilai
Keterangan
1
Kriteria/ alternatif A sama penting dengan kriteria/ alternatif B
3
A sedikit lebih penting dari B
5
A jelas lebih penting dari B
7
A sangat jelas lebih penting dari B
9
A mutlak lebih penting dari B
2,4,6,8
Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan
Level 1 (Faktor)
U
Kolom Kiri
Diisi jika sektor
kolom sebelah kiri
lebih penting
dibanding tujuan di
kolom sebelah kanan
2 3 4 5 6 7 8 9
Diisi
Bila
Sama
Penting
1
Diisi jika sektor kolom
sebelah kanan lebih
penting dibanding
tujuan di kolom sebelah
kiri
9 8 7 6 5 4 3 2
Kolom Kanan
trust dan komitmen
norma2 kerjasama
trust dan komitmen
kebijakan pemerintah
trust dan komitmen
kepedulian thd lingk.
norma2 kerjasama
kebijakan pemerintah
norma2 kerjasama
kepedulian thd lingk.
kebijakan pemerintah
kepedulian thd lingk.
Level 2 (Aktor)
U
Kolom Kiri
Diisi jika sektor
kolom sebelah kiri
lebih penting
dibanding tujuan di
kolom sebelah kanan
2 3 4 5 6 7 8 9
Diisi
Bila
Sama
Penting
1
Diisi jika sektor kolom
sebelah kanan lebih
penting dibanding
tujuan di kolom sebelah
kiri
9 8 7 6 5 4 3 2
Kolom Kanan
Nelayan
Pengepul
Nelayan
Perusahaan
Nelayan
Pihak luar
Pengepul
Perusahaan
Pengepul
Pihak luar
Perusahaan
Pihak luar
144
Level 3 (Tujuan)
U
Kolom Kiri
Diisi jika sektor
kolom sebelah kiri
lebih penting
dibanding tujuan di
kolom sebelah kanan
2 3 4 5 6 7 8 9
Diisi
Bila
Sama
Penting
1
Diisi jika sektor kolom
sebelah kanan lebih
penting dibanding
tujuan di kolom sebelah
kiri
9 8 7 6 5 4 3 2
peningkatan
kesejahteraan nelayan
peningkatan
kesejahteraan nelayan
peningkatan
kesejahteraan nelayan
keberlanjutan usaha
nelayan
keberlanjutan usaha
nelayan
peningkatan nilai
produk
Kolom Kanan
keberlanjutan usaha
nelayan
peningkatan nilai
produk
kelestarian
sumberdaya alam
peningkatan nilai
produk
kelestarian
sumberdaya alam
kelestarian
sumberdaya alam
Level 4 (Skenario)
U
Kolom Kiri
Diisi jika sektor
kolom sebelah kiri
lebih penting
dibanding tujuan di
kolom sebelah kanan
2 3 4 5 6 7 8 9
Diisi
Bila
Sama
Penting
1
Diisi jika sektor kolom
sebelah kanan lebih
penting dibanding
tujuan di kolom sebelah
kiri
9 8 7 6 5 4 3 2
transparansi kerjasama
antar pihak
transparansi kerjasama
antar pihak
Kolom Kanan
fasilitasi peningkatan
kapasitas SDM
pengembangan akses
informasi dan
teknologi
intervensi pemerintah
thd kebijakan
pengembangan akses
informasi dan
teknologi
intervensi pemerintah
thd kebijakan
transparansi kerjasama
antar pihak
fasilitasi peningkatan
kapasitas SDM
fasilitasi peningkatan
kapasitas SDM
pengembangan akses
informasi dan
teknologi
intervensi pemerintah
thd kebijakan
145
Lampiran 9. View-Tree Analytical Hierarchy Proses Kombinasi
Model Name: AHP fair trade and sustainable
Treeview
Goal: Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan Ikan Hias Laut yang Adil dan Lestari
trust dan komitmen (L: 0,298)
nelayan (L: 0,509)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,251)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pengepul (L: 0,165)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
perusahaan (L: 0,188)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
146
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pihak luar (L: 0,139)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
norma2 kerjasama (L: 0,354)
nelayan (L: 0,509)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
147
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pengepul (L: 0,165)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
perusahaan (L: 0,188)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pihak luar (L: 0,139)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
148
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kebijakan pemerintah (L: 0,134)
nelayan (L: 0,509)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pengepul (L: 0,165)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
perusahaan (L: 0,188)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
149
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pihak luar (L: 0,139)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kepedulian thd lingkungan (L: 0,214)
nelayan (L: 0,509)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
150
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pengepul (L: 0,165)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
perusahaan (L: 0,188)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
pihak luar (L: 0,139)
peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
keberlanjutan usaha nelayan (L: 0,232)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
peningkatan nilai produk (L: 0,286)
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
kelestarian sumberdaya alam (L: 0,249)
151
transparansi kerjasama antar pihak (L: 0,179)
fasilitasi peningkatan kapasitas SDM (L: 0,203)
pengembangan akses informasi dan teknologi (L: 0,493)
intervensi pemerintah thd kebijakan (L: 0,125)
Lampiran 10. Grafik Sensitivitas Masing-masing Responden AHP
1. Ibu Wiwie – CV. Cahaya Baru
Dynamic Sensitivity for nodes below: Goal: Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan Ikan
Hias Laut yang Adil dan Lestari
40,2% trust dan komitmen (L: 0,402)
22,1% transparansi kerjasama antar pihak
40,2% norma2 kerjasama (L: 0,402)
22,1% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
5,4% kebijakan pemerintah (L: 0,054)
49,2% pengembangan akses informasi dan teknologi
14,3% kepedulian thd lingkungan (L: 0,143)
6,6% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
39,3% nelayan (L: 0,393)
22,1% transparansi kerjasama antar pihak
22,4% pengepul (L: 0,224)
22,1% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
33,4% perusahaan (L: 0,334)
49,2% pengembangan akses informasi dan teknologi
5,0% pihak luar (L: 0,050)
6,6% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
.5
.4
.5
17,5% peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,175)
22,1% transparansi kerjasama antar pihak
17,5% keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,175)
22,1% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
40,9% peningkatan nilai produk (L: 0,409)
49,2% pengembangan akses informasi dan teknologi
24,1% kelestarian sumberdaya alam (L: 0,241)
6,6% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
152
0
.1
.2
.3
.4
.5
2. H. Dody T. Wahjuadi – PT. DINAR
Dynamic Sensitivity for nodes below: Goal: Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan Ikan
Hias Laut yang Adil dan Lestari
69,0% trust dan komitmen (L: 0,690)
16,3% transparansi kerjasama antar pihak
18,4% norma2 kerjasama (L: 0,184)
21,2% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
5,9% kebijakan pemerintah (L: 0,059)
55,9% pengembangan akses informasi dan teknologi
6,8% kepedulian thd lingkungan (L: 0,068)
6,5% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
68,5% nelayan (L: 0,685)
16,3% transparansi kerjasama antar pihak
7,0% pengepul (L: 0,070)
21,2% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
20,3% perusahaan (L: 0,203)
55,9% pengembangan akses informasi dan teknologi
4,2% pihak luar (L: 0,042)
6,5% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
.5
.4
.5
22,8% peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,228)
16,3% transparansi kerjasama antar pihak
8,4% keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,084)
21,2% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
7,2% peningkatan nilai produk (L: 0,072)
55,9% pengembangan akses informasi dan teknologi
61,6% kelestarian sumberdaya alam (L: 0,616)
6,5% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
153
0
.1
.2
.3
.4
.5
3. Erik Jaya Putra – CV. Blue Star Aquatic
Dynamic Sensitivity for nodes below: Goal: Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan Ikan
Hias Laut yang Adil dan Lestari
54,8% trust dan komitmen (L: 0,548)
8,8% transparansi kerjasama antar pihak
22,6% norma2 kerjasama (L: 0,226)
25,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
9,0% kebijakan pemerintah (L: 0,090)
58,0% pengembangan akses informasi dan teknologi
13,6% kepedulian thd lingkungan (L: 0,136)
8,0% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
25,0% nelayan (L: 0,250)
8,8% transparansi kerjasama antar pihak
25,0% pengepul (L: 0,250)
25,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
25,0% perusahaan (L: 0,250)
58,0% pengembangan akses informasi dan teknologi
25,0% pihak luar (L: 0,250)
8,0% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
7,3% peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,073)
8,8% transparansi kerjasama antar pihak
26,8% keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,268)
25,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
16,3% peningkatan nilai produk (L: 0,163)
58,0% pengembangan akses informasi dan teknologi
49,7% kelestarian sumberdaya alam (L: 0,497)
8,0% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
154
0
.1
.2
.3
.5
.4
.5
.4
.5
4. Abdul Khaliq, M. Si – Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten
Administrasi Kep Seribu
Dynamic Sensitivity for nodes below: Goal: Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan Ikan
Hias Laut yang Adil dan Lestari
0
0
0
9,4% trust dan komitmen (L: 0,094)
6,4% transparansi kerjasama antar pihak
16,5% norma2 kerjasama (L: 0,165)
11,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
43,3% kebijakan pemerintah (L: 0,433)
41,1% pengembangan akses informasi dan teknologi
30,8% kepedulian thd lingkungan (L: 0,308)
41,1% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
44,4% nelayan (L: 0,444)
6,4% transparansi kerjasama antar pihak
13,7% pengepul (L: 0,137)
11,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
7,8% perusahaan (L: 0,078)
41,1% pengembangan akses informasi dan teknologi
34,1% pihak luar (L: 0,341)
41,1% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
16,5% peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,165)
6,4% transparansi kerjasama antar pihak
16,5% keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,165)
11,3% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
4,8% peningkatan nilai produk (L: 0,048)
41,1% pengembangan akses informasi dan teknologi
62,1% kelestarian sumberdaya alam (L: 0,621)
41,1% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
155
0
.1
.2
.3
.5
.4
.5
.4
.5
5. Prof. Dr. Ir. Musa Hubeis M. Si, Dipl. Ing, DEA – Dosen Ahli Manajemen
Strategis Institut Pertanian Bogor
Dynamic Sensitivity for nodes below: Goal: Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan Ikan
Hias Laut yang Adil dan Lestari
40,5% trust dan komitmen (L: 0,405)
22,0% transparansi kerjasama antar pihak
37,7% norma2 kerjasama (L: 0,377)
10,9% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
13,8% kebijakan pemerintah (L: 0,138)
61,9% pengembangan akses informasi dan teknologi
8,0% kepedulian thd lingkungan (L: 0,080)
5,2% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
53,7% nelayan (L: 0,537)
22,0% transparansi kerjasama antar pihak
4,9% pengepul (L: 0,049)
10,9% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
14,6% perusahaan (L: 0,146)
61,9% pengembangan akses informasi dan teknologi
26,8% pihak luar (L: 0,268)
5,2% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
16,5% peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,165)
22,0% transparansi kerjasama antar pihak
16,5% keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,165)
10,9% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
62,1% peningkatan nilai produk (L: 0,621)
61,9% pengembangan akses informasi dan teknologi
4,8% kelestarian sumberdaya alam (L: 0,048)
5,2% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
156
0
.1
.2
.3
.4
.5
.5
.5
6. Idris, S. Pi – Yayasan Terumbu Karang Indonesia
Dynamic Sensitivity for nodes below: Goal: Menciptakan Manajemen Rantai Pasokan Ikan
Hias Laut yang Adil dan Lestari
0
20,5% transparansi kerjasama antar pihak
32,9% norma2 kerjasama (L: 0,329)
39,4% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
5,5% kebijakan pemerintah (L: 0,055)
29,5% pengembangan akses informasi dan teknologi
32,9% kepedulian thd lingkungan (L: 0,329)
10,6% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
.4
44,8% nelayan (L: 0,448)
20,5% transparansi kerjasama antar pihak
30,4% pengepul (L: 0,304)
39,4% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
20,2% perusahaan (L: 0,202)
29,5% pengembangan akses informasi dan teknologi
4,6% pihak luar (L: 0,046)
10,6% intervensi pemerintah thd kebijakan
0
0
28,8% trust dan komitmen (L: 0,288)
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
0
.1
.2
.3
25,0% peningkatan kesejahteraan nelayan (L: 0,250)
20,5% transparansi kerjasama antar pihak
25,0% keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul (L: 0,250)
39,4% fasilitasi peningkatan kapasitas SDM
25,0% peningkatan nilai produk (L: 0,250)
29,5% pengembangan akses informasi dan teknologi
25,0% kelestarian sumberdaya alam (L: 0,250)
10,6% intervensi pemerintah thd kebijakan
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
157
0
.1
.2
.3
.5
.4
.5
.4
.5
Lampiran 11. Profil Perusahaan Ekspor Ikan Hias Laut
1. CV. CAHAYA BARU
1
2
CV. CAHAYA BARU
1975
3
Nama perusahaan
Tahun berdirinya
perusahaan
Alamat perusahaan
4
Visi
5
Misi
6
Produk yang dihasilkan/
diperdagangkan
7
8
Jumlah karyawan
Strategi pemasaran
a. Segmentasi
- Membuka lapangan pekerjaan, terutama bagi
para nelayan
- Meningkatkan taraf hidup nelayan serta
karyawan
- Memanfaatkan sumber daya alam secara
lestari untuk meningkatkan devisa
- Menjadi eksportir ikan hias dan coral yang
memiliki kualitas dan varitas optimal
- Berusaha selalu meningkatkan kepuasan
pelanggan
Ikan hias laut
Karang hias laut
Invertebrata laut
Fresh water fish
35 orang karyawan)
b. Targeting
c. Positioning
9
Bauran pemasaran
a. Produk
Jl. Cenek No. 15 Bintaro Kodam, Jakarta 12320
- USA (Los Angles, Miami, Kanada, San
Fransisco, Brazil, Argentina)
- EROPA (Inggris, Jerman, Rusia, Polandia,
Irlandia, Hungaria)
- ASIA (Hongkong, Jepang, Taiwan, Korea)
- ARAB (Dubai, Iran, Irak, Siria)
- Karena merupakan perusahaan lama, maka
perusahaan lebih memilih untuk memellihara
buyer lama yang fanatik pada produk Cahaya
Baru.
- Untuk mencari new customer, dengan
mencari informasi dari buletin bisni yang
dikeluarkan oleh OFI. Dan juga
memanfaatkan informasi dari BPEN (Badan
Pengembangan Ekspor Nasional) tentang apa
yang sedang tren di pasar.
Perusahaan ingin memposisikan sebagai
perusahaan yang memiliki produk ikan dan
coral yang berkualitas tinggi dengan daya
survival yang tinggi
Diversifikasi produk, penemuan spesies baru
158
b. Price
c. Saluran distribusi
d. Promosi
e. Personality
(sebagai inovasi perusahaan)
Untuk ikan yang musiman, diberikan diskon
kepada pelanggan. Pelanggan lama akan
mendapatkan diskon yang lebih banyak
daripada yang baru
Memiliki agent airline langsung
Pameran di luar negeri
- Aquarama Singapore yang dilakukan 2 x
setahun
- Di Jerman juga dilakukan 2 x setahun
Keduanya selang seling, sehingga
memungkinkan perusahaan untuk mengikuti
pameran setahun sekali, ada juga pameran dari
depdagri, namun perusahaan tidak pernah ikut.
Servis yang baik kepada pelanggan lama
STRUKTUR PERUSAHAAN
DIREKTUR
EKSPORT
Marketing
Dokumentasi
perijinan
Shipping
Accounting
FISH
CORAL
Stok di
Gudang
A-Z
A-Z
Mitra :
Breeder di
Lampung
Farm
HRD
Transplantasi
Kep. Seribu
159
Binuangeun/
Pandeglang
2. PT. DINAR DARUM LESTARI
1
2
3
Nama perusahaan
Tahun berdirinya perusahaan
Alamat perusahaan
4
Visi
5
Misi
6
Tujuan
7
Produk yang dihasilkan/
diperdagangkan
8
Jumlah karyawan
9
Strategi pemasaran
a. Segmentasi
PT. DINAR DARUM LESTARI
1975
Jl. Dadap No.30A Teluknaga –
Tanggerang
Visi dari perusahaan adalah optimalisasi
pemanfaatan sumberdaya hayati laut
melalui agribisnis ekoteknologi berbasis
masyarakat
Berperan aktif melestarikan keanekaragaman hayati melalui teknologi
penangkaran dan meningkatkan
produktivitas perairan dengan
melibatkan masyarakat pesisir
a. Meningkatkan diversifikasi usaha
secara merata dan berkesinambungan
b. Meningkatkan kesempatan kerja dan
menyediakan lapangan kerja baru
c. Meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat pesisir
d. Meningkatkan nilai ekspor biota laut
Ikan hias laut
Karang hias laut
Invertebrata laut
Mariculture Coral
Karyawan tetap : 400 orang (untuk
seluruh perusahaan di Indonesia)
- USA
- EROPA
Mencari pasar baru untuk produk –
produk baru mereka yang masuk dalam
CITES list (ex, White Coral dan
Mariculture)
Perusahaan sebagai pihak yang memiliki
kuota alam terbesar, MAC Certified, dan
produk dengan kualitas terbaik,
menyisihkan sebagian sumberdaya untuk
riset dan pengembangan produk
b. Targeting
c. Positioning
10
Bauran pemasaran
a. Produk
b. Harga
Kualitas terbaik
Di atas harga rata-rata, jarang memberi
diskon karena jaminan produk yang
sangat baik.
160
c. Saluran distribusi
- Singapore Airline
- KLM Eropa
Di hulu, selalu mencari potensi ikan hias
jenis baru
Pameran di luar negeri, memiliki
komoditi ikan dengan species unik yang
bernama (........ dinar)
Kunjungan ke perusahaan dan pameran
Menemani tamu berlibur diving ke sitesite sumber ikan hias perusahaan.
d. Promosi
e. Physical evidence
f. Personality
STRUKTUR PERUSAHAAN
DIREKTUR
Kepala Cabang
Personalia & Umum
Produksi
Accounting
Supervisor Produksi
Unit Produksi
Pelaksana
161
Pemasaran
3. CV. BLUESTAR AQUATIC
1
2
3
Nama perusahaan
Tahun berdirinya perusahaan
Alamat perusahaan
4
Produk yang dihasilkan/
diperdagangkan
5
6
Jumlah karyawan
Strategi pemasaran
a. Segmentasi
CV. BLUESTAR
2001
Jl. Reformasi I Rt 01/01 Kel. Pondok
Aren, Kec. Pondok Aren,
Kab. Tanggerang 51224
Ikan hias laut
Karang hias laut
Invertebrata laut
11 orang
- USA (Miami, Kanada)
- EROPA (Italia, Jerman)
- ASIA (Hongkong, Singapura)
Customer yang record pembayarannya
tidak bermasalah
MAC Certified product
b. Targeting
7
c. Positioning
Bauran pemasaran
a. Produk
b. Harga
c. Saluran distribusi
d. Promosi
Kualitas, dan Kestabilan Jenis
Pemberian diskon pada customer lama
Cargo (Jasa Pengiriman)
Website, Kunjungan Customer, Pameran
di luar dan dalam negeri
Heatpack untuk musim dingin
Melayani tamu ketika ada kunjungan ke
perusahaan
e. Physical evidence
f. Personality
STRUKTUR PERUSAHAAN
DIREKTUR
Accounting
Marketing
Manager Operasional
Kepala Lapangan
Staf Packing/Lapangan
162
Lampiran 12. Gambar Aktivitas Selama Penelitian
Nelayan pergi ke lokasi penangkapan
ikan hias
Nelayan dengan peralatan selam dasar
untuk mencari ikan
Nelayan dengan keranjang tempat ikan
hias hasil tangkapan
Nelayan sedang mencari avertebrata laut
(manggisan)
Ikan yang telah ditangkap dikumpulkan
di penampungan pengepul
Pondok penampungan pengepul
Pengepul mengantarkan ikan hias dari Pulau Panggang ke Muara Angke
163
Ikan hias sampai di Muara Angke dan siap diantar ke Perusahaan dengan taxi atau mobil
box
Ikan hias telah sampai di perusahaan
Farm Perusahaan CV. Cahaya Baru
Wawancara dengan pihak perusahaan
CV. Blue Star Aquatic
Wawancara dan pengisian kuesioner
dengan nelayan
Sertifikasi Pengepul Ikan Hias Laut (kiri)
Sertifikasi Perusahaan Ekspor Ikan Hias Laut (kanan)
164
155
Download