PENGENDALIAN Saprolegnia sp. PADA IKAN NILA

advertisement
PENGENDALIAN Saprolegnia sp. PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
DENGAN SALINITAS AIR YANG BERBEDA
Dayu Kurniawan1, Dwi Suryanto2, Riri Ezraneti3
1
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara
2
Staf Pengajar Departemen Biologi, Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara
3
Staf Pengajar Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas
Malikussaleh
ABSTRACT
DAYU KURNIAWAN. Control of Saprolegnia sp. in Tilapia (Oreochromis niloticus) with
Different Water Salinity. Under academic supervision By SURYANTO DWI and RIRI
EZRANETI.
Water quality in fish culture is one of the most important factor that have to be
maintained. Unproper maintained of water quality may result on increase of disease
prevalence to the fish. One of the disease affected tilapia culture is saprolegniasis caused by
Saprolegnia sp.. This study aimed to determine the growth of the fungus Saprolegnia sp. in tilapia
(Oreochromis niloticus) in different water salinity as well as to determine the optimum salinity levels
to inhibit the Saprolegnia sp. growth. The growth rate, feed efficiency, survival, fungal colonies,
temperature, pH, and DO was measured. The study was conducted with 3 replications and 4
treatments, ie 0 ppt, 5 ppt, 10 ppt, and 15 ppt.. The result showed that growth rate were from 0,7 –
2,9%, feed efficiency ranged from 30,99 – 61,05%, the survival rate ranged from 6,67 – 90 %
and fungal colonies decreased to range between 2,33 – 8,67. Temperatures ranged from 24,9
– 26,1°C, pH ranged from 8,3 – 9,0, DO ranged from 6,5 – 7,0 mg/l. Optimum salinity to
decrease Saprolegnia sp. in 15 ppt.
Keywords: tilapia fish, Saprolegnia sp., Saprolegniasis, Salinity
ABSTRAK
Kualitas air pada budidaya ikan adalah salah satu faktor yang paling penting yang
harus dijaga. Kualitas air yang tidak dijaga dengan baik dapat mengakibatkan peningkatan
pada prevalensi penyakit pada ikan. Salah satu penyakit yang mempengaruhi budidaya ikan
nila adalah saprolegniasis yang disebabkan oleh Saprolegnia sp.. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pertumbuhan jamur Saprolegnia sp. pada ikan nila (Oreochromis niloticus)
pada salinitas air yang berbeda serta untuk mengetahui tingkat salinitas optimum untuk
menghambat Saprolegnia sp.. Laju pertumbuhan, efisiensi pakan, kelangsungan hidup, koloni
jamur, suhu, pH, dan DO diukur. Penelitian dilakukan dengan 3 ulangan serta 4 perlakuan,
yaitu 0 ppt, 5 ppt, 10 ppt, dan 15 ppt. Diperoleh hasil bahwa laju pertumbuhan harian 0,7 –
2,9 %, efisiensi pakan berkisar antara 30,99 – 61,05 %, sintasan berkisar antara 6,67 – 90 %
serta koloni jamur mengalami penurunan hingga berkisar antara 2,33 – 8,67 koloni. Suhu
berkisar antara 24,9 – 26,1oC, pH berkisar 8,3 − 9,0, DO berkisar 6,5 – 7,0 mg/l. Salinitas
optimum untuk menurunkan Saprolegnia sp. di 15 ppt.
Kata kunci: ikan nila, Saprolegnia sp., Saprolegniasis, Salinitas
PENDAHULUAN
Potensi sumberdaya perikanan di
Indonesia cukup besar, baik sumberdaya
perikanan tangkap maupun budidaya.
Sumberdaya perikanan tersebut merupakan
salah satu aset nasional yang harus dikelola
dengan baik. Kemajuan pada bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi diharapkan
mampu
mendukung
pengelolaan
sumberdaya perikanan, sehingga dapat
meningkatkan kualitas dan kuantitas
produksi perikanan. Hal ini yang
menyebabkan Indonesia harus dapat
memaksimalkan
potensi
sumberdaya
perikanan yang ada, tidak hanya perikanan
tangkap namun juga perikanan budidaya.
Dalam budidaya ikan, penyakit ikan
dapat mengakibatkan kerugian ekonomis.
Karena penyakit dapat menyebabkan
kekerdilan, periode pemeliharaan lebih lama,
tingginya konversi pakan, tingkat padat
tebar yang rendah dan kematian. Sehingga
dapat mengakibatkan menurunnya atau
hilangnya
produksi.
Perkembangan
budidaya ikan masih sangat terkendala
dengan adanya serangan penyakit yang
menjadi salah satu faktor pembatas.
Ikan nila merupakan jenis ikan yang
diintroduksi dari luar negeri. Bibit ikan ini
didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh
Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada
tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian
dan adaptasi, ikan ini disebarluaskan kepada
petani di seluruh Indonesia (Suyanto, 2009).
Ikan nila termasuk golongan
organisme akuatik yang bersifat eurihaline.
Artinya, ikan nila mempunyai kemampuan
untuk hidup dan berkembang biak pada
media dengan kisaran salinitas antara 035‰. Ikan nila tidak dapat melakukan
proses reproduksi pada salinitas lebih dari
35‰. Pada kondisi salinitas media dengan
tingkat tekanan osmotik yang berada di luar
kisaran isosmotik, ikan nila akan melakukan
kerja osmotik untuk keperluan osmoregulasi.
Pada kondisi demikian, proses fisiologis
dalam tubuh ikan berjalan sempurna.
Termasuk dalam proses pertumbuhan dan
reproduksi (Darwisito, 2006).
Jamur atau fungi adalah tumbuhtumbuhan yang berbentuk satu sel atau
bentuk
benang
bercabang-cabang,
mempunyai dinding dari selulosa atau khitin
atau kedua-duanya mempunyai protoplasma
yang mengandung satu atau lebih inti, tidak
mempunyai khlorofil, berkembang biak
secara aseksual dan seksual (Hasyimi, 2010).
Jamur Saprolegnia sp. menyerang hampir
semua jenis ikan air tawar seperti gurame,
mas, tawes, nila, dan ikan hias, baik benih
maupun telur. Serangannya pada organ
tubuh bagian luar seperti kepala, tutup
insang, sirip, dan bagian tubuh luar lainnya.
Penyakit ini timbul akibat penanganan ikan
yang kurang baik. Kekurangan makanan,
suhu air rendah, oksigen rendah, kualitas
telur kurang baik, serta kepadatan telur yang
terlalu tinggi pun dapat menjadi sebab
terjadinya serangan (Arie, 2008).
Tujuan penelitian ini adalah: untuk
mengetahui pertumbuhan jamur Saprolegnia
sp. pada ikan nila (Oreochromis niloticus)
yang diberi perlakuan salinitas air berbeda
serta untuk mengetahui kadar salinitas yang
optimum untuk menanggulangi jamur
Saprolegnia sp.
BAHAN DAN METODE
Aklimatisasi Ikan
Ikan yang digunakan sebelumnya
diaklimatisasi terhadap
lingkungan dan
wadah baru berupa akuarium yang diisi air
sebanyak 20 liter selama 1 minggu,
kemudian dilakukan aklimasi terhadap kadar
salinitas air yaitu 5 ppt, 10 ppt dan 15 ppt
secara bertahap dengan penambahan 4 ppt
per hari dengan dilakukan pengukuran
salinitas setiap hari untuk memastikan
salinitasnya sesuai dengan yang dikehendaki.
Kemudian dilakukan pemeliharaan ikan
selama 1 minggu.
Infeksi Saprolegnia sp.
Miselia jamur Saprolegnia sp.
dipotong dan dibilas dengan akuades steril
tiga kali, kemudian diinokulasikan pada
1200 ml NaCl 0,9 % dan diinkubasi selama
24 jam pada suhu 30oC. Sebelum
penginfeksian jamur Saprolegnia sp. ikan
dilukai terlebih dahulu pada bagian
punggung dengan menggunakan pinset.
Kemudian kultur jamur Saprolegnia sp.
sebanyak 100 ml dengan jumlah zoospora
107 sel/ml, dimasukkan ke dalam air dengan
salinitas tertentu di dalam wadah yang telah
berisi ikan yang terluka. Selama penelitian
ikan diberi makan berupa pellet secara ad
libitum dengan frekuensi pemberian pakan 2
kali sehari yaitu pagi hari sekitar pukul
08.00-09.00 WIB dan sore hari pukul 16.0017.00 WIB, serta dilakukan penyifonan
untuk membersihkan akuarium setiap pagi
sebelum dilakukan pemberian makan.
Rancangan Penelitian
Perlakuan
salinitas
terhadap
serangan Saprolegnia sp. pada ikan nila
dengan menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yang
terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.
Dengan salinitas 0 ppt, 5 ppt, 10 ppt dan 15
ppt.
Peletakan
posisi
media
uji
menggunakan metode pengacakan yang
mengacu pada Gaspersz (1991).
Perlakuan A: Media air dengan salinitas 0
ppt (Kontrol)
Perlakuan B: Media air dengan salinitas 5
ppt
Perlakuan C: Media air dengan salinitas 10
ppt
Perlakuan D: Media air dengan salinitas 15
ppt
Parameter Pengamatan
1. Laju Pertumbuhan (Effendie, 1979):
t Wt
α= [√
− 1] ×100
Wo
Keterangan:
α = Laju pertumbuhan harian (%)
Wt = Bobot rata-rata ikan pada akhir
pemeliharaan (g)
Wo = Bobot rata-rata ikan pada awal
pemeliharaan (g)
T = Waktu pemeliharaan (hari)
2. Efisiensi Pakan (National Research
Council, 1983 diacu oleh Tyas, 2009):
{(Wt+D)-Wo}
EP=
×100%
F
Keterangan:
Wt= Bobot ikan rata-rata pada waktu t
(g)
Wo= Bobot rata-rata ikan pada awal
penebaran (g)
D = Bobot ikan mati selama
pemeliharaan (g)
F = Jumlah pakan yang diberikan (g)
3. Sintasan (Effendie, 1979):
Nt
SR(%)=
×100%
No
Keterangan:
SR= Tingkat Sintasan (%)
Nt = Jumlah benih pada akhir
pemeliharaan (ekor)
No= Jumlah awal benih yang dipelihara
(ekor)
4. Koloni Jamur Saprolegnia sp.
Koloni jamur Saprolegnia sp. dihitung
pada saat awal dan akhir penelitian
untuk
mengetahui
perbandingan
pertumbuhan koloni
dari jamur
Saprolegnia sp. tersebut. Koloni jamur
dihitung dengan mengambil sampel air
dari setiap media yang digunakan,
kemudian dibiakkan dan dihitung
berapa banyak koloni yang ada.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Infeksi Saprolegnia sp.
Infeksi jamur Saprolegnia sp. pada
ikan nila ditandai dengan terbentuknya hifa
berwarna putih seperti kapas pada bagian
tubuh ikan nila yang terluka. Ikan nila yang
terinfeksi dan isolat jamur Saprolegnia sp.
dapat dilihat pada Gambar 1.
a
b
Gambar 1. a. Ikan nila terkena Saprolegnia
sp., b. Isolat jamur Saprolegnia sp.
Laju Pertumbuhan Ikan Nila
Laju pertumbuhan harian ikan nila
tertinggi dimiliki oleh ikan nila pada
perlakuan 15 ppt sebesar 2,9 %, dan laju
pertumbuhan harian terendah dimiliki oleh
ikan nila pada perlakuan 0 ppt sebesar 0,7 %.
Perbandingan yang menunjukkan laju
Laju
Pertumbuhan
(%)
4
2
2.4
2.9
2.2
0.7
0
0 ppt
5 ppt 10 ppt
Perlakuan
15 ppt
Gambar 2. Laju Pertumbuhan Harian Ikan
Nila
Efisiensi Pakan Ikan Nila
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan dapat diperoleh efisiensi pakan
tertinggi terdapat pada perlakuan 5 ppt yaitu
sebesar 61,05 % dan terendah terdapat pada
perlakuan 0 ppt yaitu sebesar 30,99 %.
Perbandingan efisiensi pakan antara setiap
perlakuan dapat dilihat pada Gambar 3.
Efisiensi Pakan
(%)
Analisis Data
Data laju pertumbuhan, efisiensi
pakan dan sintasan yang diperoleh selama
penelitian akan dianalisa menggunakan
analisis sidik ragam (ANOVA). Apabila
terdapat perbedaan nyata maka akan
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil
(BNT), sedangkan data kualitas air dan
koloni jamur Saprolegnia sp. akan
ditampilkan dalam bentuk tabel.
100.00
50.00
61.05
54.28
30.99
39.98
0 ppt
5 ppt 10 ppt 15 ppt
Perlakuan
0.00
Gambar 3. Efisiensi Pakan Ikan Nila
Sintasan Ikan Nila
Hasil penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan sintasan terendah terdapat
pada perlakuan 0 ppt yaitu sebesar 6,67 %,
sedangkan sintasan tertinggi terdapat pada
perlakuan 10 ppt yaitu sebesar 90 %.
Perbandingan sintasan setiap perlakuan
dapat dilihat pada Gambar 4.
Sintasan (%)
5. Parameter Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diamati
adalah oksigen terlarut, salinitas,
temperatur dan pH. Pengukuran
salinitas dilakukan setiap hari dalam
waktu yang sama sehingga fluktuasi
salinitas dapat segera teratasi.
pertumbuhan ikan nila dapat dilihat pada
Gambar 2.
100.00
50.00
90.00
80.00
5 ppt 10 ppt
Perlakuan
15 ppt
70.00
6.67
0.00
0 ppt
Gambar 4. Sintasan Ikan Nila
Persentase
Penurunan
Koloni
Pengaruh Kadar Garam Terhadap
Jamur Saprolegnia sp.
Koloni jamur Saprolegnia sp.
diperoleh dengan menumbuhkan isolat
jamur Saprolegnia sp. dengan cara
mengambil sampel air media sebanyak 10
ml yang kemudian diencerkan hingga 10-3.
Sampel air media yang telah diencerkan
tersebut kemudian ditanam pada media PDA
selama 2 hari, kemudian koloni yang
tumbuh dihitung. Koloni jamur Saprolegnia
sp. memiliki jumlah rata- rata yang cukup
tinggi diawal penelitian yaitu berkisar antara
11.33-15 koloni, kemudian mengalami nilai
penurunan yang cukup signifikan pada akhir
penelitian yaitu berkisar antara 2,33-8,67
koloni. Isolat koloni jamur Saprolegnia sp.
serta perbandingan koloni ketika awal dan
akhir penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.
100.00%
53.45% 67%
27.75%
50.00%
79.43%
0.00%
0 ppt 5 ppt 10 ppt 15 ppt
Perlakuan
Gambar 5. Perbandingan koloni jamur
Saprolegnia sp.
Parameter Kualitas Air
Berdasarkan pengukuran parameter
kualitas air selama penelitian, maka
diperoleh hasil parameter kualitas air yang
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel Hasil Pengukuran Parameter Kualitas
Air
Parameter
pH
DO
suhu
Perlakuan (ppt)
0
8.8
6.3
25.4
5
8.3
6.9
24.9
10
8.3
6.5
24.9
15
9.0
6.0
26.1
Pembahasan
Infeksi Saprolegnia sp.
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan ikan yang terserang jamur
Saprolegnia sp. disebabkan luka yang dibuat
pada tubuh ikan dan faktor lingkungan.
Kondisi ini menyebabkan ikan mengalami
stress dan penurunan sistem imun. Hal ini
sesuai dengan Quiniuo dkk., (1998)
menyatakan bahwa serangan jamur dapat
memberikan pengaruh negatif terhadap
kondisi ikan dianggap bersifat oportunis,
menyerang ikan ketika ikan mengalami stres
atau sistem imun yang menurun karena
kondisi
lingkungan
yang
kurang
menguntungkan atau efek sekunder dari
infeksi bakteri dan virus atau ketika ikan
tersebut kehilangan perlindungan lendir
karena penanganan yang kurang baik.
Ikan nila yang terserang jamur
Saprolegnia sp. terlihat bergerak lambat dan
berenang tidak teratur serta pada bagian
tubuh yang luka terdapat hifa yang berwarna
putih. Sembiring (2012) menyatakan bahwa
pergerakan ikan juga cenderung melemah
dan hanya bergerak lambat di bagian pinggir
akuarium serta tidak seimbang. Ikan nila
yang terserang Saprolegnia sp. juga terlihat
mengalami penurunan nafsu makan,
memisahkan diri dari ikan yang lain,
berenang secara pasif, keseimbangannya
terganggu dan mengalami kerusakan pada
kulit dan sirip. Ikan yang sakit akan
menunjukkan gejala-gejala klinis seperti
menggosok-gosokan tubuhnya pada suatu
permukaan benda dan tidak mau makan
(Kordi, 2004).
Saprolegnia sp. memiliki hifa putih
bening dimana warna koloni atas dan bawah
berwarna putih bening. Pengamatan secara
mikroskopis dengan melakukan preparat
basah
menunjukkan
bahwa
pada
Saprolegnia sp. hifanya bercabang serta
pada bagian ujung terdapat zoosporangium
berwarna lebih gelap. Webster dan Weber
(2007) Saprolegnia sp. memiliki hifa yang
senositik, tidak bersekat, bercabang dan
pada ujung hifa terdapat zoosporangium
yang berisi zoospora. Zoospora ini
merupakan suatu alat reproduksi aseksual
yang bersifat motil, terdapat dua tipe
zoospora yaitu zoospora utama dan zoospora
pembantu dan yang akan berkembang
menjadi individu baru adalah zoospora yang
utama pada Saprolegnia sp..
Laju Pertumbuhan Ikan Nila
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan didapatkan hasil bahwa laju
pertumbuhan harian tertinggi benih ikan nila
terdapat pada salinitas 15 ppt, yaitu sebesar
2,9 %. Benih ikan nila pada media dengan
salinitas 15 ppt membutuhkan energi yang
lebih kecil untuk proses osmoregulasi,
sehingga energi yang digunakan untuk
pertumbuhan lebih besar. Stickney (1979)
menyatakan pada kondisi isoosmotik
kandungan ionik media mendekati kondisi
ionik darah ikan, sehingga energi untuk
kebutuhan osmoregulasi lebih kecil, serta
energi untuk pertumbuhan tersedia dalam
jumlah yang lebih besar. Jelas bahwa
peningkatan salinitas berperan terhadap
pemanfaatan energi pakan, karena lebih
banyak protein tersimpan (diretensi) dan
hanya sedikit yang terurai atau dimanfaatkan
untuk energi dalam mempertahankan
keseimbangan
garam-garam
tubuh
(homeostasi).
Laju pertumbuhan harian benih ikan
nila terendah terdapat pada media
bersalinitas 0 ppt. Selain dipengaruhi oleh
rendahnya sintasan pada salinitas 0 ppt, ini
juga dipengaruhi oleh rendahnya pakan yang
mampu dikonsumsi oleh benih ikan nila.
Menurut Brett (1971), jumlah pakan yang
mampu dikonsumsi ikan setiap harinya
merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi potensi ikan untuk tumbuh
secara maksimal. Perubahan yang terjadi
pada
proses
osmoregulasi
juga
menyebabkan peningkatan kebutuhan energi
ikan untuk beradaptasi dengan perubahan
lingkungan dan mengurangi alokasi energi
untuk pertumbuhan. Energi tersebut
digunakan untuk mengatur menjaga agar
osmoregulasi
1988).
berjalan
normal
(Halver,
Efisiensi Pakan Ikan Nila
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa benih
ikan nila pada media salinitas 5 ppt memiliki
tingkat persentase efisiensi pakan tertinggi
sebesar 61,05%. Tingginya efisiensi pakan
ikan nila pada media salinitas 5 ppt karena
ikan nila di media tersebut pada kondisi
hipoosmotik
sehingga
melakukan
osmoregulasi yang tinggi. Hal ini juga
berlaku saat kondisi ikan nila berada dalam
keadaan hiperosmotik. Dalam melakukan
osmoregulasi ikan nila membutuhkan energi
yang cukup banyak. Setyo (2006)
menyatakan bahwa
tingkat kebutuhan
energi bagi ikan yang melakukan
osmoregulasi sangat besar. Untuk memenuhi
kebutuhan akan energi tersebut ikan nila
mengkonsumsi pakan lebih banyak,
sehingga pakan yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan aktivitas osmoregulasi
dan pertumbuhan dapat terpenuhi secara
maksimal. Setiawati dan Suprayudi (2003)
menyatakan bahwa pemanfaatan energi
pakan pada ikan nila lebih menguntungkan
di media bersalinitas dan ikan ini dapat
tumbuh baik pada media bersalinitas 10-20
ppt. Hal ini yang menyebabkan benih ikan
nila pada media bersalinits 15 ppt berada di
posisi kedua yaitu sebesar 54,28%, sehingga
mempengaruhi laju pertumbuhan harian
yang dimilikinya. Dengan efisiensi pakan
yang cukup tinggi maka pemanfaatan energi
untuk pertumbuhan juga lebih tinggi.
Efisiensi pakan terendah terdapat
pada media bersalinitas 0 ppt sebesar
30,99%. Ini dapat diduga karena tekanan
osmotik media yang tidak seimbang dengan
tekanan osmotik benih ikan nila. Hal tesebut
sesuai dengan Rosdianasari (2013) yang
menyatakan bahwa tekanan osmotik
lingkungan perairan yang lebih rendah
dibandingkan dengan tekanan osmotik
cairan tubuh ikan, akibatnya ikan cenderung
banyak mengeluarkan energi untuk proses
osmoregulasi.
Saprolegniaceae yang termasuk ke dalam
Oomycetes yang merupakan patogen utama
pada ikan air tawar.
Sintasan Ikan Nila
Berdasarkan
hasil
perhitungan
persentase tingkat kelangsungan hidup benih
ikan nila selama penelitian, maka dapat
dijelaskan bahwa rata-rata kelangsungan
hidup benih ikan nila tertinggi didapatkan
pada salinitas 10 ppt. Ath-thar dan Rudhy
(2010) menyatakan bahwa larva ikan nila
dapat hidup dengan sintasan diatas 80 %
pada salinitas 0 hingga 15 ppt dan
disimpulkan bahwa larva dan benih ikan nila
dapat hidup dengan baik hingga salinitas 15
ppt. Sintasan ikan nila pada salinitas 15 ppt
juga tinggi yaitu sebesar 80%, diduga ini
disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. yang
tidak dapat tumbuh pada salinitas yang
tinggi. Sesuai dengan percobaan yang
dilakukan oleh Long dkk., (1977)
memperoleh
hasil
bahwa
dengan
penambahan salinitas air akan secara
dramatis meningkatkan kelangsungan hidup
ikan, serta dengan tingkat salinitas yang
semakin tinggi akan memberikan dampak
yang lebih cepat dan efektif terhadap
penanganan penyakit.
Tingkat
kelangsungan
hidup
terendah diperoleh pada salinitas 0 ppt,
dengan rata-rata ikan mati terinfeksi
Saprolegnia sp. sebesar 73,33 % dan ikan
mati tidak terinfeksi sebesar 20 % dari benih
ikan nila yang ada pada salinitas 0 ppt.
Rendahnya tingkat kelangsungan hidup
benih ikan nila pada salinitas 0 ppt diduga
akibat tingginya serangan Saprolegnia sp.
walaupun rata-rata koloni pada salinitas 0
ppt tidak terlalu tinggi. Hal ini dapat
diketahui dari tidak terlihat perbedaan nyata
antara rata-rata koloni awal dengan akhir
jamur Saprolegnia sp. pada salinitas 0 ppt.
Noga (1993) menyatakan bahwa infeksi
Saprolegniasis pada ikan paling sering
disebabkan oleh Saprolegnia sp. dari famili
Pengaruh Kadar Garam Terhadap
Jamur Saprolegnia sp.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
koloni jamur Saprolegnia sp. memiliki
koloni yang berwarna putih bening
(transparan), memiliki hifa putih bening,
hifa bercabang dan memiliki zoosporangium
dibagian ujungnya. Sembiring (2012)
mengamati bahwa Saprolegnia sp. memiliki
hifa putih bening berair/berlendir dengan
warna koloni atas dan bawah bewarna putih
bening. Saprolegnia sp. juga memiliki hifa
bercabang serta pada bagian ujung terdapat
zoosporangium berwarna lebih gelap yang
akan menghasilkan zoospora yang bersifat
motil.
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan dapat dilihat bahwa terjadi
penurunan koloni yang cukup signifikan
antara awal dan akhir penelitian. Terutama
terjadi pada media yang bersalinitas,
semakin tinggi tingkat salinitas semakin
rendah perkembangan koloni jamur tersebut.
Hal ini sesuai dengan Long dkk., (1977)
yang menyatakan bahwa selain untuk
mengurangi stres, air asin juga dapat
mencegah
penularan
penyakit
dan
pengobatan yang efektif untuk prozoa dan
jamur berbahaya.
Parameter Kualitas Air
Hasil kualitas air yang telah
diperoleh selama penelitian menunjukkan
bahwa tidak ada perbedaan yang terlalu
terlihat diantara setiap perlakuan sehingga
kualitas air yang ada tidak terlalu
memberikan dampak terhadap masingmasing perlakuan yang ada. Hasil
pengukuran kualitas air yang diperoleh
menunjukkan bahwa kualitas air yang ada
masih tergolong cukup optimal untuk ikan
nila. Hal ini sesuai dengan Pusat Penyuluhan
Kelautan dan Perikanan (2011) yang
menyatakan bahwa ikan nila membutuhkan
suhu antara 22-27oC, pH air antara 5-11
masih dapat ditoleransi ikan nila. pH
optimal untuk pertumbuhan ikan nila adalah
6,5-8,5 serta oksigen terlarut >3 ppt (SNI,
2012).
Hasil penelitian diketahui bahwa
jamur Saprolegnia sp. dapat menginfeksi
ikan pada media yang digunakan selama
penelitian yaitu 0 – 15 ppt. Hal ini
menunjukkan bahwa Saprolegnia sp. dapat
tumbuh diperairan tawar hingga perairan
payau. Walaupun pada media yang memiliki
salinitas
lebih
tinggi
pertumbuhan
Saprolegnia sp. terhambat. Noga (1993)
menyatakan bahwa infeksi jamur air yang
disebabkan oleh Oomycetes adalah yang
paling umum terjadi pada ikan air tawar
yang tersebar diseluruh dunia dan diakui
juga sebagai patogen pada ikan muara.
Kelas Oomycetes dibagi menjadi empat
ordo, tiga diantaranya dapat menginfeksi
ikan (Saprolegniales, Leptomitales, dan
Peronosporales). Patogen yang umum
menyerang ikan adalah dari famili
saprolegniaceae (Saprolegniales).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Jumlah jamur Saprolegnia sp.
mengalami penurunan yang cukup
signifikan, di awal penelitian ratarata koloni jamur berkisar antara
11,33 − 15 dengan koloni tertinggi
berada pada media dengan salinitas 5
ppt dan terendah pada media dengan
salinitas 15 ppt. Koloni jamur
mengalami penurunan hingga 2,33 −
8,67 dengan koloni tertinggi berada
pada media dengan salinitas 0 ppt
dan terendah pada media dengan
salinitas 15 ppt.
2. Salinitas yang optimum untuk
menanggulangi jamur Saprolegnia
sp. adalah 15 ppt dengan rendahnya
koloni jamur yang dapat hidup pada
salinitas tersebut. Selain itu, benih
ikan nila yang hidup pada media
dengan salinitas 15 ppt memiliki laju
pertumbuhan yang paling tinggi
sebesar 2,9%, efisiensi pakan yang
cukup baik yaitu 54,28% dan
sintasan sebesar 80%.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
tentang penanggulangan jamur Saprolegnia
sp. dengan menggunakan faktor kualitas air
yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
U.
2008.
Pembenihan
Dan
Pembesaran Nila Gift. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Ath-thar, M. H. F., dan R. Gustiano. 2010.
Performa Ikan Nila Best Dalam
Media Salinitas. Prosiding Forum
Inovasi
Teknologi
Akuakultur,
Bogor.
Brett, J. R. 1971. Satiation Time, Appetite
and Maximum Food Intake of
Socheye Salmon (Onchorhyncus
nerka). Journal Fish Canada, 28:
409-415.
Darwisito, S. 2006. Kinerja Reproduksi Ikan
Nila (Oreochromis niloticus) Yang
Mendapat Tambahan Minyak Ikan
dan Vitamin E Dalam Pakan Yang di
Pelihara Pada Salinitas Media
Berbeda. Sekolah Pascasarjana IPB,
Bogor.
Efendie, M. I. 1979. Metode Biologi
Perikanan. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan
Percobaan. Armico, Bandung.
Halver, J. E. 1989. Fish Nutrition. Academic
Press, Inc. California.
Hasyimi, M. 2010. Buku Pegangan
Mikrobiologi Parasitologi Untuk
Arie,
Mahasiswa Keperawatan. Trans Info
Media, Jakarta.
Kordi, H. K. M. G., 2004. Penanggulangan
Hama dan Penyakit Ikan. Rineka
Cipta dan Bina Adiaksara, Jakarta.
Long, C. W., J. R. McComas dan B. H.
Monk. 1977. Use of Salt (NaCl)
Water to Reduce Mortality of
Chinook
Salmon
Smolts,
Oncorhynchus tshawytscha, During
Handling and Hauling. Marine
Fisheries Review 39: 7.
Noga, E.J. 1993. Water Mold Infections of
Freshwater Fish: Recent Advances.
Annual Rev. of Fish Disease: 291304.
Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan.
2011.
Budidaya
Ikan
Nila
(Oreochromis niloticus). Jakarta.
Quiniou, S.M.A., S. Bigler dan L.W. Clem.
1998. Effect of Water Temperature
on Mucus Cell Distribution in
Channel Catfish: A Factor in Winter
Saprolegniasis.
Fish
Shellfish
Immunol. 8: 1-11.
Rosdianasari, S., M. B. Syakirin dan
Komariyah.
2013.
Perbedaan
Salinitas Media Terhadap Efisiensi
Pemanfaatan Pakan Benih Ikan Nila
Gift (Oreochromissp.). Universitas
Pekalongan, Pekalongan.
Sembiring, A. 2012. Kemampuan Bakteri
Antagonistik Dalam Menghambat
Infeksi Saprolegnia sp. pada Ikan
Nila
(Oreochromis
niloticus).
[Skripsi] USU.
Setiawati, M. dan M. A. Suprayudi. 2003.
Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan
Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.)
yang Dipelihara pada Media
Bersalinitas. Jurnal Akuakultur
Indonesia, 2(1): 27-30.
Setyo, B.P. 2006. Efek Konsentrasi
Kromium (Cr+3) dan Salinitas
Berbeda
Terhadap
Efisiensi
Pemanfaatan
Pakan
Untuk
Pertumbuhan
Ikan
Nila
(Oreochromis niloticus). [Tesis]
Universitas Diponegoro.
Standar Nasional Indonesia. 2012. Ikan Nila
(Oreochromis niloticus Bleeker)
Produksi Kelas Pembesaran di
Kolam Air Tenang. Medan.
Stickney, R.R. 1979. Principle of
Warmwater
Aquaculture.
John
Willey and Sons Inc., New York.
Suyanto, S. R. 2009. Nila. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Tyas, D. K. M. 2009. Penggunaan Meat and
Bone Meal (MBM) Sebagai Sumber
Protein Utama Dalam Pakan Untuk
Pembesaran Ikan Nila Oreochromis
niloticus. [Skripsi] IPB.
Webster, J. dan R. W. S. Weber. 2007.
Introduction to Fungi. Edisi ke-3.
Cambridge University Press, New
York.
Download