BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Al Qur`an Al Karim

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al Qur’an Al Karim ialah kitab Allah dan wahyu-Nya yang diturunkan
kepada hamba-Nya yang ummi, penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad SAW.
Ia adalah “jalan lurus” dan ikatan yang kuat yang telah diridhai Allah untuk para
hamba-Nya.
Allah memerintahkan para hamba-Nya itu agar melaksanakan perintahperintahnya, menerapkan hukum–hukumnya dan menjadikannya sebagai petunjuk
bagi orang-orang yang mencari bimbingan, penolong bagi orang yang meminta,
pertolongan dan cahaya bagi orang yang memerlukan kejelasan.1 Al Qur’an ialah
nama khusus bagi kalam Allah. Al Qur’an diperuntukkan bagi umat Islam yang
telah dipilih oleh Allah sebagai umat terbaik diantara umat lainnya. Al Qur’an
juga merupakan peraturan bagi umat dan sekaligus sebagai way of life yang kekal
hingga akhir zaman. Sedangkan kewajiban umat Islam adalah menaruh perhatian
terhadap Al Qur’an baik dengaan cara membacanya, menulis, menghafal, maupun
menafsirkannya.
Membaca Al Qur’an harus dilakukan dengan baik dan benar khususnya
dalam teknis membacanya. Ketepatan membaca tersebut diistilahkan dengan
tartil. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Muzammil ayat 4:
Ainur Rafiq Shalih Tamhid, Apa Itu Al Qur’an, terj. Imam As Suyuthi, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2002), hlm.15.
1
2


Artinya: “….Dan bacalah Al Qur’an itu dengan (bacaan) yang tartil”2.
Membaca Al Qur’an adalah wajib ain bagi umat Islam. Ini berarti bahwa
setiap orang Islam wajib membacanya tanpa kecuali, bahkan dalam menghafalnya
tidak boleh kurang dari jumlah mutawatir sehingga tidak akan mengalami
pemalsuan dan pengubahan3.
Hal ini adalah sama dalam hal mengajarkannya. Sebab mengajarkan AlQur’an juga wajib kifayah dan merupakan ibadah yang paling utama.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yaitu:
Artinya: “Orang yang paling baik diantara kamu ialah yang mempelajari
Al Qur’an dan mengajarkannya” (H.R. Bukhari)4.
Belajar membaca Al Qur’an pada hakekatnya juga sama dengan proses
belajar pada umumnya. Artinya harus ditunjang dengan berbagai unsur yang tidak
boleh dikesampingkan. Unsur yang penting dan harus dimiliki sebagai seorang
yang sedang menuntut ilmu ialah konsep belajar. Konsep belajar yang ideal dapat
digambarkan terdiri dari dua hal yaitu keteraturan belajar dan kedisiplinan
belajar5. Teratur artinya yaitu mengikuti semua aturan formal dan peraturan
Ainur Rafiq Shalih Tamhid, Apa Itu Al Qur’an, terj. Imam As Suyuthi, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2002), hlm.15.
3
Bambang Saiful Ma’arif, Teknik Menghafal Al Qur’an, terj. Abdurrab Nawabuddin,
(Bandung: Sinar Baru, Bandung, 2001), hlm. 19.
4
Zainuddin Hamidy, et. al., Terjemah Shahih Bukhari, (Jakarta: Wijaya, Jakarta, 2006),
hlm. 16.
5
Ibid., hlm. 2.
2
3
lainnya yang menunjang bagi proses dan keberhasilan belajar yang ditetapkan
oleh lembaga terkait.
Sedangkan disiplin belajar diartikan menjaga kestabilan belajar dari semua
hambatan, rintangan, dan menempatkan unsur belajar sebagai ujung tombak
pertama yang dijadikan sebagai pengisi kehidupannya sebagai seorang yang
sedang menuntut ilmu. Membaca Al Qur’an sebagai salah satu implementasi
praktis dalam menjaga dan melestarikan Al Qur’an telah banyak diupayakan oleh
umat muslim di Indonesia, khususnya di kabupaten Konawe- Selatan, termasuk
pula salah satunya adalah di SD Negeri 2 Lalembuu. Pengamatan pra-penelitian
yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa kemampuan membaca Al
Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe
Selatan masih kurang baik. Hal ini terbukti dengan rendahnya presentase hasil
belajar siswa yaitu 43% siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) pada mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam).
Dari hasil observasi diperoleh bahwa ada beberapa faktor yang
menyebabkan rendahnya nilai siswa yaitu: 1) minimnya motivasi siswa, 2)
kurangnya minat dan perhatian siswa, 3) kurang aktifnya siswa dalam
pembelajaran dan 4) kurangnya interaksi atau kerja kelompok antar siswa. Selain
itu, terdapat masalah-masalah yang berasal dari guru yaitu: 1) kurang
maksimalnya upaya guru untuk meningkatkan kemampun membaca Al Qur’an, 2)
penggunaan metode yang kurang tepat dan 3) kurangnya penggunaan media.
Masalah-masalah tersebut harus diatasi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
siswa yaitu salah satunya dengan menggunakan Metode Index Card Match.
4
Metode Index Card Match adalah salah satu strategi pembelajaran active
learning. Metode pembelajaran active learning ini merupakan sebuah kesatuan
sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif yang meliputi
berbagai cara untuk membuat anak didik aktif sejak awal melalui aktivitasaktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat
peserta didik berpikir tentang materi pelajaran6.
Tujuan pelaksanaan pembelajaran dengan Metode Index Card Match
adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus aktif,
mendorong anak didik berpikir kritis, memunculkan berbagai macam pertanyaan
yang kreatif sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep berpikir pada anak
didik tentang materi yang dipelajari, menggalang kerjasama dan kekompakan
anak didik dalam kelompok berpasangan, dapat mengembangkan kepemimpinan
anak didik, dan dapat membantu anak didik mengembangkan proses nalarnya7.
Penelitian ini selanjutnya akan membahas dan mengevaluasi kemampuan
membaca Al Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu Kec. Lalembuu Kab.
Konawe Selatan melalui pembelajaran dengan menggunakan metode Index Card
Match yang dilaksanakan dengan analisis Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
B. Identifikasi Masalah
Suatu penelitian ilmiah di dalamnya terdapat identifikasi masalah yang
digunakan peneliti sebagai arahan, dasar dan tendensi atas penelitian yang akan
6
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm.
79
7
Ibid., hlm. 83
5
dilakukan. Adapun identifikasi yang penulis maksudkan berkaitan dengan judul
diatas adalah sebagai berikut:
1. Guru kurang maksimal dalam meningkatkan kemampuan membaca Al
Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu.
2. Guru menggunakan metode yang kurang tepat dalam pembelajaran.
3. Guru kurang menggunakan media pembelajaran.
4. Siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran.
5. Siswa kurang termotivasi untuk belajar.
6. Siswa kurang berminat dan perhatian terhadap pembelajaran.
7. Siswa kurang berinteraksi.
C. Batasan Masalah
Untuk memperjelas tentang masalah yang akan dibahas dan dianalisa
dalam penelitian ini, maka penulis akan memberikan gambaran tentang batasan
batasan masalah. Adapun batasan-batasan tersebut yaitu: penerapan Metode Index
Card Match dalam meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an siswa kelas V
pada mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) SD Negeri 2 Lalembuu Kec.
Lalembuu Kab. Konawe Selatan.
D. Rumusan Masalah
Pokok permasalahan dalam penulisan skripsi ini yaitu: Bagaimanakah
meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2
6
Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan melalui Metode Index Card
Match?
E. Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran Index Card Match pada
materi menghafal surah-surah pendek di kelas V SD Negeri 2 Lalembuu mata
pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam).
F. Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan membaca
Al Qur’an terhadap materi menghafal surah-surah pendek pada mata pelajaran
PAI (Pendidikan Agama Islam) siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu Kec.
Lalembuu Kab. Konawe Selatan dapat ditingkatkan melalui metode pembelajaran
Index Card Match.
G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini hasilnya akan membawa manfaat baik secara teoritis maupun
secara praktis.
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis yang akan diperoleh antara lain:
a. Sebagai salah satu bahan informasi bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa
Fakultas Tarbiyah sebagai calon guru.
7
b. Sebagai bahan kontribusi dan pertimbangan pada penelitian-penelitian
berikutnya yang membahas tentang penerapan Metode Index Card Match
dan kemampuan membaca Al Qur’an anak.
c. Hasil penelitian ini akan memberikan masukan kepada Fakultas Tarbiyah
untuk menambah bahan pustaka.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis diantaranya adalah:
a. Memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat tentang upaya guru
sebagai peneliti dalam meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an
melalui Metode Index Card Match di SD Negeri 2 Lalembuu Kec.
Lalembuu Kab. Konawe Selatan.
b. Memberikan gambaran pemikiran kepada generasi muda sebagai calon
orang tua tentang upaya meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an
melalui metode yang tepat, salah satunya adalah Metode Index Card
Match.
H. Definisi Operasional
1. Kemampuan Membaca Al Qur’an adalah keahlian dalam melafalkan
huruf-huruf hijaiyah atau kalimat Al Qur’an dengan tajwid yang tepat.
2. Metode Index Card Match adalah salah satu pembelajaran active learning
yang menggunakan kartu berpasangan (yang terdiri dari soal dan jawaban)
yang dibagikan kepada siswa secara acak dan siswa mencari pasangannya
sesuai kartu soal dan jawaban yang mereka miliki.
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Membaca Al Qur’an
1. Pengertian Kemampuan Membaca Al Qur’an
Istilah kemampuan berarti “kecakapan, keahlian pada sesuatu”8. Adapun
istilah membaca memiliki arti “melafalkan sesuatu kalimat”9. Kemampuan
membaca Al Qur’an menurut Mas’ud Syafi’i, diartikan sebagai kemampuan
dalam melafalkan Al Qur’an dan membaguskan huruf atau kalimat-kalimat Al
Qur’an satu persatu dengan terang, teratur, perlahan dan tidak terburu-buru
bercampur aduk, sesuai dengan hukum tajwid.10
Berdasarkan pengertian tersebut, maka tingkat kemampuan membaca Al
Qur’an siswa oleh peneliti dapat diartikan sebagai kecakapan, keahlian melafalkan
Al Qur’an dan membaguskan huruf dan kalimat-kalimat Al Qur’an satu persatu
dengan terang, teratur, perlahan dan tidak terburu-buru bercampur aduk, sesuai
dengan hukum tajwid.
2. Perkembangan Kemampuan Membaca Al Qur’an
Pada dasarnya tingkat kemampuan membaca Al Qur’an siswa secara garis
besar mengalami perkembangan secara fluktuatif, baik dinamika positif maupun
8
WJS. Poerwadinata, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002),
hlm. 797.
9
Ibid., hlm. 677
A. Mas’ud Syafi’i, Pelajaran Tajwid, (Bandung: Putra Jaya, 2001), hlm. 3
10
9
degradasi negatifnya, oleh karena itu dinamika tingkat kemampuan membaca Al
Qur’an siswa dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu:
a. Dinamika tentang pengetahuan membaca Al Qur’an, yang meliputi
kemampuan mengenal, memahami dan membaca huruf.
b. Dinamika tentang sikap membaca Al Qur’an, yang meliputi sikap ketika
membaca Al Qur’an apakah dilakukan dengan serius atau tidak.
c. Dinamika tentang keterampilan membaca Al Qur’an, yang meliputi
keterampilan membaca huruf, membaca penggabungan huruf, kalimat dan
kelancaran membaca Al Qur’an.11
Kemampuan membaca Al Qur’an anak didik melalui penguasaan metode
membaca Al Qur’an yang dimiliki anak didik, akan memberikan jaminan kualitas
bagi anak didik, antara lain:
a. Anak didik mampu membaca Al Qur'an dengan tartil.
b. Anak didik mampu membenarkan bacaan Al Qur'an yang salah.
c. Ketuntasan belajar siswa secara individu 75 % dan secara kelompok 80 %12.
Namun demikian, dinamika kemampuan membaca Al Qur’an masingmasing anak didik tersebut secara umum dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
a. Kemampuan guru
b. Kemampuan siswa
c. Kondisi Lingkungan
d. Materi pelajaran
11
Moh. Zaini dan Moh. Rais Hat, Belajar Mudah Membaca Al Qur’an dan Tempat
Keluarnya Huruf, (Jakarta: Darul Ulum Press, 2003), hlm. 35
12
http://mohammad-riyandi.blogspot.com/2012/06/kemampuan-anak-membaca
alqur’an//.html
10
e. Metode dan alat pelajaran
f. Himmah atau keteguhan dari tujuan yang hendak dicapai.13
Secara umum kondisi tingkat kemampuan membaca Al Qur’an anak didik
secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu:
a. Pengetahuan membaca Al Qur’an, yang meliputi kemampuan mengenal,
memahami dan membaca huruf.
b. Sikap membaca Al Qur’an, yang meliputi sikap ketika membaca Al Qur’an
apakah dilakukan dengan serius atau tidak.
c. Keterampilan membaca Al Qur’an, yang meliputi keterampilan membaca
huruf, membaca penggabungan huruf, kalimat dan kelancaran membaca Al
Qur’an.14
Evaluasi untuk mengetahui tingkat kemampuan membaca Al Qur’an anak
didik sebagai bentuk dari sarana untuk memberikan penilaian kepada para siswa
atas proses belajar yang telah ditempuh memiliki tiga obyek yaitu ranah kognitif,
ranah afektif dan ranah psikomotor.15 Dalam menerapkan evaluasi tersebut, guru
sebagai evaluator dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar dituntut untuk
mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari segi
pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek
kognitif), maupun dari segi penghayatan (aspek afektif) dan pengamalannya
(aspek psikomotor). Ketiga aspek ini merupakan ranah kejiwaan yang sangat erat
sekali dan berkaitan sehingga ketiganya tidak mungkin lagi untuk dipisahkan dari
kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar itu sendiri.
13
Ibid., hlm. 36
Bambang Saiful Ma’arif, op.cit, hlm. 22.
15
Sofchah Sulistyowati, op.cit, hlm. 48
14
11
Sebagaimana dikatakan oleh Benjamin S. Bloom, bahwa taksonomi
(pengelompokan) tujuan pendidikan itu juga harus senantiasa mengacu pada tiga
jenis domain (daerah binaan atau daerah ranah) yang melekat pada diri peserta
didik, yaitu “ranah berpikir (cognitive domain), ranah nilai atau sikap (affective
domain), dan ranah keterampilan (psikomotor domain)”.16
Sebagaimana telah dikemukakan dimuka bahwa ranah dalam belajar ada
tiga aspek yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor, maka
ketiganya masing-masing akan diuraikan secara spesifik dalam pemaparan
berikut:
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).17
Kognitif ini juga dapat dikonsepsikan sebagai sikap, pilihan, atau strategi yang
secara stabil menentukan cara seseorang yang khas dalam menerima, mengingat,
berpikir dan memecahkan masalah.18
Sebagaimana dikatakan oleh Benjamin S. Bloom, bahwa segala yang
menyangkut masalah otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Masih
menurutnya, dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai
dari jenjang terendah sampai jenjang tertinggi. Keenam jenjang yang
dimaksudkannya ialah:
16
Ibid., hlm. 49.
Ibid., hlm. 48.
18
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,
2001), hlm. 160.
17
12
1) Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Dalam praktisnya, pada jenjang ini adalah mengacu kepada kemampuan
mengenal atau mengingat materi yang disampaikan oleh guru.
2) Pemahaman (comprehension)
Pemahaman (comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk
mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui atau diingat.19
3) Penerapan (aplication)
Penerapan (aplication) adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan
atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsipprinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan
konkret.20
4) Analisis (analysis)
Analisis (analysis) adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau
menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil
dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian atau faktor-faktor yang
satu dengan faktor-faktor lainnya.21
5) Sintesis (sinthesis)
Sistesis (synthesis) adalah kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan
dari proses berpikir analisis.
19
Anas Sudijono, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 50.
Ibid., hlm. 51.
21
Ibid., hlm. 51.
20
13
6) Penilaian (evaluation)
Penilaian/ penghargaan/ evaluasi (evaluation) adalah merupakan jenjang
berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif.
b. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ciri-ciri
hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku,
seperti perhatiannya terhadap mata pelajaran, kedisiplinannya dalam mengikuti
pelajaran di sekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai
pelajaran yang diterimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru, dan
sebagainya. Ranah afektif ini dapat ditaksonomi menjadi lebih rinci lagi kedalam
lima jenjang, yaitu:
1) Receiving
2) Responding
3) Valuing
4) Organization
5) Characterization by a value or value complex22.
c. Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill)
atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar
tertentu.23 Hasil belajar psikomotor ini merupakan kelanjutan dari hasil belajar
kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam
kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku). Pada ranah psikomotor,
22
http://etd.eprints.ums.ac.id/Cara-mambaca-alaquran//html.(diakses pada tanggal 14
Agustus 2013)
23
Ibid., hlm. 57.
14
terdapat lima kategori, yaitu: peniruan, manipulasi, ketetapan, artikulasi,
pengalamiahan.24
3. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Al Qur’an
Seseorang yang belajar membaca Al Qur’an memiliki kemampuan
berbeda-beda antara satu anak didik dengan anak didik yang lainnya. Kemampuan
belajar membaca Al Qur’an setiap anak didik tersebut dipengaruhi oleh berbagai
faktor baik yang bersifat internal maupun eksternal.25 Adapun faktor-faktor
tersebut yaitu:
i. Faktor-faktor yang berasal dari luar (eksternal) anak didik, diklasifikasikan
menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Faktor-Faktor Non Sosial
Faktor non sosial adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kemampuan dan keberhasilan belajar yang bukan berasal dari pengaruh manusia.
Faktor ini diantaranya adalah keadaan udara, cuaca, waktu (pagi hari, siang hari
atau malam hari), letak gedung, alat-alat yang dipakai dan sebagainya. Semua
faktor yang telah disebutkan diatas dan faktor lain yang belum disebutkan, harus
diatur sedemikian rupa sehingga dapat membantu dalam proses belajar.
2. Faktor-Faktor Sosial
Faktor sosial disini adalah faktor manusia atau semua manusia, baik
manusia itu ada atau hadir secara langsung maupun tidak langsung kehadiran
24
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 36.
Moh. Zaini dan Moh. Rais Hat, op.cit., hlm. 32
25
15
orang lain pada waktu sedang belajar sering kali mengganggu aktifitas belajar,
misalnya seseorang sedang belajar di kamar belajar, tetapi ada orang yang hilir
mudik keluar masuk kamar belajar itu, maka akan mengganggu belajarnya.
Kecuali kehadiran yang langsung seperti dikemukakan diatas, mungkin juga orang
itu hadir melalui radio, TV, tape recorder dan sebagaimana. Faktor-faktor yang
telah dikemukakan diatas, pada umumnya bersifat mengganggu proses belajar dari
prestasi belajar yang dicapainya.26
ii. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri (internal) anak didik, yang dapat
diklasifikasikan lagi menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Faktor-Faktor Fisiologis
Keadaan jasmani akan mempengarui proses belajar seseorang karena
keadaan jasmani yang optimal akan berbeda pengaruhnya bila dibandingkan
dengan keadaan jasmani yang lemah dan lelah. Kekurangan kadar makanan atau
kekurangan gizi makanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh fisik akan
mengakibatkan menurun, merosotnya kondisi jasmani. Hal ini menyebabkan
seseorang dalam kegiatan belajarnya akan cepat mengantuk, lesu, lekas lelah dan
secara keselurahan tidak adanya kegairahan untuk belajar.
2. Faktor-faktor Psikologis
Faktor psikologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejiawaan atau (psikis) seseorang. Termasuk faktor-faktor ini adalah: intelegensi,
bakat, minat, perhatian dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut harus diperhatikan
26
Ibid., hlm. 33
16
agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, karena intensif tidaknya
faktor-faktor psikologis tersebut akan mempengaruhi prestasi kemampuan siswa
dan prestasi hasil belajarnya. Masih ada faktor lain yang penting dan mendasar
yang ikut memberi kontribusi bagi keberhasilan siswa mencapai hasil belajar yang
baik. Faktor tersebut menurut Merson Sangalang terdiri dari kecerdasan, bakat,
minat, dan perhatian, motif, cara belajar, lingkungan keluarga, lingkungan
pergaulan, lingkungan sekolah dan sarana pendukung belajar.
Penggunaan metode membaca Al Qur’an yang diterapkan oleh ustadz atau
guru dan diikuti oleh siswa atau santri, dasarnya juga tergantung pada diri
seseorang tersebut baik pada guru maupun pada siswa. Hal ini dikarenakan hasil
yang akan diperoleh nantinya juga bergantung pada implementasi pembelajaran
Al Qur’an itu sendiri.
Usaha yang dilakukan pada pelaksanaan pembelajaran Al Qur’an
khususnya oleh guru di SD merupakan kunci utama dalam keberhasilan
pembelajaran tersebut. Sehingga apabila pembelajaran Al Qur’an oleh guru di SD
tersebut dilaksanakan dengan baik, niscaya akan memberikan hasil yang baik.
Namun sebaliknya apabila pembelajaran Al Qur’an oleh guru di SD dilaksanakan
dengan tidak baik atau kurang baik, niscaya hasilnya pun tidak baik atau kurang
baik pula. Mempelajari cara membaca Al Qur’an tidak hanya melalui satu tahapan
metode saja, namun juga didalamnya terdapat beberapa metode yang dilalui untuk
memahami dan memperlancar dalam pengucapan lafal pada Al Qur’an. Metode
membaca Al Qur’an pada dasarnya merupakan metode pembelajaran membaca Al
Qur’an yang dapat diterapkan secara teknis kepada siswa. Menurut pendapat
17
Kailany, metode-metode pembelajaran baca tulis Al-Qur'an telah banyak
berkembang di Indonesia. Sejak lama, hanya saja tiap-tiap metode dikembangkan
berdasarkan karakteristiknya. Metode apapun yang berkembang, masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Efektifitas, efisiensi, cepat mudahnya
sebuah metode pengajaran berbeda-beda di tiap daerah. Banyak faktor yang
mempengaruhinya.
Penggabungan beberapa metode pengajaran belum tentu membuahkan
hasil yang baik. Perlu konsistensi bagi pembina dalam menerapkan sebuah metode
apabila telah dipilih, sebab ganti-ganti metode akan menyebabkan kebingungan
bagi pembina, terlebih lagi bagi siswa. Seorang pengajar baca tulis Al Qur'an,
tidak serta merta mengadopsi metode yang baru dikenalnya, apalagi jika hanya
mendapatkan informasi saja tentang metode tersebut. Para pembina harus
melakukan kajian yang mendalam, sebelum menetapkan metode apa yang akan
dipakai dalam mengajarkan baca tulis Al Qur'an kepada siswanya. Beberapa
pertimbangan dalam pemilihan metode pengajaran antara lain:
a) Mudah dan murahnya mendapatkan pelatihan-pelatihan/pembelajaran bagi
para siswa.
b) Mudah dikuasai oleh mayoritas siswa/siswi
c) Siswa mudah dan murah mendapatkan buku panduan
d) Ustadz/guru mudah mengelolah pengajarannya kepada siswa.27
Jika beberapa metode lolos dengan pertimbangan di atas, maka ditentukan
pemilihan berdasarkan skala prioritas. Evaluasi untuk mengetahui tingkat
27
Ainur Rafiq Shalih Tamhid, Apa Itu Al Qur’an, terj. Imam As Suyuthi, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2002), hlm. 15.
18
kemampuan membaca Al Qur’an siswa sebagai bentuk dari sarana untuk
memberikan penilaian kepada para siswa atas proses belajar yang telah ditempuh
memiliki tiga obyek yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.28
Kemampuan membaca Al Qur’an yang dimiliki oleh anak setelah dilakukannya
penerapan metode membaca Al Qur’an merupakan hasil positif sekaligus efek
positif dari pelaksanaan metode membaca Al Qur’an tersebut. Sebab sebagaimana
diketahui bahwa Al Qur’an Al Karim ialah kitab Allah dan wahyu-Nya yang
diturunkan kepada hamba-Nya yang ummi, Muhammad saw. Ia adalah “jalan
lurus” dan ikatan yang kuat yang telah diridhai Allah untuk para hamba-Nya.
Allah memerintahkan para hamba-Nya agar melaksanakan perintah-perintahnya,
menerapkan hukum-hukumnya dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi orangorang yang mencari bimbingan, penolong bagi orang yang meminta pertolongan
dan cahaya bagi orang yang memerlukan kejelasan.
Sebagaimana diketahui pula bahwa Al Qur’an ialah nama khusus bagi
kalam Allah. Ia tidak diambil dari pecahan kata qira’ah, tetapi merupakan nama
bagi kitab Allah sebagaimana Taurat dan Injil. 29 Kitab Al Qur’an adalah sebaikbaik kitab diantara kitab yang diberikan kepada para Rasul-Nya. Sebab
keotentikannya mampu dipertahankan, dan cahayanya mampu menerangi alam
semesta. Al Qur’an diperuntukkan bagi umat Islam yang telah dipilih oleh Allah
sebagai umat terbaik diantara umat lainnya. Al Qur’an berfungsi sebagai penjelas
perkara dunia dan agama, sebagaimana firman Allah SWT. Dalam surat An Nahl
ayat 89 yaitu:
28
Ibid, hlm. 48
Abdullah Syafi’I, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag RI, 1985), hlm. 151.
29
19


Artinya: “...Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk
menjelaskan segala sesuatu...”30
Al Qur’an juga merupakan peraturan bagi umat dan sekaligus sebagai way
of life yang kekal hingga akhir zaman. Sedangkan kewajiban umat Islam adalah
menaruh perhatian terhadap Al Qur’an baik dengan cara membacanya,
menghafalkannya, maupun menafsirkannya. Dalam kitab Al Qur’an tidak
terkandung sedikit pun kebatilan, karena itu wajib bagi manusia untuk
menghormatinya, dan menjaga kelestariannya. Karena Allah telah menjaga
keutuhan dan kesuciannya, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al Hijr ayat

9 yaitu:

 
Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya...”31
Selain itu sikap khusyu’, tawadhu’ dan khudhu’ di depan firman Allah ini
adalah suatu bentuk moralitas apabila seseorang mengharapkan rahmat Allah
SWT. Melalui keberkahan Al Qur’an dan semata-mata takut akan kebesaran dan
Azab-Nya. Tidak lain hal ini juga dikarenakan bahwaAl Qur’an juga merupakan
Departemen Agama R.I, Alqur’an Dan Terjemahannya, (Jakarta: Duta Ilmu, 2005),
30
hlm. 302
31
Ibid., hlm. 330.
20
lambang yang kokoh dari Allah, sinarnya terang, mukjizatnya sempurna.
Sebagaimana tertera dalam surat Al Isra ayat 9:32

  

  
  

Artinya: “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada
(jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang
mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala
yang besar.”
Demikian pentingnya kemampuan membaca Al Qur’an khususnya bagi
siswa SD yang merupakan generasi awal dalam generasi manusia muslim. Sebab
pada hakekatnya kemampuan membaca Al Qur’an adalah wajib kifayah bagi umat
Islam. Ini berarti bahwa orang yang membacanya bahkan menghafalnya tidak
boleh kurang dari jumlah mutawatir sehingga tidak akan mengalami pemalsuan
dan pengubahan.33 Jika kewajiban ini telah dilaksanakan oleh sejumlah orang
(yang mencapai mutawatir) maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya.
Jika belum, maka berdosalah semua umat Islam. Hal ini adalah sama dalam hal
mengajarkannya. Sebab mengajarkan Al Qur’an adalah juga wajib kifayah dan
merupakan ibadah yang paling utama. Sebagaimana disebutkan dalam hadits
Rasulullah SAW yaitu:
32
Ibid., hlm. 173.
Bambang Saiful Ma’arif, op.cit, hlm. 19.
33
21
Artinya: “Orang yang paling baik diantara kamu ialah yang mempelajari
Al Qur’an dan mengajarkannya” (H.R. Bukhari).34
Pengajaran dan penerapan metode membaca Al Qur’an yang dilakukan
dengan dasar metode membaca Al Qur’an yang dilakukan oleh guru merupakan
suatu proses belajar dan pembelajaran yang disampaikan kepada siswa. Oleh
karena itu proses yang dilakukan pada hakekatnya juga sama dengan proses
belajar pada umumnya. Artinya harus ditunjang dengan berbagai faktor yang tidak
boleh dilupakan atau dikesampingkan, jika ingin mencapai hasil sebagaimana
yang diinginkan. Setidaknya keberhasilan belajar haruslah secara efektif yang
ditunjang dengan tujuh faktor yaitu: kecerdasan, motivasi, konsentrasi, kesehatan,
ambisi, lingkungan, menghindari sifat negatif dan efektifitas belajar itu sendiri35.
Unsur yang lebih penting lagi dan harus dimiliki sebagai seorang yang
sedang menuntut ilmu ialah konsep belajar. Idealitas yang terformat dengan
keharusan untuk dilakukan ini merupakan modal awal yang sangat besar artinya
dan pengaruhnya bagi proses, efektifitas dan hasil yang nantinya akan dicapai
oleh masing-masing individu. Konsep belajar yang ideal dapat digambarkan
terdiri dari dua hal yaitu: keteraturan belajar dan kedisiplinan belajar.36 Teratur
artinya yaitu mengikuti semua aturan formal dan peraturan lainnya yang
34
Zainuddin Hamidy, et.al.,Terjemah Shahih Bukhari, (Jakarta: Wijaya, 2006), hlm. 16.
Sofchah Sulistyowati, Cara Belajar Yang Efektif dan Efisien, (Pekalongan: Cinta Ilmu,
2001), hlm. 14
36
Ibid., hlm. 2.
35
22
menunjang bagi proses dan keberhasilan belajar yang ditetapkan oleh lembaga
terkait. Sedangkan disiplin belajar diartikan menjaga kestabilan belajar dari semua
hambatan, rintangan dan menempatkan unsur belajar sebagai ujung tombak
pertama yang dijadikan sebagai pengisi kehidupannya sebagai seorang yang
sedang menuntut ilmu.
B. Metode Index Card Match
1. Pengertian Metode Index Card Match
Pengertian tentang Metode Index Card Match dapat diartikan sebagai satu
strategi pembelajaran active learning. Metode pembelajaran active learning yang
merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang
komprehensif yang meliputi, berbagai cara untuk membuat anak didik aktif sejak
awal melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam
waktu singkat membuat peserta didik berpikir tentang materi pelajaran.37 Metode
Index Card Match atau dapat diterjemahkan sebagai suatu metode “mencari
pasangan kartu” merupakan salah satu metode pembelajaran yang cukup
menyenangkan digunakan untuk mengulangi materi pembelajaran yang telah
diberikan sebelumnya.38
Selain itu, Metode Index Card Match adalah sebuah metode atau cara
menyenangkan dan membuat siswa aktif dalam pembelajaran untuk meninjau
ulang materi pelajaran. Metode ini membolehkan siswa untuk berpasangan dan
37
Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 79
E . Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remajarosdakarya, 2007), hlm. 92.
38
23
memainkan kuis kepada kawan sekelas.39 Ahmad Fatah Yasin mengungkapkan
bahwa Metode Index Card Match (mencari pasangan jawaban) adalah suatu cara
yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk
menemukan jawaban yang cocok dengan pertanyaan yang sudah disiapkan.40
2. Penggunaan Metode Index Card Match
Guru mengajar anak didiknya adalah dalam rangka mendidik dan
mengajar melalui transformasi ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, sehingga
anak didik mengetahui dan memahami materi-materi pelajaran yang telah
disampaikan oleh guru. Sebab komunikasi yang baik dalam interaksi akan dapat
membuat aktivitas menjadi lebih menarik, sebagaimana yang dikatakan oleh J.
Brian Mcloughlin “The communications enable the various activities to interest”
41
(“Komunikasi dapat membuat aktivitas menjadi lebih menarik”). Terlebih lagi
pada materi Pendidikan Agama Islam, anak didik dituntut untuk benar-benar
memahami ilmu yang ada dalam agama Islam dan kemudian mengamalkannya
sebagai pedoman dalam hidup. Sehingga komunikasi yang baik dari guru agama
Islam melalui implementasi metode pengajar guru agama Islam tersebut dapat
membuat siswa lebih tertarik untuk belajar materi pelajaran Agama Islam.
Berkaitan dengan hal tersebut, Anis Kurniawan mengatakan bahwa:
“Islam is a faith that demands unconditional surrender to wisdom of Allah.It
involves total commitment to way of life, philosophy and law” (“Islam
39
Mel Silberman, Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject, (Boston: Allyn
and Bacon, 1996), hlm. 232.
40
Ahmad Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press,
2008), hlm. 184.
41
J.Brian Mcloghlin, Urban and Regional Planning A System Approach, (London:
Western Printing Servies Ltd, 1973), hlm. 78.
24
merupakan aturan yang mengharuskan pelaksanaan keputusan Allah. Hal
tersebut menyangkut keseluruhan komitmen pada jalan hidup, filosofi dan
hukum).”42
Pada sisi yang lain, guru harus memberikan materi pelajaran dengan
metode mengajar yang benar dan sesuai dengan kompetensinya. Sebab, perilaku
individu murid sangat dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian. Sedangkan
kepribadian tersebut bukanlah merupakan pembawaan, namun merupakan sesuatu
yang dipelajari dan terbentuk karena seseorang berinteraksi dengan orang lain.
Semakin luas dan berkualitas interaksi tersebut, pengalaman seseorang
akan semakin mantap membentuk kepribadian yang lebih rinci dan spesifik. Carl
Roger dalam teori phenomenologinya menyatakan:
Children learn to need the approval, or positive regard, of other. As a result,
evaluation by parent, teachers, and others begin to affect children’s self
evaluation. When evaluation by others agree with a child’s own evaluation, the
child’s genuine reaction mathces, or is congruent with, self-experience.43
Anak belajar untuk mendapatkan ijin, atau dianggap baik oleh orang lain.
Akibatnya penilaian oleh orang tua, guru dan yang lain mulai mempengaruhi anak
dalam menilai dirinya. Ketika penilaian oleh orang lain cocok dengan penilaian
anak, maka anak yang baik reaksinya sesuai atau sama dengan pengalaman
dirinya. Demikian pentingnya pelaksanaan metode mengajar, sebab mengajar
ialah “memberikan pengetahuan atau melatih kecakapan-kecakapan atau
keterampilan-keterampilan kepada anak-anak”.44 Oleh karena itu diperlukan
42
Anis Kurniawan, Introduction to The Enchanment of The Religious City of Demak With
Its Tourits Objects, Skripsi DIII AKABA Semarang, (Semarang: Presented of DIII AKABA,
2003), hlm. 6
43
Dauglas A. Bernstein and Peggy W. Nash, Essential of Psichology, (Boston USA:
Houghton Mifflin Company, 1999), hlm. 424.
44
Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001),
hlm. 150
25
metode mengajar yang baik dan benar dan sesuai dengan kompetensinya sehingga
metode mengajar tersebut digunakan secara tepat sesuai dengan nilai
fungsionalnya, dan hal tersebut sangat penting sekali bagi guru untuk mengetahui
dan memahami perihal metode mengajar yang tepat tersebut.
Adapun langkah-langkah penerapan Metode Index Card Match dalam
pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Buatlah potongan-potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada di dalam
kelas.
b. Bagilah kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama.
c. Pada separo bagian, tulis pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan.
Setiap kertas bersisi satu pertanyaan.
d. Pada separo kertas yang lain, tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
telah dibuat.
e. Kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.
f. Setiap siswa diberi satu kertas. Jelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang
dilakukan berpasangan. Separoh siswa akan mendapatkan soal dan separo
yang lain akan mendapatkan jawaban.
g. Mintalah kepada siswa untuk menemukan pasangan mereka. Jika ada yang
sudah menemukan pasangan, mintalah kepada mereka untuk duduk
berdekatan. Jelaskan juga agar mereka tidak memberitahu materi yang mereka
dapatkan kepada teman yang lain.
26
h. Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, mintalah
kepada setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang
diperoleh dengan keras kepada teman-temannya yang lain. Selanjutnya soal
tersebut dijawab oleh pasangannya.
i. Akhiri proses ini dengan membuat klarifikasi dan kesimpulan.45
Menurut Silberman langkah-langkah penggunaan Metode Index Card
Match yaitu:
a. Pada kartu index terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan
dalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang cukup untuk menyamai satu
setengah jumlah siswa.
b. Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan-pertanyaan
tersebut.
c. Campurlah dua lembar kartu dan kocok beberapa kali sampai benar-benar
tercampur.
d. Berikan satu kartu pada setiap peserta didik. Jelaskan bahwa ini adalah latihan
permainan. Sebagian memegang pertanyaan review dan sebagian yang lain
memegang jawaban.
e. Perintahkan peserta didik menemukan kartu mainannya. Ketika permainan
dibentuk, perintahkan peserta didik yang bermain untuk mencari tempat duduk
bersama (beritahu mereka jangan menyatakan kepada peserta didik lain apa
yang ada pada kartunya.
45
Sofchah Sulistyowati, op.cit.., hlm. 93
27
f. Ketika semua pasangan permainan telah menempati tempatnya, perintahkan
setiap pasangan menguji peserta didik kelas selebihnya dengan membaca
keras pertanyaannya dan menantang teman kelas untuk menginformasikan
jawaban kepadanya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan Metode Index Card
Match dalam pembelajaran Al Qur’an
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah
keluarga muslim semakin sepi dari bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. Hal ini
disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produksi dan tehnologi
serta derasnya arus budaya asing yang semakin menggeser minat untuk belajar
membaca Al Qur'an sehingga banyak anggota keluarga tidak bisa membaca Al
Qur'an.46
Akhirnya kebiasaan membaca Al Qur'an ini sudah mulai langka. Adapun
yang ada adalah suara-suara radio, TV, tape recorder, atau yang lainnya. Keadaan
seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum lagi masalah
akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin jauh dari
tuntunan Rasulullah SAW. Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua pihak
untuk mengatasinya yaitu mengembalikan kebiasaan membaca Al Qur'an di
rumah-rumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai
Islam, sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Bambang Saiful Ma’arif, op.cit., hlm.19.
46
28
Pada dekade belakangan ini telah banyak metode pengajaran baca tulis AlQur'an dikembangkan, begitu juga buku-buku panduannya telah banyak disusun
dan dicetak. Para pengajar baca tulis Al-Qur'an tinggal memilih metode yang
paling cocok baginya, paling efektif dan paling murah. Dunia pendidikan
mengakui bahwa suatu metode pengajaran senantiasa memiliki kekuatan dan
kelemahan. Keberhasilan suatu metode pengajaran sangat ditentukan oleh
beberapa hal, yaitu:
a. Kemampuan guru.
b. Siswa
c. Lingkungan.
d. Materi pelajaran.
e. Alat pelajaran.
f. Tujuan yang hendak dicapai.47
Dalam mengajarkan membaca Al Qur'an harus menggunakan metode.
Dengan menggunakan metode yang tepat akan menjamin tercapainya tingkat
keberhasilan yang lebih tinggi dan merata bagi siswa.
4. Kelebihan Dan Kekurangan Metode Index Card Match Dalam
Pembelajaran Al Qur’an
a. Kelebihan Metode Index Card Match dalam pembelajaran Al Qur’an
Pembelajaran dengan Metode Index Card Match merupakan suatu strategi
pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar aktif dan bertujuan agar siswa
47
Ibid., hlm. 27
29
mempunyai jiwa kemandirian dalam belajar serta menumbuhkan daya
kreatifitas48.
Pembelajaran
dengan
Metode
Index
Card
Match
dalam
pelaksanaannya memiliki unsur keunggulan atau kelebihan, diantaranya yaitu:
1) Pembelajaran dengan Metode Index Card Match dapat dijadikan sebagai
strategi alternatif yang dirasa lebih memahami karakteristik siswa.
Karakteristik yang dimaksudkan adalah bahwa siswa menyukai belajar sambil
bermain, maksudnya dalam proses belajar mengajar, guru harus bisa membuat
siswa merasa tertarik dan senang terhadap materi yang disampaikan sehingga
nantinya tujuan pembelajaran dapat dicapai.
2) Pembelajaran dengan Metode Index Card Match dapat diterapkan untuk
meningkatkan minat belajar siswa.
3) Pembelajaran dengan Metode Index Card Match dapat dipakai untuk
mengatasi kebosanan siswa pada mata pelajaran atau proses pembelajaran
yang dilaksanakan oleh guru dan siswa.
4) Sebagai model pembelajaran untuk mengaktifkan siswa dan guru selama
proses pembelajaran berlangsung.
5) Sebagai sarana untuk meningkatkan interaksi guru dan siswa sehingga
pembelajaran akan lebih berkualitas.
6) Sebagai sarana untuk yang tepat untuk mengulangi materi pembelajaran yang
telah diberikan sebelumnya49.
b. Kekurangan Metode Index Card Match
48
Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: Rasail
Media Group, 2008), hlm. 54
49
Ibid., hlm. 55
30
Metode ini berpotensi membuat siswa senang. Unsur permainan yang
terkandung
dalam
metode
ini
tentunya
membuat
pembelajaran
tidak
membosankan. Penjelasan aturan permaian perlu diberikan kepada siswa agar
metode ini menjadi lebih efektif. Metode ini sangat tepat untuk mengulangi materi
pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian dalam
pelaksanaannya, Metode Index Card Match memiliki kekurangan yaitu:
1) Penggunaan metode memerlukan manajemen waktu yang cukup lama
khususnya saat digunakan pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif
banyak.
2) Guru juga harus siap dengan soal yang bervariatif. Pembacaan soal dan
jawaban yang dilakukan oleh tiap-tiap pasangan jika jumlah siswa banyak
akan memakan waktu tidak sedikit, disamping itu berpotensi mengakibatkan
kebosanan pada siswa.
3) Metode ini terkendala dilakukan jika jumlah siap tidak genap. Namun
demikian dengan modifikasi dan menyesuaikan dengan kondisi siswa dan
materi pelajaran yang ada metode ini tetap merupakan metode aktif dalam
pembelajaran.
4) Metode
Index
Card
Match
memerlukan
keseriusan
guru
dalam
melaksanakannya. Sebab guru harus mengamati terus pembelajaran yang
tengah dilaksanakan mengingat pembelajarannya harus menyesuaikan kartu
secara berpasangan.50
50
Ibid., hlm. 57
31
C. Penelitian Yang Relevan
Kajian pustaka dalam penelitian ini akan memaparkan beberapa pemikiran
yang berkaitan dengan kemampuan membaca Al Qur’an dan Metode Index Card
Match. Oleh karena itu penulis berusaha untuk mengemukakan beberapa
penunjang pustaka sebagai bahan kajian teoritik dalam relevansi penelitian yang
dilakukan oleh penulis.
1) Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Mahfudi, mahasiswa Sekolah
Tinggi Ilmu Agama Islam Wali Sembilan (STIAWS) Semarang, Jurusan
Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam. Dalam penelitiannya yang
berjudul “Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al
Qur’an Siswa MI Riyadlotusubban Gebanggarum Bonang Demak”, Ia
mengemukakan tentang teori-teori untuk
meningkatkan kemampuan
membaca Al Qur’an yang telah dirangkainya secara konklusif. Menurut
Muhamad Mahfudhi, keberhasilan belajar baca tulis Al Qur’an siswa MI
Riadhotussuban Gebangarum Bonang Demak , dapat ditunjang oleh metode
pembelajaran aktif yang dijalankan di sekolah tersebut. Dalam pemikirannnya
tersebut, Ia juga mengemukakan tentang landasan teori metode pembelajaran
aktif, syarat-syarat pemakaian metode pembelajaran aktif, kelebihan dan
kekurangan metode pembelajaran aktif. Kemudian Ia menyimpulkan bahwa
kemampuan baca tulis Al Qur’an dapat ditunjang dengan melaksanakan
pembelajaran aktif kepada siswa.
2) Kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khafidz, mahasiswa
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Jurusan Tarbiyah,
32
Program Studi Pendidikan Agama Islam. Dalam penelitiannya yang berjudul
“Peningkatan Kemampuan Membaca Al Qur’an Siswa MI Miftahussalam
Wonosalam Demak dengan Menggunakan Pembelajaran Active Learning”, Ia
mengemukakan tentang teori-teori membaca Al Qur’an dan teori-teori active
learning yang dijadikan sebagai metode pendidikan Islam disekolah. Menurut
Muhamad Khafidz, kemampuan membaca Al Qur’an siswa dapat ditingkatkan
secara dinamis melalui penggunaan pembelajaran active learning yang
diterapkan
kepada
siswa.
Dalam
pemikirannnya
tersebut,
Ia
juga
mengemukakan tentang teori-teori pengunaan metode active learning.
Kemudian ia menyimpulkan bahwa metode active learning yang diterapkan
dengan sungguh-sungguh maka dapat mewujudkan peningkatan kemampuan
membaca Al Qur’an siswa secara maksimal. Selain itu metode tersebut
merupakan suatu alat pendidikan yang tidak dapat dipisahkan oleh karena
keduanya menumbuhkan hubungan simbiosis yang berkelanjutan, yaitu active
learning dapat dipakai untuk membuat siswa tidak bosan dan semakin
meningkat motivasi belajarnya.
3) Ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Yunus Anis,
mahasiswa Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, Jurusan
Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam. Dalam penelitiannya yang
berjudul “Korelasi Pelaksanaan Metode Index Card Match dengan
Kemampuan Baca Tulis Al Qur’an Siswa MI Miftahul Huda II Turirejo
Demak, Ia mengemukakan tentang teori-teori yang berkaitan dengan metode
Index
Card
Match
yang
dilaksanakan
secara
implementatif
untuk
33
meningkatkan kemampuan baca tulis Al Qur’an siswa. Menurut Muhammad
Yunus Anis, pembelajaran baca tulis Al Qur’an yang dilaksanakan dengan
Metode Index Card Match dapat meningkatkan kemampuan baca tulis Al
Qur’an siswa di MI Miftahul Huda 11 Tunerjo Demak. Dalam pemikirannnya
tersebut, Ia juga mengemukakan tentang teori-teori tentang Metode Index
Card Match seperti teknis penggunaan Metode Index Card Match maupun
karakteristik Metode Index Card Match. Selanjutnya Kunarso juga
berpendapat bahwa alat-alat pendidikan tidak hanya metode klasik saja,
melainkan juga pembelajaran aktif khususnya yang menggunakan Metode
Index Card Match. Menurutnya Metode Index Card Match yang dilakukan
oleh guru juga harus disertai dengan pengawasan sekaligus secara bersamaan.
Berdasarkan kajian teoritik yang dikemukakan oleh beberapa peneliti
sebagaimana yang telah disebutkan diatas, selanjutnya dalam penelitian ini
penulis mencoba meneliti tentang Meningkatkan Kemampuan Membaca Al
Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe
Selatan Melalui Metode Index Card Match.
D. Kerangka Berpikir
Kemampuan membaca Al Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu
Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan dalam pra-penelitian yang dilakukan oleh
peneliti menunjukkan adanya indikasi bahwa sebagian anak belum dapat
menunjukkan kemampuann membaca Al Qur’an, dan hanya sebagian anak yang
dapat menunjukkan kemampuan membaca Al Qur’an meskipun dalam bentuk
34
membaca Al Qur’an sederhana. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengadakan
penelitian berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam rangka mengupayakan
dan meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an melalui Metode Index Card
Match siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe
Selatan .
Menurut pandangan peneliti, kemampuan membaca Al Qur’an siswa kelas
V SD Negeri 2 Lalembuu dapat ditingkatkan melalui Metode Index Card Match,
sehingga kemampuan membaca Al Qur’an anak didik menjadi berkembang sesuai
dengan tujuan pembelajaran membaca Al Qur’an dan bahkan kemampuan baca
tulis Al Qur’an anak didik dapat menjadi lebih baik dan lebih dinamis. Berikut
skema kerangka pikir dari penelitian ini yaitu:
Skema Kerangka Pikir:
Kegiatan pembelajaran Al qur’an
Guru
Peserta Didik
1. Penggunaan media yang kurang
2. Penggunaan metode yang kurang tepat
3. Kurang maksimal dalam mengajar
1.
2.
3.
4.
Minat dan perhatian belajar rendah
Motivasi siswa rendah
Interaksi antar siswa kurang
Kurang aktif
INDEKS CARD MATCH
Pembelajaran menjadi lebih menarik,
bervariasi dan menyenangkan
Peserta didik lebih aktif, antusias,
dan memahami pembelajaran
Hasil Belajar meningkat
35
Gambar 1. Kerangka Berfikir
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karakteristik
yang khas dari penelitian tindakan kelas yakni tindakan-tindakan (aksi) yang
berulang-ulang untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas.
Seperti yang diungkapkan oleh Suyadi, Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
adalah:
Kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara atau aturan
metodologi tertentu untuk menemukan data akurat tentang hal-hal yang dapat
meningkatkan mutu objek yang diamati. Sedangkan tindakan adalah suatu
gerakan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana dengan tujuan tertentu
biasa dikenal dengan istilah siklus dan kelas adalah tempat dimana terdapat
sekelompok peserta didik yang dalam waktu bersamaan menerima pelajaran
dari guru yang sama.51
Dari pengertian di atas penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan
perencanaan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja
dilakukan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.
51
Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan Kelas, (Yogjakarta: Diva Press, 2010), hlm. 18
36
B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan oleh peneliti untuk melakukan penelitian tindakan
kelas dalam rangka melaksanakan perbaikan dalam peningkatan kemampuan
membaca Al Qur’an melalui Metode Index Card Match di kelas V SD Negeri 2
Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan kurang lebih selama 2 bulan,
dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni Tahun 2013.
2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah di SD Negeri 2
Lalembuu Kec. Lalembuu Kab.Konawe Selatan khususnya kelas V.
C. Subjek Penelitian
Mengingat penulisan yang dilakukan penulis adalah penulisan kualitatif,
maka lingkungan alamiah adalah sebagai sumber data langsung, dengan prespektif
peristiwa-peristiwa (sosial dan pendidikan) yang merupakan kajian utamanya.
Dalam hal ini yang dijadikan sebagai subjek penelitian adalah siswa di kelas V SD
Negeri 2 Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan Tahun Ajaran
2012/2013 yang seluruhnya ada 28 siswa (15 laki-laki dan 13 perempuan).
D. Faktor-Faktor Yang Diselidiki
Untuk lebih memudahkan dalam pemecahan masalah, ada beberapa faktor
yang akan diselidiki, antara lain:
37
a. Guru, yaitu akan dilakukan pemantauan dan memperhatikan guru dalam
menyajikan materi pelajaran dengan menerapkan Metode Index Card Match.
b. Siswa, yaitu akan dilakukan pemantauan dengan memperhatikan sikap dan
peningkatan pemahaman materi PAI dengan menggunakan Metode Index
Card Match.
D. Prosedur Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang meneliti tentang meningkatkan
kemampuan membaca Al Qur’an melalui Metode Index Card Match di kelas V
SD Negeri 2 Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan akan dilaksanakan
dengan 2 siklus. Langkah-langkah dalam penelitian PTK terdiri dari: perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, dan refleksi.52 Adapun langkah
penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada penelitian ini dilakukan dengan
desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut:
a. Perencanaan
1. Merancang
pembelajaran
dengan
menyusun
rencana
pelaksanaan
pembelajaran.
2. Mempertimbangkan dan menetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam
pembelajaran.
3. Mencari teman sejawat untuk membantu mengamati proses pembelajaran.
4. Merancang lembar observasi terhadap kegiatan guru dan murid selama
proses belajar berlangsung.
5. Menyiapkan sumber belajar berupa materi.
David Hopkins, A Teacher’s Guide to Classroom Research, (Philadelphia: Open
University Press, 1993), hlm. 32.
52
38
6. Menyiapkan kartu (Index Card).
7. Menyusun tes siklus I.
b. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahapan ini adalah melaksanakan
skenario pembelajaran berdasarkan skenario pembelajaran pada RPP. Kegiatan
pembelajaran diawali dengan pembukaan yang dilakukan guru dengan
mengucapkan salam dan apersepsi untuk memberikan motivasi kepada murid
kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai agar murid
memiliki gambaran tentang pengetahuan yang akan diperoleh setelah proses
pembelajaran.
Setelah
melaksanakan
kegiatan
pendahuluan
selanjutnya
melakukan kegiatan inti dan diakhiri dengan kegiatan penutup.
c. Observasi dan Evaluasi
Kegiatan observasi ini dilaksanakan untuk mendapatkan informasi
bagaimana kemampuan guru dalam membimbing dan memfasilitasi siswa dalam
kegiatan proses pembelajaran. Observasi dilakukan oleh teman sejawat (observer)
dengan menggunakan lembar observasi berupa pengamatan aktivitas siswa dan
aktivitas guru selama kegiatan pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mendapat
informasi sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
d. Refleksi
39
Hasil yang diperoleh setelah pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi.
Peneliti bersama pengamat menganalisis hasil tindakan sebagai bahan
pertimbangan apakah pemberian tindakan yang dilakukan perlu diulangi atau
tidak. Jika perlu diulangi, maka peneliti menyusun kembali rencana (revisi) untuk
siklus berikutnya.
Skema Prosedur Penelitian
Permasalah
an
Perencanaan
Tindakan I
Pelaksanaan
Tindakan I
Siklus I
Refleksi I
Pengamatan/
Pengumpulan Data
I
Perencanaan
Tindakan II
Pelaksanaan
Tindakan II
Refleksi II
Pengamatan/
Pengumpulan Data
II
Permasalahan
baru dari hasil
refleksi I
Siklus II
Apabila
permasalahan belum
terselesaikan
Dilanjutkan ke siklus
selanjutnya
40
Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan Kelas
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Observasi
Metode observasi ialah “pengamatan dan pencatatan secara sistematik
terhadap gejala yang tampak pada obyek penulisan”.53 Metode ini digunakan
penulis untuk mendapatkan data tentang upaya meningkatkan kemampuan
membaca Al Qur’an melalui Metode Index Card Match di kelas V SD Negeri 2
Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013,
yaitu dengan cara penulis ikut berpartisipasi langsung dalam mengamati dan
mencatat materi yang diteliti di tempat penulisan tersebut.
2. Dokumentasi
Metode dokumentasi ialah metode yang digunakan penulis untuk
menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen,
peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya. 54 Metode
53
Ibid., hlm. 158
Ibid., hlm. 159
54
41
dokumentasi ini digunakan oleh penulis untuk mendukung Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang dilakukan oleh peneliti dalam upaya meningkatkan kemampuan
membaca Al Qur’an melalui Metode Index Card Match di kelas V SD Negeri 2
Lalembuu Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013.
3. Tes
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang hasil
belajar yang telah dicapai oleh murid.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan yaitu setelah semua data
terkumpul selanjutnya data-data tersebut dianalisis. Kemudian untuk mengadakan
penarikan kesimpulan dari suatu penulisan, harus berdasar pada hasil pengolahan
dan harus selaras dengan jenis data-data yang ada. Penelitian ini menggunakan
data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi
aktivitas guru dan sikap siswa dalam proses pembelajaran yang diukur dengan
lembar observasi dianalisis menggunakan kategori yaitu:
1. Kategori aktivitas guru:
Kategori baik sekali
(4)
: 11-14 aktivitas terlaksana
Kategori baik
(3)
: 8-10 aktivitas terlaksana
Kategori cukup
(2)
: 4-7 aktivitas terlaksana
Kategori kurang
(1)
: 1-3 aktivitas terlaksana
42
2. Kategori aktivitas siswa
Baik sekali
(4)
: 6-7 aktivitas terlaksana
Baik
(3)
: 4-5 aktivitas terlaksana
Cukup
(2)
: 2-4 aktivitas terlaksana
Kurang
(1)
: 1 aktivitas terlaksana
Sedangkan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil belajar siswa pada
setiap tes akhir siklus dianalisis menggunakan:
∑ 𝑠𝑘𝑜𝑟
Mean atau Nilai Rata-Rata = ∑ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎x 100%
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar =
∑ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑗𝑎𝑟
∑ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
x 100%
G. Indikator Keberhasilan
Indikator kinerja keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri atas
indikator keterlaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar
murid pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Rencana pelaksanaan
pembelajaran dikatakan berhasil apabila skenario pembelajaran terlaksana dengan
baik sekali atau baik. Kategori baik sekali jika 11-14 aktivitas atau kategori baik
jika 8-10 aktivitas guru pada lembar observasi guru terlaksana. Sedangkan
kategori baik sekali jika 6-7 aspek atau kategori baik jika 4-5 aspek sikap siswa
pada lembar observasi siswa terlaksana. Indikator keberhasilan hasil belajar siswa
apabila telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal minimal 80%. Dan
seorang murid dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar secara individu
43
apabila murid tersebut memperoleh skor minimal 7555 sesuai dengan KKM yang
ditetapkan oleh sekolah.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil SD Negeri 2 Lalembuu
1. Sejarah Berdiri dan Perkembangannya
SD Negeri 2 Lalembuu awalnya adalah SD Negeri Sukamukti yang
berkecamatan Tinanggea. Karena pemekaran wilayah, kecamatannya dipindahkan
ke Lalembuu. Pada tahun 1981, pemerintah mentransmigrasikan penduduk jawa
ke banyak tempat khususnya Sukamukti tetapi pada saat itu belum ada tempat
belajar mengajar atau sekolah di desa ini sehingga anak-anak yang seharusnya
belajar tidak mempunyai kegiatan. Melihat hal tersebut, masyarakat di desa ini
mengadakan musyawarah tentang layanan pendidikan bagi anak-anak. Hasil
musyawarah memutuskan untuk sementara sekolah akan didirikan dengan sarana
dan prasarana seadanya: sekolah beratapkan karoro dan berlantai tanah, berada di
tengah-tengah lapangan, siswa membawa meja dan kursi sendiri. Keadaan ini
berlangsung agak lama.
55
Moh. Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 64.
44
Setelah beberapa bulan sekolah ini mendapatkan bantuan berupa gedung
sekolah. Sambil menunggu pembangunan gedung sekolah, proses belajar
mengajar tetap berjalan sehingga SD Negeri 2 Lalembuu berdiri pada tahun 1981.
Sejak berdirinya sampai saat ini SD Negeri 2 Lalembuu telah mengalami
pengalihan pejabat struktural atau kepala sekolah sebanyak enam (6) kali. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini:
Tabel 1 Kepala Sekolah yang menjabat di SD Negeri 2 Lalembuu sejak awal
berdirinya sampai sekarang
No. Nama Kepala Sekolah
L/P
Masa Tugas
Ket.
1
Nursiah Selondae
P
1981-1990
9 tahun
2
Parno
L
1990-1995
5 tahun
3
Sriyanto
L
1995-1999
4 tahun
4
Nana Diana
L
1999-2005
6 tahun
5
Prayitno
L
2005-2009
5 tahun
6
Sumanto
L
2009-sekarang
…………
Sumber Data: Kantor SD Negeri 2 Lalembuu
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sejak awal berdirinya sampai
sekarang telah mengalami pergantian kepala sekolah sebanyak 6 kali. Nursiah
Selondae merupakan kepala sekolah pertama di SD ini, beliau menjabat selama 9
tahun yaitu dari tahun 1981 sampai 1990. Kemudian pada tahun 1990 terdapat
pergantian kepala sekolah, Parno adalah kepala sekolah kedua setelah Nursiah
yang menjabat selama 5 tahun sampai tahun 1995.
Kepala sekolah ketiga adalah Sriyanto yang menjabat pada tahun 1995
sampai 1999 dengan masa jabatan 4 tahun. Nana Diana menggantikan Sriyanto
45
sebagai kepala sekolah pada tahun 1999 sampai 2005, beliau menjabat selama 6
tahun. Pada tahun 2005, Prayitno menjabat kepala sekolah menggantikan Nana
Diana sampai tahun 2009 dengan masa jabatan 5 tahun. Kepala sekolah
selanjutnya yaitu Sumanto yang menjabat dari tahun 2009 sampai sekarang
dengan masa jabatan 3 tahun sampai saat ini. Jadi, sekolah SD Negeri 2 Lelembuu
telah berdiri selama 32 tahun dengan pergantian kepala sekolah sebanyak 6 kali.
2. Keadaan Guru dan Siswa
a. Keadaan Guru
Guru yang menjalankan kegiatan pembelajaran di SD 2 Lalembuu adalah
9 orang yang terdiri dari guru PNS dan Honorer. Guru yang berstatus PNS
berjumlah 4 orang sedangkan 5 orang berstatus Honda (Honorer Daerah). Lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2 Daftar Guru SD Negeri 2 Lalembuu
No.
Nama Guru
Jabatan/Tugas
Pendidikan
1
Sumanto, A.Ma.Pd
Kepala Sekolah
D.II
2
Imam Romdoni, S.Pd.SD
Guru Kelas VI
S1
3
Eka Ririf .F, S.Pd.SD
Guru Kelas V
S1
4
Prayitno
Guru Kelas IV
SPG
5
Heni Suhaini, S.Pd.SD
Guru Kelas III
S1
6
I’ Anatul Muawanah, S.Pd.SD
Guru Kelas II
S1
7
Sulawati, S.Pd.SD
Guru Kelas I
S1
8
Junaidah, A.Ma
Guru Agama
D.II
9
Yayan Rianto, S.Pd
Guru Penjaskes
S1
Sumber Data: Kantor SD Negeri 2 Lalembuu
46
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa terdapat 9 guru yang menjalankan
pembelajaran di sekolah SD Negeri 2 Lalembuu yang terdiri dari 1 kepala sekolah
yaitu Sumanto dan 8 guru diantaranya Imam Romdoni, Eka Ririf .F, Prayitno,
Heni Suhaini, I’ Anatul Muawanah, Sulawati, Junaidah, dan Yayan Rianto. Selain
itu, 4 guru berstatus PNS yaitu Sumanto, Prayitno, Junaidah, dan Imam Romdoni
dan 5 guru Honda yaitu Eka Ririf.F, Heni Suhaini, I’ Anatul Muawanah, Sulawati,
dan Yayan Rianto.
b. Keadaan Siswa
Siswa SD Negeri 2 Lalembuu saat ini berjumlah 185 siswa dengan rincian
laki-laki berjumlah 91 siswa dan perempuan 94 siswa. Kelas I berjumlah 23, kelas
II berjumlah 39, kelas III berjumlah 35, kelas IV berjumlah 36, kelas V bejumlah
28, dan kelas VI berjumlah 23. Rinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3 Daftar Siswa SD Negeri 2 Lalembuu
Kelas
Rombongan
Tahun Pelajaran 2012/2013
Belajar
L
P
Jumlah
I
1
12
11
23
II
2 (A & B)
19
20
39
III
1
17
18
35
IV
1
17
19
36
V
1
15
13
28
VI
1
11
13
24
Jumlah
7
91
94
185
Sumber Data: Kantor SD Negeri 2 Lalembuu
47
Dari tabel di atas dapat diketahui penyebaran pada setiap kelas atau
tingkatan, kelas I: laki-laki berjumlah 12 dan perempuan 11 orang sehingga
seluruhnya berjumlah 23 orang, kelas II: laki-laki berjumlah 19 dan perempuan
berjumlah 20 sehingga jumlah seluruhnya 39 orang, kelas III: laki-laki berjumlah
17 dan perempuan 18 sehingga jumlah seluruhnya 35 orang, kelas IV: laki-laki
berjumlah 17 dan perempuan berjumlah 19 sehingga jumlah keseluruhan 36
orang, kelas V: laki-laki berjumlah 15 dan perempuan berjumlah 13 sehingga
jumlah keseluruhannya 28 orang, dan kelas VI: laki-laki berjumlah 11 dan
perempuan berjumlah 13 sehingga jumlah seluruhnya 24 orang.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana di sekolah SD Negeri 2 Lalembuu masih kurang.
Sehingga perlu ditingkatkan dan dikembangkan pengadaan dan penyediaan sarana
dan prasarana di sekolah ini sesuai perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK). Sarana dan prasarana di sekolah SD Negeri 2 Lalembuu
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4 Sarana dan Prasarana di SD Negeri 2 Lalembuu
No.
Sarana dan prasarana
Jumlah
Ket.
1
Ruang Kelas
6 ruang
Baik
2
Ruang Kepala Sekolah
1 ruang
Baik
3
Ruang Dewan Guru
1 ruang
Baik
4
Perpustakaan
1ruang
Baik
5
Kamar Mandi/ WC
2 ruang
Baik
6
Lapangan Sepak Bola
1 ruang
Baik
7
Lapangan Bola Volly
1 ruang
Baik
8
Gudang
1 ruang
Baik
Sumber Data: Kantor SD Negeri 2 Lalembuu
48
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat 6 ruang untuk setiap
kelas yaitu kelas I, II, III, IV, V, dan VI sedangkan ruangan kepala sekolah
berjumlah 1 ruang dengan keadaan baik. 1 ruang untuk dewan guru yang juga
berkeadaan baik. 1 ruang perpustakaan tersedia di sekolah ini yang berisi bukubuku cetak dan buku-buku khusus lengkap untuk anak SD seperti buku cerita,
gambar, dll. Selain itu, terdapat 2 ruang untuk kamar mandi/WC untuk guru dan
siswa. Sekolah ini juga memiliki 2 lapangan yaitu lapangan sepak bola dan bola
volley yang disediakan untuk pembelajaran olahraga. Dan terdapat 1 ruang untuk
gudang sekolah.
B. Hasil Penelitian
1. Pra-Penelitian
Hasil penelitian berupa aktifitas guru dalam menerapkan Metode Index
Card Match, sikap siswa selama pembelajaran berlangsung, dan hasil evaluasi
siswa dalam bentuk essay. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan kategori
untuk aktifitas guru dan sikap siswa sedangkan hasil evaluasi siswa dikonversi
menjadi nilai dengan rentang nilai 0-100, nilai rata-rata dan presentase ketuntasan
klasikal. Sebelum melakukan pembelajaran dengan menggunakan Metode Index
Card Match, terlebih dahulu dilakukan kegiatan pra-penelitian yaitu observasi dan
nilai tes awal. Observasi awal berupa kegiatan pembelajaran sebelum penggunaan
Metode Index Card Match dan tes awal dilihat dari hasil belajar pada materi yang
bersangkutan sebelumnya. Hasil tes awal siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu
Kec. Lalembuu Kab. Konawe Selatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5 Hasil Tes Awal Siswa Kelas V SD Negeri 2 Lalembuu
49
No.
Nama Siswa
Nilai
Ket.
1
Abdul Salim
50
Tidak Tuntas
2
Ahmad Fauzi
45
Tidak Tuntas
3
Aldi Saputra
60
Tidak Tuntas
4
Bayu Dermawan
70
Tidak Tuntas
5
Dendi Darwis
63
Tidak Tuntas
6
Depi Puspita Sari
80
Tuntas
7
Diah Ayu Rahmasari
62
Tidak Tuntas
8
Endang Rahayu
80
Tuntas
9
Fathur Rozikin
78
Tuntas
10
Fendi
75
Tuntas
11
Frety Sinta
75
Tuntas
12
Guswana
80
Tuntas
13
Halimatus Sa’diyah
70
Tidak Tuntas
14
Ibnu Yahya Rusli
65
Tidak Tuntas
15
Lailatus Saidah
60
Tidak Tuntas
16
Meisin Utami
75
Tuntas
17
Nanda Agustina
67
Tidak Tuntas
18
Nasrullah
62
Tidak Tuntas
19
Puput Ismawati
55
Tidak Tuntas
20
Rika Yunistiani
78
Tuntas
21
Riko Wijayanto
50
Tidak Tuntas
22
Roy Irawan
50
Tidak Tuntas
23
Sindi Widia Yanti
75
Tuntas
24
Trinanti
50
Tidak Tuntas
25
Utami Cahyani .P
77
Tuntas
26
Vira Nanda
80
Tuntas
27
Yayan Susianto
75
Tuntas
28
Yusuf Kurniawan
67
Tidak Tuntas
Total
1871
50
Rata-rata
66,82
Tidak Tuntas
Presentase Ketuntasan Klasikal
42,85%
Tidak Tuntas
Dari tes awal tersebut terlihat rata-rata perolehan siswa sebesar 67 dengan
rincian bahwa hanya 12 atau 43% siswa yang mencapai KKM sedangkan 16 atau
57% siswa belum mencapai KKM pembelajaran PAI. Hal ini menunjukkan bahwa
masih banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal tes. Hal
ini disebabkan oleh pemahaman siswa tentang konsep-konsep dasar materi masih
rendah.
2. Tindakan Siklus I
a. Pertemuan Pertama
1) Perencanaan
Perencanaan pada pertemuan pertama pada siklus I meliputi merancang
Rencana Pelaksanakan Pembelajaran (RPP), lembar observasi untuk aktivitas guru
dan sikap siswa, dan menyiapkan materi Al ma’un ayat 1-4 dan alat-alat lainnya
yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan menerapkan Metode
Index Card Match serta menyiapkan Kartu Indeks (Index Card) yang berupa
potongan-potongan kertas yang berisi pertanyaan dan jawaban tentang materi
yang dibahas. Jumlah kartu yang harus disiapkan yaitu sebanyak siswa yang ada
di dalam kelas. Selain itu, merancang tes siklus I berjumlah 10 butir yang
berbentuk essay.
2) Pelaksanaan Tindakan
51
Pada tahap ini, kegiatan yang dilaksanakan yaitu sesuai skenario
pembelajaran pada Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kegiatan
pembelajaran diawali dengan salam dan doa, setelah itu guru mengabsen siswa
dan melanjutkannya dengan memotivasi siswa dan melakukan apersepsi.
Guru menjelaskan materi pertemuan pertama yaitu Surah Al Ma’un ayat 14 beserta arti dan sejarah kandungannya. Selanjutnya guru menjelaskan metode
yang akan digunakan dalam pembelajaran yaitu Metode Index Card Match.
Kegiatan dengan Metode Index Card Match dimulai dengan mencampurkan kartu
soal dan jawaban dan membagikan kepada setiap siswa sehingga setiap siswa
memiliki 1 kartu. Kemudian guru meminta siswa mencari pasangan kartu yang
mereka miliki pada waktu yang telah ditentukan dan duduk berdekatan setelah
menemukan pasangan masing-masing. Kegiatan selanjutnya guru menunjuk
beberapa pasangan untuk membacakan pertanyaan dan jawaban yang ada pada
kartu mereka. Dan kegiatan diakiri dengan memberi pekerjaan rumah (PR) terkait
materi yang telah dibahas berupa 5 butir soal essai.
3) Observasi dan Evaluasi
a) Observasi
Hal-hal yang diobservasi pada proses pembelajaran yaitu aktifitas guru dan
sikap siswa. Aktifitas guru meliputi pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan Metode Index Card Match dan sikap siswa selama mengikuti
pembelajaran. Hasil observasi aktifitas guru pada pertemuan pertama siklus I
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
52
Tabel 6 Aktivitas Guru Pada Pertemuan Pertama Siklus I
No.
Satuan Aktivitas Guru
Nilai
Skor
Ya
Tidak 1 2 3 4
Ya
√
Ya
√
√
A. Pendahuluan
1
Guru memberi salam kepada siswa
2
Guru
berdoa
bersama
siswa
sebelum
pembelajaran dimulai
3
Guru mengabsen kehadiran siswa
Ya
4
Guru memotivasi untuk belajar
Ya
√
B. Kegiatan Inti
1
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
Tidak
2
Guru menyampaikan materi
Ya
3
Guru menyampaikan metode pembelajaran
Ya
4
Guru mencampurkan semua kartu sehingga
Ya
√
Ya
√
Ya
√
Ya
√
√
√
bercampur antara soal dan jawaban
5
Guru membagikan kartu soal-jawab kepada
siswa
6
Guru meminta siswa untuk menemukan
pasangan, kemudian duduk berdekatan
7
Guru meminta siswa, setiap pasangan secara
bergantian membaca soal dan pasangannya
menjawab soal
8
Guru memberi nilai kepada siswa yang
Tidak
dapat mencocokan kartunya sebelum batas
waktu yang diberikan
C. Penutup
1
Guru membimbing siswa menyimpulkan
Ya
√
pelajaran berdasarkan kartu yang cocok
2
Guru memberi PR terkait materi yang
dibahas
Ya
√
53
Ketercapaian
12
2
70%
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 12 aktivitas guru dapat terlaksana
yaitu pada kegiatan pendahuluan meliputi aktivitas 1,2,3,4, pada kegiatan inti
meliputi aktivitas 2,3,4,5,6,7 dan pada kegiatan penutup meliputi aktivitas 1 dan 2
sedangkan 2 aktivitas tidak terlaksana yaitu aktivitas 1 dan 8 pada kegiatan inti.
Jadi, aktifitas guru pada pertemuan pertama siklus I terlaksana dengan baik sekali
dengan presentase 70%. Sedangkan sikap siswa pada pertemuan pertama siklus I
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 7 Sikap Siswa Pada Pertemuan Pertama Siklus I
Nilai
No.
Aspek yang diamati
Ya
1
Antusias siswa dalam mengikuti kegiatan
Ya
Tidak
Skor
1
2
3
√
belajar mengajar
2
Minat
siswa
dalam
kegiatan
Ya
√
√
pembelajaran
3
Keaktifan siswa mencari pasangan
Ya
4
Keaktifan siswa dalam bertanya
Ya
5
Kelancaran
menjawab
Ya
√
Partisipasi siswa dalam setiap kegiatan
Ya
√
siswa
dalam
√
pertanyaan
6
pembelajaran
7
Kemampuan siswa dalam menyimpulkan
√
Ya
materi
Ketercapaian
7
0
46%
4
54
Tabel di atas menunjukan bahwa sikap siswa tergolong dengan baik sekali
karena semua aspeknya terlaksana (7) dengan presentase 57%. Rinciannya
meliputi hanya aspek antusias yang tergolong baik. Sedangkan minat, keaktifan
mencari pasangan, kelancaran menjawab dan partisipasi tergolong cukup, bahkan
kemampuan menyimpulkan dan keaktifan bertanya masih tergolong kurang.
b) Evaluasi
Tes evaluasi diadakan setelah pertemuan kedua atau akhir siklus I untuk
melihat hasil belajar siswa setelah diadakan pembelajaran dengan menggunakan
Metode Index Card Match.
4) Refleksi
Analisis hasil observasi aktivitas guru dan sikap siswa dalam pembelajaran
pada pertemuan pertama siklus I menunjukan bahwa meski aktivitas guru
terlaksana dengan baik sekali dan mencapai presentase 70% tetapi masih ada
aktivitas yang belum tercapai yaitu penyampaian tujuan pembelajaran dan
pemberian nilai pada siswa. Hal-hal tersebut tidak terlaksana karena guru kurang
memperhatikan waktu yang digunakan untuk setiap kegiatan dan kurang
terorganisirnya pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Selain itu, kurangnya
kontrolnya kegiatan mencari pasangan sehingga menghabiskan waktu yang
banyak serta kurangnya pemahaman siswa terhadap kegiatan ini karena pertama
kali menggunakan metode ini.
Sedangkan sikap siswa berada pada katergori baik sekali tetapi dengan
presentase yang masih rendah yaitu 57%. Penjabarannya meliputi minat, keaktifan
55
mencari pasangan, kelancaran siswa menjawab, dan partisipasi siswa dalam setiap
kegiatan tergolong cukup, keaktifan siswa bertanya dan kemampuan siswa
menyimpulkan materi masih kurang, hanya antusias siswa yang tergolong baik.
Hal ini disebabkan kurang pahamnya siswa dengan Metode Index Card Match
sehingga siswa masih bingung. Oleh karena itu, untuk pertemuan selanjutnya guru
harus memperhatikan penggunaan waktu dan penjelasan Metode Index Card
Match agar lebih baik dan terorganisir.
b. Pertemuan Kedua
1) Perencanaan
Kekurangan pada pertemuan pertama menjadi acuan pada perencanaan
pertemuan kedua yaitu pengaturan waktu untuk setiap kegiatan, penjelasan
Metode Index Card Match, kontrol dalam setiap kegiatan dan pelaksanaan
kegiatan yang terorganisir. Perencanaan pertemuan kedua meliputi merancang
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menambahkan waktu pada
setiap kegiatannya, menyiapkan lembar observasi guru dan sikap siswa, materi Al
Ma’un ayat 5-7, tes siklus I, dan kartu berpasangan.
2) Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang telah dirancang. Kegiatan awal dibuka dengan salam
56
dan berdoa bersama dan dilanjutkan dengan mengecek kehadiran siswa.
Kemudian guru memotivasi siswa dan mereview materi pertemuan pertama.
Selain itu, guru melakukan apersepsi materi yang akan diajarkan serta
menyampaikan tujuan pembelajaran selama 10 menit.
Kegiatan selanjutnya guru menjelaskan materi tentang Surah Al Ma’un
ayat 5-7 beserta arti dan sejarah kandungannya. Setelah itu, guru menjelaskan
ulang Metode Index Card Match lebih detil dan jelas dan dilanjutkan dengan
mencampurkan semua kartu (soal dan jawaban). Guru kemudian membagikan
kartu masing-masing 1 buah untuk 1 siswa dan meminta siswa mencari
pasangannya pada waktu yang ditentukan serta duduk berdekatan setelah
menemukan pasangannya. Guru meminta beberapa pasangan membaca soal dan
jawaban pada kartu mereka dan memberi nilai pada setiap pasangan yang
mendapatkan soal dan jawaban yang cocok dan benar. Kegiatan ini dilakukan
selama 40 menit.
Kelas diakhiri dengan pemberian evaluasi tentang materi yang telah
dibahas kepada siswa berjumlah 10 butir soal yang berbentuk essay yang
dilaksanakan selama 20 menit.
3) Observasi dan Evaluasi
a) Observasi
Observasi pada pertemuan kedua dilakukan dengan mengamati aktivitas
guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Metode Index
Card Match seperti skenario pembelajaran pada Rencana Pelaksanaan
57
Pembelajaran (RPP) yang telah direvisi. Selain itu, sikap siswa juga diamati
dengan lebih teliti. Hasil observasi aktivitas guru pada pertemuan kedua dapat
dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 8 Aktivitas Guru Pada Pertemuan Kedua Siklus I
No.
Satuan Aktivitas Guru
Nilai
Ya
Tidak
Skor
1
2 3 4
A. Pendahuluan
1
Guru memberi salam kepada siswa
2
Guru
berdoa
bersama
siswa
sebelum
Ya
√
Ya
√
√
pembelajaran dimulai
3
Guru mengabsen kehadiran siswa
Ya
4
Guru memotivasi untuk belajar
Ya
√
√
A. Kegiatan Inti
1
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
Ya
2
Guru menyampaikan materi
Ya
3
Guru menyampaikan metode pembelajaran
Ya
4
Guru mencampurkan semua kartu sehingga
Ya
√
Ya
√
Ya
√
Ya
√
√
√
bercampur antara soal dan jawaban
5
Guru membagikan kartu soal-jawab kepada
siswa
6
Guru meminta siswa untuk menemukan
pasangan, kemudian duduk berdekatan
7
Guru meminta siswa, setiap pasangan secara
bergantian membaca soal dan pasangannya
menjawab soal
8
Guru memberi nilai kepada siswa yang
dapat mencocokan kartunya sebelum batas
waktu yang diberikan
B. Penutup
Ya
√
58
1
Guru membimbing siswa menyimpulkan
√
Ya
pelajaran berdasarkan kartu yang cocok
2
Guru memberi evaluasi terkait materi yang
√
Ya
dibahas
Ketercapaian
14
0
78%
Tabel di atas menunjukan bahwa aktivitas guru telaksana dengan baik
sekali karena semua indikator (14) dapat tercapai dengan presentase 78%.
Sedangkan sikap siswa pada tertemuan kedua siklus I dapat dilihat pada tebel di
bawah ini:
Tabel 9 Sikap Siswa Pada Pertemuan Kedua Siklus I
No.
Aspek yang diamati
Nilai
Ya
1
Antusias siswa dalam mengikuti kegiatan
Tidak
Skor
1
2 3 4
√
Ya
belajar mengajar
2
Minat siswa dalam kegiatan pembelajaran
Ya
√
3
Keaktifan siswa mencari pasangan
Ya
√
4
Keaktifan siswa dalam bertanya
Ya
√
5
Kelancaran
siswa
dalam
menjawab
Ya
Partisipasi siswa dalam setiap kegiatan
Ya
√
pertanyaan
6
√
pembelajaran
7
Kemampuan siswa dalam menyimpulkan
√
Ya
materi
Ketercapaian
7
0
71%
59
Tabel di atas menunjukan pada pertemuan kedua sikap siswa tergolong
baik sekali dan telah mengalami peningkatan presentase menjadi 71%. Hal ini
dapat dilihat pada antusias siswa yang tergolong baik sekali. Semua siswa terlihat
semangat belajar, tertarik terus mengikuti kegiatan pembelajaran, Sedangkan
minat, keaktifan bertanya, partisipasi dalam setiap kegitan dan keaktifan siswa
mencari pasangan tergolong baik terlihat pada keaktifan siswa dalam mencari
pasangan kartu yang mereka miliki. Sedangkan kelancaran menjawab dan
kemampuan menyimpulkan materi tergolong cukup.
Kekurangan pada pertemuan ini terlihat pada saat kegiatan mencari
pasangan, beberapa siswa kurang bisa membaca atau menyebutkan soal/jawaban
pada kartu yang mereka miliki. Hal tersebut disebabkan mereka kurang mengingat
materi yang diberikan dan tulisan kartu yang digunakan kurang jelas. Selain itu,
belum terlihat semua siswa ikut serta menyimpulkan materi dengan baik.
b) Evaluasi
Tes akhir siklus I dilakukan setelah pertemuan kedua dengan
menggunakan soal essay berjumlah 10 butir untuk mengetahui pemahaman siswa
tentang materi Al Ma’un setelah menggunakan Metode Index Card Match. Hasil
tes siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 10 Hasil Tes Siklus I Siswa Kelas V SD Negeri 2 Lalembuu
No.
Nama Siswa
Nilai
Ket.
1
Abdul Salim
60
Tidak Tuntas
2
Ahmad Fauzi
60
Tidak Tuntas
3
Aldi Saputra
70
Tidak Tuntas
60
4
Bayu Dermawan
75
Tuntas
5
Dendi Darwis
65
Tidak Tuntas
6
Depi Puspita Sari
85
Tuntas
7
Diah Ayu Rahmasari
70
Tidak Tuntas
8
Endang Rahayu
84
Tuntas
9
Fathur Rozikin
80
Tuntas
10
Fendi
78
Tuntas
11
Frety Sinta
80
Tuntas
12
Guswana
82
Tuntas
13
Halimatus Sa’diyah
75
Tuntas
14
Ibnu Yahya Rusli
75
Tuntas
15
Lailatus Saidah
70
Tidak Tuntas
16
Meisin Utami
78
Tuntas
17
Nanda Agustina
75
Tuntas
18
Nasrullah
75
Tuntas
19
Puput Ismawati
70
Tidak Tuntas
20
Rika Yunistiani
80
Tuntas
21
Riko Wijayanto
67
Tidak Tuntas
22
Roy Irawan
65
Tidak Tuntas
23
Sindi Widia Yanti
80
Tuntas
24
Trinanti
70
Tidak Tuntas
25
Utami Cahyani .P
80
Tuntas
26
Vira Nanda
84
Tuntas
27
Yayan Susianto
80
Tuntas
28
Yusuf Kurniawan
75
Tuntas
Total
2088
Rata-rata
74,57
Tuntas
Presentase Ketuntasan Klasikal
64,29%
Tidak Tuntas
61
Tabel di atas menunjukan bahwa rata-rata hasil tes siklus I yaitu 75 yang
berarti telah mencapai standar nilai yang telah ditetapkan. Rata-rata pada siklus I
mengalami peningkatan dari rata-rata nilai hasil tes awal yaitu 67. Jadi,
pengingkatan rata-rata dari nilai tes awal ke tes siklus I yaitu 8.
Sedangkan presentase ketuntasan klasikal pada siklus I yaitu 64% atau 18
siswa yang mencapai KKM pelajaran PAI. Walaupun presentase ketuntasan
klasikal pada siklus I belum mencapai standar yang ditetapkan tetapi mengalami
peningkatan dari presentase tes awal yang hanya mencapai 43% atau 12 siswa.
Jadi, presentase ketuntasan klasikal dari tes awal ke tes siklus I mengalami
peningkatan 21% atau dengan kata lain siswa yang mencapai KKM bertambah 6
orang.
4) Refleksi
Analisis hasil observasi dan evalusi pada siklus I menggambarkan bahwa
penggunaan Metode Index Card Match dilakukan dengan baik sekali akan tetapi
masih ada kekurangan-kekurangan pada siklus ini. Kekurangan-kekurangan
tersebut perlu diperbaiki pada siklus II yang meliputi:
Pertama adalah aktivitas guru, walaupun aktivitas guru telah mencapai
kategori baik sekali tetapi masih ada aktivitas yang terlaksana kurang maksimal.
Hal ini masih dikarenakan pengaturan waktu yang digunakan siswa pada kegiatan
mencari pasangan. Waktu yang digunakan untuk kegiatan ini sangat lama karena
siswa harus mencari pasangan kartunya pada seluruh teman kelasnya. Jadi,
kegiatan ini perlu dirubah dengan memberi kartu soal pada ½ siswa dan kartu
62
jawaban pada ½ sisa siswa sehingga mereka tidak terlalu sulit menemukan
pasangannya dan tidak menghabiskan waktu yang terlalu lama.
Selain itu, masih ada kegiatan yang belum sempurna dilaksanakan seperti
presentasi hasil pasangan kartu. Pada siklus I guru hanya menunjuk beberapa
pasangan untuk membacakan soal dan jawaban pada kartu mereka sehingga masih
ada beberapa kartu soal dan jawaban yang tidak terbaca jadi pada siklus
selanjutnya kegiatan ini perlu dirubah dengan guru mendaftar pertanyaan dan
jawaban sebagai pegangan dan meminta setiap pasangan membaca kartu mereka.
Kemudian guru menceklis pasangan soal dan jawaban yang telah dibaca sehingga
dapat diketahui kartu soal dan jawaban yang belum terbaca. Jadi, semua kartu soal
dan jawaban dapat terbaca dan siswa tidak kecewa.
Kedua adalah sikap siswa, walaupun sikap siswa sudah tergolong baik
sekali tetapi ada beberapa aspek seperti kelancaran menjawab dan kemampuan
siswa menyimpulkan materi masih pada kategori cukup jadi perlu dimaksimalkan
sehingga mencapai kategori baik. Kendala dari kelancaran menjawab yaitu siswa
kurang mengingat penjelasan materi yang diberikan dan kurang jelasnya soal dan
jawaban pada kartu karena ditulis dengan pulpen. Jadi, hal tersebut perlu
diperbaiki dengan penjelasan materi dengan menggunakan pola kartu berpasangan
sehingga siswa mudah mengingatnya karena polanya sama dengan kartu yang
akan mereka dapatkan. Sedangkan kartu yang digunakan diperbaiki dengan kartu
soal dan jawaban yang diketik sehingga siswa dapat melihat dengan jelas.
Sedangkan kegiatan penyimpulan materi guru harus lebih membimbing siswa
63
untuk bersama-sama menyimpulkan materi berdasarkan kartu yang mereka
pegang.
Ketiga adalah hasil tes siswa, walaupun rata-rata pada siklus I telah
mencapai indikator yang ditetapkan tetapi presentase ketuntasan klasikal pada
siklus ini masih kurang atau belum tuntas karena presentase pada siklus ini hanya
mencapai 64% sedangkan indikator ketuntasaan klasikal pelajaran PAI minimal
80%. Oleh karena itu, penelitian ini dilanjutkan pada siklus II untuk memperbaiki
kekurangan-kekurangna pada siklus I dan mencapai ketuntasan klasikal pada
aktivitas guru, sikap siswa dan hasil belajar siswa sesuai dengan indikator yang
telah ditetapkan.
3. Tindakan Siklus II
A. Pertemuan Pertama
1) Perencanaan
Perencanaan pada pertemuan pertama siklus II meliputi merancang
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan merubah kegiatan mencari
pasangan yaitu memberi kartu soal pada ½ dari jumlah siswa dan jawaban pada ½
sisanya. Selain itu, penjelasan materi dirubah dengan menggunakan pola pada
kartu berpasangan. Lembar observasi guru dan sikap siswa, materi Al Fiil ayat 12, tes siklus II dan kartu berpasangan juga dipersiapkan. Akan tetapi kartu
berpasangan dirubah dengan mengetik soal dan jawaban sehingga lebih jelas.
64
2) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan pada tahap ini yaitu melaksanakan skenario yang telah dirancang
pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pembelajaran dimulai dengan
salam dan berdoa bersama dan dilanjutkan dengan memotivasi siswa dan
melakukan apersepsi materi pelajaran serta menjelaskan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai yang dilakukan dalam 15 menit.
Guru kemudian menjelaskan materi Surah Al Fiil ayat 1-2 beserta arti dan
sejarah kandungannya dengan menggunakan pola kartu berpasangan. Kegiatan
selanjutnya yaitu mengingatkan kembali Metode Index Card Match kepada siswa
dan membagikan kartu soal pada ½ dari jumlah siswa dan kartu jawaban pada ½
siswa yang belum mendapatkan kartu. Kemudian meminta ½ siswa yang
memegang kartu soal mencari jawaban pada ½ siswa yang memegang kartu
jawaban
dan
sebaliknya
serta
duduk
berdekatan
setelah
mendapatkan
pasangannya. Kegiatan ini dilakukan selama waktu yang ditentukan, siswa yang
mendapatkan pasangan sebelum waktu yang ditentukan akan mendapatkan nilai
dan siswa yang mendapatkan pasangan pada batas waktu yang diberikan atau
belum mendapatkan pasangan maka tidak mendapat nilai. Kegiatan-kegiatan di
atas dilakukan selama 40 menit.
Kegiatan ditutup dengan menyimpulkan bersama-bersama materi pelajaran
dengan menggunakan kartu yang cocok dan guru memberi pekerjaan rumah (PR)
tentang materi yang telah dipelajari berjumlah 5 butir soal tes essay. Kegiatan
tersebut dilaksanakan selama 15 menit.
65
3) Observasi dan Evaluasi
a) Observasi
Observasi dilakukan dengan mengamati aktivitas guru dan sikap siswa
selama proses pembelajaran berlangsung pada pertemuan pertama siklus II. Hasil
observasi aktivitas guru pada pertemuan pertama siklus II dapat dilihat pada tabel
di bawah ini:
Tabel 11 Aktivitas Guru Pada Pertemuan Pertama Siklus II
No.
Satuan Aktivitas Guru
Nilai
Ya
Tidak
Skor
1
2
3
4
A. Pendahuluan
1
Guru memberi salam kepada siswa
Ya
√
2
Guru berdoa bersama siswa sebelum
Ya
√
√
pembelajaran dimulai
3
Guru mengabsen kehadiran siswa
Ya
4
Guru memotivasi untuk belajar
Ya
√
B. Kegiatan Inti
1
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
Ya
√
2
Guru
dengan
Ya
√
Guru menyampaikan metode pembelajaran
Ya
menyampaikan
materi
Metode Index Card Match
3
√
yang akan digunakan
4
Guru memisahkan kartu soal dan jawaban
Ya
√
5
Guru membagikan kartu soal pada ½ siswa
Ya
√
Ya
√
dan kartu jawaban pada ½ sisanya
6
Guru meminta siswa untuk menemukan
pasangan, kemudian duduk berdekatan
7
Guru meminta siswa, setiap pasangan
secara bergantian membaca soal dan
Ya
√
66
pasangannya menjawab
8
Guru memberi nilai kepada siswa yang
Ya
√
Ya
√
dapat mencocokan kartunya sebelum batas
waktu yang diberikan
C. Penutup
1
Guru membimbing siswa menyimpulkan
pelajaran berdasarkan kartu yang cocok
2
Guru memberi PR terkait materi yang
√
Ya
dibahas
Ketercapaian
14
0
81%
Tabel di atas menunjukan bahwa semua aktivitas guru (14) telah
terlaksana meski masih ada yang belum maksimal yaitu pada kegiatan mencari
kartu pasangan dimana siswa masih susah mencari pasangan kartu yang mereka
miliki. Jadi, pada pertemuan ini aktivitas guru berjalan baik sekali dengan
presentase 81%. Sedangkan sikap siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 12 Sikap Siswa Pada Pertemuan Pertama Siklus II
No.
Aspek yang diamati
Nilai
Ya
1
Antusias siswa dalam mengikuti kegiatan
Tidak
Skor
1
2
3
4
√
Ya
belajar mengajar
√
2
Minat siswa dalam kegiatan pembelajaran
Ya
3
Keaktifan siswa mencari pasangan
Ya
4
Keaktifan siswa dalam bertanya
Ya
√
5
Kelancaran
menjawab
Ya
√
Partisipasi siswa dalam setiap kegiatan
Ya
√
siswa
dalam
√
pertanyaan
6
pembelajaran
67
7
Kemampuan siswa dalam menyimpulkan
√
Ya
materi
Ketercapaian
7
0
78%
Tabel di atas menunjukan bahwa sikap siswa tergolong baik sekali dengan
presentase 78%. Dengan rincian bahwa antusias dan keaktifan mencari pasangan
terggolong baik sekali, hal ini dapat dilihat dari semangat dan ketertarikan seluruh
siswa pada pembelajaran. Keaktifan bertanya dan kelancaran menjawab tergolong
baik terlihat pada kegiatan siswa mencari pasangan kartu yang mereka miliki. Dan
kemampuan siswa menyimpulkan materi, partisipasi dan minat siswa juga
tergolong baik.
b) Evaluasi
Tes siklus II dilaksanakan setelah pertemuan kedua atau akhir siklus ini.
4) Refleksi
Hasil analisis pada pengamatan aktivitas guru dan sikap siswa terlihat
bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan Metode
Index Card Match berjalan dengan baik sekali. Pada aktivitas guru, semua
aktivitas dapat terlaksana yaitu 4 aktivitas pada kegiatan awal, 8 aktivitas pada
kegiatan inti dan 2 aktivitas pada kegiatan penutup. Akan tetapi, masih perlu
memaksimalkan kegiatan siswa dalam mencari pasangan kartu. Kendala masih
terlihat pada beberapa siswa yang masih susah mencari pasangan selama waktu
68
yang diberikan karena mereka harus berfikir untuk mencari jawaban atau soal
kartu yang mereka miliki sehingga waktu yang diberikan habis untuk berfikir dan
akibatnya kegiatan ini kurang berjalan dengan baik dan maksimal. Untuk
mengatasi hal ini, perlu ditambahkan kegiatan memikirkan jawaban atau soal
kartu yang dimiliki siswa sebelum kegiatan mencari pasangan kartu sehingga
siswa sudah mengetahui jawaban atau soal kartu yang mereka miliki.
Sedangkan beberapa aspek sikap siswa tergolong pada kategori baik sekali
seperti antusias siswa dan keaktifan mencari pasangan. Keaktifan bertanya,
kelancaran menjawab, minat, partisipasi dan kemampuan siswa menyimpulkan
materi tergolong baik. Aspek partisipasi siswa dalam setiap kegiatan masih perlu
ditingkatkan dengan melibatkan siswa pada setiap kegiatan seperti kegiatan
bertanya materi yang belum dipahami.
B. Pertemuan Kedua
1) Perencanaan
Perencanaan untuk pertemuan kedua siklus II meliputi merancang RPP
dengan menambahkan kegiatan bertanya tentang materi yang belum dipahami dan
memikirkan jawaban atau soal kartu yang dimiliki sebelum kegiatan mencari
pasangan kartu, membuat lembar observasi guru dan siswa, materi Al Fiil ayat 35, kartu berpasangan dan tes siklus II.
2) Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dilakukan sesuai dengan RRP yang telah
dirancang. Kegiatan awal dimulai dengan salam dari guru dan berdoa bersama-
69
sama kemudian guru memberi motivasi kepada siswa dan melakukan apersepsi
tentang materi yang akan dipelajari. Selain itu, guru mereview materi pertemuan
lalu dan juga menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan awal tersebut
dilaksanakan selama 10 menit.
Kegiatan inti dimulai dengan menjelaskan materi pembelajaran yaitu
Surah Al Fiil ayat 3-5 beserta arti dan sejarah kandungannya dengan pola kartu
berpasangan. Setelah itu, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
menanyakan materi yang kuarang dipahami dan dilanjutkan dengan mengingatkan
Metode Index Card Match yang akan digunakan. Guru kemudian membagikan
kartu soal pada ½ siswa dan kartu jawaban pada ½ sisanya. Sebelum mencari
pasangan siswa diberi kesempatan untuk melihat kartu yang mereka dapatkan dan
memikirkan jawaban atau soal yang sesuai dengan kartu mereka. Kemudian siswa
diminta mencari pasangan kartunya dan duduk berdekatan setelah mendapatkan
pasangannya. Guru mengamati siswa yang dapat menyelesaikan kegiatan sebelum
waktu yang diberikan. Selanjutnya guru meminta setiap pasangan membaca kartu
pasangan yang mereka miliki dan mengecek jawaban siswa dengan jawaban yang
telah disediakan serta memberi nilai atau penghargaan pada setiap pasangan.
Semua kegiatan di atas dilaksanakan selama 40 menit.
Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi berdasarkan
kartu yang cocok bersama-sama dan guru memberi evaluasi berupa tes berjumlah
10 butir soal essay tentang materi yang telah diberikan. Kedua kegiatan tersebut
delakukan selama 20 menit.
70
3) Observasi dan Evaluasi
a) Observasi
Pengamatan dilakukan pada aktivitas guru dan sikap siswa pada saat
kegiatan pembelajaran berjalan. Hasil observasi aktivitas guru pada pertemuan
kedua siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 13 Aktivitas Guru Pada Pertemuan Kedua Siklus II
No.
Satuan Aktivitas Guru
Nilai
Ya
Tidak
Skor
1
2
3
4
A. Pendahuluan
1
Guru memberi salam kepada siswa
Ya
√
2
Guru berdoa bersama siswa sebelum
Ya
√
√
pembelajaran dimulai
3
Guru mengabsen kehadiran siswa
Ya
4
Guru memotivasi untuk belajar
Ya
√
B. Kegiatan Inti
√
1
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
Ya
2
Guru
dengan
Ya
√
Guru menyampaikan metode pembelajaran
Ya
√
menyampaikan
materi
Metode Index Card Match
3
yang akan digunakan
4
Guru memisahkan kartu soal dan kartu
Ya
√
Ya
√
jawaban
5
Guru membagikan kartu soal pada ½ siswa
dan kartu jawaban pada ½ sisanya
6
Guru meminta siswa untuk menemukan
Ya
√
Ya
√
pasangan, kemudian duduk berdekatan
7
Guru meminta siswa, setiap pasangan
secara bergantian membaca soal dan
71
pasangannya menjawab soal
8
Guru memberi nilai kepada siswa yang
√
Ya
dapat mencocokan kartunya sebelum batas
waktu yang diberikan
C. Penutup
1
Guru membimbing siswa menyimpulkan
√
Ya
pelajaran berdasarkan kartu yang cocok
2
Guru memberi evaluasi terkait materi yang
√
Ya
dibahas
Ketercapaian
14
0
87%
Tabel di atas menunjukan bahwa aktivitas guru berjalan baik sekali dilihat
dari terlaksanya semua aktivitas dengan presentase 87%. Pelaksanaan setiap
kegiatan juga berjalan dengan baik dan maksimal seperti kegiatan apersepsi dan
pemberian motivasi pada kegiatan awal, penyampaian tujuan pembelajaran,
penjelasan materi, penjelasan metode, pembagian kartu, mencari pasangan,
pemberian nilai pada kegiatan inti, dan penyimpulan materi dan pemberian
evaluasi pada kegiatan akhir. Sedangkan hasil observasi sikap siswa dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:
Tabel 14 Sikap Siswa Pada Pertemuan Kedua Siklus II
No.
Aspek yang diamati
Nilai
Ya Tidak
1
Skor
1
2
3
4
√
Antusias siswa dalam mengikuti kegiatan Ya
belajar mengajar
2
Minat siswa dalam kegiatan pembelajaran
Ya
√
3
Keaktifan siswa mencari pasangan
Ya
√
4
Keaktifan siswa dalam bertanya
Ya
√
72
5
menjawab Ya
√
Partisipasi siswa dalam setiap kegiatan Ya
√
Kelancaran
siswa
dalam
pertanyaan
6
pembelajaran
7
√
Kemampuan siswa dalam menyimpulkan Ya
materi
Ketercapaian
7
0
86%
Tabel di atas menunjukan bahwa sikap siswa berada pada kategori baik
sekali dengan presentase 86%. Terlihat pada aspek antusias, minat dan keaktifan
mencari pasangan yang tergolong baik sekali. Keaktifan bertanya, kelancaran
menjawab, partisipasi dan kemampuan menyimpulkan materi tergolong baik yang
terlihat dari semangat dan ketertarikan semua siswa pada pembelajaran, keaktifan
siswa pada kegiatan mencari pasangan, dan keikutsertaan semua siswa dalam
menyimpulkan materi.
b) Evaluasi
Tes siklus II diadakan setelah pertemuan kedua atau akhir siklus II yang
terdiri dari 10 butir soal essay tentang materi Al Fiil. Hasil tes evaluasi siklus II
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 15 Hasil Tes Sikus II Siswa Kelas V SD Negeri 2 Lalembuu
No.
Nama Siswa
Nilai
Ket.
1
Abdul Salim
72
Tidak Tuntas
2
Ahmad Fauzi
70
Tidak Tuntas
3
Aldi Saputra
75
Tuntas
4
Bayu Dermawan
80
Tuntas
5
Dendi Darwis
70
Tidak Tuntas
73
6
Depi Puspita Sari
90
Tuntas
7
Diah Ayu Rahmasari
75
Tuntas
8
Endang Rahayu
90
Tuntas
9
Fathur Rozikin
85
Tuntas
10
Fendi
80
Tuntas
11
Frety Sinta
82
Tuntas
12
Guswana
85
Tuntas
13
Halimatus Sa’diyah
80
Tuntas
14
Ibnu Yahya Rusli
78
Tuntas
15
Lailatus Saidah
75
Tuntas
16
Meisin Utami
84
Tuntas
17
Nanda Agustina
80
Tuntas
18
Nasrullah
78
Tuntas
19
Puput Ismawati
75
Tuntas
20
Rika Yunistiani
90
Tuntas
21
Riko Wijayanto
75
Tuntas
22
Roy Irawan
72
Tidak Tuntas
23
Sindi Widia Yanti
85
Tuntas
24
Trinanti
75
Tuntas
25
Utami Cahyani .P
85
Tuntas
26
Vira Nanda
86
Tuntas
27
Yayan Susianto
84
Tuntas
28
Yusuf Kurniawan
80
Tuntas
Total
2236
Rata-rata
79,85
Tuntas
Presentase Ketuntasan Klasikal
85,71%
Tuntas
Tabel di atas menunjukan bahwa rata-rata nilai tes siklus II adalah 80. Hal
ini menunjukan adanya peningkatan dari rata-rata tes siklus I yaitu 75 ke siklus II
74
sebesar 5. Sedangkan presentase ketuntasan klasikal pada siklus II adalah 86%
yang berarti telah mencapai indikator yang telah ditetapkan yaitu 80%. Terdapat
peningkatan sebesar 22% karena presentase ketuntasan klasikal pada siklus I
sebesar 64%. Dengan kata lain, siswa yang mencapai KKN bertambah 6 orang
dari 18 orang yang tuntas pada siklus I menjadi 24 orang pada siklus ini.
4) Refleksi
Analisis hasil observasi pada siklus II menunjukan bahwa aktivitas guru
terlaksana dengan baik sekali dan maksimal karena semua aktivitasnya (14) dapat
tercapai dengan baik pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua.
Walaupun ada beberapa kekurangan pada pertemuan pertama tetapi hal ini dapat
diatasi pada pertemuan kedua. Begitu juga sikap siswa pada proses pembelajaran,
semua aspek yang diamati pada sikap siswa menunjukan kategori baik sekali dan
baik. Sedangkan dari hasil evaluasi siklus II menunjukan bahwa presentase
ketuntasan belajar telah mencapai indikator yang ditetapkan yaitu 86% dengan
rata-rata sebesar 80. Jadi, aktivitas guru, sikap siswa pada pembelajaran dan hasil
belajar siswa pada siklus II telah mencapai indikator yang ditetapkan.
C. Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Hasil
penelitian menunjukan bahwa Metode Index Card Match dapat meningkatkan
kemampuan membaca Al Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu pada mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Peningkatan kemampuan membaca Al
75
Qur’an siswa melalui penerapan Metode Index Card Match dapat dilihat
berdasarkan peningkatan aktivitas guru dan sikap siswa pada setiap siklus (siklus
1 & II) dan hasil belajar siswa pada tes awal dan tes setiap siklus (siklus I & II).
Aktivitas guru pada siklus I berjalan dengan baik walaupun pada
pertemuan I ada 2 aktivitas yang tidak terlaksana tetapi pada pertemuan II semua
aktivitas terlaksana. Jadi, pada siklus I semua aktivitas dapat terlaksana walaupun
masih ada beberapa kekurangan. Aktivitas guru pada siklus II
mengalami
peningkatan dibanding siklus I karena beberapa kekurangan pada siklus I dapat
teratasi. Pada pertemuan I siklus II hanya kegiatan mencari pasangan yang kurang
maksimal akan tetapi kegiatan tersebut teratasi pada pertemuan II. Jadi, penerapan
Metode Index Card Match meningkat setiap siklusnya dan dapat terlaksana
dengan baik sekali sesuai langkah-langkahnya.
Selain itu sikap siswa juga mengalami peningkatan pada setiap siklus.
Pada siklus I pertemuan I hanya 1 aspek siswa yang tergolong baik yaitu antusias
sedangkan 4 aspek lainnya tergolong cukup yaitu minat, keaktifan mencari
pasangan, kelancaran menjawab dan partisipasi. 2 aspek masih tergolong kurang
yaitu keaktifan bertanya dan kemampuan menyimpulkan materi. Akan tetapi pada
pertemuan II aspek antusias tergolong baik sekali. Minat, keaktifan bertanya,
partisipasi dan keaktifan mencari pasangan tergolong baik, sedangkan kelancaran
menjawab dan kemampuan menyimpulkan materi masih tergolong cukup.
Pada siklus II mengalami peningkatan karena aspek antusias dan keaktifan
mencari pasangan tergolong baik sekali dan 4 aspek lainnya tergolong baik pada
pertemuan I. Pada pertemuan II semua aspek berada pada kategori baik kecuali
76
antusias, minat dan keaktifan mencari pasangan tergolong baik sekali
membuktikan bahwa sikap siswa dalam proses pembelajaran tergolong pada
kategori baik sekali.
Pelaksanaan Metode Index Card Match yang berjalan dengan baik
mempengaruhi hasil belajar siswa setiap siklusnya. Hasil belajar pada tes siklus I
mengalami peningkatan dibanding hasil tes awal. Rata-rata pada tes awal hanya
mencapai 67 dan presentase ketuntasan klasikal 43% atau 12 siswa yang tuntas.
Jadi, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 8 dan presentase ketuntasan klasikal
sebesar 21% atau siswa yang tuntas bertambah 6 orang dari hasil tes awal ke hasil
tes siklus I.
Pada siklus I, rata-rata siswa 75 dan presentase ketuntasan klasikal sebesar
64% atau 18 siswa mencapai KKM. Akan tetapi pada siklus II rata-rata nilai dan
presentase ketuntasan klasikal meningkat menjadi 80 dan 86% atau 24 siswa yang
mencapai KKM. Jadi, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 5 dan presentase
ketuntasan klasikal sebesar 22% atau bertambah 6 orang yang tuntas. Dengan kata
lain pada siklus II rata-rata dan presentase ketuntasan klasikal telah tercapai sesuai
indikator yang telah ditentukan.
Selain itu, terlihat jelas adanya peningkatan hasil belajar sebelum dan
sesudah diterapkannya Metode Index Card Match. Dari hasl tes awal yang hanya
mencapai rata-rata 67 dan ketuntasan klasikal 43% menjadi 80 dan 86% pada
hasil tes akhir siklus penelitian ini. Jadi, peningkatan rata-rata dan ketuntasan
klasikal sebelum dilakukan penelitian sampai selesainya penelitian sebesar 13 dan
77
37% atau 12 siswa yang mencapai KKM. Ini berarti kemampuan membaca Al
Qur’an siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu pada mata pelajaran PAI dapat
ditingkatkan dengan menerapkan Metode Index Card Match.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada
bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Pelaksanaan Metode Index Card Match pada mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) khususnya materi membaca Al Qur’an di kelas V SD
Negeri 2 Lalembuu telah berjalan dengan baik sekali dan sesuai dengan
langkah-langkah atau prosedur yang telah ditetapkan.
2. Sikap siswa selama pembelajaran tergolong pada kategori baik sekali. Pada
siklus I, hanya 1 aspek yang tergolong baik sekali dan 4 aspek yang tergolong
78
baik dan 2 aspek lainnya tergolong cukup. Tetapi pada siklus II, 4 aspek yaitu
keaktifan bertanya, kelancaran menjawab, partisipasi dan kemampuan
menyimpulkan materi tergolong baik sedangkan aspek antusias, minat dan
keaktifan mencari pasangan tergolong baik sekali.
3. Hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Lalembuu meningkat secara
signifikan setelah penerapan Metode Index Card Match. Rata-rata dan
ketuntasan klasikal dari hasil tes awal ke hasil tes siklus I meningkat sebesar 8
(67 menjadi 75) dan 21% atau 6 siswa (43% atau 12 siswa menjadi 64% atau
18 siswa). Sedangkan dari hasil tes siklus I ke hasil tes siklus II meningkat
sebesar 5 (75 menjadi 80) dan 22% atau 6 siswa (64% atau 18 siswa menjadi
86% atau 24 siswa).
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti menyarankan hal-hal
sebagai berikut:
1. Guru diharapkan dapat menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi
dan sesuai dengan kondisi siswa dan lingkungan belajar serta materi yang
diajarkan sehingga siswa dapat memahami materi pembelajaran yang akan
disampaikan dengan mudah khususnya Metode Index Card Match.
2. Guru diharapkan dapat memahami dan menerapkan metode active learning
khususnya Metode Index Card Match pada mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI) di SD Negeri 2 Lalembuu.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah untuk meningkatkan mutu
pendidikan khususnya dalam rangka meningkatkan kegiatan pembelajaran.
79
Download