MINAT MEMBACA KARYA SASTRA PADA SISWA

advertisement
MINAT MEMBACA KARYA SASTRA PADA SISWA KELAS XII SMK BUDHI
WARMAN II PEKAYON JAKARTA TIMUR
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh:
SITI ZURAIDAH LUTHFIATI
1111013000032
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ABSTRAK
Siti Zuraidah Luthfiati. (1111013000032). Minat Membaca Karya Sastra pada
Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur. Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. September 2015.
Latar belakang penelitian ini adalah masih rendahnya kemampuan baca
pada masyarakat Indonesia saat ini khususnya para siswa di sekolah. Berbeda
dengan negara-negara maju seperti Jepang yang menjadikan membaca sebagai
suatu budaya atau kebiasaan. Salah satu yang mempengaruhi membaca tersebut
adalah minat. Minat baca adalah merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap
bacaan, yang mendorong munculnya keinginan dan kemampuan untuk membaca,
diikuti oleh kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Minat baca
bersifat pribadi dan merupakan produk belajar.
Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang
mempengaruhi kemampuan membaca. Menurut Crow dan Crow dalam bukunya
Educational Pshycology minat bisa berhubungan dengan gaya gerak yang
mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan,
itupun bisa berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
Dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab
partisipasi dalam kegiatan.
Subjek dalam penelitian ini adalah kelas XII SMK Budhi Warman II
semester ganjil Tahun Ajaran 2015-2016. Penulis menggunakan metode deksriptif
kualitatif untuk mengolah data. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah
dengan wawancara dan teknik analisis data angket dengan menggunakan rumus
P= x100%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil angket yang masuk
(berjumlah 40) maka dari persentase angket menunjukkan 77,5% menyatakan
bahwa siswa tidak pernah meluangkan waktunya untuk membaca, sedangkan
hanya ada 22,5% siswa yang sering menghabiskan waktunya untuk membaca.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca sebuah
karya sastra masih kurang dan perlu ditingkatkan. Sebaiknya, untuk meningkatkan
minat siswa dapat dilakukan dengan membimbing serta mendampingi siswa
terutama guru bidang studi pada setiap pertemuan mata pelajaran Bahasa
Indonesia.
Kata kunci: Minat Membaca Karya Sastra.
ABSTRACT
Siti Zuraidah Luthfiati. 1111013000032. "Interest in Reading Literary Works on
Students of Class XII SMK Budhi Warman II Pekayon, Jakarta Timur". Education
Department of Indonesian Language and Literature, Faculty of Tarbiyah and
Teaching, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. September 2015.
Background this study was still low ability reading on the current Indonesia
community especially students in school. In contrast to developed countries such
as Japan which makes the reading as a culture or habit. The one that affects the
reading interest. Interest is read is someone's desire or students against reading,
which prompted the emergence of desire and the ability to read, followed by the
real activities of the reading interest. Reading is personal interest and is a product
of learning.
Interest is one of the factors that are important enough that affects reading
skills. According to Crow and Crow in his Educational Pshycology interest could
be related to a pushing motion styles we tend to be or feel interested in people,
things or activities, that can be effective experience stimulated by the activity
itself. In other words, the interest can be the cause of events and causes of the
participation in the activity.
The subject in this research is the class XII SMK Budhi Warman II semester
ganjil academic year 2015-2016. The author uses qualitative deksriptif method to
process data. This research data collection technique is interview and question
form analysis techniques using the formula P = F/Nx100%.
The results showed that based on the results of the now coming in
(numbering 40) now shows the percentage of 77.5% stated that the students never
take the time to read, whereas there are only 22.5% of students who often spend
time for reading. Thus, it can be concluded that interest students in reading a work
of literature is still lacking and needs to be improved. To achieve perfection,
should interest students can be done with a guide and accompany the students
mainly study teacher at every meeting of the Indonesia language subjects.
Keywords: Interest in Reading Literary Works.
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat, hidayah serta inayahNya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. shalawat dan salam penulis
curahkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah menyelamatkan manusia dari
jalan sesat menuju jalan lurus yang diridai Allah SWT.
Dalam rangka memenuhi kewajiban untuk mencapai gelar sarjana
pendidikan penulis telah menyelesaikan skripsi yang berjudul “Minat Membaca
Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta
Timur”. Selama penulisan skripsi ini, tentunya tidak luput dari pihak-pihak yang
telah membantu baik secara moril dan materiil. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
menyelsaikan skripsi ini:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Makyun Subuki, M. Hum. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dona Aji Karunia Putra, M.A. selaku sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dra. Hindun, M. Pd. selaku dosen penasehat akademik.
5. Dra. Mahmudah Fitriyah. ZA, M. Pd. selaku dosen pembimbing yang dengan
kesabaran serta ketulusan meluangkan waktu dan fikirannya untuk
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Pardi Supardi, S.S., M.Pd selaku Kepala Sekolah SMK Budhi Warman II
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di
sekolah.
7. Eva Andriani, S. Pd selaku guru bahasa Indonesia SMK Budhi Warman II
yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, pengalaman, dan membantu
penulis dalam melaksanakan penelitian.
8. Siswa-siswa kelas XII SMK Budhi Warman II yang telah berpartisipasi
dalam penelitian ini serta pada dewan guru SMK Budhi Warman II dan staff
yang telah bersedia memberikan data-data yang peneliti butuhkan dalam
penyusunan skripsi ini.
9. Ayahanda H.M. Lutfi Azhari dan Ibunda Ati Rusmiati tercinta yang
senantiasa selalu mendukung dan mendoakan saya dalam hal apapun
sehingga saya bisa seperti sekarang ini.
10. Siti Nazilah Luthfiati, M. Fikri Hazami, dan M. Faisal Zamzami, saudarasaudara kandungku yang selalu memotivasi penulis dan memberikan
keceriaannya di setiap waktu.
11. Nur Wachidah, Indri P. Yusuf, Banat Jullieat, Isma Rusan Farhani, Mira
Rosiana, Nona Yuni Safira, Muthianissa Oktaviani, dan Siti Anisah, sahabatsahabatku yang tak pernah henti memberikan doa, semangat, motivasi,
keceriaan, dan keyakinan untuk menyelesaikan skripsi ini.
12. Teman-teman PBSI-A angkatan 2011 yang telah banyak membantu dan
memberikan semangat serta motivasi kepada penulis.
Terima kasih atas segala bantuan dan dorongan yang telah kalian berikan
kepada penulis, semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan. Semoga
skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada penulis khususnya dan pembaca
umumnya.
Jakarta, Oktober 2015
Penulis
Siti Zuraidah Luthfiati
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................. 5
C. Pembatasan Masalah ............................................................................ 5
D. Perumusan Masalah ............................................................................. 5
E. Tujuan Penelitian ................................................................................. 6
F. Manfaat Penelitian ............................................................................... 6
BAB II KAJIAN TEORI
A. Hakikat Minat ...................................................................................... 8
1. Pengertian Minat ............................................................................8
2. Macam-macam Minat ................................................................... 11
B. Hakikat Membaca ............................................................................... 14
1. Pengertian Membaca .................................................................... 14
2. Tujuan membaca .......................................................................... 16
C. Hakikat Sastra .................................................................................... 17
1. Macam-macam karya sastra ......................................................... 20
a. Cerpen ..................................................................................... 20
b. Puisi ......................................................................................... 22
c. Drama ...................................................................................... 24
d. Novel ........................................................................................ 27
e. Pantun ...................................................................................... 29
D. Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................. 30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 32
B. Metode Penelitian .............................................................................. 32
C. Subjek Penelitian ............................................................................... 33
D. Instrumen Penelitian .......................................................................... 33
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 33
F. Teknik Analisis Data .......................................................................... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum SMK Budhi Warman II ........................................ 37
B. Hasil Penelitian .................................................................................. 40
BAB V PENUTUP
A. Simpulan ............................................................................................ 56
B. Saran ................................................................................................. 56
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 58
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
: Angket
: Data Minat Membaca Karya Sastra Kelas XII SMK Budhi
Warman II Pekayon Jakarta Timur
Lampiran 3
: Lembar wawancara dengan guru bahasa Indonesia
Lampiran 4
: Daftar nama-nama guru SMK Budhi Warman II Jakarta
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Membaca adalah bagian dari pengajaran bahasa yang mengalami
perkembangan dari masa ke masa, terutama di negara yang kondisi sosial
ekonominya sudah bagus, seperti negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Pemikiran-pemikiran dalam bidang komunikasi di negara-negara tersebut
berpengaruh pula pada belahan bumi lainnya, yaitu di negara-negara
berkembang seperti Indonesia.
Selain itu, membaca juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa
yang sangat penting di samping tiga keterampilan berbahasa lainnya. Hal ini
karena membaca merupakan sarana untuk mempelajari dunia lain yang
diinginkan sehingga manusia bisa memperluas pengetahuan, bersenang-senang,
dan menggali pesan-pesan tertulis dalam bahan bacaan. Walaupun demikian,
membaca bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Membaca adalah sebuah
proses yang bisa dikembangkan dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai
dengan tujuan membaca tersebut.1
Pentingnya budaya membaca juga telah ditegaskan Taufik Ismail. Dalam
tulisannya yang berjudul “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang
Mengarang”. Memang penyakit malas membaca sekarang ini terjadi kepada
siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Hal ini merupakan suatu
keadaan yang sangat memprihatinkan. Banyak orang yang ingin menguasai ilmu
pengetahuan dan ilmu teknologi dan ingin bersaing dengan negara-negara lain
tetapi kenyataannya penyakit malas itu sulit dihilangkan. Padahal keadaan suatu
bangsa ini lebih ditentukan oleh seberapa besar masyarakat yang mau
menjadikan membaca buku itu hal yang utama.
1
Samsu Somadyo, Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca, (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2011) h.1
2
Keterampilan
membaca
pada
umumnya
diperoleh
dengan
cara
mempelajarinya di sekolah. Keterampilan berbahasa ini merupakan suatu
keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi pengembangan
pengetahuan dan sebagai alat komunikasi bagi kehiduan manusia. Dikatakan
unik karena tidak semua manusia, walaupun telah memiliki keterampilan
membaca, mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan
dirinya atau bahkan menjadikannya budaya bagi dirinya sendiri dikatakan
penting bagi pengembangan pengetahuan karena presentase transfer ilmu
pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca.
Sementara itu, masyarakat di negara-negara berkembang ditandai oleh
rendahnya kemampuan membaca serta budaya baca yang belum tertanam
dengan baik. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia, Venezuela, dan TrinidadTobago kemampuan baca penduduknya berada pada urutan terakhir dari 27
negara yang diteliti. Apakah kemampuan baca berpengaruh secara signifikan
terhadapa kemajuan suatu negara atau sebaliknya, masih harus dibuktikan hanya
hipotesis yang menyatakan negar maju masyarakatnya maju pula dalam
membacanya, telah terbukti.2
Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang
tertulis dalam teks. Untuk keperluan tersebut, selain perlu menguasai bahasa
yang dipergunakan, seorang pembaca perlu juga mengaktifkan berbagai proses
mental dalam sistem kognisinya.
Oleh karena itu, kegiatan membaca bukanlah suatu kegiatan yang
sederhana seperti apa yang diperkirakan banyak pihak sekarang ini. Kegiatan
membaca bukan hanya kegiatan yang terlihat secara kasat mata, dalam hal ini
siswa atau mahasiswa melihat sebuah teks, membacanya dan setelah itu diukur
dengan kemampuan menjawab sederet pertanyaan yang disusun mengikuti teks
tersebut sebagai alat evaluasi, melainkan dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dari
dalam maupun dari luar pembaca. Kegiatan membaca bukan hanya kegiatan
yang melibatkan prediksi, pengecekan skema, atau dekoding, akan tetapi juga
2
Iskandarwassid dan Dadang Sumendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia, 2008) h. 245-246
3
merupakan interaksi grafofonik, sintaktik, semantik, dan skematik. Di samping
itu, keterlibatan pembaca di dalam mencari arti dari teks yang ia baca
mempengaruhi pula.3
Salah satu yang mempengaruhi membaca tersebut adalah minat. Minat
baca adalah merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap bacaan, yang
mendorong munculnya keinginan dan kemampuan untuk membaca, diikuti oleh
kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Minat baca bersifat pribadi
dan merupakan produk belajar. Apabila seorang siswa tidak mempunya minat
dalam membaca, terutama membaca buku pelajaran di sekolah, hal itu akan
membuat proses belajar mereka sedikit terhambat. Ini sudah menjadi tugas para
guru untuk meningkatkan minat baca mereka.
Salah satu faktor lain yang dapat menurunkan minat baca pada anak dapat
ditemukan di kelas bahasa, saat materi pemahaman bahasa (reading
comprehension), para guru terlalu sering meminta siswanya berhenti di setiap
paragraf untuk menjelaskan dan mendiskusikan pemahaman, bukannya
mendapatkan gambaran besar, alur, dan informasinya lebih dulu. Akibatnya,
siswa tidak lagi bisa menikmati dan mengikuti proses yang ada dalam materi
bacaan dengan baik dan hanya bisa mendiskusikan satu sudut pandang
pemahaman.4
Dalam membaca karya sastra pada umumnya mereka lebih menyukai
bacaan yang ringan saja seperti halnya komik-komik, cerpen yang suka muncul
di dalam majalah-majalah anak, puisi-puisi yang terdapat dalam buku pelajaran
bahasa Indonesia, dan novel-novel bertemakan percintaan yang pada saat ini
sudah digandrungi para remaja tersebut. Sampai itu saja batasan bacaan meraka
pada saat ini.
Tetapi tidak semua dari mereka minat bacanya kurang. Ada beberapa yang
mempunyai minat baca yang lebih dibandingkan teman-teman lainnya
dikarenakan dia memang hobi membaca. Bahan bacaan yang ia baca bisa
dimulai dari surat kabar, ensiklopedia, sampai ke novel sastra yang sebenarnya
3
Ibid, h.247
Agus Setiawan, The Art of Reading, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012) h. 5
4
4
bahasanya belum ia pahami betul. Dari hobi itulah kita sebagai calon guru bisa
meningkatkan minat baca mereka termasuk mengajak teman-teman lainnya
untuk lebih sering membaca buku atau bahan bacaan lainnya.
Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk mengembangkan kebiasaan
membaca buku yaitu dengan memanfaatkan waktu luang untuk membaca di
mana saja dan kapan saja. Baik itu buku pelajaran, koran, majalah, novel,
maupun buku ensiklopedia. Namun saat ini banyak orang yang tidak mau
membaca meskipun mereka memiliki waktu luang. Mereka lebih banyak
berbicara atau membicarakan orang lain dalam kesehariannya.
Pada masa sekarang ini, pentingnya membaca telah semakin sering
diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat dalam berbagai kesempatan
dan forum. Hal ini sudah merupakan tuntutan kehidupan modern yang terasa
semakin mendesak. Kehidupan modern yang salah satu ciri pokoknya adalah
perkembangan ilmu teknologi yang semakin menuntut sikap orang mempunyai
ketepatan dan kecepatan yang tinggi untuk menafsirkan dan menyerap berbagai
informasi. Informasi bukan hanya sumber-sumber lisan tetapi yang terutama dari
sumber-sumber yang tertulis. Sekarang ini sumber-sumber tertulis semakin
membudaya sehingga dapat terlihat pentingnya membaca. Maka dari itu untuk
memperoleh kemampuan membaca, maka minat baca tinggi memegang peranan
tinggi. Tanpa adanya minat membaca maka kehidupan ini akan diwarnai
ketertinggalan. Minat membaca harus dipupuk, dibina, dan dibimbing.
Pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas sudah terlihat jelas
bagaimana minat baca yang diperlihatkan oleh para siswa. Ada yang sangat
antusias dan sangat mengapresiasi pelajaran membaca karya sastra ada juga
yang cuek-cuek saja sambil mengikuti pelajaran. Maka dari itu peneliti ingin
mengangkat masalah tentang minat membaca karya sastra upaya meningkatkan
minat baca mereka terutama dalam membaca karya sastra.
5
Berangkat dari penjelasan dia atas, oleh karena itu penulis memilih judul:
“Minat Membaca Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II
Pekayon Jakarta Timur”
B. Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat diindentifikasikan masalahmasalah yang berkaitan dengan minat membaca karya sastra sebagai berikut:
1. Kurangnya minat siswa dalam membaca karya sastra.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca siswa.
3. Peran guru untuk meningkatkan minat siswa dalam membaca karya sastra.
C. Pembatasan Masalah
Pada penelitian ini penulis membatasi masalah agar dapat dibahas dengan
jelas dan tidak meluas, hal yang diteliti yaitu minat siswa dalam membaca karya
sastra. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas XII SMK Tahun Pelajaran
2015/2016. Lembaga pendidikan yang dimaksud adalah SMK.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana minat siswa dalam membaca karya sastra?
2. Bagaimana usaha guru untuk meningkatkan minat baca karya sastra pada
anak didik mereka?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Untuk mendeskripsikan minat siswa dalam membaca karya sastra.
2. Untuk mengetahui usaha guru dalam meningkatkan minat baca karya sastra
pada anak didik mereka
6
F. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian ini
menjadi pengalaman, dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi
manfaat, baik secara teoretis maupun praktis. Untuk lebih jelas mengenai kedua
manfaat tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut.
Manfaat teoretis
1. Sebagai bahan pembelajaran bagi guru dalam mengetahui kemampuan minat
membaca siswa.
2. Sebagai panduan guru-guru dan pengajar bahasa Indonesia untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap membaca sebuah karya
sastra.
Manfaat Praktis
1. Untuk Siswa
Bagi para yang suka membaca karya sastra agar pengetahuannya dalam
bidang bahasa dan sastra Indonesia lebih luas setelah ia membaca sebuah
karya sastra dan siswa senang membaca karya sastra ketika pelajaran bahasa
Indonesia sedang berlangsung di dalam kelas.
2. Untuk Guru
Sebagai evaluasi diri bagi guru untuk menigkatkan kulaitas dalam kegiatan
proses belajar mengajar di kelas dan lebih memotivasi siswa dalam membaca
karya sastra termasuk puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya.
3. Untuk Sekolah
Sebagai wacana untuk memberikan motivasi kepada guru Bahasa Indonesia
untuk mengembangkan proses belajar mengajar, perihal materi ajar terkait
keterampilan membaca guna mengetahui minat membaca siswa di sekolah
tersebut.
7
4. Untuk Mahasiswa
Sebagai pengetahuan tentang pembelajaran bahasa Indonesia terkait
membaca karya sastra, sehingga dapat mengetahui minat membaca siswa
dan menambah bekal dalam belajar melalui penelitian ini. Selain itu, dapat
mempermudah mahasiswa dalam mencari referensi terkait penelitian serupa
sebagai rujukan dan acuan yang dijadikan tinjauan pustaka.
8
BAB II
KAJIAN TEORETIS
A. Hakikat Minat
1. Pengertian Minat
Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang
mempengaruhi kemampuan membaca. Tampubolon mengatakan bahwa
minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat
berkembang jika ada motivasi. Sebagai contoh, seseorang mungkin
mempunyai minat untuk membaca sebuah buku bacaan sastra, tetapi
harganya mahal maka ia tidak melaksanakannya.
Menurut Crow dan Crow, minat (interest) bisa berhubungan
dengan gaya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik
pada orang, benda atau kegiatan, itupun bisa berupa pengalaman efektif
yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat dapat
menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.1
Muhibbin Syah mengatakan dalam bukunya bahwa secara
sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (1998), minat
tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya
yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan,
perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.2
Terdapat tiga batasan minat, yakni (1) suatu sikap yang dapat
mengikat perhatian seseorang ke arah objek tertentu secara selektif, (2)
suatu perasaan bahwa aktivitas dan kegemaran terhadap objek tertentu
sangat berharga bagi individu, dan (3) bagian dari motivasi atau kesiapan
yang membawa tingkah laku ke suatu arah atau tujuan tertentu.
Menurut Syaiful Bahri, minat adalah kecenderungan yang menetap
untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang
1
L.D. Crow dan A. Crow, Educational Psychology, (New York: American Book Company,
1958) h. 248
2
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010) h. 152
9
berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara
konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa
lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada
yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu
hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat
atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
Minat tidak hanya diekspresikan melalui pertanyaan yang
menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai sesuatu daripada yang
lainnya, tetapi dapat juga diimplementasikan melalui partisipasi aktif
dalam suatu kegiatan. Anak didik yang berminat terhadap sesuatu
cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu
yang diminati itu dan sama sekali tak menghiraukan sesuatu yang lain.3
Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Anak didik
yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya
dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Anak didik
mudah menghapal pelajaran yang menarik minatnya. Proses belajar akan
berjalan lancar bila disertai minat. Minat merupakan alat motivasi yang
utama yang dapat membangkitkan minat anak didik agar pelajaran yang
diberikan mudah anak didik pahami. Ada beberapa macam cara yang
dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai
berikut:
a. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik,
sehingga dia rela belajar tanpa paksaan.
b. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan
pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah
menerima bahan pelajaran.
c. Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil
belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang
kreatif dan kondusif.
3
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011) h.166-167
10
d. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam
konteks perbedaan individual anak didik.4
Minat dipengaruh oleh faktor yang ada dalam diri dan dari luar diri
(lingkungan). Namun, faktor yang paling dominan berpengaruh adalah
faktor lingkungan. Menurut Bloom minat seseorang dipengaruhi oleh
lingkungan. Menurut pendapat ini faktor-faktor yang mempengaruhi
minat diantaranya adalah pekerjaan sosial ekonomi, jenis kelamin,
pengalaman, kepribadian, dan pengaruh lingkungan. Faktor-faktor ini
saling
berinteraksi
dan
saling
mempengaruhi.
Walaupun
besar
pengaruhnya sudah pasti tidak akan sama.
Minat akan berkembang membentuk suatu kebiasaan. Dengan kata
lain, minat akan menjadi syarat terbentuknya kebiasaan. Bila kegiatan
membaca dilandasi minat yang tinggi, maka kegiatan itu akan dilakukan
secara tetap dan teratur. Kebiasaan merupakan hasil pelaziman yang
berlangsung pada waktu yang lama. Bentuk-bentuk minat akan
dimanifestasikan dalam pilihan suka atau tidak suka dan senang atau tidak
senang terhadap suatu objek, kegiatan, dan gagasan, atau orang yang akan
memuaskan kebutuhannya.5
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat
merupakan dasar pembentukan suatu kebiasaan. Kebiasaan akan
terbentuk manakala pembaca memiliki keinginan yang tinggi terhadap
kegiatan membaca. Kegiatan membaca yang tinggi dan terus-menerus
akan membentuk kebiasaan.
Jika kita akui secara jujur, rasanya sedikit sekali masyarakat Indonesia
yang bisa mengisi waktu senggang mereka untuk membaca. Berbeda
sekali dengan masyarakat Jepang misalnya, di mana dan kapan saja
selama tidak melakukan pekerjaan lain mereka tidak pernah lepas dari
buku. Mereka membaca dan membaca terus. Banyak masyarakat kita
4
Ibid, h.167
Iskandarwassid dan Dadang Sumendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia, 2008) h. 113-114
5
11
masih terdapat anggapan bahwa membaca adalah pekerjaan guru atau
pekerjaan lainnya. Inilah yang menjadi pokok permasalahan sebagai
penyebab utama rendahnya minat siswa untuk membaca.
Crow dan Crow berpendapat ada tiga faktor yang menjadi timbulnya
minat, yaitu:
a. Dorongan dari dalam diri individu, misalnya dorongan untuk makan,
ingin tahu seks. Dorongan untuk makan akan membangkitkan untuk
bekerja atau mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan
dan lain-lain. Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan
membangkitka minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu, dan
lain-lain. Dorongan seks membangkitkan minat untuk menjalin
hubungan dengan lawan jenis, minat terhadap pakaian dan lain-lain.
b. Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk
melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya minat tethadap pakaian
karena ingin mendapat persetujuan atau perhatian orang lain. Minat
untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin
mendapat penghargaan dari masyarakat.
c. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan
emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan
menimbulkan perasan senang dan hal tersebut akan memperkuat
minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan
menghilangkan minat terhadap hal tersebut.6
2. Macam-macam minat
Menurut Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab7 minat dapat
digolongkan menjadi beberapa macam, ini tergantung pada sudut pandang
dan cara pengolongan misalnya timbulnya minat, berdasarkan arahnya
6
321
7
Lestar D. Crow dan Alice Crow, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 2005) h.
Abdullah Rahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar (dalam
Perspektif Islam), (Jakarta: Prenada Media, 2004) h. 265
12
minat, dan berdasarkan cara mendapatkan atau mengungkapkan minat itu
sendiri.
a. Witherington di dalam Abdurrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab
mengatakan bahwa berdasarkan timbulnya, minat tidak dapat
dibedakan menjadi minat primitif dan minat kultural. Minat primitif
adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringanjaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makanan, perasaan enak
atua nyaman, kebebasan beraktivitas dan seks. Minat kultural atau
minat sosial, adalah minat yang timbulnya karena proses belajar,
minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan kita.
b. Joner di dalam Abudrrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab
mengatakan bahwa berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan
menjadi minat intrinsik dan ekstrinsik. Minat intrinsik adalah minat
yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini
merupakan minat yang lebih mendasar atau minat aseli. Sebagai
contoh: seseorang belajar karena memang pada ilmu pengetahuan atau
karena senang membaca, bukan karena ingin mendapatkan pujian.
Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir
dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya sudah tercapai ada
kemungkinana minat tersebut hilang. Dalam minat ekstrinsik ada
uasaha untuk melanjutkan aktivitas sehingga tujuannya akan menurun
atau hilang.
c. Super & Ciets di dalam Abudrrahman Saleh dan Muhbib Abdul
Wahab mengatakan bahwa berdasarkan cara mengungkapkan minat
dapat dibedakan menjadi emapat yaitu: Expressed interest, manifest
interset, tested interest, inventioned interest.
1) Expressed interest adalah minat yang diungkapkan dengan cara
meminta kepada subjek untuk menyatakan atau menuliskan
kegiatan-kegiatan baik yang berupa tugas maupun bukan tugas
yang disenangi dan paling tidak disenangi. Dari jawabannya
dapatlah diketahui minatnya.
13
2) Manifest interest adalah minat yang diungkapkan dengan cara
mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung
terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subyek atau dengan
mengetahui hobinya.
3) Tested
interest,
adalah
minat
yanag
diungkapkan
cara
menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif yang diberikan, nilainilai yang tinggi pada suatu objek atau masalah biasanya
menunjukkan minat yang tinggi pula terhadap hal tersebut.
4) Inventoried interset, adalah minat yang diungkapkan dengan
menggunakan alat yang sudah distandardisasikan, di mana biasanya
berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada subjek apakah
ia senang atau tidak senang terhadap sejumlah aktivitas atau
seseuatu objek yang ditanyakan.8
Berdasarkan macam-macam minat yang telah penulis uraikan,
maka yang sejalan dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu minat
intrinsik dan inventoried interset. Minat intrinsik merupakan salah satu
bagian dari minat berdasarkan arahnya, minat tersebut adalah minat yang
berhubungan dengan aktivitas seseorang yang memiliki tujuan mendasar
seperti seseorang membaca sebuah karya sastra karena memang ingin
mendapat ilmu dan pengalaman baru, bukan hanya sekedar untuk
mengisi waktu luang saja, sedangkan inventoried interset merupakan
salah satu bagian cara mengungkapkan minat yang berhubungan dengan
cara untuk mengetahui minat subjek melalui alat yang memuat
pertanyaan untuk mengetahui apakah seseorang berminat atau tidak
dalam membaca sebuah karya sastra.
8
Ibid, h.266-268
14
B. Hakikat Membaca
1. Pengertian Membaca
Dalam kehidupan sehari-hari peranan membaca tidak dapat
dipungkiri. Ada beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh
kegiatan membaca antara lain: kegiatan membaca dapat membantu
memecahkan masalah, dapat memperkuat suatu keyakinan/ kepercayaan
pembaca, sebagai suatu pelatihan, memberi pengalaman astetis,
meningkatkan prestasi, memperluas pengetahuan dan sebagainya.
Henry Guntur Tarigan mengungkapkan membaca yaitu suatu
proses
yang dilakuan serta dipergunakan
oleh pembaca untuk
memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media
kata-kata/bahasa tulis.9 Definisi lain yang lebih lengkap adalah melihat
dan memahami tulisan dengan melisankan atau hanya dalam hati. Definisi
itu mencakup tiga unsur dalam kegiatan membaca, yaitu pembaca (yang
melihat, memahami, dan melisankan dalam hati), bacaan (yang dilihat),
dan pemahaman (oleh pembaca).10
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud membaca adalah suatu
proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu, para pelajar
harus dibantu untuk menanggapi atau memberi respon terhadap lambanglambang visual yang menggambarkan tanda-tanda yang sama yang telah
mereka tanggapi sebelum itu.
Tampubolon di dalam bukunya berpendapat bahwa usaha-usaha
untuk membentuk kebiasan membaca hendaklah dimulai sedini mungkin
dalam kehidupan, yaitu sejak masa anak-anak. Pada masa anak-anak,
usaha pembentukan dalam arti peletakan fundasi minat yang baik dapat
dimulai sejak kira-kira umur dua tahun. Setelah anak mulai sekolah dan
telah dapat membaca permulaan (huruf, kata, dan kalimat), dia perlu
semakin dirangsang untuk membuka dan membaca buku-buku sesuai
9
Henry Guntur Tarigan, MEMBACA sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:
Angkasa, 2008) h. 7
10
Rahayu S. Hidayat, Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif, (Jakarta:
Intermasa, 1990) h.27
15
dengan yang dipelajarinya di sekolah. Selain itu, mereka juga perlu
sesekali dibawa ke perpustakaan. 11
Kurt Franz dan Bernhard Meier mengatakan mengapa remaja
membaca atau tidak membaca, hanya dapat diterangkan bila diketahui
keperluan komunikasinya. Dalam literatur dalam jangkauan ini terdapat –
analog dengan pembagian jenisnya – banyak sekali alasan “dorongan
membaca” pada remaja. Berkat jasa ilmu pengetahuan sosial modern
maka kebergantungan keadaan, sikap, kecenderungan, kebiasaan,
perhatian, dan keperluan tertentu pada faktor-faktor yang ditentukan
secara sosial dapat diketahui. Hal itu dalam garis besar dan secara
keseluruhannya dapat berlaku pula bagi motivasi membaca. Tak dapat
diragukan lagi bahwa instansi-instansi sosial primer dan sekunder
mempengaruhi keadaan dan sikap membaca (rumah orang tua, sekolah,
kelompok, atau perkumpulan). Perkembangan motivasi membaca juga
selalu berhubungan dengan pensosialan anak. Seperti telah dilakukan
pada jenis teks, juga di sini dapat dilihat dua alur dasar motif-motifnya,
yaitu informasi dan hiburan. Dalam hal itu kedua kompenen tersebut
bertumpang tindi dan bekerja sama, tetapi agaknya salah satu dari kedua
motif itu dominan. 12
Giehrl masih menunjukkan jenis utama dalam membaca yang
dirinci sebagai berikut:
a. Membaca informatif
b. Membaca evasoris
c. Membaca kognitif
d. Membaca literatis
Penyelidikan empiris dapat menunjukkan bahwa di hampir semua jenis
sekolah, motif membaca “pertama-tama adalah sebagai hiburan”, dan ini
11
Tampubolon, Kemampuan Membaca (Teknik Membaca Efektif dan Efisien), (Bandung:
Angkasa, 2008) h. 228-229
12
Kurt Franz/Bernhard Meier, Membina Minat Baca, (Bandung: Remadja Karya CV, 1986)
h. 8
16
jauh
melebihi
“pembangunan”).
membaca
untuk
kepentingan
belajar
(informasi,
13
2. Tujuan membaca
Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Dengan
melakukan kegiatan
membaca tersebut, tentu dengan tujuan yang
berbeda-beda. Dengan demikian, orang membaca dengan berbagai tujuan:
a. Kesenangan
b. Menyempurnakan membaca nyaring
c. Menggunakan strategi tertentu
d. Memperbaharui pengetahuan tentang suatu topik
e. Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui
f. Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis
g.
Mengkonfirmasi atau menolak prediksi
h. Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang
diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari
tentang struktur teks14
i. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan
yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh
sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk
memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta.
j. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada
setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan
seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah,
adegan-adegan, dan kejadian buat dramalisasi. Ini disebut membaca
untuk mengetahui urutan atau susunan organsisasi cerita.
k. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang
baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang
dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang
13
14
h.11
Ibid, h. 9
Farida Rahim, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005)
17
dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuan. Membaca seperti
ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama.15
Dengan membaca, seseorang dapat bersantai, berinteraksi dengan
perasaan dan pikiran, memperoleh informasi, dan meningkatkan ilmu
pengetahuan. Menurut Bowman, membaca merupakan sarana yang tepat
untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat. Membaca
bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Banyak faktor yang
dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. Secara umum,
faktor-faktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru, siswa, kondisi
lingkungan, materi pelajaran, serta teknik pengajaran membaca. 16
C. Hakikat Sastra
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa sastra
mengandung pengertian sebagai berikut:
1. Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan
bahasa sehari-hari).
2. Kesusastraan, karya tulis, yang juga dibandingkan dengan tulisan lain
memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan,
keindahan dalam isi dan ungkapannya, drama, epik, dan lirik.
3. Kitab suci (Hindu), (kitab) ilmu pengetahuan.
4. Pustaka, kitab primbon (berisi) ramalan, hitungan, dan sebagainya.
5. Tulisan dan huruf.17
Bagi banyak orang, misalnya, karya sastra menjadi sarana untuk
menyampaikan pesan tentang kebenaran, tentang apa yang baik dan buruk.
Ada pesan yang sangat jelas disampaikan, ada pula yang bersifat tersirat
secara halus. Karya sastra juga dapat dipakai untuk menggambarkan apa yang
15
Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:
Angkasa, 1983) h.9
16
Samsu Somadyo, Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca, (Yogyakarta, Graha
Ilmu, 2011) h.2
17
Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008)
18
ditangkap sang pengarang tentang kehidupan di sekitarnya. Kemampuan
sastra dalam menyampaikan pesan menempatkan sastra menjadi sarana kritik
sosial. Contohnya dapat dilihat dari kehidupan sekitar kita sehari-hari, seperti
penggunaan puisi dalam demonstrasi. Tetapi, kritik sosial dapat juga
disampaikan oleh teks dengan cara yang lebih tersirat dan halus melalui
piranti-piranti sastra, seperti penggunaan simbol dan nada ironis.18
Pengajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa.
Namun pengajaran sastra tidak dapat disamakan dengan pengajaran bahasa.
Perbedaan Sastra ialah teks-teks yang tidak hanya disusun atau dipakai untuk
suatu tujuan komunikatif yang praktis dan yang hanya berlangsung untuk
sementara. Sebuah karya sastra dapat dibaca menurut tahap arti yang berbedabeda. Dalam sebuah novel, kita tidak hanya menjadi maklum akan
pengalaman dan hidup batin tokoh-tokoh fiktif, tetapi juga lewat peristiwaperistiwa dapat diperoleh pengertian mengenai tema yang lebih umum
sifatnya, misalnya tema sosial, penindasan dalam masyarakat dan
sebagainya.19
Karena sifat rekaannya, sastra secara tidak langsung mengatakan
sesuatu mengenai kenyataan dan tidak menggugah kita untuk langsung
bertindak.
Oleh
karena
itu,
sastra
memberikan
kekuasaan
untuk
memperhatikan dunia-dunia lain, kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam
angan-angan, dan sistem nilai yang mungkin tidak dikenal atau tidak dihargai.
Bahasa sastra dan pengolahan bahan lewat sastra dapat membuka batin untuk
membuka pengalaman baru atu mengajak kita untuk mengatur pengalaman
tersebut dengan suatu cara yang baru.20
Hirarki keduanya terletak pada tujuan akhirnya. Pada pengajaran
sastra yang dasarnya mengemban misi afektif (memperkaya pengalaman
siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di
sekelilingnya) yang memiliki tujuan akhir menanam, menumbuhkan, dan
18
Melani Budianta. Membaca Sastra. (Magelang: INDONESIATERA, 2006) h. 19-20
Partini Sardjono Pradotokusumo, Pengkajian Satra,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
September 2005) h. 28-29
20
Ibid, h. 31
19
19
mengembangkan
kepekaan
terhadap
masalah-masalah
manusiawi,
pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai baik dalam konteks
individual maupun sosial. Sastra memang tidak dapat dikelompokkan ke
dalam aspek pembelajaran berbahasa karena bukan merupakan bidang yang
sejenis tetapi pembelajaran sastra dilaksanakan secara terintegrasi dengan
pembelajaran bahasa baik dengan keterampilan menulis, membaca,
menyimak, maupun berbicara. Sastra memiliki fungsi dalam kehidupan
manusia, yaitu:
1. Fungsi rekreatif, memberikan rasa senang, gembira atau menghibur.
2. Fungsi didaktif, mengarahkan dan mendidik pembaca karena mengandung
nilai-nilai moral.
3. Fungsi estetika, memberikan keindahan bagi pembaca karena bahasanya yang
indah.
4. Fungsi moralitas, membedakan moral yang baik dan tidak baik bagi
pembacanya karena sastra yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral
yang tinggi.
5. Fungsi religiusitas, mengandung ajaran-ajaran agama yang harus diketahui
oleh pembaca.
Tingkat apresiasi seorang siswa terhadap nilai sebuah karya sangat
bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Sebagai contoh, jika seorang
siswa telah mengalami proses belajar agama secara mendalam maka tingkat
apresiasinya terhadap nilai seni baca Al-Qur’an dan kaligrafi akan mendalam
pula. Dengan demikian, pada dasarnya seorang siswa baru akan akan
memiliki apresiasi yang memadai terhadap objek tertentu apabila sebelumnya
ia telah mempelajari materi yang berkaitan dengan objek yang dianggap
mengandung nilai penting dan indah tersebut.21
21
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2010) h. 119
20
1. Macam-macam karya sastra:
a. Cerpen
Pengertian cerita pendek telah banyak dibuat dan dikemukakan
oleh pakar sastra, sastrawan. Memang membuat definisi cerita pendek
itu tidaklah mudah. Walaupun demikian, akan diterakan beberapa
pengertian cerita pendek yang dikemukakan oleh mereka.
Dalam buku Tifa Penyair dan Daerahnya, H.B. Jassin
megemukakan bahwa cerita pendek ialah cerita yang pendek. Jassin
jauh lebih jauh mengungkapkan bahwa tentang cerita pendek ini orang
boleh bertengkar, tetapi cerita yang sertus halaman panjangnya sudah
tentu tidak bisa disebut cerita pendek dan memang tidak ada cerita
pendek yang demikian panjangnya. Cerita yang panjangnya sepuluh
atau dua puluh halaman masih bisa disebut cerita pendek tetapi ada
juga cerita pendek yang panjangnya hanya satu halaman.
Pengertian yang sama dikemukakan oleh Sumardjo dan Saini di
dalam buku mereka Apresiasi Kesusastraan. Mereka berpengertian
bahwa cerita pendek (atau disingkat cerpen) adalah cerita yang
pendek. Tetapi dengan hanya melihat fisiknya yang pendek orang
belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuah
cerpen.
Sumardjo juga mengemukakan pengertian cerita pendek di
dalam bukunya
Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen.
Ia
berpengertian bahwa cerita pendek adalah fiksi pendek yang selesai
dibaca dalam “sekali duduk”. Cerita pendek hanya memiliki satu arti
satu krisis dan satu efek untuk pembacanya. Untuk ukuran Indonesia
cerpen terdiri dari 4 sampai 15 halaman.22
22
AntilanPurba, Sastra Indonesia Kontomporer, (Yogyakarta: GrahaIlmu, 2011) h. 49-50
21
Struktur Cerpen
1) Tema
Menurut
Stanton
tema
adalah
sebuah
arti
pusat
pengalaman-pengalaman, tema cerita mempunyai nilai khusus
atau nilai universal, yaitu memberikan kekuatan dan kesatuan
kepada peristiwa-peristiwa yang digambarkan dan menceritakan
sesuatu kepada seseorang tentang kehidupan pada umumnya.
Tema tidak selalu dinyatakan secara eksplisit oleh pengarang,
artinya tema itu tidak dinyatakan secara terang-terangan oleh
pengarang. Dia memasukkan tema itu secara bersama-bersama
dengan atau kejadian dalam cerita. 23
2) Alur
Dalam pengertian yang luas, plot sebuah cerita adalah
keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat di dalamnya.
Biasanya plot dibatasi hanya pada peristiwa-peristiwa yang
mempunyai hubungan sebab akibat, yang kalau salah satu di
antaranya dihilangkan akan merusak jalan cerita. Peristiwaperistiwa tidak hanya meliputi yang bersifat fisik seperti
percakapan atau perbuatan, tetapi juga termasuk perubaha sikap
tokoh yang mengubah jalan nasib.24
3) Latar
Unsur lain yang ada dalam sebuah cerita adalah latar atau setting.
Banyak teori sastra yang menunjukkan pengertian tentang latar
ini. Abrams mengatakan bahwa latar cerita atau drama adalah
tempat
terjadinya
peristiwa
secara
umum
atau
waktu
berlangsungnya suatu tindakan. Sejajar dengan pendapat di atas
23
Siti Sundari, dkk., Memahami Cerpen-cerpen Danarto, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, 1978) h. 26
24
Ibid, h.38
22
ialah apa yang dikatakan oleh Kenney bahwa latar adalah unsur
fiksi yang menyatakan di mana dan kapan peristiwa terjadi.25
4) Tokoh/Pelaku
Tugas pokok pelaku dalam cerpen adalah melaksanakan atau
membawa tema cerita menuju ke sasaran tertentu. Oleh karen itu,
cerita yang tanpa pelaku sulit menggiring masalah ke tujuan yang
akan dicapai.26
b. Puisi
Puisi adalah karya sastra. Semua karya sastra bersifat
imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak digunakan
makna kias dan makna lambang (majas). Dibandingkan dengan
bentuk karya sastra yang lainnya, puisi lebih bersifat konotatif.
Bahasanya lebih banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan
terjadinya pengkonsentrasian atau pemadatan segenap kekuatan
bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi juga
padat. Keduanya bersenyawa secara padu bagaikan telur dalam
adonan roti.27
Selanjutnya “Puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa)
penyair mengenai kehidupan manusia, alam, Tuhan sang pencipta,
melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh, dalam
bentuk teks yang dinamakan puisi.”28
Di balik kata-katanya yang ekonomis, padat, dan padu tersebut
puisi berisi potret kehidupan manusia. Puisi menyuguhkan persoalanpersoalan kehidupan manusia dan juga manusia dalam hubungannya
dengan alam dan Tuhan sang pencipta.29
25
Ibid, h.58
Wijaya Heru Santoso dan Sri Wahyuningtyas, Pengantar Apresiasi Prosa, (Surakarta:
Yuma Pustaka, 2010) h.6
27
Hermawan J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1995) h. 23
28
Widjojoko & Hidayat Endang, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: Upi Press,
2006) Cet ke-1. h. 51
29
Ibid, h. 51
26
23
Dari definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa puisi
merupakan karya sastra yang meliputi emosi, imajinasi, pemikiran,
ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan,
kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Hakekat Puisi
1) Tema atau Makna
Jelas
bahwa
dengan
puisinya
sang
penyair
ingin
mengemukakan sesuatu bagi para penikmatnya. Sang penyair
melihat-melihat atau mengalami beberapa kejadian dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari. Dia ingin mengememukakan,
mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan cara
sendirinya. Disamping itu setiap puisi juga harus mengandung
makna, sekalipun mungkin dalam beberapa puisi makna tersebut
rada saru samar, terlebih pun kalau sang penyair begitu mahir
mempergunakan “figurative language” dalam karyanya.
2) Rasa
Menurut Henry Guntur Tarigan, yang dimaksud dengan rasa
atau feeling adalah “the poet’s attitude toward his subject matter”,
yaitu sikap dan penyair terhadap pokok permasalahan yang
terkandung dalam puisinya.
3) Nada
Nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair
terhadap pembacanya, atau dengan perkataan lain: sikap sang
penyair
terhadap
para
penikmat
karyanya.
Nada
yang
dikemukakan oleh seorang penyair dalam sesuatu sajak, akan ada
sangkut-pautnya atau hubungannya yang erat dengan tema dan
rasa yang terkandung pada sajak tersebut.
24
4) Tujuan atau Amanat
Tujuan dapat mendorong orang melakukan sesuatu. Hanya
terkadang tujuan tersebut tidak disadari; namun dia tetap ada:
secara eksplisit atau secara implisit. Demikian pula halnya dengan
seorang penyair. Sadar atau tidak sadar dia mempunyai tujuan
dengan sajak-sajak ciptaannya itu. Apakah tujuan ini pertama
sekali untuk memenuhi kebutuhan pribadi sendiri atau yang
lainnya, bergantung kepada pandangan hidup sang penyair. Ayip
Rosidi mengatakan bahwa pertama kali adalah untuk memuaskan
diri sendiri, sesudah itu baru pada yang lain-lainnya.30
c. Drama
Menurut Melani Budianta drama adalah sebuah genre sastra
yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya
dialog atau cakapan di antara
tokoh-tokoh yang ada. Selain
didominasi oleh cakapan yang langsung itu, lazimnya sebuah karya
drama
juga
memperlihatkan
adanya
semacam
petunjuk
pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana,
lokasi, atau apa yang dilakukan oleh tokoh.31
Suwardi Endraswara mengemukakan dalam bukunya bahwa
drama adalah karya yang memiliki daya rangsang cipta, rasa, dan
karsa yang amat tinggi. Sesungguhnya, dalam drama juga terkandung
aspek negatif, diantaranya drama yang memuat kekerasan dan adegan
seksual, kadang memicu penonton untuk meniru. Drama yang
menawarkan erotica tersembunyi pun sering memengaruhi romantika
hidup berkeluarga. Bahkan romantika dalam drama seringkali juga
memperdaya antar-pelaku untuk saling berkasih-kasihan di luar
panggung. Begitu pula drama yang sedih, sering memengaruhi
h. 10-20
30
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: ANGKASA, 1993)
31
Melani Budianta, Membaca Sastra, (Magelang: INDONESIATERA, 2006) h. 95
25
penonton harus menjiwai kesedihan. Namun, dibalik hal-hal negatif,
ada pula muatan aspek positif drama, yakni sebagai berikut.
1) Drama agaknya merupakan sarana yang paling efektif dan langsung
untuk melukiskan dan menggarap konflik-konflik sosial, dilema
moral, dan problema personal tanpa menanggung konsekuensikonsekuensi khusus dari aksi-aksi kita.
2) Aktor-aktor drama memaksa kita untuk memusatkan perhatian kita
pada protagonist lakon, untuk merasakan emosi-emosinya, dan
untuk menghayati konflik-konfliknya, justru untuk ikut sama-sama
merasakan
penderitaan
yang
mengurangi
pembinaan
dan
ketidakadilan yang dialami pelaku-pelaku atau tokoh-tokoh drama.
3) Melalui tragedi, misalnya, dengan sedikit terluka di hati, dapat
belajar bagaimana hidup dengan penuh derita, dan mengajarkan
dan memberikan wawasan suatu ketabahan dan dengan kemuliaan
dapat menandinginya.
4) Melalui komedi, kita dapat menikmati peluapan gelaktawa sebagai
suatu pembukaan tabir rahasia mengenai untuk apa manusia
menentang/melawan dan untuk apa pula manusia mempertahankan
atau membela sesuatu.
5) Melodrama yang ditulis dengan baik, fantasi, atau farce, dapat
mengusir keengganan, memperluas imajinasi kita, dan untuk
sebentar membawa diri keluar dari diri kita sendiri, sehingga tak
mengherankan jika drama telah pula dikenal berfungsi terapis.32
Unsur-unsur Drama
a. Alur
Seperti juga bentuk-bentuk sastra lainnya, maka suatu lakon
haruslah bergerak maju dari suatu permulaan (beginning) melalui
suatu pertengahan (middle) menuju suatu akhir (ending), dalam
32
Suwardi Endraswara, MetodePembelajaran Drama, (Yogyakarta: CAPS, 2011) h. 13-14
26
drama, bagian-bagian ini dikenal dengan istilah-istilah eksposisi,
komplikasi, dan resolusi.
Eksposisi suatu lakon mendasari serta mengatur gerak atau
action dalam masalah-masalah waktu dan tempat. Eksposisi
memperkenalkan
para
pelaku
kepada
kita,
yang
akan
dikembangkan dalam bagian utama lakon itu, dan memberikan
suatu indikasi mengenai resolusi.
Komplikasi
bertugas
mengembangkan
konflik.
Sang
pahlawan atau pelaku utama menemui gangguan, penghalangpenghalang
dalam
pencapaian
tujuannya;
dia
membuat
kekeliruan-kekeliruan dan sebagainya.
Resolusi haruslah berlangsung secara logis dan mempunyai
hubungan yang wajar dengan apa-apa yang mendahuluinya, yang
terdapat dalam komplikasi. Butir yang memisahkan komplikasi
dari resolusi itu biasanya disebut klimaks.33
b. Penokohan
Menurut Tarigan, penokohan dalam drama terbagi atas empat
jenis pelaku atau aktor yang biasa dipergunakan dalam teater,
diantaranya adalah:
1) The foil, tokoh kontra dengan tokoh lainnya. Tokoh yang
membantu menjelaskan tokoh ainnya.
2) The type character, tokoh yang berperan dengan tepat dan
tangkas.
3) The static character, tokoh statis yang tetap saja keadaanya,
baik pada awal maupun pada akhir suatu lakon. Dengan kata
lain tokoh ini tiada mengalami perubahan.
4) The character who develpos in the course of the play, tokoh
yang mengalami perkembangan selama pertunjukan. 34
33
34
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: ANGKASA, 1993) h. 75
Ibid, h.76
27
c. Dialog
Dalam setiap lakon, dialog itu harus memenuhi dua hal,
yaitu:
1) Dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak.
Seorang darmawan haruslah dapat berbuat lebih banyak
selain dari pada membuat dialognya menarik hati, dia harus
pula membuatnya baik dan wajar selalu.
2) Dialog harus baik dan bernilai tinggi.
Yang dimaksud dengan baik dan bernilai tinggi di sini ialah
bahwa dialog itu haruslah lebih terarah dan teratur dari pada
percakapan sehari-hari. 35
d. Novel
Istilah novel dalam bahasa Indonesia berasal dari istilah novel
dalam bahasa Inggris. Sebelumnya istilah novel dalam bahasa Inggris
berasal dari bahasa Itali, yaitu novella (yang dalam bahasa Jerman
novelle). Novelle diartikan sebuah barang baru yang kecil, kemudian
diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.
H.B. Jassin berpengertian bahwa novel adalah cerita mengenai
salah satu episode dalam kehidupan manusia, suatu kejadian yang luar
biasa dalam kehidupan itu, sebuah krisis yang memungkinkan
terjadinya perubahan nasib pada manusia (1965, dalam Faruk,
1997:265).36
Menurut Tarigan, kata novel berasal dari kata Latin novellus
yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “baru”. Dikatakan
baru karena kalau dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya
seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul
kemudian.37
35
Ibid, h.77
AntilanPurba, Sastra Indonesia Kontomporer, (Yogyakarta: GrahaIlmu, 2011) h.62-63
37
Henry Guntur Tarigan, Op. Cit,. h.164
36
28
Unsur-unsur Novel
1) Tema
Menurut Furqonul dan Abdul, tema adalah gagasan sentral dalam
suatu karya sastra. Dalam novel, tema merupakan gagasan utama
yang dikembangkan dalam plot. Hampir semua gagasan yang ada
dalam hidup ini bisa dijadikan tema, sekalipun dalam praktiknya
tema-tema yang paling sering diambil adalah beberapa aspek atau
karkater dalam kehidupan ini, seperti ambisi, kesetiaan,
kecemburuan,
frustasi,
kemunafikan,
ketabahan,
dan
sebagainya.38
2) Manusia (Tokoh)
Manusia yang dimaksud ialah pelaku atau tokoh dalam cerita
rekaan. Pelaku atau tokoh diganti dengan istilah manusia karena
pada umumnya pelaku atau tokoh adalah manusia dan jarang
dengan pelaku binatang atau yang lain. Apabila terdapat pelaku
bukan manusia, biasanya pelaku itu merupakan tokoh simbolik.39
3) Plot / Alur
Plot atau alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang
penekanannya ditumpukan pada sebab-akibat.40 Alur dibagi
menjadi tiga yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran
(maju dan mundur).
4) Latar atau Setting
Furqonul dan Aziez mengungkapkan bahwa istilah ini berkaitan
dengan elemen-elemen yang memberikan kesan abstrak tentang
lingkungan, baik tempat maupun waktu, di mana para tokoh
menjalanan perannya.41
38
Furqonul Aziez dan Abdul Hasim,Menganalisis Fiksi (Sebuah Pengantar), (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2010) h. 75
39
Wijaya Heru Santosa, Pengantar Apresiasi Sastra, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010) h.5355
40
Ibid, h.56
41
Furqonul, Op. Cit., h.74
29
e. Pantun
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan
membudaya dalam masyarakat. Pantun merupakan salah satu jenis
puisi lama. Lazimnya pantun terdiri atau empat larik atau empat baris
bila dituliskan, bersajak a-b-a-b ataupun a-a-a-a. Pantun pada mulanya
merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang
tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan
isi. Sampiran adalah dua baris pertama dan biasanya tak punya
hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud. Dua
baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun
tersebut.42
Ciri-ciri formal pantun:
a. Satu bait terdiri dari empat baris (larik).
b. Tiap larik terdiri dua bagian yang sama. Bagian yang sama
pembentuk larik itu disebut periodus. Jadi, tiap lirik terdiri dari
dua periodus. Tiap periodus terdiri dari dua kata.
c. Pola sajak (rima) akhir pantun berupa sajak berselang: a-b-a-b.
d. Pantun terbagi menjadi dua bagian, yaitu baris kesatu dan baris
kedua disebut sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat
disebut isi. Baris kesatu dan kedua menyediakan irama bagi baris
ketiga dan keempat. Dalam pantun yang baik sampiran itu
merupakan kiasan kepada isinya.
e. Dalam pantun, satu bait sudah lengkap. Dapat diartikan satu bait
sudah utuh dan tidak perlu ditambah lagi meskipun ada juga
pantun yang lebih dari satu bait.
f. Pantun bersifat liris, berupa persaan atau pikiran.43
42
43
Damayanti, Sastra Indonesia, (Yogyakarta: Araska, 2013) h. 114
Rachmat Djoko Pradopo, Puisi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007) h. 2.5
30
D. Penelitian yang Relevan
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Nurhilaliyah, mahasiswi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan dengan judul skripsi “Minat Siswa dalam Membaca Puisi
dengan Menggunakan Buku Teks Kelas VII SMP Islam Al-Khasyi’un”. Dari
hasil penelitian Nurhilaliyah diperoleh angka 87,5% dengan jumlah siswa 35
menyatakan minat terhadap materi membaca puisi, sedangkan 75% dengan
jumlah siswa 30 menyatakan senang membaca buku teks bahasa Indonesia.
Maka dapat disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca puisi dengan
menggunakan buku teks kelas VII berkategori baik.
Perbedaan yang peneliti Nurhilaliyah lakukan dengan yang saya teliti
adalah objeknya. Nurhilaliyah menggunakan objek puisi dan buku teks
sedangkan saya menggunakan objek karya sastra.
Penelitian kedua dilakukan oleh Halima Tusadiah, mahasiswi Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan dengan judul skripsi “Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa
Indonesia Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Islamiyah Ciputat”.
Dari hasil penelitian Halima Tusadiah dapat disimpulkan bahwa minat siswa
dalam membaca buku pelajaran bahasa Indoensia di MTs Islamiyah masih
sangat kurang.
Perbedaan yang peneliti Halima Tusadiah lakukan dengan yang saya teliti
sama dengan penelitian Nurhilaliyah yaitu objeknya. Halima Tusadiah
menggunakan objek Buku Pelajaran Bahasa Indonesia sedangkan saya
menggunakan objek karya sastra.
Penelitian ketiga dilakukan oleh Titi Widyawati, mahasiswi Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Psikologi dengan judul
skripsi “Dukungan Orang Tua dan Sikap Terhadap Membaca Kaitannya
dengan Minat Membaca pada Siswa MTs Pembangunan UIN Jakarta”.
Dari hasil penelitian Titi Widyawati dapat disimpulkan bahwa empat dari
delapan aspek dari dukungan orang tua, sikap terhadap membaca, dan jenis
31
kelamin memberikan sumbangsih secara signifikan yaitu reliable alliance,
reassurance of worth, attachment, guidance, social intergation, opportunity
for nurturance, sikap terhadap membaca. Koefisien regresi yang dihasilkan
dari variabel sikap dan dukungan terhadap minat dengan membaca adalah
0,777. Variabel sikap berpengaruh terhadap minat dengan koefisien regresi
sebesar 0,684. Variabel dukungan orang tua berpengaruh terhadap minat
dengan koefisien regresinya 0.093.
Perbedaan penelitian Titi Widyawati dengan yang saya teliti adalah selain
meneliti tentang minat membaca, Titi Widyawati juga meneliti bagaimana
dukungan orang tua dan sikap mereka terhadap minat membaca pada siswa
MTs Pembangunan dengan memberikan pernyataan yang ada pada angket.
Jika dilihat dari ketiga judul skripsi di atas, persamaan penelitian mereka
dengan yang saya teliti adalah kita sama-sama meneliti tentang bagaimana
minat membaca siswa, baik itu membaca puisi dengan buku teks, membaca
buku pelajaran bahasa Indonesia, atau membaca sebuah karya sastra.
32
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Budhi Warman II yang beralamat
di Jl. Raya Bogor KM.28 Pekayon, Jakarta Timur. Pelaksanaan penelitian dan
pengumpulan data ini dimulai dari bulan Agustus-Oktober 2015 .
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang minat
baca karya sastra adalah metode deskriptif. Nana Syaodih mengemukakan
metode deskriptif adalah suatu bentuk metode yang paling dasar. Ditujukan
untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada,
baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Penelitian
ini mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan,
dan perbedaannya dengan fenomena lain.1
Menurut Margono, dalam metode deskriptif peneliti segera melakukan
analisis data dengan memberi pemaparan gambaran mengenai situasi yang
diteliti dalam bentuk uraian naratif.2 Selain itu, penelitian ini juga
menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati.3 Pendekatan kualitatif dapat
digunakan untuk mengungkapkan dan memahami sesuatu di balik fenomena
yang sama sekali belum diketahui. Pendekatan ini bertujuan untuk
mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari
perspektif partisipan.4 Oleh karena itu, penelitian yang penulis lakukan
menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
1
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2012) h. 72
2
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004) h. 39
3
Ibid, h. 36
4
Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) h.2223
33
C. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas XII SMK Budhi
Warman II Pekayon. Peneliti akan menyebar angket ke seluruh siswa kelas
XII , terdiri dari 4 kelas yang berjumlah 120 siswa. Setiap kelas diambil 10
sampel untuk diolah datanya oleh peneliti.
Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa dari
seluruh populasi. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling
(sampel acak). Pengambilan sampel secara acak berarti setiap individu dalam
populasi mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Individuindividu tersebut punya peluang yang sama, bila mereka memiliki
karakteristik yang sama atau diasumsikan sama.5
D. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif instrumen penelitian ini adalah peneliti
sendiri. Namun, untuk mendukung dan memperkuat data, peneliti
menyebarkan angket dan melakukan wawancara.
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, instrumen yang peneliti
gunakan dalam penelitian ini adalah pernyataan-pernyataan berupa angket,
yang kemudian diberikan kepada objek penelitian, yaitu siswa yang peneliti
pilih untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini. Selain angket, peneliti juga
menggunakan instrumen wawancara dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada guru bahasa Indonesia untuk mendapatkan informasi yang
akurat tentang bagaimana ketertarikan para siswa dalam membaca terutama
membaca karya sastra.
E. Teknik Pengumpulan Data
Adapaun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
wawancara dan angket.
5
Op, Cit, Nana Syaodih Sukmadinata, h. 253
34
1. Wawancara
Wawancara atau interview barangkali dapat dikatakan merupakan
alat tukar menukar informasi yang tertua dan banyak digunakan umat
manusia dari seluruh zaman. Dalam penelitian, terutama penelitian
sosiologi dan antropologi, wawancara juga sering digunakan dan bahkan
merupakan alat pengumpul data favorit.6 Menurut Basrowi dan Suwandi
dalam bukunya mengatakan bahwa wawancara adalah semacam dialog
atau tanya jawab antara pewawancara dengan responden dengan tujuan
memperoleh jawaban-jawaban yang dikehendaki.7 Pada penelitian ini
penulis melakukan wawancara dengan guru bahasa Indonesia untuk
mengetahui bagaimana proses pembelajaran bahasa Indonesia dan
bagaimana minat siswa dalam membaca karya sastra.
2. Angket
Hadeli menyatakan angket adalah satu teknik pengumpulan data yang
berbentuk kumpulan pertanyaan.8 Menurut Burhan, angket tersebut
disebarkan kepada responden untuk diminta jawaban mereka. Setelah
angket itu terkumpul, biasanya dilanjutkan dengan proses editing, koding,
dan tabulasi. Dari hasil tabulasi tersebut antara lain bisa disajikan bentuk
tabel. Di tabel itulah tercermin berbagai gambaran
tentang para
responden yang telah diteliti. Gambaran yang tertuang dalam tabel
tersebut merupakan cerminan dari keadaan nyata yang terbesar di tengah
masyarakat. Ia merupakan hasil “meringkas” kenyataan para responden
yang terbesar di masyarakat.9
Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara
memberikan daftar pernyataan dan kemudian responden diminta untuk
memberikan tanggapan terhadap pernyataan tersebut, apakah ya atau tidak
6
7
h. 141
8
Op, Cit, h.28
Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008)
Hadeli, Metode Penelitian Kependidikan, (Jakarta: Quantum Teaching, 2006) h.75
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2003) h. 64
9
35
dengan disertai alasan mereka terkait pernyataan di dalam angket yang
diberikan kepada seluruh siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Tahun
Ajaran 2015/2016.
Teknik pengumpulan data selanjutnya dilakukan dengan random
sampling (secara acak). Peneliti membuat daftar inisial nama siswa lalu
dikocok. Hasil pengocokan itu yang nantinya akan diolah datanya oleh
peneliti.
TABEL
KISI-KISI TENTANG MINAT MEMBACA KARYA SASTRA PADA
SISWA KELAS XII SMK BUDHI WARMAN II
No.
Indikator
Jumlah Butir
Item
1
Minat terhadap
6
1-6
14
7 – 20
membaca
2
Minat terhadap
membaca karya sastra
F. Teknik Analisis Data
Penulis melakukan teknik analisis data angket dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
P=
x 100%
Keterangan :
F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N = Number of Cases (jumlah frekuensi atau banyaknya individu)
P = Angka persentase10
10
Anas Sudjino, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012) h.43
36
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum SMK Budhi Warman II
1. Sejarah Singkat
SMK Budhi Warman II Jakarta, sebelumnya bernama Sekolah
Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Budhi Warman mulai berdiri sejak
tahun 1990, dengan dipimpin oleh Drs. Pujiyanto bernaung pada Yayasan
Budhi Warman yakni sebuah yayasan
yang menyelenggarakan
pendidikan mulai jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai
dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Terletak di kawasan Jakarta
Timur, tepatnya di Jl. Raya Bogor KM. 28 Pekayon Pasar Rebo.
Letaknya yang strategis dan mudah dijangkau dengan kendaraan
pribadi maupun umum membuat SMK Budhi Warman II berkembang
pesat, sehingga pada tahun 2009, SMK Budhi Warman II membuka
program baru yakni Program Keahlian Multimedia, hingga sampai saat
ini sangat diminati calon peserta didik baru.
SMK Budhi Warman II saat ini memiliki 13 rombongan belajar
dan 4 Kompetensi Keahlian : Akuntansi, Administrasi Perkantoran,
Pemasaran dan Multi Media yang semuanya memperoleh Akreditasi
Sekolah predikat “A”
Berikut ini adalah daftar nama Kepala SMK Budhi Warman II
Jakarta dari tahun 1990 – sekarang.
1. Drs. Pujiyanto tahun 1990 s.d. 2000
2. Drs. Sularto, M.M. tahun 2000 s.d. 2011
3. Dra. Sriyatun, M.M. (Alm) tahun 2011 s.d. 2013
4. Pardi Supardi, S.S., M.Pd 2014 s.d. sekarang
37
2. Visi
Menjadikan sekolah unggul, pelopor pembeharuan pendidikan,
mewujudkan lulusan yang mandiri, beriman dan bertaqwa, menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi pekerja dan wirausahawan
yang profesional.
3. Misi
a. Meningkatkan sarana dan prasarana belajar yang memadai untuk
mendukung terlaksananya proses belajar mengajar pembelajaran aktif,
interaktif, kreatif, efektif, menyenangkan, menggembirakan, dan
berbobot (Paikem Gembrot).
b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi seluruh warga
sekolah agar memiliki etos belajar dan etos kerja yang tinggi, disiplin
serta bekerja sama dengan lembaga independen (Perguruan Tinggi),
mengadakan pelatihan dan sertifikasi.
c. Mengamalkan syariat agama secara konsisten
d. Meningkatkan kerjasama dengan DU/DI baik negeri maupun swasta
dengan prinsip link and match untuk perluasan dan peningkatan
pendidikan sistem ganda serta penyaluran tenaga kerja.
e. Meningkatkan pelayanan prima secara profesional kepada seluruh
pengguna jasa.
4. Tujuan Sekolah
a. Mempersiapkan siswa agar menjadi manusia yang produktif, mandiri,
dan siap bekerja sesuai dengan kompetensi kejuruan yang dimilikinya.
b. Mengantarkan tamatan yang berminat melanjutkan pendidikan
kejenjang Perguruan Tinggi Negeri/ Swasta.
c. Membekali siswa dengan nilai-nilai agama, ilmu pengetahuan dan
teknologi, berjiwa enterpreneurship, serta berjiwa seni sehingga
mampu mengembangkan diri dalam persaingan global.
38
5. Sarana
Sebagai penunjang kegiatan pembelajaran, SMK Budhi Warman II
dilengkapi beberapa sarana antara lain:
a. Gedung sekolah berlantai dua
b. Lapangan futsal, atletik, dan voli
c. Perpustakaan
d. Tempat parkir yang luas
e. Lab. Komputer, Bahasa, dan IPA
f. Masjid
g. Kantin
6. Ekstrakulikuler
Wadah penyaluran bakat dan minat siswa SMK Budhi Warman II
disediakan dalam bentuk kegiatan ekstrakulikuler, antara lain: Klub
bahasa, penyiaran radio, jurnalis, modern dance, futsal, voly, basket,
paduan suara, silat, paskibra, tenis meja, bulutangkis.
7. Waktu belajar
Pelaksanaan awal dan berakhirnya pembelajaran telah ditentukan
sesuai dengan masing-masing hari. Adapaun pembagian waktu belajar
sebagai berikut:
a. Senin – Jumat
: pukul 06.30 - 14.15
b. Sabtu
: pukul 06.30 - 11.30
8. Pengurus dan Tenaga Pendidik
a. Tenaga Pendidik SMK Budhi Warman II
Tenaga pendidik SMK Budhi Warman II memiliki kualifikasi
pendidikan sarjana (S1) yang profesional serta berjiwa pendidik.
Adapun tenaga pengajar yang berada di SMK Budhi Warman II
terdapat di lampiran.
39
B. Hasil Penelitian
Penelitian ini dimulai dengan menyebarkan angket. Angket terdiri dari 20
butir pernyataan yang penulis berikan kepada responden yaitu siswa kelas XII
SMK Budhi Warman II tahun ajaran 2015-2016. Adapun pertanyaan yang
termuat dalam angket tersebut menjadi data yang dapat diolah sehingga dapat
diketahui jumlah responden yang yang sesuai dengan pertanyaan yang
diajukan penulis di setiap masing-masing butir pertanyaan.
Penulis juga melakukan wawancara dengan guru bahasa Indonesia, yaitu
Ibu Eva Andriani yang bertempat di ruang guru SMK Budhi Warman II.
Temuan penelitian melalui wawancara dengan tujuan untuk mengetahui
proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Berdasarkan
wawancara yang penulis lakukan dapat diketahui informasi yang berkaitan
dengan minat siswa dalam membaca karya sastra. Adapun temuan penelitian
tersebut yang telah penulis uraikan sebagai berikut:
1. Angket
Angket penelitian ini terdiri dari 20 pernyataan dan disebarkan
kepada seluruh siswa kelas XII SMK Budhi Warman II yang berjumlah
120 siswa. Namun penulis hanya mengambil 10 sampel dari masingmasing kelas, jadi totalnya hanya 40 siswa. Alasan penulis mengambil 10
sampel dari 120 populasi siswa yang ada yaitu untuk memudahkan
perhitungan persentase dalam pegolahan data. Selanjutnya penulis
mengumpulkan dan melakukan proses penghitungan data yang telah
terkumpul dengan penyajian data dalam bentuk tabel untuk memudahkan
dalam mempersentasikan data angket dengan menggunakan rumus:
P=
x 100%
Keterangan :
F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya
40
N = Number of Cases (jumlah frekuensi atau banyaknya individu)
P = Angka persentase
Data tersebut dapat dilihat dalam bentuk tabel masing-masing
pertanyaan berikut ini:
Tabel 1
Siswa senang membaca
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
32
80%
Tidak
7
20%
39
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa siswa senang
dengan membaca. Hal ini dapat dilihat dari persentase yang telah
diuraikan pada tabel 1, sebanyak 80% siswa senang membaca, hasil
persentase tersebut diperoleh dari
x 100% = 80%. Sedangkan yang
tidak senang membaca sebanyak 20% yang berarti hanya tujuh siswa
yang tidak senang membaca.
Beberapa dari mereka memberikan alasan mengapa suka membaca
yaitu karena dengan membaca mereka akan mendapat ilmu pengetahuan
yang lebih dan mereka bisa melihat dunia. Dengan membiasakan diri
membaca pelajaran sebelum pelajaran dimulai, atau bahkan sudah
membacanya di rumah, daya tangkap mereka ketika di kelas akan lebih
cepat. Selain itu, membaca juga menjadi sarana untuk menghibur diri
sendiri. Contohnya adalah ketika membaca novel atau cerpen yang
bertemakan komedi. Dari bacaan itulah para siswa mendapat hiburan
secara langsung sekaligus juga untuk menyegarkan otak.
Dilihat dari alasan-alasan mereka, bagi anak yang tidak senang
membaca, kegiatan ini bisa dibilang membosankan. Dalam diri mereka
sudah ditanamkan sugesti bahwa membaca itu membosankan, jadi ketika
mereka baru memulai, rasa bosan itu sudah muncul. Pada akhirnya akan
41
membuat mereka jadi malas membaca. Para siswa lebih memilih
kegiatan lainnya seperti bermain game atau tidur.
Tabel 2
Siswa selalu membaca sebelum pelajaran Bahasa Indonesia dimulai
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
12
30%
Tidak
28
70%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa tidak semua
siswa selalu membaca pelajaran bahasa Indonesia dimulai. Hal ini dapat
dilihat dari persentase yang telah penulis uraikan hanya sebanyak 30%
siswa yang selalu membaca sebelum pelajaran bahasa Indonesia dimulai
dengan rincian persentase
x 100% = 30%. Kemudian 70% yang
berarti sebagian besar siswa, yaitu 28 siswa tidak membaca sebelum
pelajaran bahasa Indonesia dimulai.
Mereka beralasan bahwa bahasa yang digunakan dalam buku
tersebut baku dan mereka tidak mengerti. Selain itu, menurut mereka
materi membaca terlalu banyak sehingga mereka jadi malas membaca.
Ada pula siswa yang beralasan bahwa ia tidak sempat membaca. Hal ini
perlu diperhatikan. Seperti apa yang diungkapkan oleh guru mata
pelajaran bahasa Indonesia mereka, kurangnya inisiatif siswa untuk
membaca sebuah buku kecuali apabila mereka diperintahkan langsung
oleh gurunya.1 Hal ini merupakan salah satu bukti kendala yang menjadi
faktor kurangnya minat mereka dalam membaca. Para siswa cenderung
malas membaca materi sebelum pelajaran dimulai karena selain tidak
diminta oleh gurunya, mereka juga pasti akan melakukan kegiatan
lainnya yang menurut mereka lebih menyenangkan ketimbang harus
membaca buku pelajaran. Misalkan mengobrol dengan teman atau sibuk
1
Wawancara pribadi dengan guru bahasa Indonesia, Eva Andriani pada hari Jumat, 18
September 2015 di ruang guru SMK Budhi Warman II
42
dengan smartphonenya. Siswa juga tidak bisa fokus ketika harus
membaca buku sebelum pelajaran dimulai dikarenakan jam pelajarannya
di siang hari. Otomatis mata mereka akan cepat lelah dan mengantuk.
Maka dari itu mereka tidak pernah menantikan materi membaca. Para
siswa lebih memilih materi menyimak, berbicara, atau menulis karena
mudah dipahami.
Tabel 3
Siswa memperoleh pengetahuan serta hiburan dengan membaca
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
32
80%
Tidak
7
20%
39
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh hasil 80% responden yang
menyatakan memperoleh pengetahuan serta hiburan dengan membaca
yang diperoleh dari
x 100% = 80%. Sedangkan yang tidak
memperoleh pengetahuan serta hiburan dengan membaca 20%
reseponden yang berarti ada 7 siswa yang menyatakan hal tersebut.
Membaca merupakan salah satu kegiatan yang memberikan banyak
manfaat, salah satunya yaitu dapat memperoleh pengetahuan serta
hiburan. Para siswa setuju dengan pernyataan tersebut karena dengan
membaca mereka dapat memperluas wawasan dan menjadi sebuah
hiburan ketika mereka sedang jenuh atau bosan. Selain menghibur,
kegiatan membaca juga bisa menjadi penyemangat.
43
Tabel 4
Siswa selalu menantikan materi membaca, dibandingkan dengan
materi menyimak, berbicara, atau menulis
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
12
30%
Tidak
28
70%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa hanya beberapa
siswa saja yang selalu menantikan materi membaca dibandingkan dengan
materi menyimak, berbicara, atau menulis dengan jumlah responden
yang menjawab iya sebanyak 30%. Hal ini berbeda jauh dengan para
siswa yang menjawab tidak sebanyak 70% yang diperoleh dari
x
100%= 70% yang berarti sebanyak 28 siswa.
Para siswa menyatakan bahwa mereka selalu menantikan materi
membaca dibandingkan dengan materi menyimak, berbicara, atau
menulis karena pada materi membaca suasana kelas bisa lebih kondusif
dan tidak ada siswa yang mengobrol atau melakukan aktivitas lainnya.
Siswa dituntut untuk lebih berkonsentrasi, teliti, fokus dan melalui
membaca siswa dapat mengembangkan imajinasinya. Peran guru
sangatlah penting dalam hal ini. Guru diminta untuk lebih inovatif dan
kreatif dalam menciptakan suatu konsep baru dalam mengajar khususnya
pada materi membaca agar minat mereka dalam membaca bisa
ditingkatkan. Selain itu, guru juga harus memberikan apresiasi kepada
mereka yang gemar membaca agar para siswa merasa dihargai dan juga
bisa dilihat sebagai contoh oleh siswa lainnya yang cenderung tidak
senang membaca.
44
Tabel 5
Siswa sering menghabiskan waktu untuk membaca
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
9
22,5%
Tidak
30
77,5%
39
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel lima, dapat diperoleh hasil jawaban responden
yang menyatakan tidak sering menghabiskan waktu untuk membaca
dalam jumlah persen yang lebih banyak yaitu 77,5% yang berarti 30
siswa. Hal ini berbeda dengan jumlah siswa yang sering menghabiskan
waktu untuk membaca dengan persentase dengan jumlah siswa 9 siswa
yang diperoleh dari
x 100%= 22,5%.
Pada angket alasan yang mereka berikan yaitu tidak punya waktu
atau tidak sempat membaca dan merasa banyak aktivitas lain yang lebih
penting ketimbang harus membaca. Mereka cenderung melakukan
kegiatan yang disukainya seperti bermain futsal, kumpul bersama temanteman di Mall, dan hal yang paling sering ditemukan yaitu terlalu asyik
bermain dengan smartphone yang membuat mereka tidak punya waktu
lagi untuk sekedar membaca buku. Dalam hal ini peran orang tua di
rumah sangatlah penting. Seharusnya para siswa dibiasakan membaca
sejak usia dini. Selain itu, orang tua juga harus memantau kegiatan anak
mereka di luar sekolah. Kalau memang mereka tidak senang membaca,
setidaknya para orang tua bisa memberikan kegiatan positif yang bisa
dilakukan di rumah seperti les privat, membantu mengerjakan pekerjaan
rumah, mengasuh adik, mengerjakan PR, dan sebagainya ketimbang
harus bermain diluar bersama teman-teman yang pastinya akan
membuang-buang waktu.
45
Tabel 6
Siswa sering mengobrol ketika materi membaca
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
15
37,5%
Tidak
24
62,5%
39
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, terkait saya sering mengobrol jika
materi membaca dapat diperoleh jawaban tidak dengan persentase 62,5%
yang diperoleh dari
x 100%= 62,5%. Hal ini berbanding jauh dengan
jumlah siswa yang menyatakan ya sebanyak 37,5% yang berarti 15
siswa.
Mengobrol ketika pelajaran berlangsung dapat membuat suasana
kelas menjadi tidak kondusif. Berdasarkan tabel di atas sebagian siswa
menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengobrol ketika pelajaran
berlangsung khususnya saat materi membaca. Mereka memberikan
alasan bahwa dengan mengobrol dapat mengganggu konsentrasi dan bisa
membuat mereka tertinggal pelajaran. Selain itu, ada juga siswa yang
menyatakan bahwa guru bahasa Indonesia mereka cukup tegas sehingga
mereka tidak akan berani untuk mengobrol ketika pelajaran sedang
berlangsung di kelas.
Tabel 7
Siswa selalu fokus belajar saat materi karya sastra diterangkan
(cerpen, novel, puisi, drama, atau pantun)
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
30
75%
Tidak
10
25%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh hasil 75% siswa yang selalu
folus belajar saat materi karya sastra diterangkan (cerpen, novel, puisi,
46
drama, atau pantun) yang diperoleh dari persentase
x 100%= 75%.
Sedangkan ada 10 siswa yang menyatakan bahwa mereka tidak bisa
fokus belajar saat materi karya sastra diterangkan dengan hasil 25%
responden.
Tabel 8
Siswa lebih suka membaca novel teenlit/populer dibanding dengan
novel sastra
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
27
67,5%
Tidak
13
32,5%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel 8, dapat diperoleh hasil jawaban responden yang
menyatakan lebih suka membaca novel teenlit/popoler dibanding dengan
novel berbau sastra dalam jumlah persen yang lebih banyak yaitu 67,5%
yang berarti 27 siswa. Hal ini berbeda jauh dengan jumlah siswa yang
lebih suka membaca novel berbau sastra dengan persentase dari jumlah
13 siswa yang diperoleh dari
x 100%= 32,5%.
Tabel 9
Siswa lebih suka membaca novel dibanding cerpen
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
28
70%
Tidak
12
30%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa hampir seluruh
siswa lebih suka membaca novel dibanding cerpen dengan jumlah persen
responden yang menjawab iya sebanyak 70%. Hal ini berbeda dengan
para siswa yang menjawab tidak sebanyak 30% yang diperoleh dari
x
47
100% = 30% yang berarti hanyak 12 siswa yang suka membaca cerpen
dibanding novel.
Berdasarkan pernyataan no.8 dan 9 pada angket sebagian besar dari
mereka memilih ya yang berarti mereka senang membaca novel teenlit
dan sastra daripada cerpen. Mereka yang menyatakan lebih suka
membaca novel teenlit atau sastra beralasan keduanya sama-sama
mengasyikkan. Terlebih lagi novel teenlit yang sudah sangat jelas bahwa
isi ceritanya sesuai dengan umur mereka saat ini. Selain itu, cerita pada
novel akan lebih seru dibandingkan dengan cerpen yang habis sekali baca
saja. Ketika membaca novel para siswa bisa mengembangkan
imajinasinya dan membawa dirinya ke dalam cerita di novel tersebut.
Setelah itu mereka juga bisa lebih mengekspresikan perasaan mereka
setalah membaca novel, entah dengan air mata karena isi cerita yang
menyedihkan atau malah justru kecewa karena akhir cerita novel tersebut
tidak sesuai dengan harapan para siswa.
Tabel 10
Siswa suka meminjam atau membaca novel di perpustakaan sekolah
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
1
2,5%
Tidak
39
97,5%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh hasil 97,5% dari responden,
yang berarti hampir seluruh siswa tidak suka meminjam atau membaca
novel diperpustakaan sekolah yang didapat dari persentase
x 100%=
97,5%. Sedangkan hanya seorang siswa yang meyatakan bahwa dirinya
suka meminjam atau membaca novel di perpustakaan sekolah dengan
hasil 2,5%.
Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan minat baca
siswa kelas XII SMK Budhi Warman II sangat kurang. Sekolah tidak
memfasilitasi dengan baik. Mereka yang tidak suka pergi ke
48
perpustakaan sekolah beralasan bahwa di sana jarang ada novel. Memang
pada dasarnya para siswa sedikit malas untuk sedikit meluangkan
waktunya untuk sekedar membaca buku di perpustakaan. Guru bahasa
Indonesia, Bu Eva Andriani, juga mengatakan bahwa para siswa jarang
sekali ada yang meminjam atau membaca buku di perpustakaan sekolah.
Minimal mereka akan pergi ke perpustakaan ketika diarahkan oleh guru
mereka saja untuk mengerjakan tugas yang berkaitan dengan novel. 2 Di
luar hal itu, mereka tidak pernah pergi ke perpustakaan. Hal inilah yang
harus diperhatikan para
guru
khususnya
pihak sekolah
untuk
meningkatkan minat baca siswa. Memang Budhi Warman II mempunyai
perpustakaan yang cukup luas namun kurangnya buku-buku bacaan yang
seharusnya tersedia agar bisa dibaca oleh para siswa. Jika sekolah sudah
memberikan sarana dan prasaran yang baik dan nyaman, dengan
menambah koleksi novel bergenre apa saja, tentu akan banyak siswa
yang berkunjung ke perpustakaan untuk sekedar membaca atau bahkan
meminjamnya untuk mereka baca di rumah.
Tabel 11
Siswa bisa membaca cerpen dari mana saja (buku pelajaran,
majalah, koran)
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
28
70%
Tidak
12
30%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat 12
siswa menyatakan tidak bisa membaca cerpen dari mana saja (buku
pelajaran, majalah, koran). Hal ini jauh berbeda dengan siswa yang
2
Ibid
49
menjawab ya sebanyak 70% yang diperoleh dari
x 100%= 70% yang
berarti jawaban diperoleh dari 28 siswa.
Para siswa setuju bahwa mereka bisa membaca cerpen dari media
apa saja seperti internet, buku pelajaran, majalah, atau koran. Tapi dilihat
dari zaman sekarang yang lebih canggih, para siswa lebih memilih untuk
membaca cerpen dari internet, baik itu dari blog, situs resmi, atau
facebook. Saat ini smartphone adalah sesuatu yang bisa dikatakan paling
dekat dengan para siswa. Dengan adanya situs yang menyediakan wadah
untuk mereka yang suka membaca cerpen, minat baca mereka akan lebih
terlihat.
Tabel 12
Siswa membaca cerpen ketika ada waktu luang di rumah
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
21
52,5%
Tidak
19
47,5%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh hasil 52,5% responden yang
terdiri dari 21 siswa senang membaca cerpen ketika ada waktu luang di
rumah. Lalu sisanya 47,5% dari 19 siswa tidak suka membaca cerpen
ketika ada waktu luang di rumah yang diperoleh dari persentase
x
100% = 47,5%.
Hal ini cukup bagus untuk meningkatkan minat baca khususnya
membaca cerpen. Para siswa bisa membaca cerpen atau bacaan lainnya
saat ada waktu luang di rumah daripada harus bermain di luar yang mana
orang tua tidak dapat memantau anak mereka. Minat tergantung pada
kesempatan anak untuk belajar. Kesempatan untuk belajar bergantung
pada lingkungan dan minat, baik anak-anak maupun dewasa yang
menjadi bagian dari lingkungan anak. Minat membaca bisa muncul jika
mereka dibiasakan membaca sejak dini oleh orang tua mereka.
Lingkungan rumah merupakan faktor utama dan stimulus paling awal
50
untuk menimbulkan minat baca pada anak. Jika mereka sudah terbiasa
diajak untuk gemar membaca sejak dini, maka ketika sudah dewasa
minat bacanya akan semakin meningkat.
Tabel 13
Membaca puisi sangat sulit bagi saya
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
11
27,5%
Tidak
29
72,5%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa responden yang
menjawab membaca puisi sangat sulit terdapat 27,5%. Sedangkan yang
siswa yang tidak merasa kesulitan dalam membaca puisi sebanyak 72,5%
yang diperoleh dari persentase
x 100%= 72,5% yang berarti 29 siswa.
Sehingga terjadi perbandingan persentase yang cukup jauh.
Sebagian dari mereka suka membaca puisi karena merasa puisi itu
lebih asik dan mudah untuk dibaca dibanding harus membaca novel atau
cerpen. Tetapi ada juga beberapa murid yang merasa membaca puisi itu
sulit karena diperlukan teknik yang tepat dalam pembacaan puisi, serta
irama yang pas untuk menarik perhatian penikmatnya.
Tabel 14
Siswa selalu menantikan materi membaca puisi dibanding dengan
macam-macam materi membaca lainnya
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
9
22,5%
Tidak
31
77,5%
40
100%
Jumlah
51
Berdasarkan tabel tersebut, diketahui hanya ada 9 siswa yang
menjawab ya dengan persentase 22,5%. Sedangkan yang menyatakan
tidak selalu menantikan materi membaca puisi dibandingkan dengan
macam-macam materi membaca lainnya yaitu 77,5% yang diperoleh dari
x 100%= 77,5% yang berarti ada 31 siswa.
Dalam membaca puisi ada beberapa langkah yang harus
diperhatikan, diantaranya yaitu artikulasi, pengucapan setiap katanya
harus utuh dan jelas serta dengan suara lantang agar para penyimak bisa
merasakan isi cerita dari puisi tersebut. Selain itu juga diperlukan
penghayatan yang cukup dalam ketika sedang membacakan puisi. Tempo
dalam pembacaan puisi juga penting, kita harus pandai mengatur dan
menyesuaikan dengan kekuatan nafas dan harus ada jeda di mana kita
menyambung atau mencuri nafas. Pada materi puisi kelas XII memang
tidak tercantum di modul apa saja teknik membaca puisi itu. Tetapi guru
seharusnya bisa mengarahkan dan mengajarkan para siswa agar mereka
tahu dan merasa tertarik untuk membaca puisi.
Tabel 15
Membaca puisi memberikan manfaat kepada saya
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
26
65%
Tidak
14
35%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui terdapat 14 siswa yang
menyatakan bahwa membaca puisi tidak memberikan manfaat kepada
mereka. Hal ini berbeda dengan siswa yang menjawab ya sebanyak 65%
yang diperoleh dari
26 siswa.
x 100%= 65% yang berarti jawaban didapat dari
52
Tabel 16
Siswa pernah menyaksikan pertunjukkan drama
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
36
90%
Tidak
4
10%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh hasil 90% untuk jawaban ya
yang berarti sebagian besar dari mereka pernah menyaksikan pertunjukan
drama yang diperoleh dari persentase
x 100%= 90%. Sedangkan 10%
responden yang berarti hanya ada 4 siswa menyatakan bahwa belum
pernah menyaksikan pertunjukkan drama.
Tabel 17
Siswa belum pernah membaca naskah drama sebelumnya
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
4
10%
Tidak
36
90%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, hanya ada 4 siswa yang menyatakan
bahwa mereka belum pernah membaca naskah drama sebelumnya. Hal
ini berbeda jauh dengan responden yang menjawab ya yaitu 90% yang
diperoleh dari
x 100%= 90% yang berarti ada 36 siswa yang
menyatakan bahwa mereka pernah membaca naskah drama sebelumnya.
Para siswa menyatakan pernah membaca naskah drama ketika
mereka duduk di bangku SMP. Memang untuk pelajaran bahasa
Indonesia SMP kelas 8 ada materi tentang drama. Dari situlah mereka
dapat memahami apa itu drama dan bagaimana bentuk naskah drama
walaupun di bangku SMK mereka tidak mendapat materinya. Selain itu,
sebagian besar dari mereka juga pernah menyaksikan pertunjukkan
53
drama. Selain mempelajarinya, tentu para siswa juga ingin melihat
langsung bagaimana drama itu dilakukan dan dipertontonkan.
Tabel 18
Menurut siswa pantun adalah salah satu karya sastra yang unik
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
39
97,5%
Tidak
1
2,5%
40
100%
Jumlah
Menurut tabel tersebut, dapat diketahui bahwa sebagian besar dari
mereka (39 siswa) menyatakan bahwa pantun adalah salah satu karya
sastra yang unik dengan persentase yang hampir sempurna yaitu 97,5%.
Hasil prosentase tersebut diperoleh dari
x 100%= 97,5%. Sedangkan
hanya ada seorang siswa yang berpendapat bahwa pantun bukan salah
satu karya sastra yang unik.
Tabel 19
Guru memotivasi siswa untuk selalu membaca karya sastra
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
29
72,5%
Tidak
11
27,5%
40
100%
Jumlah
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh hasil 72,5% responden
menjawab ya bahwa guru memotivasi mereka untuk selalu membaca
karya sastra. Hasil prosentase tersebut diperoleh dari
x 100%= 72,5%.
Sedangkan ada 11 siswa yang menyatakan bahwa guru tidak memotivasi
mereka untuk selalu membaca karya sastra.
54
Ini sudah menjadi tugas utama guru dalam meningkatkan minat
baca para siswa. Guru menjelaskan bahwa beliau seringkali memberikan
rekomendasi buku bacaan yang menarik untuk dibaca para siswa,
meskipun tidak semua siswa tertarik tetapi ada beberapa yang berminat
untuk membacanya.
Tabel 20
Siswa kurang paham ketika guru menerangkan materi novel
Alternatif Jawaban
Frekuensi
%
Ya
12
30%
Tidak
28
70%
40
100%
Jumlah
Dari tabel di atas diperoleh hasil 70% dari siswa menyatakan
bahwa mereka paham ketika guru menerangkan materi novel yang
diperoleh dari
x 100%= 70%. Sedangkan yang menjawab ya ada 30%,
berarti sebanyak 12 siswa yang merasa kurang paham ketika guru sedang
menerangkan materi novel.
2. Wawancara
Penulis melakukan wawancara dengan narasumber guru bidang
studi bahasa Indonesia ibu Eva Andriani, S. Pd. sebagai data dari minat
membaca karya sastra pada kelas XII yang dapat memperkuat hasil
penelitian ini selain menggunakan angket. Wawancara ini penulis jadikan
sebagai data informasi yang lebih menjelaskan tentang keadaan siswa
dalam proses belajar mengajar berdasarkan pendapat guru bahasa
Indonesia.
Saat wawancara, guru menjelaskan bagaimana usaha-usaha yang
dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa khususnya membaca
karya sastra. Pertama, guru mengajak siswa untuk selalu membaca materi
sebelum pelajaran dimulai. Hal ini bertujuan agar daya tangkap siswa
cepat ketika menerima materi pembelajaran. Kedua, guru selalu
55
memotivasi siswa untuk lebih gemar membaca karena di kelas XII
terdapat materi karya sastra yaitu cerpen dan novel. Ketiga, guru suka
memberikan beberapa rekomendasi buku bacaan yang menarik kepada
siswa. Walaupun begitu, hanya ada beberapa siswa saja yang mempunyai
inisiatif untuk membaca buku tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara yang terlampir secara keseluruhan,
penulis menyimpulkan bahwa minat membaca karya sastra pada kelas
XII SMK Budhi Warman II masih sangat kurang dan perlu ditingkatkan
lagi.
57
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah penulis uraikan pada
bab IV mengenai minat membaca karya sastra pada siswa kelas XII SMK
Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur, maka dapat disimpulkan bahwa
minat siswa dalam membaca sebuah karya sastra sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil angket yang masuk (berjumlah 40) maka dari persentase
angket menunjukan 77,5% menyatakan bahwa siswa tidak pernah
meluangkan waktunya untuk membaca, sedangkan hanya ada 22,5% siswa
yang sering menghabiskan waktunya untuk membaca.
2. Berdasarkan wawancara yang telah penulis lakukan, terdapat beberapa
usaha guru untuk meningkatkan minat baca siswa diantaranya yaitu
dengan menerapkan kebiasaan membaca sebelum pelajaran dimulai dan
memberikan rekomendasi buku bacaan yang menarik.
3. Penulis juga mendapat informasi dari guru bidang studi bahasa Indonesia
mengenai minat baca siswa melalui wawancara pribadi, maka dapat
disimpulkan
bahwa
minat
siswa
dalam
membaca
karya
sastra
dikategorikan masih kurang.
B. Saran
Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan maka ada
beberapa saran dengan harapan dapat bermanfaat bagi perkembangan di
sekolah tersebut, yaitu:
1. Pihak sekolah lebih memperhatikan kebutuhan membaca siswa, salah
satunya yaitu dengan menambahkan koleksi buku-buku sastra ke
perpustakaan seperti novel, kumpulan cerpen ataupun puisi. Dengan
banyaknya buku bacaan di perpustakaan, akan banyak siswa yang lebih
sering mengunjungi perpustakaan tersebut untuk sekedar membaca
58
atau bahkan meminjamnya untuk dibaca di rumah ketika ada waktu
luang.
2. Peran guru Bahasa Indonesia dalam meningkatkan minat baca pada
siswa sangatlah penting. Maka dari itu, sangat disarankan kepada guru
untuk selalu memberikan arahan dan motivasi kepada siswa agar
mereka mempunyai kemauan yang tinggi untuk membaca khususnya
membaca karya sastra. Salah satu caranya yaitu guru memberikan
rekomendasi beberapa buku yang menurutnya bagus dan menarik
untuk dibaca para siswa. Selain guru, teman sebaya juga mempunyai
andil untuk meningkatkan minat baca pada anak. Dengan adanya para
siswa yang gemar membaca, mereka seharusnya bisa mengajak dan
merangkul teman-teman mereka yang sekiranya malas membaca,
untuk mau mencoba membaca suatu bacaan yang nantinya akan
memberikan banyak manfaat untuk mereka sendiri.
58
DAFTAR PUSTAKA
Aziez, Furqonul dan Hasim, Abdul. Menganalisis Fiksi (Sebuah Pengantar).
Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.
Basrowi dan Suwandi. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta,
2008.
Budianta, Melani. Membaca Sastra. Magelang: INDONESIATERA, 2006.
Bungin, Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2003.
Crow, Lestar D dan Crow, Alice. Educational Psychology. New York: American
Book Company, 1958.
Crow. LD dan Crow. A. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Nur Cahaya, 2005.
Damayanti. Sastra Indonesia. Yogyakarta: Araska, 2013
Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2011.
Endraswara, Suwardi. MetodePembelajaran Drama. Yogyakarta: CAPS, 2011.
Franz, Kurt dan Meier, Bernhard. Membina Minat Baca. Bandung: Remadja
Karya CV, 1986.
Hadeli. Metode Penelitian Kependidikan. Jakarta: Quantum Teaching, 2006.
Hidayat, Rahayu S. Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif.
Jakarta: Intermasa, 1990.
Iskandarwassid dan Sumendar, Dadang. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia, 2008.
Margono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2010.
59
Pradopo, Rachmat Djoko. Puisi. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
Pradotokusumo, Partini Sardjono. Pengkajian Satra. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, September 2005.
Purba, Antilan. Sastra Indonesia Kontomporer. Yogyakarta: GrahaIlmu, 2011.
Rahim, Farida. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara,
2005.
Saleh, Abdullah Rahman dan Wahab, Muhbib Abdul. Psikologi Suatu Pengantar
(dalam Perspektif Islam). Jakarta: Prenada Media, 2004.
Santoso, Wijaya Heru dan Wahyuningtyas, Sri. Pengantar Apresiasi Prosa.
Surakarta: Yuma Pustaka, 2010.
Setiawan, Agus. The Art of Reading. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012
Somadyo, Samsu. Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca. Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2011.
Sudjino, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2012.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
ALFABETA, 2009.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2012.
Sundari, Siti, dkk., Memahami Cerpen-cerpen Danarto. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa, 1978.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010.
-----. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2010.
Tampubolon. Kemampuan Membaca (Teknik Membaca Efektif dan Efisien).
Bandung: Angkasa, 2008.
60
Tarigan, Henry Guntur . Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa, 1983.
-----. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: ANGKASA, 1993.
Waluyo, Hermawan J. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga, 1995.
Widjojoko dan Endang, Hidayat. Teori dan Sejarah Sastra Indonesia. Bandung:
Upi Press, 2006.
ANGKET MINAT MEMBACA KARYA SASTRA PADA SISWA KELAS XII
SMK BUDHIWARMAN II, JAKARTA TIMUR
TAHUN AJARAN 2015/2016
Nama
:
Kelas
:
1. Tulis nama Anda di tempat yang sudah disediakan.
2. Beri tanda centang (√) pada kolom yang disediakan, sesuai dengan
pengalaman Anda selama belajar bahasa Indonesia dengan keterangan
YA atau TIDAK disertai dengan alasannya.
3. Jawaban yang Anda berikan tidak akan mempengaruhi nilai bahasa
Indonesia Anda.
4. Atas bantuan dan perhatian Anda, saya ucapkan terima kasih.
NO.
PERTANYAAN
1.
Saya senang membaca
2.
Saya
selalu
membaca
sebelum pelajaran bahasa
Indonesia dimulai.
3.
Saya
memperoleh
pengetahuan serta hiburan
dengan membaca
4.
Saya selalu menanatikan
materi
dibandingkan
materi
membaca,
dengan
menyimak,
JAWABAN
YA
TIDAK
ALASAN
berbicara atau menulis.
5.
Saya sering menghabiskan
waktu untuk membaca.
6.
Saya
sering
mengobrol
ketika materi membaca
7.
Saya selalu fokus belajar
saat materi karya sastra
diterangkan
(cerpen,
novel, puisi, drama, atau
pantun)
8.
Saya lebih suka membaca
novel
teenlit/populer
dibanding novel berbau
sastra
9.
Saya lebih suka membaca
novel dibanding cerpen
10.
Saya suka meminjam atau
membaca
novel
di
perpustakaan sekolah
11.
Saya bisa membaca cerpen
dari
mana
saja
(buku
pelajaran, majalah, koran)
12.
Saya
membaca
cerpen
ketika ada waktu luang di
rumah
13.
Membaca
puisi
sangat
sulit bagi saya
14.
Saya selalu menantikan
materi
membaca
puisi
dibanding dengan macam-
macam materi membaca
lainnya
15.
Membaca
puisi
memberikan
manfaat
kepada saya
16.
Saya pernah menyaksikan
pertunjukkan drama
17.
Saya
belum
pernah
membaca naskah drama
sebelumnya
18.
Menurut
saya
pantun
adalah salah satu karya
sastra yang unik
19
Guru
memotivasi
untuk
selalu
saya
membaca
karya sastra
20.
Saya kurang paham ketika
guru menerangkan materi
novel
Saya
: Sudah berapa lama ibu mengajar di SMK Budhi Warman II?
Guru
: Kurang lebih tujuh tahun
Saya
: Sebelum pelajaran dimulai, apakah siswa diperintahkan untuk membaca
pelajaran terlebih dahulu?
Guru
: Kadang-kadang. Pernah juga saya meminta mereka membaca materi
pelajaran di pertemuan sebelumnya. Tapi tergantung momennya, apakah
itu memasuki materi baru atau melanjutkan materi yang sudah dipelajari.
Saya
: Apakah ibu memeberikan mereka beberapa pertanyaan setelah diminta
untuk membaca pelajaran?
Guru : Iya pasti. Minimal lima pertanyaan untuk memancing pemahaman anak.
Saya
Guru
: Materi apa yang disukai siswa ketika diperintahkan untuk membaca?
: Materi sastra cukup disukai. Kemarin kan kurikulumnya KTSP, selain
cerpen biasanya siswa suka materi anekdot.
Saya
Guru
: Menurut ibu, bagaimana minat baca pada siswa?
: Kurang. Bisa dilihat dari cara pemahaman mereka kurang cepat
menangkap pelajaran. Biasanya anak yang gemar membaca itu daya
tangkapnya cepat. Jadi karena mereka jarang baca, ketika ditanya proses
untuk menjawabnya lama.
Saya
: Apakah buku-buku karya sastra (novel, cerpen, puisi, drama, pantun) di
perpustakaan sekolah sudah lengkap?
Guru : Belum, masih sedikit.
Saya
: Apakah murid suka pergi ke perpustakaan untuk membaca novel atau
cerpen?
Guru
: Kalau dilihat dari data pengunjung, sepertinya jarang. Minimal mereka
ke perpustakaan itu ketika diarahkan guru untuk tugas kelas. Buku-buku
di perpustakaan masih minim. Tapi terkadang saya suka memberi
rekomendasi jika ada buku bacaan yang bagus kepada mereka.
Saya
: Menurut ibu, apakah sudah timbul minat baca pada diri mereka
khususnya membaca karya sastra?
Guru : Sepertinya belum, karena mereka harus diarahkan dulu, dibimbing.
Saya
: Apa yang ibu lakukan untuk meningkatkan minat baca mereka
khususnya membaca karya sastra?
Guru
: Paling dengan cara mengajak karena kebetulan ada materinya di kelas 3
yang sekarang. Selain mengajak, saya juga memberikan rekomendasi
salah satu buku yang isinya menarik.
N
O
1
2
4
5
NAMA GURU
Wimbo Handoko, S. E, M.
M.
Drs. Sularto, M. M.
Drs. Junaidi Sutopo
Drs. Suparjo
6
Drs. Rahab Abadi
7
Weti Susilawati, S. E.
8
Oom Siti Romlah, S.Pd
9
10
Munjaeni. S.Ag
Eny Setiyowati, S. E.
11
MATA PELAJARAN
Dra. Yuli Mugi Raharyanti
KKPI
A
B
C
D
E
F
G
H
A
B
C
D
A
B
C
D
E
F
G
12
Nur Kristiningsih. S.Pd
13
Dahlia, S. Pd.
14
M. Firmansyah, S.Pd
15
Hendro Eko Putro, S.Pd
16
17
18
19
Tatik Herawati, S.Pd.
Pardi Supardi, S.S., M.Pd.
Tri Eriyani.S.Pd
Dra. R. Ati Rusmiati
H
I
J
A
B
C
A
B
A
B
C
D
E
Bahasa Indonesia
Pendidikan Kewarganegaraan
Bahasa Indonesia
Dasar Manajemen Perkantoran
K3LH
Event Manajemen
Mengoperasikan Aplikasi Perangkat Lunak
Mengelola Sistem Kearsipan
Mengelola Data/ Informasi di Tempat Kerja
Mengaplikasikan Adm. Perkantoran di Tempat Kerja
Prosedur Adm. Perkantoran
KKPI
Membuat Dokumen
Mengaplikasikan Keterampilan Dasar Komunikasi
Mengelola Dana Kas Kecil
Travel And Guiding (Mulok)
Pend. Agama
Kewirausahaan
Menangani Penggandaan Dokumen
Mengelola Pertemuan / Rapat
Memproses Perjalanan Bisnis
Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan
Memahami Prinsip Penyelenggaraan Adm. Perkantoran
Mengelola Peralatan Kantor
Menerapkan Prinsip Kerjasama dengan Kolega &
Pelanggan
Menangani Surat/Dokumen Kantor
Mengoperasikan Aplikasi Presentasi
Travel And Guiding (Mulok)
Menyajikan Laporan HPP
Memproses Dokumen Dana Kas Kecil/Dana kas Bank
Mengelola Kartu Aktiva Tetap
KKPI
Mengoperasikan Aplikasi Perangkat Lunak
Pendidikan Kewarganegaraan
Kewirausahaan
Meng Peralatan Transaksi di Lokasi Penjualan
Melakukan Negoisasi
Pelaksanaan Penagihan Pembayaran
Melaksanakan Pelayanan Prima
Fisika
Bahasa Indonesia
Matematika
Bahasa Inggris
20
Siti Rahayu, S. E.
21
22
Rusdiyono, S. Pd.
Dede Fitri, S. Pd.
23
Lys Supitri, S Pd.
24
Mahlora, S. S
25
Reny Handayani, S Pd
26
27
A
B
C
D
E
F
G
Mengelola Kartu Hutang
Mengelola Buku Jurnal
Mengelola Buku Besar
Menyusun Laporan Keuangan
Mengelola Kartu Persediaan
Meng. Aplikasi Komputer (Zahir)
Meng Aplikasi Komputer Akuntansi (MYOB)
Bahasa Inggris
Matematika
A Menyiapkan Surat Pemberitahuan Pajak
B Meng Paket Prog Peng Angka/ Spreadsheet
C Pengantar Akuntansi Perbankan Syariah
Bahasa Jepang
A
IPS
B
Kewirausahaan
C
Menata Produk
Sri Wahyuni S. Pd., Si,
M.M.
Juraida Irawaty, S. Ag.
IPA
A
B
28
29
Muchammad Ercham,
S.Kom
Bambang Hendra Saputra,
S. E.
30
Kusyanti Rahayu, S. E.
31
32
33
34
35
Purwaningsih, S. Pd.
Ade Ahmad Faried, S.Pd.
Eva Andriani, S. Pd.
Suryana, S. Pd.
M. Toyib, S.Pd.
Getar Satya Mardhika, S.
Pd.
Tri Ardi Permana, S.Pd.
36
37
C
D
E
F
G
A
B
C
D
A
B
C
D
E
F
G
H
Pend. Agama
Merakit Personal Computer + Laptop Mainten &
Repair
Menerapkan Prinsip2 Seni Grafis Dalam DKV Untuk
MM
Menyusun Proposal Penawaran (Sem Gen/Gan)
Menggabungkan Gambar 2D ke dalam sajian MM
Storyboard Aplikasi Multimedia
Memahami Cara Penggunaan Peralatan Tata Cahaya
Meng Cara Menggambar Clean-Up dan Sisip (3D)
Mengelola Bukti Transaksi
Pengetahuan Dasar Akuntansi
Menyusun Laporan Keuangan
Meng. Kartu Piutang
IPS
Penerapan Prinsif Profesional Kerja
Melaksanakan Komunikasi Bisnis
Melakukan Pemasaran Barang & Jasa
Memahami Prinsip-prinsip Bisnis
Pengantar Periklanan
Melakukan Proses Adm. Transaksi
Membuka Usaha Eceran/ritel
Pendidikan Pancasilan & Kewarganegaraan
English Conversation
Bahasa Indonesia
Matematika
KKPI
Seni Budaya
Bimbingan & Konseling
38
Syarif Hidayat, S.Pd.
40
P. Heru Sulistiono
41
42
43
Ferdiyanti Rahayu, S.Pd.
Siti Sri Martina
Adi Sucahyo
A
B
C
D
E
F
G
A
B
C
44
Aan Risdiana, S.Kom.
D
E
F
G
Bimbingan & Konseling
Aplikasi Desain Komunikasi Visual
Mengoperasikan Sofware Video Editing
Melakukan Instalasi System Operasi Dasar
Dasar-dasar Animasi Stop-motion
Menguasai Cara Menggambar Kunci Untuk Animasi
Mengelola Isi Halaman WEB (Kelas XI)
Meng Cara Menggambar Clean-Up dan Sisip (3D)
English Conversation
Bahasa Mandarin
Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan
Menggabungkan Fot Digital Kdlm Sajian MM
Menerapkan Efek Khusus Pada Object Produksi
Menggabungkan Audio kedalam Sajian MM
Menerapkan Prinsip2 Seni Grafis Dalam DKV Untuk
MM
Menggabungkan Text Kedalam Sajian MM
Mengoperasikan Kamera & Teknik Pengambilan
Gambar
Mengelola Isi Halaman WEB (Kelas XII)
No
Nama Siswa
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Ade Apriliana
Andini Harviani
Aurelia Yuliana
Bhima. S
Claudia Rizky
Dea Aristawidya
Dewa Ayu Kade
Dini Aprilia. I
Dwi Andini
Ega Syafiqi
Eka Fitria
Eko Suryanto
Elia Setyowati
Erica Angelina
Feby Alvionita
Fernanda Sabita
Fidya Maharani
Heneng Kartika
Imsa Dwi
Isya. S
Jalu Aria
Jeny Nucahyani
Jesaineski. S
Jihan Arij
Jihan Eliza
2
1
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
3
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
1
0
0
1
0
1
4
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
0
5
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
6
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
7
1
0
0
0
0
1
0
0
0
1
1
0
0
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
8
1
1
1
0
0
0
1
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
0
0
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
Butir Pertanyaan Angket
9
10 11 12 13
1
0
1
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
1
1
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
0
1
0
0
1
0
1
0
0
1
0
1
1
0
1
0
1
0
0
0
0
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
0
1
0
1
1
0
0
0
0
0
0
1
1
0
1
0
0
1
1
1
0
1
0
0
1
0
0
1
0
14
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
15
1
1
0
0
1
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
16
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
17
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
18
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
19
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
0
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
20
0
0
0
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Lutfah Nur. A
M. Ibnu Ibrahim
M. Wahyudin
Mega Maulie. C
Mia Erlian
Mia Hapsari
Nafira Mega
Nawang Sari
Niken Sukma. P
Nurul Amelia
Olyvia
Rama Dika
Rizky Dwi
Sinta Elesta
Siska Naryanti
JUMLAH
1
1
0
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
32
0
1
0
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
1
0
12
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
32
0
1
0
1
1
1
0
0
0
0
0
1
0
1
0
12
0
0
0
0
0
1
1
0
1
0
1
0
0
0
9
Keterangan:
Setiap jawaban responden memiliki nilai sebagai berikut:
YA
=1
TIDAK
=0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
1
1
0
0
0
1
15
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
30
1
0
0
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
27
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0
0
27
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
0
1
28
1
0
0
0
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
21
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
1
0
0
1
0
11
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
9
1
1
1
1
1
0
0
0
0
1
0
0
1
1
1
26
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
36
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
4
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
39
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
29
1
0
0
0
0
0
1
1
1
0
0
0
0
1
1
12
BIODATA PENULIS
Siti Zuraidah Luthfiati, lahir di Jakarta 14
April 1993. Penulis adalah anak kedua dari
pasangan Bapak H. M. Lutfi Azhari dan Ibu Ati
Rusmiati.
Kini
rumah
yang
ditempati
beralamatkan di Jalan Kalisari Rt 03/003 No.10
Kelurahan Kalisari Kecamatan Pasar Rebo,
Jakarta Timur. Penulis mempunyai hobi yaitu
membaca novel, bernyanyi, dan sangat tertarik
dengan semua hal yang berbau Korea. Sejak kecil
penulis memang mempunyai cita-cita ingin
menjadi seorang guru seperti Ayah dan Ibunya saat ini.
Pendidikan yang sudah ditempuh yakni di Sekolah SDN 05 Pagi Kalisari
sampai kelas 4, selanjutnya penulis pindah ke SD Islam Al-Azhar 16 Cilacap dan
lulus pada tahun 2004. Pada tahun selanjutnya penulis melanjutkan sekolah ke
jenjang SMP tepatnya yakni di MTs Negeri 6 Cijantung. Setelah lulus pada tahun
2007 kemudian melanjutkan pendidikannya di MAN 2 Ciracas. Di tahun 2011
penulis masuk dan terdaftar sebagai mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta di Fakults Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia.
Download