PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER: SUATU KEHARUSAN

advertisement
PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER:
SUATU KEHARUSAN MENUJU MASYARAKAT ISLAMI MADANI
Zaitun
UIN Sultan Syarif Kasim Riau
E-mail: [email protected]
Abstrak:
Pendidikan karakter adalah proses yang senantiasa mengarah pada penyempurnaan diri individu
tanpa henti, terutama dalam membentuk masyarakat Islami madani. Keluarga dan sekolah
merupakan wadah pendidikan karakter tidak sedetikpun bisa terlepas dari usaha moral sebagai
proses pengembangan dan pemberdayaan fitrah peserta didik.
Kata kunci: Pendidikan karakter, sekolah berkarakter, Islami madani
kesetaraan,
Pendahuluan
Sektor pendidikan memiliki peran
yang
strategis
dalam
membangun
penegakan
kemajemukan
hukum,
(pluralisme)
serta
perlindungan terhadap kaum minoritas.
masyarakat madani. Pendidikan senantiasa
Kondisi kehidupan seperti ini terlihat
berusaha untuk menjawab kebutuhan dan
dalam konsep masyarakat madani yang ada
tantangan yang muncul dalam masyarakat.
pada zaman Rasulullah SAW. Hal ini juga
Oleh karena itu, peran pendidikan sangat
merupakan sebuah tuntutan dalam al-
diperlukan untuk mempersiapkan individu
Qur’an kepada manusia, untuk memikirkan
dan
merekonstruksi suatu masyarakat ideal
masyarakat,
kemampuan
sehingga
dan
memiliki
motivasi
serta
berdasarkan petunjuk al-Qur’an.
berpartisipasi secara aktif dalam meng
aktualisasikan masyarakat madani.
suatu
madani
sehingga
perlu
adaptasi
dan
dalam
disosialisasikan apabila konsep ini akan
semua aspek kehidupan, yakni kehidupan
diwujudkan. Hal ini terjadi karena konsep
yang
masyarakat
memiliki
perubahan
masyarakat
merupakan konsep yang bersifat universal,
Pada saat ini banyak masyarakat yang
menginginkan
Konsep
suatu
komunitas
aktivitas
warga
belakang sosial budaya yang berbeda.
masyarakatnya, yang berkembang sesuai
Apabila konsep ini akan diaktualisasikan
dengan potensi budaya, adat istiadat, dan
maka
agama.
dan
kehidupan. Langkah yang kontiniu dan
keadilan,
sistematis yang dapat merubah paradigma
kemandirian
Dengan
memperlakukan
mewujudkan
nilai-nilai
madani
diperlukan
memiliki
suatu
latar
perubahan
198 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
kebiasaan dan pola hidup masyarakat,
kenamaan, Robert N. Bellah (1976). Bellah
untuk itu diperlukan berbagai terobosan
mengakui
dan penyusunan konsep serta paradigma
dipimpin
baru dalam menghadapi tuntutan baru.
masyarakat yang sangat modern untuk
bahwa
masyarakat
Rasulullah
itu
yang
merupakan
zaman dan tempatnya. Masyarakat ini telah
melakukan lompatan jauh ke depan dalam
Apa Itu Masyarakat Madani?
Beberapa
ahli
memberi
batasan
pengertian di antaranya, Nurcholis Madjid
kecanggihan tata sosial dan pembangunan
sistem politiknya.
mengartikan masyarakat madani sebagai
masyarakat
yang
berperadaban
Upaya Ahmad Hatta merujuk pada
(ber-
komunitas zaman Nabi itu tentu bukan
“madaniyyah”) karena tunduk dan patuh
sekadar mengada-ada serta bukan sebuah
(dana-yadinu) kepada ajaran kepatuhan
sikap pembelaan yang tanpa alasan. Sebab
(din) yang dinyatakan dalam supremasi
kecanggihan
hukum dan peraturan. Ia pada hakikatnya
dibangun Nabi itu juga masih bisa dirunut
adalah reformasi total terhadap masyarakat
jejaknya melalui sebuah piagam tertulis
tak kenal hukum (lawless), Arab jahiliyah,
yang disebut dengan Piagam Madinah
dan terhadap supremasi kekuasaan pribadi
(Mitsaqul
seorang penguasa seperti yang selama ini
penting yang membuktikan betapa sangat
menjadi pengertian umum tentang negara.
majunya masyarakat yang dibangun kala
Namun bagi Ahmad Hatta, secara
itu,
di
masyarakat
Inilah
Madinah).
samping
yang
juga
pernah
dokumen
memberikan
terminologis, masyarakat madani adalah
penegasan mengenai kejelasan hukum dan
komunitas
konstitusi sebuah masyarakat.
muslim
pertama
di
kota
Madinah yang dipimpin langsung oleh
Secara
formal
Piagam
Madinah
Rasulullah SAW dan diikuti oleh keempat
mengatur hubungan sosial antar komponen
Khulafaur-Rasyidin.
masyarakat.
Masyarakat
yang
Pertama,
antar
sesama
dibangun pada zaman Rasul tersebut
muslim, bahwa sesama muslim adalah satu
identik dengan civil society, karena secara
ummat walaupun mereka berbeda suku.
sosio-kultural
substansi
Kedua, hubungan antara komunitas muslim
keadaban (civility). Karena itu model
dengan non muslim didasarkan pada prinsp
masyarakat ini sering dijadikan model
bertetangga baik, saling membantu dalam
sebuah masyarakat modern, sebagaimana
menghadapi musuh bersama, membela
yang juga diakui oleh seorang sosiolog
mereka yang teraniaya, saling menasihati
199 mengandung
Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014
dan menghormati kebebasan beragama.
berdimensi akidah, ibadah, dan akhlak.
Akan tetapi secara umum, sebagaimana
"Karena itu iman dan moralitas menjadi
terbaca dalam teks, Piagam Madinah
landasan
mengatur
penduduk
paparnya. Semua prinsip dan nilai di atas
Madinah secara lebih luas. Ada dua nilai
menjadi dasar semua aspek kehidupan,
dasar
baik politik, ekonomi, dan hukum masa itu,
kehidupan
yang
Madinah,
sosial
tertuang
yang
dalam
menjadi
Piagam
dasar
bagi
pendirian sebuah negara Madinah kala itu.
Pertama,
prinsip
kesederajatan
keadilan
(al-musawwah
dan
wal-'adalah).
dasar
Piagam
sehingga
masyarakat
diidealkan
itu
secara
Madinah,"
madani
yang
empiris
pernah
terwujud di muka bumi ini, bukan sekedar
sebuah impian.
Kedua, inklusivisme atau keterbukaan.
Terminologi
masyarakat
madani
Oleh sebab itu, dalam negeri Madinah saat
pertama
itu, walaupun penduduknya heterogen
Muhammad
(baik dalam arti agama, ras, suku dan
mujtamak madani yang secara etimologi
golongan-golongan) kedudukannya sama,
mempunyai dua arti: pertama, masyarakat
masing-masing memiliki kebebasan untuk
kota. Kedua, masyarakat yang beradap
memeluk
(masyarakat tamaddun). Dalam bahasa
agama
dan
melaksanakan
kali
dipopulerkan
Nuqaib
al-Attas,
oleh
yaitu
aktivitas dalam bidang sosial ekonomi.
Inggris
Setiap pihak mempunyai kebebasan yang
civilation, dalam makna ini masyarakat
sama untuk membela Madinah tempat
madani dapat berarti dengan Civil Society,
tinggal mereka.
yaitu
Mungkin yang menjadi pertanyaan,
bagaimana
Rasulullah
masyarakat
dengan
yang
civilty
atau
menjunjung
peradaban.
bisa
Hal di atas bukan berarti antara civil
membangun sebuah masyarakat modern di
society dan masyarkat madani memiliki
tengah padang gersang dan dalam sebuah
makna yang sama karena civil society
lingkungan yang dicitrakan tak beradab
merupakan perkembangan pemikiran yang
itu? Menurut Ahmad Hatta, masyarakat
ada di dunia Barat, yang tentu berbeda
Madinah bernilai peradaban itu dapat
dengan budaya sosial masyarakat Islam.
dibangun
Dalam perspektif Islam, social society
hanya
SAW
dikenal
setelah
Rasulullah
melakukan reformasi dan transformasi ke
lebih
dalam
and
peradaban. Berkaitan mengenai makna
yang
Tamaddun yang berarti peradaban dengan
(inner
transformation)
reformation
pada
individu
mengacu
kepada
penciptaan
200 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
al-Madinah yang berati kota, maka civil of
1. Memperkokoh hubungan kaum muslim
society diterjemahkan sebagai masyarakat
dengan Tuhannya dengan membangun
madani yang mengandung tiga hal, yaitu:
masjid.
agama
yang
peradaban
merupakan
adalah
sumbernya,
prosesnya,
serta
masyarakat kota adalah hasilnya.
2. Memperkokoh hubungan intern umat
Islam dengan mempersaudarakan kaum
pendatang
Muhajirin
dari
Mekah
dengan penduduk asli Madinah, yaitu
Bagaimana
Rasulullah
SAW
Membangun Masyarakat Madani?
kaum Anshor.
3. Mengatur hubungan umat Islam dengan
Rasulullah
mencanangkan
empat
sendi. Pertama, akidah Islam sebagai titik
tolak menuju tersebarnya Islam ke seluruh
dunia. Kedua, masyarakat Islam sebagai
orang-orang di luar Islam, baik yang
ada di dalam maupun di sekitar kota
dengan cara mengadakan perjanjian
perdamaian.
titik tolak menuju terciptanya masyarakat
terbaik dan moderat. Ketiga, perundangundangan Islam sebagai awal perubahan
menuju kehidupan sejahtera masa kini dan
mendatang.
Keempat,
kekuatan
Islam
sebagai titik tolak menuju perdamaian
Karakteristik Masyarakat Madani
1. Masyarakat
yang
beriman
dan
bertaqwa kepada Tuhan YME, yang
memiliki pemahaman agama secara
internasional.
mendalam serta hidup berdampingan
Sendi
kedua,
yakni
masyarakat
Islam, merupakan sendi terpenting dalam
melakukan perubahan. Akidah, bila tidak
ada masyarakat yang mengamalkannya,
akan menjadi barang mati. Masyarakat
dan
menghargai
2. Masyarakat
beriman
dan
3. Persatuan dan kesatuan umat, tidak
Mekah dan diteruskan di Madinah.
kesukuan.
masyarakat baru di Yatsrib, yaitu:
yang
berakhlak.
fanatis
hal yang menjadi tonggak pembentukan
agama
masing-masing.
inilah yang dibangun Rasulullah sejak di
Rasulullah saw telah meletakkan tiga
perbedaan
terhadap
ikatan-ikatan
4. Tegaknya hak-hak asasi manusia dan
tidak adanya kesewenang-wenangan.
5. Egaliterisme,
anti-feodalistik,
anti-
otoriterisme, ruang publik yang luas,
201 Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014
dan
partisipasi
masyarakat
dalam
penyelenggaraan kekuasaan.
tatanan masyarakat di atas, maka banyak
6. Masyarakat yang memiliki hukum dan
taat
hukum,
tidak
barbarian,
dan
tegaknya supremasi hukum.
7. Masyarakat
yang
Untuk dapat merealisasikan sebuah
pemikir Islam yang menyatakan perlu
adanya tingkat pendidikan yang memadai
dan berkualitas dalam membangun sumber
inklusif,
toleran
daya manusia. Pendidikan memiliki peran
dalam perbedaan, dan kemampuan
yang
untuk bekerjasama dalam menggapai
masyarakat madani, terutama pendidikan
tujuan bersama yang dicita-citakan.
Islam.
strategis
Oleh
dalam
karena
membangun
itu,
diperlukan
8. Keadilan sosial bagi seluruh umat.
terobosan pemikiran kembali suatu konsep
9. Masyarakat kota yang berperadaban
pendidikan Islam yang disesuaikan dengan
dan mampu menciptakan peradaban.
fungsinya untuk memberdayakan manusia
10. Masyarakat
yang
memiliki
pola
kehidupan yang benar.
dan masyarakat. Pendidikan Islam perlu
melakukan perubahan untuk mewujudkan
11. Masyarakat yang terbuka, pluralistik
misi baru yang sesuai dengan tuntutan
menjamin kebebasan beragama, jujur,
perubahan dalam mewujudkan masyarakat
adil, mandiri, dan menghormati hak
madani.
asasi manusia.
12. Masyarakat demokratis dan beradab
yang menghargai perbedaan pendapat.
Pembaharuan Paradigma Pendidikan
Islam
13. Masyarakat yang menghargai hak asasi
manusia dan sadar akan hukum.
14. Masyarakat
yang
kreatif,
Perubahan
mandiri,
pada
pendidikan
pertengahan)
kuat
berorientasi
penguasaan
ilmu
pengetahuan dan teknologi.
kompetitif
persaudaraan
disertai
universal.
dengan
semangat
dan
bangsa
masa
ke
ke
lalu
(abad
paradigma
yang
masa
depan.
Seperti
paradigma dualisme pendidikan Islam,
15. Masyarakat yang memiliki suasana
yang
pendidikan
Islam dari peradigma yang berorientasi
percaya diri untuk memiliki orientasi
dalam
paradigma
yaitu adanya dikotomi ilmu yang menjadi
penuh
bidang garapan pendidikan Islam yakni
lain
ilmu agama dan ilmu umum. Paradigma
kemanusiaan
yang
mengawetkan
paradigma
yang
kemajuan
merintis
ke
kemajuan,
paradigma yang sentralistik ke paradigma
202 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
yang desentralistik, proses pendidikan yang
berorientasi teacher center ke student
center,
pendidikan
yang
selama
ini
a. Konsep Pendidikan Integralistik.
Pendidikan
diorientasikan
pada komponen kehidupan meliputi
difokuskan dengan pengajaran (teaching)
orientasi
harus difokuskan ke pendidikan (learning).
insaniyyah
Dengan adanya perubahan paradigma
yang
(ketuhanan),
rabbaniyyah
(kemanusiaan),
Sebagai
alamiyah.
sesuatu
dan
yang
di atas diharapkan dapat memberikan
integralistik
rekonstruksi terhadap asas yang mendasar
kehidupan yang baik serta pendidikan
atau arah pendidikan di dalam usaha
yang menganggap manusia sebagai
meletakkan dasar yang paling rasional
pribadi jasmani, rohani, intelektual,
untuk mengubah praksis pendidikan di
perasaan, dan individu sosial yang akan
dalam rangka membangun masyarkat yang
menghasilkn manusia yang memiliki
demokratis,
integritas yang tinggi.
religius,
dan
tangguh
menghadapi tantangan internal maupun
global menuju masyarakat madani (An
Sanaqi, 2003: 30).
bagi
perwujudan
b. Konsep Pendidikan Humanistik.
Pendidikan
yagn
berorientasi
dengan memandang manusia sebagai
manusia yakni makhluk ciptaan Tuhan
Konsep Pendidikan Islam dalam
Membangun Masyarakat Madani
dengan fitrahnya, manusia makhluk
Konsep pendidikan adalah sebuah
melangsungkan dan mempertahankan
pemikiran
yang
akan
menjadi
dasar
hidup
yang
hidupnya.
harus
Posisi
mampu
pendidikan
dapat
manusia
yang
mengembangkan
dan
pengaplikasian kegiatan pendidikan atau
menghasilkan
model desain suatu lembaga pendidikan.
manusiawi,
Sebagai konsep pendidikan Islam yang
membentuk manusia yang berpikir,
telah ditawarkan oleh Hasyim Amir yang
berasa,
dikutip
bertindak sesuai dengan nilai luhur
oleh
A.Malik
Fajar,
untuk
menghadapi perubahan pendidikan dalam
masyarakat madani adalah pendidikan
yang
idealistik,
yaitu
suatu
konsep
dan
berkemauan
untuk
kemanusiaan.
c. Konsep Pendidikan Pragmatik.
Pendidikan
yang
memandang
pendidikan yang integralistik, humanistik,
manusia sebagai makhluk hidup yang
pragmatik yang berdasarkan pada budaya
selalu membutuhkan sesuatu untuk
yang kuat.
melangsungkan dan mengembangkan
203 Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014
hidupnya baik bersifat maupun rohani.
b. Model pendidikan Islam yang tetap
Dengan demikian, model pendidikan
mengkhususkan
ini diharapkan dapat mencetak manusia
pendidikan keagamaan, yaitu benar-
pragmatik yang sadar akan kebutuhan
benar sesuai dengan konsep-konsep
hidupnya dan peka terhadap masalah
Islam.
sosial kemanusiaan.
pada
desain
c. Model pendidikan agama Islam tidak
d. Pendidikan yang Berakar dari Budaya
Pendidikan
yang
tidak
hanya dilaksanakan di sekolah formal,
tetapi juga di luar sekolah seperti di
meninggalkan akar sejarah baik secara
lingkungan
kemanusiaan
maupun
sehingga
bangsa.
ditanamkan dan disosialisasikan yang
sejarah
umumnya
kebudayaan
Pendidikan
ini
suatu
diharapkan
keluarga
pendidikan
masyarakat
agama
dapat
dapat
menjadi
kebutuhan
membentuk manusia yang mempunyai
akhirnya
pendidikan
kepribadian, harga diri dan percaya
bukan lagi berupa pengetahuan yang di
pada diri sendiri untuk membangun
hafal tetapi menjadi kebutuhan dan
peradaban berdasarkan budaya.
perilaku aktual.
peserta
didik,
agama
Islam
d. Desain pendidikan diarahkan pada dua
Dengan konsep pendidikan di atas
dimensi. Dimensi itu meliputi: a)
akhirnya dapat dijadikan desain model
dimensi
pendidikan
pendidikan
masyarakat
Islam
untuk
madani.
membangun
Dalam
bentuk
dialektika
(horisontal)
hendaknya
dapat
mengembangkan pemahaman tentang
operasionalnya sebagai berukut:
kehidupan
a. Mendesain model pendidikan umum
hubungannya dengan alam/lingkungan
Islami
yang
handal
dan
mampu
manusia
dalam
sosialnya, akhirnya manusia mempu
bersaing dengan lembaga pendidikan
mengatasi
yang lain. Dengan demikian, visi misi
melalui
dan tujuan pendidikan, kurikulum,
dimensi vertikal, hal ini pendidikan
materi
metode
sebagai jembatan dalam memahami
pembelajaran, manajemen pendidikan
fenomena dan misteri kehidupan yang
harus disesuaikan dengan tuntutan
abadi.
pembelajaran,
tantangan
dan
pengembangan
kendala
iptek.
b)
zaman.
204 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
Keempat model pendidikan Islam di
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
atas perlu diupayakan untuk membangun
spiritual keagamaan, pengendalian diri,
masyarakat madani. Dengan demikian,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia
apapun model pendidikan Islam yang
serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
ditawarkan untuk membangun masyarakat
masyarakat bangsa dan Negara.
madani pada dasarnya harus berfungsi
Menjawab UU di atas, jelas bahwa
untuk memberi kaitan antara peserta didik
pendidikan sesungguhnya adalah proses
dengan nilai-nilai ilahiyah, pengetahuan,
yang
dan keterampilan. Nilai-nilai demokrasi
penyempurnaan tiada henti. Sebagaimana
dan sosial kultural harus berfungsi untuk
dikemukakan oleh Muhammad Fadhil al-
memberi kaitan secara operasional antara
Jamaly,
peserta didik dengan masyarakatnya.
berupaya mengembangkan, mendorong,
senantiasa
serta
Pendidikan
Keniscayaan
Karakter:
Suatu
pendidikan
mengajak
berlandaskan
kehidupan
Pendidikan
pada
hakikatnya
pribadi
mengarah
Islam
manusia
nilai-nilai
mulia,
yang
terutama
lebih
maju
tinggi
dan
sehingga
sempurna,
pada
terbentuk
baik
yang
merupakan usaha sadar yang dilakukan
berkaitan dengan akal, perasaan maupun
secara sistematis, terencana, dan bertujuan
perbuatan (Ismail SM, 2009: 35).
yakni meningkatkan kualitas sumber daya
Al-Ghazali
juga
mengemukakan
manusia, baik intelektual, sosial, maupun
bahwa tujuan pendidikan Islam yaitu
spiritual.
yang
tercapainya kesempurnaan insani yang
berkuliatas secara intelek mutlak harus
bermuara pada kebahagiaan dunia dan
diiringi dengan upaya peningkatan kualitas
akhirat.
keimanan sebagai salah satu komitmen
pendidikan secara umum diindikasikan jika
bangsa
sistem
mampu membentuk pola tingkah laku
Sebagaimana
peserta didik. Pola tingkah laku tersebut
termaktub dalam UU Sisdiknaas No.20
dapat dibentuk dengan cara penanaman
tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa
nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.
pendidikan
dan
Pendidikan karakter menurut Zainal Aqib
suasana
dan Sujak (2011: 3) adalah suatu sistem
belajar dan proses pembelajaran agar
penanaman nilai-nilai karakter kepada
peserta didik secara aktif mengembangkan
warga
Pembentukan
yang
pendidikan
terencana
205 tertuang
manusia
dalam
nasional.
adalah
untuk
usaha
sadar
mewujudkan
Keberhasilan
sekolah
penyelenggaraan
meliputi
komponen
Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014
pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan
umatnya. Akhlak merupakan salah satu
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai
dari tiga kerangka dasar disamping aqidah
tersebut. Pendidikan memiliki esensi dan
dan syariah. Nabi Muhammad SAW
makna yang sama dengan pendidikan
kehadirannya
moral
membawa
dan
pendidikan
akhlak
yang
di
permukaan
bumi
misi
pokok
untuk
bertujuan untuk membentuk pribadi anak
menyempurnakan akhlak manusia yang
supaya
baik,
tercermin melalui pengamalan al-Qur`an
sebagai masyarakat dan warga negara yang
dan hadist. Seperti yang termaktub dalam
baik.
firman Allah SWT dalam Q.S. Al-
menjadi
manusia
yang
Pada hakikatnya pendidikan karakter
dalam konteks pendidikan di Indonesia
adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan
Ahzab:21:
⎯yϑÏj9 ×πuΖ|¡ym îοuθó™é& «!$# ÉΑθß™u‘ ’Îû öΝä3s9 tβ%x. ô‰s)©9
nilai-nilai luhur yang bersumber dari
∩⊄⊇∪ #ZÏVx. ©!$# tx.sŒuρ tÅzFψ$# tΠöθu‹ø9$#uρ ©!$# (#θã_ötƒ tβ%x.
budaya bangsa Indonesia, dalam rangka
"Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia
banyak menyebut Allah".
membina kepribadian generasi bangsa (Sri
Narwanti, 2011: 14). Daniel Goleman
menyatakan bahwa keberhasilan seseorang
di masyarakat, ternyata 80% dipengaruhi
Begitu pentingnya akhlak dalam
oleh kecerdasan emosi dan hanya 20%
Islam, karena Islam adalah rahmatan lil
ditentukan oleh IQ. Anak-anak yang
alamin.
mempunyai masalah dalam kecerdasan
manifestasi dari ibadah dan keimanan,
emosinya
merupakan sikap yang mendalam dalam
akan
mengalami
kesulitan
Akhlak
(karakter)
adalah
dapat
jiwa yang menimbulkan perbuatan secara
mengontrol emosinya terlihat sejak dini
mudah, bisa diubah, dan diperkuat melalui
sampai usia dewasa (Sofyan Amri, dkk,
pendidikan dan latihan. Akhlak dalam
2011: 54). Untuk itu perlu ditangani
Islam telah dicantumkan dan diarahkan
dengan baik oleh semua pihak termasuk
oleh syariat Islam yang dicontohkan oleh
keluarga, sekolah maupun masyarakat.
nabi dan rasul serta orang-orang shaleh
Pendidikan karakter tidak saja merupakan
yang bisa diteladani. Karakter bersifat
tuntutan undang-undang dan peraturan
universal, seimbang, sederhana, realistis,
pemerintah, tetapi juga oleh agama. Islam
mudah, namun tidak memudahkan urusan
mengajarkan karakter atau akhlak pada
agama dan mengangap remeh syariat yang
belajar,
bergaul,
dan
tidak
206 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
telah ditetapkan, sesuai antara perkataan
manusia
Indonesia
dan perbuatan (Said Aqil al-Munawwar,
martabat
manusia
2005: 4).
mewujudkan
Nabi Muhammad SAW sebagai suri
dan
Indonesia
tujuan
manusia-manuisa
meningkatkan
nasional
Indonesia.
serta
melalui
Upaya
tauladan,
tidak
menghilangkan
semua
pencapaian tujuan nasional tersebut adalah
budaya
dan
tradisi
secara
dengan menciptakan masyarakat madani
lama
keseluruhan, namun hanya mengganti dan
menyempurnakan.
Islam
(Muhyi Batubara, 2004: 116).
menginginkan
Masyarakat
madani,
suatu
umatnya mempunyai hubungan vertikal
masyarakat
yang baik dalam wujud habl min Allah
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,
yang melahirkan kesalehan individual dan
yang sadar akan hak dan kewajibannya,
diikuti oleh hubungan horizontal yang baik
demokratis,
terhadap sesama manusia dalam rangka
berdisiplin, menguasai sumber informasi
habl min al-nas yang melahirkan kesalihan
dalam bidang IPTEK, seni, budaya, dan
sosial dalam bermuamalah.
agama (H.A.R. Tilaar, 2000). Dengan
yang
berperadaban
bertanggung
yang
jawab,
Undang-undang Sisdiknas No.20
demikian, proses pendidikan yang harus
tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa
menciptakan arah yang segaris dengan
pendidikan
upaya
Nasional
mengembangkan
berfungsi
kemampuan
dan
membentuk watak serta peradaban bangsa
yang
bermartabat
dalam
rangka
pencapaian
masyarakat
madani
tersebut.
Realitas
menyentuh
pendidikan
penanaman
kita
belum
berdimensi
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
karakter, belum menghargai fitrah anak.
mengembangkan potensi peserta didik agar
Sekolah misalnya banyak terjadi perilaku
menjadi
dan
bullying, baik dari guru, teman sebaya
bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
maupun karyawan sekolah. Banyak lagi
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
penyimpangan perilaku yang terjadi di
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara
mana pelakunya adalah pihak-pihak yang
yang demokratis serta bertanggung jawab.
terkait dengan sekolah sebagai lembaga
manusia
yang
beriman
Jelaslah bahwa pendidikan Indonesia
diselenggarakan
mengembangkan
adalah
kemampuan
untuk
manusia
Indonesia, meningkatkan mutu kehidupan
207 pendidikan nota bene salah satu wadah
membentuk karakter atau akhlak tersebut.
Anak
dalam
perkembangan
sosialnya, akan selalu berinteraksi dengan
Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014
masyarakat,
mereka
perlu
belajar
dengan anggota keluarga lainnya dan juga
menyesuaikan diri dan mengadopsi nilai,
masyarakat
norma,
mengatakan sebagai berikut:
perilaku,
akhlak
yang
sesuai
dengan harapan masyarakat. Fenomena
yang ada anak terombang ambing dan
terbawa arus perkembangan global sehinga
ada indikasi bahwa anak tidak mampu
merencanakan masa depan mereka dengan
baik menjadi abdun dan khalifah fi al-ardh
sebagaimana tujuan pendidikan Islam. Hal
tersebut mendasari dan suatu keniscayaan
penanaman karakter yang dimulai dari
keluarga
sebagai
lembaga
pendidikan
primer hingga sekolah sebagai satuan
pendidikan formal pelanjut pendidikan
yang telah ditanamkan keluarga.
pendidikan
merupakan
informal.
Ibnu
Kaldun
“Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya,
maka akan terdidik oleh zaman. Sehingga
mereka mampu dan dapat berhasil dalam
menghadapi
segala
macam
tantangan,
termasuk tantangan untuk berhasil secara
akademik" (Masnur Muclich: 30).
Keluarga, yang dalam hal ini orang
tua, merupakan wadah primer dalam
membentuk karakter (akhlak) anak. Orang
tua memberikan
pendidikan iman yang
mengikat anak dengan dasar-dasar iman,
rukun Islam dan dasar-dasar syariah, sejak
anak mulai mengerti dan dapat memahami
sesuatu (Ulwan, 1981: 151). Para ahli
pendidikan dan akhlak meyakini bahwa
Keluarga
Sebagai
Basis
Pendidikan Karakter Bagi Anak
Keluarga
sekitarnya.
Awal
berdasarkan fitrah tauhid. Hakekat fitrah
lingkungan
Sebagai
sejak anak dilahirkan, ia telah dilahirkan
institusi
keimanan ini telah ditetapkan dalam alQur’an surat al-Rum ayat 30:
informal, dituntut mampu membentuk
segala perilaku dan pola asuh yang
tsÜsù ©ÉL©9$# «!$# |NtôÜÏù 4 $Z‹ÏΖym È⎦⎪Ïe$#Ï9 y7yγô_uρ óΟÏ%r'sù
diterapkan
šÏ9≡sŒ 4 «!$# È,ù=y⇐Ï9 Ÿ≅ƒÏ‰ö7s? Ÿω 4 $pκön=tæ }¨$¨Ζ9$#
berpengarauh
dalam
keluarga
dalam
pasti
pembentukan
kepribadian atau karakter anak (Ratna
Ÿω Ĩ$¨Ζ9$# usYò2r& ∅Å3≈s9uρ ÞΟÍhŠs)ø9$# Ú⎥⎪Ïe$!$#
Megawangi: 95). Keluarga dalam hal ini
∩⊂⊃∪ tβθßϑn=ôètƒ
orang tua, menurut Ibnu Khaldun memiliki
peran
yang
sangat
penting
dalam
memberikan pendidikan terhadap anakanaknya. Dalam keluarga mestinya anak
mendapat
pengarahan
bagaimana
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus
kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang Telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
berperilaku, bertutur kata, dan bersikap
208 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
Yang dimaksud fitrah di sini adalah
fitrah tauhid, akidah iman kepada Allah
SWT. Hal ini dikuatkan oleh hadits
Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh
Bukhari dari Abu Hurairah r.a. bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
‫ أو‬,‫ ﻓﺄﺑﻮاﻩ ﻳﻬﻮداﻧﻪ‬,‫آﻞ ﻣﻮﻟﻮد ﻳﻮﻟﺪ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻄﺮة‬
ini ditegaskan dalam al-Qur’an surat alTahrim ayat 6:
#Y‘$tΡ ö/ä3‹Î=÷δr&uρ ö/ä3|¡àΡr& (#þθè% (#θãΖtΒ#u™ t⎦⎪Ï%©!$# $pκš‰r'¯≈tƒ
ÔâŸξÏî îπs3Íׯ≈n=tΒ $pκön=tæ äοu‘$yfÏtø:$#uρ â¨$¨Ζ9$# $yδߊθè%uρ
$tΒ tβθè=yèøtƒuρ öΝèδttΒr& $! tΒ ©!$# tβθÝÁ÷ètƒ ω ׊#y‰Ï©
∩∉∪ tβρâsΔ÷σãƒ
‫ﻳﻨﺼﺮاﻧﻪ أو ﻳﻤﺠﺴﺎﻧﻪ‬
“Setiap anak yang dilahirkan itu telah
membawa fitrah beragama (perasaan percaya
kepada Allah). Maka kedua orang tuanyalah
yang menjadikan anak tersebut beragama
Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”
Dari hadis di atas dapat dipahami
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap
apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka
dan
selalu
mengerjakan
apa
yang
diperintahkan.”
bahwa tanggung jawab menjadikan fitrah
tauhid tetap pada anak adalah orang tua.
Al-Ghazali dalam Abdullah Nashih Ulwan
(1981: 157) mengatakan bahwa anak
adalah amanat bagi kedua orang tuanya.
Dan hatinya yang suci itu adalah permata
yang
mahal.
Apabila
ia
diajar
dan
dibiasakan pada kebaikan, maka ia akan
tumbuh pada kebaikan itu dan akan
mendapat kebahagiaan di dunia dan di
akhirat. Tetapi apabila ia dibiasakan untuk
melakukan kejahatan dan dibiarkan seperti
binatang-binatang, maka ia akan sengsara
dan binasa. Dan untuk memeliharanya
adalah dengan mendidik dan mengajarkan
akhlak-akhlak yang mulia kepadanya.
Kewajiban menjaga anak agar tetap
pada fitrahnya terletak pada orang tua. Hal
209 Oleh karena itu, kedua orang tua
hendaklah menjaga anaknya agar tetap
pada agama Allah dengan memberikan
kebiasaan-kebiasaan baik, yaitu kebiasaan
yang membawa anak pada amalan-amalan
kebaikan, iman kepada Allah dan RasulNya. Dan tentunya kebiasaan ini harus
dimulai sejak kelahiran anak. Bahkan
Abdullah
Nashih
Ulwan
menganggap
bahwa pendidikan terhadap anak sudah
dimulai sejak masa memilih jodoh dan
meminang
calon
istri.
Yaitu
dengan
memilih wanita shalehah dan laki-laki yang
shaleh.
Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014
Sekolah:
Pondasi
Kedua
Penanaman Karakter
Dalam
gagal dalam melakukannya. Untuk itu
Sekolah sebagai lembaga pendidikan
formal,
pelanjut
menjadi
sangat
pendidikan
penting
diharapkan, bahkan ada orang tua yang
keluarga
peran
dan
fungsinya. Salah satu fungsi sekolah adalah
sekolah sangat berperan penting dalam
membantu
karakter
pada
kualitas
keimanan,
karena
pendidikan
sekolah
merupakan
miniatur kehidupan masyarakat.
wadah transmisi Afektif (attitude) yang
tercermin
menanamkan
Ada 3 proses yang dialami oleh anak
disekolah, yaitu sosialisasi, akulturasi dan
ketakwaan, akhlak, dan kepribadian yang
enkulturisasi
unggul dan kompetensi estetis; Kognitif
Sosialisasi; proses membimbing individu
(pengetahuan) tercermin pada kapasitas
memasuki
berpikir dan daya intelektualitas untuk
berperilaku, berinteraksi sesuai dengan
menggali
standar norma yang ada dalam masyarakat
dan
mengembangkan
serta
(Masnur
dunia
Muclich:
sosial,
anak
44).
dapat
penguasaan IPTEK; dan Psikomotorik
tertentu.
(keterampilan)
budaya yang lahir dari proses sosialisasi
yang
tercermin
pada
Akulturasi;
proses
perubahan
kemampuan mengembangkan kemampuan
yang
teknis, kecakapan praktis, dan kemampuan
pengadopsian
kinestetis. Proses tersebut terselenggara
berkonsekuensi
hilangnya
kekhasan
melalui
proses
budaya
terdahulu,
sedangkan
semua
enkulturisasi,
pembiasaan
pembelajaran,
komponen
melalui
keteladanan
sekolah
terutama
pendidik
ditandai
sebagai
dengan
kebudayaan
anak
proses
makhluk
penyerapan,
baru
sosial
bernalar
yang
manusia
dan
(guru). Pendidik adalah ujung tombak
berkemampuan reflektif serta intelegenci
dalam mencapaikan penanaman karakter
hingga mampu memahami, mengadopsi
pada peserta didik disamping komponen
pola pikir, pengetahuan, dan kebudayaan
lain seperti kepala sekolah dan staf
orang lain.
sekolah.
Ketiga proses tersebut berlangsung
Pendidikan
karakter
di
sekolah
secara
dinamis
dan
bersenyawa
sangat diperlukan, walaupun dasar dari
diberlakukan dalam wadah pendidikan di
pendidikan
keluarga.
sekolah sebagai lembaga yang tidak berada
Namun, orang tua juga tidak serta merta
dalam ruang hampa, saling berinteraksi,
mampu mengantarkan anak-anak mereka
dan saling menyerap budaya dan nilai-nilai
kepada
yang beragam serta beradaptasi secara
karakter
pembentukan
adalah
karakter
yang
210 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
sosial. Pendidikan karakter pada tingkatan
mental
institusi
pada
sehingga tercipta kegiatan pembelajaran
pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-
yang efektif, nyaman, dan aman. Terdapat
nilai yang melandasi perilaku, tradisi,
dua
keseharian
pendidikan yaitu suasana keislaman dan
sekolah
dan
mengarah
simbol-simbol
yang
psikologis,
aspek
maupun
kultur
dan
spiritual
lingkungan
dipraktikkan oleh semua warga sekolah,
suasana
dan masyarakat sekitar sekolah. Penciptaan
Suasana
budaya sekolah islami merupakan ciri
pembentukan karakter keislaman terhadap
khas, karakter atau watak, dan citra sekolah
siswa baik secara fisik maupun dalam
tersebut dimata masyarakat luas. Kultur
bentuk kegiatan yang bernuansa keislaman.
(budaya) sekolah didefenisikan sebagai
Sedangkan suasana sosial, yaitu suatu
suatu manifestasi nilai-nilai dan keyakinan
usaha menjalin hubungan antara sekolah
yang dimiliki bersama anggota-anggota
dengan masyarakat, hubungan sekolah
organisasi
tersebut.
dengan lembaga pendidikan lain dan peran
keyakinan
yang
Nilai-nilai
melandasi
dan
kultur
sosial
(Supiana,
keislaman
2008:
adalah
66).
kondisi
komite sekolah.
organisasi merupakan landasan-landasan
Sebuah lembaga pendidikan baik
yang tak tampak, sedangkan manifestasi
dari segi kerangka sistem maupun dari segi
yang
kerangka budaya selalu memiliki hubungan
tampak
digunakan,
adalah
prilaku
kata-kata
yang
yang
dijalankan,
interaktif
dengan
lingkungan.
Sebagai
bangunan-bangunan serta fasilitas yang
suatu sistem yang saling mempengaruhi
diadakan
proses
bermuara pada tujuan yang dicita-citakan.
organisasi
Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari
dilakukan dengan menetapkan norma dan
nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri. Oleh
nilai-nilai, mengartikulasi filosofi-filosofi,
karena itu, pada hakikatnya realisasi nilai-
menciptakan
upacara-
nilai ajaran Islam itulah tujuan akhir
intaraksi
pendidikan Islam. Sedangkan nilai-nilai
komunitas dan parenthal yang mendukung
Islam bukan saja mengandung aspek ritual
pencapaian
dan sosial, tetapi juga aspek sains dan
(Caldwell,
penciptaan
upacara,
kultur
1992)
dalam
simbol-simbol,
ritual-ritual;
serta
tujuan-tujuan
sekolah
(Leitwood & D. Janzi, 1997: 35).
Kultur
dan
lingkungan
adalah situasi kondusif
teknologi yang dijiwai dengan ajaran Islam
sekolah
(Supiana, 2008: 74).
untuk kegiatan
Lingkungan yang baik (biah solihah)
pembelajaran baik secara fisik, sosial,
juga merupakan salah satu kriteria penting
211 Kutubkhanah: Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.2 Juli-Desember 2014
bagi sekolah Islam. Lingkungan yang
sejak
bersih, rapi, sehat, dan nyaman merupakan
membangun
tatanan
syarat mutlak bagi sekolah Islam dan
bermasyarakat
yang
senantiasa diberi petunjuk (hidayah) Allah
terdapat entitas sosial.
SWT. Sejalan dengan dengan Firman Allah
SWT yang berbunyi:
dini
mengenai
pentingnya
hidup
didalamnya
3. Pendidikan merupakan wahana efektif
untuk memperkuat integrasi sosial
⎯tΒ “ωöκu‰ ©!$# £⎯Å3≈s9uρ |Mö6t7ômr& ô⎯tΒ “ωöκsE Ÿω y7¨ΡÎ)
š⎥⎪ωtFôγßϑø9$$Î/ ãΝn=÷ær& uθèδuρ 4 â™!$t±o„
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat
memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada
orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk" (QS. al-Qashash: 56).
politik (Doni Koesoema, 2010: 45-46).
Penanaman karakter pada peserta
didik, dilakukan dengan cara memberi
keteladanan yang nyata, guru menampilkan
diri dengan nilai-nilai tertentu sebagai role
model bagi peserta didik. Selain pendidik,
sekolah perlu melibatkan pendayagunaan
kurikulum holistik berbasis karakter, yaitu
sekolah
mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial,
dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk
kreativitas, spiritual, dan intelektual siswa
membentuk peserta didik memiliki moral
secara optimal, serta membentuk manusia
yang luhur, berakhlak mulia, agar kelak
yang long life learning. Hal ini akan
berguna bagi bangsa dan negara. Program
mendorong peserta didik menjadi diri
pendidikan
diwujudkan
sendiri, mampu berbuat keputusan terbaik,
terintegrasi dalam semua mata pelajaran
belajar mandiri, mempunyai kecakapan
yang ada.
sosial,
Pendidikan
karakter
karakter
di
Ada tiga alasan sekolah dipandang
tepat sebagai wahana transformasi nilaipendidikan,
dapat
mengembangkan
karakter dan emosionalnya (Sudarwan
Danim dan Khairil, 2010: 98).
Ada empat pilar penting sekolah
nilai budaya, yaitu:
1. Melalui
serta
kemampuan
yang
telah
memiliki
komitmen
kognitif dan daya intelektual individu
melaksanakan pendidikan karakter, yaitu:
dapat ditumbuhkembangkan dengan
1) kegaiatan belajar mengajar di kelas, 2)
baik.
kegiatan keseharian dalam bentuk budaya
2. Melalui
sistem
pendidikan
persekolahan setiap anak diperkenalkan
satuan
kegiatan
pendidikan
ko-kurikuler
(school
dan/atau
nature);
ekstra
212 Zaitun : Penanaman Pendidikan Karakter
kurikuler, 3) kegiatan keseharian dirumah,
dan 4) dalam masyarakat (Direktorat
Pendidikan Dasar, 2011: 13-14).
Daftar Kepustakaan
Caldwell, B.J., Spinks, M. (1992). Leading
the Self Managing School. London:
The Falmer Press.
Direktorat Pendidikan Dasar. (2011).
Policy Brief: Pendidikan Karakter
untuk Membangun Karakter Bangsa.
Edisi 4. Jakarta: Kemdiknas.
Doni Koesoema A. (2010). Pendidikan
Karakter: Strategi Mendidik anak di
Zaman Global. Jakarta: Grasindo.
Muhyi Batubara. (2004). Sosiologi
Pendidikan. Jakarta: Ciputat Press.
Ratna Megawangi. Pendidikan Karakter:
Solusi yang tepat untuk Membangun
Bangsa.
Indonesia
Heritage
Foundation.
Said Aqil Husin al-Munawar. (2005).
Aktualisasi Nilai-nilai Qur`aniy
dalam system Pendidikan Islam.
Jakarta: Ciputat Press.
Sofan Amri dkk. (2011). Implementasi
Pendidikan
Karakter
dalam
Pembelajaran. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher.
Sri Narwanti. (2011). Pendidikan Karakter.
Yogyakarta: Familia, Group Relasi
Inti Media.
Sudarwan Danim dan Khairil. (2010).
Psikologi
Pendidikan
dalam
Perspektif Baru. Bandung: Alfabeta.
H.A.R
Tilaar.
(2000).
Pendidikan,
Kebudayaan
dan
Masyarakat
Madani
Indonesia.
Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Supiana. (2008). Sistem Pendidikan
Madrasah Unggulan.
Jakarta:
Badan Litbang & Diklat Depag RI.
Ismail SM. (2009). Strategi Pembelajaran
Agama Islam Berbasis PAIKEM.
Cet.IV. Semarang: Rasail Media
Group.
Ulwan, Abdullah Nashih. (1981). Tarbiyah
al-aulad fi al-Islam. Diterjemahkan
oleh Saifullah Kamalie dan Hery
Noer Ali. cet. 3. jld. 1. Semarang:
Asy-Syifa.
Leitwood, K & Janzi, D. (1997).
"Explaining Variation in teachers’
Perception of Principal Laedership:
A
Replication".
Journal
of
Education Administration.
Masnur Muclich. Pendidikan Karakter
Menjawab
Tantangan
Multi
Dimensional. Jakarta: Bumi Aksara.
213 UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas.
(2008). Jakarta: Visi Media.
Zainal Aqib dan Sujak. (2011). Panduan
dan Aplikasi Pendidikan Karakter.
Bandung: Yrama Widya.
Download