(Vigna radiata L.)Rukmana (2006)

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Morfologi Kacang Hijau
Taksonomi tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.)Rukmana (2006)
sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
Devisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospremae
Kelas
: Dicotylodenae
Ordo
: Polypetalae
Familia
: Papilionacaea
Genus
: Vigna
Species
: Vigna radiata L. (Wilczeck)
Koleksi plasma nutfahkacang hijau di Indonesia diperkirakan lebih dari
2000 varietas unggul yang sudah dilepas masih sedikit. Tanaman kacang hijau
merupakan tanaman semusim yang berumur pendek (60 hari).Kerabat dekat
kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di
daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk familia polong-polong (Fabaceae) ini
memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan
pangan berprotein nabati tinggi (Rukmana, 2006).
Tanaman kacang hijau memilik batang tegak dengan ketinggian sangat
bervariasi, antara 30-60 cm tergantung varietasnya,pada cabang kacang hijau
menyamping pada batang utama terbentuk bulat dan berbulu, warna batang,
cabangnya ada yang berwarna hijau dan ungu,biji kacang hijau merupakan lebih
kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Biji kacang hijau terdiri dari tiga
bagian utama yaitu kulit biji (10%), kotiledon (88%) dan lembaga (2%). Bagian
kulit biji kacang hijau mengadung mineral antara lain fosfor (P), kalsium (Ca),
dan besi (Fe). Kotiledonbanyak mengandung pati dan serat, sedangkan lembaga
merupakan sumber protein dan lemak (Purnomo, 2006).
Tanaman kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada
permukaan dan bunga kacang hijau berwarna kuning tersusun dalam tandan,
keluar pada cabang serta batang dan dapat menyerbuk sendiri (Tjitrosoepomo,
2000;Irawan, 2001).
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Kacang Hijau
2.2.1
Iklim
Rukmana (2006) menyatakan bahwa untuk dapat tumbuh dan berkembang
kacang hijau menghendaki curah hujan yang optimal 50-200 mm/bln dengan
temperatur 25-270C, kelembaban udara berkisar 50-80% dan cukup mendapatkan
sinar matahari.
Kacang hijau merupakan tanaman tropis yang menghendaki suasana panas
selama hidupnya. Tanaman ini dapat ditanam di dataran rendah hingga tinggi
500m di atas pemukan laut (dpl), tanaman kacang hijau dapat hidup didaerah
curah hujan rendah dengan memanfaatkan sisa-sisa kelembaban bekas tanaman
yang diairi sepenuhnya, misalnya padi, kacang hijau dapat tumbuh di segala
macam tipe tanah, namun pertumbuhan terbaik pada tanah lempung dengan bahan
organik tinggi (Rukmana, 2006).
2.2.2
Tanah
Tanah yang disesuaikan tanaman kacang hijau adalah tanah yang liat
berlempung, berdrainase baikdan cukup unsur hara N, P, K, Cadan unsur mikro,
tanah yang terlalu subur dengan kandungan N-total (0.51-0,75 %) dan K-tersedia
(0,61-1,00 C mol, kg-1) yang tinggi kurang baik untuk kacang hijau karena akan
mengakibatkan pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dan pembentukan polong
berkurang (Sumarno, 2003). Tingkat keasaman tanah yang optimum untuk
pertumbuhan kacang hijau antara pH 6,5 (Andrianto dan Indrianto, 2004).
Kacang hijau dapat tumbuh pada semua jenis tanah sepanjang kelembaban
dan tersedianya unsur hara yang cukup. Itu lahan yang akan dipergunakan harus
dipersiapkan sebaik-baiknya. Lahan sawah setelah panen padi, tidak perlu
dilakukan pengolahan tanah. Menurut Sunantara (2000) penyediaan lahan berupa
dengan pemotongan jerami padi sesuai untuk budidaya kacang hijau setelah
tanaman padi. Sementara itu pada lahan sawah yang agak lama tidak ditanami
perlu dilakukan pengelohan tanah secara sempurna, untuk menghindari air
tergenang pada musim hujan serta perlu dibuat saluran drainase dengan lebar dan
kedalaman 20-30 cm dan jarak antara saluran maksimum 4 m (Atman, 2007).
2.3 Varietas Kacang Hijau Kutilang
Kacang hijau varietas kutilangtipe determinet; produktivitas rata-rata
mencapai 2,0 t ha-1 biji berwarna hijau mengkilat; ukuran biji besar (6 g/100 biji);
tahan terhadap penyakit embung tepung; umur panen 60-67 hari. Kenari Tipe
tegak; determinet; produktivitas rata-rata 1,64 t ha-1 (rentang hasil 0,8-2,4 t ha-1)
(Balitkabi, 2012).
Menurut Hapsari et al.(2015) sejak tahun 1945-2013 sebanyak 13 varietas
kacang hijau yang dihasilkan berasal dari pemurnian atau seleksi galur introduksi
(Bhakti, No.129, Merak, Nuri, Manyar, Walet, Gelatik, Merpati, Sriti, Kenari,
Murai, Perkutut, dan Kutilang). Varietas unggulan mempunyai sifat berproduksi
tinggi bila ditanam pada lingkungan yang optimal, umur pendek tahan serangan
penyakit dan sifatmenguntungkan lainnya, varietas yang polongnya masak
serempak adalah varietas kutilang. Hasil penelitian Raihana dan Wiliam (2006)
menyebutkan bahwa penggunaan varietas kutilang dengan pemberian mulsa
memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya.
2.4 Masalah Budidaya Kacang Hijau di Lahan Kering
Lahan
kering
merupakan
lahan
dengan
tingkat
kesuburan
dan
produktivitas yang sangat rendah dan khusus pada lahan berlerang atau
bergelombang berpotensi erosi tanah cukup besar. Suprapto et al., (2000)
menyatakan bahwa usahatani di lahan kering masih banyak dihadapkan pada
berbagai permasalahan seperti masalah air pengairan, tingkat kesuburan tanah,
dan produktivitas lahan yang rendah, sehingga perlu diupayakan untuk
meningkatkan produktivitas dari lahan kering tersebut melalui pemupukan baik
pupuk anorganik maupun organik.
Permasalahan dalam pengelolaan tanaman kacang hijau di lahan kering
adalah masih rendahnya produktivitas hasil, rendahnya unsur hara dilahan kering
dan air yang tersedia sangat kurang, kekeringan merupakan salah satu faktor
penting yang berengaruh terhadap rendah dan tidak stabilnya tanaman kacang
hijau, ketersedian air tanah yang sangat terbatas mengakibatkan pertumbuhan
tanman terhambat dan dapat menyebabkan hasil tanaman rendah, kekeringan berat
yang sebabkan rendahnya curah hujan serta distribusinya yang tidak merata di
daerah beriklim kering menyebabkan kandungan air tanah cenderung berfluktuasi,
karena terhambatnya pertumbuhan tanaman (Seopandie, 1996).
Periode kritis tanaman merupakan periode pada saat itu tanaman sangat
peka terhadap faktor lingkungan, dan diluar periode tersebut relatif berpengaruh
terhadap pertumbuhan maupun hasil tanaman (Moenandir, 2010). Adisarwanto et
al., (1993) menyatakan bahwa pada stadia kritis tersebut terjadi kekurang air akan
berpengaruh terhadap hasil dan akhir tanaman, stadia kritis pada tanaman kacang
hijau merupakan: (1)perkecambahan, (2) pembungaan, (3) pembentukan polong,
(4) pengisian biji.
2.5 Sifat Kimia Tanah
2.5.1
pH Tanah
Keasaman tanah atau pH adalah tingkat keasaman atau kebasa-an suatu
benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Reaksi
tanah yang penting adalah masam, netral dan alkalin, suatu tanah disebut masam
apabila pH nya kurang dari 7, netral bila sama dengan 7 dan basa bila lebih dari 7
(Hakim et al., 1986).
Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) di dalam
tanah, makin tinggi kadar ion H+di dalam tanahsemakin masam tanah tersebut di
dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya
sebanding dengan banyaknya H+. Tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi
daripada OH-. Tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+ bila
kandungan H+sama dengan OH-maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH
7, didalam tanah pH sangat penting dalam menentukan aktivitas dan dominasi
mikroorganisme
dalam
hubungannya
dengan
proses-proses
sangat
erat
hubungannya dengan mikroorganisme seperti siklus hara (nitrifikasi, denitrifikasi,
dll), penyakit tanaman, dekomposisi dan sintesa kimia organik dan transport gas
ke atmosfer mikrobia seperti metan, CH4 (Hakim et al., 1986).
2.5.2
Nitrogen (N)
Nitrogen tanah sebagaian besar berada dalam bentuk N organik maka
pelapukan N organik merupakan proses yang menjadikan N tersedia bagi
tanaman. Nitrogen dibebaskan dalam bentuk ammonium, dan bila keadaan baik
ammonium dioksidasikan menjadi nitrit kemudian nitrat (Hrdjowigeno, 2007).
Tanaman mengambil nitrogen terutama dalam bentuk NH4+ dan NO3-. Ion-ion di
dalam tanah pertanian berasal dari pupuk-pupuk N yang diberikan serta bahan
organik tanah. Jumlahnya tergantung dari jumlah pupuk yang diberikan dan
kecepatan perombakan dari bahan-bahan organik (Leiwakabessy dan Sutandi,
2004).
2.5.3
Phospor (P)
Unsur Phospor berperan dalam proses pemecahan karbohidrat untuk
energi. Penyimpanan dan peredarannya keseluruh tanaman dalam bentuk ADP
dan ATP. Unsur P berperan dalam pembelahan sel melalui peranan nukleoprotein
yang ada dalam inti sel, selanjutnya berperan dalam menentukan sifat-sifat
kebakaan dari generasi ke generasi melalui peranan DNA (Leiwakabessy dan
Sutandi, 2004).
2.5.4
K-tersedia
Jumlah Kalium dalam tanah jauh lebih banyak daripada phospor.
Ketersediaan Kalium di dalam tanah cendrung tidak stabil karena Kalium diikat
dalam
bentuk-bentuk
yang
kurang
tersedia,
jumlah
Kalium
yang
dapatdipertukarkan atau tersedia bagi tanaman tidak melebihi 1 % dari seluruh
Kalium tanah (Foth, 1985).
2.6 Peranan Pupuk Dolomit untuk Perkembangan Kacang Hijau
Derajat keasaman tanah pH sangat menentukan tingkat ketersediaan unsur
hara bagi tanaman dan perkembangan bakteri Rhizobuim dalam tanah. Derajat pH
yang baik untuk pertumbuhan kacang hijau adalah 6 sampai 6,5.Tanaman kacang
hijau masih dapat tumbuh dengan pH 5,8 tetapi hasilnya rendah bila dibandingkan
dengan pH tanah 6 sampai 6,5 (Sumarno, 2003).
Penanaman yang di lakukan pada tanah pH rendah perlu dilakukan
peningkatan pH dengan cara pengapuran, pengapuran dapat diberikan kapur
pertanian atau dolomit. Dolomit juga sebagai sumber unsur hara Ca dan Mg
masing-masing sebesar 30% dan 19% (Winarso, 2005).
Pemberian dolomit pada tanah asam bermanfaat terhadap pertumbuhan
kacang hijau, hal ini disebabkan karena kacang hijau memerlukan Ca dan Mg
untuk pembentukan polong dan dolomit juga bisa meningkatkan kandungan Mg
dalam tanah sehingga proses fotosintesis bisa berjalan dengan baik. Dolomit
umumnya diberikan dengan dosisi 200-400 kg ha-1 dan diberikan dalam tanah.
Kuswandi (1993) menyatakan bahwa dolomit lebih baik karena tidak
hanya mengandung unsur Ca tetapi juga mengandung unsur Magnesium. Jumlah
dolomit yang diberikan tergantung pada pH tanah awal, pH yang diinginkan, jenis
tanah dan jenis tanaman. Tanah pH 4,0 dibutuhkan dolomit 10,25 t ha-1 untuk
tanaman jangung, tanah pH 4,2 dibutuhkan dolomit 9,28 t ha-1 untuk tanaman
kacang tanah, sedangkan pH tanah 5,2 dibutuhkan 4,54 t ha-1 untuk tanaman
kedelei (Gunawan, 2006).
Adyono (2005) menyatakan bahwa pengaruh pemberian kapur dolomit
dan Ca pada tanaman kacang hijau tidak memperlihatkan perbedaan pada
komponen hasil yang diamati yaitu pada pemberian dolomit 2-4 t ha-1. Perlakuan
dolomit berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah cabang
primer, umur tanaman berbunga, perlakuan terbaik yaitu 15 g (2 t ha-1).
Hasil penelitian Gunawan (2006) dolomit berpengaruh nyata terhadap
tinggi tanaman, berat 100 biji, berat biji kering perplot dan berat kering tanaman.
Berat biji kering pada perlakuan tanpa dolomit hanya menghasilkan 11,03 g yang
berbeda nyata dengan perlakuan dolomit 445 g (9,28 t ha-1) dengan hasil 16,20 g.
2.7 Peranan Pupuk Organik terhadap Sifat Kimia Tanah
Kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus
dipertahankan tidak kurang dari 2%, agar kandungan bahan organik dalam tanah
tidak menurun dengan waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi maka seolah
pengelohan tanah penambahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun agar
kandungan bahan organik sangat erat kaitannya dengan KTK (Kapasitas Tukar
Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah (Mustofa, 2007; Anonim 2008).
Pupuk kandang sapi adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak sapi,
baik berupa kotoran padat (feses) yang bercampur sisa makanan maupun air
kecing (urine), kualitas pupuk kandang beragam, tergantung pada jenis umur,
kesehatan ternak dan kadar air serta jumlah pakan yang dikonsumsi (Soepandi
1983).
Pupukkandang sapi mempunyai kadar K-tersedia 1,03%, N-total 0,92%,
P-tersedia 0,23%, Ca-tanah 0,38%, Mg 0,38%, yang akan dapat dimanfaatkan
oleh tanaman. Unsur hara yang dilepaskan seperti Kalium mempunya fungsi
seperti translokasi gula pada pembentukan pati dan protein, meningkatkan
ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, memperbaiki ukuran
dan kualitas buah pada masa generatif (Novizan, 2001).
Kualitas pupuk kandang ditentukan oleh beberapa faktor seperti
jenisternak, umur dan keadaan hewan, sifat dan jumlah amparan, serta cara
penyimpanan pupuk sebelum dipakai. Padatan yang terdapat dalam pupuk
kandang terdiri dari senyawa organik serupa dengan bahan makanannya, antara
lain selulosa, pati dan gula, hemiselulosa dan lignin seperti yang kita jumpai
dalam humus ligno-protein.(Brady, 1990 dalam Suntoro, 2003).
Hasil penelitian Suntoro (2003) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk
kandang dengan dosis 9,5 t ha-1, mampu meningkatkan hasil biji kacang tanah
38,72% dengan hasil 2,13 t ha-1, dan efek residunya untuk musim tanam
berikutnya, mampu memberikan hasil lebih tinggi yaitu sebesar 2,6 t ha-1. Peneliti
yang lain melaporkan penambahan dengan dosis 30 t ha-1 mampu memberikan
hasil padi gogo 5,93 t ha-1 (Mertikawati et al.,1999). Tanaman kedelai dilaporkan
pengunaan pupuk kandang sapi 20 t ha-1 mampu memberikan hasil biji 1,21 t ha-1
(Wiskandar, 2002).
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEPDAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Berpikir
Kacang hijau merupakan tanaman palawija yang sangat penting
dikalangan petani, perdaganganya sangat meluas dan telah menjangkau berbagai
belahan dunia. Rukmana (2006) menyatakan bila dibandingkan dengan kacangkacang lain, kacang hijau memiliki kelebihan antara lain, berumur genjah, lebih
toleran kekeringan, dapat ditanaman dilahan yang kurang subur, serta mudah
untuk dibudidayakan.
Permintaan kacang hijau yang tinggi menyebabkanpetani lebih intensif
dalam membudidayakan tanaman tersebut. Permasalahan seperti lahan yang
kurang subur, pH tanah yang rendah serta lahan yang relatif sempit membuat hasil
tanaman cenderung menurun, yang terjadi pada varietas kacang hijau lokal Timor
Leste. Sehingga diperlukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan lahan pertanian
dan menemukan varietas yang mampu beradaptasi dan mempunyai produksi
tinggi.
Budidaya kacang hijau terkendala oleh pH tanah di lokasi penelitian 5,7
yang tergolong pada kategori rendah, sesuai dengan hasil analisis tanah dari
Laboratorium Tanah Universitas Udayana (Lampiran 1) yang menunjukkan
bahwa Phospor berada pada kategori yang sangat rendah sebagai akibat dari
rendahnya pH tanah sehinga sebagian unsur hara Phospor diikat oleh unsur Al dan
Fe.
Memperhatikan kondisi tersebut maka upaya yang dilakukan yaitu
berusaha meningkatkan pH tanah dengan menggunakan kapur dolomit, yang
komposisinya mengandung Ca sekitar 30% dan Mg 19%, dengan peningkatan pH
maka diharapkan akanada pelepasan unsur hara Phospor. Phospor sangat berperan
dalam proses pembungaan serta berfungsi untuk mencegah terjadinya perontokan
bunga.
Penggunaan pupuk dolomit tanpa diimbangi dengan perbaikan sifat kimia
tanah maka tidak akan memberikan dampak yang sempurna, sehingga bisa
dipadukan dengan penggunaan pupuk organik berupa pupuk kandang sapi. Pupuk
kandang sapi juga dapat meningkatkan unsur hara serta perbaikan sifat kimia
berupa kandunganN, P, K dan kemampunya menyimpan air tanah. Salah satu
peran pupuk organik seperti pupuk kandang sapi yaitu berupa buffer (penyangga)
sehingga pH tanah tetap terkontrol dengan pelepasan asam-asam organik hasil
dekomposisi dari pupuk organik secara perlahan.
Penggunaan pupuk kandang sapi dan kapur dolomit diharapkan mampu
meningkatkan pH tanah serta memberikan pupuk kandang sapi dapat memberikan
pengaruh terhadap perbaikan kimia, yang akan ditunjukkan dengan pertumbuhan
dan hasil tanaman kacang hijau yang diteliti. Lebih lanjut hasil penelitian tidak
hanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kacang hijau namun dapat
menjadi sesuai untuk semua tanaman yang akan dibudidayakan. Secara lengkap
kerangka berpikir disajikan pada Gambar 3.1 berikut :
Kesuburankimia tanah yang
rendah
Hasil kacang hijau rendah
Upaya peningakatan menggunakan
pupuk dolomit dan pupuk kadang sapi
Pupuk dolomit dari batu kapur (karena dolomit bisa menetralkan
pH tanah dan pupuk kandang sapi sumber bahan organik, rasio
C/N yang rendah, serta mudah dan murah diaplikasikan
Pemberian dosis yang sesuai akan
meningkatkan nilai efisiensi dari
pupuk dolomit dan pupuk kandang
sapi baik untuk tujuan perbaikan
kimia tanah kualitas tanah maupun
peningkatan hasil tanaman.
Pemberian dosis sangat menentukan
pelepasan hara oleh pupuk ke dalam tanah,
beberapa hasil penelitian membuktikan
pemberian
dosis
yangberbeda
akan
memberikan pengaruh yang berbeda pula
untuk tanah dan tanaman, hal ini erat
berkaitannya dengan cepat atau lambatnya
dekomposisi.
Pengaruh pemberian dosis pupuk dolomit dan
pupuk kandang sapi diharapkan mampu
memperbaiki sifat kimia tanah dan hasil tanaman
kacang hijau yang akan ditunjukkan dengan :
Perbaikan sifatkimia tanah : yaitu
memperbaiki, peningkatan N, P, K, dan
C-organik dalam tanah.
Adanya pengaruh yang ditunjukkan
terhadap pertumbuhan tanaman kacang
hijau (tinggi tanaman, jumlah daun, luas
daun) serta peningkatan produksi tanaman
kacang hijau (berat kering tanaman, jumlah
polong tanaman, jumlah biji, bobot biji,
bobot biji kering)
Gambar 3.1
Kerangka Berpikir
3.2 Konsep Penelitian
Perbaikan kesuburan tanah dan upaya
peningkatan produksi kacang hijau
Menggunakan pupuk dolomit dan pupuk
kandang sapi pada dosis yang berbeda
Dolomit mengandung Mg dan Ca yang banyak
digunakan sebagai bahan pengapur pada tanahtanah masam untuk menaikkan pH tanah serta
penggunaan pupuk kandang sapi untuk
perbaikan sifat kimia tanah
\
Rancangan Acak Kelompok
(RAK) yang terdiri
dari dosis pupuk dolomit dan pupuk kandang
sapi dengan 3 ulangan.
Dosis pupuk dolomit :
1. D0 = 0 kg ha-1(0 g petak-1)
2. D1 = 160 kg ha-1(0,12 kg petak-1)
3. D2 = 320 kg ha-1(0,24 kg petak-1)
4. D3 = 480 kg ha-1(0,36 kg petak-1)
Dosis pupuk kandang sapi :
P0= 0 t ha-1(0 kg petak-1)
P1 = 10 t ha-1(7,5 kg petak-1)
P2 = 20 t ha-1(15 kg petak-1)
P3 = 30 t ha-1(22,5 kg petak-1)
Tahapan Penelitian
Persiapan Lahan
Persiapan pupuk dolomit dan
kandang sapi
Penanaman
Pemeliharaan
Panen
Gambar 3.2
Konsep Penelitian
3.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah serta kerangka konsep
penelitian maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
1. Terjadi interaksi antara pupuk dolomit dan pupuk kandang sapi terhadap
perbaikan sifat kimia tanah dan hasil tanaman kacang hijau.
2. Diperoleh dosis pupukdolomite yang terbaik untuk perbaikan sifat kimia tanah
dan peningkatan hasil tanaman kacang hijau.
3. Diperoleh dosis pupuk kadang sapi yang terbaik untuk perbaikan sifat kimia
tanah dan peningkatan hasil tanaman kacang hijau.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Percobaan
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan
dua faktor yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah dosis dolomit
dengan 4 taraf dan faktor kedua adalah dosis pupuk kandang sapi dengan 4 taraf.
Perlakuan tersebut adalah sebagai berikut:
Dosis dolomit terdiri dari:
D0 = 0 kg ha-1 (0 g petak)
D1 = 160 kg ha-1 (0,12 kg petak)
D2 = 320 kg ha-1 (0,24 kg petak)
D3 = 480 kg ha-1 (0,36 kg petak)
Dosis pupuk kandang sapi (P):
P0= 0 t ha-1 (0 kg petak)
P1 = 10 t ha-1 (7,5 kg petak)
P2 = 20 t ha-1 (15 kg petak)
P3 = 30 t ha-1 (22,5 kg petak)
Percobaan ini terdiri atas 16 kombinasi perlakuan dan masing-masing
diulang tiga kali, sehingga terdapat 48 petak percobaan.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Percobaan ini merupakan percoban lapangan yang dilaksanakandi lahan
kering di Distritu Baucau, mulai bulan Januari 2016 sampai dengan bulan Maret
2016. Ketinggian tempat percoban 750 m di atas permukan laut (dpl).
Analisis tanah pada lokasi percobaan dilakukan dilaboratorium Ilmu
Tanah, Prodi Agroekoteknoologi Fakultas Pertanian, Universitas Udayana,
Denpasar-Bali.
4.3 Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan benih kacang hijau varietas kutilang, kapur
dolomit, pupuk kandang sapi dan bahan analisis laboratorium. Alat yang
digunakan dalam pelaksanaan percobaan ini meliputi:bor tanah, cangkul sekop,
meteran, penggaris, ajir, papan naman perlakuan, tugal, timbangan analitik,
handspryer, spidol, alat tulis, kertas label, gunting, papan nama perlakuan, tali
rafiah dan plastik serta alat-alat analisis di laboratorium.
4.4 Pelaksanaan Percobaan
4.4.1 Persiapan Lahan
Persiapan lahan meliputi pengolahan tanah dicangkul sebanyak dua kali
agar menjadi gembur, kemudian diratakan, selanjutnya dibagi menjadi empat blok
sesuai dengan ulangan, masing-masing perlakuan dibuatsebanyak 3 ulangan,
sehingga terdapat 48 petak percobaan sesuai dengan rancangan yang telah di
tentukan, masing-masing petak berukuran 3 m x 2,5 m dengan jarak antara
petakan dalam satu ulangan 20 cm serta jarak antara blok 1 m.
4.4.2 Pemupukan
Pemupukan dengan pupuk dolomit, diawali dengan persiapan yaitu
menimbang pupuk dolomit dengan dosis yang telah diterapkan terlebih dahulu,
tanah yang sudah diolah diberikan dolomit dengan dosis D0 = 0 kg ha-1 (0 g petak1
), D1 = 160 kg ha-1 (0,2 kg petak-1), D2 = 320 kg ha-1 0,24 kg petak-1), D3 = 480
kg ha-1 (0,36 kg petak-1), sesuai dengan perlakuan yang ditetapkan, kemudian
dicampur hingga rata dan didiamkan selama 2 minggu. Kemudianpupuk dolomit
di taburkan ke atas tanah yang telah dipersiapkan (petakan) dengan cara
disebarkan secara merata, kemudian dipupuk dengan pupuk kandang sapi dengan
dosis P0= 0 t ha-1 (0 kg petak-1), P1 = 10 t ha-1 (7,5 kg petak-1), P2 = 20 t ha-1 (15 kg
petak-1), P3=30 t ha-1 (22,5 kg petak-1). Sesuai dengan petakan perlakuan yang
ditetapkan, ditempatkan antara baris tanaman dengan jarak 5 cm dari lubang
tanam, yang diberikan pada saat tanam (Adisarwanto, 2000).
.
II
I
0,5m
III
3m
1m
D3P3
D1P3
D3P1
D1P1
D1P2
D3P1
D1P2
D2P3
D1P3
D1P2
D1P1
D2P2
D3P2
D2P1
D0P0
D2P0
D1P0
D3P2
D0P1
D2P0
D1P2
D3P2
D2P0
D0P1
D2P2
D1P1
D0P3
D1P0
D1P3
D2P3
D0P3
D0P2
D0P1
D2P1
D0P0
D0P3
D0P0
D1P0
D2P2
D2P3
D2P1
D3P3
D3P1
D3P0
D3P3
D3P0
D3P0
D0P2
Keterangan:
I, II, III
D0
D1
D2
D3
: Ulangan
: 0 kg ha-1 (tanpa dolomit)
: 160 kg ha-1
:320 kg ha-1
: 480 kg ha-1
P0
P1
P2
P3
: 0 t ha-1(tanpa kadang sapi)
: 10 t ha-1
: 20 t ha-1
: 30 t ha-1
Gambar 4.1
Denah tata letak petak percobaan
2,5 m
3m
X
X
X
X X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
20 cm
X
2,5 m
40 cm
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X X
7,5 cm
20 cm
Keterangan:
Ukurang Petak
: 3 m x 2,5 m
Jarak Tanam
: 40 cm x 20 cm
X
: Tanaman kacang hijau
X
: Tanaman sampel
: Ukuran ubinan 1 m x 1,6 m
Gambar 4.2
Tata Letak Tanaman dalam Petakan Percobaan
4.4.3 Penanaman
Penanaman dilakukan dengan cara tugal dengan menempatkan 2 benih per
lubang. Penanaman dilakukan setelah tanah diolah dan diberi pupk dolomit dan
pupuk kandang sapi, benih kacang hijau akan ditanam terlebih dahulu direndam
selama 3 hari dengan air sampai benih kacang hijau berkecambah. Kemudian
dikeringkandengan diangin-anginkan kurang lebih 1-4 jam dan benih siap
ditanam, jumlah biji yang ditanam sebanyak 2 biji per lubang dan setelah umur 14
hari tanaman diperjarang dan dipertahankan tumbuh 1 tanaman per lubang,
kacang hijau ditanam dengan jarak 40 cm x 20 cm, populasi tanaman kacang hijau
per petak adalah 48 tanaman.Penanaman benih dengan cara tugal kedalam
permukanan tanah, kemudian ditimbun rapat agar benih tidak rusakpenyulaman
dapat dilakukan sebelum tanaman berumur 17 hari, jika terdapat tanaman yang
mati
4.4.4 Penyiraman
Penyiraman dilakukan sebelum tanam dengan tujuan membasahi dan
menggemburkan tanah dan selanjutnya disirami setiap dua hari pada bulan
pertama (fase vegetatif).Setelah tanaman melewati masa vegetatife tanaman pada
1 bulan setalah tanam dan memasuki masa generatife, fase berbunga jumlah air
yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
4.4.5 Panen
Panen dilakukan saat polong berwarna coklat kehitaman, Pemanenan
dilakukan dengan cara dipetik, kemudian polong segera dijemur selama 2-3 hari
hingga kulit mudah terbuka. Biji dikeluarkan dari kulitnya dengan cara dipukul
yang dilakukan dalam kantong kain untuk menghindari kehilangan hasil.
4.5 Variabel Pengamatan
4.5.1 Variabel pertumbuhan dan Komponen Hasil
1. Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman dimulai dari permukaan tanah sampai
titik tumbuh batang utama. Pengamatan dilakukan 2 kali pada saat
tanaman kacang hijau umur 30 hst dan pada saat berbunga.
2. Jumlah daun (helai/pertanaman)
Pengamatan jumlah daun tanaman dilakukan pada saat tanaman
kacang hijau umur 30 hst dan pada saat berbunga.Daun yang dihitung
adalah daun trifoliat.
3. Indeks luas daun (ILD)
Pengamatan indeks laus daun dilakukan pada saat tanaman
kacang hijau berbunga. Indeks luas daun diperoleh dengan membagi luas
daun per tanaman dibagi dengan luas areal yang diduduki oleh tanaman
tersebut. Luas daun adalah panjang x lebar daun maksimal x konstanta.
Untuk mencari konstanta harus menggunakan kertas millimeter blok
dibagi dengan panjang x lebar daun maksimal (Gomez, 1972).
ILD =
panjang x lebar daun maksimal x konstanta
.............................(1)
jarak tanam
4. Berat Basah Brangkasan (pertanaman)
Pengamatan berat segarbrangkasan/tanaman (g)diperoleh dengan
cara menimbang seluruh bagian tanaman di atas tanah, kecuali biji
tanaman dalam ubinan dibagi dengan jumlah tanaman dalam ubinan.
Berat segar brangkasan/tanaman(g)
beratsegar brangkasan / ubinan (g)
=
…………………………(2)
jumlahtanaman /ubinan
5. Bobot Kering Oven Brangkasan (pertanaman)
Berat kering oven brangkasan/tanaman dicari dengan cara
menimbangsampel brangkasan segar sebanyak 100 g kemudian
°
dikeringkan dalam oven pada suhu 80 C sampai beratnya konstan.
Beratsampel
tersebut
kemudiandikonversi
menjadi
berat
kering
oven/tanaman, BKO brangkasan/tanaman(g).
=
brangkasan/tanaman (kg)
BKO sampel (g)
…….....……(3)
x
100 g sampel (g)
jumlah tanaman/ ubinan
6. Jumlah Polong (g/tanaman)
Jumlah polong per tanaman diperoleh dengan menghitung semua
polong isi pada ubinan saat panen dibagi dengan jumlah tanaman dalam
ubinan. polong isi dihitung apabila dari 50% polong terisi biji.
Jumlah polong/tanaman =
jumlah polong / ubinan
.........................(4)
jumlah tanaman / ubinan
7. BeratKering Jemur Biji Kering (g/tanaman)
Berat kering jemur biji diperolah dengan cara menjemur biji kacang
hijau dari ubinan lalu di timbang, sehingga dibagi dengan jumlah
populasi ubianan kemudian dikonversikan ke berat biji kering jemur.
8. BeratKering Oven Biji (g/tanaman)
Berat biji kering oven/tanaman diperoleh dengan cara menimbang
berat bijihasil ubinan dibagi jumlah populasi ubinan kemudian
dikonversi ke berat bijikering oven dengan formula:
Berat biji kering oven/tanaman
=
b. basah biji/tanam an
xbko 100 biji (g) …………………..(5)
b. basah 100 biji (g)
9. Berat Kering Jemur 100 biji
Unutuk mendapatkan berat kering 100 biji tanaman kacang hijau
dipanen terus dijemur sampe kering kemudiandikupas lalu dihitung biji
kacang hijau sampe dengan 100 bijidari hasil populasi ubinan, terus
ditimbang untuk mendapatkan hasil dari berat kering 100 biji.
10. Berat Kering Oven 100 biji
Berat 100 biji kering oven diperoleh dengan cara menimbang 100
biji hasilubinan yang telah dikering oven pada suhu 800C sampai
beratnya konstan.
4.5.3
Variabel tanah yang diamati
1. Ca-tersedia
Pengamatan Ca-tersedia setelah panen. Sempel tanah diambil pada
kedalam 0-20 cm tiap petak percobaan dan dianalisis di laboratorium.
2. N-total tanah (%), C-organik (%) dan pH
N-total (%), C-organik tanah (%) dan pH tanah diamati pada saat
panen. Penentuan N-total dan C-organik tanah dilakukan dengan
mengambil sampel tanah dari masing-masing petak perlakuan sebanyak
500 g kemudian dikeringkan, diayak halus dan dilakukan analisis di
laboratorium. Metode yang digunakan untuk penepatan N-total yaitu
metode Kjeldah, sedangkan C-organik dengan metode Walkey and
Black.
4.6 Analisis Data
Data yang dikumpulkan dianalisis secara statistika dengan menggunakan
metode analisis sidik ragam, terdapat pengaruh perlakuan yang nyata terhadap
variabel yang diamati, maka analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda
Duncan pada taraf 5% (Gomez dan Gomez, 1995).
Download