komisi independen pemilihan

advertisement
RISET/ PENELITIAN
PERILAKU MEMILIH ( VOTING BEHAVIOUR )
MASYARAKAT KABUPATEN BENER MERIAH
PADA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014
DI KABUPATEN BENER MERIAH
METODE : ANGKET/KUESIONER
DI
S
U
S
U
N
OLEH
KIP KABUPATEN BENER MERIAH
KOMISI INDEPENDEN PEMILIHAN
KABUPATEN BENER MERIAH
2015
LEMBAR PERSETUJUAN
HASIL PENELITIAN / RISET
PERILAKU MEMILIH/ VOTING BEHAVIOUR MASYARAKAT KABUPATEN
BENER MERIAH PADA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014
DIKABUPATEN BENER MERIAH
Disetujui oleh :
KOMISI INDEPENDEN PEMILIHAN
KABUPATEN BENER MERIAH
KETUA,
IWAN KURNIA, S.Pd.I
ANGGOTA
ANGGOTA
YUSRIJAL FAINI, SH
ANWAR HIDAYAT DAHRI, S.Pi
ANGGOTA
ANGGOTA
MUHTAR, SP
MUHTARUDDIN
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang
Maha Esa yang kiranya patut penulis ucapkan karena atas berkah
rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan laporan Riset tentang
Prilaku Memilih Masyarakat Kabupaten Bener Meriah pada Pemilu
Legislatif Tahun 2014 di Kabupaten Bener Meriah.
Dalam laporan ini kami menjelaskan mengenai Prilaku dan
Partisipasi Pemilih serta Faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku
memilih diantaranya faktor Figur/Citra Calon, Citra Partai, Visi Misi,
Agama, Kesamaan Suku, Sosial Ekonomi, Hubungan Keluarga, Rasa
Percaya Terhadap Calon.
Kami menyedari dalam laporan ini masih banyak kesalahan dan
kekurangan, hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan, Pengetahuan
dan pengalaman yang kami miliki, namun demikian banyak pula pihak
yang telah membantu kami terutama responden yang telah memberikan
masukan
melalui
kuisioner
yang
telah
kami
sebarkan.
Kami
mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan
laporan ini, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri
khususnya dan pembaca pada umumnya.
Redelong, 31 Juli 2015
KOMISI INDEPENDEN PEMILIHAN
KABUPATEN BENER MERIAH
Ketua,
IWAN KURNIA, S.Pd.I
ii
DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan
…………………………………………………………… i
Kata Pengantar .................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................. iii
BAB.I
BAB.II
PENDAHULUAN .......................................................................
1
A.
B.
C.
D.
E.
Latar Belakang Masalah ............................................................
Sasaran Penelitian .....................................................................
Tujuan dan Mamfaat Penelitian .................................................
Tinjauan Pustaka ......................................................................
Kerangka Teoritis.......................................................................
1
2
2
3
3
TINJAUAN UMUM .....................................................................
4
A. Letak Goegrafis dan Luas Wilayah ............................................. 4
B. Jumlah Penduduk ..................................................................... 4
BAB. III METODELOGI PENELITIAN ......................................................
A.
B.
C.
D.
E.
F.
6
Jenis Penelitian .........................................................................
Fokus Penelitian ........................................................................
Sumber Data Penelitian .............................................................
Metode Pengumpulan Data ........................................................
Metode Pengolahan Data............................................................
Analisa Data ..............................................................................
7
7
7
8
9
10
BAB. IV TINJAUAN TEORITIS................................................................
11
A. Pengertian Pemilihan Umum...................................................... 11
B. Definisi Perilaku Memilih ........................................................... 12
BAB. V HASIL PENELITIAN ..................................................................
27
A. Tingkat Partisipasi Pemilih Pada Pemilu Legislatif Tahun
2014 di Kabupaten Bener Meriah .............................................. 27
B. Faktor-faktor yang Dominan Mempengaruhi Perilaku Memilih
Masyarakat pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 di Kabupaten
Bener Meriah ............................................................................. 29
C. Tingkat Rasionalitas Memilih Pada Pemilu Legislatif Tahun
di Kabupaten Bener Meriah. .................................................... 33
iii
BAB. VI KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................
35
A. Kesimpulan .............................................................................. 35
B. Saran......................................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
iv
37
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di dalam suatu negara demokrasi, pemilihan umum dianggap sebagai
lambang sekaligus tolak ukur dari demokrasi itu. Dan hasil pemilihan umum
diselenggarakan dalam suasana keterbukaan dengan kebebasan berpendapat
dan
kebebasan
partisipasi
berserikat
serta
aspirasi
dianggap
untuk
masyarakat.
mencerminkan
Memilih
keakuratan
merupakan
aktifitas
menentukan keputusan secara langsung mapun tidak langsung. Di Indonesia
pemilihan umum ( pemilu ) pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota
lembaga perwakilan yaitu DPR, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Setelah
amandemen keempat UUD 1945 pada 2002 pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan
langsung oleh rakyat sehingga pilprespun dimasukkan ke dalam rezim pemilu.
Pilpres sebagai bagian dari Pemilu diadakan pertamakali pada Pemilu 2004.
Dan pada 2007 berdasarkan UU nomor 22 tahun 2007 pemilihan Kepala
Daerah dan Wakil Kepala daerah ( Pilkada ) juga sebagai bagian dari rezim
pemilu setelah diberlakukan otonomi daerah pemilihan kepala daerah bukan
lagi dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD), tetapi dipilih
langsung oleh rakyat. Pemilu, sebagai medium pilihan publik, seharusnya
mengkondisikan seluruh pihak yang terlibat untuk belajar berbagai peran
sehingga tidak semuanya harus berpusat pada salah satu aktor atau salah
satu lokus ( Pusat ).
1
B. Sasaran Penelitian
Untuk
membuat
penelitian
ini
lebih
terarah
maka
penulis
memutuskan untuk melakukan penelitian berdasarkan masalah yang
mendasar, yaitu
: Bagaimana Prilaku Memilih ( voting behavior)
masyarakat Kabupaten Bener Meriah dalam Pemilu Legislatif ( Pileg ) tahun
2014.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memahami Prilaku Memilih ( voting
behavior ) masyarakat pada Pileg 2014 di Kabupaten Bener Meriah, fokus
ini mengarah pada pilihan rasional yang semakin tumbuh dikalangan
masyarakat Bener Meriah.
Sedangkan manfaat penelitian ini di bagi dua :
a. Manfaat Akademik
Untuk
memperkaya
khasanah
intelektual
politik
penulis
mengharapkan agar penelitian ini bermanfaat dan dapat memberikan
arti akademis dalam menambah informasi dan memperkaya wawasan
politik terutama dalam mengamati dan menganalisa Prilaku Memilih
masyarakat
yang
berperan
penting
dalam
pemilihan
umum
di
Indonesia, khususnya di Kabupaten Bener Meriah.
b. Manfaat Teknis
Semoga penelitian ini dapat memberikan masukan kepada Partai
Politik
ataupun
kepada
calon-calon
pejabat
publik
mendatang
bagaimana dalam menampung aspirasi politik masyarakat untuk
kemudian mencari setrategi menarik minat masyarakat agar layak
dipilih dan memenangkan pemilu meskipun berada pada situasi yang
2
tadinya di anggak kental akan etnisitasnya dan berhadapan dengan
rival yang memiliki kekuatan massa.
D. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian ini, ada literature yang penulis jadikan sebagai
acuan dan tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk
menemukan sisi menarik atau sisi lain dan kegunaan dari penelitian ini
yang sedang penulis teliti. Adanya tinjauan pustaka yang penulis temukan
sebagai instrumen perbandingan dalam melakukan penelitian mengenai
Prilaku Memilih ( voting behavior ).
E. Kerangka Teoritis
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Prilaku Memilih sebagai
landasan teori. Teori ini menempatkan prilkau politik sebagai variabel yang
ditentukan atau dipengaruhi oleh sosiologis, psikologis dan pilihan rasional.
Untuk itu pada bagian ini penulis menggunakan teori tersebut untuk
menjelaskan perubahan Prilaku Memilih masyarakat Bener Meriah pada Pemilu
Legislatif Tahun 2014.
3
BAB. II
TINJAUAN UMUM
A. Letak Geografis dan Luas Wilayah
Kabupaten
Aceh.
Kabupaten
Bener
ini
Meriah adalah
merupakan
salah
hasil
satu kabupaten di Provinsi
pemekaran
Kabupaten Aceh
Tengah yang terdiri atas tujuh kecamatan yang kemudian berkembang
menjadi sepuluh kecamatan, Kabupaten Bener Meriah yang beribukota
di Simpang Tiga Redelong memiliki luas 1.919,69 km² terdiri dari 10
Kecamatan dan 233 desa.
Penduduk terbesar di wilayah ini adalah suku
Gayo suku Aceh dan diikuti suku Jawa. Bahasa Gayo bahasa Aceh dan
bahasa Jawa di pakai oleh sebagian besar penduduk selain bahasa
Indonesia.
Kabupaten
Bener
Meriah
merupakan Kabupaten termuda
dalam
wilayah Provinsi Aceh, merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh
Tengah, yang dibentuk berdasarkan Undang- Undang No. 41 tahun 2003
tanggal 18 Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bener Meriah di
Provinsi Aceh. Dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri tanggal 7 Januari
2004.
Kabupaten Bener Meriah terletak pada 4° 33 50 - 4° 54 50 Lintang
Utara dan 96° 40 75- 97° 17 50 Bujur Timur dengan tinggi rata-rata di atas
permukaan laut 100 - 2.500 mdpl. Di tinjau dari sudut georgafis Kabupaten
Bener Meriah berbatasan dengan :
1. Sebelah Utara dengan Kabupaten Bireuen.
2. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Aceh Tengah.
4
3. Sebelah Timur dengan Kabupaten Aceh Timur.
4. Sebelah Barat dengan Kabupaten Aceh Tengah
B. Jumlah Penduduk
Secara demografis jumlah penduduk Kabupaten Bener Meriah hasil
data agregat kependudukan per kecamatan tahun 2012 berjumlah 148.616
jiwa yang terdiri atas 75.958 dan 72.658 jiwa. Penduduk terbanyak berada
di Kecamatan Bandar yakni berjumlah 25.509 jiwa sedangkan penduduk
terkecil berada di Kecamatan Syiah Utama yang berjumlah 3.337 jiwa. Data
selengkapnya dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel. 1
JUMLAH PENDUDUK PER-KECAMATAN
MENURUT JENIS KELAMIN
No Kecamatan
Laki2
Jumlah
Penduduk
Perempuan
Luas
Wilayah
Kepadatan
Penduduk
1
Pintu Rime
Gayo
6.902
6.451
13.353
223,56
km²
59,73
jiwa/km²
2
Permata
9.440
8.830
18.270
159,66
km²
114,43
jiwa/km²
3
Syiah Utama
1.710
1.627
3.337
4
Bandar
12.859
12.650
25.509
88,10
km²
289,55
jiwa/km²
5
Bukit
12.802
12.536
25.338
110,95
km²
228,37
jiwa/km²
5
792,71
4,21 jiwa/km²
km²
6
Wih Pesam
11.951
11.427
23.378
66,28
km²
352,72
jiwa/km²
7
Timang
Gajah
10.264
9.862
20.126
98,28
km²
204,78
jiwa/km²
8
Bener
Kelipah
2.379
2.285
4.664
19,75
km²
236,15
jiwa/km²
9
Mesidah
2.802
2.435
5.237
286,83
km²
18,25
jiwa/km²
10 Gajah Putih
4.849
4.555
9.404
73,57
km²
127,82
jiwa/km²
6
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam peneltian Perilaku Memilih di Kabupaten Bener Meriah dalam
Pelaksanaan Pemilu 2014 peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif.
Pendekatan kuantitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa angka-angka yang kemudian dijabarkan dengan kata-kata
yang memperoleh gambaran yang jelas terhadap kecenderungan prilaku yang
diamati.
Dengan pendekatan ini diharapkan mampu menjabarkan tentang
perilaku memilih terkait dengan keputusan pemilih untuk memilih kandidat
atau
peserta
pemilu
tertentu.
Kenapa
seorang
pemilih
menjatuhkan
pilihannya kepada kandidat atau peserta pemilu tesebut.
B. Fokus Penelitian
Penentuan fokus penelitian memiliki dua tujuan yaitu, penetapan
fokus akan membatasi studi jadi dalam fokus akan membatasi bidang inkuiri.
Kedua, penetapan fokus berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi-eksklusi
atau kriteria masuk - keluar suatu informasi yang diperoleh.
Di dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah
partisipasi politik pemilih yang berupa perilaku memilih
pelaksanaan
pemilu
2014
di
Kabupaten
Bener
masyarakat pada
Meriah.
Agar
dapat
memberikan hasil yang lengkap maka fokus penelitian tersebut dirinci dalam
unit-unit kajian sebagai berikut. Pertama, yaitu tingkat kehadiran pemilih
7
dalam pemilihan umum tahun 2014 di Kabupaten Bener Meriah. Kedua yaitu
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku memilih pemilih untuk
memberikan hak suaranya pada pemilihan umum tahun 2014 di Kabupaten
Bener Meriah.
C. Sumber Data Peneltian
Sumber data utama dalam penelitian kuantitatif adalah data berupa
angka-angka dan selebihnya dalah data tambahan seperti dokumen dan lainlain.
Data merupakan keterangan-ketarangan tentang suatu hal, dapat
berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap. Data dapat digambarkan
lewat angka, symbol, dan lain-lain. Data perlu dikelompok-kelompokkan
terlebih dahulu sebelum dipakai dalam proses analisis. Pengelompokan
disesuaikan dengan karakteristik yang menyertainya.
Sumber
data
dalam
penelitian
ini
adalah
berupa
pertanyaan-
pertanyaan yang disebarkan kepada pihak responden melalui pertanyaanpertanyaan bersifat angket dan kuesioner yang dijawab dalam bentuk
jawaban pilihan berganda maupun dalam bentuk isian, selain itu data
penelitian ini juga didapat melalui data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU)
Kabupaten Bener Meriah mulai dari Pemilu tahun 2009 sampai dengan data
pemilu tahun 2014. Kemudian ditambah dengan data statistik yang diambil
dari KPU Kabupaten Bener Meriah Dalam Angka tahun 2014.
D. Metode Pengumpulan Data
Data primer adalah data yang diperoleh di lapangan atau di daerah
penelitian data primer merupakan data yang belum diolah atau data mentah
berupa
hasil
wawancara
dengan
berbagai
8
responden.
Sesuai
dengan
pengertian di atas maka data primer yang digunakan yaitu data mengenai
hal-hal yang berhubungan tentang
perilaku memilih
terkait dengan
keputusan pemilih untuk memilih kandidat atau peserta pemilu tertentu.
Kenapa seorang pemilih menjatuhkan pilihannya kepada kandidat atau
peserta pemilu tersebut. Buku Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kabupaten Bener
Meriah
dari
data tersebut
dapat diperoleh
jumlah banyaknya
warga
Kabupaten Bener Meriah yang mempunyai hak pilih. Kedua, yaitu Buku
pedoman teknis pelaksanaan pemungutan dan perhitungan suara dalam
pemilihan umum tahun 2014 dari situ dapat diperoleh data mengenai teknis
pemungutan dan penghitungan suara.
Data sekunder diperoleh melalui buku-buku, dokumen negara,
laporan-laporan hasil penelitian, makalah-makalah, jurnal-jurnal ilmiah, dan
artikel-artikel yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
E. Metode Pengolahan Data
Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Seleksi Data, yaitu pemeriksaan data untuk mengetahui apakah data
tersebut sudah lengkap sesuai dengan keperluan penelitian.
2. Klasifikasi Data, yaitu menempatkan data sesuai dengan bidang pokok
bahasan agar mudah dalam menganalisisnya.
3. Sistematika data, yaitu penyusunan data menurut sistematika yang
ditetapkan dalam penelitian sehingga mempermudah dalam analisa.
9
F. Analisa Data
Data yang telah diolah, dianalisis secara kuantitatif dengan teori yang
digunakan, yaitu memberi arti dan menginterpretasikan setiap data yang
telah diolah kemudian diuraikan secara komperhensif dan mendalam dalam
bentuk uraian kalimat yang sistematis untuk kemudian ditarik kesimpulan.
Selain itu dalam menjawab permasalah
pertama peneliti menggunakan
analisa isi (contain analysis) untuk mendeskripsikan hasil pemilihan dalam
10 tahun terakhir kemudian menyusun dan mengklasifikasikannya. Terdapat
tiga tahap model dalam analisis bahan hukum, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan verifikasi data. Ketiga tahapan tersebut akan dilakukan secara
simultan.
Analisa
data
merupakan
langkah
terakhir
sebelum
melakukan
penarikan kesimpulan. Analisis bahan hukum merupakan langkah yang
paling penting dalam suatu penelitian, sebab dengan analisis ini akan
diketahui benar atau tidaknya suatu kesimpulan yang diambil.
10
BAB IV
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Pemilihan Umum ( Pemilu )
Berdasarkan UUD 1945 Bab I Pasal 1 ayat (2) kedaulatan berada
ditangan rakyat dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar. Dalam
demokrasi modern yang menjalankan kedaulatan itu adalah wakil-wakil
rakyat yang ditentukan sendiri oleh rakyat. Untuk menentukan siapakah
yang berwenang mewakili rakyat maka dilaksanakan pemilihan umum.
Pemilihan umum adalah suatu cara memilih wakil-wakil rakyat yang akan
duduk dilembaga perwakilan rakyat serta salah satu pelayanan hak-hak asasi
warga negara dalam bidang politik.1
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2007
tentang penyelenggara pemiliham umum dinyatakan bahwa pemilihan umum,
adalah saranan pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Repbulik Indonesia tahun 1945.
Pemilihan umum ( pemilu ) merupakan salah satu hak asasi warga
negara yang sangat prinsipil. Karenanya dalam rangka pelaksanaan hak-hak
asasi adalah suatu keharusan bagi pemerintah untuk melaksanakan pemilu.
Sesuai dengan asas bahwa rakyatlah yang berdaulat maka semuanya itu
harus dikembalikan kepada rakyat untuk menentukannya. Adalah suatu
pelanggaran suatu hak asasi apabila pemerintah tidak mengadakan pemilu
11
atau memperlambat pemilu.2
Dari pengertian di atas bahwa pemilu adalah sarana mewujudkan pola
kedaulatan rakyat yang demokratis dengan cara memilih wakil-wakil rakyat,
Presiden dan Wakil Presiden secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur,
dan adil. Karena pemilu merupakan hak asasi mansia maka pemilu 2014
warga negara yang terdaftar pada daftar calon pemilih berhak memilih
langsung wakil-wakilnya
dan juga memilih langsung Presiden dan Wakil
Presidennya.
B. Definisi Perilaku Memilih
Prilaku adalah sifat alamiah manusia yang dapat membedakan manusia
dengan manusia lainnya, dan menjadi ciri khas individu dengan individu yang
lain. Dalam konteks politik, prilaku dikatagorikan sebagai interaksi antara
pemerintah dan masyarakat, lembaga – lembaga pemerintah, dan diantara
kelompok dan individu dalam masyarakat dalam rangka proses pembuatan,
pelaksanaan, dan penegakkan keputusan politik pada dasarnya merupakan
prilaku politik. Memilih adalah suatu kegiatan atau aktifitas yang merupakan
proses menentukan sesuatu yanag dianggap cocok dan sesuai dengan
keinginan seseorang atau kelompok, baik yang bersifat eksklusif maupun
yang inklusif. Memilih merupakan aktifitas menentukan keputusan secara
langsung maupun tidak langsung. 3
Di dalam masyarakat, individu berprilaku dan berinteraksi, sebagian dari
perilaku dan interaksi dapat dilihat dari perilaku politik, yaitu perilaku yang
bersangkut paut dengan proses politik. Sebagian lainnya berupa perilaku
ekonomi, keluarga, agama dan budaya. Sebagai contoh : yang termasuk
2
3
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik (Jakarta: PT.Grasindo, 1992), 15.
12
kedalam katagori ekonomi yaitu kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa,
menjual dan membeli barang dan jasa, menukar, menanam modal dan
menspekulasikan modal.
Namun, hendaklah diketahui pula tidak semua individu ataupun
kelompok masyarakat
mengerjakan kegiatan politik. Menurut Ramlan
Surbakti, menilai perilaku memilih ialah keikutsertaan warga Negara dalam
pemilihan umum merupakan serangkaian kegiatan membuat keputusan,
yaitu apakah memilih atau tidak memilih dalam pemilihan umum.
44
Perilaku memilih merupakan realita sosial politik yang tidak terlepas
dari pengaruh faktor eksternal dan internal. Secara ekternal perilaku politik
merupakan hasil dari sosialisasi nilai-nilai dari lingkungannya, sedangkan
secara internal merupakan tindakan yang didasarkan atas rasionalitas
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Banyak faktor yang
dapat ,mempengaruhi Perilaku Memilih, misalnya saja isu-isu dan kebijakan
politik, tapi ada juga sekelompok orang yang memilih kandidiat karena
dianggap representative dengan agama atau keyakinannya, sementara
kelompok lainnya memilih kandidiat politik tertentu karena dianggap
representative dengan kelas sosialnya, bahkan ada juga kelompok yang
memilih sebagai ekspresi dari sikap loyal pada ketokohan figure tertentu
sehingga yang paling mendasar dalam mempengaruhi perilaku antara lain
pengaruh elit, identifikasi kepartaian sistem sosial media masa dan aliran
politik.
Pembahasan perilaku memilih dalam kemenangan suatu partai dalam
Pemilu Legislatif Tahun 2014 di Kabupaten Bener Meriah, tentu tidak hanya
sekedar
4
mendeskreditkan
perilaku
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, 145
13
tersebut,
tapi
proses
pengambilan
keputusan yang terjadi sebelumnya juga perlu ikut dijelaskan. Hal ini
merupakan berbagai faktor yang berpengaruh, baik untuk jangka waktupendek, maupun jangka panjang, dan secara emosional ataupun rasional.
Ada tiga macam pendekatan atau dasar pemikiran yang berusaha
menerangkan perilaku memilih. Ketiganya tidak sepenuhnya berbeda, dan
dalam beberapa hal ketiganya bahkan saling membangun mendasari serta
memiliki
urutan
kronologis
yang
jelas.
Pendekatan
tersebut
adalah,
pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis dan pendekatan pilihan rasional
( rational choice ). 5
Penjelasannya sebagai berikut :
a. Pendekatan sosiologis
Pendekatan sosiologis menentukan perilaku memilih pada para
pemilih, terutama pada kelas sosial, agama, dan kelompok etnik /
kedaerahan yang akhirnya bermuara pada perilaku tertentu.6
Kondisi yang sama antar anggota subkultur terjadi karena sepanjang
hidup mereka dipengaruhi lingkungan fisik dan sosial cultural yang
relative sama. Mereka dipengaruhioleh kelompok – kelompok referensi yang
sama. Karena itu mereka memiliki kepercayaan, nilai, dan harapan yang
juga relatif sama, termasuk dalam kaitannya dengan preferensi pilihan
politik. Dengan pendekatan ini, para anggota subkultur yang sama
cenderung mempunyai preferensi politik yang sama pula.
Pendekatan ini berdasarkan pengelompokan sosial, baik secara
formal ataupun informal. Secara formal seperti keanggotaan seseorang
5
Dieter Roth, Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan Metode, Dodi Ambardi, ed., (Jakarta: FriedrichNaumann-Stiftung dan LSI, 2009), 23
6
Saiful Mujani, R. William Liddle, dan Kuskrido Ambardi. 2012. Kuasa Rakyat: AnalisaTentang Perilaku Memilih dalam
Pemilihan Legislatif dan Presiden Indonesia Pasca-Orde Baru. (Jakarta: Mizan Media Utama (MMU), 2012), 6.
14
dalam
organisasi
sebagainya.
Dan
keagamaan,
organisasi
–
kelompok
kelompok
informal
–
organisasi
profesi,
seperti
dan
keluarga,
pertemuan ataupun kelompok – kelompok kecil lainnya, merupakan
sesuatu yang sangat vital dalam memahami perilaku politik seseorang,
karena kelompok – kelompok inilah yang mempunyai peranan yang sangat
besar dalam menentukan sikap, persepsi dan orientasi seseorang.
Menurut Paul F. Lazarsfeld, manusia terikat di dalam berbagai
lingkaran sosial, contohnya keluarga, lingkaran rekan – rekan, tempat
kerja dan sebagainya. Dia menerapkan cara ini pada pemilih, bahwa
seorang pemilih hidup dalam konteks tertentu : status ekonominya,
agamanya,
tempat
tinggalnya,
peketrjaannya,
dan
usianya
untuk
mendefinisikan lingkaran sosial yang mempengaruhi keputusan para
pemilih. Setiap lingkaran sosial memiliki normanya tersendiri, kepatuhan
terhadap norma-norma tersebut menghasilkan ingtegrasi. Namun konteks
ini turut mengontrol perilaku individu dengan cara memberikan tekanan
agar individu tersebut menyesuaikan diri, sebab pada dasarnya setiap
orang ingin hidup dengan tentram, tanpa bersitegang dengan lingkungan
sosialnya.7
b. Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis berusaha untuk menerangkan faktor – faktor
apa saja yang mempengaruhi keputusan pemilu jangka pendek atau
keputusan yang diambil dalam waktu yang singkat. Hal ini berusaha
7
Paul F Paul F Lazarsfeld, Bernard Berelson, dan Hazel Gaudet (1968): The People’sChoice, Bernard Berelson,
dan Hazel Ga t (1968): The People’s Choice. How The Voter Makes
Up His Mind in a Presidential Campaign (New York: Tubingen, 1944), 148.
15
menjelaskan melalui trias determinan dengan melihat sosialisasinya dalam
menentukan psikologis menekankan pada tiga aspek, yaitu identifikasi
partai, orientasi, dan isu orientasi kandidat. Sementara itu faktor- faktor
lainnya yang sudah ada terlebih dahulu (seperti misalnya keanggotaan
dalam kelompok sosial tertentu) dianggap memberi pengaruh langsung
terhadap perilaku memilih.
Dasar pemikiran ini dituangkan dalam bentuk sebuah variabel yaitu
identifikasi partai (party identification). Variabel ini digunakan untuk
mengukur jumlah faktor-faktor kecenderungan pribadi maupun politik
yang relevan bagi seorang individu. Apabila faktor-faktor kecenderungan
(seperti
misalnya
pengalaman
pribadi
atau
organisasi
politik)
diumpamakan sebagai suatu aliran yang dituangkan melewati sebuah
corong, maka identifikasi partai sebagai sebuah saringan dalam corong
kausal / penyebab ini ( funnel of cautality).
8
Identifikasi dalam sebuah partai biasanya tidak harus dengan
keanggotaan formil / resmi seprang individu dalam sebuah partai. Oleh
karena itu keanggotaan partai secara psikologis juga disebut orientasi
partai yang efektif, sebuah efek yang sama sekali tidak menggunakan
istilah “ keanggotan “. Identifikasi partai sering kali diwariskan oleh orang
tua kepada anak-anak mereka.
Seiring dengan bertambahnya usia, identifikasi partai menjadi
semakin stabil dan intensif. Kemudian identifikasi partai menjadi orientasi
8
Angus Campbell, Philip E. Converse, danWarren E. Miller, dan Donal E. Stokes The American Voter
(New York: Tubingen, 1960), 24 - 34
16
yang permanen, yang tidak berubah dari pemilu ke pemilu. Tapi kalau
seseorang mengalami perubahan pribadi yang besar (misalnya menikah,
pindah profesi atau tempat tinggal) atau situasi politik yang luar biasa
(seperti krisis ekonomi atau perang), maka identifikasi partai ini dapat
berubah).9
Pendekatan psikologis membedakan antara kekuatan, arah dan
intensitas orientasi, baik dalam orientasi isu maupun orientasi kandidat.10
Isu-isu khusus hanya dapat mempengaruhi perilaku memilih individu
apabila memenuhi tiga persyaratan dasar : isu tersebut harus dapat
ditangkap oleh pemilih, isu tersebut dianggap penting oleh pemilih, pada
akhirnya pemilih harus mampu menggolongkan posisi pribadinya (baik
secara positif atau negative) terhadap konsep pemecahan permasalahan
yang ditawarkan oleh sekurang-kurangnya satu partai. 11
Dalam orientasi kandidat pun berlaku ketentuan : semakin sering
sang pemilih mengambil posisi terhadap kandidat – kandidat yang ada,
semakin besar pula kemungkinan bahwa ia akan berpartisipasi dalam
pemilu. Bila posisi / pandangan sang pemilih semakin cocok dengan
kandidiat
sebuah
partai
tertentu,
maka
semakin
besar
pulalah
kemungkinan bahwa ia akan memilih kandidat tersebut. Para peneliti
pemilu dari Ann Arbor berpandangan bahwa preferensi kandidat dan
orientasi
isu
lebih
tergantung
kepada
dibandingkan dengan identifikasi partai.12
9
Roth, Studi Pemilu Empiris, 38.
10
Campbell et al, The American Voter, 149-160
Campbell et al, The American Voter, 170
12
Campbell et al, The Voter Decides, 183.
11
17
perubahan
dan
fluktuasi
Oleh karena itu Angus Campbell sejak 1960 sudah memandang
identifikasi partai sebagai sebuah ikatan partai psikologis dan stabil, yang
tidak lagi dipengaruhi oleh faktor ikatan pengaruh jangka pendek. 13
C. Pendekatan Pilihan Rasional (Rational Choice)
Pusat perhatian pendekatan teoritis mengenai perilaku memilih yang
rasional terletak pada perhitungan biaya dan manfaat ( cost and benefit).
Dari pendekatan pilihan rasional, yang menentukan dalam sebuah pemilu
bukanlah adanya ketergantungan terhadap ikatan sosial struktural atau
ikatan partai yang kuat, melainkan hasil penilaian rasional dari warga
yang baik. Sebenarnya pendekatan pilihan rasional diadopsi dari ilmu
ekonomi. Karena didalam ilmu ekonomi menekankan modal sekecilkecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Hal ini senada dengan perilaku politik yaitu seseorang memutuskan
memilih kandidat tertentu setelah mempertimbangkan untung ruginya
sejauh program yang disodorkan kandidat tersebut akan menguntungkan
dirinya, atau sebaliknya malah merugikan. Para pemilih akan cenderung
memilih
kandidat
yang
kerugiannya
paling
minim.
dalam
konteks
pendekatan semacam ini, sikap dan pilihan politik tokoh-tokoh populer
tidak selalu diikuti oleh para pengikutnya kalau ternyata secara rasional
tidak menguntungkan. Beberapa indikator yang bisa dipakai oleh para
pemilih untuk menilai seorang kandidiat khususnya bagi pejabat yang
hendak mencalonkan kembali, diantaranya kualitas, kompetensi, dan
integrasi kandidat.
13
Campbell et al. The American Voter, 121.
18
Pada
awal
60-an,
Valdimer
O
Key
menuding
bahwa
kedua
pendekatan untuk menerangkan perilaku memilih yang selama ini berlaku
(yaitu pendekatan sosiologis dan pendekatan psikologis), merendahkan
rasionalitas manusia.14 Menurut Key, masing-masing pemilih menetapkan
pilihannya cesara retrospektif, yaitu dengan menilai apakah kinerja partai
yang menjalankan pemerintahan pada periode legislative terakhir sduah
baik bagi dirinya sendiri dan bagi Negara, atau justru sebaliknya. Penilaian
ini juga dipengaruhi oleh penilaian terhadap pemerintah masa lampau.
Apabila hasil penilaian kinerja pemerintah yang berkuasa (juga bila
dibandingkan dengan pendhulunya) positif, maka mereka akan dipilih
kembali. Apibila hasil penilaiannya negative, maka pemerintahan tersebut
tidak akan dipilih kembali.15
Menurut Anthony Downs, pemilih yang rasional hanya menuruti
kepentingannya sendiri atau kalaupun tidak, akan selalu mendahulukan
kepentingan sendiri diatas kepentingan orang lain, ini disebut dengan self
interest axiom. 16 Walupun menurut Downs, tidak semua orang merupakan
orang yang egois, “ bahkan dalam politik sekalipun,” namun ia tiba pada
kesimpulan bahwa “ sosok-sosok heroic” ini dari segi jumlah dapat
diabaikan. 17
Manusia bertindak egois, terutama oleh karena mereka ingin
mengoptimalkan kesejahteraan material mereka, yaitu pemasuka atau
harta benda mereka. Jika hal ini diterapkan kepada perilaku memilih
14
Valdimer O Key, The Responsible Electorate: Rationality in Presidential Voting 19361960 (Melbourne: Cambridge University Press, 1966).
15
Key, The Responsible Electorate, 61.
16
Anthony Downs, Okonomische Theorie der Demokratie, engl.: An Economic Theory of
Democracy 1957 (New York: Tubingen, 1968), 26.
17
Downs, Okonomische Theorie der Demokratie, 27.
19
pemilu, maka ini berarti bahwa pemilih yang rasional akan memilih partai
atau kandidat yang paling menjanjikan keuntungan bagi dirinya. Pemilih
tidak terlalu tertarik kepada konsep politis sebuah partai atau kandidiat,
melainkan pada keuntungan terbesar yang dapat ia peroleh apabila partai
atau kandidat ini menduduki pemerintahan dibandingkan dengan partai
atau kandidiat lain. Untuk dapat memperkirakan atau menghitung
keuntungan ini, Downs mengistilahkannya sebagai “ Utility Maximation”,
pemilih harus memiliki informasi mengenai kegiatan partai atau kandidiat
masa lalu dan apa yang mungkin dilakukan partai atau kandidat di masa
mendatang. Dan pemilih yang rasional membutuhkan informasi yang
lengkap. Dengan informasi yang lengkap, alternatif-alternatif pilihan lebih
mudah dirumuskan.18
Menurut Ramlan Surbakti dan Dennis Kavaagh, bahwa pilihan
rasional melihat kegiatan prilaku memilih sebagai produk antara untung
dan rugi, ini disebabkan karena pemilih tidak hanya mempertimbangkan
ongkos memilih dan kemungkinan suaranya dapat memepengaruhi hasil
yang diharapkan, tetapi juga perbedaan alternative berupa pilihan yang
ada.Pemilih didalam pendelatan ini diasumsikan memiliki motivasi,
prinsip, pendidikan , pengetahuan dan informasi yang cukup.
19
Pilihan politik yang mereka ambil dalam pemilu bukanlah karena
Faktor kebetulan atau kebiasaan melainkan menurut pemikiran dan
pertimbangan yang logis.
Berdasarkan informasi, pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki p
emilih. Pemilih memutuskan harus menentukan pilihannya dengan
18
19
Roth, Studi Pemilu Empiris, 49.
Surbakti, Memahami Ilmu Politik, 146.
20
pertimbangan untung dan ruginya untuk menetapkan pilihan atas
alternatif-alternatif yang ada kepada pilihan yang terbaik dan yang paling
menguntungkan baik untuk kepentingan sendiri (self interest) maupun
untuk
kepentingan
umum.
Sehingga
pada
kenyataannya,
terdapat
sebagian pemilih yang mengubah pilihan politiknya dari satu pemilu ke
pemilu
lainnya.
Fenomena
tersebut
menunjukkan
bahwa
terdapat
variabel-variabel lain yaitu faktor kondisi yang juga turut mempengaruhi
pemilih ketika menentukan pilihan politiknya pada pemilu.
Hal ini disebabkan seorang pemilih tidak hanya pasif, terbelenggu
oleh karakteristik sosiologis dan faktor psikologis akan nmerupakan
individu yang aktif dan bebas bertindak. Dari pendekatan rasional, fahtorfaktor kondisi berupa isu politik dan kandidat yang dicalonkan memiliki
peranan yang penting dalam mementukan dan merubah referensi pilihan
politik seorang pemilih karena malalui penilaian
Terhadap
isu-isu
politik
dan
kandidat
dengan
berdasarkan
pertimbangan – pertimbangan yang rasional, seorang pemilih akan
dibimbing untuk menentukan pilihan akan dibimbing untuk menentukan
pilihan politiknya. Orientasi isu berpusat pada pertanyaan apa yang
seharusnya dilakukan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang
sedang dihadapi masyarakat, bangsa dan negara. Sementara orientasi
kandidat mengacu pada persepsi dan sikap seprang pemilih terhadap
kepribadian kandidat tanpa memperdulikan label partai yang mengusung
kandidat tersebut.
Pengaruh
isu
yang
ditawarkan
bersifat
situasional
(
tidak
permanen/berubah-ubah) terkait erat dengan peristiwa-peristiwa sosial,
ekonomi, politik, hukum dan keamanan khususnya yang kontekstual dan
21
dramatis. Sementara itu untuk menilai kandidat menurut Him Melweit,
terhadan dua variabel yang harus dimiliki oleh seorang kandidiat. Variabel
pertama adalah kualitas instrumental yaitu tindakan yang diyakini pemilih
akan direalisasikan oleh kandidat apabila ia kelak menang dalam pemilu.
Variabel kedua adalah kualitas simbolis yaitu kualitas kepribadian
kandidat yang berkaitan dengan integrasi diri, ketegasan, kejujuran,
kewibawaan,
kepedulian,
ketaatan
pada
norma
dan
aturan
dan
sebagainya.20
Menurut Dan Nimmo, pemberi suara yang rasional pada hakikatnya
adalah aksional diri, yaitu sifat intrinsik pada setiap karakter personal
pemberi suara yamng turut memutuskan pemberian suara kebanyakan
warga negara.
Orang yang rasional yaitu :
2121
1. Selalu dapat mengambil keputusan bila dihadapkan pada alternatif.
2. Memilah alternatif-alternatif sehingga masing-masing apakah lebih
disukai, sama saja atau lebih rendah bila dibandingkan dengan
alternatif yang lain.
3. Menyusun alternatif –alternatif dengan cara trasitif, jika A lebih disukai
dari pada B, dan B daripada C.
4. Selalu memilih alternatif yang peringkat preferensi paling tinggi dan
5. Selalu mengambil keputusan yang sama dihadapkan pada alternatifalternatif yang sama, dan bahwa pemberi suara rasional selalu dapat
6. Mengambil keputusan apabila dihadapkan pada alternatif dengan
memilah alternatif itu, yang lebih disukai sama atau lebih rendah dari
20
21
Surbakti, Memahami Ilmu Politik, 148.
Nimmo, Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek (Bandung: CV. Remaja Karya),
22
alternatif yang lain, menyusunya dan kemudian memilih dari alternatifalternatif tersebut yang peringkat preferensinya paling tinggi dan selalu
mengambil keputusan yang sama apabila dihadapkan pada alternatif
yang sama.
Penerapan pendekatan rational choice dalam ilmu politik salah
satunya adalah untuk menjelaskan perilaku memilih suatau masyarakat
terhadap kandidiat atau partai tertentu dalam konteks pemilu. Teori
pilihan rasional sangat cocok untuk menjelaskan variasi perilaku memilih
pada
suatu
kelompok
yang
secara
psikologis
memiliki
persamaan
karakteristik. Pergeseran pilihan dari satu pemilu ke pemilu yang lain dari
orang yang sama dan status sosial yang sama tidak dapat dijelaskan
memlalui pendekatan sosiologis maupun psikologis. Dua pendekatan
terakhir tersebut menempatkan pemilih pada situasi dimana mereka tidak
mempunhyai kehendak bebas karena ruang geraknya ditentuka olah posisi
individu dalam lapisan sosialnya.
Sedangkan dalam pendekatan rasional yang menghasilkan pilihan
rasional pula terdapat faktor-faktor situasional yang ikut berperan dalam
mempengaruhi pilihan politik seseorang, misalnya faktor isu-isu politik
ataupun kandidat yang dicalonkan. Dengan demikian muncul asumsi
bahwa para pemilih mempunyai kemampuan untuk menilai isu-isu politik
tersebut. Dengan kata lain pemilih dapat menengtukan pilihannya
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional.
Sebagai individu yang mendukung legitimasi system pemilihan
demokratis, maka seorang warga Negara harus memiliki kemampuan
untuk
mengetahui
konsekwensi
23
dari
pilihannya.
Kehendak
rakyat
merupakan perwujudan dari seluruh pilihan rasional individu yang
dikumpulkan (public choice).
Dalam konteks pemilu di Australia, istilah public digunakan untuk
mewakili masyarakat Australia yang terdiri dari individu-individu dengan
keanekaragaman karakteristiknya. Mereka bertindak sebagai responden
dalam pemilu yang masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sama
untuk melalukan pilihan politik.
Public choice dalam konteks pemilu sangat penting artinya bagi
kelangsungan roda pemerintahan si suatu Negara. Bagaimana agenda
politik
dalam
suatu
Negara
itu
disusun,
tergantiung
dari
pilihan
masyarakat terhadap agenda yang ditawarkan melalui pemilihan umum.
Akan tetapi yang menjadi permasalahan dari pilihan kolektif semacam ini
adalah bagaimana mengkondisikan berbagai macam preferensi individuindividu kedalam sebuah kebijakan yang akan diterima secara luas oleh
masyarakat.22
Terkait dengan hal tersebut, pemilu digunakan sebagai sarana untuk
menentukan suara terbesar dari masyarakat, karena hanya pilihan
mayoritaslah
yang
akan
mendominasi
arah
politik
suatu
negara.
Disamping itu, dalam perannya sebagai individu yang independen,
manusia akan selalu mengejar seluruh kepentingannya dengan maksimal
dan
membuat
pilihyan-pilihan
yang
sulit
untuk
diwujutkan
oleh
pemerintah di negaranya, akan tetapi dalam peran manusia sebagai
anggota sebuah komunitas atau masyarakat, hal itu tidak berlaku.
22
James Q. Wilson, Marc K. Landy dan Martin A. Levin, The New Politics of PublicPolicy: New Politics, New Ellites, Old Publ
ics (London: The Johns Hopkins University Press,1995), 263.
24
Menurut Buchanan Tullock, dalam menentukan suatu public choice,
terdapat aspek-aspek yang lebih dari pada sekedar memenuhi peraturtan
politik pemerintah dalam pemilu. Aspek-aspek tersebut meliputi pilihanpilihan untuk membuat suatu keputusan sosial dengan pertimbangan
negara dan lembaga-lembaga perekonomian yang bebas dari campur
tangan pemerintah, disamping mekanisme pemerintah lain yang terpusat
dalam suatu negara dan lembaga-lembaga yang menggabungkan sektor
publik dan sektor privat.23
Kemudian Buchanan dan Tullock juga menyatakan bahwa untuk
menghasilkan keputusan sosial tersebut dibutuhkan adanya integrasi
antara politik dan ekonomi. Integrasi tersebut akan sangat berguna untuk
memahami hal-hal seperti mengapa pemerintah melakukan pengaturan
terhadap sistem pasar,
Redistribusi - redistribusi terhadap kekayaan, serta bagaimana
kekuatan pasar dapat mempengaruhi tujuan-tujuan politik. Semua segisegi ekonomi dan politik tersebut hanya dapat dipahami jika kita
memandangnya dari perspektif teori yang sama.24
Pada kenyataannya terutama di daerah pedesaan, tidak semua
pemilih menggunakan prinsip-prinsip rasionalitas didalam menentukan
pilihannya. Pemilih yang berprinsip rasional lebih banyak ditemukan di
daerah urban. Tingkat pendidikan yang dimiliki serta pemahaman akan
politik mempunyai korelasi positif terhadap perilaku memilih yang semakin
rasional. Penduduk yang bermukim di negara-negara maju seperti
23
Peter C. Ordeshook, James E. Alf dan Kenneth A. Shelpse, The Emerging Discipline of
Political Economy: Perspective on Positive Political Economy (Melbourne: Cambridge University
Press, 1990),15.
24
Peter C. Ordeshook et al. The Emerging Discipline of Political Economy, 15.
25
Australia yang terkenal memiliki pendidikan yang sangat tinggi, hal itu
dapat dilihat dari tingkat buta huruf yang sangat minim.
Menurut Saiful Mujani, seorang pemilih akan cenderung memilih
partai politik atau kandidat yang berkuasa di pemerintahan dalam pemilu
apabila merasa keadaan ekonomi rumah tangga pemilih tersebut atau
ekonomi nasional pada saat itu lebih baik dibanding dari ntahun
sebelumnya, sebaliknya pemilih akan menghukumnya dengan tidak
memilih jika keadaan ekonomi rumah tangga dan nasional tidak lebih baik
atau menjadi lebih buruk.25
Pertimbangan ini tidak hanya terbatas pada kehidupan ekonomi,
melainkan juga kehidupan politik, sosial, hukum dan keamanan. Menurut
beliau dalam mengevaluasi kinerja pemerintah, media ,massa terutama
yang masif seperti televisi memeiliki peran yang sangat menentukan.
Melalui informasi yangt berasal dari media massa , seorang pemilih dapat
menilai apakah kinerja pemerintah sudah maksimal atau hanya jalan
ditempat.
25
Saiful Mujani, Penjelasan Aliran dan Kelas Sosial sudah tidak memadai dalam
http://islamlib.com?page.php?page=article&id=703.
http://bluean9el.wordpress.com/2011/11/22/rational-choice-theory-teori-pilihan-rasional/. Diakses pada 1 Juli 2015
26
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Tingkat Partsipasi pemilih Pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 di
Kabupaten Bener Meriah.
Partisipasi pemilih atau partisipasi politik adalah suatu usaha
terorganisir oleh para warga Negara untuk memilih Pemimpin-pemimpin
mereka dan mempengaruhi bentuk dan jalannya kebijaksanaan umum yang
dilakukan berdasarkan atas kesadaran akan tanggung jawab mereka
terhadap kehidupan bersama sebagai suatu bangsa dalam suatu Negara.
Partisipasi pemilih merupakan suatu aspek penting dalam sebuah
tatanan Negara demokrasi sekaligus merupakan cirikhas adanya modernisasi
politik. Partisipasi politik pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilakukan
warga Negara untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dengan
tujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan oleh
pemerintah, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu Legislatif Tahun
201426, dapat kita lihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014
N
O
KECAMATAN
GAMPONG
JUMLAH
TPS
JUMLAH
JUMLAH PEMILIH
PENGGUNA HAK PILIH
%
DPT
DPK
DPTb
DPKTb
JML
DPT
DPK
DPTb
DPKTb
JML
1.
PINTU RIME
GAYO
23
26
7.655
174
67
73
7.969
6.420
115
66
73
6.674
84%
2.
GAJAH
10
12
5.749
73
26
107
5.955
4.921
18
15
86
5.040
85%
26
Arsip KIP Kabupaten Bener Meriah
27
PUTIH
3.
TIMANG
GAJAH
30
34
13.086
50
40
69
13.245
11.642
26
38
69
11.775
89%
4.
WIH PESAM
27
33
14.905
85
10
188
15.188
11.870
78
10
188
12.146
80%
5.
BUKIT
40
45
15.972
92
31
120
16.215
14.202
54
30
120
14.406
89%
6.
BANDAR
35
43
16.408
74
12
87
16.581
13.865
62
12
87
14.026
85%
7.
BENER
KELIPAH
12
12
2.810
13
7
11
2.841
2.544
10
7
11
2.572
91%
8.
PERMATA
27
31
10.900
105
4
39
11.048
9.804
65
4
24
9.897
90%
9.
MESIDAH
15
15
2.333
46
0
2
2.381
2.179
0
0
2
2.181
92%
1
0
SYIAH
UTAMA
14
14
1.006
36
0
9
1.051
952
0
0
8
960
91%
JUMLAH
233
265
90.824
748
197
705
92.474
78.399
428
182
668
79.677
86 %
Berdasarkan tabel diatas dapat kita ketahui bahwa jumlah pengguna
hak pilih dalam Pemilu legislatif 2014 di Kabupaten Bener Meriah
sebanyak 76.677 Pemilih atau 86 persen dari total jumlah pemilih terdaftar
yaitu 92.474. Persentase pengguna hak pilih tertinggi terdapat di
Kecamatan
Mesidah
yaitu
sebanyak
2.181
(92
%)
pemilih
yang
menggunakan hak pilihnya dari 2.381 pemilih terdaftar. Sedangkan
tingkat partisipasi terendah terdapat di kecamatan wih pesan yaitu sebesar
80 % atau sebanyak 12.146 pengguna hak pilih dari 15.188 pemilih
terdaftar.
Secara keseluruhan, tingkat partisipasi masyarakat di Kabupaten
Bener Meriah pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 cukup baik dimana
disetiap kecamatan tingkat partisipasi atau pengguna hak pilih tidak
kurang dari 80 % jumlah pemilih yang terdaftar. Dapat dipahami bahwa
masyarakat di Kabupaten Bener Meriah masih menaruh harapan besar
28
terhadap eksistensi Partai Politik yang ikut dalam pemilu Legislatif tahun
2014 dan juga Kandidat dari masing-masing partai, untuk mengetahui
secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel hasil dan persentase perolehan
suara pemilu legislatif tahun 201427 berikut ini :
Tabel 3
HASIL PEMILU LEGISLATIF PEMILIHAN ANGGOTA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN BENER MERIAH TAHUN 2014
B. Faktor –faktor yang Dominan mempengaruhi prilaku memilih Pada
Pemilu Legislatif 2014 di Kabupaten Bener Meriah.
Perilaku memilih (Voting behavior) dalam pemilu adalah respon
psikologis dan emosional yang diwujudkan dalam bentuk tindakan politik
mendukung suatu partai politik atau kandidat dengan cara mencoblos
surat
suara.
Dalam
hal
pemilih
mewujudkan
tindakan
politiknya
dipengaruhi oleh faktor faktor lingkungan seperti sosial ekonomi, afiliasi
etnis, tradisi keluarga, keanggotaan terhadap organisasi, usia, jenis
27
Arsip KIP Kabupaten Bener Meriah
29
kelamin, pekerjaan, tempat tinggal, dan lain-lain.
Untuk meneliti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku
memilih dalam pemilihan Umum Legislatif Anggota DPRK Bener Meriah
Tahun 2014, untuk itu Tim Risert KPU Bener Meriah telah mengadakan
Risert dengan jumlah responden sebanyak 100 Orang yang tersebar pada
10 Kecamatan dalam Kabupaten Bener Meriah. Adapun data tentang
responden dapat disajikan pada Tabel di bawah ini.
Tabel 4
DATA JENIS KELAMIN RESPONDEN
Jenis Kelamin
Jumlah Responden
Laki-laki
43
Perempuan
57
Jumlah
100 Orang
Tabel 5
DATA TINGKAT PENDIDIKAN RESPONDEN
Tingkat Pendidikan
Jumlah Responden
SD/Sederajat
15 Orang
SMP/Sederajat
22 Orang
SMU/Sederajat
47 Orang
Diploma I,II dan III
13 Orang
S.1/S2
10 Orang
Jumlah………..
100 Orang
30
Tabel 6
DATA USIA/UMUR RESPONDEN
Kelompok Usia- Umur
Jumlah Responden
Kurang dari 20 Tahun
7 Orang
21-35 Tahun
43 Orang
36 -50 Tahun
21 Orang
51 – 65 Tahun
26 Orang
Diatas 65 Tahun
4 Orang
Jumlah………..
100 Orang
Untuk
mengetahui
faktor-faktor
yang
paling
dominan
memepengaruhi prilaku memilih masyarakat di Kabupaten Bener Meriah
pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 di Kabupaten Bener Meriah Tahun
2014, sesuai dengan jawaban dari pertanyaan pada quisioner yang telah
disampaikan oleh responden. Dari 100 orang yang diberikan quisioner, 2
dari 100 responden menyatakan tidak menggunakan hak pilihnya dengan
alasan tidak berminat/malas yang didasari oleh pengalaman dimasa yang
lalu, karena merasa bahwa tidak adanya pililihan yang tepat dalam
memenuhi janji-janjinya. . Sedangkan 98 orang lainnya menyatakan diri
ikut memilih pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 yang lalu. responden
Untuk lebih jelasnya, dapat lihat pada tabel dibawah ini.
31
Tabel 7
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMEPENGARUHI PRILAKU MEMILIH
NO
FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI
JUMLAH
RESPONDEN
PERSENTASE
JAWABAN
1.
figur / citra calon
28
29 %
2
Citra partai
19
19 %
3
Hubungan
5
5%
7
7%
12
12 %
4
4%
13
13 %
keluarga/persaudaraan
4
Kesamaan suku
5
agama
6
Rasa Percaya
7
Visi misi
8
Sosial ekonomi
6
6%
9
Keinginan tertentu
4
4%
98
100%
JUMLAH
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa faktor Figur/citra dari calon
sangat dominan mempengaruhi prilaku memilih dalam menentukan
pilihannya pada pemilu Legislatif yang lalu di Kabupaten Bener Meriah
yaitu sebanyak 28 Responden atau 29 % dari seluruh jumlah Respoden
menyatakan menggunakan hak pilihnya. Kemudian diikuti oleh faktor
Citra Partai dengan jumlah 19 responden atau 19 %. Pada urutan ketiga
faktor yang mempengaruhi prilaku memilih adalah faktor Visi Misi yang
disampaikan oleh Calon sebanyak 13 %. Selanjutnya faktor agama pada
32
urutan keempat Agama dengan jumlah responden sebanyak 12 orang atau
setara dengan 12 %..
Pada urutan kelima yang memepengaruhi prilaku memilih adalah
faktor kesamaan suku dengan calon yang dipilih oleh sebanyak 7 orang
responden dan faktor sosial ekonomi sebanyak 6 % ( 6 orang responden)
dan pada urutan ketujuh dan kedelapan di tentukan oleh faktor Percaya
dan adanya keinginan tertentu masing-masing dipilih oleh 4 orang
responden atau sebanyak 4 % dari total responden.
C. Tingkat
rasionalitas
memilih
pada
Pemilu
Legislatif
Tahun
2014
Kabupaten Bener Meriah.
Menurut muhammad Asfar pemilih rasional adalah pemilih yang
mengutamakan kemampuan partai politik atau calon peserta pemilu dengan
program kerjanya, mereka melihat program kerja tersebut melalui kinerja
partai atau kontestan dimasa lampau, dan tawaran program yang diberikan
sang calon atau partai politik dalam menyelesaikan berbagai permasalahan
yang sedang terjadi. Pemilih jenis ini memiliki ciri khas yang tidak begitu
mementingkan ikatan ideologi kepada suatu partai politik atau seorang
kontestan. Hal yang terpenting bagi pemilih jenis ini adalah apa yang bisa
dan yang telah dilakukan oleh sebuah partai atau seorang kontestan pemilu.
Dari penjelasan terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi
prilaku memilih masyarakat Kabupaten Bener Meriah dapat disajikan dalam
sebuah diagram sebagi berikut :
33
1 figur / citra calon
6%
5%
2 Citra partai
4% 4%
29%
7%
3 Visi misi
4 agama
12%
19%
13%
5 Kesamaan suku
6 Sosial ekonomi
7 Hubungan
keluarga/persaudaraan
8 Rasa Percaya
Jika kita dasarkan pada teori diatas , maka dapat kita simpulkan
bahwa tingkat rasionalitas dari pilihan faktor-faktor yang mempengaruhi
prilaku memilih masyarakat Kabupaten Bener Meriah
dalam pemilihan
Pemilu legislatif Anggota DPRK Bener Meriah Tahun 2014 sudah relatif
tinggi. Hal dapat kita lihat dari diagram diatas dimana lebih dari 50 %
pemilih (responden) menjadikan faktor-faktor yang sifatnya lebih rasional
seperti figur calon, citra partai dan visi dan misi yang ditawarkan oleh calon
atau partai sebagai landasan dalam mementukan pilihan pada saat memilih
di TPS.
34
BAB. VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Prilaku Memilih masyarakat
Kabupaten Bener Meriah dalan Pemilu Legislatif Tahun 2014, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Tingkat partisipasi masyarakat Kabupaten Bener Meriah dalam Pemilu
Lagislatif Tahun 2014 sudah cukup tinggi yaitu sebesar 86 % atau
sebanyak 79.677 Pemilih dari 92.474 Pemilih yang terdaftar.
2. Faktor Figur/citra dari calon merupakan faktor yang memberikan
pengaruh cukup besar bagi pemilih dalam menentukan pilihannnya
dalam Pemilu Legislatif Tahun 2014 di Kabupaten Bener Meriah yang
mencapai 29 %, yang diikuti oleh faktor Citra Partai, Visi dan misi yang
ditawarkan serta kesamaan keyakinan (agama)
yang masing-masing
berada diatas 10 % pemilih. Sedangkan faktor Kesamaan Suku, sosial
ekonomi, Hubungan keluarga, rasa percaya terhadap calon/partai dan
adanya keinginan tertentu yang diharapkan hanya mendapatkan angka
dibawah 10 % dari total pemilih/responden.
3. Dari analisis data primer dan data sekunder terkait dengan pilihan yang
rasional dalam memilih, maka dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat
rasionaliltas memilih masyarakat Kabupaten Bener Meriah pada
Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2014 sudah relatif tinggi.
35
B. Saran
Untuk lebih meningkatkan partisipasi dan prilaku memilih dalam
pemilihan umum Legislatif yang akan datang penulis memberikan saran
antara lain :
1. Mengingat animo masyarakat pada pemilu Legislatif tahun 2014 lebih
menentukan pilihan mereka terhadap Figur Bakal Calon tanpa
memperhatikan Integritas Partai diharapkan kepada partai politik
sebagai mesin politik agar lebih meningkatkan kepedulian partai
terhadap masyarakat pemilih dengan meningkatkan Integritas Partai
dan berkomitmen untuk menciptakan Partai yang Bersih, bebas
korupsi, Aspiratif dan Akomodatif, sehingga para pemilih lebih antusias
dalam memilih pada pemilu yang akan datang.
2. Diharapkan kepada Caleg yang telah berhasil terpilih pada pemilu
Legislatif tahu 2014 dan telah menduduki kursi Parlemen agar tetap
konsisten melaksanakan Visi dan Misi yang dijanjikan, sehingga
kepercayaan dan animo pemilih terhadap pemilu legislatif tetap terjaga.
36
DAFTAR PUSTAKA
BUKU:
1. Campbell, Angus, Philip E. Converse, dan Warren E. Miller, dan Donal E. Stokeset al,
1960, The American Voter. New York: Tubingen.
2. Campbell, Angus, Geral Gurin, dan Warren E. Miller,1954, The Voter Decides.Evanston.
3. Downs, Anthony, 1968, Okonomische Theorie der Demokratie, engl.: An
Economic Theory of Democracy 1957. New York: Tubingen.
4. Key, Valdimer O,1966, The Responsible Electorate: Rationality in Presidential
Voting 1936-1960. Melbourne: Cambridge University Press.
5. Lazarsfeld, Paul F, Bernard Berelson, dan Hazel Gaudet, 1944, The People’s
Choice. How The Voter Makes Up His Mind in a Presidential Campaign.
New York: Tubingen.
6. Mujani, Saiful, R. William Liddle, dan Kuskrido Ambardi, 2012. Kuasa Rakyat:
Analisa Tentang Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan Presiden
Indonesia PascaOrde Baru. Jakarta: Mizan Media Utama. 2007, Muslim Demokrat. Jakarta: Gramedia.
7. Nimmo, Dan,2008, Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: CV.Remaja Kar
ya.
8. Roth, Dieter, 2009, Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan
Metode, Dodi Ambardi, ed., Jakarta: Friedrich-Naumann-Stiftung dan LSI.
9. Surbakti, Ramlan, 1992, Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT.Grasindo.Upe, Ambo, 20
08, Sosiologi Politik Kontemporer. Jakarta: Prestasi Pustaka.
10. Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kabupaten Bener Meriah tahun 2014
11. Laporan pelaksanaan Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat
Kabupaten/Kota Tahun 2014, Kabupaten Bener MeriahDPR D PROVINSI, DPRD
KABUPATEN/ KOTA) tahun 2014 di Kabupaten Bener Meriah.
ANGKET :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Kecamatan
Bukit 15 Orang
Bandar 15 Orang
Timang Gajah 13 Orang
Syiah Utama 5 Orang
Wih Pesam 13 Orang
Permata 10 Orang
Pintu Rime Gayo 12 Orang
Mesidah 7 Orang
Bener Kelipah 5 Orang
Gajah Putih 5 Orang
i
37
Download