185 analisis hukum tentang undang

advertisement
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
185
ISSN : 1858-1099
ANALISIS HUKUM TENTANG UNDANG-UNDANG RAHASIA DAGANG DAN
KETENTUAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM UNDANG-UNDANG
PERLINDUNGAN KONSUMEN
Pitriani
Dosen Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam STAIN Kerinci
[email protected]
Abstrak
Dari kententuan UU Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang yang memberi
perlindungan hukum kepada pemegang hak atas Rahasia Dagang untuk melindungi hampir
semua jenis informasi yang bernilai komersial jika informasi tersebut dikembangkan, dan
dijaga, dalam sebuah cara yang bersifat rahasia. Tidak ada batasan berapa lama Informasi
tersebut akan dilindungi. Sedangkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Pasal 3 (d). memberi perlindungan kepada konsumen yang bertujuan menciptakan sistem
perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan
informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. Kemudian hak konsumen yang diatur
Pasal 4 (c) hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa. Perlindungan rahasia dagang jangan sampai menjadi alat pelaku
usaha untuk melakukan tindakan yang merugikan konsumen, karena itu undang-undang
perlindungan konsumen tetap harus diperhatikan oleh pelaku usaha yang jujur dan
bertanggung jawab dalam melindungi rahasia dagangnya.
Kata Kunci: Analisis Hukum, Rahasia Dagang, Keterbukaan Informasi, Perlindungan
Konsumen
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
186
ISSN : 1858-1099
Pendahuluan
Dunia usaha yang penuh dengan persaingan telah mendorong para pelaku usaha untuk
terus meningkatkan usahanya baik dalam hal peningkatan pendapatan perusahaan maupun
dalam hal peningkatan pelayanan terhadap konsumennya. Peningkatan pelayanan kepada
konsumen bertujuan agar barang yang diproduksi perusahaan dapat diminati oleh konsumen.
Untuk meningkatkan pelayanan ini akhirnya suatu perusahaan termotivasi untuk membuat
produk-produk baru. Pembuatan produk-produk baru ini lahir dari suatu pemikiran/ide, dan
ide-ide ini dianggap berharga sehingga perlu dilindungi. Perlindungan ini ditujukan untuk
menghindari informasi yang berharga di manfaatkan oleh kompetitor dari perusahaan tersebut
untuk saling menjatuhkan. Perlindungan yang diberikan adalah dalam bentuk perlindungan
Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). HaKI dipandang sebagai aset yang berharga dari
perusahaan, karena dengan adanya perlindungan HaKI ini, berarti memberikan hak eklusif
bagi pemegang hak untuk memanfaatkan, menggunakan, dan memberikan hak tersebut pada
pihak lain. HaKI biasanya dibedakan atas : a. hak cipta dan hak yang berkaitan dengan
ciptaan b. hak milik perindustrian. Hak yang digolongkan dalam hak milik perindustrian
antara lain hak merek, paten, desain idustri, tata letak sirkuit, dan rahasia dagang.
“Hukum rahasia dagang melindungi hampir semua jenis informasi yang bernilai
komersial jika informasi tersebut dikembangkan, dan dijaga, dalam sebuah cara yang bersifat
rahasia. Tidak ada batasan berapa lama Informasi tersebut akan dilindungi.” 1
Contoh klasik dari informasi yang dilindungi oleh hukum rahasia dagang adalah
formula pembuatan Coca-Cola. Resep pembuatannya tidak dibuka kepada siapapun
saat resep itu pertama kali ditemukan dan selama 100 tahun, Coca-Cola telah menjaga
kerahasiaan resep tersebut (resep tersebut sebenarnya disimpan dalam kotak
penyimpan yang aman di Amerika dan hanya sedikit dari eksekutif Coca-Cola yang
memiliki akses terhadap resep tersebut). Coca-Cola menggunakan rahasia dagang
untuk melindungi pormulanya, bukan paten (meskipun resep tersebut mungkin dapat
dipatenkan pada saat Coca-Cola pertama kali ditemukan). Alasan utamanya adalah
karena jangka waktu perlindungan paten bersifat terbatas, sedangkan hukum rahasia
dagang memberikan perlindungan yang tidak terbatas. Rahasia dagang juga
melindungi berbagai jenis informasi seperti daftar pelanggan dan metode bisnis. 2
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia
Dagang Pasal 1 ayat 1 yang dimaksud dengan Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak
1
2
Tim Lindsey et. Al., Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, P.T.Alumni, Bandung, 2006, hal. 9.
Ibid
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
187
ISSN : 1858-1099
diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena
berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang.
Kemudian Lingkup rahasia dagang diatur dalam pasal 2 lingkup Rahasia Dagang meliputi
metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di bidang
teknologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat
umum.
Dalam pasal 3 ayat (1). Rahasia Dagang mendapat perlindungan apabila informasi
tersebut bersifat rahasia, mempunyai nilai ekonomi, dan dijaga kerahasiaannya melalui upaya
sebagaimana mestinya. Ayat (2). Informasi dianggap besifat rahasia apabila informasi
tersebut hanya diketahui oleh pihak tertentu atau tidak diketahui secara umum oleh
masyarakat. Ayat (3). Informasi dianggap memiliki nilai ekonomi apabila sifat kerahasiaan
informasi tersebut dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan atau usaha yang bersifat
komersil atau dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi. Ayat 4). Informasi dianggap
dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para pihak yang menguasainya telah melakukan
langkah-langkah yang layak dan patut.
Sebagaimana telah diuraikan diatas dimana UU Nomor 30 tahun 2000 tentang Rahasia
Dagang memberi perlindungan hukum kepada pemegang hak Rahasia Dagang atas informasi
yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai
ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik
Rahasia Dagang.
Sedangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Kunsumen. Pasal 3 (d) Perlindungan konsumen bertujuan untuk menciptakan
sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan
informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. Kemudian Pasal 4 (c) mengatur hak
konsumen atas hak informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa.
“Perlindungan Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum
untuk memberikan perlindungan kepada konsumen”. 3 Pengertian konsumen yang terdapat
dalam pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999, tentang perlindungan konsumen
yaitu:“Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam
3
Endang Sri Wahyuni, Aspek Hukum Sertifikasi & Keterkaitannya dengan Perlindungan Konsumen,
Cet. Kesatu, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal. 90.
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
188
ISSN : 1858-1099
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup
lain dan tidak untuk diperdagangkan”.
Dalam kepustakaan ekonomi dikenal dengan istilah konsumen akhir dan konsumen
antara. Konsumen akhir adalah penggunaan atau pemanfaatan akhir dari suatu produk,
sedangkan konsumen antara adalah konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai
bagian dari proses produksi suatu produk lainnya. Pengertian konsumen yang terdapat dalam
Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999, tentang Perlindungan konsumen merupakan konsumen
akhir.4
Dari adanya kententuan UU Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang yang
memberi perlindungan hukum kepada pemegang hak atas Rahasia Dagang untuk melindungi
hampir semua jenis informasi yang bernilai komersial jika informasi tersebut dikembangkan,
dan dijaga, dalam sebuah cara yang bersifat rahasia. Tidak ada batasan berapa lama Informasi
tersebut akan dilindungi. Sedangkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Pasal 3 (d). memberi perlindungan kepada konsumen yang bertujuan menciptakan sistem
perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan
informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. Kemudian hak konsumen yang diatur
Pasal 4 (c). hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa.
Ketentuan Hukum Tentang Rahasia Dagang dan Keterbukaan Informasi Dalam
Perlindungan Konsumen
Dalam ketentuan umum Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia
Dagang, Pasal 1 Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang
teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha,
dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang. Dalam Pasal 2 mengatur tentang
Lingkup perlindungan Rahasia Dagang meliputi metode produksi, metode pengolahan,
4
Elsi Kartika Sari, Edvendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, Jakarta: PT. Grasindo Persada,
2005. hal. 120.
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
189
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
ISSN : 1858-1099
metode penjualan, atau informasi lain di bidang teknologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai
ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat umum.
Dari pengertian pasal tersebut, bahwa rahasia dagang adalah sebuah informasi yang
sangat berharga untuk perusahaan, karenanya harus dijaga kerahasiaannya. Keberhargaan
informasi ini, karena informasi tersebut dapat mendatangkan keuntungan ekonomis kepada
perusahaan, Undang-undang Rahasia Dagang Nomor 30 tahun 2000 memberikan lingkup
perlindungan rahasia dagang adalah metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan,
atau informasi lain di bidang teknologi dan /atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi, serta
tidak diketahui oleh masyarakat umum. Informasi dalam rahasia dagang dikelompokkan
dalam informasi dibidang teknologi dan informasi dibidang bisnis. Adapun yang dimasukkan
dalam informasi teknologi, adalah:
1. Informasi tentang penelitian dan pengembangan suatu teknologi
2. Informasi tentang produksi/proses
3. Informasi mengenai kontrol mutu
Sedangkan yang dimaksud dalam informasi bisnis, adalah :
1. informasi
yang
berkaitan
dengan
penjualan
dan
pemasaran
suatu
produk
informasi yang berkaitan dengan para langganan
2. informasi tentang keuangan
3. informasi tentang administrasi
Dengan adanya unsur kerahasiaan dalam rahasia dagang ini menyebabkan rahasia
dagang tidak memiliki batas jangka waktu perlindungan, yang terpenting adalah selama
pemilik rahasia dagang tetap melakukan upaya untuk menjaga kerahasiaan dari informasi,
maka informasi ini masih tetap dalam perlindungan rahasia dagang.
Rahasia dagang, jika kita kaitkan dengan perlidungan konsumen akan menekankan
pada bagaimana menyajikan informasi kepada konsumen. Kemudian, memastikan apakah
keberadaan informasi rahasia ini akan mengganggu kepentingan konsumen.
Perlindungan Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum
untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Konsumen adalah setiap orang pemakai
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
190
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
ISSN : 1858-1099
barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Pada hakekatnya, terdapat dua instrumen hukum penting yang menjadi landasan
kebijakan perlindungan konsumen di Indonesia, yakni:
Pertama, Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dari segala sumber hukum di
Indonesia, mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan
masyarakat adil dan makmur. Tujuan pembangunan nasional diwujudkan melalui sistem
pembangunan
ekonomi
yang
demokratis
sehingga
mampu
menumbuhkan
dan
mengembangkan dunia yang memproduksi barang dan jasa yang layak dikonsumsi oleh
masyarakat.
Kedua, Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK).
Lahirnya Undang-undang ini memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, untuk
memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu barang dan jasa.
UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen. Pelaksanaan perlindungan hakhak konsumen dapat dilaksanakan melalui hukum konsumen.“Hukum konsumen adalah
keseluruhan azas-azas dan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan dan masalah penyediaan
dan penggunaan produk (Barang dan/atau jasa) antara penyedia dan penggunanya, dalam
kehidupan bermasyarakat.”5
Sesuai dengan pasal 3 Undang-undang Perlindungan Konsumen, tujuan dari
perlindungan Konsumen adalah
1.
Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri,
2.
Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses
negatif pemakaian barang dan/atau jasa,
3.
Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hakhaknya sebagai konsumen,
4.
Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum
dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi,
5.
Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen
sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha,
5
Az. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar, Diadit Media, Jakarta 2007, hal. 37.
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
6.
191
ISSN : 1858-1099
Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi
barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen.
Asas
Manfaat;
mengamanatkan
bahwa
segala
upaya
dalam
penyelenggaraan
perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan
konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan,
7.
Asas Keadilan; partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan
memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya
dan melaksanakan kewajibannya secara adil,
8.
Asas Keseimbangan; memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku
usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual,
9.
Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen; memberikan jaminan atas keamanan dan
keselamatan kepada konsumen dalarn penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang
dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan;
10. Asas Kepastian Hukum; baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan
memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara
menjamin kepastian hukum.
Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen, Hak-hak Konsumen
adalah :
1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau
jasa;
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut
sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa;
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut;
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila barang dan/atau jasa
yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
192
ISSN : 1858-1099
Transaksi konsumen dibagi dalam tiga tahapan yaitu : 6
a. Tahap pra transaksi
Pada tahap ini penjualan/pembelian barang dan/atau jasa belum terjadi. Pada tahap ini
yang paling penting adalah informasi atau keterangan yang benar, jelas, dan jujur serta
adanya akses dari pelaku usaha yang beritikad baik dan bertanggung jawab. Informasi ini
harus benar materinya, artinya pelaku usaha harus memberikan informasi yang benar
berkaitan dengan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan barang dan jasa, dan
informasi-informasi penting lainnya yang penting bagi konsumen. Pengungkapan
informasi ini harus jelas dan mudah dimengerti oleh konsumen dengan tidak memberikan
dua pengertian yang berbeda bagi konsumen, dan dengan bahasa yang dimengerti oleh
konsumen. Jujur yang dimaksud adalah mengenai penyampaian informasi pelaku usaha
tidak menyembunyikan fakta-fakta penting yang akan mempengaruhi keputusan konsumen
untuk membeli barang dan/atau jasa yang dimaksudkan.
b. Tahap transaksi
Tahap transaksi adalah tahap dimana telah terjadi peralihan kepemilikan barang
dan/atau pemanfaatan jasa tertentu dari pelaku usaha kepada konsumen. Pada tahap ini
yang paling penting adalah syarat-syarat perjanjian pengalihan pemilikan barang dan/atau
pemanfaatan jasa tersebut. Syarat-syarat ini termasuk dilarangnya untuk dimasukkan
syarat-syarat baku yang telah ditetapkan dalam undang-undang perlindungan konsumen.
Hal lain yang menjadi perhatian dalam transaksi konsumen adalah diberikannya
kesempatan bagi konsumen untuk mempertimbangkan apakah akan melakukan transaksi
konsumen atau akan membatalkannya (cooling-off period).
c. Tahap purna transaksi
Pada tahapan ini konsumen telah menggunakan barang dan/atau jasa yang ditawarkan
oleh pelaku usaha. Tidak menjadi masalah bila pada masa ini konsumen merasa puas
dengan barang dan/atau jasa yang telah digunakannya. Tetapi akan berbeda apabila barang
dan/atau jasa itu tidak sesuai dengan informasi yang telah diberikan oleh pelaku usaha,
terlebih lagi jika ternyata dalam menggunakan barang dan/atau jasa terdapat kerugian yang
6
www.Pemantau Peradilan.com, diakses tanggal 17 Mei 2015
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
193
ISSN : 1858-1099
diderita oleh konsumen. Konsumen seharusnya menuntut akan adanya kerugian yang
dideritanya, tetapi seringkali konsumen merasa adalah hal yang buang-buang waktu untuk
menuntut pelaku usaha karena ganti rugi yang diterima belum tentu sepadan dengan biaya
perkara yang sudah dikeluarkan.
Apabila tahap-tahap transaksi diatas kita kaitkan dengan rahasia dagang, maka aspek
yang penting adalah mengenai tersedianya informasi yang benar, jelas, dan jujur bagi
konsumen baik pada masa pra transaksi maupun pada masa transaksi. Sebagaimana kita
ketahui dalam undang-undang perlindungan konsumen salah satu hak dari konsumen adalah
untuk mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai barang dan/atau jasa yang
ditawarkan kepada mereka. Dalam melakukan penawaran dan perdagangan barang dan/atau
jasa bagi pelaku usaha dilarang apabila tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang
dipersyaratkan dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pelaku usaha juga dilarang
untuk memperdagangkan barang yang rusak, cacat, atau bekas, dan tercemar tanpa
memberikan informasi yang jelas kepada konsumen.
Kesemuanya ini menyangkut penyediaan informasi yang benar, jelas, dan jujur dari
pelaku usaha kepada konsumen. Suatu kesalahan apabila pelaku usaha dengan sengaja
menyembunyikan informasi yang tidak benar, jelas, dan jujur kepada konsumen dengan dalih
hal itu merupakan rahasia dagang. Tindakan seperti ini dapat digolongkan sebagai
pelanggaran terhadap undang-undang perlindungan konsumen dan pelaku usaha dapat
dikenakan tuntutan terhadap perbuatannya menyembunyikan informasi. Pada tahap purna
transaksi, apabila terjadi sengketa konsumen dapatkah konsumen menuntut agar pelaku usaha
membuka informasi mengenai barang dan/atau jasanya sampai ke rahasia dagang dari
perusahaan tersebut? Apakah perbuatan pengungkapan rahasia dagang dalam sengketa
konsumen adalah suatu bentuk pelanggaran rahasia dagang walaupun sebagaimana
diungkapkan diatas informasi yang benar, jelas, dan jujur adalah hak dari konsumen? Dalam
perlindungan konsumen pembuktian ada tidaknya unsur kesalahan adalah pada pelaku usaha,
sehingga apabila terjadi pengungkapan terhadap rahasia dagang dari pelaku usaha
pengungkapan rahasia dagang ini dilakukan oleh pelaku usaha sendiri.
Untuk mengungkapkan informasi rahasia juga perlu dilihat sejauh mana kepentingan
konsumen dilanggar oleh pelaku usaha, apakah telah membahayakan kesehatan konsumen,
atau lebih besar lagi membahayakan keselamatan masyarakat. Undang-undang rahasia dagang
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
194
ISSN : 1858-1099
pada pasal 15 menyebutkan bahwa perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran
rahasia dagang adalah apabila tindakan pengungkapan rahasia didasarkan kepada kepentingan
pertahanan keamanan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat. Dengan adanya ketentuan
tersebut berarti keharusan pengungkapan rahasia dagang bukanlah pelanggaran rahasia
dagang.
Jika kepentingan konsumen yang dilanggar oleh pelaku usaha telah membahayakan
kesehatan konsumen maka pengungkapan rahasia dagang adalah suatu hal yang wajib
dilakukan. Pengungkapan ini bukanlah bentuk pelanggaran rahasia dagang. Apabila ternyata
tidak ada pelanggaran hak konsumen yang dilakukan oleh pelaku usaha, bagaimana dengan
informasi yang telah diketahui oleh pihak lain, masih dapatkah dikatakan sebagai informasi
yang bersifat rahasia? Terhadap peristiwa ini pelaku usaha dapat meminta agar informasi ini
dirahasiakan oleh pihak-pihak yang telah mendengarkan /menyaksikan pengungkapan rahasia
dagang tersebut.
Pelaku usaha juga berhak untuk mendapatkan perlindungan agar terhindar dari
konsumen yang beritikad buruk, yang menjadikan sengketa perlindungan konsumen untuk
membuka dengan sengaja rahasia dagang dari pelaku usaha dengan tujuan merugikan pelaku
usaha. Undang-undang perlindungan konsumen mengatur hal diatas sebagai salah satu hak
dari pelaku usaha yaitu pasal 6 huruf a yang menyatakan bahwa pelaku usaha berhak untuk
mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik.
Sesungguhnya perlindungan rahasia dagang diberikan oleh negara adalah dalam lingkup
hukum perdata yang memberikan hak eksklusif kepada pemilik rahasia dagang untuk
memanfaatkan hak eksklusifnya dalam bidang perindustrian. Perlindungan konsumen juga
termasuk dalam lapangan hukum perdata dimana hak konsumen yang dilanggar seringkali
adalah hak-hak perdata konsumen. Tetapi perlindungan konsumen dapat pula masuk dalam
lapangan hukum publik jika hak konsumen yang dilanggar adalah juga hak yang dipandang
mendatangkan bahaya bagi masyarakat pada umumnya misalnya penipuan yang dilakukan
oleh pelaku usaha.
Perlindungan rahasia dagang jangan sampai menjadi alat pelaku usaha untuk
melakukan tindakan yang merugikan konsumen, karena itu undang-undang perlindungan
konsumen tetap harus diperhatikan oleh pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab
dalam melindungi rahasia dagangnya.
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
195
ISSN : 1858-1099
Penutup
Dalam undang-undang perlindungan konsumen salah satu hak dari konsumen adalah
untuk mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai barang dan/atau jasa yang
ditawarkan kepada mereka. Dalam melakukan penawaran dan perdagangan barang dan/atau
jasa bagi pelaku usaha dilarang apabila tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang
dipersyaratkan dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pelaku usaha juga dilarang
untuk memperdagangkan barang yang rusak, cacat, atau bekas, dan tercemar tanpa
memberikan informasi yang jelas kepada konsumen. Kesemuanya ini menyangkut penyediaan
informasi yang benar, jelas, dan jujur dari pelaku usaha kepada konsumen. Suatu kesalahan
apabila pelaku usaha dengan sengaja menyembunyikan informasi yang tidak benar, jelas, dan
jujur kepada konsumen dengan dalih hal itu merupakan rahasia dagang. Tindakan seperti ini
dapat digolongkan sebagai pelanggaran terhadap undang-undang perlindungan konsumen dan
pelaku usaha dapat dikenakan tuntutan terhadap perbuatannya menyembunyikan informasi.
Pelaku usaha juga berhak untuk mendapatkan perlindungan agar terhindar dari konsumen
yang beritikad buruk, yang menjadikan sengketa perlindungan konsumen untuk membuka
dengan sengaja rahasia dagang dari pelaku usaha dengan tujuan merugikan pelaku usaha.
Undang-undang perlindungan konsumen mengatur hal diatas sebagai salah satu hak dari
pelaku usaha yaitu pasal 6 huruf a yang menyatakan bahwa pelaku usaha berhak untuk
mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik.
Daftar Pustaka
Az. Nasution. 2007. Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar.Jakarta: Diadit
Media.
Celina Tri Siwi Kristiyanti. 2008. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta:Sinar Grafika.
Elsi Kartika Sari, 2005, Edvendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, Jakarta: PT.
Grasindo Persada.
Endang Sri Wahyuni, 2003, Aspek Hukum Sertifikasi & Keterkaitannya dengan Perlindungan
Konsumen, Cet. Kesatu, Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti.
Republik Indonesia.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42).
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Al-Qishthu Volume 13, Nomor 2 2015
196
Republik Indonesia.Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 242).
ISSN : 1858-1099
Rahasia Dagang
Tim Lindsey et. Al., 2006, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, Bandung:
P.T.Alumni, Bandung.
www.Pemantau Peradilan.com, diakses tanggal 17 Mei 2015
Diterbitkan Oleh Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci
Download