I. PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya alam terutama

advertisement
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sumberdaya alam terutama sumberdaya lahan dan air, mudah mengalami
kerusakan atau degradasi. Pengelolaan sumberdaya lahan dan air di dalam sistem
DAS (Daerah Aliran Sungai) mempunyai peranan yang semakin penting, terutama
dalam upaya pemanfaatannya secara berkelanjutan. Kerusakan sumberdaya lahan
terutama di bagian hulu DAS akan menurunkan produktivitas lahan, yang
selanjutnya mempengaruhi fungsi produksi, fungsi ekologis, dan fungsi hidrologis
DAS (World Bank 1993).
Degradasi lahan yang diakibatkan erosi di wilayah hulu suatu DAS akan
berpengaruh buruk pada wilayah on-site maupun wilayah off-site. Pada wilayah
on-site yaitu berupa penurunan produktivitas lahan, penurunan pendapatan petani,
dan terjadinya lahan kritis. Sedangkan pada wilayah off-site yaitu sedimentasi,
polusi air, kekeringan, dan banjir. Dengan ataupun tanpa memperhatikan wilayah
hilir (off-site), permasalahan degradasi lahan akan lebih dirasakan dan berdampak
negatif di wilayah hulu (on-site). Menurut Holy (1980), keberhasilan pengelolaan
sumberdaya lahan pada daerah hulu selain menguntungkan daerah tersebut juga
akan dapat menyelamatkan daerah hilirnya, karena menurunnya sedimentasi,
polusi air, resiko banjir dan kekeringan.
Fenomena kerusakan lahan terutama di daerah hulu DAS di Indonesia
terus meningkat, hal ini dapat dilihat berdasarkan jumlah DAS prioritas yang
semakin bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS super
prioritas (Arsyad 2006); pada tahun 1999 terdapat 62 DAS prioritas I, 232 DAS
prioritas II dan 178 DAS prioritas III (Ditjen RRL Dephut 1999); dan pada tahun
2004 jumlah DAS prioritas I meningkat menjadi 65 DAS (Ditjen Sumberdaya Air
2004).
Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo merupakan salah satu DAS yang
mewakili gambaran umum kondisi DAS di Indonesia (khususnya DAS di pulau
Jawa) yang menunjukan kerusakan lahan di daerah hulu, yaitu terutama di SubDAS Progo Hulu. Sub-DAS Progo Hulu merupakan wilayah volkan dari gunung
Sumbing dan gunung Sindoro yang sebenarnya memiliki lahan relatif subur,
2
dengan ketinggian lebih dari 400 m sampai 3250 m dpl; kemiringan lahan dari
landai, bergelombang, berbukit, agak curam, curam sampai sangat curam;
kepadatan penduduk relatif tinggi dengan mata pencaharian pokok bertani
tanaman tembakau, jagung, sayuran, dan padi sawah.
Di wilayah Sub-DAS Progo Hulu, sistem usahatani lahan kering berbasis
tembakau (UTLKBT) memiliki nilai keunggulan komparatif
dan telah
memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sejak masa lalu secara turun
temurun. Nilai keunggulan komparatif dan nilai strategis tanaman tembakau di
wilayah Sub-DAS Progo hulu diantaranya, yaitu : (a) secara agroklimat sebagai
komoditas yang dapat dibudidayakan pada musim kemarau (april-september),
mempunyai nilai ekonomi tinggi dan laku dipasar; (b) tembakau rajangan yang
dihasilkan mempunyai ciri spesifik aromatis berperan sebagai pemberi rasa dan
aroma pada rokok kretek yang sulit dicari penggantinya, hampir semua pabrik
rokok kretek membutuhkannya (Mukani & Isdijoso 2000); (c) menyumbang 7080% total pendapatan petani (Balittas 1994, diacu dalam Rochman dan Suwarso
2000);
(d) berkontribusi dalam pengembangan industri pedesaan (pembuatan
rigen, keranjang, mesin perajang/gobang); (e) berkontribusi dalam pengembangan
jasa transportasi untuk pengangkutan pupuk kandang (dibutuhkan sekitar 40.600
truk pengangkut pupuk kandang per tahun), saprodi, dan hasil panen; (f) terdapat
sekitar 650 pedagang tembakau dalam tataniaga tembaku (pengolah hasil,
pedagang pengumpul, pedagang besar, dan perwakilan pabrik/”grader”) (Andrias
et al. 2003); (g) penyerapan tenaga kerja padat karya dari budidaya sampai pasca
panen; (h) mendukung pengembangan roda perekonomian daerah dan pendapatan
daerah, pada tahun 2002 kontribusi komoditas tembakau terhadap PDRB
Kabupaten Temanggung sebesar Rp. 215.610.380.000,- atau 10,4% (Mamat
2006); (i) secara tidak langsung berfungsi sebagai kawasan “konservasi
biotik/genetik” dari beberapa jenis kultivar tembakau lokal (seperti kemloko,
gober dan sitieng) yang selama ini telah berkembang dan beradaptasi di lereng
gunung Sumbing dan gunung Sindoro yang sering disebut sebagai tembakau
”srintil”.
Didukung oleh lingkungan usaha yang telah terbentuk, UTLKBT di SubDAS Progo Hulu telah membuat petani tidak melakukan diversifikasi usaha.
3
Adanya pertambahan kepadatan penduduk telah mengakibatkan tekanan terhadap
lahan. Tekanan penduduk terhadap lahan mengakibatkan perlakuan ”over
intensif” terhadap lahan kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah
dan air (KTA), serta telah memanfaatkan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi
dan kemampuannya terutama di lereng gunung Sumbing dan gunung Sindoro
yang memiliki kemiringan lereng diatas 30% (Gambar 1). Akibat dari teknik
budidaya yang kurang memperhatikan kaidah KTA, pada kemiringan agak curamcuram, dan curah hujan yang tinggi di wilayah ini telah menyebabkan terjadinya
erosi yang parah dan degradasi lahan (Djajadi 2000; GGWRM-EU 2004).
Gambar 1 a. Kondisi lahan pada UTLKBT di lereng Gunung Sumbing
Gambar 1 b. Kondisi lahan pada UTLKBT di lereng Gunung Sindoro
Gambar 1. Kondisi lahan pada UTLKBT di Sub-DAS Progo Hulu
Besarnya prediksi erosi yang terjadi pada UTLKBT di Sub-DAS Progo
Hulu rata-rata 47,51 ton/ha/tahun (Proyek Pusat Pengembangan Pengelolaan DAS
1990). Besarnya laju erosi pada lahan dengan kemiringan 62% tercatat 53,72
ton/ha/tahun (Djajadi et al. 1994). Berdasarkan peta tingkat bahaya erosi, dapat
dikriteriakan bahwa sebagian besar wilayah usahatani lahan kering di Sub-DAS
Progo Hulu termasuk daerah dengan tingkat bahaya erosi yang berat sampai
sangat berat (Fak. Geografi UGM dan Sub-BRLKT Opak-Progo 1987, diacu
dalam Djajadi 2000). Hal ini dapat dimengerti karena lahan usahatani tersebut
4
mempunyai kelas kemiringan lereng 15-30% (36,7%) dan kemiringan lereng
>30% (28,4%), dengan curah hujan yang tinggi (> 2.000 mm/tahun).
Degradasi lahan akibat erosi pada UTLKBT di Sub-DAS Progo Hulu telah
menyebabkan penurunan kesuburan tanah, penurunan produktivitas lahan, serta
kerusakan lahan dan terjadinya lahan kritis. Penurunan kesuburan tanah ditandai
dengan kebutuhan pupuk kandang dari tahun ke tahun yang semakin meningkat.
Menurut Rachman et al. (1988) dosis pupuk kandang untuk tanaman tembakau
semula cukup sekitar 22,5 ton/ha, dan pada tahun 2000 telah mencapai sekitar 30
ton/ha (Djajadi 2000).
Penurunan produktivitas lahan ditunjukkan oleh tingkat produktivitas
tembakau rajangan yang relatif rendah yaitu berkisar 0,28-0,52 ton/ha dengan
rata-rata 0,429 ton/ha (Isdijoso & Mukani 2000), lebih rendah dibandingkan
tembakau rajangan Madura yang mempunyai produktivitas berkisar 0,58-0,66
ton/ha (Hartono et al. 1991) dan jauh lebih rendah dibandingkan tembakau asepan
Boyolali yang mempunyai produktivitas sekitar 1,2 ton/ha (Syukri 1991).
Sedangkan kerusakan lahan ditandai dengan hilangnya lapisan top soil serta
kenampakan adanya erosi alur (rill erosion), erosi parit (gully erosion), dan bahan
induk tanah, serta terjadinya lahan kritis seluas 3.029 ha (GGWRM-EU 2004).
Menurut Sinukaban (2003), terjadinya lahan kritis disebabkan oleh adanya
proses degradasi lahan. Degradasi lahan merupakan suatu proses kemunduran
kualitas lahan atau produktivitas lahan menjadi lebih rendah, baik bersifat
sementara maupun permanen, sehingga pada akhirnya lahan tersebut berada
pada tingkat kekritisan tertentu (Dent 1993).
Apabila mengacu pada kondisi biofisik lahan dan cara-cara budidaya yang
dilakukan petani, dapat diprediksi bahwa degradasi lahan akan semakin
meningkat dan mengancam keberlanjutan sistem UTLKBT di Sub-DAS Progo
Hulu. Apabila tidak segera dilakukan upaya perbaikan agroteknologinya
menyebabkan sistem UTLKBT tidak berkelanjutan dan terjadinya lahan kritis
(lahan tidak produktif) yang pada gilirannya berdampak pada pemiskinan petani.
Untuk itu perlu dilakukan perbaikan/penyempurnaan sistem UTLKBT yang
sedang berjalan menjadi Sistem Pertanian Konservasi (SPK). SPK adalah
merupakan sistem pertanian yang mengintegrasikan tindakan/teknik konservasi
5
tanah dan air ke dalam sistem pertanian yang telah ada dengan tujuan untuk
menekan erosi atau mengendalikan degradasi lahan (erosi ≤ erosi yang dapat
ditoleransikan), meningkatkan pendapatan petani (pendapatan ≥ nilai kebutuhan
hidup layak) dengan menggunakan agroteknologi yang memadai serta bersifat site
specifik (khas kondisi setempat) (Sinukaban 2007).
Berdasarkan uraian di atas, maka
dilakukan penelitian tentang
Pengembangan Usahatani Lahan Kering Berkelanjutan Berbasis Tembakau di
Sub-DAS Progo Hulu, yang meliputi : kajian kondisi eksisting UTLKBT tentang
kondisi biofisik lahan dan karakteristik usahatani, dan kajian pengaruh teknologi
KTA spesifik lokasi terhadap limpasan permukaan dan erosi. Karakteristik
kondisi biofisik lahan dan karakteristik usahatani, serta teknologi KTA spesifik
lokasi tersebut sangat diperlukan dalam merumuskan perencanaan SPK yang
komprehensif untuk pengembangan usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis
tembakau di Sub-DAS Progo Hulu (Kabupaten Temanggung Propinsi Jawa
Tengah).
Perumusan Masalah
Adapun permasalahan yang menjadi pokok perhatian dan pendekatan
dalam penelitian ini adalah :
1. Sistem usahatani lahan kering berbasis tembakau (UTLKBT) di Sub-DAS
Progo Hulu selama ini telah memberikan kesejahteraan kepada petani secara
turun temurun, disamping itu juga telah menyebabkan terjadinya pemanfaatan
lahan secara ”over intensif” kurang memperhatikan kaidah konservasi tanah
dan air. Erosi tanah pada kawasan UTLKBT sudah berlangsung cukup lama
dan disinyalir telah menyebabkan terjadinya degradasi lahan, ditandai
dengan hilangnya lapisan tanah bagian atas (top soil) yang subur,
menurunnya kesuburan tanah dan produktivitas lahan, serta menyebabkan
usahatani menjadi semakin tidak efisien karena input usahatani terutama
pupuk yang semakin meningkat.
2. Tingkat degradasi lahan yang telah berlangsung selama ini sudah mengancam
keberlanjutan sistem UTLKBT di Sub-DAS Progo Hulu. Apabila dibiarkan
dan tidak segera dilakukan upaya perbaikan/penyempurnaan dalam teknologi
6
konservasi tanah dan air (KTA), lahan yang telah mengalami proses degradasi
tersebut akan menjadi tambah rusak, dan akhirnya menjadi lahan kritis (lahan
tidak produktif) yang selanjutnya berdampak pada pemiskinan petani. SPK
merupakan solusi tepat untuk mengatasi permasalahan degradasi lahan dan
upaya pengembangan sistem usahatani lahan kering (UTLK) berkelanjutan
berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu. Untuk itu diperlukan kajian
pengembangan usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di
Sub-DAS Progo Hulu, dengan memperhatikan kondisi biofisik lahan dan
kondisi sosial ekonomi petani.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka pertanyaan dalam penelitian ini
adalah :
1.
Bagaimana kondisi eksisting usahatani lahan kering berbasis tembakau di
Sub-DAS Progo Hulu, dari aspek biofisik lahan dan sosial ekonomi
(karakteristik usahatani)?
2.
Bagaimana teknologi konservasi tanah dan air (KTA) spesifik lokasi yang
sesuai dan memadai?
3. Bagaimana merumuskan perencanaan sistem pertanian konservasi untuk
mewujudkan sistem UTLK berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS
Progo Hulu ?
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian :
1. Mengkaji kondisi biofisik lahan dan karakteristik usahatani lahan kering
berbasis tembakau di Sub-DAS Progo hulu.
2. Mengkaji pengaruh teknologi konservasi tanah dan air (KTA) spesifik lokasi
terhadap limpasan permukaan dan erosi.
3. Merumuskan perencanaan sistem pertanian konservasi untuk mewujudkan
sistem usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS
Progo Hulu.
7
Manfaat Penelitian :
1. Memberikan gambaran kondisi eksisting usahatani
lahan kering berbasis
tembakau di Sub-DAS Progo Hulu.
2. Menjadi bahan pertimbangan bagi petani, pemerintah daerah, dan peneliti di
dalam pengembangan usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau
di Sub-DAS Progo Hulu.
3. Sebagai data dasar (benchmark data) untuk penelitian selanjutnya di bidang
konservasi tanah dan air, serta bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam merumuskan sistem usahatani lahan kering berkelanjutan.
Kerangka Pemikiran dan Landasan Teori
Usahatani lahan kering berbasis tembakau merupakan sistem usahatani
lahan kering dimana tanaman tembakau sebagai komoditas unggulan sehingga
petani lebih memilih menanam tembakau dibandingkan komoditas lain. Tanaman
tembakau ditanam petani pada musim kemarau (april-september), sedangkan
tanaman jagung dan sayuran (cabe, bawang daun, bawang putih, kubis, bawang
merah, tomat, dan lainnya) ditanam petani pada musim penghujan (oktobermaret). Permasalahan utama pada usahatani lahan kering berbasis tembakau
(UTLKBT) di Sub-DAS Progo Hulu adalah kemunduran daya dukung lahan
(degradasi lahan) akibat erosi yang parah dan telah berlangsung selama ini
(Djajadi 2000; GGWRM-EU 2004).
Degradasi lahan pada UTLKBT di Sub-DAS Progo Hulu telah
menyebabkan penurunan kesuburan tanah, penurunan produktivitas lahan, serta
kerusakan lahan dan terjadinya lahan kritis. Penurunan kesuburan tanah ditandai
dengan kebutuhan pupuk kandang dari tahun ke tahun yang semakin meningkat,
menurut Rachman et al. (1988) dosis pupuk kandang untuk tanaman tembakau
semula cukup sekitar 22,5 ton/ha, dan pada tahun 2000 telah mencapai sekitar 30
ton/ha (Djajadi 2000). Penurunan produktivitas lahan ditunjukkan oleh tingkat
produktivitas tembakau rajangan yang relatif rendah yaitu berkisar 0,28-0,52
ton/ha dengan rata-rata 0,429 ton/ha (Isdijoso & Mukani 2000), lebih rendah
dibandingkan tembakau rajangan Madura yang mempunyai produktivitas berkisar
0,58-0,66 ton/ha (Hartono et al. 1991). Sedangkan kerusakan lahan ditandai
8
dengan hilangnya lapisan top soil
serta kenampakan adanya erosi alur (rill
erosion), erosi parit (gully erosion), dan bahan induk tanah, serta terjadinya lahan
kritis seluas 3.029 ha (GGWRM-EU 2004).
Perencanaan Sistem Pertanian Konservasi (SPK) merupakan solusi tepat
untuk mengatasi permasalah degradasi lahan dan upaya pengembangan UTLK
berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu dalam kerangka
pengelolaan DAS yang lestari. Perencanaan SPK bertujuan untuk mewujudkan
sistem usahatani yang berkelanjutan, yang merupakan salah satu pendekatan
atau implementasi dari pembangunan berkelanjutan (upaya mensinkronkan dan
memberi bobot yang sama terhadap tiga aspek, yaitu aspek ekologi, aspek
ekonomi, dan aspek sosial budaya).
Menurut Sinukaban (2007), Sistem Pertanian Konservasi (SPK) adalah
sistem pertanian yang mengintegrasikan tindakan/teknik konservasi tanah dan air
ke dalam sistem pertanian yang telah ada dengan tujuan untuk meningkatkan
pendapatan petani, meningkatkan kesejahteraan petani dan sekaligus menekan
erosi, sehingga sistem pertanian tersebut dapat berlanjut secara terus menerus
tanpa batas waktu (sustainable).
SPK merupakan sistem pertanian yang khas
kondisi setempat (site specifik), dengan demikian maka pemilihan tindakan
konservasi tanah, sistem pertanian dan pengelolaannya, serta agroteknologi yang
akan diterapkan harus disesuaikan dengan keadaan setempat.
Langkah-langkah yang harus dilakukan di dalam perencanaan SPK adalah,
meliputi : (a) inventarisasi keadaan biofisik daerah, (b) inventarisasi keadaan
sosial ekonomi petani, dan (c) inventarisasi pengaruh luar (Sinukaban 2007).
Inventarisasi keadaan biofisik wilayah, seperti aspek penggunaan lahan, iklim,
geologi, topografi, dan sifat-sifat tanah.
Data ini akan diperlukan untuk
menganalisis kelas kemampuan lahan, tingkat degradasi lahan yang sudah terjadi,
prediksi erosi dan nilai erosi yang dapat ditoleransikan (ETol), menentukan
agroteknologi yang diperlukan, serta teknik konservasi yang cocok dan memadai.
Inventarisasi keadaan sosial ekonomi petani, seperti : jumlah anggota keluarga,
tingkat pendidikan, pemilikan lahan, pengetahuan teknologi budidaya dan pasca
panen, pendapatan usahatani, serta persepsi tentang erosi dan perspektif
keberlanjutan usahatani. Inventarisasi pengaruh luar, seperti pasar/pemasaran
9
hasil, perangkat penyuluhan, lembaga keuangan pedesaan, dan organisasi yang
berkaitan dengan petani. Kondisi biofisik dan sosial ekonomi merupakan faktor
yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan perencanaan SPK untuk
pengembangan sistem usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di
Sub-DAS Progo Hulu, sedangkan faktor luar (eksternal) merupakan pendukung
implementasi perencanaan tersebut. Oleh karena itu SPK nantinya dapat
diterapkan secara optimal sesuai konsep sistem pertanian berkelanjutan, yaitu
pemilihan alternatif agroteknologi dan komoditi dapat mengurangi erosi ≤ nilai
ETol, dapat menjamin pendapatan yang cukup tinggi (pendapatan petani ≥ nilai
kebutuhan hidup layak), serta dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan
(replicable) oleh petani.
Berdasarkan pemikiran diatas, maka dilakukan kajian pengembangan
usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu,
dengan melakukan berbagai kajian/analisis kondisi biofisik lahan dan karakteristik
usahatani, serta percobaan teknologi KTA spesifik lokasi untuk pengembangan
usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu,
sebagaimana disajikan dalam diagram alir kerangka pemikiran pada Gambar 2.
10
P
E
R
M
A
S
A
L
A
H
A
N
Pengelolaan
Lahan Kurang
Sesuai Kaidah
Konservasi
Penurunan Kualitas Biofisik
(Lahan kritis, Kesuburan tanah
menurun, Produktivitas menurun)
DEGRADASI
LAHAN
Usahatani Lahan Kering Berbasis Tembakau
di Sub-DAS Progo Hulu
•
•
•
Karakteristik Biofisik :
Tanah, geologi, tofografi
Penggunaan lahan
Iklim
Kelas
Kemampuan
Lahan
Indikator
Erosi ≤ ETol
Prediksi Erosi
&
Nilai ETol
Penurunan Kesejahteraan Petani
(Pendapatan petani menurun,
Kebutuhan hidup layak kurang
terpenuhi)
Karakteristik Sosial-Ekonomi Petani :
• Karakteristik petani & usahatani
• Perspektif keberlanjutan usahatani
(keterlibatan konservasi)
Tingkat
Degradasi
Lahan
Percobaan
Petak Erosi
Analisis
Usahatani
(Plot Erosi)
Perencanaan
Sistem Pertanian Konservasi
(Simulasi Agroteknologi)
Usahatani Lahan Kering Berkelanjutan Berbasis Tembakau
di Sub-DAS Progo Hulu
Gambar 2. Diagram alir kerangka pemikiran dalam penelitian
Indikator
Pendapatan
≥ KHL
11
Batasan dan Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah pengembangan usahatani lahan kering
berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo hulu. Penelitian ini
difokuskan pada kawasan lahan kering di Sub-DAS Progo Hulu yang digunakan
untuk usahatani berbasis tembakau, jadi tidak termasuk lahan sawah, kebun
campuran, dan hutan. Adapun ruang lingkup penelitian meliputi :
1. Lokasi penelitian adalah kawasan usahatani lahan kering berbasis tembakau di
Sub-DAS Progo Hulu. Lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah
tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam
setahun (lahan tegalan). Usahatani berbasis tembakau merupakan sistem
usahatani dimana tanaman tembakau sebagai komoditas unggulan (utama)
sehingga petani lebih memilih menanam tembakau dibandingkan komoditas
lain.
2. Penelitian kondisi eksisting usahatani lahan kering berbasis tembakau di SubDAS Progo hulu, meliputi kondisi biofisik lahan (kelas kemampuan lahan,
prediksi erosi dan ETol, tingkat degradasi lahan) dan karakteristik usahatani
(jenis pola tanam, karakteristik petani, analisis usahatani dan kelayakan
usahatani).
3. Penelitian valuasi kerugian ekonomi akibat erosi difokuskan pada ”on site”
(lokasi kejadian erosi).
4. Penelitian pengaruh teknologi KTA spesifik lokasi terhadap limpasan
permukaan dan erosi dilakukan pada ”teras batu” (teras bangku yang diperkuat
dengan batu) dan teras bangku miring, dengan pemberian mulsa sisa tanaman
berupa batang tembakau sisa panen dan rumput Setaria spacelata sebagai
penguat teras.
5. Pengembangan usahatani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di
Sub-DAS Progo Hulu diwujudkan dengan perencanaan sistem pertanian
konservasi (SPK) yang dilakukan dengan pendekatan secara komprehensif
(mengintegrasikan aspek biofisik dan aspek sosial ekonomi) dan teknologi
KTA bersifat ”site specific” (khas kondisi setempat).
6. Usahatani lahan kering berkelanjutan merupakan sistem usahatani lahan kering
yang mampu mensinkronkan dan memberi bobot yang sama pada tiga aspek
12
(aspek ekologi,
ekonomi, dan sosial-budaya) dalam satu hubungan yang
sinergis untuk mencapai produktivitas dan pendapatan yang cukup tinggi
secara terus menerus (umur guna 250 tahun), sumberdaya alam (lahan, air dan
genetik tanaman) terpelihara atau tidak terdegradasi, serta sesuai dengan
kondisi sosial budaya setempat.
Kebaruan (Novelty)
Kebaruan (novelty) dari penelitian yang berjudul ”Pengembangan
Usahatani Lahan Kering Berkelanjutan Berbasis Tembakau di Sub-DAS Progo
Hulu, adalah perumusan pengembangan usahatani lahan kering berkelanjutan
berbasis tembakau dengan menggunakan tiga indikator keberlanjutan yaitu : (a)
indikator ekologi (nilai prediksi erosi ≤ nilai ETol), (b) indikator ekonomi
(pendapatan petani ≥ nilai KHL), dan (c) indikator sosial (teknologi dapat
diterapkan dan dikembangkan petani); serta teknologi KTA bersifat spesifik
lokasi.
Download