(State Of Art) Bab ini berisi mengenai penelitian

advertisement
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Penelitian Sebelumnya (State Of Art)
Bab ini berisi mengenai penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh
peneliti lain baik secara nasional dan internasional yang berhubungan dengan peran
Komisi Penyiaran dalam mengawasi program–program siaran, serta penelitian yang
penulis lakukan.
Dalam bab ini saya selaku peneliti dan para peneliti terdahulu mencoba menjelaskan
mengenai fokus penelitian, tujuan penelitian, teori, dan hasil dari penelitian yang
dilakukan agar dapat dijadikan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya terkait dengan
peran KPI meliputi Penelitian selanjutnya mengenai. “Peranan Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI) Pusat terhadap tayangan infotaiment di televisi” menghasilkan
kesimpulan bahwa bahwa KPI mendapat aduan dari masyarakat mengenai tayangan
infotaiment. KPI menetapkan bahwa tayangan infotaiment merupakan program nonfaktual. Penelitian mengenai “Peranan KPI dalam mengawasi tayangan sinetron
religi muslimah di Indosiar” menggunakan studi kasus pada sinetron Inayah, Mualaf
dan Muslimah periode bulan Juli–Agustus 2009 memiliki kesimpulan bahwa peranan
KPI sudah mulai berjalan dengan baik. Hanya saja KPI harus lebih tegas lagi dalam
memberikan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh lembaga penyiaran
agar tidak dianggap sebelah mata oleh lembaga penyiaran, Penelitian mengenai
“Sikap Komisi Penyiaran Indonesia Terhadap Klasifikasi Program Siaran”
menggunakan Studi Kasus Tayangan Indonesia Lawak Klub Trans7 Periode AprilMei 2014 menghasilkan sikap dari KPI dalam mengklasifikasi siaran ILK di bulan
April dan Mei dalam meninjau bentuk pelanggaran yang terjadi dalam program
tersebut, hasil tersebut didapati dari tim pemantauan langsung yang dilakukan tim
KPI yang diverifikasikan kepada informan dalam hasil wawancara. Penelitian
mengenai “The use of social science evidence by the Federal Communications
Commission in the construction and enforcement of media ownership policy by
Terry” menghasilkan bahwa kurangnya bukti yang mendukung bukan masalah baru,
juga memiliki lembaga yang mengambil langkah yang diperlukan untuk
mengevaluasi efek dari implementasi kebijakan. Penelitian mengenai “The role of
the Federal Communications Commission, Congress and the courts in the battle
7
8
between commercial broadcasters and cable television operators: Must-carry, the
digital transition and beyond by Deeley” mendapatkan hasil bahwa untuk
mengidentifikasi pelajaran yang bisa dipelajari dari hubungan yang kompleks dan
berkembang ini. Disertasi ini juga menjajaki tantangan menerapkan kebijakan yang
dirancang untuk infrastruktur telekomunikasi analog ke digital yang muncul di dunia
didominasi yang menggantikannya.
Untuk lebih jelasnya, berikut dipaparkan perbedaan masing – masing
penelitian dalam table penelitian terdahulu.
Tabel 2.1 Penelitian Sebelumnya (State of the Art )
NO
ASPEK
DEVI RAHAYU
/ Universitas
Islam Negeri
Syarif
Hidayatullah
Jakarta / 2010
ADE
SURYANI /
Universitas
Mercu Buana /
2009
AJI KARYADI
/ Universitas
Bina Nusantara
/ 2014
1
Judul
Peranan Komisi
Penyiaran
Indonesia (KPI)
Pusat terhadap
tayangan
infotaiment di
televisi.
Peranan KPI
dalam
mengawasi
tayangan
sinetron religi
muslimah di
Indosiar (Studi
Kasus Pada
Sinetron
Inayah, Mualaf
dan Muslimah
Periode Bulan
Juli – Agustus
2009)
Sikap Komisi
Penyiaran
Indonesia
Terhadap
Klasifikasi
Program Siaran
(Studi Kasus
Tayangan
Indonesia
Lawak Klub
Trans7 Periode
April – Mei
2014)
2
Fokus
Penelitian
Penelitian ini
berfokus pada
bagaimana
Peranan Komisi
Penelitian ini
berfokus pada
bagaimana
Peranan KPI
Penelitian ini
berfokus pada
bagaimana
Sikap Komisi
CHRISTOPHE
R ROBERT,
Ph.D., / The
University of
Wisconsin –
Madison /
2012
The use of
social science
evidence by the
Federal
Communicatio
ns Commission
in the
construction
and
enforcement of
media
ownership
policy by Terry
DAVIS JOSEPH,
Ph.D., / University
Of Florida / 2009
SRI
KAYUNISARI
NINGSIH/
Universitas
Bina Nusantara
/ 2015
The role of the
Federal
Communications
Commission,
Congress and the
courts in the battle
between
commercial
broadcasters and
cable television
operators: Must carry, the digital
transition and
beyond by Deeley
Peran
KPI
Terhadap
Dalam
Menangani
Muatan
Kekerasan
Terhadap
Program
Sinetron (Studi
Kasus
Pada
Sinetron
GantengGanteng
Serigala)
Sifat kompetitif
dari hubungan
antara siaran
televisi komersial
Fokus
pada
penelitian ini
adalah
bagaimana
9
10
3
Tujuan
Penelitian
Penyiaran
Indonesia Pusat
terhadap
tayangan
infotaiment di
televisi?
dalam
mengawasi
tayangan
sinetron religi
muslimah di
Indosiar?
Penyiaran
Indonesia
terhadap
klasifikasi
program siaran
Indonesia
Lawak Klub
Trans7?
Tujuan
penelitian ini
terbagi menjadi
tujuan secara
umum dan
khusus yaitu :
1. Secara umum
ingin
memberikan
kontribusi
kepada
khalayak
berupa tulisan
dan teori
mengenai KPI
Tujuan dari
penelitian ini
adalah
bagaimana
Peranan Komisi
Penyiaran
Indonesia
terhadap
pengawasan
tayangan
sinetron religi
muslimah di
Indosiar
Pada tujuan
penelitian
dibagi menjadi
tujuan umum
dan tujuan
khusus, yaitu:
Tujuan Umum
Penelitian ini
merupakan
sebuah studi
kualitatif
mengenai
peranan KPI
dalam
mengklarifikasi
dan televisi kabel
(CATV) dan
bagaimana
mengelola dan
mengendalikan itu
telah menjadi
fokus dari
Kongres, Federal
Communications
Commission
(FCC), dan
pengadilan selama
lebih dari lima
puluh tahun?
Disertasi ini
Studi ini meneliti
membahas
sejarah ini
sejarah
hubungan
hubungan
peraturan penting
kepemilikan
antara pemerintah
keanekaragama federal, penyiaran
n, dimulai
dan operator
dengan FCC
CATV. Ia
1975 larangan mencoba untuk
Koranmengidentifikasi
Broadcast
pelajaran yang bisa
Lintas
dipelajari dari
Kepemilikan,
hubungan yang
dan melacak
kompleks dan
perkembangan berkembang ini
peran
KPI
terhadap
pengawasan
Program
Sinetron yang
mengandung
unsur
kekerasan?
Tujuan
dari
penelitian ini
adalah untuk
memberikan
informasi
mengenai
bagaimana
peran Komisi
Penyiaran
Indonesia
terhadap
Program
Sinetron Yang
Bermuatan
Kekerasan.
Pusat. Serta
mengetahui
peranan
Komisi
Penyiaran
Indonesia
Pusat terhadap
tayangan
televisi.
2. Secara
khusus,
peneliti ingin
memperoleh
wawasan dan
pengetahuan
mengenai
Komisi
Penyiaran
Indonesia (
Pusat ) yang
merupakan
lembaga
independen
dan
mengetahui
ketentuan
yang
ditentukan
KPI dalam
bentuk siaran
program ILK di
Trans7.
Penelitian ini
bertujuan untuk
mengetahui
bagaimana
sikap KPI
dalam
klasifikasi
siaran program
ILK.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus
dalam
penelitian ini
yakni:
1. Diketahuinya
hubungan
berkesinamb
ungan antara
regulasi
penyiaran
yang
dibentuk KPI
dengan
literasi media
untuk
mengklasifik
kebijakan
kepemilikan
media melalui
perubahan
industri
penyiaran yang
dimulai setelah
berlalunya
1996
Telekomunikas
i UndangUndang. 1039
keputusan
individu pada
kepemilikan
media
dianalisis
untuk bukti
bahwa badan
tersebut telah
dinilai efek
kepemilikan
terhadap
keanekaragama
n sudut
pandang.
11
12
memberikan
batasan
terhadap suatu
tayangan.
4
Metodologi Metode yang
digunakan
deskriptif
analisis, yaitu
dengan
menggambarkan
peranan KPI
Pusat terhadap
tayangan
infotaimen di
televisi.
asikan
sebuah
program
tayangan
guna
kepentingan
masyarakat.
2. Diketahuinya
klasifikasi
tayangan ILK
oleh KPI.
Metode
Penelitian ini
penelitian ini
menggunakan
bersifat
pendekatan
deskriptif
kualitatif
dengan metode dengan desain
studi kasus,
deskriptif
pengumpulan
kualitatif, yaitu
data dilakukan
dengan
melalui
menggambarka
wawancara
n peranan KPI
mendalam
Pusat dalam
dengan
pengklarifikasia
narasumber
n tayangan
yang dinilai
Indonesia
mempunyai
Lawak Klub
kemampuan
(ILK) di
serta kapabilitas Trans7.
sesuai dengan
Metode yang
digunakan
adalah metode
kualitatif
dengan
pembahasan
tentang metode
kualitatif
subjektif secara
mendalam,
teknik
pengumpulan
melalui
wawancara
dengan
informan dan
teknik
keabsahan data
bidangnya
masing-masing.
5
Teori
Teori yang
digunakan
adalah teori
peran, selain dari
psikologi teori
peran juga lahir
dari sosiologi
dan antropologi.
Teori penelitian
ini mengunakan
teori
komunikasi
massa, televisi
sebagai media
massa, dan KPI.
6
Hasil
Penelitian ini
menemukan
bahwa KPI
mendapat aduan
dari masyarakat
mengenai
tayangan
infotaiment. KPI
Hasil penelitian
ini menunjukan
bahwa peranan
KPI sudah
mulai berjalan
dengan baik.
Hanya saja KPI
harus lebih
Teori yang
digunakan
adalah teori
komunikasi
massa dan teori
komunikasi
sikap dan teori
khusus yang
digunakan
adalah teori
regulasi
penyiaran dan
teori literasi
media
Penulis
mendapatkan
temuan, sikap
dari KPI dalam
mengklasifikasi
siaran ILK di
bulan April dan
Mei dalam
yang didapat
selama
penelitian
dianalisa
melalui
wawancara dan
analisa data.
Teori
yang
digunakan
dalam
penelitian ini
adalah
;teori
komunikasi
massa,
teori
komunikasi
organisasi,
Teori
Etika
Komunikasi
Kekerasan
Penulis
menyimpulkan
bahwa
kurangnya
bukti yang
mendukung
bukan masalah
baru, juga
Peneliti mencoba
menyimpulkan
bahwa untuk
mengidentifikasi
pelajaran yang bisa
dipelajari dari
hubungan yang
kompleks dan
Hasil
Penelitian ini
menunjukan
bahwa Peranan
KPI
dalam
menangani
muatan
kekerasan
13
14
menetapkan
bahwa tayangan
infotaiment
merupakan
program nonfaktual.
tegas lagi dalam
memberikan
sanksi terhadap
pelanggaran
yang dilakukan
oleh lembaga
penyiaran agar
tidak dianggap
sebelah mata
oleh lembaga
penyiaran.
meninjau
bentuk
pelanggaran
yang terjadi
dalam program
tersebut, hasil
tersebut
didapati dari
tim pemantauan
langsung yang
dilakukan tim
KPI yang
diverifikasikan
kepada
informan dalam
hasil
wawancara.
memiliki
lembaga yang
mengambil
langkah yang
diperlukan
untuk
mengevaluasi
efek dari
implementasi
kebijakan.
berkembang ini.
Disertasi ini juga
menjajaki
tantangan
menerapkan
kebijakan yang
dirancang untuk
infrastruktur
telekomunikasi
analog ke digital
yang muncul di
dunia didominasi
yang
menggantikannya.
terhadap
program
sinetron
GantengGanteng
Serigala sudah
dilakukan
dengan baik.
15
2.2
Landasan Konseptual
2.2.1 Pengertian Komunikasi
2.2.1.1 Definisi Komunikasi
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata
Latin communis yang berarti “sama”, communico,communication, atau communicare
yang berarti “membuat sama” (to make common).
Komunikasi adalah topik yang amat sering diperbincangkan, bukan hanya di
kalangan ilmuwan komunikasi, melainkan juga di kalangan awam, sehingga kata
komunikasi itu sendiri memiliki terlalu banyak arti yang berlainan.
Komunikasi adalah proses sosial dimana individu – individu menggunakan
simbol – simbol untuk menciptakan dan mengintrepretasikan makna dalam
lingkungan mereka.
Dalam buku yang ditulis oleh Deddy Mulyana (2007) terdapat beberapa
definisi tentang komunikasi dari beberapa ahli, yaitu sebagai berikut :
1. Menurut Bernard Berelson dan Gary A. Steiner : “Komunikasi: transmisi
informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan
menggunakan simbol – simbol, kata – kata, gambar, figur, grafik, dan
sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut
komunikasi.“
2. Menurut Carl I. Hovland : “Komunikasi adalah proses yang
memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan
(biasanya lambang–lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain
(komunikate)“
3. Menurut Everett M. Rogers : “Komunikasi adalah proses dimana suatu
ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan
maksud untuk mengubah tingkah laku mereka”
4. Menurut Harold Lasswell : “(Cara yang baik untuk menggambarkan
komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut)
Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect ? Atau
Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan
Pengaruh Bagaimana?”
Berdasarkan definisi Lasswell diatas dapat dijelaskan mengenai 5 unsur yang
terdapat dalam proses komunikasi, yaitu:
16
a.
Sumber atau Komunikator (Who Says)
Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai
kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu,
kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan suatu negara.
b.
Pesan (What)
Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada
penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan atau
nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan, atau maksud sumber
tadi. Pesan mempunyai 3 komponen: makna, symbol yang digunakan
untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisasi pesan
c.
Media atau Saluran (In Which Channel)
Saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan
sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.
d.
Penerima (To Whom)
Penerima
(receiver),
sering
juga
disebut
sasaran/tujuan
(destination), komunikate (communicate), penyandi balik (decoder ) atau
khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (interpreter), yakni
orang yang menerima pesan dari sumber.
e.
Efek (With What Effect)
Efek yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima
pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu
menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi
setuju), perubahan keyakinan dan perubahan perilaku (dari tidak bersedia
membeli barang yang ditawarkan menjadi bersedia membelinya), dan
sebagainya
17
Gambar 2.2 Landasan Konseptual
Sebenarnya, dalam peristiwa komunikasi begitu banyak unsur yang terlibat.
Semua unsur itu saling bergantungan dan atau tumpang tindih, namun diasumsikan
terdapat unsur-unsur utama yang dapat diidentifikasi dan dimasukan kedalam suatu
model.
2.2.1.2 Konsep Komunikasi
2.2.2 Komunikasi Massa
2.2.2.1 Definisi Komunikasi Massa
Menurut buku yang ditulis oleh Nurudin (2007) Komunikasi massa adalah
komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik).
Menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) disebutkan,
“Komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan–pesan yang diproduksi
18
secara massal/tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas,
anonym, dan heterogen“.
2.2.2.2 Fungsi – Fungsi Komunikasi Massa
Dalam membicarakan fungsi – fungsi komunikasi massa, ada suatu hal yang
perlu disepakati terlebih dahulu. Ketika kita membicarakan fungsi komunikasi massa
yang harus ada dalam benak kita adalah kita juga sedang membicarakan fungsi
media massa. Mengapa? Karena komunikasi massa berarti komunikasi lewat media
massa. Ini berarti, komunikasi massa tidak akan ditemukan maknanya tanpa
menyertakan media massa sebagai elemen terpenting dalam komunikasi massa.
Sebab, tidak ada komunikasi massa tanpa ada media massa.
Dalam buku yang ditulis oleh Nurudin (2007), Fungsi komunikasi massa
menurut Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) antara lain: (1) to inform
(menginformasikan), (2) to entertain (memberi hiburan), (3) to persuade
(membujuk), dan (4) transmission of the culture (transmisi budaya). Sementara itu,
fungsi komunikasi massa menurut John Vivian dalam bukunya The Media of Mass
Communication (1991) disebutkan; (1) providing information, (2) providing
entertainment, (3) helping to persuade, dan (4) contributing to social cohesion
(mendorong kohesi sosial). Ada pula fungsi komunikasi massa yang pernah
dikemukakan oleh Harold D. Laswell yakni, (1) surveillance of the environment
(fungsi pengawasan), (2) correlation of the part of society in responding to the
environment (fungsi korelasi), (3) transmission of the social heritage from one
generation to the next (fungsi pewarisan social). Sama seperti pendapat Laswell,
Charles Robert Wright (1988) menambah fungsi entertainment (hiburan) dalam
fungsi komunikasi massa.
Alexis S. Tan(1981) fungsi komunikasi bisa beroperasi dalam 4 hal.
Meskipun secara eksplisit ia tidak mengatakan fungsi komunikasi massa, tetapi
ketika ia menyebut bahwa penerima pesan dalam komunikasi bisa merupakan
kumpulan orang (a group of persons) atau ia menyebutnya mass audience,
sedangkan pengirim pesan atau komunikatornya termasuk kelompok orang atau
media massa, itu sudah dapat dijadikan bukti bahwa fungsi yang dimaksud adalah
fungsi komunikasi massa. (Nurudin,2007)
19
2.2.2.3 Ciri – Ciri Komunikasi Massa
Ciri – ciri komunikasi massa adalah sebagai berikut :
1. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga
Komunikator dalam komunikasi massa bukan satu orang, tetapi
kumpulan orang. Artinya, gabungan antar berbagai macam unsur dan
bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud
di sini menyerupai sebuah sistem.
Di dalam sebuah sistem ada interpendensi, artinya komponen–
komponen itu saling berkaitan, berinteraksi, dan berinterpendensi secara
keseluruhan. Eksistensi kesatuan (totalitas) dipengaruhi oleh komponen–
komponennya,
sebaliknya
eksistensi
masing–masing
komponen
dipengaruhi oleh kesatuannya.
Di dalam komunikasi massa, komunikator merupakan lembaga
media massa itu sendiri. Itu artinya, komunikatornya bukan orang per
orang seperti seorang wartawan misalnya.
Menurut Alexis S. Tan (1981) komunikator dalam komunikasi
massa adalah organisasi sosial yang mampu memproduksi pesan dan
mengirimkannya secara serempak ke sejumlah khalayak yang banyak dan
terpisah. Komunikator dalam komunikasi massa biasanya adalah media
massa (surat kabar, jaringan televisi, stasiun radio, majalah, atau penerbit
buku). Media massa ini bisa disebut organisasi sosial karena merupakan
kumpulan beberapa individu yang bertanggung jawab dalam proses
komunikasi massa tersebut.
Menurut Gamble dan Gamble, (1986)Sumber atau komunikator
dalam komunikasi massa terutama berisi organisasi formal seperti
jaringan ikatan atau kumpulan/kesatuan. Komunikasi massa bukan
produk seseorang, tetapi produk kelompok. Biasanya “birokrasi“ yang
berusaha untuk mendapatkan keuntungan
Komunikator dalam komunikasi massa merupakan lembaga
karena elemen utama komunikasi massa adalah media massa. Media
massa hanya bisa muncul karena gabungan kerja sama dengan beberapa
orang.
Dengan demikian, komunikator dalam komunikasi massa setidak
–tidaknya mempunyai ciri sebagai berikut: 1) kumpulan individu, 2)
20
dalam berkomunikasi individu–individu itu terbatasi perannya dengan
sistem dalam media massa, 3) pesan yang disebarkan atas nama media
yang bersangkutan dan bukan atas nama pribadi unsur–unsur yang
terlibat, 4) apa yang dikemukakan oleh komunikator biasanya untuk
mencapai keuntungan atau mendapatkan laba secara ekonomis.
2. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen
Komunikan dalam komunikasi massa sifatnya heterogen/beragam.
Artinya, penonton televisi beragam pendidikan, umur, jenis kelamin,
status sosial ekonomi, memiliki jabatan yang beragam, memiliki agama
atau kepercayaan yang tidak sama pula.
Herbert Blumer pernah memberikan ciri tentang karakteristik
audience/komunikan sebagai berikut.
a) Audience dalam komunikasi massa sangatlah heterogen. Artinya, ia
mempunyai heterogenitas komposisi atau susunan. Jika ditinjau dari
asalnya, mereka berasal dari berbagai kelompok dalam masyarakat
b) Berisi individu–individu yang tidak tahu atau mengenal satu sama
lain. Di samping itu, antar individu itu tidak berinteraksi satu sama
lain secara langsung.
c) Mereka tidak mempunyai kepemimpinan atau organisasi formal.
Antar komunikan tidak berinteraksi satu sama lain juga tidak harus
diartikan secara khusus pula.
Tidak terkecuali dengan ciri bahwa antarindividu tidak ada organisasi
formal yang melingkupinya.
3. Pesannya bersifat umum
Pesan–pesan dalam komunikasi massa tidak ditujukan kepada satu
orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan–
pesannya ditujukan pada khalayak yang plural. Oleh karena itu, pesan–
pesan yang dikemukakannya pun tidak boleh bersifat khusus.
Kita bisa melihat televisi, misalnya. Karena televisi ditujukan
untuk dinikmati oleh orang banyak, pesannya harus bersifat umum.
Meskipun di dalam televisi dikhususkan untuk kalangan tertentu
(misalnya program acaranya), televisi perlu menyediakan acara lain yang
sifatnya lebih umum. Ini penting agar televisi tidak kehilangan ciri
khasnya sebagai saluran komunikasi massa.
21
4. Komunikasinya berlangsung satu arah
Ketika
anda
membaca
Koran
tersebut
komunikasi
yang
berlangsung hanya satu arah, yakni dari media massa (koran tersebut) ke
anda dan tidak sebaliknya.
Dalam media cetak seperti koran, komunikasi hanya berjalan satu
arah.
Kita
tidak
bisa
langsung
memberikan
respons
kepada
komunikatornya (media massa yang bersangkutan). Kalaupun bisa,
sifatnya tertunda. Misalnya, kita mengirimkan ketidaksetujuan pada berita
itu melalui rubrik surat pembaca. Jadi, komunikasi yang hanya berjalan
satu arah akan memberi konsekuensi umpan balik (feedback) yang sifatnya
tertunda atau tidak langsung (delayed feedback).
5. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper
Gatekeeper atau yang sering disebut penapis informasi/palang
pintu/penjaga gawang, adalah orang yang sangat berperan dalam
penyebaran informasi melalui media massa. Gatekeeper ini berfungsi
sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, agar semua
informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.
2.2.2.4 Gangguan Komunikasi Massa
Gangguan dalam komunikasi terbagi menjadi 2, yakni :
1. Gangguan saluran
Gangguan dalam saluran komunikasi massa biasanya selalu ada.
Di dalam media gangguan berupa suatu hal, seperti kesalahan cetak, kata
yang hilang, atau paragraf yang dihilangkan dari surat kabar. Gangguan
juga bisa disebabkan oleh faktor luar. Misalnya sepanjang menonton
acara televisi atau membaca koran ada dua pasang anak – anak yang
sedang berkelahi.
Salah satu solusi untuk mengatasi adanya gangguan terhadap
saluran (misalnya) adalah pengulangan acara yang disajikan. Loyalitas
kita pada stasiun televisi tertentu merupakan salah satu usaha mengatasi
gangguan.
Pengulangan kadang – kadang memakai hukum law of
diminishing return (hukum hasil yang semakin berkurang). Artinya,
ketika
seorang
pendengar
itu
baru
membunyikan
radio
dan
22
mendengarkan siaran pada waktu pengulangan, ada kemungkinan ia akan
kehilangan pesan yang seharusnya diterima kalau saja dia mendengarkan
sejak awal. Bahkan, ketika pengulangan dilakukan oleh banyak orang,
kemungkinan pesan yang diterima akan berkurang atau bahkan hilang.
Cara lain untuk mengatasi gangguan adalah dengan mempertajam
saluran komunikasi massa. Misalnya, menghindari munculnya gangguan
gelombang pada radio dengan meningkatkan kualitas teknologi yang
digunakannya, memperpanjang “daya hidup“ baterai, mengoreksi secara
detail kesalahan cetak paragraf pada surat kabar sebelum dicetak atau
membersihkan kotoran pada layar televisi.
2. Gangguan semantik
Gangguan yang berhubungan dengan saluran mungkin ada di
mana–mana dan menjadi penghambat dalam komunikasi massa, tetapi
tidak demikian halnya dengan gangguan semantic (kata). Semantik bisa
diartikan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari tentang tata kalimat.
Oleh karena itu, gangguan semantic berarti gangguan yng berhubungan
dengan bahasa. Gangguan semantic lebih rumit, kompleks, dan sering
kali muncul. Bisa dikatakan, gangguan semantik adalah gangguan dalam
proses komunikasi yang diakibatkan oleh pengirim atau penerima pesan
itu sendiri.
Di dalam komunikasi antarpersona, kita telah mengetahui
gangguan semantic seperti kendala bahasa, perbedaan pendidikan, status
sosial ekonomi, tempat tinggal, jabatan, umur, pengalaman, dan minat.
Hambatan semantik dalam komunikasi massa berbeda, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif dari hambatan yang terjadi pada komunikasi
antarpersona.
Fakta yang paling penting dan menarik hati ditempatkan di awal
tulisan atau paragraph awal sebagai perhatian pembaca. 5W + 1H disebut
pada awal tulisan. Kepentingan data semakin berkurang seperti yang
dikenal dengan piramida terbalik. Kata – kata yang digunakan juga lebih
sederhana dan denotative, struktur kalimat tidak terbelit – belit dan
dengan paragraph yang singkat.
Gangguan semantic sangat terasa sekali dalam media elektronik.
Misalnya, salah ucap yang dilakukan reporter di lapangan. Termasuk
23
juga kata – kata yang diucapkannya terlalu cepat. Tak terkecuali
perbedaan kultur ikut memengaruhi munculnya gangguan semantic
2.2.3 Komunikasi Organisasi
2.2.3.1 Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi secara fungsional dapat didefinisikan sebagai
pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit – unit komunikasi yang merupakan
bagian dari suatu organisasi tertentu.
Definisi tradisional (fungsionalis dan objektif) komunikasi organisasi
cenderung menekankan kegiatan penanganan – pesan yang terkandung dalam suatu
“batas organisasional (organizational boundary)“.
Komunikasi Organisasi, dipandang dari suatu perspektif interpretif (subjektif)
adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi. Proses
interaksi tidak mencerminkn organisasi; ia adalah organisasi. Komunikasi organisasi
adalah “perilaku pengorganisasian “yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat
dalam proses itu bertransaksi dan memberi makna atas apa yang sedang terjadi.
Lebih jelasnya, komunikasi organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi
yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi. Pandangan “objektif“ atas
organisasi menekankan “struktur“, sementara oganisasi berdasarkan pandangan
“subjektif“ menekankan “proses“. Komunikasi lebih daripada sekedar alat, ia adalah
cara berpikir.
Konsep “makna“ adalah relevan dan penting untuk membedakan antara
perspektif fungsionalis (objektif) dan perspektif interpretif (subjektif) mengenai
komunikasi organisasi. Dalam pembahasan terdahulu, dapat ditekankan bahwa suatu
citra komunikasi yang menempatkan “makna“ dalam pesan akan menimbulkan
perilaku yang mengabaikan “orang“ Ditunjukkan bahwa makna suatu pesan ada pada
penerima. Suatu citra lain komunikasi (subjektif) menunjukkan bahwa makna pesan
dinegosiasikan antara para peserta. Makna muncul dan berkembang dalam interaksi
yang berlangsung. Hubungan antara para peserta, juga konteksnya, akan menentukan
apa makna kata–kata yang bersangkutan. Fokus perhatiannya adalah pada transaksi
verbal dan nonverbal yang sedang terjadi. Stewart dan Thomas (1990) menyebut
proses tersebut sebagai “memahat makna bersama”. “Perspektif interpretif (subjektif)
menekankan peranan “orang–orang“ dan “proses“ dalam menciptakan makna.
Makna tersebut tidak hanya pada orang, namun juga dalam “transaksi“ itu sendiri.
24
2.2.3.2 Iklim Komunikasi Organisasi
Iklim komunikasi merupakan gabungan dari persepsi– persepsi suatu evaluasi
makro mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respons pegawai terhadap
pegawai lainnya, harapan –harapan, konflik–konflik antarpersona, dan kesempatan
bagi pertumbuhan dalam organisasi tersebut.
Iklim komunikasi sebuah organisasi mempengaruhi cara hidup kita: kepada
siapa kita bicara, siapa yang kita sukai, bagaimana perasaan kita, bagaimana kegiatan
kerja kita, bagaimana perkembangan kita, apa yang ingin kita capai, dan bagaimana
cara kita menyesuaikan diri dengan organisasi. Redding (1972) menyatakan bahwa
“iklim (komunikasi) organisasi jauh lebih penting daripada keterampilan atau
teknik–teknik komunikasi semata–mata dalam menciptakan suatu organisasi yang
efektif “.
Menurut Poole, 1985 Iklim komunikasi penting karena mengaitkan konteks
organisasi dengan konsep–konsep, perasaan–perasaan dan harapan–harapan anggota
organisasi dan membantu menjelaskan perilaku anggota organisasi (R.Wayne pace;
Don f. Faules2008). Dengan mengetahui sesuatu tentang iklim suatu organisasi, kita
dapat memahami lebih baik apa yang mendorong anggota organisasi untuk bersikap
dengan cara – cara tertentu.
Iklim komunikasi organisasi merupakan fungsi kegiatan yang terdapat dalam
organisasi untuk menunjukkan kepada anggota organisasi bahwa organisasi tersebut
mempercayai mereka dan memberi mereka kebebasan dalam mengambil risiko;
mendorong mereka dan memberi mereka tanggung jawab dalam mengerjakan tugas–
tugas mereka; menyediakan informasi yang terbuka dan cukup tentang organisasi;
mendengarkan dengan penuh perhatian serta memperoleh informasi yang dapat
dipercayai dan terus terang dari anggota organisasi; secara aktif memberi penyuluhan
kepada para anggota organisasi sehingga mereka dapat melihat bahwa keterlibatan
mereka penting bagi keputusan–keputusan dalam organisasi; dan menaruh perhatian
pada pekerjaan yang bermutu tinggi dan memberi tantangan.
Menurut Poole, 1985 Telah ditunjukkan bahwa iklim memiliki sifat–sifat
yang membuatnya tampak bertumpang tindih dengan konsep budaya. menjelaskan
bahwa secara keseluruhan, tampaknya iklim lebih merupakan sifat budaya daripada
merupakan suatu pengganti budaya (R.Wayne pace; Don f. Faules2008).
Beberapa ahli dalam komunikasi organisasi juga berpendapat bahwa konsep
“iklim“ merupakan salah satu “gagasan paling kaya dalam teori organisasi, secara
25
umum, dan dalam komunikasi organisasi secara khusus“Disebut “kaya“ karena iklim
telah mendapat perhatian besar dalam literatur teoretis dan empiris; iklim juga
seakan – akan sederhana dan rumit pada saat yang sama, dan memiliki daya penjelas
yang cakupannya luas.
Falcione et al., 1987 berkata Pendekatan iklim komunikasi organisasi adalah
bahwa iklim komunikasi merupakan suatu citra makro, abstrak dan gabungan dari
suatu fenomena global yang disebut komunikasi organisasi. Kita mengasumsikan
bahwa iklim berkembang dari interaksi antara sifat–sifat suatu organisasi dan
persepsi individu atas sifat – sifat itu. Iklim dipandang sebagai suatu kualitas
pengalaman subjektif yang berasal dari persepsi atas karakter – karakter yang
relative langgeng pada organisasi Falcione et al., 1987 (R.Wayne pace; Don f.
Faules2008).
2.2.3.3 Unsur – unsur Dasar Organisasi
Suatu iklim komunikasi berkembang dalam konteks organisasi. Unsur –
unsur dasar yang membentuk suatu organisasi dapat diringkaskan menjadi 5 kategori
besar :
1. Anggota organisasi
Di pusat organisasi terdapat orang–orang yang melaksanakan
pekerjaan organisasi. Orang-orang yang membentuk organisasi terlibat
dalam beberapa kegiatan primer. Mereka terlibat dalam kegiatan–kegiatan
pemikiran yang meliputi konsep-konsep, penggunaan bahasa, pemecahan
masalah, dan pembentukan gagasan. Mereka terlibat dalam kegiatan–
kegiatan perasaan yang mencakup emosi, keinginan, dan aspek–aspek
perilaku manusia lainnyayang bukan aspek intelektual. Mereka terlibat
dalam kegiatan–kegiatan self–moving yang mencakup kegiatan fisik yang
besar maupun terbatas. Terakhir, mereka terlibat dalam kegiatan–kegiatan
elektrokimia ysng mencakup brain synaps, kegiatan jantung, dan proses–
proses metabolisme. Keempat kegiatan ini memungkinkan orang–orang
melaksanakan keterampilan mereka, memahami simbol–simbol, dan
memperhatikan dunia serta menjalaninya.
26
2. Pekerjaan dalam organisasi
Menurut Gibson, Ivancevich, dan Donnelly(1991) pekerjaan yang
dilakukan anggota organisasi terdiri dari tugas–tugas formal dan informal.
Tugas–tugas ini menghasilkan produk dan memberikan pelayanan
organisasi. Pekerjaan ini ditandai oleh tiga dimensi universal: isi,
keperluan, dan konteks (R.Wayne pace; Don f. Faules2008).
a. Isi terdiri dari apa yang dilakukan anggota organisasi dalam
hubungannya dengan bahan, orang–orang, dan tugas–tugas lainnya
dengan mempertimbangkan metode–metode serta teknik–teknik yang
digunakan, mesin–mesin, perkakas, dan peralatan yang dipakai, dan
bahan, barang-barang, informasi, dan pelayanan yang diciptakan.
b. Keperluan merujuk kepada pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
dianggap sesuai bagi seseorang agar mampu melaksanakan pekerjaan
tersebut, meliputi pendidikan, pengalaman, lisensi, dan sifat – sifat
pribadi.
c. Konteks berkaitan dengan kebutuhan–kebutuhan fisik dan kondisi–
kondisi lokasi pekerjaan, jenis pertanggungjawaban dan tanggung
jawab dalam kaitannya dengan pekerjaan, jumlah pengawasan yang
diperlukan, dan lingkungan umum tempat pekerjaan dilaksanakan.
3. Praktik–praktik pengelolaan
Menurut MacKenzie, 1969 tujuan primer pegawai manajerial
adalah menyelesaikan pekerjaan melalui usaha orang lainnya. Manajer
membuat keputusan mengenai bagaimana orang–orang lainnya, biasanya
bawahan mereka, menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaaan mereka. Kegiatan seorang manager telah
dijelaskan dalam berbagai cara. Pertama, telah dicapai beberapa
konsensus di sekitar gagasan bahwa para manajer melaksanakan 5 fungsi
utama:
perencanaan,
pengorganisasian,
penyusunan
kepegawaian,
pengarahan dan pengendalian. Kedua, beberapa bukti menyatakan bahwa
manajer melaksanakan sekitar sepuluh peranan dasar yang terbagi menjadi
3 kelompok dasar: (1) peranan antarpersona (pemimpin figur, pemimpin,
penghubung), (2) peranan yang berhubungan dengan informasi (pengawas,
penyuluh, juru bicara), dan (3) peranan yang memerlukan ketegasan
27
(wiraswasta, menangani gangguan, mengalokasikan sumber daya, dan
melakukan perundingan).
4. Struktur organisasi
Struktur organisasi merujuk kepada hubungan–hubungan antara
“tugas–tugas yang dilaksanakan oleh anggota–anggota organisasi“Struktur
organisasi ditentukan oleh 3 variabel kunci : kompleksitas, formalisasi,
dan sentralisasi
a. Formalisasi merujuk kepada derajat standarisasi dan tugas-tugas. Bila
suatu pekerjaan sangat diformalisasikan, keleluasaan pekerja megenai
di mana, kapan, dan bagaimana pekerjaan dilakukan amat sedikit.
Formalisasi terjadi bila tugas–tugas pekerjaan ditentukan oleh hukum–
hukum dan aturan–aturan, apakah dinyatakan secara langsung atau
dimengerti begitu saja oleh para pegawai.
b. Kompleksitas merupakan fungsi 3 faktor: (1) tingkat yang di dalamnya
terdapat perbedaan – perbedaan antara unit – unit (diferensiasi
horisontal). (2) Jumlah tingkat otoritas antara para pegawai dan para
eksekutif puncak (diferensiasi vertikal). (3) Derajat ketersebaran lokasi
fasilitas dan personel organisasi secara geografis (diferensiasi spasial).
c. Sentralisasi merujuk kepada derajat keterkonsentrasian pembuatan
keputusan pada satu jabatan dalam organisasi. Disentralisasi,
sebaliknya, merujuk kepada sejauh mana otoritas pembuatan
keputusan tersebar di seluruh organisasi. Jumlah otoritas formal yang
diberikan kepada para anggota organisasi untuk membuat keputusan
yang berpengaruh atas kegiatan kerja mereka merupakan ukuran
sentralisasi. Kebijaksanaan yang membatasi pembuatan keputusan,
cenderung menggeser organisasi kearah sentralisasi.
5. Pedoman organisasi
Pedoman
organisasi
adalah
serangkaian
pernyataan
yang
mempengaruhi, mengendalikan, dan memberi arahan bagi anggota
organisasi dalam mengambil keputusan dan tindakan.
2.2.3.4 Arah Aliran Informasi
Dalam komunikasi organisasi kita berbicara tentang informasi yang
berpindah secara formal dari seseorang yang otoritasnya lebih tinggi kepada orang
28
lain yang otoritasnya lebih rendah–komunikasi ke bawah; informasi yang bergerak
dari suatu jabatan yang otoritasnya lebih rendah kepada orang yang otoritasnya lebih
tinggi–komunikasi ke atas; informasi yang bergerak di antara orang–orang dan
jabatan–jabatan yang sama tingkat otoritasnya–komunikasi horizontal; atau
informasi yang bergerak di antara orang–orang dan jabatan– jabatan yang tidak
menjadi atasan ataupun bawahan satu dengan yang lainnya dan mereka menempati
bagian fungsional yang berbeda–komunikasi lintas– saluran.
1. Komunikasi ke bawah
Menurut Katz & Kahn, (1966) komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi
berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada
mereka yang berotoritas lebih rendah. Ada 5 jenis informasi yang biasa
dikomunikasikan dari atasan kepada bawahan :(1) informasi mengenai
bagaimana melakukan pekerjaan, (2) informasi mengenai dasar pemikiran
untuk melakukan pekerjaan, (3) informasi mengenai kebijakan dan praktik –
praktik organisasi, (4) informasi mengenai kinerja pegawai, dan (5) informasi
untuk mengembangkan rasa memiliki tugas ( sense of mission ).
2. Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi
mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih
tinggi (penyelia)
3. Komunikasi horizontal
Komunikasi horisontal terdiri dari penyampaian informasi di antara rekan–
rekan sejawat dalam unit kerja yang sama. Unit kerja meliputi individu–
individu yang ditempatkan pada tingkat otoritas yang sama dalam organisasi
dan mempunyai atasan yang sama.
4. Komunikasi lintas–saluran
Dalam kebanyakan organisasi, muncul keinginan pegawai untuk berbagi
informasi melewati batas–batas fungsional dengan individu yang tidak
menduduki posisi atasan maupun bawahan mereka.
2.2.4 Definisi Peran
Peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang
melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia
menjalankan suatu peranan. Dari hal diatas lebih lanjut kita lihat pendapat lain
29
tentang peran yang telah ditetapkan sebelumnya disebut sebagai peranan normatif.
Sebagai peran normatif dalam hubungannya dengan tugas dan kewajiban dinas
perhubungan dalam penegakan hukum mempunyai arti penegakan hokum secara
total enforcement yaitu penegakan hukum penuh Soejono Soekanto, (1987:220).
Dalam hal ini kepribadian seseorang juga mempengaruhi bagaimana peran itu harus
dijalankan. Peran yang dimainkan hakekatnya tidak ada perbedaan, baik yang
dimainkan/diperankan oleh pempinan tingkat atas, menegah maupun bawah akan
mempunyai peran yang sama bila ia menduduki peran tertentu.
Peran adalah suatu rangkaian yang teratur yang ditimbulkan karena suatu
jabatan. Manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kecenderungan untuk hidup
berkelompok. Dalam kehdupan berkelompok tadi akan terjadi antara anggota
masyrakat yang satu dengan anggota masyrakat yang lainnya. Timbulnya interaksi
diantara mereka saling ketergantungan. Dalam kehidupan bermasyrakat itu munculah
apa yang dinamakan peran (role). Peran merupakan aspek yang dinamis dari
kedudukan seseorang, apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya
sesuai dengan kedudukannya maka orang yang bersangkutan menjalankan suatu
peranan. Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas ada baiknya terlebih
dahulu kita pahami tentang pengertian peran.
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa peran adalah suatu sikap
atau perilaku yang diharapkan oleh banyak orang atau sekelompok orang terhadap
seseorang yang memiliki status atau kedudukan tertentu. Berdasarkan hal-hal di atas
dapat diartikan bahwa apabila dihubungkan dengan produser, peran tidak berarti
sebagai hak dan kewajiban individu, melainkan merupakan tugas dan wewenang
produser itu sendiri.
2.2.5 Teori Peran
Menurut Kozier Barbara peran adalah seperangkat tingkah laku yang
diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu
sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
besifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada
situasi sosial tertentu. Peran adalah deskripsi sosial tentang siapa kita dan kita siapa.
Peran menjadi bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain, komonitas sosial atau
politik.
30
Role theory (teori peran) mendefinisikan bahwa teori peran ini meberikan
suatu kerangka konseptual dalam studi perilaku di dalam organisasi. Dougherty &
Pritchard (1985) dalam Bauer (2003:55). Strategi dan struktur organisasi juga
terbukti mempengaruhi peran dan persepsi peran.(Kahn, et al., 1964;Oswald,
Mossholder, & Harris dalam Bauer, 2003: 58)secara umum peran dapat didefinisikan
sebagai “expectations about appropriate behavior in a job position” Ada dua jenis
perilaku yang diharapkan dalam suatu pekerjaan yaitu :
1. Role Perception : persepsi seseorang mengenai cara orang itu diharapkan
berperilaku, atau dengan kata lain adalah pemahaman atau kesadaran
mengenai pola perilaku atau fungsi yang diharapkan dari orang tersebut.
2. Role Expectation : cara orang menerima perilaku seseorang dalam situasi
tertentu. Dengan peran yang dimainkan seseorang dalam organisasi, akan
terbentuk suatu komponen penting dalam identitas dan kemampuan
orang itu bekerja.
2.2.6 Etika Komunikasi Kekerasan
Menurut P. Lardellier,(2003) dijelaskan bahwa Kekerasan bisa didefinisikan
sebagai prinsip tindakan yang mendasari diri pada kekuatan untuk memaksa pihak
lain tanpa persetujuan Dalam kekerasan terkandung unsur dominasi terhadap pihak
lain dalam berbagai bentuknya: fisik, verbal, psikologis, atau melalui gambar.
Penggunaan kekuatan, manupulasi, fitnah, pemberitaan yang tidak benar,
pengkondisian yang tidak benar, kata-kata yang memojokkan, dan penghinaan
merupakan ungkapan nyata kekerasan. Menurut S. Jehel,(2003) Logika kekerasan
merupakan logika kematian karena bisa melukai tubuh, melukai secara psikologis,
merugikan, dan bisa menjadi ancaman terhadap integritas pribadi. (Dr. Haryatmoko
2007)
Pemahaman lain tentang kekerasan ditawarkan oleh Francois chirpaz:
“kekerasan adalah kekuatan yang sedemikian rupa dan tanpa aturan yang memukul
dan melukai baik jiwa maupun badan, kekerasan juga mematikan entah dengan
memisahkan orang dari kehidupannya atau dengan menghancurkan dasar
kehidupannya. Melalui penderitaan atau kesengsaraan yang diakibatkannya,
kekerasan tampak sebagai representasi kejahatan yang diderita manusia, tetapi bisa
juga ia lakukan terhadap orang lain.”
31
Jadi kekerasan tidak harus dalam bentuk fisik, tetapi bisa menghancurkan
dasar kehidupan seseorang. Sasarannya bisa psikologis seseorang, bisa cara
berpikirnya, dan bisa afeksinya.
2.2.7 Horor Regresif
Mau merujuk pada selera publik atau seniman akan kekejaman, lebih-lebih
yang menyeramkan atau tidak waras karena melampaui reaksi akal sehat. Perhatian
yang ekstrem diarahkan pada yang riil, tetapi harus autentik. Bila dipresentasikan
dalam gambar–fiksi, motifnya ialah karena digerakan oleh ketertarikan pada hal yang
meneror atau membuat merinding. Misalnya,kasus Sumanto, gadis kecil Vientam
yang menangis melarikan diri dari medan peperangan dalam keadaan telanjang,
mutilasi, film Vampire, tawanan perang yang diinterogasi dengan digantung dan
dijagai anjing Doberman (Dr. Haryatmoko 2007).
2.2.8 Menentukan Batas-Batas Kekerasan
Kesulitan utama dalam regulasi ialah bagaimana menentukan batas-batas
kekerasan
dalam
media
yang
masih
bisa
ditoleransi.
Regulasi
harus
mempertimbangkan berbagai dimensinya. Dari dimensi persepsi, masalahnya
terumus dalam pertanyaan sejauh mana terkait dengan visual, pendengaran dan
interaktif. Perlu bisa menentukan sejauh mana batas tidak dapat dipresentasikan,
dilihat, didengar atau disentuh. Dari dimensi afeksi, sejauh mana kekerasan dalam
media bisa menyebabkan traumatisme, kekacauan kepribadian, stres, kegelisahan,
dan rasa malu. Sedangkan dari dimensi estetika, bisakah ditentukan ukuran mana
yang indah dan mana yang jelek atau kumuh. Akhirnya, dari dimensi moral dan
keyakinan, mana yang bisa dipercaya, tidak bisa diterima, dan yang berpengaruh
jahat.
Kelemahan utama berhadapan dengan kekerasan dalam media yang membuat
setiap upaya regulasi mendapat perlawanan ialah lemahnya argumen yang mendasari
suatu regulasi. Kelemahan argumen ini karena sedikitnya penelitian serius yang
dibuat terkait dengan berbagai dimensi diatas. Akibatnya, banyak pihak sebetulnya
tidak tahu dampak emosi dan afeksi yang riil dialami atau diderita oleh pemirsa.
Untuk bisa memahami kekerasan dalam media, orang perlu memahami
bahwa dalam media dikenal setidaknya tiga tipe dunia, yaitu dunia riil, dunia fiksi,
dan dunia virtual. Oleh karena itu, kekerasan juga perlu dibedakan sesuai dengan
32
pembedaan ketiga dunia itu. Jadi, ada tiga bentuk kekerasan, menurut Noel Nel, yaitu
pertama, kekerasan-dokumen yang merupakan bagian dari dunia riil atau faktual;
kedua, kekerasan-fiksi yang menunjukan kepemilikan pada dunia yang mungkin ada;
misalnya dalam kisah fiksi, film, kartun, komik, dan iklan; serta ketiga, kekerasansimulasi yang berasal dari dunia virtual (2003:38-41), misalnya dalam permainanvideo, permainan on-line.
Dalam menentukan batasan-batasan kekerasan, peneliti menekankan pada
kekerasan fiksi dan kekerasan simulasi sesuai dengan studi kasus pada penelitian
yang akan dilakukan.
Kekerasan yang dibeberkan dalam kisah fiksi bukannya tanpa meninggalkan
bekas luka pada pemirsa atau pembacanya, terutama pada anak bisa meninggalkan
traumatisme dan perilaku agresif. Fiksi mampu memproyeksikan keluar dari yang riil
dunia yang mungkin meski tidak ada dalam kenyataan. Biasanya meski jauh dari
realitas, fiksi masih memiliki pijakan atau analogi dengan dunia riil. Oleh karena itu,
kekerasan-fiksi menjadi berbahaya ketika justru memberi kemungkinan baru yang
tidak ada dalam dunia riil.
Kekerasan menjadi semakin menarik karena terlindung dari dunia normal,
dari hukum yang mengatur sehingga hasrat bisa tampil dalam kebersamaan, bisa
saling membagikan keinginan. Semua berlangsung dalam kerahasiaan. Kekerasan
bisa ditampilkan semaunya.
2.2.9 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran
Komisi Penyiaran Indonesia berpegang teguh terhadap Pedoman Perilaku
Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dimana di dalam P3SPS terdapat
pasal-pasal yang mengatur penyiaran yang ada di Indonesia, dan juga membatasi
konten yang ada didalam program siaran sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Termasuk di dalamnya terdapat pasal yang mengatur mengenai unsur
kekerasan, seperti yang terdapat di P3SPS tentang peraturan penyiaran Indonesia
tentang Standar Program Siaran (SPS) bab XIII mengenai pelanggaran dan
pembatasan kekerasan Bagian Pertama Pelarangan Adegan Kekerasan pasal 23 yang
mengatur bahwa program siaran yang memuat adegan kekerasan dilarang:
a. menampilkan secara detail peristiwa kekerasan, seperti: tawuran,
pengeroyokan, penyiksaan, perang, penusukan, penyembelihan, mutilasi,
33
terorisme,
pengrusakan
barang-barang
secara
kasar
atau
ganas,
pembacokan, penembakan, dan/atau bunuh diri;
b. menampilkan manusia atau bagian tubuh yang berdarah-darah, terpotongpotong dan/atau kondisi yang mengenaskan akibat dari peristiwa
kekerasan;
c. menampilkan peristiwa dan tindakan sadis terhadap manusia;
d. menampilkan peristiwa dan tindakan sadis terhadap hewan; dan/atau
e. menampilkan adegan memakan hewan dengan cara yang tidak lazim.
2.3
Kerangka Pemikiran
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai Lembaga Independen Negara
melakukan pengawasan program siaran televisi dengan berpegang teguh pada
Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Apabila sebuah
program melakukan pelanggaran, maka KPI berusaha untuk memberikan solusi agar
stasiun televisi tidak melakukan kesalahan yang sama. Peneliti melakukan penelitian
ini karena peneliti ingin menunjukkan peran KPI terhadap pengawasan program
siaran agar stasiun televisi menghasilkan program–program yang berkualitas dan
layak untuk ditonton serta dapat memberikan informasi, dan pengetahuan tambahan
bagi khalayak luas
34
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran
Download