kajian analisis mutu pendidikan aceh

advertisement
KAJIAN
ANALISIS MUTU PENDIDIKAN ACEH
2015
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
(BAPPEDA) ACEH
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT., berkat rahmat dan ridha-Nya
laporan penelitian "Kajian Analisis Mutu Pendidikan Aceh" telah selesai
dilaksanakan. Salawat dan salam kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Besar
Muhammad SAW. yang telah menanamkan risalah kepada para ilmuan masa lalu,
sekarang, dan masa yang akan datang.
Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk memajukan ilmu
pengetahuan dan sebagai suatu kebijakan di sektor pendidikan khususnya pada
peningkatan mutu pendidikan SMP dan SMA sederajat sekaligus memberikan
informasi sebagai pengembangan ilmu. Dengan harapan semoga penelitian ini akan
bermanfaat bagi kemajuan pembangunan pendidikan nasional dan daerah.
Selanjutnya, kami sampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tinggi
kepada para Tim Peneliti dan Peneliti Ahli yang telah menyusun dokumen "Kajian
Analisis Mutu Pendidikan Aceh" ini secara ilmiah dan baik. Penelitian ini dirasakan
masih jauh dari kesempurnaan, saran dan kritikan masih sangat diperlukan. Kami
berharap agar hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai sumber data dan
informasi yang berguna dalam penyusunan kebijakan pembangunan pendidikan
Provinsi Aceh di masa yang akan datang, terutama di sektor yang terkait penelitian
ini. Akhirnya, semoga Allah SWT. senantiasa mengiringi setiap derap langkah dan
niat baik kita dalam memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan pendidikan
masyarakat Provinsi Aceh ke depan.
BANDA ACEH, NOVEMBER 2015
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Drs. ZULKIFLI Hs, MM
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................
i
DAFTAR ISI ...................................................................................................
iii
DAFTAR TABEL ...........................................................................................
v
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN ........................................................................
1
1.1
Latar Belakang Masalah ....................................................
1
1.2
Tujuan Penelitian ...............................................................
11
1.3
Output yang Diharapkan ....................................................
11
TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................
13
2.1
Mutu Pendidikan ................................................................
13
2.2
Standar atau Parameter Pendidikan yang Berkualitas .......
17
2.3
Dimensi Mutu Pendidikan .................................................
18
2.4
Sarana dan Prasarana Pendidikan ......................................
22
2.5
Hubungan Sarana Prasarana Pendidikan Dengan Proses
Belajar Mengajar................................................................
2.6
BAB IV
Prinsip-Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana
Pendidikan .........................................................................
23
Kerangka Pemikiran ..........................................................
24
METODOLOGI PENELITIAN .................................................
27
3.1
Ruang Lingkup, Populasi dan Sampel Penelitian ..............
27
3.2
Teknik Pengumpulan Data.................................................
30
3.3
Metode dan Desain Penelitian ...........................................
31
3.4
Metode Analisis dan Pembahasan .....................................
31
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..........................
39
4.1
Hasil Estimasi Model Analisis ...........................................
39
4.2
Pembahasan Proses Pembelajaran .....................................
40
4.3
Ketersediaan dan Ketercukupan Sarana dan
2.7
BAB III
23
4.4
Prasarana ............................................................................
51
Unit Penjaminan Mutu .......................................................
58
ii
4.5
Pengaruh Variabel Sosial Ekonomi Masyarakat ...............
59
PENUTUP ....................................................................................
65
6.1
Kesimpulan ........................................................................
65
6.2
Rekomendasi .....................................................................
67
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
70
LAMPIRAN ....................................................................................................
72
BAB VI
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1
Angka Partisipasi Pendidikan Menurut Kabupaten/Kota di
Provinsi Aceh Tahun 2013........................................................
Tabel 1.2
Angka Kelulusan UN Tingkat SMA Tahun 2014 di Provinsi
Aceh ..........................................................................................
Tabel 1.3
1
6
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Negeri, Menurut Kabupaten/Kota,
Tahun 2013/2014 .......................................................................... 7
Tabel 1.4
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Swasta, Menurut Kabupaten/Kota,
Tahun 2013/2014 .......................................................................... 8
Tabel 1.5
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah
Menengah Atas (SMA) Negeri, Menurut Kabupaten/Kota,
Tahun 2013/2014 .......................................................................... 9
Tabel 1.6
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah
Menengah Atas (SMA) Swasta, Menurut Kabupaten/Kota,
Tahun 2013/2014 .......................................................................... 10
Tabel 3.1
Daftar Sampel Penelitian di Provinsi Aceh dengan Nilai UN
Peringkat Sepuluh Terendah pada Tahun 2013 ........................
Tabel 3.2
28
Daftar Sampel Penelitian di Provinsi Aceh dengan Nilai UN
Peringkat Sepuluh Tertinggi pada Tahun 2013 ........................
29
Tabel 4.1
Hasil Estimasi Model Analisis ..................................................
37
Tabel 4.2
Pelajaran yang Kekurangan Guru Menurut Peringkat ..............
47
Tabel 4.3
Persentase Penduduk Miskin Menurut Kecamatan Lokasi
Sekolah Dengan Hasil UN Tinggi ............................................
Tabel 4.4
60
Persentase Penduduk Miskin Menurut Kecamatan Lokasi
Sekolah Dengan Hasil UN Rendah ...........................................
iv
61
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Hubungan Antarvariabel ........................
26
Gambar 3.1
Desain Triangulasi Metode Penelitian Campuran ....................
31
Gambar 3.2
Proses Analisis Data Kualitatif .................................................
33
Gambar 4.1
Persentase Ketercukupan Guru di Sekolah dan Partisipasi
Dalam MGMP dan Perencanaan Pembelajaran .......................
Gambar 4.2
Persentase Sekolah Melaksanakan Kegiatan Kesiswaan yang
Menonjol...................................................................................
Gambar 4.3
42
49
Persentase Sekolah yang Mengalami Kekurangan Sarana dan
Prasarana Pembelajaran ............................................................
v
53
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya pendidikan adalah usaha manusia untuk memanusiakan
manusia itu sendiri. Dalam pendidikan terdapat dua subjek pokok yang saling
berinteraksi. Kedua subjek itu adalah pendidik dan subjek didik. Subjek-subjek itu
tidak harus selalu manusia, tetapi dapat berupa media atau alat-alat pendidikan.
Sehingga pada pendidikan terjadi interaksi antara pendidik dengan subjek didik
guna mencapai tujuan pendidikan.
Data di bawah menunjukkan bahwa persentase partisipasi sekolah di
Provinsi Aceh tahun 2013 meningkat dari partisipasi rata-rata tahun 2012. Namun
yang sangat disayangkan adalah setiap tahunnya persentase partisipasi sekolah
semakin menurun jika dilihat dari kelompok umur sekolah.
Tabel 1.1
Angka Partisipasi Pendidikan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh
Tahun 2013
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
Kabupaten/Kota
Simeulue
Aceh Singkil
Aceh Selatan
Aceh Tenggara
Aceh Timur
Aceh Tengah
Aceh Barat
Aceh Besar
Pidie
Bireuen
Aceh Utara
Aceh Barat Daya
Gayo Lues
Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Jaya
Bener Meriah
Pidie Jaya
Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan
7 – 12
13 – 15
16 – 18
98,38
95,31
82,47
99,32
97,20
87,05
99,60
94,95
73,05
99,34
97,51
79,82
99,70
89,82
65,40
99,14
99,22
79,32
99,87
97,36
77,49
100,00
93,40
74,50
100,00
94,29
70,26
99,76
97,70
76,34
100,00
94,40
74,53
99,11
95,11
73,61
98,90
97,42
81,88
100,00
93,61
66,03
100,00
97,64
70,61
99,99
91,80
79,21
99,58
92,94
75,87
100,00
94,61
69,72
1
No.
19
20
21
22
23
Kabupaten/Kota
Banda Aceh
Sabang
Langsa
Lhokseumawe
Subulussalam
2013
2012
Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan
7 – 12
13 – 15
16 – 18
99,42
95,57
77,29
100,00
100,00
67,66
98,88
96,11
75,51
99,56
98,54
85,22
98,88
98,30
79,13
99,66
95,20
74,60
98,88
94,41
74,44
Sumber: BPS Provinsi Aceh
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk
pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan
tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan
baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Suatu pendidikan dipandang
bermutu diukur dari kedudukannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa
dan memajukan kebudayaan nasional adalah pendidikan yang berhasil
membentuk
generasi
muda
yang
cerdas,
berkarakter,
bermoral
dan
berkepribadian. Untuk itu perlu dirancang suatu sistem pendidikan yang mampu
menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, merangsang
dan menantang peserta didik untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai
dengan bakat dan kemampuannya. Memberikan kesempatan kepada setiap peserta
didik berkembang secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya adalah
salah satu prinsip pendidikan demokratis.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi.
Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor
penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di lndonesia.
Dengan masukan ilmiah ahli itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan
pendidikan nasional tercapai.
Masukan ilmiah yang disampaikan para ahli dari negara-negara yang
berhasil menerapkannya, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia
Baru dan Singapura selalu memunculkan konsep yang tidak selalu bisa diadopsi
dan diadaptasi. Karena berbagai macam latar yang berbeda. Situasi, kondisi, latar
budaya dan pola pikir bangsa kita tentunya tidak homogen dengan negara-negara
yang diteladani.
2
Theodore Brameld (1965) mengemukakan bahwa pendidikan memiliki
fungsi yang luas yaitu sebagai pengayom dan pengubah kehidupan suatu
masyarakat jadi lebih baik dan membimbing masyarakat yang baru supaya
mengenal tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah
sebuah proses yang lebih luas dari sekedar periode pendidikan di sekolah.
Pendidikan adalah sebuah proses belajar terus menerus dalam keseluruhan
aktifitas sosial sehingga manusia tetap ada dan berkembang.
Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas tentunya dibutuhkan
perencanaan program pendidikan yang baik. Dalam perencanaan pendidikan
untuk mencapai pendidikan yang berkualitas perlu memperhatikan kondisikondisi yang mempengaruhi, strategi-strategi yang tepat, langkah-langkah
perencanaan dan memiliki kriteria penilaian (Nurkolis, 2003: 74–78).
Suksesnya perencanaan pendidikan diperlukan beberapa kondisi, yakni:
1.
Adanya komitmen politik,
2.
Perencanaan pendidikan harus tahu betul apa yang menjadi hak, tugas dan
tanggung jawabnya,
3.
Harus ada perbedaan yang tegas, antara area politis, teknis, dan administratif,
4.
Perhatian lebih besar diberikan pada penyebaran kekuasaan untuk membuat
keputusan politis,
5.
Perhatian lebih besar diberikan pada pengembangan kebijakan dan prioritas
pendidikan terarah,
6.
Tugas utama perencanaan pendidikan adalah pengembangan secara terarah
dan memberikan alternatif teknis sebagai sarana untuk mencapai tujuan
politik pendidikan,
7.
Harus mengurangi politisasi pengetahuan,
8.
Harus berusaha lebih besar untuk mengetahui opini publik terhadap
perkembangan masa depan dan arah pendidikan,
9.
Administrator pendidikan harus lebih aktif mendorong perubahan-perubahan
dalam perencanaan pendidikan,
3
10. Ketika pemerintah tidak menguasai lagi semua aspek pendidikan maka harus
lebih diupayakan kersama yang saling menguntungkan antara pemerintah,
swasta, dan universitas yang memegang otoritas pendidikan.
Salah satu negara dengan mutu pendidikan terbaik di dunia adalah
Singapura. Kuncinya terletak pada kualitas gurunya sendiri. Di Singapura hanya
ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Tidak hanya
kualitas guru, metode belajar pun menjadi penunjang mutu pendidikan di negara
ini.
Jika dibuat urutan posisi 5 besar (dari atas ke bawah) di tingkat
internasional saat ini menurut data survei dari OECD (Organisation for Economic
Co-operation and Development) yang merilis tentang sistem pendidikan terbaik
dunia dan urutan negaranya menyatakan bahwa negara-negara yang memiliki
kualitas pendidikan terbaik di bidang pendidikan matematika dan ilmu pendidikan
alam (IPA) di dunia saat ini berturut-turut adalah Singapura, Hongkong, Korea
Selatan, Jepang dan Taiwan. Sedangkan, negara Indonesia berada pada urutan ke69
dari
76
negara
yang
disurvei
di
seluruh
dunia.
(dikutip
dari
http://gaya.tempo.co/read/news/2015/05/15/215666403/ini-10-negara-bersistempendidikan-terbaik-dunia, yang diakses pada 10/09/2015).
Berdasarkan data The Learning Curve Pearson 2014, Selasa (13/5/2014),
sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan dunia, memaparkan jika Indonesia
menduduki posisi akhir dalam mutu pendidikan di seluruh dunia. Indonesia
menempati posisi ke-40 dengan indeks rangking dan nilai secara keseluruhan
yakni minus 1,84. Sementara pada kategori kemampuan kognitif indeks rangking
2014 versus 2012, Indonesia diberi nilai -1,71. Sedangkan untuk nilai pencapaian
pendidikan yang dimiliki Indonesia, diberi skor -2,11. Posisi Indonesia ini
menjadikan yang terburuk. Di mana Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan
Thailand, menjadi lima negara dengan rangking terbawah yang berada di atas
Indonesia.
Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah yang mendapatkan dana
otonomi khusus (otsus) dari pemerintah pusat. Sejak tahun 2008 sampai tahun
2013, Provinsi Aceh telah mengelola sekitar Rp 27,3 trilyun dana tersebut. Setiap
4
tahunnya dana yang dianggarkan untuk bidang pendidikan mencapai rata-rata
Rp 2,4 trilyun. Dana tersebut berasal dari dana otonomi khusus, dana bagi hasil
migas dan dari sumber lain.
Saat ini banyaknya pembangunan sektor pendidikan masih mementingkan
pembangunan
infrastruktur
tapi
mengesampingkan
pembangunan
mutu
pendidikan. Akibatnya, fasilitas (sarpras pendukung pembelajaran) di sebagian
sekolah di Provinsi Aceh sangat memadai tapi mutu pendidiknya sangat kurang.
Kurang meratanya distribusi guru menurut mata pelajaran (mapel) ke seluruh
pelosok daerah Provinsi Aceh juga diduga menjadi salah satu penyebab rendahnya
mutu pendidikan di daerah Aceh saat ini, di samping rendahnya kualitas guru itu
sendiri. Perekrutan guru sudah sangat banyak di daerah Provinsi Aceh, tetapi
hanya menumpuk di perkotaan, baik itu di ibukota provinsi dan ibukota
kabupaten, sementara di daerah pedalaman mengalami kekurangan guru.
Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lulusan
peserta ujian nasional (UN) tahun 2014 untuk tingkat Sekolah Menengah Atas
(SMA) dari 34 provinsi di Indonesia, Provinsi Aceh menempati jumlah tertinggi
siswa yang tak lulus, yaitu sebanyak 784 (1,38%) siswa dari 56.981 siswa.
5
Tabel 1.2
Angka Kelulusan UN Tingkat SMA Tahun 2014 di Provinsi Aceh
No.
Kabupaten/Kota
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
14
16
17
18
19
20
21
22
23
Simeulue
Aceh Singkil
Aceh Selatan
Aceh Tenggara
Aceh Timur
Aceh Tengah
Aceh Barat
Aceh Besar
Pidie
Bireuen
Aceh Utara
Aceh Barat Daya
Gayo Lues
Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Jaya
Bener Meriah
Pidie Jaya
Kota Banda Aceh
Kota Sabang
Kota Langsa
Kota Lhokseumawe
Subulussalam
Jumlah
Jumlah
Peserta
1.245
1.325
2.704
2.946
3.268
2.161
2.082
3.398
4.768
5.186
6.248
1.963
1.059
3.076
1.787
734
1.467
1.921
3.915
328
2.203
2.191
1.007
56.982
Jumlah Yang
Tidak Lulus
196
47
1
84
7
4
62
64
75
5
28
9
2
40
2
9
12
76
61
784
Persentase
(%)
7,25
1,44
0,05
4,03
0,21
0,08
1,20
1,02
3,82
0,47
0,91
1,23
0,14
2,08
0,05
2,74
0,54
3,47
6,06
1,38
Sumber: Hasil Nilai Ujian Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014
Sedangkan dengan hasil UN jenjang SMP, terjadi penurunan siswa yang
tidak lulus. Pada tahun 2013, siswa yang tidak lulus mencapai 1.442 orang dari
81.046 peserta dengan persentase 1,78%. Sedangkan pada tahun 2014, siswa yang
tidak lulus hanya 313 orang dari 83.969 peserta dengan persentase 0,37 persen.
6
Beberapa penerapan pola peningkatan mutu di Indonesia telah banyak
dilakukan, namun masih belum dapat secara langsung memberikan efek perbaikan
mutu. Di antaranya adalah usaha peningkatan mutu dengan perubahan kurikulum
dan proyek peningkatan lain: Proyek Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah (MPMBS),
Proyek Perpustakaan, Proyek Bantuan Operasional
Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM), Proyek Bantuan Imbal Swadaya
(BIS), Proyek Pengadaan Buku Paket, Proyek Peningkatan Mutu Guru, Dana
Bantuan Langsung (DBL), Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS) dan Bantuan
Khusus Murid (BKM). Dengan memperhatikan sejumlah proyek itu, dapatlah kita
simpulkan bahwa pemerintah telah banyak menghabiskan anggaran dana untuk
membiayai proyek itu sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan. Namun,
semua hal tersebut belum dapat menghasilkan atau meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia.
Berikut ini jumlah ketersediaan guru SMP dan SMA di sekolah negeri
maupun swasta yang tersebar di Provinsi Aceh.
Tabel 1.3
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah Menengah Pertama
(SMP) Negeri, Menurut Kabupaten/ Kota, Tahun 2013/2014
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
Kabupaten/Kota
Simeulue
Aceh Singkil
Aceh Selatan
Aceh Tenggara
Aceh Timur
Aceh Tengah
Aceh Barat
Aceh Besar
Pidie
Bireuen
Aceh Utara
Aceh Barat Daya
Gayo Lues
Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Jaya
Bener Meriah
Pidie Jaya
Sekolah
40
30
45
35
65
41
36
47
53
61
84
14
24
46
33
29
42
23
Kelas
273
212
366
318
495
315
539
504
924
587
841
183
153
401
839
199
264
214
7
Guru
451
486
881
726
1.278
815
690
1.116
1.823
2.041
2.237
332
297
977
649
410
747
839
Murid
4.533
5.224
9.927
8.442
13.799
6.915
5.974
7.845
13.816
15.462
23.343
5.044
4.108
11.403
7.077
2.579
4.566
4.671
No.
19
20
21
22
23
Kabupaten/Kota
Banda Aceh
Sabang
Langsa
Lhokseumawe
Subulussalam
2013
2012
Sekolah
19
8
14
18
15
822
803
Kelas
310
56
239
271
109
8.612
8.275
Guru
723
221
601
620
268
19.228
19,192
Murid
8.045
1.120
7.205
7.730
3.226
182.054
180,948
Sumber: Profil Pembangunan Aceh, Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh 2014
Tabel 1.4
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah Menengah Pertama
(SMP) Swasta, Menurut Kabupaten/Kota, Tahun 2013/2014
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Kabupaten/Kota
Simeulue
Aceh Singkil
Aceh Selatan
Aceh Tenggara
Aceh Timur
Aceh Tengah
Aceh Barat
Aceh Besar
Pidie
Bireuen
Aceh Utara
Aceh Barat Daya
Gayo Lues
Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Jaya
Bener Meriah
Pidie Jaya
Banda Aceh
Sabang
Langsa
Lhokseumawe
Subulussalam
2013
2012
Sekolah
Kelas
5
6
4
22
6
2
8
17
5
10
25
15
2
9
3
4
10
3
12
1
2
4
4
179
153
11
42
15
90
19
6
29
76
31
82
112
115
9
51
9
16
46
24
59
7
6
15
31
901
795
Guru
53
86
54
276
91
23
126
328
85
253
473
178
28
137
35
51
183
39
191
18
25
66
75
2.874
2,494
Sumber: Profil Pembangunan Aceh, Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh 2014
8
Murid
146
1.190
334
2.071
467
136
587
1.835
800
2.951
2.948
1.398
280
1.383
229
435
1.367
166
1.387
150
120
361
1.108
21.849
18,745
Tabel 1.5
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah Menengah Atas
(SMA) Negeri, Menurut Kabupaten/Kota, Tahun 2013/2014
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Kabupaten/Kota
Simeulue
Aceh Singkil
Aceh Selatan
Aceh Tenggara
Aceh Timur
Aceh Tengah
Aceh Barat
Aceh Besar
Pidie
Bireuen
Aceh Utara
Aceh Barat Daya
Gayo Lues
Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Jaya
Bener Meriah
Pidie Jaya
Banda Aceh
Sabang
Langsa
Lhokseumawe
Subulussalam
2013
2012
Sekolah
14
10
20
16
21
17
17
27
23
23
34
11
12
14
19
9
12
9
16
2
5
8
5
344
336
Kelas
29
48
114
261
263
61
179
89
112
100
454
162
26
247
166
68
133
45
96
34
37
158
20
2.902
4.274
Guru
243
228
560
485
695
497
458
881
1.057
1.168
1.336
339
247
592
433
171
430
493
751
104
308
475
140
12.091
12.060
Sumber: Profil Pembangunan Aceh, Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh 2014
9
Murid
3,064
3,421
7,173
6,286
7,495
4,990
5,036
6.673
10.878
9.820
13.540
4.865
3.068
7.564
6.016
1.599
3.154
3.500
7.757
875
4.083
4.302
2.039
127.198
130.773
Tabel 1.6
Jumlah Sekolah, Kelas, Guru dan Murid Pada Sekolah Menengah Atas
(SMA) Swasta, Menurut Kabupaten/Kota, Tahun 2013/2014
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Kabupaten/Kota
Simeulue
Aceh Singkil
Aceh Selatan
Aceh Tenggara
Aceh Timur
Aceh Tengah
Aceh Barat
Aceh Besar
Pidie
Bireuen
Aceh Utara
Aceh Barat Daya
Gayo Lues
Aceh Tamiang
Nagan Raya
Aceh Jaya
Bener Meriah
Pidie Jaya
Banda Aceh
Sabang
Langsa
Lhokseumawe
Subulussalam
2013
2012
Sekolah
10
3
5
9
5
2
4
13
5
6
12
3
1
5
1
4
5
1
13
1
3
2
6
119
104
Kelas
11
3
10
39
15
2
18
17
7
22
41
17
1
22
1
13
19
1
27
3
7
10
9
315
529
Guru
105
37
64
127
81
34
68
255
89
166
209
48
15
79
12
58
91
24
271
17
85
32
78
2.045
1.832
Sumber: Profil Pembangunan Aceh, Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh 2014
10
Murid
587
208
376
1,366
428
99
423
1,156
539
1,657
1,165
516
71
507
54
285
477
50
1.532
54
659
210
576
12.995
6.283
1.2
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini, difokuskan pada tiga poin berikut ini:
1.
Menganalisis proses belajar mengajar pada siswa SMP dan SMA di
daerah Provinsi Aceh;
2.
Menganalisis ketersediaan dan ketercukupan sarana dan prasarana
sekolah tingkat SMP dan SMA di daerah Provinsi Aceh;
3.
Menganalisis kondisi lingkungan sosial ekonomi di sekitar sekolah
SMP dan SMA dengan nilai UN rendah dan nilai UN tinggi di daerah
Provinsi Aceh.
1.3
Output yang Diharapkan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi basis dalam membuat
kebijakan dan merencanakan program-program pendidikan untuk mendukung
implementasi kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan
di Provinsi Aceh.
11
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Mutu Pendidikan
Beberapa ahli mendefinisikan mutu pendidikan berdasarkan ketercapaian
tujuan sebagai mana dikemukakan oleh (Suryadi, 1994), mutu pendidikan dapat
diartikan sebagai seseorang yang telah mencapai tujuan kurikulum (objective of
curriculum) yang dirancang untuk pengelolaan pembelajaran siswa. Selanjutnya,
Suryadi dan Tilaar (1994) menegaskan bahwa kualitas pendidikan merupakan
kemampuan lembaga pendidikan dalam mendaya gunakan sumber-sumber
pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin.
Pendapat ini, memandang bahwa mutu pendidikan dapat di capai dengan
menggunakan sumber daya yang ada baik sumber daya manusia maupun sumber
daya fisik atau alam untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pendapat lain menyebutkan mutu pendidikan tidak hanya dilihat dari
ketercapaian tujuan, namun juga penting dinilai dari manfaat output sistem
pendidikan yang dirasakan oleh pengguna lulusan, atau masyarakat umum.
Sebagaimana dikemukakan Satori (2006), mutu pendidikan adalah nilai dan
manfaat yang sesuai dengan standar nasional pendidikan atas input, proses,
output, dan outcome pendidikan yang dirasakan oleh pemakai jasa pendidikan dan
pengguna hasil pendidikan. Hoy et. al. (2000) menjelaskan bahwa mutu
pendidikan adalah hasil penilaian terhadap proses pendidikan dengan harapan
yang tinggi untuk dicapai dari upaya pengembangan bakat-bakat para pelanggan
pendidikan melalui proses pendidikan. Senada dengan (Danim, 2008), kualitas
pendidikan dilihat dari hasil pendidikan dianggap bermutu jika mampu
melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurikuler pada peserta yang
dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program
pembelajaran tertentu.
Sejalan dengan pendapat di atas, Coombs (1985) melihat konsep mutu
pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi belajar, seperti yang dikaitkan dengan
kurikulum dan standarnya saja tetapi mutu harus dilihat dari segi relevansi dan
13
sejauh mana apa yang diajarkan dan dipelajari itu sesuai dengan kebutuhan belajar
saat ini dan untuk masa yang akan datang. Lebih jauh dikemukakan bahwa
masalah mutu pendidikan hendaknya dikaitkan dengan keseluruhan dimensi mutu
secara sistemik yang berubah dari masa ke masa.
Dalam perspektif yang lebih luas, mutu pendidikan mencakup kondisi
sosial ekonomi masyarakat dan sosiologi, sebagaimana pandangan Beeby (1966)
melihat mutu pendidikan dari tiga perspektif yaitu: perspekstif ekonomi, sosiologi
dan pendidikan. Berdasarkan perspektif ekonomi, yang bermutu adalah
pendidikan yang mempunyai kontribusi tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Lulusan pendidikan secara langsung dapat memenuhi angkatan kerja didalam
berbagai sektor ekonomi. Dengan bekerjanya mereka pertumbuhan ekonomi dapat
didorong lebih tinggi. Menurut pandangan sosiologi, pendidikan yang bermutu
adalah pendidikan yang bermanfaat terhadap seluruh masyarakat dilihat dari
berbagai kebutuhan masyarakat, seperti mobilitas sosial, perkembangan budaya,
pertumbuhan kesejahteraan dan pembebasan kebodohan. Sedangkan menurut
perspektif pendidikan, melihat mutu pendidikan perspektif pendidikan dari sisi
pengayaan (richness) dari proses belajar mengajar dan dari segikemampuan
lulusan dalam hal memecahkan masalah dan berpikir kritis. (Suderadjat, 2005).
Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan
lulusan yang memiliki kemampuan atau kompetensi, baik kompetensi akademik
maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan
sosial, serta nilai-nilai akhlak mulia, yang keseluruhannya merupakan kecakapan
hidup (life skill). Lebih lanjut, Sudrajad mengemukakan pendidikan bermutu
adalah pendidikan yang mampu menghasilkan manusia seutuhnya (manusia
paripurna) atau manusia dengan pribadi yang integral (integrated personality)
yaitu mereka yang mampu mengintegralkan iman, ilmu, dan amal.
Berkaitan dengan proses atau upaya untuk mencapai mutu pendidikan,
yang menghasilkan output berdaya guna dalam masyarakat, ada beberapa
pandangan yang dikemukakan para ahli; antara lain Umaedi (1999) dalam konteks
pendidikan pengertian mutu mengacu pada proses pendidikan dan hasil
pendidikan. Dalam proses pendidikan, yang bermutu terlibat berbagai input,
14
seperti: bahan ajar (kognitif, efektif atau psikomotorik), metodologi (bervariasi
sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana
prasarana dan sumber belajar lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.
Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input
tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam proses belajar mengajar,
baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik
konteks kurikuler maupun ekstra kurikuler. Sedangkan mutu dalam konteks hasil
pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun
waktu tertentu. Prestasi yang dicapai dapat berupa hasil test kemampuan akademis
(hasil ulangan atau ujian), dapat pula prestasi bidang lainnya, seperti: olah raga,
seni, bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang
(intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, kebersihan dan sebagainya.
Kemampuan pengelolaan sekolah oleh manajemen sekolah juga
menentukan pencapaian kualitas output. Menurut Achmad (1990) mutu
pendidikan di sekolah dapat diartikan sebagai kemampuan sekolah dalam
pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang
berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap
komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku. Engkoswara (2010)
melihat mutu/keberhasilan pendidikan dari tiga sisi, yaitu: prestasi, suasana, dan
ekonomi. Dalam hubungan dengan mutu sekolah. Slamet (1999) berpendapat
bahwa banyak masyarakat yang mengatakan sekolah itu bermutu atau unggul
dengan hanya melihat fisik sekolah dan banyaknya ekstrakurikuler yang ada di
sekolah. Ada juga yang melihat banyaknya tamatan yang diterima di jenjang
sekolah yang lebih tinggi, atau yang diterima di dunia usaha.
Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut Slamet (1999) terdapat empat
usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan yaitu:
1. Menciptakan situasi “menang-menang” (win–win solution) dan bukan situasi
“kalah–menang” di antara pihak yang berkepentingan dengan lembaga
pendidikan (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga
dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu
15
sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga
pendidikan tersebut.
2. Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi intrinsik pada setiap orang
yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga
pendidikan harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu
tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan
harapan pengguna/langganan.
3. Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang.
Penerapan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan bukanlah suatu proses
perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan
terus menerus.
4. Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai
mutu yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsurunsur pelaku prosesmencapai hasil mutu. Janganlah di antara mereka terjadi
persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut.
Dari beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan yang
bermutu adalah pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan standar
pendidikan yang telah ditetapkan. Kesesuaian dan ketercapaian standar perlu
dievaluasi secara berkala, dan hasil temuan ditindaklanjuti untuk memperbaiki
arah pelaksanaan jika pelaksanaan melenceng dari standar, meempertahankan atau
meningkatkan satandar jika standar yang ditetapkan telah tercapai. Jadi
peningkatan mutu pendidikan perlu ditingkatkan secara berkala dan berkelanjutan
oleh institusi penyelenggara pendidikan itu sendiri (internally driven).
Mempertahankan ketercapaian dan peningkatan standar perlu dilaksanakan
untuk memberikan kepuasan kepada stakeholders baik internal maupun eksternal.
Sallis (2002) mengindentifikasikan dan mengelompokkan konsumen atau
pelanggan pendidikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu pelanggan internal dan
pelanggan eksternal. Pelanggan internal meliputi para pendidik dan staf
pendukung. Sedangkan pelanggan eksternal meliputi pelanggan eksternal utama
adalah peserta didik; pelanggan eksternal sekunder adalah orang tua, pemerintah
dan employers; serta pelanggan eksternal tersier adalah pasaran kerja, pemerintah
16
dan masyarakat. Sallis menyarankan agar pendidikan dipandang sebagai industri
jasa, dan usaha memenuhi kebutuhan peserta didik harus menjadi fokus utama
dalam mengelola mutu. Sekalipun demikian menurutnya tidak berarti harus
mengabaikan pandangan-pandangan dari kelompok pelanggan lainnya.
2.2
Standar atau Parameter Pendidikan yang Berkualitas
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No 32 tahun 2013 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan, ada delapan (8) standar yang harus diperhatikan untuk mewujudkan
pendidikan yang berkualitas, yaitu: Pasal 1 ayat 5 sampai 12.
1.
Standar
Kompetensi
Lulusan
adalah
kriteria
mengenai
kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
2.
Standar Isi adalah kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat
Kompetensi untuk mencapai Kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.
3.
Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satu
satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan.
4.
Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah kriteria mengenai
pendidikan prajabatan dan kelayakan maupun mental, serta pendidikan dalam
jabatan.
5.
Standar Sarana dan Prasarana adalah kriteria mengenai ruang belajar, tempat
berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja,
tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi serta sumber belajar lain,
yang
diperlukan
untuk
menunjang
proses
pembelajaran,
termasuk
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
6.
Standar Pengelolaan adalah kriteria mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan
kegiatan
pendidikan
pada
tingkat
satuan
pendidikan,
kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
7.
Standar Pembiayaan adalah kriteria mengenai komponen dan besarnya biaya
operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
17
8.
Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur,
dan instrumen penilaian hasil belajar Peserta Didik.
2.3
Dimensi Mutu Pendidikan
Menurut UNESCO dalam buku EFA Global Monitoring Report 2005 atau
Laporan Pemantauan Global Pendidikan untuk semua ada lima dimensi yang
terkait dengan mutu pendidikan, yaitu:
1. Karakteristik pembelajar (learner characteristics)
Dimensi ini sering disebut sebagai masukan (inputs) atau malah masukan
kasar (raw inputs) dalam teori fungsi produksi (production function theory), yaitu
peserta didik atau pembelajar dengan berbagai latar belakangnya, seperti
pengetahuan (aptitude), kemauan dan semangat untuk belajar (perseverance),
kesiapan untuk bersekolah (school readiness), pengetahuan siap sebelum masuk
sekolah (prior knowledge) dan hambatan untuk pembelajaran (barriers to
learning) terutama bagi anak luar biasa. Banyak faktor latar belakang peserta
didik yang sangat mempengaruhi mutu pendidikan di negeri ini. Banyak anak usia
sekolah yang tidak didukung oleh kondisi yang kondusif, misalnya peserta didik
yang berasal dari keluarga tidak mampu, keluarga bermasalah (broken home),
kesehatan lingkungan, pola asuh anak usia dini dan faktor-faktor lain-lainnya.
Dimensi ini menjadi faktor awal yang mempengaruhi mutu pendidikan.
2. Pengupayaan masukan (enabling inputs)
Ada dua macam masukan yang akan mempengaruhi mutu pendidikan yang
dihasilkan, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya fiskal. Guru atau
pendidik, kepala sekolah, pengawas dan tenaga kependidikan lain menjadi sumber
daya manusia (human resources) yang akan mempengaruhi mutu hasil belajar
siswa (outcomes). Proses belajar mengajar tidak dapat berlangsung dengan
nyaman dan aman jika fasilitas belajar, seperti gedung sekolah, ruang kelas, buku
dan bahan ajar lainnya (learning materials), media dan alat peraga yang dapat
diupayakan oleh sekolah, termasuk perpustakaan dan laboratorium, bahkan juga
18
kantin sekolah, dan fasilitas pendidikan lainnya, seperti buku pelajaran dan
kurikulum yang digunakan di sekolah. Semua itu dikenal sebagai infrastruktur
fisikal (physical infrastructure atau facilities). Singkat kata, mutu SDM yang
tersedia di sekolah dan mutu fasilitas sekolah merupakan dua macam masukan
yang sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan.
3. Proses belajar-mengajar (teaching and learning)
Dimensi ketiga ini sering disebut sebagai kotak hitam (black box) masalah
pendidikan. Dalam kotak hitam ini terdapat tiga komponen utama pendidikan
yang saling berinteraksi satu dengan yang lain, yaitu peserta didik, pendidik, dan
kurikulum. Tanpa peserta didik, siapa yang akan diajar? Tanpa pendidik, siapa
yang akan mengajar, dan tanpa kurikulum, bahan apa yang akan diajarkan? Oleh
karena itu mutu proses belajar mengajar, atau mutu interaksi edukatif yang terjadi
di ruang kelas, menjadi faktor yang amat berpengaruh terhadap mutu pendidikan.
Efektivitas proses belajar-mengajar dipengaruhi oleh: (1) lama waktu belajar,
(2) metode mengajar yang digunakan, (3) penilaian, umpan balik, bentuk
penghargaan bagi peserta didik dan (4) jumlah peserta didik dalam satu kelas.
Ruang kelas di Indonesia sangat kering dengan media dan alat peraga.
Pakar pendidikan, Dr. Arif Rahman, M.Pd. sering menyebutkan bahwa ruang
kelas kita ibarat menjadi penjara bagi anak-anak. Jika diumumkan ada rapat
dewan pendidik, dalam arti tidak ada kelas, maka bersoraklah para siswa, ibarat
keluar dari pintu penjara tersebut. Sesungguhnya, di sinilah kelemahan terbesar
pendidikan di negeri ini. Proses belajar mengajar di ruang kelas kita sangat kering
dari penggunaan teknik penguatan (reinforcement), kering dari penggunaan media
dan alat peraga yang menyenangkan. Dampaknya, dapat diterka, yaitu hasil
belajar yang belum memenuhi standar mutu yang ditentukan. Sentral
permasalahan lemahnya proses belajar mengajar di dalam kelas ini, sebenarnya
sudah diketahui, yakni kualifikasi dan kompetensi guru. Setengah guru kita belum
memenuhi standar kualifikasi. Apalagi dengan standar kompetensinya. Timbullah
istilah ‘guru tak layak’. Belum lagi dengan masalah kesejahteraannya. Ada
pendapat yang menyatakan bahwa semua masalah bersumber dari masalah
19
kesejahteraan. Memang, kesejahteraan guru menjadi salah satu syarat agar guru
dapat disebut sebagai profesi, selain (1) memerlukan keahlian, (2) keahlian itu
diperoleh dari proses pendidikan dan pelatihan, (3) keahlian itu diperlukan
masyarakat, (4) punya organisasi profesi, (5) keahlian yang dimiliki dibayar
dengan gaji yang memadai (Suparlan, 2006).
4. Hasil belajar (outcomes)
Hasil belajar adalah sasaran yang diharapkan oleh semua pihak. Di sini
memang terjadi perbedaan harapan dari pihak-pihak tersebut. Pihak dunia usaha
dan industri (DUDI) mengharapkan lulusan yang siap pakai. Pendidikan kejuruan
dipacu agar dapat memenuhi harapan ini. Sedang pihak praktisi pendidikan pada
umumnya cukup berharap lulusan yang siap latih. Alasannya agar DUDI dapat
memberikan peran lebih besar lagi dalam memberikan pelatihan.
Setidaknya, semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan menghasilkan
lulusan yang dapat membaca dan menulis (literacy), berhitung (numeracy) dan
kecakapan hidup (life skills) Ini memang pasti. Selain itu, peserta didik harus
memiliki kecerdasan emosional dan sosial (emotional dan sosial intelligences),
nilai-nilai lain yang diperlukan masyarakat. Terkait dengan berbagai macam
kecerdasan, Howard Gardner menegaskan bahwa “satu-satunya sumbangan paling
penting untuk perkembangan anak adalah membantunya untuk menemukan
bidang yang paling cocok dengan bakatnya” (Goleman, 2005). Hasil belajar yang
akan dicapai sesungguhnya yang sesuai dengan potensinya, sesuai dengan bakat
dan kemampuannya, serta sesuai dengan tipe kecerdasannya, di samping juga
nilai-nilai
kehidupan
(values)
yang
diperlukan
untuk
memelihara
dan
menstransformasikan budaya dan kepribadian bangsa.
5. Konteks (contexts) atau lingkungan (environments)
Keempat dimensi yang telah dijelaskan tersebut saling pengaruhmempengaruhi dengan konteks (contexts) atau lingkungan (environments) yang
meliputi berbagai aspek alam, sosial, ekonomi, dan budaya.
20
Menurut Townsend-Butterworth (1992) di dalam bukunya Your First
Child’s School, ada sepuluh faktor penentu terwujudnya proses pendidikan yang
berkualitas, yaitu:
1.
Keefektifan kepemimpinan kepala sekolah;
2.
Partisipasi & rasa tanggung jawab guru & staf;
3.
Proses belajar mengajar yang efektif;
4.
Pengembangan staf yang terprogram;
5.
Kurikulum yang relevan;
6.
Mempuyai visi serta misi yang terang;
7.
Iklim sekolah yang kondusif;
8.
Penilaian diri pada kapabilitas serta kelemahan;
9.
Komunikasi efektif baik internal ataupun eksternal; dan
10. Keterlibatan orang lanjut usia serta warga dengan cara intrinsik.
Manusia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan. Lingkungan selalu
mengitari manusia dari waktu ke waktu, sehingga antara manusia dan lingkungan
terdapat hubungan timbal balik dimana lingkungan mempengaruhi manusia dan
sebaliknya manusia juga mempengaruhi lingkungan. Begitu pula dalam proses
belajar belajar mengajar, lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi
antarpersonil yang ada di lingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial
yang baik memungkinkan para siswa untuk berinteraksi secara baik, siswa dengan
siswa, guru dengan siswa, guru dengan guru, atau guru dengan karyawan, dan
siswa dengan karyawan, serta secara umum interaksi antarpersonil. Dan kondisi
pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi sosial ini
berlangsung secara baik. Lingkungan sosial yang kondusif dalam hal ini, misalnya
adanya keakraban yang proporsional antara guru, siswa dan orangtua serta
masyarakat sekitar dalam proses pembelajaran.
Lingkungan merupakan sumber belajar yang tidak dapat di abaikan.
Beberapa faktor yang datang dari masyarakat dapat mempengaruhi proses dan
hasil belajar meliputi:
1
Media massa; di luar jam sekolah atau disekolah terkadang siswa membaca
buku selain buku pelajaran, seperti koran, atau menonton televisi, sehingga
21
lupa akan tugas belajar. Maka bacaan dan tontonan siswa perlu diawasi dan
diseleksi.
2 Teman bergaul; setiap manusia selalu berusaha untuk mengembangkan
sosialisasinya, anak perlu bergaul dengan anak lain, dan perlu diawasi agar
anak bergaul dengan teman yang baik agar dapat memberikan pengaruh baik
pula.
3 Cara hidup lingkungan sekitar akan memberikan pengaruh besar pada sikap
dan kebiasaan siswa, termasuk kebiasaan belajar. Siswa yang hidup dalam
lingkungan yang selalu belajar keras, sikap itu akan mempengaruhi
perilakunya.
Di sisi lain Heyneman dan Loxley (1983) menyimpulkan bahwa kualitas
sekolah dan guru nampaknya sangat berpengaruh pada prestasi akademis di
seluruh dunia dan semakin miskin suatu negara, semakin kuat pengaruh tersebut.
Sejalan dengan yang disampaikan Husaini Usman (2009) bahwa ada tiga faktor
penyebab rendahnya mutu pendidikan, yaitu:
1.
Kebijakan
dan
penyelenggaraan
pendidikan
nasional
menggunakan
pendekatan educational production function atau input-input analisis yang
tidak konsisten;
2.
Penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik; dan
3.
Peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan
pendidikan sangat minim.
2.4
Sarana dan Prasarana Pendidikan
Pendidikan yang menyangkut standar sarana dan prasarana pendidikan
secara nasional pada Bab VII Pasal 42 PP 19 tahun 2005 (yang tidak berubah
dalam PP no. 32 th 2013) dengan tegas disebutkan bahwa:
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot,
peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya,
bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang
proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
22
2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang
kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha,
ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit
produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat
beribadah, tempat bermain, tempat bekreasi, dan ruang/tempat lain yang
diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan.
2.5
Hubungan Sarpras Pendidikan Dengan Proses Belajar Mengajar
Dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar, ada dua jenis sarana
pendidikan. Pertama, sarana pendidikan yang secara langsung digunakan dalam
proses belajar mengajar. Sebagai contoh papan tulis, atlas, buku dan media dan
sumber pendidikan lainnya yang digunakan guru dalam mengajar. Kedua, sarana
pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar
mengajar, seperti lemari arsip di kantor yang secara tidak langsung digunakan
guru dalam proses belajar mengajar.
Sedangkan prasarana pendidikan di sekolah bisa diklasifikasikan menjadi
dua macam. Pertama, prasarana pendidikan yang langsung digunakan untuk
proses belajar mengajar. Seperti ruang kelas, ruang perpustakaan, dan ruang
laboratorium. Kedua, prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan
untuk proses belajar mengajar secara langsung. Contohnya adalah ruang kantor,
kantin sekolah, ruang UKS, kamar kecil, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan
tempat parkir kendaraan.
2.6
Prinsip-Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengelola sarana dan
prasarana pendidikan di sekolah. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah sebagai
berikut : (Imron, 2003)
a. Prinsip pencapaian tujuan, yaitu bahwa sarana dan prasarana pendidikan di
sekolah harus selalu dalam kondisi siap pakai bilamana akan didayagunakan
23
oleh personil sekolah dalam rangka pencapaian tujuan proses belajar
mengajar;
b. Prinsip efisiensi, yaitu bahwa pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di
sekolah harus dilakukan melalui perencanaan yang seksama, sehingga dapat
diadakan sarana dan prasarana pendidikan yang baik dengan harga yang
murah. Dan pemakaiannya pun dengan hati-hati sehingga mengurangi
pemborosan;
c. Prinsip administratif, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana
pendidikan di sekolah harus selalu memperhatikan undang-undang, peraturan,
instruksi dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh yang berwenang;
d. Prinsip kejelasan tanggung jawab, yaitu bahwa manajemen sarana dan
prasarana pendidikan di sekolah harus didelegasikan kepada personel sekolah
yang mampu bertanggung jawab. Apabila melibatkan banyak personel sekolah
dalam manajemennya. Maka perlu adanya deskripsi tanggung jawab yang
jelas untuk setiap personel sekolah; dan
e. Prinsip kekohesifan, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan
di sekolah itu harus direalisasikan dalam bentuk proses yang sangat kompak.
2.7
Kerangka Pemikiran
Proses pembelajaran dan hasil dari proses belajar tentu perlu ditunjang
oleh layanan manajemen yang teratur. Sejalan dengan Tawnsend-Butterworth
(1992) yang mengemukakan bahwa pengelolaan atau manajemen sekolah
termasuk pengelolaan proses belajar mengajar yang efektif, pengembangan SDM
yang terprogram, komunikasi yang efektif secara internal dan eksternal dan
keterlibatan warga dan orang tua, akan mempengaruhi proses dan hasil
pendidikan. Di samping itu proses pembelajaran yang baik juga memerlukan input
yang berkualitas pula di antaranya sarana prasarana dan sumber daya manusia
atau guru. Umaedi (1999) mengatakan input dari proses pendidikan adalah sarana
prasarana seperti sumber belajar, fasilitas belajar, dan juga guru atau sumber daya
manusia dengan berbagai metodogi yang digunakan.
24
Guru dalam proses dan hasil belajar memegang peranan penting dan
sentral. Dewasa ini, sebagian guru juga mempunyai tugas tambahan sebagai
pengelola baik pada bidang kurikulum, sarpras, kesiswaan dan juga top
manajeman sekolah. Imron dkk. (2003) menegaskan bahwa guru merupakan
sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan program pendidikan,
tidak mungkin ada peningkatan mutu pendidikan tanpa peningkatan performansi
gurunya dan ini mutlak dilakukan secara terus menerus. Hal tersebut
mengisyaratkan bahwa guru merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan
mutu pendidikan. Namun bukan berarti keberadaan unsur unsur lain tidak penting.
Peningkatan performa guru memerlukan adanya layanan yang profesional di
bidang sarana dan prasarana dalam menerapkan kemampuannya secara maksimal.
Hamalik (1994) menegaskan “sudah jelas bahwa di samping dibutuhkannya guruguru yang memiliki kemampuan dan kecakapan yang lebih memadai, juga
diperlukan cara-cara bekerja dan sikap yang baru, peralatan yang lengkap, dan
sistem administrasi yang lebih teratur.
Variabel kesiswaan lebih menekankan pada kegiatan kesiswaan yang
bertujuan untuk pengembangan karakter siswa, kegiatan ini juga memerlukan
perhatian dan keterlibatan guru secara terintegrasi, yang pada akhirnya
mempengaruhi proses dan hasil belajar. Baiknya kegiatan kesiswaan juga terkait
dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai.
Lingkungan sosial ekonomi masyarakat secara langsung atau tidak
langsung dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan merupakan
suatu komponen sistem yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan.
Kondisi lingkungan sekolah dan keluarga menjadi perhatian karena faktor ini
sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa yang sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. ”Di sekolah nilai-nilai kehidupan ditumbuhkan dan
dikembangkan. Oleh karena itu, sekolah menjadi wahana yang sangat dominan
bagi pengaruh dan pembentukan sikap, perilaku, dan prestasi seorang siswa (Tu’u,
2004). Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa keterlibatan orangtua
siswa dan tokoh masyarakat di sekitar sekolah dapat memberikan pengaruh yang
baik pada peningkatan proses dan hasil belajar. Uraian ini dapat dikemukakan
25
dalam bentuk diagram di bawah ini. Kerangka pemikiran yang menunjukkan
hubungan antarvariabel dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini.
Pengelolaan
Proses
Pembelajaran
Hasil
UN
Sosial
ekonomi
masyarakat
SDM
Kesiswaan
Sarpras
Pembiayaan
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Hubungan Antarvariabel
26
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Ruang Lingkup, Populasi Dan Sampel Penelitian
Objek penelitian ini dilaksanakan pada sekolah SMP dan SMA di 12 (dua
belas) kabupaten/kota Provinsi Aceh dengan ranking 10 besar angka
ketidaklulusan Ujian Nasional (UN) terbanyak. Setiap kabupaten/kota diambil
sampel 5 sekolah dengan jumlah ketidaklulusan terbanyak dipilih secara random
(acak) dari 10 SMP dan SMA rangking terendah di masing-masing kabupaten
tersebut. Selanjutnya sebagai pembanding, penelitian ini juga mengambil sampel
sekolah SMP dan SMA dengan hasil nilai rata-rata UN tertinggi di Aceh sebanyak
31 sekolah yang terdapat di 8 (delapan) kabupaten/kota. Total sekolah dari kedua
kelompok sekolah ini yang dijadikan sampel adalah sebanyak 158 sekolah,
dengan responden 235 responden.
Untuk memudahkan mengidentifikasi sekolah sampel penelitian, berikut
ini disajikan SMP dan SMA yang menjadi objek penelitian berturut-turut dalam
Tabel 3.1 dan 3.2:
27
Tabel 3.1
Daftar Sampel Penelitian di Provinsi Aceh dengan Nilai UN Peringkat
Sepuluh Terendah pada Tahun 2013
1
Kabupaten
/Kota
Aceh Barat
2
No.
SMP
SMA
1.
2.
3.
4.
5.
SMPN 2 Kaway XVI
SMPN 5 Kaway XVI
SMPN 1 Meureubo
SMPN 6 Meureubo
SMPN 4 Meureubo
1.
2.
3.
4.
5.
Aceh Jaya
1.
2.
3.
4.
SMPN 1 Teunom
SMPN 1 Darul Hikmah
SMPN 3 Sampoinet
SMPN 2 Jaya
1. SMAN 2 Sampoinet
2. SMA 5 Darul Abrar
3. SMAN 1 Setia Bakti
4. SMAN 1 Calang
5. SMAN 1 Panga
6. SMP Swasta Darunnizam
3
Aceh Timur
1.
2.
3.
4.
5.
SMPN 1 Idi Tunong
SMPN 1 Darul Ikhsan
SMPN 2 Peureulak
SMPN 4 Peureulak
SMPN 6 Birem Bayeun
1. SMAN 1 Simpang Ulim
2. SMAN 1 Birem Bayeun
3. SMAN 1 Ranto Peureulak
4. SMAN 1 Nurussalam
5. SMAS Bungong Jeumpa (bubar)
4
Aceh Utara
1.
2.
3.
4.
5.
SMP Negeri 1 Tanah Pasir
SMP Negeri 6 Lhoksukon
SMP 2 Negeri Jambo Aye
SMP 4 Negeri Lhoksukon
SMP Alwaliyah
1. SMA Negeri 1 Baktiya Barat
2. SMA 2 Baktiya
3. SMA 2 Negeri Seuneudon
4. SMA Sidomulyo (tidak bisa diakses
karena ada insiden bersenjata)
5. SMA Meurah Mulia (tidak bisa diakses
karena ada insiden bersenjata)
5
Bireuen
1. SMPN 1 Pandrah
2. SMPN 2 Peudada
3. SMPN 2 Jeunib
4. SMPN 2 Peulimbang
5. SMPN 4 Peudada
1.
2.
3.
4.
5.
SMAN 1 Peulimbang
SMAN 1 Pandrah
SMAN 1 Simpang Mamplam
SMAN 1 Samalanga
SMAN 2 Samalanga
6
Pidie
1.
2.
3.
4.
5.
SMPN 2 Peukan Pidie
SMP Darussa'dah
SMPN 1 Simpang Tiga
SMP Sukma Bangsa
SMPN 4 Sigli
1.
2.
3.
4.
5.
SMA Darussa'dah
SMAN 1 Padang Tiji
SMAS Islam Tgk. Chik Di Beureueh
SMAN 1 Keumala
SMAN 2 Sigli
7
Pidie Jaya
1.
2.
3.
4.
5.
SMP Negeri 1 Bandar Baru
SMP Negeri 2 Bandar Baru
SMP Negeri 2 Trienggadeng
SMP N 2 Bandar Dua
SMP Negeri 3 Bandar Dua
1. SMA Negeri 1 Pante Raja
2. SMA Negeri 1 Jangka Buya
3. SMA Negeri 1 Trienggadeng
4. SMA Negeri 2 Bandar Baru
5. SMA Negeri 2 Meureudu
28
SMAN 1 Bubon
SMAN 1 Kaway XVI
SMA Muhammadiyah 6 Meulaboh
SMAN 1 Meureubo
SMAN 1 Panton Reu
No.
Kabupaten
/Kota
SMP
SMA
6. SMP Negeri 3 Bandar Baru
8
Sabang
1. SMP N 7 Sabang
2. SMP N 3 Sabang
3. SMP N 4 Sabang
1. SMA N 1 Sabang
2. SMA N 2 Sabang
3. SMA Al-Mujaddid
9
Aceh Tamiang
1.
2.
3.
4.
5.
SMP Negeri 3 Karang Baru
SMP Negeri 5 Bendahara
SMP Swasta Al-Washliyah Seumadam
SMP Swasta Harum Sari
SMP Negeri 7 Karang Baru
1. SMA Negeri 3 Kejuruan Muda
2. SMA Swasta Darul Muklisin
3. SMA Swasta Syakirah
4. SMA Swasta Al-Hidayah
10
Lhokseumawe
1.
2.
3.
4.
5.
SMP I Serambi Mekkah
SMP Negeri Satap Ujong Pacu
SMP Negeri 4 Lhokseumawe
SMP Negeri 9 Lhokseumawe
SMP Swasta Islam Pase
1. SMA Negeri 7 Lhokseumawe
2. SMA Negeri 6 Lhokseumawe
3. SMA Negeri 5 Lhokseumawe
4. SMA Negeri 3 Lhokseumawe
5. SMA Negeri 4 Lhokseumawe
11
Aceh Selatan
1.
2.
3.
4.
5.
12
Aceh Barat Daya
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Sekolah
SMP Negeri 3 Labuhan Haji Timur
SMP Negeri 1 Kluet Utara
SMP Negeri 3 Pasie Raja
SMP Negeri 1 Bakongan
SMP Negeri 3 Kluet Utara
SMP Negeri 4 Manggeng
SMP Negeri 1 Manggeng
SMP Negeri 1 Susoh
SMP Negeri 2 Susoh
SMP Negeri 1 Lembah Sabil
58 SMP
1.
2.
3.
4.
5.
SMA Negeri 3 Kluet Utara
SMA Negeri 1 Kluet Timur
SMA Negeri 1 Meukek
SMA Negeri 1 Labuhan haji
SMA Negeri 1 Pasie Raja
1.
2.
3.
4.
5.
SMA Negeri 3 Abdya
SMA Negeri 4 Abdya
SMA Negeri 2 Abdya
SMA Negeri 8 Abdya
SMA Negeri 9 Abdya
55 SMA
Banyaknya sekolah dengan hasil nilai UN peringkat sepuluh terendah
adalah 113, yaitu 58 SMP dan 55 SMA. Sedangkan, banyaknya sekolah dengan
peringkat sepuluh tertinggi adalah 31, yaitu 13 SMP dan 18 SMA, sebagaimana
terdistribusi dalam Tabel 3.2 berikut ini.
Tabel 3.2
Daftar Sampel Penelitian di Provinsi Aceh dengan Nilai UN Peringkat
Sepuluh Tertinggi pada Tahun 2013
No.
1
Kabupaten
/Kota
Aceh Timur
SMP
SMA
SMPN 1 Simpang Ulim
SMAN Unggul Aceh Timur
29
2
Kabupaten
/Kota
Langsa
3
No.
SMP
SMA
-
SMAN 1 Langsa
Aceh Utara
-
1. SMA Iskandar Muda
2. SMA Modal Bangsa Arun
4
Lhokseumawe
-
SMAN 1 Lhokseumawe
5
Aceh Tengah
1. SMPN 1 Takengon Aceh Tengah
2. SMPN 2 Takengon Aceh Tengah
3. SMPN 4 Aceh Tengah
1. SMAN 1 Takengon Aceh Tengah
2. SMAN 8 Aceh Tengah
3. SMAN 15 Takengon Aceh Tengah
6
Bener Meriah
1. SMPN 6 Satu Atap Permata Bener
Meriah
2. SMPN 3 Wih Pesam Bener Meriah
3. SMPN 3 Timang Gajah Bener Meriah
4. SMPN 4 Takengon Aceh Tengah
5. SMPN 5 Takengon Aceh Tengah
6. SMPN 2 Wih Pesam Bener Meriah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7
Aceh Besar
1. SMPN Al-Falah
2. SMP 3 Lembah Seulawah
1. SMA Modal Bangsa
8
Banda Aceh
SMP Fatih Bilingual School Lam Yong
Banda Aceh
1. SMA 3 Banda Aceh
2. SMA 1 Banda Aceh
3. SMA Fajar Harapan
Jumlah Sekolah
3.2
SMAN 1 Timang Gajah Bener Meriah
SMAN 1 Bandar Bener Meriah
SMAN 2 Bandar Bener Meriah
SMAN 1 Bukit Bener Meriah
SMA Bustanul Ulum Bener Meriah
SMAN Unggul Binaan Bener Meriah
13 SMP
18 SMA
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh melalui survei dan wawancara dengan menggunakan kuesioner dan
pedoman wawancara kepada para responden, terdiri dari kepala sekolah, wakil
kepala sekolah, guru, kepala tata usaha dan pegawai tata usaha. Survei dilakukan
terhadap SMP dan SMA berdasarkan jumlah ketidaklulusan UAN melalui
observasi lapangan dan wawancara dengan responden yang bersangkutan. Data
sekunder diperoleh melalui studi pustaka yang terdiri dari jurnal, laporan ilmiah,
laporan resmi pemerintah, dan bahan-bahan lain yang relevan.
30
3.3
Metode dan Desain Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan metode analisis secara deskriptif
kualitatif (analisis statistik inferensial). Metode analisis deskriptif dilakukan
dengan analisis secara umum melalui grafik, tabel, gambar dan peta.
Penelitian ini menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan
kualitatif (mixed methods) dengan desain triangulasi yang dapat digambarkan
sebagai berikut (Creswell, 2008):
QUAN
(Data dan Results)
+
QUAL
(Data dan Results)
Interpretasi
Gambar 3.1. Desain Triangulasi Metode Penelitian Campuran
3.4
Metode Analisis dan Pembahasan
1. Analisis data kuantitatif
Penelitian ini akan menggunakan metode analisis secara deskriptif
kualitatif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan inferensia statistik. Metode
analisis deskriptif dilakukan dengan analisis secara umum melalui grafik, tabel,
dan gambar. Sedangkan analisis statistik inferensia, menggunakan analisis regresi
untuk persamaan simultan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan pengujian
keberartian koefisen regresi dengan uji-t, dengan kriteria nilai t lebih besar atau
sama dengan satu, berarti koefisien regresi signifikan. Selain itu, secara kualitatif
penarikan kesimpulan didasarkan pada hubungan informasi yang tersusun dalam
suatu bentuk yang di padu pada penyajian data yang informatif.
Model Analisis.
PROS
= a0 + a1 SDM + a2 SRP + a3 SW + a4 MJM + a5 UN + a6 D + e1
31
SRP
= b0 + b1 DN + b2 MJM + b3 SW + b4 D + e2
UN
= d0 + d1 PROS + d2 SRP + d3 SW + d4 SDM + d5 MJM + d6 KM+ d7 D
+ e3
Keterangan:
PROS = proses pembelajaran
SDM = sumber daya manusia
SRP
= sarana dan prasarana
SW
= kesiswaan
MJM = manajemen
DN
= pembiayaan
UN
= hasil ujian nasional
KM
= kondisi soaial ekonomi masyarakat
D
= variabel dummy, nilai 1 untuk sekolah dengan nilai UN tinggi
nilai 0 untuk sekolah dengan UN rendah
Reduced form:
PROS
- a2 SRP - a6 UN
SRP
= a0 + a1 SDM + a3 SW + a4 MJM + a7D + e1
= b0 + b1 DN + b2 MJM + b4D + e2
- d1 PROS - d2 SRP + UN
= d0 + d3 SW + d4 SDM + d5 MJM + d6KM + d7D
+ e3
Bentuk reduced dapat dituliskan dalam bentuk matrik berikut:
1
[0
-d1
-a1
1
-d2
a0
-a6
0 ] = [bo
d0
1
a1
0
d4
1
SDM
a3 a4 0 0 a7
e1
SW
0 b2 b1 b4 b5 ] MJM + [e2 ]
e3
d3 d5 0 d6 d7
DN
KM
[ D ]
Matriks variabel endogen bukan matriks segitiga, yang menunjukkan model yang
dibangun merupakan model simultan dengan kata lain terdapat saling
32
mempengaruhi antar variabel penelitian. Model ini dapat diestimasi dengan
metode Two State Least Square (2TLS) (Gujarati, 1993).
2. Analisis data kualitatif
Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan model analisis yang
dikemukakan oleh Creswell (2008) yang digambarkan sebagai berikut:
Mengkode teks untuk
deskripsi yang digunakan
pada laporan penelitian
Mengkode teks untuk
tema-tema yang
digunakan pada laporan
penelitian
Peneliti mengkode data
(yakni, menentukan bagian-bagian teks dan
memberikan label kode pada mereka)
Bolak-balik
Serentak
Peneliti membaca keseluruhan data
(yakni, mendapatkan pemahaman
umum dari material)
Peneliti mempersiapkan data untuk
analisis (yakni, mentranskrip catatan
lapangan)
Peneliti mengumpulkan data
(yakni, file teks seperti catatan
lapangan, transkripsi, atau bahan
yang dipindai secara optik)
Gambar 3.2 Proses Analisis Data Kualitatif
Proses analisis sesuai dengan langkah-langkah di atas, diawali dengan
pengumpulan data, pembuatan transkrip hasil dokumentasi dan wawancara.
Kemudian melakukan analisis diawali dengan mendapatkan pemahaman umum
dari transkrip itu, dilanjutkan dengan mensegmentasi transkrip untuk menentukan
kode-kode pada setiap segmen tersebut. Setelah mengumpulkan semua kode,
dilakukan reduksi untuk kode-kode yang tumpang tindih atau berulang. Hasil
reduksi kode diklasifikasikan kode-kode tertentu yang membentuk tema.
33
Tema-tema yang diperoleh digunakan untuk membuat deskripsi yang akan
digunakan pada laporan penelitian. Dalam analisis, juga dicari keterkaitan antar
tema-tema yang ada untuk melihat keterkaitan antara mereka. Dengan serangkaian
proses analisis ini, peneliti melahirkan hasil penelitian dan menginterpretasi untuk
melahirkan kesimpulan dan rekomendasi dalam upaya memperbaiki mutu
pendidikan sekolah menengah di Provinsi Aceh.
Definisi Operasional Variabel
1. Proses pembelajaran adalah kriteria dalam menjalankan pembelajaran yang
meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian hasil pembelajaran, dan
pengawasan proses pembelajaran yang diukur dengan skala 1 sampai 5.
Skala 1
: Sebagian besar pembelajaran dilakukan tanpa RPP, hanya
sebagian kecil prosedur penilaian yang terlaksan, dan proses
pembelajaran tidak diawasi dan evaluasi.
Skala 2
: Sebagian pembelajaran dilakukan tanpa RPP, sebagian prosedur
penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran sebagian diawasi
dan evaluasi.
Skala 3 : Sebagian besar pembelajaran tidak mengikuti RPP, sebagian
prosedur penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran sebagian
diawasi dan evaluasi.
Skala 4 : Sebagian besar pembelajaran tidak mengikuti RPP, sebagian
prosedur penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran sebagian
besar diawasi dan evaluasi.
Skala 5
: Sepenuhnya pembelajaran mengikuti RPP, sebagian besar
prosedur penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran sebagian
besar diawasi dan evaluasi.
2. Sumber daya manusia adalah kriteria guru yang meliputi kompetensi dan
kesesuaian dengan pelajaran yang diampu, serta pembinaan profesional, yang
diukur dengan skala 1 sampai 5.
Skala 1
: Ada pelajaran ujian nasional yang diajarkan oleh guru dengan
kompetensi tidak sesuai.
Skala 2
: Ada pelajaran selain mata pelajaran yang di-UN-kan yang
diajarkan oleh guru dengan kompetensi yang tidak sesuai, dan
34
aktif pada MGMP.
Skala 3 : Tidak ada pelajaran yang diajarkan oleh guru dengan kompetensi
tidak sesuai. Kurang dari 25% guru bersertifikat, kurang dari 25%
guru telah mengikuti pelatihan-pelatihan dan guru aktif pada
forum MGMP.
Skala 4 : Tidak ada pelajaran yang diajarkan oleh guru dengan kompetensi
tidak sesuai. Kurang dari 50% guru bersertifikat, lebih dari 50%
guru telah mengikuti pelatihan-pelatihan, dan aktif mengikuti
MGMP.
Skala 5
: Tidak ada pelajaran yang diajarkan oleh guru dengan kompetensi
tidak sesuai. Lebih dari 75% guru telah bersertifikat. Lebih dari
75% guru telah mengikuti pelatihan-pelatihan, dan aktif dalam
MGMP dan ada MGMP internal.
3. Kecukupan sarana dan prasarana adalah kriteria fisik dan pemanfaatannya
sarpras yang secara langsung maupun tidak langsung digunakan dalam proses
belajar mengajar, meliputi kecukupan ruang kelas beserta mobiler, ruang
laboratorium beserta peralatan dan jenisnya, peralatan kegiatan ekstrakurikuler
dan sumber belajar, yang diukur dengan skala 1 sampai 5.
Skala 1
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras sangat sedikit
terpenuhi dan tanpa SOP.
Skala 2
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras sebagian kecil
terpenuhi dan tanpa SOP.
Skala 3 : Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras separuhnya
terpenuhi berdasarkan SOP.
Skala 4 : Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras sebagian besar
terpenuhi berdasarkan SOP.
Skala 5
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras terpenuhi
berdasarkan SOP.
4. Kesiswaan adalah kriteria mengenai kegiatan kesiswaan dalam membina
karakter siswa yang meliputi kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler yang
diukur dengan skala 1 sampai 5.
Skala 1
: Tidak ada kegiatan kokurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.
Skala 2
: Ada 1 jenis kegiatan kokurikuler atau ekstrakurikuler.
35
Skala 3
: Ada 2-3 jenis kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Skala 4
: Ada 4-5 Jenis kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Skala 5
: Ada lebih dari lima kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
5. Pembiayaan adalah kriteria mengenai dan sumber pembiayaan sekolah meliputi
pembiayaan operasional rutin dan program untuk mendukung prestasi siswa
dan guru, yang diukur dengan skala 1 sampai 5.
Skala 1
: Pembiayaan hanya dengan dana BOS.
Skala 2
: Selain dana BOS, ada pembiayaan yang bersumber dari APBA.
Skala 3
: Selain dana BOS ada pembiayaan lain yang bersumber dari APBA
dan APBK.
Skala 4
: Selain dana BOS, ada pembiayaan tambahan yang bersumber dari
APBA, APBK, dan Komite Sekolah.
Skala 5
: Selain dana BOS, ada pembiayaan tambahan yang bersumber dari
APBK, dan Komite Sekolah, dan sumber lainnya.
6. Hasil ujian nasional adalah nilai rata-rata ujian nasional tahun 2013, yang
diukur dengan skala 1 sampai 10.
Skala 1
: Nilai rata-rata UN adalah < 4
Skala 2
: Nilai rata-rata UN adalah 4 sampai < 5
Skala 3
: Nilai rata-rata UN adalah 5 sampai < 6
Skala 4
: Nilai rata-rata UN adalah 6 sampai 7
Skala 5
: Nilai rata-rata UN adalah > 7
7. Kondisi sosial ekonomi masyarakat adalah kriteria mengenai keadaan
lingkungan sosial ekonomi masyarakat di sekitar sekolah yang diukur dengan
persentase penduduk miskin di sekitar sekolah atau pada kecamatan dimana
sekolah berlokasi.
Skala 1
: Tidak mampu menyediakan fasilitas penunjang pembelajaran dan
mendukung kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler anaknya.
Skala 2
: Mampu menyediakan sebagian kecil fasilitas penunjang
pembelajaran dan mendukung kegiatan kokurikuler dan
36
ekstrakurikuler anaknya.
Skala 3
: Mampu menyediakan sebagian fasilitas penunjang pembelajaran
dan mendukung kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler
anaknya.
Skala 4 : Mampu menyediakan sebagian besar fasilitas penunjang
pembelajaran dan mendukung kegiatan kokurikuler dan
ekstrakurikuler anaknya.
Skala 5
: Mampu menyediakan seluruh fasilitas penunjang pembelajaran
dan mendukung kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler
anaknya.
37
38
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Mengacu kepada tujuan penelitian, yaitu: (1) menganalisis proses
pembelajaran pada siswa sekolah jenjang SMP dan SMA di Aceh; (2)
menganalisis ketersediaan dan keterkucupan sarana dan prasarana sekolah tingkat
SMP dan SMA sederajat di Aceh; dan (3) menganalisis kondisi lingkungan sosial
ekonomi di sekitar sekolah SMP dan SMA sederajat yang angka kelulusan UN
menurun di Aceh, deskripsi dan pembahasan hasil penelitian ini difokuskan pada
sub-sub bab berikut ini:
4.1
Hasil Estimasi Model Analisis
Tabel 4.1 di bawah ini memperlihatkan hasil estimasi model analisis data,
dengan menggunakan EViews versi 6 yang digunakan pada penelitian ini.
Tabel 4.1
Hasil Estimasi Model Analisis
Proses
1,405173*
0,040362
0,261821*
0,028347*
0,034136
0,333620*
0,552022**
0,198940*
0,4893
Konstanta
Ujian Nasional (UN)
Sarpras (SRP)
SDM
Pengelolaan (MJM)
Kesiswaan (SW)
Pembiayaan (DN)
Proses (PROS)
Sosial ekonomi masy (KM)
Dummy (DY)
Manajemen Sekolah UN Tinggi (DMJM)
Proses Pembelajaran sekolah UN Tinggi (DPROS)
Sarpras Sekolah UN Tinggi (DSRP)
Koefisien determinasi
Sarpras
0,534030*
0,016979
0,423082*
0,289502*
0,148675
0,2123
UN
6,280496*
-0,027007
0,060267*
0,103072*
-0,056208
0,100304*
-2,727108*
0,650735*
-0,089397
0,7196
Ket; *(signifikan), **t=0,99 mendekati satu
Sumber: Hasil Estimasi Model (lampiran 2a)
Model fungsi pembelajaran mempunyai koefisien determinasi R2 =
0,4893, artinya secara keseluruhan variabel bebas dalam model proses
pembelajaran hanya dapat menjelaskan 48,9% variasi yang terjadi dalam proses
39
pembelajaran di SMP dan SMA, selebihnya adalah akibat faktor gangguan yang
tidak diperhitungkan dalam model. Koefisien determinasi R2 untuk fungsi sarana
dan prasana 0,2123, yang relatif kecil. Namun demikian, dari banyak studi yang
menggunakan observasi individual dengan jumlah sampel yang relatif besar,
dalam penelitian ini jumlah sampel adalah 235, selalu menghasilkan koefisien
determinasi yang rendah. Jika diperoleh R2 = 0,2 atau 0,3 sudah dapat dianggap
cukup tinggi, karena pada kenyataannya banyak sekali faktor-faktor yang tidak
terobservasi tetapi turut mempengaruhi prilaku individu. Lagi pula R2 akan selalu
meningkat jika kita menambah satu atau lebih variabel ke dalam model, akibat
mengecilnya kesalahan pengganggu (e), tetapi dibarengi dengan mengecilnya
derajat kebebasan yang dapat mengakibatkan koefisen regresi tidak berarti. Jadi
koefisien determinasi yang tinggi tidak selalu mencerminkan garis regresi yang
baik. Pemilihan model yang tepat dengan didasarkan pada koefisein determinasi
yang tinggi, sebenarnya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan pemilihan
model yang terbaik. Terlebih lagi penelitian ini tidak bermaksud melakukan
forecasting, maka R2 yang rendah tidak perlu dirisaukan. (Asmawati,1999).
4.2
Pembahasan Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran, secara umum terlaksana dengan baik untuk sekolah-
sekolah tingkat SMP dan SMA, dan mempengaruhi hasil UN secara signifikan.
Namun demikian proses pembelajaran berlangsung lebih baik pada sekolahsekolah dengan hasil UN tertinggi dibandingkan dengan sekolah yang hasil UNnya terendah di Provinsi Aceh. Hal ini ditunjukkan oleh signifikannya variabel
dummy (Dy) dan variabel proses pembelajaran pada sekolah UN tinggi (DMJM)
diperlihatkan pada Tabel 4.1. Artinya proses pembelajaran disekolah dengan UN
tinggi lebih baik dibandingkan sekolah dengan hasil UN rendah. Fungsi proses
pembelajaran di sekolah dengan UN tinggi mempunyai intersep yang lebih tinggi
yaitu sebesar 0,552022 dibandingkan dengan sekolah UN rendah. Selain itu
variabel pengelolaan pada sekolah UN tinggi (DMJM) signifikan, sementara
variabel pengelolaan untuk keseluruhan sekolah (MJM) tidak signifikan, ini
40
artinya proses pembelajaran di sekolah UN tinggi di kelola dengan baik dengan
koefisien sebesar 0.198940, lebih baik dari pada sekolah dengan UN rendah.
Peran pimpinan sekolah cukup baik pada sekolah dengan UN tinggi dalam
memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai dengan kurikulum dan kalender
pendidikan. Namun, proses pembelajaran pada sekolah-sekolah tertentu, terutama
sekolah yang termasuk kelompok sekolah dengan hasil UN terendah, tidak
berjalan dengan arahan dan kontrol yang memadai dari pimpinan sekolah (rincian
dari kondisi ini dapat dilihat pada lampiran 2.c poin 5 tentang pengelolaan dan
lampiran 2.e poin 3 tentang standar proses).
1. Perencanaan proses pembelajaran
Proses BM atau proses pembelajaran yang baik seyogianya dilaksanakan
dengan perencanaan yang baik pula. Seorang guru semestinya menyususn
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebelum melaksanakan pembelajaran
di kelas. RPP yang dilengkapi dengan perangkat pembelajaran akan menuntun
guru untuk melaksanakan pembelajaran kreatif, dan menyenangkan. RPP berisi
langkah-langkah proses pembelajaran, sebagai berikut:
- Diawali dengan pembukaan, biasanya berisi motivasi dan appersepsi yang
merupakan stimulus khusus pada awal proses pembelajaran untuk meraih
perhatian siswa. Appersepsi yang umum dilakukan guru adalah pemanasan
(warm-up) biasanya dengan beberapa pertanyaan mengenai pelajaran yang
telah lalu. Pertanyaan-pertanyaan itu dapat disampaikan dengan menyenangkan
sehingga siswa siap untuk belajar, dan hal ini perlu direncanakan dengan baik;
- Langkah kedua adalah merencanakan kegiatan inti, dilengkapi dengan
pendekatan, model dan metode pembelajaran. Dilengkapi dengan sintak-sintak
sesuai model yang digunakan, untuk menuntun setiap kegiatan dikelas yang
bertujuan mengekplorasi dan mengelaborasi pengetahuan siswa. Menentukan
sumber belajar, seperti Lembar Kegiatan Siswa (LKS);
- Kegiatan penutup, biasanya merupakan kegiatan refleksi, mengkonfirmasi
kembali pemahaman siswa, menarik kesimpulan dan melaksanakan remidial
41
jika ada siswa yang masih belum memahami, topik pembelajaran yang telah
dilaksanakan;
- Membuat media dan alat peraga sederhana pembelajaran sederhana, atau
memanfaatkan lingkungan belajar sebagai media dan sumber belajar; dan
- Menyusun instrumen evaluasi yang dilengkapi dengan rubrik penilaian.
Hasil survei pada sampel sekolah dengan nilai ujian nasional rendah,
menunjukkan bahwa masih ada sekolah yang proses pembelajarannya belum
direncanakan dengan baik. Persentase sekolah yang mempunyai mata pelajaran
tidak memiliki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) relatif besar, yaitu
sebesar 32,5%, diperlihatkan pada Gambar 5.1. Pada sekolah dengan hasil ujian
nasional tinggi. Perangkat pembelajaran yang disusun juga telah dilengkapi
dengan rubrik penilaian yang baik. Meskipun demikian, pada sekolah ini juga
mempunyai mata pelajaran yang proses pembelajarannya belum direncanakan
dengan baik (tidak memiliki RPP) sebesar 6,8% sekolah, umumnya pada pelajaran
muatan lokal.
93.1
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
73.3
UN rendah
48.3
Un Tinggi
32.5
20.6
6.8
Guru yang mengajar Keikutsertaan dalam
bukan bidangnya
Forum MGMP
Pelajaran yang
belum memiliki
RPP
Gambar 4.1 Persentase Ketercukupan Guru di Sekolah dan Partisipasi
dalam MGMP dan Perencanaan Pembelajaran
42
2. Pelaksanaan proses pembelajaran
Pada sekolah dengan UN tinggi pelaksanaan proses pembelajaran
umumnya merujuk pada RPP, kecuali ada hal-hal tertentu. Misalnya listrik mati
yang menyebabkan penggunaan media pembelajaran berbasis IT tidak dapat
digunakan,. Media pembelajaran yang umum digunakan adalah slide yang
memerlukan infokus dan laptop. Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) juga
cukup baik dan hampir merata untuk berbagai mata pelajaran. Hanya saja LKS
masih terkesan seperti soal evaluasi, padahal seyogianya LKS adalah sumber
belajar, yang berisi langkan dan petunjuk agar siswa dapat menemukan kembali
konsep yang sedang dipelajari. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
LKS yang baik, akan melibatkan proses mental, sehingga pemahaman konsep
akan lebih baik. Tentu saja, proses pembelajaran seperti ini memerlukan
kesabaran guru untuk tidak langsung memberitahukan, tetapi membiarkan siswa
mengalami proses penemuan konsepnya. Hal ini memerlukan waktu, inilah
kemudian menjadi alasan guru untuk mengabaikan proses mental ini, karena
khawatir tidak mencapai target kurikulum.
Sebagian guru disekolah dengan UN rendah, meskipun menyususn RPP
namun tidak memedomaninya dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. RPP
biasanya di buat bukan pada awal pembelajaran, namun hanya dibuat untuk
melengkapi administrasi yang perlu dilaporkan kepada kepala sekolah, atau
sebagai syarat penilaian DP3 guru. Alasan lainnya, kenapa guru tidak
melaksanakan pembelajaran sesuai RPP adalah waktu pembelajaran yang
dianggap sempit atau kekurangan waktu. Dalam hal ini sangat diperlukan
pembinaan profesional guru secara berkala, memberikan bimbingan teknis
menyusun perencanaan dan melaksanakannya di kelas. Upaya ini dapat
dilaksanakan di sekolah dengan koordinasi dari pimpinan sekolah. Forum MGMP
dapat dimanfaatkan secara optimal, bahkan MGMP internal sekolah yang
dilaksanakan pada sebagian sekolah dengan hasil UN tinggi, dapat dijadikan
praktek baik yang dapat ditularkan pada sekolah-sekolah lain.
Pengelolaan proses pembelajaran oleh pimpinan sekolah, memegang
peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Proses pembelajaran
43
berjalan baik pada sekolah dengan hasil UN tinggi dan memberikan pengaruh
positif serta singnifikan terhadap hasil UN yang tinggi, (diperlihatkan pada Tabel
4.1, signifikannya variabel Dy pada fungsi Proses pembelajaran dan variabel
DPROS pada fungsi UN), lebih disebabkab oleh manajemen yang lebih baik.
Pimpinan sekolah yang peduli pada pelaksanaan proses pembelajaran, akan
berdampak pada pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan guru. Hal ini
terlihat suasana pembelajaran atau suasana akademik yang lebih baik. Karenanya
sangat diperlukan untuk meregulasi pengelolaan sekolah terutama pada
pengelolaan proses pembelajaran di kelas. Selama ini proses pembelajaran di
kelas, seperli melihat dalam kotak hitam, tidak ada yang terlihat, yang mengetahui
proses yang terjadi hanya guru dan siswa.
3. Supervisi, pengawasan dan evaluasi proses pembelajaran
Hasil wawancara dengan responden mengindikasikan bahwa evaluasi
terhadap proses pembelajaran, sangat kurang dilaksanakan dengan benar, terutama
pada sekolah dengan UN rendah. Pimpinan sekolah hanya memantau proses
pembelajaran dari luar kelas saja, sambil lewat. Belum menggunakan instrumen
yang terukur. Apalagi dengan membentuk tim secara berkala, yang bertugas untuk
mengevaluasi proses yang dilaksanakan guru di kelas, mengevaluasi RPP yang
disusun guru. Namun sebagian besar pimpinan sekolah pada kelompok UN
tertinggi proses tersebut dilaksanakan relatif lebih baik. Mereka membentuk tim
secara berkala, yang terdiri dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, dan
guru senior untuk melaksanakan evaluasi proses pembelajaran di kelas, meskipun
belum optimal dari sisi umpan balik, dan tindak lanjut.
Supervisi, pengawasan, dan evaluasi dalam berbagai aspek dan tahapan
proses belajar-mengajar sangat diharapkan terlaksana dengan baik. Dengan
supervisi, pengawasan, dan evaluasi, setiap tahapan proses belajar-mengajar akan
segera dapat diberikan masukan untuk diperbaiki sebelum melanjutkan ke tahapan
berikutnya. Namun, ditemui bahwa supervisi dan evaluasi agak jarang dilakukan
atau kalaupun dilakukan sangat jarang menghasilkan output yang langsung
disampaikan untuk digunakan sebagai dasar perbaikan proses belajar-mengajar.
44
Guru menyatakan bahwa supervisi dan evaluasi yang dilakukan oleh pimpinan
dan pengawas sekolah jarang sekali bisa memberikan masukan bagaimana
memperbaiki kekurangan atau kelemahan dalam proses belajar-mengajar oleh
guru. Supervisor paling sering hanya bisa menuliskan catatan kelemahan atau
kekurangan dalam proses belajar-mengajar tanpa disertai dengan bagaimana cara
atau langkah-langkah konkrit untuk memperbaikinya. Kesenjangan seperti itu
dapat terlihat pada setiap langkah atau aspes proses belajar-mengajar (rincian dari
kondisi ini dapat dilihat pada lampiran 2.c dan lampiran 2.e).
- Pertama, untuk perencanan pembelajaran (khususnya penyusunan RPP), para
kepala sekolah tidak cukup memainkan perannya untuk memastikan bahwa
semua RPP yang disusun oleh guru, adalah sesuai dengan kesiapan peserta
didik, ketersediaan sumber belajar dan media, dan dukungan sarana dan
prasarana.
Peran-peran
mereka
yang
kurang
terlaksana
adalah:
(1)
mengarahkan penyusunan RPP yang memastikan bahwa proses pembelajaran
terlaksana secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik sehingga bisa melahirkan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat mereka; dan (2) mengevaluasi
kualitas perangkat
pembelajaran yg disusun guru. Padahal, peran-peran ini sangat penting untuk
memantapkan perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh setiap guru dengan
mekanisme: (1) guru menyusun RPP sesuai dengan arahan pimpinan sekolah,
(2) RPP dikoreksi dan diberikan feedback sebagai dasar untuk direvisi, (3) RPP
disahkan apabila sudah direvisi sesuai dengan koreksi dan feedback yang
diberikan;
- Kedua, untuk pelaksanaan proses pembelajaran, para kepala sekolah juga tidak
cukup memainkan perannya untuk memastikan bahwa pembelajaran di ruangan
kelas, di laboratorium, dan di luar ruangan kelas. Peran-peran mereka yang
kurang terlaksana adalah: (1) mensupervisi proses pelaksanaan pembelajaran
untuk memastikan bahwa guru melaksanakan pembelajaran benar-benar sesuai
dengan RPP; dan (2) mengawasi proses pembelajaran. Padahal, peran-peran ini
sangat penting untuk menjamin kualitas pelaksanaan pembelajaran, dengan
mekanisme: (1) guru melaksanakan pembelajaran materi yang dijadikan
45
sampel supervisi, (2) pimpinan sekolah memberikan feedback sesuai dengan
peran mereka dalam kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership),
yaitu memperbaiki teknik atau metode penyampaian dan isi bahan ajar, (3)
meminta guru memperbaiki proses pembelajaran dengan mendasarkan pada
feedback yang diberikan pada supervisi pertama, dan (4) pimpinan sekolah
melakukan supervisi kedua untuk memastikan adanya revisi dan peningkatan
kualitas daripada pembelajaran pada supervisi pertama; dan
- Ketiga, untuk penilaian hasil pembelajaran, para kepala sekolah juga tidak
cukup memainkan perannya untuk memastikan bahwa penilaian direncanakan
dengan baik, ditentukan teknik yang sesuai, dikembangan instrumen yang valid
dan reliabel, diadministrikan pelaksanaannya dengan baik, dan ditentukan nilai
setiap peserta didik untuk setiap ranah tujuan pembelajaran secara objektif dan
akurat. Padahal, peran-peran ini sangat penting untuk menjamin kualitas
pelaksanaan penilaian yang akan memberikan hasil yang akurat dan objektif,
dengan mekanisme: (1) menilai kesesuaian teknik penilaian untuk setiap ranah
tujuan dan materi pembelajaran, (2) menentukan prosedur pengembangan
instrumen penilaian yang benar dan lengkap, dan (3) prosedur penentuan skor
dan nilai peserta didik. Dengan menjalankan mekanisme-mekanisme di atas,
diyakini bahwa proses pembelajaran akan berjalan dengan baik sesuai dengan
kondisi yang ada.
Bagaimanapun, proses pembelajaran yang baik selalu memerlukan peran
yang baik pula dari faktor-faktor pendukungnya. Beberapa faktor yang dikaji
dalam penelitian ini, disajikan berikut ini:
a.
Faktor tenaga pendidik
Hasil estimasi yang diperlihatkan pada Tabel 4.1, menunjukkan bahwa
proses pembelajaran sangat signifikan dipengaruhi oleh sumber daya manusia
(SDM) atau tenaga pendidik, dengan arah positif, meskipun koefisiennya relatif
kecil yaitu 0,028347. Variabel ini juga signifikan mempengaruhi hasil UN dengan
koefisien yang relatif lebih besar. Artinya pembinaan profesionalisme guru
melalui pelatihan, sertifikasi guru, forum MGMP cukup efektif dalam
meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Materi
46
pelatihan dan materi yang dibahas pada forum MGMP, menurut guru cukup
bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan profesionalisme guru dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan kemampuan keilmuan,
meskipun peningkatannya relatif kecil. Gambar 5.1 memperlihatkan partisipasi
guru dalam forum MGMP lebih besar pada sekolah dengan nilai UN tinggi
dibandingkan sekolah dengan UN rendah yairu 93,1% berbanding 73,3%.
Selain itu, di sekolah UN tinggi dibentuk juga MGMP internal sekolah,
yang terdiri dari guru bidang studi yang sama. Kegiatan dalam MGMP internal
antara lain berkolaborasi dalam menyusun RPP, membahas materi yang dianggap
sulit, atau bertukar pikiran untuk itu dan menyusun rubrik penilaian, serta validasi
soal dan uji coba rubrik penilaian. Menurut pengelola sekolah, MGMP internal
sangat bermanfaat, jika ada guru yang berhalangan, maka guru yang dalam tim
MGMP tersebutlah yang menggantikan tanpa mengalami kesulitan berarti.
Guru seyogianya akan sangat menguasai materi pelajaran yang memang
menjadi kompetensi sesuai ijazah yang dimikili. Namun sangat disayangkan,
masih ada guru yang mengajar pelajaran di luar kompetensinya. Artinya, masih
terdapat kekurangan guru pada mata pelajaran tertentu. Distribusi guru masih
belum merata menurut kebutuhan mata pelajaran, meskipun angka rasio guru
murid sudah sangat bagus yaitu 9–10. Gambar 4.1 menunjukkan bahwa 48,3%
sekolah UN rendah dan 20,6 sekolah dengan hasil UN tinggi yang memiliki mata
pelajaran yang diajarkan oleh guru dengan pendidikan yang tidak sesuai, serti
didajikan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2
Pelajaran yang Kekurangan Guru Menurut Peringkat
Urutan
Mata Pelajaran
1
Kesenian
2
Teknologi Informasi dan
Komputer
3
Sosiologi
4
PPKN
5
Geografi
Urutan
Mata Pelajaran
6
Matematika
7
Penjas dan Bahasa
Indonesia
8
Sejarah
9
IPS
Sumber : Laporan bulanan sekolah (diolah)
47
Tabel 4.2 memperlihatkan beberapa pelajaran yang kekurangan guru.
Pejajaran kesenian yang paling banyak diajarkan oleh guru yang tidak sesuai
kompetensi, disusul oleh pelajaran TIK, sosiologi PPKN, geografi, matematika,
Pendidikan Jasmani, Bahasa Indonesia, Sejarah dan terakhir IPS. Ternyata
pelajaran yang di-UN-kan juga mengalami kekurangan guru.
Uraian di atas menunjukkan bahwa kemampuan profesional guru sangat
penting dalam menghasilkan proses pembelajaran yang baik dan bermutu, yang
pada akhirnya akan mempengaruhi hasil UN. Peningkatan kemampuan
profesionalisme guru dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan berikut:
1.
Pelatihan pembinaan profesionalisme guru seperti pelatihan penyusunan
perangkat pembelajaran, yang dilengkapi dengan real teching.
2.
Mengefektifkan forum MGMP antarsekolah
3.
Melaksanakan MGMP internal sekolah, dan membentuk tim teching.
4.
Memberikan tugas kepada guru sesuai kompetensi yang dimiliki.
5.
Memastikan bahwa guru melaksanakan pembelajaran dengan perencanaan
yang baik.
b. Faktor kesiswaan
Faktor kegiatan kesiswaan (SW) juga memberikan pengaruh positif dan
signifikan terhadap proses pembelajaran dengan pengaruh yang relatif besar.
Tetapi tidak signifikan mempengaruhi hasil UN. (Tabel 4.1). Pembinaan karakter
siswa melalui penerapan disiplin, menggalakkan kegiatan-kegiatan kokurikuler
dan ekstrakurikuler telah dapat memberikan pengaruh positif pada proses
pembelajaran. Tentu saja dengan karakter siswa yang mengacu pada peningkatan
disiplin, kerja keras, kerja tim, teliti dan pengamalan nilai-nilai keagamaan akan
memudahkan bagi guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang kreatif,
inovatif dan menyenangkan. Kedekatan guru dan siswa terjalin baik melalui
pembinaan kegiatan kesiswaan oleh guru.
Pada dasarnya, pembinaan kesiswaan di sekolah merupakan tanggung
jawab semua tenaga kependidikan, meskipun terdapat wakil kepala sekolah
bidang kesiswaan, namun itu hanya bersifat koordinatif. Guru merupakan tenaga
kependidikan yang kerap kali berhadapan dengan peserta didik dalam proses
48
pendidikan. Sebagai pendidik. guru bertanggung jawab atas terselenggaranya
proses tersebut di sekolah, baik melalui bimbingan, pengajaran, dan keteladanan.
Apabila guru hanya menjalankan salah satu bagian dari tanggung jawabnya, maka
perkembangan peserta didik tidak mungkin optimal. Dengan kata lain, pencapaian
hasil pada diri peserta didik yang optimal, mempersyaratkan pelayanan dari guru
yang optimal pula, termasuk pelayanan dalam bidang kesiswaan. Kegiatan
kesiswaan, umumnya ditujukan untuk pembinaan karakter siswa, ataupun
kemampuan afektif siswa. Sikap yang baik akan menghasilkan proses
pembelajaran yang berkualitas dan secara tidak langsung akan mempengaruhi
hasil belajar siswa. Adapun kegiatan kesiswaan yang menonjol di laksanakan
antara lain, seperti diperlihatkan pada Gambar 5.2.
70
60.8
60
50
44.8
41.3
40
35.8
37.9
42.5 41.4
UN Rendah
30
UN Tinggi
20
13.3
10.8 10.3
10
0
Pramuka
Kesenian
Olimpiade Olah Raga
PMR
Gambar 4.2. Persentase Sekolah Melaksanakan Kegiatan Kesiswaan
yang Menonjol
Sekolah dengan nilai Ujian Nasional tinggi mempunyai kegiatan yang
menonjol pada bimbingan untuk mengikuti olimpiade berbagai bidang, kegiatan
olah raga dan kegiatan pramuka. Umumnya, sekolah dengan UN tinggi
mempunyai prestasi pada ajang olimpiade, seperti olimpiade matematika, fisika,
atau olimpiade sain. Sementara pada sekolah dengan nilai UN rendah, kegiatan
yang menonjol adalah pramuka, kesenian dan juga olah raga. Kegiatan olah raga
49
antara lain bola voli, tenis meja, pencak silat. Sedangkan kegiatan kesenian
kebanyakan bernuansa islami sepersi rebana, dan rohis. Di samping itu, masih
banyak kegiatan kesiswaan lainnya yang dilaksanakan di sekolah antara lain
kegiatan pertanian, UKS, kustum, otomotif, tata boga, pengajian, tahfizul Quran
dan bakti sosial.
c.
Faktor pelajaran yang di-Ujian Nasionalkan
Hasil UN tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam pelaksanaan
proses pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa adanya pelajaran yang di-UN-kan
belum memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran untuk
pelajaran tersebut. Dengan kata lain tidak ada perlakuan khusus oleh guru dalam
proses pembelajaran untuk pelajaran yang di-UN-kan. Selain itu, faktor
pengelolaan (MJM) juga tidak signifikan mempengaruhi proses pembelajaran,
namun faktor ini signifikan mempengaruhi hasil UN, (Tabel 4.1). Hal ini
menunjukkan bahwa capaian hasil ujian nasional menjadi prioritas manajemen
sekolah. Adanya target pencapaian hasil ujian nasional yang ditetapkan oleh dinas
atau institusi lainnya di luar sekolah, menjadi beban manajemen sekolah untuk
mencapai target tersebut. Pimpinan sekolah melakukan berbagai upaya untuk
mencapai target tersebut, antara lain dengan menambah jam belajar pada siang
sampai sore hari yang ditujukan untuk pelajaran yang diujian nasionalkan,
terutama untuk siswa kelas tiga. Melaksanakan ujicoba (try out) menjawab soalsoal ujian nasional tahun lalu atau yang dirancang khusus oleh guru atau institusi
lainnya, 100% sekolah melaksanakan try out dalam menghadapi ujian
nasional.Sedangkan
pengelolaan
untuk
meningkatkan
kualitas
proses
pembelajaran masih belum menjadi perhatian serius.
Sedangkan, pada sekolah dengan hasil UN tinggi, mereka tidak merasa
terbebani dengan target kelulusan dan hasil UN, mereka justru memasang target
agar lulusannya dapat diterima pada universitas terkemuka, didalam maupun luar
negeri. Pengelolaan proses pembelajaran menjadi sasaran sebagian besar
pimpinan sekolah untuk mengejar hasil belajar yang lebih baik.
Pelaksanaan jam tambahan (les) dan pelaksanaan try out ujian nasional,
bertujuan agar siswa dapat menyelesaikan soal-soal dengan cepat dan tepat.
50
Target kelulusan UN yang mesti dicapai, membuat manajemen sekolah lebih
terfokus untuk mengejar target tersebut, dengan proses pembelajaran yang melatih
siswa untuk mengerjakan dengan cepat. Kondisi ini dapat berakibat kurang baik
pada proses pembelajaran yang ditujukan untuk penguasaan konsep untuk
peningkatan kemampuan analisis siswa, karena guru cenderung mengabaikan
proses pelibatan mental dalam penemuan ilmu pengetahuan sehingga kemampuan
analisis dan kemampuan evaluasi yang dimiliki siswa rendah. Kenyataan ini,
sejalan dengan hasil tes PISA (Program for Internasional Student Asesment)
tahun 2009 untuk literasi matematika pada soal dengan level 5 dan 6, Indonesia
hanya mendapat nilai 0,1 jauh di bawah rata-rata Negara OECD (Organitation for
Economic Cooperation and Development) yaitu 12,7, padahal untuk soal di bawah
level 2, Indonesia memperoleh nilai 76,7 jauh di atas rata-rata 22,01 (Stacey,
2011).
Padahal penguasaan matematika pada level 5 dan 6 justru yang
mengantarkan siswa untuk mampu bekerja dengan pemikiran dan penalaran
matematika yang luas dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan
ketrampilan matematikanya dalam menghadapi suatu situasi. Ini artinya, proses
pembelajaran yang saat ini lebih fokus untuk melatih (drill) siswa untuk
menguasai ketrampilan menyelesaikan soal dengan cara cepat, tanpa didukung
pemahaman konsep dengan baik. Fenomena ini memperlihatkan bahwa
pelaksanaan UN dan soal-soal ujian nasional perlu dikaji kembali.
4.3
Ketersediaan dan Ketercukupan Sarana dan Prasarana
Ketersediaan dan ketercukupan sarana dan prasarana, baik untuk sekolah-
sekolah tingkat SMP dan SMA yang termasuk dalam kelompok sekolah dengan
hasil UN tertinggi dan terendah di Provinsi Aceh, belum sepenuhnya terpenuhi.
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara sarpras disekolah dengan UN rendah
dengan sarpras di sekolah dengan UN tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh tidak
signifikannya variabel dummy pada fungsi sarpras. (Tabel 4.1). Faktor sarpras
secara langsung signifikan mempengaruhi proses pembelajaran dalam arah positif
dengan koefisien 0,261821, tetapi tidak signifikan mempengaruhi hasil UN secara
51
langsung. Dengan demikian, ketercukupan dan ketersediaan sarpras saja belum
cukup untuk meningkatkan mutu pendidikan atau kualitas hasil UN. Tetapi yang
terpenting adalah bagaimana sarpras itu dimanfaatkan secara optimal untuk
mendukung proses pembelajaran.
Sarpras yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini adalah sarpras
yang dimanfaatkan secara langsung dalam proses pembelajaran, yaitu:
1. Ruang belajar, mobiler, peralatan dan lingkungan sekolah
Beberapa sekolah dengan hasil UN tertinggi sekalipun, terlihat kondisi
sarana dan prasarananya agak rendah, rendah dan bahkan sangat rendah. Sebagai
contoh, SMPN4 Takengon memiliki mobiler ruangan kelas dengan kondisi yang
sangat jauh dari kriteria yang harus dipenuhi. Sebagain besar meja siswa di empat
ruangan kelas kondisinya berlubang dan permukaannya kasar dan tidak rata.
Beberapa jendela gedung rungan kelas, kacanya sudah pecah. Hal berbeda, hanya
terlihat pada sebagian sekolah, antara lain SMA Modal Bangsa Arun, SMAN 1
Lhokseumawe, SMAN 1 Langsa, SMA Modal Bangsa Aceh, SMA Fatih, SMA
Fajar Harapan dan Modal Bansa Aceh.
Terbatasnya sumber pendanaan berakibat sarana dan prasarana vital
sekolah masih dirasakan kurang. Kondisi sarana prasarana vital di sekolah seperti
ruang kelas dan peralatan di dalam ruangan masih memprihatinkan, pada sekolah
dengan UN rendah, terdapat kondisi ruang belajar yang masih kurang, kurang baik
kondisinya dialami oleh 15,8% sekolah, kekurangan peralatan ruangan seperti
bangku, kursi, lemari, atau kondisi mobiler yang tidak lagi bagus dialami oleh
18,3% sekolah, (Gambar 4.3). Sedangkan pada sekolah dengan UN tinggi,
persentase kekurangan sarana dan prasarana pembelajaran lebih rendah,
kekurangan atau tidak baik kondisi ruang belajar 3,4% dan kekurangan mobiler
10,3%. Pada sekolah pinggiran juga ditemui bahwa tim guru harus turun tangan
memperbaiki meja dan bangku yang rusak semampu mereka, dan mereka
melakukannya dengan senang hati, hal ini tentu pantas diteladani.
52
54.2
60
48.3
50
41.4
40.8 34.5
40
30
20
10
24.1
18.3
10.3
15.8
6.7
3.4
0
0
UN rendah
UN Tinggi
Gambar 4.3. Persentase Sekolah yang Mengalami Kekurangan Sarana dan
Prasarana Pembelajaran
2. Laboratorium
Laboratorium merupakan sarana vital dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Jenis laboratorium yang diperlukan sekolah SMP atau SMA adalah
laboratorium, bahasa, biologi, kimia, fisika, atau laboratorium IPA., komputer dan
multimedia, matematika, dan pendidikan Agama Islam. Namun kebutuhan
laboratorium ini, sampai kini belum merata untuk semua sekolah, terutama pada
sekolah
pinggiran.
Ketiadaan
laboratorium
akan
mengganggu
proses
pembelajaran. Tanpa laboratorium, maka siswa sering hanya belajar teori saja
tanpa didukung pembuktian yang memadai di laboratorium, sehingga tidak terjadi
proses mental dalam pemahaman konsep, kondisi ini menghambat untuk lahirnya
kreativitas dan inovasi baru dari siswa.
Pada sekolah dengan nilai UN rendah terdapat (48.3%) sekolah tidak
memiliki gedung laboratorium dan sebanyak 40,8%, kekurangan alat-alat
laboratorium. Pada sekolah yang hasil UN tinggi juga mengalami kekurangann
laboratorium, namun persentasenya lebih rendah. (Gambar 4.3). Sekolah-sekolah
yang memiliki laboratorium yang relatif lengkap, umumnya adalah sekolah
unggul dan sekolah favorit. SMA Modal Bangsa misalnya, tersedia laboratorium
yang relatif lengkap termasuk laboratorium Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
53
salah satu materi praktiknya adalah tajhiz mayat, sehingga labratoriumnya
dilengkapi dengan model/ boneka jenazah.
Beberapa sekolah memiliki peralatan laboratorium namun tidak memiliki
ruang laboratorium, mereka menyiasati kekurangan gedung laboratorium dengan
membawa peralatan laboratorium ke ruang kelas, dan melaksanakan praktek yang
diperlukan di ruang kelas, atau menggunakan ruang kelas sebagai laboratorium
jika ada ruang kelas yang tidak digunakan. Begitupun, ada juga sekolah yang
memiliki gedung laboratorium, namun tidak memiliki peralatan laboratorium,
kondisi ini tentu tidak dapat disiasati.
3. Sumber belajar
Sumber belajar baik yang tersedia di perpustakaan, di lingkungan sekolah,
dan di media-media cetak maupun elektronik di sebagian besar sekolah yang
menjadi kajian penelitian ini tidak bisa disediakan dengan memadai. Sekolah
dalam kategori ini menyatakan bahwa penyediaan melalui dinas pendidikan sering
sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar dari sumber belajar untuk setiap
siswa. Walaupun sudah berupaya menambah pengadaannya melalui partisipasi
orang tua, namun tetap saja tidak bisa menutupi kebutuhan tersebut. Beberapa
kondisi yang ditemui:
- Pertama, di perpustakaan pada sebagian besar sekolah tidak tersedia buku
referensi yang memadai walaupun hanya untuk buku paket yang harusya bisa
dipinjamkan kepada siswa secara penuh untuk setiap semester, apalagi, bukubuku referensi pengayaan. Pengadaan buku paket sering sekali tidak memenuhi
sesuai dengan jumlah siswa sehingga sekolah harus meminjamkan secara
bergiliran dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan, buku-buku pengayaan
yang diusulkan pengadaannya sering sekali tidak dipenuhi sama sekali.
Gambar 4.3 memperlihatkan hasil temuan lapangan bahwa lebih 50% sekolah
mengalami kekurangan sumber belajar berupa buku pelajaran, bahkan ada
sekolah yang tidak memiliki perpustakaan;
- Kedua, di lingkungan sekolah pada sebagian besar sekolah juga tidak menanam
tanaman tertentu atau memelihari tanaman alam dengan baik yang bisa
digunakan untuk sumber belajar. Dengan kondisi demikian, hewan atau
54
burung-burung liar yang bervariasi jenisnya juga jarang sekali terlihat melintas
di lingkungan sekolah; dan
- Ketiga, media cetak pada sebagian besar sekolah tidak menyediakan majalah
dan koran sebagai sumber pengayaan pengetahuan bagi siswa. Di sebagian
kecil sekolah ada berlangganan koran, tetapi hanya untuk pimpinan, guru dan
karyawan sekolah. Lebih-lebih lagi, untuk media elektronik, tingkat
ketersediaannya adalah sangat rendah. Hanya sebagian kecil sekolah, itupun
yang “diklaim” sebagai sekolah unggul oleh pemerintah kabupaten/kota yang
mampu menyediaan sumber belajar elektronik, baik melalui laboratorium
maupun melalui penyediaan akses Internet. Penyediaan akses Internet di
sebagian sekolah dalam ketegori ini, diakui hanya bisa diakses oleh siswa dan
guru secara sangat terbatas dengan kecepatan yang sangat rendah sehingga
tidak bisa dimanfaatkan oleh guru bersama siswa dalam proses belajarmengajar di kelas. (rincian dari kondisi ini dapat dilihat pada lampiran 2.c dan
lampiran 2.e).
Penelitian ini, mengevaluasi beberapa faktor yang diperkirakan dapat
mempengaruhi ketercukupan sarpras, yaitu :
a. Faktor Pembiayaan
Hasil estimasi fungsi sarana dan prasarana (Tabel 4.1), memperlihatkan
bahwa kecukupan sarana dan prasarana signifikan dipengaruhi oleh pembiayaan
dengan koefisienn 0,289502. Umumnya sekolah mengandalkan dana BOS (Biaya
Operasional Sekolah) untuk mendukung kebutuhan sumber belajar seperti buku,
media pembelajaran, serta perawatan ringan mobiler. Di samping itu ada juga
sekolah yang mendapat pembiayaan dari APBK, APBN, komite dan Yayasan.
Pada sekolah dengan UN tinggi 20,6% sekolah mengakui ada peran atau
keterlibatan komite sekolah dalam pembiayaan, angka ini lebih tinggi
dibandingkan dengan sekolah UN rendah dimana hanya 10,0% sekolah yang
menyatakan ada keterlibatan komite sekolah dalam pembiayaan.
Umumnya sekolah mengemukakan bahwa pembiayaan masih dirasakan
terkendala. Ketercukupan sarpras juga terkendala dengan biaya perawatan yang
masih dirasakan sangat terbatas. Sehingga jika ada peralatan yang rusak sulit
55
untuk memperbaiki, lab komputer misalnya, banyak sekolah yang mengakui
bahwa sebagian komputer ada yang telah rusak dan tidak ada pergantian.
Pemanfaatan dana BOS untuk perawatan, diakui pimpinan sekolah sangat
terbatas, dan terkendala aturan yang menyulitkan pengelola sekolah.
b. Faktor kesiswaan
Variabel kesiswaan secara signifikan mempengaruhi kecukupan sarana
prasarana dengan koefisien yang relatif besar yaitu 0,423082. Kegiatan- kegiatan
seperti olah raga, kesenian, pembinaan OSN, PMR dan sebagainya, ternyata
memberikan pengaruh untuk mencukupi kebutuhan sarana prasarana guna
mendukung kegiatan-kegiatan tersebut, dan juga kegiatan pembelajaran.
Umumnya sekolah yang kegiatan kesiswaan cukup beragam, akan ditunjang oleh
tersedia sarana dan prasarana yang mencukupi untuk mendukung kegiatan
tersebut, seperti lapangan olah raga, alat alat kesenian, buku sumber untuk
mendukung pembinaan OSN. Ketersediaan sarpras tersebut tentu tidak terlepas
dari dukungan orang tua siswa dan komite sekolah.
c. Faktor pengelolaan
Variabel pengelolaan belum memberikan pengaruh signifikan untuk
mendukung kecukupan sarana prasarana. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen
pendayagunaan sarana prasarana belum optimal mempengaruhi kecukupan sarana
prasarana. Untuk mengoptimalkan penyediaan, pendayagunaan, perawatan dan
pengendalian sarana dan prasarana, diperlukan penyesuaian manajemen sarana
dan prasarana. Kenyataannya dilapangan, sekolah umumnya belum memiliki SOP
untuk pendayagunaan sarana prasarana, demikian juga SOP perawatan sarpras.
Umumnya sekolah mengemukakan, bahwa mereka mengalami kesulitan dalam
perawatan sarana prasarana, karena minimnya pembiayaan. Sehingga sebagian
sarana prasarana tidak dapat digunakan lagi sesuai fungsinya, sementara sulit
mendapat pergantian untuk sarana prasarana yang baru.
Pemanfaatan
laboratorium
atau
alat-alat
laboratorium,
umumnya
mempunyai frekuensi yang relatif tinggi pada sekolah dengan UN tinggi, mereka
mengakui hampir setiap hari laboratorium digunakan. Penggunaan lab secara
56
bergantian tergantung jam pelajaran. Sementara pada sekolah dengan UN rendah
kebanyakan pemanfatan lab satu atau dua kali seminggu. Tidak adanya SOP untuk
pengadaan, pemanfaatan dan perawatan sarpras, dapat membuat sarpras yang ada
tidak termanfaatkan secara optimal.
Peran pimpinan sekolah memastikan terlaksananya: (1) pengadaan sarana
dan prasarana, (2) perawatan sarana dan prasarana; dan (3) peningkatan
ketersediaan dan kondisi sarpras, belum berjalan dengan baik. Beberapa kepala
dan wakil kepala sekolah memainkan peran yang sangat baik dalam
merencanakan penambahan dan peningkatan sarana dan prasarana, yang
ditndaklanjuti dengan pembuatan pengajuan proposal ke dinas pendidikan kota
dan/atau provinsi. Namun, peran komunikasi dengan pejabat-pejabat di kantor
dinas pendidikan kurang terlaksana. Sehingga, tidak mengherankan kalau
ditemukan banyak sekolah sampel penelitian yang tingkat ketercukupan sarana
dan prasarana rendah atau sangat rendah.
Selanjutnya, peran pimpinan sekolah untuk memastikan bahwa sarana dan
prasarana sekolah terawat dengan baik juga kurang terlaksana. Sebagian sarana
dan prasarana kondisinya jauh dari standar, contohnya toilet, lapangan olahraga,
gedung laboratorium, ruang kelas, ruang guru, ruang tata usaha, dan bahkan ruang
kepala sekolah. Gedung-gedung yang seharusnya dirawat dengan mengecat
kembali secara berkala, misalnya setiap lima tahun, lapangan olahraga yang
seharusnya diperhalus kembali permukaan secara berkala, misalnya setiap dua
tahun, umumnya tidak terlaksana. Tidak terlaksananya perawatan tersebut
terutama sekali disebabkan tidak adanya SOP untuk perawatan sarpras di sekolah.
Terakhir, peran untuk memastikan terencana pemenuhan kebutuhan
peningkatan sarana dan prasarana melalui penilaian kebutuhan (need assessment),
juga tidak terlaksana dengan baik. Peran pimpinan sekolah melalui wakil kepala
sekolah bidang sarana dan prasarana, seharusnya dapat dijalankan dengan
mekanisme: (1) meminta laporan berkala tentang kebutuhan peningatan sarana
dan prasarana dari setiap guru bidang studi, kepala laboratorium, dan wakil kepala
sekolah yang lain, (2) menyusun rekapitulasi berdasarkan analisis kebutuhan
didasarkan pada laporan pada nomor 1, dan (3) membuat skala prioritas untuk
57
pengajuan pengadaannya. Disayangkan mekanisme ini tidak berjalan dengan baik,
padahal dengan mekanisme ini dapat menekan kekurangan sarana dan prasarana
dan dapat mensiati kekurangan ini dengan berbagai cara sehingga proses
pembelajaran secara maksimal dengan kondisi apa adanya.
4.4
Unit Penjaminan Mutu
Setiap unit pendidikan seharusnya memiliki unit penjaminan mutu.
Dengan unit ini, sekolah dapat mengontrol pelaksanaan proses belajar-mengajar
secara terus menerus. Mutu lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam
kajian ini adalah sangat bervariasi mulai dari sangat rendah sampai dengan tinggi.
Variasi mutu ini menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan karena idealnya
setiap sekolah memiliki mutu yang dapat menjamin bahwa setiap warga negara
harus mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang sama dalam proses
pendidikannya. Sungguhpun situasi ideal sangat sulit diwujudkan oleh sekolahsekolah di Provinsi Aceh khususnya bahkan di Indonesia pada umumnya, namun
setiap sekolah harus berupaya secara maksimal dengan berbagai perbaikan untuk
mewujudkannya.
Kesulitan yang dihadapi sebagian besar sekolah dalam kajian penelitian ini
pada umumnya dikarenakan tidak memadainya mutu SDM, rendahnya
ketersediaan sarana dan prasarana, dan tidak memadainya dukungan pembiayaan
operasional sekolah baik yang bersumber dari pemerintah maupun dari orang tua
siswa. Sebagian besar sekolah dengan kesulitan-kesulitan ini, berupaya keras
mengatasinya terutama kesulitan pada tidak memadainya mutu SDM dengan
mendorong para guru meningkatkan profesionalisme mereka melalui partisipasi
maksimal pada MGMP pada berbagai tingkatan, membangun jaringan dengan
guru-guru mapel atau rumpun ilmu yang sama, dan memperoleh informasi tentang
perkembangan bidang mapel masing-masing. Sekolah-sekolah dalam kategori ini
selalu optimis bahwa dengan semangat dan usaha seperti itu, maka mutu SDM
mereka tidak terlalu senjang dengan kualitas yang harus diwujudkan. Walaupun
unit jaminan mutu tidak ada, tetapi pelaksanaan tugas penjaminan mutu dapat
58
diemban dengan baik oleh pimpinan sekolah melalui wakil kepala sekolah bidang
kurikulum dan bidang sarana dan prasarana.
Di lain pihak, sebagain kecil sekolah seperti “menerima” saja kondisi di
atas dengan pesimisme yang terungkap pada pernyataan-pernyataan pimpinan
sekolah. Upaya mengontrol mutu hampir sama sekali tidak dilakukan. Sekolah
dalam kategori ini cenderung menyalahkan kebijakan penempatan guru yang tidak
mempertimbangkan pemerataan bidang dan kualitas mereka (rincian dari kondisi
ini dapat dilihat pada lampiran 2.c dan lampiran 2.e).
4.5
Pengaruh Variabel Sosial Ekonomi Masyarakat
Variabel kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar sekolah
memberikan pengaruh yang signifikan dalam arah negatif terhadap pencapaian
hasil UN. Ini artinya semakin rendah persentase penduduk miskin di kecamatan
tempat sekolah berdiri, akan semakin baik capaian hasil UN.
Dukungan
sumberbelajar, kursus di luar jam sekolah, ketersediaan waktu untuk belajar,
bahkan pembiayaan lainnya akan lebih baik jika tingkat kesejahteraan keluarga
juga baik.
Umumnya sekolah yang berada di lingkungan sosial ekonomi kurang
sejahtera atau persentase penduduk miskinnya besar, umumnya menghadapi
masalah waktu belajar anak di luar kelas yang minim, karena para siswa
umumnya harus membantu orang tuanya mencari nafkah sepulang sekolah. Para
guru juga menghadapi masalah siswa yang sering tidak masuk, orang tua kurang
memberi perhatian pada prestasi anak di sekolah. Usaha melibatkan orang tua
dalam mendukung prestasi siswa relatif sulit dilakukan, mengingat kesibukan
orang tua mencari nafkah, kekurangan biaya untuk melengkapi buku-buku
pelajaran yang diperlukan anak.
Selain itu, lingkungan merupakan sumber belajar yang berpengaruh dalam
pola belajar dan perkembangan anak, lingkungan mempengaruhi dan membentuk
pola interaksi antarwarga sekolah, dan antara warga sekolah dengan masyarakat
sekitar. Lingkungan sekolah yang kondusif, maka hasil belajar siswa akan baik,
interaksi berjalan baik. Pada sekolah-sekolah yang berada dalam lingkungan
59
sosial ekonomi dimana persentase penduduk miskin besar, biasanya komite
sekolah juga kurang berperan, dalam mendukung program-program yang disusun
sekolah. Sebaliknya pada sekolah dalam lingkungan sosial ekonomi baik,
komunikasi dengan komite sekolah cukup lancar. Sehingga komite dapat
memberikan perannya secara lebih baik, dalam mendukung program , dalam
memberikan ide-ide kreatif dan memberikan dukungan pembiayaan kegiatan
siswa dan kegiatan pembelajaran.
Tabel 4.3
Persentase Penduduk Miskin Menurut Kecamatan Lokasi Sekolah Dengan
Nilai UN Tinggi
Kabupaten
Kecamatan
Langsa
Langsa Baro
Simpang
Ulim
Bireum
Bayeun
Banda Sakti
Aceh Timur
Lhokseumawe
Aceh Utara
Aceh Tengah
Persentase
Kemiskinan
0,07
Kabupaten
0,09
0,06
Bener Meriah
0,06
Muara Satu
0,07
Dewantara
0,08
Bebesen
0,05
Lut Tawar
0,04
Kebayakan
Pegasing
Jagong Jeget
0,06
0,09
0,11
Aceh Besar
Bukit
Persentase
Kemiskinan
0,10
Permata
0,10
Bandar
0,09
Wih Pesam
Timang
Gajah
Lembah
Seulawah
Ingin Jaya
Blang
Bintang
Baiturrahman
Meuraxa
Kuta Alam
Syiah Kuala
0,07
Kecamatan
0,14
0,04
0,07
0,07
0,03
0,04
0,04
0,03
Sumber: Aceh Dalam Angka
Tabel 4.3 memperlihatkan persentase penduduk miskin di kecamatan
tempat sekolah sampel untuk kelompok sekolah hasil UN tinggi, sedangkan pada
Tabel 4.4 memperlihatkan persentase penduduk miskin di kecamatan tempat
sekolah sampel untuk kelompok sekolah hasil UN rendah. Rata-rata jumlah
penduduk miskin di kecamatan sekolah UN rendah adalah 0,11 sedangkan di
sekitar sekolah dengan UN tinggi rata-rata penduduk miskin adalah 0,6. Angka ini
persentase penduduk miskin lebih rendah pada sekolah dengan hasil UN tinggi.
60
Fakta ini, sejalan dengan hasil estimasi pengaruh variabel persentase kemiskinan
terhadap hasil UN, yang negatif. Artinya semakin sedikit penduduk miskin atau
semakin baik kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar sekolah akan semakin
baik dukungannya terhadap sekolah, sehingga memberikan pengaruh baik
terhadap pencapaian hasil UN.
Tabel 4.4
Persentase Penduduk Miskin Menurut Kecamatan Lokasi Sekolah dengan
UN Rendah
Kabupaten
Aceh Timur
Aceh Utara
Pidie
Aceh Tamiang
Pidie Jaya
Aceh Barat Daya
Kecamatan
Peureulak
Idi Tunong
Birem Bayeun
Simpang Ulim
Ranto Peureulak
Nurussalam
Baktiya Barat
Baktiya
Seuneudon
Tanoh Jambo Aye
Lhoksukon
Tanah Pasir
Pekan Pidie
Gelumpang Tiga
Simpang Tiga
Indrajaya
Kota Sigli
Padang Tiji
Mutiara
Keumala
Kejuruan Muda
Karang Baru
Bendahara
Tamiang Hulu
Bandar Baru
Pante Raja
Meureudu
Jangka Buya
Trienggadeng
Bandar Dua
Manggeng
Blang Pidie
Susoh
Persentase
Kemiskinan
0,09
0,11
0,06
0,09
0,07
0,11
0,09
0,09
0,16
0,12
0,10
0,16
0,13
0,16
0,15
0,16
0,09
0,13
0,13
0,14
0,07
0,11
0,09
0,04
0,11
0,13
0,11
0,09
0,14
0,11
0,14
0,11
0,11
Kabupaten
Aceh Barat Daya
Aceh Barat
Aceh Selatan
Lhokseumawe
Aceh Jaya
Bireuen
Sabang
Sumber: Aceh Dalam Angka
61
Kecamatan
Lembah Sabil
Setia
Kuala Batee
Kaway XVI
Meureubo
Bubon
Johan Pahlawan
Panton Reu
Labuhan Haji Timur
Bakongan
Kluet Utara
Kluet Timur
Meukek
Labuhan haji
Pasie Raja
Blang mangat
Muara Dua
Banda Sakti
Muara Satu
Teunom
Darul Hikmah
Sampo Iniet
Jaya
Setia Bakti
Panga
Peudada
Jeunib
Peulimbang
Pandrah
Simpang Mamplam
Samalanga
Suka Jaya
Suka Karya
Persentase
Kemiskinan
0,16
0,21
0,17
0,11
0,10
0,15
0,05
0,14
0,14
0,06
0,09
0,09
0,10
0,09
0,09
0,11
0,07
0,06
0,07
0,06
0,11
0,11
0,11
0,04
0,11
0,13
0,12
0,12
0,13
0,12
0,08
0,07
0,10
Fakta umum menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi
masyarakat
banyak ditentukan oleh beberapa faktor:
a. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara
orang tua mengarahkan anak-anak mereka untuk memilih jenis pendidikan yang
sesuai dengan minat dan bakat mereka. Dengan pengetahuan dan pengalaman
pendidikan mereka disertai dengan keseriusan dalam membimbing, anak-anak
mereka akan terarah dengan baik dalam memilih jenis dan jenjang pendidikan
mereka. Orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang mencapai level
perguruan
tinggi
walaupun
hanya
tingakat
strata-1,
mereka
bisa
mengimplementasikan pengetahuan dan pengalaman mereka dalam mengarahkan
pendidikan anak mereka dari awal sejak pendidikan menengah. Kenyataan bahwa
tingkat pendidikan orang tua pada sekolah-sekolah sampel pada umumnya adalah
sekolah menengah atas, terlihat menyulitkan mereka dalam mengarahkan dan
membimbing anak-anak mereka dalam belajar (rincian dari kondisi ini dapat
dilihat pada lampiran 2.c poin 1 tentang kondisi sosial masyarakat). Kelemahan
orang tua ini mengakibatkan anak-anak mereka kurang berprestasi yang salah satu
di antaranya ditunjukkan pada hasil UN yang pada umumnya adalah rendah.
Di samping itu, tingkat pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap
status sosial dan peluang memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang
memberikan peluang besar untuk mampu membiaya pendidikan anak-anak
mereka. Terdapat beberapa kasus yang orang tua siswa yang berprestasi merasa
rendah diri dan tidak memiliki “pengaruh” yang cukup untuk meminta dukungan
pihak lain, terutama berupa beasiswa agar anaknya yang berprestasi bisa
memperoleh kesempatan memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Tidak bisa
dipungkuri bahwa siswa dari keluarga kurang mampu sering terabaikan dari
perhatian pemerintah atau pihak lain untuk memperoleh dukungan disebabkan
oleh kemampuan komunikasi atau keengganan memberikan informasi tentang
prestasi anak-anak mereka. Data pada lampiran 2.c poin 1 juga memperlihatkan
bahwa secara umum orang tua siswa berpenghasilan rendah atau status sosial
ekonomi mereka berada apada kategori kelas bawah.
62
b. Jenis pekerjaan dan pendapatan
Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar sekolah pada umunya
rendah, hanya beberapa sekolah yang kondisi sosial ekonomi masyarakatnya
tinggi, contohnya SMA Modal Bangsa Arun, SMAN 1 Lhokseumawe, SMAN 1
Langsa, SMA Modal Bangsa Aceh, SMA Fatih, dan SMA Fajar Harapan. Pada
sekolah-sekolah yang disebutkan di atas dengan kondisi sosial ekonomi tinggi
(golongan menengah ke atas), sangat memudahkan sekolah merencanakan jam
belajar tambahan, seperti jam belajar sore, les tambahan, dan kegiatan
ekstrakurikuler (rincian dari kondisi ini dapat dilihat pada lampiran 2.c poin 1
tentang kondisi sosial masyarakat).
Di lain pihak, sekolah-sekolah lainnya yang kondisi sosial ekonomi
masyarakatnya rendah, sangat menyulitkan sekolah memprogramkan kegiatankegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler seperti di atas. Pada sekolah-sekolah ini,
pekerjaan orang tua siswa umumnya adalah petani, sebagaian lainnya tukang
becak, hanya sedikit yang PNS dan wiraswastawan atau secara umum mereka
termasuk golongan menengah ke bawah (lihat lampiran 2.c poin 1 tentang kondisi
sosial masyarakat). Kondisi seperti ini kadang-kadang memaksa orang tua
mengajak
anaknya
membantu
mereka
mengerjakan
tugas-tugas
dalam
memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan di rumah dan di sekolah.
Dengan demikian, juga menyulitkan sekolah mengajak apalagi memaksan siswa
berpartisipasi dalam setiap kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Guna menyikapi masing-masing kondisi di atas, peran pimpinan sekolah
untuk menyesuaikan program belajar kurikuler, kokurikuler dan ekstra kurikuler
sangat penting dimainkan untuk memastikan bahwa dengan kondisi sosial
ekonomi bagaimanapun, ketiga jenis program tersebut semaksimal mungkin harus
berjalan. Memang tidak bisa dipungkiri, ditengah-tengah usaha menyesuaikan
program-program belajar tersebut, pihak sekolah sering kehilangan semangat
untuk “memaksa” siswa dari keluarga sosial ekonomi rendah yang tiba-tiba
meminta anak-anak mereka untuk berhenti dari kegiatan kokurikuler dan
ekstrakurikuler.
63
64
BAB V
PENUTUP
6.1
Kesimpulan
1. Kualitas proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh SDM, sarana prasarana,
dan kegiatan kesiswaan. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi proses
pembelajaran belum dilaksanakan dengan baik pada sebagian sekolah,
terutama pada sekolah dengan tingkat UN rendah.
2. Pengelolaan proses pembelajaran pada sekolah dengan nilai UN tinggi, lebih
baik dibandingkan dengan pada sekolah dengan nilai UN rendah. Partisipasi
dalam forum MGMP cukup tinggi pada sekolah dengan UN tinggi, dan juga
melaksanakan MGMP internal sekolah. Pengelolaan proses pembelajaran akan
lebih baik, apabila pimpinan sekolah peduli dan fokus melaksanakan evaluasi
secara berkala.
3. Peran untuk menjamin kualitas pelaksanaan pembelajaran pada semua
sekolah, dengan mekanisme: (1) guru melaksanakan pembelajaran materi yang
dijadikan sampel supervisi, (2) pimpinan sekolah memberikan feedback sesuai
dengan peran mereka dalam kepemimpinan pembelajaran (instructional
leadership), yaitu memperbaiki penyampaian dan isi bahan ajar, (3) meminta
guru memperbaiki proses pembelajaran dengan mendasarkan pada feedback
yang diberikan pada supervisi pertama, dan (4) pimpinan sekolah melakukan
supervisi kedua untuk memastikan adanya revisi dan peningkatan kualitas
daripada pembelajaran pada supervisi pertama, tidak berjalan dengan baik.
4. Peran pimpinan sekolah (manajemen) untuk memantapkan perencanaan
pembelajaran yang dibuat oleh setiap guru pada semua sekolah, dengan
mekanisme: (1) guru menyusun RPP sesuai dengan arahan pimpinan sekolah,
(2) RPP dikoreksi dan diberikan feedback sebagai dasar untuk direvisi, (3)
RPP disahkan apabila sudah direvisi sesuai dengan koreksi dan feedback yang
diberikan, tidak berjalan dengan baik.
5. Peran pimpinan sekolah (manajemen) untuk menjamin kualitas pelaksanaan
penilaian yang akan memberikan hasil yang akurat dan objektif pada semua
65
sekolah, dengan mekanisme: (1) menilai kesesuaian teknik penilaian untuk
setiap ranah tujuan dan materi pembelajaran, (2) menentukan prosedur
pengembangan instrumen penilaian yang benar dan lengkap, dan (3) prosedur
penentuan skor dan nilai peserta didik, tidak berjalan dengan baik.
6. Kecukupan
sarana
prasarana
pembelajaran
sangat
dipengaruhi
oleh
tersedianya pembiayaan, dan kegiatan kesiswaaan. Kesulitan biaya untuk
perawatan sarana prasarana, menyebabkan perawatan sarana prasarana tidak
berjalan baik, sehingga banyak sarana prasarana yang tidak dapat digunakan
lagi. Tidak ada perbedaan yang signifikan ketersediaan sarana prasarana
antara sekolah dengan UN tinggi dan sekolah dengan UN rendah. Namun
pemanfaatan sarana prasarana pada sekolah dengan UN tinggi lebih baik.
7. Peran pimpinan sekolah melalu wakil kepala sekolah bidang sarana dan
prasarana, dengan mekanisme: (1) meminta laporan berkala tentang kebutuhan
peningatan sarana dan prasarana dari setiap guru bidang studi, kepala
laboratorium, dan wakil kepala sekolah yang lain, (2) menyusun rekapitulasi
berdasarkan analisis kebutuhan didasarkan pada laporan pada nomor 1, dan (3)
membuat skala prioritas untuk pengajuan pengadaannya, tidak berjalan dengan
baik.
8. Manajemen sarana prasarana belum dilaksanakan dengan baik dan belum
memberikan pengaruh positif terhadap kecukupannya. Pada umumnya sekolah
belum memiliki SOP pengadaan, pemanfaatan dan perawatan sarana
prasarana.
9. Unit penjaminan mutu belum terbentuk pada sebagian besar sekolah, baik
pada sekolah dengan UN tinggi maupun UN rendah. Hal ini berdampak pada
rendahnya pengelolaan akademik dan non akademik di sekolah.
10. Semakin baik kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar sekolah semakin
baik interaksi yang terjadi antara siswa, orang tua siswa, dan pihak sekolah,
sehingga memberikan pengaruh yang baik terhadap pencapaian hasil belajar
siswa. Peran komite sekolah juga cukup baik pada lingkungan sosial ekonomi
yaang lebih baik. Pada lingkungan sosial ekonomi yang rendah, dukungan
66
orang tua terhadap pendidikan dan proses belajar anak, terutam a secara
finansial sangat terbatas.
11. Peran pimpinan sekolah untuk menyesuaikan program belajar kurikuler,
kokurikuler dan ekstra kurikuler sesuai dengan kondisi sosial ekonomi
masyarakat tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, sekolah dengan kondisi
sosial ekonomi rendah cenderung tidak atau sangat sedikit melaksanakan
kegitan kokurikuler dan ekstra kurikuler.
6.2
Rekomendasi
1. Perlu pembinaan dan pendampingan untuk meningkatkan profesionalisme
guru secara berkelanjutan dalam menyusun perencanaan pembelajaran (RPP),
membuat perangkat pembelajaran, menyiapkan sumber belajar, alat peraga
dan media, dan melaksanakan real teaching atau mengimplementasikan RPP,
dibawah koordinasi kepala sekolah dan bimbingan pengawas sekolah;
2. Pembinaan dan pendampingan guru bisa dilakukan melalui penyediaan
Program Pelatihan dan Pendampingan dengan rincian kegiatan: (a) pelatihan
penyusunan RPP beserta materi ajar, alat peraga dan media pembelajaran; (b)
pendampingan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP yang disusun
pada pelatihan. Program ini dilaksanakan di setiap kabupaten/kota dengan
diawali berfokus pada sekolah-sekolah yang sangat membutuhkan (nilai
kualitas RPP dan implementasinya yang disusun rendah), dilajutkan berturutturut pada sekolah dengan tingkat kebutuhan di bawahnya (sesusi dengan hasil
need assessment);
3. Memperluas dan memperkuat pelaksanaan MGMP internal sekolah dan antar
sekolah, kabupaten/kota dan antar provinsi;
4. Penguatan MGMP bisa dilakukan melalui penyediaan Progran Optimalisasi
Peran MGMP oleh dinas pendidikan dengan rincian kegiatan: (a) penyusunan
program kerja tahunan MGMP internal, antar sekolah, kabupaten/kota, dan
propinsi; dan (b) program pendampingan pembahasan materi ajar, penyiapan
media dan alat peraga pembelajaran, serta strategi pembelajaran;
67
5. Memperbaiki sistem rekrutmen guru sehingga benar-benar berorientasi kepada
prestasi akademik, bakat keguruan, dan integritas, serta berbasis kebutuhan.
Mekanisme untuk perbaikan sistem ini dirinci: (a) pemetaan kebutuhan guru
setiap sekolah yang terus-menerus di-update langsung oleh dinas pendidikan
kab./kota untuk setiap sekolah; (b) penentuan syarat yang kompetitif untuk
merekrut calon guru unggul; dan (c) wawancara yang melibatkan ahli
psikologi dan pakar pendidikan;
6. Pemetaan dan pembenahan berkelanjutan distribusi guru, sampai mencapai
pemerataan guru setiap mata pelajaran di suatu kabupaten/kota. Mekanisme
pembenahan yang diusulkan: (a) analisis keterlaksanaan pembelajaran setiap
mapel di setiap sekolah; (b) pembuatan roadmap redistribusi guru didukung
dengan peraturan daerah; dan (c) mendorong kesediaan ditempatkan di
sekolah yang sangat butuh atau butuh melalui pemberian reward percepatan
kenaikan pangkat, pengembangan profesionalisme dan promosi pembinaan
karir;
7. Memperbaiki sistem rekrutmen kepala sekolah sehingga benar-benar
berorientasi kepada prestasi akademik, bakat kepemimpinan, dan integritas.
Mekanisme untuk perbaikan sistem ini dirinci: (a) pemetaan kebutuhan tipe
kepemimpinan untuk memajukan sekolah tertentu; (b) penentuan syarat
akademik dan karir untuk merekrut calon kepala sekolah yang unggul; dan (c)
wawancara yang melibatkan ahli psikologi dan pakar pendidikan;
8. Meningkatkan kapasitas dan profesionalisme kepala sekolah melalui Program
Pelatihan dan Pendampingan yang bercirikan keunggulan melalui kerjasama
dengan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri, dan melibatkan LPMP dan
MPD ;
9. Pemetaan dan pembenahan berkelanjutan terhadap ketersediaan dan
kecukupan sarana dan prasarana sekolah setiap tahun dengan memperhatikan
tingkat kemutakhiran sarana prasarana sesuai dengan SNP. Pembenahan ini
dapat dilakukan melalui mekanisme: (a) pemetaan kebutuhan sarana dan
prasarana setiap sekolah yang terus-menerus di-update langsung oleh dinas
pendidikan kab./kota di setiap sekolah, dan (b) pendampingan perawatan
68
sarana dan prasarana setiap sekolah dengan menyiapkan SOP dan alokasi dana
perawatan dan pemutakhiran sarana dan prasarana;
10. Good practices dalam pengelolaan sekolah dan proses pembelajaran yang
berjalan di suatu sekolah bercirikan keunggulan, perlu didorong dan
difasilitasi untuk bisa diterapkan pada sekolah-sekolah lainnya. Transfer
praktik ini dilakukan melalui mekanisme: (a) identifikasi dan ‘pembukuan’
poin-poin keunggulan pengelolaan sekolah dan proses pembelajaran, (b)
piloting penerapan poin-poin keunggulan di beberapa sekolah melalui
pendampingan yang melibatkan kepala sekolah berciri keunggulan dan pakar
administrasi pendidikan, dan (c) evaluasi keefektivan pilot project yang akan
melahirkan feedback perbaikan dan rekomendasi perluasan penerapan di
sekolah-sekolah lainnya;
11. Dukungan penganggaran dan pembiayaan yang akurat untuk mendukung
sekolah-sekolah dengan kondisi lingkungan sosial ekonomi rendah dalam
melaksanakan pembelajaran. Dukungan pembiayaan ini dilakukan melalui
mekanisme: (a) pemberian prioritas alokasi anggaran operasional (APBD dan
APBN) yang lebih besar untuk sekolah dengan kondisi lingkungan sosial
ekonomi rendah sesuai dengan tingkatan kondisinya, (b) pendampingan dalam
pemanfaatan dana alokasi khusus, dan (c) pelaporan dan penyediaan alokasi
tahun
berikutnya
sesuai
dengan
kemampuan
menjalankan
program
pembelajaran;
12. Dukungan Dinas Syariat Islam, Badan Dayah, dan MPD untuk sosialisasi
tentang peran orang tua dan masyarakat dalam mendukung operasional
pembelajaran sekolah. Dukungan ini bisa dilaksanakan melalui program: (a)
penyediaan da’i dalam pertemuan komite dan orang tua siswa di sekolah dan
masyarakat untuk memberikan pencerahan tentang peran pendidikan dalam
mendukung pendidikan, (b) penyediaan motivator dalam pertemuan awal
semester pimpinan sekolah, pengawas sekolah, orang tua, dan siswa, dan (c)
menjembatani komunikasi orang tua siswa dengan guru atau sekolah untuk
menggugah peran orang tua dalam mengembangkan kesadaran berpendidikan
dalam keluarga.
69
DAFTAR PUSTAKA
Asmawati. 1999. Analisis Pengangguran Perguruan Tinggi Negeri di Wilayah
Sumatera. Tesis. PPs Unsyiah.
Beeby, C. E. 1966. The Quality of Education in Developing Countries.
Massachusetts: HarvardUniversity Press.
Carter V. Good. 1959. Dictionary of Education. Mc. Graw Hill Book Company,
Inc. New York.
Coombs, P. H. 1985. The World Crisis and Education. Oxford: Oxford
UniversityPress.
Cresswell, John W. 2008. Educational research: Planning, conducting, and
evaluating quantitative and qualitative research (3rd ed.). Upper Saddle
River, NJ: Pearson.
Danim, Sudarwan. 2008. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Driyarkara. 1950. Driyarkara tentang Pendidikan, Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
Engkoswara. 1986. Kecenderungan Kehidupan di Indonesia Menjelang Tahun
2000 dan Implikasinya Terhadap Sistem Pendidikan. Jakarta: CV.
Intermedia.
Engkoswara. 1986. Membina Indonesia Merdeka Melalui Pendidikan. Bandung:
Yayasan Amal Keluarga.
Goleman, David. 2005. Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than
IQ. Tenth Edition. New York: Bantam Dell, A Division of Random
House Inc.
Gujarati, D. 1993. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga.
Heyneman, Stephen P. and William A. Loxley. 1983. The Effect of PrimarySchool Quality on Academic Achievement Across Twenty-nine High-and
Low-Income Countries. Illinois: The University of Chicago Press.
Hoy, Charles et. al. 2000. Improving Quality in Education. London: Longman
Publishing Company.
Imron dkk, A. 2003. Manajemen Pendidikan. Malang: Universitas Negeri
Malang.
70
Sallis, Edward. 2002. Total Quality Management in Education. Third Edition.
London: Kogan Page Ltd.
Sanusi, Achmad. 1990. Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan. Bandung: FPS IKIP.
Satori, Djam’an. 2006. Supervisi Akademik dan Penjaminan Mutu dalam
Pendidikan Persekolahan. Bandung: Koleksi Materi Perkuliahan
Supervisi Pendidikan IPA SPs: Tidak Diterbitkan.
Slamet, Margono. 1999. Filosofi Mutu dan Penerapan Prinsip-Prinsip
Manajemen Mutu Terpadu. Bogor: IPB.
Stacey, K. 2011. The View of Mathematics Literacy in Indonesia. Mathematics
Education, 1-24.
Suderadjat, Hari. 2005. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah;
Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Implementasi KBK. Bandung:
Cipta Lekas Garafika.
Suparlan. 2006. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Suryadi, Ace et. al. 2001. Indikator Mutu dan Efisiensi Pendidikan Sekolah Dasar
di Indonesia, dalam Fasli Jalal dan Dedi Supriyadi (ed.), Reformasi
Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya
Nusa.
Suryadi, Ace dan H. A. R. Tilaar, 1994. Analisis Kebijakan Pendidikan; Suatu
Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tawnsend-Butterworth, D. 1992. Your First Child's School: A Handbook For
Parents. USA: Walker and Company.
Tu'u, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta:
Grasindo.
Umaedi. 1999. Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Manajemen Berbasis
Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Usman, Husaini. 2009. Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara.
71
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran I: Instrumen Pengumpulan Data
Lampiran 1.a: Kuesioner Penelitian Analisis Mutu Pendidikan
1. Profil Responden
Nama
Nama Sekolah
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Kecamatan
Kabupaten/Kota
:
:
:
:
:
:
:
Berilah jawaban/ pendapat anda dengan memberikan tanda √ pada kolom tingkat
capaian yang sesuai pendapat anda. Nilai satu (1) menunjukkan kondisi sangat
kurang dan nilai 5 mewakili kondisi yang sangat baik.
Pada kolom pertanyaan pendukung mohon tuliskan jawaban anda sesuai kondisi
yang terjadi atau yang anda ketahui
Keterangan:
1 = sangat kurang; 2 = kurang; 3 = cukup; 4 = baik; 5 = sangat baik
No.
Tingkat Capaian
1 2 3 4 5
Pernyataan
Pertanyaan
1
Kecukupan jumlah ruang belajar dan bangku
dalam mendukung proses pembelajaran
2
Kecukupan jumlah dan jenis buku sesuai
mata pelajaran yang tersedia di pustaka
sekolah dalam mendukung proses
pembelajaran
Buku apa saja yg tidak
tersedia;
3
Kecukupan jenis laboratorium dan alat-alat
laboratorium yang tersedia untuk
mennunjang kebutuhan pembelajaran.
Laboratorium apa saja
yg ada:
Alat laboratorium
yang ada:
72
4
Kecukupan dan kesuaian kompetensi guru
untuk pembelajaran setiap mata
pembelajaran
Pelajaran yg diasuh
oleh guru yang tidak
sesuai kompetensi/
ijazah
………………………
………………………
Tuliskan
kelemahannya jika
ada:
5
Peningkatan kemampuan guru yang
bersertifikat dalam proses pembelajaran
6
Transparansi dan pemerataan dalam
pemilhan peserta (guru) yang dikirim untuk
mengikuti pelatihan
Tuliskan mekanisme
singkat, atau SOP jika
ada:
7
Keefektifan materi pelatihan dalam
mendukung proses pembelajaran
Beri saran jika ada:
8
Keefektifan forum MGMP
Jumlah pertemuan per
bulan:
Materi yang
dibicarakan:
9
Kegiatan ekstrakurikuluer sudah mendukung
pembinaan karakter anak
Jenis kegiatan
ekstrakurikuler yang
dilaksanakan:
10
Upaya yang telah dilakukan untuk
mendorong minat dan prestasi belajar siswa
(kokurikuler)
Upaya yang
dilakukan:
73
Saran jika ada:
11
Kecukupan dan kefektifan pendanaan
operasional dalam mendukung proses
pembelajaran
Apa saja sumber dana
operasional:
12
Kefektifan pendanaan program atau kegiatan
dalam mendukung prestasi siswa dan guru
Tuliskan apa saja
program yang telah
dilaksanakan, dan
sumber dananya:
13
Kurikulum muatan lokal
Pelajaran muatan
lokal:
14
Kesuaian pelaksanaan pembelajaran (materi)
dengan kurikulum dan silabus
Tuliskan materi yang
tidak diajarkan jika
ada:
14
Penggunaan laboratorium untuk mendukung
proses pembelajaran
Jumlah penggunaan
per minggu;
15
Perencanaan perangkat pembelajaran yang
dilakukan semua guru dalam mendukung
pembelajaran di kelas
Pelajaran yang belum
memiliki
RPP:…………………
………………………
Adakah Pembuatan
Media:
74
Adakah rubrik
penilaian:
16
Kesesuaian pelaksanaan proses
pembelajaran dengan RPP yang dibuat
Beri komentar jika
ada:
17
Tingkat kedisiplinan siswa di lingkungan
sekolah dan dalam proses pembelajaran
Apakah ada tata tertib:
Bagaimana
mensosialisasikan tata
tertib:
18
Prosedur pengaturan pemanfaatan sarpras,
dilengkapi SOP yang jelas
Tuliskan SOP yang
ada
19
Prosedur pelaksanaan proses pembelajaran
dengan SOP yang jelas
Tuliskan SOP yang
ada
20
Upaya meningkatkan kepedulian orang tua
murid terhadap pencapaian prestasi anak
Jumlah pertemuan
dengan wali murid:
Tuliskan upaya
melibatkan wali
murid, jika ada (selain
pertemuan):
21
Pelaksanaan try out dalam mendukung
prestasi UN
Berapa kali jumlah try
out:
75
Tuliskan saran untuk peningkatan mutu pendidikan :
Rubrik penentuan skor:
A. Proses pembelajaran
Skala 1
Skala 2
Skala 3
Skala 4
Skala 5
: Sebagian besar pembelajaran dilakukan tanpa RPP, hanya
sebagian kecil prosedur penilaian yang terlaksan, dan proses
pembelajaran tidak diawasi dan evaluasi.
: Sebagian pembelajaran dilakukan tanpa RPP, sebagian
prosedur penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran
sebagian diawasi dan evaluasi.
: Sebagian besar pembelajaran tidak mengikuti RPP, sebagian
prosedur penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran
sebagian diawasi dan evaluasi.
: Sebagian besar pembelajaran tidak mengikuti RPP, sebagian
prosedur penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran
sebagian besar diawasi dan evaluasi.
: Sepenuhnya pembelajaran mengikuti RPP, sebagian besar
prosedur penilaian terlaksana, dan proses pembelajaran
sebagian besar diawasi dan evaluasi.
B. Sumber daya manusia
Skala 1
Skala 2
Skala 3
Skala 4
Skala 5
: Ada pelajaran ujian nasional yang diajarkan oleh guru
dengan kompetensi tidak sesuai
: Ada pelajaran selain mata pelajaran yang di-UN-kan yang
diajarkan oleh guru dengan kompetensi yang tidak sesuai,
dan aktif pada MGMP.
: Tidak ada pelajaran yang diajarkan oleh guru dengan
kompetensi tidak sesuai. Kurang dari 25 % guru bersertifikat,
kurang dari 25% guru telah mengikuti pelatihan-pelatihan
dan guru aktif pada forum MGMP
: Tidak ada pelajaran yang diajarkan oleh guru dengan
kompetensi tidak sesuai. kurang dari 50% guru bersertifikat,
lebih dari 50% guru telah mengikuti pelatihan-pelatihan, dan
aktif mengikuti MGMP
: Tidak ada pelajaran yang diajarkan oleh guru dengan
kompetensi tidak sesuai. Lebih dari 75 % guru telah
bersertifikat. Lebih dari 75% guru telah mengikuti pelatihanpelatihan, dan aktif dalam MGMP dan ada MGMP internal.
76
C. Sarana dan prasarana
Skala 1
Skala 2
Skala 3
Skala 4
Skala 5
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras sangat
sedikit terpenuhi dan tanpa SOP
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras sebagian
kecil terpenuhi dan tanpa SOP
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras
separuhnya terpenuhi berdasarkan SOP
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras sebagian
besar terpenuhi berdasarkan SOP
: Ketersediaan, perawatan, dan pemutakhiran sarpras terpenuhi
berdasarkan SOP
D. Kesiswaan
Skala 1
Skala 2
Skala 3
Skala 4
Skala 5
:
:
:
:
:
Tidak ada kegiatan kokurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler
Ada 1 jenis kegiatan kokurikuler atau ekstrakurikuler
Ada 2–3 jenis kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler
Ada 4–5 jenis kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler
Ada lebih dari lima kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler
E. Pembiayaan
Skala 1
Skala 2
Skala 3
Skala 4
Skala 5
: Pembiayaan hanya dengan dana BOS
: Selain dana BOS, ada pembiayaan yang bersumber dari
APBA
: Selain dana BOS ada pembiayaan lain yang bersumber dari
APBA dan APBK
: Selain dana BOS, ada pembiayaan tambahan yang bersumber
dari APBA, APBK, dan Komite Sekolah
: Selain dana BOS, ada pembiayaan tambahan yang bersumber
dari APBK, dan Komite Sekolah, dan sumber lainnya
F. Hasil ujian nasional
Skala 1
Skala 2
Skala 3
: Nilai rata-rata UN adalah < 4
: Nilai rata-rata UN adalah 4 sampai < 5
: Nilai rata-rata UN adalah 5 sampai < 6
Skala 4
Skala 5
: Nilai rata-rata UN adalah 6 sampai 7
: Nilai rata-rata UN adalah > 7
G. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Skala 1
: Tidak mampu menyediakan fasilitas penunjang pembelajaran
dan mendukung kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler
anaknya.
77
Skala 2
Skala 3
Skala 4
Skala 5
: Mampu menyediakan sebagian kecil fasilitas penunjang
pembelajaran dan mendukung kegiatan kokurikuler dan
ekstrakurikuler anaknya.
: Mampu menyediakan sebagian fasilitas penunjang
pembelajaran dan mendukung kegiatan kokurikuler dan
ekstrakurikuler anaknya.
: Mampu menyediakan sebagian besar fasilitas penunjang
pembelajaran dan mendukung kegiatan kokurikuler dan
ekstrakurikuler anaknya.
: Mampu
menyediakan
seluruh
fasilitas
penunjang
pembelajaran dan mendukung kegiatan kokurikuler dan
ekstrakurikuler anaknya.
78
Lampiran 1.b: Pedoman Wawancara, Observasi, dan Dokumentasi
Proses Penyusunannya:
Instrumen Wawancara untuk Perluasan Penelitian Analisis Mutu Pendidikan –
Bappeda Aceh
8 Poin Standar Nasional Pendidikan – BSNP
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional
Pendidikan terdiri dari :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Standar Kompetensi Lulusan
Standar Isi
Standar Proses
Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Standar Sarana dan Prasarana
Standar Pengelolaan
Standar Pembiayaan Pendidikan
Standar Penilaian Pendidikan
PENGEMBANGAN INSTRUMEN (PERTANYAAN WAWANCARA)
Tabel 1: Spesifikasi dan Kisi-Kisi Pengembangan Instrumen Wawancara
No.
Topik
1.
Standar
Kompetensi
Lulusan
Subtopik
a. Standar
kompetensi
lulusan minimal
satuan
pendidikan
b. Standar
kompetensi
lulusan minimal
kelompok mata
pelajaran
c. Standar
kompetensi
lulusan minimal
mata pelajaran
Poin Pertanyaan
1) Penentuan SKLM tingkat sekolah
dan madrasah
2) Penentuan SKLM kelompok
mapel
3) Penentuan SKLM mapel
2.
a. Kerangka dasar
dan struktur
kurikulum
1) Kerangka dan struktur kurikulum
yang berlaku
2) Penentuan mulok pada kurikulum
Standar Isi
79
b. Beban belajar
c. Kurikulum
tingkat satuan
pendidikan
d. Kalender
pendidikan
3) Penentuan kalender pendidikan
3.
Standar Proses
a. Perencanaan
proses
pembelajaran
b. Pelaksanaan
proses
pembelajaran
c. Penilaian hasil
pembelajaran
d. Pengawasan
proses
pembelajaran
1) Arahan/sosialisasi dalam
perencanaan proses pembelajaran
agar diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang,
memotivasi Peserta Didik untuk
berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat.
2) Evaluasi kualitas perangkat
pembelajaran yg disusun guru
3) Supervisi dalam pelaksanaan
proses pembelajaran
4) Perencanan penilaian hasil
belajar (tabel spesifikasi dan kisikisi)
5) Validasi instrumen penilaian
hasil belajar
6) Pengelolaan Proses Belajar
Mengajar
7) Peran dan fungsi Unit
Penjaminan Mutu
8) Kegiatan Kokurikuler siswa
9) Kegiatan ekstrakurikuler dalam
membangun karakter siswa
10) Peranan orang tua dalam
mendukung kegiatan siswa
4.
Standar
Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan
a. Kompetensi
pedagogik;
b. Kompetensi
kepribadian;
c. Kompetensi
profesional; dan
d. Kompetensi
sosial.
1) Rumusan standar kompetensi
pendidik dan tenaga kependidikan
berdasarkan kebutuhan daerah
2) Sistem rekrutmen pendidik dan
tenaga kependidikan
3) Pembinaan profesionalisme
pendidik dan tenaga kependidikan
4) Pengawasan rekrutmen dan
pembinaan pendidik dan tenaga
kependidikan
80
5) Kesesuaian kompetensi guru
dengan mapel yang emban
6) Peranan MGMP dalam
meningkatkan kompetensi guru
5.
Standar Sarana
dan Prasarana
a. Pengadaan
sarpras
b. Perawatan
sarpras
c. Meningkatkan
(mengupgrade)
sarpras
1) Sistem atau prosedur pengadaan
sarpras
2) Kelengkapan sarpras
3) Prosedur perawatan sarpras
4) Menentukan kebutuhan
peningkatan sarpras
5) Keragaman peralatan lab yang
tersedia
6) Jumlah peralatan yang tersedia
7) Jumlah dan jenis buku teks yang
tersedia
8) Ketersediaan sumber belajar
lainnya mis: internet, dll.
6.
Standar
Pengelolaan
a. Standar
pengelolaan
oleh satuan
pendidikan,
b. Standar
pengelolaan
oleh Pemerintah
Daerah
c. Standar
pengelolaan
oleh
Pemerintah.
1) Penentuan visi, misi dan tujuan
sekolah
2) Penyusunan rencana kerja sekolah
3) Pelaksanaan rencana kerja sekolah:
pedoman, struktur organisasi,
kegiatan, kesiswaan, kurikulum,
dan pembelajaran (efektivitas kerja
kelompok guru mapel melalui
MGMP/promoting school learning
climate), pendidik dan tenaga
kependidikan, sarpras, pendanaan,
budaya dan lingkungan, peran
serta masyarakat dan kemitraan
sekolah
4) Pengawasan dan evaluasi
5) Kepemimpinan sekolah (reward
and punishment kepada guru dan
tenaga kependidikan)
7.
Standar
Pembiayaan
Pendidikan
a. Biaya investasi
b. Biaya operasi
c. Biaya personal
1) Sumber biaya investasi dan operasi
2) Sumber gaji dan tunjangan
3) Pengadaan bahan dan peralatan
habis pakai
4) Sumber dana untuk biaya operasi
pendidikan tidak langsung: listrik,
air, komunikasi, pemeliharaan,
dsb.
81
5) Peran komite sekolah dalam
mendukung pembiayaan kegiatan
6) Peran komite dalam pengadaan
sarana dan prasarana belajar
7) Tingkat penghasilan orang tua
siswa
8.
Standar
Penilaian
Pendidikan
a. Penilaian hasil
belajar oleh
pendidik;
b. Penilaian hasil
belajar oleh
satuan
pendidikan; dan
c. Penilaian hasil
belajar oleh
Pemerintah
82
1) Arahan dalam perencanaan,
penentuan teknik penilaian dan
pengembangan instrumen
penilaian
2) Kelas dan sekolah yang didasarkan
pada kompetensi lulusan
3) Pengawasan dalam pelaksanaan
penilaian
4) Penilaian BSNP atau hasil nilai
UN ……………
Tabel 2: Daftar Pertanyaan Wawancara
Pertanyaan
1. Kurikulum apa yang
diberlakukan di sekolah ini?
Jawaban
2. Bagaimana cara menentukan
mapel/materi mulok pada
kurikulum?
3. Bagaimana penentuan kalender
pendidikan?
4. Bagaimanakah arahan/sosialisasi
dalam perencanaan proses
pembelajaran?
5. Adakah mekanisme evaluasi
kualitas perangkat pembelajaran
yang disusun guru?
6. Adakah supervisi dan
pengawasan dalam pelaksanaan
proses pembelajaran? Kalau ada,
siapa saja yang melakukannya
7. Bagaimana mekanisme
Pengelolaan Proses Belajar
Mengajar?
8. Adakah peran dan fungsi Unit
Penjaminan Mutu dalam
pengelolaan proses belajarmengajar?
9. Apa saja dan bagaimana
pelaksanaan kegiatan kokurikuler
siswa?
10. Apa saja dan bagaimana kegiatan
ekstrakurikuler dalam
membangun karakter siswa?
11. Bagaimana peranan orang tua
dalam mendukung kegiatan
siswa?
83
12. Bagaimana kondisi sosial
ekonomi masyarakat lingkungan
sekolah?
13. Bagaimanakah sistem rekrutmen
pendidik dan tenaga
kependidikan?
14. Bagaimanakah upaya Pembinaan
profesionalisme pendidik dan
tenaga kependidikan?
15. Adakah mapel yang diemban
oleh guru dengan ijazah/
kompetensi yang tidak sesuai?
16. Bagaimana peran MGMP dalam
meningkatkan kompetensi guru
di sekolah ini?
17. Bagimana prosedur pengadaan
sarana prasarana?
18. Bagaimana prosedur perawatan
sarana prasarana?
19. Bagaimana menentukan
kebutuhan peningkatan sarana
prasarana?
20. Apakah jenis peralatan
laboratorium (IPA, Bahasa,
Komputer, IPS) yang tersedia
cukup lengkap?
21. Apakah siswa memperoleh
akses internet di sekolah untuk
memperoleh sumber belajar?
22. Bagaimana menyusun
perencanan penilaian hasil
belajar (tabel spesifikasi dan
kisi-kisi)?
84
23. Adakah instrumen penilaian
hasil belajar divalidasi, sebelum
digunakan?
85
Tabel 3: Pedoman Pencatatan Hasil Observasi
No.
Jenis Observasi
1.
Kondisi lingkungan
sekolah
2.
Kondisi ruang
laboratorium
3.
Kondisi ruang kepela
sekolah, guru dan tata
usaha
4.
………………..
Tanggal
Observasi
Deskripsi hasil
observasi
Tabel 4: Pedoman Pencatatan Hasil Dokumentasi
No.
Jenis dokumen
1.
Tata Tertib Sekolah
2.
Distribusi guru dan tenaga
kependidikan
3.
SOP peningkatan kompetensi
guru
4.
……………..
Tanggal dikeluarkan
dokumen
86
Isi
dokumen
Lampiran II: Deskripsi dan Hasil Analisis Data
Lampiran 2: PRINT OUT HASIL ESTIMASI MODEL ANALISIS
DENGAN EVIEWS VERSI 6
A. Hasil estimasi fungsi proses pembelajaran
Dependent Variable: PROS
Method: Two-Stage Least Squares
Date: 08/13/15 Time: 20:24
Sample: 1 235
Included observations: 235
Instrument list: PROS SRP SW MJM UN DY SDM DN KM
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
SDM
SRP
SW
UN
DY
MJM
1.372056
0.028221
0.263950
0.336898
-0.044205
0.180961
0.046521
0.461173
0.009720
0.035984
0.071423
0.073762
0.190346
0.053703
2.975145
2.903578
7.335219
4.716921
-0.599299
1.050693
0.866263
0.0032
0.0041
0.0000
0.0000
0.5496
0.1428
0.3873
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.485311
0.471766
0.509285
35.83093
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Sum squared resid
Durbin-Watson stat
Second-Stage SSR
3.327830
0.700725
59.13658
1.715465
59.13658
B. Hasil estimasi fungsi sarana dan prasarana
Dependent Variable: SRP
Method: Two-Stage Least Squares
Date: 08/13/15 Time: 20:43
Sample: 1 235
Included observations: 235
Instrument list: SRP SDM SW PROS DN DY MJM UN KM
Variable
C
DN
MJM
SW
DY
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
F-statistic
Prob(F-statistic)
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
0.534030
0.289502
0.016979
0.423082
0.148675
0.327446
0.100188
0.095482
0.140089
0.183774
1.630895
2.889573
0.177820
3.020093
0.809007
0.1043
0.0042
0.8590
0.0028
0.4193
0.212353
0.198655
0.922283
15.50225
0.000000
87
Mean dependent var
S.D. dependent var
Sum squared resid
Durbin-Watson stat
Second-Stage SSR
3.027362
1.030277
195.6392
1.216461
195.6392
C. Hasil estimasi fungsi ujian nasional
Dependent Variable: UN
Method: Two-Stage Least Squares
Date: 08/17/15 Time: 22:49
Sample: 1 235
Included observations: 235
Instrument list: PROS SRP SDM SW MJM UN DN DY KM
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
PROS
SRP
SDM
MJM
KM
SW
6.584371
0.012337
0.004674
0.048498
0.166814
-10.41445
-0.031136
0.333077
0.101649
0.061429
0.013919
0.082394
1.616216
0.114861
19.76832
0.121374
0.076081
3.484195
2.024577
-6.443726
-0.271073
0.0000
0.9035
0.9394
0.0006
0.0441
0.0000
0.7866
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.231169
0.210936
0.782693
11.42566
0.000000
88
Mean dependent var
S.D. dependent var
Sum squared resid
Durbin-Watson stat
Second-Stage SSR
6.260606
0.881120
139.6745
0.040409
139.6745
Lampiran 2.b: Sampel Transkrip Hasil Wawancara untuk Penentuan Kode
dan Tema pada Analisis Data Kualitatif
Tabel 2.b.1: Menentukan Kode untuk Transkrip Wawancara Tentang Proses
Pengadaan Sarana Prasarana (Sarpras) Sekolah dan Penataan
Lingkungan Sekolah
Kode
P
:
Ruangan ini seperti bekas laboratorium. Kenapa harus dirubah
fungsinya?
W
:
Benar. Untuk menfungsikannya sebagai laboratorium, kami
tidak memiliki peralatan dan tidak memiliki dana untuk
membeli bahan praktikum. Kebetulan sekolah kami tidak
memiliki ruang guru dan perpustakaan. Kami juga masih
kekurangan satu ruang kelas. Maka, kami manfaatkan saja
dengan sedikit merubah tata letak perabotan dan bagianbagian bangunannya. Ya… mau bagaimana lagi? Kami sudah
beberapa kali mengajukan proposal untuk pengadaan ruang
guru dan perpustakaan, tapi tidak mendapat respon dalam
beberapa tahun ke belakang, baru tahun ini, kami memperoleh
respon untuk pengadaan satu ruangan kelas. Sedangkan, untuk
ruangan perpustakaan dan guru tetap belum ada jawaban
pengadaanya.
P
:
Berapa kali proposal sudah diajukan dan apakah diajukan ke
pemerintah kabupaten, provinsi atau pemerintah pusat? Dan
bagaimana pendekatan atau lobi-lobi yang dilakukan?
W
:
Empat kali dalam empat tahun terakhir dan kami ajukan ke
pemerintah provinsi melalui Dinas Pendidikan Provinsi Aceh
dengan tembusan kepada Bupati Abdya, DPRK Kabupaten
Abdya, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Abdya. Bagaimana ya,
kami memang tidak “pandai” melobi, tetapi kami sudah
beberapa kali datang ke Dinas Pendidikan Kabupaten Abdya
untuk menjelaskan tentang kebutuhan yang sangat mendesak
ini. Kami juga menyampaikan bahwa orang tua para siswa dan
masyarakat di sekitar sekolah sudah kami ajak menyumbang
untuk pengadaan ruang-ruang tersebut. Kami sampaikan juga
bahwa masyarakat hanya “mampu” menyatakan keprihatinan
mereka! Jadi, kami pikir pemerintahlah satu-satunya pihak yang
harus memikirkan dan bertanggung jawab untuk pengadaan
ruangan-ruangan itu. Tapi, pejabat-pejabat di kantor sana
sepertinya hanya saling menyalahkan dan mengelak ya …
P
:
Uh … memang memprihatinkan pak ya! Coba kita cermati lebih
luas lagi termasuk lingkungan sekolah. Ketika masuk tadi, kami
juga melihat tumpukan-tumpakan kotoran sapi di halaman
depan beberapa ruangan kelas dan di sekitar tiang bendera.
W
:
Itu lagi masalah besarnya. Masyarakat secara umum
menyampaikan keprihatinan mereka terhadap kondisi ruangan
Prasarana
sekolah
kurang
Pengadaan
prasarana
terbatas
Birokrasi
berteletele
89
Tema
Prasarana
vital sekolah
Susahnya
menata
lingkungan
dan lingkungan sekolah. Namun, segelintir di antara mereka
menganggap biasa saja dengan kotoran sapi “kececer” di manamana termasuk di pekarangan sekolah. Kami sudah beberapa
kali mencoba berbicara dengan sebagian peternak di desa ini.
Mereka hanya menjawab bahwa mereka tidak punya pilihan
kecuali melepas ternak-ternak mereka untuk mendapatkan
makanan. Begitulah pak, betul-betul memprihatinkan memang
… tapi, mau bagaimana lagi kecuali menghadapinya saja.
Jangankan memohon pengadaan pengadaan pagar, pengadaan
ruang guru dan ruang perpustakaan yang lebih vital saja belum
dipenuhi.
Lingkungan
sekolah
Sumber:Hasil Wawancara Dengan Wakil Kepala Sekolah SMPN Labuhan Haji Timur
90
Tabel 2.b.2: Menentukan Kode untuk Transkrip Wawancara Tentang Proses
Pengadaan Sarana Prasarana (Sarpras) Sekolah
Kode
P
: Apakah ruangan kantor dan ruang belajar beserta
perabotannya sudah mencukupi?
K
: Ruangan kantor khususnya untuk Tata Usaha dan Ruang
Kerja Guru masih belum memadai. Kami membutuhkan
penambahan masing-masing satu ruang atau perluasan
ruang-ruang yang sudah ada. Ruang belajar juga masih
kurang satu. Menyangkut perabotannya, kursi dan meja di
ruang belajar sudah memadai. Tetapi, kursi, meja dan
lemari untuk ruang TU dan ruang guru perlu penambahan.
Di samping itu, juga sangat diinginkan pengadaan locker
untuk ruang siswa dan guru.
Kurangnya
ruang TU
dan guru
Kurangnya
ruang
belajar
Tema
Prasarana
dan sarana
kurang
Ketersediaan laboratorium dan peralatannya?
P
Laboratoriu
m IPA dan
Bahasa
belum ada
K
P
K
Buku paket
kurang
:
Laboratorium satupun belum kami miliki. Kami sudah
: beberapa kali membuat proposal pengadaannya dan yang
terakhir kami usulkan pengadaan pada tahun 2016. *
Laboratorium yang ada adalah laboratorium TIK beserta
komputernya.**
Bagaimanakah dengan kecukupan sumber-sumber belajar,
: khususnya buku paket?
Sumber
belajar
kurang
Buku paket untuk K-13 (kelas 1 dan kelas 2) masih kurang.
: Sedangkan untuk kelas 3 (yang tahun ajaran ini masih
menggunakan KTSP) sama sekali belum diantisipasi
pengadaan buku paket K-13 yang akan diberlakukan tahun
ajaran selanjutnya.
*Sumber 1 : Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah SMPN 2 Peudada
**Sumber 2 : Hasil Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah dan Salah Seorang Guru
Laboratorium TIK
91
Tabel 2.b.3: Menentukan Kode untuk Transkrip Wawancara Tentang Dana
Operasional Sekolah (Standar Pembiayaan)
Kode
P
:
Apakah dana operasional sekolah tersedia dengan baik dan
memadai dari berbagai sumber?
K
:
Sejauh ini, dana operasional sekolah satu-satu yang konsisten
tersedia adalah dari BOS. Jadi, itulah sumber yang harus
pandai-pandai kami siasati penggunaannya agar bisa teratasi
Terbatasnya
semua kebutuhan utama. Kadang-kadang kami kebingungan
dana
menghadapi kebutuhan-kebutuhan dana penunjang kegiatan
operasinal
pembinaan peningkatan kemampuan berkompetisi di
kalangan siswa, baik yang kurikuler, kokurikuler, dan ekstra
kurikuler.1 Di samping dana BOS, kami juga menerima bantuan
dana dari Yayasan dan dukungan orang tua. Namun, jumlah
keseluruhannya tidak bisa mencukupi seluruh biaya
operasional sehingga disiati dengan sangat menghemat.
Misalnya dana dari orang tua adalah terfokus penggunaannya
untuk biaya hidup siswa terutama biaya makan harian yang
juga dikelola dengan sangat berhemat sehingga kadangkadang terabaikan keterpenuhan gizinya.2
P
:
Untuk kebutuhan kegiatan penunjang, apakah tidak diajukan
untuk memperoleh bantuan dari dinas pendidikan kabupaten?
K
:
Diajukan juga, tetapi tidak memperoleh komitmen untuk
tetap menyediakannya. Misalnya, untuk kegiatan pembinaan
kegiatan kesiswaan, ketika kita membutuhkan untuk
mengirimkan siswa mengikuti perlombaan keolahragaan dan
kepramukan, kami sering sakali kebingunan karena sering
sekali tidak tersedia alokasi dana yang mencukupi di dinas
pendidikan kabupaten. Kondisi demikian, mengharuskan
sekolah mensiasati dengan mengambil “agak berlebihan” dari
dana BOS dan sedikit “memaksa” orang tua memberikan
dukungan mereka.1,2
P
:
Bagaimana dengan ketersediaan dana untuk pembinaan
profesionalisme guru dan tenaga kependidikan?
W
:
Itu juga kondisinya sama saja ya. Kami memang selalu harus
mensiasatinya. Dan sering sekali, untuk kegiatan pembinaan
yang kami rencanakan tidak berjalan sama sekali. Pembinaan
yang paling memungkinkan adalah menunggu kesempatan
atau quota yang disediakan oleh dinas pendidikan kabupaten
atau provinsi. 1,2
Alokasi dana
terbatas
Sulit
menutupi
kebutuhan
siswa
Dana
penunjang
kegiatan
kurang
Dana
pembinaan
profesionalis
me terbatas
Sumber:
Tema
Komitmen
alokasi dana
operasional
Hasil Wawancara dengan Kepala SMAN 2 Bandar Bener Meriah1. Hasil
Wawancara dengan Kepala SMA Bustanul Ulum Bener Meriah.2
92
Lampiran 2.c: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif
Tabel 2.c.1: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Terendah di Provinsi Aceh” dalam
Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh
No
1
Kondisi
sekolah
Kondisi
sosial
masyarakat:
2
Sarpras
3
SDM
4
Kesiswaan
5
Pengelolaan
Kode
(1) relatif baik1,7;(2) cukup baik3,4,5;(3) kurang
baik2,
Tema
(1) tingkat
pendidikan
(2) jenis
pekerjaan
(3) kemampuan
ekonomi
(1) sarpras vital
sekolah
(2) lingkungan
sekolah
(3) sumber
belajar
(1)Kurangnya gedung laboratorium3,
(2)Memadainya gedung laboratorium1,4,6,7
(3)Kurangnya peralatan laboratorium2,5,
(4)Memadainya peralatan laboratorium4,6,7
(5)Adanya prosedur pengadaan sarpras1,2,3,5,7
(6)Pemanfaatan sarpras sesuai prosedur*
(7)Adanya prosedur perawatan sarpras*
(8) Akses internet dengan kapasitas cukup
memadai3,4,7
(9)Tidak ada jaringan internet1,2,
(10)jaringan internet hanya untuk TU5
(11)kurangnya jaringan internet5
(1)Adanya MGMP yang memadai1,7 ;
(1) guru
(2) Adanya pelatihan guru3,7;
profesional
(3) Adanya pelaksanaan MGMP* ;
(2) guru
(4) Mengajar mapel yang bukan bidangnya1,2,5,7;
mismatch
(5) MGMP sangat berperan dalam meningkatkan (3) peran
kompetensi guru*
MGMP
(4) pelatihan
pembelajara
n
(1)Adanya kegiatan Olah raga1,5,6,7
(1) pembinaan
(2)Adanya kegiatan Keterampilan1,3,6,7
karakter
1,6,7
(3)Adanya kegiatan Kesenian
(2) kegiatan
(4)Adanya kegiatan PKS5,
kokurikuler
3,
(5)Adanya kegiatan Keagamaan
(3) kegiatan
(6)Adanya kegiatan PMR5,
ekstrakurikul
(7)Adanya kegiatan pramuka2,
er
1,4,7
(8) Adanya kegiatan OSN
(9) Adanya kegiatan PMI,
(10)Adanya pembinaan Olimpiade1,2,4
(1)Adanya sosialisasi perencanaan
(1) sosialisasi
pembelajaran*;
(2) evaluasi,
(2) Adanya evaluasi kualitas perangkat
supervisi,
93
6
Kurikulum
(muatan
lokal)
pembelajaran*;
(3)Adanya supervisi dalam proses
pembelajaran*;
(4)Adanya pengawasan dalam proses
pembelajaran1,2,7;
(5)Adanya pelibatan Kepsek/wakasek dalam
pengawasan*;
(5)Adanya pelibatan guru dalam
pengawasan2,4,7,;
(6) Adanya sistem pengelolaan proses belajar
mengajar1,2,7; ;(7)Adanya unit penjaminan
mutu4,5,7;(8)Tidak adanya unit penjaminan
mutu1,2,3,6;(9) Adanya peranan orang tua yang
efektif*;(10)komite sekolah berperan
baik3,4,5,7,;(11) komite sekolah tidak berperan
dengan baik1,2;(12)Adanya proses penilaian yang
ikut prosedur*;(13) Adanya validasi instrumen
penilaian*;(14) Adanya pengawasan
pelaksanaan penilaian*;(15); Terbebani dengan
target kelulusan UN dari luar2,
(16)Tidak terbebani dengan target kelulusan
UN1,3,4,5,7
(1) KTSP1,2;(2) Kurikulum 20133,4,5,7;
(3) keterampilan dan prakarya4,;(4) Bahasa dan
tulisan Arab1,;(5) Keagamaan1,2,;(6)Bahasa
Daerah6 (7) Budi Pekerti2,;(8) kalender
pendidikan ikut Provinsi*
1
SMPN Al-Falah
SMP 3 Lembah Seulawah
3
SMA Modal Bangsa
4
SMA Fajar Harapan
5
SMA 3 Banda Aceh
6
SMA 1 Banda Aceh
7
SMP Fatih Bilingual School Lam Yong Banda Aceh
*Semua
2
94
pengawasan
(3) penjaminan
mutu
(4) peran
komite
sekolah
(1) KTSP atau K13
(2) Muatan
lokal
(3) Kalender
pendidikan
Tabel 2.c.2:
No
1.
Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Terendah di Provinsi Aceh”
dalam Kabupaten Aceh Timur, Langsa, Kabupaten Aceh Utara,
dan Lhokseumawe
Kondisi
sekolah
Kondisi sosial
masyarakat:
a. pekerjaan
Kode
Tema
(1) tingkat
pendidikan
(2) jenis pekerjaan
(3) kemampuan
ekonomi
PNS1,3,4,5,
Wiraswasta*
Petani*
pedagang kecil3
b. pendidikan
Mayoritas SMA1,2,3,5,6
S-11,3,4,5
S-23,
c. Penghasilan
1-2 juta6
1,5-2 juta2,
3-4 juta5
3-5 juta3,
4-5 juta1,
≥5 juta4,
2
Sarpras
(1)Kurangnya gedung laboratorium1,
(1) sarpras vital
(2)Memadainya gedung laboratorium5
sekolah
(3)Kurangnya peralatan laboratorium2,4,5
(2) lingkungan
(4)Memadainya peralatan laboratorium3,6
sekolah
(5)Adanya prosedur pengadaan sarpras*
(3) sumber belajar
(6)Pemanfaatan sarpras sesuai prosedur1,2,3,4
(7)Adanya prosedur perawatan sarpras1,2,3,4,6
(8)Adanya TIM yang mengatur peningkatan
sarpras1
(9)Adanya pengajuan proposal peningkatan
sarpras2,6
(10)Adanya kapasitas akses internet yang
memadai1,3,4
(11)Tidak ada jaringan internet2
(12)Didukung dengan penggunaan modem2,6
3
SDM
(1)Adanya MGMP yang memadai1,
;(2)Adanya rapat akademis2,4;(3)Adanya
pelatihan guru3 ;(4)Adanya pengawasan
penyusunan RPP5,;(5)Adanya upaya
pembinaan profesionalisme
guru1,2,3,4,5;(6)Adanya pelaksanaan
MGMP1,2,5,6;(7)Adanya penggunaan
95
(1) guru
profesional
(2) guru mismatch
(3) peran MGMP
(4) pelatihan
pembelajaran
IT5;(8)Adanya pelatihan administrasi6
(9)Mengajar mapel yang bukan bidangnya*
(10)MGMP sangat berperan dalam
meningkatkan kompetensi guru*
4
Kesiswaan
(1)Adanya kegiatan Olah raga1,2,3,4,5,6
(2)Adanya kegiatan Keterampilan1,4
(3)Adanya kegiatan Kesenian1,2,4,5,6
(4)Adanya kegiatan PKS1
(5)Adanya kegiatan Keagamaan1
(6)Adanya kegiatan PMR1,3
(7)Adanya kegiatan pramuka1,2,3,4,5
(8) Adanya kegiatan OSN1,3
(9) Adanya kegiatan PMI4
(1) pembinaan
karakter
(2) kegiatan
kokurikuler
(3) kegiatan
ekstrakurikuler
5
Pengelolaan
(1)Adanya evaluasi kualitas perangkat
pembelajaran* ;(2)Adanya supervisi dalam
proses pembelajaran*;(3)Adanya
pengawasan dalam proses
pembelajaran*;(4)Adanya pelibatan
Kepsek/wakasek dalam
pengawasan2,3,4,5;(5)Adanya pelibatan guru
senior dalam pengawasan1,;(6) Adanya
pengelolaan proses belajar mengajar1,3,4,5,6;
;(7)Adanya unit penjaminan mutu3;(8)Tidak
adanya unit penjaminan
mutu1,2,4,5,6;(9)Adanya penambaham jam
belajar1,3,4,5,6 ;(10)Adanya bimbingan
olimpiade2,3,;(11)Adanya
remedial2,;(12)Adanya pengayaan2,
(13)Adanya sumbangan orang tua1,
(14)Tidak adanya pelibatan komite3,
(15)Adanya komunikasi komite dengan
masyarakat6
(16)Adanya dukungan dari pihak orang tua*
(17)Adanya Perumusan sistem recruitment3,
(18)Adanya pelaksanaan sistem
recruitment2,3,4,5,6
(19)Tidak ada recruitment1,
(20Adanya proses penilaian yang ikut
prosedur*
(21)Adanya validasi isi1
(22)Adanya validitas konstruk1
(23)Adanya validasi instrumen penilaian2,4,5,6
(24)Tidak ada validitas instrumen penitian3
(25)Adanya pengawasan pelaksanaan
penilaian1,2,3,4,5,6
(1) sosialisasi
(2) evaluasi,
supervisi,
pengawasan
(3) penjaminan
mutu
(4) peran komite
sekolah
96
(26)Target kelulusan UN tidak
terbebani1,2,3,5,6
(27)Terbebani pada target kelulusan UN4
6
Kurikulum
(muatan lokal)
(1) KTSP1,2,4,6;(2) Kurikulum 20133,5;(3)
keterampilan dan prakarya1,;(4) Bahasa dan
tulisan Arab1,2,4,6;(5)TIK2,4,;(6)Keagamaan3,5,;
(7)Bahasa Asing3,;(8)Bahasa Daerah6,;(9)Budi
Pekerti6,; (10) kalender pendidikan ikut
kabupaten1,4,;(11)kalender pendidikan ikut
Provinsi2,3,4,5,6;(12)adanya kalender
pendidikan pribadi3,4,;(13)penambahan pada
kalender pendidikan2
1
SMA 1 Langsa
SMA Iskandar Muda
3
SMAN 1 Lhok seumawe
4
SMA Modal Bangsa Arun
5
SMAN Unggul Aceh Timur
6
SMPN 1 Simpang Ulim
*Semua
2
97
(1) KTSP atau K13
(2) Muatan lokal
(3) Kalender
pendidikan
Tabel 2.c.4:
No
1
Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Terendah di Provinsi Aceh”
dalam Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah
Kondisi
sekolah
Kondisi
sosial
ekonomi
masyarakat
Kode
Menengah keatas1,4,18
Menengah kebawah2,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17
Tema
(1) tingkat
pendidikan
(2) jenis pekerjaan
(3) kemampuan
ekonomi
2
Sarpras
(1)Kurangnya gedung laboratorium8,11,16,17,18
(1) sarpras vital
(2)Memadainya gedung laboratorium1,2,3,4,5,7,13
sekolah
3,5,6,7,8,13,16,17,18
(3)Kurangnya peralatan laboratorium
(2) lingkungan
(4)Memadainya peralatan laboratorium10,14,15
sekolah
(5) Adanya prosedur pengadaan sarpras*
(3) sumber belajar
(6) Adanya pengajuan proposal peningkatan
sarpras*
(7) Adanya prosedur perawatan
sarpras2,3,6,8,9,10,11,12,13,14,15,18
(8) Adanya kapasitas akses internet yang
memadai5,13,14,15,17
(9)Tidak ada Jaringan internet6,7,8,9,10,11,12,
(10) Kapasitas akses internet yang kurang
memadai18,16
3
SDM
(1)MGMP yang berperan
aktif1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17;
(2) Mengajar mapel yang bukan
bidangnya4,5,6,8,9,11,12,16,
(3) Adanya pengawasan penyusunan RPP*
(4)Adanya validasi
instrumen1,2,3,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17 ;
(5) Tidak ada validasi instrumen penilaian4,18
;(6)Adanya rapat dewan guru11,12,;(7)Adanya
penggunaan IT1,2,;(8)Adanya pengawasan oleh
kepsek/guru senior1,3,5,;(9) Adanya pengawasan
pelaksanaan penilaian*;(10)Adanya sistem
recruitmen SDM16,17,18;(11) MGMP yang kurang
berperan18
(1) guru
profesional
(2) guru mismatch
(3) peran MGMP
(4) pelatihan
pembelajaran
4
Siswa
(1)Adanya kegiatan Olah Raga1,2,3,5,6,7,8,10,11,12,13,16,18
(2)Adanya kegiatan Keterampilan12,18
(3)Adanya Kesenian2,3,4,5,6,8,11,12,13,14,15,16,17,18
(4) Adanya kegiatan OSN7,14
(5)Adanya kegiatan Keagamaan11,16,17
(6)Adanya kegiatan PMR2,10
(1) pembinaan
karakter
(2) kegiatan
kokurikuler
(3) kegiatan
ekstrakurikuler
98
(7)Adanya kegiatan pramuka1,2,4,5,9,10,12,13,14,15,18
1
5
Sistem
(1)Adanya sosialisasi perencanaan pembelajaran*
pengelolaan (2) Adanya evaluasi kualitas perangkat
pembelajaran* ;(3)Adanya supervisi dalam proses
pembelajaran*;(4)Adanya pengawasan dalam
proses pembelajaran*;(5)Adanya pelibatan guru
dalam pengawasan2,10,11,18;(6) Adanya sistem
pengelolaan proses belajar
mengajar2,4,10,11,12,13,114,15,18 ;(7)Adanya unit
penjaminan mutu3,16,17,18;(8)Tidak adanya unit
penjaminan mutu1,2,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,15 ;(9)Adanya
penambaham jam belajar2,4,5,6,7,8,9,10,11,
12,13,14,15,16,17
;(10)Adanya bimbingan
8,11,
olimpiade ;(11)Adanya remedial3,6,;(12)Adanya
pengayaan5,
(13) Adanya peranan orang tua yang efektif*
(14)Tidak terbebani dengan target kelulusan
UN1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,18;(15) Terbebani
dengan target kelulusan UN17
6
Kurikulum
(muatan
lokal)
(1) KTSP1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,17;
(2) Kurikulum 201318;
(3)kewirausahaan4,;(3) keterampilan dan
prakarya2,17,18;(4) Bahasa dan tulisan
Arab6,7,8,18;(5)TIK1,8,17;(6)Keagamaan5,9,15,17;
(7)Bahasa Asing,;(8)Bahasa Daerah11,;(9)Budi
Pekerti1,3,4,10,11,14; (10) Lingkungan5,6,10,12,13,16,17;(11)
kalender pendidikan ikut
kabupaten4,16;(12)kalender pendidikan ikut
Provinsi1,2,3,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,17,18 (13)Kebudayaan16
SMPN 1 Takengon Aceh Tengah
2
SMPN 2 Takengon Aceh Tengah
3
SMPN 4 Aceh Tengah
4
SMAN 8 Aceh Tengah
5
SMAN 1 Bandar Bener Meriah
6
SMAN 2 Bandar Bener Meriah
7
SMAN 1 Bukit Bener Meriah
8
SMA Bustanul Ulum Bener Meriah
9
SMPN 6 Satu Atap Permata Bener Meriah
10
SMPN 3 Wih Pesam Bener Meriah
11
SMPN 3 Timang Gajah Bener Meriah
12
SMAN 1 Timang Gajah Bener Meriah
13
(1) sosialisasi
(2) evaluasi,
supervisi,
pengawasan
(3) penjaminan
mutu
(4) peran komite
sekolah
(1) KTSP atau K-13
(2) Muatan lokal
(3) Kalender
pendidikan
SMPN 4 Takengon Aceh Tengah
SMPN 5 Takengon Aceh Tengah
15
SMAN 15 Takengon Aceh Tengah
16
SMAN Unggul Binaan Bener Meriah
17
SMPN 2 Wih Pesam Bener Meriah
18
SMAN 1 Takengon Aceh Tengah
*Semua
14
99
Tabel 2.c.5:
No
1
1
Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh”
dalam Kabupaten Pidie
Kondisi sekolah
Sarpras
Kode
(1) Ruang belajar kurang baik1,3; (2)
kurangnya fasilitas ruang belajar1;(3)
kurangnya gedung laboratorium1,2,6,8,10
;(4) kurangnya peralatan
laboratorium3,5,7,8,9,10 ;(5) memadainya
gedung laboratorium5,7 (6) memadainya
peralatan laboratorium4 ;(7)
memadainya ruang belajar5,9,10;(8)
memadainya sumber belajar1,5
(1) mengajar mapel yang bukan
bidangnya1,7,8,9 ; (2) kurangnya jam
mengajar guru yang bersertifikasi1,9,10;(3)
belum ada guru bersertifikasi4,;(4)
kurangnya guru8,; (5) mapel yang tidak
memiliki RPP5,7; (6) adanya jam
tambahan/les4,8; (7) adanya remedial5;
(8) adanya ekskul5; (9) adanya
pelaksanaan MGMP1,3,4,5,8,9
Tema
(1) Sarpras vital sekolah
(2) Lingkungan sekolah
(3) sumber belajar
2
SDM
3
Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka1,5,8,10; (2)
(1) Kegiatan ekstra
1,2,3,4,5,9,10
adanya olahraga
; (3) adanya
kurikuler
kegiatan kesenian1,4; (4) adanya kegiatan (2) Sosialisasi tata tertib
keagamaan1; (5) (OSN, O2SN, FLS2N,
(3) Pelibatan ortu
pembinaan bahasa inggris dan
pembinaan keagamaan)7; (6)PMR9; (7)
adanya tata tertib*;(8) adanya
sosialisasi1,2,3,4,5,7,9,10; (9) adanya pelibatan
wali murid*; (10) memadainya
pelaksanaan try out*
4
Pendanaan
5
Kurikulum
(muatan lokal)
(1) BOS*; (2) DAU5,6; (3) BOSDA9; (4)
Yayasan6;
(1) Bahasa daerah1,2,6; (2) keterampilan
dan prakarya1,9; (3)tulisan arab3,4,5,9; (4)
TIK3,4; (5) budi pekerti1,3; (6)
keagamaan1,7; (7) wirausaha9
SMPN 2 Peukan Pidie
2
SMP Darussa’adah
3
SMPN 1 Simpang Tiga
4
SMP Sukma Bangsa
5
SMPN 4 Sigli
6
SMA Darussa’adah
7
SMAN 1 Padang Tiji
8
SMAS Islam Tgk. Chik Dibeureueh
100
9
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
SMAN 1 Keumala
SMAN 2 Sigli
*Semua
10
Tabel 2.c.6:
No
1
Kondisi
sekolah
Sarpras
2
Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah dengan
Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh” dalam Kabupaten Aceh
Barat Daya
Kode
tema
(1) kurangnya fasilitas ruang belajar1,2,7;(2)kurangnya
mobiler5; (3)memadainya ruang belajar4,9;(4)kurangnya
sumber belajar2,4,5,8,9,10,11;(5)memadainya sumber belajar7;
(6)kurangnya gedung laboratorium1,2,4,7,9,11; (7)kurangnya
peralatan laboratorium1,5,7,8,9,10;(8)memadainya gedung
laboratorium6;
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber
belajar
SDM
(1) mengajar mapel yang bukan bidangnya2,4,5,7,8,9,10,11;(2)
kurangnya jam mengajar guru yang
bersertifikasi5,7;(3)kurangnya pelatihan guru8; (4)mapel yang
tidak memiliki RPP1,2,4,8,9,10; (5)adanya pelaksanaan
MGMP1,2,3,4,5,8,9,10,11; (6)adanya jam tambahan/les2,3,5,7,9,11;
(7)adanya remedial5,7; (8)adanya ekskul5,7,10;adanya
pemberian reward7;(9)adanya konsultasi dengan wali
murid8;(10)adanya pemberian motivasi9;
3
Kesiswaan
(1) adanya olimpiade1,; (2)adanya O2SN1,2,7,9;(3)adanya
OSN7,9;(4)adanya FLS2N2,;(5) adanya kegiatan
pramuka2,4,5,6,8,9,10,11;(6)adanya olahraga4,5,6,8,9,10;(7)adanya
kegiatan kesenian2,3,4,5,8,9,10;(8)adanya PMR2,8;(9)adanya
UKS6; (10)adanya kegiatan keagamaan7,;(11)adanya
KIR10;(12)adanya bakti sosial11; (13)adanya tata tertib dan
sosialisasinya*; (14)adanya pertemuan dengan wali
murid*;(15)memadainya pelaksanaan try out*
(1) Kurangnya
guru mapel
tertentu
(2) Kurangnya
guru
bersertifikas
i;
(3) Tidak
membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan
ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi
tata tertib
(3) Pelibatan
ortu
4
Pendanaan
(1) BOS*; (2) DAK2; (3) BOSDA7; (4)DBO7,9,10
5
Kurikulum
(muatan
lokal)
(1) Bahasa daerah3,4; (2) keterampilan dan prakarya2,11;
(3)tulisan arab1,5,6,8,10,11; (4) keagamaan5,7,8,9; (5) budi
pekerti9,10
Sumber dana
operasional
Jenis mapel
mulok
1
4
7
10
2
5
8
11
SMPN 4 Manggeng
SMPN 1 Manggeng
3
SMPN 3 Labuhan Haji Timur
SMPN1 Susoh
SMPN 2 Susoh
6
SMPN 1 Lembah Sabil
101
SMAN 3 Abdya
SMAN 4 Abdya
9
SMAN 2 Abdya
SMAN 8 Abdya
SMAN 9 Abdya
*Semua
Tabel 2.c.7:
No
Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah dengan
Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh” dalam Kabupaten
Aceh Barat
1
Kondisi
sekolah
Sarpras
2
SDM
3
Siswa
4
Pendanaan (1) BOS*; (2) APBK2,7,8; (3) DAK2,; (4) Otsus/APBA2,7
5
Kurikulum
(muatan
lokal)
Kode
(1) Kurangnya ruang belajar7,10; kurangnya peralatan
ruang3,; kurangnya mobiler6,10; kurangnya sumber
belajar1,2,3,5,8,9,10; kurangnya gedung
laboratorium1,2,3,5,8,9,10; memadainya peralatan
laboratorium1,2,4,6,7,8,9,10
(1) mengajar mapel yang bukan bidangnya9,10;
kekurangan guru6,7; kurangnya guru
bersertifikasi3,5,10; adanya les1,; adanya perlombaan3;
adanya pemberian reward bagi siswa berprestasi4,6;
adanya MGMP*
(1) adanya kegiatan pramuka1,2,4,6,7,8,9,10; (2) adanya
olahraga1,9,10; (3) adanya kegiatan kesenian1,8,9,10;
adanya tata tertib dan sosialisasinya*; adanya
pertemuan dengan wali murid*; adanya try out*;
(1) Bahasa daerah5,; (2) keterampilan dan prakarya10
(3)tulisan arab2,4; (4) TIK1,; (5) budi pekerti2,4,5,6; (6)
tidak ada mapel mulok3,9; (7) keagamaan7,8
1
SMPN 2 Kaway XVI
SMPN 5 Kaway XVI
3
SMPN 1 Meureubo
4
SMPN 6 Meureubo
5
SMPN 4 Meureubo
6
SMAN 1 Bubon
7
SMAN 1 Kaway XVI
8
SMA Muhammadiyah 6 Meulaboh
9
SMAN 1 Meureubo
10
SMAN 1 Panton Reu
*Semua sekolah
2
102
Tema
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber belajar
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
Tabel 2.c.8:
Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh”
dalam Kabupaten Aceh Jaya
No Kondisi sekolah
1 Sarpras
Kode
(1) kurangnya fasilitas ruang
belajar1,4,6;(2)kurangnya mobiler1,9,;(3)
kurangnya sumber belajar1,4,6,8,9,10;
(4)kurangnya gedung laboratorium2
;(5)kurangnya peralatan
laboratorium1,5,7,8,9;(6)memadainya ruang
belajar3,8,;(7)memadainya peralatan ruang
belajar7,9;(8)memadainya gedung
laboratorium1,5,8,9; (9)memadainya peralatan
laboratorium3,4,6,10
Tema
(1) Sarpras vital sekolah
(2) Lingkungan sekolah
(3) sumber belajar
(1) Kurangnya guru mapel
tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan ekstra kurikuler
(2) Sosialisasi tata tertib
(3) Pelibatan ortu
2
SDM
(1) kekurangan guru1,4,9;(2)mengajar mapel
yang bukan bidangnya3,4,5,7,8,9,10 ;(3)kurangnya
pelatihan guru5,; (4)mapel yang tidak memiliki
RPP3; (5)kurangnya kemampuan menyusun
RPP6;adanya pemberian hadiah1,3,6,8;(6)adanya
remedial5; (7)adanya pelaksanaan MGMP*;
3
Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka1,2,7,9; (2)adanya
OSN1,10; (3)adanya UKS2; (4)adanya
olahraga3,5,6,7,8,9; (5)adanya kegiatan
keagamaan3,10; (6)adanya FLS2N6; (7)adanya
PMR7;(8) adanya kegiatan kesenian8,9;
(9)adanya tata tertib dan
sosialisasinya*;(10)adanya pertemuaan dengan
wali murid*; (11)memadainya pelaksanaan try
out*
4
Pendanaan
(1) BOS*; (2) APBK9; (3) Komite8
Sumber dana operasional
5
Kurikulum
(muatan lokal)
(1) Bahasa daerah9,10; (2) keagamaan4;
(3)tulisan arab1,9,10; (4) TIK4; (5) budi
pekerti1,7,8,9,10; (6) tidak ada muatan lokal5
Jenis mapel mulok
1
4
7
2
5
8
SMPN 1 Teunom
SMPN 1 Darul Hikmah
3
SMPN 3 Sampoinet
SMPN 2 Jaya
SMAN 2 Sampoinet
6
SMA 5 Darul Abrar
SMAN 1 Setia Bakti
SMAN 1 Calang
9
SMAN 1 Panga
103
10
SMPS
Darunnizam
*Semua
Tabel 2.c.9:
No
Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh” dalam
Kabupaten Selatan
1
Kondisi
sekolah
a. Sarpras
2
Kode
Tema
1,
(1) kurangnya fasilitas ruang belajar ;(2)Ruang
belajar kurang baik2;(3)kurangnya ruang
belajar3,4,5,7;(4)kurangnya mobiler3,5,6,;(5)kurangnya
sumber belajar1,2,3,4,5,6,7;(6)tidak ada
perpustakaan6,; (7)kurangnya gedung
laboratorium1,2,3,4,7;(8)kurangnya peralatan
laboratorium1,2,5,6,7,8,9;(9)memadainya gedung
laboratorium9
(1) sarpras
vital sekolah;
(2) sumber
belajar; (3)
lingkungan
sekolah
b. SDM
(1) mengajar mapel yang bukan
bidangnya*;(2)kurangnya pemanfaatan
IT1,5,6,8,;(3)kurangnya pelatihan guru3,6,10; (4)mapel
yang tidak memiliki
RPP1,2,5,7,;(5)adanya olimpiade3,10;(6)adanya
reward3,6; (7)adanya jam
tambahan/les4,5,7,8,9,10;(8)adanya pembentukan
kelas inti9;(9)adanya ekskul9;(10)adanya
pelaksanaan MGMP1,2,3,4,5,6,7,9,10
(1)
3
c. Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka1,3,4,5,6,7,8,9,10; (2)
adanya olahraga1,2,4,6,7,9,10; (3) adanya kegiatan
kesenian1,2,5,6,7,8,9,10;(4) adanya kegiatan
keagamaan3,4,8;(5)adanya PMR8,(6)adanya
PMI8,9;(7)adanya tata tertib dan
sosialisasinya*;(8)adanya pertemuan dengan wali
murid*;(9)memadainya pelaksanaan Try Out*
4
d.Pendanaan
(1) BOS*; (2) DBO10; (3) Komite7,9,10
5
e.Kurikulum
(muatan
lokal)
(1) Bahasa daerah1,4; (2) keterampilan dan
prakarya6; (3)Bahasa arab1,2,3,7,9,10;(4)tidak ada
muatan lokal8
1
SMPN 3 Labuhan Haji Timur
SMPN 1 Kluet Utara
3
SMPN 3 Pasie Raja
4
SMPN 1 Bakongan
5
SMPN 3 Kluet Utara
6
SMAN 3 Kluet Utara
7
SMAN 1 Kluet Timur
8
SMAN 1 Meukek
9
SMAN 1 Labuhan Haji
10
SMAN 1 Pasie Raja
*Semua
2
104
Tabel 2.c.10: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh”
dalam Kabupaten Tamiang
No Kondisi sekolah
1 Sarpras
Kode
(1) kurangnya sumber belajar2,3;(2)tidak ada
perpustakaan5,6,7; (3)kurangnya gedung laboratorium1,2,3,5,7,8
; (4)kurangnya peralatan laboratorium2,5,6,7,9,10
2
SDM
(1) mengajar mapel yang bukan bidangnya1,3,5,8,9 ;
(2)kurangnya guru bersertifikasi4,7,8,9; (3)kekurangan guru10;
(4)mapel belum memiliki RPP2,6,7,8; (5)adanya pemberian
reward1,3; (6)adanya olahraga dan kesenian1,5;(7) adanya
olimpiade2, ; (8)adanya jam tambahan5,8;(9) adanya kegiatan
asrama7,;(10) adanya perlombaan9,10; (11)adanya MGMP
yang efektif1,2,3,5,6,8,9,10
3
Siswa
4
Pendanaan
(1) adanya kegiatan pramuka1,2,3,8,9; (2) adanya
olahraga1,3,5,6,9; (3) adanya kegiatan kesenian1,2,6; (4) adanya
kegiatan keagamaan2,8; (5)adanya kegiatan kustum,
otomotif dan tata boga4,; (6)bela diri7;(7)adanya pesantren
kilat6,; adanya pelatihan PMI9,;(8)adanya jam
tambahan10;(9)adanya tata tertib2,3,4,5,6,7,9; (10)adanya
sosialisasi tata tertib2,3,4,5,6,7,9; (11)kurangnya pelibatan wali
murid1,10;(12)adanya pelibatan wali
murid2,3,4,5,6,7,8,9;(13)memadainya pelaksanaan Try Out*
(1) BOS*; (2) DBO1,4,5,; (3) Komite3,4,5,; (4) SPP5,7;
(1) Bahasa daerah6,8,10; (2) keterampilan dan prakarya2,5,9;
(3)tulisan arab1,2,4,6,8,10; (4) TIK; (5) budi pekerti1,2,3,5,7,8,10; (6)
keagamaan4; (7) bahasa asing3; (8)pertanian5; (9)adanya
kegiatan tahfiz7; (10)TIK9
1
9
SMAN 4 Kejuruan Muda 5SMAS Syakirah
SMPN 7 Karang Baru
2
6
SMPN 5 Bendahara
SMPS Al-Washliyah Seumadam 10SMPN 3 Karang Baru
3
SMAN 3 Kejuruan Muda 7SMAS Al-Hidayah
*Semua
4
8
SMAS Darul Muklisin
SMPS Harum Sari
5
Kurikulum
(muatan lokal)
105
Tema
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber belajar
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
Tabel 2.c.11: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah dengan
Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh” dalam Kabupaten
Utara
No
Kondisi sekolah
Kode
(1) Ruang belajar kurang baik1,7; (2) kurangnya
ruang belajar2,8; kurangnya gedung laboratorium2,3,8
;(4) kurangnya peralatan laboratorium4,5,7
;kurangnya penggunaan laboratorium2,8(5)
kurangnya gedung perpustakaan2,5,6,7; kurangnya
kelengkapan perpustakaan2,; kurangnya sumber
belajar8; memadainya gedung laboratorium6 (6)
memadainya peralatan laboratorium1 ;(7)
memadainya ruang belajar5;(8) memadainya
sumber belajar1,
(1) mengajar mapel yang bukan bidangnya6,7,8 ; (3)
kurangnya guru bersertifikasi3,; (5) mapel yang
tidak memiliki RPP2,5,6; kurangnya pelatihan guru8 ;
adanya pelatihan guru6,7; adanya pemberian
nasihat5,6; (6) pemberian penghargaan siswa
berprestasi7; (9) adanya pelaksanaan
MGMP1,2,6,7,8;tidak ada MGMP4
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber belajar
c. Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka1,2,5,6;(2) adanya
OSIS1;(3) adanya pesantren kilat2;(4) adanya
PMR2;(5) adanya kegiatan kesenian2,6,7;(6) adanya
PKS6;(7) adanya kegiatan pengajian6;(8) adanya
perlombaan6;(9) adanya les untuk UAN7,8; (10)
adanya kegiatan olahraga5; mapel tidak
berdasarkan kurikulum dan silabus6; adanya tata
tertib1,6,7,8; adanya sosialisasi tata tertib6,7; adanya
pelibatan wali murid2,6,7,8; adanya pelaksanaan try
out*
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
d.Pendanaan
(1) BOS*; (2) APBN6; (3) Komite6; (4) BRR6;
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
1
a. Sarpras
2
b. SDM
3
4
(1) Bahasa daerah2,7,8,; (2) kesenian5; (3)Bahasa
arab4,5,6; (4) TIK5; (5) budi pekerti1,2,7; (6)
keagamaan4,5.
1
6
SMPN 6 Lhoksukon
SMAN 2 Seuneudong
2
7
SMPN 1 Tanah Pasir
SMPN 2 Jambo Aye
3
8
SMP Awaliyah
SMPN 4 Lhoksukon
4
SMAN 1 Baktiya Barat
*Semua
5
SMAN 2 Baktiya
5
Tema
e.Kurikulum
(muatan lokal)
106
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
Tabel 2.c.12: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh”
dalam Kabupaten Bireuen
No
1
Kondisi
sekolah
Sarpras
2
SDM
3
Siswa
4
Pendanaan
Kode
Tema
(1) Kurangnya ruang TU1; (2) Kurangnya ruang guru1; (3)
Kurangnya ruang belajar1,2; (4) Kurangnya gedung
laboratorium1,2,3,5,6,7,8,9; (5) kurangnya mobiler2; (6)
kurangnya peralatan laboratorium; (7) kurangnya
peralatan ruang belajar(8) kurangnya sumber belajar1,2,3,7,8;
(9) memadainya semua gedung laboratorium6
(1) mengajar mapel yang bukan bidangnya2,3,9; (2)
kurangnya jam mengajar guru yang bersertifikasi8; (3)
kurangnya pemanfaatan IT2;(4) kurangnya media
pembelajaran1; (5) mapel yang tidak memiliki RPP4,5,6,8; (6)
kurang sempurnanya rubrik penilaian6; (7) kurangnya
media pembelajaran1,2; (8) memadainya pelatihan guru1;
(9) MGSP yang efektif1,2,4,5,8,9; (10); adanya sosialisasi
dengan wali murid1,; (11) adanya les1,2,7; (12) remedial1,4,7;
(13) tersedianya transport untuk siswa kurang mampu3;
(14) adanya kegiatan ekstrakulikuler4,; (15) adanya
pengayaan7; (16) pemberian reward bagi siswa
berprestasi8; (17) pengupayaan beasiswa siswa
berprestasi8; (18) adanya bimbingan kasir oleh BK9; (19)
adanya perlombaan olahraga1; (20) adanya olimpiade1;(21)
SOP
(1) adanya kegiatan pramuka1,3,4,6,7,8,9,10; (2) adanya
olahraga1,2,7; (3) adanya kegiatan kesenian1,4,5,7,8; (4)
adanya kegiatan pengajian1; (5) adanya kegiatan gotong
royong1,2; (6) adanya kegiatan mading6; (7) adanya UKS6,9;
(8) adanya PMR6,8; (9) adanya KIR6; (10) adanya pelatihan
FL2SN7; (11) adanya PIKR8,9,10; (12) ada mapel yang tidak
berdasarkan kurikulum dan silabus2; (13) adanya tata tertib
siswa1,2,3,4,5,6,7,8 ; (14) adanya sosialisasi tata tertib1,2,4,5,7,8;
(15) adanya pelaksanaan try out*; (16) adanya pelibatan
wali murid1,2,4,5,6,7,8,9,10
(1) BOS*; (2) DBO6,7,8,9,10; (3) komite6,10; (4) SPP7;
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber belajar
Kurikulum
(1) Bahasa daerah1,5; (2) keterampilan dan prakarya2;
(muatan
(3)tulisan arab3,9; (4) TIK3,8; (5) budi pekerti1,6
lokal)
1
5
9
SMPN 2 Peudada
SMPN 1 Pandrah
SMAN 1 Samalanga
2
6
10
SMPN 4 Peudada
SMAN 1 Peulimbang
SMAN 2 Samalanga
3
7
SMPN 2 Jeunib
SMAN 1 Pandrah
*Semua sekolah
4
SMPN 2 Peulimbang 8SMAN 1 Simpang Mamplam
5
107
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
Tabel 2.c.13: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh”
dalam Kota Lhokseumawe
No
1
1
Kondisi sekolah
Sarpras
Kode
(1) kurangnya fasilitas ruang
belajar9;(2)kurangnya sumber
belajar*;(3)kurangnya gedung
laboratorium1,3,4,6,9;(4)kurangnya peralatan
laboratorium3,4,5,6,8,10;(5)memadainya
gedung laboratorium7,10;
Tema
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber belajar
2
SDM
(1) mengajar mapel yang bukan
bidangnya3,4,9;(2)kurangnya pelatihan
guru1,4;(3)mapel yang tidak memiliki
RPP3,4,6,10;(4)adanya jam
tambahan/les1,3,5,6,10;(5)adanya pemberian
reward4;
3
Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka2,3,4,5,6,7,8,9,10; (2)
adanya olahraga4,7,8,10; (3) adanya kegiatan
kesenian6,7,8,10; (4)adanya
PMR1,4,9,10;(5)adanya UKS9;(6)adanya
Olimpiade9,10;(7)adanya OSIS10;(8)adanya
tata tertib*;(9)adanya pertemuan dengan
wali murid*;(10)memadainya pelaksanaan
try out*
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
4
Pendanaan
(1) BOS*; (2) BOSDA6,10; (3) Yayasan1
5
Kurikulum (muatan
lokal)
(1) Bahasa daerah1,3,4,5; (2) keterampilan
dan prakarya; (3)tulisan arab1,4,5,7,9; (4) budi
pekerti6,8,10; (5) keagamaan4,
7
SMAN 6 Lhokseumawe
8
SMAN 5 Lhokseumawe
9
SMAN 3 Lhokseumawe
10
SMAN 4 Lhokseumawe
*Semua
SMP 1 Serambi Mekkah
SMPN Satap Ujong Pacu
3
SMPN 4 Lhokseumawe
4
SMP 9 Lhokseumawe
5
SMPS Islam Pase
6
SMAN 7 Lhokseumawe
2
108
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
Tabel 2.c.14: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh”
dalam Kabupaten Pidie Jaya
No
1
Kondisi
sekolah
Sarpras
2
SDM
3
4
Kode
(1) Ruang OSIS belum ada1; kurangnya
ruang belajar7,8; kurangnya kelengkapan
ruang belajar3,10;kurangnya mobiler6;
kurangnya sumber belajar2,3,5,6,10;
kurangnya gedung laboratorium3,4,5,10,11;
kurangnya peralatan laboratorium*;
kurangnya mobiler3; memadainya ruang
belajar6; memadainya gedung
laboratorium1,2,8,9
(1) mengajar mapel yang bukan
bidangnya2,3,6,10; kelebihan guru4;
kurangnya guru bersertifikasi3,4;
kurangnya jam mengajar guru
bersertifikasi6; mapel yang tidak
memiliki RPP3,4,6,8,9; pembelajaran yang
belum sesuai RPP3; adanya les sore8,9;
adanya MGMP*
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber belajar
Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka3,4,5,6,7,9; (2)
adanya olahraga1,2,3,4,6,8,9,11; (3) adanya
kegiatan kesenian2,3,4,5,6,8,9; adanya
kegiatan keagamaan2,; adanya
perlombaan3,4,8; adanya kegiatan
pengajian6; adanya tata tertib2,3,4,5,6,7,8,9;
adanya sosialisasi tata tertib2,34,6,8,;
adanya pelibatan wali murid*; adanya
pelaksanaan try out*
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
Pendanaan
(1) BOS*; (2) BOSPA4
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
(1) Bahasa daerah1,3,7,8,10,11; (2)
Kesenian2,4,5; (3)tulisan arab*; (4) TIK3,8;
(5) budi pekerti3,5,9
1
7
SMPN 1 Bandar Baru
SMPN 3 Bandar Baru
2
8
SMAN 1 Pante Raja
SMPN 1 Bandar Baru
3
9
SMPN 3 Bandar Dua
SMAN 2 Bandar Baru
4
10
SMAN 1 Jangka Buya
SMAN 2 Meureudu
5
11
SMPN 2 Trienggadeng
SMPN 2 Bandar Dua
6
SMAN 1 Trienggadeng *Semua sekolah
5
Tema
Kurikulum
(muatan lokal)
109
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
Tabel 2.c.15: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah
dengan Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh”
dalam Kota Sabang
No
1
Kondisi
sekolah
Sarpras
2
Kode
Tema
(1) kurangnya ruang belajar4;(2) kurangnya
fasilitas ruang belajar4;(3)kurangnya sumber
belajar2,4,6; (4)memadainya gedung
laboratorium1,2,3,6; (5)memadainya peralatan
laboratorium1,;(6)kurangnya gedung
laboratorium4,5;(7)kurangnya peralatan
laboratorium6
(1) Sarpras vital
sekolah
(2) Lingkungan
sekolah
(3) sumber belajar
SDM
(1) mengajar mapel yang bukan bidangnya4,6;
(2)kurangnya pelatihan guru1,6;(3)adanya jam
tambahan1,;(4)adanya pemberian
beasiswa1,;(5)adanya perlombaan3,;(6)adanya
MGMP yang efektif*;
3
Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka1,4,6; (2) adanya
olahraga1,3,4,6; (3) adanya kegiatan
kesenian1,3,4,6;(4)adanya tata tertib dan
sosialisasinya1,3,4,6;(5)adanya pelibatan wali
murid*;(6)memadainya pelaksanaan try out*
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
4
Pendanaan (1) BOS1,3,4,5,6; (2) Pemko3,; (3) APBK4,5,6; (4)
APBN4,5,6;(5)Otsus4
Kurikulum (1) keterampilan dan prakarya4; (2)tulisan
(muatan
arab3,4,6; (3) TIK5; (4) budi pekerti3
lokal)
5
1
SMAN 2 Sabang
SMAN 1 Sabang
3
SMA Al-Mujaddid
4
SMPN 7 Sabang
5
SMPN 3 Sabang
6
SMPN 4 Sabang
2
110
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
Tabel 2.c.16: Penentuan Kode dan Tema untuk Analisis Data Kualitatif “Sekolah dengan
Peringkat Ketidaklulusan Tertinggi di Provinsi Aceh” dalam Kabupaten
Aceh Timur
No
Kondisi
Kode
Tema
sekolah
1 Sarpras
(1) kurangnya kuang belajar1,4,8;
(1) Sarpras vital
3,6,8
(2)kurangnya sumber belajar ;
sekolah
(3)kurangnya gedung laboratorium1,2,3,4,5,6;
(2) Lingkungan
(4)kurangnya peralatan laboratorium3,4,6;
sekolah
(5)memadainya ruang belajar6,;
(3) sumber belajar
(6)memadainya gedung laboratoratorium8;
(7)memadainya peralatan laboratorium5,8
2
SDM
(1) mengajar mapel yang bukan bidangnya6
;(2) mapel yang tidak memiliki RPP1,2,3,4,5;
(3)adanya ekskul1,3,4; (4)adanya remedial1,3,4;
(5)adanya pemberian penghargaan3,4,8;
(6)adanya jam tambahan5,8; (7)adanya
perlombaan8; (8)adanya MGMP1,3,4,5,8
3
Siswa
(1) adanya kegiatan pramuka1,3,4,8,9; (2)
adanya olahraga1,4,9; (3) adanya kegiatan
OSN5,8; (4) adanya kegiatan keagamaan1,4;
(5) adanya kegiatan O2SN3,5,8; (6)adanya
kegiatan FLS2N3,8; (7)adanya kegiatan
sosial3; (8)adanya tata tertib1,2,3,4,5,8,9;
(9)adanya sosialisasi tata tertib1,3,4,5,8,9;
(10)adanya pelibatan wali murid1,2,3,4,5,8,9;
(11)adanya Try Out1,2,3,4,5,8,9
4
Pendanaan (1) BOS*; (2) DBO8,9
5
Kurikulum
(muatan
lokal)
(1) Bahasa daerah2,3,5; (2) keterampilan dan
prakarya; (3)tulisan arab1,2,3,5,6,8; (4) TIK3,4;
(5) budi pekerti3,4,6,9; (6) keagamaan1,4,8
1
SMPN 2 Peureulak
SMPN 4 Peureulak
3
SMPN 1 Idi Tunong
4
SMPN 4 Darul Ikhsan
5
SMPN 6 Birem Bayeun
6
SMAN 1 Simpang Ulim
7
SMAN 1 Birem Bayeun
8
SMAN 1 Ranto Peureulak
9
SMAN 1 Nurussalam
*Semua
2
111
(1) Kurangnya guru
mapel tertentu
(2) Kurangnya guru
bersertifikasi;
(3) Tidak membuat
RPP;
(4) MGMP
(5) Remidial
(1) Kegiatan ekstra
kurikuler
(2) Sosialisasi tata
tertib
(3) Pelibatan ortu
Sumber dana
operasional
Jenis mapel mulok
Lampiran 2.d: Penentuan Lapisan Tema
Dukungan penyelenggaran pendidikan
dari masyarakat
Layer 4
Dukungan kurang memadai
Dukungan cukup memadai
Tiga tema kondisi sosial masyarakat
Tingkat pendidikan
Jenis pekerjaan
Layer 3
Kemampuan ekonomi
Analisis deskriptif terhadap kondisi sosial
masyarakat
Layer 2
Deskripsi kondisi sosial
masyarakat sarpras
Pangkalan Data: transkrip
wawancara, catatan lapangan,
dokumen.
Data
Gambar 2.d.1: Lapisan Tema untuk Kondisi Sosial Masyarakat
112
Layer 1
Dua jenis fasilitas pendidikan di
sekolah
Layer 4
Sarpras fisik dan nonfisik
Sarpras fisik dan fisik
Layer 3
Tiga tema sarpras sekolah
Lingkungan sekolah
Gedung, mobiler dan peralatan
Sumber belajar
Analisis deskriptif terhadap kondisi
sarpras
sarpras fisik
fisik dan
dan nonfisik
nonfisik
Layer 2
Deskripsi kondisi setiap
sarpras
Pangkalan
Data: transkrip
wawancara,
Pangkalan
Data: transkrip
catatan lapangan,
wawancara,
catatandokumen.
lapangan,
dokumen.
Data
Gambar 2.d.2: Lapisan Tema untuk Kondisi Sarpras
113
Layer 1
Jaminan Terlaksana Proses Belajar -Mengajar
Layer 4
Pengawasan Mutu Pendidikan
Mutu Pendidikan
Lima tema kondisi sosial masyarakat
Supervisi
Pengawasan
Evaluasi
Layer
3
Unit penjaminan
mutu
Analisis deskriptif terhadap kondisi proses
B-M
Deskripsi kondisi
Proses B-M
Pangkalan Data: transkrip
wawancara, catatan lapangan,
dokumen.
Data
Gambar 2.d.3: Lapisan Tema untuk Proses Belajar-Mengajar
114
Layer 2
Layer 1
Lampiran 2.e: Kondisi Standar Nasional Pendidikan
Tabel 2.e.1: Ringkasan Kondisi Delapan Poin Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Sampel Sekolah Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh Dengan
Nilai Ujian Nasional Tertinggi di Provinsi Aceh
No.
Poin SNP
Kondisi SNP
SMP 3 Lembah
SMPN Al-Falah
SMA Modal Bangsa
Seulawah
Tidak terbebani
Terbebani dengan
Tidak terbebani
dengan target
target kelulusan UN dengan target
kelulusan UN dari
dari luar
kelulusan UN dari
luar
luar
a. KTSP;
a. KTSP;
a. K- 13;
b. Mulok
b. Mulok
b. Mulok
Keagamaan, Bhs
Keagamaan,
tidak ada
Arab ;
Akhlak;
c. Kalender sesuai
c. Kalender sesuai
c. Kalender sesuai
Provinsi
Provinsi
Provinsi
a. Sosialisasi,
a. Sosialisasi,
a. Sosialisasi,
evaluasi, supervisi
evaluasi, supervisi
evaluasi, supervisi
dan pengawasan
dan pengawasan
dan pengawasan
proses
proses
proses
pembelajaran
pembelajaran
pembelajaran
b. Pengawasan
b. Pengawasan
b. Pengawasan
kepsek
kepsek
kepsek
c. Tidak ada
c. Guru terlibat dalam c. Tidak ada
penjaminan mutu
pengawasan
penjaminan mutu
d. Adanya peranan
d. Tidak ada
d. Adanya peranan
ortu yang efektif
penjaminan mutu
ortu yang efektif
e. Komite sekolah
e. Adanya peranan
e. Komite sekolah
tidak berperan baik
ortu yang efektif
berperan baik
f. Komite sekolah
tidak berperan baik
SMA Fajar Harapan
1.
Standar
Kompetensi
Lulusan
2.
Standar Isi
3.
Standar
Proses
4.
a. MGMP yang
Standar
efektif
Pendidik dan
b. Guru mengajar
Tenaga
mapel yang bukan
Kependidikan
bidangnya
a. MGMP yang
efektif
b. Guru mengajar
mapel yang bukan
bidangnya
a. MGMP yang
efektif
b. Pelatihan guru
a. MGMP yang
efektif
5.
Standar
Sarana dan
Prasarana
a. Kurangnya
peralatan Lab.
b.Adanya prosedur
pengadaan sarpras
c. Adanya prosedur
pemanfaatan dan
perawatan sarpras
d.Tidak ada jaringan
a. Kurangnya gedung
Lab.
b.Adanya prosedur
pengadaan sarpras
c. Adanya prosedur
pemanfaatan dan
perawatan sarpras
d.Akses internet yang
a. Gedung Lab
memadai
b.Peralatan Lab.
memadai
c. Adanya prosedur
pemanfaatan dan
perawatan sarpras
d.Akses internet yang
a. Gedung Lab
memadai
b.Adanya prosedur
pengadaan sarpras
c. Adanya prosedur
pemanfaatan dan
perawatan sarpras
d.Tidak ada jaringan
115
Terbebani dengan
target kelulusan UN
dari luar
a. K- 13;
b. Mulok
Keterampilan
c. Kalender sesuai
Provinsi
a. Sosialisasi,
evaluasi, supervisi
dan pengawasan
proses
pembelajaran
b. pengawasan
kepsek
c. Guru terlibat dalam
pengawasan
d. Ada unit
penjaminan mutu
e. Adanya peranan
ortu yang efektif
f. Komite sekolah
berperan baik
internet
6.
Standar
Penilaian
Pendidikan
a. Penilaian ikut
prosedur
b.Validasi instrumen
penilaian
c. Pengawasan
pelaksanaa
penilaian
internet
a. Penilaian ikut
prosedur
b.Validasi instrumen
penilaian
c. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
116
memadai
a. Penilaian ikut
prosedur
b.Validasi instrumen
penilaian
c. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
memadai
a. Penilaian ikut
prosedur
b.Validasi instrumen
penilaian alidasi
instrumen penilaian
c. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
Tabel 2.e.2: Ringkasan Kondisi Delapan Poin Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Sampel Sekolah Kota Banda Aceh Dengan Nilai Ujian Nasional
Tertinggi di Provinsi Aceh
Kondisi SNP
No.
Poin SNP
1.
Standar
Kompetensi
Lulusan
2.
Standar Isi
3.
SMA 3 Banda Aceh
SMA 1 Banda Aceh
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
a. K- 13;
b. Mulok
tidak ada
c. Kalender sesuai
Provinsi
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
a. K- 13;
b. Mulok: Bahasa
Daerah
c. Kalender sesuai
Provinsi
Standar Proses
a. Sosialisasi,
evaluasi, supervisi
dan pengawasan
proses
pembelajaran
b. pengawasan
kepsek
c. Ada unit
penjaminan mutu
d. Adanya peranan
ortu yang efektif
e. Komite sekolah
berperan baik
a. Sosialisasi,
evaluasi, supervisi
dan pengawasan
proses
pembelajaran
b. pengawasan
kepsek
c. Tidak ada
penjaminan mutu
d. Adanya peranan
ortu yang efektif
4.
Standar Pendidik
dan Tenaga
Kependidikan
a. MGMP yang
efektif
b. Guru mengajar
mapel yang bukan
bidangnya
a. MGMP yang
efektif
5.
Standar Sarana
dan Prasarana
a. Kurangnya
peralatan Lab
b. Peralatan Lab.
memadai
c. Adanya prosedur
pengadaan sarpras
a. Gedung Lab
memadai
b. Adanya prosedur
pemanfaatan dan
perawatan sarpras
117
SMP Fatih Lam Yong Banda
Aceh
Tidak terbebani dengan
target kelulusan UN dari
luar
a. K- 13 + (kurikulum
sekolah);
b. Mulok: disesuaikan
dengan potensi sekolah
c. Kalender sesuai dinas
pendidikan diselaraskan
dengan sekolah
a. Sosialisasi, evaluasi,
supervisi dan
pengawasan proses
pembelajaran
b. Supervisi dan
pengawasan oleh kepsek
bersama koordinator
pendidikan dan pengurus
yayasan
c. Terdapat unit
penjaminan mutu dan
berfungsi melakukan
evaluasi berkala setiap
semester
d. Adanya peranan ortu
yang sangat mendukung
e. Komite sekolah berperan
sangat baik
a. MGMP tingkat sekolah,
daerah dan nasional
yang berperan efektif;
b. Terdapat guru yang
mengajar mapel bukan
bidangnya khususnya
mapel bidang social
a. Semua sarpras
disediakan lengkap oleh
yayasan;
b. Gedung dan peralatan
laboratorium cukup
lengkap;
d. Adanya prosedur
pemanfaatan dan
perawatan sarpras
e. Jaringan internet
hanya di ruang TU
6.
c. Prosedur pengadaan dan
perawatan sarpras
tersedia dan berjalan
dengan baik melalui
koordinator sarpras;
d. Jaringan Internet tersedia
dan bisa dimanfaatkan
oleh siswa di seluruh
area sekolah;
a. Penilaian ikut
a. Belum semua guru
Standar Penilaian a. Penilaian ikut
prosedur
prosedur
membuat perencanaan
Pendidikan
b. Validasi instrumen b. Validasi instrumen
dengan baik;
penilaian alidasi
penilaian aliditas
b. Validasi instrumen
instrumen penilaian
instrumen penilaian
penilaian instrumen
c. Pengawasan
c. Pengawasan
penilaian belum semua
pelaksanaan
pelaksanaan
guru melakukannya;
penilaian
penilaian
c. Pengawasan pelaksanaan
penilaian berjalan dengan
baik.
118
Tabel 2.e.3: Ringkasan Kondisi Delapan Poin Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Sampel Sekolah Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, Kabupaten
Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe Dengan Nilai Ujian Nasional
Tertinggi di Provinsi Aceh
Kondisi SNP
No.
Poin SNP
1.
Standar
Kompetensi
lulusan
2.
Standar Isi
3.
Standar
Proses
4.
Standar
Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan
5.
Standar
Sarana dan
Prasarana
SMA Unggul
SMPN1 Simpang
Atim
Ulim
 Tidak terbebani  Tidak terbebani
dengan target
dengan target
kelulusan UN
kelulusan UN
dari luar
dari luar
 K-13;
 K-13;
 Mulok
 Mulok:
Keagamaan ;
Bhs Daerah,
Akhlak;
 Kalender sesuai
Provinsi
 Kalender sesuai
Provinsi
 Sosialisasi,
 Sosialisasi,
evaluasi,
evaluasi,
supervisi dan
supervisi dan
pengawasan
pengawasan
proses
proses
pembelajaran
pembelajaran
 Pengawasan
 tidak ada unit
kepsek
penjaminanan
mutu
 Tidak ada
penjaminan
 penambahan
mutu
jam belajar
 penambahan
 komunikasi
jam
komite dengan
masyarakat
 recruitment
 recruitment
 Validasi
Instrumen
 Validasi
Penilaian
Instrumen
Penilaian
 Pengawasan
penilaian
SMAN1 Langsa
SMA Mosa Arun
SMA Iskandar
SMAN1
Muda
Lhokseumawe
 Tidak terbebani  Terbebani
 Tidak terbebani  Tidak terbebani
dengan target
dengan target
dengan target
dengan target
kelulusan UN
kelulusan UN
kelulusan UN
kelulusan UN
dari luar
dari luar
dari luar
dari luar
 KTSP;
 KTSP;
 KTSP;
 K- 13;
 Mulok: Bhs
 Mulok:
 Mulok:
 Mulok:
Arab,
Bhs Arab, TIK,
Bhs Arab, TIK
Keagamaan,
Keterampilan
Bahasa Asing
 Kalender sesuai  Kalender sesuai
 Kalender sesuai
Kabupaten
Provinsi
 Kalender sesuai
Kabupaten
Provinsi
 Sosialisasi,
 Sosialisasi,
 Sosialisasi,
 Sosialisasi,
evaluasi,
evaluasi,
evaluasi,
evaluasi,
supervisi dan
supervisi dan
supervisi dan
supervisi dan
pengawasan
pengawasan
pengawasan
pengawasan
proses
proses
proses
proses
pembelajaran
pembelajaran
pembelajaran
pembelajaran
 guru terlibat
 pengawasan
 pengawasan
 pengawasan
dalam
kepsek
kepsek
kepsek
pengawasan
 tidak ada unit
 tidak ada unit
 jam tambahan
 tidak ada unit
penjaminan
pejaminan mutu  bimbingan
penjaminan
mutu
 bimbingan
olimpiade
mutu
olimpiade
 jam tambahan
 pelibatan komite
 jam tambahan
 recruitment
 remdial
 recruitment
 tidak ada
 validasi
 Pengayaan
 tidak ada
recruitment
instrumen
 recruitment
validasi
 validasi
penilaian
 validasi
instrumen
instrumen
penilaian
 pengawasan
 pengawasan
penilaian
penilaian
 Penyusunan
 MGMP yang
RPP
aktif
 Pembinaan guru  pelatihan
administrasi
 MGMP yang
efektif
 guru mengajar
mapel yang
 Pemanfaatan IT
bukan
 guru mengajar
bidangnya
mapel yang
bukan
bidangnya
 Gedung Lab
 peralatan lab
memadai
memadai
 peralatan lab
 prosedur
tidak memadai
perawatan
 MGMP yang
efektif
 Pembinaan guru
 guru mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
 Rapat akademis
 Pembinaan guru
 guru mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
 Rapat akademis
 Pembinaan guru
 guru mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
 Pelatihan guru
 pembinaan guru
 guru mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
 Gedung Lab
kurang
memadai
 pemanfaatan
 Peralatan lab
tidak memadai
 pemanfaatan
sarpras sesuai
 Peralatan lab
tidak memadai
 prosedur
pengadaan
 peralatan
laboratorium
memadai
 prosedur
119
 prosedur
pengadaan
 prosedur
pengadaan
 pengajuan
proposal
peningkatan
sarpras
 penggunaan
modem




6.
Standar
Penilaian
Pendidikan
 prosedur
penilaian
 validasi
instrumen
penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
 prosedur
penilaian
 validasi
instrumen
penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
sarpras
memadai
prosedur
pengadaan
prosedur
perawatan
sarpras
Adanya tim
yang mengatur
peningkatan
sarpras
Kapasitas
Akses internet
memadai
 prosedur
penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
120
prosedur
 prosedur
pengadaan
 prosedur
perawatan
sarpras
 kapasitas akses
internet
memadai
 prosedur
penilaian
 validasi
instrumen
penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
 pemanfaatan
sarpras sesuia
prosedur
 prosedur
perawatan
sarpras
 pengajuan
prosposal
peningkatan
sarpras
 tidak ada
jaringan internet
 penggunaan
modem

 prosedur
penilaian
 validasi
instrumen
penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
pengadaan
 pemanfaatan
sarpras sesuai
prosedur
 prosedur
perawatan
sarpras
 kapasitas akses
internet yang
memadai
 prosedur
penilaian
 Tidak ada
validitas
instrumen
penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
Tabel 2.e.4: Ringkasan Kondisi Delapan Poin Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Sampel SMP Kabupaten Aceh Tengah Dengan Nilai Ujian Nasional
Tertinggi di Provinsi Aceh
No.
Poin SNP
1.
Standar
Kompetensi
Lulusan
2.
Standar Isi
3.
Standar
Proses
4.
Standar
Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan
5.
Standar
Sarana dan
Prasarana
SMPN 1 Takengon
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
 KTSP;
 Mulok: akhlak,
TIK,
 Kalender: sesuai
Provinsi
 Sosialisasi,
evaluasi, supervisi
dan pengawasan
proses
pembelajaran
 Tidak ada unit
penjaminan mutu
SMPN 2 Takengon
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
 KTSP
 Mulok:keterampil
an,
 Kalender: sesuai
Provinsi
 Sosialisasi,
evaluasi,
supervisi dan
pengawasan
proses
pembelajaran
 adanya unit
penjaminan mutu
 guru terlibat
dalam
pengawasan
 jam tambahan
 MGMP berperan
 MGMP berperan
aktif
aktif
 Pengawasan
 Pengawasan
penyusunan RPP
penyusunan RPP
 Validasi instrumen  Pemanfaatan IT
penilaian
 Validasi
 Pemanfaatan IT
instrumen
 Pengawasan
kepsek dan guru
 Pengawasan
penilaian
 Gedung LAB
memadai
 Proposal
peningkatan
sarpras
 Prosedur sarpras
 Proposal
peningkatan
sarpras
 Gedung LAB
memadai
 Prosedur
pengadaan
sarpras
 Prosedur
perawatan sarpras
Kondisi SNP
SMPN 4 Aceh Tengah SMPN 4 Takengon
Tidak terbebani
Terbebani dengan
dengan target
target kelulusan
kelulusan UN dari luar UN dari luar
 KTSP
 Mulok : akhlak
 Kalender : sesuai
Provinsi
 Sosialisasi, evaluasi,
supervisi dan
pengawasan proses
pembelajaran
 Tidak ada unit
penjaminan mutu
 Remedial
SMPN 5 Takengon
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
 KTSP
 Mulok : akhlak
 Kalender : sesuai
Provinsi
 KTSP
 Mulok :
lingkungan
 Kalender : sesuai
Provinsi
 Sosialisasi,
 Sosialisasi,
evaluasi, supervisi evaluasi, supervisi
dan pengawasan
dan pengawasan
proses
proses
pembelajaran
pembelajaran
 Tidak ada unit
 Tidak ada unit
penjaminan mutu
penjaminan mutu
 Jam tambahan
 Jam tambahan
 MGMP berperan
aktif
 Pengawasan
penyusunan RPP
 Pengawasan kepsek
dan guru
 Guru Mengajar
mapel yang bukan
bidangnya
 Validasi instrument
 Pengawasan kepsek
dan guru
 MGMP berperan
aktif
 Pengawasan
penyusunan RPP
 Validasi
instrumen
penilaian
 MGMP berperan
aktif
 Pengawasan
penyusunan RPP
 Validasi instrumen
penilaian
 Proposal
peningkatan sarpras
 Gedung LAB
memadai
 Kurangnya peralatan
LAB
 Prosedur pengadaan
sarpras
 Prosedur perawatan
sarpras
 Akses internet
memadai
 Proposal
peningkatan
sarpras
 Gedung LAB
memadai
 Prosedur
pengadaan sarpras
 Prosedur
pengadaan sarpras
 Prosedur
perawatan sarpras
 Akses internet
memadai
 Proposal
peningkatan
sarpras
 Gedung LAB
memadai
 Prosedur
pengadaan sarpras
 Prosedur
pengadaan sarpras
 Prosedur
pengadaan sarpras
 Prosedur
perawatan sarpras
121
6.
Standar
Penilaian
Pendidikan
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
122
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
 Akses internet
memadai
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
Tabel 2.e.5: Ringkasan Kondisi Delapan Poin Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Sampel SMA Kabupaten Aceh Tengah Dengan Nilai Ujian Nasional
Tertinggi di Provinsi Aceh
Kondisi SNP
No.
1.
Poin SNP
2.
Standar
Kompetensi
Lulusan
Standar Isi
3.
Standar Proses
4.
Standar Pendidik
dan Tenaga
Kependidikan
5.
Standar Sarana
dan Prasarana
6.
Standar Penilaian
Pendidikan
SMAN 1 Takengon Aceh
Tengah
Tidak terbebani dengan
target kelulusan UN dari
luar
Kurikulum 2013
Mulok : Bhs dan tulisan
arab
Kalender : sesuai Provinsi
a. Sosialisasi, evaluasi,
supervisi dan
pengawasan proses
pembelajaran
b. guru terlibat dalam
pengawasan
c. adanya pengelolaan
proses belajar
mengajar
d. unit penjaminan mutu
e. tidak terbebani dengan
target kelulusan
a. Tidak ada validitas
instrumen
b. Ada rekrutmen
penilaian
a. Gedung LAB kurang
memadai
b. Peralatan LAB kurang
memadai
c. Adanya prosedur
pengadaan sarpras
d. Adanya proposal
sarpras
e. Ada prosedur
perawatan sarpras
f. Akses internet
memadai
a. Tidak ada Validasi
instrument penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan penilaian
SMAN 8 Aceh Tengah
Tidak terbebani dengan
target kelulusan UN dari
luar
KTSP
Mulok : akhlak
Kalender : sesuai
kabupaten
a. Sosialisasi, evaluasi,
supervisi dan
pengawasan proses
pembelajaran
b. adanya pengelolaan
proses belajar
mengajar
c. tidak ada unit
penjaminan mutu
d. jam tambahan
e. tidak terbebani dengan
target kelulusan
a. MGMP berperan aktif
b. Guru Mengajar mapel
yang bukan jamnya
c. Tidak ada validitas
instrument penilaian
a. Gedung LAB
memadai
b. Adanya prosedur
pengadaan sarpras
c. Adanya proposal
sarpras
a. Tidak ada Validasi
instrument penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan penilaian
123
SMAN 15 Takengon Aceh
Tengah
Tidak terbebani dengan
target kelulusan UN dari
luar
KTSP
Mulok : keagamaan
Kalender : sesuai Provinsi
a. Sosialisasi,
evaluasi,supervisi dan
pengawasan proses
pembelajaran
b. adanya pengelolaan
proses belajar mengajar
c. tidak ada unit
penjaminan mutu
d. jam tambahan
e. tidak terbebani dengan
target kelulusan
a. MGMP berperan aktif
b. Adanya validasi
instrument
a.
b.
c.
d.
Peralatan LAB memadai
Adanya prosedur sarpras
Adanya proposal sarpras
Adanya perawatan
sarpras
e. Akses internet memadai
a. Adanya validasi
instrument penilaian
Tabel 2.e.6: Ringkasan Kondisi Delapan Poin Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Sampel SMP Kabupaten Bener Meriah Dengan Nilai Ujian Nasional
Tertinggi di Provinsi Aceh
1.
Standar
Kompetensi
Lulusan
2.
Standar Isi
3.
Standar
Proses
SMPN 6 Satu
Atap Permata
Bener Meriah
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN
dari luar
KTSP;
Mulok:
keagamaan,
Kalender: sesuai
Provinsi
a. Sosialisasi,
evaluasi,
supervisi dan
pengawasan
proses
pembelajaran
b. Tidak ada
unit
penjaminan
mutu
c. Ada jam
tambahan
d. Ada peran
orang tua
yang efektif
4.
Standar
Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan
a. MGMP
berperan aktif
b. Guru
mengajar
mapel yang
No.
Poin SNP
Kondisi SNP
SMPN 3 Wih
SMPN 3 Timang
Pesam Bener
Gajah Bener
Meriah
Meriah
Tidak terbebani
Tidak terbebani
dengan target
dengan target
kelulusan UN
kelulusan UN
dari luar
dari luar
KTSP
KTSP
Mulok:
Mulok : akhlak
lingkungan
Kalender : sesuai
Kalender: sesuai Provinsi
Provinsi
a. Sosialisasi,
a. Sosialisasi,
evaluasi,
evaluasi,
supervisi dan
supervisi dan
pengawasan
pengawasan
proses
proses
pembelajara
pembelajaran
n
b. Tidak ada unit
b. adanya unit
penjaminan
penjaminan
mutu
mutu
c. guru terlibat
c. guru terlibat
dalam
dalam
pengawasan
pengawasan
d. adanya
d. adanya
pengelolaan
pengelolaan
proses belajar
proses
mengajar
belajar
e. tidak adanya
mengajar
unit
e. ada jam
penjaminan
tambahan
mutu
f. ada peran
f. ada jam
orang tua
tambahan
yang efektif
g. bimbingan
olimpiade
h. adanya
bimbingan
orang tua
yang efektif
a.
b.
MGMP
berperan
aktif
Pengawasan
penyusunan
124
a. MGMP
berperan aktif
b. Pengawasan
penyusunan
RPP
SMPN 2 Wih
Pesam Bener
Meriah
Terbebani
dengan target
kelulusan UN
dari luar
KTSP
Mulok :
lingkungan
Kalender :
sesuai Provinsi
a. Sosialisasi,
evaluasi,
supervisi dan
pengawasan
proses
pembelajaran
b. Tidak ada
unit
penjaminan
mutu
c. adanya
pengelolaan
proses
belajar
mengajar
d. ada jam
tambahan
e. adanya
bimbingan
orang tua
yang efektif
a. MGMP
berperan
aktif
b. Pengawasan
penyusunan
bukan
bidangnya
c. Pengawasan
penyusunan
RPP
d. Validasi
instrumen
penilaian
e. Pengawasan
penilaian
5.
Standar
Sarana dan
Prasarana
a. Adanya
prosedur
pengadaan
sarpras
b. Proposal
peningkatan
sarpras
c. Prosedur
perawatan
sarpras
d. Akses
internet tidak
memadai
6.
Standar
Penilaian
Pendidikan
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
c.
d.
RPP
Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
Validasi
instrumen
a. Peralatan
LAB
memadai
b. Prosedur
pengadaan
sarpras
c. Adanya
pengajuan
proposal
peningkatan
sarpras
d. Adanya
prosedur
perawatan
sarpras
e. Akses
internet
tidak
memadai
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
125
c. Pengawasan
kepsek dan
guru
d. Guru
Mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
e. Validasi
instrument
f. Ada rapat
dewan guru
RPP
c. Validasi
instrumen
penilaian
d. Guru
Mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
e. Adanya
rapat dewan
guru
a. Gedung
LAB kurang
memadai
b. Prosedur
pengadaan
sarpras
c. Adanya
pengajuan
proposal
peningkatan
sarpras
d. Adanya
prosedur
perawatan
sarpras
e. Akses
internet tidak
memadai
a. Prosedur
pengadaan
sarpras
b. Proposal
peningkatan
peningkatan
sarpras
c. Adanya
prosedur
perawatan
sarpras
d. Akses
internet tidak
memadai
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
a. Validasi
instrumen
penilaian
b. Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
Tabel 2.e.7: Ringkasan Kondisi Delapan Poin Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Sampel SMA Kabupaten Bener Meriah Dengan Nilai Ujian Nasional
Tertinggi di Provinsi Aceh
Kondisi SNP
No.
Poin SNP
1.
Standar
Kompetensi
Lulusan
2.
Standar Isi
3.
Standar
Proses
4.
Standar
Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan
SMAN 1
Bandar
Bener
Meriah
Tidak
terbebani
dengan
target
kelulusan UN
dari luar
KTSP
Mulok :
keagamaan,
lingkungan,
Kalender :
sesuai
Provinsi
a. Sosialisasi,
evaluasi,
supervisi
dan
pengawasa
n proses
pembelajar
an
b. Tidak
adanya unit
penjamina
n mutu
c. Ada jam
tambahan
d. Adanya
peranan
orang tua
yang
efektif
SMAN 2
Bandar
Bener
Meriah
Tidak
terbebani
dengan
target
kelulusan UN
dari luar
KTSP
Mulok :
bhs.arab,
lingkungan,
Kalender :
sesuai
provinsi
a. Sosialisasi,
evaluasi,
supervisi
dan
pengawasa
n proses
pembelajar
an
b. tidak ada
unit
penjamina
n mutu
c. jam
tambahan
d. Adanya
peranan
orang tua
yang
efektif
 MGMP
berperan
aktif
 Guru
mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
 Adanya
 MGMP
berperan
aktif
 Guru
Mengajar
mapel yang
bukan
jamnya
 Adanya
SMAN 1 Bukit
Bener Meriah
SMA Bustanul
Ulum Bener
Meriah
SMAN 1 Timang
Gajah Bener
Meriah
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
Tidak terbebani
dengan target
kelulusan UN dari
luar
KTSP
Mulok : bhs.arab,
Kalender : sesuai
Provinsi
KTSP
Mulok : bhs.arab,
TIK,
Kalender : sesuai
Provinsi
kurikulum 2013
Mulok :
Lingkungan,
kebudayaan
Kalender : sesuai
kabupaten
a. Sosialisasi,
evaluasi,superv
isi dan
pengawasan
proses
pembelajaran
b. tidak ada unit
penjaminan
mutu
c. jam tambahan
d. Adanya
peranan orang
tua yang
efektif
a. Sosialisasi,
evaluasi,superv
isi dan
pengawasan
proses
pembelajaran
b. tidak ada unit
penjaminan
mutu
c. jam tambahan
d. Adanya
peranan orang
tua yang
efektif
a. Sosialisasi,
evaluasi,superv
isi dan
pengawasan
proses
pembelajaran
b. ada unit
penjaminan
mutu
c. Jam tambahan
d. Adanya
peranan orang
tua yang
efektif
 MGMP
berperan aktif
 Adanya
pengawasan
penyusunan
RPP
 Adanya validasi
instrument
penilaian
 MGMP
berperan aktif
 Guru mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
 Adanya
pengawasan
penyusunan
 MGMP
berperan aktif
 Guru mengajar
mapel yang
bukan
bidangnya
 Adanya
pengawasan
penyusunan
126
pengawasan
penyusunan
RPP
 ada validasi
instrument
penilaian
 adanya
pengawasan
kepsek
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
penilaian
pengawasa
n
penyusunan
RPP
 ada
validasi
instrument
penilaian
 adanya
pengawasa
n
pelaksanaa
n penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
penilaian
RPP
 ada validasi
instrument
penilaian
 adanya
pengawasan
penilaian
RPP
 ada validasi
instrument
penilaian
 adanya
pengawasan
pelaksanaan
penilaian
 Peralatan
LAB
kurang
memadai
 Adanya
 prosedur
pengadaan
sarpras
 Adanya
proposal
sarpras
 Adanya
prosedur
perawatan
sarpras
 Tidak ada
akses
internet
 ada
Validasi
instrument
penilaian
 Gedung LAB
memadai
 Peralatan LAB
kurang
memadai
 Adanya
 prosedur
pengadaan
sarpras
 Adanya
proposal sarpras
 Tidak ada
Akses internet
 Gedung LAB
kurang
memadai
 Peralatan LAB
kurang
memadai
 Adanya
 prosedur
pengadaan
sarpras
 Adanya
proposal sarpras
 Adanya
prosedur
perawatan
sarpras
 Tidak ada akses
internet
 Adanya validasi
instrument
penilaian
 Adanya validasi
instrument
penilaian
 Gedung LAB
kurang
memadai
 Peralatan LAB
kurang
memadai
 Adanya
 prosedur
pengadaan
sarpras
 Adanya
proposal sarpras
 Akses internet
memadai
5.
Standar
Sarana dan
Prasarana
 Gedung
LAB
memadai
 Peralatan
LAB
kurang
memadai
 Adanya
 prosedur
pengadaan
sarpras
 Adanya
proposal
sarpras
 Akses
internet
memadai
6.
Standar
Penilaian
Pendidikan
 ada
Validasi
instrument
penilaian
 Pengawasan
pelaksanaan
penilaian
 Adanya
validasi
instrument
penilaian
 Adanya validasi
instrument
penilaian
 Adanya validasi
instrument
penilaian
 Adanya
pengawasan
kepsek
127
 Adanya validasi
instrument
penilaian
 Adanya validasi
instrument
penilaian
Lampiran 2.f: Tema dan Deskripsi dalam Analisis Kualitatif
No.
Aspek
1.
Proses belajar-mengajar
2.
Sarpras
3.
Kondisi sosial ekonomi
Tema
Supervisi, pengawasan, dan evaluasi; dan unit
penjaminan mutu
Lingkungan sekolah; sarpras vital sekolah; dan sumber
belajar.
Tingkat pendidikan; jenis pekerjaan dan kemampuan
ekonomi.
A. Pembahasan Deskriptif Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar, selanjutnya disebut proses BM, secara umum
terlaksana dengan baik untuk sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA yang
termasuk dalam kelompok sekolah dengan hasil UN tertinggi dan kurang baik
untuk sekolah dengan hasil UN terendah di Provinsi Aceh, yaitu berjalan sesuai
dengan kurikulum dan kalender pendidikan. Namun, proses BM pada sekolahsekolah tertentu, terutama sekolah yang termasuk kelompok sekolah dengan hasil
UN terendah, tidak berjalan dengan arahan dan kontrol yang memadai dari
pimpinan sekolah (rincian dari kondisi ini dapat dilihat pada lampiran 2.c poin 5
tentang pengelolaan dan lampiran 2.e poin 3 tentang standar proses).
1. Supervisi, pengawasan dan evaluasi
Supervisi, pengawasan, dan evaluasi dalam berbagai aspek dan tahapan
proses belajar-mengajar sangat diharapkan terlaksana dengan baik.
Dengan
supervisi, pengawasan, dan evaluasi, setiap tahapan proses belajar-mengajar akan
segera dapat diberikan masukan untuk diperbaiki sebelum melanjutkan ke tahapan
berikutnya. Namun, ditemui bahwa supervisi dan evaluasi agak jarang dilakukan
atau kalaupun dilakukan sangat jarang menghasilkan output yang langsung
disampaikan untuk digunakan sebagai dasar perbaikan proses belajar-mengajar.
Guru menyatakan bahwa supervisi dan evaluasi yang dilakukan oleh pimpinan
dan pengawas sekolah jarang sekali bisa memberikan masukan bagaimana
memperbaiki kekurangan atau kelemahan dalam proses belajar-mengajar oleh
guru. Supervisor paling sering hanya bisa menuliskan catatan kelemahan atau
128
kekurangan dalam proses belajar-mengajar tanpa disertai dengan bagaimana cara
atau langkah-langkah konkrit untuk memperbaikinya. Kesenjangan seperti itu
dapat terlihat pada setiap langkah atau aspes proses belajar-mengajar (rincian dari
kondisi ini dapat dilihat pada lampiran 2.c dan lampiran 2.e).
Pertama, untuk perencanan pembelajaran (khususnya penyusunan RPP),
para kepala sekolah tidak cukup memainkan perannya untuk memastikan bahwa
semua RPP yang disusun oleh guru, adalah sesuai dengan kesiapan peserta didik,
ketersediaan sumber belajar dan media, dan dukungan sarana dan prasarana.
Peran-peran mereka yang kurang terlaksana adalah: (1) mengarahkan penyusunan
RPP yang memastikan bahwa proses pembelajaran terlaksana secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik sehingga bisa
melahirkan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat mereka;
dan (2) mengevaluasi kualitas perangkat pembelajaran yg disusun guru. Padahal,
peran-peran ini sangat penting untuk memantapkan perencanaan pembelajaran
yang dibuat oleh setiap guru dengan mekanisme: (1) guru menyusun RPP sesuai
dengan arahan pimpinan sekolah, (2) RPP dikoreksi dan diberikan feedback
sebagai dasar untuk direvisi, (3) RPP disahkan apabila sudah direvisi sesuai
dengan koreksi dan feedback yang diberikan.
Kedua, untuk pelaksanaan proses pembelajaran, para kepala sekolah juga
tidak cukup memainkan perannya untuk memastikan bahwa pembelajaran di
ruangan kelas, di laboratorium, dan di luar ruangan kelas. Peran-peran mereka
yang kurang terlaksana adalah: (1) mensupervisi proses pelaksanaan pembelajaran
untuk memastikan bahwa guru melaksanakan pembelajaran benar-benar sesuai
dengan RPP; dan (2) mengawasi proses pembelajaran. Padahal, peran-peran ini
sangat penting untuk menjamin kualitas pelaksanaan pembelajaran, dengan
mekanisme: (1) guru melaksanakan pembelajaran materi yang dijadikan sampel
supervisi, (2) pimpinan sekolah memberikan feedback sesuai dengan peran
mereka dalam kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership), yaitu
memperbaiki teknik atau metode penyampaian dan isi bahan ajar, (3) meminta
guru memperbaiki proses pembelajaran dengan mendasarkan pada feedback yang
diberikan pada supervisi pertama, dan (4) pimpinan sekolah melakukan supervisi
129
kedua untuk memastikan adanya revisi dan peningkatan kualitas daripada
pembelajaran pada supervisi pertama.
Ketiga, untuk penilaian hasil pembelajaran, para kepala sekolah juga tidak
cukup memainkan perannya untuk memastikan bahwa penilaian direncanakan
dengan baik, ditentukan teknik yang sesuai, dikembangan instrumen yang valid
dan reliabel, diadministrikan pelaksanaannya dengan baik, dan ditentukan nilai
setiap peserta didik untuk setiap ranah tujuan pembelajaran secara objektif dan
akurat. Padahal, peran-peran ini sangat penting untuk menjamin kualitas
pelaksanaan penilaian yang akan memberikan hasil yang akurat dan objektif,
dengan mekanisme: (1) menilai kesesuaian teknik penilaian untuk setiap ranah
tujuan dan materi pembelajaran, (2) menentukan prosedur pengembangan
instrumen penilaian yang benar dan lengkap, dan (3) prosedur penentuan skor dan
nilai peserta didik. Dengan menjalankan mekanisme-mekanisme di atas, diyakini
bahwa proses pembelajaran akan berjalan dengan baik sesuai dengan kondisi yang
ada.
2. Unit penjaminan mutu
Setiapkan unit pendidikan seharusnya memiliki unit penjaminan mutu.
Dengan unit ini, sekolah dapat mengontrol pelaksanaan proses belajar-mengajar
secara terus menerus. Mutu lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam
kajian ini adalah sangat bervariasi mulai dari sangat rendah sampai dengan tinggi.
Variasi mutu ini menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan karena idealnya
setiap sekolah memiliki mutu yang dapat menjamin bahwa setiap warga negara
harus mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang sama dalam proses
pendidikannya. Sungguhpun situasi ideal sangat sulit diwujudkan oleh sekolahsekolah di Provinsi Aceh khususnya bahkan di Indonesia pada umumnya, namun
setiap sekolah harus berupaya secara maksimal dengan berbagai perbaikan untuk
mewujudkannya.
Kesulitan yang dihadapi sebagian besar sekolah dalam kajian penelitian ini
pada umumnya dikarenakan tidak memadainya mutu SDM, rendahnya
ketersediaan sarana dan prasarana, dan tidak memadainya dukungan pembiayaan
130
operasional sekolah baik yang bersumber dari pemerintah maupun dari orang tua
siswa. Sebagian besar sekolah dengan kesulitan-kesulitan ini, berupaya keras
mengatasinya terutama kesulitan pada tidak memadainya mutu SDM dengan
mendorong para guru meningkatkan profesionalisme mereka melalui partisipasi
maksimal pada MGMP pada berbagai tingkatan, membangun jaringan dengan
guru-guru mapel atau rumpun ilmu yang sama, dan memperoleh informasi tentang
perkembangan bidang mapel masing-masing. Sekolah-sekolah dalam kategori ini
selalu optimis bahwa dengan semangat dan usaha seperti itu, maka mutu SDM
mereka tidak terlalu senjang dengan kualitas yang harus diwujudkan. Walaupun
unit jaminan mutu tidak ada, tetapi pelaksanaan tugas penjaminan mutu dapat
diemban dengan baik oleh pimpinan sekolah melalui wakil kepala sekolah bidang
kurikulum dan bidang sarana dan prasarana.
Di lain pihak, sebagain kecil sekolah seperti “menerima” saja kondisi di
atas dengan pesimisme yang terungkap pada pernyataan-pernyataan pimpinan
sekolah. Upaya mengontrol mutu hampir sama sekali tidak dilakukan. Sekolah
dalam kategori ini cenderung menyalahkan kebijakan penempatan guru yang tidak
mempertimbangkan pemerataan bidang dan kualitas mereka (rincian dari kondisi
ini dapat dilihat pada lampiran 2.c dan lampiran 2.e).
B. Deskripsi Ketersediaan dan Keterkucupan Sarana dan Prasarana
Ketersediaan dan keterkucupan sarana dan prasarana, baik untuk sekolahsekolah tingkat SMP dan SMA yang termasuk dalam kelompok sekolah dengan
hasil UN tertinggi dan terendah di Provinsi Aceh, belum sepenuhnya terpenuhi.
1. Gedung, mobiler, peralatan dan lingkungan sekolah
Beberapa sekolah dengan hasil UN tertinggi sekalipun, terlihat kondisi
sarana dan prasarananya agak rendah, rendah dan bahkan sangat rendah. Sebagai
contoh, SMPN4 Takengon memiliki mobiler ruangan kelas dengan kondisi yang
sangat jauh dari kriteria yang harus dipenuhi. Sebagain besar meja siswa di empat
ruangan kelas kondisinya berlubang dan permakaannya kasar dan tidak rata.
Beberapa jendela gedung rungan kelas, kacanya sudah pecah. Hal berbeda, hanya
131
terlihat pada SMA Modal Bangsa Arun, SMAN 1 Lhokseumawe, SMAN 1
Langsa, SMA Modal Bangsa Aceh, SMA Fatih, SMA Fajar Harapan yang sarpras
lengkap dengan kondisi hanya sedikit di bawah 100%. Bahkan, di SMA Modal
Bangsa Aceh tersedia laboratorium Pendidikan Agama Islam (PAI) yang salah
satu materi praktiknya adalah tajhiz mayat.
Peran pimpinan sekolah memastikan terlaksananya: (1) pengadaan sarana
dan prasarana, (2) perawatan sarana dan prasarana; dan (3) peningkatan
ketersediaan dan kondisi sarpras, belum berjalan dengan baik. Beberapa kepala
dan wakil kepala sekolah memainkan peran yang sangat baik dalam
merencanakan penambahan dan peningkatan sarana dan prasarana, yang
ditndaklanjuti dengan pembuatan pengajuan proposal ke dinas pendidikan kota
dan/atau provinsi. Namun, peran komunikasi dengan pejabat-pejabat di kantor
dinas pendidikan kurang terlaksana. Sehingga, tidak mengherankan kalau
ditemukan banyak sekolah sampel penelitian yang tingkat ketercukupan sarana
dan prasarana rendah atau sangat rendah.
Selanjutnya, peran pimpinan sekolah untuk memastikan bahwa sarana dan
prasarana sekolah terawat dengan baik juga kurang terlaksana. Sebagian sarana
dan prasarana kondisinya jauh dari standar, contohnya toilet, lapangan olahraga,
gedung laboratorium, ruang kelas, ruang guru, ruang tata usaha, dan bahkan ruang
kepala sekolah. Gedung-gedung yang seharusnya dirawat dengan mengecat
kembali secara berkala, misalnya setiap lima tahun, lapangan olahraga yang
seharusnya diperhalus kembali permukaan secara berkala, misalnya setiap dua
tahun, umumnya tidak terlaksana. Tidak terlaksananya perawatan tersebut
terutama sekali disebabkan tidak adanya SOP untuk perawatan sarpras di sekolah.
Terakhir, peran untuk memastikan terencana pemenuhan kebutuhan
peningkatan sarana dan prasarana melalui penilaian kebutuhan (need assessment),
juga tidak terlaksana dengan baik. Peran pimpinan sekolah melalui wakil kepala
sekolah bidang sarana dan prasarana, seharusnya dapat dijalankan dengan
mekanisme: (1) meminta laporan berkala tentang kebutuhan peningatan sarana
dan prasarana dari setiap guru bidang studi, kepala laboratorium, dan wakil kepala
sekolah yang lain, (2) menyusun rekapitulasi berdasarkan analisis kebutuhan
132
didasarkan pada laporan pada nomor 1, dan (3) membuat skala prioritas untuk
pengajuan pengadaannya. Disayangkan mekanisme ini tidak berjalan dengan baik,
padahal dengan mekanisme ini dapat menekan kekurangan sarana dan prasarana
dan dapat mensiati kekurangan ini dengan berbagai cara sehingga proses
pembelajaran secara maksimal dengan kondisi apa adanya.
1. Sumber belajar.
Sumber belajar baik yang tersedia di perpustakaan, di lingkungan sekolah,
dan di media-media cetak maupun elektronik di sebagian besar sekolah yang
menjadi kajian penelitian ini tidak bisa disediakan dengan memadai. Sekolah
dalam kategori ini menyatakan bahwa penyediaan melalui dinas pendidikan sering
sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar dari sumber belajar untuk setiap
siswa. Walapun sudah berupaya menambah pengadaannya melalui partisipasi
orang tua, namun tetap saja tidak bisa menutupi kebutuhan tersebut.
Pertama, di perpustakaan pada sebagian besar sekolah tidak tersedia buku
referensi yang memadai walaupun hanya untuk buku paket yang harusya bisa
dipinjamkan kepada siswa secara penuh untuk setiap semester, apalagi, buku-buku
referensi pengayaan. Pengadaan buku paket sering sekali tidak memenuhi sesuai
dengan jumlah siswa sehingga sekolah harus meminjamkan secara bergiliran
dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan, buku-buku pengayaan yang diusulkan
pengadaannya sering sekali tidak dipenuhi sama sekali.
Kedua, di lingkungan sekolah pada sebagian besar sekolah juga tidak
menanam tanaman tetentu atau memelihari tanaman alam dengan baik yang bisa
digunakan untuk sumber belajar. Dengan kondisi demikian, hewan atau burungburung liar yang bervariasi jenisnya juga jarang sekali terlihat melintas di
lingkungan sekolah.
Ketiga, media cetak pada sebagian besar sekolah tidak menyediakan
majalah dan koran sebagai sumber pengayaan pengetahuan bagi siswa. Di
sebagian kecil sekolah ada berlangganan koran, tetapi hanya untuk pimpinan, guru
dan karyawan sekolah. Lebih-lebih lagi, untuk media elektronik, tingkat
ketersediaannya adalah sangat rendah. Hanya sebagian kecil sekolah, itupun yang
133
“diklaim” sebagai sekolah unggul oleh pemerintah kabupaten/kota yang mampu
menyediaan sumber belajar elektronik, baik melalui laboratorium maupun melalui
penyediaan akses Internet. Penyediaan akses Internet di sebagian sekolah dalam
ketegori ini, diakui hanya bisa diakses oleh siswa dan guru secara sangat terbatas
dengan kecepatan yang sangat rendah sehingga tidak bisa dimanfaatkan oleh guru
bersama siswa dalam proses belajar-mengajar di kelas. (rincian dari kondisi ini
dapat dilihat pada lampiran 2.c dan lampiran 2.e).
C. Deskripsi Kondisi Lingkungan Sosial Ekonomi di Sekitar Sekolah
1. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara
orang tua mengarahkan anak-anak mereka untuk memilih jenis pendidikan yang
sesuai dengan minat dan bakat mereka. Dengan pengetahuan dan pengalaman
pendidikan mereka disertai dengan keseriusan dalam membimbing anak mereka
berpendidikan yang layak dan sesuai, anak-anak mereka akan terarah dengan baik
dalam memilih jenis dan jenjang pendidikan mereka. Orang tua yang memiliki
tingkat pendidikan yang mencapai level perguruan tinggi walaupun hanya tingakat
strata-1, mereka bisa mengimplementasikan pengetahuan dan pengalaman mereka
dalam mengarahkan pendidikan anak mereka dari awal sejak pendidikan
menengah.
Di samping itu, tingkat pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap
status sosial dan peluang memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang
memberikan peluang besar untuk mampu membiaya pendidikan anak-anak
mereka. Terdapat beberapa kasus yang orang tua siswa yang berprestasi merasa
rendah diri dan tidak memiliki “pengaruh” yang cukup untuk meminta dukungan
pihak lain, terutama berupa beasiswa agar anaknya yang berprestasi bisa
memperoleh kesempatan memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Tidak bisa
dipungkuri bahwa siswa dari keluarga kurang mampu sering terabaikan dari
perhatian pemerintah atau pihak lain untuk memperoleh dukungan disebabkan
oleh kemampuan komunikasi atau keengganan memberikan informasi tentang
prestasi anak-anak mereka.
134
2. Jenis pekerjaan dan kemampuan ekonomi.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar sekolah pada umunya
rendah, hanya beberapa sekolah yang kondisi sosial ekonomi masyarakatnya
tinggi, contohnya SMA Modal Bangsa Arun, SMAN 1 Lhokseumawe, SMAN 1
Langsa, SMA Modal Bangsa Aceh, SMA Fatih, dan SMA Fajar Harapan. Pada
sekolah-sekolah yang disebutkan di atas dengan kondisi sosial ekonomi tinggi
(golongan menengah ke atas), sangat memudahkan sekolah merencanakan jam
belajar tambahan, seperti jam belajar sore, les tambahan, dan kegiatan
ekstrakurikuler (rincian dari kondisi ini dapat dilihat pada lampiran 2.c poin 1
tentang kondisi sosial masyarakat dan lampiran 2.e poin 7 tentang kondisi sosial
masyarakat).
Di lain pihak, sekolah-sekolah lainnya yang kondisi sosial ekonomi
masyarakatnya rendah, sangat menyulitkan sekolah memprogramkan kegiatankegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler seperti di atas. Pada sekolah-sekolah ini,
pekerjaan orang tua siswa umumnya adalah petani, sebagaian lainnya tukang
becak, hanya sedikit yang PNS dan wiraswastawan atau secara umum mereka
termasuk golongan menengah ke bawah (lihat lampiran 2.c poin 1 tentang kondisi
sosial masyarakat). Kondisi seperti ini kadang-kadang memaksa orang tua
mengajak
anaknya
membantu
mereka
mengerjakan
tugas-tugas
dalam
memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan di rumah dan di sekolah.
Dengan demikian, juga menyulitkan sekolah mengajak apalagi memaksan siswa
berpartisipasi dalam setiap kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Guna menyikapi masing-masing kondisi di atas, peran pimpinan sekolah
untuk menyesuaikan program belajar kurikuler, kokurikuler dan ekstra kurikuler
sangat penting dimainkan untuk memastikan bahwa dengan kondisi sosial
ekonomi bagaimanapun, ketiga jenis program tersebut semaksimal mungkin harus
berjalan. Memang tidak bisa dipungkiri, ditengah-tengah usaha menyesuaikan
program-program belajar tersebut, pihak sekolah sering kehilangan semangat
untuk “memaksa” siswa dari keluarga sosial ekonomi rendah tiba-tiba meminta
anak-anak mereka untuk berhenti dari kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
135
Download