Jadi, bukan Sejarah Tuhan, tetapi sejarah pemikiran tentang

advertisement
BEBERAPA CATATAN PEMIKIRAN REFLEKSI KAREN ARMSTRONG
KONSEPSI TUHAN DAN HAKEKAT AGAMA1
Elga J. Sarapung2
1. Tulisan dalam buku ini, jelas sekali mencerminkan dua hal: a) kehebatan Karen
Armstrong menjelajahi sejarah pemikiran tentang Tuhan yang berkembang dari
waktu ke waktu, melalui berbagai macam orang, baik para nabi, sufis, mistikus,
intelektual, rohaniwan (sedikit sekali rohaniwati). b) keuletannya untuk mengurai
hal-hal tersebut dalam satu bentuk tulisan yang mengalir dengan baik dan luar biasa.
2. Karena itu bagi saya isi buku ini penting sekali dibaca oleh mahasiswa teologi atau
para rohaniwan/rohaniwati, untuk melengkapi mata kuliah atau bacaan-bacaan
tentang teologi, sejarah gereja atau sejarah agama-agama, latarbelakang peradaban
manusia dan keterkaitan mistisisme-sufisme-agama-ateisme-sekularisme-ilmu
pengetahuan sampai kepada dunia modern saat ini. Tanpa menutup kemungkinan
bagi para intelektual umumnya.
3. Buku ini lebih cocok diberi judul “Sejarah Pemikiran tentang Tuhan”, bukan
“Sejarah Tuhan”. Dua hal yang sangat berbeda. Yang pertama, seperti yang
diuraikan dalam buku Karen Armstrong ini. Bagaimana Tuhan dipahami oleh
manusia, dari waktu ke waktu, sesuai dengan konteks sosial-politik-budayakeagamaan pada masanya. Mulai dari pengalaman mereka pribadi dan bersamasama sebagai komunitas umat dan masyarakat umumnya, sampai kepada kajiankajian yang dilakukan, dan perdebatan bahkan sampai kepada konflik, perang,
pengusiran, pembunuhan bahkan konversi. Sementara yang kedua, saya sependapat
dengan banyak orang, termasuk dengan seorang Biksu dari Vietnam yang sudah
lama mengungsi di Perancis dan sampai sekarang berdiam di Palm Villagenya di
Perancis, Thich Nhat Hanh.
“God has no beginning or end. God is not more or less beautiful. All the ideas we use to
describe the phenomenal world cannot be applied to God. So it’s very wise not to say
anything about God. Not being able to speak about od does not means that God is not
available to us. God is available to us twenty-four hours a day. The question is, whether you
are touching God twenty four hours a day?”
Jadi, bukan Sejarah Tuhan, tetapi sejarah pemikiran tentang Tuhan
berdasarkan pengalaman hidup manusia yang mengalami, memikirkan dan
mengkaji tentang kehadiran Tuhan di dalam hidupnya, di komunitas, di
masyarakat, di dunia pada umumnya.
4. Sebab itu, tiba pada apa yang disebut agama-agama dengan semua jenis
alirannya, terutama di kalangan agama Yahudi, Islam, Kristen (Katolik dan
Protestan).
5. Karen Armstrong termasuk salah seorang yang sedang membuat Sejarah
Pemikiran tentang Tuhan. Bagi Karen, jelas bahwa Tuhan itu ada, Tuhan
1
Dari Pembacaan buku SEJARAH TUHAN. Disampaikan dalam Seminar “Great Thinkers” tentang pemikirpemikir besar dunia dan Indonesia. Sekolah Pasca Sarjana UGM, Selasa 4 Maret 2014.
2
Direktur Institut DIALOG Antariman Indonesia (Institut DIAN/Interfidei), Yogyakarta.
http://www.interfidei.or.id
Mahakuasa. Setiap orang harus tetap mengakui adanya Tuhan, dalam arti,
orang perlu beragama.
6. Agama yang bagaimana atau seperti apa? Karena tidak terjebak pada
memilih atau menekankan satu agama saja, tetapi setiap orang bebas untuk
memilih dan menentukan agama yang ingin dianut. Yang penting bahwa
agama tersebut memandu orang tersebut kepada pribadi yang mampu
membawa damai; damai dengan dirinya, damai dengan orang lain.
7. Artinya, Tuhan, Agama tidak diperlakukan sebagai simbol saja atau
diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol tetapi pada penghayatan dan
tindakan nyata. Misalnya, kalau nabi Amos pada masanya (752 SM) sudah
meneriakkan secara lantang tentang keadilan sosial harus terjadi bagi seluruh
rakyat pada masa itu, lalu apa artinya dalam sejarah kehidupan kita sekarang?
Agama mana di dunia ini dengan alirannya yang sungguh-sungguh memberi
inspirasi dan mendorong serta menguatkan penganutnya untuk bersikap
seperti itu dengan berani, terbuka, terus-terang demi kehidupan yang adil
bagi semua orang?
8. Dengan hal ini juga, Karen mau mengatakan bahwa umumnya kita tidak
pernah mau belajar dari seluruh pengalaman sejarah manusia dalam
“beragama”, supaya mampu melakukan perubahan untuk kebaikan hidup ini.
Bukankah semua agama-agama memiliki intisari makna yang
mengedepankan kebaikan, peradaban yang bermutu demi perdamaian?
9. Saya tidak setuju ketika Karen menggunakan kata “berhala” dalam
mengidentifisir kelompok atau gerakan fundamentalis dan ateis. Ini sangat
berlebihan. Kesan saya, Karen nyaris tidak memiliki pengalaman berinteraksi
dengan kelompok ini. Atau, kalaupun berinteraksi, hanya pada tataran
intelektual tidak pada kedekatan kemanusiaan dan kebudayaan. Bahwa pada
tataran teologi pasti berbeda, tetapi pada tataran kemanusiaan dan
kebudayaan, orang lain perlu belajar dari dan bersama mereka juga.
10. Dunia ini tidak mungkin menjadi satu dan seragam. Perbedaan dan dinamika
perbedaan pasti terjadi. Persoalannya, seberapa kuat perbedaan itu bisa
menjadi kekuatan bersama untuk membangun peradaban bagi kepentingan
kemanusiaan dan kehidupan bersama yang damai? ***
Download