21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sepakbola dan Pencapaian

advertisement
21
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sepakbola dan Pencapaian Pretasi Atlet Sepakbola
Sepakbola adalah suatu permainan yang dilakukan dengan jalan menyepak
bola, yang mempunyai tujuan untuk memasukkan bola ke gawang lawan dan
mempertahankan gawang tersebut, agar tidak kemasukan bola. Di dalam memainkan
bola, setiap pemain diperbolehkan menggunakan seluruh anggota badan kecuali
tangan dan lengan. Hanya penjaga gawang yang diperbolehkan memainkan bola
dengan kaki dan tangan (Wigianto, 2009). Program latihan yang baik akan
merefleksikan kemampuan pemain dalam bertanding. Seorang pemain sepakbola
harus mampu menunjukkan kekuatan, kecepatan dan daya tahan selama 90 menit
permainan (Huldani, 2008).
Sepakbola merupakan permainan yang sederhana. Kendati demikian
sepakbola mebutuhkan teknik, fisik, taktik, dan strategi untuk memenangkan suatu
pertandingan yang mana semua komponen tersebut tidak dapat dipisahkan (Zainurid,
2001).
Sepakbola dinamis mempunyai ciri-ciri bergerak tanpa bola, memberi dan
menempel lawan.Untuk mencapai permaianan yang demikian diperlukan teknik dan
taktik yang dimiliki setiap pemain. Namun betapapun baiknya kemampuan teknik
dan kemampuan taktik yang dimiliki jika tidak didukung ketahanan jasmaninya,
permainan tersebut tidak akan bertahan lama. Sebab pada tingkat ketahanan jasmani
Universitas Sumatera Utara
22
yang rendah akan lekas mengurangi kecepatan dan keterampilan bermain bola
(Wibowo, 2007).
Berdasarkan kenyataan di atas dimungkinkan besar atlet sepakbola sejak awal
berlatih tidak mendapat latihan ketahanan jasmani yang memadai. Di samping itu
kemungkinan juga disebabkan adanya kesalahan pelatih dalam membentuk daya
tahanya, yang sebenarnya daya tahan tersebut dapat berguna sekali untuk pembinaan
berikutnya. Kemungkinan juga disebabkan oleh pelatih atau pemain yang kurang
menguasai tentang cara melatih daya tahan aerobik yang benar. Sehingga tujuan
latihan untuk meningkatkan daya tahannya tidak tercapai. Pada sepakbola semua
gerakan sebagian besar anaerobik baik pemain depan, tengah ataupun belakang
(Wibowo, 2007).
Dikarenakan latihan daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan, dan
kelentukan merupakan suatu komponen latihan fisik yang tidak dapat dipisahkan di
dalam sepakbola, maka pelatih diharapkan dalam memberikan latihan fisik, harus
memperhatikan beban latihan untuk kelima komponen tersebut dengan berpedoman
pada teori-teori tentang beban latihan fisik yang ada di buku-buku kepelatihan. Selain
itu pelatih dalam memberikan latihan fisik diharapkan memberikan variasi-variasi
latihan, agar pemain tidak merasa bosan sehingga seberat apapun beban latihan yang
diberikan tidak membebani pemain dalam melakukan latihan fisik. Begitu juga bagi
pemain diharapkan hadir dalam setiap latihan fisik, karena kondisi fisik sangat
berpengaruh untuk mencapai prestasi yang maksimal (Zainurid, 2001).
Untuk mencapai prestasi yang optimal diperlukan daya tahan jantung-paru
yang baik pada atlet sepakbola. Daya tahan jantung paru pemain sepakbola dapat
Universitas Sumatera Utara
23
ditingkatkan dengan latihan yang memerlukan energi yang banyak. Olahraga
sepakbola merupakan gerakan tubuh yang memerlukan banyak energi yang diperoleh
dari zat gizi makro (karbohidrat, lemak dan protein). Metabolisme yang optimal dari
makronutrien tergantung dari mikronutrien (Margaretha, 2004)
2.2. Kebutuhan Gizi Atlet
Setiap orang memerlukan jumlah makanan (zat gizi) berbeda-beda, tergantung
usia. Berat badan, jenis kelamin, aktivitas, kondisi lingkungan (misalnya suhu),
keadaan tertentu (misalnya keadaan sakit, ibu hamil atau menyusui). Seorang
olahragawan pada umumnya, memerlukan makanan lebih banyak dari orang pada
umumnya, seorang anak dalam masa pertumbuhan memerlukan protein lebih banyak
dibanding orang dewasa.
Proporsi makanan sehat berimbang terdiri dari atas 60-65% kabohidrat, 20%
lemak dan 15-20% protein dari total kebutuhan atau keluaran energi per hari,
misalnya seseorang dalam sehari memerlukan 3000 kalori, maka kebutuhan
karbohidrat 1800-1950 kalori, lemak 600 kalori dan protein 450-600 kalori (Irianto.
2007).
Sesuai prinsip dasar "Gizi Seimbang" yang mengandung cukup karbohidrat,
lemak, protein, vitamin, mineral, air dan serat, maka kebutuhan gizi atlet sepakbola
adalah sebagai berikut :
2.2.1. Energi
Secara umum seorang pemain sepakbola memerlukan energi sekitar 4.500
Kkal atau 1,5 kali kebutuhan energi orang dewasa normal dengan postur tubuh relatif
Universitas Sumatera Utara
24
sama, karena pemain sepakbola dikategorikan dengan seseorang yang melakukan
aktivitas fisik yang berat.
Kebutuhan energi dihitung dengan memperhatikan beberapa komponen
penggunaan energi yaitu : Basal Metabolic Rate (BMR), Specific Dynamic Action
(SDA), Aktivitas Fisik dan Faktor Pertumbuhan
a. Basal Metabolic Rate (BMR)
BMR merupakan jumlah energi yang dikeluarkan untuk aktivitas vital tubuh
seperti denyut jantung, bernafas, transmisi elektrik pada otot dan lain-lain.
Tabel 2.1. Basal Metbolisme Rate (BMR) Untuk Laki-Laki Berdasarkan Berat Badan
Jenis
Berat Badan
Energi (Kal)
Kelamin
(Kg)
10-18 th
18-30 th
30-60 th
Laki-laki
55
1625
1514
1499
60
1713
1589
1556
65
1801
1664
1613
70
1889
1739
1670
75
1977
1814
1727
80
2065
1889
1785
85
2154
1964
1842
90
2242
2039
1899
(Sumber : Burke, 1992)
b. Specific Dynamic Action (SDA)
SDA merupakan jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengolah makanan
dalam tubuh, antara lain untuk proses pencernaan dan penyerapan zat-zat gizi oleh
usus. Besarnya SDA kurang lebih 10 % dari Basal Metabolic Rate (BMR).
c. Aktivitas Fisik
Pengeluaran energi untuk aktivitas fisik harian ditentukan oleh jenis,
intensitas dan lamanya aktivitas fisik dan olahraga.
Universitas Sumatera Utara
25
Tabel 2.2. Kebutuhan Energi Aktivitas Olahraga Berdasarkan Berat Badan
(Kal/menit)
Aktivitas
Berat Badan (Kg)
50
60
70
80
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Sepakbola
7
8
9
10
Lari :
• 5,5 menit/km
10
12
14
15
- 5 menit/km
10
12
15
17
- 4,5 menit/km
11
13
15
18
- 4 menit/km
13
15
18
21
Jalan Kaki :
- 10 menit/km
5
6
7
8
- 8 menit/km
6
7
8
10
- 5 menit/km
10
12
15
17
(Sumber : Burke, 1992)
90
(6)
12
17
19
20
23
9
11
19
d. Perhitugan Energi Atlet
Kebutuhan energi menurut Depkes RI (2000) dapat dihitung berdasarkan
komponen-komponen penggunaan energi. Berdasarkan komponen-komponen
tersebut, terdapat 6 langkah dalam menghitung kebutuhan energi untuk setiap atlet.
Langkah 1
Tentukan status gizi atlet dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) dan
presentase lemak tubuh. Indeks massa tubuh merupakan pembagian berat badan
dalam kg oleh tinggi badan dalam satuan meter dikwadratkan. Sedangkan presentase
lemak tubuh yaitu perbandingan antara lemak tubuh dengan masa tubuh tanpa
lemak.
Langkah 2
Tentukan basal metabolic rate (BMR) yang sesuai dengan jenis kelamin, umur dan
berat badan. Caranya menentukan BMR dengan melihat tabel 2.1
Tambahkan BMR dengan Specifict Dynamic Action (SDA) yang besarnya 10%
BMR, BMR + SDA (10%BMR)
Universitas Sumatera Utara
26
Langkah 3
Aktifitas fisik setiap hari ditentukan tingkatnya. Kemudian, hitung besarnya energi
untuk aktifitas fisik tersebut (tanpa kegiatan olahraga). Pilihlah tingkat aktifitas fisik
yang sesuai, baik untuk perhitungan aktifitas total maupun perhitungan aktifitas fisik
yang terpisah dan jumlahkan. Gunakan tabel di bawah ini untuk menentukan tingkat
aktifitas total.
Tabel 2.3 Faktor Aktifitas Fisik (Perkalian Dengan BMR)
Tingkat aktifitas
Laki-laki
Istirahat di tempat tidur
1,2
Kerja sangat ringan
1,4
Kerja ringan
1,5
Kerja ringan – sedang
1,7
Kerja sedang
1,8
Kerja berat
2,1
Kerja berat sekali
2,3
Perempuan
1,2
1,4
1,5
1,6
1,7
1,8
2,0
Langkah 4
Kalikan faktor aktifitas fisik dengan BMR yang telah ditambah SDA
Langkah 5
Tentukan penggunaan energi sesuai dengan latihan atau pertandingan olahraga
dengan menggunakan tabel 2.2 Kalikan jumlah jam yang digunakan untuk latihan per
minggu dengan besar energi yang dikeluarkan untuk aktifitas olahraga. Total energi
yang didapatkan dari perhitungan energi dalam seminggu, kemudian dibagi dengan 7
untuk mendapatkan penggunaan energi yang dikeluarkan per hari. Tambahkan
besarnya penggunaan energi ini dengan besarnya energi yang didapatkan dari
perhitungan langkah 4.
Universitas Sumatera Utara
27
Langkah 6
Apabila atlet tersebut masih dalam usia pertumbuhan, maka tambahkan kebutuhan
energi sesuai dengan tabel 2.4
Tabel 2.4 Kebutuhan Energi Untuk Pertumbuhan (kalori/hari)
Jenis kelamin anak
Umur (Tahun)
Tambahan energi
Anak laki-laki
dan perempuan
10 – 14
15
16 – 18
2 kalori/kg berat badan
1 kalori/kg berat badan
0,5 kalori/kg berat badan
Contoh Perhitungan Kebutuhan Energi Seorang Atlet
Mary seorang mahasiswi berumur 20 tahun mempunyai tinggi badan 160 cm dan
berat badan 60 kg. Dia seorang atlet bolabasket dalam tim nasional. Dia berlatih
berupa lari 3 hari seminggu dengan kecepatan 5 menit per km selama satu jam. Selain
itu, Mary berlatih bolabasket 2 kali seminggu selama 20 menit. Aktifitas sehari-hari
berupa aktifitas ringan sedang, misalnya pergi ke kampus, belajar.
Cara menghitung kebutuhan energi
Langkah 1
Tentukan status gizi atlet dengan menggunakan indeks massa tubuh dan presentase
lemak.
IMT = 60 : (1,6)2 = 23,4
Artinya atlet ini IMT dalam keadaan normal
Langkah 2
Tentukan BMR untuk wanita dengan berat badan 60 kg yaitu 1491 kalori (tabel 2.1)
Tentukan SDA yaitu 10% x 1491 = 149
Jumlah BMR dengan SDA yaitu 1491 + 149 = 1640 kalori
Universitas Sumatera Utara
28
Langkah 3 dan langkah 4
Tentukan faktor aktifitas fisik kerja ringan sedang yaitu 1,6 (tabel 2.3)
1,6 x 1640 = 2624
Langkah 5
Latihan lari setiap minggu yaitu : 3 x 60 x 10 = 1800 kal/mg
Latihan bolabasket setiap minggu yaitu : 2 x 30 x 7 = 420 kal/mg
Gunakan tabel 2.2 pada perhitungan aktifitas olahraga.
Kebutuhan energi untuk aktifitas olahraga (lari dan latihan bolabasket) adalah 1800 +
420 = 2220 kalori/minggu.
Kebutuhan energi untuk aktifitas olahraga per hari adalah :
2220 : 7 = 317 kalori
Jadi total kebutuhan energi perhari adalah 2624 + 317 = 2941 kalori
Mary membutuhkan energi setiap hari yang berasal dari makanan yang dia konsumsi
adalah 2941 kalori.
2.2.2. Karbohidrat
Karbohidrat adalah zat gizi berupa senyawa organik yang terdiri dari atom
karbon, hidrogen, dan oksigen yang digunakan sebagai bahan pembentuk energi.
Energi yang terbentuk digunakan tubuh untuk melakukan gerakan tubuh, baik
gerakan sadar maupun tidak, seperti gerakan otot jantung, paru, usus, dan organ tubuh
lainnya. Umumnya menu makanan Indonesia mempunyai kandungan karbohidrat
yang tinggi sebagai makanan pokok yaitu sekitar 70-80 persen (Sandjaja.dkk, 2009).
Karbohidrat dapat berbentuk sederhana dan kompleks. Karbohidrat sederhana
hanya terdiri dari satu molekul (monosakarida), misalnya beberapa gula seperti
Universitas Sumatera Utara
29
glukosa, fruktosa, galaktosa. Di dalam tubuh, gula jenis tersebut tidak mengalami
pemecahan lagi dan langsung dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Sebaliknya karbohidrat
kompleks (polisakarida) merupakan rangkaian beberapa gula sederhana, dan di dalam
tubuh masih harus dipecah menjadi karbohidrat sederhana. Selain sebagai sumber
energi utama, konsumsi karbohidrat yang cukup akan mencegah terjadinya
pemecahan protein yang berlebihan, membantu metabolisme lemak dan protein, serta
mencegah kehilangan mineral (Sandjaja,dkk. 2009).
Karbohidrat kompleks atau makanan dari padi-padian merupakan sumber
energi yang zat gizinya paling banyak. Jenis karbohidrat ini menyediakan energi yang
lebih aman dibandingkan gula sebab diserap perlahan dalam sistem pencernaan,
mengeluarkan energi besar ke pembuluh darah dan hanya sedikit gula darah
meningkat. Ini lebih bermanfaat bagi kesehatan dan dapat meningkatkan stamina
tubuh. Pelepasan energi yang lebih, perlahan mampu menghasilkan energi yang lebih
besar (Khomsan, 2008).
Selain karbohidrat sedehana dan karbohidrat kompleks, karbohidrat juga
terdiri dari karbohidrat lain dan karbohidrat total. Karbohidrat merupakan sumber
utama energi untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi atlet sepakbola. Jenis makanan
sumber karbohidrat antara lain: biji-bijian (beras, ketan, jagung), umbi-umbian (ubi,
singkong) dan tepung-tepungan (roti, mie, pasta, makaroni, bihun) (Depkes RI,
2002).
Sekarang ahli psikologi menyatakan bahwa cara paling efektif untuk
mempersiapkan daya tahan pada saat pertandingan adalah makan dengan diet 60
sampai 70 persen karbohidrat, ketika istirahat otot-otot mempunyai kesempatan
Universitas Sumatera Utara
30
menyimpan karbohidrat. Untuk para atlet yang makan tinggi karbohidrat setiap hari,
akan mengalami perubahan besar dalam kecukupan energinya (Clark, 1996).
2.2.3. Protein
Protein adalah komponen dasar dan utama makanan yang diperlukan oleh
semua mahluk hidup sebagai bahan dari daging, jaringan kulit, otot, otak, sel darah
merah, rambut dan organ tubuh lainnya yang dibangun dari protein (Sandjaja.dkk,
2009).
Protein merupakan zat gizi penghasil energi yang tidak berperan sebagai
sumber energi tetapi berfungsi untuk mengganti jaringan dan sel tubuh guna
mencapai tinggi badan yang optimal. Atlet sepakbola sangat dianjurkan untuk
mengkonsumsi sumber protein yang berasal dari hewani dan nabati. Protein asal
hewani seperti daging (dianjurkan daging yang tidak berlemak). Ayam, ikan, telur
dan susu. Sumber protein nabati yang dianjurkan adalah tahu, tempe, dan kacangkacangan (kacang tanah, kedelai dan kacang hijau) (Depkes RI, 2002).
Secara umum kebutuhan protein adalah 0,8 sampai 1,0 gram/Kg/BB/hari,
tetapi bagi mereka yang bekerja berat kebutuhan protein bertambah. Penelitian
membuktikan bahwa kegiatan olahraga yang teratur meningkatkan kebutuhan protein.
Atlet dari olahraga yang memerlukan kekuatan dan kecepatan perlu mengonsumsi
1,2-1,7 gram protein/Kg BB/hari (kurang lebih 100-212% dari yang dianjurkan) dan
atlet endurance memerlukan protein 1,2-1,4 gram/Kg BB/hari (100-175% dari
anjuran). Jumlah protein tersebut dapat diperoleh dari diet yang mengandung 12-15%
protein (Irianto, 2007).
Universitas Sumatera Utara
31
Tabel 2.5. Proporsi Kebutuhan Protein Berdasarkan Keluaran Energi Sehari
Jumlah energi/hari (kalori)
% Protein dari jumlah total energi/hari
2.500
15%
3.000 - 4.000
13-14%
4.500 – 5.000
10-12%
(Sumber: Suryodibroto, 1989;28)
2.2.4. Lemak
Kita memerlukan lemak dalam makanan kita. Lemak adalah satu-satunya
sumber asam lemak penting yang dapat membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan
K. Terdapat tiga jenis lemak dalam makanan, yakni jenuh, tak jenuh tunggal, dan tak
jenuh ganda. Lemak jenuh merupakan jenis lemak yang paling berbahaya. Lemak
jenis ini dapat meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, dan peningkatan berat
badan. Lemak jenuh terdapat pada daging hewan ternak dan produk susu, terutama
mentega dan keju keras (Khomsan, 2008)
Walaupun lemak merupakan sumber energi yang paling tinggi, tapi para atlet
tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi lemak berlebihan. Karena energi lemak tidak
dapat langsung dimanfaatkan untuk latihan maupun bertanding. Lemak terdapat
dalam makanan asal hewan sebagai lemak hewani dan asal tumbuhan sebagai lemak
nabati.
Lemak
hewani
contohnya
adalah:
keju,
mentega,
lemak
daging
(sapi/kambing). Contohnya lemak nabati adalah minyak sawit, minyak kelapa,
margarin, minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak jagung (Depkes RI, 2002).
Untuk memelihara keseimbangan fungsinya, tubuh memerlukan lemak 0,5 s.d
1 gr/Kg BB/hari. Latihan olahraga meningkatkan kapasitas otot dalam menggunakan
lemak sebagai sumber energi. Peningkatan metabolisme lemak pada waktu
melakukan kegiatan olahraga yang lama mempunyai efek ”melindungi” pemakaian
glikogen (glycogen sparing effect) dan memperbaiki kapasitas ketahanan fisik
Universitas Sumatera Utara
32
(endurance capacity). Walaupun demikian, konsumsi energi dari lemak dianjurkan
tidak lebih dari 30% total energi per hari. Bagi mereka yang memerlukan lebih
banyak karbohidrat perlu menurunkan lemak untuk mengimbanginya (Irianto, 2007).
2.2.5. Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik dengan jumlah sedikit dalam tubuh, tetapi
penting untuk mengontrol proses metabolisme. Sebagian besar vitamin tidak dapat
disintesis oleh tubuh (Sandjaja.dkk, 2009).
Vitamin B1 dan vitamin B lainnya yang tergolong ke dalam vitamin B
kompleks berperan penting dalam proses pembentukan energi. Vitamin-vitamin
lainnya dibutuhkan dalam jumlah besar seperti vitamin A, C dan E untuk kebutuhan
metabolisme lainnya. Vitamin D dibutuhkan untuk pembentukan tulang bagi atlet
sepak bola yang masih remaja.
Sumber vitamin A adalah sayur dan buah-buahan berwarna hijau tua/merah
seperti wortel, tomat, daun singkong, daun katuk, pepaya, mangga, sumber vitamin C
adalah jambu biji, pepaya, jeruk, belimbing dan sumber vitamin E adalah daging,
ikan, sayuran hijau, minyak jagung, minyak kedelai. Atlet sepakbola terutama remaja
dianjurkan untuk berjemur setiap pagi untuk memperkuat pembentukan tulang.
Vitamin banyak terdapat dalam makanan sumber asal hewani seperti daging,
telur, ikan dan ayam. Selain itu, vitamin juga bisa didapatkan dari sumber asal nabati,
seperti sayuran dan buah-buahan segar (Depkes RI, 2002).
Universitas Sumatera Utara
33
2.2.6. Mineral
Mineral merupakan faktor penting yang diperlukan oleh tubuh untuk
komponen enzim yang banyak berperan dalam reaksi metabolisme tubuh dan otak.
Magnesium dan mangan dibutuhkan untuk memberikan energi pada otak. Natrium,
kalium, dan kalsium sangat penting untuk komunikasi sel saraf serta memudahkan
dalam pengiriman pesan dari otak ke seluruh tubuh, demikian pula sebaliknya
(Khomsan, 2008).
Atlet sepakbola memerlukan oksigen yang lebih banyak untuk pembakaran
karbohidrat yang menghasilkan energi terutama pada saat bermain. Untuk
mengangkut oksigen (O2) ke otot diperlukan Hemoglobin (Hb) atau sel darah merah
yang cukup. Untuk membentuk zat besi (Fe) yang bersumber dari daging (dianjurkan
daging yang tidak berlemak), sayuran hijau dan kacang-kacangan. Oleh karena itu,
atlet sepakbola tidak boleh menderita anemia, agar dapat berpretasi.
Atlet sepak bola yang masih remaja memerlukan kalsium yang relatif lebih
tinggi untuk pertumbuhan tulangnya. Sumber kalsium ini relatif lebih tinggi untuk
pertumbuhan tulangnya. Sumber kalsium bisa didapatkan dari susu (rendah lemak).
Karena itu atlet sepakbola yang masih remaja sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi
susu setiap hari agar mencapai tinggi badan optimal. Ikan juga merupakan sumber
kalsium terutama ikan yang dikonsumsi dengan tulangnya (contoh: ikan teri). Selain
itu tulang ikan juga mengadung fluor untuk melindungi gigi agar tidak berlubang.
Zat-zat mineral lainnya seperti seng (Zn) dan selenium (Se) berfungsi sebagai
antioksidan yang dapat menghambat terbentuknya radikal bebas yang berlebihan
sehingga dapat mencegah kerusakan sel tubuh. Mineral bisa didapatkan dari makanan
Universitas Sumatera Utara
34
sumber hewani maupun sumber nabati. Sumber Zn dan Se antara lain adalah: sea
food, daging dan lain-lain (Depkes RI, 2002).
2.2.7. Air dan Elektrolit
Air merupakan koponen utama dalam darah, dimana komposisinya dalam
darah mencapai 83 persen. Air bertugas sebagai sistem transpor yang mengedarkan
zat gizi ke otak dan bagian tubuh lainnya serta membuang sampah tubuh. Pasokan air
bersih sangat penting bagi keseimbangan tubuh kita (Khomsan, 2008).
Untuk mempertahankan status hidrasi, setiap orang dalam sehari rata-rata
memerlukan 2500 ml air. Jumlah tersebut setara dengan cairan yang dikeluarkan
tubuh baik berupa keringat, uap air maupun cairan yang keluar bersama tinja. Dalam
keadaan sehari-hari tubuh akan selalu berusaha mempertahankan keseimbangan
cairan
normal
(euhydration),
sehingga
bila
keadaan
cairan
berlebihan
(hyperhidration) maka akan terjadi proses pengurangan cairan (dehydration).
Sebaliknya, bila tubuh kekurangan cairan (hypohidration), akan terjadi proses
pemulihan cairan (rehydration) untuk kembali pada kondisi euhydration (Irianto,
2007).
Saat berlatih maupun bertanding, atlet sepakbola akan mengeluarkan keringat
dalam jumlah yang sangat banyak. Keringat akan lebih banyak lagi dikeluarkan
apabila berolahraga di tempat panas. Air keringat yang keluar dari tubuh dapat
mencapai satu liter per jam. Apabila tubuh kehilangan air melebihi 2% dari total berat
badan, maka akan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) dan dapat terganggu
kesehatannya. Untuk mencegah dehidrasi, ada baiknya atlet sepakbola minum
sebelum merasa haus. Minum air yang teratur dengan tambahan sedikit elektrolit dan
Universitas Sumatera Utara
35
teratur dengan tambahan sedikit elektrolit dan karbohidrat sangat baik untuk
mencegah terjadinya dehidrasi. Air minum yang diminum dianjurkan berupa jus dari
buah-buahan karena selain mengandung air juga mengandung elaktrolit yang
dibutuhkan untuk mengganti cairan maupun elektrolit yang hilang selama latihan atau
pertandingan.
Suplemen zat gizi yang berupa obat, makanan atau minuman yang banyak
beredar di pasaran dengan berbagai merk hanya diperuntukan untuk atlet pada kondisi
tertentu. Hati-hati dalam mengkonsumsi suplemen secara berlebihan, lebih baik
konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu (Depkes RI, 2002).
2.2.8. Serat
Hal ini juga tidak boleh diabaikan oleh atlet sepakbola adalah konsumsi serat
(fiber) dari makanan. Konsumsi serat yang cukup dapat membantu buang air besar
menjadi teratur dan lancar. Serat juga sangat penting dalam pencegahan berbagai
penyakit misalnya penyakit kanker usus, dan juga penyakit jantung. Serat dan buahbuahan seperti: bayam, kangkung, daun singkong, daun labu, apel, bengkuang
(Depkes RI, 2002).
2.3 Suplemen
Suplemen adalah suatu zat/ unsur atau lebih yang dikemas untuk menambah
zat/ unsur yang sudah ada (Sandjaja.dkk, 2009). Kesadaran akan hidup sehat dengan
mengkonsumsi makanan sehat pada masyarakat Indonesia tampaknya mulai
meningkat. Demikian pula kesadaran untuk mengkonsumi vitamin dan mineral sesuai
dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, konsumen sering tergiur untuk membeli
produk yang lengkap kandungan gizinya diperkaya berbagai macam vitamin dan
Universitas Sumatera Utara
36
mineral dan salah satunya adalah klaim label diperkaya vitamin A, C. dan E
(Khomsan, 2008).
Suplemen, sesuai dengan namanya hanya bersifat menambahkan atau
melengkapi. Jelas suplemen dirancang bukan untuk menggantikan makanan.
Bagaimanapun sebutir pil tidak akan dapat memberikan semua nutrien yang kita
perlukan untuk hidup sehat. Sebagai contoh, dalam buahan dan sayuran terdapat
antioksidan yang berkhasiat melindungi tubuh terhadap penyakit, namun antioksidan
tersebut termasuk ke dalam jenis yang belum berhasil diidentifikasi. Karena itu
antioksidan ini tidak terdapat dalam pil. Padahal berbagai studi menunjukkan bahwa
makanan makanan yang kaya antioksidan terbukti sangat baik untuk mencegah
penyakit tertentu (Yuliarti, 2008).
Namun, walaupun membutuhkan, kita harus selalu waspada agar tidak over
dosis. Semua vitamin dan mineral adalah penting bagi proses metabolisme, proses
perbaikan sel, dan mengurangi penuaan dini, tapi suplemen berbeda dengan obat
yang dapat memberikan kesembuhan dalam sekejap. Hasil perbaikan dari
mengkonsumsi suplemen kemungkinan terlihat setelah berminggu-minggu atau
bahkan berbulan-bulan (Yuliarti, 2008).
2.3.1. Pertimbangan Penggunaan Suplemen
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% penduduk di
kota besar mengkonsumsi suplemen. Dan tampaknya, konsumsi suplemen dalam
berbagai bentuknya telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat pekerja di kotakota besar seperti Jakarta, Bogor, Padang, Makasar dan Banjarmasin.
Universitas Sumatera Utara
37
Terkadang suplemen memang dibutuhkan dalam memenuhi gizi atlet. Hanya
saja, hal ini membutuhkan beberapa pertimbangan mandasar yang perlu diperhatikan.
Berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk memutuskan apakah
suplemen perlu diberikan kepada seorang atlet:
1. Suplemen dapat diberikan jika atlet menderita kekurangan zat-zat gizi tertentu
yang mungkin terjadi pada saat;
a. Mengikuti program penurunan berat badan
b. Menstruasi (atlet perempuan)
c. Variasi makanan kurang baik, misalnya pada vegetarian
2. Penggunaan suplemen harus dalam pengawasan dokter atau ahli gizi olahraga.
3. Dalam menggunakan suplemen vitamin perlu diingat tingkat toksisitas
vitamin dan mineral.
4. Dalam keadaan penyediaan menu makanan sehari-hari, cukup kandungan zat
gizi (vitamin dan mineral) sehingga suplemen tidak diperlukan (Irianto,
2007).
2.3.2. Extra Joss
Extra joss merupakan salah satu dari merk suplemen makanan yang telah
mendapat izin edaran dari Balai POM dengan nomor seri POM SD 051 219 991. Minuman ini dapat digunakan untuk penderita diabetes dan orang yang membutuhkan
makanan berkalori rendah.
Produk ini tidak dianjurkan pada anak-anak, wanita hamil dan menyusui serta
penderita hipertensi. Produk ini mengandung fenilalanin, tidak boleh digunakan pada
penderita phenylketonuria dan wanita hamil dengan kadar fenilalanin tinggi.
Universitas Sumatera Utara
38
Tabel 2.6. Komposisi extra joss active B7 dalam setiap sachet (4 gram)
No
Kandungan
Mg
1
Taurine
1000 mg
2
Ginseng
20 mg
3
Vitamin B1
1,2 mg
Vitamin B2
3 mg
Vitamin B3
16 mg
Vitamin B5
5 mg
Vitamin B6
1,5 mg
Vitamin B8 (Inositol)
25 mg
Vitamin B12
50 mg
4
Royal jely
2 mg
5
1,3,7 Trimethylxantine
50 mg
6
Pemanis buatan seperti Aspartame, Acesulfame-K.
7
Penguat rasa Sod Bicarbonat, Citric Acid.
8
Pewarna buatan Sunset Yellow (Cl 15985)
A. Taurine
Salah satu derivat asam amino sitein. (Sandjaja.dkk, 2009). Taurine adalah
asam amino detoksifikasi yang memberikan efek seperti glisin dalam menetralkan
semua jenis toksin (xenobiotik) berbahaya. Manfaat lain taurine adalah sebagai
pengendali neurotransmiter yang dapat mencegah kejang. Suplementasi taurine
bersamaan dengan multivitamin dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan
memulihkan stamina setelah sembuh dari sakit. Dalam produk minuman pembangkit
tenaga (energy drink), taurine digunakan sebagai unsur utama (Yuliarti, 2008).
Termasuk asam amino nonesensial yang terdapat dalam sel darah putih, cairan
otot rangka, otot jantung dan syaraf. Dalam makanan sehari-hari, taurine dapat
ditemukan pada daging dan ikan. Taurine bermanfaat membantu penyerapan lemak,
penyerapan vitamin A, D, E dan K, memelihara membran sel, menurunkan
kecemasan, mengatasi hiperaktif, meningkatkan fungsi otak, bersama zink
Universitas Sumatera Utara
39
memelihara kesehatan mata. Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai dampak
negatif pemakaian taurine (Irianto, 2007).
B. Ginseng
Ginseng merupakan bahan berupa akar-akaran dari korea yang mengandung
dametrene triol glikosida, mempunyai efek merangsang sekresi adrenalin dalam
tubuh sehingga membuat orang lebih aktif.
Ginseng biasanya dikonsumsi dalam bentuk cairan, kapsul, obat-obatan
maupun jamu. Sampai saai ini belum ada larangan penggunaan ginseng bagi
olahragawan (Irianto, 2007).
C. Vitamin B1 (Thiamine)
Merupakan salah satu bagian dari vitamin B kom-pleks yang mempunyai
peran utama dalam okidasi lemak, karbohidrat, dan asam amino, terutama
karbohidrat. Setiap sel dalam tubuh membutuhkan vitamin B1 untuk membentuk
adenosine triphosphate (ATP). Vitamin B1 juga penting untuk sel-sel saraf agar
dapat berfungi dengan baik (Sandjaja.dkk, 2009). Sumber vitamin B1 adalah padipadian utuh (seperti beras pecah kulit), daging, hati, limpa, jantung, ragi.
D. Vitamin B2 (Riboflavin)
Merupakan komponen penting dari dua enzim utama dalam produksi energi
pada metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, menjaga fungsi reproduksi,
kesehatan mata, kesehatan kulit, kuku, rambut, mulut, bibir dan tenggorokan
(Yuliarti, 2008). Kekurangan vitamin B2 menyebabkan angular stomatis, cheilosis
(sariawan), glositis (radang lidah). Sumber utama vitamin B2 adalah susu, ragi, telur,
keju, hati, kacang-kacangan.
Universitas Sumatera Utara
40
E. Vitamin B3 (Niasin)
Merupakan vitamin penurun lemak yang mencegah penyakit jantung dengan
menurunkan kadar kolesterol, memperbaiki aliran darah, mencegah penyakit jantung
(Yuliarti, 2008). Disebut juga asam nikotinat merupakan salah satu bagian dari
vitamin B kompleks yang berperan untuk melakukan respirasi sel dan membantu
melepaskan energi dalam karbohidrat, lemak dan protein. Hal ini terjadi karena
perannya dalam pembentukan koenzim NAD (nikotinamid adenin dinukleotida
fosfat) sebagai bawaan hidrogen dalam reaksi oksidasi dan reduksi dalam sel. Selain
itu juga vitamin B3 berperan dalam sirkulasi darah, kesehatan kulit, membantu fungsi
sistem saraf, sekresi getah empedu dan asam lambung, meningkatkan kemampuan
memori, sintesis hormon seks, pengobatan shcizophrenia dan penyakit-penyakit
mental lainnya (Sandjaja.dkk, 2009).
F. Vitamin B5 (Asam Pantotenat)
Berfungsi sebagai koenzim A yang berperan dalam metabolisme karbohidrat,
lemak, protein (Yuliarti, 2008). Vitamin B5 berperan dalam sintesis neurotranmitter,
yaitu asetilkolin, memicu kelenjar adrenalin, sintesis kolesterol, vitamin D, dan
hormon steroid. Jarang ditemukan penyakit defisiensi vitamin B5, tetapi penelitian
eksperimen yang dibuat kekurangan vitamin B5 dalam makanannya menunjukkan
tanda cepat lelah, sakit kepala, kelemahan otot, dan gangguan pencernaan. Sumber
utama vitamin B5 dalam makanan adalah hati, limpa, sayuran segar (Sandjaja.dkk,
2009).
Universitas Sumatera Utara
41
G. Vitamin B6 (Piridoksin)
Salah satu vitamin larut air dan merupakan salah satu bagian dari vitamin B
kompleks, mempunyai 3 bentuk yaitu piridoksin, piridoksal dan piridoksamin.
Vitamin B6 mempunyai fungsi penting sebagai koenzim pada reaksi yang melibatkan
asam amino, pada sintesis antibodi dalam sitem kekebalan tubuh, sintesis sistein dan
metionoin, sintesis porfirin (bagian heme yang mengandung zat besi), sintesis niasin
dari triptofan membantu mempertahankan fungsi saraf dan juga berperan dalam
pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin B6 juga dibutuhkan dalam reaksi kimia
yang diperlukan untuk mencerna protein. Semakin tinggi asupan protein semakin
tinggi kebutuhan vitamin B6. Kekurangan vitamin B6 ini dapat menyebabkan
gangguan metabolisme asam amino, sariawan mulut dan lidah, iritasi dan depresi
(Sandjaja.dkk, 2009).
H. Vitamin B8 (Inositol)
Merupakan isomer alkohol, terdapat pada tanaman dan jaringan binatang
(Irianto, 2007). Inositol berperan penting dalam kesehatan membran sel terutama selsel khusus di otak, sumsum tulang, mata dan usus. Konsentrasi yang adil inositol
ditemukan dalam lensa mata manusia serta hati. Fungsi membran sel adalah untuk
mengatur isi sel, yang membuat berfungsi efektif. Inositol mempengaruhi transmisi
saraf dan membantu dalam pengangkutan lemak dalam tubuh. Karena dapat
disentesis oleh tubuh, inositol tidak dianggap sebagai vitamin (Sandjaja.dkk, 2009).
I. Vitamin B12 (Ciano Kobalamin)
Salah satu vitamin larut air yang berfungsi dalam menjaga aktifitas sistem
saraf pusat, sintesis DNA dan asam lemak, pembelahan sel, metabolisme sel dalam
Universitas Sumatera Utara
42
pelepasan energi, dan pembentukan darah. Selain itu, berperan dalam metabolisme
asam folat dan vitamin B6 untuk mengontrol kadar homosisteine. Bahan makanan
sumber vitamin B12 adalah makanan hewani seperti produk susu, daging, ikan,
unggas, dan telur (Sandjaja.dkk, 2009).
J. Royal Jely
Cairan kental yang dihasilkan lebah muda sebagai bahan makanan larva lebah
dan makanan khusus ratu lebah ini telah terbukti mampu membunuh bakteri dalam
tes laboratorium. Zat ini juga mengandung protein dan vitamin C dan diklaim mampu
meningkatkan kekebalan tubuh meski belum ada bukti yang solid.
K. 1,3,7 Trimethylxantine
Adalah inhibitor kompetitif AMP siklik. Ia memblok enzim tertentu yang
mencegah dari peningkatan dalam sel. Hal inilah, memberikan jalan bagi c-AMP dan
memungkinkan untuk melakukan tugasnya. Nafsu makan menjadi meningkat dan
penambahan energi (Anonim, 2008).
L. Aspartame
Adalah pemanis buatan. Meskipun telah kira-kira sama jumlah kalori per
gram sebagai gula meja (sukrosa), adalah sekitar 200 kali lebih manis.
Penggunaannya dalam minuman berkarbonasi akhirnya disetujui pada tahun 1983,
setelah selama satu dekade pertempuran melawan keberatan Dr. John Olney (a
neuroscience peneliti), James Turner (konsumen pengacara) dan penyelidikan
terhadap praktek-praktek penelitian GD Searle. Dua dari komponen-komponen
aspartam (fenilalanin dan asam aspartat) yang kiral, yang berarti bahwa mereka
memiliki dua isomer yang non-superimposable bayangan cermin. Ini berarti bahwa
Universitas Sumatera Utara
43
molekul aspartam akhir akan memiliki dua pusat stereogenik. Jika salah enantiomer
digunakan, molekul aspartam tidak akan memiliki bentuk yang benar agar sesuai
dengan situs pengikatan 'manis' reseptor pada lidah (Harrison, 2001).
Aspartame tersusun oleh asam amino sehingga di dalam tubuh akan
mengalami metabolisme seperti halnya asam amino pada umumnya. Bagi penderita
penyakit keturunan yang berhubungan dengan kelemahan mental (phenil keton urea /
PKU) dilarang untuk mengkonsumsi aspartam karena adanya fenilalanin yang tidak
dapat dimetabolisme oleh penyakit tersebut. Kelebihan fenilalanin di dalam tubuh
penderita PKU diduga dapat menyebabkan kerusakan otak dan pada akhirnya akan
mengakibatkan cacat (Cahyadi, 2006).
Konsumsi harian yang aman untuk orang dewasa adalah 40 mg/kg berat
badan. Peraturan Menkes No. 722 tahun 1988 tidak menyebutkan jumlah aspartam
yang boleh ditambahkan ke dalam bahan pangan. Hal ini berarti aspartam masih
dianggap aman untuk dikonsumsi (Cahyadi, 2006).
Mengacu pada asam amino pembentuk aspartam maka aspartam bukanlah
termasuk suatu bahan pemanis nonkalori karena seperti protein, aspartam
dimetabolisme menjadi asam amino-asam amino penyusunnya dan memiliki nilai
energi 4 kkal/g. Tetapi karena dalam penggunaannya 100 g sukrosa dapat diganti
dengan 1 g aspartam maka dapat dikatakan bahwa aspartam bukan merupakan bahan
pemanis nonkalori (Cahyadi, 2006).
M. Acesulfame-K
Ditemukan pada tahun 1967 oleh Hoechst AG, Acesulfame kalium (juga
dikenal sebagai Acesulfame K) adalah intensitas tinggi, pemanis non-kalori. Ini
Universitas Sumatera Utara
44
adalah kira-kira 200 kali lebih manis daripada sukrosa. Acesulfame K telah bersih,
cepat dimengerti, rasa manis yang tidak berlama-lama atau meninggalkan aftertaste.
Acesulfame K tidak dimetabolisme oleh tubuh dan diekskresikan tidak berubah.
Acesulfame K saat ini digunakan di ribuan makanan, minuman, kesehatan gigi dan
produk farmasi di sekitar 90 negara. Di antaranya adalah meja pemanis, makanan
penutup, puding, dipanggang, minuman ringan, permen dan makanan kaleng.
Minuman yang mengandung acesulfame-K dapat dipasteurisasi dibawah kondisi
normal tanpa kehilangan rasa manis. Pencampuran dengan pemanis lain, khususnya
aspartam dan siklamat dapat meningkatkan intensitas kemanisannya. Tetapi bila
dicampurkan dengan akarin malah sebaliknya. Acefulfame-K tidak meninggalkan
rasa manis di mulut terlalu lama dan tidak meninggalkan ’lingering aftertaste’.
Aturan pemakaian 15 mg/kg berat badan (WHO). Biasa digunakan pada produk
permen rendah gula, minuman ringan, yogurt, sirup, dan lain-lain (Riandini, 2008).
Meskipun pemanis buatan ini banyak digunakan dan telah mengantungi izin dari
FDA (Food and Drug Asociation), tetapi kecaman terhadap acesulfame-K sama
kerasnya seperti pada sakarin. Karena acesulfame-K ini memiliki bahan yang serupa
dengan sakarin (Khomsan, 2008).
N. Sodium Bicarbonat
Dikenal juga sebagai soda kue atau NaHCO3. Ion bikarbonat dari soda kue ini
bereaksi dengan asam, yang menghasilkan asam karbonat, H2CO3. Dalam larutan,
asam karbonat akan terdekomposisi menghasilkan air dan gas karbon dioksida (CO2),
gas yang sama seperti dalam minuman bersoda coca cola dan fanta. Buih yang
muncul ketika tablet dimasukkan dalam air merupakan gelembung gas CO2 yang
Universitas Sumatera Utara
45
keluar dari larutan. Sodium bikarbonat dalam air akan larut sempurna menghasilkan
ion sodium dan ion bikarbonat. Dalam air ion bikarbonat berkeseimbangan dengan
asam karbonat dengan harga Ka yang relatif kecil (4,7 x 10-11). Ini menunjukkan
bahwa pembentukan asam karbonat tidak terlalu banyak dalam medium air netral
(Hidayat, 2009).
Berbeda kalau dalam suasana asam, seperti dalam larutan tablet yang juga
mengandung asam itu, pembentukan asam karbonat menjadi dominan, Ka= 4,4 x 107,
serta langsung terurai menjadi gas CO2 dan air. Gas CO2 inilah yang tampak sebagai
buih ketika tablet dimasukkan ke dalam air minum (Hidayat, 2009).
O. Citric Acid (Asam Sitrat)
Dengan rumus molekul C6H8O7 sering disebut juga sebagai asam jeruk. Buah
jeruk yang biasa digunakan untuk memberi rasa asam dan segar pada makanan dan
minuman ini contohnya jeruk nipis, jeruk lemon dan jeruk purut (Riandini. 2008).
Asam sitrat merupakan asam organik yang merupakan hasil dari metabolisme antara,
terdapat pada tanaman dan daging. Asam sitrat diproduksi secara komersial dari
fermentasi gula oleh Aspergillus niger yang didapat dari buah itrus, digunakan
sebagai pengasam dan Bahan Tambahan Pangan (BTP) perisa/ penyedap (Sandjaja.
dkk, 2009). Penambahan asam sitrat pada makanan atau minuman menjadikannya
beraroma dan memiliki rasa sari jeruk. Asam sitrat dikategorikan aman digunakan
pada makanan oleh semua badan pengawasan makanan nasional dan internasional.
Karena senyawa ini secara alami terdapat pada semua jenis mahluk hidup, dan
kelebihan asam sitrat pun dengan mudah dimetabolisme dan dihilangkan dari tubuh
melalui urin (Riandini, 2008).
Universitas Sumatera Utara
46
P. Sunset Yellow (Cl 15985)
Dikenal dengan Orange Yellow S, atau FD&C yellow 6, merupakan turunan
dari coal tar. Kode pewarna E 110 ( Riandini, 2008).
2.4 Stamina Altet Sepakbola
Stamina atau daya tahan,
berarti kemampuan tubuh untuk melanjutkan
aktivitas kebugaran untuk waktu yang lama (Anomin, 2009). Pengaturan sumber
karbohidrat yang merupakan salah satu zat gizi utama bagi tubuh, secara alamiah
akan mempertahankan stamina atlet selama pertandingan (Hidayat, 2007).
Stamina (kesegaran jasmani) atau disebut juga dengan daya tahan tubuh dapat
dibagikan menjadi 3 kategori, yaitu kesegaran jasmani statis (static), dinamis
(dynamice), dan keterampilan motorik (motor skills). Kesegaran jasmani statis artinya
ketidakadaan atau keadaan terbebas dari kecacatan atau penyakit. Kesegaran jasmani
dinamis atau fungional artinya kemampuan untuk melakukan pekerjaan fisik yang
berat. Sementara itu kesegaran jasmani keterampilan motorik adalah kemampuan
untuk melakukan gerakan koordinasi yang kompleks.
Kesegaran jasmani dipengaruhi beberapa variabel, antara lain :
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Tingkat konsumsi makanan
4. Keteraturan latihan
Semakin tinggi derajat kesegaran jasmani seseorang, semakin besar
kemampuan fisiknya dan produktivitas kerjanya. Salah satu cara untuk mencapai
derajat kesegaran jasmani yang prima adalah dengan cara melakukan latihan –latihan
Universitas Sumatera Utara
47
fisik. Latihan-latihan fisik dapat dipilih dan disenangi, digemari dan syukur bila dapat
menimbulkan kepuasan diri (Fakultas Ilmu Keolahragaan, 2007).
2.4.1 Indikator Pengukuran Stamina Atlet
Menurunnya stamina atlet ditandai dengan mulai timbulnya gejala-gejala
kelelahan, seperti otot yang seolah-olah menjadi tidak bertenaga, jantung berdegup
kencang, serta napas yang naik turun secara tidak teratur. Secara umum, timbulnya
gejala-gejala kelelahan tersebut disebabkan oleh pengeluaran cairan (keringat) dan
penurunan cadangan glikogen pada tubuh. Gejala-gejala kelelahan akan lebih sering
terjadi terutama jika aktivitas berolahraga tersebut dilakukan pada selang waktu yang
panjang, atau jenis olahraganya mengharuskan tubuh melakukan aktivitas lebih besar.
Cara yang dapat digunakan untuk mengukur stamina atlet adalah
menggunakan tes kesegaran jasmani yaitu tes yang dilakukan untuk melihat kondisi
jasmani dengan melihat kemampuan dan kesanggupan untuk bekerja secara optimal
dan efisien. Tes kesegaran jasmani (TKJI) ini dapat diterapkan pada anak yang
berumur >16 tahun. Ada beberapa tes yang dilakukan antara lain lari 50 m, gantung
angkat tubuh, baring duduk, loncat tegak, dan lari 1000 m. Adapun penilaian yang
dilakukan yaitu mengukuran waktu lari 50 m dalam hitungan detik, gantung angkat
tubuh dalam hitungan banyak, baring duduk dalam hitungan hitungan, loncat tegak
dalam hitungan banyak dan lari 1000 m dalam hitungan menit. Dapat dinilai dengan
tabel sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
48
Tabel 2.7. Tabel nilai TKJI untuk Putera
Nilai Lari 50 m Gantung
Baring
(detik)
Angkat Tubuh
Duduk
5
<7,2
> 19
> 41
4
7,3 – 8,3
14 – 18
30 – 40
3
8,4 – 9,6
9 – 13
21 – 29
2
9,7 – 11
5–8
10 – 20
1
> 11,1
0–4
0–9
Sumber : Fakultas Ilmu Keolahragaan, 2007.
Loncat Lari
Tegak
1000 m (menit)
> 73
< 3, 14
60 – 72
3,15 – 4,25
50 – 59
4,26 – 5,12
39 – 49
5, 13 – 6,33
< 38
> 6,34
Dari tabel di atas dapat dikategorikan nilai untuk melihat stamina dari para
atlet antara lain :
Tabel 2.8. Ketegori Nilai Untuk Stamina Atlet Sepakbola
Nilai
Jumlah Nilai
Kategori
5
22 – 25
Baik Sekali
4
18 – 21
Baik
3
14 – 17
Sedang
2
10 – 13
Kurang
1
5–9
Kurang Sekali
Sumber : Fakultas Ilmu Keolahragaan, 2007.
2.5. Kerangka Konsep
Tingkat konsumsi
energi
Suplemen
Stamina
Keteraturan
latihan
Keterangan : Tinggi rendahnya stamina dipengaruhi oleh tingkat konsumsi energi
dan keteraturan latihan dari atlet itu sendiri. Di samping kedua hal
tersebut terkadang seorang atlet juga mengkonsumsi suplemen, hal
inilah yang ingin dilihat oleh peneliti apakah suplemen bisa
Universitas Sumatera Utara
49
memberikan pengaruh terhadap stamina atlet di samping tingkat
konsumsi makanan dan keteraturan latihan.
2.6. Hipotesis Penelitian
Ho : Tidak ada pengaruh pemberian extra joss terhadap stamina atlet sepakbola
Ha : Ada pengaruh pemberian extra joss terhadap stamina atlet sepakbola
Universitas Sumatera Utara
Download