PENGELOLAAN PENILAIAN SIKAP SOSIAL DALAM

advertisement
PENGELOLAAN PENILAIAN SIKAP SOSIAL DALAM PEMBELAJARAN
MUATAN LOKAL BAHASA JAWA
DI KELAS II SDN BAYAN NO 216 SURAKARTA
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Pascasarjana pada
Jurusan Magister Administrasi Pendidikan
Oleh:
RUVINA WINDARISNI
NIM : Q 100140051
PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
HALAMAN PERSETUJUAN
PENGELOLAAN PENILAIAN SIKAP SOSIAL DALAM
PEMBELAJARAN MUATAN LOKAL BAHASA JAWA DI KELAS II
SDN BAYAN NO 216 SURAKARTA
PUBLIKASI ILMIAH
Oleh:
RUVINA WINDARISNI
NIM. Q 100140051
Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh:
Dosen Pembimbing I
Prof . Dr. Sutama, M. Pd
Dosen Pembimbing II
Dr. Wafrotur Rohmah, MM
i
HALAMAN PENGESAHAN
PENGELOLAAN PENILAIAN SIKAP SOSIAL DALAM
PEMBELAJARAN MUATAN LOKAL BAHASA JAWA DI KELAS II
SDN BAYAN NO 216 SURAKARTA
Oleh:
RUVINA WINDARISNI
NIM. Q 100140051
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Program Pascasarjana Program
Studi Magister Administrasi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari Selasa, 2 Agustus 2016
dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Dewan Penguji:
1. Prof. Dr. Sutama, M. Pd
(
)
(
)
(
)
( Ketua Dewan Penguji)
2. Dr. Wafrotur Rohmah, MM
( Anggota I Dewan Penguji)
3. Dr. Sofyan Anif, M. Si
( Anggota II Dewan Penguji)
Direktur
Sekolah Pasca sarjana
Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, M. Hum
ii
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tesis ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar magister di suatu perguruan tinggi
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam
naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas,
maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.
Surakarta,
Juli 2016
Penulis
Ruvina Windarisni
Q 100140051
iii
PENGELOLAAN PENILAIAN SIKAP SOSIAL DALAM
PEMBELAJARAN MUATAN LOKAL BAHASA JAWA DI KELAS II
SDN BAYAN NO 216 SURAKARTA
Ruvina Windarisni
Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Email: [email protected]
Abstrak
Latar belakang dari penelitian ini adalah bahwa nilai-nilai moral belum menjadi prioritas utama
dalam pendidikan. Pendidikan selama beberapa dekade ini bertumpu pada satu aspek intelektual
saja. Penilaian sikap sosial terkait dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia,
mandiri, demokratis dan bertanggung jawab. Untuk itu dalam penelitian ini membahas bagaimana
pengelolaan sikap sosial dalam pembelajaran muatan lokal bahasa Jawa. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mendeskripsikan pengelolaan Penilaian Sikap Sosial dalam Pembelajaran Muatan
Lokal Bahasa Jawa di Kelas II SDN Bayan No 216 Surakarta yang dilakukan oleh Guru, untuk
mendeskripsikan pengelolaan Penilaian Sikap Sosial dalam Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa
Jawa di Kelas II SDN Bayan No 216 Surakarta yang dilakukan oleh siswa Jenis penelitian ini
adalah kualitataif deskriptif dengan desain studi kasus. Tempat penelitian ini di Kelas II SDN
Bayan No 216 Surakarta. Waktu penelitian ini dilaksanakan dari bulan September 2015 – Maret
2016. Data dalam penelitian ini adalah data primer yaitu kata-kata, data observasi, data sekunder
adalah dokumen. Sumber Data menggunakan kata-kata, dokumen. Nara sumber adalah Kepala
Sekolah, Guru Kelas 2 A, Guru Kelas 2B. Teknik pengumpulan data melalui observasi,
wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis menggunakan analisis interaktif. Keabsahan
data menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Hasil penelitian pengelolaan sikap sosial yang
dilakukan oleh guru meliputi observasi dan jurnal. Pelaksanaannya meliputi perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi. Pengelolaan penilaian sikap sosial yang dilakukan oleh siswa meliputi
penilain diri dan penilain antar teman. Pelaksanaannya dilakukan secara sederhana yaitu secara
lisan dan masih dibimbing guru. Kesimpulan pengelolaan penilaian sikap sosial yang dilakukan
oleh guru meliputi Observasi dan Jurnal. Penilaian sikap yang dilakukan oleh guru sudah berjalan
dengan baik dan dilaksanakan dengan baik. Pengelolaan penilaian sikap sosial yang dilakukan oleh
siswa meliputi penilaian diri dan penilaian antar teman. Penilaian oleh siswa belum berjalan
dengan baik.
Kata Kunci : bahasa jawa, pengelolaan, penilaian, sikap sosial
Abstrack
Therefore in this study discusses how social attitudes in the management of local content lessons
Java language . The purpose of this study is to describe the management of Assessment attitude of
Social in Education Local Content Java language in second grade of SDN Bayan No. 216
Surakarta did by Master , to describe the management of Assessment attitude of Social undertaken
in Learning Local Content Java language in second grade of SDN Bayan No. 216 Surakarta by
students. This research is using qualitative descriptive case study design . This research was done
in second grade of SDN Bayan No. 216 Surakarta . The study was done from September 2015 March 2016. The data in this study are primary data are using words , observation data ,
secondary data is the document . Data Source using the words , documents . The resource person
were the Principal , Teacher 2 A , Teacher 2B and Headmaster. The technique of collecting data
through observation , interviews and documentation study . Mechanical analysis is using
interactive analysis . The validity of the data are using a triangulation of sources and methods . The
1
results of the research management of social attitudes carried out by teachers include observation
and journals . Its implementation includes planning , implementation and evaluation . Management
assessment of social attitudes was done by students include self assessment and peer assessment .
The simply implementation is done orally and still guided by teachers. Conclusion The
management of social attitudes assessment carried out by teachers include observations and
Journal . Attitude assessment done by teachers has been going well and implemented properly .
Management assessment of social attitudes conducted by students include self-assessment and peer
assessment . Assessment by the students has not gone well .
Keywords : Java language , management , assessment , social attitudes
1. PENDAHULUAN
Di dalam proses belajar mengajar tentunya banyak kegiatan yang dilakukan oleh
guru dari perencanaan, pelaksanaan sampai kepada penilaian. Hal ini tak bisa
dihindari karena penilaian sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses
kegiatan belajar mengajar. Dengan penilaian diharapkan guru dapat mengetahui
apakah siswa dapat menguasai kompetensi yang telah diajarkan. Dalam setiap
kurikulum tentunya memiliki pedoman penilaian yang berbeda-beda. Begitu juga
di dalam kurikulum 2013.
Di dalam kurikulum 2013 terdapat 4 Kompetensi Inti (KI) yang harus
dikuasai. Kompetensi yang erat hubungannya dengan karakter, akhlak, dan moral
siswa, yang salah satunya adalah kompetensi sikap. Kompetensi sikap di bagi
menjadi sikap spiritual dan sikap sosial. Sikap spiritual terkait dengan
pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa. Sedangkan sikap sosial
terkait dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri,
demokratis, dan bertanggung jawab. Penilaian sikap sosial di Sekolah Dasar
memiliki porsi yang lebih besar dibanding penilaian lain.
Penilaian sikap sosial erat hubungannya dengan pembentukan karakter
siswa. Pendidikan karakter menjadi momentum dalam rangka mengembangkan
pendidikan secara lebih luas. Giorgetti, dkk ( 2013). Design of a Specific Quality
Assessment Model for Distance Education. Dalam penelitian ini menyatakan
bahwa penilaian dilakukan untuk mengidentifikasi masalah atau tujuan tercapai
tidaknya suatu pendidikan dan untuk menyarankan perbaikan pendidikan.
Penilaian sikap sosial juga dilakukan dalam pembelajaran Bahasa Jawa
karena Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah wajib bagi sekolah di Jawa Tengah
2
terutama di Surakarta. Penilaian dalam pembelajaran Bahasa Jawa memiliki
keunikan disbanding pembelajaran lain. Penilaian bisa dilakukan menggunakan
berbagai pendekatan, metode. Bahasa Jawa memiliki kekhasan tersendiri bagi
warga Surakarta karena menjadi satu-satunya bahasa daerah yang diajarkan.
Selain mulok wajib, di dalam mata pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa banyak
sekali nilai-nilai luhur dan pendidikan budi pekerti yang baik dalam pembentukan
sikap siswa. Bahasa Jawa banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari siswa di
SDN Bayan ini. Melalui pembelajaran Bahasa Jawa guru dapat menyisipkan
nilai-nilai karakter yang baik bagi siswa.
Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini ada 2 yaitu untuk
mendeskripsikan pengelolaan penilaian sikap sosial dalam pembelajaran muatan
lokal bahasa Jawa di kelas 2 SDN Bayan No 216 Surakarta yang dilakukan oleh
guru. Untuk mendeskripsikan pengelolaan penilaian sikap sosial dalam
pembelajaran muatan lokal bahasa Jawa di kelas 2 SDN Bayan No 216 Surakarta
yang dilakukan oleh siswa.
Secara teoritis penelitian ini
diharapkan memiliki manfaat untuk
memberikan gambaran tentang pelaksanaan penilaian sikap sosial pada
pembelajaran muatan lokal bahasa Jawa yang dilakukan oleh guru dan oleh siswa.
Manfaat praktis yang diharapkan dalam penelitian ini bagi sekolah hasil penelitian
ini dapat digunakan sebagai masukan dalam merumuskan kebijakan dalam
pengelolaan penilaian sikap sosial, bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan
untuk peningkatan dalam pengembangan penilaian sikap sosial di kelasnya, bagi
siswa hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menumbuhkan sikap sosial dan
menumbuhkan karakter yang baik, bagi peneliti hasil penelitian ini dapat
digunakan sebagai bahan rujukkan untuk penelitian yang akan datang.
Kusaeri (2012: 8) Penilaian adalah suatu prosedur sistematis dan
mencakup kegiatan mengumpulkan, menganalisis, serta menginterprestasikan
informasi yang dapat digunakan untuk membuat kesimpulan tentang karakteristik
seseorang atau obyek.
Menurut Kusaeri (2012: 187) Sikap merupakan suatu konsep psikologi
yang kompleks. Sikap merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat
3
mempengaruhi seseorang terhadap benda-benda, kejadian-kejadian atau makhluk
hidup lainnya.
Penilaian sikap sosial merupakan salah satu penilaian autentik. Penilaian
sikap sosial merupakan istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai
metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat mendemontrasikan
kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan menyelesaikan masalah
(Kemendikbud, 2014).
Kunandar ( 2014: 104) mengemukakan bahwa penilaian sikap sosial
adalah penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur tingkat pencapaian
kompetensi sikap dari peserta didik yang meliputi aspek menerima atau
memerhatikan ( receiving atau attending), merespons atau menanggapi(
responding), menilai atau menghargai ( valuing), mengorganisasi atau mengelola (
organization), dan berkarakter ( characterization )
Dalam Permendikbud ( 2014) pasal 2 disebutkan bahwa muatan lokal
merupakan bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi
muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang
dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap keunggulan
dan kearifan di daerah tempat tinggalnya. Muatan lokal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diajarkan dengan tujuan membekali peserta didik dengan sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk: a. mengenal dan mencintai
lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual di daerahnya. b. melestarikan dan
mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan
lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
2. METODE
Jenis penelitian Deskriptif kualitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah
studi kasus dengan objek penelitian berupa pelaksanaan penilaian sikap sosial.
Penelitian ini dilakukan di kelas 2 SD Negeri Bayan No 216. Waktu Penelitian,
penelitian ini dilaksanakan dari bulan September 2015- Maret 2016. Data primer
adalah kata-kata hasil wawancara, data hasil observasi. Sedangkan data sekunder
adalah data yang tidak langsung diperoleh peneliti, misalnya dokumen, arsip.
4
Sumber Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, dokumen. Nara sumber di sini
adalah Kepala Sekolah, Guru Kelas 2, dan guru lain yang dianggap peneliti
mampu memberikan data yang tepat. Teknik pengumpulan data yang utama
adalah Observasi, wawancara mendalam terhadap nara sumber dan studi
dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data
interaktif model Miles dan Huberman. Untuk memperoleh data yang akurat maka
diperlukan trianggulasi data. Pada penelitian ini menggunakan trianggulasi
sumber data, trianggulasi metode
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
SDN Bayan No 216 yang menggunakan kurikulum yang berbeda dengan sekolah
lain yaitu kurikulum 2013 dimana belum semua sekolah menggunakan kurikulum
2013 ini. Dalam Kurikulum 2013 menggunakan penilaian authentik. Penilaian di
SDN Bayan masih menggunakan permendikbud No 23 Tahun 2016. Penilaian
sikap sosial dilakukan oleh guru dan siswa.
Pelaksanaan penilaian sikap sosial pelaksanaannya terintegrasi dalam
pembelajaran. Dalam penilaian sikap sosial guru menggunakan observasi dan
jurnal. Sedangkan siswa melakukan penilaian diri dan penilaian antar teman.
Pelaksanaan penilaian sikap sosial terintegrasi dalm pembelajaran. Namun
sebelum menilai guru membuat dahulu perencanaan yaitu guru menentukan
terlebih dahulu kompetensi sikap yang akan dinilai melalui observasi yaitu sikap
jujur, sikap tanggung jawab, sikap percaya diri, sikap kerjasama, sikap santun atau
sikap peduli. Kemudian guru menyusun indikator sikap yang sesuai dengan
kompetensi yang diukur. Memilih teknik penilaian. Menentukan teknik pencatatan
sikap misalnya dengan skor 1,2,3.4.
Sebelum melakukan observasi guru menyiapkan standar isi, silabus dan
RPP pembelajaran. Sebelum melaksanakan penilaian ada beberapa hal yang
dilakukan yaitu guru terlebih dahulu menyampaikan kompetensi sikap yang perlu
dicapai peserta didik, guru menyampaikan kriteria penilaian dan indikator sikap,
guru melakukan pengamatan tampilan sikap siswa.
5
Pada tahap akhir guru melakukan analisis, merekap hasil observasi dan
membuat kesimpulan terhadap hasil penilaian. Hasil observasi direkap dan
dikonversikan dalam bentuk deskripsi. Nilai yang dideskripsikan adalah nilai yang
terendah dan yang tertinggi.
Selain penilaian sikap sosial dengan observasi guru juga menilai dengan
jurnal catatan. Sedangkan penilaian dengan jurnal hampir sama dengan observasi.
Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi hasil
pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan
sikap dan perilaku. Catatan dalam jurnal dapat berupa informasi tentang sikap
siswa di dalam maupun di luar kelas. Catatan jurnal secara tertulis dan dijadikan
pedoman bagi guru untuk melakukan pembinaan ataupun bimbingan terhadap
peserta didik.
Sebelum menilai dengan jurnal guru perlu mempersiapkan perencanaan
terlebih dahulu yaitu menentukan sikap atau perilaku yang akan dinilai, dan
mempersiapkan jurnal untuk pencatatan. Dalam pelaksanaan penilaian dengan
jurnal ini terintegrasi juga dalam pembelajaran. Pada pelaksanaan penilaian
dengan jurnal ini guru mengamati
sikap siswa selama pembelajaran, guru
mencatat sikap siswa dalam jurnal dengan kata-kata .
Pada tahap pelaksanaan dengan jurnal terintegrasi dalam pembelajaran KI
3 dan KI 4. Guru mengamati semua siswa satu kelas, guru membuat catatan
tentang sikap siswa dan perilaku siswa baik di dalam maupun di luar sekolah,
mencatat sikap siswa sesuai indikator dan mencatat sesuai tanggal urutan
kejadian. Pada tahap akhir guru memberikan umpan balik dalam penilaian.
Umpan balik dijadikan dasar dalam penentuan sikap siswa mana yang baik dan
kurang baik dan yang perlu untuk ditingkatkan
Hasil temuan penilaian sikap dengan jurnal ini dapat dilakukan dengan
pendekatan kontekstual misalnya dalam hal sikap disiplin, sikap jujur. Selain itu
juga pendekatan kooperatif misalnya untuk menilai sikap tanggung jawab,
kerjasama.
Penilaian sikap sosial selain dilakukan oleh guru juga dilakukan oleh
siswa. Penilaian oleh siswa ini adalah penilaian diri dan penilain antar teman.
6
Namun dalam pelaksanaannya penilaian oleh siswa masih memberatkan bagi
siswa kelas dua sehingga pelaksanaannya dilakukan secara sederhana.
Pelaksanaan penilaian sikap sosial yang dilakukan oleh siswa pelaksanaannya
terintegrasi dalam pembelajaran.
Pada tahap perencanaan penilain diri dan penilain antar teman ada hal hal
yang harus diperhatikan guru yaitu aspek aspek yang mau dinilai harus jelas, cara
dan prosedur yang digunakan harus jelas, menentukan cara mengolah dan
menentukan hasil penilaian.
Pada tahap pelaksanaan hal hal yang harus dilakukan guru yaitu guru
menyampaikan kriteria penilain kepada siswa, membagikan format penilaian,
meminta siswa untuk menilai diri. Namun karena kemampuan anak kelas 2 masih
kurang memahami dalam penilain diri dan penilain antar teman guru membimbing
siswa melalui tanya jawab dan mencatat di instrument yang digunakan guru. Pada
tahap akhir guru membuat kesimpulan terhadap penilain antar peserta didik.
Hasil temuan pembelajaran Bahasa Jawa dapat menumbuhkan karakter
siswa yang disisipkan dalam materi materi Bahasa Jawa seperti dongeng, cerita
rakyat dan figure dari tokoh-tokoh pewayangan.
Berdasarkan hasil temuan penelitian, penilaian sikap sosial yang dilakukan
oleh guru
meliputi observasi dan jurnal. Penilaian dengan observasi ini
terintegrasi dalam pembelajaran. Dalam penilaian dengan observasi dan jurnal ini
guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran. Sutama, dkk ( 2015) Pada
penelitian ini menyatakan bahwa penilaian pada aspek afektif dilakukan dengan
pengamatan, jurnal guru, penilaian sendiri dan penilaian dari rekan. Hasil
penelitian ini dapat dimaknai bahwa pada aspek afektif guru menggunakan
pengamatan dalam penilaian sikap sosial yang dilakukan oleh guru.
Sebelum melakukan observasi guru menyiapkan standar isi, Silabus dam
membuat RPP pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan.
Kawiyono (2014) bahwa dalam kurikulum KKPI guru membuat program tahunan
dan program semester yang menjadi acuan dalam pelaksanaan pembelajaran.
Hasil penelitian ini dapat dimaknai bahwa dalam pembelajaran guru perlu
7
menyiapkan administrasi pembelajaran dalam mengajar sehingga sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Berdasarkan hasil temuan pelaksanaan penilaian sikap sosial dengan
observasi terintegrasi dalam pembelajaran. Namun sebelum menilai guru
membuat dahulu perencanaan yaitu guru menentukan terlebih dahulu kompetensi
sikap yang akan dinilai melalui observasi yaitu sikap jujur, sikap tanggung jawab,
sikap percaya diri, sikap kerjasama, sikap santun atau sikap peduli.
Guru
menyusun indikator sikap yang sesuai dengan kompetensi yang diukur dan
membuat instrument pengamatan. Stearns, dkk (2012) pada penelitian ini
menggunakan instrumen observasi untuk memberikan umpan balik kepada guru
dan pemangku kepentingan lainnya , dan tindak lanjut saran bagi mereka yang
terlibat dalam pengembangan profesional . Dari hasil penelitian tersebut dapat
dimaknai bahwa dalam penilaian dengan observasi perlu terlebih dahulu membuat
instrument yang tepat agar guru dapat memberikan umpan balik dalam
pembelajaran. Dalam penilaian dengan observasi guru harus membuat instrument
pembelajaran yang sesuai.
Dalam melakukan observasi guru memilih teknik penilaian. Menentukan
teknik pencatatan sikap misalnya dengan skor 1,2,3.4. sehingga guru dapat
mengetahui prestasi atau sikap sikap yang baik dan kurang baik. Sabzian ( 2013)
bahwa guru dapat melakukan penilaian dengan baik dan benar agar prestasi
belajar siswa meningkat. Dari hasil penelitian tersebut dapat dimaknai bahwa guru
dalam pembelajaran harus menyiapkan teknik penilain dengan baik agar hasil
belajar sesuai dengan indikator yang ditentukan.
Berdasarkan hasil temuan pada tahap akhir guru melakukan analisis,
merekap hasil observasi dan membuat kesimpulan terhadap hasil penilaian. Hasil
observasi direkap dan dikonversikan dalam bentuk deskripsi. Nilai yang
dideskripsikan adalah nilai yang terendah dan yang tertinggi. Jadi guru dapat
mengetahui sikap mana yang harus diperbaiki atau ditingkatkan. Kawiyono (
2014) menyatakan bahwa bentuk evaluasi harapannya adalah agar siswa tidak
hanya menguasai materi pelajaran saja tetapi juga mempunyai sikap yang terpuji.
Hasil penelitian ini dapat dimaknai bahwa guru perlu melakukan analisis hasil
8
evaluasi agar tidak hanya aspek pengetahuan saja yang tercapai tetapi juga aspek
sikap.
Hasil temuan penilaian sikap dengan observasi dapat dilakukan dengan
berbagai pendekatan, metode,
media , dan sumber belajar yang bervariasi.
Dengan pendekatan kontektual sikap siswa dapat meningkat. Terutama dalam
tutur kata.
Anwar ( 2013) menyatakan bahwa bahasa tidak bisa dilepaskan
dengan budaya penuturnya. Hasil penelitian ini dapat dimaknai bahwa dalam
pembelajaran tutur kata dapat dilakukan dengan pendekatan kontektual sehari
hari.
Hasil temuan selain penilaian sikap sosial dengan observasi guru juga
menilai dengan jurnal catatan. Penilaian dengan jurnal ini guru mengamati sikap
siswa selama pembelajaran dan mencatatnya di jurnal catatan guru. Suharningsih (
2010) salah satu usaha guru dalam merencanakan pembelajaran adalah dengan
memahami kurikulum, mengumpulkan informasi dan referensi, mengidentifikasi
sumber belajar dan mempersiapkan langkah-langkah kegiatan untuk mencapai
tujuan. Dari penelitian ini dapat dimaknai bahwa dalam pembelajaran guru dapat
menyusun pembelajaran termasuk menentukan jenis penilaian yang akan
digunakan sehingga tujuan guru dalam mengajar dapat tercapai. Jenis penilain di
sini dapat bermacam macam termasuk penilain dengan jurnal catatan.
Sebelum menilai dengan jurnal guru perlu mempersiapkan perencanaan
terlebih dahulu yaitu menentukan sikap atau perilaku yang akan dinilai, dan
mempersiapkan jurnal untuk pencatatan. Menurut Vinje ( 2015) guru
membutuhkan dukungan , waktu dan mendiskusikan isi dari kurikulum dan
mempelajari cara mendidik dengan baik. Dari hasil penelitian ini dapat dimaknai
bahwa guru perlu membuat perencanaan dalam mengajar dan memahami
kurikulum yang ada sehingga sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Berdasarkan hasil temuan dalam tahap pelaksanaan dengan menggunakan
jurnal terintegrasi dalam pembelajaran pada KI 3 dan KI 4. Pada tahap ini guru: 1)
mengamati perilaku peserta didik . Dalam hal ini mengamati semua siswa satu
kelas, hal yang diamati sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. 2) membuat
catatan tentang sikap dan perilaku siswa baik di dalam maupun di luar sekolah. 3)
9
mencatat sikap siswa sesuai dengan indikator yang akan dinilai. 4) mencatat
sesuai urutan tanggal kejadian. Menurut penelitian Suryana ( 2013) strategi guru
dalam pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal ini dapat dimaknai
bahwa dalam pembelajaran menentukan hasil belajar siswa termasuk juga dalam
penilaian. Jadi guru harus membuat langkah-langkah pembelajaran dengan baik.
Hasil temuan pada tahap akhir guru memberikan umpan balik dalam
penilaian. Umpan balik dijadikan dasar dalam membuat keputusan. Hasil
penilaian dikonversikan. Pelaporan diberikan dalam bentuk kategori capaian sikap
disertai
deskripsi. Pelaporan secara tertulis. Menurut Badu ( 2012) bahwa
kegiatan evaluasi menjadi tak terpisahkan dari rencana program pembelajaran
yang telah ditetapkan. Dari hasil penelitian ini dapat dimaknai bahwa dalam
evaluasi
guru perlu melakukannnya secara menyeluruh sampai pada
pelaporannya.
Berdasarkan hasil temuan penelitian penilaian sikap sosial yang dilakukan
oleh siswa meliputi penilaian diri dan penilaian antar teman. Berdasarkan hasil
pengamatan Penilaian diri di kelas sangat bagus untuk melatih kepercayaan diri
siswa. Greer ( 2010) Hasil penelitian ini adalah bahwa penilaian diri dibangun
dengan pertimbangan: tempat pendidikan, evaluasi pendidikan, partisipasi
program, dukungan institusional dan fakultas yang intensif. Penilaian pendidikan
interprofesioanl dan perencanaan intrumen untuk lembaga pendidikan dapat
menjadi pembantu utama dalam membantu para pemimpin nasional dan
internasional. Hasil penelitian ini dapat dimaknai bahwa dengan penilaian diri
dapat membantu kepercayaan diri siswa bertambah.
Penilaian diri untuk kelas 2 siswa masih harus dibimbing oleh guru,
mengingat siswa kelas 2 belum dapat sepenuhnya paham menilai dirinya. Suparno
( 2013) menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan keterampilan guru dalam
pembelajaran diperlukan perbaikan sistem manajerial dengan lebih memfokuskan
pada kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh guru dalam menunjang proses
pembelajaran yang berlangsung. Dari hasil penelitian ini dapat dimaknai bahwa
guru dalam penilaian atau pembelajaran dapat menyesuaikan diri sesuai dengan
kemampuan guru ataupun siswa
10
Berdasarkan hasil temuan pada penilaian diri pada tahap pelaksanaan halhal yang dilakukan guru adalah menyampaikan kriteria penilaian kepada siswa,
meminta siswa untuk menilai diri. Dalam pelaksanaannya guru membimbing
siswa agar data yang diperoleh lebih akurat. Pada penilaian diri ini selain
menggunakan lembar observasi guru juga melaksanakan penilaian diri dengan
cara lisan. Instrumen yang digunakan guru berupa cek list. Siswa memberi tanda
cek pada pernyataan yang dianggap benar pada lembar instrumen. Guru
membimbing siswa dengan cara bertanya jawab. Pittaway ( 2012) menyatakan
bahwa penilaian pada umumnya perlu dibuat lebih inovatif, lebih reflektif di alam
dan seharusnya mencakup lebih banyak kepentingan. Dari hasil penelitian ini
dapat dimaknai bahwa guru dalam menilai perlu menyesuaikan dengan
kemampuan peserta didik.
Hasil temuan tahap akhir guru mengkaji hasil penilaian, membuat
kesimpulan terhadap hasil penilaian, mengkonversi nilai hasil penilaian,
melakukan tinjak lanjut dengan mengacu pada hasil penilaian. Giorgetti ( 2013)
penilaian dilakukan untuk mengidentifikasi masalah atau tujuan tercapai tidaknya
suatu pendidikan dan untuk menyarankan perbaikan pendidikan. Hasil penelitian
ini dapat dimaknai bahwa dengan membuat kesimpulan pada penilaian dapat
mengidentifikasi masalah tercapai tidaknya suatu pendidikan.
Berdasarkan hasil temuan penelitian penilaian yang dilakukan oleh siswa
selain dengan penilaian diri juga dengan penilaian antar peserta didik. Penilaian
antar peserta didik digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi
sikap. Penilaiain ini dilakukan dengan cara meminta peserta didik untuk saling
menilai satu sama lain. Instrument yang digunakan berupa lembar penilaian antar
peserta didik Pada penilaian antar peserta didik ini mengacu pada indikator yang
sudah dibuat guru sesuai dengan kompetensi dasar dari kompetensi inti sikap.
Menurut Rahmawati ( 2014) menyatakan bahwa penilaian sejawat merupakan
teknik penilaian yang secara teoritis dianggap cocok untuk mengetahui
perkembangan kompetensi berbicara. Penelitian ini dapat dimaknai bahwa dalam
penilaian antar teman dapat diketahui kemampuan siswa dalam menilai temannya
11
Hasil
temuan
pada
tahap
pelaksanaannya
guru
terlebih
dahulu
menyampaikan kriteria penilaian kepada peserta didik. Meminta peserta didik
untuk melakukan penilaian terhadap temannya. Namun pada saat pelaksanaannya
guru membimbing siswa untuk menilai temanya dengan cara lisan. Karena
kemampuan siswa kelas dua untuk menilai temannya masih rendah. Pada
penilaian antar teman ini siswa tidak menggunakan lembar observasi. Sun (2015)
Penilaian sejawat adalah salah satu cara untuk memberikan umpan balik pribadi
yang digunakan untuk skala kelas besar . Selain manfaat logistik yang jelas , telah
menduga bahwa siswa juga belajar dari praktek penilaian sejawat. Dari penelitian
ini dapat dimaknai bahwa dengan penilaian antar peserta didik dapat memberikan
umpan balik pribadi peserta didik.
Pada tahap akhir guru mengkaji hasil penilaian secara cermat dan obyektif,
menyampaikan umpan balik berdasarkan kajian terhadap penilaian antar peserta
didik, membuat kesimpulan terhadap penilaian antar peserta didik, mengkonversi
nilai, melakukan tindak lanjut dengan mengacu pada hasil penilaian. Menurut
Sun (2015) penilaian sejawat menyebabkan keuntungan kecil tapi signifikan
dalam prestasi siswa. Hasil penelitian ini dapat dimaknai bahwa dengan
melakukan penilaian antar peserta didik dapat meningkatkan prestasi hasil belajar
siswa.
Hasil temuan pembelajaran Bahasa Jawa dapat menumbuhkan karakter
siswa yang disisipkan dalam materi- materi Bahasa Jawa seperti dongeng, cerita
rakyat dan figur dari tokoh-tokoh pewayangan. Mardikantoro ( 2013) menyatakan
bahwa kearifan lokal yang diungkap dengan Bahasa Jawa meliputi ajaran tentang
larangan mengumbar hawa nafsu, ajaran tidak berbuat jahat, ajaran larangan
menyakiti orang lain, ajaran tentang panutan hidup, ajaran tentang memegang
teguh ucapan. Hal ini dapat dimaknai bahwa pembelajaran Bahasa Jawa dapat
menumbuhkan karakter yang baik kepada siswa.
4. KESIMPULAN
Penilaian sikap sosial yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran muatan lokal
Bahasa Jawa meliputi observasi dan jurnal catatan guru. Teknik penilaian dengan
12
observasi dan jurnal dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi. Penilaian sikap sosial yang dilakukan guru sudah berjalan dengan baik
dan dilaksanakan dengan baik. Ini terbukti sebelum mengajar guru sudah
membuat perencanaan dengan baik ( menyiapkan perangkat pembelajaran seperti
Standar Isi, Silabus, RPP termasuk instrument penilaian), guru melaksanakan
penilaian dengan obyektif, terpadu, efektif dan efisien. Guru menganalisis hasil
penilaian
dan melakukan tindak lanjut dengan bimbingan. Kelebihan dari
penilaian sikap sosial dalam pembelajaran Bahasa Jawa adalah dapat dilakukan
melalui berbagai pendekatan pembelajaran ( kontekstual, kooperatif), metode (
bermain peran, diskusi ) dan disisipkan dalam materi-materi Bahasa Jawa seperti
dongeng, cerita rakyat dan figur dari tokoh-tokoh pewayangan.
Penilaian sikap sosial yang dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran
muatan lokal Bahasa Jawa meliputi penilaian diri dan penilaian antar teman
Teknik penilaian dengan penilaian diri dan penilaian antar teman dilaksanakan
mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Penilaian diri dan
penilaian antar teman dilakukan secara lisan dengan Tanya jawab dengan
dibimbing guru. Penilaian diri dalam pembelajaran Bahasa Jawa dapat dilakukan
melalui metode bermain peran. Penilaian antar teman dalam pembelajaran Bahasa
Jawa dilakukan dengan pendekatan kooperatif, metode diskusi, tanya jawab.
Penilaian sikap sosial yang dilakukan oleh siswa di kelas 2 masih banyak
hambatannya karena kemampuan siswa dalam menilai diri dan temannya terbatas.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, S. ( 2013). Penggunaan Bahasa Jawa Anak Usia SD di Desa Tanjungrejo
Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo. Jurnal Pendidikan, Bahasa,
sastra dan budaya Jawa universitas Muhammadiyah Purworejo. Vol 3, No
4
Badu, S.Q. (2012). “ Implementasi Evaluasi model Kirkpatrick pada perkuliahan
masalah nilai awal dan syarat batas”. Jurnal Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan, Mei 2012. Tahun 16, Dies Natalis ke 48 UNY
13
Giorgetti, C.G; Romero, L; Vera, M. (2013). Design of a Specific Quality
Assessment Model for Distance Education. RUSC Vol 10, No 2, hal 301-314
Greer, A. G. dan Clay, M. (2010). Interprofessional Education Assessment and
Planning Instrument for Academic Institutions. Journal of Allied Health,
suppl. Special issue on interprofessional Education and Care. Vol 39, No 3,
Hal 224-231
Gunawan, H. (2014). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. Bandung:
ALFABETA
Kawiyono, A. (2014). “ Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Ketrampilan
Komputer dan Pengolahan Informasi untuk membentuk kemandirian
peserta didik di Sekolah Menengah Kejuruan”. Vol 26, No 1, Hal 21 -30
Kemendikbud. (2014). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013
Tahun 2014. Kemendikbud
Kunandar. (2014). Penilaian Authentik ( Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan kurikulum 2013). Cetakan ke-3. Jakarta : Raja Grafindo
Persada
Kusaeri, dan Suprananto. (2012). Pengukuran dan Penilaian Pendidikan.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Mardikantoro, H. B. ( 2013). Bahasa Jawa sebagai pengungkap Kearifan Lokal
Masyarakat samin Di Kabupaten Blora. Jurnal Komunitas. Vol 5, No 2, hal
197-207
Pittaway, L. E. dan Corina, E. (2012). Assessment: Examining Practice in
Enterpreneurship Education. Education & Training Vol 54, No 8/9, Hal
778-800
Rahmawati, L.E., dan Nuraini, F. (2014). “ Pengembangan Model Penilaian
Authentik Kompetensi Berbicara”. Varia Pendidikan, Vol 26, No 1, Hal 1 10
Sabzian, F.; Ismail, Z.dan Ismail, M. (2013). “ An Evaluation of The Effectiveness
of Teacher. Professional Developmen ( TPD) in Iran Using Akker Spide Web
Model”. International Journal of Human Resoure Studies. Macrothink
Institute, Vol 3, Num 2, Hal 1 -12
14
Stearns, L. M., Morgan, J., dan Capraro. (2012). A Teacher Observation
Instrument for PBL Classroom Instruction. Journal of STEM Education :
Innovations and Research Vol 13, No 3 , Hal 7-16.
Sudjana, N. (2014). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Suharningsih. (2010). “ Optimalisasi Kinerja Guru dalam Proses Pembelajaran di
Sekolah Dasar”. Paedogogia, jilid no 2, Agustus 2010
Sun, D. L., Harris, N., Walther, G., dan Baiocchi, M. ( 2015). Peer Assessment
Enhances Student Learning: The Results of a Matched Randomized
Crossover Experiment in a College Statistics Class.
Suparno, A. (2013). “ Kontribusi Pelatihan Guru, Iklim Organisasi dan Persepsi
guru tentang Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah Terhadap
Keterampilan Guru dalam pembelajaran SMKN Kota Semarang “. Varia
Pendidikan, Vol 25. No 1, Hal 53-65
Suryana, D. ( 2013). “ Pengetahuan tentang Strategi Pembelajaran, Sikap, dan
Motivasi Guru”. Jurnal Ilmu Pendidikan. JIP. Jilid 19. No 2, Desember
2013, Hal 129- 251
Sutama, Narimo, S. dan Samino. (2015). “ Management of Curriculum 2013
Mathematic Learning Evaluation in Junior High School”. International
Journal of Education. Macrothink Institute, Vol. 7. Num 3 September
2015, Hal 164 -174
Vinje, I. (2015). “ Teaching Future Teachers in the Subject of Pedagogy”.
International Journal of Education. Macrothink Institute, Vol.1, May 2015,
Hal 19- 35
15
Download