KONDISI PSIKOLOGIS DAN MORAL TOKOH NADIA DALAM

advertisement
KONDISI PSIKOLOGIS DAN MORAL TOKOH NADIA
DALAM NOVEL “GHADAN TULADU SYAMSUN UKHRA”
KARYA HUSAIN MU’NIS: KRITIK SASTRA FEMINIS
Chulusul Umniyati
Kholisin
Ibnu Samsul Huda
Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang,
Jl. Semarang 5 Malang.
E-mail: [email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi
psikologis dan moral tokoh Nadia dalam novel “Ghadan Tuladu
Syamsun Ukhra (GTSU)” karya Husain Mu’nis. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan
menggunakan kritik sastra feminis ideologis Soenardjati
Djajanegara. Penelitian novel “GTSU” karya Husain Mu’nis ini
menunjukkan bahwa kondisi psikologis tokoh Nadia itu kurang
sehat karena semua kebutuhan universalnya tidak terpenuhi akibat
adanya penindasan dari keluarganya dan Nadia mempunyai etika
atau moral yaitu: (1) pandai bersyukur dengan merawat semua
yang telah dikaruniakan oleh Tuhan, (2) pekerja keras dan
bertanggung jawab, (3) mencintai keluarga dan anak-anaknya, (4)
pandai, berpengalaman, dan disiplin, dan (5) sabar dan tulus.
Kata Kunci: psikologis, kondisi moral, kritik sastra feminis, novel
“Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra”.
Abstract: The purpose of this study is to describe the psychological and moral condition of the main character, Nadia revealed in
“Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra (GTSU)” by Husain Mu'nis. This
study is a qualitative method using ideological feminist literary criticism concepted by Soenardjati Djajanegara. The study of GTSU
novel by Husain Mu'nis suggests that the psychological condition
of Nadia's character is in poor health as all the universal needs are
not met due to the oppression of her family. Another result depicted
in this novel is Nadia has ethics or morals, they are: (1) grateful for
the care of all the things and blessing given by God, (2) hardworking and responsible, (3) loving her families and their children, (4)
intelligent, experienced, and disciplined, and (5) patient and sincere.
Key words: psychological, moral condition, feminist literary criticism, the novel of Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra.
‫ يهدف هذا البحث إىل وصف احلال النفسية واألخالقية لـ "اندية" يف‬:‫امللخص‬
‫ يستخدم هذا البحث طريق‬.‫ تولد مشس أخرى" بقلم حسني مؤنيس‬..‫رواية "غدا‬
‫ نتيجة هذا البحث‬."‫النقد األديب النسائي اإليديولوجي لـ "سونرجايت جااينغارا‬
‫تدل على أن احلال النفسية لـ "اندية" ليسق جيدة بسبب عدم حتققها للحاجات‬
‫) شكر هلل‬1( ‫ ولـ "اندية" أخالق حسنة وهي‬،‫احليوية ألجل اإلضطهاد من أسرهتا‬
‫) حتب عائلتها‬3( ،‫) عاملة مواظبة ومسؤولة على كل عهدهتا‬2( ،‫على نعمه‬
.‫) هي مرأة ذكية ونشيطة وصابرة وخالصة‬4( ‫ و‬،‫وأوالدها‬
‫ النقد األديب النسائي‬،‫ احلال األخالقية‬،‫ احلال النفسية‬:‫الكلمات الرئيسية‬
"‫ تولد مشس أخرى‬..‫ رواية "غدا‬،‫اإليديولوجي‬
Sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi
yang spontan yang mampu mengungkapkan estetik, baik yang didasarkan pada
aspek kebahasaan maupun aspek makna (Fananie,2002:6). Biyantari (2009:1) juga
menyatakan bahwa karya sastra sebagai hasil cipta manusia selain memberikan
hiburan juga sarat dengan nilai, baik nilai keindahan maupun nilai- nilai ajaran
hidup.
Saryono (dalam Nugroho,2007:1) mengatakan bahwa suatu karya sastra
merupakan ungkapan pengarang untuk menyikapi realitas kehidupan. Objek sastra
adalah suatu realitas kehidupan yang dengan caranya sendiri, sastrawan memindahkan realitas kehidupan yang ditangkap dan dituangkan dalam karya sastra.
Wellek dan Werren (dalam Biyantari, 2009: 1) juga mengatakan bahwa sastra
menyajikan kehidupan dan kehidupan tersebut sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial, walaupun karya sastra itu juga dipandang suatu gejala sosial. Ke-
hadiran sastra di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan sesuatu yang bermakna tentang pemahaman yang mendalam terhadap keanekaragaman kehidupan
manusia serta menawarkan interpretasi yang luas dan mendalam.
Salah satu bentuk karya sastra adalah novel. Novel sebagai bagian dari
genre sastra mendapat tempat yang baik dalam hubungan antara karya sastra dan
kenyataan. Novel merupakan genre utama dalam mencerminkan keadaan
masyarakatnya dan seringkali dianggap karya sastra yang paling mimetik karena
pada hakikatnya novel yang disajikan harus akrab dengan kenyataan (Teeuw,
2003:29). Jones (dalam Fananie.2002:1) juga menyatakan sastra merupakan cara
lain untuk mengungkapkan sesuatu yang dialami di dunia sekitar melalui imajinasi. Untuk itu, kebanyakan penulis memerlukan sebagian besar imajinasi untuk
mengekspresikan ide-ide, pendapat, dan perasaan mereka dalam menulis karya
sastra, baik karya sastra yang mereka tulis itu dalam bentuk puisi, cerita pendek,
novel, ataupun drama. Selain itu, kita tidak bisa membantah bahwa membaca
merupakan salah satu cara dalam menikmati sebuah literatur.
Goefe (dalam Huda, dkk., 2008:42) mendefinisikan bahwa feminisme
adalah teori tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam bidang
politik, ekonomi, sosial atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hakhak serta kepentingan wanita. Kritik sastra feminis berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita
sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan (Djajanegara, 2000: 27).
Husain Mu’nis merupakan sastrawan dan penerjemah Arab yang banyak
menghasilkan karya, antara lain: buku sejarah, karya terjemahan dari berbagai
bahasa, dan novel. Husain Mu’nis lahir pada 28 Agustus 1911 di kota Swizz dan
meninggal pada tahun 1416. Beliau adalah seorang yang sangat peduli dengan
budaya dan seni. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Departemen
Pendidikan pada tahun 1955-1957, bersama dengan pekerjaannya di universitas
sebagai guru besar sejarah dan seni di berbagai universitas, di antaranya
Universitas Kairo dan Universitas Kuwait. Salah satu karya novel beliau yang
terkenal adalah “Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra” yang mengisahkan tentang
kehidupan wanita yang ditindas atau direndahkan oleh kaum laki-laki dan dia
mengharapkan pada akhirnya, dia mendapatkan secercah harapan yaitu kehidupan
yang lebih baik.
Pemilihan novel “Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra” dilatarbelakangi oleh
keinginan peneliti mengetahui bagaimana kondisi psikologis dan moral wanita
yang terjadi di masyarakat. Karena saat ini pun masih banyak wanita yang
diperlakukan tidak adil dan direndahkan oleh kaum pria. Di Indonesia pun masih
banyak orang yang beranggapan bahwa wanita tempatnya hanya di belakang
(dapur). Selain itu, novel “Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra” karya Husain Mu’nis
yang selanjutnya disingkat “GTSU” memiliki kelebihan dalam bidang isi,
kisahnya sarat dengan kehidupan wanita, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai
sumber wacana kritis feminis. Selain itu, peneliti ingin. Berdasarkan uraian di atas
peneliti merasa perlu mendeskripsikan kondisi psikologis dan moral tokoh wanita
yang terdapat dalam novel “GTSU” karya Husain Mu’nis dengan tinjauan kritik
sastra feminis.
METODE
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif dengan rancangan
deskriptif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam
bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2011:6). Instrumen penelitian
ini adalah peneliti sendiri sebagai human instrument serta tabel kodifikasi data
yang berguna untuk menjaga keabsahan data.
Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, paparan kebahasaan yang berkaitan
dengan kondisi psikologis dan moral tokoh Nadia yang bersumber dari novel
“GTSU” karya Husain Mu’nis. Sedangkan sumber datanya adalah novel “GTSU”
yang berjumlah 119 halaman terbitan Daar Ar-Rasyad.
Untuk memperoleh data, dilakukan penelusuran kondisi psikologis dan
moral tokoh Nadia dengan cara membaca kritis dan kreatif novel “GTSU”, memberi tanda atau kode pada bagian-bagian wacana yang diangkat menjadi objek
penelitian dalam novel “GTSU”, menginterpretasikan paparan data psikologis dan
moral dalam novel “GTSU” untuk dianalisis lebih lanjut sehingga menunjukkan
kedudukan wanita dalam lingkungan masyarakat dan status gender, dan
mengklasifisikan data berdasarkan tabel yang telah dibuat.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode kritik sastra
feminis yang mengacu pada kritik sastra feminis Soenardjati Djajanegara
(Djajanegara, 2000:51-53), yaitu mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh
perempuan yang terdapat pada sebuah karya sastra, mencari status atau kedudukan
tokoh perempuan tersebut didalam masyarakat, memperhatikan apa yang
dipikirkan, dilakukan, dan dikatakan oleh tokoh-tokoh perempuan tersebut,
sehingga kita dapat mengetahui perilaku dan watak mereka berdasarkan gambaran
yang langsung diberikan oleh pengarangnya, mencari tahu tujuan hidup dari tokoh
perempuan tersebut didalam masyarakat, dan meneliti tokoh laki-laki yang
memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang diamati. Karena
peneliti tidak akan memperoleh gambaran secara lengkap mengenai tokoh
perempuan tersebut tanpa memunculkan tokoh laki-laki yang ada disekitarnya.
Pengecekan keabsahan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara: (1)
perpanjangan keikutsertaan, artinya peneliti membaca berulang-ulang novel
“GTSU” sampai menemukan kajian yang diperlukan yang disertai dengan
pengalaman dan pengetahuan yang ada dan relevan, (2) ketekunan pengamatan,
artinya peneliti melakukan pengamatan dengan teliti dan rinci secara
berkesinambungan terhadap teks dalam novel “GTSU” karya Husain Mu’nis dan
(3) pengecekan sejawat pembimbing dan sejawat, artinya hasil analisis yang
diperoleh didiskusikan kepada pembimbing dan teman sejawat sebagai bahan pertimbangan dengan tujuan agar hasil yang diperoleh mempunyai kesatuan pandangan dan pemahaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan pembacaan secara keseluruhan pada novel “Ghadan
Tuladu Syamsun Ukhra” ditemukan bahwa novel ini membahas tentang
perjuangan seorang wanita yaitu Nadia sebagai istri dan ibu demi mendapatkan
derajat yang sama dengan kaum laki-laki dalam keluarganya. Nadia melakukan
berbagai cara agar mendapatkan hak dan derajat yang sama dengan kaum laki-
laki. Tokoh-tokoh cerita dalam novel “GTSU” adalah Nadia (istri, tokoh utama),
Majid (suami Nadia), Thariq (anak pertama Nadia dan Majid), Susan (anak kedua
Nadia dan Majid), Ahmad (anak ketiga Nadia dan Majid), ‘Ammu Imam
(pembantu Nadia), Aminah dan Zahiya (teman Nadia), Mr. Edward (perwakilan
dari kedutaan), Mr. Zaki (asisten Nadia di kedutaan), Mahmud (saudara Majid),
dan Izzudin (teman Majid).
Berdasarkan lima langkah analisis kritik sastra feminis Soenardjati
Djajanegara, penelitian ini menghasilkan penggambaran kondisi psikologi dan
moral tokoh Nadia dalam novel “Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra” karya Husain
Mu’nis. Langkah analisis berdasarkan kritik sastra feminis Soenardjati
Djajanegara, yaitu menentukan (1) tokoh utama dalam novel “GTSU” yaitu
Nadia, (2) kedudukan Nadia dalam masyarakat dan keluarga adalah seorang istri
(novel GTSU hal. 12 dan 61) dan ibu rumah tangga (novel GTSU hal. 27 dan 60),
(3) perilaku tokoh yang dapat menunjukkan kondisi psikologis tokoh Nadia.
Kebutuhan universal Nadia tidak semuanya terpenuhi, yaitu kebutuhan fisiologis
Nadia tidak terpenuhi (novel GTSU hal 7,35, dan 166), kebutuhan rasa aman
Nadia kurang terpenuhi walau Nadia sudah mempunyai pembantu (novel GTSU
hal 17), kebutuhan rasa memiliki dan cinta Nadia tidak terpenuhi akibat sikap dan
perlakuan suami dan anak laki-lakinya, Thariq, padahal Nadia sudah berusaha
keras
untuk
mencapai
kebutuhan
tersebut
(novel
GTSU
hal
11,122,14,16,17,19,22,24,25,27,101, dan 116), kebutuhan rasa penghargaan pun
belum tercukupi meskipun Nadia sudah melakukan berbagai cara dalam
memperlakukan keluarganya dengan baik, namun tetap saja Nadia belum
mendapatkan kebutuhan itu (novel GTSU hal 7,8,12,16,25,27, dan 99), karena
Nadia mendapat perlakuan yang tidak baik dan membuatnya sengsara, Nadia
memutuskan untuk keluar rumah, kembali bekerja, dan mengaktualisasikan
dirinya (novel GTSU hal 81,82,99,113, dan 114).
Adapun (4) tujuan hidup Nadia adalah untuk memenuhi semua kebutuhan
universalnya, meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan
memiliki dan cinta, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri, (5)
sikap tokoh laki-laki yang menghambat Nadia untuk mencapai semua kebutuhan
universalnya, yaitu (a) sikap Thariq yang tidak menghargai ibunya, Nadia dan
memperlakukan Nadia layaknya pembantu yang harus selalu siap melayani
dirinya (novel GTSU hal 27,38,39,40, dan 105) dan (b) sikap Madjid yang merasa
berkuasa penuh pada rumah tangga karena dirinya laki-laki dan selalu membela
serta mendukung semua keinginan Thariq sebagai anak laki-laki (novel GTSU hal
41dan 45). Jadi, kondisi psikologis Nadia tidak bisa dikatakan sehat betul karena
dia belum bisa mendapatkan rasa aman, rasa memiliki dan cinta, juga rasa
penghargaan dari keluarganya. Pada dasarnya di masyarakat, wanita sudah
mendapatkan tempat. Tetapi tetap masih banyak saja kaum laki-laki yang
menganggap rendah wanita dan memperlakukannya dengan buruk, terutama di
lingkungan keluarga.
Adapun kondisi moral tokoh Nadia berdasarkan lima langkah analisis
berdasarkan kritik sastra feminis Soenardjati Djajanegara, yaitu menentukan (1)
tokoh wanita dalam novel “GTSU” adalah Nadia; (2) kedudukan tokoh adalah
sebagai istri dan ibu rumah tangga; (3) perilaku Nadia yang menunjukkan moral
dan etika Nadia, pandai bersyukur dengan merawat semua yang telah
dikaruniakan oleh Allah (novel GTSU hal. 7,8, dan 27), pekerja keras dan
bertanggung jawab (novel GTSU hal. 7,16,17,25,27,35, dan 101), mencintai
keluarga dan anak-anaknya dengan cara melepaskan pekerjaan demi mendidik dan
merawat anak (novel GTSU hal. 14,16,18,19,22,24,44,45, dan 116) dan selalu
memikirkan kelurganya (novel GTSU hal. 90 dan 92), pandai, berpengalaman,
dan disiplin (novel GTSU hal. 34,57,79,85,86,97 dan 113), sabar dan tulus (novel
GTSU hal. 54 dan 105); (4) tujuan hidup Nadia, yaitu mendidik anak (novel
GTSU hal. 21 dan 23, menunjukkan bahwa ibu bukanlah seorang pembantu dan
wanita mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki (novel GTSU hal.
81,99,105, dan 114), dan menunjukkan bahwa anak sepatutnya sadar akan
kewajibannya pada orang tua (novel GTSU hal. 73 dan 105), dan (5) sikap atau
perilaku tokoh laki-laki terhadap Nadia, meliputi (a) perilaku Thariq yang tidak
menghargai ibunya, Nadia, memperlakukan Nadia layaknya pembantu yang harus
selalu siap melayani dirinya, dan bersikap seenaknya layaknya seorang raja (novel
GTSU hal 21,24,25,27,29,36, dan 40) dan (b) sikap Madjid yang merasa berkuasa
penuh pada rumah tangga karena dirinya laki-laki dan selalu membela serta
mendukung semua keinginan Thariq sebagai anak laki-laki (novel GTSU hal
41dan 45).
Dari uraian penokohan di atas dapat kita simpulkan bahwa baik ucapan,
perilaku, maupun tindakan-tindakan tokoh Majid dan Thariq menunjukkan
pertentangan-pertentangan dengan ideologi feminisme. Tokoh Majid dan Thariq
memberi kesan bahwa mereka berpendirian tradisional yang antara lain adalah
wanita harus memasuki lingkungan domestik yang hanya bertugas di dapur untuk
melayani mereka. Kedua tokoh tersebut berusaha keras untuk mengabadikan nilainilai Victoria yang menghendaki agar wanita bersikap pasif, penurut, dan
melayani semua kebutuhan suami dan anak-anaknya. Meski Nadia mempunyai
etika dan moral yang baik, kaum laki-laki terutama suami dan anaknya, Thariq
tatap memperlakukan wanita dengan rendah. Mereka tak menghargai kedudukan
wanita.
Dalam Islam pun tidak diajarkan kekerasan pada wanita ataupun kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT). Namun masyarakat umumnya masih memandang
kekerasan terhadap wanita bukan sebuah masalah. Masyarakat lebih terbiasa
dengan tradisi mentolerir kekerasan terhadap wanita dan menganggapnya biasabiasa saja. Di Indonesia pun, kekerasan dalam rumah tangga sulit untuk
dihapuskan
kendatipun
Undang-undang
telah
memberikan
perlindungan,
sosialisasi di masyarakat juga dilakukan, pusat pengaduan dan perlindungan
korban KDRT juga tersedia tetapi KDRT terus menerus terjadi (Mufidah,
2008:274).
Islam merupakan agama rahmatan lil alamin yang ramah pada siapapun,
melindungi, menyelamatkan, dan memberikan pada semua manusia tanpa
terkecuali, dari beragam suku, warna kulit, perbedaan kelas sosial ekonomi hingga
perbedaan laki-laki dan perempuan. Salah satu misi Rasulullah SAW dalam
menegakkan Islam adalah mengangkat harkat martabat laki-laki maupun
perempuan agar mendapatkan dan melindungi hak-hak pribadi sebagai manusia.
Karena itu, Islam melakukan perubahan tatanan hukum dan perundang-undangan
yang diikuti pula dengan perubahan budaya yang tercermin dalam sikap dan
praktik kehidupan Rasulullah dengan melalui metode uswah hasanah. Disebutkan
pula usaha membongkar praktik diskriminasi termasuk di antaranya diskriminasi
gender sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Hujurat:13 yang artinya:
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenalmengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”
(QS. Al-Hujurat:13).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dengan kritik sastra feminis dapat diambil kesimpulan bahwa kondisi psikologis tokoh Nadia itu kurang sehat. Karena semua
kebutuhan universalnya tidak terpenuhi akibat adanya penindasan dari keluarganya, dalam hal ini suami dan anak laki-lakinya, Thariq . Sejak keluar dari rumahnya dan kembali bekerja di kedutaan, Nadia sudah bebas dari penindasan dan
dapat mengaktualisasikan dirinya. Akan tetapi, Nadia tetap saja belum bisa merasakan hidup aman dan nyaman karena belum mendapatkan rasa memiliki dan
cinta serta rasa penghargaan dari keluarganya, terutama Majid, suaminya dan
Thariq, anaknya.
Sedangkan, kondisi moral tokoh Nadia itu baik. Nadia mempunyai etika
atau moral yaitu: (1) pandai bersyukur dengan merawat semua yang telah
dikaruniakan oleh Tuhan, (2) pekerja keras dan bertanggung jawab, (3) mencintai
keluarga dan anak-anaknya, (4) pandai, berpengalaman, dan disiplin, (5) sabar dan
tulus, yang semua itu tidak ditentang oleh masyarakat.
SARAN
Dalam akhir penelitian ini, peneliti juga memberikan saran kepada
berbagai pihak yang terkait. Bagi Pengajar Bahasa dan Sastra Arab, hendaknya
dapat memaksimalkan penggunaan bahan pembelajaran sastra, dalam hal
ini
adalah karya sastra novel dan penelitian ini bisa digunakan sebagai salah satu
bahan ajar untuk mata kuliah Telaah Prosa Arab. Bagi pebelajar bahasa dan sastra
Arab, hendaknya dalam membaca karya sastra terutama novel dengan
memperhatikan nilai-nilai dan pesan-pesan moral yang terdapat di dalamnya
sehingga dapat diterapkan dalam berperilaku di kehidupan di masyarakat. Bagi
pembaca karya sastra, sebaiknya mengambil nilai-nilai positif dalam karya sastra
yang telah dibacanya, misalnya nilai-nilai dan pesan-pesan moral yang terkandung
di dalamnya dan dapat menerapkannya dalam kehidupan di masyarakat.
Bagi Jurusan Sastra Arab, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai masukan dan bahan refleksi untuk perbaikan dan pengembangan bahan
mata kuliah, khususnya mata kuliah Telaah Prosa Arab. Bagi peneliti lain,
penelitian ini bisa dikembangkan lagi, dengan menganalisis karya sastra
menggunakan kritik sastra feminis yang digabungkan dengan berbagai pendekatan
lain.
DAFTAR RUJUKAN
Al Qur’an In Word
Biyantari, Linda Arik. 2009. Aspek Moral dalam Novel “Harimau! Harimau!”
Karya Mochtar Lubis: Tinjauan Semiotik. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, (Online)
(http://www.scribd.com/doc/57453193/A-310050057, diakses 29 September
2011)
Djajanegara. Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Fananie, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University
Press.
Huda, Ibnu Samsul, dkk. 2008. Bahan Ajar Telaah Prosa. Malang.
Moleong, Lexy. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Mu’nis, Husain. 1996. Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra. Kairo: Daar Ar-Rosyad.
Nugroho, Bagus Adhi.2007.Rekonstruksi Gender dalam Novel Kenanga Karya
Oka Rusmini.Universitas Negeri Malang: Skripsi.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 2010. Malang: UM PRESS.
Teeuw. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.
Download