badan hukum tvri dan rri sebagai lembaga penyiaran

advertisement
«'erspeRjif -----------------~-----
BADAN HUKUM TVRI DAN RRI
SEBAGAI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK
Oleh : Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D
Staf Pengajar Departemen I/mu Komunikasi FISIP UI
Abstract
TVRI and RR/, according to the Broadcasting Law are categorized as Public Broadcasting
Institution which is established legally by the state and is independent, neutral, non-commercial
and functions to provide services to the public, based on the public interest. Considering the
characteristics of both TVRI and RR/, "Badan Hukum Milik Negara 1' (The State Owned
Corporate Body) is considered as the appropriate corporate body status for these two
broadcasting media.
Keywords: Badan Hukum, Lembaga Penyiaran Publik, demokratisasi media, media organik
Latar Belakang
Salah satu implikasi dari
ditetapkannya TVRI dan RRI menjadi
Lembaga Penyiaran Publik (LPP), adalah
berkenaan dengan format badan hukum
yang ideal bagi kedua lembaga penyiaran
tersebut. TVRI dan RRI yang semula
merupakan
lembaga
penyiaran
pemerintah harus mentransformasikan
diri menjadi Lembaga Penyiaran Publik
sesuai amanat UU No. 32 tahun 2002
tentang penyiaran, serta membawa
konsekuensi pada perlunya pembahan
dalam hal pengelolaan kelembagaan,
keuangan, status karyawan hingga
orientasi perencanaan progrnm.
Dalam konstelasi dunia penyiaran ;
Indonesia dewasa ini, terdapat empat hal
mengapa eksistensi Lembaga Penyiaran
Publik, sebagaimana dikemukakan oleh :
para akhli (Habermas, 1989; McQuail,
2000; Summers dkk." 1978; Kellner, 1990),
dipandang penting. Pertama, dalam
konteks demokratisasi kehidupan
berbangsa dan penguatan civil society ·
maka
sejatinya
publik
berhak
mendapatkan siaran yang lebih
mencerdaskan, lebih mengisi kepala
dengan sesuatu yang lebih bermakna dari
pada sekedar menjual kepala kepnda
pemasang iklan melalui logika rating. Pada
hazanah penyiaran komersial misah1ya,
akan sangat sulit menemukan programpro grnm pendidikan yang bersifat
instruksional yang memungkinkan
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
.L
dilakukannya distance ·[earning, programprogram tentang kedalaman dan
keteduhan agama serta budi pekerti,
program-program untuk meningkatkan
apresiasi terhadap kemajemukan dalam
kehidupan bermasyarakat (living in colors),
atau bahkan sekedar program-program
untuk anak-anak yang bersih dari adegan
kekerasan.
Kedua, dalam konteks tersebut
ma:Ka kebutuhan akan siaran yang
tersedia secara geografis merupakan
sesuatu yang tak bisa ditawar lagi. Bahwa
setiap warga berhak memperoleh siaran
yang mencerdaskan tanpa adanya
batasa1q geografis, apalagi batasan sosiopolitis. Lembaga penyiaran komersial
misalnya, selalu mempertimbangkan
potensi ekonomi berikut jumlah penduduk
suatu daerah untuk membuka jaringan
siarannya. Maka untuk daerah dengan
potensi beserta jumlah penduduk minim
tentu tidak akan menerima siaran.
Padahal sebagai sesama warga negara,
penduduk di daerah tersebut juga berhak
memperoleh perlakuan yang sama,
termasuk kesamaan menerima siaran.
Penyiaran publik mengatasi kendala
tersebut melalui logika pelayanan publik.
Ketiga,
penyiaran
publik
merupakan entitas penyiaran yang
memiliki concern lebih terhadap identitas
dan kultur nasionaL Penyiaran komersial
misalnya terlalu berorientasi pada usahausaha profit making. Sehingga persoalan
identitas dan kultur nasional tergusur oleh
ekspansi komodifikasi budaya populer,
budaya kontemporer dan budaya
langsung jadi (instant). Sedangkan tipe
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
penyiaran lain semisal penyiaran
komunitas, di samping jangkauan siaran
yang hanya sekitar .radius 6 km,
inefektivitas juga terletak pada relatif
kecilnya konteks isu yang diangkat. Secara
umum, penyajian siaran penyiaran
komunitas meniscayakan keterlibatannya
dalam konteks lokalitas. Keterbatasan yang memang menjadi ciri penyiaran
komunitas ini- relatif kurang efektif bila
dibandingkan dengan penyiaran publik
(yang dalam DU No. 32 tahun 2002
dimungkinkan untuk bersiaran secara
nasional) untuk melakukan penguatan
(empowerment) identitas dan kultur
nasional.
l
Keenzpat, demokratisasi media
meniscayakan adanya suatu lembaga
penyiaran yang bersifat independen, baik
dari kepentingan negara maupun
kepentingan komersial. Pada satu sisi,
penguasaan negara atas penyiaran akan
menjadikan penyiaran sebagai alat
penegak ideologi penguasa (ideological
state apparatus), dan pada sisi lain,
penguasaan besar-besaran pasar atas
penyiaran
akan
mengakibatkan·
penggunaan logic of acumulation and
exclusion sebagai penentu apa dan
bagaimana sesuatu ditayangkan. Maka,
untuk
sekedar
mencontohkan,
sebagaimana terbukukan dalam sejarah,
era TVRI sebagai yayasan dan UPT (Unit
Pelaksana
Teknis)
Departemen
Penerangan merupakan personifikasi
nyaris sempurna penguasaan negara
(baca: penguasa)· atas TVRI, yang
sejatinya milik publik. Nampak jelas ketika____itu, TVRI memerankan diri sebagai media
organik pemerintah. Selain menjadi
------------,-~----~-----IBadan Hukum TVRidan RRI:
humas pemerintah, TVRI juga menjadi
media efektif dalam melakukan
indoktrinasi terutama selama Orde Baru
herkuasa. Seluruh realitas simbolik yang
dibangun TVRI waktu itu mengkonstruksi
realitas kekuasaan ala Orde Baru sebagai
realitas objektif. Muara dari intervensi
tersebut adalah tidak terpenuhinya
kebutuhan publik untuk mengembangkan
diri melalui spektrum gelombang radio
(sebagai transmisi siaran mayoritas), yang
nota-bene adalah milik publik (public
goods). Penyiaran publik dibutuhkan
karena karakteristik imparsialitas dan
ragam varietas progi·am yang dimiliki.
Penetapan TVRI dan RRI sebagai
Lembaga Penyiaran Publik dalam konteks
Indonesia kekinian juga dipandang tepat
karena beberapa alasan. Alasan pertama,
TVRI dan RRI didirikan dan dibiayai
(sebagian) oleh dana negara melalui
APBN. Jika dikembalikan ke logika asal
bahwa dana APBN pada hakikatnya
adalah dana publik, maka sudah
sepatutnya pula jika TVRI dan RRI
mengabdi pada kepentingan publik.
Kedua, terlepas dari dinamika historisnya,
TVRI dan RRI merupakan icon pemersatu
bangsa, sekaligus berperan sebagai
penanda rasa nasionalisme. Ketiga, TVRI
dan RRI memiliki wilayah jangkauan
siaran (coverage area) terluas. TVRI
misalnya mampu menjangkau 841.522
Km2 atau 42,90 % dad wilayah Indonesia
clan 169.282.000 orang, atau 81.90 %
warga Indonesia. Alasan keempat, TVRI
dan RRI memiliki kiprah yang paling lama
dalam dunia penyiaran, sehingga dengan
d,emikian kedua lembaga penyiaran
tersebut memiliki SDM yang relatif lebih
berpengalaman dan lebih terampil.
TVRI dan RRI dalam kapasitasnya
sebagai institusi publik sedikitnya
mensyaratkan dua dimensi operasional
yang harus dipenuhi. Dimensi pertama
berkaitan dengan teknis operasionalmanajerial, dan dimensi kedua
menyangkut bidang isi program (content)
penyiaran. Pada dimensi pertama, semua
kegiatan operasional manajerial media
siaran publik menjadi tanggung jawab
publik. Pada banyak kasus Lembaga
Penyiaran Publik di berbagai negara
seperti CBC (Kanada), PBS (Amerika),
BBC (Inggris), NHK (Jepang), dan ABC
(Australia), kehidupan media publik
secara finansial didukung oleh publik
melalui pajak, iuran, lisensi, iklan,
bantuan pemerintah, maupun usaha lain
yang berkaitan dengan penyiaran.
Dimensi kedua (isi penyiaran publik)
selalu dikaitkan dengan jenis, sasaran dan
prioritas program. Jenis program merujuk
pada pengadaan program-program
siaran yang tidak dilakukan oleh siaran
komersial. Artinya, jika media siaran
komersial memusatkan perhatiannya
pada hiburan dan berita, maka media
siaran publik menawarkan siaran-siaran
dokumenter, drama, pendidikan, seni dan
ilmu pengetahuan. Hal ini tidak berarti
penyiaran publik tidak menyiarkan berita
dan hiburan, hanya orientasi siaran
lembaga penyiaran publik berbeda
dengan penyiaran komersial yang profit
oriented.
Perbedaan antara penyiaran
publik dan penyiaran komersial juga
terdapat pada pada tataran sasaran
khalayaknya (audzence~. Media siaran
komersial yang did ukung oleh iklan
cenderung hanya berkonsentrasi pada
Jurna( Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
program-program yang merangsang daya
tarik khalayak dalam jumlah yang besar
(massa). Sementara media penyiaran
publik bergerak lebih jauh dari itu, karena
harus melay~ni semua kelompok
masyarakat. Maka tidak heran jika dalam
penyiaran publik terdapat juga siaran
yang ditujukan untuk melayani kelompok
minoritas, yang banyak diabaikan oleh
penyiaran komersial. Di BBC (Inggris)
misalnya, masih kita jumpai program
siaran berbahasa Welsh, untuk kelompok
minoritas pengucap bahasa Welsh.
M.elalui dinamika semacam itu, penyiaran
publik dapat memungkinkan dirinya
untuk tampil sebagai cultural forum (fomm
budaya) yang bermakna.
Lembaga Penyiaran Publik
diharapkan memiliki andil yang sangat
besar dalam menciptakan democratic
culture di Indonesia. Kultur rm
mengedepankan partisipasi publik dalam
penyelenggaraan sistem kenegaraan.
Untuk dapat menjalankan peran sebagai
agen demolcratisasi setidaknya terdapat tiga
pilar yang menandakan hakikat lembaga
penyiaran publik.
Pertama, Lembaga Penyiaran
Publik menjalankan fungsi sebagai public
sen1ice. Fungsi ini dijalankanoleh Lembaga
Penyiaran Publik dengan menyiarkan
program-program yang memberikan
manfaat bagi publik. Program-program
demikian dapat merupakan program
dengan content budaya, pendidikan atau
pun program yang berorientasi pada
kaum minoritas. Penyelenggaraan
program-programnya
pun
memprioritaskan partisipasi atau gagasan
publik sehingga media tersebut benar-
Jurnal Bisnis & Birokrosi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
benar milik publik yang dapat
dimanfaatkan sebagai sarana diskusi atau
mengekspresikan ide-ide publik
Kedua, Lembaga Penyiaran Publik
tidak berodentasi pada pencarian
keuntungan. Batasan yang mungkin
memperjelas konsepsi ini menyangkut
operasionalisasi usahanya yang tidak
semata-mata diarahkan untuk mengejar
keuntungan. Orientasi yang berlebihan
pada komersialisasi hanya akan
menyebabkan lembaga tersebut tidak
independen dan berada di bawah
pengaruh cnpi tal.
Jika hal ini
dipertahankan,
lembaga
akan
diintervensi oleh kepentingan pasar dan
hanya berorientasi 'menjual' program
yang laku dipasaran. Secara filosofis hal
ini merupakan pengingkaran terhadap
eksistensi Lembaga Penyiaran Publik yang
menonjolkan program-program edukasi
termasuk program-program yang secara
ekonomis mungkin tidak layak karena
bertautan dengan kepentingan kelompok
minoritas. Meskipun demikian, tidak
berarti Lembaga Penyiaran Publik tidak
boleh untung, sebab keuntungan yang
diperolehnya dapat dimanfaatkan untuk
perbaikan program, peningkatan
profesionalisme dan pengembangan
lembaga. Ketersediaan dana yang cukup
pun dapat menjaga independensinya dari
pengaruh atau intervensi dari berbagai
pihak yang memiliki kepentingan.
Menyangkut kriteria ini, Lembaga
Penyiaran Publik dituntut untuk tidak
menjadi badan hukum yang memiliki
orientasi menjual saham secara terbuka
sebab akan melibatkan sejumlah pemodal
yang berkeinginan untuk mendapatkan
keuntungan semata.
------------,------------IBadanHukum WRidanRRI:
Ketiga, Lembaga Penyiaran Publik
dikelola dengan melibatkan partisipasi
publik. Keterlibatan publik dalam hal ini
menyangkut supervisi dan evaluasi publik
dalam penyelenggaraan siarannya.
Misalnya saja menyangkut penentuan
kebijakan soal isi program,, iklan yang
boleh ditayangkan serta pemanfaatan
keuntungan yang diperolehnya.
2. Tujuan Penelitian
TVRI. dalam kedudukannya sebagai
lembaga penyiaran publik.
b. Regulasi dan pengaturan lebih lanjut
agar
TVRI dan RRI dapat
menjalankan visi dan misi sebagai
lembaga penyia1~an publik.
3. Metodologi
Penelitian rn1 memaparkan
berbagai pemikiran yang dimulai dari
pembahasan mengenai ragam lembaga
penyiaran untuk memposisikan letak,
Tabel 1
Kriteria Lembaga Penyiaran
Kepemilikan
2
I
Negara/state
Ownership
Orientasi Program
Sumber Dana
Kombinasi; pajak (laxj, iklan
(advertiser), iuran pelanggan
(lisence)
Korporasi Otonom/
Autonomous
Swasta/pri vate
ownership
Kombinasi:
iuran pelanggan (lisence),
pajak (Im). iklan (adver/iser),
Kombinasi:
iuran pelanggan (lisence),
iklan (advertise!),
Berangkat
dari
kerangka
permasalahan
sebagaimana
dikemukakan di bagian sebelumnya,,
penelitian ini dilakukan dengan tujuan
utama untuk memperoleh pemahaman
yang mendalam mengenai :
a. Bentuk dan karakteristik badan
hukum yang tepat untuk RRI dan
3
Khalayak/penonton/ publik
Pem eri nta h/Negara
Bisnis
Khalayak/penonton/ publik
Pemerintah/Negara
Bisnis
Khalayak/penonton/publik
Pernerintah/Negara
Bisnis
Kriteria
Lembaga
Penyiaran
4
Publik
Pemeri ntah/Negara
Komersial
Publik
Pemeri ntah/Negara
Komersial
Publik
Pemeri ntah/Negara
Komersial
pijakan filosofis, hakekat,, definisi serta
konsep publik dalam Lembaga Penyiaran
Publik sendiri. Pemahaman m1
selanjutnya digunakan untuk melihat
keberadaan TVRI dan RRI sebagai
Lembaga Penyiaran Publik dalam dua
Undang-undang yang be1·kaitan secara
langsung yaitu UU No 32 Tahun 2002
tentang Penyiaran dan UU No 19 Tahun
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV /Mei/2006
2003 tentang Badan Usaha ·Milik Negara
(BUMN). Selanjutnya penelitian ini
berusaha memberikan masukan terhadap
status badan hukum TVRI dan RRI agar
bisa menjalankan fungsinya sebagai
Lembaga Penyiaran Publik secar-a
maksimal baik dari tinjauan yuridis
maupun ekonomis perusahaan.
Pada dasarnya secara metodologis,
penelitian ini bersifat eksploratif dengan
pendekatan kualitatif. Pendekatan ini
dipandang tepat untuk mendapatkan
g_ambaran secara menyeluruh dan
komprehensif terhadap berbagai aspek
yang terkait dengan pola dan mekanisme
pengelolaan TVRI dan RRI se bagai
Iembaga penyiaran publik.
Pengumpulan data dan informasi
menggunakan sejumlah (15 orang) nara
sumber (resource persons) dari berbagai
kalangan yang terdiri dari pejabat di
lingkungan TVRI dan RRI, pejabat
pemerintah, pakar komunikasi/ media,
pakar/ pengamat kebijakan publik/
pakar/ pengamat
hukum,
pakar/
pengamat ekonomi dan anggota DPR.
Pengumpulan
data
primer
dilakukan dengan wawancara mendalam
(indepth interview) yang dikombinasikan
dengan FGDs (Focus Group Discussions).
Sedangkan untuk data sekunder
dilakukan dengan studi kepustakaan dan
observasi tak berstruktur (unstructured
observasion).
4. Tinjauan Teoritis mengenai Lembaga
Penyiaran Publik
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV /Mei/2006
Ragam Lembaga Penyiaran
!Dalam memilah berbagai lembaga
penyiaran, Summers dkk (1978) inembagi
lembaga penyiaran menjadi tiga jenis
yaitu media penyiaran publik, media
penyiaran pernerintah/ negara, dan
media
penyi~ran
kornersial.
Pengkategorian in.'i dilihat berdasarkan
kepemilikan, sumber dana serta orientasi
program yang selanjutnya bisa dilihat
dalarn tabel berikut :
Tabel di atas menunjukkan secara
jelas bahwa dalam memasukkan sebuah
lembaga penyiaran ke dalarn sebuah
kategori tertentu, maka perlu dilihat
berbagai aspek yang rnendasari
pemilahan tersebut seperti kepemilikan
atau surnber pembiayaan. Akan tetapi,
seringkali aspek kunci yang paling
dipertimbangkan adalah orientasi program
sebagai landasan pembuatan program
keseluruhan
yang
menunjukkan
pemfungsian media penyiaran terse but ke
dalam masyarakat.
Dengan demikian bagi Summers,
siapapun yang memiliki lembaga
penyiaran tersebut serta dengan sumber
biaya dari manapun, sebenarnya, asal
orientasi programnya ditujukan kepada
publik maka lembaga penyiaran tersebut
bisa dikategorikan sebagai lembaga
penyiaran publik. Sementara, jika
orientasi programnya ditujukan pada
pemerintah atau negara maka lembaga
penyiaran tersebut bisa dikategorikan
sebagai lembaga penyiaran pemerintah
atau negara. Sedangkan bila orientasi
programnya ditujukan pada bisnis maka
lembaga penyiaran tersebut bisa
dikategorikan sebagai lernbaga penyiaran
-----------------------iBadanHukumTVRidanRRI:
komersial. Sementara itu, Depok School
(baca: paradigma sebagian besar pemikir
komunikasi FISIP. UI, Depok )
sebagaimana dikemukakan oleh Gazali
(2002) lebih melihat Lembaga Penyiaran
Publik dari karakter lembaganya temtama
arah skala supervisi dan evaluasi oleh
publik.
Per bedaan ketiga lembaga
penyiaran ini bisa dilihat dari aspek
definisi, khalayak, visi, jangkauan area
siaran, ukuran kesuksesan, pemilik/
pendiri, pengambil kepu tusan tertinggi,
suinber pemasukan serta kriteria dan
jumlah materi iklan. Dari aspek definisinya,
bisa dilihat bahwa lembaga penyiaran
komersial mendasarkan operasinya atas
prinsip-prinsip pencapaian keuntungan
ekonomi secara komersial. Lembaga
penyiaran publik memberikan pengakuan
secara signifikan terhadap peran supervisi
dan evaluasi oleh publik melalui sebuah
lembaga supervisi yang khusus didirikan
untuk tujuan tersebut, sedangkan
penyiaran komunitas memberikan
pengakuan secara signifikan terhadap
peran supervisi dan evaluasi oleh anggota
komunitasnya melalui sebuah lembaga
supervisi yang khusus didirikan untuk
tujuan tersebut. Perbedaan mendasar lain
adalah berkaitan dengan khalayak.
Khalayak lembaga penyiaran komersial
adalah umum dan terbuka leba.r, khalayak
lembaga penyiaran publik adalah umum
dan lebih dari satu komunitas, sedangkan
khalayak lembaga penyiaran komunitas
adalah suatu komunitas tertentu. Visi dari
ketiga lembaga penyiaran tersebut juga
berbeda satu sama lainnya. Lembaga
penyiaran komersial mempunyai visi
untuk memberi hiburan; .infmmasi, dan
pendidikan . berdasarkan
prinsip
pencapaian ek.onomi secara komersial.
Visi lembaga penyiaran publik secara
singkat adalah meningkatkan kualitas
hidup publik dengan meningkatkan
apresiasi terhadap keberagaman yang ada
dalam masyarakat. Sementara itu, visi
lembaga penyiaran komunitas lebih
ditekankan pada tujuan meningkatkan
kualitas hidup anggota komunitasnya.
Ulcuran kesuksesan dari masingmasing lembaga penyiaran juga berbeda.
Untuk lembaga penyiaran komersial,
rating untuk masing-masing program dan
pemasukan iklan menjadi tolok ukur
keberhasilan. Untuk lembaga penyiaran
publik,
ukuran
keberhasilannya
ditentukan oleh tingkat pemenuhan
kebutuhan dan kepuasan berbagai
kelompok publiknya (termasuk kelompok
minoritas). Untuk lembaga penyiaran
komunitas, kesuksesan bisa ditenggarai
oleh kepuasan anggota komunitasnya
karena mereka terlibat secara aktii untuk
memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Badan Hukum Lembaga Penyiaran
Publik
Setidaknya ada empat hal
mengapa pengaturan badan hukum TVRI
dan RRI sebagai Lembaga Penyiaran
Publik dipandang penting. Pertama,
walaupun secara eksplisit UU No. 32
tahun
2002
tentang
Penyiaran
menyatakan bahwa lembaga penyiaran
publik, yang terdiri dari TVRI dan RRI,
adalah berbadan hukum negara (pasal 14
dan 15), namun pada saat yang sama UU
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV /Mei/2006
tersebuttidaksecara jelas menetapkan apa
bentuk badan bukum dimaksud. UU
Penyiaran hanya mengamanatkan
pemerintah bersama KPI untuk mengatur
lebih lanjut. Dalam iklim demokrasi
kekinian,, salah satu urgensi penetapan
badan hukum penyiaran publik terkait
dengan hak asasi manusia tentang
kebebasan berbicarn (freedom of speech),
yang menjamin kebebasan seseorang
untuk memperoleh dan menyebarkan
pendapatnya tanpa adanya intervensi,
bahkan dari pemerintah. N amun pada
saat yang bersamaan, juga berlaku
regulasi pembatasan aktivitas media
seperti regulasi UU Telekomunikasi yang
membatasi penggunaan spektrum
gelombang radio. Nilai demokrasi
karenanya menghendaki kriteria yang
jelas dan fair tentang pengaturan alokasi
akses publik.
kebebasan aliran ide dan posisi dari
kelompok minoritas. Hal lain adalah
adanya hak privasi (right to privacy)
seseorang untuk tidak menerima
informasi tertentu. Dalam batas tertentu,
kebebasan untuk menyampaikan
infromasi (freedom of information) memang
dibatasi oleh hak privasi seseorang (right
to privacy). Yang perlu digarisbawahi
dalam hal ini, sebagaimana diungkapkan
Feintuck (1999), adalah limitasi
keberagaman (diversity) sendirt seperti
kekerasan dan pornografi merupakan hal
yang tetap tidak dapat dieksploitir atas
nama
keberagaman.
Dalam
perkembangannya aspek diversity, lebih
~anyak diafiliasikan sebagai aspek politik
dan ekonomi dalam konteks ideologi suatu
negara. Regulasi badan hukum lembaga
penyiaran publik akan menjawab
tantangan ini.
Kedua, keterbatasan fekwensi.
Tanpa regulasi,, maka interferensi signal
Keempat, terdapat alasan ekonomi
mengapa regulasi lembaga penyiaran
publik diperlukan. Tanpa regulasi akan
terjadi konsentrasi, bahkan monopoli
media. Sinkronisai diperlukan bagi
penyusunan regulasi lembaga penyiaran
publik agar tidak berbenturan dengan
berbagai kesepakatan internc::sionat
misalnya tentang pasar bebas dari AFT A
niscaya terjadi. Dan ketika itu terjadi
maka aspek dasar komunikasi tidak
tercapai. Sebagai ilustrasi sederhana
dapat cligambarkan bahwa jika pada saat
yang bersamaan terdapat dua orang atau
~ebih berbicara, maka proses komunikasi
pasti mengalami kegagalan. Regulasi
badan hukum penyiarnn publik akan
menentukan siapa yang berhak
menyiarkan" serta bagaimana dan siapa·
yang tidak. Dalam konteks demikian
regulasi berperan sebagai mekanisme
konh·ol (control mechanism).
11
Ketiga, demokrasi menghendaki
11
ad an ya
sesua tu" yang menjamin
keberagaman (diversity) politik dan
kebudayaan,
dengan
menjamin
Jurnor Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
Pijakan Filosofis Lembaga Penyiaran
Publik
Secara filosofis, urgensi kehadiran
media penyiaran publik berangkat dari
kehidupan publik yang dilihat dari posisi
sebagai warga masyarakat hanya dalam
dua ranah, yaitu dalam "lingkup
kekuasaanu dan "lingkup pasar"
-------------~-,--.-------1Badan Hukum TVRidanRRI:
(Habermas,1989; Golding & Murdock,
1996; Kellner, 1990). Pandangan
dikotomis ini mengabaikan kenya ta an
lainnya, yaitu adanya ranah publik yang
diharapkan dapat menjadi zona bebas
dan netral yang di dalamnya berlangsung
dinamika kehidupan yang bersih dari
kekuasaan dan pasar. Habermas
menyebut ranah ini sebagai ranah publik
(public sphere). Menurut Habermas, ~ad~
awalnya media dibentuk dan men1ad1
bagian integral dari public sphere te~ap~
kemudian dikomersialkan men1ad1
komoditi (commodified) melalui disfribusi
secara massal dan menjual khalayak
~assa ke perusahaan periklanan,
sehingga media menjauh da1·i peran public
sphere.
Terbukanya public sphere sebagai
prasarat penguatan civil society dapat
diwujudkan antara lain dimulai dari
paradigma yang menggerakkan di~a~k~
kehidupan publik yang berbas1s mla1
kultural (Habermas, 1989; Kellner, 1990).
Nilai kultural ini merupakan pemaknaan
atas setiap kegiatan dalam ranah publik.
Ini dapat dilihat dengan dua cara.
Pertama, secara negatif yaitu dominasi
dan monopoli kekuasaan dan pasar harus
dijauhkan dari kehidupan publik, da1:"
kedua, secara positif membangun otonorm
dan independensi institusi sosial. Maka,
membangun civil society pada dasarnya
ad al ah membalik arus u tama yang
ta dinya "dari kekuasaan negara dan pasar
ke warga", menjadi da1·i warga ke
kekuasaan negara dan pasar". Untuk itu
diperlukan ranah publik yang secara
re la tif
memiliki
otonomi
dan
independensi, yang di dalamnya
/1
berlangsung kegiatan kultural dalam
berbagai aspek kehidupan fungsional.
Civil society sebagai format baru
kehidupan publik diharapkan dapat
menjadi visi bersama penyelenggaraan
media massa. Dari visi yang semacam itu
dapat dibayangkan misi yan~ per~u
dijalankan, sesuai dengan fungs1 media
penyiaran dalam ranah publik. D~lam
konteks reformasi kekinian, mestmya
terbuka peluang untuk membangun
format baru atas keberadaan media
penyiaran pemerintah (RRI/TVRI)
menjadi institusi otonom dan independen
yang menjalankan fungsi kultural dalam
ranah publik (baca: media penyiaran
publik). Dalam konteks inL pe~yi~ran
publik diperlukan untuk men1un1ung
nilai-nilai yang banyak ditinggalkan oleh
media komersial, seperti idependensi,
solidaritas, keanekaragaman (opini dan
akses), objektivitas dan kualitas informasi
(Mc Quail, 2000).
Tidak dipungkiri perkembangan
lembaga penyiaran di Indonesia
dipengaruhi oleh rezimentasi Orde Baru.
Munculnya dua kategori penyiaran yang
berorientasi
pad a
kepentingan
pemerintah dan komersial tidak lain
merupakan bagian dari perkembangan
masa tersebut. TVRI dan RRI yang
menjalankan fungsi propaganda dengan
memprioritaskan program-program
pemerintah mendapatkan klaim sebagai
media organik pemerintah yang
keberadaannya dirancang oleh, dari dan
untuk pemerintah. Kinerja (performance)
TVRI dan RRI yang demikian pada
akhirnya menorehkan kesan mendalam di
masyarnkat tentang keberadaan sebuah
lembaga penyiaran pemerintah.
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
Potret demikian menunjukkan
dinamika perjalanan sistem penyiaran
Indonesia yang hingga kini sibuk mencari
bentuk dan aktualitasnya. Arus
perubahan yang memunculkan wacana
demokrasi bagi sistem penyiaran di
Indonesia menghendaki bentuk lembaga
penyiaran yang lain yang dinilai lebih
aspiratif serta tidak mendeskriditkan
kepentingan atau kebebasan publik untuk
mendapatkan dan menyampaikan
informasi. Oleh karena itu,. muncullah
gagasan un tuk memiliki Lembaga
Penyiaran Publik dan Lembaga Penyiaran
Komunitas sebagai solusinya.
Dalam sebuah negara yang
demokratis persoalan diversihj of content
dan diversihJ of ownership mempakan hal
penting yang harus diperhatikan dalam
penyelenggarnan lembaga penyiaran.
Keberadaan Lembaga Penyiaran Publik
dan Komunitas akan memberikan ruang
bagi masyarakat Indonesia dalam
memperoleh pesan multi perspektif,
sehingga dominasi content yang
~ebelumnya dilakukan oleh pemerintah
maupun kelompok pemodal dapat
dihindari. Masyarakat dapat memilih dan
menentukan program siaran menurut
kepentingan mereka.
Keberadaan televisi publik di
banyak negara dipercaya mampu
mernbangun democratic culture (Habermas,.
1989; Gurevitch dkk.,, 1982). Potensi ini
dapatterwujud jika televisi publik dikelola
dengan memberikan ruang untuk
kebebasan berekspresi dan debat terbuka;
memberikan peluang akses yang sama
bagi setiap warga negara serta menjadi
arena negosiasi bagi kelompok-kelompok
kepentingan.
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV /Mei/2006
Format program mengutamakan
partisipasi publik, program-program
untuk kelompok minoritas seperti anakanak, perlindungan budaya serta identitas
budaya nasional dan regional. Konsep
public sphere yang dikemukakan oleh
Habermas dapat diwujudkan melalui
penyelenggaraan Lembaga Penyiaran
Publik karena ruang publik ini memiliki
fungsi bagi publik untuk melakukan
diskusi yang rasional, membentuk opini
serta menjalankan pengawasan terhadap
pemerintah. Pada hakekatnya public
sphere tidak lain merupakan kawasan a tau
ruang yang netral dimana publik memiliki
akses yang sarna dan berpartisipasi dalam
wacana publik dalam kedudukan yang
sama pula.
Muara dari idealisasi tersebut
adalah terbentuknya komunikasi yang
efektif yang sekaligus menciptakan
diversitas politis dan kultural. Selain
berhubungan dengan keterbatasan
frekuensi, komunikasi yang efektif juga
berkaitan
dengan
demokratisasi
komunikasi, yang meliputi jaminan
negara untuk memungkinkan terjadinya
keberagaman komunikasi. Di Inggris,
misalnya,. dimana hampir dua pertiga
sirkulasi koran nasional hanya dikuasai
oleh dua kelompok berita (yaitu News
Corporation 37% dan Mirror Group 26%),
maka ketika salah satu kelompok tersebut
juga terjun dalam bidang penyiaran,
maka dipastikan akan te1jadi pembatasan
rentang sudut pandang yang ditampilkan
media penyiaran. Tanpa regulasi yang
menjamin keberagaman penyiaran,
kondisi yang berkembang akan cenderung
monopolistik. Kondisi yang monopolistik
merupakan jembatan emas menuju
---~----~------------IBadanHukum TVRidanRRL·
monopoli informasi, yang berujung pada
monopoli kebenaran.
Diversitas politis dan kultural
merupakan upaya lebih lanjut dari prinsip
"diversity of content and ownership" yang
bertalian era t dengan nilai demokrasi
yang menghendaki te1jadinya aliran ide
secara bebas melalui suatu instrumen
yang memungkinkan semua orang dapat
mengaksesnya secarn merata. Jika satudua orang atau kelompok mendon:tinasi
_kepemilikan media, dan menggunakan
posisi tersebut untuk mengontrol isi
tampilan media, maka ketika itulah te1jadi
reduksi 'keberngaman sudut pandang'
(heterodox view).
Dalam konteks industl'i media
global kekinian, walaupun secara apologis
McQuail (2000) menunjukkan bahwa
aspek diversitas lebih banyak ditemukan
pada lembaga penyiaran publik, namun
dengan cennat ia membagi diversitas
menjadi 'horizontal diversih/ yaitu varietas
jumlah program atau tipe program yang
ditawarkan pada konsumen dalam satu
kurun waktu bersamaan, dan 'vertical
diversih/, yaitu jumlah varietas program
yang ditawarkan suatu channel kepada
konsumen dalam keseluruhan skedul.
Diversitas politis sebagaimana di atas,
pada banyak titik sangat berkaitan
dengan diversitas kulturaL Kesepakatan
yang banyak diterima menyebutkan
bahwa suatu program penyiaran akan
semakin baik dinilai bila semakin tinggi
tingkat relevansinya untuk beragam ras,
gender, umm, jenis kelamin sampai pada
wilayah geografis. Namun demikian,
mainstreaming program penyiaran bukan
untuk memberangus keberagaman
kultural yang ada. Maka, masih tetap
diperlukan program penyiaran yang
ditujukan untuk kelompok minoritas
kultural tertentu. Sebagaimana telah
disinggung, di BBC (Inggris) mis aInya,
tetap ditayangkan program berbahasa
Welsh.
Dalam konteks relasi negara vis-avis negara, isu diversitas kultural pun
digunakan
untuk
'melindungi'
nasionalisme dari ekspansi imperialisme
kultural internasional. Di Prancis,
misalnya, produk sinema dan produk
siaran AS dipandang sebagai sesuatu
"yang mengancam' rasa nasionalitas dan
kultur linguistik. Feintuck (1998), dengan
mengutip Thomas, mengatakan bahwa
eksistensi bahasa minoritas dalam media
selain 'menormalisasi' status pengucap
bahasa .minoritas tersebut, juga dapat
menaikkan estimasi-diri (self-esteem) diri ,
mereka. Atas dasar tersebut pula, di
banyak negara yang menganut sistem
paternalistik, seperti di Inggris, rentang
material penyiaran yang meliputi 'rasa
dan kesopanan (taste and decency) dibatasi
oleh negara dalam rangka melindungi
minoritas.
5. Hasil Penelitian : TVRI dan RRI
sebagai Badan H:ukum Milik Negara
(BHMN)
Problematik penentuan bentuk
badan hukum bagi TVRI dan RRt
menurut pandangan para narasumber
akhli hukum dan ekonomi, pada dasarnya
bersumber dari kegamangan TVRI dan
RRI sebagai lembaga publik Kegamangan
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
tersebut berawal dari ketidaksiapan
lembaga ini menerima predikat sebagai
lembaga penyiaran publik. Kegamangan
ini jelas-jelas tercermin dari sikap mereka
(terutama TVRI) yang ngotot untuk
mengubah bad.an hukumnya menjadi
Persero. Ada semacam mis-persepsi
tentang penyelenggaraan Lembaga
Penyiarnn Publik ka1·ena kurang
ditangkapnya hakikat penyelenggaraan
lembaga penyiaran tersebut oleh para
pengelolanya.
Persoalan
pun
menjadi
berkembang karena pijakan hukum baik
UU tentang BHMN maupun UU
Penyiaran menunjukkan beberapa
perbedaan yang cukup mendasar hingga
Lembaga Pe1i.yiaran Publik tidak dapat
dikerangkai dalam UU yang menga tur
bentuk badan hukum tersebut. Meski
berkembang opini untuk mengatur
permasalahan badan hukum tersebut
melalui penajaman visinya dalam
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga, namun satu persoalan yang perlu
ditegaskan kembali adalah, seberapa
konsisten batasan-batasan komersialisasi,
profit dan sebagainya secara konsisten
diberlakukan ?
/1
11
•
Menurut para narasumber,
diperlukan
kehatian-hatian
dan
kecermatan tersendiri mengingat badan
hukum TVRI sebagai persern tidak
memberikan ruang yang cukup untuk
mempersia pk an dil'i se bagai Lembaga
Penyiaran Publik. PP No. 9/2002 yang
dikeluarkan pada 17 April 2002
menetapkan bahwa badan hukum TVRI
adalah persero. Status tersebut, menurut
mereka, kurang memungkinkan adanya
Lembaga Supervisi Penyiaran Publik yang
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
jharus dipertimbangkan supervisi dan
evaluasinya oleh manajemen TVRI,
lmengingat dalam status Persero yang
mengambil keputusan yang nantinya
mengikat manajemen adalah RUPS
(Rapat Umum Pemegang Saham). Hal ini
kontradiktif karena dalam status barn
sebagai Lembaga Penyiaran Publik,
P,.isalnya, meniscayakan terdapatnya
~istem kontrol fungsi publik untuk
mempertanggungjawabkan
segala
program TVRI dengan ukuran moral dan
tata nilai publik yang dilayaninya.
Berdasarkan kondisi tersebut,
TVRI
clan
RRI,
sebagaimana
p.irekomendasikan dalam FGDs dengan
para
narasumber,
perlu
mempertimbangkan langkah-langkah
berikut untuk memperjelas status dan
fungsi badan hukumnya sebagai lembaga
penyiaran publik. Pertama, merumuskan
kembali apa yang diinginkan oleh TVRI
dan RRI dalam menjalankan perannya
sebagai lembaga penyiaran publik. Dalam
konteks ini TVRI dan RRI harus
memahami betul hakekat Lembaga
Penyiaran Publik dan dapat membedakan
fungsinya dari bentuk lembaga penyiaran
lainnya. Kedua, TVRI dan RRI perlu
merancang Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga yang secara
jelas merumuskan visinya sebagai
lembaga penyiaran publik. Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
terse but berfungsi sebagai landasan dalam
mengembangkan strategi lembaga yang
berorientasi pada kepentingan publik.
Ketiga, menentukan badan hukum yang
sesuai.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - I B a d a n H u k u m 7VRidanRRI:
Modal dan
Sumber
Pembiayaan
Intervensi
Pemerintah
Organ
lndependensi
Netral
Tttjuan
Akses Publik
Dana Publik
Akuntabi Ii tas
Publik
Keterlibatan
publik
Lembaga
supervisi
Tabet 2
Alternatif Status Badan Hukum TVRI dan
sebagai Lembaga Penyiaran PubJik
Pe rum
Persero
Minimal 51 % sahamnya _atau Seluruhnya
seluruhnya
dimiliki
oleh dimiliki negara
negara
Relatif tinggi
Relatif rendah
RRI
BHMNPTN
Awalnya dimiliki dari
Kekayaan Negara yang
dipisahkan
Relatif rendah
RUPS, Direksi, Komisaris
Menteri, Direksi, Maj elis Wali Amanat,
Dewan Pengawas Dewan Audit, Senat
Akademik, Pimpinan,
Dasen, Tenaga
Adiministrasi,
Pustaka wan, Unsur
Pelaksana Akademik,
Unsur Pelaksana
Administrasi, dan Unsur
penunjang
Relatif tinggi
Relatif tinggi
Relatif rend ah
Ku rang
Sedang
Tinggi
Komersial
Komersial untuk Tidak komersial (nirpelayanan publik !aha)
Hanya pada pemilikan saham Tidak ada
Dimungkinkan
ketika Persero melakukan 'go
public'
Hanya ketika Persero 'go Tidak
Dimungkinkan
public' clan itupun biasanya dimungkinkan
dibeli
secara
saham
perseorangan
Te1jamin baik melalui RUPS Tidak
Te1jamin melalui audit
maupun audit akuntan publik dimungkinkan
akuntan publik yang
yang diumumkan meJalui
diumumkan
melalui
media massa
media massa
Melalui RUPS
Tidak ada
Berperan dalam Majelis
Wali Amanah
Tidak
Tidak dimungkinkan
Dimungkinkan
dimungkinkan
Dalam menentukan badan hukum
yang sesuai untuk TVRI dan RRI, perlu
diperhatikan bahwa dalam UU Penyiaran
tahun 2002 dinyatakan bahwa Lembaga
Penyiaran Publik - dalam hal ini TVRI dan
RRI - merupakan lembaga penyiaran yang
berbentuk badan hukum yang didirikan
oleh negara. Dari pasal ini tidak dapat
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV /Mei/2006
l
dipungkfri lagi bahwa badan hukum TVRI
dan RRI adalah badan hukum negara.
Menuiut
pandangan
para
narasumber, status TVRI dan RRI sebagai
badan hukum .negara ini jika disesuaikan
dengan UU BUMN tahun 2003, maka
TVRI dan RRI hanya mempunyai dua
altematif badan hukum yaitu Persero atau
Perum. Sedangkan apabila dilihat
kemungkinan pengembangannya, Badan
Hukum Milik Negara (BHMN) seperti
l_~ng ~ialam~ oleh beberapa Perguruan
ifmggi Negen yang menerapkan otonomi
kampus,
TVRI
dan
RRI
bisa
mempe1iuangkan status BHMN sebagai
badan hukum yang sesuai dengan
ka pasitas TVRI dan RRI sebagai lembaga
penyiaran publik.
Pada hakekatnya, badan hukum
dapat bersifat privat dan publik. Posisi
persero dan perum masuk dalam katagori
privat, yang artinya harus memberi
keuntungan karena bersifat profit oriented.
Di indonesia sendiri belum ada perangkat
hukum
yang
memadai
dalam
menempatkan status hukum TVRI dan
RRI sebagai lembaga penyiaran publik.
Oleh karena itu salah saru solusi adalah
dengan menggunakan PP (Pera turan
Pemerintah) sebagai landasan hukum
yang menguatkan kedua lembaga (TVRI
dan RRI) sebagai lembaga penyiaran
publik.
Karena berada dalam masa
transisi, bisa saja diterapkan aturan yang
bersifat proteksi atau membatasi. Ini
bertujuan untuk menyiapkan iklim yang·
lebih baik, dan sekaligus memberikan
kesempatan untuk belajar. BHMN
merupakan usulan yang cukup bisa
Jurnol Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
diterima, karena sekalipun dimiliki oleh
pemerintah tetapi tidak mutlak. Ada
!keterlibatan, akses dan pengawasan
publik dalam BHMN. Selain itu, dari sisi
kajian ekonomi perusahan juga
memungkinkan. Hanya saja yang perlu
diingat bahwa dalam memilih badan
hukum untuk TVRI dan RRI sebagai
Lembaga Penyiaran Publik hakekat dan
filosofi dari Lembaga Penyiaran Publik
~endiri harus diperhatikan. Jangan
sampai status Lembaga Penyiaran Publik
jini dilekatkan hanya untuk sekedar
memenuhi tuntutan publik dengan
menjalankan fungsi penyiaran publik
tanpa memperhatikan keterlibatan serta
levaluasi oleh publik karena materi
programnya hanya ditentukan oleh
segelintir orang yang menjadi penentu
keputusan dalam lembaga tersebut. Tabel
di
bawah
m1
berusaha
memperbandingkan kemungkinan ketiga
status badan hukum negara TVRI dan RRI
sebagai Lembaga Penyiaran Publik.
Diliha t dari modal dan sumber
pembiayaan lembaga, tampak bahwa
BHMN mempakan badan hukum negara
yang lebih fleksibel karena meski modal
awalnya berasal dari negara, peluang
untuk mengelola keuangan sendiri
terbuka termasuk dalam menambah
pemasukan dari sumber lain. Konsekuensi
positif tentu saja terletak pada adanya
ruang untuk meminimalisir intervensi
pemerintah dalam penyelenggaraan
BHMN ini yang sekaligus membuat
independensi BHMN menjadi relatif tinggi
dibandingkan dengan Perum dan Persero.
Kemandirian dan kenetralan
BHMN juga bisa dilihat dari adanya
organ BHMN yang meliputi berbagai
---------~----_.:._ _ _ _ _ _ _ _ jsadan Hukum
unsur baik pemerintah maupun publik
seperti Majelis Wali Amanat,. Dewan
Audit, Senat Akademik, Pimpinan,.
Do sen,
Tenaga
Administrasi,
Pustakawan,
Unsur
Pelaksana
Akademik,
Unsur
Pelaksana·
Administrasi, dan Unsur Penunjang. Dari
komposisi ini terlihat bahwa pemerintah
tidak mendorninasi pengelolaan BHMN.
TVRI dan RRI:
Berkaitan dengan keberadaan
Majelis Wali Amanah sebagai salah satu
organ BHMN, terlihat bahwa akses dan
keterlibatan publik dalam BHMN
perguruan tinggi negeri dimungkinkan
karena Majelis W ali Amanah yang
merupakan organ Perguruan Tinggi yang
berfungsi untuk mewakili Pernerintah dan
Masyarakat dengan menjadi wakil dari
unsur-unsur Menteri, Senat Akademik,
Masyarakat dan Rektor.
maupun ekonomi menurut para
narasumber,. format BHMN ini juga bisa
diterapkan untuk TVRI dan RRI. Bahkan,
tampak dengan jelas bahwa hakekat
L~mbaga
Penyiaran Publik yang
d1sandang TVRI dan RRI juga bisa
diwadahi dalam BHMN ala Perguruan
Tinggi Negeri. Hanya saja,. kalaupun TVRI
dan RRI menggunakan format BHMN ini
nantinya, pola-pola yang ada dalam
BHMN harus disesuaikan dengan kondisi
TVRI dan RRI sebagai Lembaga Penyiaran
Publik. Sebagai contoh, dalam rekrutmen
dana publik, TVRI dan RRI bisa
menentukan dana publik berdasarkan
kebutuhan. Jika cara demikian yang
ditempuh,
TVRI dan RRI perlu
menyelenggarakan transparansi dan
akuntabilias publik terkait dengan
persoalan manajemen dan finansial.
Sementara tujuan dari BHMN pun
jelas yaitu sebagai lembaga negara yang
nir-laba yang tidak seperti Persero dan
Perum yang tegas men ya takan diri
sebagai badan usaha milik negara yang
bertujuan mengejar keuntungan. Dalam
BHMN ini juga dimungkinkan adanya
penyerapan dana publik, seperti misalnya
Perguruan Tinggi N egeri mendapatkan
dana publik dalam bentuk SPP
(Sumbangan Pembiayaan Pendidikan),
BOP (Biaya Operasional Pendidikan) dan
SP A (Sumbangan Pengembangan
Akademik).
N amun
demikian,
para
narasumber mengingatkan bahwa proses
perubahan badan hukum baru dari TVRI
sebagai Persero dan RRI sebagai Perjan
menjadi badan hukum yang baru,
misalnya BHMN, bukanlah semudah
berganti baju tapi tetap dengan badan
yang sama. Proses ini membutuhkan
intensi yang kuat serta kesediaan beketja
keras secara professional untuk tak hanya
mengubah badan hukumnya saja,
melainkan juga melaksanakan fungsinya
secara maksimal se bagai Lembaga
Penyiaran Publik.
Dengan mengkaji format BHMN
yang sedang diterapkan pada beberapa
Perguruan Tinggi N egeri di atas,
disesuaikan dengan hakeka t Lembaga
Penyiaran Publik, maka terlihat bahwa
secara teoritik baik dari tinjauan hukum
Untuk membuat TVRI dan RRI
berfungsi secara maksimal sebagai
lembaga penyiaran publik, menurut
pendapat para narasumber, ada beberapa
hal yang harus diperhatikan oleh kedua
institusi ini. Pertama~· sesuai dengan
hakekatnya sebagai lembaga penyiaran,
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV /Mei/2006
l
tentu saja TVRI dan RRI harus
membangun infrastruktur penyiaran yang
bagus agar bisa menyampaikan suara dan
atau gambar yang bagus/berkualitas bagi
khalayaknya.
Kedua,
pembuatan
program yang menarik dan sesuai dengan
kebutuhan publik betapapun khalayak
tersebut terbatas. Ketigal memposisikan
institusinya sebagai Lembaga Penyiaran
Publik yang tentu saja memberikan
pengakuan secara signifikan terhadap
peran supervisi dan evaluasi oleh publik
melalui sebuah lembaga supervisi yang
khusus didirikan untuk tujuan tersebut.
Keempat,
bersungguh-sungguh
menjadikan institusinya terbuka untuk
kepentingan
publik.
Keli ma,
mengkondisikan sumber daya manusia
yang ada untuk bersikap profesional
sesuai dengan ketrampilan yang dipunyai
masing-masing. Kelima hal inilah yang
hams dipikirkan secara intensif oleh TVRI
dan RRI, karena selama ini proses menuju
Lembaga Penyiaran Publik dalam kedua
institusi ini justru lebih banyak mendapat
hambatan karena adanya konflik internal
dimana sebagian khalayak internal
menginginkan adanya pemfungsian TVRI
dan RRI sepenuhnya sebagai lembaga
penyiaran publik, sementara sebagian
sisanya menginginkan insitusi ini juga
berfungsi untuk mencari keuntungan
demi
peningkatan
kesejahteraan
karyawan sekaligus kualitas isi siaran.
sebelumnya, akhirnya dapat dibuat
kesimpulan sebagai berikut :
1. TVRI dan RRI diamanatkan menjadi
Lembaga Penyiaran Publik yang
berorientasi kepada kepentingan
publik. Sebagai Lembaga Penyiaran
Publik, TVRI dan RRI harus bersifat
independen, sustainable, berkualitas
dan mampu membiayai sendiri dana
operasionalnya, baik dengan cara
menggali potensi sumber daya
maupun
menggali
kontribusi
masyarakat. Untuk mencapai tujuan
tersebut TVRI dan RRI memerlukan
status badan hukum yang sesuai.
Status badan hukum yang tepat untuk
mencapai tujuan tersebut adalah
BHMN (Badan Hukum Milik Negara).
2. TVRI dan RRI memerlukan regulasi
dan pengaturan lebih lanjut agar TVRI
dan RRI dapat menjalankan visi dan
misinya sebagai Lembaga Penyiaran
Publik. Pengaturan juga diperlukan
untuk hal-hal yang berkaitan dengan
peningkatan kualitas SDM, upgrading
peralatan, peningkatan partisipasi
publik, akuntabilitas serta upaya
peningkatan integritas TVRI dan RRI
dalam konteks hubungan pusatdaerah.
Referensi
6. Kesimpulan
Feintuck, Mike, (1998), Media Regulation,
Public Interest and Law~ Edinburg
F Edinburgh University. Press
Berdasakan uraian yang telah
dikemukakan
di
bagian-bagian
Gazali, Effendi, (2002), Penyiaran Alternatif
Tapi Mutlak, Jakarta: Jurusan Ilmu
Komunikasi FISIP UI
Jurna! Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV/Mei/2006
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _.;__________ lsadan Hukum TVRI dan RRI:
Golding, P., and Murdock, G. (1996).
Culture, . Communication and
Political Economy, in J. Curran
and M. Gurevitch (Eds), Mass
Media and Society. London :
Edward Arnold.
Gurevitch, M., Bennet, T., Curran, J. &
Woolacott,J. (1982) (Eds). Culture,
Society and the Media. London :
Methuen.
Habermas, Jurgen, (1989). The Structural
Transformation of The Public
Sphere: an InquinJ into a Categon1
of Bourgeois Societlj, Translated by
Thomas Burger. Cambridge,
Massachussetts: MIT Press
Kellner, Douglas, (1990), Television and Tire
Crisis of Democracy, Oxford:
Westview Press, Inc.
McQuail, D (2000). Mc Quail's Mass
Communication Tlieonj, 4 111 Edition.
London : SAGE Publications.
Pandjaitan, Hinca IP., (ed.), (2003),
Membangun Sistem Penyiaran yang
Demokratis, Jakarta: PT. Warta
Global Indonesia
Sendjaja, S. Djuarsa dan Ashadi Siregar,
(2001). Kumpulan Makalah
Seminar
Televisi
Publik.
Yogyakarta: UGM
Surrune1·s, Harrison B., Robert E. Summers,
John H. Pennybacker. (1978).
Broadcasting .and the Public.
California : Wardsworth.
TVRI (2002), 40 Tahun TVRI: Dari
Pembebasan Menuju Pencerahan,
Jakarta
Voght, Erich, Pelayanan Umum Sebagai
~alah Satu Bentuk Penyiaran,
. IFriedrich-Ebert-Stiftung, .Jakarta,
2001
Peraturan Perundang-undangan
PP RI No. 61 Tahun 1999 tentarig
Penetapan Perguruan Tinggi
Negeri sebagai Badan Hukum
PP RI No. 9 Tahun 2002 tentang
perubahan badan hukum TVRI
sebagai persero
UU RI No.19 Tahun 2003 tentang Badan
Usaha Milik Negara (BUMN)
UU RI No. 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran
UU RI No.2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Jurnal Bisnis & Birokrasi No. 02/Vol. XIV /Mei/2006
Download