iklan di televisi dan brand awareness

advertisement
IKLAN DI TELEVISI DAN BRAND AWARENESS
(Studi Korelasional Tentang Terpaan Iklan L-Men Di Televisi Terhadap
Bran Awareness Pada Anggota Klub Celebrity Fitness Sun Plaza Medan)
KLINTON M A
100904065
Abstrak
Penelitian ini berjudul Tayangan Iklan L-Men terhadap Brand Awareness
(kesadaran dalam suatu merek), sebuah studi korelasional tentang hubungan
antara Tayangan Iklan L-Men terhadap Brand Awareness pada anggota klub
Celebrity Fitness Sun Plaza Medan. Adapun permasalahan yang diteliti dalam
penelitian ini adalah “sejauhmanakah hubungan antara tayangan Iklan L-Men di
televisi terhadap Brand Awareness?’ Teori yang digunakan dalam penelitian ini
adalah komunikasi, komunikasi massa, komunikasi pemasaran, iklan, media iklan
di televisi, Brand Awareness, AIDDA dan teori S-O-R. Penarikan sampel dalam
penelitian ini yaitu menggunakan metode purposive sampling, dimana yang
diteliti yaitu anggota klub Celebrity Fitness Sun Plaza Medan khusus kaum lakilaki yang berumur 18-35 tahun dan pernah menonton tayangan iklan L-Men.
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan kuesioner yang berisi
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data dalam
penelitian ini dianalisis menggunakan analisis tabel tunggal, analisis tabel silang
dan uji hipotesis menggunakan Rank Spearman. Hasil keseluruhan penelitian ini
menunjukan bahwa terdapat hubungan antara tayangan Iklan L-Men di televisi
terhadap brand awareness pada anggota klub Celebrity Fitness Sun Plaza Medan.
Hubungan tersebut rendah tapi pasti. Hasil ini diperoleh dengan menggunakan uji
hipotesa yang dilambangkan dengan rs.diperoleh hasilnya yaitu rs= 0,280 dan
berdasarkan skala Guilford berada pada skala yang menunjukkan hubungan
rendah tapi pasti.
Kata Kunci: Iklan L-men, Brand Awareness, Televisi, Korelasional
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pemikiran yang berorientasi pada pasar merupakan kebutuhan yang tidak
dapat dielakkan dengan munculnya fase pertumbuhan yang tidak menentu. Ini
disebabkan tingginya tingkat persaingan di dunia bisnis. Oleh karena itu
perusahaan dituntut untuk mencari, menemukan, dan memanfaatkan peluang
untuk menjaga kelangsungan perusahaan untuk memenuhi selera konsumen yang
selalu berubah karena mereka mempunyai kesempatan sepenuhnya memilih
barangyang paling sesuai, serta mebandingkan produk satu dengan yang lainnya.
Iklan adalah ekonomi konsumen yang paling penting. Tanpa iklan, orang akan
sulit mengetahui bermacam macam produk dan jasa yang tersedia. Salah satu
media yang paling diminati saat ini untuk beriklan ialah televisi dan
kepopulariatasannya melampaui media-media lainnya. Sebagai media visual yang
menarik, televisi dapat memberikan dampak yang hebat dan perkembangan iklan
1
jauh melampaui perkembangan di media lain. Iklan televisi memiliki banyak
keunggulan dibanding beriklan dengan menggunakan media lain. Berikut ini
beberapa kelebihan iklan televisi antara lain: Kesan realistik, Masyarakat lebih
tanggap, Repetisi/pengulangan, Ideal bagi para pedagang eceran dan adanya
pemilihan area siaran (zoning) dan jaringan kerja (networking) yang
mengefektifkan penjangkauan masyarakat. Namun selain mempunyai kelebihan,
televisi juga mempunyai kekurangan dalam mengiklankan suatu produk, antara
lain biaya produksinya yang cukup tinggi dengan biaya penayangannya.
Terpaan terjadi ketika rangsangan yang datang berada dalam jangkauan
sensor penerimaan kita (Dell, Best, &Coney, 2001:285). Dengan demikian,
semakin sering seseorang mengkonsumsi sebuah informasi dari sebuah media
televise, maka semakin mudah juga ia mendapatlan informasi yang ingin
diketahui. Industri pada bidang susu atau suplemen adalah salah satu industri yang
semakin ketat persaingannya dan berkembang pesat sejalan dengan perkembangan
zaman yang disebabkan kebutuhan akan manusia semakin kompleks sebagai
akibat semakin banyaknya aktivitas yang dilakukan manusia. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi keputusan pembelian suatu produk, yaitu brand awareness
dan kepercayaan konsumen atas merek. Menurut Durianto, “brand awareness
adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali, mengingat kembali
suatu merek sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu” Pada umumnya
konsumen cenderung membeli produk dengan merek yang sudah dikenalnya atas
dasar pertimbangan kenyamanan, keamanan, dan lain-lain.
Salah satu produk susu atau suplemen bagi kaum laki-laki ialah L-Men,
produk yang mereknya telah begitu populer di masyarakat Indonesia ini
mempunyai acara tahunan L-Men of the Year yang membuat orang yang
mengkonsumsi produk tersebut semakin mudah untuk diingat.
Pusat kebugaran atau fitness center merupakan salah satu tempat yang
paling diminati kaum pria untuk berolahraga. Untuk mendapatkan tubuh yang
sehat selain mengonsumsi susu maupun suplemen juga harus diimbangi dengan
berolahraga. Celebrity Fitness adalah rantai fitness terbesar di Indonesia,
perusahaan kesejahteraan, kesehatan dan kebugaran dengan perkembangan
tercepat di Asia Tenggara dan mempunyai lebih dari 170.000 member di sekitar
50 klub di empat negara, dan mempunyai cabang di kota Medan. Celebrity Fitness
telah menerima banyak penghargaan dan pujian, memenangkan Top Brand
(merek fitness terbaik) yang prestisius selama lima tahun berturut-turut (2009-13);
Majalah Men's Health (Gym Terbaik Secara Keseluruhan).
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
dapat dikemukakan perumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Bagaimanakah hubungan terpaan iklan L-Men di televise terhadap brand
awareness ( tingkat kenal dalam suatu merek) pada anggota klub Celebrity Fitness
Sun PPlaza Medan khusus nya kaum laki-laki?”
2
Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan Penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui hubungan iklan L-Men terhadap sadar suatu merek (brand
awareness) pada anggota klub Celebrity Fitness Sun Plaza Medan khusus nya
kaum laki-laki.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja dalam Iklan L-Men yang mempunyai
brand awareness pada anggota klub Celebrity Fitness Sun Plaza Medan
khusuhnya kaum laki-laki.
URAIAN TEORITIS
Komunikasi
Pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari perkataan latin
“communication”. Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti
sama; sama disini maksudnya sama makna mengenai suatu pesan yang
disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy, 2003: 30).
Carl I. Hovland mengemukakan komunikasi merupakan proses yang
memungkinkan seseorang (komunikator) yang menyampaikan rangsangan
(biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain
(komunikate) (Mulyana, 2007:68). Terdapat lima unsur komunikasi yang saling
bergantung satu sama lain, yaitu: sumber (komunikator), pesan, salutan atau
media, penerima (komunikan), dan efek. Unsur-unsur lain yang sering
ditambahkan adalah umpan balik (feed back), gangguan/kendala komunikasi
(noise/barriers), dan konteks atau situasi tertentu.
Komunikasi Massa
Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner
(Rakhmat, 2003: 188) yakni; komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan
melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages
communicated through a mass medium to a large number of people).
Jadi, sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak,
seperti rapat akbar yang dihadiri oleh ribuan bahkan puluan ribu orang, jika tidak
menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi
yang termasuk media massa adalah: radio siaran dan televisi, keduanya dikenal
sebagai media elektronik; surat kabar dan televisi, keduanya disebut sebagai media
cetak; serta media film. Film sebagai media komunikasi massa adalah film bioskop.
Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran diperlukan untuk membuat konsumen mengenal
suatu produk, mengomunikasikan nilai fungsional dan atribut emosional produk
tersebut, merayu konsumen dengan kelebihan produk tersebut dibandingkan
dengan produk kompetitor sejenis, dan memastikan konsumen pernah membeli
produk tersebut walaupun hanya sekali.
Jenis komunikasi pemasaran yang terlibat dalam hal ini dapat berwujud
sebagai berikut: Periklanan, Promosi penjualan, Hubungan masyarakat, Penjualan
perseorangan, Respon langsung. Komunikasi pemasaran meliputi tiga tujuan
utama, yaitu untuk menyebarkan informasi (komunikasi informatif),
3
mempengaruhi untuk melakukan pembelian atau menarik konsumen (komunikasi
persuasif), dan mengingatkan khalayak untuk melakukan pembelian ulang
(komunikasi mengingatkan kembali).
Iklan
Kotler ( 1991:237) mengartikan iklan sebagai semua bentuk penyajian non
personal, promosi ide-ide, prmosi barang produk atau jasa yang dilakukan oleh
sponsor tertentu yang dibayar. Artinya, dalam penyampaian pesan tersebut,
komunikator memang secara khusus melakukannya dengan cara membayar
kepada pemilik media atau membayari orang yang mengupayakannya
(Widyatama, 2009:16). Menurut Alo Liliweri (1998) yang merangkum berbagai
sumber tentang tujuan iklan menuliskan bahwa iklan mempunyai 5 fungsi yaitu:
Fungsi pemasaran, Fungsi Komunikasi, Fungsi Pendidikan, Fungsi Ekonomi,
Fungsi Sosial.
Media Iklan Televisi
Televisi merupakan salah satu media yang termasuk dalam kategori above
the line. Sesuai karakternya, iklan televisi mengandung unsur suara, gambar, dan
gerak. Oleh karena itu, pesan yang disampaikan melalui media ini sangat menarik
perhatian dan impresif.
Iklan televisi terdiri dari beberapa bentuk, Kasali mengemukakan bentukbentuk iklan di televisi: Pensponsoran, Partisipasi, Spots announcements, Public
service announcement. Iklan televisi biasanya mempunyai empat komponen yang
penting dalam mendesain tampilannya, yaitu: gaya penyampaian, nada
penyampaian, pilihan kata-kata, dan unsur format. Keempat komponen tersebut
merupakan bagian dari kreativitas dalam menyampaikan suatu citra dan pesan
yang terpadu dalam melaksanankan pesan.
Brand Awareness
Alo Liliweri mengemukakan segala iklan yang diciptakan bertujuan untuk
menarik minat dan perhatian manusia, yang mana tahap awalnya adalah
menyadari kehadiran yang ditawarkan lewat iklan tersebut. Umumnya
keberhasilan suatu iklan pertama sekali diukur dari pernyataan tingkat kesadaran
dalam suatu merek dalam sebuah iklan (brand awareness) yang sekaligus
merupakan tujuan dari periklanan.
Unsur-unsur yang terdapat dalam kesadaran merek (Brand Awareness)
menurut Alo Liliweri (Ujang,dkk, 2013:123) adalah sebagai berikut: Brand
Opinion, Brand Knowledge, Brand Dominance, Top of mind, Brand Recall,
Brand Recognition.
Teori AIDDA
AIDDA adalah akronim dari kata-kata Attention (perhatian), Interest
(ketertarikan), Desire (hasrat), Decision (keputusan), dan Action (kegiatan).
Konsep AIDDA ini adalah proses psikologis pada diri khalayak. Berdasarkan
konsep AIDDA itu khalayak akan membaca dan melakukan action apa yang
4
dianjurkan pihak penyusun berita atau tajuk atau artikel, maka pertama-tama
mereka harus membangkitkan perhatiannya (attention)
Teori S-O-R
Pada awalnya model ini dikenal sebagai model Stimulus-Respon. Model
Stimulus-Respons (S-R) adalah model komunikasi paling mendasar dan
sederhana. Model ini mengingatkan kita bahwa apabila ada aksi maka akan timbul
reaksi. Proses ini merupakan bentuk pertukaran informasi yang dapat
menimbulkan efek untuk mengubah tindakan komunikasi.
Teori ini merupakan turunan dari Bullet Teory dan Teori Hipodermik.
Terdapat beberapa dasar pemikiran yang mempelopori lahirnya teori ini. Yang
pertama latar belakang filosofis (Philosophical Ground), yaitu gambaran dari
seseorang yang pasif dan mudah terpengaruh terpaan media. Kedua,
perkembangan teori ilmu psikologis dan sosiologi (Theorytical Developmentin
Psicology and Sociology), yang mendeskriditkan pandangan individu yang
berbeda dalam teori komunikasi massa
Kerangka Konsep
Variabel (X)
Tayangan Iklan
L-Men
Variabel (Y)
Brand Awareness (sadar
kenal suatu merek)
Karateristik
Responden
Operasional variabel
Variabel
Konsep Teoritis
Operasional
Variabel (X)
1.
2.
3.
4.



5.


Terpaan Iklan L-Men
Frekuensi menonton
Gaya penyampaian
Pilihan kata – kata
Nada penyampaian
Daya tarik pesan
Penggunaan bahasa
Kejelasan isi pesan
Unsur format
Bintang iklan
Warna
Variabel(Y)
Brand Tahapan dalam mencapai
Awareness (sadar kenal tingkat kesadaran dalam
suatu merek)
suatu merek:
5
1. Perhatian khalayak
2. Kemampuan
memahami fungsi produk
(Brand Recognition)
3. Kemampuan
mengingat produk (Brand
recall)
a.
Frekuensi menonton
b. Usia
Karateristik Responden
METODOLOGI PENELITIAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di klub Celebrity Fiitness Sun Plaza Medan,
Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2014 sampai dengan
Mei 2014.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi korelasioanal
dengan pendekatan kuantitatif.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah anggota klub Celebrity Fitness Sun
Plaza Medan khususnya kaum laki-laki. Terdapat 829 anggota klub Celebrity
Fitness Sun Plaza Medan yang berusia 18 – 35 tahun. Jumlah sampel yang
diambil menggunakan rumus rumus Solvin (1960) (Sevilla dkk, 1993:161) dengan
nilai kritis 10%, sebanyak 89 orang.
Teknik Penarikan Data
Teknik penarikan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah:
1.
Teknik Purposive Sampling
2.
Teknik Accidental sampling
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.
Penelitian Lapangan (kuesioner).
2.
Penelitian Keperpustakaan.
Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Tabel
tunggal, analisis tabel silang dan uji hipotesis menggunakan Rank Spearman
HASIL DAN PEMBAHASAN
No.
1
2
Tingkat Keseringan Responden menonton tayangan Iklan L-Men di televisi
Tingkat Keseringan Menonton
Iklan
Jumlah
%
tidak sering (3-4 kali)
32
36.0
Sering(5-6 kali)
41
46.1
6
sangat sering(≥7 kali)
3
16
89
Total
Sumber: P1; FC2
18.0
100.0
Dari uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa responden lebih dominan sering
menonton iklan L-men 46,1. Dari hasil tersebut, maka seperti yang kita ketahui
semakin sering kita menonton televisi maka semakin kita terkena terpaan media.
Kemampuan dalam Mengingat iklan produk L-Men di televisi
No.
1
2
3
Tingkat kemampuan
mengingat produk L-Men
tidak mampu
Jumlah
mampu
sangat mampu
Total
%
6
6.7
59
24
89
66.3
27.0
100.0
Sumber: P16; FC17
Dari uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa responden yang berpendapat
mampu mengingat iklan produk L-Men di televisi lebih doominan yaitu sebanyak
66,3%. Hal ini dikarenakan dalam iklan tersebut terdapat model yang mudah
untuk diingat bagi kalangan laki-laki yang sangat menyukai olahraga yaitu Albern
Sultan dan penyampaian pesan yang terdapat pada iklan tersebut tidak berbelit
belit.
Frekuensi menonton tayangan iklan L-Men di televisi dengan tingkat kemampuan mengingat
merek produk tersebut
Tingkat kemampuan mengingat merek produk
tidak
sangat
mampu
mampu
mampu
intensitas
tidak
menonton tayangan sering
iklan
L-Men
di
Sering
televisi
sangat
sering
Total
To
tal
5
20
7
32
2
23
16
41
1
10
5
16
8
53
28
89
Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa responden yang sering
melihat tayangan iklan L-Men di televisi dan mampu mengingat merek dari
produk tersebut sebanyak 53 orang. Frekuensi menonton tayangan iklan tersebut
berhubngan langsung dengan tingkat kemampuan responden untuk mengingat
merek tersebut, hal ini berdasarkan lebih dari 50% responden yang sering
menonton tayangan iklan mampu mengingat merek produk tersebut dan
presentase responden yang tidak sering menonton tayangan iklan L-Men dengan
tingkat ketidakmampuan mengingat merek tersebut sangat rendah. Dalam hal ini,
tayangan iklan di televisi cukup mempunyai pengaruh yang sangat berarti untuk
membuat seseorang sadar akan suatu merek tersebut.
7
Penyampain tayangan iklan L-Men di televisi dengan tingkat kemampuan mampu
mengingat fungsi produk tersebut
ketika meligat produk L-Men ditoko
mampu mengingat fungsi produk tersebut
tidak
sangat
mampu
mampu
mampu
penyampa
in tayangan iklan
L-Men di televisi
Tidak
menarik
Menari
k
sangat
menarik
1
Total
0
8
5
32
13
6
53
Total
3
11
19
56
8
22
30
89
Berdasarkan data diatas, responden yang mampu mengingat fungsi produk
L-Men dan menyatakan bahwa penyampaian tayangan iklan di televisi menarik
lebih dominan, dengan persentase 56 orang responden. Tidak ada responden yang
tidak mengetahui dari fungsi dari produk tersebut. Dalam hal ini, tayangan iklan
yang terdapat di televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk
memberitahukan fungsi dari suatu produk ke masyarakat. Pada tayangan iklan LMen proses penyampaian fungsi produk tersebut dikemas dengan baik yang di
dalam tayangannya terdapat jingle/musik yang tepat, model yang mendukung
serta penggunaan kata-kata yang menarik sehingga apa yang ingin disampaikan
dapat di terima oleh masyarakat dengan baik.
Hasil Uji Korelasi Spearman
Tayangan
Iklan L-Men di
Brand
Televisi
Awareness
Spearman's
rho
Tayangan
Correlatio
Iklan
L-Men
di n Coefficient
Televisi
Sig.
(2tailed)
N
Brand
Correlatio
Awareness
n Coefficient
Sig.
(2tailed)
N
1.000
.280**
.
.008
89
89
**
1.000
.008
.
89
89
.280
Berdasarkan hasil uji hipotesis Spearman’s rho diatas, korelasi Spearman
yang diperoleh adalah 0,280. Untuk tingkat signifikansi sesuai dengan kaidah
spearman rho, jika rs > rhotabel maka hipotesis diterima, dimana untuk rhotabel
pada penelitian ini adalah sebesar 0.001. Hal ini menunjukkan bahwa 0,280> 0,01,
maka hipotesis diterima. Selanjutnya, merujuk pada kuat lemahnya hubungan
berdasarkan skala Guilford, maka hasil 0,280 menunjukkan hubungan yang
rendah tapi pasti .Dengan demikian Ha yang menyatakan terdapat hubungan
antara tayangan iklan L-Men di televisi dengan Brand Awareness diterima.
Kemudian tahap selanjutnya adalah mencari besarnya kekuatan pengaruh
antara variabel X terhadap variabel Y, yaitu dengan rumus
8
Kp
= 〖(r_s)〗^2x 100%
Kp
= (0,280)2 x 100%
Kp
= 0,0784 x 100%
Kp
= 7,84 %
Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa, besarnya kekuatan pengaruh
antara variabel X terhadap variabel Y adalah 7,84% dan terdapat 92,16% faktorfaktor lain yang tidak diukur pada penelitian ini.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Setelah dilakukan penelitian dan pembahasan, maka dari seluruh hasil
penelitian dapat dikemukakan beberapa kesimpulan antara lain:
1. Tayangan iklan L-Men cukup mempengaruhi kesadaran anggtoa Klub
Celebrity Fitness Sun plaza Medan yang berdasarkan penelitian diperoleh
hasil yang memiliki hubungan rendah tapi pasti. Anggota klub Celebrity
Fitness Sun Plaza Medan sadar akan adanya merek tersebut.
2. Dari hasil uji signifikansi, sekitar 7,84% dari semua responden yang
menyatakan kesadaran dalam sutu mereka produk L-Men dipengaruhi oleh
tayangan iklan L-Men di televisi. Maka, 92,16% sisanya dipengaruhi oleh
faktor lain, hal ini menyatakan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi
namun, penulis belum meneliti sampai sejauh itu.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti mengajukan beberapa saran
yang dapat membangun, antara lain:
1. Bagi Perusahaan yang menciptakan dan memasarkan produk L-Men,
Suatu merek akan semakin dapat diingat oleh calon konsumen jika merek
tersebut sering beriklan, sering tertampang di tempat tempat keramaian
dan juga tidak sulit untuk didapatkan. Oleh karena itu, hendaknya produk
L-Men sendiri lebih sering di iklankan kemasyarakat melalui televise
dengan jam tayang yang lebih banyak lagi.
2. Frekuensi penanyangan tayangan iklan L-Men di televisi hendaknya
ditayangkan bukan hanya pada jam malam saja namun juga pada saat
dimana para remaja maupun orang dewasa banyak menonton televisi
seperti pada saat jam makan siang sehingga target produk L-Men sendiri
yaitu mereka yang berusia 18 – 35 tahun dapat mencapai target
sasarannya.
3. Bagi akademis, peneliti merasa bahwa penelitian ini dirasa kurang
mendalam, dimana hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
adalah waktu dan minimnya pengetahuan dan ilmu peneliti mengenai
metode penelitian. Peneliti berharap dilakukan penelitian lebih lanjut
dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang lebih mendalam
mengenai penelitian ini.
9
DAFTAR REFERENSI
Dell, , Best and Coney. 2001. Consumer Behavior : Building Marketing Strategy,
Eight Edition. New York: Mc Graw Hill Inc.
Effendi, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung:
Citra Aditiya Bakti.
Kotler, Philip. 1991. Manajemen Pemasaran Jilid 2. Jakarta: Prehallindo.
Liliweri, Alo 1998. Dasar-Dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: Citra Aditya
Bhakti.
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Penghantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaludin. 2003. Teori-Teori Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakary
Sevilla, Consuelo G. et. Al . 2007. Research Methods. Quezon City: Rex Printing
Company
Sumarwan, ujang dkk.. 2013. Pemasaran strategic. Bogor: IPB Press.
Widyatama, Rendra. 2009. Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher
10
Download